Anda di halaman 1dari 15

TAKSONOMI BLOOM

Taksonomi Bloom merujuk pada taksonomi yang dibuat untuk tujuan pendidikan. Taksonomi
ini pertama kali disoleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi
menjadi beberapa domain (ranah, kawasan).
Tujuan pendidikan dibagi ke dalam tiga domain, yaitu:
1.

Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek
intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.

2.

Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan
emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.

3.

Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek


keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.
Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang

berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku
yang paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku
dari tingkat yang lebih rendah, seperti misalnya dalam ranah kognitif, untuk mencapai pemahaman
yang berada di tingkatan kedua juga diperlukan pengetahuan yang ada pada tingkatan pertama.
Taksonomi Bloom dalam klasifikasi aspek kognitif mengalami revisi dari Taksonomi Bloom
versi lama ke Taksonomi Bloom versi baru. Klasifikasi Bloom dalam aspek kognitif versi lama
memiliki 6 level mulai dari C1 sampai level C6 yaitu :
C1. Pengetahuan
Pengetahuan adalah aspek yang paling dasar dalam taksonomi Bloom. Aspek pengetahuan
menekankan pada proses mental dalam mengingat dan mengungkapkan kembali informasiinformasi yang telah siswa peroleh secara tepat sesuai dengan apa yang telah mereka peroleh
sebelumnya (Suherman, dkk., 2001). Informasi-informasi yang dimaksud disini berkaitan dengan
simbol-simbol maematika, terminologi dan peristilahan, fakta-fakta, keterampilan dan prinsipprinsip.. Secara terinci, jenjang pengetahuan ini mencakup hal hal seperti berikut ini :
1.1

Pengetahuan tentang fakta yang spesifik. Dalam hal ini siswa dituntut untuk mengingat
kembali materi yang mirip sama dengan materi yang telah dipelajarinya dalam kegiatan
belajar mengajar. Missal, diberikan beberapa bilangan cacah dan bukan bilangan cacah, siswa
( kelas I SMP ) dapat memilih bilangan yang bukan anggota bilangan cacah.

1.2

Pengetahuan tentang terminology. Dalam hal ini siswa dituntut untuk mengingat kembali
istilah istilah atau symbol symbol yang berkenaan dengan konsep matematika. Missal,
siswa dapat mengingat kembali definisi himpunan kosong.

1.3

Kemampuan untuk mengerjakan algoritma ( manipulasi ) rutin.

C2. Pemahaman
Aspek pemahaman adalah tingkatan yang paling rendah dalam aspek kognisi yang
berhubungan dengan penguasaan atau mengerti tentang sesuatu (Suherman, dkk., 2001). Dalam
tingkatan ini siswa diharapkan mampu memahami ide-ide matematika bila mereka dapat
menggunakan beberapa kaidah yang relevan tanpa perlu menghubungkan dengan ide-ide lain

dengan segala implikasinya. Secara teperinci, jenjang kognitif tahap pemahaman ini mencakup hal
hal berikut :
2.1

Pemahaman konsep. Suatu konsep terbentuk dari komponen konsep, dan komponen ini
merupakan suatu fakta yang spesifik. Dengan demikian suatu konsep dapat dipandang sebagai
kumpulan fakta spesifik yang saling terkait secara fungsional. Misal, siswa dapat mengurutkan
bilangan rasional, dari yang terkecil ke yang terbesar.

2.2

Pemahaman prinsip, aturan dan generalisasi. Soal soal yang berkenaan dengan aspek ini
berkenaan dengan hubungan antara konsep dan elemennya. Missal, siswa dapat menentukan
sifat yang berlaku pada suatu pecahan.

2.3

Pemahaman terhadap struktur matematika. Soal yang berkenaan dengan jenjang kognitif ini
menuntut siswa untuk memahami tentang sifat sifat dasar dalam struktur matematika.
Missal, dengan menggunakan sifat distributive, siswa dapat mencari nilai dari variable dalam
suatu persamaan.

2.4

Kemampuan untuk membuat transformasi. Kemampuan ini dimaksudkan sebagai


kemampuan siswa untuk mengubah suatu bentuk matematika tertentu menjadi bentuk lainnya.
Missal, siswa dapat mengubah bentuk pecahan biasa menjadi pecahan decimal.

2.5

Kemampuan untuk mengikuti pola berpikir. Matematika kebanyakan disajikan secara


deduktif formal. Kemampuan untuk dapat mengikutinya disebut kemampuan mengikuti pola
berpikir matematik. Missal, jika ditentukan dua segitiga sama kaki berimpit alasnya, siswa
dapat membuktikan bahwa selisih antar sudut sudut alasnya sama.

2.6

Kemampuan untuk membaca dan menginterpretasikan masalah social atau data matematika.
Missal, siswa dapat mengubah susatu permasalahan ke dalam bentuk matematika serta
menentukan penyelesaiannya.

C3. Penerapan atau Aplikasi


Menerapkan aplikasi ke dalam situasi baru bila tetap terjadi proses pemecahan masalah. Pada
aplikasi ini siswa dituntun memiliki kemampuan untuk menyeleksi atau memilih suatu abseksi
tertentu (konsep, hukum, dalil, aturan, gagasan, cara) secara tepat untuk diterapkan dalam situasi
baru dan menerapkannya secara benar. Secara teperinci, jenjang kognitif tahap penerapan ini
mencakup hal hal berikut :
3.1

Kemampuan untuk menyelesaikan masalah rutin. Masalah rutin adalah masalah atau soal
yang materinya sejenis dengan bahan pelajaran, begitupun cara penyelesaiannya. Missal,
siswa dapat menentukan sebuah bilangan dalam basis 7 yang merupakan bilangan prima
ganjil.

