Anda di halaman 1dari 23

TRICHIASIS DAN KERATITIS

Oleh :
Agnes Triana Basja
01.207.5438

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2011

HALAMAN PENGESAHAN

Nama

: Agnes Triana Basja

NIM

: 01.207.5438

Fakultas

: Kedokteran

Universitas

: Universitas Islam Sultan Agung

Tingkat

: Program Pendidikan Profesi Dokter

Bagian

: Ilmu Penyakit Mata

Judul Laporan Kasus


Pembimbing

: Trichiasis dan Keratitis


: dr. Rosalia Septiana W.,Sp.M.

Kudus, September 2011


Pembimbing Kepaniteraan Klinik
Bagian Ilmu Penyakit Mata RSUD KUDUS

dr. Rosalia Septiana W.,Sp.M.

TRIKIASIS
DEFINISI
Trikiasis adalah kelainan arah dari bulu mata yang mengarah ke dalam mata.
Biasanya diawali dengan entropion sehingga bulu mata tumbuh ke arah dalam dan
menggosok kornea sehingga terjadi iritasi. Iritasi pada kornea melalui bulu mata
menyebabkan terjadinya erosi pada epitel kornea dan pada beberapa keadaan dalam
jangka panjang mungkin akan terbentuk perkembangan pembuluh darah baru.

GAMBARAN KLINIS
-

Menyebabkan lakrimasi,

Mechanical irritation,

Fotofobia, serta

Cedera pada epitel kornea dan jangka panjang mampu menjadi ulcus kornea

TERAPI
1. Epilasi
Merupakan metode yang sederhana dan efektif. Kerugiannya, bulu
mata akan tumbuh lagi dalam waktu 4-6 minggu dan terapi dengan
epilasi harus di ulang lagi.
2. Electrolysis

Dengan cara menghancurkan folikel bulu mata dengan cara jarum


halus dimasukkan menuju ke akar bulu mata dan metode ini
menggunakan listrik. Dengan metode ini, apabila dilakukan teratur
akan memperoleh hasil yang memuaskan.
3. Cryotherapy
Merupakan metode yang sangat efektif dalam menghilangkan bulu
mata yang tumbuh dalam jumlah banyak dengan menggunakan
Nitrous oxide cryoprobe.
4. Irradiation
Metode yang efektif dalam beberapa kasus, meskipun sejak ditemukan
Cryotherapy metode ini jarang lagi digunakan.
5. Menggunakan Kontak Lensa
Tujuannya untuk melindungi kornea yang bersifat sementara pada
pasien trikiasis.

KERATITIS
DEFINISI
Keratitis adalah kelainan akibat terjadinya infiltrasi sel radang pada kornea
yang akan mengakibatkan kornea menjadi keruh (PERDAMI, 2009).
ANATOMI DAN FISIOLOGI

Kornea merupakan membran pelindung dan jendela yang dilalui berkas


cahaya menuju retina. Kornea meliputi seperenam dari permukaan anterior bola mata.
Kelengkungannya lebih besar dibandingkan permukaan mata lainnya. Perbatasan
antara kornea dan sklera disebut sebagai limbus (ditandai dengan adanya sulkus yang
dangkal sulkus sklera). Kornea terdiri dari 3 lapisan yaitu epitel, substansi propria
atau stroma dan endotel. Diantara epitel dan stroma terdapat lapisan atau membran
Bowman dan diantara stroma dan endotel terdapat membran descemet.

Secara histologik kornea terdiri atas 5 lapisan yaitu:


1. Epitel kornea
merupakan lanjutan dari konjungtiva disusun oleh epitel gepeng
berlapis tanpa lapisan tanduk. Lapisan ini merupakan lapisan kornea
terluar yang langsung kontak dengan dunia luar dan terdiri atas 7 lapis
sel. Epitel kornea ini mengandung banyak ujung-ujung serat saraf
bebas. Sel-sel yang terletak di permukaan cepat menjadi aus dan
digantikan oleh sel-sel yang terletak di bawahnya yang bermigrasi
dengan cepat.
2. Membran Bowman
merupakan lapisan fibrosa yang terletak di bawah epitel tersusun dari
serat kolagen tipe 1.
3. Stroma kornea
merupakan lapisan kornea yang paling tebal tersusun dari serat-serat
kolagen tipe 1 yang berjalan secara paralel membentuk lamel kolagen.
Sel-sel fibroblas terletak di antara serat-serat kolagen.

