Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sastra berasal dari bahasa Sansakerta shastra yang artinya adalah
"tulisan yang mengandung intruksi" atau "pedoman". Secara morfologis kata
kesusastraan, yang lebih sering hanya disebut sastra, dapat diuraikan atas konfiks
ke-an yang berarti 'semua yang berkaitan dengan, prefiks su 'baik, indah, berguna'
dan bentuk dasar sastra yang berarti kata, tulisan, ilmu. Jadi, menurut uraian di
atas kesusastraan adalah semua yang berkaitan dengan tulisan yang indah. Sedang
menurut arti istilah, kesusastraan atau sastra ialah cabang seni yang menggunakan
bahasa sebagai medium. Umumnya dikatakan bahwa keindahan atau nilai estetis
suatu cipta sastra timbul karena adanya keserasian, kesepadanan, atau
keharmonisan antara isi (topik, amanat) dengan bentuk ( cara pengung kapan isi ).
Dalam Kesusatraan Bali ada beberapa bentuk sastra salah satunya adalah
tembang. Bentuk tembang di bali disebut sekar, dan sekar dibagi menjadi empat
yaitu Sekar Rare, Sekar Alit, Sekar Madia, dan Sekar Agung.
Di dalam Sekar Alit (Macepat/Pupuh) dibentuk dan diikat oleh aturan Pada
Lingsa. Pada Lingsa adalah banyaknya baris dalam tiap bait (pada) banyaknya
suku kata dalam tiap-tiap baris (carik) dan bunyi akhir tiap-tiap baris. Bentuk
nyanyian yang ada di Sekar Alit berupa Pupuh dan biasanya pupuh ini terdapat
dalam cerita yang di Bali sering orang menyebutkan sebagai Geguritan atau
Peparikan.
Geguritan merupakan sastra kuno yang memiliki ciri sastra lama atau
klasik yang berifat anonim yaitu tanpa nama pengarang dan penulis. Ini
disebabkan karena pada zamanya dibuat seorang penulis tidak mau menonjolkan
diri dan karyanya dianggap milik bersama. Didalam geguritan banyak nilai-nilai
yang terkandung didalamnya yang bisa di petik oleh orang-orang sebagai tuntunan
moral. Gegruritan merupakan komposisi sebuah puisi, geguritan merupaka suatu
ciptaan sastra yang menampung semua kisah dari seorang penulisnya.

Kawi 1

Bahasa

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang hendak
dibahas dalam makalah ini adalah :
1.
2.
3.
4.
5.

Apa Kesetiaan itu?


Bagaimana Kesusastraan itu?
Bagaimana pengertian Geguritan?
Bagaimana Geguritan Sudamala itu?
Bagaimana pupuh atau tembang yang digunakan dalam geguritan

Sudamala?
6. Bagaimana nilai-nilai yang terkandung dalam geguritan sudamala?
1.3

Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk:
1.
2.
3.
4.
5.

Mengetahui pengertian Kesetiaan!


Mengetahui apa itu Kesusastraan!
Mengetahui pengertian Geguritan!
Mengetahui Geguritan Sudamala itu!
Mengetahui pupuh atau tembang yang digunakan dalam geguritan

sudamala!
6. Mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam geguritan sudamala!
1.4

Manfaat Penulisan
Ada pun manfaat dari makalah ini adalah
1. Sebagai alat komunikasi antara sastrawan dan masyarakat pembacanya.
2. Karya sastra selalu berisi pemikiran, gagasan, kisahan, dan amanat yang
dikomunikasikan kepada pembaca.
3. Untuk bisa mengapresiasikan sastra tersebut.
4. Bisa memahami nilai-nilai pada geguritan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Pengertian Kesetiaan

