Anda di halaman 1dari 33

Makalah

Anemia Gizi Besi


Diajukan sebagai Salah Satu Tugas dalam Menjalankan Kepaniteraan Klinik
Senior pada Bagian IKM / IKK Fakultas Kedokteran
Universitas Syiah Kuala / RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh

Oleh:
Ema Fitriani

1207101030078

Rizki Kurniawan

1207101030105

Ryan Mirza

1307101030040

Zahriani Ulfa

1307101030029
Pembimbing:

dr. Husnah, MPH


dr. Fatimah Zuraida, PKK

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT/


ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
RSUD dr. ZAINOEL ABIDIN
BANDA ACEH 2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadhirat Allah SWT yang telah


memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah ini. Shalawat beriring salam penulis panjatkan kepangkuan Nabi Besar
Muhammad SAW yang telah menerangi alam semesta dengan ilmu pengetahuan.
Penulis mengucapkan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggitingginya kepada dr. Husnah, MPH dan dr. Fatimah Zuraida, PKK selaku
pembimbing. Penulis menyadari bahwa pada penulisan makalah ini masih
terdapat kekurangan baik dalam penyajian, penulisan dan materi. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi evaluasi dan
pengembangan dalam bidang penulisan dan ilmu pengetahuan.

Banda Aceh, 22 Januari 2015

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL...............................................................................................i

ii

KATA PENGANTAR.............................................................................................ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................iii
DAFTAR TABEL..................................................................................................iv
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................v
BAB I

PENDAHULUAN....................................................................................1
1.1 Latar Belakang..................................................................................1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA..........................................................................3


2.1 Definisi Anemia Gizi.........................................................................3
2.2 Jenis Anemia......................................................................................4
2.3 Epidemiologi Anemia Gizi Besi........................................................8
2.4 Skrining Anemia Gizi......................................................................12
2.5 Diagnosis Individu dan Masyarakat Terhadap Anemia Gizi Besi...12
2.6 Penyebab Terjadinya Anemia Gizi Besi..........................................13
2.6 Upaya Penanganan dan Pencegahan yang Dapat Dilakukan
Terhadap Anemia Gizi Besi............................................................ 15
2.8 Gizi Seimbang pada Ibu Hamil.......................................................21
BAB III PENUTUP..............................................................................................26
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................27

iii

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1 Batasan anemia menurut WHO.............................................................1
Tabel 2.2 Serum Ferritin ........................................................................................6
Tabel 2.3 Proporsi Anemia menurut Karakteristik di Indonesia Tahun 2013......11
Tabel 2.4 Penyebab Langsung Anemia Gizi........................................................13
Tabel 2.5 Penyebab Anemia pada Manula...........................................................14
Tabel 2.6 Persentase Ibu yang Melaporkan Minum Tablet Fe pada Kehamilan
Terakhir Menurut Jumlah hari Minum.................................................19
Tabel 2.7 Cakupan Pemberian 90 Tablet Fe pada Ibu Hamil Menurut Provinsi
Tahun 2013 ..........................................................................................20
Tabel 2.8 Pola Makan secara Umum untuk Memperoleh Gizi Seimbang pada Ibu
Hamil .......................................................................................................... 22
Tabel 2.9 Contoh Menu untuk Ibu hamil dengan Anemia...................................25

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Proporsi Penderita Anemia menurut Umur, Jenis Kelamin, dan
Tempat Tinggal di Indonesia Tahun 2013..........................................10
Gambar 2.2 Proporsi Kelahiran Menurut Konsumsi Zat Besi (Fe) dan Jumlah hari
Mengonsumsi di Indonesia 2013........................................................19
iv

Gambar 2.3 Makanan Pencegah Anemia...............................................................24

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Status gizi adalah derajat ekpresi terhadap pemenuhan kebutuhan fisiologi.
Gangguan gizi akan terjadi jika pemenuhan fisiologis ini tidak terpenuhi atau
terpenuhi berlebihan dalam kurun waktu tertentu, sehingga bermanifestasi dalam
bentuk gangguan gizi, baik masalah kelebihan gizi maupun kekurangan gizi.
Konsep dasar status gizi yang optimal merupakan variabel sebagai ekspresi dari
keseimbangan antara intake zat gizi dan kebutuhan untuk memperoleh derajat
keseimbangan fisiologi yang optimal.1
Masalah gizi masyarakat yang utama di Indonesia masih didominasi oleh
masalah gizi kurang energy protein (KEP), masalah gangguan akibat kurangnya
Iodium (GAKI), masalah kurangnya Vitamin A (KVA), dan masalah anemia gizi.
Zat gizi yang paling berperan dalam proses terjadinya anemia gizi adalah zat besi.
Defisiensi besi merupakan penyebab utama anemia gizi disbanding defisiensi zat
gizi lain seperti asam folat, Vitamin B12, Vitamin C dan trace elements lainnya.2,3,4
Jika ditinjau menurut golongan umurnya, masalah gizi dan penyakit yang
terkait dengan gizi yang sering muncul di masyarakat seperti masalah pada anak
(diare, malnutrisi, dan lain-lain), masalah ibu hamil dan menyusui (anemia gizi,
Kurang Energi Kronik, dan toksemia kehamilan yaitu preeklampsia dan
eklampsia), penyakit infeksi (diare, tuberkulosis, dan seterusnya) dan penyakit
degeneratif (hipertensi, diabetes mellitus, dan sebagainya). Meskipun anemia
disebabkan oleh berbagai faktor, namun lebih dari 50% kasus anemia yang
terbanyak diseluruh dunia secara langsung disebabkan oleh kurangnya masukan
zat gizi besi.1,5,6,7
Anemia gizi besi (iron deficiency anemia) adalah salah satu penyakit
kekurangan gizi yang diderita oleh berbagai lapisan masyarakat mulai dari ibu
hamil, ibu menyusui, remaja putri, pekerja berpenghasilan rendah sampai anak
sekolah. Anemia timbul akibat dari menurunnya jumlah besi total dalam tubuh
(total iron content) menjadi kosong sehingga penyediaan besi untuk eritropoesis
menjadi berkurang. Secara umum, penyebab anemia ini adalah kehilangan besi
1

