Anda di halaman 1dari 23

METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi adalah bagian dari penelitian yang berfungsi untuk menunjukkan validitas
penelitian yang didukung dengan sumber data sekunder mengenai penelitian yang dipakai
dalam penelitian lain sebelumnya. Bagian ini pula yang berfungsi untuk menjelaskan secara
rinci metodologi, materi, dan prosedur penelitian. Tujuan bagian ini adalah untuk
memberikan gambaran yang

komprehensif, konsisten, dan akurat mengenai prosedur

penelitian supaya penelitian lain dapat mereplikasi penelitian yang dilakukan serta cara
menganalisis data yang dipakai.
Dalam menggambarkan prosedur penelitian lebih baik disertakan pula dasar teori. Hal
ini dilakukan untuk menghilangkan potensi kesalahan dalam melakukan penelitian dan
pengumpulan data serta berperan dalam menganalisis data.
Bagian metodologi terdiri atas dua elemen penting. Bagian pertama merupakan
penjelasan mengapa digunakan pendekatan penelitian tertentu dalam penelitian, misalnya
mengapa memilih pendekatan experimental atau survey sebagai metode yang paling tepat
dalam penelitian. Bagian kedua membahas rinci mengenai metode khusus tertentu yang akan
digunakan dalam pengumpulan data, interpretasi, dan presentasi dari penelitian yang
dilakukan.
Metode penelitian pada dasarnya dapat dikategorikan menjadi dua unit besar, yaitu
kualitatif dan kuantitatif. Perbedaan keduanya dapat ditinjau dari berbagai aspek, misalnya
dari aspek maksud, tujuan, pendekatan, asumsi, model penjelasan, dan nilai.
Sejalan dengan hal tersebut, terdapat beberapa hal yang perlu dijelaskan secara rinci
terkait dengan alasan pemilihan metode penelitian tertentu, populasi dan sampel, instrumen,
dan analisis data. Berikut penjelasan dari elemen-element tersebut:
1

Alasan pemilihan metode tertentu dalam penelitian. Hal ini dilakukan dengan
menyertakan pula penjelasan mengenai cakupan penelitian yang dilakukan.
Contoh:
This research study was guided by phenomenological inquiry approach. Since this
study aimed at understanding the perceptions and experiences of the teachers from
their own point of view, phenomenology was an ideal idea guiding framework as it is
committed to understanding phenomenon from the actors perspectives...In addition,
phenomenological inquiry focuses on the question, what is the structure and
1

essence of experience of this phenomenon for these people? (Patton, 1990) and they
study sought to understand the stucture and experiences of the participants
(Wayubele, 2003:70, dikutip oleh Calabrese, 2006:39). (Emilia, 2009:190)
2

Penjelasan mengenai karakteristik populasi, sampel, atau eksperimen diperlukan.


Karakteristik partisipan pun dideskripsikan dengan menginformasikan gender, usia,
suku, dan latar belakang sosial ekonomi, sehingga hal ini dapat memungkinkan
pembaca membayangkan partisipan yang dilibatkan.
Contoh:
African American and European American females were asked to volunteer for this
study, only if they had already chosen a college major. Students participated in order
to partially fulfil their introductory psychology class requirements. Participation was
considered voluntary, as other options to complete class requirements were available.
Demographic information pertaining to the total sample (N=291) consisted of 133
African American females and 158 European American Females. Ages ranged from
17 to 47 years old. Participants in the age range of 18 to 19 years, comprised 81.8%
of sample. Within the total sample, 239 (82.1%) were Freshwomen, 28 ( 9.6%) were
Sophomores, 17 (5.8%) were juniors, 4 (1.4%) were seniors, and 3 (1.0%) were in
continuing education program (Bath, 2002:53, dikutip oleh Calabrese, 2006:44).
(Emilia, 2009: 192)

Penjelasan mengenai instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam


penelitian dilakukan secara lengkap. Kelengkapan ini didukung pula oleh penjelasan
mengenai validitas dan reliabilitas instrumen tersebut. Hal ini dapat dilengkapi pula
dengan memasukan penelitian lain yang berkaitan dengan bidang yang diteliti dan
peneliti menggunakan instrumen yang sama untuk mengumpulkan data yang hampir
sama.
Contoh:
A demographic questionnaaire was devised that includes questions regarding general
demographic information, i.e., age, gender, marital status, grade, major, ethnicity.
This instrument is found in Appendix C (Calabrase, 2006: 2). (Emilia, 2009: 194)

Penjelasan mengenai analisis data yang dilakukan oleh peneliti dilakukan dengan
menerangkan bagaimana data yang diperoleh dari berbagai teknik pengumpulan data.
Data tersebut diuraikan untuk menjawab pertanyaan penelitian yang sebelumnya
sudah dirumuskan.
Contoh:
2

For the handgrip task a repeated measures (RM) multivariate analysis of variance
(MANOVA) was employed with gender as a between subjects factor, and time
intervals (15 second) nested within three sensation variables nested within three
culsters (i.e., physical, motivational, and affective sensation) as repeated factors and
gender as a between subjects factor. For the cycle task a RM MANOVA was employed
with time intervals (30 sec) mnested within three sensation variables as repeated
factors and genders as a between subjects factor. A hierachical linear regression
analysis was conducted to determine how much of the variance in time to fatigue
was accounted for by dispositional and task-specific factors. The significance level
used in this study was p0.05 (Hutcinson, 2004:29, dikutip oleh Calabrese, 2006:
55). (Emilia, 2009: 196)

No
.
1.

Penelitian Kuantitatif

Penelitian Kualitatif

Kejelasan unsur : tujuan, pendekatan,

Kejelasan unsur: subjek sampel,

subjek, sumber data sudah mantap

sumber data tidak mantap dan rinci,

dan rinci sejak awal.

masih fleksibel, timbul dan


berkembangnya sambil jalan (emer-

2.

Langkah penelitian : segala sesuatu

gent).
Langkah penelitian : baru diketahui

direncanakan sampai matang ketika

dengan mantap dan jelas setelah

3.

persiapan disusun.
penelitian selesai.
Dapat menggunakan sampel, dan hasil Tidak dapat menggunakan pendekatan
penelitiannya diberlakukan untuk

populasi dan sampel. Dengan kata lain,

populasi.

dalam penelitian kualitatif tidak


dikenal istilah populasi dan sampel.
Istilah yang digunakan adalah setting.
Hasil penelitian hanya berlaku bagi

4.

