Anda di halaman 1dari 17

PERTANYAAN DAN JAWABAN PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

1.

Bagaimana peran orang tua dan guru dalam mendorong berkembangnya


kreativitas pada anak ?

Jawab:
A.Peran Guru Dalam Mengembangkan Kreativitas Anak
Torrance mengemukakan tentang lima bentuk interaksi guru dan siswa di kelas
yang dianggap mampu mengembangkan kecakapan kreatif siswa, yaitu:

menghormati pertanyaan yang tidak biasa;

menghormati gagasan yang tidak biasa serta imajinatif dari siswa;

memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar atas prakarsa sendiri;

memberi penghargaan kepada siswa; dan

meluangkan waktu bagi siswa untuk belajar dan bersibuk diri tanpa suasana
penilaian.

B.Peran Orang Tua Dalam Mengembangkan Kreativitas Anak


Kreativitas anak akan berkembang jika orangtua selalu bersikap otoritatif
(demokratik), yaitu : mau mendengarkan omongan anak, menghargai pendapat anak,
mendorong anak untuk berani mengungkapkannya.
Jangan memotong pembicaraan anak ketika ia ingin mengungkapkan pikirannya.
Jangan memaksakan pada anak bahwa pendapat orangtua paling benar, atau
melecehkan pendapat anak
Orangtua harus mendorong anak untuk berani mencoba mengemukakan pendapat,
gagasan, melakukan sesuatu atau mengambil keputusan sendiri (asalkan tidak
membahayakan atau merugikan oranglain atau diri sendiri).
Jangan mengancam atau menghukum anak kalau pendapat atau perbuatannya
dianggap salah oleh orangtua. Anak tidaklah salah, mereka umumnya belum tahu,

dalam tahap belajar. Oleh karena itu tanyakan mengapa mereka berpendapat atau
berbuat demikian, beri kesempatan untuk mengemukan alasan-alasan..
Selain itu orangtua harus mendorong kemandirian anak dalam melakukan sesuatu,
menghargai usaha-usaha yang telah dilakukannya, memberikan pujian untuk hasil
yang telah dicapainya walau sekecil apapun. Cara-cara ini merupakan salah satu
unsur penting pengembangan kreativitas anak.
Orang

tua

harus

memberi

kesempatan

anak

untuk

mengembangkan

khayalan,merenung,berfikir,mewujudkan gagasan anak dengan cara masing.


Jadi kesimpulannya, agar kreativitas anak dapat berkembang secara optimal, maka
orang tua atau guru dapat melakukan strategi 4P yaitu :
Pribadi, orang tua atau guru harus paham, tiap anak memiliki pribadi berbeda, tiap anak
adalah unik. Karena itu kreativitas juga merupakan sesuatu yang unik.
Pendorong, untuk mengembangkan kreativitas anak, orang tua harus dapat memberikan
dorongan kepada anaknya agar dapat memunculkan motivasi dalam diri anak yaitu
motivasi instrinsik dan ekstrinsik.
Proses, jika sarana dan prasana sudah tersedia, dorongan sudah ada, maka anakpun akan
berproses dan berkreasi. Nah, proses inilah yang penting untuk anak ketika bermain. Ia
akan merasa mampu dan senang bersibuk diri secara kreatif. Entah dengan melukis,
menyusun balok-balok menjadi sebuah menara dan sebagainya. Hargailah kreasinya
tanpa perlu berlebihan. Sebab, secara intuitif anak akan tahu, apakah penghargaan itu
tulus atau sekadar basa-basi.
Produk, setelah ketiga faktor di atas dipenuhi, maka anakpun akan menghasilkan produk
kreatif. Produk kreatif anak usia dini dapat berupa lukisan, alat mainan, bentukan tanah
liat. Peran orang tua di sini adalah memberikan penghargaan atas produk-produk yang
dihasilkan anak dengan cara memberi pujian atau memajang hasil karya anak.

2.

Sebutkan faktor-faktor yang menghambat berkembangnya kreativitas pada


anak?

