Anda di halaman 1dari 74

EKONOMI TEKNIK

AP@1982-TI-UII

PROSEDUR PENGAMBILAN KEPUTUSAN


PENENTUAN ALTERNATIF
PENENTUAN HORISON PERENCANAAN
ESTIMASI ALIRAN KAS
PENENTUAN MARR
MEMBANDINGKAN ALTERNATIF
ANALISIS SUPLEMEN
MEMILIH ALTERNATIF
AP@1982-TI-UII

1. PENENTUAN ALTERNATIF

Dilakukan oleh mereka yang mengetahui permasalahan


teknis pada bidang investasi yang direncanakan.

JENIS SIFAT ALTERNATIF


Independent

Mutually
exclusive

AP@1982-TI-UII

Conditional

Contoh 1) : Akan dievaluasi 3 alternatif investasi dengan kebutuhan dana


untuk investasi awal sbb : A (Rp 20 juta), B ( Rp 30 juta ) dan C ( Rp 50 juta).
Dana yang tersedia Rp 50 juta. Alternatif B tergantung pada alternatif A;
alternatif A dan C bersifat mutually exclusive
No

Alt A

Alt B

Alt C

7
8

B tergantung A

4
5

Ok

Ok

Keterangan

Ok
Ok

Dana tidak cukup,


Mutually exclusive

B tergantung A,
Dana tidak cukup

Mutually exclusive,
dana tidak cukup

AP@1982-TI-UII

2. PENENTUAN HORISON PERENCANAAN

Horison Perencanaan merupakan periode dimana


analisa ekonomi teknik dilakukan
Horison Perencanaan digunakan sebagai bingkai
waktu untuk membandingkan alternatif-alternatif yang
secara realistis menunjukkan periode waktu yang bisa
memberikan estimasi aliran kas yang cukup akurat
Horison perencanaan tidak selalu dipengaruhi oleh
umur teknis dan umur depresiasi suatu peralatan atau
investasi
AP@1982-TI-UII

Penentuan horison perencanaan tergantung pada jenis


investasi atau aset. Aset yang termasuk produk yang
perkembangan teknologinya cepat membutuhkan horison
perencanaan yang lebih pendek dibanding dengan produk
teknologi menengah yang tidak terlalu peka terhadap
perkembangan teknologi.

Tiga situasi berkaitan dengan penentuan horison


perencanaan yaitu ; alternatif yang dibandingkan memiliki
umur teknis sama, memiliki umur teknis berbeda atau
memiliki umur teknis abadi

AP@1982-TI-UII

Membandingkan Alternatif Dengan Umur Teknis Berbeda

Menggunakan kelipatan persekutuan terkecil alternatif yang dipertimbangkan

Menggunakan ukuran deret seragam dari aliran kas setiap alternatif

Menggunakan umur alternatif yang lebih pendek

Menggunakan umur alternatif yang lebih panjang

Menggunakan suatu periode yang umum dipakai

AP@1982-TI-UII

3. ESTIMASI ALIRAN KAS

Estimasi aliran kas dibuat dengan pertimbangan prediksi


kondisi yang akan datang dan berdasarkan kecenderungan
yang digambarkan oleh data masa lalu
Aliran kas bisa digambarkan dengan diagram aliran kas.
Diagram aliran kas adalah suatu ilustrasi grafis dari
transaksi ekonomi yang digambarkan pada garis skala
waktu. Skala waktu digambarkan dengan garis horisontal,
aliran kas digambarkan dengan garis vertikal. Aliran kas
masuk digambarkan dengan panah ke atas dan aliran kas
keluar digambarkan dengan panah ke bawah.
Diasumsikan aliran kas terjadi pada akhir periode bunga

AP@1982-TI-UII

Diagram Aliran Kas


Aliran kas masuk
(panah ke atas )
(skala waktu (garis horisontal)

Aliran kas keluar


(panah ke bawah)
Dalam mengestimasi aliran kas, semua ongkos dan pendapatan selama
periode perencanaan termasuk nilai sisa digambarkan dengan lengkap

AP@1982-TI-UII

Nilai Uang dari Waktu

Secara umum nilai uang senantiasa berubah (turun)


seiring dengan berjalannya waktu
Dikenal 2 jenis bunga berkaitan dengan konsep nilai
uang dari waktu, yaitu bunga sederhana dan bunga
majemuk
Bunga sederhana, besarnya bunga dihitung dari induk
tanpa memperhitungkan bunga yang telah
diakumulasikan pada periode sebelumnya
Bunga majemuk, besarnya bunga pada suatu periode
dihitung berdasarkan besarnya induk ditambah dengan
besarnya bunga yang telah terakumulasi pada periode
sebelumnya
AP@1982-TI-UII