akibat pendarahan yang menahun dan faktor nutrisi sebagai akibat dari kurangnya
kuantitas maupun kualitas besi total dalam makanan, kebutuhan besi yang
meningkat dan adanya gangguan absorpsi.4
Anemia gizi besi masih merupakan masalah kesehatan masyarakat dengan
prevalensi pada Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi

anemia pada pada anak balita sebesar 28,1 %, anak 5-12 tahun 29 % ibu hamil
37,1 %, remaja putri 13-18 tahun dan wanita usia subur 15-49 tahun masingmasing sebesar 22,7 %. Sedangkan di Aceh prevalensi anemia defisiensi tahun 2010
pada balita 42%, ibu hamil 50%, ibu nifas 45% dan remaja putri 58%. Dari semua
kelompok tersebut, wanita mempunyai resiko paling tinggi untuk menderita
anemia terutama remaja putri.5,6
Faktor nutrisi sebagai akibat kurangnya kuantitas maupun kualitas besi
total dalam makanan, kebutuhan besi yang meningkat dan adanya gangguan
absorpsi. Akibat negatif dari masalah anemia adalah (1) rendahnya kemampuan
jasmani dan produktivitas, (2) rendahnya kemampuan intelektual dan (3)
rendahnya kekebalan tubuh yang menyebabkan tingginya angka kesakitan.
Dengan demikian, maka konsekuensi fungsional dari anemia gizi adalah turunnya
kualitas sumber daya manusia. Sedangkan pada ibu hamil, anemia akan
mengakibatkan gangguan pada ibu, janin yang dikandungnya, serta proses
persalinan.1,4,7
Berdasarkan uraian yang telah disebutkan diatas, penyakit anemia masih
merupakan salah satu masalah gizi utama di Indonesia yang sulit diatasi. Di
Indonesia, sebagian besar anemia disebabkan oleh anemia gizi utamanya anemia
gizi besi. Maka dari itu, penulis ingin membahas lebih lanjut tentang anemia gizi,
terutama anemia gizi besi.

ii

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Anemia Gizi
Anemia adalah suatu keadaan atau kondisi dimana tubuh mengalami
kekurangan darah yang berlebihan yang ditandai dengan rendahnya konsentrasi
hemoglobin. Menurut Citrakesumasari anemia didefinisikan sebagai suatu
keadaan dimana rendahnya konsentrasi hemoglobin (Hb) atau hemotokrit
berdasarkan nilai ambang batas (referensi) yang disebabkan oleh rendahnya
produksi sel darah merah (eritrosit) dan Hb, meningkatnya kerusakan eritrosit
(hemolisis) atau kehilangan darah yang berlebihan.5
Sedangkan WHO (2011) mendefinisikan anemia sebagai suatu kondisi
dimana jumlah sel darah merah (dan akibatnya kapasitas pembawa oksigen
mereka) tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan fisiologis tubuh. 10 Batasan
normal kadar hemoglobin menurut kelompok umur tertentu dan jenis kelamin
dapat dilihat pada tabel 2.1.
Tabel 2.1 Batasan anemia menurut WHO

Sumber: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2013

Gizi adalah semua unsur atau zat yang terdapat dalam makanan atau
semua zat yang terdapat dalam pangan yang berfungsi untuk pertumbuhan dan
perkembangan serta meningkatkan derajat kesehatan seseorang.11
Anemia gizi merupakan anemia yang disebabkan karena kekurangan zat
gizi. Anemia gizi menurut WHO adalah anemia yang terjadi karena kekurangan
satu atau lebih dari nurisi esensial untuk eritropoisis, tanpa memandang
sebabnya.12 Sedangkan dalam skripsi yang dibuat oleh Zebua (2011) menyatakan
bahwa anemia gizi merupakan keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb),
hematokrit, dan sel darah merah lebih rendah dari nilai normal, sebagai akibat dari
defisiensi salah satu atau beberapa unsur makanan yang esensial. Anemia jenis ini
disebabkan oleh faktor dari luar tubuh, yaitu kekurangan salah satu zat gizi. 13 Zatzat gizi yang berperan ialah protein, vitamin (asam folat, vitamin B12, vitamin C
dan vitamin E) dan mineral (Fe dan Cu). Anemia gizi selalu dikaitkan dengan
anemia gizi besi.5 Hal ini disebabkan karena Anemia Gizi Besi (AGB) merupakan
salah satu masalah gizi di lndonesia dan merupakan masalah gizi yang paling
banyak dijumpai pada usia dewasa terutama pada kelompok Wanita Usia Subur
(WUS).14
Anemia gizi besi atau anemia defisiensi besi adalah anemia karena
turunnya cadangan besi tubuh sehingga proses eritropoisis terganggu dan dapat
menurunkan ukuran Hgs darah dan berbagai akibatnya. Anemia defisisensi besi
mencerminkan kemampuan sosial-ekonomi masyarakat untuk dapat memenuhi
kebutuhannya dalam jumlah dan kualitas gizi.12
2.2 Jenis Anemia
Ada dua tipe anemia yang dikenal selama ini, yaitu anemia non-gizi dan
anemia gizi.
A. Anemia Non-Gizi
Anemia non-gizi seperti anemia sel sabit dan talasemia, yang disebabkan
oleh kelainan genetik.5
1. Anemia Sel Sabit
Penyakit Sel Sabit (sickle cell disease / sickle cell anemia) adalah suatu
penyakit keturunan yang ditandai dengan sel darah merah yang berbentuk sabit,
ii

