Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN GASTRITIS


DI RUANG TPPRI RS PANTI WILASA CITARUM SEMARANG

Disusun untuk memenuhi tugas praktik klinik KMB II


oleh :
Hari Kusuma
P. 17420112018

PRODI D III KEPERAWATAN SEMARANG


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN SEMARANG
2013

LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN GASTRITIS
DI RUANG TPPRI RS PANTI WILASA CITARUM SEMARANG

Nama Mahasiswa

: Hari Kusuma

NIM

: P. 17420112018

Nama Pembimbing dan Tanda Tangan :

A. KONSEP DASAR
1. Definisi Gastritis
Gastritis adalah suatu peradangan pada dinding gaster terutama pada lapisan mukosa
gaster.

( Sujono Hadi, 1999: 81)


Gastritis merupakan peradangan mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronik,

difus atau local. Dua jenis gastritis yang paling sering terjadi adalah gastritis superficial akut
dan gastritis atrofik kronik.
2. Etiologi
a) Stress
b) Zat kimia
1.

Alkhohol

2.

Obat, terutama golongan NSAID misalnya : aspirin.

c) Makanan yang merangsang: panas, pedas, asam


d) Helycobacter pylory ( pada gastritis kronis )
3. Pastofisiologi
Gastritis superfisial akut
Merupakan respon mukosa lambung terhadap berbagai iritan local. Endotoksin bakteri
(masuk setelah menelan makanan terkontaminasi), kafein, alcohol, dan aspirin merupakan
agen agen

penyebab yang sering. Membaran mukosa lambung menjadi edema dan

hiperemik (kongesti dengan jaringan , cairan dan darah) dan mengalami erosi superficial,
bagian ini mensekresi sejumlah getah lambung, yang mengandung sangat sedikit asam tetapi
banyak mucus. Ulserasi superficial dapat terjadi dan dapat menimbulkan hemoragi. Mukosa

lambung dapat memperbaiki diri sendiri setelah mengalami gastritis. Kadang kadang
hemoragi memerlukan intervensi bedah.
Gastritis atrofik kronik
Gastritis kronik diklasifikasikan menjadi tipe A dan tipe B. Tipe A (sering disebut sebagai
gastritis autoimun) Ditandai oleh atrofi progresif epitel kelenjar disertai kehilangan sel
parietal dan sel chief. Akibatnya , produksi asam klorida, pepsin, dan faktor intrinsic
menurun. Dinding lambung menjadi tipis, dan mukosa mempunyai permukaan yang rata.
Minum alcohol berlebihan, teh panas dan merokok merupakan predisposisi timbulnya
gastritis akut. Tipe B (kadang disebut sebagai gastritis H. pylori) mempengaruhi antrum dan
pylorus(ujung lambung dekat duodenum). Ini dihubungkan dengan bakteri H. pylori; faktor
diet, seperti minuman panas atau pedas; penggunaan obat obatan dan alcohol; merokok;
atau refluks isi lambung.
4. Manifestasi Klinis
Gastritis superfisial akut
Manifestasi klinis gastritis akut dapat bervariasi dari keluhan abdomen yang tidak jelas,
seperti anoreksia atau mual, sampai gejala yang lebih berat seperti nyeri epigastrium ,
muntah, perdarahan dan hematemesis.
Gastirits atrofik kronik
Gejala gejala gastritis kronik umumnya bervariasi dan tidak jelas ; antara lain perasaan
penuh, anoreksia, dan distress epigastrik yang tidak nyata. Pasien dengan gastritis tipe A
secara khusus asimtomatik, kecuali untuk gejala defisiensi vitamin B 12. pada gastritis tipe B
pasien mengeluh anoreksia, nyeri ulu hati setelah makan, kembung, rasa asam di mulut, atau
mual dan muntah.
5. Komplikasi
Penyebab dari bermacam macam gastritis sudah diketahui, dan penatalaksanaan yang
efektif dan pemeriksaan untuk pencegahan juga tersedia, sehingga komplikasi serius tidak
lazim. Satu pengecualianyaitu infeksi H. pylori yang sudah ada sejak lama, kemungkinan
memicu kanker ususpada beberapa individu. Infeksi ini juga dapat memicu malignansi pada
sistem limfa yang disebut sebagai limphoma. Salah satu limphoma derajat ringan disebut
limphoma MALT. Mengeliminasi infeksi dari usussering mengobati limphoma tipe ini.
6. Data Penunjang