Kawi 1

Bahasa

Pada bahasan ini, Dr. Hasan Abduh, seorang dosen jurusan pendidikan,
mengatakan bahwa kesetiaan adalah ketulusan, tidak melanggar janji atau
berkhianat, perjuangan dan anugerah, serta mempertahankan cinta dan menjaga
janji bersama.
Kesetiaan diantara suami istri harus meliputi kesetiaan pada hal-hal kecil
yang ada pada kehidupan mereka. Agar keduanya dapat hidup dengan dipenuhi
cinta, kasih sayang, penghormatan dan ketulusan dalam hati, tidak saling
menyakiti satu sama lain.
Kesetiaan berarti perjuangan, anugerah, pengorbanan, dan kesabaran. Caranya
adalah dengan :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

memberinya perhatian,
menjaganya, dan tidak meniggalkannya sendiri,
mengkhawatirkannya dari segala hal yang mungkin bisa menyakitinya,
menjaga perasaannya, menghargai perjuangannya,
mengucapkan terima kasih atas apa yang dia kerjakan,
tidak mengumbar kekurangan, dan menjaga rahasia-rahasianya,
berusaha untuk membahagiakan,dan memuji kelebihan,
mengingat kebaikan, dan melupakan kesalahannya,
setelah berpisah, mengingat kenangan-kenangan dan saat-saat bersamanya
yang penuh keindahan.
Sifat setia tidak akan berkumpul dengan perasaan curiga, cemburu,

merendahkan,

mendzalimi,

mengingkari,

menyakiti,

menuduh

dan

lain

sebagainya. Bila ada pasangan berbuat salah, maka tak ada yang dilakukan oleh
seorang yang setia melainkan segera melupakannya, memaafkan, dan tidak
mengumbarnya kepada orang lain, sembari mengingat kembali kebaikan dan
kelebihannya.
Dr. Hasan Abduh menambahkan, kesetiaan pada pengertian yang lebih
luas tidak akan terwujud kecuali bila hubungan yang mengikat keduanya berdiri
di atas pondasi yang kuat, yang baik, kokoh dan ditopang prinsip-prinsip serta
tujuan-tujuan yang jelas.

Kawi 1

Bahasa

Ada tiga unsur pokok dalam kesetiaan, yaitu cinta, humanis, dan iman.
Cinta berfungsi sebagai penggerak, humanis berfungsi sebagai penjaga dan media
untuk berkelanjutan, serta iman berfungsi sebagai penguat, penyempurna dan
pengembang
2.2 Kesusastraan
Sastra berasal dari bahasa Sansakerta shastra yang artinya adalah tulisan
yang mengandung intruksi atau pedoman. Sastra dalam arti khusus yang kita
gunakan dalam konteks kebudayaan, adalah ekspresi gagasan dan perasaan
manusia. Jadi, pengertian sastra sebagai hasil budaya dapat diartikan sebagai
bentuk upaya manusia untuk mengungkapkan gagasannya melalui bahasa yang
lahir dari perasaan dan pemikirannya. Secara morfologis kata kesusastraan, yang
lebih sering hanya disebut sastra, dapat diuraikan atas konfiks ke-an yang berarti
semua yang berkaitan dengan, prefiks su 'baik, indah, berguna' dan bentuk dasar
sastra yang berarti kata, tulisan, ilmu. Jadi, menurut uraian di atas kesusastraan
adalah semua yang berkaitan dengan tulisan yang indah. Sedang menurut arti
istilah, kesusastraan atau sastra ialah cabang seni yang menggunakan bahasa
sebagai medium. Umumnya dikatakan bahwa keindahan atau nilai estetis suatu
cipta sastra timbul karena adanya keserasian, kesepadanan, atau keharmonisan
antara isi topik, amanat dengan bentuk cara pengung kapan isi .
Ada tiga hal yang berkaitan dengan pengertian sastra, yaitu ilmu sastra, teori
sastra, dan karya sastra.
1.

Ilmu sastra
Ilmu sastra adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki secara ilmiah

berdasarkan metode tertentu mengenai segala hal yang berhubungan dengan seni
sastra. Ilmu sastra sebagai salah satu aspek kegiatan sastra meliputi hal-hal
berikut. Teori sastra, yaitu cabang ilmu sastra yang mempelajari tentang asas-asas,
hukum-hukum, prinsip dasar sastra, seperti struktur, sifat-sifat, jenis-jenis, serta
sistem sastra. Sejarah sastra, yaitu ilmu yang mempelajari sastra sejak timbulnya
hingga perkembangan yang terbaru. Kritik sastra, yaitu ilmu yang mempelajari

