Anda di halaman 1dari 16

PENDAHULUAN

Penyakit batu empedu merupakan masalah kesehatan yang penting dan banyak
ditemukan hampir di seluruh belahan dunia. Sebagian besar pasien batu empedu tidak
menunjukkan dan tidak merasakan gejala yang khas dan akhirnya akan mengalami komplikasi.
Salah satu komplikasi yang paling sering terjadi pada pasien batu empedu adalah kolesistitis
akut. Batu empedu umumnya ditemukan di kandung empedu, tetapi batu tersebut dapat
bermigrasi melalui duktus sistikus ke dalam saluran empedu dan akhirnya menjadi batu saluran
empedu.
Tinjauan pustaka ini akan membahas kolelitiasis beserta dengan komplikasi utamanya,
yaitu kolesistitis akut.

ISI
Anamnesis
Anamnesis merupakan wawancara medis yang merupakan tahap awal dari rangkaian
pemeriksaan pasien, baik secara langsung atau tidak langsung. Tujuan dari anamnesis adalah
mendapatkan informasi menyeluruh dari pasien yang bersangkutan. Informasi yang dimaksud
adalah data medis organobiologis, psikososial, dan lingkungan pasien. Selain itu, tujuan lainnya
yang tidak kalah penting adalah membina hubungan antara dokter dan pasien yang professional
dan optimal. Data anamnesis terdiri atas beberapa kelompok data penting:1
1. Identitas pasien
2. Riwayat penyakit sekarang
3. Riwayat penyakit dulu
4. Riwayat kesehatan keluarga
5. Riwayat pribadi, sosial-ekonomi, budaya
Setengah sampai dua pertiga penderita batu kandung empedu adalah asimptomatik atau
tidak ada gejala. Keluhan yang mungkin timbul berupa dyspepsia yang kadang disertai intolerans
terhadap makanan berlemak.

Pada penderita batu kandung empedu simptomatik, keluhan utamanya berupa nyeri di
daerah epigastrium, kuadran kanan atas atau hipokondrium kanan. Rasa nyeri lainnya adalah
kolik bilier yang mungkin berlangsung lebih dari 30 menit dan kadang baru menghilang setelah
beberapa jam kemudian. Timbulnya nyeri biasanya perlahan, tapi pada sepertiga kasus biasanya
timbul secara tiba-tiba. Penyebaran nyeri dapat ke punggung bagian tengah, scapula, atau ke
puncak bahu. Biasanya nyeri juga diseritai mual dan muntah.
Kurang lebih seperempat penderita melaporkan bahwa nyeri menghilang setelah makan
antacid. Kalau terjadi kolesistitis, keluhan nyeri menetap dan bertambah pada waktu menarik
nafas dalam dan sewaktu kandung empedu tersentuh ujung jari tangan sehingga pasien berhenti
menarik nafas, yang merupakan tanda rangsangan peritoneum setempat (tanda Murphy).
Pada batu duktus koledokus, riwayat nyeri atau kolik di epigastrium dan perut kanan atas
akan disertai tanda sepsis, seperti demam dan menggigil bila terjadi kolangitis. Biasanya terdapat
ikterus dan urin berwarna gelap yang hilang timbul. Ikterus yang hilang timbul ini berbeda
dengan ikterus hepatitis.
Pruritus ditemukan pada ikterus obstruktif yang berkepanjangan dan lebih banyak
ditemukan di daerah tungkai daripada di badan. Pada kolangitis dengan sepsis yang berat dapat
terjadi kegawatan disertai syok dan gangguan kesadaran.2

Pemeriksaan
Pemeriksaan Fisik
Pada pasien batu kandung empedu biasanya asimptomatik. Kelainan biasanya ditemukan
pada komplikasi, seperti kolesistitis akut dengan peritonitis lokal atau umum, hidrops kandung
empedu, empiema kandung empedu atau pankreatitis. Pada pemeriksaan ditemukan nyeri tekan
dengan punktum maksimum di daerah kandung empedu. Tanda Murphy positif apabila nyeri
tekan bertambah sewaktu penderita menarik nafas panjang karena kandung empedu yang
meradang tersentuh ujung jari tangan pemeriksa dan pasien berhenti menarik nafas. Tanda
Murphy yang positif merupakan tanda pasien tersebut menderita kolesistitis akut.2,3
Pada pasien batu saluran empedu, biasanya tidak menimbulkan gejala pada fase tenang.
Kadang teraba hati agak membesar dan sklera ikterik. Bila kadar bilirubin darah kurang dari 3

