Anda di halaman 1dari 31

SEJARAH ATOM

PERKEMBANGAN MODEL ATOM


1. Model atom Dalton

Atom merupakan partikel terkecil dari materi

Atom tidak dapat diubah menjadi atom lain

Berbentuk bola kosong / bola pejal yang tidak memiliki muatan

2. Model atom Thomson

Atom merupakan bola yang bermuatan positif dengan elektron tersebar di dalam
bola

Elektron merupakan partikel terkecil dari materi

Model atom disebut roti kismis

3. Model atom Rutherford


AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI BALI (ATRO BALI)

Atom mempunyai inti atom yang merupakan pusat atom dimana terletak muatan
positif.

Elektron beredar mengelilingi inti atom

Atom bersifat netral

4. Model atom Bohr

Elektron beredar pada lintasan yang disebut kulit-kulit elektron

Lintasan-lintasan elektron tersebut mempunyai tingkat-tingkat energi dimana


lintasan terdekat inti mempunyai energi terendah

Elektron-elektron dapat berpindah-pindah lintasan dengan memancarkan atau


menyerap energi.

5. Model atom Mekanika Gelombang

Lintasan-lintasan elektron berupa awan elektron dimana letak elektron berada


pada lapisan awan elektron

AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI BALI (ATRO BALI)

Model atom Bohr merupakan model atom yang mudah dipahami, namun Bohr
hanya dapat menjelaskan untuk atom berelektron sedikit dan tidak dapat menjelaskan
bagaimana adanya sub lintasan-lintasan yang terbentuk diantara lintasan-lintasan
elektron. Karena itu dalam perkembangan selanjutnya, teori atom dikaji dengan
menggambarkan pendekatan teori atom mekanika kuantum. Perkembangan muktahir di
bidang mekanika kuantum dimulai dari teori Max Planck yang mengemukakan kuantakuanta energi dilanjutkan oleh Louis de Broglie tentang dualisme partikel, kemudian
oleh Werner Heisenberg tentang prinsip ketidakpastian dan yang terakhir saat ini
adalah Erwin Schrodinger tentang persamaan gelombang. Mekanika kuantum ini dapat
menerangkan kelamahan teori atom Bohr tentang garis-garis terpisah yang sedikit
berbeda panjang gelombangnya dan memperbaiki model atom Bohr dalam hal bentuk
lintasan elektron dari yang berupa lingkaran dengan jari-jari tertentu menjadi orbital
dengan bentuk ruang tiga dimensi yang tertentu.
1. Teori Kuantum Max Planck
Max Planck, ahli fisika dari Jerman, pada tahun 1900 mengemukakan teori
kuantum.

Planck

menyimpulkan

bahwa

atom-atom

dan

molekul

dapat

memancarkan atau menyerap energi hanya dalam jumlah tertentu. Jumlah atau
paket energi terkecil yang dapat dipancarkan atau diserap oleh atom atau molekul
dalam bentuk radiasi elektromagnetik disebut kuantum. Planck menemukan bahwa
energi foton (kuantum) berbanding lurus dengan frekuensi cahaya.

Dengan

Salah satu fakta yang mendukung kebenaran dari teori kuantum Max Planck adalah
efek fotolistrik, yang dikemukakan oleh Albert Einstein pada tahun 1905. Efek
fotolistrik adalah keadaan di mana cahaya mampu mengeluarkan elektron dari
AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI BALI (ATRO BALI)

permukaan beberapa logam (yang paling terlihat adalah logam alkali) (James E. Brady,
1990). Susunan alat yang dapat menunjukkan efek fotolistrik ada pada gambar 1.1.
Elektrode negatif (katode) yang ditempatkan dalam tabung vakum terbuat dari suatu
logam murni, misalnya sesium. Cahaya dengan energi yang cukup dapat menyebabkan
elektron terlempar dari permukaan logam.
Elektron tersebut akan tertarik ke kutub positif (anode) dan menyebabkan aliran listrik
melalui rangkaian tersebut.

Percobaan Efek Fotolistrik Memperlihatkan susunan alat yang menunjukkan efek


fotolistrik, Seberkas cahaya yang ditembakkan pada permukaan pelat logam akan
menyebabkan logam tersebut melepaskan elektronnya.Elektron tersebut akan tertarik
ke kutub positif dan menyebabkan aliran listrik melalui rangkaian tersebut. Sumber:
General Chemistry, Principles & Structure, James E. Brady, 5th ed, 1990. Einstein
menerangkan bahwa cahaya terdiri dari partikel-partikel foton yang energinya
sebanding dengan frekuensi cahaya. Jika frekuensinya rendah, setiap foton mempunyai
jumlah energi yang sangat sedikit dan tidak mampu memukul elektron agar dapat
keluar dari permukaan logam. Jika frekuensi (dan energi) bertambah, maka foton
memperoleh energi yang cukup untuk melepaskan elektron (James E. Brady, 1990).
Hal ini menyebabkan kuat arus juga akan meningkat. Energi foton bergantung pada
frekuensinya.

AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI BALI (ATRO BALI)

dengan:
h = tetapan Planck (6,626 1034 J dt)
c = kecepatan cahaya dalam vakum (3 108 m det1)
= panjang gelombang (m)
2. Louis de Broglie
Pada tahun 1924, Louis de Broglie, menjelaskan bahwa cahaya dapat berada
dalam suasana tertentu yang terdiri dari partikel-partikel, kemungkinan berbentuk
partikel pada suatu waktu, yang memperlihatkan sifat-sifat seperti gelombang (James E
Brady, 1990). Argumen de Broglie menghasilkan hal sebagai berikut.
Einstein : E = mc2
Max Planck :
sehingga untuk menghitung panjang gelombang satu partikel diperoleh:
= panjang gelombang (m)
m = massa partikel (kg)
_ = kecepatan partikel (m/s)
h = tetapan Planck (6,626 1034 Joule s)
Hipotesis de Broglie terbukti benar dengan ditemukannya sifat gelombang dari
elektron. Elektron mempunyai sifat difraksi seperti halnya sinarX. Sebagai akibat dari
dualisme sifat elektron sebagai materi dan sebagai gelombang, maka lintasan elektron

AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI BALI (ATRO BALI)

yang dikemukakan Bohr tidak dapat dibenarkan. Gelombang tidak bergerak menurut
suatu garis, melainkan menyebar pada suatu daerah tertentu.
3. Erwin Schrodinger
Sebelum Erwin Schrodinger, seorang ahli dari Jerman Werner Heisenberg
mengembangkan teori mekanika kuantum yang dikenal dengan prinsip ketidakpastian
yaitu Tidak mungkin dapat ditentukan kedudukan dan momentum suatu benda
secara seksama pada saat bersamaan, yang dapat ditentukan adalah
kebolehjadian menemukan elektron pada jarak tertentu dari inti atom. Daerah
ruang di sekitar inti dengan kebolehjadian untuk mendapatkan elektron disebut orbital.
Bentuk dan tingkat energi orbital dirumuskan oleh Erwin Schrodinger.
Erwin Schrodinger memecahkan suatu persamaan untuk mendapatkan fungsi
gelombang untuk menggambarkan batas kemungkinan ditemukannya elektron dalam
tiga dimensi.
Persamaan Schrodinger
x,y dan z
Y
m
E
V
Persamaan gelombang dari Schrodinger ini cukup rumit sehingga akan dipelajari
dalam fisika kuantum pada tingkat perguruan tinggi. Awan elektron disekitar inti
menunjukan tempat kebolehjadian elektron. Orbital menggambarkan tingkat energi
elektron. Orbital-orbital dengan tingkat energi yang sama atau hampir sama akan
membentuk sub kulit. Beberapa sub kulit bergabung membentuk kulit. Dengan demikian
kulit terdiri dari beberapa sub kulit dan subkulit terdiri dari beberapa orbital. Walaupun
posisi kulitnya sama tetapi posisi orbitalnya belum tentu sama.

AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI BALI (ATRO BALI)

BILANGAN KUANTUM

Ada empat bilangan kuantum yang akan kita kenal, yaitu bilangan kuantum utama
(n), bilangan kuantum Azimut (I), bilangan kuantum magnetic (m) dan bilangan kuantum
spin (s).
A. Pengertian Bilangan Kuantum
1. Bilangan Kuantum Utama (n)
Lambang dari bilangan kuantum utama adalah n (en kecil). Bilangan kuantum
utama menyatakan kulit tempat ditemukannya elektron yang dinyatakan dalam
bilangan bulat positif. Nilai bilangan itu di mulai dari 1, 2, 3 dampai ke-n.
Masih ingatkah Anda dengan jenis-jenis kulit atom berdasarkan konfigurasi elektron
yang telah dibahas di kelas X (Modul Kim. X.03). Jenis-jenis kulit atom berdasarkan
konfigurasi

elektron

tersebut

adalah

K,

L,

dan

N.

Semakin dekat letak kulit atom dengan inti maka nilai bilangan kuantum utama semakin
kecil (mendekati 1). Sehingga bilangan kuantum utama dapat Anda gunakan untuk
menentukan ukuran orbit (jari-jari) berdasarkan jarak orbit elektron dengan inti
atom.
Kegunaan lainnya, Anda dapat mengetahui besarnya energi potensial
elektron. Semakin dekat jarak orbit dengan inti atom maka kekuatan ikatan elektron
dengan inti atom semakin besar, sehingga energi potensial elektron tersebut semakin
besar.

2. Bilangan Kuantum Azimut (l)


Bilangan kuantum azimut menyatakan sub kulit tempat elektron berada dan
bentuk orbital, serta menentukan besarnya momentum sudut elektron terhadap inti.
Banyaknya subkulit tempat elektron berada tergantung pada nilai bilangan kuantum
utama (n). Nilai bilangan kuantum azimut dari 0 sampai dengan (n 1). Bila n = 1,
AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI BALI (ATRO BALI)

maka hanya ada satu subkulit yaitu l = 0. Sedangkan n = 2, maka ada dua subkulit yaitu
l = 0 dan l = 1.
3. Bilangan Kuantum Magnetik (m)

Bilangan kuantum magnetik menyatakan orbital tempat ditemukannya elektron


pada subkulit tertentu dan arah momentum sudut elektron terhadap inti. Sehingga nilai
bilangan kuantum magnetik berhubungan dengan bilangan kuantum azimut. Nilai
bilangan

kuantum

magnetik

antara

sampai

l.

4. Bilangan Kuantum Spin (s)


Lambang bilangan kuantum spin adalah s yang menyatakan arah rotasi elektron
pada porosnya. Ada dua kemungkinan arah rotasi yaitu searah jarum jam atau
berlawanan arah jarum jam. Hal ini seperti berputarnya gasing atau mata uang logam.

Bentuk dan Orientasi Orbital


Energi dan bentuk orbital diturunkan dari persamaan gelombang ( = psi),
sedangkan besaran pangkat dua (2) dari persamaan gelombang menyatakan rapatan
muatan atau peluang menemukan elektron pada suatu titik dan jarak tertentu dari inti.
Bentuk orbital tergantung pada bilangan kuantum azimuth (l), artinya orbital dengan
bilangan kuantum azimuth yang sama akan mempunyai bentuk yang sama. Orbital 1s,
2s, dan 3s akan mempunyai bentuk yang sama, tetapi ukuran atau tingkat energinya
berbeda.
1. Orbital s
Orbital yang paling sederhana untuk dipaparkan adalah orbital 1s. Gambar
berikut menunjukkan tiga cara pemaparan orbital 1s. Gambar menunjukkan bahwa
rapatan muatan maksimum adalah pada titik-titik di sekitar (dekat) inti. Rapatan
AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI BALI (ATRO BALI)