Jawab :
Amabile (Munandar, 2004) mengemukakan empat cara yang dapat mematikan
kreativitas yaitu:
(1) evaluasi,
(2) hadiah,
(3) persaingan/kompetisi antara anak, dan
(4) lingkungan yang membatasi.
Hal senada juga diungkapkan oleh Tegano, D.W (1991) bahwa yang mematikan
kreativitas diantaranya
1) menjadikan anak-anak bekerja mengharapkan penghargaan
(2) membuat situasi kompetisi,
(3) memfokuskan siswa pada penilaian,
(4) terlalu banyak pengawasan, dan
(5) menciptakan pilihan situasi yang terbatas.
Sementara itu menurut Torrance (2001) yang dapat mematikan kreativitas
diantaranya:
(1) usaha terlalu dini untuk mengeliminasi fantasi;
(2) pembatasan terhadap rasa ingin tahu anak;
(3) terlalu menekankan peran berdasarkan perbedaan seksual;
(4) terlalu banyak melarang;
(5) takut dan malu;
(6) penekanan yang salah kaprah terhadap keterampilan verbal tertentu; dan
7) memberikan kritik yang bersifat destruktif.
Kemudian menurut Mayesky (Majidi, 2009) ada beberapa hal yang bisa
membatasi atau menghambat kreativitas anak diantaranya

1) ide yang dikemukakan anak selalu dipatahkan,


(2) orang tua terlalu over-protective, dan
(3) waktu main sangat dibatasi.
Faktor-faktor yang menghambat kreativitas anak
- Tidak menghargai terhadap fantasi dan hayalan
- Otoritarianisme
- Diferensiasi antara bekerja dan bermain
- Stereotif peran seks/jenis kelamin
- Kurang berani dalam melakukan eksplorasi, menggunakan imajinasi, dan
penyelidikan.

3.

Jelaskan 4 tahapan perkembangan kognitif menurut Jean Piaget ! dan beri


pendapat Saudara tentang kondisi kognitif anak yang relevan pada saat ini.

Jawab:
4 tahapan perkembangan kognitif menurut Jean Piaget :
1. Periode sensorimotor
Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk
mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan
tersebut. Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode.
Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan
pemahaman spatial / persepsi penting dalam enam sub-tahapan :
a. Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan
berhubungan terutama dengan refleks.
b. Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan
dan

berhubungan

terutama

dengan

munculnya

kebiasaan-

kebiasaan.

c. Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan
bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
d. Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai
duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu
yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi
objek).
e. Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan
belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai
tujuan.
f. Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal
kreativitas.
2. Tahapan praoperasional
Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan
permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang
secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran (Pra) Operasi dalam
teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek.
Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai.
Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan
gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk
melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek
menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya
berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.
Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul
antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan
keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan katakata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan
logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat
memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain.
Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring

pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak
memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang
tidak hidup pun memiliki perasaan.
3. Tahapan operasional konkrit
Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai
duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai.
Proses-proses penting selama tahapan operasional konkrit adalah :

Pengurutankemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau


ciri lainnya

Klasifikasikemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian


benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan
bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam
rangkaian tersebut.

Decenteringanak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu


permasalahan untuk bisa memecahkannya.

Reversibilityanak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat


diubah, kemudian kembali ke keadaan awal.

Konservasimemahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda


adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau bendabenda tersebut.

Penghilangan sifat Egosentrismekemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut


pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah).

4. Tahapan operasional formal


Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori
Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus
berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk
berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi

yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti
logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih,
namun ada gradasi abu-abu di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini
muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai
masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan
psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai
perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir
sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit
.
Kondisi kognitif anak yang relevan pada saat ini ditinjau dari emampuan kognitif
berkaitan dengan perkembangan berbahasa (bahasa lisan maupun isyarat), memahami
kata, dan berbicara. Perkembangan Kognitif merupakan proses proses mental yang
meliputi

pemahaman

tentang

dunia,

penemuan

pengetahuan,

pembuatan

pertandingan berpikir, dan mengerti. Selain itu kognitif juga merupakan teori
teori perkembangan peserta didik dalam mempelajari bagaimana cara manusia
mendapatkan

informasi

pengetahuan,

bagaimana

mengingat,

menghubungkan

satu gagasan / konsep dengan gagasan / konsep lain. Intinya kognitif merupakan
proses pemikiran Internal yang mangantarkan pada prestasi yang diharapkan.

