Anda di halaman 1dari 38

referat

UPAYA PENINGKATAN KEBERHASILAN PROGRAM


IMUNISASI TT (TETANUS TOXOID) PADA IBU HAMIL
DAN CALON PENGANTIN
DI PUSKESMAS SEI BESAR MELALUI UPAYA
PENYULUHAN

Oleh :
Desmi Rina Wardani, S.Ked
I1A006043

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
MEI, 2012

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Penyakit infeksi masih menjadi permasalahan bagi dunia kesehatan di
Indonesia. Hal ini tercermin dari tingkat kejadian penyakit infeksi yang masih cukup
tinggi di berbagai wilayah. Pada dasarnya, penyebaran penyakit infeksi dapat
dieliminir melalui edukasi pola hidup bersih kepada masyarakat. Selain itu, beberapa
penyakit infeksi dapat dicegah dengan pemberian vaksinasi atau yang lebih dikenal
dengan imunisasi1.
Kematian bayi di dunia 48% adalah kematian neonatal, seluruh kematian
neonatal sekitar 60% merupakan kematian bayi umur kurang dari 7 hari.2 AKB di
Indonesia hingga saat ini masih sangat tinggi dimana tetanus neonatorum merupakan
salah satu penyebab utama kematian bayi yang menempati urutan kelima. Upaya
untuk mengeliminisasi tetanus neonatorum terus dilakukan Departemen Kesehatan
dengan target menurunkan insiden menjadi < 1 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun
2000.5 Salah satu strategi Departemen Kesehatan mencapai Eliminasi Tetanus
Neonatorum (ETN) adalah meningkatkan cakupan imunisasi Tetanus Toksoid (TT)
ibu hamil dan calon penganten(caten). Namun evaluasi tahun 1999/2000
menunjukkan cakupan yang masih rendah. Menurut hasil Survey Kesehatan Rumah

Tangga 2003 salah satu penyebab utama kematian bayi di Indonesia dikarenakan 10
% karena tetanus neonatorum.2,3
Berdasarkan laporan Analisa Uji Coba di Indonesia pada tahun 2005-2006 yang
disusun oleh WHO yang bekerja sama dengan Departemen Kesehatan RI, tetanus
masih merupakan penyebab utama kematian dan kesakitan maternal dan neonatal.
Kematian akibat tetanus di negara berkembang 135 kali lebih tinggi dibanding negara
maju. Angka kejadian tetanus neonatorum di Indonesia tahun 2005 sebanyak 140
kasus dengan 82 kematian atau Case Fatality Rate (CFR) sebesar 58,57%. Pada tahun
2008 terjadi 165 kasus tetanus neonatorum dengan kematian sejumlah 91 kasus atau
CFR 55% dan sebagian besar adalah bayi yang persalinannya ditolong oleh dukun
bersalin.4
Sesuai dengan visi Pembangunan Kesehatan adalah Indonesia Sehat 2014
maka pada tahun 2014 diharapkan bangsa Indonesia akan mencapai tingkat kesehatan
tertentu yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dalam lingkungan sehat,
mempraktekkan perilaku hidup sehat, mampu menyediakan dan memanfaatkan
(menjangkau) pelayanan kesehatan bermutu sehingga memiliki derajat kesehatan
yang tinggi.5
Menurut Undang-Undang Kesehatan Nomor 23 Tahun 1992, Paradigma
Sehat dilaksanakan melalui beberapa kegiatan antara lain pemberantasan penyakit.
Salah satu upaya pemberantasan penyakit menular adalah upaya pengebalan
(imunisasi).5

Imunisasi yang berkaitan dengan upaya penurunan kematian bayi diantaranya


adalah pemberian imunisasi TT (Tetanus Toxoid) kepada calon pengantin wanita dan
ibu hamil. Tujuan imunisasi ini adalah memberikan kekebalan terhadap penyakit
tetanus neonatorum kepada bayi yang akan dilahirkan dengan tingkat perlindungan
vaksin sebesar 90-95%. Oleh karena itu cakupan imunisasi TT ibu hamil perlu
ditingkatkan secara sungguh-sungguh dan menyeluruh.6
Tujuan dari imunisasi TT adalah untuk melindungi ibu terhadap kemungkinan
infeksi tetanus bila terluka dan memberikan kekebalan terhadap penyakit tetanus
neonatorum kepada bayi yang akan dilahirkan dengan tingkat perlindungan vaksin
sebesar 90 95 %.7 Berdasarkan data Ditjen Binkesmas dari data profil kesehatan
Indonesia tahun 2008 presentasi cakupan imunisasi TT2 pada ibu hamil di Indonesia
masih lebih rendah dimana pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2008 didapatkan
presentasi sebesar 49,4%; 51,8%; 59,2%; 42;9.8 Untuk wilayah provinsi Kalimantan
Selatan pada tahun 2006 didapatkan presentasi ibu hamil yang mendapatkan
imunisasi TT1 sebesar 78,8% dan imunisasi TT2 72,45% dengan jumlah ibu hamil
sebanyak 85.608 jiwa. Dampak dari kurangnya pemeliharaan kesehatan ibu hamil
tidak saja menimbulkan kerugian terhadap ibu hamil itu sendiri tetapi juga
berpengaruh buruk bagi anak yang akan dilahirkan kemudian.9
Pemberian imunisasi TT tersebut dapat dilakukan di tempat pelayanan
kesehatan seperti puskesmas, posyandu, rumah sakit dan pelayanan kesehatan
lainnya. Oleh karenanya kunjungan ibu hamil untuk memeriksakan diri pada tempattempat pelayanan kesehatan tentunya akan memberikan dampak positif terhadap

peningkatan cakupan pelayanan imunisasi TT ibu hamil. Dalam rangka peningkatan


frekuensi kunjungan ibu hamil ke bagian Kesehatan ibu dan Anak (KIA) di
puskesmas diperlukan upaya Pemantauan wilayah Setempat (PWS) mengenai
program KIA dan Imunisasi di Puskesmas.
Banyak faktor yang berhubungan dengan pencapaian cakupan imunisasi TT
ibu hamil dan caten diantaranya adalah waktu pelayanan imunisasi, pelatihan petugas
imunisasi, kerja sama lintas program, kerja sama lintas sektoral, pencatatan dan
pelaporan, pemantauan wilayah setempat (PWS), dan penyuluhan. Selain itu, pada
pelaksanaan di lapangan ada faktor lain yang dapat mempengaruhi pencapaian
cakupan imunisasi salah satunya adalah pengetahuan dan sikap masyarakat wanita
usia subur terhadap imunisasi TT.
Dari data laporan tahunan program promosi kesehatan dan KIA dan KB tahun
2011 di Puskesmas Sungai Besar tidak pernah dilakukan penyuluhan yang terkait
Tetanus Neonatotum dan pentingnya imunisasi TT. Diharapkan dengan upaya ini
mampu menurunkan angka kejadian Tetanus Neonatorum, dimana optimalisasi
program imunisasi TT masih rendah dan target pencapaian imunisasi TT pada ibu
hamil dan caten belum mencapai target sasaran di wilayah puskesmas tersebut. Tahun
2011, jumlah presentasi ibu hamil yang diimunisasi TT1 17,0%,, TT2 6,0%, TT3 9,0%,
TT4 9,0%, TT5 29,5%, sedangkan WUS termasuk caten yang diimunisasi TT 1 12,0%,,
TT2 1,5%, TT3 5,4%, TT4 3,2%, TT5 6,0%.