kaku, dan anemia hemolitik kronik. sel darah merah memiliki hemoglobin yang
bentuknya abnormal, sehingga mengurangi jumlah oksigen di dalam sel dan
menyebabkan bentuk sel menjadi seperti sabit. Sel yang berbentuk sabit akan
menyumbat dan merusak pembuluh darah terkecil dalam limpa, ginjal, otak,
tulang, dan organ lainnya sehingga dapat menyebabkan berkurangnya pasokan
oksigen ke organ tersebut.5
2. Talasemia
Merupakan penyakit keturunan (genetik) dimana terjadi kelainan darah
(gangguan pembentukan sel darah merah). Pada penderita talasemia karena sel
darah merahnya ada kerusakan (bentuknya tidak normal, cepat rusak, kemampuan
membawa oksigennya menurun) maka tubuh penderita talasemia akan kekurangan
oksigen, menjadi pucat, lemah, letih, sesak dan sangat membutuhkan pertolongan
yaitu pemberian transfusi darah. Bila tidak segera ditransfusi bisa berakibat fatal.5
3. Anemia Aplastik
Anemia aplastik adalah suatu kelainan yang ditandai oleh pansitopenia
pada darah tepi dan penurunan selularitas sumsum tulang. Pada keadaan ini
jumlah sel-sel darah yang diproduksi tidak memadai. Anemia aplastik sering
diakibatkan oleh radiasi dan paparan bahan kimia. Namun dapat juga terkait
dengan infeksi virus dan dengan penyakit lain.5
B. Anemia Gizi
Anemia gizi disebabkan oleh defisiensi zat besi, asam folat, vitamin E,
vitamin B12, dan vitamin B6.
1. Anemia Gizi Besi
Anemia gizi besi merupakan anemia akibat kekurangan pasokan zat gizi
besi (Fe) yang merupakan inti molekul hemoglobin sebagai unsur utama sel darah
merah.5 Anemia defisiensi besi disebabkan oleh kurangnya mineral Fe (besi)
sebagai bahan yang diperlukan untuk pematangan eritrosit. 13 Akibat anemia gizi
besi terjadi pengecilan ukuran hemoglobin, kandungan hemoglobin rendah, serta
pengurangan jumlah sel darah merah. Anemia zat besi biasanya ditandai dengan
v

menurunnya kadar Hb total di bawah nilai normal (hipokromia) dan ukuran sel
darah merah lebih kecil dari normal (mikrositosis).5 Hemoglobin diukur dalam
satuan gram per 100 ml, nilai normalnya adalah 14-16 g per 100 ml.15
Serum ferritin merupakan petunjuk kadar cadangan besi dalam tubuh.
Pemeriksaan kadar serum ferritin dikerjakan untuk menentukan diagnosis
defisiensi besi. Dalam keadaan infeksi kadarnya dipengaruhi, sehingga dapat
mengganggu interpretasi keadaan sesungguhnya. Pemeriksaan kadar serum
ferritin dapat dilakukan dengan metode immunoradiometric assay (IRMA) dan
enzyme linked immunosorbent assay (ELISA). Ambang batas atau cut off kadar
feritin sangat bervariasi bergantung metode cara memeriksa yang digunakan atau
ketentuan hasil penelitian di suatu wilayah tertentu. Adapun nilai normal serum
ferritin dapat dilihat pada tabel berikut:5
Tabel 2.1 Nilai Serum Ferritin
Umur

ng/ml
Bayi baru lahir
25 200
1 bulan
200 600
2 5 bulan
50 200
6 bulan 15 tahun
7 140
Laki-laki Dewasa
15 200
Perempuan dewasa
12 150
Sumber: Lanzkowsky, Manual of Pediatric Hematology and Oncology, 2005
dalam Citrakesumasari (2012).
Anemia gizi besi terjadi melalui beberapa tingkatan, yaitu:5
1) Tingkatan pertama disebut Anemia Kurang Besi Laten merupakan
keadaan dimana banyaknya cadangan zat besi berkurang dibawah normal,
namun besi di dalam sel darah dan jaringan masih tetap normal.
2) Tingkatan kedua disebut Anemia Kurang Besi Dini merupakan keadaan
dimana penurunan besi cadangan terus berlangsung sampai habis atau
hampir habis, tetapi besi dalam sel darah merah dan jaringan masih tetap
normal.
3) Tingkatan ketiga disebut Anemia Kurang Besi Lanjut merupakan
perkembangan lebih lanjut dari anemia kurang besi dini, dimana besi di
dalam sel darah merah sudah mengalami penurunan, tetapi besi di dalam
jaringan tetap normal.
ii

4) Tingkatan keempat disebut Kurang Besi dalam Jaringan yang terjadi


setelah besi dalam jaringan yang berkurang.
Anemia defisiensi Fe atau anemia gizi besi merupakan defisiensi tipe
primer, bila di dalam hidangan memang kadar Fe merendah. Bila kandungan Fe di
dalam hidangan mencukupi, tetapi absorpsi dan utilisasinya dalam proses
metabolisme Fe itu terhambat disebut defisiensi sekunder. Di indonesia anemia
defisiensi Fe dapat berbentuk tipe primer maupun tipe sekunder. Tipe sekunder
terutama disebabkan oleh infestasi cacing tambang. Pada anak-anak sebab
defisiensi Fe ini adalah kombinasi kekurangan di dalam makanan dan kebutuhn
yang relatif meningkat karena dalam masa pertumbuhan. Pada ibu hamil atau
menyusukan, penyebabnya juga adalah kombinasi kurangnya konsumsi dan
meningkatnya kebutuhan untuk kehamilan dan produksi air susu.2
2. Anemia Gizi Asam Folat
Anemia gizi asam folat disebut juga anemia megaloblastik atau
makrositik. Dalam hal ini keadaan sel darah merah penderita tidak normal dengan
ciri-ciri bentuknya lebih besar, jumlahnya sedikit dan belum matang.
Penyebabnya adalah kekurangan asam folat dan vitamin B12. Padahal kedua zat
itu diperlukan dalam pembentukan nukleoprotein untuk proses pematangan sel
darah merah dalam sumsum tulang.5

3. Anemia Gizi Vitamin E


Anemia defisiensi vitamin E dapat mengakibatkan integritas dinding sel
darah merah menjadi lemah dan tidak normal sehingga sangat sensitif terhadap
hemolisis pecahnya sel darah merah). Karena vitamin E adalah faktor esensial
bagi integritas sel darah merah.5
4. Anemia Gizi Vitamin B12
Anemia ini disebut juga pernicious, keadaan dan gejalanya mirip dengan
anemia gizi asam folat. Namun disertai gangguan pada sistem alat pencernaan
v

