Anda di halaman 1dari 6

Geologi Teknik adalah ilmu yang mempelajari atau mengkaji gejala

geologi dari aspek kekuatan dan/atau kelemahan geologi, diaplikasikan


untuk kepentingan pembangunan infrastruktur terutama pada tahap
desain dan tahap konstruksi bangunan-bangunan.
Beberapa kajian yang penting untuk geologi teknik, antara lain:
Hubungan geologi teknik dengan disiplin ilmu lain.
Erosi dan erodibilitas,
Genesa tanah & faktor-faktor yang mempengaruhi lapukan tanah
Profil pelapukan tanah residu
Deskripsi dan klasifikasi tanah
Peta geologi teknik dan skala peta (1:5.000 s/d 1:200.000)
Ruanglingkup kajian geologi teknik meliputi kajian terhadap aspek-aspek
keteknikan dari berbagai masalah/kendala (sebagai faktor penghambat,
a.l. kebencanaan) dan manfaat/potensi (sebagai faktor pendukung)
beberapa faktor, antara lain:
a) Batuan / tanah / material,
b) Struktur geologi
c) Geomorfologi.
Sebagai contoh, masalah dan manfaat faktor geologi (batuan dan tanah)
diberikan di halaman berikut (Tabel 1.1).
Batuan/tanah, struktur geologi dan geomorfologi sangat bergantung
kepada unsur-unsur geotektonik (yang berkaitan dengan lempeng
tektonik, yaitu pergerakan lempeng-lempeng kerak bumi yang bergerak,
berpapasan atau bertumbukan).
Jika melihat kondisi fisiografi maupun unsur-unsur tektonik (misalnya

pada penampang melintang Utara-Selatan P. Jawa), jenis-jenis


kebencanaan dapat diperkirakan terdapat pada masing-masing daerah.
Misalnya :
Daerah Pantai (Tsunami, abrasi, dll.),
Daerah Pegunungan (Erosi, longsor, dll.),
Daerah Dataran (Banjir).
Tabel 1.1. Salah satu faktor geologi (batuan/tanah) beserta manfaat
dan masalah dalam hubungannya dengan kajian geologi
teknik
FAKTOR
GEOLOGI
(BATUAN/TANAH)
MASALAH/KENDALA MANFAAT/POTENSI
Jenis batuan :
a. Batuan beku
b. Batuan
sedimen
c. Batuan
metamorf
d. Tanah lunak /
material
Hampir jarang
bermasalah
Perlapisan sebagai
bidang lemah

Lemah-banyak foliasi,
hancur, biasanya
tertektonik kuat
Mudah dierosi,
Dayadukung kecil,
Berpotensi kembangkerut
Bahan fondasi dan
urugan batu
Material bangunan dan
juga akifer
Lempung bentonit
Lempung (bahan bata,
keramik, genting, dll.)
Pasir (bahan bangunan,
sebagai akifer)
Gamping, gipsum, pasir
besi, lempung (dicampur
sebagai bahan semen)
Hirnawan (2001
KLASIFIKASI TANAH (USCS)
Klasifikasi tanah merupakan cara dalam menentukan jenis tanah agar
diperoleh gambaran sepintas tentang sifat-sifat tanah. Beberapa cara
dalam menentukan klasifikasi tanah, diantaranya adalah cara USCS.
Cara USCS (Unified Soil Classification System) ini diusulkan oleh

Cassagrande, dengan berdasarkan pada sifat tekstur tanah yang dibagi


dalam 3 kelompok, yaitu :
Tanah berbutir halus,
Tanah berbutir kasar
Tanah organik.
Dasar klasifikasi sistem USCS melihat kepada jenis ukuran butir tanah,
yaitu tanah kasar dan tanah halus:
Tanah berbutir halus adalah yang lolos saringan 200 mesh sebanyak
lebih dari 50%.
Tanah berbutir kasar jika lebih dari 50% materialnya mempunyai
ukuran >200 mesh.
Tanah dibagi dalam simbol tertentu (15 simbol), terdiri atas gabungan
atau individu dari simboil-simbol komponen, gradasi dan batas cair (wL).
Simbol komponen :
Kerikil (G, gravel),
Pasir (S, sand),
Lanau (M, mo),
Lempung (C, clay),
Organik (O, organic)
Gambut (Pt, peat),
Simbol gradasi :
Bergradasi baik (W, well graded)
Bergradasi buruk (P, poor graded),
Simbol batas cair :
Batas cair tinggi (H, high plasticity)

Batas cair rendah (L, low plasticity)


(catatan : batas cair didapat dari serangkaian test)
Tabel 2.1. Contoh Klasifikasi tanah cara USCS
Tabel 2.1. Contoh Klasifikasi tanah cara USCS
Jenis Prefiks Sub-kelompok Sufiks Simbol
Tanah Nama
Kerikil G Gradasi baik W GW
Kerikil G Gradasi buruk P GP
Pasir S Lanauan M SM
Pasir S Lempungan C SC
Lanau M Batas cair <50% L ML
Lempung C Batas cair < 50% L CL
Organik O Batas cair > 50% H OH
Gambut Pt
SM = Pasir lanauan (+deskripsi verbal lainnya)
GP = Kerikil gradasi buruk (+deskrisi verbal lainnya: warna,
kekasaran, dll)
MH = Lanau plastisitas tinggi (wL<50%)
CL = Lempung plastisitas rendah (wL>50%)
Contoh:
SC = Pasir (S) lempungan (C), + deskripsi verbal lainnya
GW = Kerikil (G) gradasi baik (W), + deskrisi verbal lainnya: warna,
kekasaran, dll)
ML = Lanau (M) plastisitas rendah (L ; batas cair wL < 50 % )
CH = Lempung (C) plastisitas tinggi (H ; batas cair wL > 50 % )

Penentuan batas cair (wL) dilakukan melalui serangkaian uji (test) di


laboratorium, yaitu :
uji batas cair (liquid limit),
uji kadar air tanah, dan
uji batas plastis.