Anda di halaman 1dari 20

7

BAB 2

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Cahaya Matahari

Spektrum sinar matahari terdiri dari sinar tampak dan tidak tampak. Sinar tampak

meliputi: merah, oranye, kuning, hijau dan ungu (diketahui sebagai warna pelangi).

Sinar-sinar tidak tampak antara lain adalah: Sinar Ultraviolet, Sinar-X, Sinar Gamma,

Sinar Kosmik, Mikrowave, Gelombang listrik dan Sinar Inframerah.

Kosmik, Mikrowave, Gelombang listrik dan Sinar Inframerah. Gambar 2.1 Klasifikasi Cahaya Matahari Sinar Inframerah (

Gambar 2.1 Klasifikasi Cahaya Matahari

Sinar Inframerah (infrared ray - FIR) juga merupakan sinar tidak tampak yang

berada

pada

spektrum

warna

merah,

mendekati

spektrum

sinar

tampak.

Dapat

dikatakan bahwa 80% cahaya matahari adalah sinar inframerah karena lebarnya

jangkauan gelombang sinar ini (0,75-1000 micron) dengan panjang gelombang 800

Universitas Sumatera Utara

8

nm sampai 1200 nm. Sinar infra merah dikelompokkan dalam 3 zone : near infrared

ray (0,75-1,5 micron), middle infrared ray (1,5-4 micron) dan far infrared ray (FIR 4-

1000 micron).

Tabel 2.1 Spesifikasi Sinar – Sinar yang Terdapat pada Cahaya Matahari

Sinar – Sinar yang Terdapat pada Cahaya Matahari 2.2 Fotodioda sebagai sensor cahaya 2.2.1 Gambaran umum

2.2 Fotodioda sebagai sensor cahaya

2.2.1 Gambaran umum

Sensor cahaya berfungsi untuk mendeteksi cahaya yang ada di sekitar kita.

Sensor

yang terkenal untuk mendeteksi cahaya ialah fotodioda. Fotodioda merupakan piranti

semikonduktor dengan struktur p-n atau p-i-n untuk mendeteksi cahaya.

dengan struktur p-n atau p-i-n untuk mendeteksi cahaya. Gambar 2.2 Bentuk fisik fotodioda Fotodioda biasanya

Gambar 2.2 Bentuk fisik fotodioda

Fotodioda biasanya digunakan untuk mendeteksi cahaya. Fotodioda adalah

piranti semikonduktor yang mengandung sambungan p-n, dan biasanya terdapat

lapisan intrinsik antara lapisan n dan p. Piranti yang memiliki lapisan intrinsik disebut

p-i-n atai PIN fotodioda. Cahaya diserap di daerah persambungan atau daerah intrinsik

Universitas Sumatera Utara

9

menimbulkan pasangan elektron-hole, kebanyakan pasangan tersebut menghasilkan

arus yang berasal dari cahaya.

2.2.2 Karakteristik bahan fotodioda

Fotodioda terdiri dari beberapa jenis berdasarkan bahan pembuatannya. Berikut ini

akan dijelaskan mengenai beberapa karakteristik dari bahan pembuatan dioda.

1.

Silikon (Si) : arus lemah saat gelap, kecepatan tinggi, sensitivitas yang bagus

antara 400 nm sampai 1000 nm ( terbaik antara 800 sampai 900 nm).

2.

Germanium (Ge): arus tinggi saat gelap,

kecepatan lambat, sensitivitas baik

antara 600 nm sampai 1800 nm (terbaik 1400 sampai 1500 nm).

3.

Indium Gallium Arsenida (InGaAs): mahal, arus kecil saat gelap, kecepatan

tinggi sensitivitas baik pada jarak 800 sampai 1700nm (terbaik antara 1300

sampai 1600nm).

2.2.3

Prinsip Kerja fotodioda

Fotodioda dapat dioperasikan dalam 2 mode yang berbeda:

1. Mode Fotovoltaik: seperti solar sel, penyerapan pada fotodioda menghasilkan

tegangan yang dapat diukur. Bagaimanapun, tegangan yang dihasilkan dari

tenaga cahaya ini sedikit tidak linier, dan range perubahannya sangat kecil.