bagian dalam. Pada jenis yang kronis bisa merusak sel-sel otak dan asam lemak
menjadi tidak normal serta posisinya pada dinding sel jaringan saraf berubah.5
Defisiensi kobalamin (vitamin B12) bisa mengganggu pembentukan sel
darah merah, sehingga menimbulkan berkurangnya jumlah sel darah merah.
Akibatnya, terjadi anemia. Gejalanya meliputi kelelahan, kehilangan nafsu makan,
diare, dan murung. Kebutuhan tubuh terhadap vitamin B12 sama pentingnya
dengan mineral besi. Vitamin B12 bersama-sama besi berfungsi sebagai bahan
pembentukan darah merah. Kekurangan vitamin ini tidak hanya memicu anemia,
melainkan dapat mengganggu sistem saraf. Kekurangan vitamin B12 seseorang
kurang darah (anemia). Ditandai dengan diare, lidah yang licin.5
5. Anemia Gizi Vitamin B6
Anemia ini disebut juga siderotic. Keadaannya mirip dengan anemia gizi
besi, namun bila darahnya diuji secara laboratoris, serum besinya normal.
Kekurangan vitamin B6 akan mengganggu sintesis (pembentukan) hemoglobin.5
2.3 Epidemiologi Anemia Gizi Besi
2.3.1 Distribusi dan Frekuensi
Prevalensi anemia sebagai masalah kesehatan masyarakat dikategorikan
oleh WHO sebagai berikut:5

Tabel 2.2 Prevalensi Anemia Sebagai Masalah Kesehatan Masyarakat


Prevalensi Anemia(%)

Klasifikasi Anemia Sebagai Masalah


Kesehatan Masyarakat
< 4,9
Bukan masalah kesehatan masyarakat
5 19,9
Masalah kesehatan masyarakat ringan
20 39,9
Masalah kesehatan masyarakat yang moderat
> 40
Masalah kesehatan masyarakat yang parah
Sumber: WHO. 2001. Iron Deficiency Anaemia Assessment, Prevention, and
Control. A guide for programmed managers dalam Citrakesumasari (2012).
Prevalensi anemia tinggi pada anak-anak usia 1-5 tahun di Negara
berkembang. Anemia sudah diperkirakan pada sekitar 245 juta anak di bawah usia
5 tahun yang anemia di dunia dan kekurangan zat besi adalah penyebab paling
umum untuk itu. Hal ini disebabkan karena kurangnya asupan nutrisi dan
ii

bioavailabilitas zat besi yang rendah dalam diet. 16 Pada penelitian yang dilakukan
oleh Sudaghandi, dkk. (2012) di daerah Kattankulathur, India, dilaporkan
prevalensi anemia pada anak usia 1-3 tahun sebanyak 75,2%. Persentasi anak
yang mengalami anemia pada laki-laki dan perempuan masing-masing yaitu
79,1% dan 71,7%.16
Anemia gizi besi merupakan salah satu dari empat masalah gizi utama
yang ada di Indonesia (KEP, KVA, Defisiensi Iodium, Anemia). Pada wanita
hamil anemia dapat meningkatkan prevalensi kematian kesakitan ibu dan
bayinya.5

Gambar 2.1 Proporsi Penderita Anemia menurut Umur, Jenis Kelamin, dan
Tempat Tinggal di Indonesia Tahun 2013
2.3.2 Determinan
Anemia lebih sering terjadi pada kelompok penduduk yang berpendidikan
rendah. Hal ini dikarenakan pada kelompok ini umumnya tidak dapat memilih
bahan makanan yang mengandung zat besi tinggi dan kurang mempunyai akses
mengenai informasi anemia dan penanggulangannya. Penelitian menunjukkan
bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin baik pula
pengetahuannya tentang sesuatu. Tingkat pendidikan berhubungan dengan status
gizi karena dengan meningkatnya pendidikan kemungkinan akan meningkatkan
v

pendapatan sehingga dapat menigkatkan daya beli makanan. Faktor ketidaktahuan


dapat disebabkan karena pendidikan yang rendah, atau bila berpendidikan
mungkin disebabkan karena ketidakpedulian.13
Status sosial ekonomi juga berpengaruh terhadap anemia. Kemampuan
keluarga untuk membeli bahan makanan tergantung pada besar kecilnya
pendapatan keluarga dan harga bahan makanan itu sendiri. Keluarga dengan
pendapatan terbatas kemungkinan besar kurang dapat memenuhi kebutuhan
makanannya, terutama memenuhi kebutuhan zat gizi dalam tubuhnya. Akibat dari
kurangnya asupan zat gizi dalam tubuhnya, sehingga kemungkinan terkena
anemia tinggi.13
Tabel 2.3 Proporsi Anemia menurut Karakteristik, Indonesia 2013

ii

Sumber: Riset Kesehatan Dasar Indonesia, 2013

2.4 Skrining Anemia Gizi


Skrining adalah cara untuk mengidentifikasi penyakit yang belum tampak
melalui suatu tes atau pemeriksaan atau prosedur lain yang dapat dengan cepat

memisahkan antara orang yang mungkin menderita penyakit dengan orang yang
mungkin tidak menderita.18
Pada wanita skrining diperlukan untuk mengidentifikasi kelompok wanita
yang harus diobati dalam mengurangi morbiditas anemia. Center of Disease
Control (CDC) menyarankan agar remaja putri dan wanita dewasa yang tidak
hamil harus diskrining tiap 5-10 tahun melalui uji kesehatan, meskipun tidak ada
faktor risiko anemia seperti perdarahan, rendahnya intake gizi dan sebagainya.
Namun, jika disertai dengan adanya risiko anemia, maka skrining harus dilakukan
secara tahunan.13
2.5 Diagnosis Individu dan Masyarakat Terhadap Anemia Gizi Besi
Diagnosa anemia dilakukan demgan mengukur kadar hemoglobin dan
dapat dibantu dengan penetapan PCV (Packed Cell Volume), RBC (Red Blood
Cell Count) pengukuran diameter eritrosit dan pemeriksaan reticulocytes. Di
klinik hemoglobin dapat diukur dengan metode SAHLI dan di laboratorium dapat
dipergunakan metode Cyanomethemoglobin.2
Defesiensi Fe dapat didiagnosa berdasarkan data klinik dan data
laboratorik

ditunjang

oleh

data

konsumsi

pangan.

