Anda di halaman 1dari 30

PENGUKURAN RAPAT MASSA DENGAN BERBAGAI CARA

I. TUJUAN PERCOBAAN

Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui dan mempraktekkan cara pengukuran rapat massa cairan dengan berbagai cara.

II. DASAR TEORI

Rapat massa (density) adalah suatu besaran yang menunjukkan

massa yang terkandung dalam zat setiap satuan volumnya dan dirumuskan dengan persamaan:

=

(1)

Rapat massa umumnya mempunyai satuan kg/m 3 atau gram/mL. Massa (m) dan volume (V) adalah sifat ekstensif, artinya nilainya tergantung pada jumlah bahan yang diselidiki. Sedangkan densitas adalah sifat intensif yang nilainya tidak tergantung padda jumlah bahan yang diselidiki, atau nilainya tetap untuk suatu kondisi yang tetap pula.

1. Specific gravity

Spesific gravity adalah perbandingan antara rapat massa yang diukur dengan rapat massa pembanding (referensi). Spesific gravity tidak mempunyai satuan karena merupakan suatu perbandingan. Umumnya yang dijadikan sebagai referensi adalah aquadest pada suhu

4 o C dan pada tekanan 1 atm karena pada keadaan tersebut rapat massa aquadest adalah 1 g/ml. Specific gravity dilambangkan dengan “sp.gr” yang dirumuskan sebagai berikut:

. =

(2)

2. Bulk density Bulk density merupakan perbandingan massa total dengan volum total, termasuk pori-pori dan rongga yang ditempati. Secara matematis dapat digambarkan sebagai berikut:

=

Dengan:

ρ b

= bulk density

m b

= massa total benda

v

b

= volum total benda

(3)

3. Crystalline density Crystalline density adalah besaran yang menghubungkan antara dry particle density (ρ p ) dengan porositas internal dari partikel. Nilai dari crystalline density biasanya diberikan dalam tabel-tabel properti untuk senyawa-senyawa kimia murni.Dirumuskan:

ρ c (1-x) = ρ p

(4)

Dengan:

ρ

c

= crystaliline density

ρ

p

= dry particle density

x

= porositas internal dari partikel

Wet density adalah suatu besaran dari suatu individual partikel yang dirumuskan

dengan:

ρw = ρc ρp.x

(5)

Dengan:

ρw

= Wet density

ρ c

= crystaliline density

x

= porositas internal dari partikel

5. Dry particle density Dry particle density adalah perbandingan antara massa per partikel dengan volum per partikel, tinjauan rapat massa per partikel lebih kecil dari bulk density karena tidak mengandung pengotor.

( ) =

(6)

Untuk dry particle density, volumnya dihitung berdasarkan tinjauan murni partikel itu

sendiri, tanpa memperhitungkan pori-pori dalam zat yang diukur rapat massanya.

Rumus umum density adalah:

=

Dimana,

ρ

= rapat massa (gram/ml)

m

= massa total benda (gram)

v

= volum total benda (ml)

(1)

Faktor-faktor yang mempengaruhi rapat massa adalah:

1. Konsentrasi larutan Semakin tinggi konsentrasi, jumlah zat terlarut pada volum yang tetap semakin besar sehingga partikel-partikel penyusun zat tersebut akan semakin rapat (rapat massa meningkat). Secara matematis, hubungan konsentrasi larutan dan rapat massa digambarkan dengan persamaan:

=

M = n. Mr

Persamaan (7) disubstitusikan ke persamaan (1) sehingga persmaan menjadi:

(7)

.

=

= Sehingga, ρ = c . Mr

(8)

(9)

(10)

2. Suhu dan tekanan Untuk cairan, rapat massa hanya sedikit berubah bila terjadi perubahan suhu atau

tekanan karena sifat cairan yang incompressible. Sedangkan untuk gas, rapat massa sangat dipengaruhi oleh suhu dan tekanan. Pengaruh suhu terhadap volum suatu zat :

Dengan,

Vt

= Volum pada suhu tertentu

Vo

= Volum awal

T

= Temperatur (suhu)

a,b,c= konstanta Kenaikan suhu larutan dipengaruhi oleh tekanan. Jika tekanan bertambah, maka suhu juga naik. Kenaikan suhu menyebabkan gaya tarik-menarik antar molekul menjadi lemah karena molekul saling menegang dan bergerak lebih bebas, serta volumnya menjadi lebih besar karena terjadi pemuaian. Volum larutan yang lebih besar menyebabkan massa zat terlarut per satuan volum menjadi lebih kecil dari keadaan semula, sehingga rapat massa larutan menjadi lebih kecil.

3. Fasa dari zat yang diukur rapat massanya Semakin rapat letak molekul penyusun zat, maka densitas akan semakin besar. Pada suhu dan konsentrasi yang sama, urutan rapat massanya sebagai berikut:

ρ padatan > ρ cairan > ρ gas

Hal tersebut dikarenakan,

Jarak molekul padatan<molekul cairan<molekul gas.

Kelebihan pengukuran rapat massa dengan piknometer:

1. Hanya memerlukan volum larutan yang sedikit.

2. Meminimalisir pengaruh perubahan suhu terhadap hasil pengukuran karena sistem tertutup dalam piknometer.

Kekurangan pengukuran rapat massa dengan piknometer:

1. Memiliki ketergantunga n terhadap alat lain dalam mengukur rapat massa, seperti neraca analitis digital.

2. Tidak dapat dipakai untuk mengukur larutan dengan suhu tinggi dan tidak dapat untuk semua jenis fluida cair.

3. Resiko tinggi karena terbuat dari kaca sehingga mudah pecah.

Kelebihan pengukuran rapat massa dengan hidrometer:

1. Dapat digunakan untuk larutan bersuhu tinggi.

2. Praktis, nilai rapat massa dapat langsung dibaca pada skala.

3. Memiliki banyak variasi skala yang berbeda.

4. Dapat digunakan untuk berbagai jenis fluida cair.

5. Waktu percobaan sangat singkat.

Kekurangan pengukuran rapat massa dengan hidrometer:

1. Hasil pengukuran dipengaruhi oleh perubahan suhu.

2. Resiko kerusakan alat lebih besar, mudah pecah.

3. Tidak dapat digunakan untuk zat yang volatil.

4. Membutuhkan cairan yang cukup banyak untuk pengukuran rapat massa.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan alat ukur rapat massa, yaitu:

2.

Jumlah zat yang diukur Jika jumlahnya banyak, bisa menggunakan hidrometer. Tetapi jika jumlahnya terbatas lebih baik menggunakan piknometer.

3. Wujud zat Untuk cairan, bisa menggunakan hidrometer atau piknometer. Untuk padatan, digunakan metode Archimedes. Padatan tersebut dicelupkan dalam suatu wadah yang berisi cairan setelah sebelumnya ditimbang terlebi dahulu. Perubahan dalam wadah menunjukkan volum benda, sehingga rapat massa padatan tersebut dapat dihitung.

