Anda di halaman 1dari 6

DAMPAK KONFLIK SURIAH

TERHADAP NEGARA TETANGGA:


Turki, Lebanon, Irak & Yordania Terkena Dampak Konflik Suriah
DAMASKUS - Negaranegara tetangga Suriah makin terseret dalam konflik berkepanjangan yang
terjadi di negara pimpinan Bashar al Assad tersebut. Dampak yang diterima para negara
tetangga Suriah itu bermacammacam, mulai dari kedatangan arus pengungsi hingga ikut
terkena serangan militer yang dilancarkan oleh kedua pihak yang bertikai.

Turki yang mendukung kelompok oposisi Suriah seringkali melakukan serangan terhadap
pasukan pemerintah Suriah. Serangan Turki ditujukan untuk membalas pemerintah Suriah yang
kerap meluncurkan serangan mortar sampai wilayah turki. Pada Oktober lalu, sekira lima warga
Turki tewas akibat serangan pemerintah Suriah yang mengenai suatu desa di perbatasan Turki
Suriah. Demikian, seperti diberitakan The Washington Post, Selasa (13/11/2012).

Selain terkena serangan pemerintah suriah, Turki juga kedatangan arus pengungsi warga Suriah
yang berusaha menghindari konflik. Pengungsi Suriah yang berada di Turki kini hampir mencapai
200 ribu orang. Arus pengungsi suriah yang memasuki wilayah Turki sempat mencapai 11 ribu
orang hanya dalam waktu sehari.

Selain Turki, Israel juga sempat melancarkan serangan balasan kepada pasukan pemerintah
Suriah. Tindakan tersebut dilakukan Israel setelah pasukan pemerintah Suriah seringkali
melakukan serangan sampai wilayah Israel. Israel juga melaporkan bahwa tiga tank milik
pemerintah Suriah sempat memasuki wilayahnya di Dataran tinggi Golan.

Di Lebanon, konflik Suriah juga ikut meningkatkan ketegangan politik yang ada di negara
tersebut. Warga Lebanon saat ini terpecah menjadi dua kelompok yaitu kelompok anti-Assad dan
kelompok pro-Assad. Selain perseteruan antara kelompok anti dan pro-Suriah, gesekan antara
kelompok Sunni dengan kelompok Syiah alawiyyin di Lebanon juga sering terjadi.

Jordania dan Irak juga tidak lepas dari dampak akibat konflik di Suriah. Selain perbatasannya
seringkali terkena serangan pihak yang sedang bertikai di Suriah. Kedua negara tersebut juga
disibukkan dengan kelompok militan di negara-negara tersebut yang ingin ikut serta dalam
pertempuran di Suriah.

Perang Brutal Suriah Ancam Perdamaian Dan Keamanan Internasional, Kata


Panel HAM PBB
http://unic-jakarta.org/2014/08/28/perang-brutal-suriah-ancam-perdamaian-dankeamanan-internasional-kata-panel-ham-pbb/
Kekejaman massal oleh pasukan pemerintah dan kelompok-kelompok non-negara bersenjata
terus berlangsung di Suriah, menyebabkan penderitaan yang tak terukur bagi warga sipil dan
memberikan kontribusi terhadap pertumpahan kekerasan yang akan mempengaruhi perdamaian
dan stabilitas internasional, panel yang ditunjuk PBB hari Rabu (27/8) mengatakan.

Komisi Penyelidik Independen Internasional untuk Suriah menekankan bahwa dengan masuknya
secara besar-besaran pejuang asing yang terus menerus dan keberhasilan berbagai kelompok
ekstremis, risiko konflik untuk menyebar lebih jauh dapat diraba.

Laporan terbaru Komisi, berdasarkan 480 wawancara dan materi dokumen yang melimpah,
jumlah korban jiwa yang tinggi dari konflik Suriah yang dimulai pada bulan Maret 2011. Dampak
konflik telah sangat serius bagi perempuan dan anak-anak, dimana hak paling mendasar mereka
dilanggar setiap harinya.

Ratusan warga sipil meninggal setiap hari karena pertempuran berlangsung dengan tidak
memperhatikan hukum atau hati nurani, kata Paulo Pinheiro, Ketua Komisi.

Perempuan telah dicambuk karena tidak mematuhi kode berpakaian yang ditetapkan oleh
kelompok yang dikenal sebagai Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), menurut rilis berita
mengenai laporan Komisi. Di Ar-Raqqah, anak-anak berumur 10 yang direkrut dan dilatih di
berbagai kamp ISIS. Kelompok tersebut juga secara paksa melakukan perpindahan terhadap
masyarakat Kurdi di Suriah utara. Wartawan dan pekerja media lainnya secara sistematis
menjadi target.