Dokter dapat memperkirakan gastritis dengan mendengar riwayat medis. Bagaimanpun


juga satu atunya cara yang tepat untuk membuat diagnosis adalah dengan edoscopy dan
biopsy batas perut. Endoscopy adalah pemeriksaan dengan bius ringan, cahaya dengan
jangkauan fleksibel dilewatkan kedalam peru. Gambar dapat digunakan, namunlebih penting
lagi, biopsy dapat digunakan untuk analisis di bawah mikroskop. Pemeriksaan sinar X GIT
bagian atas dan pemeriksaan darah akan sangat membantu.
7. Penatalaksaan
Perawatanaspirin,
pada klien
dengan gastritis
tergantung
pada penyebabnya. Pada
kebanyakan
H. phylori
Kafein
Obat-obatan (NSIAD,
sulfanomida
steroid,
digitalis)
tipe gastritits, mengurangi asam lambung dengan menggunakan obat obatn akan sangat
produksi
Melekat
epitel
lambung
membantu. Selain itu diagnosis spesifik
perlupada
dibuat.
Antibiotik
digunakanmeuntuk
infeksi.
bikoarbonat (HCO3-)

Mengurangi
aspirin, NSAID
atau
alcohol lambung
diindikasikan
saat
salah satu
ketiga hal tersebut
Mengganggu
pembentukan
sawar
Menghancurkan
mukosa
lapisan
mukosa
seldari
lambung
menjadi masalah. Untuk tipe gastritits yang tidak lazim lainnya penatalaksaan
me kemampuanjuga
diperlukan. Gastritis sendiri jarang menjadi masalah yang serius.

protektif terhadap asam

me barrier lambung terhadap asam dan pepsin

Menyebabkan difusi kembali asam lambung & pepsin

Inflamasi

Erosi mukosa
lambung

Nyeri epigastrium
me tonusjaringan
& perisaltik lambung
Mukosa lambung kehilangan integritas
me sensori
MK: Gangguan rasa nyaman : nyeri

untuk makan

8. Pathways Gastritis
Anoreksia

Refluks isi deudenum ke lambung


Perdarahan

Dorongan
Mual
ekspulsi isi lambung ke mulut

Muntah

MK: Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan

MK: Difisit volume cairan dan elektrolit

B. Proses Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
a. Riwayat Keperawatan
Fokus pada kemampuan pasien memenuhi kebutuhan nutrisi.
b. Pengkajian Fisik
1) Inspeksi
2) Palpasi

Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi kelainan , seperti nyeri tekan yang
dapat timbul akibat luka, peradangan setempat.
3) Perkusi
Pengkajian ini bertujuan untuk menilai norma atau tidaknya suara perkusi
abdomen. Suara perkusi normal adalah suara perkusi tympani.
4) Auskultasi
5) Pemeriksaan Diagnostik
a) Endoskopi, khususnya gastroduodenoskopi. Hasil pemeriksaan
akan ditemukan gambaran mukosa sembab, merah, mudah
berdarah atau terdapat perdarahan spontan, erosi mukosa yang
bervariasi.
b) Histopatologi.
c) Radiologi dengan kontras ganda, meskipun kadang dilakukan tapi
tidak begitu memberikan hasil yang memuaskan.
2. Diagnosa Keperawatan
a) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan
anoreksia, rangsangan muntah sendiri, penyalahgunaan laksantif, dan atau
penyimpangan persepsi dengan tubuh.
b) Potensial terhadap kekurangan volume cairan (sekunder) yang berhubungan
dengan diet.
c) Nyeri yang berhubungan dengan peradangan pada mukosa lambung.
d) Kebutuhan koping individu yang berhubungan dengan perasaan hilangk
kontrol rasa takut dengan bertambah besar dan/atau respons pribadi terhadap
disfungsi keluarga.
e) Ketidakefektifan koping keluarga yang berhubungan dengan ketidakmampuan
untuk mengkomunikasikan dan untuk memenuhi kebutuhan semua anggota
keluarga.
f) Kurang pengetahuan dan informasi yang berhubungan dengan kondisi dan
kurangnya keterampilan koping

