Anda di halaman 1dari 67

Silabus

Mata kuliah ini akan memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang isi dan
makna dari kitab 1 dan 2 Korintus secara mendalam.
I.

Tujuan Umum
1. Setelah mempelajari Mata Kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat
memahami apa yang menjadi alasan penulisan surat 1 dan 2 Korintus.
2. Setelah mempelajari Mata Kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat
memahami bagaimana Rasul Paulus mengatasi permasalahan di Gereja
Korintus.
3. Setelah mempelajari Mata Kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat
memahami bagaimana pengejaran Paulus secara umum kepada gereja
Korintus.

II. Tujuan Khusus


1. Setelah mempelajari Mata Kuliah ini mahasiswa dapat menjelaskan apaapa saja yang menjadi latar belakang penulisan surat I & II Korintus.
2. Setelah mempelajari Mata Kuliah ini Mahasiswa dapat menjelaskan apaapa saja yang menjadi permasalahan di gereja Korintus dan bagaimana
Rasul Paulus memberikan solusi atas permasalahan tersebut.
3. Setelah mempelajari Mata Kuliah ini Mahasiswa dapat menjelaskan
berbagai doktrin yang Diajarkan Paulus melalui surat I & II Korintus.
4. Setelah mempelajari Mata Kuliah ini Mahasiswa dapat menjelaskan
bagaimana pengajaran paulus tentang etika praktek hidup orang percaya.
III. Tugas-Tugas
A. Bacaan Wajib
1. Mahasiswa diwajibkan membaca selesai Surat 1-2 Korintus selambatlambatnya satu bulan setelah mengikuti perkuliaahan ini.
2. Membuat laporan bahwa telah selesai membaca dalam satu lembar kertas
A4.
3. Membaca buku yang berkaitan dengan mata kuliah ini minimal 100
halaman; selanjutnya melaporkan secara ringkas dan diserahkan kepada
dosen pengampun pada akhir semester.
B. Aktifitas Wajib
1. Mahasiswa wajib hadir secara aktif dalam mengikuti perkuliahan.
2. Diwajibkan mengikuti secara aktif diskusi yang ditentukan
3. Selain aktif mengikuti kuis, mahasiswa wajib mengikuti ujian, baik
tengah maupun akhir semester.

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 1

IV. Sistem Penilaian


Nilai diakumulasikan dari kehadiran secara aktif, tugas-tugas yang diberikan
serta ujian yang diselenggarakan guna mengevaluasi hasil studi. Hindari dan
jauhkan diri dari hal-hal yang diharamkan dalam rangka untuk memperoleh nilai
yang diharapkan, karena hal itu justru akan merugikan pada akhirnya.
Standar Nilai
Angkat
91 100
81 90
74 80
68 73
60 67
51 59
41 50
>40

Huruf
:A
: AB
:B
: BC
:C
: CD
:D
:E

Kasiatin Widianto, M.Th

Bobot
4
3,5
3
2,5
2
1,5
1
0

Predikat
Sangat Baik
Baik +
Baik
Cukup +
Cukup
Kurang +
Kurang
Sangat Kurang

Page 2

Garis Basar 1 Korintus

I. PENGANTAR
A. Kota Korintus
B. Jemaat Korintus
C. Penulis
D. Waktu dan Tempat Penulisan
E. Penerima Surat 1 Korintus
F. Penulisan Surat Korintus
G. Alasan Penulisan Surat 1 Korintus
H. Ciri Khas Surat 1 Korintus

II. PENDAHULUAN (1:1-9)


A. Salam (1:1-3)
B. Ucapan Syukur (1:4-9)

III. PERPECAHAN DALAM JEMAAT (1:10 4:21)


A. Fakta Perpecahan (1:10-17)
B. Sebab Perpecahan (1:18-4:5)
C. Teguran terhadap yang Berpihak (4:6-21)

IV. PERSOALAN MORALITAS DALAM JEMAAT (5:1-6:20)


A. Tentang Percabulan (5:1-13)
B. Tentang Penuntutan Perkara (6:1-11)
C. Nasihat Mengenai Percabulan (6:12-20)

V. MASALAH-MASALAH DALAM JEMAAT (7:1-15:58)


A. Perkawinan (7:1-40)
B. Kebebasan Orang Kristen dan Batas-batasnya (8:1-11:1)
C. Kebaktiam Umum (11:2-14:40)
D. Hal Kebangkitan (15:1-58)

VI. HAL-HAL LAIN (16:1-24)


A. Bantuan untuk Jemaat di Yerusalem (16:1-4)
B. Rencana Kujungan Paulus dan Timotius (16:5-12)
C. Nasihat Terakhir dan Salam (16:13-124)

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 3

EKSPOSISI 1 KORINTUS

I. PENGANTAR
A. Kota Korintus
A.1 Secara Geografis
Korintus, sebuah kota kuno di Yunani, merupakan kota metropolitan Yunani
yang terkemuka pada zaman Paulus. Terletak di tempat yang strategis dan
penting, yaitu terletak di tengah, yang menjembatani Yunani Utara dengan
Peloponesus. Letaknya ialah di antara Teluk Korintus dan Teluk Sardonis
(bagian selatan negara Yunani). Oleh karena di sebelah timur dan barat
teluk itu terbentang laut, maka Korintus menjadi pusat perdagangan antara
negara-negara timur dan barat. Sekaligus menjadi kota yang angkuh secara
intelek, kaya secara materi dan bejat secara moral. Segala macam dosa
merajalela di kota ini yang terkenal karena perbuatan cabul dan hawa nafsu.
Kota itu mempunyai dua pelabuhan, yang satu menghadap ke timur, dan
yang lain menghadap ke barat, yakni Lekheum, 2,5 km sebelah barat
di teluk Korintus, yang dihubungkan dengan kota Korintus oleh temboktembok yang panjang; dan Kengkrea, 14 km sebelah timur. Hampir semua
kapal, baik kapal perang maupun kapal perdagangan harus melewati kota
itu.
Segi lain yang menarik bagi penghuninya adalah pegunungan Akro Korintus
yang berwarna coklat yang menjulang 1.875 kaki (566 m) di belakang kota
itu. Batu karang yang curam, dengan puncaknya yang datar ini berfungsi
sebagai menara pengintai untuk mengawasi musuh. Juga merupakan suatu
tempat pengungsian. Nama Korintus berasal dari tempat itu. Korintus
berarti pengawasan atau penjagaan.
A.2 Secara Historis dan Politis
Kota Korintus dibinasakan oleh tentara Romawi pada tahun 146 S.M
dibawah pimpinan panglima Mummius, disebabkan karena Korintus
mempelopori suatu pemberontakan orang Yunani melawan orang Romawi.
Setelah sekitar 100 tahun ditinggalkan sebagai puing-puing oleh Romawi,
maka antara tahun 44 50 S.M Kaisar Yulius membangun kembali kota itu.
Tidak lama sesudah dimusnahkan, Korintus dijadikan ibukota propinsi
Akhaya (Kis. 18:12). Sebabnya ialah bahwa Korintus dianggap strategis
baik dari segi militer maupun dari segi perdagangan.
Kota Korintus tetap menjadi kota penting hingga tahun 1.458 M ketika
direbut oleh Turki. Pada tahun 1.558 M kota itu dimusnahkan oleh gempa
bumi yang dahsyat dan tidak dibangun kembali. Orang-orang yang terluput

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 4

membangun kotanya di pantai teluk Korintus yang berada beberapa kilo


meter ke sebelah timur laut.
A.3 Segi Agama
Pengaruh agama terhadap penduduk Korintus sangat kuat, bahkan agamalah
yang akhirnya menyebabkan kejahatan mereka bertambah-tambah. Mereka
menyembah dewi Aproditus, disediakan seribu perempuan sundal yang
dianggap keramat dan melayani hawa nafsu para penyembah. Maka kota
Korintus sangat strategis untuk pekabaran Injil. Penduduknya cerdik pandai
(oleh karena pengaruh ilmu pengetahuan Yunani), cukup kaya, oleh karena
usaha dagang, tetapi bermoral buruk. Tentunya Paulus memandang
Korintus sebagai kota yang sangat membutuhkan Injil, tetapi juga sebagai
pusat untuk pekabaran Injil melalui perantaraan penduduknya yang selalu
bepergian.
Dengan adanya agama yang demikian, maka Korintus juga disebut kota
kenajisan dan Kota Main Korintus yang berarti kota untuk berbuat zinah.
A.4 Penduduk Kota Korintus
Kota Korintus banyak dihuni oleh para pendatang dari orang Romawi,
orang Yunani asli dan orang-orang dari bangsa-bangsa Timur, termasuk
orang Yahudi (Kis. 18:4) cukup besar, kerana mereka mempunyai Sinagoge
(rumah ibadah). Menurut hukum Yahudi harus ada paling sedikit 10 kepala
keluarga untuk membangun Sinagoge.

B. Jemaat Korintus
Jemaat di Korintus didirikan pada waktu Perjalanan Misi Paulus yang kedua
(Kis. 18:1-17). Waktu itu Paulus tinggal kurang lebih 1,5 tahun di sana
(sekitar tahun 50 M s/d 51 M). Paulus tinggal di rumah Akwila dan Priskila
dan mulai mengabarkan Injil di rumah ibadat orang Yahudi setiap hari
Sabat. (Kis. 18:4).
Setelah mengalami pertentangan dari orang Yahudi, Paulus menaruh
perhatian kepada bangsa-bangsa lain dengan mengadakan kebaktian rumah
tangga di sebuah rumah (TitiusYustus) yang berdampingan dengan rumah
ibadat. Banyak orang menjadi percaya, termasuk juga kepala rumah ibadat.
Sebagaimana disebutkan dalam Kis. 18:8 bahwa banyak orang Korintus,
yang mendengar pemberitaan Paulus, menjadi percaya dan memberi diri
dibaptis.Dalam pelayanan itu Paulus mengalami banyak bahaya dan
pergumulan, khususnya dari pihak Yahudi. Tetapi Tuhan menguatkan dia
melalui suatu penglihatan (Kis. 18:9-).
Setelah selama satu setengah tahun ia tinggal di Korintus, Paulus
meninggalkan Korintus sudah ada satu jemaat yang mandiri. Kebanyakan
anggota jemaatnya berlatar belakang agama kafir. Umumnya mereka
berasal dari tingkat sosial rendah seperti budak dan karyawan (1 Kor. 1:26).
Ada juga dari kalangan atas, seperti Krispus (kepala rumah ibadah Yahudi
[Kis. 18:8] ) dan Erastus, bendahara negri yang mengirim salam kepada

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 5

jemaat di Roma ketika Paulus menulis surat Roma di Korintus (Roma


16:23). Kemudian Apolos melayani mereka.

C. Penulis Surat 1 Korintus


Setidaknya ada dua bukti bahwa penulis surat 1 Korintus adalah Rasul
Paulus. Pertama, bukti internal. Dari pernyataannya sendiri ini tak perlu
diragukan lagi bahwasannya penulisnya adalah Paulus, Dari Paulus yang
oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus dan dari
Sostenes saudara kita (1 Kor. 1:1)
Kedua, bukti eksternal, di mana beberapa tokoh sejarah gereja yang
mengakui kebenaran ini antara lain Clement dari Roma (kira-kira tahun 94
M), Ignatius (110 M), Polykarpus (yang mati syahit sekitar tahun 156 M),
bidat Marcion (150 M)

D. Waktu dan Tempat Penulisan


Surat 1 Korintus ditulis Rasul Paulus menjelang akhir persinggahannya
di Efesus, karena ia telah menyusun rencana untuk meninggalkan Asia
dan mengadakan perjalanan kunjungan yang lebih lama ke Makedonia
dan Akhaya (1 Kor. 16:5-7). Kemungkinan ditulis selama musim dingin
atau musim gugur, karena ia berbicara mengenai tinggal di Efesus hingga
hari Pentakosta, kira-kira tahun 55 Masehi.

E. Penerima Surat 1 Korintus


Bukti otentik yang tertulis dalam 1 Korintus 1:2, menunjukkan bahwa
secara khusus penerima surat 1 Korintus adalah jemaat Allah di Korintus
dan secara amum surat ini ditujukan bagi semua orang yang percaya
di seluruh dunia yang kepada Yesus
kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam
Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan
semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus
Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita.

F. Penulisan Surat Korintus


Selama satu setengah pelayanannya di Korintus, Paulus, banyak mengalami
berbagai tantangan dan bahaya serta pergumulan khususnya dari pihak
orang-orang Yahudi. Kendatipun demikian banyak yang percaya kepada
Yesus. Pada saat Paulus meninggalkan Korintus, sudah ada satu jemaat
yang mandiri; di mana pelayanannya dilanjutkan oleh Apolos.
Selanjutnya, bagaimana hubungan Paulus dengan mereka?
Berdasarkan beberapa ayat yang tersebut di bawah ini, menunjukkan bahwa
Paulus tetap peduli melayani mereka. Berikut hubungan Paulus dengan
jemaat Korintus.
Paulus menulis surat yang sekarang disebut Surat yang Terdahulu.
Meskipun surat itu sudah hilang sekarang, namun dari 1 Kor. 5:9-11

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 6

dapat dilihat bahwa isinya berupa nasehat Paulus tentang orang-orang


yang bermoral buruk.
Paulus mendengar bahwa jemaat Korintus salah faham tentang isi Surat
yang Terdahulu itu, dan pada waktu yang sama Paulus juga menerima
laporan yang dibawakan oleh orang-orang dari keluarga Kloe. Maka
dia menulis surat lagi, yang sekaranmg kita kenal sebagai Surat 1
Korintus.
Paulus kemudian mendengar laporan-laporan lagi yang kurang baik
tentang keadaan jemaat Korintus, maka dia mengadakan kunjungan
ke sana, yang ternyata menjadi suatu pengalaman pahit bagi Paulus
(maka disebut Kunjungan Dukacita) 2 Kor. 2:1.
Sepulang dari Korintus, dengan hati yang sedih Paulus menulis surat
lagi yang cukup keras isinya (2 Kor. 2:3,4) disebut Surat yang
Berat, dan sekarang sudah hilang.
Setelah mendengar berita bahwa jemaat Korintus menerima Surat yang
Berat itu dengan sikap yang baik, Paulus menulis surat yang kita kenal
sekarang sebagai Surat 2 Korintus.
Ada kemungkinan Paulus sekali lagi mengunjungi Korintus untuk
ketiga kalinya, yaitu waktu dia sedang pergi ke Yerusalem, dimana
akhirnya dia ditangkap dan ditahan.

G. Alasan Penulisan Surat 1 Korintus


Ada dua hal utama yang menyebabkan Paulus menulis surat ini:
1. Karena laporan yang diterimanya dari orang-orang keluarga Kloe (1:11;
5:1) tentang:

Perselisihan/perpecahan jemaat menjadi beberapa golongan

Perbuatan sumbang antara orang sekeluarga seorang laki-laki


dengan istri ayahnya

Perkara-perkara pengadilan antara saudara-saudara seiman

Kebebasan orang Kristen disalahgunakan

Perjamuan Kudus disalahgunakan


2. Karena surat yang diterimanya langsung dari jemaat Korintus (7:1; 16:7)
tentang:

Perkawinan dan hidup bujangan

Makanan yang berupa persembahan berhala

Pakaian dan peranan wanita dalam kebaktian

Karunia-karunia Roh

Arti daripada kebangkitan tubuh


Paulus menulis Surat 1 Korintus untuk menjawab serta membetulkan
beberapa hal ini, dan karena itu surat ini merupakan ajaran yang sangat
praktis untuk kehidupan jemaat

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 7

H. Ciri Khas Surat 1 Korintus


Lima ciri utama yang menandai surat 1 Korintus adalah sebagai berikut:
1. Bila dibandingkan dengan kitab-kitab lain dalam Perjanjian Baru,
surat ini memiliki kekhususan, yakni lebih focus pada berbagai
persoalan. Dalam menangani berbagai masalah dan perkara di Korintus,
Paulus memberikan prinsip rohani yang jelas dan kekal, di mana setiap
prinsip itu dapat diterapkan secara menyeluruh dalam seluruh jemaat
(mis. 1Kor 1:10; 1Kor 6:17,20; 1Kor 7:7; 1Kor 9:24-27; 1Kor 10:31-32;
1Kor 14:1-10; 1Kor 15:22-23).
2. Secara menyeluruh ditekankan kesatuan jemaat lokal sebagai tubuh
Kristus, suatu fokus yang ada dalam pembahasan tentang perpecahan,
Perjamuan Kudus, dan karunia-karunia rohani.
3. Surat ini berisi pengajaran tentang berbagai pokok penting seperti
pembujangan, perkawinan dan nikah ulang (1Kor 7:1-40); Perjamuan
Kudus (1Kor 10:16-21; 1Kor 11:17-34); berkata-kata dengan bahasa
Roh, nubuat, dan karunia rohani dalam perhimpunan bersama (1Kor
12:1-31; 1Kor 14:1-40); kasih agape (1Kor 13:1-13); dan kebangkitan
tubuh (1Kor 15:1-58).
4. Surat ini memberikan hikmat bagi para gembala sidang berhubungan
dengan disiplin gereja (1Kor 5:1-13).
5. Surat ini menekankan adanya kemungkinan untuk undur dari iman
oleh mereka yang berkanjang dalam perilaku yang tidak benar dan tidak
berpegang kepada Kristus dengan sungguh-sungguh (1Kor. 6:9-10;
1Kor .9:24-27;1Kor.10:5-12,20-21;1Kor.15:1-2).

II. PENDAHULUAN (1:1-9)


A. Salam (1:1-3)
Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus
Yesus, dan dari Sostenes, saudara kita, 2 kepada jemaat Allah di Korintus,
yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil
menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang
berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan
Tuhan kita. 3 Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita,
dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.
Sesuai dengan kebiasaan orang Yunani pada abad pertama, Paulus
membuka suratnya dengan menyebutkan nama pengirim, nama penerima
dan salam.

1:1 Paulus menegaskan kedudukannya sebagai seorang rasul Yesus


Kristus. Jabatan rasul diberikan oleh Allah sendiri dan bukan karena
kehendaknya (bdk. Gal. 1:1-15)
Kasiatin Widianto, M.Th

Page 8

Sostenes
Siapa dia? Ada yang berpendapat bahwa kemungkinan besar dia adalah
sekretaris Paulus yang menuliskan surat 1 Korintus. Hal ini tersirat dari
kata ganti kami yang muncul beberapa kali dalam surat ini. Tentunya,
Paulus pasti memiliki alasan lain ketika menyebutkan nama Sostenes,
karena di suratnya yang lain dia tidak menyebutkan nama sekretarisnya
(bdg. Rm. 1:1 dan 16:22). Terlepas dari sedikitnya data Alkitab yang ada,
Sostenes di sini tampaknya lebih tepat dilihat sebagai kepala rumat ibadat
orang Yahudi di Korintus ketika Paulus pertama kali mengabarkan Injil
di sana (Kis. 18:17).

1:2 Sebagai penerima surat, Paulus menyebut Jemaat Korintus sebagai


Jemaat Allah; yang dikuduskan dalam Kristus Yesus. Artinya mereka
dipisahkan, dikhususkan untuk melayani Kristus dan harus hidup sesuai
dengan kedudukan dan panggilan yang tinggi itu. Dalam hal ini mereka tidak
berbeda dari semua orang Kristen yang dipanggil untuk mengabdi kepada
Yesus sebagai Tuhan mereka.

1:3 Istilah kasih karunia adalah ucapan salam yang biasanya dipakai oleh
orang Yunani, dimana mereka biasanya menyampaikan dengan kata kairein
(kairein) yang berarti kiranya kamu senang. Tetapi Paulus
mengampaikannya dengan kata karis (karis) yang berarti kasih karunia,
yaitu mengingatkan kita akan karunia Allah oleh karena kasihnya, berupa
keselamatan dalam Yesus Kristus.
Istilah damai sejahtera adalah salam yang biasanya dipakai oleh orang
Yahudi. Kata asli dalam bahasa Ibrani adalah shaloom (shaloom).
Bagi
orang Kristen, konsep ini berarti kita bukan saja hidup dalam keadaan tidak
cekcok, melainkan kita menikmati segala berkat dan kesejahteraan yang
berupa akibat/hasil keselamatan yang terdapat dalam Kristus. (Misal: kasih,
sukacita, dsb).

B. Ucapan Syukur (1:4-9)


Aku senantiasa mengucap syukur kepada Allahku karena kamu atas kasih
karunia Allah yang dianugerahkan-Nya kepada kamu dalam Kristus Yesus.
5 Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam
segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan, 6 sesuai dengan
kesaksian tentang Kristus, yang telah diteguhkan di antara kamu.
7 Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karuniapun sementara
kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus. 8 Ia juga akan
meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak
bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus. 9 Allah, yang memanggil
kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita,
adalah setia.
Ucapan syukur Paulus difokuskan pada aspek kekinian (apa yang sekarang
ini telah dilakukan Allah melalui Kristus Yesus), sedangkan harapan Paulus
bersifat eskatologis (apa yang akan dilakukan Allah terus-menerus sampai
Kasiatin Widianto, M.Th

Page 9

akhir zaman).
Memperhatikan Sembilan ayat pertama dari 1 Korintus pasal 1, terlihat
bahwa pendahuluan surat Paulus sangat Theosentris dan Kristosentris.
Kata Allah secara eksplisit muncul 6 kali, tidak termasuk dalam beberapa
kata kerja yang secara jelas menunjukkan bahwa subjeknya adalah Allah.
Kata Kristus atau Kristus Yesus muncul 8 kali dalam bagian salam
pembukaan dan 6 kali dalam bagian ucapan syukur dan harapan.