berkurang secara eksponen dengan bertambahnya jarak dari inti. Pola bercak-bercak
(gambar) secara jelas menunjukkan bahwa rapatan muatan meluas secara simetris ke
semua arah dengan jarak antar bercak yang berangsur meningkat. Secara teori
peluang, untuk menemui elektron tidak pernah mencapai nol. Oleh karena itu tidak
mungkin menggambarkan suatu orbital secara lengkap. Biasanya gambar orbital
dibatasi, sehingga mencakup bagian terbesar (katakanlah 90%) peluang menemukan
elektron. Gambar (c) adalah orbital 1s dengan kontur 90%. Dalam teori atom
modern, jari-jari atomdidefinisikan sebagai jarak dari inti hingga daerah dengan peluang
terbesar menemukan elektron pada orbital terluar. Bentuk dan orientasi orbital
2s diberikan pada gambar. Sama dengan orbital 1s, rapatan muatan terbesar adalah
pada titik-titik sekitar inti. Rapatan menurun sampai mencapai nol pada jarak tertentu
dari inti. Daerah tanpa peluang menemukan elektron ini disebut simpul. Selanjutnya,
rapatan muatan elektron meningkat kembali sampai mencapai maksimum, kemudian
secara bertahap menurun mendekati nol pada jarak yang lebih jauh. Peluang terbesar
menemukan elektron pada orbital 2s adalah pada awan lapisan kedua. Sedangkan
untuk orbital 3s juga mempunyai pola yang mirip dengan orbital 2s, tetapi dengan 2
simpul. Kontur 90% dari orbital 3s ditunjukkan pada gambar (b), di mana peluang untuk
menemukan elektron pada orbital 3s adalah pada awan lapisan ketiga.

Orbital 1s, 2s, 3s Sumber: Chemistry, The Molecular Nature of Matter and Change,
Martin S. Silberberg. 2000.
2. Orbital p
Rapatan muatan elektron orbital 2p adalah nol pada inti, meningkat hingga
mencapai maksimum di kedua sisi, kemudian menurun mendekati nol seiring dengan
bertambahnya jarak dari inti. Setiap subkulit p (

= 1) terdiri dari tiga orbital yang setara

AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI BALI (ATRO BALI)

sesuai dengan tiga harga m untuk = 1, yaitu -1, 0, dan +1. Masing-masing diberi
nama px, py,

dan pz sesuai

dengan

orientasinya

dalam

ruang.

Kontur

yang

disederhanakan dari ketiga orbital 2p diberikan pada gambar (c). Distribusi rapatan
muatan elektron pada orbital 3p ditunjukkan pada gambar (b). Sedangkan kontur orbital
3p dapat juga digambarkan seperti gambar (a) (seperti balon terpilin), tetapi ukurannya
relatif lebih besar.

Orbital px, py, pz Sumber: Sumber: Chemistry, The Molecular Nature of Matter and
Change, Martin S. Silberberg. 2000
3. Orbital d dan f

Orbital dengan bilangan azimuth l = 2, yaitu orbital d, mulai terdapat pada kulit
ketiga (n = 3). Setiap subkulit d terdiri atas lima orbital sesuai dengan lima
harga m untuk l = 2, yaitu m = 2, 1, 0, +1, dan +2. Kelima orbital d itu diberi nama
sesuai dengan orientasinya, sebagai x2x2 d , dxy, dxz, dyz, dan z d 2 . Kontur dari
kelima orbital 3d diberikan pada gambar berikut. Walaupun orbital z d 2 mempunyai
bentuk yang berbeda dari empat orbital d lainnya, tetapi energi dari kelima orbital itu
setara.

Orbital d Sumber: Sumber: Chemistry, The Molecular Nature of Matter and Change,
Martin S. Silberberg. 2000. Orbital f lebih rumit dan lebih sukar untuk dipaparkan, tetapi

AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI BALI (ATRO BALI)

10

hal itu tidaklah merupakan masalah penting. Setiap subkulit f terdiri atas 7 orbital,
sesuai dengan 7 harga m untuk l = 3.

Seluruh orbital d Sumber: Chemistry, The Molecular Nature of Matter and Change,
Martin S. Silberberg. 2000.

Salah satu dari tujuh orbital 4 f, yaitu orbital f xyz Sumber: Chemistry, The Molecular
Nature of Matter and Change, Martin S. Silberberg. 2000.
Konfigurasi elektron dari atom

AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI BALI (ATRO BALI)

11

Hubungan

antara

orbital

dengan

tabel

periodik

Periode Pertama
Hidrogen hanya memiliki satu elektron pada orbital 1s, kita dapat menuliskannya
dengan 1s1 dan helium memiliki dua elektron pada orbital 1s sehingga dapat dituliskan
dengan 1s2
Periode kedua
Sekarang kita masuk ke level kedua, yaitu periode kedua. Elektron litium
memenuhi orbital 2s karena orbital ini memiliki energi yang lebih rendah daripada orbital
2p. Litium memiliki konfigurasi elektron 1s22s1. Berilium memiliki elektron kedua pada
level yang sama 1s22s2.
Sekarang kita mulai mengisi level 2p. Pada level ini seluruhnya memiliki energi yang
sama, sehingga elektron akan menempati tiap orbital satu persatu.
B

1s22s22px1

1s22s22px12py 1

1s22s22px12py 12pz1

Elektron selanjutnya akan membentuk sebuah pasangan dengan elektron tunggal yang
sebelumnya menempati orbital.

AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI BALI (ATRO BALI)

12

1s22s22px22p y12pz1

1s22s22px22py 22pz1

Ne

1s22s22px22py 22pz2

Kita dapat melihat di sini bahwa semakin banyak jumlah elektron, semakin merepotkan
bagi kita untuk menuliskan struktur elektron secara lengkap. Ada dua cara penulisan
untuk mengatasi hal ini dan kita harus terbiasa dengan kedua cara ini.
Cara singkat pertama : Seluruh variasi orbital p dapat dituliskan secara bertumpuk.
Sebagai contoh, flor dapat ditulis sebagai 1s 22s22p5, dan neon sebagai 1s22s22p6.
Penulisan ini biasa dilakukan jika elektron berada dalam kulit dalam. Jika elektron
berada dalam keadaan berikatan (di mana elektron berada di luar atom), terkadang
ditulis dalam cara singkat, terkadang dengan cara penuh.
Sebagai contoh, walaupun kita belum membahas konfigurasi elektron dari klor, kita
dapat menuliskannya sebagai 1s22s22p63s23px23p y23pz1.
Perhatikan bahwa elektron-elektron pada orbital 2p bertumpuk satu sama lain
sementara orbital 3p dituliskan secara penuh. Sesungguhnya elektron-elektron pada
orbital 3p terlibat dalam pembentukan ikatan karena berada pada kulit terluar dari atom,
sementara elektron-elektron pada 2p terbenam jauh di dalam atom dan hampir bisa
dikatakan tidak berperan sama sekali.
Cara singkat kedua : Kita dapat menumpukkan seluruh elektron-elektron terdalam
dengan menggunakan, sebagai contoh, simbol [Ne]. Di dalam konteks ini, [Ne] berarti
konfigurasi elektron dari atom neon -dengan kata lain 1s22s22px22py22p z2.
Berdasarkan cara di atas kita dapat menuliskan konfigurasi elektron klor dengan
[Ne]3s23px23py23pz1.
Periode ketiga

AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI BALI (ATRO BALI)

13

Mulai dari neon, seluruh orbital tingkat kedua telah dipenuhi elekton, selanjutnya
kita harus memulai dari natrium pada periode ketiga. Cara pengisiannya sama dengan
periode-periode sebelumnya, kecuali adalah sekarang semuanya berlangsung pada
periode ketiga.
Sebagai contoh :

Mg
S
Ar

1s 2s 2p 3s
1s22s22p63s23px 23py13pz1
1s22s22p63s23px 23py23pz2

cara singkat
[Ne]3s2
[Ne]3s23px23py13p z1
[Ne]3s23px23py23p z2

Permulaan periode keempat


Sampai saat ini kita belum mengisi orbital tingkat 3 sampai penuh tingkat 3d
belum kita gunakan. Tetapi kalau kita melihat kembali tingkat energi orbital-orbital, kita
dapat melihat bahwa setelah 3p energi orbital terendah adalah 4s oleh karena itu
elektron mengisinya terlebih dahulu.
K
Ca

1s22s22p63s23p6 4s1
1s22s22p63s23p6 4s2

Bukti kuat tentang hal ini ialah bahwa elemen seperti natrium ( 1s 22s22p63s1 ) dan
kalium ( 1s22s22p63s23p64s 1 ) memiliki sifat kimia yang mirip.
Elektron terluar menentukan sifat dari suatu elemen. Sifat keduanya tidak akan mirip
bila konfigurasi elektron terluar dari kalium adalah 3d 1.
Elemen blok s dan p

AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI BALI (ATRO BALI)

14

Elemen-elemen pada golongan 1 dari tabel periodik memiliki konfigurasi elektron terluar
ns1 (dimana n merupakan nomor antara 2 sampai 7). Seluruh elemen pada golongan 2
memiliki konfigurasi elektron terluar ns 2. Elemen-elemen di grup 1 dan 2 dideskripsikan
sebagai elemen-elemen blok s.
Elemen-elemen dari golongan 3 seterusnya hingga gas mulia memiliki elektron terluar
pada orbital p. Oleh karenanya, dideskripsikan dengan elemen-elemen blok p.
Elemen

blok

Perhatikan bahwa orbital 4s memiliki energi lebih rendah dibandingkan dengan orbital
3d sehingga orbital 4s terisi lebih dahulu. Setelah orbital 3d terisi, elektron selanjutnya
akan mengisi orbital 4p.

AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI BALI (ATRO BALI)

15

Elemen-elemen pada blok d adalah elemen di mana elektron terakhir dari


orbitalnya berada pada orbital d. Periode pertama dari blok d terdiri dari elemen dari
skandium hingga seng, yang umumnya kita sebut dengan elemen transisi atau logam
transisi. Istilah elemen transisi dan elemen blok d sebenarnya tidaklah memiliki arti
yang sama, tetapi dalam perihal ini tidaklah menjadi suatu masalah. Elektron d hampir
selalu dideskripsikan sebagai, sebagai contoh, d5 atau d8 dan bukan ditulis dalam
orbital yang terpisah-pisah. Perhatikan bahwa ada 5 orbital d, dan elektron akan
menempati orbital sendiri sejauh ia mungkin. Setelah 5 elektron menempati orbital
sendiri-sendiri barulah elektron selanjutnya berpasangan.

d5 berarti

d8 berarti
Perhatikan bentuk pengisian orbital pada level 3, terutama pada pengisian atom 3d
setelah 4s.
Sc
Ti
V
Cr

1s22s22p63s23p6 3d14s2
1s22s22p63s23p6 3d24s2
1s22s22p63s23p6 3d34s2
1s22s22p63s23p6 3d54s1

Perhatikan bahwa kromium tidak mengikuti keteraturan yang berlaku. Pada kromium
elektron-elektron pada orbital 3d dan 4s ditempati oleh satu elektron. Memang, mudah
untuk diingat jikalau keteraturan ini tidak berantakan tapi sayangnya tidak !
Mn

1s22s22p63s23p6 3d54s2

Fe

1s22s22p63s23p6 3d64s2

Co

1s22s22p63s23p6 3d74s2

Ni

(kembali

ke

keteraturan

semula)

1s22s22p63s23p6 3d84s2

Cu

1s22s22p63s23p6 3d104s1

Zn

1s22s22p63s23p6 3d104s2

(perhatikan!)

AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI BALI (ATRO BALI)

16

Pada elemen seng proses pengisian orbital d selesai.


