Anda di halaman 1dari 10

4

TINJAUAN PUSTAKA
Dewasa
Hurlock (2004) menyatakan bahwa istilah dewasa (adult) berasal dari
bahasa latin adultus yang berarti telah tumbuh menjadi kekuatan dan ukuran
yang sempurna atau telah menjadi dewasa. Orang dewasa adalah individu yang
telah menyelesaikan pertumbuhan fisiknya dan telah siap menerima kedudukan
dalam masyarakat.
Menurut WHO (2009), usia wanita dewasa dimulai dari 20 hingga 59
tahun. Masa dewasa dibagi menjadi tiga fase, yaitu masa dewasa dini, masa
dewasa madya, dan masa dewasa lanjut. Masa dewasa dini dimulai pada usia 18
tahun hingga 40 tahun, saat terjadi perubahan-perubahan fisik dan psikologis
yang menyertai berkurangnya kemampuan reproduktif. Masa dewasa dini
merupakan periode penyesuaian diri terhadap pola-pola kehidupan baru dan
harapan-harapan sosial baru. Masa dewasa madya dimulai pada usia 40 hingga
60 tahun, yakni saat menurunnya kemampuan fisik dan psikologis yang jelas
nampak pada setiap orang. Masa dewasa madya, dilihat dari sudut posisi usia
dan terjadinya perubahan fisik maupun psikologis, memiliki banyak kesamaan
dengan masa remaja. Secara fisik, pada masa remaja terjadi perubahan yang
demikian pesat (menuju ke arah kesempurnaan/kemajuan) yang berpengaruh
pada kondisi psikologisnya, sedangkan masa dewasa madya juga mengalami
perubahan kondisi fisik, namun dalam pengertian terjadi penurunan/kemunduran,
yang juga akan mempengaruhi kondisi psikologisnya. Kemudian masa dewasa
lanjut dimulai pada usia 60 tahun keatas hingga kematian, saat kemampuan fisik
dan psikologis cepat menurun (Hurlock 2004).
Pemenuhan Kebutuhan Gizi pada Orang Dewasa
Pemenuhan kebutuhan gizi pada orang dewasa sangat terkait dengan
beberapa peran makanan. Orang dewasa sangat memperhatikan tujuan mereka
dalam mengonsumsi suatu makanan, mulai dari fungsi utamanya sebagai
penghasil tenaga, kesenangan, kenyamanan, simbol tradisi, atau perayaan
tertentu. Gaya hidup merupakan faktor yang sangat berperan dalam menentukan
kualitas hidup di usia dewasa. Menurut Brown (2008), gaya hidup lebih
berpengaruh dibanding faktor genetik, pelayanan kesehatan, dan lingkungan.
Adapun masalah yang dialami orang dewasa dalam upaya pemenuhan
kebutuhan gizi adalah kesibukan yang semakin meningkat sehingga orang
dewasa terkadang mengabaikan pemenuhan makanan dan minumannya.