3.2

Kemampuan untuk membandingkan. Soal yang masuk ke dalam tahap ini menuntut siswa
untuk dapat menentukan hubungan antara dua kelompok informasi atau lebih kemudian
memberikan penialian berupa keputusan. Perhitungan bisa digunakan dan pengetahuan yang
relevan biasanya diperlukan. Kemampuan penalaran dan berpikir logic sangat diperlukan.
Missal, diberikan beberapa buah data, siswa dapat menentukan data terbesar dan rata
ratanya.

3.3

Kemampuan untuk menganalisis data. Kemampuan ini melibatkan kemampuan membaca,

mengumpulkan, menginterpretasikan, dan memanipulasi informasi. Kemampuan lainnya


adalah menilai suatu permasalahan ke dalam bagian bagian sehingga dapat dibedakan antara
informasi yang relevan dengan yang tidak relevan, serta mampu untuk mengaitkan setiap sub
masalah. Missal, siswa dapat mengidentifikasi dan mengambil keputusan terhadap masalah
yang dihadapi.
3.4

Kemampuan mengenal pola, isomorfisme, dan simetri. Kemapuan ini melibatkan


kemampuan mengingat kembali informasi yang relevan, mentransformasi, komponen
komponen masalah, memanipulasi data dan mengenal hubungan. Missal, ditentukan sebuah
kesamaan dengan beberapa variable, siswa dapat mencari nilai salah satu variabelnya
dinyatakan ndengan variable lain.

C4. Analisis
Dalam analisis, seseorang dituntut untuk dapat menguraikan suatu situasi atau keadaan
tertentu ke dalam unsur-unsur atau komponen-komponen pembentuknya. Tahap analisis ini dibagi
menjadi 3, yaitu :
4.1

Analisis terhadap elemen. Dalam hal ini, siswa dituntut untuk mampu mengidentifikasi
unsure unsure yang terkandung dalam suatu hubungan. Missal, dengan menggunakan suatu
konsep pemfaktoran siswa dapat menentukan himpunan penyelesaian suatu persamaan
eksponen.

4.2

Analisis Hubungan. Dalam hal ini siswa dituntut untuk memiliki kemampuan dalam
mengecek ketepatan hubungan dan interaksi antara unsure unsure dalam soal, kemudian
membuat keputusan sebagai penyelesaiannya. Missal, siswa dapat menentukan nilai variable
dari suatu persamaan kuadrat.

4.3

Analisis tehadap aturan. Hal ini dimaksudkan sebagai analisis tentang pengorganisasian,
sistematika dan struktur yang ada hubungannya satu sama lain.

C5. Sintesis
Pada jenjang ini seseorang dituntut untuk dapat menghasilkan sesuatu yang baru dengan jalan
menggabungkan berbagai faktor yang ada. Tahap sintesis ini dibagi menjadi 2, yaitu :
5.1

Kemampuan untuk menemukan hubungan. Soal soal yang berkenaan dengan tahap ini
berupa kemampuan siswa untuk menyusun kembali elemen elemen masalah dan
merumuskan suatu hubungan dengan penyelesaiannya. Missal, siswa dapat menentukan letak
suatu tempat dari tempat tertentu dengan menggunakan perbandingan.

5.2

Kemampuan untuk menyusun pembuktian. Perlu diketahui bahwa membuktikan bukan


berarti memberi contoh, meskipun contoh itu sebanyak banyaknya. Jadi membuktikan tidak
boleh melalui contoh, pembuktian matematika sifatnya harus berlaku umum ( deduktif
formal ) setelah itu untuk memperjelas bisa diberikan contoh.

C6. Evaluasi (C6)


Seseorang dituntut untuk dapat mengevaluasi situasi, keadaan, pernyataan, atau konsep
berdasarkam suatu kriteria tertentu. Tahap evaluasi ini dibagi menjadi 2, yaitu :

6.1

Kemampaun untuk mengkritik pembuktian. Hal ini berupa kemampuan siswa untuk
memberi komentar, mengupas, menambah, mengurangi, atau menyusun kembali suatu
pembuktian matematika yang telah dipelajarinya.

6.2

Kemampuan untuk merumuskan dan memvalidasi generalisasi. Tahap ini sejalan dengan
tahap analisis, tetapi lebih kompleks. Dalam tahap ini, siswa dituntut untuk merumuskan dan
memvalidasi suatu hubungan. Dalam hal ini, ia bisa diminta menemukan dan membuktikan
pernyataan matematika atau menentukan suatu algoritma dan membuktikannya.

Konsep taksonomi Bloom seperti yang telah disebutkan di atas, telah mengalami revisi atau
perbaikan. Pada dasarnya, masing-masing kategori tetap disusun secara hirarki dari urutan terendah ke
urutan yang lebih tinggi, dari C1 hingga C6. Taksonomi Bloom yang telah mengalami revisi adalah
sebagai berikut:
C1. Mengingat (Remember)
Mengingat kembali pengetahuan yang diperoleh dari ingatan jangka panjang. Adapun proses
dalam ranah kognitif ini adalah :
1.1

Mengenali (recognizing) atau mengidentifikasi : menemukan pengetahuan dari ingatan


jangka panjang yang sesuai dengan materi yang disajikan (misalnya: mengenali tanggaltanggal penting dalam sejarah Amerika)

1.2

Mengingat (recalling) atau menemukan kembali : menemukan hubungan atau kaitan antara
pengetahuan dari ingatan jangka panjang (misalnya: mengingat kembali hari-hari penting
dalam sejarah Amerika)