1.2. TUJUAN
Tujuan penulisan ini adalah untuk sebagai bahan kajian yang dapat diterapkan
puskesmas Sungai Besar terutama di program KIA guna meningkatkan kesadaran
masyarakat untuk melakukan imunisasi TT (Tetanus Toxoid) secara lengkap pada
wanita usia subur (calon penganten) maupun pada ibu hamil.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

IMUNISASI

A. Definisi
Imunisasi adalah salah satu upaya pencegahan terhadap infeksi penyakit.
Tindakan ini merupakan bentuk intervensi paling efektif untuk mencegah penyakit
menular seperti yang telah dibuktikan banyak negara 2. Imunisasi dilakukan melalui
pemberian vaksin tertentu dengan maksud agar tubuh dapat membentuk kekebalan
terhadap penyakit tertentu. Pada dasarnya, seorang bayi telah memiliki sistem
kekebalan tersendiri yang didapatnya sewaktu di dalam kandungan. Akan tetapi,
imunitas tersebut belum cukup untuk melindungi bayi dari infeksi penyakit10.

B. Tujuan
Menurut Undang-Undang Kesehatan Nomor 23 Tahun 1992, Paradigma
Sehat dilaksanakan melalui beberapa kegiatan antara lain pemberantasan penyakit.
Salah satu upaya pemberantasan penyakit menular adalah upaya pengebalan
(imunisasi). Tujuan imunisasi yaitu turunnya angka kesakitan, kecacatan dan
kematian akibat Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I).5
Imunisasi bertujuan memberikan kekebalan kepada bayi agar dapat mencegah
penyakit dan kematian bayi serta anak yang disebabkan oleh penyakit yang sering
berjangkit11.

C. Manfaat
Adapun manfaat imunisasi adalah sebagai berikut11:
1.

Untuk anak: mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit dan


kemungkinan cacat atau kematian.

2.

Untuk keluarga: menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak


sakit. Mendorong pembentukan keluarga apabila orang tua yakin bahwa anaknya
akan menjalani masa kanak-kanak yang nyaman.

3.

Untuk negara: memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan
berakal untuk melanjutkan pembangunan negara.

D. Perkembangan Imunisasi di Indonesia


Kegiatan imunisasi di Indonesia di mulai di Pulau Jawa dengan vaksin cacar
pada tahun 1956. Pada tahun 1972, Indonesia telah berhasil membasmi penyakit
cacar. Pada tahun 1974, Indonesia resmi dinyatakan bebas cacar oleh WHO, yang
selanjutnya dikembangkan vaksinasi lainnya. Pada tahun 1972 juga dilakukan studi
pencegahan terhadap Tetanus Neonatorum dengan memberikan suntikan TT pada
wanita dewasa di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sehingga pada tahun 1975 vaksinasi
TT sudah dapat dilaksanakan di seluruh Indonesia.2
Pelaksanaan kegiatan imunisasi TT ibu hamil terdiri dari kegiatan imunisasi
rutin dan kegiatan tambahan. Kegiatan imunisasi rutin adalah kegiatan imunisasi yang
secara rutin dan terus-menerus harus dilaksanakan pada periode waktu yang telah
ditetapkan, yang pelaksanaannya dilakukan di

dalam gedung (komponen statis)

seperti puskesmas, puskesmas pembantu, rumah sakit, rumah bersalin dan di luar

gedung

seperti posyandu atau melalui kunjungan rumah. Kegiatan imunisasi

tambahan adalah kegiatan imunisasi yang dilakukan atas dasar ditemukannya masalah
dari hasil pemantauan atau evaluasi.12

E. Pelaksanaan
Pelayanan imunisasi meliputi kegiatan dari persiapan petugas; persiapan
masyarakat; pemberian pelayanan imunisasi serta koordinasi.13
1.

Persiapan Petugas
Kegiatan ini meliputi :
1.

Inventarisasi sasaran;
Kegiatan ini dilakukan di tingkat Puskesmas dengan mencatat :
Daftar bayi dan ibu hamil/WUS dilakukan oleh kader, dukun terlatih,
petugas KB, bidan di desa.
Sumber : Kelurahan, form registrasi bayi/ibu hamil, PKK.
Daftar murid sekolah tingkat dasar melalui kegiatan UKS.
Sumber : Kantor Dinas Pendidikan/SD yang bersangkutan.
Daftar calon pengantin di seluruh wilayah kerja Puskesmas.
Sumber : KUA, kantor catatan sipil.
Daftar murid Sekolah Menengah Umum/Aliyah melalui kegiatan UKS.
Sumber : Kantor Dinas Pendidikan/SMU Aliyah yang bersangkutan.
Daftar WUS di tempat kerja/Pabrik.

Sumber : Dinas Tenaga Kerja/Perusahaan yang bersangkutan.

2. Persiapan vaksin dan peralatan rantai vaksin;


Sebelum melaksanakan imunisasi di lapangan petugas kesehatan harus
mempersiapkan vaksin yang akan dibawa. Jumlah vaksin yang dibawa
dihitung berdasarkan jumlah sasaran yang akan diimunisasi dibagi dengan
dosis efektif vaksin pervial/ampul. Selain itu juga harus mempersiapkan
peralatan rantai dingin yang akan dipergunakan di lapangan seperti termos dan
kotak dingin cair.

3. Persiapan ADS dan safety box.


Selain itu petugas juga harus mempersiapkan ADS dan safety box untuk
dibawa ke lapangan. Jumlah ADS yang dipersiapkan sesuai dengan jumlah
sasaran yang akan diimunisasi. Jumlah Safety box yang akan dibawa
disesuaikan dengan jumlah ADS yang akan dipergunakan dan kapasitas safety
box yang tersedia.