mg/ml, gejala ikterik tidak jelas. Apabila sumbatan saluran empedu bertambah berat baru akan
timbul ikterus klinis.
Pemeriksaan Penunjang
Kebanyakan pasien kolelitiasis tidak menunjukkan gejala yang khas, kecuali saat sudah
mencapai tahap komplikasi. Pemeriksaan penunjang akan sangat dibutuhkan untuk menegakkan
diagnosis kolelitiasis dan juga berbagai komplikasinya. Beberapa pemeriksaan penunjang yang
dapat digunakan:2,4

Endoscopic Ultrasonography (EUS). Merupakan metode pemeriksaan dengan memakai


instrument gastrokopi dengan echoprobe di ujung skop yang dapat terus berputar.
Ultrasonografi mempunyai derajat spesifisitas dan sensitivitas yang tinggi (mencapai
97%) untuk mendeteksi batu kandung empedu dan pelebaran saluran empedu intrahepatik
maupun ekstrahepatik. Dengan ultrasonografi dapat dilihat dinding kandung empedu
yang menebal karena fibrosis atau oedem karena peradangan maupun sebab lain. Batu
yang terdapat pada duktus koledokus distal kadang sulit terdeteksi karena terhalang udara
di dalam usus. Lumpur empedu dapat diketahui karena bergerak sesuai dengan gaya
gravitasi. Dengan ultrasonografi, punktum maksimum rasa nyeri pada batu kandung
empedu yang gangrene lebih jelas daripada palpasi biasa.

Gambar 1. EUS Kandung Empedu

Endoscopic Retrogarde Cholangiopancreatography (ERCP). Berguna untuk pemeriksaan


batu di duktus koledokus. Indikasinya adalah batu kandung empedu dengan gangguan

fungsi hati yang tidak dapat dideteksi dengan ultrasonografi dan kolesistografi oral,
misalnya karena batu kecil. Dibandingkan dengan MRCP, ERCP lebih beresiko.

Gambar 2. ERCP

Magnetic Resonance Cholangiopancreatography (MRCP). Merupakan teknik pencitraan


dengan gema magnet tanpa menggunakan zat kontras, instrument, dan radiasi ion. Pada
MRCP, saluran empedu akan terlihat sebagai struktur yang terang karena mempunyai
intensitas sinyal yang tinggi, sedangkan batu saluran empedu akan terlihat sebagai
intensitas sinyal rendah yang dikelilingi empedu dengan intensitas sinyal tinggi. Metode
ini cocok untuk mendiagnosis batu saluran empedu. MRCP memiliki nilai sensitivitas
antara 91-100% dan nilai spesifisitas antara 92-100%. Beberapa kelebihan MRCP
dibandingkan dengan ERCP adalah pencitraan saluran empedu tanpa resiko yang
berhubungan dengan instrumentasi, zat kontras dan radiasi. Akan tetapi, MRCP memiliki
limitasi mayor yaitu bukan merupakan modalitas terapi dan juga aplikasinya bergantung
pada operator. Sedangkan ERCP dapat berfungsi sebagai sarana diagnostic dan terapi
pada saat yang bersamaan.

Gambar 3. MRCP

Foto polos abdomen. Pemeriksaan ini biasanya tidak memberikan gambaran yang khas
karena hanya sekitar 10-15% batu kandung empedu yang bersifat radioopak (tidak
menembus sinar Rontgen). Kadang kandung empedu yang mengandung cairan empedu
berkadar kalsium tinggi dapat dilihat pada foto polos. Pada peradangan akut dengan
kandung empedu yang membesar atau hidrops, kandung empedu kadang terlihat sebagai
massa jaringan lunak di kuadran kanan atas yang menekan gambaran udara dalam usus
besar, di fleksura hepatica.

Tes laboratorium. Tes laboratorium dapat digunakan untuk mendeteksi adanya


leukositosis dan peningkatan bilirubin serum.