C2. Memahami (Understand)


Membangun pengertian atau makna dari pesan berupa perintah atau instruksi, termasuk secara
lisan, tertulis dan hubungan dengan kejadian yang sebenarnya atau dalam bentuk gambar. Adapun
proses dalam ranah kognitif tingkat ini meliputi:
2.1

Menafsirkan (interpreting) atau mengartikan/ menggambarkan ulang : mengubah dari satu


bentuk gambaran (misal: angka) ke bentuk lain (misal: kalimat) (misalnya: menafsirkan hal
penting yang disampaikan dan ditulis)

2.2

Memberi contoh (exampliying) atau mengilustrasikan : menemukan contoh yang sesuai dan
cocok atau mengilustrasikan suatu konsep (misal: memberi contoh macam-macam gaya
menggambar artistik)

2.3

Mengklasifikasi (Classifying) atau mengelompokkan : menentukan konsep yang ada pada


suatu materi atau kategori (misal : klasifikasi atau menentukan apakah kasus kelainan jiwa
akan diobservasi atau dideskripsikan)

2.4

Meringkas (summarizing) : meringkas suatu bagian yang umum atau poin-poin utama dari
suatu tema (misal: menulis ringkasan singkat dari kejadian-kejadian dalam bentuk gambar
yang direkam)

2.5

Menduga (inferring) atau mengambil kesimpulan atau memprediksi: menggambarkan


kesimpulan secara nyata dari informasi yang disajikan (misal: mempelajari bahasa luar,

menduga atau mengambil kesimpulan mengenai tata bahasa dari contoh yang disajikan)
2.6

Membandingkan (compairing) atau memetakan dan mencocokkan : mendeteksi atau mencari


kesesuaian antara dua ide, objek dan hal-hal yang serupa (misal: membandingkan kejadiankejadian bersejarah dengan keadaan masa kini)

2.7

Menjelaskan (explaining) atau membangun suatu model : membangun hubungan sebabakibat dari suatu sistem (misal: menjelaskan penyebab kejadian penting pada abad ke-18 di
Perancis)

C3. Mengaplikasikan (Apply)


Menerapkan atau menggunakan suatu tata cara yang telah diberikan pada suatu keadaan.
Proses kognitif yang dilalui adalah :
3.1

Menjalankan (executing) : menerapkan suatu cara yang telah dikenal untuk tugas yang telah
biasa dijumpai (misal: membagi atau memisahkan satu kelompok angka dari kumpulan angka
yang lain, dimana kedua kelompok angka tersebut beranggotakan lebih dari satu angka)

3.2

Mengimplementasikan (implementing) : menggunakan cara yang telah ada untuk


menyelesaikan tugas yang belum dikenal sebelumnya (misal: menggunakan Hukum Newton 2
dalam keadaan yang tepat atau khusus).

C4. Menganalisis (Analyze)


Memutuskan suatu material ke dalam unsur-unsur pokok dan menentukan bagaimana
hubungan/kaitan dari satu unsur tersebut dengan unsur yang lain dan kedalam tujuan atau struktur
umum dari suatu materi. Proses kognitif yang dilalui adalah:
4.1

Membedakan (diffrentiating) atau memilih : membedakan bagian yang memiliki hubungan


dengan bagian yang tidak memiliki hubungan atau memisahkan bagian yang penting dengan
bagian yang tidak penting dari materi yang telah disajikan (misal: membedakan antara angka
yang berhubungan dengan angka yang tidak berhubungan dalam masalah kalimat matematika)

4.2

Mengorganisir (organizing) atau menemukan hubungan, mengintegrasi, garis besar, uraian


dan menyusun secara struktur : menentukan bagaimana suatu unsur atau fungsi sesuai dengan
strukturnya (misal: menentukan kesesuaian fakta-fakta dalam cerita sejarah dengan faktafakta yang sesuai atau keterangan sejarah yangbertentangan)

4.3

Menemukan makna tersirat (attributing) : menetukan pokok permasalahan, bias, nilai atau
maksud tersembunyi dari materi yang ada (misal: menentukan pokok permasalahan atau tema
yang diambil penulis essay dari sudut pandang politik)

C5. Evaluasi (Evaluate)


Membuat penilaian atau keputusan berdasarkan kriteria atau standar. Proses ini meliputi:
5.1

Memeriksa (checking) atau mengkoordinasi, menemukan, mengawasi dan menguji :


menemukan ketidaksesuaian atau kesalahan antara proses dan hasil; menentukan bahwa
proses dan hasil memiliki kesesuaian; mengawasi ketidakefektifan suatu cara dalam penerapan
(misal: menentukan bahwa ilmuwan mengambil kesimpulan dari data observasi yang
diperoleh)

5.2

Mengritik (Critiquing) atau memutuskan : menemukan ketidaksesuaian antara hasil dan


kriteria dari luar, menentukan bahwa hasil sesuai atau tidak, menemukan kesalahan dari suatu

cara yang menyebabkan suatu masalah ( memutuskan satu dar dua metode atau cara yang
terbaik untuk memecahakan permasalahan yang ada).
C6. Mencipta (Create)
Mengambil semua unsur pokok untuk membuat sesuatu yang memiliki fungsi atau
mengorganisasikan kembali element yang ada ke dalam stuktur atau pola yang baru. proses ini
meliputi :
6.1

Merumuskan (generating) : membuat hipotesis atau dugaan sebagai alternatif berdasarkan


kriteria yang ada (misal: menyusun hipotesis untuk laporan dari fenomena yang telah diamati)

6.2

Merencanakan (planning) atau mendesain : merencanakan cara untuk menyelesaikan tugas


(misal: rencana penelitian dengantelaah pustaka ditulis berdasarkan topik sejarah yang ada)

6.3

Memproduksi (producing) : menemukan atau menghasilkan suatu produk ( menciptakan


suatu lingkungan atau keadaan untuk tujuan tertentu)

dimensi pengetahuan terdiri atas pengetahuan faktual (factual knowledge), pengetahuan konseptual
(conceptual knowledge), pengetahuan prosedural (procedural knowledge), dan pengetahuan
metakognisi (metacognitive knowledge).
1.