Pengisian sisa periode 4
Orbital selanjutnya adalah 4p, yang pengisiannya sama seperti 2p atau 3p. Kita
sekarang kembali ke elemen dari galium hingga kripton. Sebagai contoh, Brom, memilki
konfigurasi elektron 1s22s22p63s23p63d104s 24px24py24pz1.
Menuliskan struktur elektron elemen-elemen besar pada blok s dan p
Pertama kita berusaha untuk mengetahui jumlah elektron terluar. Jumlah elektron
terluar sama dengan nomor golongan. Sebagai contoh, seluruh elemen pada golongan
3 memiliki 3 elektron pada level terluar. Lalu masukkan elektron-elektron tersebut ke
orbital s dan p. Pada level orbital ke berapa ? Hitunglah periode pada tabel periodik.
Sebagai contoh, Yodium berada pada golongan 7 dan oleh karenanya memiliki 7
elektron terluar. Yodium berada pada periode 5 dan oleh karenanya elekton mengisi
pada orbital 5s dan 5p. Jadi, Yodium memiliki konfigurasi elektron terluar
5s25px25py25pz 1.
Bagaimana dengan konfigurasi elektron di dalamnya ? Level 1, 2, dan 3 telah terlebih
dahulu terisi penuh, dan sisanya tinggal 4s, 4p, dan 4d. Sehingga konfigurasi
seluruhnya adalah : 1s22s22p63s23p63d104s 24p64d105s25px25p y25pz1.
Jikalau kita telah menyelesaikannya, hitunglah kembali jumlah seluruh elektron yang
ada apakah sama dengan nomor atom.
Contoh yang kedua, Barium , berada pada golongan 2 dan memiliki 2 elektron terluar.
Barium berada pada periode keenam. Oleh karenanya, Barium memilki konfigurasi
elektron terluar 6s2.
Konfigurasi keseluruhannya adalah : 1s22s22p63s23p63d104s 24p64d105s25p66s2.

AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI BALI (ATRO BALI)

17

Kita mungkin akan terjebak untuk mengisi orbital 5d 10 tetapi ingatlah bahwa orbital d
selalu diisi setelah orbital s pada level selanjutnya terisi. Sehingga orbital 5d diisi
setelah 6s dan 3d diisi setelah 4s.

Proton, Eletron dan Neutron

Proton = Z (No. Atom)

Elektron = Z (No. Atom) Muatan (berkebalikan)

Neutron = A Z (No. Massa No. Atom)

Isotop, Isobar dan isoton

Isotop unsur-unsur yang mempunyai nomor atom sama tetapi nomor


massanya berbeda

Isobar unsur-unsur yang mempunyai nomor atom berbeda tetapi nomor


massanya sama

Isoton unsur-unsur yang mempunyai jumlah neutron sama

Perhitungan Isotop

AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI BALI (ATRO BALI)

18

Sejarah Perkembangan Sistem Periodik Unsur


Usaha-usaha untuk mengelompokkan unsur-unsur telah dimulai sejak para ahli
menemukan semakin banyaknya unsur di alam. Pengelompokkan unsur-unsur ini
dimaksudkan

agar

unsur-unsur

tersebut

mudah

dipelajari.

Beberapa

ahli

mengelompokkan unsur-unsur tersebut berdasarkan penelitian yang dilakukan. Tabel


periodik pada mulanya diciptakan tanpa mengetahui struktur dalam atom. jika unsurunsur diurutkan berdasarkan massa atom lalu dibuat grafik yang menggambarkan
hubungan antara beberapa sifat tertentu dan massa atom unsur-unsur tersebut, akan
terlihat suatu perulangan atau periodisitas sifat-sifat tadi sebagai fungsi dari massa
atom. Orang pertama yang mengenali keteraturan tersebut adalah ahli kimia Jerman,
yaitu Johann Wolfgang Dbereiner, yang pada tahun 1829 memperhatikan adanya
beberapa triade unsur-unsur yang hampir sama.

AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI BALI (ATRO BALI)

19

Temuan ini kemudian diikuti oleh ahli kimia Inggris, yaitu John Alexander Reina
Newlands, yang pada tahun 1865 memperhatikan bahwa unsur-unsur yang bersifat
mirip ini berulang dalam interval delapan, yang ia persamakan dengan oktaf musik,
meskipun hukum oktaf-nya diejek oleh rekan sejawatnya. Akhirnya, pada tahun 1869,
ahli kimia Jerman Lothar Meyer dan ahli kimia Rusia Dmitry Ivanovich
Mendeleyev hampir secara bersamaan mengembangkan tabel periodik pertama,
mengurutkan unsur-unsur berdasarkan massanya. Akan tetapi, Mendeleyev
meletakkan beberapa unsur menyimpang dari aturan urutan massa agar unsur-unsur
tersebut cocok dengan sifat-sifat tetangganya dalam tabel, membetulkan kesalahan
beberapa nilai massa atom, dan meramalkan keberadaan dan sifat-sifat beberapa
unsur baru dalam sel-sel kosong di tabelnya. Keputusan Mendeleyev itu belakangan
terbukti benar dengan ditemukannya struktur elektronik unsur-unsur pada akhir abad
ke-19 dan awal abad ke-20.
1)

Triade Dobereiner
Pada tahun 1829, Johann Dobereiner mengelompokkan unsure berdasarkan

kemiripan sifat ke dalam tiga kelompok yang disebut triade. Dalam triade, sifat unsur
kedua merupakan sifat antara unsur pertama dan unsur ketiga. Contohnya: suatu triade
Li-Na-K terdiri dari Lithium (Li), Natrium (Na), Kalium (K) yang mempunyai kemiripan
sifat. Dia juga menemukan bahwa massa atom unsur kedua adalah rata-rata massa
atom unsur pertama dan unsur ketiga. Tabel pengelompokkan unsur dapat dilihat pada
Tabel 1. Contohnya: massa atom unsur Na adalah rata-rata massa atom unsur Li dan
massa atom unsur K.
Contoh triade yang lain adalah triade Ca-Sr-Ba, triade Cl-Br-I.
Tabel 1. Tabel Triade
Litium