3. Rencana Keperawatan
Rencana Tindakan:
1) Mempertahankan keseimbangan nutrisi yang adekuat
2) Mempertahankan keseimbangan cairan.
3) Mengurangi nyeri pasien
4) Memperbaiki koping individu.
4. Tindakan Keperawatan
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan anoreksia,
rangsangan muntah sendiri, penyalahgunaan laksantif, dan atau penyimpangan
persepsi dengan tubuh.
1.Izinkan klien memilih makanan (makanan rendah kalori tidak diperbolehkan)
2.Buat struktur waktu makan dengan batasan waktu (misalnya 40 menit)
3.Hilangkan distraksi (misalnya pembicaraan, menonton televisi) selama waktu
makan
4.Sebutkan waktu untuk makan, menghidangkan makanan, dan batas waktu makan;
informasikan pada klien bahwa bila makanan tidak dimakan selama waktu yang telah
disediakan, akan dibuat penggantian metode pemberian makanan yang lain.
5.Bila makanan tidak dimakan, lakukan pemberian makan melalui selang, NGT
sesuaipesanan dalam keadaan seperti ini jangan berikan penawaran pada klien.
6.Lakukan metode pemberian makan pengganti setiap kali klien menolak untuk
makan per oral.
7.Jauhkan perhatian selama makan bila klien menolak untuk makan.
8.Jangan biarkan klien "mengemut" makanan.
9.Kurangi perhatian saat makan

Terapi Modifikasi Perilaku


1.Klien mencapai peningkatan berat badan setiap hari karena adanya keinginan dari
klien.

2.Perpisahan dari keluarga selama beberapa waktu akan sangat membantu.


3. Beralih pada aktivitas yang menyenangkan.
4. Intervensi keperawatan pembatasan bersifat teknis.
5. Isolasi sosial.
6. Komunikasi yang bermanfaat.
7. Berikan penghargaan pada klien hanya bila ia mengalami kenaikan berat badan.
8. Tindakan konsisten harus dipertahankan.
9. Setiap anggota staf harus mempunyai laporan akhir per shift tentang suatu
keputusan
10.Cegah manipulasi staf dengan ceria.
Pencegahan manipulasi staf dengan cerita, melalui membuat dan pertahankan batasan
yang ketat, dan diskusikan tentang batasan dan konsekuensinya, bila melanggar
batasan tersebut dengan cara yang tidak menghukum, rujuk pada perilaku manipulatif.
11. Ukur berat badan
Ukur BB dengan akurat; a) timbang klien setiap hari sebelum makan pagi, b) timbang
klien hanya dengan gaun, cegah untuk menyembunyikan sesuatu yang berat pada
tubuh, c) tetapkan perilaku yang dapat diterima bila mencapai berat badan yang telah
ditetapkan, d) dorongan perawatan bertanggung jawab untuk peningkatan berat badan.

Kriteria Evaluasi
1. Klien mengungkapkan pemahaman tentang kebutuhan nutrisi.
2. Menerima masukan kalori adekuat untuk mempertahankan berat badan normal.
3. Mengikuti kembali pola makan yang normal.

Potensial terhadap kekurangan volume cairan (sekunder) yang berhubungan dengan


diet.
1. Pantau masukan dan haluan; simpan catatan di kantor perawat, dan observasi
dengan sesederhana mungkin.
2. Pantau pemberian cairan dengan elektrolit /NPT sesuai pesanan; temani klien
ketika mandi untuk mencegah pengosongan cairan intravena.
3. Pantau tanda vital sesuai kebutuhan.
Kriteria Evaluasi
1. Klien menunjukkan hidrasi diperlukan secara adekuat.
2. Keseimbangan antara masukan dan haluaran.