Bunga majemuk terbagi menjadi bunga majemuk diskrit


dan bunga majemuk kontinyu.
Pemajemukan diskrit berarti dalam satu periode (misal
setahun), banyaknya periode pembungaan (periode
pemajemukan) dalam jumlah tertentu.
Pemajemukan kontinyu berarti dalam satu periode
(misal setahun), banyaknya periode pembungaan
(periode pemajemukan) adalah tak berhingga.
Rasio dari bunga yang dibayarkan terhadap induk
dalam suatu periode waktu (dinyatakan dalam
persentase) disebut tingkat bunga

AP@1982-TI-UII

Notasi :

F = Future worth (nilai mendatang), yaitu nilai ekuivalen dari satu


atau lebih aliran kas pada suatu titik relatif yang didefinisikan
sebagai waktu mendatang

P = Present worth (nilai sekarang), yaitu nilai ekuivalen dari satu


atau lebih aliran kas pada suatu titik relatif yang didefinisikan
sebagai waktu sekarang

A = Annual worth (nilai tahunan seragam), yaitu nilai ekuivalen dari


aliran kas pada akhir periode yang besarnya sama untuk beberapa
periode yang berurutan

G = Gradient, yaitu suatu aliran kas dimana dari satu periode ke


periode berikutnya terjadi penambahan atau pengurangan kas yang
besarnya sama

i = tingkat bunga efektif per periode

n = jumlah periode pemajemukan


AP@1982-TI-UII

Bunga Sederhana
1.000

.
1.000+10%x1x1.000=
1.100
P

1.000+10%x2x1.000=
1.200
P

1.000+10%x3x1.000=
1.300

F = P(1 + i x n)
AP@1982-TI-UII

Bunga Majemuk Diskrit


1.000

.
1.000+10%x1.000
=1.100
P

1.100+10%x1.100
=1.210
P

1.210+10%x1.210
=1.331

F = P (1 + i)^n
AP@1982-TI-UII

Bunga Majemuk Diskrit


F = P (1 + i)^n
nilai (1 + i)^n dapat dilihat pada tabel F/P,i,n
Jadi F = P (F/P,i,n)
Contoh : P = 1.000, i = 0,10, n = 3
F = P (1 + i)^n ; F = 1.000 (1 + 0,10)^3 = 1.331

atau F = P (F/P,i,n) ; F = 1.000 (1,3310) = 1.331


AP@1982-TI-UII

Dengan cara yang sama diperoleh hubungan sbb:


P = F (P/F,i,n)
F = A (F/A,i,n)
P = A (P/A,i,n)
P = G (P/G,i,n)

; A = F (A/F,i,n)
; A = P (A/P,i,n)
; A = G (A/G,i,n)

Hubungan tersebut dapat digambarkan pada diagram


aliran kas sebagai berikut :

AP@1982-TI-UII

Hubungan P dengan F
Mencari F jika diketahui P

F?
0

.n

F = P (F/P,i,n)

AP@1982-TI-UII

Mencari P jika diketahui F


F
0

4.. n

P?

P = F (P/F,i,n)

AP@1982-TI-UII

Hubungan A dengan F

Mencari F jika diketahui A


A
A A A
0

4n

F?
F = A (F/A,i,n)

AP@1982-TI-UII

Mencari A jika diketahui F

A?

4. n

F
A = F (A/F,i,n)
AP@1982-TI-UII

Hubungan A dengan P
Mencari P jika diketahui A

4 .. n

P?
P = A (P/A,i,n)
AP@1982-TI-UII

Mencari A jika diketahui P

A? A?

A?

A?

4 ... n

A?

P
A = P (A/P,i,n)
AP@1982-TI-UII

Mencari A jika diketahui G

A+0G A+1G
0

A+2G
3

A+3G

A+nG

4 ... n

A = A1 + A2
A = A1 + G (A/G,i,n)
AP@1982-TI-UII

CONTOH KASUS
1. Berapakah uang yang akan diterima lima tahun yang akan
datang, jika 3 tahun yang lalu telah ditabungkan uang sebanyak
Rp 5 juta pada tingkat bunga 10%/tahun
2. Berapakah uang yang harus ditabungkan sekarang agar 5 tahun
yang akan datang dapat diperoleh uang sebesar Rp 20 juta
pada tingkat bunga 15%/tahun
3. Berapakah uang yang harus ditabung pertahun dalam jumlah
yang sama mulai tahun depan, agar setelah 10 tahun diperoleh
uang sebanyak Rp 20 juta pada tingkat bunga 10 %/tahun