Gambaran

klinik

memperlihatkan kondisi anemia. Muka pasien atau penderita terlihat pucat, juga
selaput lendir kelopak mata, bibir dan kuku. Penderita terlihat dan merasa
badannya lemah, kurang bergairah dan cepat menjadi lelah, dan juga sering
menunjukkan sesak nafas.2
Keluhan subjektif yaitu merasa lemah, cepat lelah dan sering kunangkunang dan kleyengan terutama bila bangun mendadak setelah duduk atau tiduran.
Pada palpasi mungkin terdapat splenomegalia dan pada auskultasi dapat terdengar
bising jantung.2
Data laboratorik memperlihatkan kadar hemoglobin yang menurun di
bawah 11 g%, bahkan pada yang berat penururnan hemoglobin ini dapat mencapai
di bawah 10% atau lebih rendah lagi.2 Pada ibu hamil, pembagian anemia yaitu
Hbs antara 9-10 gr% tergolong ringan, 7-8 gr% anemia sedang, dan Hbs kurang
dari 7 gr% tergolong anemia berat.12 Gambaran mikroskopik memperlihatkan
anemia mikrociter hipokromik dimana eritrosit memiliki diameter yang lebih kecil
ii

dari 7u dan eritrosit tampak lebih pucat. Pada data konsumsi mungkin
memperlihatkan hidangan yang kurang mengandung daging atau bahan makanan
hewan lain dan juga kurang sayur dan daun yang berwarna hijau.2
2.6 Penyebab Terjadinya Anemia Gizi Besi
Anemia gizi disebabkan oleh karena tidak tersedianya zat-zat gizi dalam
pembentukan sel darah merah. Zat zat yang berperan yaitu protein, vitamin,
(asam folat, vitamin B12, Vitamin C & Vitamin E) dan mineral (Fe dan Cu).5
Penyebab langsung anemia gizi:5
Tabel 2.4 Penyebab Langsung Anemia Gizi

Sumber: FAO 1992 dalam Citrakesumasari (2012)


Pada kelompok usia lanjut, penyebab tersering anemia adalah akibat
penyakit kronik dan defisiensi besi.
Tabel 2.5 Penyebab Anemia pada Manula
Penyebab Anemia
Anemia karena penyakit kronik
Defisiensi besi
Pendarahan
Defisiensi asam folat dan vitamin B12
Leukimia kronik atau limfoma
Sindrom mielodisplastik
Penyebab tidak diketahui

Persentase (%)
30 - 45
15 - 30
5 - 10
5 - 10
5
5
15 25
v

Sumber: Joosten E, Pelemans W, Hiele M, Noyen J, Verghaeghe R, Boogaerts


MA. Prevalence and causes of anaemia in a geriatric hospitalized population.
Gerontol 1992; dalam Citrakesumasari (2012)
Ada tiga penyebab anemia defisiensi zat besi, yaitu:18
a. Kehilangan darah secara kronis
Pada pria dewasa, sebagian besar kehilangan darah disebabkan oleh proses
perdarahan akibat penyakit atau akibat pengobatan suatu penyakit. Pada wanita,
kehilangan darah terjadi secara alamiah setiap bulan. Jika darah yang keluar
selama haid sangat banyak akan terjadi anemia defisiensi zat besi.18
Kehilangan zat besi dapat pula diakibatkan oleh infestasi parasit, seperti
cacing tambang, schistosoma dan trichuris trichiura. Hal ini sering terjadi di
negara tropis, lembab dan keadaan sanitasi yang buruk. Darah yang hilang akibat
infestasi cacing tambang bervariasi antara 2-100 cc/hari, tergantung pada beratnya
infestasi. Jika jumlah zat besi dihitung berdasarkan banyaknya telur cacing yang
terdapat dalam tinja, jumlah zat besi yang hilang per seribu adalah sekitar 0,8 mg
untuk necator americanus sampai 1,2 mg untuk ancylostoma duodenale.18
b. Asupan dan serapan tidak adekuat
Makanan yang banyak mengandung zat besi adalah bahan makanan yang
berasal dari daging hewan. Selain banyak mengandung zat besi, serapan zat besi
dari sumber makanan tersebut mempunyai angka keterserapan sebesar 20-30%.18
Kebiasaan konsumsi makanan yang dapat mengganggu penyerapan zat
besi seperti kopi dan teh secara bersamaan pada waktu makan menyebabkan
serapan zat besi semakin rendah.18
c. Peningkatan kebutuhan
Asupan zat besi harian diperlukan untuk mengganti zat besi yang hilang
melalui tinja, air seni dan kulit. Berdasarkan jenis kelamin, kehilangan zat besi
untuk pria dewasa mendekati 0,9 mg dan 0,8 untuk wanita.18
Sebagian peningkatan ini dapat terpenuhi dari cadangan zat besi, serta
peningkatan adaptif jumlah persentase zat besi yang terserap melalui saluran
cerna. Namun, jika cadangan zat besi sangat sedikit sedangkan kandungan dan
serapan zat besi dalam dan dari makanan sedikit, pemberian suplementasi pada
masa-masa ini menjadi sangat penting.18
ii

2.7 Upaya Penanganan dan Pencegahan Yang Dapat Dilakukan Terhadap


Anemia Gizi Besi
Mengingat tingginya prevalensi anemia gizi yang terjadi dan anemia
masih menjadi penyakit defisiensi maka diperlukan suatu tindakan penanganan
dan pencegahan yang terpadu. Penanganan dan pencegahan anemia gizi dapat
dilakukan dengan melakukan fortifikasi makanan, suplementasi tablet besi dan
juga dengan melakukan pendidikan kesehatan.
A. Fortifikasi Makanan
Fortifikasi adalah suatu tindakan menambahkan kandungan mikronutrien,
yaitu vitamin dan mineral (termasuk elemen) dalam makanan, sehingga dapat
meningkatkan kualitas gizi dari pasokan makanan dan memberikan manfaat
kesehatan masyarakat dengan risiko minimal bagi kesehatan. Fortifikasi makanan
merupakan salah satu cara terampuh dalam pencegahan defisiensi zat besi.5,19
Fortifikasi makanan yang banyak dikonsumsi dan yang diproses secara
terpusat merupakan inti pengawasan anemia di berbagai Negara. Fortifikasi
makanan pokok yang banyak dikonsumsi dan dibuat secara massal dengan zat
besi merupakan tulang punggung pengawasan anemia di banyak negara. Di
negara-negara industri, hasil olahan makanan fortifikasi yang paling lazim adalah
tepung jagung dan roti.13,18
Terdapat dua macam fortifikasi, pertama fortifikasi sukarela oleh industri
pangan kemasaan untuk meningkatkan nilai tambah. Kedua fortifikasi wajib yang
bertujuan untuk mengatasi masalah kekurangan gizi masayarakat, khususnya
masyarakat miskin.5
Adapun beberapa manfaat fortifikasi adalah sebagai berikut:5
a) Pencegahan atau minimalisasi risiko terjadinya defisiensi mikronutrien
pada populasi atau kelompok penduduk tertentu.
b) Kontribusi untuk perbaikan defisiensi mikronutrien yang terdapat dalam
populasi atau kelompok populasi tertentu.