2. Mode Fotokonduktivitas:

disini, fotodioda diaplikasikan sebagai tegangan

revers (tegangan balik) dari dioda (yaitu tegangan pada arah tersebut pada

dioda tidak akan menhantarkan tanpa terkena cahaya)

dan pengukuran

menghasilkan arus foto. ( hal ini juga bagus untuk mengaplikasikan tegangan

mendekati nol). Ketergantungan arus foto pada kekuatan cahaya dapat sangat

linier .

Ketergantungan arus foto pada kekuatan cahaya dapat sangat linier . Gambar 2.3 Simbol Fotodioda Universitas Sumatera

Gambar 2.3 Simbol Fotodioda

Universitas Sumatera Utara

10

2.3 Penguat Operasioal (Penguat operasional)

2.3.1 Gambaran umum

Penguat operasional (Op - Amp) adalah suatu rangkaian terintegrasi yang berisi

beberapa tingkat dan konfigurasi penguat diferensial yang telah dijelaskan di atas.

Penguat

operasional

memilki

dua

masukan

dan

satu

keluaran

serta

memiliki

penguatan DC yang tinggi. Untuk dapat bekerja dengan baik, penguat operasional

memerlukan tegangan catu yang simetris yaitu tegangan yang berharga positif (+V)

dan tegangan yang berharga negatif (-V) terhadap tanah (ground).

Operational Amplifier atau di singkat Op - Amp merupakan komponen analog

yang popular digunakan dalam berbagai aplikasi rangkaian elektronika. Aplikasi

penguat operasional popular yang paling sering dibuat antara lain adalah rangkaian

inverter, non-inverter, integrator dan differensiator. Pada bagian ini akan dipaparkan

beberapa aplikasi penguat operasional yang paling dasar, dimana rangkaian feedback

(umpan balik) negatif memegang peranan penting. Secara umum, umpan balik positif

akan menghasilkan osilasi sedangkan umpan balik negatif menghasilkan penguatan

yang dapat terukur.

Penguat operasional pada dasarnya adalah differential amplifier (penguat

diferensial) yang memiliki dua masukan. Input (masukan) penguat operasional seperti

yang telah dimaklumi ada yang dinamakan input inverting dan non-inverting. Penguat

operasional ideal memiliki

terhingga besarnya.

open loop gain (penguatan loop

Ada

dua

aturan

penting

dalam

melakukan

analisa

terbuka) yang tak

rangkaian

penguat

operasional berdasarkan karakteristik penguat operasional ideal. Aturan ini dalam

beberapa literatur dinamakan golden rule, yaitu :

Aturan 1 : Perbedaan tegangan antara input v + dan v - adalah nol (v + -v - = 0 / v + = v - )

Universitas Sumatera Utara

11

Aturan 2 : Arus pada input Penguat operasional adalah nol (i + = i - = 0)

Inilah

dua

aturan

penting

penguat

operasional

ideal

yang

menganalisa rangkaian penguat operasional.

digunakan

untuk

2.3.2 Karakteristik Ideal Penguat Operasional

Penguat operasional banyak digunakan dalam berbagai aplikasi karena beberapa

keunggulan yang dimilikinya, seperti penguatan yang tinggi, impedansi masukan yang

tinggi, impedansi keluaran yang rendah dan lain sebagainya. Berikut ini adalah

karakteristik dari Penguat operasional ideal:

1. Penguatan tegangan lingkar terbuka

Penguatan tegangan lingkar terbuka (open loop voltage gain) adalah penguatan

diferensial Penguat operasional pada kondisi dimana tidak terdapat umpan

balik (feedback). Secara ideal, penguatan tegangan lingkar terbuka adalah:

A VOL = Vo / Vid

=

A VOL = Vo/(V1-V2) =

Tanda negatif menandakan bahwa tegangan keluaran V O berbeda fasa dengan

tegangan masukan V id . Konsep tentang penguatan tegangan tak berhingga

tersebut sukar untuk divisualisasikan dan tidak mungkin untuk diwujudkan.

