Anda di halaman 1dari 4

Tiket Masuk

1. Definisi Rearing atau Perbanyakan Serangga ( minimal 2) ?


a. Pembesaran satwa, yang merupakan pembesaran anakan dari telur yang
diambil dari habitat alam yang ditetaskan di dalam lingkungan terkontrol dan
atau dari anakan yang diambil dari alam (ranching/rearing).
http://www.ksda-bali.go.id/konservasi-ex-situ/penangkaran-tumbuhan-dansatwa-liar/
b. Rearing, Apabila diterjemahkan bebas, berarti memelihara anak atau hewan
dari kecil hingga tumbuh dewasa hingga dapat menghasilkan keturunan
selanjutnya. Rearing serangga antara lain dilakukan untuk mempelajari
serangga dalam tiap fase hidupnya, khususnya waktu yang dihabiskan dalam
fase tertentu dan perubahan anatomi serta fisiologi dalam tiap fase. Selain itu,
rearing juga dapat dilakukan untuk tujuan budidaya atau ekonomi.
http://ksebiologiugm.blogspot.com/2012/06/rearing-serangga.html

2. Langkah langkah perbanyakan serangga secara massal + penjelasan ?


a. Untuk cara rearingnya, telur nyamuk (misalnya dalam hal ini menggunakan jenis
nyamuk Aedes, untuk Culex dan Anopheles serta jenis nyamuk lain menggunakan
teknik sedikit berbeda, jika ingin mengetahui lebih lanjut, bisa tanya2 atau main ke
sarang (markasnya KSE)) (di kertas) di rendam dalam air bersih (Gambar 2), sekitar
1-2 hari kemudian, telur sudah menetas menjadi larva atau kita kenal dengan sebutan
jentik. Nah tahap larva ini ada beberapa fase yang biasanya disebut instar. Setiap
instar dibedakan karena ukuran tubuhnya dan perubahan warna ataupun
bertambahnya organ tubuh tertentu. Misalnya, larva instar 1 sulit terlihat, warna masih
transparan dan ukuran tubuhnya sangat kecil. Tahap selanjutnya yaitu pupa yang juga
bisa bergerak-gerak (berbeda dengan pupanya kupu-kupu), kemudian nyamuk dewasa
atau Imago.
a.

Tahap pembuatan media tumbuh sebagai berikut :

Media tumbuh yang digunakan seperti tepung beras terlebih dahulu dikeringkan di
bawah sinar matahari hingga kering.

Semua media disterilisasi dengan menggunakan otoklaf, pada suhu 120C, 2 atm
selama 15 menit.

b.

Penanaman dan Pemeliharaan

Memasukkan pakan larva yang telah disterilkan ke dalam kotak pemeliharaan dengan
ketebalan 2,50 cm.

Memasukkan bibit telur ke dalam kotak pemeliharaan yang telah berisi pakan
sebanyak 2 per 2 cm luas kotak (176 butir) untuk setiap kotak pemeliharaan.

Menutup dan menyimpan kotak pemeliharaan pada rak pemeliha-raan dengan suhu
kamar sampai imago C. cephalonica muncul.

Mengumpulkan imago yang muncul dengan menggunakan tabung reaksi. Kemudian


mema-sukkan imago tersebut ke dalam kotak peneluran.

Menyimpan kotak peneluran pada posisi tegak. Selama dalam kotak peneluran, imago
C. cephalonica tidak memerlukan makanan. Telurnya akan diletakkan pada kain kasa
di bagian atas dan dasar kotak peneluran.

Mengumpulkan telur C.cephalonica setiap pagi dengan cara menyikat telur yang
menempel pada kain kasa dengan kuas kecil dan menampungnya dengan cawan petri.
Sesaat setelah dewasa dan berkopulasi, maka C. cephalonica akan mati. Ini berarti
berakhirlah satu siklus hidup untuk satu generasi.