4. Membran Descemet
merupakan membran dasar yang tebal tersusun dari serat-serat kolagen.
5. Endotel kornea
Lapisan ini merupakan lapisan kornea yang paling dalam tersusun dari
epitel selapis gepeng atau kuboid rendah. Sel-sel ini mensintesa protein
yang mungkin diperlukan untuk memelihara membran Descement. Selsel ini mempunyai banyak vesikel dan dinding selnya mempunyai
pompa natrium yang akan mengeluarkan kelebihan ion-ion natrium ke
dalam kamera okuli anterior. Ion-ion klorida dan air akan mengikuti
secara pasif. Kelebihan cairan di dalam stroma akan diserap oleh
endotel sehingga stroma tetap dipertahankan dalam keadaan sedikit
dehidrasi (kurang cairan), suatu faktor yang diperlukan untuk
mempertahankan kualitas refraksi kornea (Jusuf, 2003).

Kornea yang sehat adalah avaskular dan tidak memiliki saluran limfatik.
Nutrisi sel kornea didapat melalui difusi dari cairan akueus, kapiler pada limbus, dan
oksigen yang terlarut dalam film prekorneal. Metabolisme kornea cenderung aerobik
dan mampu berfungsi baik secara anaerobik selama enam sampai tujuh jam. Sel yang
bermetabolisme secara aktif adalah endotel, epitel dan sel keratosit stroma. Oksigen
yang menyuplai kornea kebanyakan berasal dari film prekorneal dengan kontribusi
sedikit dari kapiler di limbus dan gradien oksigen. Suplai glukosa pada kornea 90%
berasal dari cairan akueus dan 10% dari kapiler limbus. Persarafan kornea berasal dari
divisi oftalmik nervus trigeminus. Percabangan nervus ini berasal dari ruang
perikoroidal, menembus sklera dan membentuk pleksus. Pleksus ini akan menyebar
secara radier dan kemudian masuk ke stroma kornea. Serat saraf ini akan kehilangan
selaput mielin dan bergabung membentuk pleksus subepitel kornea. Cabang terminal
nervus ini akan menembus lapisan Bowman, menyebar dan membentuk pleksus
intraepitel. Saraf ujung bebas inilah yang responsif terhadap nyeri dan suhu. Akibat
dari banyaknya persarafan, hal ini menyebabkan kornea sangat sensitif terhadap
berbagai stimuli.

Sifat tembus cahaya yang dimiliki kornea disebabkan strukturnya yang


uniform, avaskuler, dan deturgesens. Deturgesens, atau keadaan dehidrasi relatif
jaringan kornea, dipertahankan oleh pompa bikarbonat aktif pada endotel dan oleh
fungsi sawar epitel dan endotel. Endotel lebih penting daripada epitel dalam
mekanisme dehidrasi, dan cedera kimiawi atau fisik pada endotel jauh lebih berat
daripada cedera pada epitel. Kerusakan sel-sel endotel menyebabkan edema kornea
dan hilangnya sifat transparan. Sebaliknya, cedera pada epitel hanya menyebabkan
edema lokal sesaat stroma kornea yang akan menghilang bila sel-sel epitel itu telah
beregenerasi. Penguapan air dari film air mata pra-kornea berakibat film air mata
menjadi hipertonik; proses itu dan penguapan langsung adalah faktor-faktor yang
menarik air dari stroma kornea superfisial untuk mempertahankan keadaan dehidrasi.
FAKTOR RESIKO KERATITIS
Faktor Resiko:

Perawatan lensa kontak yang buruk; penggunaan lensa kontak yang berlebihan

Herpes genital atau infeksi virus lain

Imunodefisiensi

Higienis buruk

Nutrisi kurang baik (kekurangan vitamin A)

Defisiensi air mata

Trikiasis

KLASIFIKASI
epitel
Superficia
l
KERATITIS

Herpes zoster, herpes


simplek, punctata

subepite
l

Numularis, disiform

stroma

neuroparalitik

interstitial
Profunda
disiformis
sklerotika
n

Keratitis merupakan kelainan akibat terjadinya infiltrat sel radang pada kornea
yang akan mengakibatkan kornea menjadi keruh, biasanya diklasifikasikan dalam
lapisan yang terkena seperti keratitis superficial, intertitisial dan profunda.
Keratitis

dapat

dibagi

berdasarkan

etiologi

dan

lokasi.

Berdasarkan Lokasi:
1. Keratitis Superficial, dapat dibagi menjadi:
a. Keratitis epitelial, tes fluoresin (+), misalnya:
i. Keratitis pungtata superfisial padaa moluskum kontagiosum,
konjungtivitis kataral, morbili, verucca vulgaris
Keratitis Pungtata Superfisialis adalah suatu keadaan dimana
sel-sel pada permukaan kornea mati. Mata biasanya terasa
nyeri, berair, merah, peka terhadap cahaya (fotofobia) dan
penglihatan menjadi sedikit kabur. Keratitis ini dapat bersifat
ulseratif atau non ulseratif.
ii. Keratitis herpetika
a. Herpes simpleks
Dibedakan menjadi

infeksi

primer

dan

infeksi

kekambuhan.
Infeksi primer: yaitu infeksi pada seseorang yang tidak
mempunyai antibodi terhadap herpes simplek. Terdapat
pada usia 6 bulan sampai 6 tahun. Dapat terjadi tanpa
gejala klinik atau dengan gejala klinik yang ringan.
Dapat pula berupa erupsi kulit atau anogenital, kelainan
di kedua mata. Kelainan primer di mata dapat berupa:
Vesikel di kelopak mata atau matgo palpebra
Konjungtivitis folikularis
Keratitis pungtata superfisialis yang dapat
berkembang menjadi liniaris, fasikularis dan
dendritikus.

Terdapat pembesaran dari kelenjar preaurikuler.

Infeksi Kekambuhan

Merupakan

infeksi

pada

seseorang

yang

telah

mempunyai antibodi terhadap herpes simpleks dan


dicetuskan oleh berbagai trigger. Kelainannya di mata
berupa kelainan epitel dan stroma. Di samping kelainan
lain seperti pada keratitis pada umumnya, sensibilitas
kornea pada keratitis herpes simpleks juga menurun.
Yang paling karakteristik adalah bentuk dendrit. Dapat
terjadi pada wanita maupun pria. Dari usapan ulkus,
virus herpes simpleks dapat dibiak dalam membran
khorioalantoin dari embrio ayam yang sedang tumbuh.
Yang termasuk dalam keratitis superfisial ulseratif
adalah

keratitis

pungtata

superfisial,

filamentosa, dendritika, dan geografika.

liniaris,

b. Herpes zoster
Bila telah terdapat vesikel di ujung hidung, berarti N.
Nasosiliaris terkena, maka biasanya timbul kelainan di
kornea,

di

mana

sensibilitasnya

menurun

tetapi

penderita menderita sakit. Keadaan ini disebut anestesia


dolorosa. Pada kornea tampak infiltrat yang bulat, letak
subepitel, disertai injeksi perikornea. Infiltrat ini dapat
mengalami ulserasi yang sukar sembuh. Kadang-kadang
infiltrat