Diagnosis
Diagnosis Kerja
Berdasarkan data yang didapatkan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik, pasien
didiagnosis menderita kolesistitis akut et causa kolelitiasis. Untuk penegakkan diagnosis ini
dibutuhkan pemeriksaan penunjang yang berhubungan, seperti MRCP, ERCP atau dapat juga
menggunakan EUS.
Diagnosis Banding

Berikut ini adalah diagnosis banding untuk kolesistitis akut et causa kolelitiasis:

Koledokolitiasis dan kolangitis. Merupakan batu pada duktus koledokus yang dapat
bersifat primer atau sekunder. Pada koledokolitiasis, batu terbentuk di duktus koledokus.
Pada koledokolitiasis sekunder, batu empedu berpindah ke duktus koledokus melalui
duktus sistikus. Sumbatan pada duktus koledokus dapat menimbulkan peradangan pada
duktus tersebut, yang disebut kolangitis. Apabila timbul serangan kolangitis yang
umumnya disertai obstruksi, akan ditemukan gejala klinis yang sesuai dengan beratnya
kolangitis tersebut. Kolangitis akut yang ringan sampai sedang biasanya kolangitis
bacterial nonpiogenik yang ditandai dengan trias Charcot, yaitu demam dan menggigil,
kolik dan ikterus. Apabila terjadi kolangiolitis, yang berupa kolangitis piogenik
intrahepatik, akan timbul lima gejala Reynold, berupa tiga gejala trias Charcot ditambah
syok dan kekacauan mental dan penurunan kesadaran sampai koma.2

Kolesistitis akut akalkulosa. Merupakan kolesistitis primer. Hanya 5% pasien menderita


kolesistitis akuta tanpa adanya batu empedu. Kolesistitis akalkulosa menyertai puasa
lama dan lazim terlihat pada pasien dengan pemberian makan parenteral total yang lama,
sakit berat yang dirawat karena trauma multiple, pascabedah besar, sepsis, keracunan
obat, pasien yang dipuasakan lama, dan gagal organ multiple. Lumpur, yang merupakan
endapan kalsium bilirubin, timbul dalam kandung empedu. Penyebab lain mungkin
dikarenakan invasi kuman secara primer, misalnya oleh Salmonella typhi, E. coli, dan
Clostridium.2,5

Kolesistitis kronik. Merupakan lanjutan dari kolesistitis akut. Gejala klinis untuk
kolesistitis kronik sangat minimal dan tidak menonjol, seperti dyspepsia, rasa penuh di
epigastrium dan nausea khususnya setelah makan makanan berlemak tinggi, yang
kadang-kadang hilang setelah bersendawa. Riwayat penyakit empedu di keluarga, ikterus
dan kolik berulang, nyeri lokal di daerah kandung empedu disertai tanda Murphy positif
dapat menyokong diagnosis.4

Pankreatitis akut. Pasien akan merasa nyeri epigastrium yang sering menjalar ke
punggung dan disertai mual dan muntah. Etiologi terlazim dari pankreatitis akut adalah
alkoholisme atau kolelitiasis. Pada pasien kolelitiasis, pankreatitis akut disebabkan oleh
batu saluran empedu yang terjepit di muara papilla Vateri. Khas amilase serum dan
kemudian amilase urin meningkat. Pasien pankreatitis akut biasanya menunjukkan sikap

atau posisi yang khas, yaitu memegangi daerah epigastrium karena nyeri yang parah.
Khas pasien menderita nyeri epigastrium parah setelah makan besar. Nyeri menyebar
melalui punggung yang menetap disertai mual dan muntah. Pada pemeriksaan fisik
ditemukan abdomen yang agak terdistensi dengan nyeri tekan di daerah epigastrium
bersama spasme dinding abdomen volunteer. Bunyi usus berkurang atau tak ada, serta
suhu tubuh agak meningkat. Dalam kasus pankreatitis nekrotikans hemoragika, dapat
ditemukan tanda Grey Turner.