Hipotesis : (jika memang perlu) :


a. Mengajukan hipotesis yang

setting yang bersangkutan.


Hipotesis :
a. Tidak mengemukakan hipotesis

akan diuji dalam penelitian


b. Hipotesis menentukan hasil
yang diramalkan --- a priori.
5.

6.

7.

sebelumnya, tetapi dapat lahir


selama penelitian berlangsung

Desain : dalam desain jelas langkah-

--- tentatif.
Hasil penelitian terbuka.
Desain : desain penelitiannya adalah

langkah penelitian dan hasil yang

fleksibel dengan langkah dan hasil

diharapkan.

yang tidak dapat dipastikan

Pengumpulan data : kegiatan dalam

sebelumnya.
Pengumpulan data : kegiatan

pengumpulan data memungkinkan

pengumpulan data selalu harus

untuk diwakilkan.
Analisis data : dilakukan sesudah

dilakukan sendiri oleh peneliti.


Analisis data : dilakukan bersamaan

semua data terkumpul.

dengan pengumpulan data.

POKOK BAHASAN
CARA MENULIS LATAR BELAKANG/PENDAHULUAN
Pada bagian ini, akan dijelaskan apa itu pendahuluan dalam sebuah penulisan karya ilmiah
terutama proposal penelitian dan bagaimana pendahuluan yang baik sehingga pembaca akan
mudah memahami apa yang sebenarnya melandasi penelitian tersebut dilakukan dan
berlandaskan pada pokok permasalahan yang jelas dan ada dalam pendahuluan atau latar
belakang masalah.
Pendahuluan atau latar belakang masalah sangatlah penting bagi seorang peneliti dalam
menentukan langkah-langkah selanjutnya. Seperti yang dinyatakan oleh Emilia, Emi
4

(2008:139) mengatakan bahwa, bab pendahuluan memainkan peranan penting, seperti


halnya abstrak dan bagian lain. Bab ini merupakan jendela dari bab-bab selanjutnya
Dalam menulis bab pendahuluan atau latar belakang masalah harus mencakup diantaranya
pernyataan atau argumen yang berkaitan dengan permasalahan atau topik penelitian yang
akan dilakukan dengan didasari oleh pengetahuan, pengalaman, kajian pustaka ataupun
penelitian sebelumnya. Di dalam bab pendahuluan atau latar belakang masalah pun harus
muncul tujuan penelitian dan rumusan masalah yang menunjukkan bahwa penelitian ini akan
memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan terhadap aspek manfaat
teoritikal, praktis dan profesionalitas.
Disamping itu latar belakang masalah juga harus dapat memunculkan konteks penelitian dan
definisi penelitian, seperti yang dikatakan oleh Emilia, Emi (2008:140) Pendahuluan
menjelaskan konteks penelitian dan mendefinisikan penelitian yang dilakukan. Perannya
seperti yang dikatakan oleh Moriarti (1997) adalah untuk menjembatani kekosongan antara
pembaca dan penulis. Pendahuluan memberikan konteks intelektual, pernyataan masalah,
manfaat penelitian dan ringkasan dari penelitian sebelumnya (Moriarti, 1997:84).
Dari penjelasan-penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa di dalam latar belakang
masalah atau pendahuluan maka jelaslah bahwa harus menyatakan konteks, signifikansi
(manfaat), pertanyaan, serta isu yang dikaji dalam penelitian, yang tentunya disampaikan
dengan cara informative sehingga dapat dengan mudah dibaca oleh pembaca. Menurut
Stenberg (1998:49) dikutip oleh Emilia, Emi (2008:142) berpendapat, Pendahuluan harus
menjawab empat pertanyaan berikut:
1. Penelitian apa (yang telah dilakukan sebelumnya) yang telah menggiring pada
penelitian kita?
2. Kontribusi apa yang diberikan penelitian kita kepada penelitian yang telah ada?
3. Mengapa kontribusi yang diberikan oleh penelitian kita penting atau menarik?
4. Bagaimana kontribusi itu dibuat atau dilakukan?
Disamping itu, menurut Glatthorn dan Joyner (2005:165) dikutip oleh Emilia, Emi
(2008:142) beberapa factor latar belakang khusus mungkin juga dibahas dalam pendahuluan,
seperti:

Latar belakang sosial: Perkembangan dan perubahan dalam masyarakat yang


membuat masalah penelitian menjadi tampak lebih penting.

Latar belakang intelektual: Gerakan intelektual dan filosofis utama yang terjadi pada

waktu penulisan tesis yang memberikan konteks khusus pada penelitian.


Latar belakang professional: Perkembangan dalam bidang kita yang membuat

persoalan atau masalah tampak perlu dikaji.


Latar belakang penelitian: Metode baru yang tampaknya perlu dipakai atau teori baru
yang tampaknya perlu diuji, atau adanya gap atau kekosongan dalam pengetahuan
yang ada.

Selain itu, Dawson, Catherine (2009:58) menyatakan bahwa pada bagian latar belakang
masalah harus mengandung a rationale for your research which answers the following
questions:
Why are you undertaking the project?
Why is the research needed?
Tujuan atau rationale harus ditempatkan dalam konteks penelitian atau dalam pengalaman si
peneliti dan berdasar hasil pengamatannya. Peneliti harus mampu menjelaskan bahwa dia
benar-benar tahu atas permasalahan yang akan dia bahas/ungkapkan dalam latar belakang ini
Background

dan memiliki pengetahuan tentang kajian pustaka yang berkaitan dengan topik penelitiannya.
In 2004 Indonesia adopted a genre-based curriculum for teaching