Gambar 2.3. safety box


2.

Persiapan Masyarakat
Untuk mensukseskan pelayanan imunisasi, persiapan dan penggerakkan
masyarakat mutlak harus dilakukan. Kegiatan ini dilakukan dengan melakukan
kerjasama lintas program, lintas sektoral, organisasi profesi, LSM dan petugas
masyarakat/kader.

3.

Koordinasi
Program imunisasi dituntut untuk melaksanakan ketentuan program secara
efektif dan efisien. Untuk itu pengelola program imunisasi harus dapat
menjalankan fungsi koordinasi dengan baik. Ada dua macam fungsi koordinasi,

yaitu vertikal dan horizontal. Koordinasi horizontal terdiri dari kerjasama lintas
program dan kerjasama lintas sektoral.
a.

Kerjasama Lintas Program


Pada semua tingkat administrasi, pengelola program imunisasi diharapkan
mengadakan kerjasama dengan program lain di bidang kesehatan.
Beberapa bentuk kerjasama yang telah dirintis :

Keterpaduan KIA Imunisasi melalui kegiatan K1 dan K4, pendeteksi


persalinan yang ditolong oleh Nakes

Keterpaduan Imunisasi Survaillans melalui pendataan jumlah ibu hamil,


jumlah Pasangan Usia Subur (PUS), jumlah Wanita Usia Subur (WUS),
jumlah calon pengantin, jumlah bayi dan balita

Keterpaduan KB Kesehatan (Imunisasi, Gizi, Diare, KIA, PKM, KB).

Keterpaduan UKS Imunisasi melalui BIAS yaitu imunisasi DPT dan


Campak pada anak sekolah.

b.

Kerjasama Lintas Sektoral


Pada setiap tingkat administrasi, pengelola program imunisasi harus mengisi
kegiatan untuk membina kerjasama lintas sektoral yang telah terbentuk,
yaitu :
Kerjasama imunisasi Departemen Agama.
Kerjasama imunisasi Departemen Dalam Negeri.
Kerjasama imunisasi Departemen Pendidikan Nasional.

Kerjasama imunisasi organisasi (IDI, IDAI, POGI, IBI, PPNI, dll).


Bentuk lain dari koordinasi lintas sektoral adalah peran Bantu PKK,LSM.

2.2 IMUNISASI TETANUS TOXOID


Imunisasi tetanus toxoid adalah proses untuk membangun kekebalan sebagai
upaya pencegahan terhadap infeksi tetanus. Meskipun vaksin ini sudah pernah
diberikan saat masih kecil, namun tetap dianjurkan untuk dilakukan pengulangan
pemberian vaksin TT pada wanita yang hendak menikah dan wanita yang sedang
hamil. Pemberian vaksin TT sebelum menikah dan saat hamil bertujuan untuk
mencegah terjadinya tetanus akibat luka di daerah vagina dan akibat penggunaan alatalat bantu persalinan yang tidak steril saat proses melahirkan.13
Upaya Departemen Kesehatan dan Kensos melaksanakan Program Eliminasi
Tetanus Neonatorum (ETN) melalui imunisasi DPT, DT, atau TT dilaksanakan
berdasarkan perkiraan lama waktu perlindungan sebagai berikut : 5
a.

Imunisasi DPT 3x akan memberikan imunitas 1-3 tahun. Dengan 3 dosis


toksoid tetanus pada bayi dihitung setara dengan 2 dosis toksoid pada anak yang
lebih besar atau dewasa.

b.

Ulangan DPT pada umur 18-24 bulan (DPT 4) akan memperpanjang imunitas
5 tahun yaitu sampai dengan umur 6-7 tahun. Dengan 4 dosis toksoid tetanus
pada bayi dan anak dihitung setara dengan 3 dosis toksoid pada dewasa.

c.

Toksoid tetanus kelima (DPT 5) diberikan pada usia masuk sekolah, akan
memperpanjang imunitas 10 tahun lagi sampai umur 17-18 tahun. Dengan 5
dosis toksoid tetanus pada anak dihitung setara dengan 4 dosis toksoid dewasa.

d.

Toksoid tetanus tambahan yang diberikan pada tahun berikutnya di sekolah


(DT 6 atau dT) akan memperpanjang imunitas 20 tahun lagi. Dengan 6 dosis
toksoid tetanus pada anak dihitung setara dengan 4 dosis toksoid pada dewasa.
Jadi PPI merekomendasikan tetanus toksoid (DPT, DT, TT) 5x untuk

memberikan perlindungan seumur hidup sehingga wanita usia subur (WUS)


mendapat perlindungan terhadap bayi yang dilahirkan terhadap tetanus neonatorum.
Vaksin TT yang diberikan kepada wanita yang akan menikah dan akan
melahirkan dapat meningkatkan kekebalan tubuhnya terhadap infeksi tetanus.
Kekebalan tubuh tersebut akan ditularkan kepada bayi dalam kandungan sehingga
bayi akan terlindung dari infeksi tetanus juga saat lahir. Tetanus yang terjadi pada
bayi baru lahir dapat menyebabkan kematian bayi. Manfaat TT pada ibu hamil yaitu
melindungi bayinya yang baru lahir dari tetanus neonatorum serta melindungi ibu
terhadap kemungkinan tetanus apabila terluka.

A. Jadwal Imunisasi TT Ibu Hamil dan Calon Pengantin 12,14,15


a.

Imunisasi TT untuk ibu hamil diberikan 2 kali, dengan dosis 0,5 cc di


injeksikan intramuskuler/subkutan dalam. Imunisasi TT sebaiknya diberikan
sebelum kehamilan 8 bulan untuk mendapatkan imunisasi TT lengkap. TT1
dapat diberikan sejak di ketahui postif hamil dimana biasanya di berikan pada

kunjungan pertama ibu hamil ke sarana kesehatan. Jarak pemberian (interval)


imunisasi TT1 dengan TT2 adalah minimal 4 minggu.
b.

Bila ibu hamil sewaktu caten (calon penganten) sudah mendapat TT


sebanyak 2 kali, maka kehamilan pertama cukup mendapat TT 1 kali, dicatat
sebagai TT ulang dan pada kehamilan berikutnya cukup mendapat TT 1 kali
saja yang dicatat sebagai TT ulang juga.

c.

Bila ibu hamil sewaktu caten (calon penganten) atau hamil sebelumnya
baru mendapat TT 1 kali, maka perlu diberi TT 2 kali selama kehamilan ini
dan kehamilan berikutnya cukup diberikan TT 1 kali sebagai TT ulang.

d.