Perubahan Fisiologis pada Wanita Dewasa : Kehamilan dan Menyusui


Kehamilan merupakan suatu proses fisiologis normal yang dialami oleh
seorang wanita dewasa. Kebiasaan makan dan status gizi ibu sebelum dan
selama masa kehamilan sangat menentukan kesehatan bayi yang dilahirkannya.
Pemenuhan kebutuhan zat gizi sangat penting karena pada masa kehamilan
tersebut terbentuk seorang manusia baru. Melalui makanan yang dikonsumsi, ibu
hamil menyalurkan kebutuhan gizi bagi janin tersebut sebagai awal dan
keberlanjutan pertumbuhan dan perkembangannya (Nix 2005).
Pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi ibu hamil sangat penting diperhatikan
untuk mengurangi kasus kematian akibat kehamilan. Berdasarkan berbagai
penelitian, sebanyak 20-45% wanita di negara berkembang mengalami kematian
akibat kehamilan (Eastwood 2003).
Semenjak tahun 1960, jumlah ibu yang melakukan praktek menyusui
meningkat sebanyak 83% (Nix 2005). Selama proses menyusui, tubuh
membutuhkan lebih banyak cairan yang sesuai dengan kebutuhannya. Menurut
Truswell (1999), ibu menyusui membutuhkan tambahan 850 mL air daripada
kebutuhan normalnya. Kelebihan asupan air pada ibu menyusui tidak dianjurkan
karena dapat menyebabkan penurunan produksi dan kualitas ASI (Riordan
2005).
Air di Dalam Tubuh
Air merupakan suatu senyawa yang memiliki ikatan hidrogen sehingga
afinitas molekulnya tinggi dan berwujud cairan (Agostoni 2010). Air merupakan
zat gizi esensial yang pemenuhannya lebih penting dibanding zat gizi lainnya.
Pentingnya air dapat dilihat dari seberapa lama individu dapat bertahan tanpa air.
Seseorang masih bisa bertahan beberapa hari tanpa makanan, namun hanya
bertahan beberapa hari tanpa air (Whitney & Rolfes 2008).
Yuniastuti (2008) serta Whitney dan Rolfes (2008) menyatakan bahwa air
merupakan komponen terbesar yang menyusun tubuh manusia. Jumlah air yang
terdapat dalam tubuh adalah sekitar 80% dari berat badan (untuk bayi dengan
low birth weight), sekitar 70-75% dari berat badan (untuk bayi neonatus), sekitar
65% dari berat badan (untuk anak). Agostoni et al. (2010) menjelaskan bahwa
komposisi air dalam tubuh orang dewasa adalah 60% untuk pria dan 50-55%
untuk wanita. Banyaknya air yang terdapat dalam tubuh seseorang tergantung
kepada jumlah lemak yang terdapat dalam tubuh. Proporsi air di dalam tubuh
akan semakin berkurang jumlahnya pada wanita, individu yang mengalami

obesitas, serta lansia. Hal ini disebabkan karena pada individu tersebut jumlah
lean mass semakin berkurang.
Fungsi Air dan Regulasi Air di Dalam Tubuh
Air sebagai zat gizi yang vital memiliki berbagai fungsi di dalam tubuh.
Menurut Almatsier (2003), Whitney dan Rolfes (2008) , serta Jequier dan
Constant (2010) air memiliki fungsi sebagai zat pembangun, pelarut dan alat
angkut, katalisator, pelumas, fasilitator pertumbuhan, pengatur suhu, dan
pengatur tekanan darah.
Air terdapat di setiap sel, jaringan, dan bagian lainnya dari tubuh. Fungsi
air yang sangat primer ini menjadi acuan bagi rekomendasi gizi, bahwa air akan
lebih banyak dibutuhkan pada periode pertumbuhan. Air di dalam tubuh berperan
sebagai pelarut zat-zat gizi, kemudian mengangkut zat gizi tersebut ke seluruh
bagian tubuh. Selain itu, air juga berperan mengangkut sisa termasuk
karbondioksida dan ureum untuk dikeluarkan dari tubuh melalui paru-paru, kulit,
dan ginjal. Air berperan sebagai katalisator dalam berbagai reaksi biologis dalam
sel, termasuk dalam saluran cerna. Air diperlukan pula untuk memecah atau
menghidrolisis zat gizi kompleks menjadi bentuk-bentuk yang lebih sederhana.
Air berperan sebagai pelumas dalam cairan sendi-sendi tubuh. Air sebagai
bagian dari jaringan tubuh, diperlukan untuk pertumbuhan, yakni sebagai zat
pembangun. Air memiliki kemampuan untuk menyalurkan panas, oleh karena itu
air memegang peranan penting untuk mengatur distribusi panas dalam tubuh.
Sebagian panas yang dihasilkan dari metabolisme energi diperlukan untuk
mempertahankan suhu tubuh pada 37oC sebagai suhu yang mendukung
bekerjanya enzim secara optimal. Kelebihan panas yang diperoleh dari
metabolisme energi perlu segera disalurkan ke luar.