English
Indonesian
schools.
approach
is supported
by a yang
strong
Jika ternyata
andainsebagai
peneliti
tidak This
menemukan
beberapa
penelitian
berhubungan
scholarly and research tradition in systemic functional linguistic (SFL)

theory (e.g.
Christie,
Hallidayanda,
and Webster,
2009; Martin
secara khusus
dengan
topic2005;
penelitian
maka anda
perlu and
mengatakan dan
Rose, 2008, Christie and Derewianka, 2008; Fang and Schleppegrell,

menggambarkan
dengan jelasresearch
bagaimana
proposal are
penelitian
dapat mengisi gap
2008). Genre-based
and pedagogy
now wellini
established
in many parts of the world, including Australia, China, Singapore, Hong

kekosongan
yang ada. Jika ternyata ditemukan penelitian sejenis yang telah dilakukan dengan
Kong, Vietnam, a number of European nations including France,
Germany,
Denmark,
and several
American
sama persis,
maka anda
perlu Sweden,
menunjukkan
bahwa South
penelitian
anda countries
akan mendukung dan
such as Brazil and Argentina.

menambah pengetahuan yang telah ada. Secara mendasar, anda harus mampu meyakinkan
In fact, when genre - based approaches were adopted six years ago in

pembaca Indonesia,
bahwa andathis
benar-benar
mengetahui
apa yang anda
dan mengatakan
bahwa
represented
a major departure
from bahas
past practices.
The
influence of the genre-based curriculum is now apparent and this can

penelitianbe
iniseen
penting
untuk
dilakukan
(Dawson,
2009:58).
from
English
text books
usedCatherine,
in schools,
the materials for the
national examintaion and the topic of seminars or workshops, all of

which, ilustrasi
to some latar
degree,
involvemasalah
teachers
understanding
of the genre- yang telah
Berikut contoh
belakang
yang
memiliki elemen-elemen
based approach and students and teachers mastery of different
However, the success (and possible challenges) of the genredijelaskangenres.
sebelumnya.
based approach to teaching English in Indonesia has not been well
researched. Only a handful studies (Emilia, 2005; Emilia, Hermawan &
Tati, 2008) have attempted to investigate the impact of the
implementation of the genre-based approach on the students success
in learning English, particularly learning to write in different different
genres some contexts in Indonesia.

To this point there have been insufficient efforts to test how


successfully the approaches have been understood and implemented
by Indonesian teachers of English. Emilias observation and informal
talks with teachers in different forums indicate that Indonesian
teachers in general still have a lot of confusion on the genre-based
approach and how it is implemented in the classroom. It is thus
important to investigate these matters with a view to both evaluating
the implementation of genre- based pedagogies and establishing
desirable practices for training teachers in the methodology.
The study, accordingly, attempts to evaluate the success of the
teaching of genres in subject English in Indonesian secondary schools

Example 2.
Background
Writing is important for a literate society. Writing can be an act of discovery, of
communication, of joy. It connects us to work, to culture, to society, to existing knowledge,
and to the meanings of our lives. Written language provides the means to convey and evaluate
their own and others, writing also can use these skills to read like writers (Farman and
Dahl, 2003).
Writing is the learned process of shaping experiences into text, allowing the writer to
discover, develop, clarify, and communicate thoughts and feelings. Writing requires and
supports the development of thinking skills. Learning to write brings the learners into the
literate community as an active participant in the conversation. Writing is our media for
expressing our ideas or thoughts.
Nowadays many schools offer program which enables students to be competent in the
four language skills listening, speaking, reading and writing. Recent studies by Alwasilah
(2001:15-26 cited in Gunawan, 2002) show that those schools have succeeded in producing
students who are good at speaking, reading and listening, but unfortunately they have failed to
produce students who have good proficiency in writing.
Dealing with students lack of writing skill, Alwasilah (1998 cited in Gunawan, 2002)
points out those students graduate do not know how to write because their school teachers fail
to provide them with adequate writing skill.
Sometimes people who consider writing difficult are simply because of their
personality (Rivers and Temperly, 1978 cited in Devianty, 2003). Furthermore they said that
some people can express themselves on the paper easily, and some find it easier to use other
channel such as speaking to communicate their ideas.
According to Cimcoz (1991:1), another reason why writing is so difficult for ESL
learners is they (the students) dont know how to write, feel stupid when they cant find the

right words, fear criticism, and want to avoid the emotional turmoil experienced when faced a
topic and a blank paper.
Furthermore, there are other reasons why ESL difficult for learners. Limited
knowledge of the second language may block students to write. For instance, a learner who
has little knowledge of grammar and owns limited vocabulary and other important elements
of the English will find writing in the second language more difficult than writing in his
native language.
The second language learning process is frequently characterized by systematic
errors, i.e. aberrations or deviations, which can be described either interns of native-language
interference or in terms of specific psychological learning strategies. The former is known as
interlinguistic errors and the latter as intralinguistic. The applied linguistic technique which
purposes to describe and classify interlinguistic errors is known as Contrastive Analysis (CA),
the description and classification of intralinguistic errors is commonly called Error Analysis
(EA) (Titone, 1985:93-94).
Writing narrative text is one kind of writing product that often given to the students in
Junior High School as assignment. The purpose of narrative writing, according to ministry of
Education, Wellington, New Zealand (first published 1998) is
The basic purpose of narrative is to entertain, to gain, and hold a readers interest.
However narratives can also be written to teach or in form, to change attitudes/social opinions
eg soap operas and television dramas that are used to raise topical issues. Narrative sequence
people/characters in time and place but differ from recounts in that through the sequencing,
the stories set up one or more problems, which must eventually find a way to be resolved.
Referring to those descriptions, this study purposes to observe error analysis in
students writing by describing and classifying their errors in writing narrative text. This study
is very important because writing is supposed as the most difficult subject in teachinglearning process and still many students are sure make errors in the process of writing.

LATIHAN
1. Berdasarkan kedua contoh tersebut, dapatkah anda melihat perbedaan/persamaan
di dalamnya? Apa saja perbedaannya dan persamaannya?
2. Buatlah sebuah latar belakang masalah sesuai dengan topik atau masalah yang
akan anda teliti.