Bila ibu hamil sudah pernah mendapat TT 2 kali pada kehamilan


sebelumnya, cukup mendapat TT 1 kali dan dicatat sebagai TT ulang.

Tabel 5. Jadwal Pemberian Imunisasi TT 5 Dosis 12

B. Cara Pemberian dan Dosis 12,16


a. Sebelum digunakan, vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi
menjadi homogen.
b.

Untuk mencegah tetanus/tetanus neonatal terdiri dari 2 dosis primer yang


disuntikkan secara intramuskular atau subkutan dalam, dengan dosis
pemberian 0,5 ml dengan interval 4 minggu. Dilanjutkan dengan dosis ketiga
setelah 6 bulan berikutnya. Untuk mempertahankan kekebalan terhadap
tetanus pada wanita usia subur, maka dianjurkan diberikan 5 dosis. Dosis ke
empat dan ke lima diberikan dengan interval minimal 1 tahun setelah
pemberian dosis ke tiga dan ke empat. Imunisasi TT dapat diberikan secara
aman selama masa kehamilan bahkan pada periode trimester pertama.

c. Di unit pelayanan statis, vaksin TT yang telah dibuka hanya boleh digunakan
selama 4 minggu dengan ketentuan :
Vaksin belum kadaluarsa
Vaksin disimpan dalam suhu +2 - +8C
Tidak pernah terendam air.
Sterilitasnya terjaga
VVM (Vaccine Vial Monitor) masih dalam kondisi A atau B.
d.

Di posyandu, vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi untuk
hari berikutnya.

C. Efek Samping 12,15,16


Efek samping jarang terjadi dan bersifat ringan, gejalanya seperti lemas dan
kemerahan pada lokasi suntikan yang bersifat sementara dan kadang-kadang gejala
demam.

D. Tenaga Pelaksana Imunisasi 12


Standar tenaga pelaksana di tingkat pusksmas adalah petugas imunisasi dan
pelaksana cold chain. Petugas imunisasi adalah tenaga perawat atau bidan yang telah
mengikuti pelatihan, yang tugasnya memberikan pelayanan imunisasi dan
penyuluhan. Pelaksana cold chain adalah tenaga yang berpendidikan minimal SMA
atau SMK yang telah mengikuti pelatihan cold chain, yang tugasnya mengelola
vaksin dan merawat lemari es, mencatat suhu lemari es, mencatat pemasukan dan
pengeluaran vaksin serta mengambil vaksin di kabupaten/kota sesuai kebutuhan per
bulan.
Pengelola program imunisasi adalah petugas imunisasi, pelaksana cold chain
atau petugas lain yang telah mengikuti pelatihan untuk pengelola program imunisasi,
yang tugasnya membuat perencanaan vaksin dan logistik lain, mengatur jadwal
pelayanan imunisasi, mengecek catatan pelayanan imunisasi, membuat dan mengirim
laporan ke kabupaten/kota, membuat dan menganalisis PWS bulanan, dan
merencanakan tindak lanjut.
Untuk meningkatkan pengetahuan dan/atau ketrampilan petugas imunisasi

perlu dilakukan pelatihan sesuai dengan modul latihan petugas imunisasi. Pelatihan
teknis diberikan kepada petugas imunisasi di puskesmas, rumah sakit dan tempat
pelayanan lain, petugas cold chain di semua tingkat. Pelatihan manajerial diberikan
kepada para pengelola imunisasi dan supervisor di semua tingkat.
Pemberian imunisasi TT secara terus menerus digerakkan
melalui

pelayanan

kesehatan

dasar

di

Puskesmas.

Tenaga

kesehatan yang berperan penting terhadap pemberian pelayanan


imunisasi TT pada ibu hamil dan WUS adalah juru imunisasi di
Puskesmas.

Keberhasilan

pelaksanaan

imunisasi

TT

sangat

tergantung pada hasil kinerja para juru imunisasi dalam melakukan


sweeping imunisasi, penyuluhan tentang pentingnya imunisasi TT,
pemberian imunisasi TT sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan
dan melakukan evaluasi pelaksanaan imunisasi TT.
Juru imunisasi di Puskesmas mempunyai peran yang sangat
penting dan strategis dalam upaya pelaksanaan program pelayanan
imunisasi, banyak tugas yangharus dilaksanakan baik yang bersifat
teknis maupun administratif. Pelaksanaan program imunisasi di
puskesmas mengacu pada Buku Petunjuk Pelaksanaan Program
Imunisasi sebagai pedoman bagi pelaksana imunisasi di puskesmas
dalam menjalankan tugasnya yang dikeluarkan oleh Departemen
Kesehatan. Di samping itu pelaksanaan imunisasi di Puskesmas juga

dituntut untuk menguasai manajemen program secara lebih baik


dan profesional hal ini sejalan dengan strategi dan beberapa
kesepakatan global di bidang imunisasi. Sejalan dengan semakin
meningkatnya
masyarakat,

tingkat
kebutuhan

pendidikan
dan

dan

tuntutan

sosial
terhadap

ekonomi

di

pelayanan

kesehatan yang bermutu juga semakin meningkat. Kondisi ini


menuntut pergeseran titik tekan pelayanan imunisasi dari orientasi
pencapaian target menuju ke orientasi penjagaan dan peningkatan
kualitas pelayanan. Salah satu penentu mutu pelayanan adalah
kompetensi sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, dalam
hal ini juru imunisasi dalam melaksanakan seluruh tugas pokok dan
fungsinya dengan mengacu pada target yang diharapkan dalam
program imunisasi.
Kompetensi petugas imunisasi dapat dilihat dari pemahaman,
sikap dan keterampilan petugas imunisasi di Puskesmas tentang
prosedur kerja petugas imunisasi dan seluruh rangkaian kegiatan
berbasis masyarakat yang berhubungan dengan program imunisasi
TT. Menurut Boulter, dkk (1996) level kompetensi adalah sebagai
berikut : Skill (keterampilan), Knowledge (pengetahuan), Self Image
(pandangan orang terhadap diri sendiri), Trait (karakteristik abadi
dari karakteristik yang membuat orang untuk berperilaku) dan

Motive

(dorongan

seseorang

secara

konsisten

berperilaku).