ini

dapat

bersatu

membentuk

keratitis

disiformis. Kadang juga tampak edema kornea disertai


lipatan-lipatan dari membran Descemet.
b. Keratitis subepitelial, tes fluoresin (-), misalnya:
i. Keratitis numularis, dari Dimmer
Keratitis ini diduga oleh virus. Klinis tanda-tanda radang tidak
jelas, di kornea terdapt infiltrat bulat-bulat subepitelial, dimana
ditengahnya lebih jernih, disebut halo. Keratitis ini bila sembuh
akan meninggalkan sikatrik yang ringan.
ii. Keratitis disiformis dari Westhoff
Keratitis ini awalnya banyak ditemukan pada petani di pulau
jawa. Penyebabnya adalah virus yang berasal dari sayuran dan
binatang. Di kornea tampak infiltrat bulat-bulat, yang
ditengahnya lebih padat dari pada dipinggir. Umumnya
menyarang usia 15-30 tahun.
c. Keratitis stromal, tes fluresin (+), misalnya:
i. Keratitis neuroparalitik
ii. Keratitis et lagoftalmus
Terjadi akibat mata tidak menutup sempurna yang dapat terjadi
pada ektropion palpebra, protrusio bola mata atau pada
penderita koma dimana mata tidak terdapat reflek mengedip.
Umumnya bagian yang terkena adalah kornea bagian bawah
2. Keratitis profunda, tes fluoresin (-), misalnya:
a. Keratitis interstisial
b. Keratitis sklerotikans
c. Keratitis disiformis
Klasifikasi lain:

Keratokonjungtivis Flikten

Terutama didapatkan pada anak-anak dengan kebersihan yang buruk.


Biasanya didaptkan pembesaran kelenjar leher dan tonsil. Dikornea
flikten merupakan benjolan dengan diameter 1-3 mm berwarna abu

abu dan menonjol di atas permukaan kornea.


Keratokonjungtivis Sika
Terjadi akibat kekeringan pada bagian permukaan kornea an
konjungtiva. Kekeringan ini dapat disebabkan kurnagnya komponen
lemak, kurangnya air mata, kurangnya komponen musin, penguapan
berlebihan dll. Penderita akan mengeluh mata gatal, fotofobia,

berpasir, dll.
Keratitis Rosasea
Keratitis yang didapat pada orang yang menderita acne rosasea, yaitu

penyakit dengan kemerahan dikulit, disertai akne di atasnya.


Keratitis filamentosa
Keratitis yang disertai adanya filamen mukoid dan deskuamasi sel
epitel pada permukaan kornea. Penyebabnya tidak diketahui. Dapat
disertai penyakit lain seperti keratokonjungtivitis sika, sarkoidosis,
trakoma, pemfigoid okular, pemakaian lensa kontak, edema kornea,
keratokonjungtivitis limbik superior (SLK), diabetes melitus, trauma
dasar otak, keratitis neutrofik, dan pemakaian antihistamin.
Kelainan ini ditemukan pada gejala sindrom mata kering (dry eye
syndrome), diabetes melitus, pascabedah katarak, dan keracunan
kornea oleh obat tertentu.
Filamin terdiri atas sel dan sisa mukoid, dengan dasar bentuk segitiga
yang menarik epitel. Epitel yang terdapat pada filamen terdapat defek
epitel disertai kekeruhan epitel berwarna abu-abu. Gejalanya berupa
rasa kelilipan, sakit, silau, blefarospasme, dan epifora. Dapat berjalan
akut maupun menahun. Mata merah dan terdapat defek epitel kornea.
Pengobatan dilakukan dengan larutan hipertonik NaCl 5%, air mata
hipertonik. Mengangkat filamen dan bila mungkin memasang lensa

kontak lembek (Ilyas, 2009)


PATOFISIOLOGI
Kornea disarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf siliar
longus dan saraf nasosiliar. Trauma atau penyakit yang merusak endotel akan
mengakibatkan sistem pompa endotel terganggu sehingga dekompensasi endotel dan
terjadi edema kornea. Kornea merupakan bagian mata yang tembus cahaya dan
menutup bola mata di sebelah depan.