POKOK BAHASAN
RUMUSAN MASALAH, TUJUAN PENELITIAN, DEFINISI OPERASIONAL
DAN MANFAAT PENELITIAN
1. RUMUSAN MASALAH (FORMULATION OF THE PROBLEM)
Pada pembuatan rumusan masalah, seorang peneliti harus mampu membuat
pertanyaan penelitian yang merujuk pada kata kunci topic yang dibahas. Jika
penelitiannya mengarah pada penelitian kuantitatif maka jenis pertanyaannya
biasanya berbentuk yes/no questions. Namun jika penelitiannya menggunakan
pendekatan kualitatif maka biasanya bentuk pertanyaan penelitian diawali dengan
kata tanya What, How, dan Why.
Pertanyaan penelitian atau rumusan masalah sangat penting diajukan dalam
sebuah proposal, karena disinilah pembaca dapat mengetahui secara implicit
tujuan penelitiannya. Sehingga dalam membuat tujuan penelitian maka akan
relevan/sejalan dengan rumusan masalah ini.
Berikut contoh rumusan masalah yang biasa digunakan dalam penelitianpenelitian di Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UNSIL.
a. Does game influence on students vocabulary mastery at the third grade of
SD X?
b. Is there any influence of using portfolio assessment on students writing
composition at the eleventh grade of SMA X?
c. Does learners learning strategy correlate with English learners achievement
at the eighth grade of SMP X?
d. What kind of errors made by the twelfth grade of SMA X?
e. How do English teachers apply the collaborative technique in teaching
writing at the ninth grade of SMP X?
9

f. Why do higher level students make errors in using passive voice?


Silakan anda cermati jenis-jenis pertanyaan penelitian atau rumusan masalah
tersebut dan dapatkah anda membedakannya (dari segi pendekatan metode
penelitiannya)?
Rumusan masalah ini harus terjawab di bagian bab 4 skripsi anda nanti, dan
sebagai tahap awal untuk menentukan teknik pengumpulan data yang tepat,
sehingga data yang diperoleh dapat sesuai dengan kebutuhan penelitian anda.
Namun ada sedikit perbedaan jika dilihat dari pendekatan kualitatif, maka
rumusan masalah bisa saja berubah pada saat data sudah diperoleh, dapat saja kita
ganti dan kita tambah bahkan kita hilangkan karena sesuai dengan data di
lapangan. Namun berbeda dengan pendekatan kuantitatif, rumusan masalah sudah
pasti harus terjawab dengan data yang ada, tidak bisa data merubah rumusan
masalahnya (Ingat kembali paradigm penelitian kuantitatif dan kualitatif).
2. TUJUAN PENELITIAN (AIM OF THE RESEARCH)
Seperti yang telah diungkapkan pada bagian sebelumnya, bahwa tujuan penelitian
berfungsi untuk menunjukkan pembaca bahwa apa yang menjadi fokus akhir
penelitian tersebut. Dan tujuan penelitian selalu relevan atau sejalan dengan
rumusan masalah yang anda buat.
3. DEFINISI OPERASIONAL (OPERATIONAL DEFINITIONS)
Dalam membuat bagian ini, beberapa kata kunci dalam penelitian harus anda
jelaskan secara operasional. Seperti halnya variabel penelitian anda dalam
penelitian kuantitatif juga harus benar-benar dideskripsikan, bisa juga di bagian ini
anda mendefinisikan dan membatasi permasalahan penelitian melalui kata kunci
yang berhubungan dengan penelitian anda.
4. MANFAAT PENELITIAN (THE USE OF THE RESEARCH)
Ketika membuat proposal, manfaat penelitian harus sudah dapat diungkpakan
dalam proposal. Hal ini akan menunjukkan bahwa penelitian anda nanti dapat
memberikan kontribusi yang nyata bagi perkembangan ilmu pengetahuan,
disamping itu tidak hanya pada ilmu penegtahuan namun juga bagi para praktisi
atau professional dan peneliti selanjutnya yang tertarik melakukan penelitian yang
sama atau relevan dengan penelitian anda. Sehingga pada bagian ini anda harus

10

dapat mengunkapkan tiga manfaat penelitian berdasarkan aspek teori, praktis, dan
profesional.
POKOK BAHASAN
TEKNIK ANALISIS DATA

Teknik analisis data merupakan salah satu bagian yang paling penting dalam sebuah
proposal penelitian karena kita dapat mengetahui tahapan ataupun cara peneliti menentukan
dan mengolah data dengan teknik yang sesuai tentunya dengan karakteristik datanya. Pada
bagian ini akan dijelaskan dua jenis data yang biasa diolah atau dimiliki oleh peneliti pada
umumnya. Yang pertama adalah data kuantitatif dan yang kedua adalah data kualitatif.
1. DATA KUANTITATIF
Bentuk data kuantitatif akan berhubungan dengan angka atau skor (interval/ratio, atau
nominal) yang dapat dianalisis dengan menggunakan metode statistik sesuai dengan
desain penelitiannya. Menurut Sugiyono (2007:87), Dalam penelitian kuantitatif, teknik
analisis data yang digunakan sudah jelas, yaitu diarahkan untuk menjawab rumusan
masalah atau menguji hipotesis yang telah dirumuskan dalam proposal. Karena datanya
kuantitatif, maka teknik analisis data menggunakan metode statistik yang sudah
tersedia.
Dalam menganalisis data kuantitatif, peneliti harus cermat menentukan rumus yang
sesuai dengan jenis penelitiannya. Seperti yang telah atau sering digunakan oleh para
mahasiswa diantaranya desain penelitian berbentuk eksperimen dan korelasi. Maka
peneliti sudah pasti mengetahui teknik analisis data apa yang akan digunakan dalam
penelitiannya nanti. Dalam pemaparan di proposal, peneliti mengajukan teknik analisis
data seperti uji r atau pun uji t (baik independent samples t test atau pun dependent
samples t test).
2. DATA KUALITATIF
Teknik analisis data pada pendekatan kualitatif berbeda dengan, menurut Sugiyono
(2007:87), Dalam penelitian kualitatif, data diperoleh dari berbagai sumber, dengan
menggunakan teknik pengumpulan data yang bermacam-macam (triangulasi), dan
dilakukan secara terus menerus sampai datanya jenuh. Dengan pengamatan yang terus
menerus tersebut mengakibatkan variasi tinggi sekali. Data yang diperoleh pada
umumnya adalah data kualitatif (walaupun tidak menolak data kauntitatif), sehingga
teknik analisis data yang digunakan belum ada polanya yang jelas. Sehingga bisa
11