Sebagian besar

pengeluaran kelebihan panas ini dilakukan melalui penguapan air dari


permukaan tubuh (keringat). Tubuh setiap waktu mendinginkan diri melalui
penguapan air. Selain itu, air juga berperan untuk mengatur tekanan darah.
Keseimbangan air tubuh dikontrol dengan pengaturan masukan dan
ekskresi cairan. Secara normal, masukan air dipengaruhi oleh rasa haus, yang
merupakan pertahanan utama terhadap kekurangan cairan. Rasa haus
merupakan keinginan yang sadar untuk minum air yang diatur oleh suatu pusat
di midhipotalamus (Adelman & Solhung 1999). Namun, selain karena adanya
rasa haus, manusia juga mengonsumsi cairan karena alasan kesukaan seperti
saat mengonsumsi minuman manis dan alkohol (Popkin et al. 2010).

Keseimbangan cairan tubuh diatur oleh mekanisme homeostatis yang


dipengaruhi oleh status cairan tubuh. Defisiensi air meningkatkan konsentrasi
ionik pada kompartemen ekstraseluler yang meyebabkan sel-sel mengerut.
Pengerutan sel dideteksi oleh dua sensor otak, yang satu mengontrol minum dan
yang lain mengontrol ekskresi urin (Popkin et al. 2010). Ekskresi cairan atau
kehilangan air tubuh dapat terjadi melalui paru-paru, kulit, traktus gastrointestinal,
dan ginjal. Kehilangan wajib merupakan volume cairan minimum yang harus
dicerna setiap hari untuk mempertahankan keseimbangan cairan (Adelman &
Solhung 1999).
Sumber Air bagi Tubuh Manusia
Sebagian besar asupan air bagi tubuh diperoleh dari minuman, yaitu
sekitar 1650 mL per hari dalam bentuk air, teh, kopi, soft drink, susu, dan
sebagainya (Muchtadi et al. 1993). Kajian asupan air pada populasi dewasa di
Amerika Serikat menunjukan total asupan air 28% berasal dari makanan dan
72% dari minuman, yang terdiri dari 28% air putih dan 44% minuman lainnya
(IOM/FNB 2005). Berikut adalah persentase air di dalam bahan makanan:
Tabel 1 Kandungan air beberapa bahan makanan
Persentase

Bahan Makanan

100%

Air

90-99%

Susu bebas lemak, strawberi, semangka, selada, kol, seledri, bayam, brokoli

80-89%

Jus buah, yogurt, apel, anggur, jeruk, wortel

70-79%

Udang, pisang, jagung, kentang, alpukat

60-69%

Pasta, polong-polongan, salmon, es krim, dada ayam

50-59%

Daging sapi

40-49%

Pizza

30-39%

Keju cheddar, roti

20-29%

Cake, biscuit

10-19%

Margarin,mentega

1-9%

Cracker, sereal, selai kacang, kacang

0%

Minyak dan gula

Sumber : Whitney dan Rolfes 2008

Sumber air bagi tubuh manusia adalah air dari minuman dan air dari
makanan (Whitney & Rolfes 2008). Santoso et al. (2011) menambahkan air hasil

metabolisme sebagai salah satu sumber air bagi tubuh. Bahan pangan yang
dikonsumsi setiap harinya akan menyumbang sekitar 700-1000 mL air. Hasil
metabolisme akan menghasilkan 200-300 mL air. Semakin banyak energi dari
karbohidrat yang dihasilkan maka akan semakin banyak air metabolik yang
dihasilkan.
Sebagian besar sumber air dari makanan orang Indonesia adalah
makanan pokok (46%) serta buah dan sayur (30%). Makanan pokok orang
Indonesia pada umumnya adalah nasi yang mengandung kadar air 25-35%,
sementara buah dikonsumsi dalam jumlah yang relatif sedikit meskipun banyak
kadar airnya.
Air metabolik adalah air yang dihasilkan dari proses metabolisme lemak,
protein, dan karbohidrat di dalam tubuh. Muchtadi et al. (1993) menyatakan
bahwa air dalam makanan padat menyumbangkan 750 mL dan air dari
metabolisme (air yang dibentuk jika gula, lemak, dan protein dimetabolisme untuk
menghasilkan energi) sekitar 350 mL. Proses metabolisme tersebut dapat
dirumuskan sebagai berikut (Verdu& Navarrete 2009) :
C6H12O6
(Glukosa)

+ O2

ATP + CO2 + H2O

CH3-(CH2)14-COOH
(Asam palmitat)

+ O2

ATP + CO2 + H2O

H2N-CH-COOH
|
R
(Asam amino)