Bagaimana cara rasul Paulus mengungkapkan syukur?


1:4, senantiasa Cara Paulus mengucap syukur secara terus-menerus
(bdk. 1Tes. 5:18). Kata yang dipakai dalam ayat ini untuk maka
mengucap syukur (eucaristw) dalam bentuk present tense, yang
menunjukkan tindakan yang dilakukan secara terus-menerus.
Dalam hal ini Paulus memberikan teladan bahwa ucapan syukur harus
menjadi gaya hidup orang Kristen.
Beberapa alasan yang membuat Rasul Paulus senantiasa mengucap
syukur kepada Allah:
1. Atas kasih karunia Allah yang dianugerahkanNya di dalam
Kristus kepada jemaat Korintus (1:4)
Kata kasih karunia Allah dalam Alkitab King James Version
Grace of God yang diterjemahkan dari Teks Alkitab Textus
Receptus dalam bahasa Indonesia anugerah
dari Allah.
Kata kasih karunia (caris) dalam ayat 4 tampaknya merujuk
pada pemberian/karunia rohani. Arti ini didukung oleh konteks
dekat, khususnya ayat 5 yang menyebutkan karunia berkata-kata
dan pengetahuan (bdk. 1Kor. 12:8-10). Dari sini terlihat bahwa
karunia-karunia rohani (carisma/carismata) merupakan salah satu
bentuk kasih karunia (caris) Allah. Hubungan seperti ini terlihat
jelas dari Roma 12:6a demikianlah kita mempunyai karunia
(carismata) yang berlain-lainan menurut kasih karunia (caris)
yang dianugerahkan kepada kita.
2. Sebab di dalam Yesus, jemaat Korintus telah menjadi kaya dalam
segala macam perkataan dan pengetahuan, sesuai dengan
kesaksian tentang Kristus, yang telah ia sampaikan. (1:5,6)
Istilah perkataan berarti kesanggupan untuk memberitakan
kebenaran. Sedangkan pengetahuan berarti pengertian yang
dalam tentang kebenaran itu.
3. Karena jemaat Korintus tak kekurangan dalam suatu karuniapun
(1:7)

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 10

4. Sekaligus meyakinkan jemaat Korintus bahwa Allah akan


meneguhkan mereka sehingga tak bercacat pada hari kedatangan
Kristus (1:8)

III. PERPECAHAN DALAM JEMAAT (1:10-4:21


A. Fakta Perpecahan (1:10-17)
1:11,12
Sebab, saudara-saudaraku, aku telah diberitahukan oleh orang-orang dari
keluarga Kloe tentang kamu, bahwa ada perselisihan di antara kamu.
Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari
golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan
Kefas. Atau aku dari golongan Kristus.
Dalam jemaat Korintus terjadi perpecahan, menjadi empat golongan:
Golongan pertama, mengakui Paulus sebagai kelapanya, mungkin karena
dialah orang yang pertama kali mengabarkan Injil di Korintus maka
dianggap bapa rohani mereka.
Golongan kedua, mengakui Apolos sebagai kepalanya. Memang Apolos
menyusul Paulus di Korintus (Kis. 18:24-28). Mungkin dia dapat menarik
perhatian orang Yahudi karena pengetahuannya tentang PL., dan menarik
perhatian orang Yunani karena dia fasih lidah. Tetapi Paulis menyebutnya
sebagai teman sekerja (1 Kor. 3:6; 16:12) dan tidak ada bukti sedikitpun
bahwa ajaran mereka bertentangan satu sama lain.
Golongan ketiga, mengakui Kefas/Petrus sebagai kepalanya, mungkin
karena dialah pemimpin murid-murid Yesus pada awalnya.
Golongan keempat, mengakui Kristus sebagai kepalanya, mungkin karena
mereka menganggap diri lebih benar dari golongan yang lain.
Bagaimana Nasihat Paulus?

1:10
Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita
Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di
antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati
sepikir.
Paulus mengawali nasihatnya dengan mengatakan, saudarasaudara. Dalam surat-suratnya Paulus sering menggunakan istilah
ini (saudara). Tak terkecuali dalam suratnya kepada jemaat di
Korintus, ia menggunakan kata ini sebanya 36 kali dalam 1 Korintus
dan 14 kali dalam 2 Korintus. Melalui sapaan ini Paulus ingin
mengajarkan bahwa persaudaraan di dalam Kristus tidak akan dapat
Kasiatin Widianto, M.Th

Page 11

dibatalkan oleh apapun juga, termasuk oleh perbedaan pendapat


yang ada di antara mereka.
Paulus mendasarkan nasihatnya dengan mengatakan, demi nama
Tuhan Yesus Kristus, artinya nasehatnya itu sesuai dengan
kehendak Tuhan, dan kata ini memberikan gambaran bahwa
nasehatnya itu sangat penting, sebab itu jangan dianggap remeh.
Isi nasihatnya:
1. supaya kamu seia sekata
Menurut teks aslinya, nasehat ini diterjemahkan supaya kamu
semua terus-menerus berkata (legete) yang sama (KJV). Versi
yang lebih modern memilih supaya kamu semua setuju (satu
dengan yang lain) (NIV). Tense present yang dipakai
mengindikasikan bahwa hal ini harus menjadi gaya hidup
mereka, yang harus dilakukan secara terus-menerus.
2. Jangan ada perpecahan di antara kamu
3. Supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir
Terjemahan yang lebih hurufiah seharusnya supaya kamu
disempurnakan (katertismenoi) dalam pikiran (noi) yang sama
dan pandangan/penilaian (gnome) yang sama. Good News
Bible: be completely united, with only one thought and one
purpose Dengan demikian jelaslah bahwa mereka bukan hanya
perlu bersatu, tetapi persatuan itu harus sempurna.

B. Sebab-sebab Perpecahan (1:18-4:5)


1. Suatu Pandangan yang Salah Mengenai Hikmat
(1Kor 1:18-3:4)
Kata sebab di awal ayat 18 mengindikasikan bahwa ayat 18-25
memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan bagian sebelumnya.
Bagian ini merupakan penjelasan terhadap apa yang sudah disinggung
di ayat 10-17. Secara khusus, bagian ini menjelaskan ayat 17b itu pun
bukan dengan hikmat perkataan supaya, salib Kristus menjadi sia-sia.
Menurut Paulus ada dua jenis hikmat yaitu himat duniawi dan hikmat
rohani, ada dua juga jenis pengetahuan yaitu pengetahuan duniawi dan
pengetahuan rohani dan ada dua jenis manusia, manusia duniawi dan
manusia rohani (1Korintus 1:18-20 dan 2:6-16).
Perbedaan hikmat Allah dan hikmat manusia:
Kota Korintus adalah kota yang padat dan ramai, Yunani terkenal
dengan filsafat. Maka tidak heran jika penduduknya sangat mengagumi
filsuf serta menjunjung tinggi hikmat duniawi, tetapi hikmat duniawi
Kasiatin Widianto, M.Th

Page 12

tidak dapat memecahkan persoalan hal rohani (1 Kor 1:21-22b).


Wiersbe juga mengatakan bahwa salah satu penyebab perpecahan di
jemaat Korintus adalah karena jemaat Korintus memandang Injil dari
sudut pandang filsafat, dimana mereka ingin menonjolkan hikmat
mereka (manusia).
Sebagian jemaat Korintus bersentuhan dengan berbagai filsafat dunia
yang ada pada waktu itu. Mereka menganggap diri berhikmat. Ketika
mereka melihat kebenaran Injil dari perspektif hikmat duniawi ini,
mereka memandang rendah berita Injil yang dulu mereka terima.
Mereka juga mulai mengultuskan pemimpin rohani yang menurut
mereka sesuai dengan konsep mereka.
Bagaimana respons Paulus terhadap mereka yang menganggap diri
berhikmat dan melihat kebenaran Injil sebagai suatu kebodohan?
Paulus memberikan beragam respons.

1:18, salib memang kebodohan bagi yang akan binasa


Dalam ayat ini Paulus menjelaskan bahwa pemberitaan tentang salib
adalah kebodohan bagi yang mereka binasa (tois appolumenois).
Beberapa versi Inggris dengan tepat memilih terjemahan those who
are perishing (NIV). Orang-orang ini sedang mengalami kebinasaan.
(bdk. 2 Korintus 4:3 jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga,
maka ia tertutup untuk mereka, yang akanbinasa.
Setelah menjelaskan hal tersebut, Paulus menyatakan keyakinannya
tentang keselamatan jemaat Korintus. Hal ini tersirat dari kata ganti
kita di ayat 18b. Paulus tidak mengatakan bagi mereka yang
diselamatkan (bdk. ayat 18a), tetapi bagi kita yang diselamatkan.
Bentuk tense present yang dipakai di ayat ini menunjukkan bahwa
keselamatan orang percaya merupakan sesuatu yang sudah terjadi.
Orang percaya sudah diselamatkan di dalam Kristus Yesus.
Di ayat-ayat selanjutnya Paulus menerangkan bagaimana keselamatan
ini bisa terjadi, yaitu melalui perkenanan (ay. 21) dan panggilan Allah
(ay. 24).

1:19, Allah merendahkan orang-orang dunia yang berhikmat.


Karena ada tertulis: "Aku akan membinasakan hikmat orang-orang
berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan."
Ayat ini dikutip dari Yesaya 29:14
Dengan mengutip Yesaya 29:14 ini Paulus hendak mengajarkan
bahwa Allah merendahkan orang-orang yang menganggap dirinya
berhikmat (bdk. 1 Kor. 1:29). Sebaliknya, Allah justru memakai orangorang yang dianggap bodoh atau lemah oleh dunia (1Kor. 1:27-28).
Kasiatin Widianto, M.Th

Page 13

Oleh karena itu sudah seharusnya Jemaat Korintus tidak sombong


karena mereka juga akan diendahkan oleh Allah.

1:20,21, Allah membuat hikmat dunia menjadi kebodohan.


Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di
manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat
hikmat dunia ini menjadi kebodohan?
Paulus ingin menegaskan bahwa hikmat zaman ini bersifat sementara
(bdk. 7:31). Kenyataannya, Allah telah membuat hikmat seperti ini
menjadi kebodohan.
Di ayat 21 Paulus memberikan alasan mengapa hikmat dunia menjadi
kebodohan. Hikmat dunia ini tidak dapat menolong orang untuk
mengenal Allah (ay. 21a). Seberapa pun kepandaian manusia, hal itu
tidak menjamin bahwa dia mengenal Allah, karena pengenalan terhadap
Allah hanya dimungkinkan oleh karya Roh Kudus (2:6-16).
Bagaimana mungkin orang yang berhikmat malah tidak mengenal Allah
sedangkan yang bodoh justru percaya kepada Dia? Kuncinya terletak
pada kata Allah berkenan menyelamatkan. Di ayat 24 dijelaskan lebih
lanjut bahwa perkenanan Allah ini berhubungan dengan panggilan-Nya
untuk orang-orang pilihan (bdk. Rm. 8:29-30; Ef. 1:4; 2Tim. 2:9).

1: 27-31, Tujuan Allah memilih orang-orang yang dianggap rendah


oleh dunia. Dengan memaparkan status mayoritas jemaat Korintus yang
rendah menurut ukuran dunia, Paulus sekaligus ingin menonjolkan
anugerah Allah dalam memilih mereka. Status mereka yang rendah
menunjukkan bahwa pilihan atas hidup mereka tidak didasarkan pada
kebaikan atau kelebihan mereka. Mereka sebenarnya tidak layak untuk
dipilih, tetapi Allah berkenan memilih mereka (bdk. ay. 21b). Pola
pilihan seperti ini konsisten dengan cara kerja Allah di seluruh Alkitab
(bdk. Yak. 2:5).
Di samping itu, pemunculan kata dipilih yang berulang-ulang di ayat
27-28 memberi penekanan pada keaktifan dan inisiatif Allah dalam
proses pemilihan ini. Bukan mereka yang memilih Allah, tetapi Allah
yang memilih mereka (Yoh. 15:16). Allah telah memanggil mereka
(1Kor. 1:9) untuk menjadi orang-orang kudus (1Kor. 1:2). Allah telah
memanggil mereka sehingga mereka dulu dapat melihat Kristus sebagai
hikmat dan kekuatan Allah (1Kor. 1:24).
Apa tujuan Allah memberi anugerah kepada orang-orang yang
sebetulnya tidak layak untuk menerima hal itu?
Dalam ayat 27-31 Paulus menjelaskan dua tujuan utama pemilihan
berdasarkan anugerah. Pertama, untuk memalukan orang-orang yang
Kasiatin Widianto, M.Th

Page 14

berhikmat (ay.27). Kedua, supaya jangan ada seorang pun yang


memegahkan diri di hadapan Allah (ay.29). Sebaliknya Paulus
menasihati seraya mengutif Yeremia 9:24, Barangsiapa yang
bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.

2:1-4, merupakan penegasan Paulus bahwa kedatangannya ke Korintus


tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk
menyampaikan kesaksian Allah. Bahkan, ia mengakui bahwa ia datang
dengan kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar. Baik dalam
perkataan maupun dalam pemberitaannya tidak ia sampaikan dengan
kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan
kekuatan Roh.

2:5, apa tujuan Paulus berlaku demikian (2:1-4)? supaya iman kamu
jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah

2:6-16, kendatipun diakuinya bahwa kedatangan tidak dengan hikmat,


namun Pauilus mengakui kedatangannya memberitakan hikmat, yakni
hikmat yang bukan dari dunia. Maksudnya?
2:6 sungguhpun demikian

ini sebuah kebalikan dari 1 Kor 1:17; 2:1,4 tidak datang


dengan kata-kata hikmat#
tetapi dalam ayat ini Paulus menegaskan bahwa iapun
memberitakan hikmat kepada yang telah matang (bdk.Punya
pengenalan yang benar tentang anak Allah dewasa dalam
Yesus (Ef 4:13) dan bukan lagi seperti anak-anak.

2:7 yang kami beritakan ialah hikmat Allah, yakni Kristus (bdk
1:24). Dia adalah rahasia yang tersembunyi (Kol 1:26,27) yang telah
ditentukan, ditetapkan sebelum dunia dijadikan
2:7 ...sebelum dunia dijadikan. Hal ini menunjukkan bahwa
eksistensi hikmat Allah (yakni Kristus) keberadaanNya ialah sejak
kekekalan; dan Dia adalah hikmat Allah yang tersembunyi dan
rahasia. Dialah yang Allah sediakan bagi kemuliaan kita. Itulah
sebabnya Paulus terpanggil untuk memberitakan, supaya kemuliaan
Allah itu sampai dan menjadi milik kita (bdk. Kol 3:4 - hari ini
Kristus adalah hidup kita; tetapi kelak adalah kemuliaan kita (Kol
1:27); Allah telah memanggil kita kepada kemuliaan ini (1 Pet 5:10)
dan akan memimpin kita masuk ke dalam kemuliaan ini ( 1br 2:10).

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 15

3:1-4 Keadaan Rohani dari Jemaat Korintus


Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara
dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan
manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. 2 Susulah yang
kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum
dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat
menerimanya. 3 Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika
di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu
menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup
secara manusiawi? 4 Karena jika yang seorang berkata: "Aku dari
golongan Paulus," dan yang lain berkata: "Aku dari golongan Apolos,"
bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi yang
bukan rohani?
Paulus berulangkali menyapa dengan manusia duniawi, kata manusia
duniawi dalam bahasa Yunani adalah Sarkikos, dari kata dasar sark
yang artinya daging, jadi arti dari kata manusia duniawi adalah manusia
yang bersifat kedagingan, yang hidup menurut daging, yang hidup
didalam daging, dan dibalik arti dari kata sarkikos tersirat suatu arti
yang lain yaitu lemah dan hal itu diperkuat dari perkataan Paulus yang
selanjutnya yaitu istilah belum dewasa.
Paulus menegur mereka dengan tajam, dimana menurut Paulus bahwa
mereka masih manusia duniawi karena mereka masih ada iri hati, dan
perselisihan. Tampaknya sifat keduniawian mereka membuat mereka
menjadi bandel dan menolak pengajaran yang benar.
Mengapa Paulus menyapa mereka dengan manusia duniawi:
a. Mereka belum dewasa secara rohani (1Korintus 3:1a)
b. Pemahaman rohani mereka masih dangkal (1Kor 3:2)
c. Tingkah laku mereka masih seperti orang dunia.

2. Suatu Pandangan yang Salah Mengenai Hamba Tuhan


(1Kor 3:5-4:11)
Alasan yang kedua yang menyebabkan terjadinya perpecahan adalah
salah pengertian tentang hamba Tuhan. Jemaat Korintus tidak
menyadari bahwa para pelayan Tuhan tidak lebih dari seorang hamba
yang melayani Allah dan sesungguhnya yang bekerja adalah Allah.
Dan oleh karena itu yang dimuliakan juga adalah siapa yang dilayani
bukan yang melayani. Bukan hamba Tuhan yang dipuji tetapi Allah lah
yang dipuji.
Pandangan yang benar Terhadap Hamba Tuhan
a. Hamba Tuhan artinya adalah pesuruh Tuhan yang harus
tunduk secara mutlak kepada Tuhan untuk pergi memberitakan
Injil. Mereka memberitakan Injil masing-masing menurut jalan
yang Tuhan berikan kepadanya (3:5). Artinya bahwa hamba
Kasiatin Widianto, M.Th

Page 16

Tuhan mengerjakan tugas masing-masing dari apa yang


ditetapkan oleh Tuhan sebagai seorang pesuruh. Dengan kata lain,
hamba Tuhan tidak lain adalah instrumen bukan penentu
keselamatan. Iman kepada Tuhan Yesus selalu adalah hasil
pekerjaan Allah (2:10; 13:3).
b. Hamba Tuhan ibarat seorang petani (3:6). Paulus mengatakan
baik dirinya mupun Apolos adalah seperti petani. Aku
menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi
pertumbuhan. 7 Karena itu yang penting bukanlah yang
menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi
pertumbuhan. Dalam 1 Kor 3:9 Jemaat diibaratkan seperti
ladang Allah, hamba Tuhan sebagai rekan sekerja Allah untuk
menanam, menyiram serta menuai. Tentunya hasilnya adalah
kepunyaan pemilik ladang itu. Sehingga pekerja tidak perlu
mnyombongkan diri.
c. Hamba Tuhan sebagai Ahli bangunan (1Kor 3:9-10).
Paulus mengatakan bahwa ia seorang ahli bangunan, dan orang
lain membangun diatasnya. Semuanya adalah pekerja Allah.
(1Kor 3:16-17) semuanya merupakan rumah Roh Allah. Dengan
kata lain, pemilik rumah itu adalah Allah sendiri dan jika sudah
selesai akan diberikan kepada pemiliknya.
d. Hamba Tuhan adalah pelayan (4:1-2). Kata pelayan dalam hal
ini lebih tepat diterjemahkan sebagai pengurus rumah. Lebih
lanjut pelayan disini dimaksudkan seperti seorang yang dipercaya
untuk mengatur rumah tangga majikannya. Jadi hamba Tuhan
adalah mengatur rumah Tuhan atau gereja.
e. Hamba Tuhan adalah seorang tahanan yang tidak memiliki
kebebasan untuk melakukan apa yang ia mau (4:9). Paulus
mengatakan bahwa para rasul berada di posisi yang rendah,
seperti orang yang telah dijatuhi hukuman mati (2Timotius 2:9).
Dengan kata lain ia tidak mempunyai kebebasan sendiri, bahkan
ia harus menderita secara fisik maupun emosi (2Kor 4:11-13).
Dalam I Korintus 4:11 Paulus memaparkan suatu penderitaan
kepada kita.
Hamba Tuhan kelak akan diperhadapkan ke tahta
pengadilan (1Korintus 3:10-15; band 2Kor 5:10). Suatu hari
kelak tiap orang Kristen akan menghadap tahta pengadilan
Kristus. Ini bukan berarti suatu penghakiman keselamatan,
menghadap tahta pengadilan Kristus adalah perihal penentuan
upah, pahala atau mahkota.