Suatu hal yang perlu untuk dimengerti adalah bahwa tegangan keluaran V O

jauh lebih besar daripada tegangan masukan V id . Dalam kondisi praktis, harga

A VOL

adalah

antara

5000

(sekitar

74

dB)

hingga

dB).Tetapi

dalam

penerapannya

tegangan

keluaran

100000

(sekitar

100

V O

tidak

lebih

dari

tegangan catu yang diberikan pada Penguat operasional. Karena itu Penguat

Universitas Sumatera Utara

12

operasional baik digunakan untuk menguatkan sinyal yang amplitudonya

sangat kecil.

2. Tegangan ofset keluaran

Tegangan ofset keluaran (output offset voltage) V OO adalah harga tegangan

keluaran dari Penguat operasional terhadap tanah (ground) pada kondisi

tegangan masukan V id = 0. Secara ideal, harga V OO = 0 V. Penguat operasional

yang dapat memenuhi harga tersebut disebut sebagai Penguat operasional

dengan CMR (common mode rejection) ideal.

Tetapi dalam kondisi praktis, akibat adanya ketidakseimbangan dan

ketidakidentikan

dalam

penguat

diferensial

dalam

Penguat

operasional

tersebut, maka tegangan ofset V OO biasanya berharga sedikit di atas 0 V.

Apalagi apabila tidak digunakan umpan balik maka harga V OO akan menjadi

cukup besar untuk menimbulkan saturasi pada keluaran. Untuk mengatasi hal

ini, maka perlu diterapakan tegangan koreksi pada Penguat operasional. Hal ini

dilakukan agar pada saat tegangan masukan V id

juga = 0.

3. Hambatan Masukan

= 0, tegangan keluaran V O

Hambatan masukan (input resistance) R i dari Penguat operasional adalah besar

hambatan

di

antara

kedua

masukan

Penguat

operasional.

Secara

ideal

hambatan masukan Penguat operasional adalah tak berhingga. Tetapi dalam

kondisi praktis, harga hambatan masukan Penguat operasional adalah antara 5

k

hingga 20 M , tergantung pada tipe Penguat operasional.

Harga ini

Universitas Sumatera Utara

13

biasanya diukur pada kondisi Penguat operasional tanpa umpan balik. Apabila

suatu

umpan

balik

negatif

(negative

feedback)

diterapkan

pada

Penguat

operasional, maka hambatan masukan Penguat operasional akan meningkat.

Dalam suatu penguat, hambatan masukan yang besar adalah suatu hal

yang diharapkan. Semakin besar hambatan masukan suatu penguat, semakin

baik penguat tersebut dalam menguatkan sinyal yang amplitudonya sangat

kecil. Dengan hambatan masukan yang besar, maka sumber sinyal masukan

tidak terbebani terlalu besar.

4. Hambatan Keluaran

Hambatan Keluaran (output resistance) R O dari Penguat operasional adalah

besarnya hambatan dalam yang timbul pada saat Penguat operasional bekerja

sebagai pembangkit sinyal. Secara ideal harga hambatan keluaran R O Penguat

operasional adalah = 0. Apabila hal ini tercapai, maka seluruh tegangan

keluaran Penguat operasional akan timbul pada beban keluaran (RL), sehingga

dalam suatu penguat, hambatan keluaran yang kecil sangat diharapkan.

Dalam kondisi praktis harga hambatan keluaran Penguat operasional

adalah antara beberapa ohm hingga ratusan ohm pada kondisi tanpa umpan

balik. Dengan diterapkannya umpan balik, maka harga hambatan keluaran

akan menurun hingga mendekati kondisi ideal.

5. Lebar Pita

Lebar pita (band width) BW dari Penguat operasional adalah lebar frekuensi

tertentu dimana tegangan keluaran tidak jatuh lebih dari 0,707 dari harga

tegangan maksimum pada saat amplitudo tegangan masukan konstan. Secara

Universitas Sumatera Utara

14

ideal, Penguat operasional memiliki lebar pita yang tak terhingga. Tetapi

dalam penerapannya, hal ini jauh dari kenyataan.