Berdasarkan seluruh indikator kompetensi tersebut maka yang


dinilai paling penting harus ada pada individu dalam melaksanakan
tugas-tugas suatu organisasi adalah pengetahuan, sikap dan
keterampilan.
Berdasarkan profil Kesehatan Indonesia (2008), menunjukkan
bahwa cakupan imunisasi TT di Indonesia berfluktuasi selama kurun
waktu 2006-2008.
Berdasarkan angka cakupan imunisasi TT-2 tingkat provinsi di
Indonesia diketahui bahwa, provinsi dengan angka cakupan TT-2
tertinggi adalah Bali (93,39%), Nusa Tenggara Timur (86,21%), dan
Sumatera Selatan (85,72%); sedangkan provinsi dengan angka
cakupan TT-2 terendah adalah Papua (17,66%), Papua Barat
(20,8%)

dan

Jawa

Timur

(25,48%).

Secara

keseluruhan

menunjukkan bahwa cakupan imunisasi TT masih sangat rendah


dari target yang diharapkan yaitu 100% dari seluruh ibu hamil
maupun wanita usia subur yang ada di Indonesia. Angka tersebut
masih berada dibawah target yang diharapkan. Rendahnya target
pencapaian imunisasi TT pada ibu hamil dan
memerlukan

perhatian

yang

serius

bagi

WUS masih

pengelola

imunisasi

sehingga dapat memberikan manfaat dan mengurangi risiko infeksi

pada persalinan. Hal ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap


pelayanan imunisasi TT pada ibu hamil dan WUS masih rendah.
Rendahnya target pencapaian imunisasi TT ini tidak terlepas dari
kualitas sumber daya manusia petugas kesehatan, dan kualitas
pelayanan imunisasi yang diberikan oleh petugas imunisasi. Oleh
karena itu perlu perhatian dan kerja keras bagi semua pihak yang
terkait, dan khususnya bagi pengelola imunisasi baik pada tingkat
dinas kesehatan maupun di puskesmas sebagai pelaksana teknis
pelayanan imunisasi.
Kinerja petugas imunisasi adalah hasil kerja yang diperoleh
petugas

imunisasi

dalam

memberikan

pelayanan

imunisasi

termasuk imunisasi TT pada ibu hamil dan WUS. Menurut Robbin


(2006), kinerja individu dalam suatu organisasi diukur berdasarkan
hasil kerja baik secara kualitas maupun kuantitas, dan salah
satunya dipengaruhi oleh faktor individu yaitu karakteristik individu
seperti umur, pendidikan, pengetahuan, dan kompetensi individu
dalam organisasi tersebut.
Penelitian
kemampuan
terhadap

Lumbantobing

dan

(2004),

keterampilan

keberhasilan

pelayanan

bidan

menunjukkan
mempunyai

kesehatan

yang

bahwa

pengaruh
diberikan.

Pelayanan kesehatan tersebut mencakup pelayanan imunisasi pada

bayi, ibu hamil dan wanita usia subur seperti imunisasi TT.
Penelitian Purwanto (2001) tentang faktor-faktor yang berhubungan
dengan status imunisasi TT pada WUS di Puskesmas Anyer
Kabupaten Serang menemukanbahwa salah satu faktor yang
menguatkan keinginan ibu untuk melakukan imunisasi TT adalah
adanya anjuran dari petugas kesehatan dan pengetahuan petugas
kesehatan tentang imunisasi TT.
Penelitian Tjerita (2000) di Kabupaten Grobogan Jawa Tengah
menemukan

bahwa

kepatuhan

petugas

puskesmas

dalam

menerapkan prosedur kerja pelayanan imunisasi dipengaruhi oleh


kemampuan dan keterampilan petugas serta motivasi petugas
dalam menjalankan prosedur kerja tersebut, dan secara statistik
menunjukkan terdapat pengaruh pendidikan, pengetahuan dan
motivasi terhadap kepatuhan standar operasional prosedur (SOP)
pelayanan imunisasi.

E. Vaksin TT (Tetanus Toksoid)


Deskripsi
Vaksin Tetanus Toksoid adalah vaksin yang mengandung toxoid tetanus yang
telah dimurnikan dan terabsorbsi ke dalam 3 mg/ml aluminium fosfat. Thimerosal 0,1
mg/ml digunakan sebagai pengawet. Satu dosis 0,5 ml vaksin mengandung potensi

sedikitnya 40 IU. Dipergunakan untuk mencegah tetanus pada bayi yang baru lahir
dengan mengimunisasi Wanita Usia Subur (WUS) atau ibu hamil, juga untuk
pencegahan tetanus pada ibu bayi .12

Kemasan Vaksin TT
Kemasan vaksin dalam vial. 1 vial vaksin TT berisi 10 dosis dan setiap 1 box
vaksin terdiri dari 10 vial. Vaksin TT adalah vaksin yang berbentuk cairan.12,16

Gambar 2.4. Vaksin Tetanus Toksoid

Kontraindikasi Vaksin TT
Ibu hamil atau wanita usia subur yang mempunyai gejala-gejala berat
(pingsan) karena dosis pertama TT. 12
Sifat Vaksin
Vaksin TT termasuk vaksin yang sensitif terhadap beku (Freeze Sensitive=FS)
yaitu golongan vaksin yang akan rusak bila terpapar atau terkena dengan suhu dingin
atau suhu pembekuan.12

Kerusakan Vaksin
Keterpaparan suhu yang tidak tepat pada vaksin TT menyebabkan umur
vaksin menjadi berkurang dan vaksin akan rusak bila terpapar /terkena sinar matahari
langsung.12
Tabel 7. Keadaan Suhu terhadap Umur Vaksin TT 9

Pengelolaan Vaksin 12,16


1) Penerimaan /pengambilan vaksin (transportasi)

Pengambilan

vaksin

dari

Puskesmas

ke

kabupaten/kota

dengan

menggunakan peralatan rantai vaksin yang sudah ditentukan. Misalnya cold


box atau vaccine carrier.
Jenis peralatan pembawa vaksin disesuaikan dengan jumlah vaksin yang
akan diambil.
Sebelum memasukkan vaksin ke dalam alat pembawa, periksa indikator
vaksin (VVM). Vaksin yang boleh digunakan hanya bila indikator VVM
tingkat A atau B. Sedangkan bila VVM pada tingkat C atau D tidak usah
diterima karena tidak dapat digunakan lagi.