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 17

Bagaimanakah Hamba Tuhan itu akan dihakimi:


a. Tuhan menilai apakah hamba Tuhan itu telah meletakkan
dasar rumah itu diatas dasar Kristus (3:11). Yesus Kristus
merupakan fondasi gereja dan dasar kepercayaan orang
Kristen (Kis 4:11-12; 1Pet 2:6 Yesus disebut sebagai
batu penjuru) jadi dasar pemberitaan seorang hamba
Tuhan sejati adalah apakah ia memberitakan dan membuat
pesan utamanya tentang Kristus yang disalibkan
(1Korintus 2:2).
b. 1Korintus 3:12 adalah merupakan dasar yang kedua
yang dimaksudkan disini adalah emas, perak, batu
permata; yang merupakan suatu bahan yang kuat dan yang
tahan uji. Dan disini emas perak, batu permata dapat
melambangkan Firman Tuhan yang murni (Mazmur
19:10-11; Maz 119:72;127).
c. 3:10b tiap-tiap orang harus memperhatikan ini
mempunyai arti bahw setiap orang yang membangun atau
melayani dalam pemberitaan Injil, jangan melakukannya
dengan sembarangan saja. Dan mereka harus
melakukannya setia kepada Tuhan.
d. Pahala/upah yang disediakan Tuhan bagi hambahambanya, baik bagi yang menanam, maupun yang
menyiram adalah sama.

3. Teguran Terhadap Mereka Yang Berpihak-Pihak (4:14-21)


Pada bagian ini Paulus menyatakan kepada jemaat Korintus bahwa
dirinya sebagai bapa rohani mereka. Dia menyebut jemaat Korintus
sebagai anak-anakku yang kukasihi (4:14), sama seperti dia
memanggil Timotius (4:17). Pada ayat 15 dia secara khusus
menyatakan hubungannya yang unik dengan jemaat Korintus yang tidak
dimiliki oleh para pemimpin yang lain, yaitu dia sebagai bapa rohani
mereka.
[

Sebagai bapa, Paulus tidak memiliki keinginan untuk mempermalukan


jemaat (4:14). Selanjutnya dia menjelaskan mengapa dia adalah bapa
bagi mereka (4:15).
Setelah menegaskan relasinya yang unik dengan jemaat Korintus dalam
gambaran bapa-anak, Paulus lalu menarik konsekuensi dari hubungan
seperti ini. Sebagai bapa dia berhak menuntut untuk diteladani (16-17,
bdk. ay. 16 sebab itu...). Dia juga berhak untuk mendisiplin anakanak rohaninya jika dipandang perlu (18-21).

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 18

Pada 4:14 kita temukan kata Yang Kukasihi ini menunjukkan


betapa Paulus menegur mereka adalah karena kasihnya saja. Paulus
juga memmemberikan perbandingan antara ia dengan guru-guru
yang lain (1Korintus 4:15).
Dalam pasal 4:16, Paulus mengatakan Turutilah teladanku,
sesunguhnya ini bukan sikap menyombongkan diri, tetapi ia ingin
agar semua jemaat itu hidup seperti bagaimana Paulus hidup di
dalam Kristus.
1 Korintus 4:17 Paulus akan mengutus Timotius ke jemaat
Korintus (band Kis 19:21-22). Paulus menyebut Timotius sebagai
anakku yang kukasihi 1Timotius 1:2, ia menyapa Timotius
sebagai anakku yang sah. Semuanya maknanya sama, yaitu anak
rohani. Latar belakang Kis 16:1-3, Paulus memilih Timotius
sebagai rekan kerjanya yang berasal dari Listra. Pada perjalanan
misi Paulus yang pertama, ia sudah menjadi orang Kristen, sampai
perjalanan misi Paulus Paulus yang kedua ia dijadikan sebagai
rekan kerjanya untuk memberitakan Injil ketempat-tempat yang
lain.
1 Korintus 4:18-19 Paulus memberitahukan bahwa ia akan
mengunjungi jemaat Korintus.
4:18 di antara mereka ada yang sombong, mereka mengira rasul
Paulus tidak berani kesana. Maka Paulus memberikan pernyataan
bahwa meskipun ia berencana akan datang kepada mereka, namun
semua tergantung dari kehendak Tuhan (4:19b kalau Tuhan
menghendaki).
4:19c Maksudnya: Paulus akan kesana, ia mau mengetahui bukan
mengenai kesombongan mereka, tetapi mengenai sampai dimakah
kusa rohani mereka.
1 Korintus 4:20-21 Sebagai bapa, Paulus berhak mendisiplin
anak-anaknya, terutama yang sombong dan mulai kurang ajar
dengan dia. Kata Yunani di balik kata cambuk merujuk pada
sebuah tongkat (KJV). Benda ini merupakan simbol dari cara
pendisiplinan yang keras (2Sam. 7:14; Ams 10:13; 13:24; 22:15;
23:13-14; 29:15, 17).

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 19

IV. PERSOALAN MORALITAS DALAM JEMAAT(5:1-6:20)


A. Tentang Percabulan (5:1-13)
Dalam 1 Korintus 5:1, dijelaskan bahwa ada orang yang hidup bersamasama (percabulan) dengan istri ayahnya atau ibu tirinya.
Dan jika melihat 5:2, kita melihat ada sesuatu yang ironis. Yaitu sikap
jemaat Korintus yang toleran terhadap perzinahan. Dari ini kita melihat
bahwa dalam pasal 5:1-13 ini ada dua permalahan: pertama, adanya doa
perzinahan dan yang kedua adanya sikap toleran jemaat terhadap
percabulan.
Menyaksikan ada jemaat yang berbuat cabul itu, mereka bukannya menegur,
tetapi mereka justru menyombongkan hal itu (5:2, 6).
Apa yang dinasihatkan Paulus kepada jemaat yang membiarkan
dosa/bahkan toleran terhadap dosa?

5:2 - Kepada mereka Paulus memberi nasehat agar berdukacita dan


menjauhkan orang itu dari tengah-tengah mereka.
Nasehat berdukacita karena dosa merupakan pesan umum dari para
rabi (Yes. 13:6; Yer 4:8) maupun para rasul (Yak. 4:9; 5:1). Yesus
pun menjanjikan berkat bagi mereka yang berdukacita karena dosa
(Mat. 5:4). Konsep yang sama diajarkan Paulus di kemudian hari
kepada jemaat Korintus (2Kor. 7:10-11; 11:29).
Paulus memberi petunjuk untuk memberi tindakan kepada
perlakuan yang tidak menunjukkan moral Kristiani tersebut:
a.

5:5, orang itu harus diserahkan kepada Iblis


o Bagaimana cara melakukan hal ini?
o Apa tujuan tindakan ini?

b.

Paulus mengatakan bahwa orang yang melakukan dosa semacam


itu harus dijauhkan dari tengah-tengahmu (5:2),

c.

Mengapa harus dijauhkan?


Supaya ia tidak menjadi seperti RAGI yang akan mengkhamirkan
semua adonan (5:6).
o Dalam literatur Yahudi, RAGI adalah sebuah pengaruh
jahat
o Orang Yahudi mengindentifikasikan peragian dengan
pembusukan
Dalam Firman Tuhan ragi selalu diidentikkan dengan dosa.
Jadi maksud Paulus disini adalah bahwa jika jemaat Korintus
membiarkan dosa kecil masuk kedalam jemaat maka itu akan
merusakkan semua jemaat itu. (ayat 6-8; bdk. Mat 16:6,11,12;
Mark 8:15).

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 20

B. Tentang Penuntutan Perkara (6:1-11)


Bila kita memperhatikan dengan seksama 1 Korintus 6:1-11, kita akan
mendapati bahwa fokus pembahasan Paulus bukan terletak pada masalah
perselisihan antara jemaat, tetapi lebih pada kesalahan mereka dalam
menyikapi perselisihan itu. Adanya perselisihan memang merupakan
kekalahan dan sekaligus kesalahan (6:7), tetapi yang lebih salah lagi adalah
kesalahan dalam menyikapi hal itu, yaitu melibatkan orang dunia untuk
menyelesaikan masalah antar jemaat (6:1, 5-6).
1. 6:1-6, menindaklanjuti adanya orang-orang dalam jemaat Korintus yang
mencari keadilan di luar jemaat, Paulus memberikan penjelasan bahwa
hal itu selayaknya tidak perlu dilakukan. Mengapa?
a.

Orang kudus akan menghakimi dunia (6:2)


Tindakan seorang jemaat yang menyeret sesama saudara seiman
untuk dihakimi orang dunia merupakan tindakan yang
bertentangan dengan status orang percaya di akhir zaman.
Mereka nanti akan menghakimi dunia, sehingga sangat
tidak pantas jika mereka sekarang justru meminta dunia
untuk menghakimi mereka. Memang orang percaya
sekarang tidak berhak menghakimi dunia (5:12-13), tetapi
hal itu tidak berarti bahwa kita boleh menyerahkan diri
untuk dihakimi oleh dunia. Kitalah yang akan menghakimi
mereka, bukan sebaliknya!
Baca juga Wahyu 20:4 ...kepada mereka diserahkan
kuasa untuk menghakimi...mereka hidup kembali dan
memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus
untuk masa seribu tahun. Karena kita akan
memerintah bersama dengan Kristus (2Tim. 2:12; Why.
22:5) yang akan menghakimi dunia, maka dalam taraf
tertentu kita juga berpartisipasi dalam penghakiman itu.
Jika orang-orang kudus pasti akan menghakimi dunia, maka jemaat
Korintus seharusnya sanggup mengurus perkara-perkara yang
tidak berarti (kritrion elacistn, 6:2b).
Paulus tidak sedang menggampangkan semua masalah yang
ada. Dia hanya ingin mengajarkan bahwa dibandingkan
dengan kemuliaan orang percaya nanti, maka semua perkara
duniawi adalah hal-hal yang sama sekali tidak berarti.

b.

Orang kudus akan menghakimi para malaikat (6:3-4)


Paulus tidak memberikan penjelasan tentang identitas dari
malaikat yang ia maksud.

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 21

Berdasarkan beragam teks Alkitab yang mengajarkan bahwa


Allah akan menghakimi para malaikat yang jatuh, maka kita
bisa mengatakan bahwa orang-orang kudus yang memerintah
bersama Allah juga termasuk yang menghakimi para malaikat
itu.
Di sisi lain, Alkitab tampaknya memang mengajarkan bahwa
manusia lebih daripada semua malaikat. Manusia adalah yang
termulia di antara semua ciptaan (Mzm. 8), sekalipun dalam
teks ini tidak ada indikasi yang jelas bahwa ciptaan
mencakup para malaikat. Ibrani 2:16 menyatakan bahwa
Allah mengasihi keturunan Abraham daripada para malaikat.
Allah tidak menebus malaikat yang jatuh ke dalam dosa,
tetapi hanya umat pilihan. Para malaikat bahkan sangat ingin
mengetahui kabar baik tersebut (1Ptr. 1:12) dan mereka
diutus sebagai roh-roh yang melayani orang percaya (Ibr.
1:14).
Jika orang-orang kudus akan menghakimi para malaikat (6:3a),
maka mereka seharusnya mampu menangani perkara-perkara
biasa dalam hidup kita sehari-hari (6:3b).
Dengan ini Paulus ingin mengajarkan bahwa dibandingkan dengan
status eskhatologis orang percaya yang sangat mulia, semua perkara
yang mereka persoalkan secara hukum hanyalah hal-hal yang sepele,
tidak perlu dibawa ke luar dari jemaat.

2. 6:7-11 Paulus menegur mereka bahwa orang Kristen tidak patut kalau
saling menggugat. Karena seharusnya sebagai orang percaya mereka
tidak boleh saling menggugat; seraya berkata:

6:7 Adanya saja perkara di antara kamu yang seorang terhadap


yang lain telah merupakan kekalahan bagi kamu. Mengapa kamu
tidak lebih suka menderita ketidakadilan? Mengapakah kamu
tidak lebih suka dirugikan?

6:8 Tetapi kamu sendiri melakukan ketidakadilan dan kamu


sendiri mendatangkan kerugian, dan hal itu kamu buat terhadap
saudara-saudaramu.

6:9 Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak


adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah?

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 22

C. Nasihat Mengenai Percabulan (6:12-20)


Dalam pendahuluan kita telah mempelajari bahwa kota Korintus adalah kota
yang bobrok secara moral atau cabul. Dan pada fasal ini kita melihat bahwa
sekalipun jemaat Korintus sudah menjadi Kristen tetapi kebudayaan tersebut
masih tetap mempengaruhi mereka sehingga Paulus harus memberitahukan
penjelasan tentang kemerdekaan bagi orang Kristen.
1.

Orang Kristen tidak terikat oleh peraturan atau hukum seperti orang
Yahudi. Kita diselamatkan oleh kasih karunia dan dibebaskan dari
hukum yang mematikan (Roma 7:9-11), tetapi kebebasan itu tidak
berarti kita boleh melakukan segala hal menurut keinginan kita
sendiri, sebab tidak semua hal berguna untuk membangun iman kita.
Sebaliknya ada hal-hal yang justru dapat memperhambakan kita pada
dosa, sehingga hal-hal semacam itu harus kita hindari.

2.

Kemerdekaan kita adalah dimana Kristus telah membebaskan kita dari


perbudakan dosa. Jadi kita tidak mempunyai kebebasan untuk
melakukan dosa, apalagi diperhamba dosa. Jadi melakukan percabulan
adalah pelanggaran atas kemerdekaan itu.

6:12 Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya


berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak
membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.
3.

6:13-20 Nasihat Paulus terhadap jemaat yang hidup dalam


percabulan:
a. 6:13, tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk
Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh.
b. Mengapa tidak diperbolehkan hidup dalam percabulan?
6:15 tubuh kita adalah anggota tubuh Kristus
6:19 tubuh kita adalah bait Roh Kudus, dan kamu bukan
milik kamu sendiri
6:13 oleh karena itu sudah selayaknya kita gunakan tubuh
ini untuk Tuhan
c. Peringatan dan penegasan Paulus
6:16 awaslah: siapa yang mengikatkan dirinya pada
perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? Sebab,
demikianlah kata nas: "Keduanya akan menjadi satu
daging." (Kej 2:24)
6:17 Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan,
menjadi satu roh dengan Dia.
6:18 Jauhkanlah dirimu dari percabulan!
6:20 Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas
dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!
Bdk 1Kor 7:23)

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 23

V. MASALAH-MASALAH DALAM JEMAAT (7:1-15:58)


Pasal 7:1 sampai pasal 15 berisi mengenai berbagai pertanyaan jemaat Korintus
dan jawaban Paulus terhadap pertanyaan tersebut.

A. Soal Perkawinan (7:1-40)


Sebagaimana telah dipaparkan pada bagian pendahuluan, bahwa jemaat
Korintus bersifat campur budaya, ada dari budaya Yunani, Roma dan Yahudi
masing-masing mereka mempunyai pengertian sendiri-sendiri tentang
perkawinan. Selain itu kota Korintus dikenal sebagai kota cabul, sehingga
jemaat harus menjaga diri supaya tidak terpengaruh.
Disamping itu ada dua pengajaran ekstrim yang berkembang pada masa itu
tentang perkwinan dan seksualitas. Pertama, pandangan Liberal terhadap
hubungan sex adalah sama seperti nafsu makan (tidak dianggap dosa dan
merupakan kebutuhan yang harus dipuaskan bagaimanapun caranya). Kedua,
pandangan yang mengatakan bahwa hubungan seks adalah dosa dan najis.
Oleh karena itu jemaat Korintus menjadi bingung dan bertanya kepada Paulus
tentang hal ini. Berikut jawaban rasul Paulus tentang berbagai pertanyaan
mereka.
1. Tentang Perkawinan dan Hidup Membujang (7:1-9)
Bagian yang dicatat pada bagian ini merupakan jawaban Paulus atas surat
atau pertanyaan yang diajukan jemaat Korintus (7:1a).

7:1, Paulus mengatakan bahwa tidak kawin adalah baik!


Benarkah bahwa pernyataan Paulus ini merupakan penegasan yang ia
maksudkan secara universal bahwa menikah itu tidak baik?

7:3-5, nasihat Paulus kepada yang sudah menikah


3, Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya,
demikian pula isteri terhadap suaminya.
4, Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya,
demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi
isterinya.
5, Janganlah kamu saling menjauhi. Bagaimana dengan pisah
ranjang, bolehkan?

7:7-9, Membujang, tidak kawin hanya baik kalau orangnya mempunyai


karunia untuk tidak kawin. Sedangkan bagi orang-orang yang tidak
mempunyai karunia membujang, lebih baik kawin (ay 9), karena: bahaya
percabulan (ay 2); supaya tidak hangus oleh hawa nafsu (ay 9).

7:7a alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku Melihat


ayat ini, benarkah pendapat yang menegaskan bahwa rasul Paulus tidak
pernah menikah?

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 24

2. Tanggungjawab Kristen dalam Perkawinan (7:10-16)


Pada nats ini rasul Paulus memberikan nasihatkan kepada dua kelompok
orang-orang yang sudak kawin. Pertama, kepada mereka yang menikah
dengan orang Kristen (10-11); kedua kepada mereka yang menikah
dengan orang non-Kristen (12-16)
a. Kepada yang menikah dengan orang Kristen (7:10-11)
Tidak boleh bercerai (7:10).
bukan aku, tetapi Tuhan (ay 10), artinya: ada peraturan dari
Tuhan Yesus sendiri (bdk. Mat 5:32 Mat 19:6).
Kalau toh terjadi perceraian (7:11), maka:
tidak boleh kawin lagi dengan orang lain.
boleh rujuk dengan suami / istri yang diceraikan.
b. Kepada yang menikah dengan non-Kristen (7:12-16)
Rupanya dalam jemaat di Korintus ada yang menikah dengan nonKristen. Kepada jemaat yang demikian Paulus memberikan
nasihatnya dalam ayat 12-16.
Hal ini sama sekali tidak berarti bahwa orang Kristen boleh
menikah dengan orang non-Kristen! Bagian ini ditujukan bukan
kepada orang-orang yang akan kawin, tetapi kepada orang-orang
yang sudah kawin. Jadi, mungkin waktu menikah, kedua-duanya
kafir, lalu salah satu menjadi Kristen. Kalau berbicara tentang
pernikahan yang akan dilakukan, maka tentu saja orang Kristen
tidak boleh menikah dengan orang non-Kristen (bdk. 1Kor 7:39
2Kor 6:14).
7:12, Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan:
kalau ada seorang saudara beristerikan seorang yang tidak
beriman dan perempuan itu mau hidup bersama-sama dengan dia,
janganlah saudara itu menceraikan dia.
Ungkapan aku, bukan Tuhan ini berbeda dengan ayat 10,
tetapi bukan berarti keduanya kontradiktif. Tidak ada
perbedaan otoritas antara ayat 10-11 dan 12-16. Perbedaan
hanya terletak pada sumber nasehat. Ayat 10 memang
langsung berasal dari ajaran Yesus sendiri (Mat. 19:9; Mrk.10:
12;Luk. 16:18), sedangkan ayat 12-16 merupakan pendapat
Paulus sendiri, karena pada jaman Yesus perkawinan campur
memang belum menjadi isu yang penting. Yesus tidak pernah
menyinggung tentang perkawinan campur.
Kepada seorang yang beristerikan seorang yang tidak seiman,
Paulus melarang untuk menceraikannya (ay.12, 13).
Apa alasannya?

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 25

7:14, Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh


isterinya dan isteri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh
suaminya. Andaikata tidak demikian, niscaya anak-anakmu
adalah anak cemar, tetapi sekarang mereka adalah anak-anak
kudus.
7:15a, Tetapi kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai,
biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari
tidak terikat.
7:15b, Tetapi Allah memanggil kamu untuk hidup dalam
damai sejahtera. Jadi, perceraian tidak boleh terjadi karena
inisiatif dari pihak kristen.
Siapa tahu yang Kristen bisa memenangkan jiwa
pasangannya? (ay 16 bdk. 1Pet 3:1-2).