Pengetahuan faktual adalah pengetahuan dasar yang harus diketahui siswa sehingga siswa
mampu memahami suatu masalah atau memecahkan masalah tersebut.

2.

Pengetahuan konseptual adalah pengetahuan-pengetahuan dasar yang saling berhubungan dan


dengan struktur yang lebih besar sehingga dapat digunakan secara bersama-sama

3.

Pengetahuan prosedural adalah pengetahuan mengenai bagaimana untuk melakukan sesuatu ;


metode untuk mencari sesuatu , suatu pengetahuan yang mengutamakan kemampuan, algoritma,
teknik dan metode.

4.

Pengetahuan metakognisi adalah pengetahuan yang melibatkan pengetahuan kognitif secara


umum.

Perbedaan taksonomi bloom yang lama dan yang telah direvisi


Taksonomi Bloom dalam klasifikasi aspek kognitif mengalami revisi dari Taksonomi Bloom versi
lama ke Taksonomi Bloom versi baru. Klasifikasi Bloom dalam aspek kognitif versi lama memiliki 6
level mulai dari C1 sampai level C6 yaitu pengetahuan, kepahaman, penerapan, penguraian, pemaduan,
dan penilaian. Dalam versi lama ini, sistem Klasifikasi Bloom memiliki satu dimensi yaitu dimensi
proses kognitif. Versi baru dalam Klasifikasi Bloom tentang aspek kognitif memiliki dua dimensi, yaitu
dimensi proses kognitif dan dimensi pengetahuan kognitif. Dimensi pengetahuan kognitif ini memiliki
memiliki 4 kategori yaitu pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual, pengetahuan prosedural, dan
pengetahuan metakognitif. Namun kedua dimensi dalam Taksonomi Bloom versi baru ini belum
dipadukan. Pada Taksonomi Bloom versi baru , dimensi proses kognitif juga dibagi menjadi 6 level.
Keenam level ini mengalami beberapa revisi . Tabel berikut ini menggambarkan perbedaan keenam
level proses kognitif antara Klasifikasi Bloom versi lama dengan Klasifikasi Bloom versi baru.

Level

Klasifikasi Bloom versi lama

Klasifikasi Bloom versi revisi

C1

Pengetahuan

Mengingat

C2

Pemahaman

Memahami

C3

Penerapan

Menerapkan

C4

Analisis

Menganalisis

C5

Sintesis

Mengevaluasi

C6

Evaluasi

Mencipta

Dari tabel di atas, terlihat perbedaan antara keenam level Taksonomi Bloom versi lama dengan
Taksonomi Bloom versi baru. Perbedaan terletak pada level C1 yang pada versi lama adalah
Pengetahuan menjadi Mengingat. Pada level C2, Kepahaman dipertegas menjadi Memahami. Pada
level C3, Penerapan dirubah sebutkan menjadi Menerapkan , demikian pula level C4 mengalami
perubahan dari Analisis menjadi Menganalisis. Perubahan yang paling mendasar ada pada level C5 dan
C6. Penilaian pada versi lama menempati level C6 , sementara pada versi baru Penilaian menempati
level C5. Pemaduan ( Sintesis ) pada versi lama dihilangkan dan pada level baru berubah menjadi
Create ( Mencipta ).
Contoh soal penerapan Taksonomi Bloom :
Taksonomi Bloom yang lama
C1. Pengetahuan
Jenjang ini meliputi kemampuan menyatakan kembali fakta, konsep, prinsip, prosedur yang telah
dipelajari oleh siswa. Contoh : Simbol unsur perak, tembaga, dan emas secara berturut-turut adalah..
C2. Pemahaman
Dalam tingkatan ini siswa diharapkan mampu memahami ide-ide matematika bila mereka dapat
menggunakan beberapa kaidah yang relevan tanpa perlu menghubungkan dengan ide-ide lain dengan
segala implikasinya.
Contoh. (SMP)
Terdapat sebuah segitiga siku-siku dengan panjang kedua sisinya adalah 3 cm dan 4 cm. Berapakah
sisi yang ketiga?
C3. Penerapan
Penerapan adalah kemampuan kognisi yang mengharapkan siswa mampu mendemonstrasikan
pemahaman mereka berkenaan dengan sebuah abstraksi matematika melalui penggunaannya secara
tepat ketika mereka diminta untuk itu
Contoh. (SD)
Manakah yang lebih luas, kebun yang berbentuk persegi panjang dengan panjang 314 m dan 12 m
atau kolam renang yang berbentuk lingkaran dengan jari-jari lingkarannya 12 m?

Jawab.
Luas persegi panjang di atas yaitu 3768 cm2 sedangkan luas lingkarannya yaitu 452,6 cm2. Jadi lebih

luah persegi panjang.