c) Meningkatkan kualitas gizi dari produk pangan olahan (pabrik) yang


digunakan sebagai sumber pangan bergizi.
Syarat untuk fortifikasi wajib:5
a) Makanan yang umumnya selalu ada disetiap rumah tangga dan dimakan
secara teratur dan terus-menerus oleh masyarakat termasuk masyarakat
miskin.
b) Makanan itu diproduksi dan diolah oleh produsen yang terbatas
jumlahnya, agar mudah diawasi proses fortifikasinya.
c) Tersedianya teknologi fortifikasi untuk makanan yang dipilih.
d) Makanan tidak berubah rasa, warna dan konsistensi setelah difortifikasi.
e) Tetap aman dalam arti tidak membahayakan kesehatan. Oleh karena itu
program fortifikasi harus diatur oleh undang-undang atau peraturan
pemerintah, diawasi dan dimonitor, serta dievaluasi secara teratur dan
terus menerus.
f) Harga makanan setelah difortifikasi tetap terjangkau daya beli konsumen
yang menjadi sasaran.
Atas dasar persyaratan tersebut, makanan yang umumnya difortifikasi
(wajib) terbatas pada jenis makanan pokok (terigu, jagung, beras), makanan
penyedap atau bumbu seperti garam, minyak goreng, gula, kecap kedele, kecap
ikan, dan Mono Sodium Glutamat (MSG).5
B. Suplementasi Tablet Besi
Tablet besi merupakan suatu sediaan farmasi yang berbentuk tablet
mengandung zat besi (ferro), yang disediakan oleh pemerintah, diutamakan
diberikan kepada sasaran yaitu masyarakat berpenghasilan rendah.5
Pemberian tablet tambah darah pada pekerja atau lama suplementasi
selama 3- 4 bulan untuk meningkatkan kadar hemoglobin, karena kehidupan sel
darah merah hanya sekitar 3 bulan atau kehidupan eritrosit hanya berlangsung
selama 120 hari, maka 1/20 sel eritrosit harus diganti setiap hari atau tubuh
memerlukan 20 mg zat besi perhari. Tubuh tidak dapat menyerap zat besi (Fe) dari
makanan sebanyak itu setiap hari, maka suplementasi zat besi tablet tambah darah
sangat penting dilakukan. Tablet besi ini bertujuan untuk mencegah anemia yang
terutama disebabkan oleh defesiensi zat besi sehingga prevalensi anemia
ii

menurun. Oleh karena itu pengobatan selalu menggunakan suplementasi zat


besi.5,18
Suplementasi zat besi adalah salah satu strategi untuk meningkatkan
asupan zat besi yang hanya berhasil jika individu mematuhi aturan konsumsinya.
Banyak faktor yang mendukung rendahnya tingkat kepatuhan tsersebut, seperti
individu sulit mengingat aturan minum tiap hari, minimnya dana untuk membeli
suplemen secara teratur dan efek samping yang tidak nyaman dari zat besi.13
Menurut Sulistyoningsih (dalam Nourita Mega) beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam mengkonsumsi tablet besi yaitu:20
a. Minum tablet besi dengan air putih, jangan minum dengan teh, susu, kopi
karena dapat menurunkan penyerapan zat besi dalam tubuh sehingga
manfaatnya menjadi berkurang.
b. Kadang- kadang dapat terjadi gejala ringan yang tidak membahayakan
seperti perut terasa tidak enak, mual-mual, susah buang air besar dan tinja
berwarna hitam.
c. Untuk mengurangi gejala sampingan, minum tablet besi setelah makan
malam, menjelang tidur. Akan lebih baik bila setelah minum tablet besi
disertai makan buah-buahan seperti pisang, pepaya, jeruk, dan lain-lain.
d. Simpanlah tablet besi di tempat yang kering, terhindar dari sinar matahari
langsung, jauhkan dari jangkauan anak, dan setelah dibuka harus ditutup
kembali dengan rapat. Tablet besi yang telah berubah warna sebaiknya
tidak diminum (warna asli: merah darah).
e. Tablet besi tidak menyebabkan tekanan darah tinggi atau kebanyakan
darah.
f. Tablet besi adalah obat bebas terbatas sehingga dapat dibeli di Apotek,
toko obat, warung, Bidan Praktik, Pos Obat Desa.
g. Dianjurkan menggunakan tablet besi generik yang disediakan pemerintah
dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat, namun dapat pula
dipergunakan tablet besi dengan merk dagang lain yang memenuhi
kandungan seperti tablet besi generik.
v

Program penanggulangan anemia gizi pada ibu hamil telah dikembangkan


sejak tahun 1975 melalui distribusi Tablet Tambah Darah (TTD). TTD merupakan
suplementasi gizi mikro khususnya zat besi dan folat yang diberikan kepada ibu
hamil untuk mencegah kejadian anemia gizi besi selama kehamilan. Penelitian
terakhir membuktikan bahwa pemberian tablet Fe di Indonesia dapat menurunkan
kematian neonatal sekitar 20%.8
Secara nasional cakupan ibu hamil mendapat 90 tablet Fe tahun 2013
sebesar 89,1%. Koordinasi dan kegiatan yang terintegrasi dengan lintas program
masih perlu di tingkatkan agar cakupan dapat meningkat karena pemberian tablet
Fe merupakan salah satu komponen standar pelayanan antenatal.8