3. Hidup dalam keadaan seperti waktu dipanggil (7:17-24)


7:17, hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah
ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu ia
dipanggil Allah. Inilah ketetapan yang kuberikan kepada semua
jemaat.
Bagian ini dilatar-belakangi oleh keadaan di Korintus dimana
banyak orang Kristen meninggalkan kehidupan mereka yang
lama, karena mereka menjadi orang Kristen. Yang dimaksud
dengan kehidupan yang lama, bukanlah dosa-dosa mereka.
Misalnya rumah yang lama, pekerjaan lama, suami atau istri
lama, dan sebagainya.
ditentukan Tuhan (7:17)
Dalam NIV: assigned yang berarti diberikan atau
ditempatkan, dalam KJV: distributed yang berarti dibagikan.
Dengan demikian maknanya ialah hendaklah tiap-tiap orang
tetap hidup seperti yang telah diberikan oleh Tuhan. Dan
tentunya bukanlah hal-hal yang bersifat dosa.
dipanggil Allah (7:17,20,24), maksudnya adalah dalam
keadaan pada waktu ia menjadi orang Kristen.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada saat seseorang
telah menjadi orang Kristen tidak ada keharusan untuk
mengubah kehidupannya, khususnya dalam hal-hal yang tidak
bersifat bertentangan dengan firman Tuhan. Sebaliknya, untuk
hal-hal yang bersifat dosa memang harus ditinggalkan.
Berikut contoh yang Paulus berikan:
a. 7:18, Kalau seorang dipanggil dalam keadaan bersunat,
janganlah ia berusaha meniadakan tanda-tanda sunat itu.
Kasiatin Widianto, M.Th

Page 26

Dan kalau seorang dipanggil dalam keadaan tidak


bersunat, janganlah ia mau bersunat.
Bagi yang sunat, jangan menghapus tanda sunat (ay
18a).
Bagi yang tidak sunat, jangan sunat (ay 18b).
Bagi Paulus, sunat atau tidak sunat itu tidak penting (ay
19a). yang penting ialah mentaati hokum-hukum Allah
(19b).
Tentang sunat: di satu pihak Paulus pernah
menentangnya, misalnya dalam misalnya dalam
Kis 15:1-2 Gal 2:3-5. Alasanya, bukan karena ia
menganggap sunat itu adalah dosa, tetapi karena orangorang Yahudi menjadikan sunat sebagai syarat untuk
selamat (bdk. Kis15:1). Tetapi, di lain pihak Paulus
Dalam Kis 16:3, Paulus justru menyuruh menyunatkan
Timotius, mungkin untuk menyesuaikan diri dengan
orang-orang Yahudi sehingga bisa memberitakan Injil
kepada mereka (bdk. IKor 9:19-22).
b. 7: 21, Adakah engkau hamba waktu engkau dipanggil? Itu
tidak apa-apa! Tetapi jikalau engkau mendapat kesempatan
untuk dibebaskan, pergunakanlah kesempatan itu.

4. Nasihat kepada para Gadis (7:25-38)


Pada bagian ini Paulus memberikan nasihatnya kepada para gadis
(7:25)
Kata gadis, dalam bahasa Yunani disebut dengan kata parthenos
(parthenos) yang berarti perawan atau orang yang belum menikah.
Mengawali nasihatnya, Paulus mengatakan bahwa aku tidak
mendapat perintah dari Tuhan. Tetapi aku memberikan
pendapatku (7:25)
Isi Nasihatnya:

7:26, Aku berpendapat, bahwa, mengingat waktu darurat sekarang,


adalah baik bagi manuisa untuk tetap dalam keadaannya.
Apa maksudnya waktu darurat?
Ada yang berpendapat bahwa menunjuk kepada keadaan kota
Korintus pada waktu itu, yang penuh dengan segala macam
kejahatan dan segala macam perlawanan yang mendatangkan
kesusahan bagi orang Kristen.

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 27

Dalam keadaan demikian Paulus menganjurkan agar setiap orang


lebih baik untuk tetap tinggal dalam keadaannya.
Memang, kalau mau menikah pun tidak berdosa dan tidak berbuat
dosa (7:28; band. 7:2,9). Tetapi harus selalu diingat juga bahwa
perkawinan membawa ikatan dan kewajiban yang cukup berat,
bahkan kesusahan badani atau penderitaan dan kesulitan dalam
kehidupan sehari-hari. Kalau mereka tidak kawin, maka mereka
akan menghindari beberapa kesulitan tertentu itu.
Kalau demikian,mana yang lebih baik, membujang atau menikah?
Menyimak 7:29-35 dapat diambil sautu kesimpulan bahwa baik
dalam keadaan membujang maupun keadaan menikah, kamu dapat
melayani Tuhan kalau kamu merasa bahwa itulah yang terbaik
untukmu. Kamu bebas memilih. Orang Kristen yang rohani bukanlah
orang yang tidak menikah atau membujang, melainkan orang yang
dapat mengendalikan dirinya, dan menguasai dunia ini baik ia tidak
menikah maupun menikah. Ia selalu bersikap tenang, ramah, dan
penuh kasih walaupun ia harus menghadapi kesusahan, halangan, dan
tuntutan rumah tangga.
5. Nasihat kepada Orangtua Gadis (7:36-38)
Latar belakang budaya pada saat itu berhubungan dengan mengawinkan
anak gadis, orangtualah yang berkuasa dan berhak memutuskan apakah
ia akan mengawinkannya atau tidak.
Nasehat Paulus bagi para ayah yang belum yakin apakah mereka harus
menikahkan anak gadisnya atau memaksa mereka untuk tetap
membujang.
Jika sang anak merasa perlu dan menghendaki menikah, baiklah ia
menikah, hal itu bukan dosa. Sebaliknya jika anak gadisnya yakin tidak
perlu menikah maka sebaiknya ayahnya tidak boleh memaksa.
6. Nasihat Tentang Nikah Ulang (7:39-40)
Prinsip ajaran Paulus adalah bahwa hubungan pernikahan hanya dapat
diakhiri oleh kematian salah satu pihak.
Nasihat Paulus kepada para Janda:
Baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku (7: 8,40 )
Kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin.
Sebab lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu.(7:9)
Kalau suaminya telah meninggal, ia bebas untuk kawin dengan siapa
saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang
percaya. (7:39)

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 28

B. Kebebasan Orang Kristen dan Batas-batasnya (8:1-11:1)


1. Terkait tentang makanan yang dipersembahkan kepada berhala
(8:1-13)

8:1-3 rupanya orang Kristen Korintus menganggap diri sudah


cukup pengetahuan, sehingga hal makan daging persembahan
berhala dipandang tidak masalah. Tetapi Paulus menegaskan
bahwa bagi orang Kristen, dasar yang menentukan perbuatan
bukanlah pengetahuan yang dapat menimbulkan kesombongan
sehingga kepentingan orang lain tidak dipikirkan, melainkan kasih
yang selalu membangun.

8:4-6 Paulus menyadari bahwa memang banyak yang menyebut


sebagai allah atau tuhan; tetapi bagi kita, orang yang percaya,
hanya ada satu Allah, yaitu Bapa yang dari padaNya berasal segala
sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja yaitu
Yesus Kristus, yang olehNya segala sesuatu telah dijadikan dan yang
karena Dia kita hidup.
8:7 realitanya masih ada jemaat yang (hati nuraninya lemah) tidak
mempunyai pengetahuan (spt ay. 6) maka dalam hati nurani mereka
merasa bersalah kalau berbuat demikian.
8:8 di mata Tuhan, apakah kita makan makanan tertentu atau tidak,
tidaklah mempengaruhi hubungan kita dengan Dia. Kita boleh
makan apa saja, asal kita mengakui hanya ada satu Allah (bnd. 1Tim.
4:4-5).
8:9-11 Walau pada prinsipnya orang Kristen bebas untuk makan
makanan yang sudah dipersembahan berhala (berdasarkan
pengetahuan bahwa berhala tidak berarti sama sekali), namun
kadang-kadang kita harus membatasi kebebasan itu. Dalam keadaan
di mana tindakan kita dapat menjadi bantu sandungan/hambatan bagi
saudara seiman, kita harus berhati-hati.

8:12-13 sebaliknya, jika kita tidak mau peduli dan sebaliknya justru
menjadi sandungan bagi yang lemah, maka hal itu berdosa terhadap
Kristus. Kalau memang demikian: aku untuk selama-lamanya
tidak akan mau makan.
Beberapa pertimbangan yang perlu dipikirkan sebelum
mengambil keputusan makan atau tidak makan makanan yang
sudah dipersembahkan kepada berhala. (look at 1 Kor w.b 157159). Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan ini bukan hanya
sebatas untuk hal makanan, tetapi untuk hal-hal yang lain,
seperti ke Bar, Merokok, Minum minuman keras dlsb.

Kasiatin Widianto, M.Th

Apakah perbuatan ini secara khusus dilarang dalam


Alkitab?
Page 29

Apakah perbuatan itu memuliakan Allah?


Apakah perbuatan itu merusak persekutuan saya dengan
Allah?
Apakah Tuhan menghendaki perbuatan itu?
Maukah saya didapati sedang berbuat hal ini pada waktu
kedatanganNya yang kedua kali?
Apakah Roh Kudus yang mendiami hati saya mengizinkan
perbuatan itu?
Bagaimanakah perbuatan ini akan mempengaruhi orang
lain?
Adakah keragu-raguan di dalam hatimu pada waktu kamu
melakukan perbuatan itu?

2. Teladan rasul Paulus (9:1-27)


Di atas Paulus telah menerangkan prinsip umum tentang pembatasan
kebebasan orang Kristen. Sekarang dia menunjukkan bagaimana dia
menerapkan prinsip itu pada dirinya.
a. 9:1-14, Paulus menyebut beberapa hak yang dimilikinya sebagai
seorang rasul dan hamba Tuhan.

9:1-3 Sebagai rasul ia berhak mendapatkan pengakuan, karena


bukti-bukti yang ada.

9:4-6 Beberapa hak istimewa yang dimiliki rasul Paulus:


o
o
o

Hak untuk disokong oleh jemaat (makan dan minum).


Hak untuk menerima sokongan bagi istri, kalau memang dia
sudah kawin. Rupanya itu sudah menjadi kebiasaan untuk
rasul-rasul yang lain.
Hak untuk dibebaskan dari keperluan mendukung diri sendiri
melalui pekerjaan sambilan.

9:7 Hak seorang hamba Tuhan untuk ditunjang oleh jemaat


digambarkan melalui contoh-contoh dari kehidupan sehari-hari.
Prajurit, pemilik kebun dan gembala semua didukung oleh
pekerjaan/usaha mereka.

9:8-9 Paulus mengambil cohtoh lagi, kali ini dari Firman Tuhan
(Ul.25:4) yang menetapkan bahwa lembu yang sedang bekerja di
tempat pengirikan harus dibiarkan makan dari sisa-sisanya.

9:10-11 Paulus merasa berhak untuk mengharapkan dukungan


materiil dari jemaat Korintus, karena dialah yang menabur Injil di
tempat itu.

9:12 Rupanya hamba-hamba Tuhan yang lain sudah


menggunakan hak mereka dan menuntut dukungan dari jemaat
Korintus. Tetapi Paulus, yang merintis PI di situ, mempunyai hak

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 30

yang sama, namun ia tidak mempergunakan hak itu, karena tidak


mau menjadi beban bagi jemaat; dan supaya tidak merintangi
pemberitaan Injil Kristus.

9:13-14 Paulus mengambil contoh lagi dari Kitab Suci, yaitu


ketentuan-ketentuan Hukum Taurat bahwa para pelayan Kemah
Suci (para imam dan orang Lewi) berhak untuk disokong dari
pelayanan itu. (Misal: Im.10:12-15; 24:5-9; Bil. 18:21-24).
Demikian halnya mereka yang memberitakan Injil. (bnd. waktu
pengutusan 70 murid dan pengutusan keduabelas rasul, Luk. 10:7;
Mat 10:10).

b. 9:15-18 Paulus membatasi diri dalam mempergunakan hak-hak


yang dimilikinya.

9:15 Paulus sudah tahu hak-haknya, tetapi ia tak


mempergunakannya, dan maksudnya menjelaskan hak-hak itu
bukanlah supaya jemaat merasa terpaksa untuk menyokong dia
selanjutnya.

9:16 Paulus tidak menganggap pelayanannya sebagai alasan


untuk dipuji atau untuk bermegah. Bukan dia yang memilih
pelayanan itu, tapi Tuhanlah yang menetapkannya (1 Kor. 1:1).
Karena itu, pelayanan itu menjadi suatu keharusan baginya, dan
dia merasa takut akan terjadi kecelakaan kalau tidak
melakukannya.

9:17-18 karena panggilan pelayanannya bukan karena


kehendaknya sendiri, maka upahku ialah ini: bahwa aku boleh
memberitakan Injil tanpa upah, dan aku tidak mempergunakan
hakku sebagai pemberita Injil

c. 9:19-23 Paulus memberikan beberapa contoh bagaimana dia


membatasi kebebasannya sendiri demi melayani bermacammacam orang. Dijelaskan bagaimana rasul Paulus menyamakan
dirinya dengan orang-orang lain agar ia dapat memenangkan mereka.
d. 9:24-27 Paulus bersaksi bagaimana dia menguasai diri sendiri
demi pekabaran Injil.
Pada bagian ini Paulus mengemukakan sebuah filsafat hidup:

Hidup adalah sebuah PERJUANGAN


William James: jika hidup ini bukan sebuah pertandingan yang
sesungguhnya, yang di dalamnya segala sesuatu diraih dengan
sukses, hidup ini tidak lebih baik daripada sebuah permainan
drama pribadi di mana seseorang boleh menarik diri sesuka hati
kapan saja.

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 31

DISIPLIN perlu untuk memenangkan pertandingan dan menjadi


pemenang dalam perlombaan
Kita harus mendisiplinkan diri kita;
Salah satu dari kenyataan kehidupan spiritual yang dilalaikan
adalah begitu seringnya depresi spiritual, tak lain bersumber dari
ketidaksehatan fisik.

Kita harus MENGETAHUI TUJUAN kita


Konon ada suatu ceritera:
Ada 2 orang di planet Mars sedang memandang ke bawah,
melihat kepada orang-orang di dunia ini yang bergegas ke sini, ke
sana, dan kemana saja. Sebut saja yang satu bernama Robert dan
yang lain bernama Ronald, yang mana keduanya terlibat dalam
pembicaraan:
apa yang sedang mereka lakukan, tanya Robert, mereka
sedang pergi, jawab Ronald. Lalu Robert bertanya lagi:
mereka pergi ke mana? oh...mereka tidak sedang pergi ke
mana-mana, mereka hanya sedang pergi, jawab Ronald.
Dan pergi kemana saja merupakan jalan yang pasti untuk
tidak sampai dimanapun.

Kita harus mengetahui HARGA dari tujuan kita

Kita tidak dapat menyelamatkan orang lain kecuali kalau kita


menguasai diri kita sendiri
Freud: Psikoanalisa mempelajari pertama-tama adalah tentang
diri seseorang, melalui studi kepribadian orang itu sendiri.
Orang2 Yunani menyatakan bahwa prinsip kehidupan yang
pertama adalah, manusia, kenalilah dirimu sendiri

3.

Bahaya-Bahaya penyalah-gunaan kebebasan (10:1-15)


Paulus mengambil contoh dari bangsa Israel untuk memperingati jemaat
Korintus, supaya jangan menyalah-gunakan kebebasan mereka.
a.

10:1-4, Paulus mengambil pengalaman bangsa Israel sebagai


peringatan mereka. Adapun pengalaman Israel yakni:

10:1, Nenek moyang Israel ada dalam lindungan awan,


secara implisit ini menunjukkan bahwa mereka ada dalam
pimpinan Roh Kudus. Demikian halnya dengan jemaat
Korintus mereka berada dalam pimpinan Roh Kudus
(Kel.14:19-20; Yoh 14:26).

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 32

10:1b, Paulus mengatakan bahwa mereka melewati laut, lepas


dari Mesir . sama seperti orang Korintus terpisah dari dunia.
Nenek moyang Israel tidak lagi berada dalam kuasa
perbudakan Mesir, sama seperti jemaat tidak lagi berada
dalam kekuasaan atau perbudakan Iblis dan dosa.

10:2, Paulus berkata bahwa nenek moyang Israel telah


dibaptis dalam awan dan dalam laut. Kalau dibaptis dalam
awan itu berarti dilahirbarukan oleh Roh Kudus maka yang
hendak Paulus katakan disini kepada jemaat bahwa setelah
jemaat bertobat atau diselamatkan baru mereka dibaptis oleh
air.

10:2, Paulus mengatakan bahwa nenek moyang Israel menjadi


pengikut Musa, dan dalam Galatia 3:27, Musa melambangkan
Kristus. Jadi untuk menjadi pengikut Kristus jemat sudah harus
bertobat dan akhirnya dengan taat memberi diri di baptis.

10:3-4 Orang percaya setelah dilahirbarukan maka ia dibptis


dan setelah itu dia harus makan-makanan rohai yaitu Firman
Allah. (Kel 16:16-17:16; band Ibr 5:14; 1Pet 2:2).

10:4b batu karang rohani... ini menggambarkn penyertaan


Tuhan di tengah-tengah mereka, juga merupakan janji Tuhan
Yesus sendiri (Mat 28:20; Yoh 14:16)

b. 10:5-11 Peringatan dari pengalaman orang Israel dan akibatnya.


10:6, Mereka mengiginkan hal-hal yang jahat.
10:7, Mereka menyembah berhala.
10:8, Mereka jatuh dalam percabulan.
10:9, Mereka mencobai Tuhan menyatakan ketidak
percayaan mereka kepada Tuhan.
10:10, Mereka bersungut-sungut.
c.

10:12-15 mengingatkan jemaat Korintus untuk mengenal


kelemahan diri sendiri. Bagian ini menunjukkan betapa lemahnya
orang Israel itu, sehingga mereka jatuh dalam pencobaan. 10:12,
Penyebab orang Kristen jatuh dalam pencobaan karena seringkali
kita merasa cukup kuat untuk berdiri teguh, menimbulkan
kesombongan, sehingga jatuh .

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 33

4.

Kesimpulan Tentang Makanan (10:16-11:1)


Bagaimana sikap kita terhadap makanan yang sudah dipersembahkan
kepada berhala?
a.

Mengenai lokasi-lokasi merupakan salah satu pertimbangan kita


(10:16-22). Bagian ini menyinggung mengenai Roh Kudus,
contoh makan roti dan minum anggur. Sebenarnya roti adalah
makanan biasa dan anggur juga adalah minuman biasa bagi orang
Yahudi. Tetapi jika itu dilakukan oleh jemaat di gereja dan dalam
acara tertentu, biasanya itu mengacu kepada persekutuan kita
dengan Tuhan dalam perjamuan Tuhan. Maka sama halnya
dengan orang yang makan persembahan berhala dalam kuil, bisa
dianggap dengan memiliki persekutuan dengan berhala atau ilahilah itu.

b. Mengenai hati nurani, hal ini mencakup dua aspek antara lain:
o Hati nurani diri sendiri (10:25-26)
o Hati nurani orang lain (10:27-30)

10:25-26, daging yang dijual di pasar boleh kita makan, karena


lokasi makan kita tidak didalam kuil, walaupun daging itu sudah
dipersembahkan kepada berhala, tetapi tergantung pula dalam hati
nurani kita, kalau merasa tidak tentram, jangan makan (Roma 11:23)

10 :27-30, khususnya 28b, karena keberatan hati nurani orang


itu dan ayat 29 keberatan orang itu, maka hal itu harus kita
pertimbangkan. Kita boleh makan, namun bila hal ini menimbulkn
ketidak-tentraman hati orang lain, janganlah kita memakannya,
supaya jangan nama Tuhan dihujat orang.
Penerapan Praktis (10:23-11:1)
Mengakhiri penjelasannya tentang kebebasan Kristen dan batasbatasnya; Paulus memberikan nasehat tentang beberapa hal tertentu:
10:23-24 walau segala sesuatu diperbolehkan, tetapi tidak semua
berguna dan membangun. Karena itu jangan cari keuntungan diri
sendiri, tetapi keuntungan orang lain.
10:25-26 kamu boleh makan segala sesuatu, karena hal itu
berasal dari Tuhan.
10:27-11:1 Paulus menasehati orang Kristen bahwa mereka
boleh makan bersama orang yang tidak percaya, dan pada dasarnya
tidak perlu menyelidiki apakah makanan itu berupa persembahan
berhala atau bukan.
Hanya kalau seorang (agaknya orang Kristen yang masih baru atau
lemah imannya) memberitahukan dengan jelas bahwa makanan itu
adalah persembahan berhala, maka Paulus menasehatkan lebih baik
jangan makan.
Kasiatin Widianto, M.Th

Page 34

Jika kamu makan/minum/melakukan sesuatu yang lain:


lakukan untuk kemuliaan Allah
jangan menimbulkan syak dalam hati orang
lebih untuk kepentingan orang lain (bukan diri sendiri)
supaya mereka beroleh selamat

C. Kebaktiam Umum (11:2-14:40)


1. Kedudukan wanita (1 Kor 11:2-16)
Bagian ini membicarakan tentang keharusan bagi isteri untuk mentaati
suaminya. Kalau kita baca isi bagian ini maka kita menemukan bahwa
wanita harus memakai tudung kepala. Satu hal yang perlu diingat disini
adalah ketaatan isteri kepada suaminya.
Latar belakang nasehat Paulus kepada para wanita jemaat Korintus agar
pada waktu beribadah memakai tudung adalah:
Orang Yahudi (laki-laki dan perempuan), juga orang Romawi bila
berdoa memakai tudung.
Sedang orang Yunani (yang tidak takut akan Allah) saat berdoa dan
mempersembahkan korban tanpa memakai tudung.
Mengingat juga bahwa dalam masyarakat Yunani perempuan yang
tidak bertudung kepala dianggap perempuan sundal.
Menudungi/menutupi: Yun > katakaluptw artinya
menyembunyikan
11:4 Laki-laki Kristen tidak boleh menudungi kepala bila berdoa
atau bernubuat, karena dengan demikian ia menghina kepalanya yaitu
Kristus (ay. 3). Pada zaman itu tudung merupakan tanda tunduk
kepada orang lain, jadi tidak patut dipakai oleh laki-laki yang harus
tunduk kepada Kristus saja, dan bukan kepada manusia. (ay. 7)
11:5-6 Bila perempuan berdoa atau bernubuat dengan kepala yang
tidak bertudung, dia menghina kepalanya, yaitu suaminya (ay. 3).
Pada zaman Paulus, perempuan yang tidak memakai tudung di
hadapan umum menunjukkan bahwa dia menolak kewibawaan
suaminya. Oleh karena itu, Paulus menilainya sama dengan
perempuan yang dicukur rambutnya, yaitu perempuan sundal
(pengguntingan rambut merupakan hukuman sementara yang
diterapkan terhadap perempuan).
Demi menegaskan beratnya hal ini, Paulus menantang kaum wanita
dengan dua pilihan:
o Kalau tetap tidak mau menudungi kepalanya, apakah juga berani
untuk menggunting rambutnya supaya semua orang tahu bahwa
dia tidak tunduk lagi kepada suaminya dan tidak berbeda dengan
pelacur?
Kasiatin Widianto, M.Th