4.

Sebutkan peran guru dalam memfasilitasi perkembangan peserta didik beserta


permasalahan-permasalahannya! Dan menurut Saudara bagaimana solusi bagi
problem perkembangan dalam proses pembelajaran siswa ?

Jawab :
Guru sebagai fasilitator yaitu guru berperan dalam memberikan palayanan untuk
memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran. Sebelum mengajar guru
mengarahkan pertanyaan kepada siswa, misalnya apa yang harus dilakukan agar siswa
mudah mempelajari bahan pelajaran sehingga tujuan belajar tercapai secara optimal.
Pertanyaan tersebut mengandung makna bahwa tujuan mengajar adalah mempermudah
siswa belajar. Inilah hakikat peran fasilitator dalam proses pembelajaran.

Ada pun masalah yang timbul dari peran guru yang memfasilitasi perkembangnya
peserta didik yaitu kurangnya pemahaman dari guru dalam memaham karakter pesrta
didik sehingga sukar untuk memberikan pelayanan yang memudahkan siswa dalam
proses pembelajaran.
Ada beberapa hal yang harus dipahami agar melaksanakan peran sebagai
fasilitator dalam proses pembelajaran; 1) Guru perlu memahami berbagai jenis media dan
sumber belajar beserta fungsi masing-masing media tersebut. Pemahaman akan fungsi
media sangat diperlukan, belum tentu suatu media cocok digunakan untuk mengajarkan
semua materi pelajaran, Setiap media memiliki karakteristik berbeda, 2) guru perlu
mempunyai ketrampilan dalam merancang suatu media. Kemampuan merancang media
merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru profesional.
Dengan perancangan media yang dianggap cocok akan mempermudahkan proses
pembelajara, sehingga pada gilirannya tujuan pembelajaran akan tercapai optimal, 3)
guru dituntut untuk mampu mengorganisasikan berbagai jenis media serta dapat
mengikuti perkembangan teknologi mutakhir, 4) guru dituntut agar mempunyai
kemampuan dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan siswa secara efektif.

5.

Jelaskan hubungan antara teori belahan otak dengan kreativitas seorang


anak!

Jawab :
Teori Belahan Otak

Perkembangan kreativitas sangat erat kaitannya dengan perkembangan kognitif


individu karena kreativitas sesungguhnya merupakan perwujudan dari pekerjaan otak.
Para pakar kreativitas, misalnya Clark (1988) dan Gowan (1989) melalui Teori Belahan
Otak (Hemisphere Theory) mengatakan bahwa sesungguhnya otak manusia itu menurut
fungsinya terbagi menjadi dua belahan, yaitu belahan otak kiri (left hemisphere) dan
belahan otak kanan (right hemisphere). Otak belahan kiri mengarah kepada cara berfikir
konvergen (convergen thinking), sedangkan otak belahan kanan mengarah kepada cara
berfikir menyebar (difergent thinking). Fungsi otak belahan kiri adalah berkaitan dengan
pekerjaan-pekerjaan yang bersifat ilmiah, kritis, logis, linier, teratur, sistematis,
terorganisir, beraturan dan sejenisnya. Adapun fungsi otak kanan, adalah berkenaan
dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat non linear, non verbal, holistik, humanistic,
kreatif, mencipta, mendesain, bahkan mistik dan sejenisnya.

Bagan Proses Pimikiran Otak


Belahan Otak Kiri
Intelek
Konvergen
Intelektual
Rasional
Verbal
Horizontal
Konkret
Realistis
Diarahkan
Diferensial
Sekuensial
Historikal
Analitis
Eksplisit
Objektif
Suksesif

Belahan Otak Kanan


Intuisi
Divergen
Emosional
Metaforik, intuitif
Non Verbal
Vertikal
Abstrak
Impulsif
Bebas
Eksistensial
Multipel
Tanpa Batas Waktu
Sintesis, Holitik
Implisit
Subjektif
Simultan

Sumber : Springer, S.P dan Deutsch, 1981

6.