Kawi 1

Bahasa

karya sastra dengan memberikan pertimbangan dan penilaian terhadap karya


sastra. Kritik sastra dikenal juga dengan nama telaah sastra. Filologi, yaitu cabang
ilmu sastra yang meneliti segi kebudayaan untuk mengenal tata nilai, sikap hidup,
dan semacamnya dari masyarakat yang memiliki karya sastra. Keempat cabang
ilmu tersebut tentunya mempunyai keterkaitan satu sama lain dalam rangka
memahami sastra secara keseluruhan.
2. Teori sastra adalah asas-asas dan prinsip-prinsip dasar mengenai sastra dan
kesusastraan.
3. Seni sastra adalah proses kreatif menciptakan karya seni dengan bahasa yang
baik, seperti puisi, cerpen/novel, atau drama.
Sastra bisa dibagi atas sastra lisan dan sastra tertulis. Sastra lisan tidak
berhubungan dengan tulisan, tetapi lebih kepada ekspresi bahasa yang
diungkapkan secara oral mengenai pemikiran seseorang.
Kategori sastra di antaranya sebagai berikut :
1. Cerpen atau cerita pendek,
Suatu bentuk prosa atau karangan yang tak terikat yang dibuat tidak
berdasarkan kejadian nyata atau fiktif dengan hanya mengambil satu atau
dua bagian kehidupan tokoh utamanya.
2. Novel,
Karya fiksi prosa berbentuk naratif yang dalam Bahasa Italia disebut
novella, yang artinya sepotong berita atau sebuah cerita. Novel lebih
panjang dari cerpen, bisa sekitar 40.000 kata atau lebih dan jalan ceritanya
tentang kehidupan sehari-hari tokoh sentral dan menitikberatkan pada sisi
uniknya.
3. Pantun,
Jenis puisi lama yang terdapat sampiran dan isi di dalamnya.
4. Drama
Bentuk karya sastra yang dapat diperankan dalam suatu pertunjukkan.
Dalam Kesusatraan Bali ada beberapa bentuk sastra salah satunya adalah
tembang. Bentuk tembang di bali disebut sekar, dan sekar dibagi menjadi empat
yaitu Sekar Rare, Sekar Alit, Sekar Madia, dan Sekar Agung.
2.3 Pengertian Geguritan

Kawi 1

Bahasa

Geguritan merupakan sastra kuno yang memiliki ciri sastra lama atau klasik
yang berifat anonim yaitu tanpa nama pengarang dan penulis. Ini disebabkan
karena pada zamanya dibuat seorang penulis tidak mau menonjolkan diri dan
karyanya dianggap milik bersama.
Geguritan berasal dari kata gurit yang artinya tulisan, komposisi khususnya
puisi. Anggurit artinya menulis sesuatu, mengubah sesuatu (Mulder dan Robson,
1997:320). Dalam kamus bahasa Bali- Indonesia (Warsito,1978:223), gurit artinya
gubah, karang, sadur. Geguritan artinya gubahan, saduran, karangan. dan dalam
Kamus Umum Indonesia dijelaskan geguritan itu berasal dari kata gurit artinya
sajak atau syair (Poerwadarminta, 1986 :161). sedangkan dalam Kamus Kawi
Indonesia diungkapkan gurit artinya goresan, dituliskan (Tim Penyusun,
1996:118). Jadi Geguritan artinya gubahan cerita yang berbentuk tembang atau
pupuh.
Ciri yang kental di dalam sebuah geguritan adalah adanya pupuh-pupuh yang
membentuk geguritan tersebut seperti : pupuh pucung, durma, sinom, pangkur,
smarandhana, dandang, ginada, dan demung. Oleh karenanya di dalam menikmati
geguritan dengan membacanya tidak bisa disamakan dengan membaca karya
sastra yang tergolong prosa. Geguritan hendaknya dinikmati dengan membaca
sambil melagukan sehingga nikmat yang didapatkan semakin merasuk kalbu.
Karya sastra yang berwujud pupuh diikat oleh aturan yang disebut : pada lingsa,
pada dan carik. syarat-syarat yang biasa disebut pada lingsa yaitu banyaknya
baris dalam tiap bait (pada) banyaknya suku kata dalam tiap-tiap baris (carik) dan
bunyi akhir tiap-tiap baris. Berdasarkan pemaparan di atas maka pengertian
geguritan adalah ciptaan sastra berbentuk syair yang biasanya dilagukan dengan
tembang (pupuh) yang sangat merdu.
Geguritan yang merupakan salah satu bentuk prosa Bali yang terikat
perpajakan pupuh, dalam khazanah sastra tradisional dikategorikan sebagai sekar
alit (bunga kecil). Sementara kakawin (karya sastra Jawa Kuna) disebut sekar
agung (bunga besar). Pengkategorian ini, kalau dicermati, di dalamnya
mengandung unsur menganggap gampang sebuah geguritan. geguritan merupakan
batu pijakan untuk memasuki sastra besar (sekar agung), yaitu kakawin. Dengan