Masukkan kotak cair dingin (cool pack) ke dalam alat pembawa dan di
bagian tengah diletakkan thermometer Muller, untuk jarak jauh bila freeze
tag/watch tersedia dapat dimasukkan ke dalam alat pembawa.
Alat pembawa vaksin yang sudah berisi vaksin, selama perjalanan dari
kabupaten/kota ke puskesmas tidak boleh kena sinar matahari langsung.
Catat dalam buku stok vaksin : tanggal menerima vaksin, jumlah, nomor
batch dan tanggal kadaluarsa.
2) Penyimpanan Vaksin
Vaksin disimpan pada suhu +2C +8C.
Bagian bawah lemari es diletakkan kotak dingin cair (cool pack) sebagai
penahan dingin dan kestabilan suhu
Vaksin TT diletakkan lebih jauh dari evaporator.
Beri jarak antara kotak vaksin minimal 1-2 cm atau satu jari tangan agar
terjadi sirkulasi udara yang baik.

Letakkan 1 buah thermometer Muller di bagian tengah lemari es.

Penyimpanan vaksin harus dicatat 2 kali sehari pada grafik suhu yaitu saat
datang pagi hari dan menjelang pulang siang/sore hari.

F. Faktor yang Mempengaruhi Cakupan Imunisasi TT Ibu Hamil dan WUS:


1. Penyuluhan oleh petugas
2. Pengetahuan petugas
3. Lama kerja

4. Jumlah petugas pelaksana imunisasi


5. Pelatihan petugas
6. Waktu pelayanan imunisasi
7. Stok Vaksin
8. Pengelolaan Rantai Vaksin
9. Peralatan Rantai Vaksin
10. Peralatan Suntik Imunisasi
11. Kerjasama Lintas Program
12. Kerjasama Lintas Sektoral
13. Pencatatan dan Pelaporan
14. Pemantauan Wilayah Setempat (PWS)
15. Pendidikan petugas
16. Pengetahuan Ibu Hamil
17. Kendaraan Operasional

2.3 PERENCANAAN PROGRAM IMUNISASI


A. Menentukan Jumlah Sasaran Imunisasi 12
Pada program imunisasi menentukan jumlah sasaran merupakan suatu unsur
yang paling penting. Menghitung jumlah sasaran ibu hamil didasarkan 10 % lebih
besar dari jumlah bayi. Perhitungan ini dipakai untuk tingkat pusat, propinsi,
kabupaten/kota, kecamatan dan desa.

B. Menentukan Target Cakupan 12


Menentukan target cakupan adalah menetapkan berapa besar cakupan
imunisasi yang akan dicapai pada tahun yang direncanakan untuk mengetahui
kebutuhan vaksin yang sebenarnya. Penetapan target cakupan berdasarkan tingkat
pencapaian di masing-masing wilayah kerja maksimal 100 %.
Target Cakupan Imunisasi Ibu Hamil yang akan dicapai :

C. Menghitung Indeks Pemakaian Vaksin (IP) 12,15


Menghitung indeks pemakaian vaksin berdasarkan jumlah cakupan imunisasi
yang dicapai secara absolut dan berapa banyak vaksin yang digunakan.Dari
pencatatan stok vaksin setiap bulan diperoleh jumlah ampul/vial vaksin yang
digunakan. Untuk mengetahui berapa rata-rata jumlah dosis diberikan untuk setiap
ampul/vial, yang disebut Indeks Pemakaian Vaksin (IP) dapat dihitung:

D. Menghitung Kebutuhan Vaksin 12

1. Setelah menghitung jumlah sasaran imunisasi, menentukan target cakupan


dan menghitung besarnya indeks pemakaian vaksin, maka data-data tersebut
digunakan unuk menghitung kebutuhan vaksin.
2. Puskesmas mengirimkan rencana kebutuhan vaksin ke kabupaten/kota.
Sebelum menghitung jumlah vaksin yang kita perlukan, terlebih dahulu
dihitung jumlah kontak tiap jenis rumusnya:

Untuk menghindari penumpukan vaksin, jumlah kebutuhan vaksin satu tahun


harus dikurangi sisa vaksin tahun lalu. Rumus Kebutuhan Vaksin:

E. Peralatan Suntik 12,15


Dalam program imunisasi, jenis alat suntik imunisasi TT yang dipakai di
puskesmas adalah :
a. Semprit Auto Disable (AD)
Semprit AD adalah semprit yang setelah dipakai mengunci sendiri dan hanya
dapat dipakai sekali. Semprit ini merupakan alat yang dipilih untuk semua jenis
pelayanan imunisasi. Semua semprit AD mempunyai penutup plastik untuk
menjaga agar jarum tetap steril.

b. Alat suntik Prefilled Auto-Disable (AD)


Alat suntik prefilled AD adalah jenis alat suntik yang hanya bisa digunakan
sekali yang telah berisi vaksin dosis tunggal dengan jarum yang telah dipasang
oleh pabriknya. Alat suntik prefilled AD untuk tetanus toksoid digunakan
untuk memberikan vaksin TT kepada para wanita usia subur di rumah mereka
selama kampanye massal. Setiap alat suntik prefilled AD adalah steril dan
disegel dengan paket kertas logam oleh pabrik, vaksin dimasukkan dalam
reservoir tertutup seperti gelembung yang mencegah vaksin berhubungan
dengan jarum sampai vaksin itu diberikan.
c. Semprit dan jarum sekali buang (disposable single- use)
Semprit dan jarum yang hanya bisa dipakai sekali dan dibuang (disposable
single-use) tidak direkomendasikan untuk suntikan dalam imunisasi karena
risiko penggunaan kembali semprit dan jarum disposable menyebabkan risiko
infeksi yang tinggi.

F. Pencatatan dan Pelaporan17,18


Pencatatan

dan

pelaporan

dalam

manajemen

program

imunisasi

memegangperanan penting dan sangat menentukan selain menunjang pelayanan


imunisasi juga menjadi dasar untuk membuat perencanaan maupun evaluasi. Perihal
penting yang harus dicatat adalah hasil cakupan imunisasi, stok vaksin serta logistik.
Pelaporan dilakukan oleh setiap unit yang melakukan kegiatan imunisasi mulai dari
puskesmas pembantu, puskesmas, rumah sakit umum, balai imunisasi swasta, rumah

sakit swasta, rumah bersalin swasta kepada pengelola program di tingkat administrasi
yang sesuai. Adapun yang dilaporkan adalah cakupan imunisasi, stok dan pemakaian
vaksin.

G.

Monitoring dan Evaluasi 17,18


Salah satu fungsi penting dalam manajemen program adalah pemantauan.