Page 35

o Kalau tidak bersedia untuk menderita penghinaan sebagai


seorang pelacur haruslah dia menudungi kepalanya.
11:7-9 laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan
gambaran dan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan
kemuliaan laki-laki. Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan,
tetapi perempuan berasal laki-laki. Dan laki-laki tidak diciptakan
karena perempuan, tetapi perempuan diciptakan karena laki-laki.
Rupanya Paulus menarik kesimpulan bahwa laki-laki secara khusus
menyinarkan gambaran dan kemuliaan Allah atas dasar bahwa lakilaki diciptakan lebih dulu (Kej. 2:18-23). Jadi laki-laki mempunyai
hubungan khusus dengan Allah, dan perempuan mempunyai
hubungan khusus dengan laki-laki, sebab dia berasal dari lakilaki dan diciptakan sebagai penolong baginya. Oleh karena itu,
laki-laki tidak memakai tudung dan dengan demikian memuliakan
Allah sebagai kepalanya, dan perempuan memakai tudung supaya
memuliakan laki-laki sebagai kepalanya.
11:10, Bagi perempuan, tudung menjadi tanda wibawa dipandang
dari dua segi:
o Sebagai tanda penundukan kepada wibawa suaminya.
o Perempuan harus memakai tudung karena para malaikat
(ada yang memaksudkan gembala sidang; malaikat
sesungguhnya) juga hadir dalam kebaktian itu. (bdk. 1 Tim.
5:21)
11:11-12, Supaya perempuan tidak merasa harga dirinya rendah,
Paulus menerangkan bahwa dalam Tuhan baik laki-laki maupun
perempuan, keduanya setara.
11:13-15, Untuk menegaskan kembali soal tudung kepala bagi
perempuan dan tidak bagi laki-laki, Paulus menambahkan suatu
dukungan lagi, yaitu tata tertip alam, yang menyatakan kebiasaan
pada zaman itu bahwa rambut perempuan lebih panjang dari rambut
laki-laki. Rambut panjang adalah penudung alamiah yang disediakan
baginya oleh Allah. Dengan memakai rambut panjang perempuan
menunjukkan kesediaannya untuk memenuhi kehendak Allah
baginya, yaitu tunduk kepada kepalanya, laki-laki, maka hal itu
menjadi kehormatan baginya.
11:16, Jika ada yang mau membantah (tidak mau menyetujui aturan),
Paulus menegaskan bahwa peraturan tersebut sudah diterima dan
menjadi kebiasaan yang wajib dilaksanakan.
Penerapan: Prinsip apa yang dapat diperoleh dari hal ini?
Prinsip dasar ajaran Paulus di atas tentang pakaian wanita waktu
menghadiri kebaktian ialah bahwa orang Kristen harus selalu
Kasiatin Widianto, M.Th

Page 36

berpakaian dan bertinkah laku dengan pantas dan sopan santun.


(bnd. 14:40). Prinsip ini mempunyai nilai tetap dan harus dilakukan
oleh orang Kristen pada setiap zaman, namun pelaksanaannya dapat
berubah sesudai dengan waktu dan keadaan.

2. Perjamuan Kudus (1 Kor 11:17-34)


Pada zaman permulaan gereja pelaksanaan Perjamuan Kudus
dihubungkan dengan perjamuan kasih (Yudas 12). Maksud kebiasaan itu
ialah untuk meniru Perjamuan Malam Tuhan yang terakhir (Mat. 26:2029). Pelaksanaan sedemikian memberikan kesempatan baik untuk
persekutuan, dan rupanya disambut dengan hangat oleh jemat mula-mula
(Kis. 2:46).
Tetapi di Korintus, pelaksanaannya sudah menjadi kacau, dimana
Perjamuan Kudus justru menimbulkan perpecahan. dan bukan
persekutuan.
11:18-19, Paulus telah mendengar (mungkin dari keluarga Kloe bnd.
1:11) bahwa cara jemaat Korintus melaksanakan Perjamuan Kudus
menimbulkan perpecahan.
11:20-21, Waktu mereka berkumpul mereka mengutamakan dirinya
sendiri. Pada dasarnya, sedapat mungkin perjamuan kasih harus
dilaksanakan dengan cara setiap anggota jemaat membawa makanan
sesuai dengan kemampuannya, kemudian semua makanan itu
dikumpulkan dan dibagi rata.
Tetapi di Korintus rupanya orang kaya membawa banyak makanan
dan langsung memakan dahulu, tanpa membagi-bagikannya kepada
anggota lainnya.
Akibatnya ialah beberapa anggota yang tidak mampu membawa
makanan, atau mereka yang terlambat datang harus pulang dengan
lapar, sedangkan anggota yang mampu minum dengan kelebihan
hingga menjadi mabuk.
11:22, Dalam hal ini aku tidak memuji.
23-26, Paulus mengingatkan jemaat Korintus mengenai asalmulanya/penetapan Perjamuan Kudus. Kebenaran ini Paulus terima
dari Tuhan (mungkin melalui penyataan khusus Gal1:11-12) dan
telah diteruskan kepada mereka maka mereka sebenarnya tidak
dapat berdalih tentang kesalahan mereka.

11:24, ...inilah tubuhKU...


Ketika Yesus berbicara demikian tubuhNya sendiri masih
ada; dan tidak ada yang lebih jelas daripada bahwa tubuhNya

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 37

dan roti merupakan hal-hal yang betul- betul berbeda pada


saat itu.
Dan Yesus pun tidak semata-mata bermaksud, ini berarti
tubuhKu.
Dalam beberapa hal, itu benar. Roti dari sakramen memang
berarti tubuh Ktristus; tetapi roti dalam sakramen
mempunyai makna lebih daripada itu.
Bagi seseorang yang mengambilnya dengan tanganya
dan memasukkannya ke dalam mulutnya dengan iman
dan kasih, roti yang dipecah-pecahkan itu bukan
hanya merupakan cara untuk mengenang, melainkan
demi sebuah hubungan yang hidup dengan Yesus.
Bagi seorang yang tidak beriman, roti itu tidak
bermakna apa-apa;
Bagi seorang kekasih Kristus, roti itu merupakan cara
bagi kehadiran Kristus.

11:25, Cawan ini adalah Perjanjian Baru...


Ada sebuah Perjanjian Lama antara Allah dan manusia dan
hubungan yang lama itu didasarkan atas hukum. Di dalamnya
Allah memilih dan mendatangi umat Israel dan secara
istimewa menjadi Allah mereka; tetapi dengan sebuah syarat,
bahwa agar hubungan ini bertahan, mereka harus memlihara
hukumNya (Kel 24:1-8)
Melalui Yesus sebuah hubungan yang baru dibuka bagi
manusia, hubungan yang bergantung bukan pada hukum
melainkan pada kasih, bergantung bukan pada kesanggupan
manusia untuk memelihara hukum-karena tidak ada
seorangpun yang dapat melakukan hal itu-tetapi pada
anugerah kasih Allah dengan Cuma-Cuma yang diberikan
kepada manusia.

11:25b,26: Apa maknanya kita mengikuti Perjamuan


Kudus?
Menjadi peringatan akan Yesus
Mengingatkan akan tanggung jawab kita: memberitakan
kematianNya sampai kedatanganNya kembali.

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 38

Pandangan Tokoh Sejarah Gereja tentang Perjamuan Kudus:

John Wicliff : Roti dan anggur Perjamuan Kudus bukanlah tubuh


dan darah Kristus yang sebenarnya, melainkan hanyalah suatu
tanda semata-mata.

Marthen Luther : Daging dan darah Yesus memang


hadir...bagaimana dan dimana serahkanlah hal itu kepada Dia.
Tubuh Kristus hadir secara substansia dan esensia (hakikat) tetapi
tidak hadir menurut angka (kwantitatif) atau secara lokal.

Zwingli : Menolak kehadiran secara fisik dari tubuh Kristus.

Calvin : Pada saat seseorang makan dan minum roti dan anggur,
pada waktu itu juga ia sungguh dihubungkan oleh Roh Kudus
dengan tubuh dan darah Kristus yang disurga.

11:27-32: Cara partisipasi yang layak dalam Perjamuan Kudus.


a.

11:27, dengan cara yang layak


Bukan orang yang layak yang boleh makantidak ada yang
layak. Tetapi kita harus makan dengan cara yang layak.
cara yang tidak layak : Yunani-hanaksiws ( ,anaxiws) secara
tidak baik, yakni dengan sikap hati yang acuh tak acuh, tidak
hormat dan mementingkan diri sendiri. Tidak menghargai arti
roti dan cawan Tuhan. Roti dan cawan Tuhan menyatakan
tubuhNya terbelah bagi kita dan darahNya tercurah bagi dosadosa kita.
Karena bila tidak demikian ia berdosa (enoXos: enoxos =
bersalah) terhadap tubuh dan darah Tuhan

b.

11:28, karena itu (sebelum mengikuti PK) hendaklah tiap-tiap


orang menguji diri (dokimazetw: memeriksa diri). >< Ay 30,
kalau kita menguji diri kita, hukuman tidak menimpa kita.

c.

11:29, karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui


tubuh Tuhan, ia akan mendatangkan hukuman ( krima: disiplin)
atau kematian (30). Disiplin: lihat Ibrani 12:5-11.
tanpa mengakui tubuh Tuhan apa artinya?
Ungkapan ini mempunyai dua pengertian:
Mereka makan roti dan minum cawan perjamuan dengan
tanpa penghormatan dan tanpa pengertian akan kasih.
Bukankah pengorbanan Kristus di kayu salib oleh karena
kasihNya kepada kita?
Mereka makan roti dan minum cawan perjamuan tetapi
tidak pernah menyadari bahwa jemaat secara keseluruhan
adalah tubuh Kristus. Bdk 3:16,17; 12:27. dan faktanya,
mereka makan tetapi tidak mempedulikan yang lain.

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 39

11:33-34 Nasehat penutup tentang bagaimana seharusnya


dalam mengikuti perjamuan kudus:
Karena itu, saudara-saudaraku, jika kamu berkumpul untuk makan,
nantikanlah olehmu, seorang akan yang lain. Kalau ada yang lapar,
baiklah ia makan dahulu di rumahnya, supaya jangan kamu
berkumpul untuk dihukum.

3. Rupa-rupa Karunia (1 Kor 12:1-31)


a.

Cara Membedakan Yang Sejati dari Yang Palsu (12:1-3)


Ayat 1 kita perlu mengetahui mana yang banar dan mana yang
salah. Mudah sekali bagi orang Kristen kalau terjun ke dalam aliran
yang ini atau itu tanpa menentukan kebenaran atau kesalahan.

Ayat 2-3 mereka telah bertobat dari penyembahan berhala dan


telah ikut dan takluk kepada Yesus. Mereka punya Roh Kudus dan
hal ini telah nyata dalam hidup mereka.
b. Roh Kudus membagi-bagi karunia2nya kepada masing2 orang
percaya (12:4-11)

Definisi Karunia Roh


adalah suatu kemampuan yang diberikan oleh Roh Kudus
kepada setiap orang percaya untuk melayani agar gereja dapat
maju dalam kwantitas dan kwalitas.

Hubungan Trinitas dengan Karunia (4-6)


Ada bermacam-macam karunia tetapi hanya satu Roh yang
memberikan semuanya. Ada rupa-rupa pelayanan tetapi satu
Tuhan Yesus yang mengatur semuanya. Ada berbagai-bagai
perbuatan/aktivitas tetapi satu Allah yang mengerjakan
semuanya dalam semua orang (3:6).

Tujuan Karunia (7)


Semua orang menerima karunia. Tiap-tiap orang menerima,
tetapi bukan untuk kepentingannya sendiri tetapi kepentingan
semua orang. Setiap anggota diberi kemampuan untuk
berfungsi tetapi fungsinya adalah untuk kebaikan semua
anggota.

Daftar Karunia (8-10)


Ada empat daftar dalam PB:
1. 1 Kor. 12:8-10
2. 1 Kor. 12:28-30
3. Efesus 4:7-11
4. Roma 12:3-8

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 40

Kadang-kadang karunia itu berupa: kemampuan, orang,


jabatan. Kadang-kadang tertentu dan kadang-kadang umum;
kadang-kadang jelas dan kadang tidak; kadang-kadang tetap
dan tidak tetap. Tidak ada dua daftar yang sama, jadi mungkin
tidak ada satu daftar tertentu. Mungkin ada yang lain yang tidak
disinggung dalam Alkitab. Mungkin karunia-karunia Roh
berbeda menurut waktu dan tempatnya sesuai dengan
keperluannya.
1) Berkata-kata dengan hikmat (12:8a)
Kemampuan/kesanggupan yang diberikan oleh Allah untuk
mengetahui pikiran Roh Kudus untuk dipraktekkan ketika
persoalan timbul.
2) Berkata-kata dengan pengetahuan (12:8b)
Kesanggupan untuk mengerti Firman Allah. Allah memberikan
kesanggupan khusus kepada beberapa orang untuk menggali
arti/maksud FT supaya orang lain juga dapat mengertinya (Rick
John, 97).
Iluminasi Ilahi tentang fakta atau orang atau situasi tertentu
(David Pyches, 99).
3) Iman (12:9a)
Iman ini berbeda dari iman orang saleh dalam kehidupan kita
sehari-hari. Ini kesangguipan untuk percaya kepada Allah
dalam situasi2 yang sangat sulit. Iman salah satu orang dapat
menguatkan orang-orang lain.
Kemampuan khusus yang diberikan kepada beberapa anggota
gereja untuk mengetahui kehendak Allah, tujuanNya untuk
pekerjaanNya yang akan datang (Peter Wagner, 158).
Kemampuan khusus untuk percaya akan hal-hal yang
kelihatannya tidak bisa terjadi dan menjadi kenyataan (John
Rick, 48-49).
Melihat jauh ke depan, sedangkan orang lain belum bisa
melihatnya. Kemampuan menyadari apa yang Allah ingin
lakukan dan percaya Ia pasti akan menggenapiNya dan perlu
didoakan (Dobby Clinton).
Bukan iman yang menyelamatkan, tetapi iman bergantung
kepada Tuhan untuk sesuatu tugas atau kebutuhan atau
demonstrasi kuasa Allah (Donald Bridge, David Phypers, 54)
4) Karunia Kesembuhkan (12:9b)
Kemampuan khusus dari Allah untuk menjadi saluran di mana
Tuhan menghendaki penyembuhan penyakit dan menjadi sehat
kembali tanpa cara-cara yang biasa (Peter Wagner, 236).

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 41

5) Karunia Mujizat (12:10a)


Penyataan-penyataan kuasa Allah secara luar biasa dengan
tujuan tertentu - mis. kematian Ananias dan Safira (Kis. 5) dan
Elimas menjadi buta (Kis. 13:8-11). Yang jelas, karunia ini
dibedakan dari karunia untuk menyembuhkan.
Mujizat merupakan tanda yang menunjuk kepada pribadi
Kristus dan InjilNya. Lihat Yoh. 2:11; 20:230-31; Kis. 2:22.
Tuhan Yesus mengadakan mujizat hanya selama 3 tahun
pelayananNya. Setelah Yesus, rasul2, dan beberapa orang lain
juga mengadakan mujizat untuk meneguhkan Injil (Lih. Kis.
14:3; 2 Kor. 12:12; Ibr. 2:3-4)
Wewenang diberikan
Kristus memberi wewenang kepada 12 muridNya (Mat. 10:7-8)
Ia juga memberi wewenang kepada 70 murid (Luk. 10:8-9)
6) Karunia Bernubuat (12:10b)
Kemampuan untuk menyatakan kebenaran. Definisi yang
jelas/nyata terdapat dalam 1 Kor. 14:3. Nubuat adalah karunia
khusus yang diberikan oleh Roh Kudus untuk memberitakan
wahyu dari Allah.
Kemampuan yang diberi oleh Allah untuk menerima atau
mengkomunikasikan berita dari Allah kepada pribadi atau
jemaat/kelompok.
Prosedur untuk Bernubuat (1 Kor. 14:29-33a)
(1) Prosedur yang diberikan untuk mengatur penggunaan
karunia bernubuat sama seperti prosedur yang diberikan
untuk mengatur karunia bahasa lidah.
a. Hanya dua atau tiga boleh bernubuat.
b. Orang-orang lain (nabi-nabi lain) menanggapi (menilai)
berita-berita itu yang disampaikan. Mereka bertanggung
jawab menentukan apakah berita itu berasal dari Allah
atau tidak (bnd. 1 Yoh 4:1)
c. Jika seorang nabi sedang berbicara (mungkin ia telah
menerima suatu wahyu sebelum kenbaktian) lalu tibatiba seorang nabi yang lain menerima penyataan (wahyu)
maka yang berbicara harus berdiam diri (14:30).
d. Mereka boleh bernubuat satu demi satu.
(2) Ayat 32-33: Menurut Paulus karunia (pneumata) nabi
takluk kepada nabi-nabi. Berarti setiap nabi dapat
menguasai diri. Mereka tidak bernubuat dalam keadaan
seperti orang gila yang tidak sadar akan perbuatannya.
Setiap nabi dapat mengontrol dirinya dan menunggu
sampai saat lain untuk memberitakan wahyunya. Rupanya
Kasiatin Widianto, M.Th

Page 42

nabi-nabi di Korintus turut mengacaukan jemaat sama


seperti mereka yang berbahasa lidah.
Dinajurkan
Paulus mengajurkan agar kita memilikinya. 1 Kor. 14:39
Karena itu, saudara2ku, usahakanlah dirimu untuk
memperoleh karunia untuk bernubuat
Ada nabi-nabi dalam PB, namun tugasnya bukan menambah
wahyu yang telah ada:
o
o
o
o
o
o
o
o
o

Kis 21:9
1 Kor 11:5
Kis 11:27
Kis 13:1
1 Tes 5:19-20
Kis 21:10-11
Kis 15:32
1 Tim 1:18
1 Tim 4:14

4 anak dara/wanita Kaisarea


nabi-nabi wanita di Korintus
nabi di Yerusalem
nabi di Antiokia
nabi di Tesalonika
nabi Agabus
nabi Yudas dan Silas
Timotius dinubuatkan
Timotius dinubuatkan

7) Karunia membeda bermacam-macam Roh


Kata membedakan menunjukkan penelitian untuk menentukan
yang benar dan yang paslu. Iblis adalah bapak segala dusta
(Yoh 8:44) dan selalu memalsukan pekerjaan Allah. Maka kita
perlu berhati-hati dan menmguji roh-roh (1 Yoh 4:1). Itulah
yang dilakukan oleh orang-orang Berea ketika mendengar Injil
dari rasul Paulus (Kis 17:11).
Orang yang mempunyai karunia ini mempunyai suatu
kesanggupan istimewa untuk mengenal ajaran2 atau roh2 yang
palsu.
8) Karunia Bahasa Lidah
Keterangan tentang hal ini dijelaskan pada halaman tersebut dibawah.

1. Kasih Lebih Utama (1 Kor 13:1-3)


Setelah dalam fasal 12 Paulus berbicara tentang karunia-karunia, dalam
fasal ini kita dapat membaca tentang jalan yang lebih utama. Kehidupan
yang rohani tidak dinyatakan oleh karunia karunia Roh, tetapi oleh buah
Roh yang di antaranya adalah kasih yang paling utama (Gal 5:22).
Karunia Roh tidak membuat kita lebih rohani tetapi buah Roh adalah
akibat kepenuhan Roh (Gal 6:16,22).
Jemaat Korintus tidak kekurangan karunia Roh tetapi sangat kekurangan
buah Roh. Mereka telah dibaptiskan dalam Roh tetapi hidup sehatiharinya tidak dengan kepenuhan Roh.

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 43

Apakah KASIH itu?


