Anda di halaman 1dari 13

DASAR-DASAR PERPAJAKAN

MAKALAH

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Perpajakan 1


Disusun oleh:
Alfian
Jhon Phris Simajuntak

1202120018

Mirza Masita

1202120021

Novi Karsetio W

1202120026

Rahmiyatus Syukra

1202120028

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVESRITAS TELKOM
BANDUNG
18 Februari 2014

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan
hidayah-Nya penulis telah mampu menyelesaikan makalah berjudul Dasar-dasar
Perpajakan. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Perpajakan
1.

DAFTAR ISI

BAB 1

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dewasa ini kita sering mendengar istilah pembangunan nasional baik dalam
mata kuliah atau media. Kita juga mengetahui bahwa pembangunan tersebut pastilah
memerlukan dana yang tidak sedikit. Dalam bab ini kita akan mempelajari salah satu
sumber pemasukan negara bagi pembangunan, yakni pajak. Secara umum persepsi
kita mengenai pajak adalah wujud dari seorang warga negara untuk memberikan
kontribusi dalam membangun negara dengan mendapat imbalan tidak langsung.
Dalam makalah ini kita akan mempelajari sebagian hal yang berkaitan dengan
pajak, mulai dari stelsel pajak, asas pemungutan pajak, sistem pemungutan pajak,
hambatan pemungutan pajak, utang pajak, dan tarif pajak. Semua ini akan kita pelajari
sebagai pengantar dalam mata kuliah ini, karena materi yang lebih lanjut akan
dipelajari dalam bab-bab selanjutnya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, penulis merumuskan rumusan masalah
sebagai berikut.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Apa stelsel pemungutan pajak itu?


Apa asas pemungutan pajak?
Bagaimana sistem pemungutan pajak?
Apa hambatan pemungutan pajak?
Apa utang pajak itu?
Bagaimana tarif penetapan pajak?

C. Tujuan Penulisan Makalah


Sejalan dengan rumusan masalah diatas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk
mengetahui dan mendeskripsikan:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Stelsel pajak dan jenisnya


Asas-asas pemungutan pajak
Sistem pemungutan pajak
Hambatan pemungutan pajak
Utang pajak
Tarif pajak

D. Manfaat Penulisan Makalah

Manfaat penulisan makalah ini adalah untuk memperluas wawasan kami dan pembaca
tentang masalah Perpajakan. Selain itu supaya ada kesadaran pada diri kami dan
pembaca untuk tertib membayar pajak.

BAB 2

PEMBAHASAN
I.

Stelsel Pemungutan Pajak


Stelsel adalah sistem pemungutan pajak, bisa di depan, tengah atau di belakang.
Pada umumnya system pemugutan pajak ada 3 yaitu:
1. Stelsel riil/nyata
Pengenaan pajak didasarkan pada objek (penghasilan) yang nyata sehingga
pemungutannya baru dapat dilakukan pada akhir tahun pajak,yakni setelah
penghasilan yang sesungguhnya telah dapat diketahui. Oleh karena itu,apabila
terhadap suatu jenis pajak digunakan stelsel riil maka system pemungutan
pajaknya adalah system pemungutan pajak di belakang (naheffing).

- Kelebihan : Pajak yang dikenakan lebih realistis yaitu sesuai dengan besarnya
pajak yang sesungguhnya terutang karena pemungutan pajak dilakukan setelah
tutup buku, sehingga penghasilan yang sesungguhnya telah diketahui.
- Kelemahan : pajak barudapat dikenakan pada akhir periode (setelah penghasilan
riil diketahui), padahal pemerintah membutuhkan penerimaan pajak ini untuj
pengeluaran

sepanjang

tahun

dan

tidak

hanya

pada

akhir

tahun.