+ O2

CH3-CH2OH
(Etanol)

+ O2

NH2
ATP + CO2 + H2O+O=C
NH2
ATP + CO2 + H2O

Sebanyak 200-300 mL air dihasilkan dari proses metabolisme. Jumlah air


yang dihasilkan sangat ditentukan oleh banyaknya energi yang dihasilkan
makanan. Semakin banyak energi dari karbohidrat maka semakin banyak pula
air metabolik yang dihasilkan (Whitney & Rolfes 2008). Jumlah air yang
dihasilkan dari metabolisme pemecahan lemak, protein dan karbohidrat per 100
gram dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2 Jumlah
air
yang
dihasilkan
metabolisme(mL/100 gram)
Zat gizi
Lemak
Protein
Karbohidrat
Sumber: Verdu dan Navarrete (2009)

dari

proses

Air yang dilepaskan


107
40
55

Keseimbangan Cairan (Asupan dan Keluaran Air)


Keseimbangan cairan adalah keadaan yang memperlihatkan asupan air
yang sesuai dengan keluaran air (Whitney & Rolfes 2008, Agostoni 2010). Setiap
sel di dalam tubuh mengandung cairan, baik intraselular maupun ekstraselular.
Cairan ini secara berkelanjutan akan hilang dari sel kemudian digantikan
kembali, namun komposisinya tidak akan sama seperti keadaan normal. Hal ini
menyebabkan

terjadinya

ketidakseimbangan

yang

dapat

menyebabkan

kerusakan. Oleh karena itu, tubuh dengan mekanisme homeostatis akan


merespon dengan cara mengatur asupan air dan ekskresi sehingga terjadi
keseimbangan.
Asupan Air
Asupan air telah diatur secara homeostatis, namun juga tetap dipengaruhi
oleh sosial, budaya, serta kebiasaan. Asupan air setiap orang berbeda-beda,
dipengaruhi oleh usia, level aktivitas fisik, faktor lingkungan (suhu), dan diet
(Agostoni 2010).
Rasa haus dan kenyang akan mempengaruhi asupan air, yang berkaitan
juga dengan rangsangan di mulut, hipotalamus, dan sistem syaraf. Apabila
asupan air tidak cukup bagi tubuh, maka darah akan mengental, mulut kering,
dan hipotalamus mengirimkan perintah untuk minum. Apabila asupan air
berlebih, reseptor yang terdapat pada lambung akan mengirimkan sinyal untuk
berhenti minum (Whitney & Rolfes 2008).
Menurut Santoso et al. (2011), asupan air dapat berupa asupan air wajib
dan elektif. Asupan air wajib berasal dari air minum volume minimal, air berasal
dari makanan, dan air hasil oksidasi zat makanan. Air minum volume minimal
adalah air minum yang dibutuhkan tubuh dalam keadaan basal (suhu badan dan
lingkungan normal serta dalam istirahat), volumenya kurang lebih 400 mL. Air
berasal dari makanan adalah kandungan air yang ada dalam makanan (daging
mengandung 70% air sedangkan buah dan sayuran mengandung 100% air),
volumenya kurang lebih 850 mL. Air hasil oksidasi zat makanan adalah air hasil
oksidasi protein, hidrat arang, dan lemak, volumenya kurang lebih 350 mL.
Volume air wajib adalah sebesar 1.600 mL. Asupan air selektif adalah banyaknya
air yang harus diasup disesuaikan dengan kebutuhan akibat kemungkinan suhu
lingkungan yang tinggi, suhu badan yang tinggi atau setelah melakukan latihan
fisik yang merangsang pusat rasa haus sehingga individu tersebut ingin minum.