4. Suhu zat yang diukur Untuk suhu tinggi dipilih hidrometer karena suhu tinggi akan mengakibatkan neraca analitis digital rusak bila alat yang digunakan adalah piknometer.

5. Waktu Jika diinginkan waktu pengukuran yang relatif cepat, sebaiknya menggunakan hidrometer.

6. Tingkat ketelitian yang diinginkan Jika diinginkan tingkat ketelitian yang tinggi, gunakan piknometer.

Contoh alat ukur rapat massa lainnya:

1.

Baume meter Alat ini biasanya digunakan untuk mengukur rapat masssa fluida dalam industri. Pada dasarnya prinsip kerja Baume meter sama dengan prinsip kerja hidrometer, yakni berdasarkan hukum Archimedes. “volum baume meter yang tercelup pada cairan sama dengan volum cairan yang dipindahkan Baume meter”.

2.

Refractometer Dihunakan untuk mengukur penghancuran dan banyaknya agitasi dalam operasi dimana padatan-padatan ditambahkan ke dalam cairan. Dalam kondisi ini proses selanjutnya tidak dapat berjalan terus sampai padatan-padatan terpisahkan dengan lengkap dan tercampur homogen. Contoh: persiapan larutan untuk diinjeksikan dalam poultry.

3.

Displacement float Menggunakan float yang akan mencapai keseimbangan dalam cairan sehingga tingginya dapat diukur sebagai densitas. Prinsip yaang digunakan hampir sama dengan hidrometer yaitu perubahan posisi dalam keseimbangan.

Rapat massa cairan dan gas adalah suatu parameter penting untuk penelitian dan industri setiap hari. Pengukuran rapat massa digunakan untuk berbagai masalah, antara lain:

1. Quality control dalam produksi industri.

2. Penentuan konsentrasi asam, zat terlarut, serta larutan organik dan anorganik lainnya.

3. Penentuan konsentrasi dalam industri makanan dan minuman. Contoh: pengukuran konsentrasi gula atau alkohol

4. Mempertahankan daya kritis dan area kontrol sebagai persediaan energi atau daya darurat untuk rumah sakit dan PLTN.

III. METODOLOGI PERCOBAAN

1. Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah:

a. Termometer alkohol 110 o C

1 buah

b. Piknometer + tutup

1 set

c. Hidrometer 0,900 1,000 gram/ml

1 buah

d. Hidrometer 1,000 1,200 gram/ml

1 buah

e. Gelas beker 600 ml

3 buah

f. Gelas beker 250 ml

3 buah

g. Gelas ukur 250 ml

2 buah

h. Corong gelas

3 buah

i. Sendok

1 buah

j. Triple beam balance

1 set

k. Neraca analitis digital

1 set

l. Gelas arloji

1 buah

m. Statif + klem

1 set

n. Labu ukur 500 ml + tutup

1 set

o. Pipet tetes

1 buah

p. Baskom plastik

1 buah

q. Kompor listrik

1 set

r. Gelas pengaduk

3 buah

2. Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini:

a. Air ledeng

b. Es batu

c. Aquadest

d. Garam dapur

e. Larutan sampel

3. Rangkaian alat percobaan

3. Rangkaian alat percobaan Gambar 1. Rangkaian alat pendinginan Keterangan : 1. Statif 2. Gelas beker

Gambar 1. Rangkaian alat pendinginan

alat percobaan Gambar 1. Rangkaian alat pendinginan Keterangan : 1. Statif 2. Gelas beker 600 ml

Keterangan :

1. Statif

2. Gelas beker 600 ml

3. Termometer alkohol 110 o C

4. Klem

5. Es batu

6. Baskom

Keterangan:

1. Tombol recall

2. Tombol konversi

3. display

4. piknometer 25 ml + tutup

5. Pintu dorong

6. Tombol on/off

7. Pan

8. Steker

9. Tombol pembuat nol

Gambar 2. Rangkaian alat pengukuran rapat massa dengan piknometer

2. Rangkaian alat pengukuran rapat massa dengan piknometer Keterangan : 1. Kertas 2. Garam 3. Triple

Keterangan :

1. Kertas

2. Garam

3. Triple beam balance

4. Pan

5. Skala ratusan gram

6. Skala puluhan gram

7. Skala satuan gram

8. Jarum penunjuk angka nol

Gambar 3. Rangkaian alat penimbangan garam dengan triple beam balance

Keterangan : 1. Hidrometer 2. Gelas ukur 250 ml 3. Larutan yang diukur Gambar 4.

Keterangan:

1. Hidrometer

2. Gelas ukur 250 ml

3. Larutan yang diukur

Gambar 4. Rangkaian alat pengukuran rapat massa dengan hidrometer

4. Rangkaian alat pengukuran rapat massa dengan hidrometer Keterangan : 1. Klem 2. Statif 3. Termometer

Keterangan :

1. Klem

2. Statif

3. Termometer alkohol 110 o C

4. Gelas beker 600 ml

5. Larutan garam yang dipanaskan

6. Knop pengatur daya pemanas

7. Asbes

8. Kompor listrik

9. Steker

Gambar 5. Rangkaian alat pemanasan larutan garam

4. Cara Kerja

a. Pengukuran Rapat Massa Aquadest, Air Ledeng, dan Larutan Sampel pada Suhu 20 °C dengan Hidrometer dan Piknometer

Menimbang piknometer 25 mL kosong + tutup dengan neraca analitis digital dan mencatat hasilnya.

tutup dengan neraca analitis digital dan mencatat hasilnya. Memasukkan aquadest 300 mL ke dalam gelas beker

Memasukkan aquadest 300 mL ke dalam gelas beker 600 mL dan mendinginkannya hingga suhu 20 °C dengan cara memasukkannya ke dalam baskom berisi air dingin dan es batu.

memasukkannya ke dalam baskom berisi air dingin dan es batu. Mengisi piknometer dengan sebagian aquadest yang

Mengisi piknometer dengan sebagian aquadestyang sudah didinginkan hingga penuh, tutup hingga tidak ada udara di dalam, kemudian menimbang piknometer tersebut dengan neraca analitis digital serta mencatat hasilnya.

tidak ada udara di dalam, kemudian menimbang piknometer tersebut dengan neraca analitis digital serta mencatat hasilnya.