Sosok utuh seorang lulusan LPTK ( Lembaga Pendidikan Tenaga Pendidikan )


secara generik tertuang dalam standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru
sesuai dengan peraturan menteri Pendidikan Nasional No. 16 Tahun 2007. Coba
Saudara sebutkan 4 kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru.

Jawab:
Sebagai standar kompetensi yang perlu dimiliki oleh guru dalam melaksanakan
profesinya, pemerintah mengeluarkan Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang
Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Standar kompetensi guru ini dikembangkan
secara utuh dari empat kompetensi utama, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian,
sosial, dan profesional.
1.

Kompetensi pedagogik ( pengethuan, wawasan, skill, dll )

a.

Pemahaman tentang landasan kependidikan

Guru memahami apa yang disampaikan serta tujuan pembelajarannya.


b.

Pemahaman terhadap peserta didik

Guru mampu memahami karakteristik peserta didiknya yang beragam. Hal ini akan
memudahkan tugasnya sebagai mediator atau agen pembelajaran.
c.

Pengembangan kurikulum dan silabus

Kurikulum yang sudah ada dapat dikembangkan sesuai kebutuhan.


d.

Perancangan pembelajaran

Mampu membuat strategi pembelajaran agar proses pembelajaran tidak monoton.

e.

Aplikasi pembelajaran yang mendidik

f.

Pemanfaatan teknologi pembelajaran

Mampu memanfaatkan teknologi untuk proses pembelajaran agar lebih efektif dan
efisien.
g.

Evaluasi hasil belajar

Setiap guru harus bisa mengevaluasi hasil dari pembelajarannya, baik itu dari
kemampuan peserta didik ataupun kemampuan dirinya sendiri dalam proses
pembelajaran.
h.

Mengembangkan potensi peserta didik yang beragam

Mampu mengarahkan potensi peserta didik kepada hal hal yang bermanfaat bagi
peserta didik itu sendiri.
2.

Kompetensi Kepribadian

a.

Mantap

b.

Berakhlak mulia

Sudah seharusnya seorang guru berakhlak mulia karena seorang guru menjadi tauladan
bagi peserta didiknya.
c.

Bijaksana dan berwibawa

Hal ini sangat perlu diperhatikan karena seorang siswa biasanya akan lebih menghargai
gurunya yang bijaksana dan penuh kharismatik.

d.

Stabil ( emosional dan pemikiran )

Kesetabilan emosional diperlukan agar peserta didik tidak merasa nyaman saat proses
pembelajaran. Selain itu pemikiran yang akan disampaikan haruslah sesuai dengan
tingkat pendidikan peserta didik.
e.

Dewasa

Selain menjadi pengajar guru juga sebagai orang tua di sekolah, maka sudah seharusnya
guru dewasa karena untuk memberikan suatu pemecahan masalah kepada peserta didik
yang mengalami kesulitan dalam suatu hal dibutuhkan pemikiran yang dewasa.
f.

Jujur dan teladan

Sebagaimana telah disebutkan di atas, perilaku dan sifat guru akan dicontoh oleh peserta
didiknya.
g.

Mengembangkan diri secara mandiri dan dapat mengevaluasi kinerjanya sendiri

Seorang guru hendaklah dapat mengembangkan dirinya, baik kepribadian, cara kerjanya,
atau sikap, serta pemikirannya sesuai dengan kondisi yang di hadapi. Selain itu, dapat
mengevaluasi hasil dari kinerjanya untuk mempersiapkan strategi yang lebih baik.
3.

Kompetensi Sosial

a.

Berkomunikasi secara lisan, tulisan dan isyarat

Agar proses pembelajaran berjalan efektif maka harus bisa berkumunikasi dengan peserta
didik guna untuk mencairkan suasana yang sekiranya sudah tidak efektif untuk
pembelajaran.

b.

Mengguanakan teknologi sesuai fungsi dan kebutuhan

c.

Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesame pendidik, pimpinan satuan

pendidikan serta orang tua / wali peserta didik


d.

Bergaul secara santun kepada masyarakat sesuai norma yang berlaku

Satu hal yang harus diperhatikan oleh pendidik guna eksistensinya mengajar di sekolah
daerah tersebut adalah bertatakrama sesuai norma dilingkungan sekolah tersebut.
e.