10

Kajian asupan air pada populasi dewasa di Amerika Serikat menunjukan


total asupan air 28% berasal dari makanan dan 72% dari minuman, yang terdiri
dari 28% air putih dan 44% minuman lain-lain (Institut of Medicine 2004 dalam
Santoso et al. 2011). Hasil penelitian Fauji (2011) menunjukkan bahwa total
asupan air pada dewasa laki-laki yaitu 71.9% dan pada dewasa perempuan yaitu
73.7%. Menurut EFSA (2010), total asupan air rata-rata pada wanita dewasa
adalah 1.900-2.400 mL/hari.
Keluaran Air
Keluaran air dari tubuh yang utama berasal dari ginjal dan keringat.
Pengeluaran ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti asupan air, diet,
aktifitas fisik, dan temperatur (Agostoni 2010). Keluaran minimal air dari tubuh
menurut Whitney dan Rolfes (2008) adalah sebanyak 500 mL sebagai urin yang
membuang sisa metabolisme. Selain melalui urin, air juga dikeluarkan tubuh
melalui proses pernapasan di paru-paru, keringat, dan feses. Setiap harinya,
rata-rata kehilangan air dari tubuh adalah 2.5 liter. Berikut adalah tabel
perbandingan asupan dan keluaran air:
Tabel 3 Keseimbangan cairan (asupan dan keluaran air)
Sumber air tubuh

Jumlah (mL)

1. Minuman/cairan
2. Makanan
3. Hasil metabolisme

550 1.500
700 1.000
200 300

Total
1.450 2.800
Sumber : Whitney dan Rolfes (2008)

Pengeluaran
air
tubuh
1. Urin/ginjal
2. Keringat/kulit
3. Pernafasan/paru
4. Tinja
Total

Jumlah (mL)
500 1.400
450 900
350
150
1.450 2.800

Kebutuhan Air Orang Dewasa


Pemenuhan kebutuhan air penting untuk menjaga keseimbangan cairan
tubuh. Tubuh menjaga keseimbangan cairan dengan mengganti cairan yang
hilang melalui urin, feses, kulit, dan paru-paru (Barasi 2009).
Salah satu metode untuk menghitung kebutuhan air adalah dengan
menggunakan pendekatan intake kalori atau berat tubuh. The Food and Nutrition
Board menganjurkan 1-1.5 mL air per kalori dari pencernaan makanan. Oleh
karena itu, 2000 mL air atau cairan sangat dianjurkan untuk masyarakat yang
mengonsumsi 2000 Kal. Beberapa rekomendasi yang berbasis kalori juga
menyarankan bahwa intake cairan sekurang-kurangnya 1500 mL/hari. Jadi,
mengonsumsi diet 1200 Kal berarti harus meminum 1500 mL atau lebih, bukan
meminum 1200 mL atau lebih (Brown 2008). The National Research Council

11

diacu dalam Sawka et al. (2005) merekomendasikan asupan air harian yaitu
sekitar 1 mL/Kal energi yang dikeluarkan. Kebutuhan air 1 mL/Kal merupakan
kebutuhan air yang berasal dari intake air, yaitu air dari makanan dan air dari
minuman. Kebutuhan air yang berasal dari total asupan air dari makanan,
minuman dan air metabolik adalah sebesar 1.22 mL/Kal untuk wanita dewasa
(Manz & Wentz 2005).
Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kebutuhan air setiap
orang. Faktor tersebut antara lain usia, jenis kelamin, kondisi fisiologis, suhu
lingkungan, suhu tubuh, lama aktivitas, dan kondisi fisiologis (Praboprastowo &
Dwiriani 2004, Santoso et al. 2011). Kebutuhan cairan di daerah dengan suhu
40oC dapat menjadi lebih tinggi daripada di daerah dengan suhu 20oC. Aktivitas
fisik akan meningkatkan pengeluaran cairan akibat meningkatnya suhu tubuh
(Sawka et al. 2005).
Dehidrasi
Dehidrasi adalah suatu keadaan terlalu banyaknya cairan tubuh yang
hilang dan tidak dapat digantikan dengan baik. Menurut Mann dan Stewart
(2007) dan Gavin (2006), dehidrasi disebabkan karena meningkatnya kehilangan
cairan tubuh, kurangnya asupan air, atau oleh kedua hal tersebut. Dehidrasi
ditandai oleh munculnya rasa haus. Apabila rasa haus tersebut tidak direspon
dengan meminum air dalam jumlah yang cukup maka keadaannya akan semakin
memburuk. Rasa haus ini akan semakin sulit diterima dan direspon seiring
dengan bertambahnya usia. Akibatnya, rasa haus tersebut akan berkembang
menjadi rasa lemah dan lemas, letih, kehilangan kesadaran, bahkan kematian
(Whitney & Rolfes 2008).
Dehidrasi