Kawi 1

Bahasa

kata lain, kakawin lebih tinggi dari geguritan. Cara berpikir yang menghirarki-kan antara sekar agung dan sekar alit ini mirip dengan cara berpikir barat
abad pertengahan yang membagi budaya dalam dua mengkategorikan: budaya
tinggi dan budaya rendah. Di Bali, dengan cara yang sama, banyak orang
kalangan cenderung memandang bahwa kakawin atau sekar agung adalah budaya
tinggi, geguritan atau sekar alit adalah budaya rendah.
Di samping karena bahasanya adalah bahasa pribumi yaitu Bahasa Bali (bukan
bahasa import: Jawa Kuna), yang memungkinkan pengarang Bali berekspresi
secara maksimal, geguritan tampil dengan menyuguhkan berbagai pengalaman
batin manusia Bali dengan spektrum yang tak terbatas: Rasa lapar, suka-duka,
merana cinta, puji-puji, dongeng-dongeng, kehancuran perang, candu, zinah,
kelaliman raja, kebodohan raja, perselingkuhan, mitrologi, hantu dan berbagai
makhluk dari alam lain, tata ruang dan arsitekstur, masyarakat multikultur, dewadewi, ilmu hitam-putih, etika, tata krama, kecerdasan dan kedunguan, dalil filsafat
dan kenaifan manusia, mantra dan kutukan, petuah-petuah dan umpatan. Tak ada
satu ideology yang menghegemoni geguritan.
Walaupun banyak geguritan merupakan carangan, karya yang lahir dari resepsi
pengarang terhadap narasi besar Mahabarata dan Ramayana, geguritan secara
keseluruhan bergerak menjauh dari kungkungan narasi besar tersebut. Geguritan
adalah sebuah ruang pengungkapan kreatif yang liberal yang mampu memberi
alternatif dalam kebekuan bahasa Jawa Kuna dan metrum-metrum kakawin yang
ketat dengan berbagai aturannya. Geguritan lebih kuat menangkap narasi kecil
seperti cerita rakyat, dongeng, dan serba-serbi hidup yang melingkupi kehidupan
keseharian masyarakat Bali, dan juga kegilaan imajinasi pengarangnya.
Geguritan, dalam sejarah perkembangan bahasa Bali, memiliki peranan strategis
sebagai salah satu ruang yang memungkinkan bahasa Bali untuk berkembang
setinggi-tingginya. Geguritan sebagai warisan dunia, bukan hanya karena isi dan
kandungan intrinsiknya, tetapi juga karena sumbangan terbesarnya bagi sejarah
bahasa-bahasa di dunia berupa kemampuannya merekam secara tertulis kekayaan
kosa kata bahasa Bali. Geguritan bukan hanya file-file dunia imajinasi manusia
Bali, tetapi juga file-file kosa kata