4. Berapa uang yang akan terkumpul pada akhir tahun ke 10 jika


mulai tahun depan menabung uang sebesar Rp 2 juta /tahun
selama 5 tahun berturut-turut. i = 10%
AP@1982-TI-UII

5. Berapakah uang yang akan diterima pertahun dalam jumlah


yang sama selama 5 tahun berturut-turut mulai tahun depan,
jika saat ini ditabungkan uang sebanyak Rp 10 juta pada
tingkat bunga 15%/tahun.
6. Berapa uang yang harus ditabungkan sekarang, agar mulai
tahun depan dapat diterima uang sebesar Rp 2 juta/tahun
selama 5 tahun berturut-turut pada tingkat bunga 10%/tahun

7. Seorang bapak merencanakan untuk menabung mulai tahun


depan sebesar RP 1juta dan naik Rp 200.000/tahun untuk
tahun-tahun berikutnya. Berapa banyak uang yang terkumpul
pada akhir tahun ke 10, jika i = 10%/tahun
8. Berapa lama suatu tabungan harus disimpan sehingga
nilainya menjadi 2 kalinya, bila tingkat bunga yang berlaku
10%/tahun ?
AP@1982-TI-UII

9. Sebuah bank pekreditan rakyat menawarkan pinjaman


sebesar Rp 5 juta dengan pembayaran pengembalian
sebanyak Rp 1,55 juta/tahun sebanyak 6 kali yang dimulai
tahun depan. Berapakah tingkat bunga yang dipakai oleh
bank tersebut.

10. Sebuah perusahaan ingin menghemat pemakaian energi


dengan memasang sebuah alat yang harganya Rp 75 juta.
Alat ini diperkirakan akan memberikan penghematan Rp 10
juta pada tahun pertama dan meningkat sebesar Rp 2,5 juta
setiap tahun. Dengan tingkat bunga 20%/tahun, tentukan
berapa lama waktu yang dibutuhkan agar penghematan yang
diberikan impas dengan harga alat tersebut

AP@1982-TI-UII

Bunga Majemuk Kontinyu

Pemajemukan kontinyu

Karena transaksi moneter mungkin berlangsung setiap


saat, maka pemajemukan sebenarnya berlangsung dalam
jumlah yang banyak sekali dalam setahun. Pemajemukan
kontinyu berarti dalam setahun banyaknya periode
pemajemukan adalah tak terhingga

Tingkat Bunga Efektif dan Nominal

Istilah bunga nominal dan bunga efektif mengacu pada


perbedaan antara bunga sederhana dan bunga majemuk, yaitu
apakah bunga yang dihasilkan oleh induk akan berbunga pada
periode-periode berikutnya atau hanya induknya saja yang
berbunga. Istilah ini digunakan jika periode pemajemukannya
kurang dari satu tahun
AP@1982-TI-UII

Tingkat bunga nominal tahunan : perkalian antara jumlah


periode pemajemukan pertahun dengan tingkat bunga per
periode
r=mi
dengan : r = tingkat bunga nominal (tahunan)
i = tingkat bunga nominal (atau tingkat bunga
efektif) perperiode pemajemukan
m = jumlah pemajemukan tiap tahun
Tingkat bunga efektif : tingkat bunga tahunan termasuk
efek pemajemukan dari setiap periode yang kurang dari
satu tahun.
i eff = (1 + i)m -1 , dengan i = r/m
AP@1982-TI-UII

4. PENENTUAN MARR
LAYAK ?

2012 100 juta

2013 115 juta

LAYAK ?

AP@1982-TI-UII

2014 131 juta

TARGET
MARR
Minimum Attractive Rate of Return

.
ketersediaan modal, ketersediaan kesempatan
investasi, kondisi bisnis, tingkat inflasi, ongkos
modal (cost of capital) perusahaan, peraturan
pajak, peraturan pemerintah, tingkat keberanian
menanggung resiko bagi pengambil keputusan,
tingkat resiko/ketidakpastian yang dihadapi dll

AP@1982-TI-UII

5. MEMBANDINGKAN ALTERNATIF

Metode nilai sekarang (Present Worth)

Metode deret seragam (Annual Worth)

Metode nilai mendatang (Future Worth)

Metode tingkat pengembalian (Rate of Return)

Metode periode pengembalian (Payback Period)

Metode manfaat/biaya (BC Ratio)

P, A, F, i, n

AP@1982-TI-UII

Contoh 4) Aliran kas


Aliran Kas Netto
PT Bulan Sabit (Rp juta)

Tahun

Program produksi/
penjualan.