Etiologi
Pada pasien kolelitiasis, batu patologis dapat ditemukan di dalam kandung empedu. Batu
empedu dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori mayor, yaitu batu kolesterol, batu pigmen
cokelat atau batu calcium bilirubinate, dan batu pigmen hitam yang kaya akan residu hitam yang
tak terekstraksi. Batu ini akan menyebabkan sumbatan pada saluran empedu yang dapat
menimbulkan berbagai komplikasi.
Kolesistitis merupakan salah satu komplikasi dari kolelitiasis yang sering terjadi. Faktor
yang mempengaruhi timbulnya serangan kolesistitis akut adalah stasis cairan empedu, infeksi
kuman, dan iskemia dinding kandung empedu. Stasis cairan empedu terjadi karena batu kandung
empedu terletak di duktus sistikus. Bagaimana stasis di duktus sistikus dapat menyebabkan
kolesistitis akut masih belum bisa dijelaskan. Diduga banyak faktor yang berpengaruh, seperti
kepekatan cairan empedu, kolesterol, lisolesitin dan prostaglandin yang merusak lapisan mukosa
dinding kandung empedu diikuti oleh reaksi inflamasi dan supurasi. Sebagian kecil kasus
kolesistitis timbul tanpa adanya batu empedu, atau biasa disebut kolesistitis akut akalkulus.4

Epidemiologi
Batu empedu merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi di negara Barat. Di
negara Barat, 10-15% pasien dengan batu kandung empedu juga disertai batu saluran empedu.
Pada beberapa keadaan, batu saluran empedu dapat terbentuk primer di dalam saluran empedu
intra atau ekstra hepatic tanpa melibatkan kandung empedu. Batu saluran empedu primer lebih
banyak ditemukan pada pasien di wilayah Asia.4
Di negara Barat, 80% batu empedu adalah batu kolesterol, tetapi angka kejadian batu
pigmen meningkat dibandingkan sebelumnya. Di Asia, batu pigmen lebih banyak dibandingkan

dengan batu kolesterol. Perubahan gaya hidup, termasuk pola makanan, mungkin mempengaruhi
jenis batu yang terbentuk. Pada negara Barat, batu empedu banyak ditemukan pada usia muda di
bawah 30 tahun, meskipun usia rata-rata tersering adalah 40-50 tahun. Jumlah penderita
perempuan lebih banyak daripada laki-laki.2
Kurang lebih 15% pasien dengan batu empedu simptomatik (bergejala) mengalami
kolesistitis akut.4

Fisiologi
Empedu diproduksi oleh sel hepatosit sebanyak 500-1500 ml perhari. Di luar waktu
makan, empedu disimpan untuk sementara di dalam kandung empedu atau vesica fellea, dan di
sini mengalami proses pemekatan sekitar 50%. Garam empedu, lesitin, dan kolesterol merupakan
komponen terbesar (90%) cairan empedu. Sisanya adalah bilirubin, asam lemak, dan garam
anorganik. Garam empedu merupakan molekul steroid yang dibuat oleh hepatosit dan berasal
dari kolesterol. Pengaturan produksinya dipengaruhi mekanisme umpan balik yang dapat
ditingkatkan sampai 20 kali produksi normal kalau diperlukan.
Pengaliran cairan empedu diatur oleh tiga faktor, yaitu sekresi empedu oleh hati,
kontraksi kandung empedu, dan tahanan sfingter koledokus. Dalam keadaan puasa, empedu yang
diproduksi akan dialih-alirkan ke dalam kandung empedu. Setelah makan, kandung empedu
berkontraksi, sfingter relaksasi, dan empedu mengalir ke dalam duodenum. Aliran tersebut
sewaktu-waktu disemprotkan karena secara intermitten tekanan saluran empedu akan lebih tinggi
daripada tekanan sfingter.
Kolesistokinin

merupakan

hormon

sel

APUD

(Amine-Precursor-Uptake

and

Decaboxylation cells) dari selaput lendir usus halus, dikeluarkan atas rangsang makanan
berlemak atau produk lipolitik di dalam lumen usus. Hormon ini merangsang nervus vagus
sehingga terjadi kontraksi kandung empedu. Dengan demikian, Kolesistokinin berperan besar
terhadap terjadinya kontraksi kandung empedu setelah makan.2