Kawi 1

Bahasa

2.4 Geguritan Sudamala


Geguritan Sudamala adalah sastra kuna yang memiliki ciri sastra lama atau
klasik yang berifat anonim yaitu tanpa nama pengarang dan penulis. Geguritan
Sudamala adalahgeguritan yang menceritakan dewa siwa yang menguji kesetiaan
istrinya dewi parwati. Sudamala merupakan salah satu 5 ksatria Pandawa atau
yang dikenal dengan Sadewa. Disebut Sudamala, sebab Sadewa telah berhasil
"ngruwat" Bathari Durga yang mendapat kutukan dari Batara Guru karena
perselingkuhannya. Sadewa berhasil "ngruwat" Bethari Durga yang semula adalah
raksasa betina bernama Durga atau sang Hyang Pramoni kembali ke wajahnya
yang semula yakni seorang bidadari di kayangan dengan nama betahari Uma.
Makna dari Cerita sudamala ialah yang telah berhasil membebaskan kutukan atau
yang telah berhasil "ngruwat". Sumandala yang diartikan Mendalami Kemurnian
Nurani. Dalam Geguritan Sudamala adapun penokohannya antara lain :
1.

Ida Batara Siwa karater yang tercemin dalam geguritan sudamala beliau
adalah suami dari Ida Betari Uma yang mengutuk isrtinya menjadi Dewi
Durga karena tidak setia kepadanya.

2. Ida Betari Uma adalah istri dari Batara Siwa yang sangat cantik dan di kutuk
menjadi raksasa yang bernama Dewi Durga. Ida Betari Durga atau Ida Ranini
Durga yang bertempat di Setra.
3. Pengango sampi adalah merupakan utusan dari Batara Siwa
4. Sahadewa adalah Anak ke lima dari Panca Pandawa yang mempunyai anugrah
dari Hyang Tunggal yang akan melepaskan kutukan Ida Betari Durga
Menjadi Ida Betari Uma kembali.
5. Sang kalika istri lan lanang adalah pengikut sekaligus anak dari Betari Durga
yang berupa raksasa merupakan Dua penghuni sorga lainnya, yaitu Citrasena
dan Citranggada juga dikutuk karena perbuatannya yang kurang hormat
kepada Bhatara Guru menjadi raksasa Kalantaka dan Kalanjaya. Kedua
raksasa ini mengabdi kepada Korawa. Pandawa berperang melawan kedua
raksasa sakti itu.

Kawi 1

Bahasa

6.

Dewi Kunti adalah ibu dari Panca Pandawa yang meminta tolong kepada
Ranini Durga untuk mematikan I Kalantka lan I Kalnjaya karena memiliki
kekuatan yang sakti.
Dewi Uma hidup dalam wujud makhluk jahat bernama Ra Nini tinggal di

kuburan Gandamayu. Ia dikutuk oleh Bhatara Guru karena dianggap kurang setia
dan harus menebus dosanya selama duabelas tahun. Ia akan dibebaskan oleh
Bhatara Guru yang menjelma dalam diri Sahadewa. Dua penghuni sorga lainnya,
yaitu Citrasena dan Citranggada juga dikutuk karena perbuatannya yang kurang
hormat kepada Bhatara Guru menjadi raksasa Kalantaka dan Kalanjaya. Kedua
raksasa ini mengabdi kepada Korawa. Pandawa berperang melawan kedua raksasa
sakti itu. Kunti merasa cemas akan nasib putra-putranya. Untuk itu, Kunti minta
bantuan kepada Ra Nini untuk dapat membunuh raksasa Kalantaka dan Kalanjaya.
Ra Nini menyetujui permohonan Kunti dengan syarat Kunti menyerahkan
Sahadewa kepada Ra Nini. Persyaratan Ra Nini ditolak hingga dua kali oleh
Kunti. Namun, akhirnya Kalika berhasil merasuk ke dalam diri Kunti dan dalam
keadaan seperti itu, Kalika berhasil memperdaya Kunti sehingga ia mengajak
Sahadewa ke kuburan Gandamayu. Sahadewa diikat di pohon randu. Bermacammacam makhluk jahat menakut-nakuti Sahadewa. Ra Nini menampakkan wujud
yang sangat mengerikan dan meminta kepada Sahadewa untuk meruwat dirinya.
Sahadewa menolak karena ia tidak merasa memiliki kemampuan untuk itu.
Namun, Ra Nini tetap mendesak bahkan menjadi sangat marah kepada Sahadewa
dan nyaris membunuh Sahadewa. Bhatara Guru mendengar berita itu dari
Bagawan Narada. Bhatara Guru segera datang membantu Sahadewa. Bhatara
Guru merasuki tubuh Sahadewa sehingga Sahadewa memiliki kekuatan untuk
meruwat

Ra

Nini.