Ini bukan rasa cinta, bukan juga suatu perasaan enak yang naik turun
pada tulang punggung seseorang yang sedang bersama-sama dengan
kekasihnya. Tetapi yang dimaksudkan kasih dalam fasal 13 ini adalah
kasih seperti yang dinyatakan dalam Yoh 3:16; 1 Yoh 4:8-11, yakni
seperti yang dicontohkan oleh Allah kepada manusia di mana Ia rela
mengorbankan AnakNya untuk kebaikan kita. Yesus Kristus rela
mengorbankan diriNya, menderita secara mengerikan dan bahkan rela
mati di atas kayu salib untuk kita yang berdosa. Itulah kasih. Pernyataan
Alkitab yang paling sederhana tentang Allah ialah Allah adalah kasih
(1 Yoh 4:16).
a.

Pentingnya kasih dalam kehidupan orang percaya (13:1-3)


1) Kasih dibandingkan dengan bermacam-macam bahasa (13:1)
Tidak ada ajaran dalam Alkitab bahwa ada bahasa malaikat.
Setiap kali malaikat berbicara ia pakai bahasa yang dimengerti
oleh manusia. Di sini Paulus bermasud bahwa meskipun ia
pandai luar biasa sampai bias berbahasa malaikat sekalipun,
tetapi tanpa kasih, ia sama seperti gong yang berkumandang dan
canang yang bergemerincing.
Pemakaian bahasa lidah telah membuat orang sombong maka
Paulus menyinggung akan hal itu. Bahasa apa saja tanpa kasih
adalah sia-sia.
2) Kasih dibandingkan dengan karunia-karunia yang sungguh
utama seperti nubuat, pengetahuan dan iman (13:2)
Tetapi karunia bernubuat yang merupakan karunia yang
sungguh utama apabila tidak dipakai dengan kasih juga sia-sia.
segala rahasia: jika Paulus mengerti semua rahasia sorgawi,
jia Paulus mempunyai semua pengetahuan, dan jika ia bersifat
mahatahu, tetapi bila tanpa kasih ia tidak berguna. Pengetahuan
membangkitkan kesombongan. Pengetahuan rohani hanya
berguna jika disertai kasih.
Iman: yang diaksudkan disini bukan iman yang menyelamatkan,
tetapi kepercayaan bahwa Allah akan bertindak untuk kita.
Paulus menyinggung akan iman yang yakin bahwa Allah dapat
memindahkan gunung-gunung. Paulus menggunakan contoh
yang dipakai oleh Tuhan Yesus (Mat 17:20). Paulus berkata
bahwa walaupun seseorang mempunyai iman yang sedemikian,
tetapi tanpa kasih tidak berguna.
3) Kasih dibandingkan dengan perbuatan-perbuatan yang
dianggap berarti (13:3)
Meskipun aku menderita, bahkan sampai mati syahid tetapi
semua itu tak berguna bila tak disertai kasih. Bahkan sekalipun

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 44

hartanya dihabiskan untuk menolong orang miskin tetapi bila


tidak disertai kasih tidak ada gunanya.
b. Sifat-sifat kasih (13:4-7)
1) Sabar (13:4)
Maksudnya adalah kesanggupan untuk menanggung gangguan
orang lain dan kebencian orang lain yang berulang kali tanpa
marah. Kasih mengutamakan kebaikan orang lain dan tidak
membalas (Roma 12:17; Mat 5:39).
Stefanus menyatakan sifat ini ketika ia dibunuh. Pada waktu
ia berkata: Tuhan janganlah tanggungkan dosa ini kepada
mereka (Kis 7:60).
Tuhan Yesus pun berbuat demikian ketika Ia berseru di atas
kayu salib: Ya bapa, ampunilah mereka Luk 23:34).
Yusuf, terhadap saudara-saudaranya yang jahat padanya.
2) Murah Hati (13:4)
Murah hati adalah imbangan sifat sabar. Murah hati
menginginkan kebaikan orang lain dan berusaha
mewujudkannya. Teladan utama tentang hal ini adalah Tuhan
sendiri. Maukah egkau menganggap sepi kekayaan
kemurahanNya, kesabaran dan kelapangan hatiNya? Tidakkah
engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun
engkau kepada pertobatan? (Roma 2:4) bdk Tit 3:4-5; Mat
11:30. Kata enak adalah kata yang diterjemahkan dengan
istilah murah hati pada 1 Kor 13:4.
3) Tidak Cemburu (13:4)
Ada dua cara untuk menyatakan kecemburuan atau iri hati:
(1) menginginkan milik orang lain. (2) mengharapkan agar
orang lain tidak memiliki apa yang dia miliki (Mat 20:1-16).
Hal yang kedua itu lebih jahat, karena menginginkan sesuatu
yang tidak baik bagi orang lain. Itu semacam kecemburuan yang
dibongkar oleh raja Salomo ketika ia menyuruh agar bayi yang
masih hidup itu dibagi dua supaya kedua ibu itu masing-masing
mendapat separo (1 Raja 3:16-27).
Kecemburuan itu terjadi juga pada Hawa ketika dia mau
menjadi seperti Allah; juga terjadi pada Kain ketika akhirnya
ia membunuh Habel, adiknya.
Apakah Saudara cemburu? Ingatlah Firman Tuhan yang
berikut: Panas hati, kejam dan murka melanda, tetapi siapa
dapat tahan terhadap cemburu? (Ams 27:4). Selanjutnya,
Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 45

di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.


(Yak 3:16).
4) Tidak Memegahkan Diri (13:4)
Tuhan Yesus punya segala alasan untuk memegahkan diri-Nya
namun Dia tidak pernah melakukannya. Tetapi ironisnya, kita
yang tidak punya alasan apapun untuk bermegah malahan sering
cenderung memegahkan diri.
5) Tidah Sombong (13:4)
Setiap hal yang baik yang kita miliki berasal dari Tuhan, karena
itu tidak ada alasan bagi kita untuk sombong. Yohanes
Pembaptis memberikan teladan yang tentang hal ini, seperti
pada saat ia berkata Ia harus makin besar tetapi aku harus
makin kecil (Yoh 3:30).
6) Tidak Melakukan YangTidak Sopan (13:5)
Ketidaksopanan tidak memperhatikan dan menghargai orang
lain, tetapi memperlakukan mereka dengan tidak sopan.
Perasaan orang lain tidak diperdulikan. Demikianlah
keberadaan jemaat Korintus. Bdk 11:21
7) Tidak Mencari Keuntungan Diri Sendiri (13:5)
Akar dari tabiat lama kita adalah mementingkan diri sendiri.
Kasih memperhatikan kepentingan orang lain (Fil 2:4). Jemaat
Korintus tidak membagikan makanan mereka satu kepada yang
lain dalam perjamuan Tuhan. Mereka mencari keadilan
terhadap saudara mereka, dan mereka ingin karunia-karunia
yang terbaik untuk diri sendiri.
Tuhan Yesus menjadi teladan dalam hal ini. Ia datang bukan
untuk dilayani, melainkan untuk melayani (Mat 20:28)
8) Tidak Pemarah (5)
Amarah yang dimaksudkan di sini adalah yang muncul ketika
hak kita sendiri dilanggar. Kasih tidak membalas. Amarah
merupakan salah satu sisi mata uang kepentingan diri sendiri.
Seorang yang suka menuntut kehendaknya sendiri mudah dibuat
marah.
9) Tidak Menyimpan Kesalahan Orang Lain (5)
Logizomai (yun:adalah istilah pembukuan yang
berarti menghitung. Seorang pemegang buku mencatat debet
dan kredit pada setiap rekening yang menjadi tanggung
jawabnya.
Dalam hubungan kita satu dengan yang lain jika kita mencatat
setiap debet (yaitu kesalahan-kesalahan terhadap kita) orang
lain, maka dapat dijamin bahwa hidup kita akan penuh
kepahitan.

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 46

Kata yang sama ini digunakan untuk menyatakan pengampunan


yang dialami oleh mereka yang percaya kepada Tuhan Yesus.
Berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak
diperhitungkan tuhan kepadanya (Rom. 4:8). Allah
mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak
memperhitungkan pelanggaran mereka (II Kor. 5:19). Dosa
orang percaya telah dihapuskan (Kis 3:19). Tidak dihitung
lagi.
10) Tidak berdukacita Karena Ketidakadilan (13:6)
Celakalah mereka yang menyebutkan kejahatan itu baik dan
kebaikan itu jahat, yang mengubah kegelapan menjadi terang
dan terang menjadi kegelapan (Yes. 5:20).
Majalah-majalah, buku-buku, dan program-program TV yang
paling populer ialah yang memuliakan dosa atau dengan
isitilah lain bersukacita karena ketidakadilan. Exp: acara
gosip
Kita dapat jauh dalam dosa ini. Jika kita ingin agar orang lain
jatuh dalam dosa berarti kita bersukacita karena kejahatan.
Akar dari gosip ialah sukacita karena dosa. Kasih tidak toleran
terhadap kejahatan dan tidak bersukacita karenanya.
11) Bersukacita Karena Kebenaran (13:6)
Kasih tidak berkompromi dengan ajaran yang keliru. Dan
inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut
perintahNya (II Yoh. 6). Kasih mementingkan yang benar,
yang baik dan yang membangun. Kasih mementingkan
kebenaran Allah.
12) Menutupi Segala Sesuatu (13:7)
menutupi (stegei: menutupi/menanggung)
Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi
segala pelanggaran (Ams. 10:12). Kasih tidak membenarkan
dosa ataupun berkompromi dengan yang jahat. Kasih
memperingatkan, memperbaiki, mendorong, menegur dan
mendisiplin. Namun kasih tidak mengumumkan keagalan dan
kesalahan orang lain. Bdk. 1 Pet 4:8.
Sifat manusia pada umumnya adalah bersukacita apabila orang
lain jatuh ke dalam dosa. Tetapi kasih berusaha menolong dan
mengangkat orang tersebut.
13) Percaya Segala Sesuatu (13:7)
Kasih menganggap bahwa oang lain tidak bermasalah sampai
telah dibuktikan orang tersebut sungguh bersalah. Temanteman Ayub tidak mengasihinya. Mereka menganggap
Kasiatin Widianto, M.Th

Page 47

kemalangannya adalah akibat dosanya meskipun dosa-dosa itu


belum mereka ketahui.
Kasih mencari yang terbaik dalam diri orang lain dan bukan
yang terjelek. Orang Farisi tidak mengasihi. Mereka
cenderung melihat dosa dan kejahatan dalam diri orang lain
meskipun dosa-dosa itu tidak ada.
percaya segala sesuatu berarti kasih tidak menaruh curiga
kepada seseorang. Ia percaya akan apa yang dikatakan
seseorang. Ia percaya akan yang baik tentang seseorang
sehingga ketika ia terbukti bersalah, kasih kasih masih
berharap kebaikan.
14. Mengharapkan Segala Sesuatu (13:7)
Kasih tidak berhenti berharap. BIS: tidak pernah hilang
harapannya dan sabar menunggu sesuatu.
15. Sabar Menanggung Segala Sesuatu (7)
Dalam bahasa Yunani yang dipakai untuk kata menanggung
dalam ayat 7awal berbeda dengan 7 akhir. Pada ayat 7awal dipakai
kata stegei: menanggung, yang berarti menutupi kesalahan
orang lain; sedangkan pada ayat 7akhir dipakai kata upomenei
(hupomenei) yang berarti sabar dalam penderitaan dan
penganiayaan.

c. Kasih itu Kekal (13:8-13)


Kasih itu tidak berkesudahan. Karunia untuk 1bernubuat, untuk
2berkata-kata dengan bahasa roh dan untuk memiliki seluruh
3pengetahuan disediakan untuk dunia yang fana ini, tetapi kasih
disediakan untuk dunia kekal.
Karunia 1, 2 dan 3 itu hanya diperlukan sekarang, yaitu pada masa jemaat
Kristus, tetapi apabila tiba waktunya ketiganya akan berhenti dan
lenyap. Kapan waktunya? Tentu pada waktu Tuhan Yesus datang
yang kedua kalinya. Pada waktu itu manusia tidak perlu bernubuat
lagi, bahkan bahasa roh tidak diperlukan lagi.
13:13, Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman,
pengharapan dan kasih, dan yang paling bersar diantaranya
ialah KASIH.

Iman, sebagai dasar untuk memperoleh keselamatan yang


sudah selesai dikerjakan oleh Yesus Kristus. Iman harus tetap
ada supaya kita dapat merasakan persekutuan dengan Kristus.

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 48

Pengharapan, yang mendorong kita untuk menantikan


dengan penuh keyakinan kegenapan keselamatan itu pada
waktu Tuhan Yesus datang untuk yang kedua kalinya.
Pengharapan akan senantiasa memperoleh kemuliaankemuliaan dalam masa yang kekal itu.

Kasih, memampukan kita untuk senantiasa bersandar pada


Kristus yang mendiami kita serta menerima semua orang
percaya kepada Kristus. Kasih menjadi kekuatan bagi iman
dan pengrapan kita.

Ketiga unsur kehidupan Kristen ini kekal dan tidak akan


berlalu. Ketiganya akan tetap selama-lamanya meskipun
dalam masa yang sempurna dan kekal.

2. Segalanya Harus Saling Membangun (14:1-40)


Paulus telah mengatakan bahwa 1Karunia-karuia diberikan menurut
kehendak Roh, 2Tujuan karunia-karunia adalah untuk kebaikan semua
anggota dan harus dinyatakan dalam kasih. 3Ada karunia-karunia yang
lebih utama karena lebih bermanfaat. Sekarang ia membahas bahasa
lidah.
Apa Itu Karunia Bahasa Lidah?
Ada dua pandangan utama: Pertama, bahasa lidah adalah ungkapan
yang tidak berarti, tidak dimengerti dan merupakan suatu ungkapan
yang luar biasa. Kedua, bahasa lidah adalah bahasa manusia yang
tidak diketahui oleh jemaat Korintus.
Hubungannya Dengan Karunia Bahasa Lidah Itu Pada Hari
Pentakosta
Rupanya karunia bahasa lidah yang dinyatakan dalam surat
I
Korintus sama dengan karunia yang diberikan kepada rasul-rasul
pada hari Pentakosta. Kata (yun: glwssa) digunakan dalam Kisah
Para Rasul dan I Korintus.
Tetapi ada perbedaan juga.
o Dalam I Korintus Paulus mengatakan bahwa tidak semua
berbicara dalam bahasa lidah, tetapi di Yerusalem semua.
o Di Korintus bahasa lidah tidak dimengerti. Pada hari Pentakosta
dimengerti oleh berbagai-bagai bangsa.
o Tujuannya pada hari Pentakosta ialah menjadi tanda akan
kedatangan Roh Kudus dan tanda bagi orang Yahudi. Di
Korintus karunia itu diberi untuk membangun anggota-anggota
jemaat dan sebagai tanda kepada orang Yahudi

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 49

Gunanya Bahasa Lidah (14:1-20)


1. Bahasa lidah dan nubuat dibandingkan (14:1-5)
Paulus melanjutkan pokok yang dibahas pada akhir fasal 12.
Ia menganggap karunia nubuat itu sebagai salah satu karunia
yang paling utama. Rupanya yang dianggap lebih utama adalah
karunia-karunia yang lebih membangun.
a. 14:1: Terjemahan Baru mengatakan usahakanlah dirimu
memperoleh (1). Seharusnya ini diterjemahkan inginilah
karunia-karunia. Seharusnya mereka mempunyai keinginan
agar karunai-karunia tersebut dinyatakan dalam jemaat.
Teristimewa karunia nubuat.
b. 14:2: Karunia bahasa lidah diutamakan tetapi karunia ini
tidak berguna karena tidak ada yang dapat
menterjemahkannya. Apa gunanya suatu berita yang
disampaikan dalam bahasa asing kalau tidak ada yang
menterjemahkannya? Karunia itu tidak membangun.
c. 14:3: siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada
manusia, ia membangun dan menasehati dan menghibur.
d. 14:4: Seorang yang bebahasa lidah tidak membangun orang
lain melainkan dirinya saja. Tetapi membangun dirinya
dalam arti apa? Ia sendiri tidak mengerti bahasa itu. Ia
dibangun dalam perasaannya. Ia insaf bahwa dia memakai
bahasa lidah maka hatinya dibesarkan dan Ia bersukacita
tetapi ini hal yang sangat terbatas dan yang dengan mudah
dapat menjadi dasar kesombongan. Seharusnya kita ingin
membangun orang lain karena itulah tujuan dari karuniakarunia (12:7; 10:24; I Pt. 4:10).
e. 14:5: Paulus tidak mempersalahkan bahasa lidah.
Ia malah berkata bahwa ia senang jika setiap mereka dapat
berbahasa lidah. Tetapi ia juga telah mengucapkan keinginan
yang sama mengenai hal tidak nikah (7:7). Memang dia insaf
bahwa semua tidak punya karunia berbahasa lidah. Tetapi
Paulus lebih mengutamakan karunia bernubuat agar jemaat
dapat dibangun.
2. Komunikasi sangat penting dalam pelayanan jemaat (14: 6-17)
a. 14:6: Karunia bahasa lidah tidak membangun dan juga
tidak dapat dimengerti. Meskipun Paulus sendiri yang
memakainya jemaat tetap tidak akan mengerti. Maka karunia
itu tidak berguna bagi jemaat.
b. Dua contoh (14:7-8)
1) Alat-alat musik sia-sia jika tidak ada lagu. Yaitu jika tidak
ada perbedaan antara nota yang sah dengan not yang lain.
Kasiatin Widianto, M.Th

Page 50

2) Tentara belajar menafsirkan bunyi nafiri. Kalau lagunya


begini atau begitu dia tahu apa yang harus ia lakukan.
Tetapi jika bunyi nafiri itu sendiri tidak jelas, maka tentu
tentara-tentara tersebut akan bingung.
Lagu-lagu atau bunyi harus jelas, harus dapat dimengerti.
Kalau tidak, tidak akan berhasil ataupun berguna.
c. 14:19-22: Sama seperti halnya dengan alat-alat musik,
bahasa-bahasa manusia tidak berguna jika tidak dimengerti.
Demikian pula dengan bahasa lidah. Jika bahasa tersebut
tidak diterjemahkan, maka hal ini tidak akan berguna bagi
jemaat. Bahasa lidah yang diterjemahkan dapat membangun
jemaat. Oleh karena itu seseorang yang dapat berbahasa lidah
harus berdoa supaya ia juga dapat menterjemahkannya (13).
Paulus berkata bahwa ia akan berdoa dengan rohnya dan
dengan akal budinya. Prinsip membangun menuntut Paulus
untuk menggunakan bahasa biasa dalam jemaat, agar setiap
orang dalam jemaat dapat mengerti (14-17).
d. Evaluasi Paulus sendiri (14:18-19)
Rasul Paulus dapat berbahasa lidah lebih dari mereka.
Ia lebih mementingkan dalam membangun orang lain
daripada membangun diri sendiri. Di dalam jemaat ia tidak
akan menggunakan bahasa lidah. Lebih baik mengucapkan
lima kata saja yang dapat dimengerti daripada ribuan kata
yang tidak dapat dimengerti.
Tujuan Bahasa Lidah (14:20-25)
1. 14:20: Jemaat Korintus menekankan bahasa lidah kenyataan ini
menunjukkan bahwa mereka belum dewasa masih seperti kanakkanak. Anak-anak suka yang menonjol. Mereka sangat tertarik
dengan yang kelihatan. Rasul Paulus ingin supaya jemaat Korintus
bertumbuh menjadi dewasa dengan lebih mementingkan karuniakaruia yang membangun jemaat.
2. Paulus mengutip dari Yes. 28;11-12. Ia mengatakan bahwa bahasa
lidah merupakan penggenapan dari ayat-ayat tersebut. Bahasa asing
(lidah) yang tidak dimengerti merupakan tanda bagi orang yang
tidak dipercaya. Siapakah orang yang tidak percaya itu? Dan apa
maksudnya tanda tersebut?
Yesaya bernubuat dan menyatakan bahwa Allah akan menghukum
orang Yehuda. Orang asing akan datang dan berbahasa asing.
Bahasa itu akan menjadi tanda akan penghukuman.
800 tahun sebelum Yesaya Allah pernah memperingatkan Israel
bahwa Tuhan akan mendatangkan kepadamu suatu bangsa dari
jauh, dari ujung bumi, seperti rajawali yang datang menyambar;
suatu bangsa yang engkau tidak mengerti (Ul. 28:49). Bahasa itu