disimpulkan data kualitatif tidak bisa ditentukan seperti halnya kuantitatif menggunakan
rumus A atau B.
Namun dalam hal ini, teknik analisis data yang sering banyak digunakan oleh para
peneliti kualitatif adalah dengan melalui kategorisasi, hal ini sependapat dengan
Heigham, Juanita dan Robert A. Croker (2009:310) mengatakan bahwa, There are many
ways to do data analysis in qualitative research, but the goal is largely the same to
understand the data that has been collected, and organize it into groups or categories, to
prepare for data interpretation. Dapat kita simpulkan bahwa, menganalisis data
kualitatif dengan cara apapun, seperti Alwasilah, A. Chaedar (2002:158) menganalisis
data kualitatif dapat dilakukan dengan cara membuat tahapan memo, koding,
kategorisasi, kontekstualisasi, pejangan (display), arsip analitis.
Dalam menganalisis data kualitatif, peneliti juga dapat melakukan beberapa tahap
seperti model Miles dan Huberman (1984) dikutip oleh Sugiyono (2007:91)
mengemukakan bahwa tahap aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara
interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah
jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu data reduction, data display, dan conclusion
drawing/verification.
Contoh bagian teknik analsisi data dengan topik Students Difficulties in Speaking
English.
Semua data yang diperoleh dari semua teknik pengumpulan data
akan dianalisis secara bertahap. Ada dua tahap analisis yang
dilakukan sehubungan dengan dua jenis pengumpulan data yang
berbeda. Kesulitan mahasiswa dalam berbicara akan dianalisis
berdasarkan analisis teori pemerolehan bahasa asing atau kedua.
Di dalamnya akan muncul kategorisasi pada kesulitan-kesulitan
mahasiswa dari data observasi dan kuesioner yang telah
diperoleh.
Data dari hasil observasi akan ditranskripsi, selama data
ditranskripsi nama mahasiswa akan diganti dengan nama samara
untuk menjamin objektivitas peneliti dalam menganalisis data
lebih lanjut dan dianalisis sesuai dengan pertanyaan penelitian
yang diajukan. Kemudian data dari kuesioner akan dianalisis
Referensi
dengan menggunakan tematik analisis (Kvale, 1996; Merriam,
Alwasilah, A. Caedar. (2002). Pokoknya Kualitatif. Bandung: PT. Dunia Pustaka Jaya.
1998), yakni data akan dikategorisasikan berdasarkan central

Dawson, Catherine. (2009). Reseacrh Method.


Emilias, Emi. (2008). Menulis Tesis dan Disertasi. Bandung: CV. Alfabeta

12

Heigham, Juanita dan Robert A. Croker. (2009). Qualitative Research in Applied


Linguistics. A Practical Introduction. London: Palgrave Macmillan.

TINJAUAN LITERATUR
Mencari landasan teori adalah sebuah aktivitas berfikir yang
berkaitan dengan persoalan metodologi. Oleh karena itu untuk dapat
membuat sebuah landasan teori yang baik harus tahu banyak tentang
metodologi. Pertanyaannya, apa metodologi? Metodologi merupakan
metode-metode berfikir dengan menggunakan konsep-konsep yang
sudah berlaku dalam beberapa ilmu pengetahuan, contohnya ilmu
pengetahuan sosial (social sciences) ataupun humaniora (humanity
sciences). Berpikir dan berbicara tentang tema (theme), pendekatan
(approach), paradigma (paradigm), konsep (concept), hingga teoriteori (theories), berarti beraktivitas dalam rangka mencari landasan
teori.
Cara yang paling mudah dan tepat untuk belajar membuat
sebuah landasan teori adalah dengan membaca sebanyak mungkin
tentang

karya-karya

teori/kerangka

yang

penelitian

sudah

pada

ditulis.

dasarnya

Membuat
adalah

landasan

menunjukkan

sistimatika berfikir ketika akan memulai sebuah penelitian dengan


menggunakan konsep-konsep yang selama ini berkembang dalam ilmu
pengetahuan. Dalam mengemukakan landasan teori, yang perlu
diperhatikan adalah hal-hal sebagai berikut:
Pertama
Kedua

Menentukan tema

: Menentukan ilmu bantu/referensi yang dibutuhkan untuk


mendukung penelitian sesuai dengan tema dan topic
penelitian. Ilmu-ilmu bantu/referensi kemudian menjadi
pendekatan

penelitian.

Pendekatan

(approach)

untuk

menjelaskan topik yang dipilih sesuai dengan kebutuhan


dari tema dan topik penelitian.
Ketiga :

Menjelaskan

konsep-konsep

yang

diperlukan

untuk

menjelaskan permasalahan penelitian. Konsep yang dipakai


13

harus dipahami. Biasakan diri untuk membuka berbagai


macam kamus, terutama yang sesuai untuk kebutuhan
anda untuk memahami konsep atau istilah tertentu, jangan
membuat pengertian dengan pengertian kira-kira. Jika tiga
hal ini sudah ditemukan, tinggal menjelaskan sistematika
berpikir

dengan

meminjam

beberapa

paradigma

atau

konsep ilmu lain yang cocok untuk menjelaskan, bahwa


penelitian tersebut dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan
sebagaimana yang sudah dikemukakan dalam rumusan
masalah.

A. Kajian Teoretis
Pada tahapan ini peneliti mencari landasan teoritis dari permasalahan
penelitiannya, sehingga penelitian bukan kegiatan bersifat trial-error. Studi
kepustakaan merupakan separuh dari kegiatan penelitian yang gunanya untuk
menunjukkan jalan memecahkan permasalahan penelitian. Studi kepustakaan dapat
membantu peneliti dalam berbagai keperluan, misalnya :
1. Mendapatkan gambaran atau informasi tentang penelitian yang sejenis dan berkaitan
dengan permasalahan yang diteliti
2. Mendapatkan metode, teknik atau cara pendekatan pemecahan permasalahan yang
3.
4.
5.
6.
7.

digunakan
Sebagai sumber data sekunder
Mengetahui historis dan perspektif dari permasalahan penelitiannya
Mendapatkan informasi tentang cara evaluasi atau analisis data yang dapat digunakan
Memperkaya ide-ide baru
Mengetahui siapa saja peneliti lain dibidang sama dan siapa pemakai hasilnya

Berdasarkan fungsi kepustakaan, dibedakan atas dua macam, yaitu :