Konstruksi

700
unit

900
unit

900
unit

1000
unit

1000
unit

A. Aliran Kas Masuk


Hasil penjualan

3.500

4.500

4.500

5.000

5.000

JUMLAH

3.500

4.500

4.500

5.000

5.000

2.600
225

200
3.200
275

200
3.200
275

125
200
3.500
350

200
3.500
350

2.825

3.725

3.675

4.175

4.050

675

825

825

825

950

B. Arus Kas Keluar


1. Investasi awal
2. Penggantian Alat
3. Angsuran kredit
4. Biaya operasional
5. Pajak perseroan
JUMLAH

2.000
-

2.000

C. Selisih Kas

(2.000)

D. Nilai Sisa Harta Tetap

150

Catatan : harga jual/unit Rp 5000,-. Biaya operasional : tetap Rp 500.000,- /tahun


dan variabel Rp 3.000,-/unit
AP@1982-TI-UII

Metode Nilai Sekarang (Present Worth)

Pada metode ini semua aliran kas selama horison

perencanaan dikonversikan menjadi nilai sekarang (P).


Rencana investasi dikatakan layak ( menguntung kan)
jika pada MARR tertentu menghasilkan P(W) atau NPV
(Net Present Value) 0. Jika proyek dibandingkan
hanya berdasarkan ongkos maka pilih proyek dengan
P(W) terkecil biayanya.
Jika MARR contoh 4 di atas adalah 15%/tahun, maka
nilai NPV (dalam jutaan rp) :

AP@1982-TI-UII

NPV =

2.000 + 675 (P/F,15%,1) + 825 (P/A,15%,3)


(P/F,15%,1) + 1.100 (P/F,15%,5)
= 2.000 + 675 (0,8696) + 825 (2,2832) (0,8696) +
1.100 (0,4972) = 771,9133

AP@1982-TI-UII

Metode Deret Seragam (Annual Worth)


Pada

metode ini semua aliran kas selama horison

perencanaan dikonversikan kedalam deret seragam (A).


Rencana investasi dikatakan layak ( menguntung kan) jika
pada MARR tertentu menghasilkan A(W) 0. Jika proyek
dibandingkan hanya berdasarkan ongkos maka pilih proyek
dengan A(W) terkecil biayanya.

AW = P (A/P,15%,5)
= 771,913344 (0,2983) = 230,261750

AP@1982-TI-UII

Metode Nilai Mendatang (Future Worth)


Pada

metode

ini

semua

aliran

kas

selama

horison

perencanaan dikonversikan menjadi nilai mendatang (F).


Rencana investasi dikatakan layak ( menguntung kan) jika pada
MARR tertentu menghasilkan F(W) 0. Jika proyek
dibandingkan hanya berdasarkan ongkos maka pilih proyek
dengan F(W) terkecil biayanya.

FW = P (F/P,15%,5)
= 771,913344 (2,0114) = 1.552,6265

AP@1982-TI-UII

Metode Tingkat Pengembalian (Rate of Return)

Rate of Return (ROR) merupakan tingkat bunga ( i )


yang menyebabkan terjadinya keseimbangan antara
semua pengeluaran dan pemasukan pada suatu
periode tertentu. Jadi pada metode ini adalah
menentukan nilai i sehingga P = 0, atau F = 0 atau A =
0. Rencana investasi dikatakan layak jika i (ROR) atau
Internal Rate of Return (IRR) MARR
Pada kasus dimana terdapat sejumlah alternatif yang
bersifat mutually exclusive, pemilihan alternatif
dilakukan dengan analisis Incremental Rate of Return
(IROR)
AP@1982-TI-UII

Berdasarkan contoh 4, cari pada i berapa % sehingga


NPV = 0. Akan dicoba untuk i = 25% dan i = 30%
NPV = 2.000 + 675 (P/F,25%,1) + 825 (P/A,25%,3)
(P/F,25%,1) + 1.100 (P/F,25%,5)
= 2.000 + 675 (0,8000) + 825 (1,9520) (0,8000) +
1.100 (0,3277) = 188,79

AP@1982-TI-UII

NPV = 2.000 + 675 (P/F,30%,1) + 825 (P/A,30%,3)


(P/F,30%,1) + 1.100 (P/F,30%,5)
= 2.000 + 675 (0,7692) + 825 (1,8161) (0,7692)
+ 1.100 (0,2693) = 32,0811
Dengan interpolasi diperoleh i (ROR) = 29,27%
AP@1982-TI-UII

Langkah-langkah IROR

1. Hitung ROR masing-masing alternatif


2. Bandingkan ROR masing-masing alternatif dengan MARR,
buang alternatif yang ROR < MARR

3. Urutkan alternatif dengan ROR MARR mulai dari investasi


awal yang terkecil
4. Hitung IROR mulai dari investasi terkecil dengan investasi
terkecil berikutnya
5. Bila IROR MARR, pilih alternatif yang membutuhkan biaya
investasi yang lebih besar. Sebaliknya jika IROR < MARR
pilih alternatif yng membutuhkan biaya investasi yang lebih
kecil
6. Ulangi langkah 5 hingga terpilih
satu alternatif
AP@1982-TI-UII