Menerapkan prinsip persaudaraan

f.

Menerapkan prinsip-prinsip persaudaraan sejati dan semangat kebersamaan

4.

Kompetensi Profesional

a.

Penguasaan: Kemampuan guru dalam pengetahuan isi (content knowledge)

b.

Materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai standar isi program satuan
pendidikan, mata pelajaran, atau kelompok mata pelajaran yang diampu

c.

Konsep-konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi, atau seni yang relevan,
yang secara konseptual menaungi atau koheren dengan program satuan
pendidikan, mata pelajaran, atau kelompok mata pelajaran yang diampu.

7.

Sebutkan 4 pokok utama yang perlu dipelajari oleh anak dalam


mengoptimalkan perkembangan moral ( menurut Hurlock )!
Jawab :

Hurlock mengemukakan ada empat pokok utama yang perlu dipelajari oleh anak dalam
mengoptimalkan pertimbangan moralnya, yaitu:
1.

Pokok pertama yang yang penting dalam pelajaran menjadi pribadi yang bermoral
ialah belajar apa yang diharapkan kelompok dari anggotanya. Harapan tersebut
diperinci dalam bentuk hokum, kebiasaan dan peraturan.

2.

Pokok kedua ialah pengembangan hati nurani sebagi kendali internal bagi prilaku
individu. Seorang anak tidak hanya harus belajar apa yang benar dan yang salah tetapi
harus juga menggunakan hati nurani sebagai pengendalian prilaku.

3.

Pokok ke tiga ialah pengembangan perasaan bersalah dan rasa malu. Bila perilaku
anak tidak memenuhi standar yang ditetapkan hati nurani, anak merasa bersalah, malu
atau kedua-duanya.

4. Pokok ke empat adalah mempuyai kesempatan melakuakan intraksi dengan anggoat


kelompok social. Interaksi social memegang peranan penting dalam perkembangan
moral. Tanpa interaksi dengan orang lain, anak tidak akan mengetahui perilaku yang
disetujui secara social, maupun memiliki sumber motivasi yang mendorongnya untuk
tidak berbuat sesuka hati.
8.

Menurut Saudara seperti apakah dan bagaimanakah guru yang professional


itu?

Jawab :
Agar terlihat profesional guru-guru hendaknya memiliki karakter sebagai berikut:
1. Rendah hati
Karakter ini membuat seorang guru berpikiran terbuka serta mudah menerima hal-hal
baru. Di depan siswa atau sesama guru ia terus terang jika tidak tahu. Maklum ditengah
pesatnya pertumbuhan dan akses kepada informasi, semua orang benar-benar mesti
belajar kembali dan bersedia menjadi seorang pembelajar
2. Pandai mengelola waktu

Sebagai seorang yang bekerja dengan administrasi serta tugas mengajar yang banyak
setiap minggunya, guru dituntut untuk pandai mengelola waktu. Bukan cuma siswa
dikelas saja yang punya hak terhadap diri kita, namun juga keluarga terdekat kita di
rumah yang memerlukan perhatian. Guru yang pandai mengelola waktu membedakan
prioritas dalam bekerja, mana yang mesti dikerjakan sekarang atau yang mesti digarap
secara bertahap.
3. Menghargai proses.Proses yang saya maksud adalah seperti jalannya atau perputaran
alam semesta yang kita rasakan. Ada pagi ada siang, ada gelap dan ada terang. Jika suatu
saat kita gagal atau belum berhasil dalam mengajar, hargailah usaha yang diri kita sendiri
lakukan. Sebab mengingat-ingat kegagalan tanpa memandang atau menghargai usaha diri
kita sendiri akan membuat malas di kemudian hari untuk melakukan inovasi dalam
mengajar. Ada perasaan khawatir atau takut untuk berubah hanya karena pernah gagal.
Jika itu terjadi siswa yang akan jadi korban karena sebagai guru anda akan tampil biasabiasa saja dan miskin inovasi.
4. Berpikiran terbuka
Informasi dan ilmu pengetahuan berkembang dan bertambah sedemikian pesatnya.
Dalam hitungan detik informasi bertambah dengan cepat. Saat ini informasi ada di mana
saja, semua tersedia tinggal bagaimana seseorang dengan pikirannya bisa mencerna dan
memanfaatkan. Sebagai seorang guru sikap berpikiran terbuka inilah yang paling
bermakna saat ini untuk diterapkan. Dengan berpikiran terbuka guru jadi mudah untuk
menerima perbedaan dan senang akan perubahan. Dengan pikiran terbuka guru juga jadi
mudah untuk menyerap ilmu dari siapa saja tanpa mesti katakan aah saya sudah tahu
atau ah saya sudah pernah menerapkan karena di masa sekarang ini ilmu bisa datang
dari siapa saja, ia bisa datang dari buku dan media massa, sesama guru, orang tua siswa
bahkan dari siswa kita di kelas.
5. Percaya diri
Bedakan antara rasa percaya diri dan sombong.Guru yang percaya diri akan sekuat tenaga
mempersiapkan sambil tetap percaya diri jika ada masalah yang timbul saat ia sedang