Gambar 2.2 Proporsi Kelahiran Menurut Konsumsi Zat Besi (Fe) dan Jumlah hari
Mengonsumsi, Indonesia 2013
Tabel 2.6 Persentase Ibu yang Melaporkan Minum Tablet Fe Pada Kehamilan
Terakhir Menurut Jumlah hari Minum, Riskesdas 2013

ii

Sumber: Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dalam Angka, 2013


Tabel 2.7 Cakupan Pemberian 90 Tablet Fe pada Ibu Hamil Menurut Provinsi
Tahun 2013

Sumber: Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dalam Angka, 2013


Pada gambar 2.2 dapat dilihat terdapat 10,9 persen ibu hamil yang tidak
minum tablet Fe, dan hanya 67,7 persen yang minum tablet Fe 90 hari atau lebih.
Diantara Ibu hamil tersebut ada 21,4 persen yang menjawab tidak tahu.21
C. Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan dapat dilakukan melalui penyuluhan gizi untuk
mendorong konsumsi makanan yang membantu absorpsi zat besi. Bidan berperan
untuk memberikan informasi kepada ibu karena terkadang pasien kurang
ii

memperhatikan kualitas makanan yang dikonsumsinya. Biasanya masyarakat


lebih mementingkan selera dengan mengabaikan kualitas makanan yang
dikonsumsi.13
D. Pengawasan Penyakit Infeksi
Pengawasan penyakit infeksi memerlukan upaya kesehatan seperti
penyediaan air bersih, perbaikan sanitasi lingkungan dan kebersihan perorangan.
Tindakan yang penting sekali dilakukan selama penyakit berlangsung adalah
mendidik keluarga penderita tentang cara makan yang sehat selama dan sesudah
sakit.18
Apabila terjadi infeksi parasit, cacing tambang (Ancylostoma dan Necator)
serta Schistosoma merupakan penyebabnya. Sementara peran parasit usus yang
lain terbukti sangat kecil. Parasit dalam jumlah besar dapat menggaggu
penyerapan berbagai zat gizi. Karena itu, parasit harus dimusnahkan secara rutin.
Jika pemusnahan parasit usus tidak dibarengi dengan langkah pelenyapan sumber
infeksi, reinfeksi dapat terjadi sehingga memerlukan obat lebih banyak.18
Pemusnahan cacing dapat efektif dalam hal menurunkan parasit, tetapi
manfaatnya di tingkat hemoglobin sangat sedikit. Jika asupan zat besi bertambah,
baik melalui pemberian suplementasi maupun fortifikasi makanan, kadar
hemoglobin akan bertambah meskipun parasitnya sendiri belum tereliminasi.18
2.8 Gizi Seimbang pada Ibu Hamil
Dampak kekurangan Gizi pada ibu hamil secara umum akan menimbulkan
kerugian sebagai berikut:
a. Pengaruh pada ibu hamil antara lain: Ibu lemah dan kurang nafsu makan,
perdarahan dalam masa kehamilan, kemungkinan terkena infeksi tinggi, anemia
(Hb < 11 g /dL).

b. Pengaruh pada janin antara lain: Keguguran, bayi lahir mati, cacat bawaan,
anemia pada bayi, berat badan lahir rendah, dan keadaan umum kesehatan bayi
baru lahir kurang.
c. Pengaruh pada Saat Persalinan antara lain: Persalinan sulit, persalinan sebelum
waktunya (prematur), perdarahan setelah persalinan, persalinan dengan operasi
cenderung meningkat.
Karena itu maka pada ibu hamil harus menjaga pola makan seimbang
selama kehamilan dengan tujuan menjaga kesehatan ibu hamil, untuk kesehatan
janin yang dikandung, persiapan persalinan, dan untuk pemulihan pasca
melahirkan.
Pedoman Pola Makan Ibu Hamil untuk mendapatkan Gizi Seimbang,
terdapat pada tabel 2.8 di bawah ini :
Tabel 2.8 Pola Makan secara Umum untuk Memperoleh Gizi Seimbang pada Ibu Hamil

Sumber: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2013


Anemia ibu hamil perlu ditangani segera melalui asupan gizi yang baik
sesuai kebutuhan. Makanan yang harus dikonsumsi adalah yang kaya akan zat
besi, tapi sebaiknya juga kaya protein. Contohya daging, ikan, telur, kacangkacangan dan sayuran berwarna hijau yang mengandung vitamin dan mineral.
Jika kadar Hemoglobin (Hb) <910.9 g/100 ml, lakukan tindakan sebagai
berikut:
ii

a. Ibu harus makan 1 piring lebih banyak dari biasanya dan minum minimal
8 gelas sehari (1,5- 2,0 liter)
b. Makan makanan sumber protein hewani dan Vitamin C setiap hari untuk
meningkatkan penyerapan zat besi dalam usus dan pemanfaatan zat besi
dalam tubuh
c. Minum 1 tablet Fe (mengandung 60 mg elemental iron dan 0,025 mg asam
folat) per hari selama 90 hari . Bagi ibu hamil yang berada di daerah
endemis malaria perlu pertimbangan khusus berdasarkan hasil anamnesis
dan diagnosis gizi dan penyakit yang ditegakkan dengan baik
Selanjutnya monitoring dan evaluasi dilakukan dengan cara pemeriksaan
kadar hemoglobin setelah 3 bulan dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Jika kadar Hb naik, teruskan makan 1 piring lebih banyak, konsumsi tablet
Fe dan makan makanan sumber protein hewani tiap hari, sampai waktu
melahirkan
2. Jika kadar Hb tidak naik, segera dirujuk ke pelayanan kesehatan yang
lebih tinggi
Diet untuk ibu hamil anemia harus mengandung zat besi, asam folat dan
vitamin B12 dalam jumlah cukup dan disesuaikan dengan tingkat penurunan
kadar hemoglobin. Berikut adalah beberapa contoh bahan makanan yang dapat
meningkatkan kadar hemoglobin:
1. Kelompok makanan kaya akan zat besi, folat dan vitamin B12: tempe,
ikan, udang, kerang-kerangan, hati dan daging merah dan lain-lain.
2. Kelompok makanan kaya protein: telur, ikan, susu, daging dan lain-lain.
3. Kelompok sayuran hijau: bayam, daun singkong, kangkung dan lain-lain.
4. Kelompok buah yang kaya vitamin C: jambu, jeruk atau tomat dan lainlain.