Gambar 4. Kandung Empedu atau Vesica Biliaris6

Patofisiologi
Kolelitiasis
Menurut gambaran makroskopik dan komposisi kimianya, batu saluran empedu dapat
dibagi menjadi batu kolesterol dan batu bilirubin. Batu kolesterol mengandung paling sedikit
70% kristal kolesterol dan sisanya adalah kalsium bikarbonat, kalsium palmitat, dan kalsium
bilirubinat. Bentuknya lebih bervariasi dibandingkan dengan bentuk batu pigmen. Terbentuk
hampir selalu di dalam kandung empedu dan dapat berupa batu soliter atau multiple.
Permukaannya mungkin licin atau multifaset, bulat, berduri, dan ada yang seperti buah murbei.
Proses pembentukan batu kolesterol melalui empat tahap:
-

Penjenuhan empedu oleh kolesterol

Pembentukan nidus yang berbentuk seperti sarang burung

Kristalisasi

Pertumbuhan batu
Derajat penjenuhan empedu oleh kolesterol dapat dihitung melalui kapasitas daya larut.

Penjenuhan ini dapat disebabkan oleh bertambahnya sekresi kolesterol atau penurunan relatif
asam empedu atau fosfolipid. Peningkatan ekskresi kolesterol empedu antara lain terjadi pada
keadaan obesitas, diet tinggi kalori dan kolesterol, dan pemakaian obat yang mengandung

estrogen. Sekresi asam empedu akan menurun pada penderita dengan gangguan absorbs di ileum
atau gangguan daya pengosongan primer kandung empedu.
Penjenuhan kolesterol yang berlebihan tidak dapat membentuk batu, kecuali ada nidus
dan ada proses lain yang menimbulkan kristalisasi. Nidus dapat berasal dari pigmen empedu,
mukoprotein, lendir, protein lain, bacteria atau benda asing lain. Setelah kristalisasi meliputi
suati nidus akan terjadi pembentukan batu. Pertumbuhan batu terjadi karena pengendapan kristal
kolesterol di atas matriks inorganik dan kecepatannya ditentukan oleh kecepatan relatif pelarutan
dan pengendapan. Struktur matriks berupa endapan mineral yang mengandung garam kalsium.
Stasis kandung empedu juga berperan dalam pembentukan batu. Puasa yang lama akan
menimbulkan empedu yang litogenik akibat stasis tersebut.
Batu bilirubin berisi kalsium bilirubinat dan disebut juga batu lumpur atau batu pigmen.
Bentuknya tidak terlalu bervariasi seperti batu kolesterol. Batu ini sering ditemukan dalam
bentuk tidak teratur, berukuran kecil, berjumlah banyak, memiliki warna bervariasi antara
cokelat, kemerahan, sampai hitam, dan berbentuk seperti lumpur atau tanah yang rapuh. Batu ini
sering bersatu membentuk batu yang lebih besar. Batu pigmen yang sangat besar dapat
ditemukan di dalam saluran empedu. Kadar kolesterol dalam batu pigmen tidak mencapai 25%.
Batu pigmen hitam terbentuk di dalam kandung empedu, terutama terbentuk pada gangguan
keseimbangan metabolik seperti anemia hemolitik, dan sirosis hati yang tidak didahului infeksi.
Seperti pembentukan batu kolesterol, terjadinya batu bilirubin berhubungan dengan
bertambahnya usia, infeksi, stasis, dekonjugasi bilirubin dan ekskresi kalsium. Pada bakteribilia
terdapat bakteri gram negatif, terutama E.coli. Pada batu kolesterol, E.coli tersering ditemukan
dalam biakan empedu. Pada penderita batu bilirubin tidak ditemukan empedu yang sangat jenuh
dengan kolesterol, baik di dalam kandung empedu maupun di hati. Pada penderita batu bilirubin,
konsentrasi bilirubin yang tidak terkonjugasi meningkat, baik di dalam kandung empedu maupun
di dalam hati.
Untuk kurun waktu puluhan tahun, jenis batu empedu yang dominan di wilayah Asia
Timur adalah batu bilirubin, yang dapat primer terbentuk di mana saja dalam sistem saluran
empedu, termasuk intrahepatik (hepatolitiasis).
Hepatolitiasis merupakan batu empedu yang terdapat di dalam saluran empedu dari awal
percabangan duktus hepaticus kanan dan kiri meskipun percabangan tersebut mungkin terdapat
di luar parenkim hati. Batu tersebut umumnya berupa batu pigmen yang berwarna cokelat, lunak,