Sebagian besar Penguat operasional serba guna memiliki lebar pita

hingga 1 MHz dan biasanya diterapkan pada sinyal dengan frekuensi beberapa

kiloHertz. Tetapi ada juga Penguat operasional yang khusus dirancang untuk

bekerja pada frekuensi beberapa MegaHertz. Penguat operasional jenis ini juga

harus didukung komponen eksternal yang dapat mengkompensasi frekuensi

tinggi agar dapat bekerja dengan baik.

6. Waktu Tanggapan

Waktu tanggapan (respon time) dari Penguat operasional adalah waktu yang

diperlukan oleh keluaran untuk berubah setelah masukan berubah. Secara ideal

harga waktu respon Penguat operasional adalah = 0 detik, yaitu keluaran harus

berubah langsung pada saat masukan berubah.Tetapi dalam prakteknya, waktu

tanggapan dari Penguat operasional memang cepat tetapi tidak langsung

berubah sesuai masukan. Waktu tanggapan Penguat operasional umumnya

adalah beberapa mikro detik hal ini disebut juga slew rate. Perubahan keluaran

yang

hanya

beberapa

mikrodetik

setelah

perubahan

masukan

tersebut

umumnya disertai dengan oveshoot yaitu lonjakan yang melebihi kondisi

steady state. Tetapi pada penerapan biasa, hal ini dapat diabaikan.

7. Karakteristik Terhadap Suhu

Sebagai mana diketahui, suatu bahan semikonduktor yang akan berubah

karakteristiknya

apabila

terjadi perubahan suhu

Penguat

operasional

yang

ideal,

karakteristiknya

yang cukup

besar. Pada

tidak

berubah

terhadap

Universitas Sumatera Utara

15

perubahan suhu. Tetapi dalam prakteknya, karakteristik Penguat operasional

pada umumnya sedikit berubah, walaupun pada penerapan biasa, perubahan

tersebut dapat diabaikan.

2.3.3 Penguat non-inverting

Prinsip utama rangkaian penguat non-inverting adalah seperti yang diperlihatkan pada

gambar 2.3 berikut ini. Seperti namanya, penguat ini memiliki masukan yang dibuat

melalui input non-inverting. Dengan demikian tegangan keluaran rangkaian ini akan

satu fasa dengan tegangan inputnya.

rangkaian ini akan satu fasa dengan tegangan inputnya. Gambar 2.4 Rangkaian dasar penguat non-inverting Dengan

Gambar 2.4 Rangkaian dasar penguat non-inverting

Dengan menggunakan aturan 1 dan aturan 2, kita uraikan dulu beberapa fakta yang

ada, antara lain :

v in = v +

v + = v -

= v in .

Dari sini ketahui tegangan jepit pada R 2 adalah v out – v - = v out – v in , atau i out = (v out -

v in )/R 2 . Lalu tegangan jepit pada R 1 adalah v - = v in , yang berarti arus i R1 = v in /R 1 .

Hukum kirchoff pada titik input inverting merupakan fakta yang mengatakan bahwa :

i out + i (-) = i R1

Universitas Sumatera Utara

16

Aturan 2 mengatakan bahwa i (-) = 0 dan jika disubsitusi ke rumus yang sebelumnya,

maka diperoleh

i out = i R1 dan Jika ditulis dengan tegangan jepit masing-masing maka diperoleh

(v out – v in )/R 2 = v in /R 1 yang kemudian dapat disederhanakan menjadi :

v out = v in (1 + R 2 /R 1 )

Jika penguatan G adalah perbandingan tegangan keluaran terhadap tegangan masukan,

maka didapat penguatan penguat operasional non-inverting :

maka didapat penguatan penguat operasional non-inverting : 2.3.4 Penguat Inverting Rangkaian dasar penguat inverting

2.3.4 Penguat Inverting

Rangkaian dasar penguat inverting adalah seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.4,

dimana sinyal masukannya dibuat melalui input inverting. Seperti tersirat pada

namanya, bahwa fase keluaran dari penguat inverting ini akan selalu berbalikan

dengan inputnya. Pada rangkaian ini, umpan balik negatif di bangun melalui resistor

R2.

ini, umpan balik negatif di bangun melalui resistor R2. Gambar 2.5 Rangkaian dasar penguat inverting Universitas

Gambar 2.5 Rangkaian dasar penguat inverting

Universitas Sumatera Utara

17

Input non-inverting pada rangkaian ini dihubungkan ke ground, atau v + = 0. Dengan

mengingat dan menimbang aturan 1 (lihat aturan 1), maka akan dipenuhi v - = v + = 0.