Kalsium

Klorin

(Li)
Natrium

(Ca)
(Cl)
Stronsium Bromin

(S)
(Mn)
Selenium Kromium

(Na)

(Sr)

(Se)

(Br)

Belerang

Mangan

(Cr)

AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI BALI (ATRO BALI)

20

Kalium

Barium

Iodin

Telurium

Besi

(K)

(Ba)

(I)

(Te)

(Fe)

2)

Hukum Oktaf Newlands


Pada tahun 1865, John Newlands mengklasifikasikan unsur berdasarkan

kenaikan massa atomnya. Newlands mengamati ada pengulangan secara teratur


keperiodikan sifat unsur. Unsur ke-8 mempunyai sifat mirip dengan unsur ke-1. Begitu
juga unsur ke-9 mirip sifatnya dengan unsur ke-2, dan seterusnya. Karena
kecenderungan pengulangan selalu terjadi pada sekumpulan 8 unsur (seperti yang
telah dijelaskan) maka sistem tersebut disebut Hukum Oktaf.
Tabel 2. Tabel unsur Newlands
No No
H 1F
Li

2 Na

Be 3 Mg
B

4 Al

5Si

6P
13
7S
14

No
No
No
No
8 Cl 15 Co&Ni 22Br
Pd
29
9 K 16 Cu
Rb
Ag
23
30
10 Ca
Zn
Sr
Cd
17
24
31
11 Cr 18Y
Ce&La
U
25
32
12 Ti 19In
Zr
Sn
26
33
Mn
As
Di&Mo 34 Sb
20
27
Fe
Se
Ro&Ru I
21
28
35

36
37
38
39

No
Te
43
Cs
44
Ba
45
Ta

No
Pt&Ir 50
Os
V

51
52

46Tl

53

40 W

47 Pb

54

41 Nb

48 Bi

55

42 Au

49 Th

56

Kelemahannya adalah Hukum Oktaf Newlands hanya berlaku untuk unsur-unsur


dengan massa atom yang rendah.
3)

Sistem Periodik Mendeleev


Sesuai dengan kegemarannya yaitu bermain kartu, ahli kimia dari Rusia, Dimitri

Ivanovich Mendeleev (1869) mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang

AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI BALI (ATRO BALI)

21

unsur, kemudian ia menulis pada kartu-kartu. Kartu-kartu unsur tersebut disusun


berdasarkan kenaikan massa atom dan kemiripan sifat. Kartu-kartu unsur yang
sifatnya mirip terletak pada kolom yang sama yang kemudian disebut golongan.
Sedangkan pengulangan sifat menghasilkan baris yang disebut periode. Alternatif
pengelompokkan unsur-unsur lebih ditekankan pada sifat-sifat unsur tersebut daripada
kenaikan massa atom relatifnya, sehingga ada tempat-tempat kosong dalam tabel
periodik tersebut. Tempat kosong inilah yang oleh Mendeleev diduga akan diisi oleh
unsur-unsur dengan sifat-sifat yang mirip tetapi pada waktu itu unsur tersebut belum
ditemukan.
Tabel 3. Tabel Sistem Periodik Mendeleev
Group Group Group Group Group Group Group Group
I
II
III
IV
V
VI
VII
VII
Reihen
4
3
2
RH
RH
RH
RH
2
2 3
2
2 5
3
R O RO
RO
RO
R O RO
R2H7 RO4
1
H=1
2
Li =7 Be =B = 11 C = 12 N =14 O = 16 F = 19
9,4
3
Na =Mg =Al
=Si = 28P = 31 S = 32 Cl
=
23
24
27,3
35,5
4
K = 39 Ca =- = 44 Ti = 48 V = 51 Cr
=Mn = Fe = 56,
40
52
55
Co =59,
Ni = 59,
Cu = 63
5
(Cu =Zn =- = 68 - = 72 As =Se =Br = 80
53)
65
75
78
6
Rb =S = 87 ?Yt =Zr
=Nb =Mo == Ru
=
85
88
90
94
96
100
104, Rh
=104,Pd
= 106, Ag
=108
7
(Ag
Cd =In
=Sn =Sb =T
=J
=
=108) 112
113
118
122
125
127
8
Cs =Ba =?Di =?Ce =--133 137
138
140
9
(-)
10
?Er= ?La =Ta=
W
=Os
=
178
18182
184
195,
Ir
AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI BALI (ATRO BALI)

22

=197,
Pt 198,
Au = 199
11

(Au
Hg =Tl
=198) 200
204
-

12

=Pb =Bi
=
207
208
Th =U
231
=240

---

Kelebihan sistem periodik Mendeleev adalah dapat meramalkan sifat unsur yang
belum ditemukan pada saat itu dan telah mempunyai tempat yang kosong,
penempatan gas mulia yang baru ditemukan tahun 18901900 tidak menyebabkan
perubahan susunan sistem periodik Mendeleev, sedangkan kekurangannya yaitu
adanya penempatan unsur yang tidak sesuai dengan kenaikan massa atom.
Contoh: 127I dan 128Te. Karena sifatnya, Mendeleev terpaksa menempatkan Te lebih dulu
daripada I.
4)

Sistem Periodik Modern

Pada tahun 1914, Henry G. Moseley menemukan bahwa urutan unsur-unsur dalam
sistem periodik sesuai dengan kenaikan nomor atom unsur. Sistem periodik unsur
modern disusun berdasarkan kenaikan nomor atom dan kemiripan sifat. Moseley
berhasil menemukan kesalahan dalam tabel periodik Mendeleev, yaitu ada unsur
yang terbalik letaknya. Penempatan Telurium dan Iodin yang tidak sesuai dengan
kenaikan massa atom relatifnya, ternyata sesuai dengan kenaikan nomor atom. Sistem
periodik modern bisa dikatakan sebagai penyempurnaan sistem periodik Mendeleev.