Karena kornea avaskular, maka pertahanan sewaktu peradangan tak dapat


segera datang. Maka badan kornea, sel-sel yang terdapt di dalam stroma segera
bekerja sebagai makrofag baru kemudian disusul oleh pembuluh darah yang terdapat
di limbus dan tampak sebagi injeksi perikornea. Sesudahnya baru terjadi infiltrat,
yang tampak sebagi bercak berwarna kelabu, keruh, dan permukaan yang licin.
Kemudian dapat terjadi kerusakan epitel dan timbul ulkus kornea yang dapat
menyebar ke permukaan dalam stroma. Pada peradangan yang hebat, toksin dari
kornea dapat menyebar ke iris dan badan siliar dengan melalui membran descement
dan endotel kornea. Dengan demikian iris dan badan siliar meradang dan timbulah
kekeruhan di cairan COA, disusul dnegan terbentuknya hipopion. Bila peradangan
terus mendalam, tetapi tidak mengenai membran descement dapat timbul tonjolan
membran descement yang disebut mata lalat atau descementocele. Pada peradangan
yang dipermukaan penyembuhan dapat berlangsung tanpa pembentukan jaringan
parut. Pada peradangan yang dalam penyembuhan berakhir dengan terbentuknya
jaringan parut yang dapat berupa nebula, makula, atau leukoma. Bila ulkusnya lebih
mendalam lagi dapat timbul perforasi yang dapat mengakibatkan endophtalmitis,
panophtalmitis, dan berakhir dengan ptisis bulbi (Wijana, 1993).
GEJALA DAN TANDA
Manifestasi yang menyertai pada penderita keratitis adalah :
Inflamasi bola mata yang jelas
Terasa ada benda asing di mata
Cairan mukopurulen dengan kelopak mata saling melekat satu sama lain
Rasa silau dimata dikarenakan pembuluh darah iris dilatasi, kontraksi iris yang
meradang > menutupi pandangan sehingga berpendar jika kena cahaya
Blefarospasme > Karena rasa sakit yg diperhebat oleh gesekan palpebra
superior
Epifora > rangsang nyeri sehingga reflek air mata meningkat.
Kabur : karena kornea berfungsi sebagai jendela mata bila infiltrat di sentral
(Ilyas, 2009)
DIAGNOSIS
ANAMNESA
- Penurunan ketajaman penglihatan

Mata merah
Silau
Mengeluarkan air mata terus menerus

PEMERIKSAAN FISIK MATA


- Pemeriksaan ketajaman penglihatan
- Melihat lensa dengan penlight dan loop
- Pemeriksaan opthalmoskop
PEMERIKSAAN PENUNJANG
- Tes Placido
Yang diperhatikan gambaran sirkuler yang direfleksi pada permukaan
kornea penderita. Bila bayangan di kornea gambaran sirkulernya teratur,
disebut Placido (-), pertanda permukaan kornea baik. Kalau gambaran
sirkulernya tidak teratur, Placido (+) berarti permukaan kornea tidak baik,
-

mungkin ada infiltrat


Tes Fluoresin
Untuk melihat adanya lebar dan dalamnya ulkus pada kornea, yaitu dengan
memasukkan kertas yang mengandung fluoresin steril ke dalam sakus
konjungtiva inferior setelah terlebih dahulu diberi anestesi lokal, kemudian
penderita disuruh mengedip beberapa waktu dan kertas fluoresinnya
dicabut. Pemeriksaan ini dapat juga menggunakan fluoresin tetes. Pada

tempat ulkus tampak berwarna hijau.


Tes Fistel / Siedel Test
Pada pemeriksaan adanya fistel pada ulkus kornea, setelah pemberian
fluoresin, bola mata harus ditekan sedikit untuk melepaskan fibrinnya dari
fistel, sehingga cairan COA dapat mengalir keluar melalui fistel, seperti air

mancur pada tempat ulkus dengan fistel tersebut.