Karena nilainya = 0 namun tidak terhubung langsung ke ground, input penguat

operasional v - pada rangkaian ini dinamakan virtual ground. Dengan fakta ini, dapat

dihitung tegangan jepit pada R1 adalah v in – v - = v in dan tegangan jepit pada reistor R 2

adalah v out – v - = v out . Kemudian dengan menggunakan aturan 2, di ketahui bahwa :

i in + i out = i - = 0, karena arus masukan penguat operasional adalah 0.

i in + i out = v in /R 1 + v out /R 2 = 0

Selanjutnya

v out /R 2 = - v in /R 1 atau

v out /v in = - R 2 /R 1

Jika penguatan G didefenisikan sebagai perbandingan tegangan keluaran terhadap

tegangan masukan, maka dapat ditulis

keluaran terhadap tegangan masukan, maka dapat ditulis Impedansi rangkaian inverting didefenisikan sebagai

Impedansi rangkaian inverting didefenisikan sebagai impedansi input dari sinyal

masukan terhadap ground. Karena input inverting (-) pada rangkaian ini diketahui

adalah 0 (virtual ground) maka impendasi rangkaian ini tentu saja adalah Z in = R 1 .

2.3.5 Penguat diffrensiator

Penguat Differensial bisa mengukur maupun memperkuat sinyal-sinyal kecil yang

terbenam dalam sinyal-sinyal yang jauh lebih besar. Empat tahanan presisi (1 %) dan

penguat operasional membentuk penguat differensial, seperti terlihat pada gambar

2.2.5 terminal inputnya ada dua, input (-) dan (+), dihubungkan dengan terminal

penguat operasional yang terdekat.

Universitas Sumatera Utara

18

Sumber masukan penguat differensial ada 2, yaitu E1 dan E2. Jika E2

dihubung singkat, maka E1 mendapat penguatan pembalik sebesar -mR/R = -m.

Karena tegangan keluaran akibat E1 adalah -mE1.

Jika E1 dihubung singkat, maka E2 akan terbagi antara R dan mR, sehingga terminal

positif dari penguat operasional menerima tegangan sebesar mendapat penguatan

pembalik sebesar -mR/R

=

-m.

Karena tegangan

keluaran akibat

E1

mE2/(1+m), dengan penguatan sebesar (1+m).

adalah -

E1 mE2/(1+m), dengan penguatan sebesar (1+m). adalah - Gambar 2.6 Rangkaian dasar penguat differensial Karena itu

Gambar 2.6 Rangkaian dasar penguat differensial

Karena itu tegangan keluaran akibat E1 adalah:

differensial Karena itu tegangan keluaran akibat E1 adalah: Dengan demikian jika E1 dan E2 sama-sama dimasukan,

Dengan demikian jika E1 dan E2 sama-sama dimasukan, maka tegangan keluaran Vo adalah:

E2 sama-sama dimasukan, maka tegangan keluaran Vo adalah: Dari persamaan diatas, dapat dilihat bahwa tegangan keluaran

Dari

persamaan

diatas,

dapat

dilihat

bahwa

tegangan

keluaran

dari

Penguat

differensial sebanding dengan perbedaan tegangan masukan E1 dan E2. Pengali ini

adalah merupakan gain diferensial yang ditentukan oleh perbandingan tahanannya.

Universitas Sumatera Utara

19

2.3.6 Penguat jumlah (summing amplifier)

Penguat operasional sering digunakan sebagai penjumlah berbagai input sinyal.