Metode Periode Pengembalian (Payback Period)

Pada dasarnya payback Period adalah jumlah periode


(n) yang diperlukan untuk mengembalikan (menutup)
ongkos investasi dengan tingkat pengembalian tertentu.
Payback Period berarti menentukan nilai n sehingga P
= 0, atau F = 0 atau A = 0.
Rencana investasi dikatakan layak jika periode
pengembalian (n) estimasi masa pakai. Kelemahan
metode ini adalah tidak mempertimbangkan aliran kas
setelah periode pengembalian

AP@1982-TI-UII

Berdasarkan contoh 4), cari pada periode berapa tahun


sehingga NPV = 0. Untuk itu perlu prediksi nilai sisa jika
asset tersebut digunakan sebelum umur ekonomisnya. Misal
nilai sisa akhir tahun 1,2,3,4 masing-masing 850 juta, 650
juta, 450 juta dan 300 juta.
NPV(2tahun)= 2.000+675 (P/F,15%,1) + 1475 (P/F,15%,2)
= 2.000 + 675 (0,8696) + 1475 (0,7561)
= - 297,7725

NPV(3tahun)=

2.000+675 (P/F,15%,1) + 825 (P/F,15%,2)


+1275 (P/F,15%,3)

= 2.000 + 675 (0,8696) + 825 (0,7561) + 1275


(0,6575) = 49,075
Dengan interpolasi diperoleh nAP@1982-TI-UII
= 2,. tahun

Metode Manfaat Biaya (Benefit Cost Ratio)


Metode BC ratio umumnya digunakan untuk meng
evaluasi proyek-proyek pemerintah. Suatu proyek
dikatakan layak jika rasio antara manfaat terhadap biaya
yang dibutuhkan (B/C) 1.
B = semua manfaat setelah dikurangi dampak negatif
dinyatakan dengan nilai uang.
C = semua ongkos setelah dikurangi besarnya peng
hematan
Nilai B dan C dalam bentuk konversi ke P, F maupun A

AP@1982-TI-UII

Contoh benefit, disbenefit dan ongkos proyek jalan tol.

Benefit bagi masyarakat umum :


- Penurunan biaya operasional kendaraan
- Perjalanan menjadi singkat dan lancar

- Peningkatan keamanan lalulintas


- Kemudahan mengendarai kendaraan
- Peningkatan harga tanah disekitar jalan tol

Disbenefit bagi masyarakat umum :


- Pengurangan lahan pertanian
- Terganggunya saluran air untuk irigasi

- Peningkatan polusi udara


AP@1982-TI-UII

Ongkos yang ditanggung oleh pemerintah


- Ongkos konstruksi
- Ongkos perawatan
- Ongkos administratif
Pendapatan bagi pemerintah
- Pendapatan dari iuran jalan tol pemakai jalan
- Peningkatan pajak akibat meningkatnya nilai tanah
disekitar jalan tol

AP@1982-TI-UII

Latihan1
Manajer pembelian sebuah industri rotan sedang
merencanakan untuk membeli sebuah mesin. Ada dua
penawaran yang layak untuk dipertimbangkan baik dari
segi teknis maupun finansial.
Pemasok A : menawarkan mesin seharga Rp 250 juta,
umur ekonomis 10 tahun dengan nilai sisa Rp 10 juta.
Ongkos operasional, perawatan, pajak dan asuransi
diperkirakan Rp 12 juta pada tahun pertama dan naik
Rp 1 juta pertahun pada tahun-tahun berikutnya.
Pendapatan tahunan diperkirakan Rp 75 juta/tahun
AP@1982-TI-UII

Pemasok B : menawarkan mesin seharga Rp 100


juta, umur ekonomis 5 tahun dengan nilai sisa Rp 2
juta. Ongkos operasional, perawatan, pajak dan
asuransi diperkirakan Rp 10 juta pada tahun pertama
dan naik Rp 0,8 juta pertahun pada tahun-tahun
berikutnya. Pendapatan tahunan diperkirakan Rp 68
juta/tahun.
Lakukan analisis untuk mengetahui kelayakan
pembelian
mesin tersebut jika MARR yang
digunakan 15%
AP@1982-TI-UII

6. ANALISIS SUPLEMEN

Pada analisis yang telah dilakukan di atas, diasumsi


kan bahwa nilai-nilai parameter dari model diketahui
dengan pasti.
Pada kenyataannya berbagai parameter seperti horison
perencanaan, MARR, aliran kas dsb masih dalam
bentuk estimasi yang mengandung ketidakpastian.
Secara umum ada empat faktor yang menjadi sumber
ketidakpastian yaitu : kemungkinan estimasi yang tidak
akurat akibat sedikitnya informasi, tipe bisnis dan
kondisi ekonomi masa depan, tipe pabrik dan peralatan
yang digunakan serta horison perencanaan.
AP@1982-TI-UII

1.
2.