menimbulkan

gejala

yang

berbeda

menurut

tingkatan

dehidrasinya. Dehidrasi ringan menimbulkan gejala haus, lelah, kulit kering,


mulut dan tenggorokan kering. Dehidrasi tingkat sedang dapat mengakibatkan
detak jantung semakin cepat, pusing, tekanan darah rendah, lemas, konsentrasi
urin menjadi pekat namun volumenya kurang. Sedangkan dehidrasi tingkat berat
dapat mengakibatkan kejang, lidah membengkak, dan kegagalan fungsi ginjal
(Mann & Stewart 2007).
Survey yang dilakukan pada warga Amerika memperlihatkan bahwa
sebagian besar masyarakat mengalami dehidrasi yang kronik. Hal ini disebabkan
karena mereka terlalu sedikit mengonsumsi air dan terlalu banyak mengonsumsi
minuman yang mengandung diuretik seperti kafein dan alkohol. Penelitian ini

12

menunjukkan bahwa rata-rata penduduk mengonsumsi 8 takaran saji dari


kombinasi cairan yang meliputi jus, air, susu, soda tanpa kafein. Dari jumlah
tersebut akan diperoleh sekitar 2000 mL cairan. Penelitian lain menunjukkan
bahwa penduduk mengonsumsi 5 sajian minuman yang mengandung kafein dan
alkohol (Insel et al. 2011).
Mutu Gizi Asupan Pangan
Berdasarkan UU No. 7 tahun 1996, pangan adalah segala sesuatu yang
berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah, yang
diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia,
termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang
digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan atau pembuatan makanan
atau

minuman.

Pemenuhan

kebutuhan

pangan

bukan

hanya

untuk

menghilangkan rasa lapar dan memenuhi selera, tetapi juga memenuhi


kebutuhan energi (Bender 2002). Pangan juga memiliki fungsi sosial dalam
menjaga hubungan manusia dengan lingkungannya mulai dari tingkat keluarga
hingga tingkat masyarakat (Sediaoetama 1996).
Pangan yang dikonsumsi dapat ditentukan kualitasnya dengan Mutu Gizi
asupan Pangan (MGP). MGP secara sederhana diartikan sebagai suatu nilai
untuk menentukan apakah makanan tersebut bergizi atau tidak yang didasarkan
pada kandungan zat gizi makanan berkaitan dengan kebutuhan dan tingkat
ketersediaan secara biologis bagi tubuh. Mutu gizi asupan pangan diartikan pula
sebagai persentase konsumsi zat gizi terhadap kecukupan atau kebutuhannya.
Penentuan mutu gizi asupan pangan didasarkan pada jumlah zat gizi yang
tersedia untuk dikonsumsi relatif terhadap kebutuhan dan nilai biologisnya
(Hardinsyah & Atmojo 2001, Jadhav & Vali 2010).
Kandungan gizi pangan merupakan salah satu ukuran mutu gizi asupan
pangan. Perhitungan kandungan gizi pangan dilakukan dengan menggunakan
Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM) yang menunjukkan berbagai
kandungan zat gizi dari bahan pangan dalam 100 gram bagian yang dapat
dimakan (BDD). Konsumsi zat gizi tertentu per hari yang diperoleh dari
mengonsumsi aneka makanan adalah penjumlahan dari zat gizi yang sama yang
diperoleh dari aneka makanan tersebut (Hardinsyah 2001).
Setelah diperoleh kandungan zat gizi tertentu dalam bahan pangan,
kemudian dihitung pula tingkat kecukupan zat gizi tersebut. Penggunaan nilai
tingkat kecukupan gizi lebih rasional dan mudah digunakan untuk menghitung

13

mutu gizi asupan pangan (Hardinsyah & Atmojo 2001). Selanjutnya perhitungan
MGP dapat dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
MGP =
Keterangan :
MGP

= Mutu Gizi Asupan pangan

TKGi

= Tingkat kecukupan zat gizi ke-I, yaitu (konsumsi zat gizi


ke-i/kecukupan zat gizi ke-i) x 100

= Jumlah zat gizi yang dipertimbangkan dalam penilaian MGP