Menuangkan sisa aquadest di dalam gelas beker 600 mL ke dalam gelas ukur 250 mL hingga hampir penuh dan mengukur densitasnya dengan memasukkan hidrometer skala 0,900-1,000 g/mL secara perlahan-lahan.

hidrometer skala 0,900-1,000 g/mL secara perlahan-lahan. Membaca serta mencatat rapat massa aquadest dengan

Membaca serta mencatat rapat massa aquadest dengan ketelitian satu desimal lebihnya dari yang bisa dibaca pada hidrometer.

satu desimal lebihnya dari yang bisa dibaca pada hidrometer. Mengulangi percobaan di atas mulai dari langkah

Mengulangi percobaan di atas mulai dari langkah 2 sampai 5 untuk air ledeng dan larutan sampel. Untuk larutan sampel menggunakan hidrometer skala 1,000- 1,200 g/mL, sedangkan air ledeng menggunakan hidrometer skala 0,900-1,000 g/mL.

b. Pengukuran Rapat Massa Larutan Garam pada Suhu 20 °C dengan Hidrometer dan Piknometer

Menimbang garam sebanyak 20 gram dengan triple beam balance menggunakan kertas sebagai alas.

triple beam balance menggunakan kertas sebagai alas. Membuat larutan garam dengan cara melarutkan garam dalam 300

Membuat larutan garam dengan cara melarutkan garam dalam 300 mL air ledeng di dalam gelas beker 600 mL dan mengaduknya hingga homogen.

di dalam gelas beker 600 mL dan mengaduknya hingga homogen. Memasukkan larutan tersebut ke dalam labu

Memasukkan larutan tersebut ke dalam labu ukur 500 mL dengan bantuan corong gelas dan menambahkan air ledeng hingga batas tertentu dan menggojognya hingga homogen.

ukur 500 mL dengan bantuan corong gelas dan menambahkan air ledeng hingga batas tertentu dan menggojognya

Menuangkan larutan tersebut ke dalam gelas beker.

Menuangkan larutan tersebut ke dalam gelas beker. Mendinginkan larutan garam tersebut hingga suhu 20 °C dengan

Mendinginkan larutan garam tersebut hingga suhu 20 °C dengan cara memasukkan gelas beker ke dalam baskom berisi air dingin dan es batu.

gelas beker ke dalam baskom berisi air dingin dan es batu. Mengisi piknometer dengan larutan garam

Mengisi piknometer dengan larutan garam hingga penuh, tutup hingga tidak ada udara di dalamnya dan mengelap dinding luarnya dengan serbet hingga kering kemudian menimbangnya dengan neraca analitis digital dan mencatat hasilnya.

dengan neraca analitis digital dan mencatat hasilnya. Menuang sisa larutan garam di dalam gelas beker ke

Menuang sisa larutan garam di dalam gelas beker ke dalam gelas ukur 250 mL hingga hampir penuh dan mengukur densitasnya dengan memasukkan hidrometer 1,000-1,200 g/mL secara perlahan-lahan.

hidrometer 1,000-1,200 g/mL secara perlahan-lahan. Membaca serta mencatat rapat massa larutan dengan ketelitian

Membaca serta mencatat rapat massa larutan dengan ketelitian satu desimal lebihnya dari yang bisa dibaca pada hidrometer.

satu desimal lebihnya dari yang bisa dibaca pada hidrometer. Mengulangi percobaan di atas mulai dari langkah

Mengulangi percobaan di atas mulai dari langkah 1 sampai 7 untuk larutan garam 40 g/500 mL dan 60 g/500 mL.

c.

Pengukuran Rapat Massa Larutan Garam dengan Berbagai Suhu dan Konsentrasi dengan Menggunakan Hidrometer

Menimbang garam sebanyak 20 gram dengan triple beam balance menggunakan kertas sebagai alas.

triple beam balance menggunakan kertas sebagai alas. Membuat larutan garam dengan cara melarutkan garam dalam 300

Membuat larutan garam dengan cara melarutkan garam dalam 300 mL air ledeng di dalam gelas beker 600 mL dan mengaduknya hingga homogen.

di dalam gelas beker 600 mL dan mengaduknya hingga homogen. Memasukkan larutan tersebut ke dalam labu

Memasukkan larutan tersebut ke dalam labu ukur 500 mL dengan bantuan corong gelas dan menambahkan air ledeng hingga batas tertentu dan menggojognya hingga homogen.

ukur 500 mL dengan bantuan corong gelas dan menambahkan air ledeng hingga batas tertentu dan menggojognya

Menuangkan larutan tersebut ke dalam gelas beker.

Menuangkan larutan tersebut ke dalam gelas beker. Memanaskan larutan garam di dalam gelas beker 600 mL

Memanaskan larutan garam di dalam gelas beker 600 mL di atas kompor listrik hingga suhu 30°C.

gelas beker 600 mL di atas kompor listrik hingga suhu 30°C. Menuangkan larutan garam ke dalam

Menuangkan larutan garam ke dalam gelas ukur 250 ml hingga hampir penuh dan mengukur densitasnya dengan memasukkan hidrometer 1,000-1,200 g/ml secara perlahan-lahan.

hidrometer 1,000-1,200 g/ml secara perlahan-lahan. Membaca serta mencatat rapat massa larutan garam dengan

Membaca serta mencatat rapat massa larutan garam dengan ketelitian satu desimal lebihnya dari yang bisa dibaca oleh hidrometer.

satu desimal lebihnya dari yang bisa dibaca oleh hidrometer. Mengulangi percobaan mulai langkah1 sampai 7untuk suhu

Mengulangi percobaan mulai langkah1 sampai 7untuk suhu 40 °C, 50 °C, 60 °C, dan 70 °C.

d. Analisis data

1. Pengukuran rapat massa.

ρ =

Massa aquadest = (massa piknometer + aquadest) - (massa piknometer)

2. Pembuatan kurva standar rapat massa larutan garam dengan piknometer. Hubungan antara konsentrasi larutan garam dengan rapat massa tiap dapat didekati dengan persamaan:

dimana:

a, b

y = ax + b

x = Konsentrasi larutan garam (g/ml) y = Rapat massa (g/ml) = Tetapan/konstanta

larutan

Nilai a dan b diperoleh dengan metode least square diperoleh persamaan yang menghubungkan antara rapat massa larutan garam dengan konsentrasi larutan garam sehingga didapat persamaan:

= . ∑ − ∑ . ∑ . ∑ 2 − (∑ ) 2

dimana:

= ∑ − ∑

 

x

= Konsentrasi larutan garam (g/ml)

y

= Rapat massa (g/ml)

a, b

n

= Jumlah data = Tetapan

Konsentrasi larutan sampel dapat ditentukan dengan persamaan berikut:

dimana:

a, b

x

y

=

= Konsentrasi larutan garam (g/ml)

= Rapat massa (g/ml) = Tetapan

Perhitungan kesalahan relatif:

kesalahan relatif = | | 100%

kesalahan relatif rata-rata =

3. Pembuatan kurva standar rapat massa larutan garam dengan hidrometer. Hubungan antara konsentrasi larutan garam dengan rapat massa tiap dapat didekati dengan persamaan:

dimana:

y = ax + b

 

x

= Konsentrasi larutan garam (g/ml)

a, b

y

= Rapat massa (g/ml) = Tetapan

larutan

Nilai a dan b diperoleh dengan metode least square diperoleh persamaan yang menghubungkan antara rapat massa larutan garam dengan konsentrasi larutan garam sehingga didapat persamaan:

= . ∑ − ∑ . ∑ . ∑ 2 − (∑ ) 2

dimana:

= ∑ − ∑

 

x

= Konsentrasi larutan garam (g/ml)

y

= Rapat massa (g/ml)

a, b

n

= Jumlah data = Tetapan

Konsentrasi larutan sampel dapat ditentukan dengan persamaan berikut:

4.

dimana:

a, b

x

y

=

= Konsentrasi larutan garam (g/ml)

= Rapat massa (g/ml) = Tetapan

Perhitungan kesalahan relatif:

kesalahan relatif = | | 100%

kesalahan relatif rata-rata =

Pembentukan grafik hubungan antara rapat massa larutan dengan suhu untuk larutan garamdengan berbagai konsentrasi.

dimana:

y = ax + b

 

x

= Konsentrasi larutan garam (g/ml)

a, b

y

= Rapat massa (g/ml) = Tetapan

Nilai a dan b diperoleh dengan metode least square diperoleh persamaan yang menghubungkan antara rapat massa larutan garam dengan konsentrasi larutan garam sehingga didapat persamaan:

= . ∑ − ∑ . ∑ . ∑ 2 − (∑ ) 2

dimana:

= ∑ − ∑

x

= Konsentrasi larutan garam (g/ml)

y

= Rapat massa (g/ml)

n

= Jumlah data

a, b

= Tetapan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Percobaaan pengukuran rapat massa dengan berbagai cara dilakukan dengan mengukur rapat massa pada suhu tetap(kamar) dengan konsentrasi yang berbeda-beda dengan menggunakan piknometer dan hidrometer. Hasil percobaan menunjukkan bahwa rapat massa akan naik dengan naiknya konsentrasi. Hal tersebut disebabkan disebabkan semakin besarnya massa zat terlarut dalam larutan. Selain mencari hubungan rapat massa dan konsentrasi larutan, percobaan ini jjuga mencoba mencari hubungan rapat massa dengan suhu.

a. Penentuan rapat massa dengan piknometer

Pada percobaan ini menggunakan zat cair yang akan diukur dengan menggunakan piknometer dan diukur kedalam neraca analitis digital.

Kesalahan relatif yang terjadi dapat disebabkan oleh:

1. Tekanan udara tidak tepat 1 atm.

2. Adanya zat-zat pengotor dalam piknometer sehingga massa cairan yang diperoleh kurang akurat.

3. Larutan tidak homogen (distribusi garam tidakmerata), maka densitas pada setiap tempat dalam larutan tidak sama.

4. Melakukan penggojogan larutan garam agar larutannya homogen.

Beberapa langkah yang dilakukan untuk mengurangi kesalahan relatif, antara lain:

1. Mencuci dan mengeringkan piknometer setiap kali akan digunakan.

2. Membersihkan sisa-sisa larutan di dinding piknometer.

3. Melakukan perccobaan secara tepat sebelum suhu berubah.

4. Melakukan penggojogan larutan garam agar larutannya homogen.

Asumsi-asumsi

yang digunakan dalam percobaan pengukuran rapat massa dengan

piknometer:

1.

Piknometer dianggap benar-benar bersih, tanpa zat pengotor.

2.

Suhu saat pengukuran dianggap konstan.

3.

Tekanan udara dianggap tepat 1 atm.

4.

Larutan yang diukur rapat massanya dianggap homogen.

b.

Penentuan rapat massa dengan hidrometer

Pada percobaan ini menggunakan zat cair yang akan diukur dengan menggunakan hidrometer yang dimasukkan kedalam gelas ukur dan dilihat angkanya pada hidrometer tersebut.

Kesalahan relatif yang terjadi dapat disebabkan oleh:

1. Kesalahan pembacaan pada skala hidrometer.

2. Suhu tidak tetap.

4.

Larutannya tidak homogen.

Asumsi-asumsi

yang

digunakan

dalam

percobaan

pengukuran

rapat

massa

dengan

piknometer:

1. Tidak ada kesalahan pembacaan pada hidrometer.

2. Suhu saat pengukuran dianggap konstan.

3. Tekanan udara dianggap tepat 1 atm.

4. Massa garam dan volum pelarut tepat.

5. Suhu dianggap konstan.

Metodde perhitungan yang digunakan dalam percobaan ini adalah metode liniarisasi karena:

1. Dapat meminimalkan kesalahan relatif yang terjadi dalam percobaan.

2. Dapat mempermudahperhitungan karena dengan metode linearisasi dapat dilakukan interpolasi sehingga konsentrasi suatu fluida yang sudah ditentukan rapat massa yang dapat dihitung dengan mudah.

V. KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah sebagai berikut:

1. Besarnya rapat massa berbanding lurus dengan konsentrasi, berbanding terbalik dengan temperatur.

2. Pengukuran rapat massa dapat dilakukan dengan metode langsung (menggunakan hidrometer) atau metode tak langsung (menggunakan piknometer).

3. Dilihat dari kesalahan relatif rata-ratanya, pengukuran rapat massa menggunakan piknometer lebih teliti daripada pengukuran menggunakan hidrometer.

PENERAAN ALAT UKUR LAJU ALIR ZAT ALIR CAIRAN DAN GAS

I. TUJUAN PERCOBAAN

Percobaan ini bertujuan untuk membuat kurva baku hubungan antara tinggi pelampung dalam rotameter dengan lajualir air dan kurva hubungan antara tinggi pelampung dalam rotameter dengan laju alir udara.

II. DASAR TEORI

Aliran fluida digunakan untuk mengetahui volume fluida yang mengalir tiap satuan waktu.Pengukuran laju alir fluida dengan rotameter yaitu rotameter dapat distel sesuai ketinggian float yang diinginkan sehingga diperoleh debit fluida yaitu air yang keluar dari selang. Ketika gas atau cairan memasuki rotameter, alirannya akan bertabrakan dengan float sehingga timbul gaya gesek antara fluida dan float, yang menyebabkan float naik ke atas karena gaya ke atas fluida lebih besar daripada gaya gesek dan gaya berat float ke bawah. Ketika gaya ke atas fluida sama dengan gaya gesek dan gaya berat float yang ke bawah, maka float tidak bergerak lagi dan dalam keadaan setimbang.

Komponen dalam rotameter adalah sebagai berikut. Rotameter terdiri dari tabung yang dilengkapi dengan skala. Dibagian dalam tabung terdapat float yang dapat bergerak naik turun akibat aliran fluida dan menunjukkan skala ketinggian tertentu. Untuk rotameter fluida gas, bentuk floatnya kerucut. Sedangkan untuk rotameter fluida cair, bentuknya bola.