2. Stelsel anggapan (Fictieve stelsel)


Adalah suatu system pengenaan pajak yang didasarkan pada suatu fiksi
(anggapan) yang diatur oleh undang-undang. Anggapan yang dimaksud disini
dapat bermacam-macam jalan pikirannya tergantung peraturan perpajakan yang
berlaku. Dengan demikian, stelsel ini menerapkan system pemungutan pajak di
depan (voor heffing).
- Kelebihan : Pemungutan pajak sudah dapat dilakukan pada awal tahun sehingga
pemeritah dapat menggunakan penerimaan pajak untuk membiayai pengeluaran
Negara sepanjang tahun dan uang hasil pajak segera dapat masuk ke dalam kas
Negara
- Kelemahan : Besarnya pajak yang dipungut belum tentu sesuai dengan besarnya
pajak yang sesungguhnya terutang sehingga akan merugikan Negara maupun
wajib pajak.
3. Stelsel campuran
Merupakan perpaduan dari stelsel nyata dan stelsel anggapan. Pada awal tahun,
besarnya pajak dihitung berdasarkan suatu anggapan, kemudian pada akhir tahun
besarnya pajak disesuaikan dengan keadaan sebenarnya. Dengan kata lain stelsel
campuran merupakan upaya untuk menghilangkan kelemahan-kelemahan dari
kedua stelsel sebelumnya.
- Kelebihan : pemungutan pajak sudah dapat dilakukan pada awal tahun pajak,
dan pajak yang dipungut sesuai dengan besarnya pajak yang sesungguhnya
terutang.
- Kelemahan : adanya tambahan pekerjaan administrasi karena penghitungan
pajak dilakukan dua kali yaitu pada awal dan akhir tahun.
Undang-undang Pajak Penghasilan Indonesia menganut stelsel campuran.
Dimana pada awal tahun angsuran pajak berdasarkan besarnya pajak yang
terutang pada Surat Pemberitahuan tahun sebelumnya. Kemudian pada akhir tahun

dihitung kembali berdasarkan penghasilan yang sesungguhnya diperoleh pada


tahun yang bersangkutan (PPh pasal 25). Jika terdapat kekurangan maka wajib
pajak harus melunasi kekurangan pembayaran pajak dalam jangka waktu yang
telah ditentukan (PPh pasal 29).

II.

Asas-asas Pemungutan Pajak


Untuk mencapai tujuan pemungutatan pajak perlu dipegang teguh asas-asas
pemungutan dalam memilih alternative pemungutannya. Dengan demikian,
terdapat keserasian pemungutan pajak denagan tujuan dan asas yang masih
diperlukan lagi, yaitu pemahaman atas perlakuan pajak tertentu. Asas-asas
pemungutan pajak sebagaimana dikemukakan oleh Adam Smith dalam buku An
Inquiri into the Nature and Cause of the Wealth of Nations menyatakan bahwa
pemungutan pajak hendaknya didasarkan pada.
1. Equality
Pemungutan pajak harus bersifat adil dan merata, yaitu dikenakan pada orang
pribadi yang harus sebanding dengan kemampuan membayar pajak atau ability to
pay dan sesuai dengan manfaat yang diterima.
Adil dimaksudkan bahwa setiap Wajib Pajak

menyumbangkan uang untuk

pengeluaran pemerintah sebanding dengan kepentingannya dan manfaat yang


diminta.
2. Certainty
Penetapan pajak itu tidak ditentukan sewenang-wenang. Oleh karena itu, Wajib
Pajak harus mengetahui secara jelas dan pasti pajak yang terutang, kapan harus
dibayar serta batas waktu pembayaran.
3. Convenience
Kapan Wajib Pajak itu harus membayar pajak sebaiknya sesuai denga saat-saat
yang tidak menyulitkan Wajib Pajak, sebagai contoh pada saat Wajib Pajak
memperoleh penghasilan. Sistem pemungutan ini disebut Pay as You Earn.
4. Economy
Secara ekonomi biaya pemungutan dan biaya pemenuhan kewajiban pajak bagi
Wajib Pajak diharapkan seminimum mungkin, demikian pula beban yang dipikul
Wajib Pajak.
Definisi atau pengertian asas pemungutan pajak menurut Mardiasmo, dalam
buku yang berjudul Perpajakan, menyatakan bahwa asas pemungutan pajak
adalah:

a. Asas domisili (asas tempat tinggal), yaitu negara berhak mengenakan pajak
atas seluruh penghasilan Wajib Pajak yang bertempat tinggal di wilayahnya, baik
penghasilan yang berasal dari dalam maupun dari luar negeri. Asas ini berlaku
untuk Wajib Pajak dalam negeri.
b. Asas sumber, yaitu negara berhak mengenakan pajak atas penghasilan yang
bersumber di wilayahnya tanpa memperhatikan tempat tinggal Wajib Pajak.
c. Asas kebangsaan, yaitu pengenaan pajak dihubungkan dengan kebangsaan
suatu negara. Misalnya pajak bangsa asing di Indonesia dikenakan pada setiap
orang yang bukan berkebangsaan Indonesia yang bertempat tinggal di Indonesia.
Asas ini berlaku untuk Wajib Pajak luar negeri.
IV.