C4. Analisis
Analisis adalah adalah kemampuan untuk memilah sebuh struktur informasi ke dalam komponenkomponennya sedeikian sehingga hierarki dan keterkaitan antar idea dalam informasi tersebut menjadi
tampak jelas
Contoh. (SMP)
Mengapa setiap persegi adalah persegi panjang
C5. Sintesis
Sintesis adalah kemampuan untuk mengkombinasikan elemen-elemen untuk membentuk sebuah
struktur yang unik atau system
Contoh. (SMA)
Buktikan bahwa jumlah n buah bilangan asli ganjil berurutan sama dengan n2?
Jawab.
Jmlah n suku pertama adalah:
1 + 3 + 5 + + (2n - 1) = n x n
Untuk n = 1, persamaan di atas menjadi 1 = 1 x 1. Ini benar. Kemudian, andaikan persamaan itu benar
untuk n = k, maka :
1 + 3 + 5 + + (2k - 1) = k x k.
Kita tambahkan 2 (k + 1) - 1 kepada kedua ruas persamaan terakhir. Maka diperoleh:
1 + 3 + 5 + (2k - 1) + 2 (k+1) 1 = k x k + 2 (k+1) 1
= k2 + 2k + 1
= (k + 1) (k + 1)
Bentuk 1 + 3 + 5 + (2k - 1) + 2 (k+1) 1 = (k + 1) (k + 1) tidak lain dari bentuk persamaan
pertama untuk n = k + 1. Karena persamaan pertama itu benar untuk n = 1, n = k, n= k + 1, maka
persamaan itu benar untuk semua n bilangan asli.

C6. Evaluasi
Evaluasi adalah kegiatan membuat penilaian (judgment) berkenaan dengan nilai sebuah idea,
kreasi, cara atau metode
Contoh. (SMA)
Buktikan bahwa jumlah dua buah bilangan ganjil adalah bilangan genap?
Jawab.
Andaikan m dan n adalah sembarang dua bilangan bulat, maka 2m+1 dan 2n+1 tentunya masing
masing merupakan bilangan ganjil. Jika kita jumlahka:
(2m+1)+(2n+1) = 2(m+n+1)
Karena m dan n bilangan bulat, maka (m+n+1) bilangan bulat, sehingga 2(m+n+1) adalah bilangan
genap. Jadi jumlah dua buah bilangan ganjil selalu genap.

Taksonomi Bloom yang baru


C1. Mengingat
Sebutkan rumus luas permukaan tabung ?
Alasan :
Pada C1, kerja otak hanya mengambil informasi yang telah diingat dalam satu langkah dan
menulisnya secara apa adanya. Untuk menjawab soal di atas, otak tidak berpikir namun hanya mencari
rumus luas permukaan tabung dalam ingatan lalu kemudian menuliskan bahwa rumus luas permukaan
tabung adalah L=2(r2+rt)
C2. Memahami
Jelaskan apa perbedaan dari luas permukaan tabung dan volume tabung ?
Alasan :
Pada C2, kerja otak mengambil informasi dalam satu langkah dan menjelaskannya secara rinci.
Untuk menjawab soal di atas, otak akan mengambil informasi tentang luas dan volume tabung dalam
sekali langkah kemudian menjelaskan luas dan volume tabung secara bersama-sama untuk mengetahui
perbedaannya. Jawaban soal akan bervariasi. Jadi untuk memeriksanya dapat dilihat apakah jawaban
yang diberikan sudah mengandung poin-poin penting.
C3. Menerapkan
Berapa volume tabung dengan jari-jari 10 cm dan tingginya 7 cm ?
Alasan :
Pada C3, kerja otak mengambil informasi dalam satu langkah dan menerapkan informasi itu untuk
memecahkan permasalahan. Untuk menjawab soal di atas, setelah mengetahui permasalahannya
tentang volume tabung maka otak akan mencari ingatan tentang rumus volume tabung. Setelah itu
langsung diterapkan dan bisa memecahkan permasalahan.
Diketahui : r = 10 cm
t = 7 cm
Ditanya : volume tabung ?
Jawab : Rumus volume tabung: V=r2t
Volume tabung =r2t
=(102)(7)
=700 cm3
C4. Menganalisis
Umar mempunyai botol berbentuk tabung dengan jari-jari 10 cm dan tingginya 50 cm. Umar ingin
mengisi penuh botol tersebut dengan bensin. Jika harga bensin di SPBU Pertamina Rp4.500 per liter,
berapa uang yang harus disediakan oleh Umar ?
Alasan :
Pada C4, kerja otak mengambil informasi dalam satu langkah dan menerapkan informasi itu untuk
memecahkan permasalahan. Akan tetapi informasi itu belum bisa memecahkan permasalahan, sehingga
dibutuhkan informasi lain yang berbeda untuk membantu memecahkan permasalahan. Untuk
menjawab soal diatas, permasalahannya adalah berapa uang yang harus disediakan Umar untuk
mengisi penuh botol. Untuk itu perlu diketahui jumlah bensin yang harus dibeli, dalam hal ini sama
dengan volume botol karena botol akan diisi penuh.