1. Acuan umum yang berisi konsep-konsep, teori-teori dan informasi-informasi lain
yang bersifat umum. Misalnya, buku teks, indeks, ensiklopedia dan sebagainya.
2. Acuan khusus yang bersisi hasil-hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan
permasalahan penelitian yang diteliti. Misalnya, jurnal, laporan penelitian, bulletin,
tesis, disertasi, dan sebagainya.
Kepustakaan yang dicari dan digunakan harus muthakir dan relevan. Dari telaah
kepustakaan akan diperoleh konsep-konsep dan teori-teori yang bersifat umum yang
berkaitan dengan permasalahan penelitian. Melalui prosedur logika deduktif akan dapat
14

ditarik kesimpulan yang spesifik mengarah pada penyusunan jawaban sementara


terhadap permasalahan penelitiannya. Melalui prosedur logika induktif akan diperoleh
kesimpulan umum yang diarahkan pada penyusunan jawaban teoritis terhadap
permasalahannya. Melalui prosedur logika deduktif dan atau induktif berulang dan saling
mengisi akan diperoleh jawaban teoritis sementara terhadap permasalahannya yang
paling mungkin benar disebut Hipotesis.
B. Menghindari Plagiarisme: (Parafrase, Ringkasan, & Kesimpulan)
Cara lain untuk menghindari menjadi seorang plagiat adalah dengan melakukan
kutipan tidak langsung. Mengutip secara tidak langsung dapat dimanifestasikan dalam
tiga bentuk yakni membuat parafrase, meringkas atau menyusun kesimpulan. Ketiga hal
ini adalah cara pengutipan yang membutuhkan keahlian yang berbeda.
1. Parafrase
Parafrase merupakan salah satu cara meminjam gagasan/ide dari sebuah sumber
tanpa menjadi plagiat. Menurut Kamus Oxford Advanced Leaners Dictionary,
parafrase merupakan cara mengekspresikan apa yang telah ditulis dan dikatakan
oleh orang lain dengan menggunakan kata-kata yang berbeda agar membuatnya lebih
mudah untuk dimengerti. Dengan kata lain pengutipan yang dilakukan dalam
parafrase merupakan kutipan yang menggunakan kata-kata sendiri untuk
mengungkapkan ide yang sama. Selain membuat gagasan tersebut lebih mudah untuk
dimengerti, parafrase dapat juga digunakan untuk menjaga koherensi dan keutuhan
alur tulisan. Parafrase didefinisikan sebagai :
a. Kemampuan seseorang untuk menulis ulang ide atau gagasan orang lain
dengan kata-katanya sendiri dan ditampilkan dalam bentuk yang baru;
b. Merupakan cara yang legal dan syah dalam meminjam gagasan orang lain;
c. Sebuah pernyataan ulang (restatement) yang lebih lengkap dan detail
dibandingkan dengan sebuah ringkasan.
Parafrase merupakan sebuah keahlian yang sangat berharga karena: parafrase lebih
baik dibandingkan dengan mengutip informasi dari sebuah paragraf atau tulisan yang
kurang menonjol; Parafrase membantu penulis untuk mengontrol cobaan melakukan
kutipan yang terlalu sering.
Proses mental yang dibutuhkan bagi keberhasilan sebuah prafrase membantu penulis
untuk memahami sepenuhnya makna teks sumber yang akan ia sadur. Setiap penulis
memiliki dan mengembangkan tekniknya sendiri untuk mengembangkan keahliannya
dalam melakukan parafrase. Teknik tersebut bersifat unik. Bagi penulis pemula, ia
15

perlu belajar mengembangkan keahlian membuat parafrase. Jika belum terbiasa


melakukan parafrase, berikut ini adalah 6 langkah efektif dalam melakukan
parafrase :
1. bacalah kembali teks sumber sampai memahami benar isi teks tersebut
2. singkirkan teks/naskah asli tersebut dan tulislah ulang gagasan dalam teks tadi
dalam sebuah kertas.
3. Buatlah daftar beberapa kata dibawah parafrase tadi untuk mengingatkan dan
memahami naskah asli tersebut. Di atas kartu catatan tadi, tuliskan kata kunci
yang menunjukkan subjek atau tema parafrase.
4. Bandingkan tulisan parafrase tadi dengan naskah aslinya untuk mengecek apakah
semua gagasan, terutama gagasan yang penting telah tercantum dalam hasil
parafrase tersebut.
5. Gunakan tanda petik ganda untuk mengidentifikasi istilah-istilah khusus,
terminologi, atau frase yang dipinjam dari naskah asli, dan yang diambil sama
persis dengan naskah asli.
6. Tuliskan sumber (termasuk halaman) pada kertas catatan sehingga hal ini
mempermudah untuk menuliskan sumber pustaka atau referensi.
Jika masih memiliki kesulitan dalam melakukan parafrase, maka mulailah berlatih
dari tingkatan yang termudah terlebih dahulu, yakni membuat parafrase pada taraf
kalimat. Jika telah cukup mahir dalam melakukan parafrase kalimat, maka buatlah
parafrase untuk sebuah paragraf. Berikut ini adalah contoh parafrase untuk tingkat
kalimat terlebih dahulu:
Kalimat asli : Komputer mampu membawa orang ke tempat-tempat yang belum
pernah bisa mereka kunjungi sebelumnya, termasuk ke permukaan
planet lain.
Parafrase

: Melalui komputer, orang dapat pergi ke tempat yang belum pernah


mereka kenal. (Krisnawati, 2000, hlm 57).

Sebagai pemula, parafrase di atas masih diijinkan. Namun jika telah belajar dan
memiliki keahlian melakukan parafrase, panduan dari OWL universitas Purdue
menjelaskan bahwa parafrase yang sangat mirip dengan naskah aslinya masih
dianggap sebagai melakukan plagiasi, sekalipun sumber aslinya dicantumkan disana.
Ini merupakan hal yang sangat pelik dan memerlukan banyak latihan. Sebagai contoh
simaklah berikut ini :
16

Naskah Asli:
Sangatlah pelik untuk mendefinisikan plagiasi saat melakukan ringkasan
atau parafrase. Keduanya memang berbeda, tetapi batas-batas parafrase dan
ringkasan sangatlah tipis sehingga tidak menyadari jika berpindah dari
melakukan parafrase menjadi meringkas, kemudian berpindah ke
malakukan plagiasi. Apapun tujuanmu, parafrase yang sangat mirip dengan
naskah asli dianggap sebagai melakukan plagiasi, meskipun telah
menuliskan sumbernya (Booth et al., 2005, hlm 203).