bentuknya seperti lumpur dan rapuh. Hepatolitiasis akan menimbulkan kolangitis piogenik
rekurens.
Batu kandung empedu dapat berpindah ke dalam duktus koledokus melalui duktus
sistikus. Apabila sudah mencapai duktus koledokus, penyakit ini akan disebut koledokolitiasis
dan dapat menimbulkan peradangan pada duktus tersebut. Di dalam perjalanannya melalui
duktus sistikus, batu tersebut dapat menimbulkan sumbatan aliran empedu secara parsial atau
komplit sehingga menimbulkan gejala kolik empedu. Pasase batu empedu berulang melalui
duktus sistikus yang sempit dapat menimbulkan iritasi dan perlukaan, yang kemudian akan
menimbulkan peradangan dinding duktus sistikus dan striktur. Kalau batu terhenti di dalam
duktus sistikus karena diameternya yang terlalu besar atau tertahan oleh striktur, batu akan tetap
berada di sana sebagai batu duktus sistikus.2,4

Gambar 5. Batu Empedu7


Kolesistitis Akut
Kolesistitis akuta merupakan salah satu komplikasi dari kolelitiasis, meskipun dapat
menjadi sebuah penyakit primer (kolesistitis akut akalkulus). Kolesistitis akuta ditandai oleh
nyeri dan tekan abdomen kuadran kanan atas, biasanya disertai dengan demam ringan dan
leukositosis. Penyebab utama pada 90-95% pasien kolesistitis akut adalah batu kandung empedu
yang terletak di duktus sistikus (kolesistolitiasis) yang menyebabkan stasis cairan empedu. Nyeri
disebabkan oleh distensi dan peradangan di kandung empedu atau saluran empedu.4,5
Pada kolesistitis akut, faktor trauma mukosa kandung empedu oleh batu dapat
menyebabkan pelepasan fosfolipase yang mengubah lesitin di dalam empedu menjadi lisolesitin,

yaitu senyawa toksik yang memperberat proses peradangan. Perubahan patologik di dalam
kandung empedu mengikuti pola yang khas. Proses awal berupa oedem yang menyebabkan
iskemi dinding kandung empedu, lalu pendarahan mukosa dan bercak-bercak nekrosis dan
akhirnya fibrosis. Gangren dan perforasi dapat terjadi pada hari ketiga setelah serangan penyakit,
tetapi kebanyakan terjadi pada minggu kedua.2,4
Kolesistitis kronik lebih sering dijumpai di klinis, dan sangat erat hubungannya dengan
litiasis. Kolesistitis kronik timbul secara perlahan-lahan.4

Gejala Klinis
Kolelitiasis
Pasien dengan batu empedu dapat dibagi menjadi tiga kelompok:
-

Pasien dengan batu asimptomatik

Pasien dengan batu empedu simptomatik

Pasien dengan komplikasi batu empedu (kolesistitis akut, ikterus, kolangitis, dan
pankreastitis)
Sebagian besar (80%) pasien dengan batu empedu tanpa gejala, baik waktu diagnosis

maupun selama pemantauan. Studi perjalanan penyakit dari 1307 pasien dengan batu empedu
selama 20 tahun memperlihatkan bahwa sebanyak 50% pasien tetap asimptomatik, 30%
mengalami kolik bilier dan 20% lainnya mengalami komplikasi.4
Salah satu gejala batu empedu yang dapat dipercaya adalah kolik bilier. Kolik bilier
sendiri merupakan nyeri di perut atas yang berlangsung dari 30 menit dan kurang dari 12 jam.
Biasanya nyeri pada hipokondrium (perut kanan atas) kanan atau epigastrium, tetapi biasa juga di
kiri dan prekordial. Kolik bilier paling sering terjadi pada wanita tua setengah baya (biasa
berumur 40-50 tahun) dan keluhan ini bersifat rekurens. Keluhan ini dapat dicetuskan oleh
makan atau minum yang berlebihan.4,8
Kolesistitis Akut
Keluhan yang cukup khas untuk serangan kolesistitis akut adalah kolik perut di sebelah
kanan atas epigastrium, nyeri tekan, dan kenaikan suhu tubuh. Terkadang rasa sakit menjalar ke
pundak atau scapula kanan dan dapat berlangsung sampai 60 menit tanpa mereda. Berat