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 51

merupakan tanda penghukuman. Karena kejahatan orang Yehuda


maka Allah mengizinkan bangsa asing menyerbu daerah Yehuda.
Pada hari Pentakosta bahasa lidah mulai dipakai. Itu merupakan
tanda kepada Israel akan penghukuman yang akan dijatuhkan
kepada mereka. Hukuman pernah dijatuhkan kepada Israel dan
Yehuda yang terus memberontak. Lebih-lebih hukuman itu akan
dijatuhkan pada mereka yang menyalibkan Anak Allah. Hukuman
itu jatuh pada tahun 70 T.M. ketika Yerusalem dimusnahkan (bdk.
Lk. 19:44; 21:20-24 dan KPR 2:36). Lebih dari satu juta orang
Yahudi ditumpas; banyak dibawa tertawan; Bait Allah dijarah,
dinajiskan lalu dimusnahkan; dan selebihnya dari kota itu dibakar
sampai rata dengan tanah (Lk. 19:44; bdgk. 21:20-24).
Kalau ini tujuan bahasa lidah, yaitu sebagai tanda kepada orang
Yahudi yang tidak percaya, berarti tujuannya sudah berlalu karena
yang ditandai olehnya sudah terjadi.
3. Tetapi ada tujuan lainnya juga. Jemaat Tuhan Yesus didirikan atas
dasar rasul-rasul dan nabi-nabi (Ef. 2:20). Pada zaman rasul-rasul
dan nabi-nabi ada tanda-tanda yang menyatakan bahwa mereka
sungguh merupakan rasul-rasul. Tanda-tanda ajaib menunjuk
kepada wewenang rasul-rasul itu.
4. Ada manfaat dari bahasa lidah juga. Tujuannya juga adalah untuk
membangun. Bagaimana isinya berita bahasa lidah? Apakah
merupakan wahyu atau berita baru dari Tuhan? Ada yang
menganggapnya bukan sumber wahyu baru tetapi ajaran dari Allah
berdasarkan wahyu yang sudah diberikan. Kalau demikian, berarti
isi bahasa lidah tidak berbeda dengan kutipan Alkitab. Agak
menarik juga bahwa tidak ada satu katapun dari bahasa lidah yang
dicatat ataupun ditejemahkan. Tetapi telah dtulis bahwa pada hari
Pentakosta orang-orang berkata: Kita mendengar mereka berkatakata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar
yang dilakukan Allah (KPR 2:11). Maka bahasa lidah dapat
membangun jemaat asal diterjemahkan.
5. 14:22: Bahasa lidah adalah tanda bagi orang yang tidak percaya
bahwa hukuman Allah akan jatuh kepadanya. Tetapi merkipun
mereka mendengarnya mereka akan menganggap jemaat gila.
Tetapi nubuatb lebih menguntungkan karena membangun orangorang percaya serta meyakinkan orang-orang yang belum percaya
akan kejahatan mereka. Maka menurut Paulus hal bernubuat jauh
lebih berarti dan praktis dari pada bahasa lidah.
Prosedur Untuk Penggunaan Bahasa Lidah (14:26-28)
1. 14:26: Berdasarkan doktrin (ajaran) mengenai bahasa lidah yang
terdapat dalam ayat 1-25, Paulus menjelaskan caranya karunia itu
dapat digunakan.
Semua karunia harus dipergunakan untuk membangun.(14:26)
Kasiatin Widianto, M.Th

Page 52

Saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu


lakukan (1 Tes. 5:11).
Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama
kita demi kebaikannya untuk membangunnya. Karena Kristus
juga tidak mencari kesenanganNya sendiri (Roma 15:2-3).
2. 14:27-28: Dalam ayat-ayat ini ada empat peraturan penggunaan
bahasa lidah.
a. Yang berbahasa lidah 2 atau sebanyak-banyaknya 3 orang.
b. Harus ada yang menafsirkannya.
c. Jika tidak ada yang menafsirkannya hendaknya berdiam diri
dalam pertemuan jemaat.
d. Bahasa lidah berkata-kata terhadap diri sendiri dan kepada
Allah, tidak harus diucapkan pada pertemuan jemaat.
Prosedur Untuk Bernubuat (14:29-33a)
1. Prosedur yang diberikan untuk mengatur penggunaan karunia
bernubuat sama seperti prosedur yang diberikan untuk mengatur
karunia bahasa lidah.
a. Hanya dua atau tiga orang nabi yang boleh benubuat.
b. Orang-orang lain (nabi-nabi lain) menanggapi berita-berita itu
yang disampaikan. Mereka bertanggung jawab menentukan
apakah berita itu berasal dari Allah atau tidak (bdk. I Yoh. 4:1).
c. Jika seorang nabi sedang berbicara (mungkin ia telah menerima
suatu wahyu sebelum kebaktian) lalu tiba-tiba seorang nabi yang
lain menerima penyataan (wahyu) maka yang berbicara harus
berdiam diri (14:30).
d. Mereka boleh bernubuat satu demi satu (14:31).
2. 14:32-33: Menurut Paulus karunia (Yun:
) nabi takluk
kepada nabi-nabi. Berarti setiap nabi dapat menguasai diri. Mereka
tidak bernubuat dalam keadaan seperti orang gila yang tidak sadar
akan perbuatannya. Setiap nabi dapat mengontrol dirinya dan dan
menunggu sampai saat lain untuk memberitakan wahyunya.
Rupanya nabi-nabi di Korintus turut mengacaukan jemaat seperti
mereka yang berbahasa lidah.

Peraturan Mengenai Perempuan-perempuan Dalam Jemaat


(14:34-38)
Paulus menegaskan bahwa ajaranya mengenai wanita-wanita tidak
berasal kebudayaan, geografi atau tradisi setempat tetapi merupakan
pinsip universal dalam semua Jemaat orang-orang kudus.
Para wanita yang turut berbahasa lidah ataupun bernubuat hanya
menambah kekacauan dalam jemaat itu. Seharusnya mereka tidak
turut berpartisipasi tetapi berdiam diri.

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 53

Menurut peraturan Allah bagi jemaat wanita wajib menundukkan


diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat. Rupanya nats
yang dimaksudkan ialah Kej. 3:16: Suamiakan berkuasa atasmu.
Sesuai dengan prinsip itu wanita dilarang berbicara dalam kebaktian
di rumah ibadah orang Yahudi.
Ada wanita yang punya karunia bernubuat (Kis 21:8) tetapi mereka
dilarang melayani dalam kebaktian jemaat. Mereka dilarang karena
wanita dilarang berbicara dalam kebaktian.
Menurut ayat 35 bukan hanya pelayan wanita yang dilarang dalam
kebaktian tetapi mereka dilarang juga bertanya. Memang ada waktu
dan kesempatan dalam petemuan-pertemuan informal untuk laki-laki
dan perempuan berpartisipasi dan saling membagikan pengertian dan
pertanyaan mereka. Tetapi ketika jemaat bertemu untuk berbakti
peraturan-peraturan Allah jelas.
Ada orang di dalam jemaat Korintus yang tidak setuju. Mereka mau
ikut standar dan prinsip sendiri. Tidak mengherankan juga karena sifat
kesombongan mereka sudah nyata dalam jemaat itu. Mereka
menganggap pendapat mereka sendiri lebih tinggi dari prinsip-prinsip
Allah. Oleh karena itu Paulus menentang mereka dalam ayat 36.
Seolah-olah Paulus berkata: Kalau kamu bukan sumber Firman Allah
taatilah Firman itu. Lalu Paulus menegaskan bahwa prinsip-prinsip
yang ia ajarkan merupakan perintah Allah (37).

Nasihat Terakhir (14:39-40)


...usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia bernubuat dan
jangan melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh.
tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.

D. Doktrin Kebangkitan (1 Kor 15)


Tuhan Yesus mengajar murid-murid-Nya Bahwa Anak Manusia harus
menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, iman-imam kepala
dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari (Mar 8:31;
bdk 9:9, 31). Ia berkata: Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa
percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati (Yoh 11:25).
Kedua khotbah setelah hari Pentakosta berpusat pada kebangkitan Kristus
(Kis 2:14-36; 3:12-26). Karena kebenaran Injil tersebut maka murid-murid
yang berdukacita itu menjadi saksi yang sangat berani sehingga dalam
beberapa tahun mereka dapat memberitakan Injil ke seluruh kekaisaran Roma
dan lebih jauh lagi. Kepercayaan akan kebangkitan yaitu kepercayaan bahwa
hidup ini suma suatu pendahuluan untuk hidup yang akan dating tidak dapat
ditiadakan oleh ejekan, penara, penganiayaan maupun kematian.
Kebangkitan Yesus merupakan batu penjuru Injil Tuhan Yesus yang telah
menjadi fokus serangan iblis terhadap jemaat. Jika kebangkitan ditiadakan,
maka kuasa Injil ditiadakan, keilahian Kristus ditiadakan, keselamatan dari
dosa ditiadakan dan hidup yang kekal ditiadakan. Jika Kristus tidak bangkit,
Kasiatin Widianto, M.Th

Page 54

bagaimanakah orang yang percaya kepada-Nya dapat berharap bahwa mereka


akan dibangkitkan?
Tanpa kebangkitan Kristus keselamatan tidak dapat diberikan dan tanpa
kepercayaan akan kebangkitan-Nya keselamatan tidak dapat diterima (bdk
Roma 10:9).
Masalah doktrin yang menjadi fokus dalam fasal ini, bukan ketidak percayaan
jemaat Korintus akan kebangkitan Kristus, tetapi kebingungan tentang
kebangkitan mereka sendiri. Paulus tidak berusaha meyakinkan mereka akan
kebangkitan Kristus tetapi meyakinkan mereka bahwa suatu saat nanti
mereka juga akan dibangkitkan dan hidup untuk selamanya.

1. Kebangkitan Kristus Merupakan Inti Injil (1 Kor 15:1-11)


a. Pendahuluan (15:1-2)
Jemaat Korintus sudah diinjili dan berita Injil yang disampaikan kepada
mereka itu mengandung ajaran tentang kebangkitan Yesus. Dan mereka
sudah menerima Yesus itu berarti mereka sudah diselamatkan.
asal kamu teguh berpegang padanya, tidak berarti mungkin mereka
akan kehilangan keselamatan. Kata ini merupakan peringatan akan
iman yang tidak sempurna dan tidak sungguh-sungguh.
Ajaran Paulus tentang keyakinan keselamatan orang percaya sangat
jelas (bacalah Roma 8:29-30 bdk 35-39; 5:9-10; 9:23)
Tuhan Yesus berulangkali menyinggung tentang orang yang imannya
hanya berpura-pura:
Perumpamaaan tentang seorang penabur (Mat 13:1-23)
Seringkali ilalang mirip dengan gandum (Mat 13:24-30, 34-43)
Ia menjelaskan tentang ikan-ikan yang ditangkap dalam satu
pukat; yang baik disimpan dan yang jelek dibuang.
Ia juga membicarakan ruma-rumah tanpa pondasi (Mat 7:24-27)
Para perawan tanpa persediaan minya untuk lampunya (Mat
Ada orang yang percaya seperti roh-roh jahat (Yak 2:19).
Mereka mengaku Kristus tetapi tidak mnyerahkan hidupnya
kepada-Nya.
Banyak orang mempunyai iman yang pura-pura. Banyak orang akan
berkata Tuhan, Tuhan pada hari terakhir tetapi aka ditolak karena
iman mereka kosong (Mat. 7:22-23; 25:11-12). Mereka yang
meniggalkan Kristus dan jemaatNya membuktikan bahwa
sesungguhnya mereka belum pernah menjadi milikNya (1 Yoh. 2:19
bacalah). Hanya mereka yang tetap dalam firmanKu yang teguh
berpegang padanya benar-benar adalah muridKu (Yoh. 8:31;
bdk II Kor. 13:5; 11 Yoh. 9). Meskipun dalam jemaat Kointus masih
ada yang hanya berpura-pura saja percaya, namun banyak pula yang
sungguh percaya akan kematian dan kebangkitan Kristus.

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 55

b. Kesaksian Kitab Suci (15:3-4)


Rasul Paulus membuktikan inti dari Injil dengan menggunakan Kitab
Suci yaitu Perjanjian Lama. Yang telah disampaikan oleh Paulus bukan
suatu berita buatan diri sendiri atau kabar angina tetapi berita yang
disampaikannya adalah kabar dari Allah sendiri.
Perjanjian Lama telah menyatakan kematian dan kebangkitan Kristus
sebelumnya.
Kepada kedua murid yang menuju Emaus itu Yesus berkata:
Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga
kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para
nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk
masuk ke dalam kemuliaanNya? Lalu Ia menjelaskan kepada
mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab
Suci (Lk. 24:25-27).
Pada hari Pentakosta Petrus mengutip dari Mazmur 16 dan
mengatakan bahwa Daud melihat ke depan dan telah berbicara
tentang kebangkitan Mesias (KPR 2:25-31).
Paulus berkata kepada Raja Agrippa: Tetapi oleh pertolongan
Allah aku dapat hidup sampai sekarang dan memberi kesaksian
kepada orang-orang besar. Dan apa yang kuberitakan itu tidak
lain daripada sebelumnya yang telah diberitahukan oleh para
nabi dan juga oleh Musa, yaitu, bahwa Mesias harus menderita
sengsara dan Ia adalah yang pertama akan bangkit dari antara
orang mati, dan bahwa Ia akan memebritakan terang kepada
bangsa ini dan kepada bangsa-bangsa lain (KPR 26:22-23).
Tuhan Yesus, Petrus dan Paulus mengutip dan menunjuk kepada
nats-nats berikut ini: Kej. 22:8, 14; Maz. 16:8-11; Maz. 22; Yes.
53 dan Hosea 6:2).

c. Kesaksian Para Saksi-Mata (15:5-7)


Selama sejarah manusia kesaksian seorang saksi mata yang jujur dan
bertanggung jawab dianggap sebagai bukti yang tekuat di pengadilan.
Ahli sejarah Thomas Arnold dari oxfod Inggris telah menulis: Saya
tidak tahu akan satu kenyataanpun dalam sejarah manusia yang telah
dibuktikan dengan cara yang lebih baik dan dengan bukti yang lebih
lengkap daripada tanda besar yang Allah berikan kepada kita bahwa
Kristus mati dan bangkit kembali dari antara orang mati.
1) Petrus
Rasul yang pertama kali melihat Tuhan Yesus setelah
kebangkitanNya ialah Petrus. Mengapa Petrus dulu? Mungkin
karena ia menjadi pemimpin rasul-rasul dan juga mungkin karena
ia telah menyangkal Kristus. Kristus ingin menyatakan bahwa Ia
tidak menolak Petrus. Kita tidak diberitahukan tentang pertemuan
itu tetapi jelas pertemuan itu terjadi setelah Ia menampakkan

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 56

DiriNya kepada Maria dan sebelum Ia dilihat oleh kedua murid


yang menuju ke Emaus (Lk. 24:34).
2) Dua Belas Rasul
Semua rasul melihat Tuhan Yesus pada malam hari sesudah
kebangkitanNya (Yoh. 20:19; Lk. 24:36, lihat juga Kis 1:22).
3) Lima Ratus Saudara
Lima ratus orang lebih melihat Tuhan Yesus sekaligus. Pada saat
Paulus menulis surat ini, 20 tahun lebih sesduah kebangkitan,
kebanyakan saudara itu masih hidup.
4) Yakobus
Ada dua rasul yang bernama Yakobus (Mk. 3:17-18). Tetapi
kemungkinan Yakobus ini adalah adik Tuhan Yesus yang menulis
surat Yakobus dan memimpin jemaat di Yerusalem (Kis 15:1321).
5) Saksi Mata yang khusus (15:8-11)
Paulus sendiri adalah saksi mata dari kebangkitan Kristus.
Ia saksi yang terakhir. Dia melihat tuhan yesus setelah Tuhan
telah kembali ke surga. Ia melihatNya sebelum ia percaya. Dia
berkata: Seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya (8b).
kata yang dipakai di sini menunjuk kepada kelahiran janin yang
belum sanggup hidup di luar rahim ibunya. Mungkin Paulus
memaksudkan bahwa ia tiba-tiba melihat Tuhan Yesus dan
diangkat menjadi rasul sebelum waktunya yang wajar. Ia masih
dalam keadaan memberontak terhadap Tuhan dan jemaatNya ia
tidak mengalami tahun-tahun persiapan seperti rasul-rasul
lainnya.
Ayat 9-10: Rasul Petrus selalu heran karena ia dipanggil oleh
Tuhan Yesus menjadi seorang rasul. Dia insaf bahwa dosadosanya telah diampuni tetapi dia tidak lupa akan besarnya hutang
dosa itu yang telah diampuni dan dia insaf bahwa dia mengalami
kasih karunia Allah.

2. Akibat Penyangkalan Kebangkitan (1 Kor 15:12-19)


Sudah jelas dari ayat 1-11 bahwa jemaat Korintus percaya kepada
kebangkitan Kristus. Kalau Kristus telah bangkit:
o Kebangkitan jelas dapat terjadi; sebaliknya kalau manusia tidak
dapat bangkit berarti
o Kristus belum bangkit juga. Kedua kebangkitan itu jatuh atau
berdiri bersama.
Rupanya kesulitan mereka dalam menerima satu kebangkitan (Kristus) dan
bukan yang lain (kebangkitan manusia) diakibatkan oleh pengaruh filsafat
dan agama yang dulu mereka anut. Aliran-aliran kepercayaan pada zaman
Kasiatin Widianto, M.Th

Page 57

itu sama seperti pada zaman ini keliru sekali mengenai keadaan manusia
setelah kematian.
Ada yang menganggap bahwa roh manusia tidur. Yang lain percaya bahwa
kita lenyap habis seperti binatang. Yang lain lagi percaya bahwa roh
manusia kembali seperti binatnag atau orang lain. Ada yang percaya
bahwa kita kembali kepada sumber kita dan dihisap ke dalam otak ilahi
yang unifersal atau oknum unifersal.
Satu kepercayaan di antara orang Yunani ialah bahwa yang rohani adalah
baik dan yang jasmani adalah jahat. Ini disebut dualisme maka gagasan
bahwa tubuh ini akan dibangkitkan menjijikkan. Mereka menganggap
tubuh sebagai penjara. Paulus diejek oleh orang-orang di Atena karena
mengajar tentang kebangkitan (Kis 17:23). Mungkin juga jemaat Korintus
dipengaruhi oleh ajarn ini sehingga tidak menerima kebenaran
kebangkitan. Kebangkitan di ajar dalam Perjanjian Lama (Ayub 19:26;
Dan. 12:2) tetapi ajaran itu singkat saja. Tetapi dalam Perjanjian Baru
sangat banyak ajarannya. Tuhan Yesus berkata, tidak ada seorangpun
yang dapat dating kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh bapa yang
mengutus Aku, dan ia akan Kubangitakan pada akhir jaman (Yoh. 6:44).
Kepada Marta Ia berkata, Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa
percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati (Yoh. 11:25).
Dasar ajaran rasul-rasul ialah bahwa Kristus telah mati dan bangkit.pada
waktu Petrus dan Yohanes sedang berkotbah di Yerusalem mereka
didatangi imam-imam dan kepala pengawal Bait Allah serta orang-orang
Saduki. Oran-orang itu sangat marah karena mereka mengajar orang
banyak dan memberitakan bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dari antara
orang mati (Kis 4:1-2). Sebelum ia menulis surat I Korintus, Rasul
paulus pernah menulis kepada jemaat Tesalonika, pada waktu penghulu
malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan
turun dari surga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dulu
bangkit (I Tes. 4:16). Pasti hal ini telah diajar oleh Paulus kepada jemaat
Korintus dan dalam surat berikutnya kepada mereka ia berkata, Ia yang
telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga
bersama-sama dengan Yesus (II kor. 4:14).
Meskipun kebangkitan orang pecaya diajar dalam Perjanjianj lama, dalam
ajaran Tuhan Yesus, dan para rasul, tetapi keragu-raguan telah menular di
antara jemaat Korintus. Keragu-raguan ini yang diserang dengan kuat oleh
rasul Paulus di sini.

15 :12: Jika mereka percaya (ayat 1, 11) bahwa Kristus telah bangkit
bagaimanakah mereka secara logis dapat menyangkal kebangkitan? Jika
Kistus bangkit berarti kebangkitan sungguh mungkin terjadi.
Dalam ayat 13-19 Paulus menunjukkan bahwa kebangkitan itu bukan
hanya mungkin tetapi sangat penting. Dia menyatakan tujuh akibat
(malapetaka) jika tidak ada kebangkitan. Apa jadinya kalau tidak ada
kebangkitan orang mati ?