3. Apa Saja kendala yang sering dihadapi dalam perbanyakan serangga ?


4. Makanan merupakan sumber gizi yang digunakan untuk hidup dan berkembang. Oleh
karena itu, pemilihan suatu inang sebagai sumber makanan erat kaitannya dengan
kesesuaian makanan suatu species dalam pertumbuhan populasi atau dalam
memperbanyak diri dan melanjutkan keturunannya. Jumar (2000) mengemukakan
bahwa jika makanan tersedia dengan kualitas yang cocok dan cukup, maka populasi
serangga akan naik dengan cepat. Sebaliknya jika makanan kurang, maka populasi
akan menurun.
5. Pengaturan sumber nutrisi untuk pertumbuhan dan metabolisme diatur oleh sejumlah
hormon. Hormon ini berfungsi dengan baik, jika dalam makanan yang digunakan
sebagai sumber gizi mengandung sejumlah zat-zat organik (protein asam amino,
karbohidrat, lemak dan vitamin), mineral dan air dalam keadaan yang cukup untuk
mendapatkan energi yang diperlukan. Fenomena ini terlihat pada perlakuan media
DPP (1:1) yang dapat menghasilkan populasi sebanyak 82,33 ekor selama 10 hari,
pada perlakuan PA menghasilkan populasi rata-rata 163,67 ekor.
6. Terjadinya perbedaan tingkat kesuburan ini disebabkan oleh komposisi gizi pada
media perlakuan uji berbeda-beda. Karena pada media dengan perlakuan PA
mengandung zat protein tinggi yang dibutuhkan larva selama fase perkembangannya,
terutama pada proses pergantian kulit. Meskipun media PA juga mengandung zat

protein tinggi, tetapi dengan adanya tambahan bahan makanan yaitu DD, maka akan
menambah nilai gizi dari media DD, sehingga akan mempercepat perkembangan dan
larva hingga dewasa, dan berpengaruh terhadap produksi telur. Pada media DDP
produksi telurnya lebih rendah dibandingkan dengan media PA. Kerena pada media
DDP energi metabolismenya lebih tinggi dibandingkan dengan media PA, sehingga
mengakibatkan konsumsi pakan berkurang. Sebagai akibat dari rendahnya konsumsi
pakan, maka protein, asam-asam amino esensial, mineral dan vitamin akan menjadi
berkurang. Hal ini akan menyebabkan penimbunan lemak pada tubuh, sehingga akan
menurunkan produksi telur dan daya tahan kerang (kulit telur). Suhubdy (1988)
mengemukakan bahwa makin tinggi jumlah energi. yang terdapat dalam ransum
konsumsi ransum akan berkurang yang berakibat pada rendahnya konsumsi ransum,
sehingga protein dan kapur pun akan menjadi berkurang. Demikian pula daya tahan
kerang (kulit telur) akan makin menurun.
7. Faktor fisik juga berpengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhan larva seperti
warna, keadaan permukaan, ketebalan, dan kekerasan kulit bahan. Selain itu besarnya
butiran material juga berpengaruh terhadap perkembangan Corcyra cephalonica. Hal
ini dapat diketahui dari media dengan perlakuan TJ menghasilkan jumlah imago yang
muncul lebih sedikit dibandingkan dengan media yang lain. Karena media TJ
memiliki butiran material yang besar dan keras dibandingkan dengan media yang lain,
akibatnya larva mengalami kesulitan dalam mencerna makanan sehingga akan
berpengaruh terhadap perkembangannya dan akibatnya perkembanagn larva untuk
menjadi imago terhambat. Demikian juga dengan media dengan perlakuan TB
menghasilkan jumlah imago yang rendah. Hal ini disebabkan karena media dengan
perlakuan TB memiliki butiran material yang lebih halus dan licin, sehingga larva
akan sulit untuk makan dan berlindung akibatnya banyak larva yang tidak dapat
hidup.
8. Ketebalan media juga berpengaruh terhadap presentase kemuculan imago. Hal ini
terjadi karena pada media yang tebal, pupa yang terletak lebih dalam dari 2,50 cm
gagal untuk mencapai imago. Karena pada saat larva mencapai tahap pupa, maka
calon imago akan mengalami kesulitan untuk mencapai permukaan media.
9. Gambar Siklus Hidup Serangga (pilih salah satu serangga hama+keterangan) ?

NB. Laporan diketik dikertas A4, dikumpulkan sebelum praktikum dimuai praktikum,
Terimakasih