Paragraf dibawah ini dianggap hasil plagiasi karena parafrase yang sangat mirip
dengan naskah aslinya:
Sangatlah sulit untuk mendefinisikan plagiasi saat ringkasan dan parafrase
terlibat didalamnya, karena meskipun mereka berbeda, batas-batas
keduanya sangatlah samar, dan seorang penulis mungkin tidak mengetahui
kapan ia melakukan ringkasan, parafrase atau plagiasi. Meski demikian,
parafrase yang sangat dekat dengan sumbernya diperhitungkan sebagai hasil
plagiasi, meskipun sumber aslinya dicantumkan disana.

Contoh berikutnya menunjukkan parafrase yang berada diperbatasan antara plagiasi


dan yang diijinkan:
Sangatlah sulit untuk membedakan antara ringkasan, parafrase dan plagiasi.
berisiko melakukan plagiasi jika melakukan parafrase yang sangat mirip,
meskipun tidak bermaksud untuk melakukan plagiasi dan mencantumkan
sumber naskah aslinya.
Kata-kata dalam paragraf di atas masih dapat dilacak sumbernya oleh seorang
pembaca yang teliti, jika ia pernah membaca sumber tersebut. Berikut ini adalah
contoh parafrase yang aman dan tidak dianggap sebagai plagiasi:
Menuruth Booth, Colomb, dan Williams, penulis terkadang melakukan
plagiasi tanpa mereka sadari karena mereka menggira melakukan ringkasan,
saat mereka melakukan parafrase yang terlalu mirip dengan naskah asli,
suatu aktivitas yang disebut plagiasi. Bahkan saat aktivitas tersebut
dilakukan dengan tidak sengaja dan sumber pustakanyapun dituliskan (hlm
203).
Naskah Asli:
17

Mahasiswa sering berlebihan dalam menggunakan kutipan langsung saat


membuat catatan, sebagai akibatnya mereka menggunakan kutipan yang
berlebihan dalam tugas karya ilmiah (paper). Mungkin hanya sekitar 10%
dari manuskrip akhir yang diperbolehkan muncul dalam bentuk kutipan
langsung. Oleh sebab itu, harus berusaha untuk membatasi jumlah penulisan
yanag sama persis dengan materi sumber saat kallian menulis catatan.
Lester, James D. Writing Research papers. 2nd ed. (1976): 46-47.
Parafrase yang legal:
Dalam paper ilmiah, mahasiswa sering mengutip berlebihan, dan gagal
untuk mengubah materi yang dikutip ke level yang diinginkan. Karena
masalahnya bersumber dari penulisan catatan, maka sangatlah penting
untuk meminimalkan pencatatan materi atau kata per kata yang sama persis
(Lester 46-47).
Parafrase versi plagiat:
Mahasiswa sering langsung. Dengan demikian, sangatlah penting untuk
membatasi jumlah materi yang dikopi saat melakukan catatan.menggunakan
terlalu banyak kutipan langsung saat mereka menulis catatan. Sebagai
akibatnya, ada banyak kutipan langsung dalam paper tugas akhir mereka.
Seharusnya hanya sekitar 10% paper berisi kutipan
C. Ringkasan
Berbeda dengan parafrase, ringkasan merupakan cara mengutip tidak langsung dengan
mengambil intisari dari sebuah tulisan. Dalam ringkasan, penulis mengungkapkan gagasan
yang sama, namun tidak memberikan penjelasan secara detail. Ringkasan merupakan
pernyataan singkat tentang poin-poin yang penting. Dengan kata lain, ringkasan
merupakan parafrase gagasan utama dari sebuah naskah asli. Sebagai contoh, ringkasan
untuk naskah asli dalam contoh di atas adalah sebabagi berikut:

Contoh :
Mahasiswa sebaiknya hanya melakukan sedikit catatan bagi kutipan langsung dari
sumber asli untuk membantu meminimalkan jumlah materi yang dikutip secara
langsung dalam paper ilmiah (Lester 46-47).

D. Menyimpulkan
18

Membuat kesimpulan dari sebuah tulisan atau paragraf yang mengandung gagasan
merupakan teknik lain dalam pengutipan tidak langsung sekaligus menjadi teknik lain
untuk menghindari plagiarisme. Seperti arti katanya, menyimpulkan merupakan menarik
suatu gagasan tertentu yang dilakukan pembaca dari informasi yang dinyatakan dalam
teks yang ia baca. Berbeda dengan ringkasan, gagasan yang dinyatakan dalam kesimpulan
tidak dituliskan secara eksplisit dalam teks yang dibaca, namun pembaca harus
menggunakan apa yang ia pahami dari teks tersebut untuk bisa sampai ke kesimpulan.
Sama seperti dalam melakukan parafrase, penarikan kesimpulan bisa dilakukan dalam
skala terkecil, yakni kesimpulan dari sebuah kalimat.
Dalam logika, yang merupakan ilmu kesimpulan, untuk dapat menarik kesimpulan
dibutuhkan minimal dua premis, yakni premis mayor dan premis minor. Agar
kesimpulannya memiliki arti, dua kondisi yang berbeda harus dipenuhi (kamp &
Reyle,1993, hlm 13) yakni: 1) premis yang akan digunakan untuk menarik kesimpulan
harus dapat dipercaya keabsahannya, 2) kesimpulan yang ditarik dari premis tersebut
harus memiliki relasi yang menjamin keabsahan premis yang nantinya ditransfer ke
kesimpulan. Persyaratan berikut inipun harus dipenuhi dalam rangka mengambil
kesimpulan: relasi antara premis dengan kesimpulan yang menjamin transsfer kebenaran
merupakan relasi formal, artinya relasi tersebut dapat dianalisasebagai relasi antara
bentuk-bentuk kalimat. Contoh klasik tentang penarikan kesimpulan bisa dilihat dibawah
ini:
Semua P adalah Q
Semua Q adalah R
Maka semua P adalah Q

atau

Semua manusia akan mati


Aristoteles adalah seorang manusia
Maka Aristoteles akan mati.
Dari kedua contoh di atas, kita bisa melihat, mengamati dan membaca, bahwa apa
yang dinyatakan dalam kesimpulan tidak dituliskan secara eksplisit dalam kalimat sumber,
namun dari kedua premis tersebut, sebuah kesimpulan bisa ditarik. Kesimpulan yanag ditarik
harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan, sehingga kesimpulan berikut ini tidaklah
valid menurut hukum logika berpikir yang ditetapkan oleh Aristoteles ini: Ada R di dalam P
atau Aristoteles adalah manusia yang tidak akan mati. Pengambilan kesimpulan dalam
memahami suatu teks dan informasi juga mengikuti hukum pengambilan kesimpulan dalam
logika. Sehingga kesimpulan yang bisa ditarik dari naskah asli dalam contoh di atas adalah
sebagai berikut:
19

Kesimpulan

: Proses penulisan catatan menentukan seberapa banyak kutipan langsung


yang akan dilakukan mahasiswa saat menulis paper ilmiahnya.