Sistem Pemungutan Pajak


Ada tiga sistem pemungutan pajak:
1. Office Assessment System
Adalah sistem pemungutan pajak dimana wewenang untuk menentukan
besarnya pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak berada pada aparat
pemungutan pajak. Sistem ini sering disebut sistem SKP dan pada
umumnya diterapkan pada pengenaan pajak langsung.
2. Self Assessment System
Yaitu sistem pemungutan pajak dimana wewenang untuk menghitung besarnya
pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak berada pada wajib pajak tersebut.
3. With Holding System
Yaitu sistem pemungutan pajak dimana wewenang untuk menentukan besarnya
pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak tidak berada pada aparat
pemungutan pajak maupun oleh wajib pajak, melainkan pihak ketiga yang
ditunjuk oleh menteri keuangan.

V.

Hambatan Pemungutan Pajak


Hambatan terhadap pemungutan pajak dapat dikelompokkan menjadi :
1. Perlawanan Pasif
Masyarakat enggan (pasif) membayar pajak, yang dapat disebabkan antara lain:
a. Perkembangan intelektual dan moral masyarakat
b. Sistem perpajakan yang (mungkin) sulit dipahami masyarakat
c. Sistem kontrol tidak dapat dilakukan atau dilaksanakan dengan baik

2. Perlawanan Aktif
Perlawanan aktif meliputi semua usaha dan perbuatan yang secara langsung
ditujukan kepada fiskus dengan tujuan untuk menghindari pajak. Bentuknya
antara lain :
a. Tax avoidance, usaha meringankan beban pajak dengan tidak melanggar
undang-undang.
b. Tax evasion, usaha meringankan beban pajak dengan cara melanggar
undang-undang (menggelapkan pajak).
VI.

Utang Pajak
Utang pajak adalah pajak yang harus dibayar termasuk sanksi administrasi
berupa bunga, denda atau kenaikan yang tercantum dalam surat ketetapan pajak
atau surat sejesisnya berdasarka peraturan perundang-undangan perpajakan.
Utang pajak akan timbul sesudah fiskus menerbitkan Surat Ketetapan Pajak
(SKP). Akan tetapi prinsip tersebut tidak mutlak.Utang pajak dapat timbul apabila
keadaan si wajib pajak menjadikan wajib pajak mempunyai Utang pajak sesuai
dengan undang-undang.
Sebagai contoh, misal si A adalah seorang wajib pajak. Dia telah betempat
tinggal atau berada di daerah Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12
bulan dan si A telah memiliki penghasilan melebihi PTKP. Dalam keadaan
tersebut, maka secara otomatis akan timbul Utang pajak bagi si A tanpa harus
menunggu fiskus menerbitkan SKP kepada si A.
Terdapat dua ajaran yang mengatur timbulnya utang pajak, yaitu :
1.
Ajaran Formil
Utang pajak timbul karena dikeluarkannya surat ketetapan pajak oleh
2.

fiskus. Ajaran ini diterapkan pada official assesment system.


Ajaran Materiil
Utang pajak timbul karena berlakunya undang-undang. Seseorang
dikenai pajak karena suatu keadaan dan perbuatan. Ajaran ini
diterapkan pada self assessment system.

1.

Hapusnya utang pajak dapat disebabkan beberapa hal, yaitu :


Pembayaran,
Utang pajak yang melekat pada Wajib Pajak akan dihapus karena

pembayaran pajak yang dilakukan ke kas Negara.


2. Kompensasi,

Keputusan yang ditujukan kepada kompensasi utang pajak dengan


tagihan seseorang di luar pajak tidak diperkenankan. Oleh karena itu,
kompensasi terjadi apabila Wajib Pajak mempunyai tagihan berupa
kelebihan pembayaran pajak. Jumlah kelebihan pembayaran pajak
yang diterima Wajib Pajak sebelumnya harus dikompensasikan
dengan pajak-pajak lainnya yang terutang. Kompensasi ini dikenal
dengan
3.

kompensasi

pembayaran

(Pasal

11

Undang-Undang

Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan).


Daluwarsa,
Daluwarsa diartikan sebagai daluwarsa penagihan. Hak untuk
melakukan penagihan pajak, daluwarsa telah lampau waktu sepuluh
tahun terhitung sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa
Pajak, Bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak yang bersangkutan. Hal
ini untuk memberikan kepastian hukum kapan utang pajak tidak dapat
ditagih lagi. Namun daluwarsa penagihan pajak tertangguhkan, antara

lain dapat terjadi apabila diterbitkan Surat Teguran dan Surat Paksa.
4. Pembebanan, dan
Utang pajak tidak berakhir dalam arti yang semestinya, tetapi karena
ditiadakan. Pembebasan umumnya tidak diberikan terhadap pokok
pajaknya, tetapi terhadap sanksi administrasi.
5. Penghapusan
Penghapusan utang pajak ini sama sifatnya dengan pembebasan,
tetapi diberikannya karena keadaan Wajib Pajak, misalnya : keadaan
keuangan Wajib Pajak.
VII.