Diketahui : harga bensin = Rp4.500


r = 10 cm
t = 50 cm
didekati dengan 3,14
Ditanya : Berapa uang yang harus disediakan Umar
Jawab : Volume tabung = r2t
= 3,14 x 102 x 50
= 15700 cm3
Volume dalam liter = 15,7 liter
Harga 15,7 liter bensin = 15,7 x Rp 4.500 = Rp 70.650
Jadi uang yang harus disediakan Umar untuk membeli bensin adalah Rp 70.650
C5. Mengevaluasi
Diketahui tabung A dengan volume 1500 cm3 dan tinggi 15 cm serta tabung B dengan luas
permukaan 500 cm2 dan jari-jarinya 10 cm. Tentukan apakah tabung A dan B merupakan tabung
dengan ukuran yang sama? Jelaskan jawabanmu!
Alasan :
Pada C5, suatu permasalahan menuntut adanya keputusan. Keputusan diambil setelah dilakukan analisa
secara menyeluruh. Untuk menjawab soal di atas perlu mengetahui apakah tabung A dan B mempunyai
jari-jari dan tinggi yang sama. Oleh karena itu harus dicari jari- jari tabung A dan tinggi tabung B agar
kedua tabung bias dibandingkan ukurannya.
Diketahui : VA= 1500 cm3
tA = 15 cm
LB = 500 cm2
rB = 10 cm
Ditanya : Apakah tabung A dan B memiliki ukuran yang sama ?

Jawab :
Tabung A
VA = rA2t
1500 = rA2(15)
rA2=1500 15
rA2=100
rA=100
rA=10

Tabung A
LB=2(rB2+rBtB )
500=2(102+(10)tB )
500=2(100+(10)tB )
500=200+20tB
500-200=20tB
300=20tB
tB =30020
tB =15 cm

Diperoleh rA= rB = 10 cm, tA= tB=15 cm


Jadi tabung A dan B memiliki ukuran yang sama.

C6. Mencipta
Jelaskan secara matematika hubungan antara luas permukaan dan volume
tabung!

Alasan :

Pada C6, otak dituntut untuk memikirkan sesuatu yang baru yang bias digunakan untuk memecahkan
persoalan. Misalnya menurunkan rumus yang baru dari rumus yang sudah ada Penyelesaiannya dimulai
dari menuliskan rumus luas permukaan dan volume tabung!
L=2(r2+rt)
V=r2t
Kemudian mencari hubungannya
V=r2t
r2=Vt
r=Vt . Rumus 1
L=2(r2+rt)
L=2Vt2+2Vtt
L=2Vt+ Vt .Rumus 2
Jadi hubungannya dapat dilihat pada rumus 2. Rumus 2 dapat digunakan langsung untuk mencari luas
permukaan tabung jika volume dan tinggi tabung diketahui.
Tujuan Instruksional umum dan Tujuan Instruksional Khusus
Tujuan instruksional merupakan penjabaran dari tujuan pendidikan dalam sistem pendidikan,
secara nasional tujuan pendidikan tercantum dalam pembukaan Undang undang dasar 1945 yakni
mencerdaskan kehidupan bangsa. Gambaran tentang ciri ciri kedewasaan yang perlu dikembangkan
pada anak didik dapat ditemukan dalam penentuan perumusan mengenai tujuan pendidikan, baik pada
taraf nasional maupun taraf pengelolaan institusi pendidikan. Perumusan suatu tujuan pendidikan yang
menetapkan hasil yang harus diperoleh siswa selama belajar, dijabarkan atas pengetahuan dan
pemahaman, keterampilan, sikap dan nilai yang telah menjadi milik siswa.
Adanya tujuan tertentu memberikan arah pada usaha para pengelola pendidikan dalam berbagai
taraf pelaksanaan. Dengan demikian usaha mereka menjadi tidak sia sia karena bekerja secara
profesional dengan berpedoman pada patokan yang jelas. Berkaitan dengan penentuan tujuan
pendidikan perlu dibedakan antara pengelolaan pendidikan pada taraf:
1.

Organisasi makro : sistem pendidikan sekolah pada taraf nasional, dengan penjabarannya dalam
jenjang jenjang dan jenis jenis pendidikan sekola, yang semuanya harus menuju ke pencapaian tujuan
pendidikan nasional sesuai dengan progam pendidikan masing masing

2.

Organisasi meso : pengaturan progam pendidikan di sekolah tertentu sesuai dengan ciri ciri khas
jenjang tertentu dan jenis pendidikan yang di kelola sekolah itu

3.

Organisasi mikro : perencanaan dan pelaksanaan suatu proses belajar mengajar tertentu di dalam
kelas yang diperuntukkan kelompok siswa tertentu. (Winkel W.S, 2004)
Tujuan instruksional ternyata masuk ke dalam organisasi mikro karena mencakup kesatuan
bidang studi tertentu yang menjadi pokok bahasan seperti tercantum pada bagan hubungan hierarkis
antara berbagai tujuan pendidikan sekolah, taraf organisasi pendidikan sekolah dan taraf pengelolaan
pendidikan sekolah dibawah ini:

Hierarki Tujuan Pendidikan

Taraf Organisasi

Taraf pengelolaan
Keseluruhan usaha

Tujuan Pendidikan Nasional

Makro

pendidikan masyarakat di

Tujuan Pendidikan
Institusional
Tujuan Pendidikan Kurikuler

Meso

Meso

negara Indonesia
Jenjang pendidikan sekolah
tertentu dan jenis pendidikan
Kesatuan kurikulum tertentu
yang mencakup sejumlah
bidang studi
Kesatuan bidang studi