Salah satu bentuk kelompok bilangan tak berdimensi yang identi dengan aliran suatu fluida adalah bilangn Reynold yang dirumuskan dengan:

Dimana

= massa jenis fluida = kecepatan aliran fluida = viskositas fluida d = diameter dalam pipa

=

. .

Jenis-jenis aliran fluida berdasarkan bilangan Reynolds adalah :

1. Aliran laminer dengan < 2000

2. Aliran kritis dengan 2000 < < 4000

3. Aliran transisi dengan 4000 < < 10.000

4. Aliran turbulen dengan > 10.000

Terdapat hubungan antara nilai dengan nilai konstanta friksi, yaitu :

1. Untuk aliran laminer dengan < 2100, nilai faktor friksi

=

64

2. Untuk aliran turbulen dengan > 10.000 , nilai faktor friksi

= 0,0056 + 0,5

3. () = (+). 2

2 .

4. Reynold’s number berpengaruh pada perhitungan faktor friksi

Jenis alat lajju alir fluida dalam industri:

1. Displacement flowmeter Prinsip kerjanya adalah fluida yang lewat ditakar dalam bagian-bagian volume tertentu. Dengan mengamati jumlah takaran per satuan waktu dapat dicari debitnya. Contoh: wet testmeter, diaphgram meter, ascilating-piston meter, dan multiple piston meter.

2. Current flowmeter Prinsip kerjanya adalah kecepatan aliran diukur berdasarkan kecepatan putaran masing- masing yang akan diletakkan dalam aliran fluida. Contoh: propeller meter, cup meter, hot-ware onemeter

3. Tabung Pitot Prinsip kerjanya adalah kecepatan aliran diukur berdasarkan beda tekanan pada manometer (beda tekanan/pressure head disebabkan oleh velocity head)

4. Venturimeter Prinsip kerjanya hampir sama seperti tabung pitot

5. Orifice Prinsip kerjanya sama seperti venturimeter

6. Areameter Prinsip kerjanya sama dengan rotameter yaitu mengukur jmlah aliran per satuan waktu. Contoh: rotameter, piston, dan sleeve meters.

Peneraan rotameter gas

Pengukuran laju alir gas dilakukan secara tidak langsung. Gas mempunyai sifat kompresibel. Molekul-molekul udara sangat berjauhan satu sama yang lain sehingga gaya tarik menarik ataupun tolak-menolaknya sangat kecil. Sifat tersebut menyebabkan udara mengisi ruang yang ditempatinya. Volum udara akan berubah-ubah sesuai dengan tekanan. Perubahan volum tersebut akan menyebabkan kesulitan ddalam pengukuran debit udara. Untuk itu, pengukuran debit udara dilakukan dengan mengukur debit air yang didesak udara tersebut.

Prinsip kerja dari rotameter adalahkeseimbangan gaya yang diterima oleh float gaya tersebut digambarkan sebagai berikut.

oleh float gaya tersebut digambarkan sebagai berikut. Keterangan : F = gaya akibat beda tekanan f

Keterangan:

F

= gaya akibat beda tekanan

f

= gaya gesek oleh fluida

G

= gaya berat float

Persamaan

F = f + G

Gambar1. Gaya-gaya yang bekerja pada float

Pada keadaan setimbang, di mana besar gaya akibat beda tekanan dan gaya gesek oleh fluida sama dengan gaya berat fluida, posisi float adalah konstan. Menurut persamaan Bernouli:

1 + ℎ 1 +

1

2

1 2 = 2 +

2 +

1

2

2 2

Dengan :

v 1

= kecepatan aliran fluida dalam galon, cm/s

v 2

= kecepatan aliran fluida pada ujung selang, cm/s

h 1

= tinggi permukaan dalam galon air, cm

h 2

= tinggi ujung selang keluar, cm

P

1

= tekanan udara sistem, dyne/cm 2

P

2

= tekanan udara luar = 1,01.10 5 dyne/cm 2

= rapat massa fluida, gram/cm 3

g

= percepatan gravitasi bumi, cm/s 2

Pada percobaan ini, kecepatan fluida dalam galon (v1) dianggap nol sehingga persamaan menjadi :

1

2

1

1 + ℎ 1 +

2 2 =

1 2 = 2 +

2 +

2

2[ℎ(ℎ 2 − ℎ 1 ) + ( 1 2 )]

2 2

Dari persamaa diatas, dapat silihat pengaruh perbedaan tinggi antara ujung selnag tempat air keluar (h 2 ) dengan tinggi air dalam botol (h 1 ) terhadap debit air. Bila h 2 lebih rendah dari h 1 , maka debit menjadi besar karena tekanan hidrostatis dalam galon air lebih besar daripada tekanan hidrostatis air pada ujung keluar selang keluar. Bila h 2 lebih tinggi dari h 1 , maka debit menjadi kecil karena gaya tekanan udara untuk mendesak air keluar berkurang. Oleh karena itu, pada saat pengukuran diusahakan agar tinggi ujung selang tempat air keluar harus sejajar dengan tinggi air dalam botol, agar tekanan air keluar (2 ) sama dengan tekanan air dalam botol (1 ).

Asumsi-asumsi yang digunakan dalam peneraan rotameter fluida gas antara lain:

a. Tidak ada kebocoran pada alat.

b. Tekanan udara luar konstan.

c. Gaya gesek yang dialami fluida pada selang diabaikan.

d. Ketinggian atau kedudukan float dianggap stabil.

e. Kecepatan alir fluida saat ketinggian float(h) tertentu selalu konstan.

f. Tinggi selang discharge selalu sejajar dengan tinggi air dalam galon air.

g. Volume gas yang mengalir masuk ke galon air sama dengan volum air yang tertampung

dalam gelas ukur.

Peneraan rotameter cairan

Peneraan rotameter untuk zat alir cairan dilakukan dengan mengukur langsung debit air yang keluar dari bak air akibat tekanan (gaya dorong) dari fluida cair. Overflow pada percobaan ini bertujuan untuk menjaga ketinggian air dalam bak penampung air agar konstan

sehingga tekanan air pada permukaan dan kecepatan aliran konstan. Overflow secara matematis ditunjukkan dengan persamaan Bernouli:

1

+

1 + 1

2 − − = + 2 + 2

2

2

2

2

Gauge Pressure : P 1 = P 2 = 0 Kecepatan air di tangki : v 1 = 0 F dan W tidak ada sehingga:

1 = 2 + 2 2 2 2 = 2( 1 2 ) Dari persamaan diatas terlihat bahwa kecepatan hanya dipengaruhi oleh Z 1 dan Z 2 .

Dalam pengukuran dengan rotameter, aliran fluida yang diukur adalah aliran yang konstan. Pada fluida cair yang diasumsikan dengan adanya overflow yang akan menjaga cairan dalam bak sehingga kekekalan energi mekanik akan tetap dan aliran yang keluar juga konstan. Dengan overflow, maka diharapkan ketinggian pada bak air tetap, sehingga tekanan hidrostatisnya konstan.