Nyeri yang berhubungan dengan peradangan pada mukosa lambung


1. Ajarkan klien teknik relaksasi
2. Mengukur skala nyeri dan karakter nyeri klien
3. Menganjurkan klien mencari posisi paling nyaman saat nyeri timbul
4. Berikan terapi sesuai program
Kriteria Evaluasi
1. Rasa nyeri klien berkurang
2. Klien merasa nyaman

Kebutuhan koping individu yang berhubungan dengan perasaan hilangk kontrol rasa
takut dengan bertambah besar dan/atau respons pribadi terhadap disfungsi keluarga.
1. Berikan dorongan untuk mengungkapkan perasaan
2. Observasi dan catat respons terhadap stres.

3. Ajukan untuk datang bila stres.


4. Hindarkan menarik perhatian Anda dari ritual atau emosional klien yang
behubungan dengan makan, makanan, dan sebagainya.
5.Dukung upaya klien pada penentuan diri, khususnya bila dengan keluarga.
6. Tingkatkan tehnik reduksi stres.
7. Berikan dorongan pada orang terdekat.

Kriteria Evaluasi
1. Klien mulai menunjukkan ketrampilan koping positif.
2. Mempertahankan berat badan selama periode stres.
3. Mencapai dukungan dan sumber-sumber yang tepat.

Ketidakefektifan koping keluarga yang berhubungan dengan ketidakmampuan untuk


mengkomunikasikan dan untuk memenuhi kebutuhan semua anggota keluarga
1. Berikan dorongan pada klien dan keluarga untuk mengatakan pikiran, persepsi, dan
perasaan.
2. Tunjukkan area yang tidak disetujui oleh klien dan anggota keluarga.
Tentukan persepsi setiap anggota keluarga tentang apa yang telah dikatakan orang lain
untuk memberikan penekanan keterampilan mendengar.
Tekankan pada klien dan anggota keluarga tentang pentingnya menggunakan kata
"Saya" dan menerima tanggung jawab untuk diri dengan kehadiran anggota keluarga,
jasilah penasehat bagi klien dan berupaya menjadi pendukung pada penentuan diri.
3. Arahkan kembali pada kontrol konflik antara klien dan arang tua/orang terdekat
terhadap makanan dan terhadap isu-isu yang berhubungan dengan jam malam,
aktivitas sekolah, kepuasan kerja, dan, seterusnya.

4. Rujuk keluarga pada perawatan psikiatri yang berkelanjutan.

Kriteria Evaluasi
1. Klien mulai mengenal kebutuhan orang lain.
2. Mengidentifikasi area di mana kebutuhan serta harapan tidak terpenuhi.
3. Memberikan respons yang tepat terhadap dukungan yang diberikan.
4. Mencari bantuan bila diperlukan.

Kurang pengetahuan dan informasi yang berhubungan dengan kondisi dan kurangnya
keterampilan koping
1. Berikan penekanan panduan nutrisi dan bagaimana cara mengatasi diet ketika jauh
dari rumah.
2. Diskusikan dengan klien pentingnya pengkajian ulang kebutuhan kalori setiap 2
sampai 4 minggu.
3. Berikan dorongan penggunaan teknik penatalaksanaan stres.
4. Tingkatkan peogram latihan yang teratur.
5. Berikan dorongan kunjungan perawatan tindak lanjut dengan dokter dan konselor.

Kriteria Evaluasi
1.Klien mengungkapkan pentingnya perubahan gaya hidup untuk mempertahankan
berat badan yang normal.
2.Klien mencari sumber konseling untuk membantu mengadakan perubahan.
3. Klien berusaha mempertahankan berat badan.

5. Evaluasi Keperawatan
a. Klien mengikuti kembali pola makan yang normal.
b. Klien menunjukkan hidrasi diperlukan secara adekuat.
c. Keseimbangan antara masukan dan haluaran.
d. Rasa nyeri klien berkurang

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.

Smeltzer & Bare (2002). Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC

Doengoes. (2000). Rencana Asuhan Keperawaan, Jaka