Tujuan Instruksional Umum

Tujuan Instruksional Khusus

Mikro

Mikro

tertentu yang mencakup


sejumlah pokok bahasan
Satuan pokok bahasan atau
topik pelajaran tertentu

Jadi isi tujuan pendidikan akan berbeda beda tergantung pada taraf organisasi manakah tujuan itu
ditetapkan. Sudah barang tentu isi tujuan pendidikan pada taraf organisasi yang satu tidak bertentangan
dengan yang lain, melainkan tujuan pada taraf yang lebih bawah menjabarkan dan mengkhususkan
tujuan pada taraf organisasi yang lebih tinggi. Maka perumusan tujuan instruksional akan lebih
mengkhususkan tujuan pendidikan. Tujuan instruksional umum menggariskan hasil hasil di bidang
studi tertentu yang seharusnya dicapai siswa, adanya hasil akan nampak dalam seluruh prestasi belajar
yang diberikan oleh siswa. intinya tujuan instruksional adalah kemampuan yang harus diperoleh atau
dicapai oleh siswa yang menjadi tujuan dari proses belajar mengajar.
Dalam pengelolaan dan pengembangan pengajaran diperlukan suatu model yang dipakai sebagai
pegangan yang mencakup seluruh komponen pokok yang harus dipertimbangkan, dibuat, diatur dan
dilaksanakan. Seperti model yang dikembangkan oleh van gelder yang disebut Didactische
Analyse dengan penjelasan sebagai berikut:
1.

Tujuan Instruksional : kemampuan yang harus diperoleh siswa

2.

Kemampuan siswa pada awal pelajaran : kemampuan yang diperlukan untuk mencapai tujuan
instruksional (prasyarat)

3.

Materi pelajaran : bahan pelajaran

4.

Prosedur didaktis : metode didaktis yang digunakan oleh guru

5.

Kegiatan belajar : aktivitas belajar yang dijalankan siswa

6.

Peralatan ,engajar dan belajar : berbagai media pengajaran dan alat bantu

7.

Evaluasi hasil belajar : penilaian terhadap prestasi siswa


Dalam buku beknopte didaxologie, E. De Corte juga menyajikan suatu model pembelajaran yang
merupakan pengembangan lebih lanjut dari model van gelder dengan penjelasan sbb:

1.

Tujuan Instruksional : Apa yang menjadi tujuan proses belajar mengajar

2.

Keadaan awal diartikan menjadi 2 cara :

a.

Dalam arti luas : keadaan guru, siswa, jaringan sosial di sekolah dan di kelas

b.

Dalam arti sempit : kemampuan yang harus diperlukan untuk mencapai tujuan
instruksional

3.

Evaluasi

4.

Proses belajar : kegiatan mental yang dilakukan siswa

5.

Prosedur didaktis : cara cara mengatur kegiatan siswa

6.

Materi pelajaran : menyangkut isi dari tujuan instruksional

7.

Pengelompokan siswa : tata cara membentuk kelompok

8.

Media pengajaran : alat bantu yang digunakan guru

9.

Proses mengajar belajar : interaksi antara kegiatan guru dan kegiatan siswa selama periode waktu
tertentu
Dari beberapa tulisan di atas ada beberapa definisi yang disampaikan oleh beberapa tokoh seperti
Robert F. Magner (1962) yang mendefinisikan tujuan instruksional sebagai tujuan perilaku yang
hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa sesuai kompetensi. Juga ada Eduard L. Dejnozka
dan David E. Kavel (1981) yang mendefinisikan tujuan instruksional adalah suatu pernyataan
spefisik yang dinyatakan dalam bentuk perilaku yang diwujudkan dalam bentuk tulisan yang
menggambarkan hasil belajar yang diharapkan serta Fred Percival dan Henry Ellington (1984) yang
mendefinisikan tujuan instruksional adalah suatu pernyataan yang jelas menunjukkan penampilan /
keterampilan yang diharapkan sebagai hasil dari proses belajar. Setelah kita mengetahui beberapa
definisi tujuan instruksional yang dikemukakan dari beberapa tokoh kita dapat mengambil beberapa
manfaat yaitu:
1.

Kita dapat menentukan tujuan proses belajar mengajar

2.

Menentukan persyaratan awal instruksional

3.

Merancang strategi instruksional

4.

Memilih media pembelajaran

5.

Menyusun instrumen tes sebagai evaluasi belajar

6.

Melakukan tindakan perbaikan pembelajaran.

Dalam proses belajar mengajar tujuan instruksional dapat di bagi menjadi 2 yaitu tujuan
instruksional umum yang menggariskan hasil hasil di aneka bidang studi yang harus dicapai siswa dan
tujuan instruksional khusus (TIK) yang merupakan penjabaran dari tujuan instruksional umum yang
menyangkut suatu pokok bahasan sebagai tujuan pengajaran yang konkrit dan spesifik.
B. Tujuan Instruksional umum dan Tujuan Instruksional Khusus
Ada beberapa langkah yang harus dilalui untuk merumuskan tujuan instruksional khusus.
Pertama, usahakan menggunakan kata kata yang menuntut siswa berbuat sesuatu yang menampakkan
hasil belajarnya dan sekaligus menunjukkan jenis perilaku (behavioral aspect) yang diharapkan,
misalnya siswa akan mengetahui perbedaan antara jenis karya sastra dan sastra puisi, kurang tepat
karena kata mengetahui hanya menunjuk pada kemampuan internal. Lebih baik kalau siswa akan
melakukan sesuatu seperti menyebutkan secara tertulis ciri khas dari jenis karya sastra puisi dan
sastra prosa dan memberikan suatu contoh tentang masing masing karya. Berdasarkan apa yang ditulis
yang kemudian di baca baru dapat ditentukan apakah siswa mengetahui perbedaan antara 2 jenis karya