ringannya keluhan sangat bervariasi, tergantung dari adanya kelainan inflamasi yang ringan
sampai dengan gangrene atau perforasi kandung empedu.4
Pada kolesistitis, nyeri menetap dan disertai dengan tanda rangsang peritoneal berupa
nyeri tekan, nyeri lepas, dan defans muskuler otot dinding perut. Kadang kandung empedu yang
membesar dapat teraba. Pada sebagian penderita biasanya disertai mual dan muntah. Ikterus
ringan (kadar bilirubin dibawah 3 mg/ml) biasanya jarang ditemukan. Peningkatan ringan
bilirubin pada kolesistitis akut dianggap sekunder terhadap peradangan ductus koledokus yang
disebabkan oleh kandung empedu yang meradang berdekatan. Suhu badan sekitar 38 oC. Apabila
timbul demam dan menggigil, harus dicurigai komplikasi yang lebih berat dari penyakit lain.
Pada kepustakaan dari Barat, sering dilaporkan pasien kolisistitis akut umumnya perempuan,
gemuk, dan berusia di atas 40 tahun. Akan tetapi, menurun Lesmana LA, hal ini sering tidak
sesuai untuk pasien-pasien di Indonesia.2,4
Pada pasien kolesistitis akut akalkulus, keluhan dan gejala klinisnya serupa dengan
kolesistitis akut karena kolelitiasis. Gejalanya berupa nyeri perut kanan atas, nyeri tekan, defans
otot, dan demam. Biasanya ditemukan leukositosis dan gangguan faal hati. Diagnosis kolesistitis
akalkulus akut cukup sulit ditegakkan.2

Komplikasi
Komplikasi kolelitiasis dapat berupa kolesistitis akut, seperti yang sudah dijelaskan
sebelumnya. Kolesistitis akut dapat menimbulkan perforasi dan peritonitis, kolesistitis kronik,
ikterus obstruktif, kolangitis, kolangiolitis piogenik, fistel bilioenterik, ileus batu empedu,
pankreatitis, dan perubahan keganasan.2

Tatalaksana
Penanganan profilaktik untuk batu empedu asimptomatik tidak dianjurkan. Sebagian
besar pasien dengan batu asimptomatik tidak akan mengalami keluhan. Hanya yang mengalami
simpton akut atau komplikasi (kolesistitis akut, kolangitis, pankreatitis, dan karsinoma kandung
empedu) yang memerlukan tindakan. Operasi mendesak diindikasikan pada pasien diabetes.2,4
Untuk batu kandung empedu simptomatik, teknik kolesistektomi laparoskopik digunakan.
Kolesistektomi laparoskopik merupakan teknik pembedahan invasif minimal di dalam rongga

abdomen dengan menggunakan pneumoperitoneum, sistem endokamera dan intrumen khusus


melalui layar monitor tanpa melihat dan menyentuh langsung kandung empedu. Rasa nyeri yang
minimal, masa pulih yang cepat, masa rawat yang pendek dan luka parut yang sangat minimal
merupakan kelebihan bedah laparoskopik. Komplikasi cedera saluran empedu dari teknik ini,
yang umumnya terjadi pada tahap belajar, dapat diatasi pada sebagian besar kasus dengan
pemasangan stent atau kateter nasobilier dengan ERCP.
ERCP terapeutik dengan melalukan sfingterotomi endoskopik untuk mengeluarkan batu
saluran empedu tanpa operasi merupakan standar baku terapi non-operatif untuk batu saluran
empedu. Batu di dalam saluran empedu dikeluarkan dengan basket kawat atau balon-ekstraksi
melalui muara yang sudah besar tersebut menuju lumen duodenum sehingga batu dapat keluar
bersama tinja atau dikeluarkan melalui mulut bersama skopnya.4
Pada pasien dengan kolesistitis akut yang biasanya disertai mual dan muntah, terapi awal
yang harus segera dilakukan adalah mengoreksi dehidrasi dan keseimbangan elektrolit dengan
cairan intravena yang tepat. Sonde nasogaster bisa dipasang dan antibiotika juga dapat diberikan.
Sefazolin (2-4 mg/hari) atau empisilin parenteral (4 g/hari) merupakan antibiotika yang biasa
dipilih.2