Jumlah periode dalam sistem periodik ada 7 dan diberi tanda dengan angka:

Periode 1 disebut sebagai periode sangat pendek dan berisi 2 unsur.

Periode 2 disebut sebagai periode pendek dan berisi 8 unsur.

Periode 3 disebut sebagai periode pendek dan berisi 8 unsur.

Periode 4 disebut sebagai periode panjang dan berisi 18 unsur.

AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI BALI (ATRO BALI)

23

Periode 5 disebut sebagai periode panjang dan berisi 18 unsur.

Periode 6 disebut sebagai periode sangat panjang dan berisi 32 unsur, pada
periode ini terdapat unsur Lantanida yaitu unsur nomor 58 sampai nomor 71.

Periode 7 disebut sebagai periode belum lengkap karena mungkin akan bertambah lagi
jumlah unsur yang menempatinya, sampai saat ini berisi 24 unsur. Pada periode ini
terdapat deretan unsur yang disebut Aktinida, yaitu unsur bernomor 90 sampai nomor
103.
Beberapa triade
Unsur

Massa
atom

Klorin

35,5

Bromin

79,9

Iodin

126,9

Kalsium
Stronsium
Barium

40,1
87,6
137

Kepadatan
0,00156
g/cm3
0,00312
g/cm3
0,00495
g/cm3
1,55 g/cm3
2,6 g/cm3
3,5 g/cm3

Klasifikasi
Sistem periodik moderen di susun berdasarkan jumlah proton dan muatan
intinya. Tabel periodik ini terdiri dari kolom vertikal yang disebut Golongan, dan kolom
Horizontal yang disebut Periode.
1. Golongan
Pada tabel periodik moderen,terdiri dari 18 lajur vertikal yang terbagi menjadi 8
golongan utama (golonga A) dan 8 golongan transisi (golongan B). Unsur-unsur yang
segolongan mempunyai konfigurasi elektron valensi yang mirip, sehingga mempunyai
AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI BALI (ATRO BALI)

24

sifat yang mirip pula. Ada tiga sistem pemberian nomor golongan. Sistem pertama
memakai angka Arab dan dua sistem lainnya memakai angka Romawi. Nama dengan
angka Romawi adalah nama golongan yang asli tradisional. Nama dengan angka Arab
adalah sistem tatanama baru yang disarankan oleh International Union of Pure and
Applied Chemistry

(IUPAC). Sistem penamaan tersebut dikembangkan untuk

menggantikan kedua sistem lama yang menggunakan angka Romawi karena kedua
sistem tersebut membingungkan, menggunakan satu nama untuk beberapa hal yang
berbeda.
Golongan bisa dianggap sebagai cara yang paling penting dari mengklasifikasi
unsur. Pada beberapa golongan, unsur-unsurnya ada yang sangat mirip sifatnya dan
memiliki kecenderungan sifat yang jelas jika ditelusuri menurun di dalam kolom.
Golongan-golongan ini sering diberi nama umum (tak sistematis) sebagai contoh: logam
alkali, logam alkali tanah, halogen, khalkogen, dan gas mulia. Beberapa golongan
lainnya dalam tabel tidak menampilkan sebanyak persamaan maupun kecenderungan
sifat secara vertikal (sebagai contoh Kelompok 14 dan 15), golongan ini tidak memiliki
nama umum.

Golongan Utama (terdiri dari 8 golongan) :


1 = Alkali (H,Li,Na,K,Rb,Cs,Fr)
2 = Alkali Tanah (Be,Mg,Ca,Sr,Ba,Ra)
3 = Boron (B,Al,Ga,In,Tl)
4 = Karbon ( C,Si,Ge,Sn,Pb)
5 = Nitrogen (N,P,As,Sb,Bi)
6 = Oksigen (O,S,Se,Te,Po)
7 = Halogen (F,Cl,Br,I,At)
8 = Gas Mulia (He,Ne,Ar,Kr,Xe,Rn)

Golongan Transisi (teridir dari 8 golongan)

- Pada golongan 3
AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI BALI (ATRO BALI)

25

Pada

C Pr Nd Pm Sm Eu Gd Tb Dy Ho Er Tm Yb Lu
Pada Periode 7 terdapat unsur-unsur aktinida (transisi luar) yang letaknya menjorok

periode

ada

unsur-unsur

lantanida

(Transisi

dalam)

ke belakang.
Th Pa U Np Pu Am Cm Bk Cf Es Fm Md No Lw
2. Periode
Periode menunjukan jumlah kulit terluar dari unsur tertentu.Tabel Periodik
modern terdiri dari 7 Periode sehingga banyaknya kulit pada unsur maksimal adalah 7
(kulit Q). Walaupun golongan adalah cara yang paling umum untuk mengklasifikasi
unsur, ada beberapa bagian di tabel unsur yang kecenderungan sifatnya secara
horisontal dan kesamaan sifatnya lebih penting dan mencolok daripada kecenderungan
vertikal. Fenomena ini terjadi di blok-d (atau "logam transisi"), dan terutama blok-f,
dimana lantinida dan aktinida menunjukan sifat berurutan yang sangat mencolok.
Periodisitas Sifat Kimia
Nilai utama dari tabel periodik adalah kemampuan untuk memprediksi sifat kimia
dari sebuah unsur berdasarkan lokasi di tabel. Perlu dicatat bahwa sifat kimia berubah
banyak jika bergerak secara vertikal di sepanjang kolom di dalam tabel dibandingkan
secara horizontal sepanjang baris.
Kecenderungan Periodisitas dalam Golongan

Kecenderungan periodisas dari energi ionisasi

AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI BALI (ATRO BALI)

26

Teori struktur atom mekanika kuantum modern menjelaskan kecenderungan


golongan dengan memproposisikan bahwa unsur dalam golongan yang sama memiliki
konfigurasi elektron yang sama dalam kulit terluarnya, yang merupakan faktor
terpenting penyebab sifat kimia yang mirip. Unsur-unsur dalam golongan yang sama
juga menunjukkan pola jari-jari atom, energi ionisasi, dan elektronegativitas. Dari urutan
atas ke bawah dalam golongan, jari-jari atom unsur bertambah besar. Karena lebih
banyak susunan energi yang terisi, elektron valensi terletak lebih jauh dari inti. Dari
urutan atas, setiap unsur memiliki energi ionisasi yang lebih rendah dari unsur
sebelumnya karena lebih mudahnya sebuah elektron terlepas karena elektron
terluarnya yang semakin jauh dari inti. Demikian pula, suatu golongan juga
menampilkan penurunan elektronegativitas dari urutan atas ke bawah karena
peningkatan jarak antara elektron valensi dan inti.