Dengan

memusatkan

batin,

merapalkan

mantra,

mempersembahkan bunga, dan percikan air suci Sahadewa berhasil meruwat Ra


Nini sehingga kembali ke wujud semula menjadi Dewi Uma. Sebagai imbalan,
Dewi Uma memberi gelar kepada Sahadewa sebagai Sudamala yang
membersihkan segala noda dan kejahatan. Kalika juga memohon kepada
Sahadewa untuk meruwat dirinya. Namun, Sahadewa menolak permintaan Kalika

Kawi 1

Bahasa

dan malahan menyuruh Kalika tetap tinggal di kuburan Gandamayu sampai habis
masa penebusan dosa-dosanya.
Setelah bergelar Sudamala, Sahadewa disuruh menyembuhkan Bagawan
Tambapetra di Prangalas dari kebutaan oleh Dewi Uma. Karena itu, Sahadewa
datang ke Prangalas. Sahadewa berhasil menyembuhkan kebutaan Bagawan
Tambapetra. Sahadewa menikah dengan kedua putri Bagawan Tambapetra yang
bernama Padapa dan Soka. Bersamaan dengan itu, Nakula datang ke kuburan
Gandamayu untuk mengikuti Sahadewa. Setelah diberi tahu oleh Kalika bahwa
Sahadewa telah pergi ke Prangalas, Nakula pun datang ke Prangalas. Setiba di
Prangalas, Sahadewa memberikan Soka kepada Nakula sebagai istri. Selanjutnya,
Sahadewa berperang dengan raksasa Kalantaka dan Kalanjaya. Kedua raksasa itu
berhasil dikalahkan Sahadewa. Kalantaka dan Kalanjaya berubah wujud kembali
menjadi gandarwa Citrasena dan Citanggada. Demikian pula semua makhluk
surgawi yang sebelumnya menjelma menjadi makhluk jahat kembali ke wujud
semula.
2.5

Nilai Kesetiaan
Nilai-nilai yang terkandung dalam Geguritan Sudamala dimulai dari saat

dewa siwa berpura-pura sakit, untuk menguji kesetiaan istrinya dewi parwati yang
menggunakan pupuh sinom sebagai berikut :
Crita Ida Hyang Siwa,
Abih rabi jegeg asri,
Parab rabi Dewi Uma,
Sampun suwe laki rabi,
Hyang Siwa meled uning,
Baktin rabi sane tuhu,
Raris Ida ngeka naya,
Mapi sungkan raat gati,
Yukti pangus,
Ngruguh maring pamereman.

10

Kawi 1

Bahasa

Dalam geguritan ini diceritakan Dewa Siwa memiliki Istri yang sangat
cantik yang bernama Dewi Uma,mereka telah lama menjadi suami istri akan tetapi
Dewa Siwa belum tahu betul dengan Dewi Uma. Karena itu dewa siwa ingin
sekali tahu bagaimana istrinya sebenarnya. Oleh karena itu Dewa Siwa berpurapura sakit keras. Dilanjutkan dengan pupuh maskumambang ya diceritakan bahwa
Dewa Siwa menyuruh iastrinya Dewi Uma untuk mencari obat berupa susu lembu
putih yang tempatnya berada di bumi. Dewi Uma kemudian berkata Inggih
Ratu.ratu Sang Hyang Siwa, Ledang I Ratu nyantos dumun maring puri,
Tityang pacang ngrerehang I Ratu tamba lalu Dewi Uma berangkat ke
marjapada(bumi).
Karena melihat keadaan suaminya yang sekarat Dewi Uma Segera mencari
obat untuk suaminya. Telah lama sekali Dewi Uma encari susu dari lembu putih
itu akan tetapi sampai kelelahan Dewi Uma tidak menemukan susu dari lembu
putih itu. Hampir dalam perjalanan Dewi Uma menyerah ketika beliau melihat
kebawah (bumi) beliau melihat seseorang menggembala lembu yang berwarna
putih. Berharap menemukan susu lembu putih dan Dewi Uma segera mendekati
pengembala lembu putih itu. Setibanya di tempat pengembala itu kemudian beliau
berkata Ratu nawegan icen tityang numbas empehanne akedik .I Pangangon
raris manimbal ; Ampura anak istri jegeg, tityang nenten ngadol
empehan,Durusang ambil nangin picayang panyilur,Ngiring matemu semara
sareng tityang, Yadyastun sepisan nenten punapi ketika Dewi Uma ingin
membeli sedikit susu lembu putih peliharaan si pengembala lembu putih,si
pengembala tidak mengijinkan untuk membeli sedikitpun susu lembunya itu.
Untuk mendapatkan susu lembu putih itu Si pengembala meminta satu
persyaratan kepada Dewi Uma agar bersedia bercinta dengannya. Dewi Uma
sangat marah ketika mendengar kata-kata Si pengembala lembu itu dan berkata
Eeh.. cai pengangon, de cai ngawag memunyi teken dewek gelah,Apang iba
nawang unduk, Kai ene Hyang Bethara tawang cai ? I Pengangon malih nyawis
pangandika Dewi Uma : Yadyastun Jerone Dewa Agung, Yan nenten kayun ring