E. MENGINTERPRETASIKAN HASIL ANALISIS DATA


Penafsiran atau interpretasi tidak lain dari pencarian pengertian yang lebih luas
tentang penemuan-penemuan. Penafsiran data tidak dapat dipisahkan dari analisis,
sehingga sebenarnya penafsiran merupakan aspek tertentu dari analisis, dan bukan
merupakan bagian dari analisis. Berikut ini beberapa pengertian penafsiran data, menurut
Moh. Nazir (2005) :
1) Penafsiran adalah penjelasan yang terperinci tentang arti yang sebenarnya dari
materi yang dipaparkan. Data yang telah dalam bentuk tabel, misalnya, perlu
diberikan penjelasan ytang terperinci dengan cara :
untuk menegakkan keseimbangan suatu penelitian,

dalam

pengertian

menghubungkan hasil suatu penelitan dengan penemuan penelitian lainnya.


untuk membuat atau menghasilkan suatu konsep yang bersifat menerangkan atau
menjelaskan.
2) Penafsiran dapat menghubungkan suatu penemuan studi exsploratif menjadi suatu
hipotesis untuk suatu percobaan yang lebih teliti lainnya.
3) Penafsiran berkehendak untuk membangun suatu konsep yang bersifat menjelaskan
(exsplanatory concept)
Stringer (dalam Sukmadinata, 2009) mengemukakan beberapa teknik menginterpretasikan
hasil analisis data kualitatif.
1) Memperluas analisis dengan mengajukan pertanyaan. Hasil analisis mungkin masih
miskin dengan makna, dengan pengajuan beberapa pertanyaan hasil tesebut bisa dilihat
maknanya. Pertanyaan dapat berkenaan dengan hubungan atau perbedaan antara hasil
analisis, penyebab, aplikasi dan implikasi dari hasil analisis.
2) Hubungan temuan dengan pengalaman pribadi. Penelitian tindakan sangat erat kaitanya
dengan pribadi peneliti. Temuan hasil analisis bisa dihubungkan dengan pengalamanpengalaman pribadi peneliti yang cukup kaya.
3) Minat nasihat dari teman yang kritis.

Bila

mengalami

kesulitan

dalam

menginterpretasikan hasil analisis, mintalah pandangan kepada teman yang seprofesi


dan memiliki pandangan yang kritis.
4) Hubungkan hasil-hasil analisis dengan literatur. Faktor eksternal yang mempunyai
kekuatan dalam memberikan interpretasi selain teman, atau kalau mungkin ahli adalah
literature. Apakah makna dari temuan penelitian menurut pandangan para ahli, para
peneliti dalam berbagai literature.

20

5) Kembalikan pada teori. Cara lain utuk menginterpretasikan hasil dari analisis data
adalah hubungkan atau tinjaulah dari teori yang relevan dengan permasalahan yang
dihadapi.

PENULISAN PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF, KUANTITATIF,


DAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS
A. Penelitian Kualitatif
1. Sistematika Proposal Penelitian Kualitatif
Hal-hal yang harus ada dalam proposal penelitian kualitatif adalah:
JUDUL
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.

Latar Belakang Masalah


Rumusan Masalah
Definisi Operasional
Tujuan Penelitian
Kegunaan/Manfaat Penelitian
Landasan Teoretis
Prosedur Penelitian
1. Metode Penelitian
2. Fokus Penelitian
3. Populasi dan Sampel
4. Langkah-langkah Penelitian
5. Teknik Pengumpulan Data
6. Instrumen Penelitian
7. Teknik Analisis Data
8. Waktu dan Tempat Penelitian

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN

B. Penulisan Proposal Penelitian Kuantitatif


1. Sistematika Proposal Penelitian Kuantitatif
Hal-hal yang harus ada dalam proposal penelitian adalah:
JUDUL
A.
B.
C.
D.
E.
21

Latar Belakang Masalah


Rumusan Masalah
Definisi Operasional
Tujuan Penelitian
Kegunaan/Manfaat Penelitian

F. Landasan Teoretis
1. Kajian Teori
2. Penelitian yang Relevan
G. Anggapan Dasar/Asumsi/Kerangka Berpikir
H. Hipotesis/Pertanyaan Penelitian
I. Prosedur Penelitian
1. Metode Penelitian
2. Variabel Penelitian
3. Populasi dan Sampel
4. Disain Penelitian/Paradigma Penelitian
5. Langkah-langkah Penelitian
6. Teknik Pengumpulan Data
7. Instrumen Penelitian
8. Teknik Analisis Data
9. Waktu dan Tempat Penelitian
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
C. Penelitan Tindakan Kelas (PTK)
1. Sistematika Proposal Penelitian Tindakan Kelas
JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
C. Definisi Operasional
D. Tujuan Penelitian
E. Kegunaan / Manfaat Hasil Penelitian
F. LANDASAN TEORETIS
1. Kajian Teori
2. Hasil Penelitian yang Relevan
3. Kerangka Pemikiran
4. Hipotesis Tindakan/Pertanyaan Penelitian
G. PROSEDUR / METODE PENELITIAN
1. Rancangan Penelitian
2. Subjek dan Objek Penelitian
3. Prosedur / Langkah langkah Penelitian
4. Teknik Pengumpulan Data
5. Teknik Analisis Data
22

6. Indikator/Kriteria Keberhasilan
H. JADWAL PENELITIAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN

23