Gambar 2.3 Makanan pencegah anemia

ii

Tabel 2.9 Contoh Menu untuk Ibu hamil dengan Anemia

Sumber: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2013.

BAB III
PENUTUP
Anemia gizi besi masih merupakan suatu masalah kesehatan di Indonesia.
Anemia defisiensi besi dapat menyebabkan terjadinya berbagai komplikasi antara
lain berupa gangguan fungsi kognitif, penurunan daya tahan tubuh, tumbuh
kembang yang terlambat, penurunan aktivitas, dan perubahan tingkah laku. Oleh
karena itu masalah ini memerlukan cara penanganan dan pencegahan yang tepat.
Pemberian preparat besi secara selama 3-5 bulan. Mencari dan mengatasi
penyebab merupakan hal yang penting untuk mencegah kekambuhan.
Efek samping anemia ibu dan kekurangan zat besi pada saat kehamilan
dapat

menyebabkan

dampak

buruk.

Dampak

tersebut

termasuk

yang

menyebabkan pada kematian ibu, morbiditas, dan kesejahteraan, dan kesehatan


bayi dan perkembangan serta kelahiran prematur dan berat lahir rendah
berikutnya. Anemia defisiensi besi ini dapat di cegah dengan makanan bergizi
seimbang dengan asupan zat besi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh
serta pemberian Fe 1 kali setiap hari selama 90 hari.
Kegiatan Penanggulangan Anemia Gizi untuk berbagai kelompok rentan perlu
terus dilaksanakan secara berkesinambungan untuk mencapai sumber daya manusia dan
generasi penerus yang berkualitas. Meskipun peningkatan status kesehatan dan gizi
merupakan tanggung jawab masing-masing orang tua dan keluarganya, pendidik, petugas
kesehatan, tokoh pemuda atau agama serta masyarakat sangat berperan dalam mendukung
upaya penanggulangan anemia gizi.

26

DAFTAR PUSTAKA
1. Almatsier, Sunita. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. PT Gramedia Pustaka Utama:
Jakarta, 2009.
2. Sediaoetama, Achmad Djaeni. Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi Jilid II.
PT Dian Rakyat: Jakarta, 2010.
3. Supariasa, I Dewa Nyoman, et al. Penilaian Status Gizi. Penerbit Buku
Kedokteran EGC: Jakarta, 2002.
4. Citrakesumasari. Anemia Gizi, Masalah dan Pencegahannya. Penerbit Kalika:
Yogyakarta, 2012.
5. Fatmah. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Raja Grafindo Persada: Jakarta,
2007.
6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Riset Kesehatan Dasar
(RISKESDAS) 2013. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Kementerian Kesehatan RI, 2013.
7.
8. Nelly Rosdiana, Dedy G., Bidasari Lubis, Adi Sutjipto, dan Ridwan M.
Daulay. 9-12 Tahun yang Menderita Anemia Defisiensi Besi. Majalah
Kedokteran Nusantara Volume 41, No. 2 Juni 2008; 112-116.
9. Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat Tahun 2013. Kementerian
Kesehatan RI: Jakarta, 2013.
10. St. Fatimah, Veni Hadju, Burhanuddin Bahar, Zulkifli Abdullah. Pola
Konsumsi dan Kadar Hemoglobin pada Ibu Hamil di Kabupaten Maros,
Sulawesi Selatan. Makara, Kesehatan, Vol. 15, No. 1, Juni 2011: 31-36.
11. World Health Organization. Haemoglobin Concentrations for The Diagnosis
of Anaemia and Assessment of Severity. Vitamin and Mineral Nutrition
Information System. Geneva, World Health Organization, 2011.
12. Sirajuddin, Saifuddin., et al. Penuntun Praktikum. Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Hasanuddin Makassar. Makassar, 2013.
13. Manuaba, Ida Bagus Gde. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri
Glinekologi dan KB. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta, 2001.
14. Zebua, Advince Mayasari. Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian
Anemia Gizi pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Tuhemberua
Kabupaten Nias Utara Tahun 2011. Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara: Medan, 2011.

26

15. Kurniati, A.Razak Thaha, Nurhaedar Jafar. Hubungan Asupan Zat Gizi dengan
Kejadian Anemia pada Wanita Prakonsepsi di Kecamatan Ujung Tanah dan
Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar. Jurnal. Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Hasanuddin: Makassar, 2013.
16. Watson, Roger. Anatomi dan Fisiologi untuk Perawat. Penerbit Buku
Kedokteran EGC: Jakarta, 2002.
17. B. Sudhagandhi, A. Prema, S. Sundaresan, W. Ebenezer William dan G.
Shivashekar. 2012. Anemia in Toddlers of Kattankulathur, Kancheepuram
District, (Tamil Nadu) India. International Journal of Pharma and Bio
Sciences. Vol 3, Jan Mar 2012: 687-692.
18. Dhuha Itsnanisa Adi, Aminuddin Syam, Sitti Nurrochimawati. 2012. Edukasi
Gizi Terhadap Pola Konsumsi Ibu Hamil Anemia dalam Upaya Perbaikan
Kadar Hemoglobin di Puskesmas Sudiang Raya Makassar. Media Gizi
Masyarakat Indonesia, Vol.2, No.1, Agustus 2012 : 17-21.
19. Ridwan Amiruddin, A.Arsunan Arsin, A.Zulkifli Abdullah, Ida Leida maria,
Jumriani Ansar. Modul Prinsip Epidemiologi. Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Hasanuddin: Makassar, 2011.
20. Lyza, Riana. Hubungan Kadar Hemoglobin dengan Produktivitas Kerja
Pemanen Kelapa Sawit PT. Peputra Supra Jaya Kecamatan Langgam
Kabupaten Pelalawan Propinsi Riau Tahun 2010. Skripsi. Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Sumatera Utara, Medan: 2010.
21. Fratika, Nourita Mega. Hubungan Antara Pengetahuan Tentang Anemia,
Pendidikan Ibu, Konsumsi Tablet Fe dengan Kadar Hemoglobin pada Ibu
Hamil Trimester III di RB Bhakti Ibu Kota Semarang. Tesis. Universitas
Muhammadiyah Semarang, 2011.
22. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Buku Saku Asuhan Gizi di
Puskesmas, Pedoman Pelayanan Gizi Bagi Petugas Kesehatan. Jakarta:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2013.