Prognosis
Prognosis batu empedu umumnya berbeda-beda. Jika batu empedu asimptomatik,
penyembuhannya akan lebih baik jika tidak dilakukan tindakan apa pun sehingga tidak
menganggu kerja empedu dan sfingter Oddy. Untuk batu empedu dengan komplikasi, jika
dilakukan pengobatan atau tindakan sebelum muncul komplikasi lainnya, akan didapatkan hasil
yang baik. Untuk pankreatitis bilier akut, sebanyak 80% pasiennya meninggal karena komplikasi
lain seperti perforasi.

KESIMPULAN
Kolelitiasis merupakan penyakit dimana terdapat batu patologis di dalam kandung
empedu. Batu dapat terbuat dari kolesterol atau pigmen. Kolelitiasis bisa bersifat asimptomatik
atau simptomatik. Pada kolelitiasis asimptomatik biasanya tidak menimbulkan gejala dan tidak
memerlukan tindakan apa pun. Pada kolelitiasis simptomatik, dimana gejala-gejala timbul karena
komplikasi, memerlukan tindakan. Komplikasi yang biasa terjadi adalah kolesistitis akut,

koledokolitiasis, kolangitis, pankreatitis akut bilier yang memiliki prognosis buruk, dan ikterus
obstruktif.
Salah satu gejala khas pada kolelitiasis adalah kolik bilier. Kolik bilier sendiri merupakan
nyeri di perut atas yang berlangsung dari 30 menit dan kurang dari 12 jam. Biasanya nyeri pada
hipokondrium (perut kanan atas) kanan atau epigastrium. Faktor-faktor yang dapat meningkatkan
resiko seseorang untuk terkena kolesistitis adalah perempuan (female), gemuk (fat) dan di atas
40 tahun (forty).
Apabila batu tersumbat di duktus sistikus (kolesistolitiasis), dapat terjadi peradangan di
duktus tersebut yang disebut kolesistitis. Sedangkan apabila tersumbat di duktus koledokus
(koledokolitiasis), maka akan terjadi peradangan yang disebut kolangitis. Gejala kolesistitis yang
lazim ditemukan adalah tanda Murphy yang positif (meliputi nyeri tekan dan nyeri lepas), nyeri
menetap, dan defans muskuler otot dinding perut. Pasien biasanya mengalami mual dan mutah,
ikterus ringan karena peningkatan ringan bilirubin, dan demam ringan. Pada kolangitis, gejalanya
serupa dengan gejala kolesistitis tetapi pasien mengalami demam dan menggigil. Trias Charcot
(kolik bilier, ikterus dan menggigil) dapat membantu diagnosis kolangitis.

DAFTAR PUSTAKA

1. Manuaba IB. Penuntun anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Penerbit Departemen Ilmu
Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005.
2. Sjamsuhidajat R, Jong WD. Buku ajar ilmu bedah. Edisi ke-2. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC, 2003, h. 561

3. Bates B. Pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC,
2006, h. 355.
4. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata KM, Setiati S, ed. Buku ajar ilmu penyakit
dalam jilid ke-3. Edisi ke-5. Jakarta: Interna Publishing, 2009, h. 718-25.
5. Sabiston DC. Oswari J, ed. Buku ajar bedah. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1992,
h. 500-5.
6. Netter FH. Atlas of human anatomy. United States of America: Saunders Elsevier Inc.; 2011.
Diunduh dari: http://www.netterimages.com, 9 Juni 2012.
7. Diunduh dari: http://www.gall-stones.in/images/Gallstones.jpg, 10 Juni 2012.
8. Williams, Wilkins. Lukmanto, ed. Diagnosis fisik. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC,

2005, h. 268.