Di daerah-daerah Suriah di bawah kendali ISIS, khususnya di utara dan timur laut negara itu, Hari
Jumat secara teratur ditandai dengan eksekusi, amputasi dan pencambukan di alun-alun umum,
menurut laporan. Warga sipil, termasuk anak-anak, didesak untuk menyaksikan. Mayat dari
mereka yang tewas diperlihatkan selama beberapa hari, meneror penduduk setempat.

Komisi melaporkan bahwa para anggota ISIS telah melakukan kejahatan perang dan kejahatan
terhadap kemanusiaan di Aleppo dan kegubernuran Ar-Raqqah termasuk tindakan penyiksaan,
pembunuhan, penghilangan secara paksa dan pemindahan secara paksa.

Berbagai kelompok bersenjata non-negara lainnya terus melakukan pelanggaran, termasuk


eksekusi dan penembakan yang sengaja menargetkan warga sipil. Misalnya, kota Homs telah
diguncang oleh lebih dari selusin bom mobil sejak bulan April ini. Kelompok bersenjata Jabhat AlNusra telah mengaku bertanggung jawab atas beberapa serangan tersebut. Sementara itu,
berbagai kelompok bersenjata terus menggempur daerah yang dikuasi Pemerintah di Aleppo dan
Damaskus, yang mengakibatkan jatuhnya korban warga sipil dan luka-luka.

Laporan tersebut menyatakan bahwa Pemerintah juga telah melakukan pelanggaran, termasuk
kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan, dengan impunitas. Antara bulan Januari
dan Juli, ratusan pria, perempuan dan anak-anak tewas setiap minggunya oleh penembakan
rudal dan bom barel secara sembarangan oleh Pemerintah ke daerah-daerah yang dihuni oleh
warga sipil. Dalam beberapa kasus, ada bukti jelas bahwa pertemuan warga sipil sengaja
dijadikan sasaran, melakukan pembantaian, seperti yang dirinci dalam laporan.

Komisi melaporkan bahwa tentara pemerintah di berbagai pos pemeriksaan telah mencegah
warga sipil yang terluka untuk mencapai rumah sakit. Rumah sakit di daerah bergolak terus
menjadi target dan pasukan Pemerintah menolak untuk memberikan izin atas pengiriman
bantuan obat-obatan penting dan pasokan bedah. Bantuan kemanusiaan terus terhambat dan
dianggap sebagai senjata perang.

Sementara itu, di penjara Pemerintah, tahanan mengalami penyiksaan yang mengerikan dan
kekerasan seksual. Metode yang digunakan dan kondisi ruang penahanan mendukung temuan
lama Komisi akan adanya penyiksaan yang dilakukan secara sistematis dan kematian massal
terhadap para tahanan.

Pada bulan April dan Mei, pasukan Pemerintah menggunakan bahan kimia, kemungkinan klorin,
dalam delapan insiden terpisah di Suriah barat, menurut temuan Komisi. Semakin banyak anak
yang direkrut oleh kelompok bersenjata non-negara dan oleh Komite Populer Pemerintah untuk
berpartisipasi dalam permusuhan. Runtuhnya keluarga dan jaringan masyarakat, sering kali
disebabkan oleh kematian atau hilangnya para pria, telah meninggalkan perempuan dan anak
perempuan rentan dan menjadi penanggung jawab utama untuk mengurus keluarga mereka.

Kegagalan masyarakat internasional terletak pada tugas yang paling mendasar untuk
melindungi warga sipil, menghentikan dan mencegah kekejaman dan menciptakan jalan menuju
akuntabilitas telah menemukan lawannya di lapangan oleh tingginya pengabaian terhadap
norma-norma hukum internasional. Seperti yang bisa dilihat saat ini, prilaku ini memiliki implikasi
yang besar bagi seluruh kawasan, laporan tersebut menambahkan.

Beberapa negara terus melakukan pengiriman senjata, artileri dan pesawat secara missal
kepada Pemerintah Suriah, atau memberikan kontribusi dengan logistik dan bantuan strategis.
Sementara itu, Negara-negara lain, organisasi dan individu mendukung kelompok-kelompok
bersenjata dengan senjata dan keuangan. Senjata mereka kirim ke pihak yang bertikai di Suriah
dan digunakan dalam melakukan kejahatan perang. Komisi merekomendasikan pengenaan
embargo senjata dan menyerukan kepada masyarakat internasional untuk mengekang proliferasi
dan pasokan senjata.