Metode yang digunakan


untuk
ketidakpastian antara lain adalah :
Analisis BEP (Break Even Point)
Analisis sensitifitas

AP@1982-TI-UII

menangani

Analisis BEP (Break Even Point)


Analisis BEP dapat digunakan untuk :
1. Menentukan nilai MARR dimana dua alternatif proyek
sama baiknya
o
o
o
o

Alt A

Alt B

Pada MARR 15%, alt A sama baiknya dengan alt B..


Pada MARR < 15 % alt A lebih baik dibanding alt B.
Pada MARR > 15 % alt B lebih baik dibanding alt A.
Alt A layak pada MARR 19%, Alt B layak pada
MARR 25%

NPV
5%

10%

15%

20%

AP@1982-TI-UII

25%

MARR

2. Menentukan tingkat produksi dimana dua atau lebih


alternatif sama baiknya
o Pada vol produksi 300 unit alt A sama baiknya dengan alt B..
o Pada vol produksi > 300 unit alt A lebih baik dibanding alt B.
o Pada vol produksi < 300 unit alt B lebih baik dibanding alt A.

Biaya

Alt A

Alt B

100

200

300

400

AP@1982-TI-UII

500

Vol produksi
(unit)

3. Melakukan analisis buat beli


o Pada tingkat kebutuhan 300 unit alt buat sama baiknya dengan alt beli
o Pada tingkat kebutuhan > 300 unit alt buat lebih baik dibanding alt beli.
o Pada tingkat kebutuhan < 300 unit beli lebih baik dibanding alt buat

beli

Biaya

buat

100

200

300

400

AP@1982-TI-UII

500

kebutuhan
(unit)

4. Menentukan lamanya periode (atau banyaknya unit


yang harus diproduksi) agar total pemasukan sama
dengan total pengeluaran
o Pada tingkat kebutuhan 300 unit alt buat sama baiknya dengan alt beli
o Pada tingkat kebutuhan > 300 unit alt buat lebih baik dibanding alt beli.
o Pada tingkat kebutuhan < 300 unit beli lebih
belibaik dibanding alt buat

buat

Rp

100

200

300

400

AP@1982-TI-UII

500

kebutuhan
(unit)

Contoh 4
PT ABC Indonesia merencanakan untuk memproduksi
produk baru yang membutuhkan ongkos awal Rp 150 juta,
ongkos operasional dan perawatan Rp 35.000,-/jam serta
ongkos lain Rp 75 juta/tahun. Berdasarkan waktu standar
dapat diestimasikan bahwa untuk memproduksi 1000 unit
produk dibutuhkan waktu 150 jam. Diestimasikan bahwa
harga/unit produk adalah 15.000 dan investasi
diasumsikan berumur 10 tahun dengan nilai sisa Rp 0;. Jika
MARR 20%, hitung berapa unit yang harus diproduksi agar
perusahaan berada pada kondisi impas.

AP@1982-TI-UII

Titik impas diperoleh jika AC (annual cost) = AR (annual


revenue).
AC = 150 juta (A/P,20%,10) + 75 juta + 0,150 (35.000) X
= 150 juta (0,23852) + 75 juta + 5.250 X
AR = 15.000 X
110,778 juta = 9.750 X
X = 11.362 unit/tahun
Jadi perusahaan sebaiknya memproduksi sendiri hanya jika
produk yang dibutuhkan minimal 11.362 unit/tahun.

AP@1982-TI-UII

Soal Latihan 2
Seorang ahli diserahi tugas untuk melakukan analisis buat beli 2
buah komponen yang akan digunakan untuk melakukan inovasi
pada produk yang menjadi andalan perusahaan. Data teknis
dan finansial pembuatan kedua komponen ditunjukkan oleh tabel
berikut :

KOMPONEN A
Investasi awal

KOMPONEN B

Rp 200.000.000,00

Rp 350.000.000

Biaya tenaga kerja/unit

Rp 2.000,00

Rp 2.500,00

Biaya bahan baku/unit

Rp 3.000,00

Rp 2.500,00

Biaya overhead/tahun

Rp 18.000.000,00

Rp 15.000.000,00

Umur ekonomis (tahun)

Rp 10.000.000,00

Rp 15.000.000,00

Nilai sisa

AP@1982-TI-UII

Jika diasumsikan tidak ada biaya lain yang terlibat


dalam proses pembelian komponen, dengan MARR
15%/tahun. Alternatif mana yang sebaiknya dipilih ?