Berikut ini adalah gambar dari summing amplifier.

sinyal. Berikut ini adalah gambar dari summing amplifier. Gambar 2.7 Rangkaian dasar penguat jumlah ( summing

Gambar 2.7 Rangkaian dasar penguat jumlah (summing amplifier)

Rangkaian summing amplifier mempunyai penguatan tegangan sebanyak dua

penguatan tegangan. Untuk penguatan tegangan 1 adalah sebagai berikut:

tegangan. Untuk penguatan tegangan 1 adalah sebagai berikut: Untuk penguatan tegangan 2 adalah sebagai berikut: Penguatan

Untuk penguatan tegangan 2 adalah sebagai berikut:

berikut: Untuk penguatan tegangan 2 adalah sebagai berikut: Penguatan tegangan total dari summing amplifier adalah

Penguatan tegangan total dari summing amplifier adalah sebagai berikut:

sebagai berikut: Penguatan tegangan total dari summing amplifier adalah sebagai berikut: Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara

20

2.4 Mikrokontroler AT89S52

2.4.1 Gambaran umum

Mikrokontroler AT89S52 adalah mikrokomputer CMOS 8 bit yang memiliki 8 KB

Programmable and Erasable Read Only Memory (PEROM). Set instruksi dan kaki

keluaran AT89S52 sesuai dengan standar industri 80C51 dan 80C52. Atmel AT89S52

adalah mikrokontroler yang sangat bagus dan fleksibel dengan harga yang relatif

murah untuk banyak aplikasi sistem kendali berkerapatan tinggi dari Atmel ini sangat

kompatibel dengan mikrokontroler MCS-51 misalnya mikrokontroler 8031 yang

terkenal dan banyak digunakan dan telah menjadi standar industri baik dalam jumlah

pin IC maupun set instruksinya.

Mikrokontroler

AT89S52

merupakan

versi

terbaru

dibandingkan

mikrokontroler AT89S51 yang telah banyak digunakan saat ini. AT89S52 mempunyai

kelebihan yaitu mempunyai flash memori sebesar 8Kbyte, RAM

buah data pointer 16 bit.

256 byte serta 2

2.4.2 Fungsi pin (kaki) pada Mikrokontroler AT89S52

Adapun fungsi dari masing-masing pin (kaki) dari mikrokontroler AT89S52 akan

dijelaskan berikut ini :

1. Pin 1 sampai pin 8

Pin 1 – 8 adalah port 1 yang merupakan saluran atau bus I/O 8 bit dua arah dengan

internal

pull-up

yang

dapat

digunakan

untuk

berbagai

keperluan

seperti

mengendalikan empat input TTL. Port ini juga digunakan sebagai saluran alamat

saat pemrograman dan verifikasi.

2. Pin 9

Universitas Sumatera Utara

21

Merupakan masukan reset (aktif tinggi). Pulsa transisi dari rendah ke tinggi akan

me-reset mikrokontroler ini.

dari rendah ke tinggi akan me- reset mikrokontroler ini. Gambar 2.8 Konfigurasi pin (kaki) pada mikrokontroler

Gambar 2.8 Konfigurasi pin (kaki) pada mikrokontroler AT89S52

3. Pin 10 sampai pin 17

Pin 10 – pin 17 merupakan saluran atau bus I/O 8 bit dua arah dengan internal

pull-ups yang memiliki fungsi pengganti. Bila fungsi pengganti tidak dipakai

maka dapat digunakan sebagai port paralel 8 bit serbaguna. Selain itu, sebagian

port 3 dapat berfungsi sebagai sinyal kontrol saat proses pemrograman dan

verifikasi.

4. Pin 18 dan pin 19

Pin-pin ini merupakan jalur masukan ke penguat osilator berpenguat tinggi.

Mikrokontroler ini memiliki seluruh rangkaian osilator yang diperlukan pada chip,

kecuali rangkaian kristal yang mengendalikan frekuensi osilator. Oleh karena itu,

pin 18 dan 19 ini sangat diperlukan untuk dihubungkan dengan kristal. Selain itu

XTAL 1 juga dapat digunakan sebagai input untuk inverting osilator amplifier dan

Universitas Sumatera Utara

 

22

input

rangkaian

internal

clock,

sedangkan

XTAL

2

merupakan

output

dari

inverting oscillator amplifier.

5. Pin 20

Pin 20 merupakan ground sumber tegangan dan diberi simbol “gnd”.