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 58

1) Kristus juga tidak dibangkitkan (15:13)


Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak
dibangkitkan.
2) Pemberitaan Injil Sia-sia (15:14a)
Kalau Kristus tidak bangkit, maka dosa, maut, dan neraka tidak
dapat dikalahkan dan tetap menguasai manusia. Maka tanpa
kebangkitan Kristus, tidak ada berita kesukaan sama sekali.
3) Kepercayaan Kita Sia-sia (15:14b)
Seorang juruselamat yang mati saja tidak dapat memberikan
kehidupan. Kalau tidak ada kebangkitan maka Kristus tidak
bangkit dan kita tidak akan bangkit. Maka iman kepada seorang
Mesias seperti itu sia-sia (kenos, kosong). Tanpa kebangkitan
pahlawan-pahlawan iman dalam Ibrani 11 menjadi pahlawan
kebodohan.
4) Semua Saksi dan Pemberita Kebangkitan Adalah Dusta
(15:15)
Andaikata kita menyangkal kebenaran tentang kebangkitan kita
maka dengan kata lain, kita mengatakan bahwa para rasul itu
adalah penjahat yang sengaja berdusta. Dan jika mereka berdusta
tentang inti dari Ijil itu, bagaimanakah mungkin ajaran-ajaran
mereka tentang hal-hal moral dapat dianggap ajaran mulia dan
dapat diterima?
5) Semua Orang Percaya Masih Berada Dalam Dosa(15:16-17)
Dalam ayat 16 Paulus mengulangi argumentasinya yang pokok
lalu ia berkata bahwa orang percaya sama saja dengan orang yang
belum percaya. Kita sama seperti mereka yang kepadanya Yesus
berkata, kamu akan mati dalam dosamu (Yoh. 8:21). Jika
Kristus belum bangkit maka kematianNya hanyalah sia-sia. Iman
kepada Dia hanya sia-sia dan dosa-dosa kita masih
diperhitungkan kepada kita. Tetapi Kristus bangkit? Bacalah Kis
5:30-31.
6) Semua Orang Percaya Binasa (15:18)
]

Semua orang saleh dalam Perjanjian Lama dan semua kekasih


mereka yang telah mati dalam Kristus akan disiksa untuk selamalamanya. Mereka tanpa Allah dan tanpa pengharapan.
7) Orang-orang Percaya Adalah Orang yang Paling Malang
(15:19)
Tanpa kebangkitan tidak punya juruselamat, pengampunan dosa,
Injil, hidup, maupun pengharapan. Kita mengajar, berkhotbah,
menderita, berkorban dan bekerja dengan sia-sia.

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 59

3. Pengharapan Bagi Orang Percaya (1 Kor 20-34)


a.

Rencana Kebangkitan (15:20-28)


Firman Allah menjelaskan kebangkitan orang percaya dalam nats-nats
berikut ini: Wahyu 20:6; I Tes. 4:13-18; II Kor. 5:1-5; Lk. 14:14; Yoh.
5:29. Kebangkitan itu disebut kebangkitan pertama. Kebangkitan yang
kedua adalah kebangkitan orag yang tidak percaya (Yoh. 5:29).
Paulus telah mengingatkan jemaat Korintus bahwa mereka sudah
percaya kepada kebangkitan Kristus (1-11) dan jika mereka menerima
kebangkitan itu logis juga jika mereka percaya akan kebangkitan
semua orang saleh. Lalu ia mendaftarkan tujuh akibat (malapetaka)
jika manusia tidak bangkit (13-19).
Sekarang dalam ayat 20-28 ia menjelaskan tiga segi dari kebangkitan
pertama itu.
1) Sang Penebus (15:20-22)
Sang Mesias telah bangkit dari antara orang mati sebagai
yang sulung atau sebagai hasil pertama.
Sebelum orang Israel menuai hasil tanah, mereka
membawa hasil pertama kepada imam-imam sebagai
persembahan kepada Tuhan (Im. 23:10). Panen tidak dapat
dituai sebelum hasil pertama dipersembahkan.
Itu maksud paulus di sini. Kebangkitan Kristus merupakan
hasil pertama dari semua orng percaya yang akan bangkit.
Kritus merupakan persemahan kepada Allah bagi kita.
Selain itu hasil pertama menunjuk kepada panen yang
akan dituai. Kebangkitan Kristus menunjuk kepada
kebangkitan semua orang saleh. Karena Dia bangkit
mereka pasti akan bangkit.
Kebangkitan yang dimaksudkan oleh paulus adalah
kebangkitan yang permanen. Beberapa orang dibangkitkan
sebelum Yesus bangkit tetapi mereka semua mati lagi.
Kita semua mati karena Adam. Kita juga akan bangkit
karena Adam terakhir. Dua-duanya adalah manusia dan
akibat dari tindakan mereka berlaku bagi semua orang
yang bersekutu dengan mereka. Maksudnya maut menular
kepada semua orang adalah karena semua memiliki
persekutuan dengan Adam. Dalam persekutuan dengan
Kristus semua orang akan bangkit kembali. Jadi sama
oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi
orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang
semua orang menjadi benar (Roma 5:19).
Kata semua muncul dua kali dalam ayat 22 tetapi
maksudnya berbeda. Kata semua yang pertama menunjuk

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 60

kepada semua orang secara unifersal, karena semua secara


mutlak adalah keturunan Adam.
Kata semua yang kedua juga menunjuk kepada keturunan,
tetapi di sini keturunan Kristus. Kata semua yang kedua itu
menunjuk kepada mereka yang berada dalam persekutuan
dengan Kristus.
2) Mereka yang Ditebus (15:23)
Kristus adalah hasil pertamadan milik Kristus merupakan
panen. Kita tidak tahu kapankah akan terjadi panen itu tetapi
kita tahu urutannya. Kristus dulu lalu milikNya pada waktu
kedatanganNia kembali.
Ada yang berpendapat bahwa kebangkitan pertama akan
dilaksanakan dalam tiga tahap. Pertama, mencakup semua
orang yang telah percaya antara hari Pentakosta dan
pengangkatan (repture) jemaat Kristus. Kedua, yakni
kebangkitan semua orang saleh pada tujuh tahun mana
Tribulasi dan tahap ketiga (mungkin pada saat yang sama
dengan tahap kedua) ialah kebangkitan semua orang saleh
dari Perjanjian Lama.
Tatapi mungkin juga kebangkitan pertama akan terjadi pada
satu saat setelah masa Tribulasi. Tak ada bukti yang jelas
bahwa kebangkitan pertama dapat dibagi dalam tiga atau dua
tahap (Yoh 5:29; Why 20:4-6)
3) Kesudahan Zaman (15:24-28)
Di sini Paulus menjelaskan beberapa hal yang akan terjadi
pada hari-hari terakhir. Pada akhir zaman semua akan
dipulihkan kembali di bawah kuasa Kristus. Dosa tidak ada
lagi dan Allah akan memerintah tanpa musuh dan tanpa
tantangan dari siapapun. Kristus mengembalikan dunia ini
kepada Bapa yang telah mengutusNya untuk merebutnya
kembali.
Yesus (Adam terakhir) akan mengalahkan setiap musuh.
Ia akan memerintah sampai setiap kuasa dikalahkan. Ini akan
terjadi pada zaman Milenium. Gambaran yang dinyatakan
oleh kata semua musuhNya di bawah kakiNya berasal dari
kebiasaan dari zaman purbakala di mana raja duduk lebih
tinggi dari orang lain sehingga ketika orang berlutut
dihadapannya maka mereka benar-benar berada lebih rendah
dari kakinya. Sering seorang raja meletakkan kakinya di atas
leher panglima atau raja yang telah dikalahkannya untuk
melambangka bahwa musuhnya telah ditaklukkan.
Pada zaman Milenium pemberontakan tidak akan diizinkan
tetapi tetap ada pemberontakan dalam hati manusia. Karena
musuh-musuhNya tidak akan tunduk degan sukarela maka Ia
Kasiatin Widianto, M.Th

Page 61

akan memerintah mereka dengan gada besi (Why 19:15).


Pada akhir 1000 tahun itu iblis akan dilepaskan da ia akan
memimpin pemberontakan yang terakhir (Why 20:7-9).
Kemudian ia serta semua pengikutnya akan dilemparkan ke
dalam lautan api (Why 20:10-15). Pada saat itu maut akan
dibinasakan (15:26).
Kerajaan yang akan diserahkan kepada Bapa adalah kerajaan
yang ditebus. Penduduknya adalah orang-orang yang telah
ditebus dan dunia akan diciptakanNya kembali (Why 21:1-2).
Kalau tidak ada kebangkitan berarti tidak ada penduduk
untuk kerajaan Allah dan tidak ada Tuhan untuk memerintah.
Firman Allah berkata bahwa kerajaanNya tidak akan
berkesudahan (Lk 1:33) dan Ia beserta umatNya tidak akan
berkesudahan.
Ayat 28, dari inkarnasiNya sampai Ia menyerahkan kerajaan
kepada Bapa, Kristus mengambil peran seorang hamba.
Tetapi ketika Ia menyelesaikan tugasNya Ia akan
menaklukkan diriNya di bawah Bapa. Tetapi Kristus akan
tetap memerintah karena pemerintahanNya adalah kekal
(Why 11:15). Sulit untuk mengerti semua yang terkandung
dalam ayat ini.
b. Kebangkitan Sebagai Dorongan (15:29-34)
Kebenaran kebangkitan merupakan dorongan untuk percaya kepada
Kristus dan juga untuk hidup bagiNya.
Dorongan Untuk Pecaya Kepada Kristus (29)
Dorongan Untuk Melayani (30-32)
Dorongan Untuk Hidup Suci (33-34)
c.

Cara dan Sifat Tubuh Kebangkitan (15:35-58)


Paulus menjawab pertanyaan orang-orang yang menyangkal
kebangkitan serta menyatakan cara dan sifat tubuh kebangkitan.
Pertanyaannya: (15:35)
Bagaimanakah orang mati dibangkitkan?
Bagaimana sifat tubuh kebangkitan?
Paulus memberikan jawaban atas kedua pertanyaan itu dalam ayat 3650.

Ayat 36 Pertanyaan pertama: bagaimana orang mati


dibangkitkan? jawab Paulus dengan menggunakan kiasan dari ilmu
pertanian, yang mestinya sudah dimengerti oleh para pembaca.
Paulus menunjukkan bahwa kadang-kadang kematian harus terjadi
untuk menghasilkan kehidupan. Biji harus mati dan
ditaburkan/dikuburkan sebelum dapat menghasilkan tumbuhan dan

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 62

buah. Demikian halnya, mestinya tidak mengherankan kalau prinsip


yang sama berlaku bagi manusia.

Ayat 37 Menjawab pertanyaan kedua: bagaimana sifat tubuh


kebangkitan? Paulus menyatakan bahwa:
Apa yang tumbuh dari tanah tidak sama sifatnya dengan apa
yang ditaburkan. Memang ada hubungannya erat, tetapi apa
yang tumbuh jauh lebih mulia dari pada apa yang ditaburkan.
Ayat 38 Hidup baru (bagi tumbuhan maupun bagi manusia),
tidak terjadi dengan sendirinya tetapi sesuai dengan kehendak
Allah dan ketetapan karya pencipta-Nya. Tuhanlah yang
memberikan tubuh kepada tiap-tiap ciptaanNya mulai dari
tumbuhan sampai kepada manusia sendiri (lih. Ayat 39 dst.)
Ayat 39-41 Semua makhluk hidup mendapatkan tubuhnya
dari Allah sesuai dengan taraf hidup dan keadaan hidupnya
masing-masing. Demikian pula ada tubuh yang cocok dengan
hidup sorgawi, dan ada tubuh yang cocok dengan hidup
duniawi, masing-masing dengan kemuliaannya sendiri.
Diantara benda-benda sorgawipun ada bentuk dan kemuliaan
yang berbeda-beda, sesuai dengan tugas dan tempatnya masingmasing.
Ayat 42-44 Tata tertib alamiah sekarang diterapkan pada
tubuh manusia, yang diberi bentuknya oleh Tuhan sesuai dengan
keadaan dan lingkungan. Tubuh untuk kehidupan dalam dunia
ini adalah tubuh alamiah, sedangkan tubuh untuk dunia yang
akan datang adalah tubuh rohaniah, masing-masing dengan
sifatnya sendiri.
Tubuh alamiah ditentukan ditentukan kepada semua batas-batas
hidup alamiah, mengalami kebinasaan/kerusakan;
kehinaan/tidak berkuasa dan kelemahan/tidak berdaya.
Sebaliknya, tubuh rohaniah/tubuh kebangkitan memiliki ketidakbinasaan/tidak mungkin rusak dan bersifat kekal; kemuliaan
karena sifat-sifatnya yang jauh melebihi tubuh alamiah dan
kekuatan cukup untuk melaksanakan segala tugas sorgawi.
Tubuh rohaniah itu dikuasai oleh roh manusia yang akan
mengalami keserasian sempurna dengan Roh Allah sesudah
kebangkitan.
Ada tubuh alamiah tidak dapat disangkal, maka jika kebangkitan
sudah terjamin, bagi Paulus tidak ada keraguan bahwa ada pula
tubuh rohaniah yang sesuai dengan keadaan kebangkitan itu.

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 63

Ayat 45-50 Demi menegaskan urutan tertentu bagi tubuh alamiah


dan tubuh rohaniah, sekali lagi Paulus membuat perbandingan antara
Adam dan Kristus.
Dengan mengutip dari Kej. 2:7, Paulus menunjukkan bahwa manusia
yang diciptakan Allah mempunyai tubuh yang diawasi jiwa. Tetapi
Adam yang akhir/Kristus bersifat roh yang menghidupkan, yaitu
memberikan hidup rohani (bnd. Yoh. 6:63).
Oleh karena hidup baru itu pada hakekatnya bersifat rohaniah, maka
orang yang menerimanya akan diberikan suatu tubuh rohani yang
sesuai. Sama seperti Adam telah digantikan oleh Kristus, demikian
pula yang pada mulanya bersifat alamiah akan digantikan oleh yang
rohaniah.

Ayat 47 manusia pertama, yaitu Adam, diciptakan Tuhan dari debu


tanah (Kej.2:7) maka bersifat jasmani atau dapat rusak dan binasa.
Tetapi manusia kedua, yaitu Kristus, berasal dari sorga, dimana
sebelum menjadi manusia Dia memiliki sifat kekekalan dan
kemuliaan, yang kemudian diterimaNya kembali secara nyata sesudah
kebangkitanNya.

Ayat 48-49 Bersama-sama dengan Adam, makhluk-makhluk


duniawi (termasuk manusia) mempunyai sifat alamiah dan mengalami
kerusakan dan kebinasaan. Sebaliknya, bersama-sama dengan
Kristus, makhluk-makhluk sorgawi mempunyai sifat rohaniah, yaitu
ketidakbinasaan dan kemuliaan.
Melalui hubungan mereka dengan Kristus, orang Kristen walaupun
sekarang ini masih hidup dalam tubuh alamiah, namun sudah memiliki
hidup sorgawi. Oleh karena itu, akhirnya mereka juga akan
mengenakan tubuh rohaniah.

Ayat 50 Tubuh manusia yang terdiri dari darah dan daging tidak
dapat masuk sorga, sebab tubuh alamiah itu bersifat binasa,
sedangkan hidup di sorga bersifat tidak binasa. Oleh karena itu harus
terjadi suatu perubahan pada tubuh manusia supaya menyesuaikan
dengan keadaan baru itu. Kapan dan bagaimana perubahan itu akan
terjadi? Jawabnya terdapat pada ayat 51-57.

Ayat 58 Nasehat praktis terkait dengan hal di atas: Karena


ituberdirilah teguhJangan goyahGiatlah selalu dalam pekerjaan
Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan
jerih payahmu tidak sia-sia.

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 64

VI. HAL-HAL LAIN (1 KOR 16:1-24)


1. Bantuan untuk Jemaat di Yerusalem (16:1-4)
Paulus memberikan petunjuk kepada mereka tentang uang yang
disumbangkan kepada orang-orang saleh yang miskin di Yerusalem (Roma
15:26). Ia telah berpesan kepada seluruh jemaat di Galilea dan juga kepada
jemaat di Korintus supaya mereka menolong orang-orang Kristen yang
miskin di Yerusalem.
Orang-orang Kristen di Yerusalem serdang ditimpa kesusahan yang hebat.
Kemungkinan orang-orang Kristen yang kaya sudah lari dari Yerusalem,
sementara orang-orang Kristen yang miskin masih tetap tinggal.
Selain itu, orang-orang Yahudi yang tidak percaya membenci mereka dan
tidak mau memberi pekerjaan kepada mereka. Karena itu orang-orang
Kristen di sana berada dalam kesulitan.

2. Rencana Kunjungan Paulus & Timotius (16:5-12)


Ayat 5-8 Paulus berencana untuk tinggal lebih lama di Korintus dengan
didasari:
aku tidak mau melihat kamu hanya sepintas lalu
jika dikehendaki Tuhan
Paulus menentukan untuk tinggal di Efesus sampai hari raya Pentakosta,
dengan dua alasan: (16:9)
lebih banyak kesempatan untuk mengerjakan yang besar dan penting
banyak penentang
Melihat keteguhan hati Paulus yang demikian, Wesley Brill menegaskan:
Jika kita tidak mengalami perlawanan, sebaiknya kita pergi ke tempat
yang banyak perlawanan sebab kita adalah laskar-laskar Tuhan. (p. 330)

Ayat 10-12 Paulus memberitahukan tentang akan kedatangan Timotius


ke Korintus, dengan beberapa pesan terkait dengan kedatangannya

3. Nasehat Terakhir dan Salam (16:13-24)


Sebelum menutup surat yang ditulisnya sendiri Paulus tidak lupa memberikan
beberapa nasehat penting bagi kehidupan kerohanian jemaat Korintus.

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 65

BIBLIOGRAFI
Barclay, William. Pemahaman Alkitab Setiap Hari, Jakarta: BPK Gunung Mulia,
2008.
Barrett, C. K. The Second Epistle to the Corintians. Harper`s New Testament
Commentariaes. New York: Harper & Row, 1973.
Baxter, Sidlow. Menggali Isi Alkitab 4. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1982.
Brill, J. Wesley. Surat 1 Korintus. Bandung: Yayasan Kalam Hidup, n.d
____________. Surat 2 Korintus. Bandung: Yayasan Kalam Hidup, n.d
Brill, J. Wesley Tafsiran Surat Korintus. Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2003.
Carson, D. a. From Triumphalism to Maturity. Grand Rapids: Baker Book House,
1984.
Douglas, J.D. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini: Jilid I (A-L). Jakarta: Yayasan Bina
Kasih/OMF. 1992.
Drane, John. Memahami Perjanjian Baru: Pengantar Historis-Teologis. Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 1996
Furnish, Victor Paul. 2 Corinthians. The Anchor Bible. New York: Doubleday,
1984.
Gering, Howard M. Analisis Alkitab Perjanjian Baru. Jakarta: Yayasan Pekabar Injil
"IMMANUEL", 1992.
Grosheide, F. W. The First Epistle to the Corinthians. Grand Rapids, Michigan:
Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1953.
Hafemanm, S. J. Corinthians, Letters to The. In Dictionary of Paul and his
Letters. 164-179. Edited by Gerald F. Hawthorne and Ralph P. Martin.
Downers Grove, IL: InterVarsity Perss, 1993.
Hakh, Samuel B. Perjanjian Baru: Sejarah, Pengatar dan Pokok-pokok Teologisnya.
Bandung: Bina Media Informasi, 2010.
Harris, Murray J. 2 Corinthians.In The Expositor`s Bible Commentary. 10:300406. Edited by frank E. Gaebelein. Grand Rapids: Zondervan, 1979.
Kent, Homer A., Jr. A Heart Opened Wide. Winona Lake. Indiana: BMH Books,
1982.
Koch, Klaus. Kitab Yang Agung. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997.
Kasiatin Widianto, M.Th

Page 66

MacArthur Jr., John. 1 Corinthians. Chicago: Moody Press, 1984.


Martin, Ralph P. 2 Corinthians. Word Biblical Commentary. Waco, Tx: Word
Books, 1986.
Martin, Ralph P. World Biblical commentary 2 Corintians. Texas: Word Books. viii.,
M.E. Duyverman. Pembimbing ke Dalam Perjanjian Baru. Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 1990.
Palau, Luis. Singkapkan Kedokmu: Prinsip-prinsip Kehidupan kristen Berdasarkan
1& 2 Korintus. Terj. Ny. Lily Kristanto. Jakarta: BPK Gunung Mulia,
1990
Peifer, Claude J. Surat-surat Paulus 2. Tafsiran Perjanjiian Baru, no. 7. Disadur
oleh Drs. A. S. Hadiwijaya. Yogyakarta: Kanisius, 1991.
Plummer, Alfred. A Critical and Exegetical Commentary on the Second Epistle of St.
Paul to the Corinthians. Edinburgh: T & T dark, 1915
Seminari Theologia Injili Indonesia. Kepercayaan dan Kehidupan Kristen. Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 1985.
Spittler, Russell P. Pertama & Kedua Korintus. Malang: Penerbit Gandum Mas,
1977
Tenney, Merril C. Survei Perjanjian Baru. Malang: Gandum Mas, 2003.
Subandrijo, Bambang Menyingkap Pesan-pesan Perjanjian Baru. Bandung: Bina
Media Informas, 2010.
Stepman, Ray C. Expository Studies in 2 Corinthians: Power out of Weakness.
Waco, TX: Word Books, 1982.
Tasker, R.V.G. The Second Epistel of Paul to the Corinthians. Grand Rapids:
Eerdmans, 1963.
The Nelson Study Bible. Thomas Nelson, Inc. 1997
V.C.Pfitzner. Kesatuan dalam Kepelbagaian: Tafsiran atas Surat 1 Korintus.
Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000.
Wiesrsbe, Warren W. Hikmat di dalam Kristus, Bandung: Yayasan Kalam Hidup,
2001

Kasiatin Widianto, M.Th

Page 67

Anda mungkin juga menyukai