Asumsi-asumsi yang digunakan dalam rotameter fluida cair:

2

1. Posisi selang dianggap lurus.

2. Gaya gesek antara fluida cair dengan dinding selang ataupun rotameter dapat diabaikan.

3. Tidak ada kebocoran air.

4. Kecepatan aliran air tetap.

5. Ketinggian float tetap.

6. Ketinggian air dalam bak air tetap (karena overflow) sehingga tekanan hidrostatisnya

tetap.

III. METODOLOGI PERCOBAAN

5. Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah:

s.

Termometer alkohol 110 o C

1 buah

t.

Gelas beker 250 ml

1 buah

u.

Gelaas ukur 100 ml

1 buah

v.

Gelas ukur 50 ml

1 buah

w.

Stopwatch Rangkaian alat ukur laju air zat alir gas

1 buah

x.

Kompresor

1 set

y.

Rotameter gas

1 set

z.

Botol penampung air

1 buah

aa.

Selang plastik

secukupnya

bb.

Keran

secukupnya

cc.

Tabung gas Rangkaian alat ukur laju alir zat alir cairan

1 set

dd.

Pipa PVC

secukupnya

ee.

Rotameter cairan

1 set

ff.

Selang plastik

secukupnya

gg.

Kran

secukupnya

hh. Bak penampung air

1 buah

6. Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini:

f. Air ledeng

g. Udara

7. Rangkaian alat percobaan

ini: f. Air ledeng g. Udara 7. Rangkaian alat percobaan Gambar 2. Rangkaian alat sling hygrometer

Gambar 2. Rangkaian alat sling hygrometer

Keterangan :

7. Kran sumber air

8. Bak overflow

9. Pipa overflow

10. Air ledeng

11. Kran pengatur debit aliran

12. Float

13. Rotameter fluida cair

14. Gelas ukur 100 ml

15. Stopwatch

16. Knop pengatur tinggi float

Keterangan : 10. Air ledeng 11. Galon penampung air 12. float 13. rotameter fluida gas

Keterangan:

10. Air ledeng

11. Galon penampung air

12. float

13. rotameter fluida gas

14. Selang

15. Stopwatch

16. Gelas ukur 50 ml

17. Knop pengatur tinggi float

18. Knop pengeluaran udara

19. Tabung gas

20. Skala penunjuk tekanan

21. Kompresor

22. Steker

23. Kran pembuangan udara

24. Kran pengalir udara

Gambar 3. Rangkaian alat pengukuran suhu laju alir fluida gas

8. Cara Kerja

1. Peneraan alat ukur laju alir zat alir cairan

Menyiapkan air ledeng dalam gelas beker 250 ml.

alir cairan Menyiapkan air ledeng dalam gelas beker 250 ml. Mengukur suhu air ledeng dengan termometer

Mengukur suhu air ledeng dengan termometer alkohol 110 o C.

suhu air ledeng dengan termometer alkohol 110 o C. Membuka kran pemasukan untuk mengisi bak penampungan

Membuka kran pemasukan untuk mengisi bak penampungan air hingga penuh dan terjadi aliranoverflow dan dijaga hingga overflow selama percobaan.

overflow dan dijaga hingga overflow selama percobaan. Mengalirkan aliran ke dalam rotameter. Mengatur ketinggian

Mengalirkan aliran ke dalam rotameter.

selama percobaan. Mengalirkan aliran ke dalam rotameter. Mengatur ketinggian float pada ketinggian 6 cm. Mengukur

Mengatur ketinggian float pada ketinggian 6 cm.

rotameter. Mengatur ketinggian float pada ketinggian 6 cm. Mengukur debit cairan yang mengalir pada rotameter pada

Mengukur debit cairan yang mengalir pada rotameter pada waktu ± 3 detik dengan stopwatch dan gelas ukur 100 ml dan mencatat hasilnya.

cairan yang mengalir pada rotameter pada waktu ± 3 detik dengan stopwatch dan gelas ukur 100

Melakukan pengambilan data 5 kali berurutan untuk ketinggian float yang sama.

data 5 kali berurutan untuk ketinggian float yang sama. Mengukur debit untuk ketinggian float 6.5, 6,

Mengukur debit untuk ketinggian float 6.5, 6, 5.5, 5, 4.5, 4, 3.5, 3, 2.5, dan

2

2. Peneraan alat ukur laju alir zat alir gas

Mengukur suhu udara dengan mencatat suhu pada termometer ruang.

suhu udara dengan mencatat suhu pada termometer ruang. Menyiapkan dan merangkaian alat percobaan. Menutup seluruh

Menyiapkan dan merangkaian alat percobaan.

termometer ruang. Menyiapkan dan merangkaian alat percobaan. Menutup seluruh kran yang ada pada rangkaian alat dan

Menutup seluruh kran yang ada pada rangkaian alat dan memastikan kran tertutup.

yang ada pada rangkaian alat dan memastikan kran tertutup. Membuka kran pengarah aliran gas, lalu mengisi

Membuka kran pengarah aliran gas, lalu mengisi botol penampung air dengan memasangkan selang pengeluaran akhir dengan tinggi cairan pada botol penampung agar sejajar.

dengan tinggi cairan pada botol penampung agar sejajar. Mengisi kompresor dengan udara hingga mencapai tekanan 5

Mengisi kompresor dengan udara hingga mencapai tekanan 5 kg/cm 2

kompresor dengan udara hingga mencapai tekanan 5 kg/cm 2 Membuka kran penghubung tabung gas dan kompresor,

Membuka kran penghubung tabung gas dan kompresor, mengisi tabung gasb pengaman lalu mencatat nilai yang terlihat pada penunjuk tekanan kompresor sebagai tekanan awal.

mengisi tabung gasb pengaman lalu mencatat nilai yang terlihat pada penunjuk tekanan kompresor sebagai tekanan awal.

Membuka kran penghubung tabung gas dan rotameter.

Membuka kran penghubung tabung gas dan rotameter. Mengatur ketinggian float rotameter 19 cm dan menjaganya agar

Mengatur ketinggian float rotameter 19 cm dan menjaganya agar tetap konstan.

float rotameter 19 cm dan menjaganya agar tetap konstan. Mengukur debit aliran yang keluar pada selang

Mengukur debit aliran yang keluar pada selang waktu ± 3 detik dengan bantuan stopwatch dan gelas ukur 50 ml.

± 3 detik dengan bantuan stopwatch dan gelas ukur 50 ml. Mencatat volume air yang tertampung.

Mencatat volume air yang tertampung.

dan gelas ukur 50 ml. Mencatat volume air yang tertampung. Melakukan pengambilan data 5 kali untuk

Melakukan pengambilan data 5 kali untuk ketinggian float yang sama.

pengambilan data 5 kali untuk ketinggian float yang sama. Mengukur debit untuk ketinggian float yang lain.