Pemeriksaan visus
Bakteriologik, dari usapan pada ulkus kornea
Harus dilakukan pemeriksaan hapusan langsung, pembiakan, dan tes
resistensi. Dari pemeriksaan hapusan langsung dapat diketahui macam
kuman penyebabnya. Bila tidak terdapat kumannya, dari macam-macam sel
yang ditemukan, dapat diketahui kira-kira penyebab keratitisnya.
Bila banyak monosit diduga akibat virus:
o Leukosit PMN kemungkinan akibat bakteri
o Eosinofil, menunjukkan radang akibat alergi
o Limfosit, terdapat pada radang yang kronis
Dengan melakukan pembiakan dan tes resistensi, dapat diketahui kuman
penyebab, juga obatnya yang tepat guna, dengan demikian pengobatan
menjadi lebih terarah.

Sensibilitas kornea
(Wijana, 1993)

DIAGNOSA BANDING
a. Keratitis Neuroparalitik
b. Keratitis Filamentosa
c.
d.
e.
f.
g.

Keratitis Dendritika
Keratokonjungtivitis sika
Konjungtivitis akut
Glaukoma akut
Iritis akut

(Ilyas, 2009)

Konjungtivitis

keratitis

Iritis akut

Glaucoma akut

Sakit

Kesat

Sedang

Sedang-berat

Hebat- menyebar

Kotoran

Seringpurulen

Reflex epifora

Ringan

Fotofobia

Ringan

Hebat

sedang

Kornea

Jernih&terang

Hebat

Edema epitel

Iris

Normal

Muddy

Abu2 hijau

Penglihatan

<N

<N

<N

Sekret

Flare

-/+

++

Pupil

<N

<N

>N

Tekanan

<N> (pegal)

> N (sptpegal)

Vaskularisasi

a. konjungtiva

a. siliaris

Pleksus siliaris

episkleral

posterior
Injeksi

konjungtival

Siliar

siliar

episkleral

Pengobatan

Antibiotic

Antibiotic,siklopegik

Steroid +

Miotikadiamox +

siklopegik

operasi

Infeksi lokal

Tonometri

Uji

Bakteri

Sensibilitas

PENATALAKSANAAN
Tergantung organisme penyebab.

Antibiotik
Anti jamur
Anti virus

Antibiotik spektrum luas dapat digunakan secepatnya, tapi bila hasil laboratorium
sudah menentukan organisme penyebab, pengobatan dapat diganti. Terkadang,
diperlukan lebih dari satu macam pengobatan. Terapi bedah laser terkadang dilakukan
untuk menghancurkan sel yang tidak sehat, dan infeksi berat membutuhkan
transplantasi kornea.Obat tetes mata atau salep mata antibiotik, anti jamur dan
antivirus biasanya diberikan untuk menyembuhkan keratitis, tapi obat-obat ini hanya
boleh diberikan dengan resep dokter.
Pasien dengan keratitis dapat menggunakan tutup mata untuk melindungi mata dari
cahaya terang, benda asing dan bahan iritatif lainnya.
Medikamentosa diberikan dengan tujuan mengatasi gejala yang ditimbulkan
oleh penyulit misalnya, silau maka pasien dapat menggunakan kacamata. Untuk
megurangi inflamasi dapat diberikan steroid ringan. Dapat pula dianjurkan diet
dengan gizi yang seimbang, suplementasi vitamin A,C,E, serta antioksidan lainnya
(PERDAMI, 2009).
PROGNOSIS
Keratitis pungtata superficial penyembuhan biasanya berlangsung baik
meskipun tanpa pengobatan. Imunitas tubuh merupakan hal yang penting dalam kasus
ini karena diketahui reaksi imunologik tubuh pasien sendiri yang memberikan respon
terhadap virus ataupun bakteri (Wijana, 1993).