11

Kawi 1

Bahasa

padewekan tityang, Susu I lembune nenten jaga aturin tityang Dewi Uma
merasa dirinya tidak di hormati oleh si pengembala lembu dan mengatakan kalau
beliau adalah seorang Dewi Uma akan tetapi si pengangon lembu tidak peduli
dengan hal itu jika permintaannya ditolak maka dia juga tidak akan memberikan
susu lembu putih miliknya. Dewi Uma berpikir kalau keinginan si pengembala
tidak dipenuhi maka susu lembu putih juga tidak akan beliau daptkan akan tetapi
permintaan si pengembala sangat berat sekali untuk dipenuhi . kemudian Dewi
Uma lagi mengingat suaminya yang sedang sakit jika tidak mendapatkan susu
lembu putih maka penyakitnya tidak akan sembuh. Setelah berpikir panjang Dewi
Uma memutuskan untuk menuruti kemauan si pengembala. Yang tiada lain
merupakan penjelmaan Dewa Siwa. Setelah selesai memenuhi ke ingina si
pengembala kemudian susu lembu putih di berikan kepada Dewi Uma. Si
pengembala segera kembali kekayangn dan kembali menjadi Dewa Siwa . dengan
tergesa gesa Dewi Uma membawa susu lembu putih ke kayangan. Sesampainya
di kayangan Dewa Siwa bertannya kepada Dewi Uma dimana mendapatkan susu
lembu putih itu.

G I N AD A
Dewi Uma ngeka naya,
Tityang polih tamban Beli,
Ring pangangon tityang numbas
Hyang Siwa raris mawuwus,
Uduh Cening Hyang Ghana,
Dong tenungin,
Kenken unduke ne seken .
Dewi uma kemudian berkata kalau susu lembu putih itu didapatkannya
dari seorang pengembala. Untuk membuktikan kata-kata Dewi Uma, Dewa Siwa
kemudian memminta anaknya Dewa Ghana untuk mencari tahu melalui kekuatan

12

Kawi 1

Bahasa

gaib buku lontar. Dewa Ghana kemudian mengambil buku lontarnya dan berkata
kepada dewa siwa kalau Ibunya Dewi Uma mendapatkan Susu lembu putih itu
didapatkan oleh Dewi Uma setelah bercinta dengan si pengembala lembu di
hutan.
DURMA
Wawu punika Hyang Ghana manartayang,
Dewi Uma duka brangti,
Praraine bang,
Metu geni saking netra,
Lontar Hyang Ghana kabasmi,
Ngawit punika,
Tenunge ten ajeg yukti.
Baru selesai Dewa Ghana menyampaikan hasil penerawangannya Dewi
Uma sangant marah kepada Dewa Ghana dan membakar lontar Dewa Ghana
semenjak saat itu penerawangan atau tenungan yang dilakukan tidak secara
sempurna dapat dilakukan oleh orang yang mempelajarinya. Setelah selesai
membakar lontar Dewa Ghana, karena kemarahnya Dewa Siwa mengutuk Dewi
Uma menjadi sosok yang seram dan menakutkan (rangda). Atas perbuatan Dewi
Uma yang tidak setia beliau diberikan hukuman bumi dan bertempat di kuburan
gandamayu. Hukumannya akan selesai dan menjadi Dewi Uma setelah dua belas
tahun yang akan di kembalikan wujudnya oleh shahadewa anak dari Dewi kunti
(panca pandawa).
Jadi nilai kesetiaan dalam geguritan sudamala ini sudah tersurat dalam
cerita tadi dan dapat dilihat ketika Dewi Uma mencari susu lembu putih dengan
cinta dan kesetiaannya beliau berusaha mencari susu lembu putih meski harus
bercinta dengan pengembala lembu.