Kecenderungan Periodisasi Periode


Unsur-unsur dalam periode yang sama memiliki kecenderungan dalam jari-jari
atom, energi ionisasi, afinitas elektron dan elektronegativitas. Dari kiri ke kanan, jari-jari
atom biasanya menurun. Hal ini terjadi karena setiap unsur mendapat tambahan proton
dan elektron yang menyebabkan elektron tertarik lebih dekat ke inti. Penurunan jari-jari
atom ini juga menyebabkan meningkatnya energi ionisasi jika bergerak dari urutan kiri
ke kanan. Semakin rapat terikatnya suatu unsur, semakin banyak energi yang
diperlukan untuk melepaskan sebuah elektron. Demikian juga elektronegativitas, yang
meningkat bersamaan dengan energi ionisasi karena tarikan oleh inti pada elektron.
Afinitas elektron juga mempunyai kecenderungan, walau tidak semenyolok pada
sebuah periode. Logam (bagian kiri dari perioda) pada umumnya memiliki afinitas
elektron yang lebih rendah dibandingkan dengan unsur nonmetal (periode sebelah
kanan), dengan pengecualian gas mulia.

AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI BALI (ATRO BALI)

27

Brom

(Br)

Sejarah Brom
Bromin atau Brom ditemukan oleh Balard pada tahun 1826, tapi belum dapat
dipisahkan secara kuantitatif hingga 1860 dan merupakan unsur kimia yang memiliki
simbol Br dengan nomor atom 35 dan nomor massa 80 serta memiliki titik lebur -7 oC
dan titik didih 59oC. Unsur dari deret kimia halogen ini berbentuk cairan berwarna
merah pada suhu kamar dan memiliki berat jenis 3,12 gram/cm 3, dengan kerapatan 3,0
g/cm3 dan volume 23,5 cm3/mol dan jari-jari atom 115 pm serta jari-jari ion 1,82 .
Keelektronegatifan brom mencapai 2,8 skala Pauling dengan energi ionisasi
1140 kJ/mol dan afinitas elektron -325 kJ/mol sehingga memiliki reaktivitas diantara klor
dan yodium. Brom memiliki bilangan oksidasi -1, +1, +3, +5 dan +7 serta mempunyai
entalpi penguapan 14,725 kJ/mol dan entalpi pembentukan 5,286 kJ/mol dan juga
mempunyai bentuk struktur kristal ortorombik.

Sumber
Brom termasuk ke dalam golongan halogen. Diperoleh air garam alamiah dari
sumber mata air di Michigan dan Arkansas. Brom juga diekstrak dari air laut, dengan
kandungan hanya sebesar 82 ppm. Banyak brom yang dihasilkan Amerika Serikat
digunakan dalam produksi etilen dibromida, komponen pembuatan bensin bersenyawa
timbal yang anti-ketukan. Namun karena timbal dalam bensin merusak lingkungan,
berarti hal ini akan mempenngaruhi produksi brom di masa yang akan datang.

Sifat-sifat

AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI BALI (ATRO BALI)

28

Brom adalah satu-satunya unsur cair non logam. Sifatnya berat, mudah
bergerak, mudah menguap pada suhu kamar menjadi uap merah dengan bau yang
sangat tajam, menyerupai klor, dan memiliki efek iritasi pada mata dan tenggorokan.
Dalam bentuk gas, brom bersifat toksik. Brom mudah larut dalam air atau karbon
disulfida, membentuk larutan berwarna merah, tidak sekuat klor tapi lebih kuat dari iod.
Dapat bersenyawa dengan banyak unsur dan memiliki efek pemutih. Ketika brom
tumpah ke kulit, akan menimbulkan rasa yang amat pedih dan itu hanya bisa
disembuhkan dalam jangka waktu yang lama.
Apalagi jika brom dimasukan dalam air bersama khlorin kemudian terkena
sinar matahari secara langsung maka brom akan berubah menjadi karsinogen bromat
yang dapat menyebabkan kanker.

Sifat Kimia
Brom memilki konfigurasi electron : 1s 22s22p63s23p63d104s 24p5
2, 8, 18, 7

atau [Ar]4s23d104p5

Brom termasuk pada golongan utama, yaitu golongan VII A periode ke-4.

Kegunaan
Menilik sifat tersebut, brom digunakan untuk desinfektan, zat tahan api,
senyawa pemurni air, pewarna, obat, pembersih sanitasi, bromida anorganik untuk
fotografi (Perak bromida (AgBr)) dan bromida organik. Kegunaannya yang lain
diantaranya : Natrium bromida (NaBr) sebagai obat penenang saraf, Metil bromida
(CH3Br) sebagai zat pemadam kebakaran, dan Etilen dibromida (C 2H4Br2) ditambahkan
pada bensin untuk mengubah Pb menjadi PbBr 2.

AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI BALI (ATRO BALI)

29

LAMPIRAN

Gambar konfigurasi elektron unsur Vanadium.


Nomor massa = 79,909
P = 35
N = 80-35 = 45
E = 35

2, 8, 18, 7

Bentuk Fisik Brom :

AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI BALI (ATRO BALI)

30

AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI BALI (ATRO BALI)

31