Tarif Pajak
Tarif pajak merupakan angka atau persentase yang digunakan untuk

menghitung jumlah pajak atau jumlah pajak yang terutang.


Tarif pajak dibedakan menjadi 4 macam :
1. Tarif sebanding/ proporsional
Tarif berupa persentase yang tetap, terhadap berapapun jumlah yang
dikenai pajak sehingga besarnya pajak yang terutang proporsional terhadap
besarnya nilai yang dikenai pajak.
Contoh:
Untuk penyerahan barang kena pajak didalam daerah pabean akan
dikenakan pajakpertambahan nilai sebesar 10%.
2. Tarif tetap

Tarif berupa jumlah yang tetap terhadap berapapun jumlah yang dikenai
pajak sehingga besarnya pajak yang terutang tetap.
Contoh:
Besarnya tarif bea materai untuk cek dan bilyet giro dengan nilai nominal
berapapun adalah rp.1.000.3. Tarif progresif
Persentase tarif yang digunakan semakin besar bila jumlah yang dikenai
pajak semakin besar menurut Pasal 17 UU pph 1995:
-

Untuk Wajib Pajak Dalam Negeri (WPDN) dalam bentuk Orang


Pribadi

Lapisan penghasilan kena pajak

Tarif

s/d Rp. 25.000.000,00

5%

Rp. 25.000.000,00 s/d Rp. 50.000.000,00

10%

Rp. 50.000.000,00 s/d Rp. 100.000.000,00

15%

Rp. 100.000.000,00 s/d Rp. 200.000.000,00

25%

Diatas Rp. 200.000.000,00

35%

Untuk WPDN dalam bentuk Badan

Lapisan penghasilan kena pajak

Tarif

s/d Rp. 50.000.000,00

10%

Rp. 50.000.000,00 s/d Rp. 100.000.000,00

15%

Diatas Rp. 100.000.000,00

30%

Penghasilan tidak kena pajak (PTKP) adalah sebagai berikut:

Penerima PTKP

Setahun

Sebulan

Untuk diri pegawai

Rp 15.840.000

Rp 1.320.000

Rp 1.320.000

Rp 110.000

Rp 1.320.000

Rp 110.000

Tambahan untuk pegawai yang


sudah menikah(kawin)
Tambahan untuk setiap anggota

Penerima PTKP

Setahun

Sebulan

keluarga *) paling banyak 3


(tiga) orang
Menurut kenaikan persentase tarifnya, tarif progresif dibagi menjadi:
a) Tarif progresif progresif : kenaikan persentase semakin besar
b) Tarif progresif besar
: kenaikan persentase tetap
c) Tarif progresif degresif : kenaikan persentase ssemakin kecil
4. Tarif degresif
Tarif degresif yaitu tarif yang digunakan semakin kecil bila jumlah yang
dikenai pajak semakin besar.
Contoh:
1.
Rp. 1.000.000 (4%) = Rp. 40.000
2.
Rp. 2.000.000 (3,8%) = Rp. 76.000
3.
Rp. 3.000.000 (3,5%) = Rp. 105.000

BAB 3
PENUTUP

A. Simpulan
Dari penjelasan materi di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pajak adalah
pembayaran yang dilakukan rakyat, dan merupakan sumber dana untuk pembangunan.
Selain itu pajak berbeda dengan retribusi dan sumbangan. Dalam penetapan besaran
pajak harus sesuai dengan pancasila. Pajak sendiri memiliki banyak jenis dan asas yang
digunakan pun beraneka ragam. Tarif pajak berbeda tergantung dasar yang digunakan.
B. Saran
Setelah mempelajari materi ini hendaklah kita sadar akan kewajiban kita untuk
membayar pajak, agar pembangunan dapat terus berjalan.

DAFTAR PUSTAKA
http://catarts.wordpress.com/2012/04/12/dasar2-perpajakan-mardiasmo/
http://ganjar-asdi.blogspot.com/2010/11/stelsel-pajak.html
http://globalonlinebook1.blogspot.com/2013/06/3-asas-pemungutan-pajak.html
http://ganjar-asdi.blogspot.com/2010/11/asas-asas-pemungutan-pajak.html
http://kurniawanbudi04.wordpress.com/2013/05/20/pengertian-dasar-perpajakanmakalah-sederhana-perpajakan/
http://surotocahrumbia.blogspot.com/2013/04/subjek-pajak-objek-pajak-utangpajak_7498.html