13

Kawi 1

Bahasa

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Berdasarkan hasil pembahasan ini dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
Kesusastraan adalah semua yang berkaitan dengan tulisan yang indah. Bentuk
sastra salah satunya adalah tembang. Bentuk tembang di bali disebut sekar, dan
sekar dibagi menjadi empat yaitu Sekar Rare, Sekar Alit, Sekar Madia, dan Sekar
Agung. Pada sekar alit dibentuk oleh pupuh, di Bali sastra yang mengunakan
pupuh atau sekar alit adalah geguritan atau peparikan. Geguritan adalah sastra
kuna yang memiliki ciri sastra lama atau klasik yang berifat anonim yaitu tanpa

14

Kawi 1

Bahasa

nama pengarang dan penulis. Salah satu contoh satra yang berupa geguritan yaitu
geguritan sudamala.
Geguritan sudamala mencitakan kisah Sadewa telah berhasil "ngruwat"
Bathari

Durga

yang

mendapat

kutukan

dari

Batara

Guru

karena

perselingkuhannya. Geguritan Sudamala banyak memiliki nilai-nilai Agama


Hindu yang bisa dipetik dan diterapkan oleh pembaca geguritan sudamala.
3.1 Saran saran
Geguritan dalam sejarah perkembangan bahasa Bali, geguritan memiliki
peranan strategis sebagai salah satu ruang yang memungkinkan bahasa Bali untuk
berkembang setinggi-tingginya. Geguritan sebagai warisan dunia, bukan hanya
karena isi dan kandungan intrinsiknya, tetapi juga karena sumbangan terbesarnya
bagi sejarah bahasa-bahasa di dunia berupa kemampuannya merekam secara
tertulis kekayaan kosa kata bahasa Bali. Geguritan bukan hanya file-file dunia
imajinasi manusia Bali, tetapi juga file-file kosa kata.
Oleh karena itu geguritan haruslah dijaga baik-baik agar geguritan tidak
punah karena banyak kita lihat dilapangan para generasi muda sekarang ini sangat
sedikit yang meminati geguritan padahal geguritan jika dinikmati dengan
membaca sambil melagukanya sehingga kenikmatan yang kita dapatkan dan
merasakan kedamaian atau ketenangan pada diri kita. Oleh karenanya di dalam
menikmati geguritan dengan membacanya tidak bisa disamakan dengan membaca
karya sastra atau bacaan-bacaan yang lainya.
Maka dari itu untuk mencegah agar geguritan tidak punah, geguritan kita
tanamkan sejak dini misalnya kita berikan mata pelajaran pada siswa-siswi didik
kita, agar geguritan di bali tetap ajeg dan lestari. Begitu juga banyak nilai-nilai
yang dapat di petik dan diterapkan untuk membentuk mental generasi muda kini.

15

Kawi 1

Bahasa

Daftar Pusataka
_______, 2005. Kesusastraan Bali. Denpasar: Dinas Kebudayaan Prov Bali.
_______,____.

Geguritan

Sudamala.______:Wisnu

Santi

Grafika.

http://wayang.wordpress.com/2010/03/07/banjaran-pandawa-7-kidungsudamala/.php
http://www.e-dukasi.net/penjelasan_penngertiangeguritan.html
http://www.parisada.org/index.php
http://www.sastra.com/pengertian_kesusastraan_bali.html

16

Kawi 1

Bahasa

17

Kawi 1

Bahasa