STATUS PASIEN
I. IDENTITAS PASIEN
Nama lengkap

: Bp. Kamijan

Umur

: 61 tahun

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Petani

Alamat

: Surodadi

Tanggal Pemeriksaan : 15 September 2011


II. ANAMNESIS
Anamnesis secara : Auto anamnesis pada tanggal 15 September 2011.
Keluhan Utama

Pasien merasa nyeri pada mata kanan dan terasa ngganjel


Riwayat Penyakit Sekarang:
Sebelumnya pasien menceritakan bahwa dia bekerja di sawah dan sering sekali pada
kedua matanya terkena percikan air lumpur di sawah kemudian menimbulkan rasa
gatal, dan dengan menggunakan air yang berada di sawah itulah pasien mengusap
matanya dengan menggunakan kedua tangan pasien yang kotor. Pasien mengaku keluhan
nyeri pada mata kanan ini dirasakan sejak 5 tahun yang lalu dan pasien rutin
memeriksakan matanya ke poli mata RSUD KUDUS. Pasien juga mengeluhkan seperti
ngganjel, nrocos dan nyeri pada bagian palpebra superior. Pasien menyangkal adanya
riwayat trauma.

Riwayat Penyakit Dahulu:


Pasien mengatakan bahwa pernah mengalami keluhan seperti ini sejak 5 tahun yang
lalu
-

Riwayat Hipertensi (-)

Riwayat diabetes melitus (-)


Riwayat Operasi mata (-)
Riwayat menggunakan kaca mata (-)
Riwayat trauma disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada keluarga pasien yang mengalami keadaan serupa.


Riwayat sosial ekonomi

Berobat menggunakan Jamkesmas. Kesan ekonomi kurang.


III. PEMERIKSAAN FISIK
A. VITAL SIGN
Tensi (T)
Nadi (N)
Suhu (T)
Respiration Rate (RR)
Keadaan Umum
Kesadaran
Status Gizi

:
:
:
:
:
:
:

120/70 mmHg ( tanggal 16 September 2011)


80 kali/ menit
36,7o c
20 x / menit
Baik
Compos mentis
Cukup

B. STATUS OFTALMOLOGI
Gambar:
OD

OS

Keterangan:
1. Luka pada kornea
2. Arkus senilis
3. Trikiasis (kelainan pertumbuhan bulu mata)

OCULI DEXTRA(OD)
PEMERIKSAAN
>2/60
Visus
Tidak dikoreksi
Koreksi
Gerak bola mata normal,

OCULI SINISTRA(OS)
>2/60
Tidak dikoresi
Gerak bola mata normal,

enoftalmus (-),

enoftalmus (-),

eksoftalmus (-),
strabismus (-)
Edema (-),

Bulbus okuli

eksoftalmus (-),
strabismus (-)
Edema (-), hiperemis(-),

hiperemis(-),

nyeri tekan(-),

nyeri tekan (-),

blefarospasme

(-),

lagoftalmus (-),

blefarospasme (-), lagoftalmus


Palpebra

ektropion (-),
entropion (-)

(-)
ektropion (-),
entropion (-)

Trikiasis (+) 1/3 medial


superior
Edema (-),

Edema (-),

injeksi konjungtiva (+),

injeksi konjungtiva (+),

injeksi siliar (+),

Konjungtiva

injeksi siliar (+),

infiltrat (-),

infiltrat (-),

hiperemis (-)
Putih
Bulat, jernih,

Sklera

hiperemis (-)
Putih
Bulat, edema (-),

Kornea

keratik presipitat(-),

edema

(-)

menyeluruh,

infiltrat

keratik presipitat(+), infiltrat

(-), sikatriks (-)

(+), sikatriks (-)


Jernih, kedalaman cukup,

Jernih, kedalaman cukup,

Arkus senilis (+),

Camera Oculi Anterior

Arkus senilis (+)

hipopion (-),

(COA)

hipopion (-),

hifema (-),
Kripta(+),warnacoklat,(-),
edema(-), synekia (-)
bulat,diameter 3mm, letak
sentral,

Iris

Pupil

hifema (-),
Kripta(+),warnacoklat,(-),
edema(-), synekia (-)
bulat, diameter 3mm, letak
sentral,

refleks pupil langsung (+),

refleks pupil langsung (+),

refleks pupil tak langsung (+)


Jernih

refleks pupil tak langsung (+)


Jernih

Shadow phenomen (-)

Lensa

Shadow phenomen (-)

Jernih
belum dinilai
cemerlang
Secara digital normal
Epifora (-), lakrimasi (+)
(-)