Mengukur debit untuk ketinggian float yang lain.

sama. Mengukur debit untuk ketinggian float yang lain. Mencatat tekanan akhir kompresor, membuka kran pembuangan di

Mencatat tekanan akhir kompresor, membuka kran pembuangan di kompresor dan mengosongkan kompresor.

kran pembuangan di kompresor dan mengosongkan kompresor. Mengukur debit untuk tinggi float 18, 16.5, 13.5, 12,

Mengukur debit untuk tinggi float 18, 16.5, 13.5, 12, 10.5, 9, 7.5, 4.5, dan

6.

9. Analisis data

Pengukuran laju alir zat cair dan gas

1. Menghitung debit rata-rata tiap ketinggian float (h)

=

Dimana:

Q

= debit air,cm 3 /s

V

= volume air,cm 3

t

= waktu,s

− = 1 + 2 + 3 + 4 + 5

5

2. Menentukan hubungan debit fluida gas dengan ketinggian float dengan metode logaritmik. Rumus umum : Q = a h b Dengan linearitas diperoleh:

ln Q = ln a + b ln h Dengan pemisalan diperoleh:

y = C + Bx

Penyelesaian dilakukan dengan regresi linear

3. Menentukan hubungan debit fluida gas dengan metode eksponensial. Rumus umum : Q = a e bh Dengan linearitas diperoleh:

ln Q = ln a + b h Dengan pemisalan diperoleh:

y = C + Bx Penyelesaian dilakukan dengan regresi linear

4. Menghitung kesalahan relatif Rumus:

Kesalahan relatif= = | | × 100%

Kesalahan relatif rata-rata logaritmik= Σ

%

Kesalahan relatif rata-rata eksponensial=

Σ

%

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Asumsi umum pada rotameter adalah volume fluida yang mendesak ke atas sama dengan volum air yang keluar dari rotameter. Jumlah zat alir yang keluar dari rotameter dibagi dengan waktu tampung zat alir yang keluar dari rotameter tersebut merupakan laju alir zat alir tersebut.

Pada percobaan ini digunakan rotameter sebagai alat ukur laju alir fluida karena memiliki beberapa kelebihan, antara lain:

1. Rotameter telah terbukti cocok digunakan baik untuk fluida gas maupun cair.

2. Rotameter modern bebas daari pengaruh viskositas sehingga perubahan viskositas tidak mengubah peneraan.

3. Rotameter juga dianggap bebas dari pengaruh perubahan densitas sejauh tidak lebih dari 15 %.

Peneraan rotameter untuk zat alir gas.

Pada percobaan ini, galon air tidak boleh kosong, kkarena bila kosong maka pada galon tekanannya akan menjadi hamppa sehingga air yang terdapat pada pipa (discharge) akan masuk ke dalam galon air. Galon air pada percobaan dengan fluida gas ini tidak boleh terlalu

kosong agar aliran air yang ditampung dalam gelas ukur tidak dipengaruhi oleh perbedaan tekanan gas dalam galon air. Dalam percobaan ini diusahakan gas tidak bersifat compressible.

Jika dalam percobaan gas habis sebelum percobaan selesai, maka data harus diulangi lagi dari awal karena kemungkinan tekanan awal dan akhirnya berbeda sehingga perhitungan pun akan berbeda dengan yang ada di awal. Oleh karena itu, penggunaan gas harus hemat. Alasan data harus diulangi jika gas / udara habis adalah karena penentuan tekanan udara untuk setiap ketinggian float suatu percobaan dipengaruhi oleh tekanan gas di awal percobaan dan tekanan gas di akhir percobaan, sehingga bila gas habis dan data tidak diulangi dari awal, maka akan terjadi perbedaan ttekanan awal percobaan sehingga terjadi kesalahan data.

Pada percobaan ini terjadi kesalahan relatif yang mungkin disebabkan oleh:

1. Ketidaktepatan dalam menekan stopwatch dan menampung air dalam gelas ukur.

2. Tinggi selang discharge tidak sama dengan tinggi permukaan air dalam galon air.

3. Kesalahan paralaks dalam pembacaan volum air dalam gelas ukur.

4. Selang atau pipa ada yang bocor.

5. Galon air yang tidak terisolasi sempurna.

6. Posisi float yang tidak stabil karena perubahan tekanan pada kompresor.

Dapat disimpulkan bahwa untuk fluida gas, pendekatan yang lebih baik adalah pendekatan logaritmik yang memberikan kesalahan lebih kecil bila percobaan dianalisis, dapat dikatakan semakin tinggi float, semakin besar nilai rata-rata Q.

Berikut hasil data yang didapat dalam percobaan. Daftar I. Hasil percobaan untuk zat alir gas

h(cm)

18

16,5

13,5

V(cm 3 )

35,4

32,1

34,4

36,2

33,3

36,8

34,2

32,6

30,8

31,2

32,0

31,5

32,1

31,9

32,0

t(s)

3,10

3,12

3,03

3,22

3,09

3,16

3,19

3,07

3,12

3,10

3,39

3,01

3,07

3,10

3,12

h(cm)

12

10,5

9

V(cm 3 )

29,2

31,2

27,2

25,8

27,6

26,2

34,0

27,5

30,4

30,1

27,6

26,5

22,2

27,0

28,0

t(s)

3,12

3,18

3,25

3,15

3,20

3,15

3,15

3,09

3,18

3,15

3,14

3,11

3,09

3,12

3,15

h(cm)

7,5

4,5

6

V(cm 3 )

18,9

19,1

18,5

17,0

17,5

15,5

17,8

15,6

15,0

18,2

14,5

15,9

17

18,0

17,2

t(s)

3,12

3,15

2,22

3,21

3,21

3,03

3,06

3,09

3,02

3,10

3,13

3,07

3,16

3,30

3,19

Sehingga diperoleh kurva hubungan Q vs h berdasarkan hasil perhitungan data yang didapat sebagai berikut.

14,0000 12,0000 10,0000 8,0000 6,0000 4,0000 2,0000 0,0000 0 5 10 15 20 Q (cm
14,0000
12,0000
10,0000
8,0000
6,0000
4,0000
2,0000
0,0000
0
5
10
15
20
Q (cm 3 /s)

h (cm)

Keterangan

Data Percobaan8,0000 6,0000 4,0000 2,0000 0,0000 0 5 10 15 20 Q (cm 3 /s) h (cm)

Data Logaritmik8,0000 6,0000 4,0000 2,0000 0,0000 0 5 10 15 20 Q (cm 3 /s) h (cm)

Data Eksponensial8,0000 6,0000 4,0000 2,0000 0,0000 0 5 10 15 20 Q (cm 3 /s) h (cm)

Gambar 4. Grafik Hubungan antara Tinggi Float dengan Debit Rata-Rata pada Alat Ukur Rotameter Fluida Gas

Dapat dilihat semakin tinggi float pada rotameter, debit cairan yang didapat semakin besar. Dalam percobaan diperoleh :

Persamaan pendekatan logaritmik :

Q = 1,1812.h 0.8275

Persamaan pendekatan eksponensial :

Q = 2,2302.e 01100h

Kesalahan relatif rata-rata logaritmik

:

14,7 %

Kesalahan relatif rata-rata eksponensial :

31,8 %

Peneraan rotameter untuk zat alir cairan.