Dengan pemantauan kita dapat menjaga agar masing-masing kegiatan sejalan dengan
ketentuan program sedangkan tujuan dari evaluasi adalah untuk mengetahui hasil
ataupun proses kegiatan bila dibandingkan dengan target atau yang diharapkan.
Melalui hasil monitoring dan evaluasi ini diharapkan dapat digunakan untuk :
1. Membantu perencanaan di masa mendatang
2. Mengetahui apakah sarana yang tersedia dimanfaatkan sebaik-baiknya
3. Menemukan kelemahan-kelemahan dari program baik secara teknis maupun
administrasi
4. Membantu menentukan strategi
5. Mendapatkan dukungan dalam bentuk dana maupun moril dari sponsor
6. Motivasi

2.4. PENYULUHAN
A.

Definisi17,18
Penyuluhan merupakan suatu proses penyampaian suatu pesan atau informasi

dari penyuluh kepada sasaran penyuluhan. Materi yang disuluhkan terntu saja

berisikan inovasiinovasi baru yang oleh penyuluh dianggap perlu dimiliki serta
dijadikan pedoman berperilaku baru oleh sasaran. Dengan penyuluhan ini penyuluh
mengharapkan terjadinya suatu perubahan perilaku sasaran ke arah yang lebih baik
dari sebelumnya.
Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan
cara menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat tidak saja
sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada
hubungannya dengan kesehatan.

B.

Penyuluhan Imunisasi TT17,18


Penyuluhan tentang imunisasi adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan

dengan cara menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat tidak


saja sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang
ada hubungannya dengan imunisasi. Upaya penyuluhan ini dapat dilakukan oleh
puskesmas baik secara langsung ataupun tidak langsung.
Dalam suatu proses penyuluhan ada tiga kemungkinan yang bisa terjadi, yaitu:
1. Keberhasilan sesungguhnya, dimana perilaku sasaran berubah persis seperti apa
yang diharapkan dan berlangsung terus menerus
2. Keberhasilan semu, dimana perubahan perilaku baru itu terjadi dalam rentang
waktu terbatas saja, yaitu selama si penyuluh masih berada bersama sasaran atau
selama mereka masih merasakan manfaat dari perilaku baru tersebut. Begitu

penyuluh berpisah dengan sasaran atau sasaran tidak lagi merasakan manfaatnya,
maka mereka kembali ke perilaku lama
3. Kegagalan total, artinya sasaran menolak secara total inovasi baru yang
disampaikan oleh penyuluh.

C.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Penyuluhan17,18


Faktor yang perlu diperhatikan terhadap sasaran dalam keberhasilan

penyuluhan adalah :
1. Tingkat Pendidikan. Pendidikan dapat mempengaruhi cara pandang seseorang
terhadap informasi baru yang diterimanya. Maka dapat dikatakan bahwa semakin
tinggi tingkat pendidikannya, semakin mudah seseorang menerima informasi
yang didapatnya.
2. Tingkat Sosial Ekonomi. Semakin tinggi tingkat sosial ekonomi seseorang,
semakin mudah pula dalam menerima informasi baru.
3. Adat Istiadat. Pengaruh dari adat istiadat dalam menerima informasi baru
merupakan hal yang tidak dapat diabaikan, karena masyarakat kita masih sangat
menghargai dan menganggap sesuatu yang tidak boleh diabaikan.
4. Kepercayaan Masyarakat. Masyarakat lebih memperhatikan informasi yang
disampaikan oleh orangorang yang sudah mereka kenal, karena sudah timbul
kepercayaan masyarakat dengan penyampai informasi.

5. Ketersediaan Waktu di Masyarakat. Waktu penyampaian informasi harus


memperhatikan tingkat aktifitas masyarakat untuk menjamin tingkat kehadiran
masyarakat dalam penyuluhan.
2.5 PENTINGNYA PENYULUHAN DALAM MENINGKATKAN CAKUPAN
IMUNISASI TT SECARA LENGKAP
Program Imunisasi bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan, kecacatan dan
kematian dari penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).
Pelaksanaan kegiatan imunisasi TT ibu hamil terdiri dari kegiatan imunisasi rutin dan
kegiatan tambahan. Kegiatan imunisasi rutin adalah kegiatan imunisasi yang secara
rutin dan terus-menerus harus dilaksanakan pada periode waktu yang telah
ditetapkan, yang pelaksanaannya dilakukan di dalam gedung (komponen statis)
seperti puskesmas, puskesmas pembantu, rumah sakit, rumah bersalin dan di luar
gedung seperti posyandu atau melalui kunjungan rumah. Kegiatan imunisasi
tambahan adalah kegiatan imunisasi yang dilakukan atas dasar ditemukannya masalah
dari hasil pemantauan atau evaluasi.17,18
Kurangnya cakupan imunisasi TT secara lengkap oleh ibu hamil dan calon
pengantin di wilayah kerja puskesmas hendaknya menjadi perhatian bagi puskesmas.
Hal ini penting bagi puskesmas agar dapat segera menindaklanjuti upaya untuk
meningkatkan cakupan imunisasi TT secara lengkap pada ibu hamil dan calon
pengantin di wilayah kerjanya.17,18
Salah satu upaya dari puskesmas dalam meningkatkan cakupan imunisasi TT
secara lengkap pada ibu hamil dan calon pengantin adalah dengan penyuluhan

tentang pentingnya imunisasi TT secara lengkap sehingga menambah pengetahuan


dan sikap positif terhadap imunisasi TT melalui penyuluhan massal, penyuluhan
keluarga, penyuluhan kelompok dan penyuluhan perorangan17,18:
Tahapan menyusun perencanaan penyuluhan terdiri dari : 1. menetapkan tujuan,
2. penentuan sasaran, 3. menyusun materi / isi penyuluhan, 4. memilih metoda yang
tepat, 5. menentukan jenis alat peraga yang akan digunakan, 6. penentuan kriteria
evaluasi, 7. pelaksanaan penyuluhan, 8. penilaian hasil penyuluhan, dan 9. tindak
lanjut dari penyuluhan.
Penyuluhan Kesehatan bertujuan mengembangkan pengertian yang benar dan
sikap yang positif individu/pasien atau kelompok/keluarga pasien (receiver) agar
yang bersangkutan menerapkan cara hidup sehat dalam hidupnya sehari-hari atas
kesadaran dan kemauan sendiri. Penyuluhan imunisasi dimaksudkan agar ibu hamil
dan wanita usia subur memahami manfaat imunisasi TT pada saat caten atau hamil,
mengetahui waktu dan pelayanan imunisasi TT dan mau datang ke pos pelayanan
imunisasi TT.
Sasaran dari penyuluhan imunisasi TT adalah wanita usia subur (wanita usia
15-39 tahun) khususnya untuk calon pengantin dan ibu hamil.
Metode yang digunakan yaitu bisa melalui pendekatan perorangan atau
penyuluhan kelompok melalui pertemuan di suatu tempat dengan mengundang
seluruh wanita usia subur termasuk catin dan ibu hamil.