Vitreus
Retina
Fundus Refleks
TIO
Sistem Lakrimasi
Shadow Test

Jernih
belum dinilai
Cemerlang
Secara digital normal
Epifora (-), lakrimasi(+)
(-)

IV. RESUME
Subjektif:
Pasien datang ke poliklinik dengan keluhan :

Pasien mengeluh terasa nyeri pada mata kanan


Pasien juga mengeluh adanya rasa ngganjel di mata kanan dan nyeri pada

bagian palpebra superior


Pasien juga mengeluh pada kedua mata terasa nrocos
Ada riwayat kemasukan kotoran atau benda asing ke dalam mata
Pasien menyangkal adanya riwayat trauma benda tumpul
Pasien menyangkal adanya riwayat menggunakan kaca mata
Pasien sudah pernah merasakan sakit seperti ini sebelumnya ( 5 tahun yang
lalu)

Objektif:
OCULI DEXTRA(OD)
>2/60
Tidakdikoreksi
Jernih
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
(-)

PEMERIKSAAN
Visus
Koreksi
Lensa
Retina
Fundus Refleks
Shadow Test

V. DIAGNOSA BANDING

Keratitis Numularis
keratitis Disiformis
keratitis pungtata superfisial
Keratokonjungtivitis epidemika
Distichiasis

VI. DIAGNOSA KERJA


TRIKIASIS dan KERATITIS

OCULI SINISTRA(OS)
>2/60
Tidak dikoresi
Jernih
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
(-)

Dasar diagnosis:

Gejala Subjektif:
Pasien mengeluh terasa nyeri pada mata kanan
Pasien juga mengeluh adanya rasa ngganjel di kedua mata dan nyeri pada
bagian palpebra superior

Tanda Objektif:

OCULI DEXTRA(OD)
>2/60
Tidakdikoreksi
Jernih
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
(-)

PEMERIKSAAN
Visus
Koreksi
Lensa
Retina
Fundus Refleks
Shadow Test

OCULI SINISTRA(OS)
>2/60
Tidak dikoresi
Jernih
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
(-)

VII. TERAPI
Medikamentosa:
a. Gentamycin eye drop
b. Chlorampenichol
Non Medikamentosa :
a. Epilasi
b. Electrolysisis
VIII. PROGNOSIS
OKULI DEKSTRA (OD)
Quo Ad Visam:
Quo Ad Sanam
Quo Ad Kosmetikam
Quo Ad Vitam

IX. USUL DAN SARAN


Usul :

Fluoresein test

Sensibilitas Kornea

Dubia ad bonam
:
Dubia ad bonam
:
Dubia ad bonam
:
Dubia ad bonam

OKULISINISTRA(OS)
Dubia ad bonam
Dubia ad bonam
Dubia ad bonam
Dubia ad bonam

Scraping cornea untuk pemeriksaan kultur bakteri dan jamur, sensitivitas, dan
pewarnaan Gram dan Giemsa dengan media transport dan penanaman untuk
menentukan jenis bakteri penyebab.

Darah rutin
Saran:

Gunakan tetes mata secara teratur

Konsumsi obat secara teratur

Kontrol 1 minggu setelah pengobatan

Edukasi pasien untuk tidak mengucek mata dan jangan terlalu banyak terkena angin

Menggunakan pelindung mata untuk menghindari debu, benda asing dan mengurangi
fotofobia.

DAFTAR PUSTAKA
Ilyas, H.S. 2009.Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3.Balai Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta
Ilyas, H.S. 2009.Ilmu Penyakit Mata. Edisi 2.Sagung seto. Jakarta
PERDAMI, 2009, Ilmu Penyakit Mata, Edisi 2, Sagung Seto: Jakarta.
Vaughan, D.G., 2009, Oftalmologi Umum, Widya Medika: Jakarta
Kanski, J.J., 1989. Clinical Ophthalmology Ed.2
Seal, G.N, 1987, text book of ophthalmology, jakarta
Wijana, N., 1983, Ilmu Penyakit Mata, Jakarta