Akuntabilitas harus menjadi bagian dari penyelesaian masa depan apapun jika untuk
menghasilkan perdamaian abadi. Sudah terlalu banyak nyawa yang hilang dan kehancuran,
kata Pinheiro.

Laporan ini menandai ulang tahun ketiga pembentukan Komisi Penyelidikan untuk Suriah. Selain
Pinheiro, Komisi terdiri dari Karen Koning AbuZayd, Carla del Ponte dan Vitit Muntarbhorn. Komisi
telah diamanatkan oleh Dewan HAM PBB untuk menyelidiki dan mencatat semua pelanggaran
terhadap hukum hak asasi manusia internasional, kejahatan perang dan kejahatan terhadap
kemanusiaan sejak awal konflik.

Perang Suriah Hancurkan Ratusan Situs Warisan Budaya


Selasa, 23 Desember 2014 | 14:14 WIB
Reuters Foto tertanggal 2/10/2012 ini memperlihatkan gerbang batu bersejarah menuju kota tua
Aleppo, Bab Antakya, yang hancur akibat perang Suriah.
KOMPAS.com - Kajian baru PBB mendapati perang saudara yang berlangsung lama di Suriah
telah merusak bahkan menghancurkan ratusan situs warisan budaya Suriah.

Kajian oleh UNITAR, Lembaga PBB untuk Pelatihan dan Penelitian itu menggunakan foto-foto
satelit yang sangat rinci, yang melacak dan menganalisis sejauh mana kerugian itu.

Perang saudara di Suriah selama lebih dari tiga tahun telah menewaskan sekitar 200 ribu orang
dan memaksa lebih dari sembilan juta orang mengungsi, baik di dalam maupun luar negeri.
Kajian baru PBB mendapati, banyaknya korban manusia itu diperparah oleh kehancuran warisan
budaya Suriah yang sangat parah dan menyedihkan.

Einar Bjorgo adalah manajer program Aplikasi Operasional Satelit UNITAR, yang disebut UNOSAT.
Kepada VOA, dia mengatakan, foto-foto satelit menunjukkan kerusakan luas pada masjid-masjid,
reruntuhan tua dan situs budaya lain, termasuk Situs Warisan Dunia UNESCO.

Bjorgo mengatakan, kota Aleppo yang dilanda pertempuran, yang telah dihuni sejak lebih dari
7.000 tahun, kini rusak parah. Demikian pula situs-situs di daerah lain, termasuk Damaskus,
Raqqa dan Palmyra.

Ia mengatakan pakar-pakar PBB telah melihat 18 daerah warisan budaya dan menganalisis 290
lokasi di dalam situs-situs tersebut untuk melihat sejauh mana dampak perang selama tiga
tahun ini.

"Sebanyak 24 (lokasi) benar-benar hancur, 104 rusak berat, 85 rusak sedang, dan kami juga
mengamati kemungkinan kerusakan pada 77 lokasi lainnya. Jadi, kerusakan ini cukup besar dan
cukup dramatis. Dan, sekali lagi, kerusakan terjadi di seluruh negeri. Sebagian besar wilayah
warisan budaya ini terletak di bagian barat negara itu, kata Bjorgo.

UNITAR menganalisis foto-foto satelit guna mendukung upaya kemanusiaan internasional di


Suriah sejak awal konflik Maret 2011. Sementara membantu operasi sipil, Bjorgo mengatakan,
kerusakan luar biasa terhadap situs-situs warisan budaya juga semakin jelas.

Dia mengatakan hal itu mendorong UNITAR melakukan kajian menyeluruh terhadap situs-situs
bersejarah itu. Menurutnya, temuan itu mengkhawatirkan. Benda-benda kuno yang dijarah dari
Suriah dikabarkan dijual dengan harga puluhan juta dolar di pasar internasional.

Bjorgo mengatakan foto-foto satelit tidak menunjuk siapa yang bertanggungjawab atas
penjarahan atau kehancuran itu.

Kajian itu memberi kesaksian menarik dan mengkhawatirkan mengenai kerusakan yang terus
terjadi terhadap warisan budaya Suriah yang sangat luas.

PBB memperingatkan warisan tak tergantikan ini sedang dimusnahkan. Badan dunia itu
mendesak aksi nasional dan internasional guna melindungi dan menyelamatkan agar warisan
berharga bagi semua umat manusia ini tidak musnah.