AP@1982-TI-UII

Analisa Sensitifitas

Analisa ini digunakan untuk mengetahui seberapa sensitif


suatu keputusan terhadap perubahan parameter yang
mempengaruhinya.
Analisa sensitifitas dilakukan dengan mengubah nilai
suatu parameter pada suatu saat untuk dilihat
bagaimana pengaruhnya terhadap aseptabilitas suatu
alternatif investasi.
Parameter yang biasanya berubah dan perubahannya
bisa mempengaruhi keputusan adalah biaya investasi,
aliran kas, nilai sisa, tingkat bunga, tingkat pajak dsb
AP@1982-TI-UII

Contoh 5
Sebuah
alternatif
investasi
diperkirakan
membutuhkan dana awal Rp 10.000.000,00
dengan nilai sisa nol diakhir tahun ke 5.
Pendapatan
tahunan
diperkirakan
Rp
3.000.000,00. Perusahaan menggunakan MARR
12%/tahun. Lakukan analisis sensitifitas dengan
mengubah nilai pendapatan tahunan pada interval
25% dan tentukan batas nilai parameter yang
mengakibatkan keputusan berubah
AP@1982-TI-UII

NPV = - 10 juta + 3 juta (P/A, 12%,5)


= - 10 juta + 3 juta (3,6048) = 0,8144 juta
Jika pendapatan naik 25 %
NPV = - 10 juta + 3,75 juta (3,6048) = 3,518 juta
Jika pendapatan turun 25 %
NPV = - 10 juta + 2,25 juta (3,6048) = - 1,889 juta
Jadi sifat perubahan pendapatan sebesar 25 % adalah sensitif.
Alternatif diatas menjadi tidak layak jika pendapatan tahunan
turun sampai dibawah 2,774 juta/tahun atau turun 7,53 %

AP@1982-TI-UII

7. MEMILIH ALTERNATIF TERBAIK

Berdasarkan langkah 5 dan 6 dapat ditentukan alternatif


terbaik, yang setiap individu bisa menghasilkan keputusan
yang berbeda.

AP@1982-TI-UII

DEPRESIASI

Depresiasi : penurunan nilai suatu asset karena waktu dan


pemakaian
Penyebab depresiasi :
1. Kerusakan fisik akibat pemakaian
2. Perubahan kebutuhan produksi atau jasa
3. Adanya perkembangan teknologi
Faktor yang mempengaruhi besarnya depresiasi:
1. Biaya investasi 2. Tanggal pemakaian awal 3. Estimasi
masa pakai 4. Nilai sisa dan 5. Metode depresiasi yang
digunakan
AP@1982-TI-UII

Walaupun depresiasi bukan merupakan aliran kas namun


besar dan waktunya akan mempengaruhi pajak yang
akan ditanggung oleh perusahaan . Pajak adalah aliran
kas, karena pertimbangan nilai waktu dari uang kalau
memungkinkan ( berdasarkan depresiasi maksimum yang
diperbolehkan oleh undang-undang pajak) depresiasi
akan dikenakan lebih besar pada periode awal dan
semakin menurun pada periode-periode berikutnya agar
pajak yang harus dibayarkan kecil pada periodeperiode awal.

AP@1982-TI-UII

Metode-metode Depresiasi

1. Metode garis lurus (straight line method)


2. Metode jumlah digit tahun (sum of years digit method)
3. Metode keseimbangan menurun (declining balance method)
4. Metode dana sinking (sinking fund method)
5. Metode unit produksi ( production unit method)

AP@1982-TI-UII

1. Metode Garis Lurus


Metode garis lurus didasarkan pada asumsi bahwa
berkurangnya nilai suatu asset berlangsung secara linear
(proporsional) terhadap waktu atau umur suatu asset.
Dt = (P S)/N
BVt = P t Dt
Dt = besarnya depresiasi pada tahun ke-t
P = ongkos awal asset
S = nilai sisa asset
N = umur asset
BVt = nilai buku setelah tahun ke-t
AP@1982-TI-UII

Contoh 6
Sebuah peralatan seharga Rp 46 juta membutuhkan biaya
pengiriman dan uji coba sebesar Rp 4 juta. Masa pakai
ekonomis 5 tahun dengan perkiraan nilai sisa Rp 5 juta.
Akhir tahun