melaksanakan perencanaan pengajarannya. Ia yakin sesulit apapun masalah yang timbul


saat ia sedang melaksanakan hasil perencanaan pengajarannya, tetap akan memberikan
pengalaman dan masukan bagi karier mengajarnya di masa depan.
Adapun ciri-ciri guru profesional dapat dilihat dari:
Penguasaan Bahan Pelajaran Beserta konsep-konsep.
Guru profesional adalah guru yang mengajar dapt menguasai bahan pelajaran yang akan
disampaikan di dalam kelas. Selain itu juga guru mutlak menguasai secara utuh konsepkonsep dasar yang membangun bahan pelajaran yang akan di ajarkan. Guru yang tidak
memahami bahan pelajaran beserta konsepnya seblum mengajar seperti seorang prajurit
yang tidak membawa senjata ke medan perang.
Pengelolaan dan program pembelajaran
Seorang guru dituntut untuk mampu merancang persiapan dan program pembelajaran
sebelum mengelola kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Akan terkesan aneh jika
seorang guru mengajar tanpa dibekali dengan rancangan program yang tepat karena pasti
pembelajaran yang akan dilakukan tidak akan pernah bermuara pada tujuan akhir dari
sebuah kegiatan pembelajaran. Kegiatan apapun tidak akan dapat mencapai hasil
maksimal jika tidak memiliki rencana dan strategi matang sebelum dilaksanakan.
Pengelolaan Kelas
Kemampuan manajerial guru juga dituntut dalam hal memanage kelas agar kelas dapat
kondusif mendukung keberhasilan pembelajaran. Hal ini dapat diwujudkan jika guru
mampu memanfaatkan dan mengkodisikan seluruh infra dan suprastruktur yang
berpengaruh secara langsung atau tidak langsung dalam kelas. Kelas yang kondusif
adalah kelas yang memiliki iklim yang dapat menunjang efektifitas pembelajaran
Pengelolaan dan penggunaan media serta sumber belajar.

Pembelajaran yang efektif tentu harus didukung oleh alat bantu atau media pembelajaran.
Guru profesional adalah guru yang dapat secara tepat memilih dan menggunakan media
pembelajaran dalam kegaitan pembelajaran yang dilakukan. Ketepatan guru memilih dan
menetapkan media tentu harus didukung oleh keahlian guru dalam menggunakan media
yang dipilih. Meskipun media yang digunakan guru adalah tepat atau canggih akan tetapi
tidak dapat digunakan secara tepat, maka justru tidak akan membantu pencapaian tujuan
pembelajaran dan bahkan dapat menghambat kegiatan pembelajaran
Kemampuan menilai prestasi belajar-mengajar.
Penilaian pembelajaran sebagai alat untuk mengukur keberhasilan guru dan siswa setelah
melaksanakan kegiatan pembelajaran menjadi salah satu variabel penting. Oleh karena itu
guru profesional harus memiliki kemampuan untuk menentukan alat evaluasi yang tepat
untuk mengukur setiap indikator yang akan dicapai dalam kegiatan pembelajaran.
Kesalahan dalam memilih alat evaluasi tidak dapat menjadi jaminan terhadap nilai dari
hasil interaksi belajar mengajar.