6. Pin 21 sampai pin 28

Pin-pin ini adalah port 2 yang merupakan saluran atau bus I/O 8 bit dua arah

dengan internal pull-ups. Saat pengambilan data dari program memori eksternal

atau selama pengaksesan data memori eksternal yang menggunakan alamat 16 bit

(MOVX@DPTR), port 2 berfungsi sebagai saluran /bus alamat tinggi (A8-A15).

Akan tetapi, saat mengakses data memori eksternal yang menggunakan alamat 8

bit (MOVX@DPTR), port 2 mengeluarkan isi P2 pada special function register.

7. Pin 29

Pin 29 merupakan program Store Enable (PSEN) merupakan sinyal pengontrol

untuk mengakses program memori eksternal agar masuk ke dalam bus selama

proses pemberian/pengambilan instruksi (fetching).

8. Pin 30

Pin 30 sebagai Adress Lacth Enable (ALE)/PROG merupakan penahan alamat

memori eksternal (pada port 1) selama mengakses ke memori. Pin ini juga

berfungsi

sebagai

pemograman.

9. Pin 31

pulsa/sinyal

input

pemograman

(PROG)

selama

proses

Pin 31 adalah External Access Enable (EA) merupakan sinyal kontrol untuk

pembacaan memori program. Apabila diset rendah (L) maka mikrokontroler akan

melaksanakan seluruh instruksi dari memori program eksternal, sedangkan jika

diset tinggi (H) maka mikrokontroler akan melaksanakan seluruh instruksi dari

Universitas Sumatera Utara

23

memori program internal

Port ini juga berfungsi sebagai tegangan pemograman

(Vpp=+12V) selama proses pemograman.

10. Pin 32 sampai pin 39

Pin 32-pin 39 adalah port 0 yang merupakan saluran bus I/O 8 bit open collector,

dapat juga digunakan sebagai multipleks bus alamat rendah dan bus data selama

adanya

akses

ke

memori

program

eksternal.

Saat

proses

pemograman

dan

verifikasi, port 0 digunakan sebagai saluran/bus data. Pull-up eksternal diperlukan

selama proses verifikasi.

11. Pin 40

Pin 40 merupakan sumber tegangan positif yang diberi simbol Vcc.

2.4.3 Register pada Mikrokontroler AT89S52

Register adalah penampung data sementara yang terletak dalam CPU. Pada

mikrokontroler AT89S52, register-registe-rnya adalah sebagai berikut :

a.

Register A ( Accumulator)

Accumulator ialah register 8 bit yang merupakan pusat dari semua operasi

accumulator, termasuk dalam operasi aritmatika dan operasi logika.

b.

Register B

Register ini memiliki fungsi yang sama dengan register A.

c.

Program counter (PC)

Program counter (Pencacah program) merupakan register 16 bit yang selalu

menunjukkan lokasi memori instruksi yang akan diakses.

d.

Data pointer

Data pointer atau DPATR merupakan register 16 bit yang terletak di alamat

Universitas Sumatera Utara

24

82H untuk DPL dan 83H untuk DPH. Biasanya Data pointer digunakan untuk

mengakses data atau source kode yang terletak di memori eksternal.

e.

Stack Pointer (SP)

Stack Pointer adalah register 8 bit yang mempunyai fungsi khusus sebagai

penunjuk alamat atau data paling atas pada operasi penumpukan di RAM.

Stack Pointer terletak di alamat 81H. Penunjuk penumpukan selalu berkurang

dua tiap kali data didorong masuk kedalam lokasi penumpukan dan selalu

bertambah dua tiap kali data ditarik keluar dari lokasi penumpukan.

f.

Program Status Word

Program Status Word merupakan register yang berisi beberapa bit status yang

mencerminkan keadaaan mikrokontroler.

g.

Bit Carry Flag (CY)

Bit carry merupakan bit ke 8 yang memiliki dua fungsi :

1. Carry akan menunjukkan apakah operasi penjumlahan mengandung

carry (sisa) atau apakah operasi pengurangan mengandung borrow

(kurang). Apabila operasi ini mengandung carry, bit ini akan diset agar

bernilai satu, sedangkan jika mengandung borrow, bit ini akan di set

agar bernilai nol (0).