itu. Prestasi tertulis ini menampakkan dengan jelas, apakah hasil yang dituju telah tercapai dan hasil
macam apa yang diperoleh yaitu pengetahuan. Kata menyebutkan secara tertulis menunjukkan
tingkah laku yang dapat diamati
Kedua, perlu dijelaskan terhadap hal apa siswa harus melakukan sesuatu (isi). Ini pun perlu
dijelaskan supaya se spesifik mungkin. Misal TIK yang dirumuskan sbb Siswa akan menunjukkan
sikap positif terhadap kebudayaan nasional, dapat lebih dikhususkan dengan mengatakan siswa akan
membuktikan penghargaannya terhadapa seni tari nasional dengan ikut membawakan suatu tarian
dalam perpisahan kelas.
Ketiga, perlu dijelaskan persyaratan yang berlaku,bila siswa akan melakukan sesuatu, sesuai
dengan tujuan intruksional khusus. Persyaratan itu dapat menyangkut bentuk hasl belajar seperti secara
tertulis atau secara lisan dan dapat menyangkut informasi yang diberikan.
Keempat, perlu ditentukan suatu norma mengenai taraf prestasi minimal yang diberlakukan. Ini
berarti bahwa siswa akan mampu melakukan sesuatu dalam batas paling sedikit atau paling banyak.
Norma yang menentukan taraf minimal dapat menyangkut lamanya waktu, dapat menyebutkan jumlah
atau jumlah kesalahan yang boelh dibuat dan dapat menyangkut taraf ketelitian dan keterampilan.
Karena tekanan yang diberikan pada prestasi belajar siswa yang berlangsung nampak dalam perilaku
yang dapat di amati, TIK dianggap sebagai suatu sasaran tingkah laku nyata( behavioral
objective). Adanya serangkaian sasaran yang demikian membawa keuntungan sejauh proses belajar
mengajar terarah pada tujuan yang spesifik dan konkret.

C. Klasifikasi Tujuan Instruksional Menurut Jenis Perilaku (internal)


Ilmu psikologi mengenal pembagian aspek kepribadian atas tiga kategori yaitu aspek kognitif,
aspek afektif dan aspek psikomotorik. Aspek kognitif yang mencakup pengetahuan serta pemahaman,
aspek afektif yang mencakup perasaan, minat, motivasi, sikap kehendak serta nilai dan aspek
psikomotorik yang mencakup pengamatan dan segala gerak motorik. Dalam kenyataannya dasar
pembagian yang demikian kerap menjadi pedoman dalam menggolongkan segala jenis perilaku.
Kegunaan dari suatu sistem klasifikasi mengenai tujuan instruksional termasuk tujuan intruksional
khusus adalah kita dapat memperoleh gambaran tujuan tujuan instruksional ditinjau dari segi jenis
perilaku yang mungkin dicapai oleh siswa. Menurut Bloom dan kawan kawan pengklasifikasian jenis
perilaku disusun secara hierarkis sehingga menjadi taraf taraf yang menjadi semakin kompleks
a). Kognitif :
1.

Mencakup pengetahuan ingatan yang pernah dipelajari dan disimpan dalam ingatan

2.

Mencakup pemahaman untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari

3.

Mencakup kemampuan menerapkan suatu kaidah atau metode yang baru

4.

Mencakup kemampuan untuk merinci suatu kesatuan

5.

Mencakup kemampuan membentuk suatu kesatuan

6.

Mencakup kemampuan untuk membentuk suatu pendapat


b). Afektif :

1.

Mencakup kepekaan akan adanya suatu perangsang dan kesediaan untuk memperhatikan

2.

Mencakup kerelaan untuk memperhatikan secara aktif

3.

Mencakup kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu

4.

Mencakup kemampuan untuk membentuk suatu sistem nilai

5.

Mencakup kemampuan untuk menghayati nilai nilai kehidupan


c). Psikomotorik :

1.

Mencakup kemampuan untuk membedakan ciri ciri fisik

2.

Mencakup kemampuan untuk menempatkan dirinya dalam memulai gerakan

3.

Mencakup kemampuan untuk melakukan sesuatu rangkaian gerak gerik

4.

Mencakup kemampuan untuk melakukan sesuatu rangkaian gerak gerik dengan lancar

5.

Mencakup kemampuan untuk melaksanakan suatu keterampilandengan lancar, efisien dan tepat

6.

Mencakup kemampuan untuk mengadakan perubahan dan menyesuaikan Pola gerak gerik yang
mahir

7.

Mencakup kemampuan untuk melahirkan aneka pola gerak gerik yang baru
C. Klasifikasi Tujuan Instruksional Menurut isi
Dalam suatu TIK dibedakan dua aspek yaitu aspek perilaku yang dituntut dari siswa dan aspek
terhadap hal apa perilaku itu yang harus dilakukan(isi =content). Untuk istilah isi kerap digunakan pula
istilah materi dan bahan. Istilah isi menunjukkan pada aspek tertentu dalam tujuan instruksional,
terhadap hal apa siswa harus melakukan ssuatu sesuai jenis perilaku yang dituntut. Istilah materi /
bahan pelajaran menunjuk pada hal hal yang dilakukan selama pengalaman belajar siswa berlangsung.
Klasifikasi tujuan instruksional menurut aspek isi biasanya dikaitkan dengan struktur yang terdapat
dalam cabang cabang ilmu yang mendasari aneka bidang studi yang di ajarkan di sekolah seperti skema
dibawah ini yang menghubungkan antara tujuan instruksional, aspek isi tujuan instruksional dan materi
/ bahan pelajaran.
Tujuan instruksional
Isi tujuan instruksional
sebagai
Menyebutkan
namaSeokarno
presiden RI
Menjelaskan
bahan

besi

pertama republik Indonesia


mengapaRelasi antara pemanasan
yangpemuaian

dipanaskan memuai
Menunjukkan kerelaan
untuk melaporkan secara
obyectif

presiden

Objektivitas laporan

dan