Depresiasi

Nilai Buku

Rp 50 juta

Rp 9 juta

Rp 41 juta

Rp 9 juta

Rp 32 juta

Rp 9 juta

Rp 23 juta

Rp 9 juta

Rp 14 juta

Rp 9 juta

Rp 5 juta

AP@1982-TI-UII

2. Metode Jumlah Digit Tahun

Metode jumlah digit tahun merupakan salah satu metode


yang dirancang untuk membebankan depresiasi yang lebih
besar pada awal periode dan semakin mengecil pada
periode berikutnya.
Dt = (N t + 1)/ SOYD (P S)
BVt = P t(N-t/2+0,5)/SOYD (P S)
SOYD = sum of years digit = N(N+1)/2

AP@1982-TI-UII

Besarnya depresiasi dan nilai buku contoh 6 ditunjukkan oleh


tabel berikut :
Akhir
tahun
0

Depresiasi

Nilai buku

Rp 50 juta

1
2
3
4
5

Rp 15 juta
Rp 12 juta
Rp 9 juta
Rp 6 juta
Rp 3 juta

Rp 35 juta
Rp 23 juta
Rp 14 juta
Rp 8 juta
Rp 5 juta
AP@1982-TI-UII

3. Metode Keseimbangan Menurun


Pada metode ini besarnya depresiasi pada tahun tertentu
dihitung dengan mengalikan suatu persentase tetap dari
nilai buku asset tersebut pada akhir tahun sebelumnya.
Dt = d BVt-1
BVt = BVt-1 Dt
d = tingkat depresiasi yang ditetapkan (maks 2/N)
Dari contoh 6 jika d = 0,4 diperoleh tabel berikut :

AP@1982-TI-UII

Akhir tahun

Depresiasi

Nilai buku

Rp

50 juta

Rp

20 juta

Rp

30 juta

Rp

12 juta

Rp

18 juta

Rp

7,2 juta

Rp 10,8 juta

Rp 4,32 juta

Rp 6,48 juta

Rp 2,592 juta (1,48 juta)

Rp 3,888 juta (5 juta)

Karena nilai buku asset pada akhir umur depresiasinya lebih kecil dari nilai
yang ditetapkan maka besarnya depresiasi pada tahun kelima perlu
disesuaikan menjadi 1,48 juta

AP@1982-TI-UII

4. Metode Sinking Fund


Pada metode ini diasumsikan bahwa penurunan nilai suatu asset
semakin cepat dari suatu periode ke periode berikutnya,
sehingga ditinjau dari pajak yang harus ditanggung oleh
perusahaan metode ini tidak menguntungkan. Peningkatan ini
diakibatkan oleh penggunaan konsep nilai waktu dari uang
sehingga besarnya depresiasi akan meningkat seirama dengan
tingkat bunga yang berlaku.
Dt = ( P S ) (A/F, i%, N)(F/P, i%, t1)
BVt = BVt-1 Dt
BVt = P (P S)(A/F ,i%, N)(F/A, i%, t)

AP@1982-TI-UII

Dari contoh 6 jika i = 15 %, maka :


D1 = (50jt 5 juta)(A/F,15%,5)(F/P, 15%, 0)
= 45 juta (0,1483)(1) = 6,6735 juta, dengan cara yang sama
nilai D2 . D5 ditunjukkan oleh tabel berikut :
Akhir
tahun

Depresiasi

Nilai buku

Rp 50 juta

Rp 6,6735 juta

Rp 43,3265 juta

Rp 7,6745 juta

Rp 35,6520 juta

Rp 8,8257 juta

Rp 26,8263 juta

Rp10,1497 juta

Rp 16,6766 juta

Rp11,6720 juta

Rp 5,0046 juta Rp 5 juta


AP@1982-TI-UII

5. Metode Unit Produksi


Apabila penyusutan suatu asset lebih ditentukan oleh intensitas
pemakaiannya dibandingkan dengan lamanya alat tersebut
dimiliki maka depresiasinya bisa didasarkan atas unit produksi
dari asset tersebut.
Dt = Ut/U (P S)
BVt = BVt-1 Dt
Contoh 7 : Sebuah alat dibeli seharga 50 juta dengan perkiraan
umur ekonomis 5 tahun dan nilai sisa 5 juta. Perkiraan produk
yang dibuat selama 5 tahun berturut-turut adalah 9.000 unit,
11.000 unit, 10.000 unit, 9.500 unit, 10.500 unit
AP@1982-TI-UII

Akhir tahun
0
1
2
3
4
5

Depresiasi
Rp 8,10 juta
Rp 9,90 juta
Rp 9,00 juta
Rp 8,55 juta
Rp 9,45 juta

AP@1982-TI-UII

Nilai buku
Rp 50,00 juta
Rp 41,90 juta
Rp 32,00 juta
Rp 23,00 juta
Rp 14,45 juta
Rp 5,00 juta