2. Carry dimanfaatkan sebagai bit ke-8 untuk operasi pergeseran (shift)

atau perputaran.

h.

Bit Auxiliary Carry (AC)

Bit ini menunjukkan adanya carry (bawaan) dari bit ketiga menuju bit keempat

atau dari empat bit rendah ke empat bit tinggi pada operasi aritmatika. Bit ini

jarang digunakan dalam program, tetapi digunakan oleh mikrokontroler secara

implisit pada operasi aritmatika bilangan BCD.

Universitas Sumatera Utara

i. Bit Flag 0 (F0)

25

Bit ini menunjukkan apakah hasil operasi bernilai nol atau tidak. Apabila hasil

operasi adalah nol (0), bit ini akan diset agar bernilai 1, sedangkan apabila

hasil operasinya bukan nol (0) maka bit ini akan di-reset. Bit ini juga

digunakan pada perbandingan dua buah data. Jika kedua data bernilai sama

maka bit ini akan diset agar bernilai satu, sedangkan jika kedua data itu

berbeda maka bit ini akan direset agar bernilai nol (0).

j. Bit Register Select (RS)

RS0 dan RS1 digunakan untuk memilih bank register. Delapan buah register

ini merupakan register serbaguna. Lokasinya pada awal 32 byte RAM internal

yang memiliki alamat dari 00H sampai 1FH. Register ini dapat diakses melalui

simbol assembler (R0,R1,R2,R3,R4,R5,R6 dan R7).

2.4.4 Karakteristik Mikrokontroler AT89S52

Mikrokontroler AT89S52 mempunyai memori yang terdiri dari RAM internal dan

Special Function Register (SFR). RAM internal pada mikrokontroler AT89S52

memiliki

ukuran

256

byte

dan

beralamatkan

00H-7FH

serta

dapat

di

akses

menggunakan RAM address register. RAM internal terdiri dari delapan buah register

(R0-R7) yang membentuk register banks. Special Function Register berada di alamat

80H-FFH. RAM ini berbeda pada lokasi dengan Flash PEROM dengan alamat 000H-

7FFH.

Mikrokontroler AT89S52 menggunakan 256 bytes RAM dimana 128 bytes

bagian atas menempati alamat paralel ke special function register (SFR). Artinya 128

bytes bagian atas mempunyai alamat yang sama dengan SFR namun secara fisik

terpisah dari SFR.

Ketika instruksi mengakses lokasi internal diatas 7FH, mode

Universitas Sumatera Utara

26

alamat yang digunakan pada instruksi menentukan apakah CPU mengakses 128 bytes

atas atau SFR. Instruksi yang menggunakan pengalamatan langsung akan mengakses

ruang SFR.

2.4.5 Fasilitas pendukung mikrokontroler AT89S52

Mikrokontroler AT89S52 adalah mikrokomputer yang sangat bagus dan fleksibel

dengan harga yang rendah untuk banyak aplikasi sistem kendali. Hal ini dikarenakan

mikrokontroler

AT89S52

dilengkapi

dengan

berbagai

fasilitas

pendukung

yang

membuatnya sangat banyak digunakan dalam berbagai aplikasi. Adapun fasilitas

pendukung dari mikrokontroler AT89S52 adalah sebagai berikut :

a.

Sesuai dengan produk-produk MCS-51.

b.

Terdapat memori flash yang terintegrasi dalam sistem. Dapat ditulis ulang

hingga 1000 kali.

c.

Beroperasi pada frekuensi 0 sampai 24MHz.

d.

Tiga tingkat kunci memori program.

e.

Memiliki 256 x 8 bit RAM internal.

f.

Terdapat 32 jalur masukan/keluaran terprogram.

g.

Tiga pewaktu/pencacah 6-bit (untuk AT89S52) & dua pewaktu/pencacah 16-

bit (untuk AT89S51)

h.

Memiliki 8 sumber interupsi (untuk AT89S52) & 6 sumber instruksi untuk

AT89S51

i.

Kanal serial terprogram.

j.

Mode daya rendah dan mode daya mati.

Universitas Sumatera Utara