1. Penyuluhan massal, dilakukan dengan memanfaatkan sarana/budaya yang


ada di masyarakat, seperti media cetak, misalnya, leaflet dengan
menggunakan bahasa lokal
2. Penyuluhan keluarga
Dalam melakukan penyuluhan keluarga mencakup semua anggota keluarga
yang berpengaruh terhadap ibu dan wanita usia subur (calon pengantin).
3. Penyuluhan kelompok
Untuk penyuluhan kelompok dapat dilakukan pada:
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
PKK
Organisasi Wanita, misalnya Dharma Pertiwi, Dharma Wanita, dll
Kelompok khusus seperti, arisan, pengajian, dll.
Tokoh: Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, dll
Pamong: Kepala dusun, Kepala desa, Camat, dll.
Petugas: Kesehatan, BKKBN, Pertanian, Guru, dll
4. Penyuluhan perorangan
Penyuluhan perorangan dapat dilakukan kepada:
-

Ibu-ibu hamil dan wanita usia subur (calon pengantin)

Penyuluhan dilakukan dengan menggunakan media yang ada seperti leaflet,


brosur, monitor LCD, alat pengeras suara.
Isi pesan yang disampaikan yaitu: apa manfaat imunisasi TT, siapa yang diberi
imunisasi TT, kapan dan dimana bisa mendapatkan imunisasi TT, bagaimana
gambaran penyakit tetanus dan tetanus neonatorum.
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada waktu memberikan penyuluhan antara
lain17,18:
-

penggunaan materi KIE yang tepat

menggunakan bahasa sederhana yang mudah dimengerti oleh masyarakat


melakukan persiapan tempat/ruangan
memasang poster/leaflet di tempat yang mudah dilihat
mengikut sertakan suami dan anggota keluarga lain yang berpengaruh
Di samping itu, dapat dilakukan kerjasama lintas sektoral, dalam hal ini dengan

dokter praktek swasta dalam rangka meningkatkan kepatuhan dan pendataan yang
akurat tentang imunisasi TT terhadap calon pengantin.

BAB III
PENUTUP

Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara


aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak ia terpapar dengan penyakit
tersebut tidak akan menderita penyakit tersebut. Imunisasi yang berkaitan dengan
upaya penurunan kematian bayi diantaranya adalah pemberian imunisasi TT (Tetanus
Toxoid) kepada calon pengantin wanita dan ibu hamil.
Tujuan imunisasi ini adalah memberikan kekebalan terhadap penyakit tetanus
neonatorum kepada bayi yang akan dilahirkan dengan tingkat perlindungan vaksin
sebesar 90-95%. Pemberian imunisasi TT tersebut dapat dilakukan di tempat
pelayanan kesehatan seperti puskesmas, posyandu, rumah sakit dan pelayanan
kesehatan lainnya.
Kurangnya cakupan program imunisasi TT secara lengkap dikarenakan
pengetahuan dan sikap ibu hamil dan calon pengantin yang masih kurang tentang
manfaat imunisasi TT dosis lengkap bagi calon bayi dan bagi yang bersangkutan.
Cara untuk memberikan pemahaman kepada ibu hamil dan calon pengantin tentang
imunisasi TT dan gambaran penyakit tetanus dan tetanus neonatorum dengan
kegiatan promotif dari puskesmas berupa penyuluhan. Kegiatan penyuluhan tersebut
hendaknya mendapat dukungan dan partisipasi dari berbagai pihak kesehatan yang
terkait dan juga berbagai elemen masyarakat agar dapat memberikan hasil yang
optimal.
DAFTAR PUSTAKA

1. Enny M. Penyakit-penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi di


Indonesia. Cermin Dunia Kedokteran 2005 ; (148) : 5-11.
2. Anonimous. Askep pada BBL dengan Tetanus Neonatorum. Avaliable at
http://www.pediatric.com, November 2010.
3. Purwanto H. Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Status Imunisasi TT pada
Wanita Usia Subur di Puskesmas Anyer Kabupaten Serang Tahun 2001. Avaliable
at: http://www.digilib.ui.ac.id.
4. Maternal
and
Neonatal
Tetanus.
Diambil
dari
website
UNICEF:http://www.unicefusa.org/work/health/tetanus/.(diakses februari 2012).
5. Depkes RI., 2005. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor:
1059/MENK ES/SK /IX/2004Tentang Pedoman Penyelenggaraan Imunisasi.
6. Didi.Imunisasi
TT
(Tetanus
Toxoid)
Pada
Kehamilan,
http://www.drdidispog.com. (diakses Februari 2012).
7. Anonimous. Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Imunisasi Tetanus Toksoid
(TT) di Puskesmas. Kumpulan Inforamasi Kesehatan, 2010.
8. Available at: www. depkes.go.id. Profil Kesehatan Indonesia 2008
9. Available at: www. depkes.go.id. Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan
Tahun 2006
10. Ridwan E. Kadar Hb, Vitamin A Dan Kaitannya Dengan Reaksi Imun Bayi Yang
Diimunisasi. Cermin Dunia Kedokteran 1999 ; (124) : 41-43
11. Anonimous. Imunisasi. {serial online}. Available from : URL:
www.pediatric.com
12. Anonimous. Imunisasi Tetanus Toksoid dalam Upaya Pencegahan Tetanus
Neonatorum. Avaliable at: http://www.usu.ac.id.
13. Deswita. 2005. Imunisasi TT (tetanus toxoid) pada ibu hamil (bumil).
14. Anonimous.
Tetanus
Neonatorum.
Avaliable
at:
http//www.
gardengab.com/tetanus-neonatorum, November 2010.
15. Anonimous. Imunisasi Tetanus Toksoid pada Ibu Hamil. Kumpulan Informasi
Kesehatan, 2010.
16. Direktorat Jendral Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Direktorat Bina Obat
Publik dan Perbekalan Kesahatan Tahun 2009. Pedoman Pengelolaan Vaksin.
Jakarta: Departemen Kesehatan RI, 2009.
17. Anonymous. Modul Pelatihan Tenaga Pelaksana Imunisasi Puskesmas. Jakarta:
Direktorat Jendral PP & PL dan Pusdiklat SDM Kesehatan Departemen
Kesehatan RI, 2006
18. Anonymous. Petunjuk Pelaksanaan Program Imunisasi di Indonesia. Jakarta: Sub
Direktorat Imunisasi Direktorat Jendral P2M dan Penyehatan Lingkungan
Departemen Kesehatan RI, 2000.