Percobaan dilakukan dengan menggunakan alat-alt yang tersusun pada gambar 2. Dan mengalirkan air pada keran dan tunggu sampai overflow lalu mencatat data-data yang keluar dari percobaan tersebut dengan menyetel ketinggian rotameter pada titik-titik yang telah ditentukan sebelumnya.

Daftar II. Hasil percobaan untuk zat alir cairan

h(cm)

6,5

6

V(cm 3 )

63,5

61,5

62,5

64,0

55,9

51,0

49,8

51,0

52,9

50,5

t(s)

3,19

3,09

3,17

3,30

3,10

2,95

3,02

3,01

3,14

3,11

h(cm)

5,5

5

V(cm 3 )

49,2

50,1

50,5

51,0

54,9

40,9

47,5

46,9

48,6

48,0

t(s)

3,02

3,15

3,09

3,17

3,35

2,96

3,10

3,12

3,10

3,15

h(cm)

4,5

4

V(cm 3 )

38,8

42,0

40,5

42,8

39,2

34,0

35,0

35,2

38,9

38,7

t(s)

3,03

3,20

3,21

3,35

2,98

3,10

3,02

3,09

3,25

3,13

h(cm)

3,5

3

V(cm 3 )

31,9

30,9

28,9

30,2

29,9

29,2

27,4

28,9

28,5

28,2

t(s)

3,10

2,98

3,03

3,08

3,00

3,15

3,10

3,35

3,20

3,03

h(cm)

2,5

2

V(cm 3 )

24,8

25,9

25,3

23,5

24,3

19,9

21,4

22,4

21,7

21,5

t(s)

3,10

3,20

3,17

3,00

3,07

3,10

3,17

3,25

3,16

3,20

25,0000 20,0000 15,0000 10,0000 5,0000 0,0000 0 2 4 6 8 Q (cm 3 /s)
25,0000
20,0000
15,0000
10,0000
5,0000
0,0000
0
2
4
6
8
Q (cm 3 /s)

h (cm)

Data Percobaan25,0000 20,0000 15,0000 10,0000 5,0000 0,0000 0 2 4 6 8 Q (cm 3 /s) h

Data Logaritmik25,0000 20,0000 15,0000 10,0000 5,0000 0,0000 0 2 4 6 8 Q (cm 3 /s) h

Data Eksponensial25,0000 20,0000 15,0000 10,0000 5,0000 0,0000 0 2 4 6 8 Q (cm 3 /s) h

Gambar 5. Grafik Hubungan Debit (Q) dan Tinggi Float (h) pada Percobaan Laju Alir Cairan

Metode yang paling sesuai digunakan dalam percobaan ini menurut hasil percobaan adalah dengan pendekatan logaritmik karena memberi kesalahan relatif rata-rata yang lebih kecil.

Pada percobaan ini terjadi kesalahan relatif yang mungkin disebabkan oleh:

1. Ketidaktepatan dalam menekan stopwatch dan menampung air dalam gelas ukur.

2. Aliran air yang mengalir tidak konstan karena adanya hambatan pada pipa air, seperti kotoran, dan kekasaran pipa yang tidak merata.

3. Kesalahan paralaks dalam pembacaan volum air dalam gelas ukur.

4. Selang atau pipa ada yang bocor.

5. Adanya air yang terpercik keluar saat menampung air yang keluar ke dalam gelas ukur.

6. Adanya friksi yang terjadi.

V. KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah sebagai berikut:

5.

Pada saat ketinggian float stabil, gaya ke atas fluida sama dengan gaya gesek dan gaya berat float.

6.

Laju alir fluida sebanding dengan ketinggian float.

7.

Pengukuran laju alir gas dilakukan secara tidal langsung, sedangkan untuk fluida cair dilakukan secara langsung.

8.

Laju alir fluida dipengaruhi oleh rapat massa (ρ), viskositas (η), dan bilangan Reynold

9.

Debit rata-rata zat alir (Q avg ) hasil percobaan untuk masing-masing ketinggian float (h):

 

a.

Pengukuran laju alir gas

 
 

h

= 18,0 cm

Q avg = 11,0160 cm 3 /s

h

= 16,5 cm

Q avg = 10,5844 cm 3 /s

h

= 13,5 cm

Q avg = 10,1202 cm 3 /s

h

= 12,0 cm

Q avg =

8,8710 cm 3 /s

h

= 10,5 cm

Q avg =

9,4252 cm 3 /s

h

=

9,0 cm

Q avg =

8,0667 cm 3 /s

h

=

7,5 cm

Q avg =

6,2404 cm 3 /s

h

=

4,5 cm

Q avg =

5,3638 cm 3 /s

h

=

6,0 cm

Q avg =

5,1950 cm 3 /s

h

=

0 cm

Q avg =

0 cm 3 /s

 

b.

Pengukuran laju alir cairan

 

h

=

6,5 cm

Q avg = 19,3713 cm 3 /s

h

=

6,0 cm

Q avg = 13,6495 cm 3 /s

h

=

5,5 cm

Q avg = 16,1797 cm 3 /s

h

=

5,0 cm

Q avg = 12,5304 cm 3 /s

h

=

4,5 cm

Q avg = 12,8955cm 3 /s

h

=

4,0 cm

Q avg = 11,4619 cm 3 /s

h

=

3,5 cm

Q avg =

9,9939 cm 3 /s

h

=

3,0 cm

Q avg =

8,9897 cm 3 /s

h

=

2,5 cm

Q avg =

7,9647 cm 3 /s

h

=

2,0 cm

Q avg =

6,7297 cm 3 /s

10.

Hubungan debit fluida cairan (Q) dengan ketinggian float rotameter (h):

 

a. Pendekatan logaritmik

: Q = 3,7671.h 0,8028

b. Pendekatan eksponensial

: Q = 4,7574.e 0,2063h A

11.

Hubungan debit fluida gas (Q) dengan ketinggian float rotameter (h):

a.

Pendekatan logaritmik

: Q = 1,1812.h 0.8275

b.

Pendekatan eksponensial

: Q = 2,2302.e 01100h

12.

Hasil perhitungan kesalahan relatif:

a.

Kesalahan relatif rata-rata pengukuran laju alir zat alir cairan

 

Pendekatan logaritmik

: 14,43 %

Pendekatan eksponensial : 6,51 %

b.

Kesalahan relatif rata-rata penukutan laju alir zat alir gas

: 14,7 %

Pendekatan eksponensial : 31,8 %

Pendekatan logaritmik