Anda di halaman 1dari 7

BAHAYA PENYAKIT HIV/AIDS

A. PENGERTIAN AIDS
Menurut N. Wira Duarsa, 2005, AIDS (Acquired Immune Defeciency Syndrome) adalah
sindrom dengan gejala penyakit infeksi oportunistik atau kanker tertentu akibat menurunnya
system kekebalan tubuh oleh infeksi HIV (Human Immunodefeciency Virus).
Menurut Susi Adisti, 2007, AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang
dikenal dengan sebutan HIV.
AIDS adalah kumpulan gejala penyakit yang disebabkan karena hilangnya kekebalan
tubuh, system kekebalan tubuh berfungsi melawan kuman atau virus yang merusak kedalam
tubuh. Penderita AIDS diserang berbagai penyakit, karena system kekebalan tubuhnya telah
dirusak oleh virus HIV. (http://www.google.co.id)
B. KAPAN SESEORANG YANG TERINFEKSI HIV MENJADI AIDS
Seseorang yang terinfeksi HIV, yang berarti dalam tubuhnya mengidap HIV disebut
sebagai pengidap HIV positif atau pengidap HIV. Orang yang telah terinfeksi HIV,dalam
beberapa tahun pertama belum menunjukkan gejala apapun sehingga secara fisik ia kelihatan
tidak berbeda dengan orang lain yang sehat. Namun, artinya ia dapat menularkan virus
kepada orang lain. Setelah 7 hingga 10 tahun atau jika kekebalan tubuhnya sudah sangat
melemah karena berbagai infeksi lain, seorang terinfeksi HIV mulai menunjukkan gejalagejala atau tanda- tanda bermacam- macam penyakit yang muncul karena rendahnya daya
tahan tubuh. Pada keadaan ini orang itu disebut sebagai penderita AIDS atau ODHA.
C. CARA PENULARAN HIV/AIDS
Penularan HIV akan terjadi jika ada kontak atau pencampuran dengan cairan tubuh yang
mengandung HIV, yaitu melalui :
1.

Hubungan seksual dengan orang yang mengidap HIV.


Hubungan seksual ini dapat terjadi baik pada yang berjenis kelamin sama (homoseksual)
maupun yang berjenis kelamin tidak sama (heteroseksual). Kemungkinan terjadi
penularan akan lebih besar apabila pada kedua belah pihak mempunyai luka karena IMS
atau Penyakit Menular Seksual.
1

2.

Tranfusi darah dan transplantasi organ yang tercemar oleh HIV.


Tranfusi darah dan transplantasi organ yang tercemar HIV secara langsung akan
menularkan HIV ke dalam system peredaran darah si penerima.

3. Alat atau jarum suntik atau alat tusuk lainnya (akupuntur, tindik, tatto) yang tercemar oleh
HIV. Oleh kerena itu, pemakaian jarum suntik secara bersama oleh para pecandu narkoba
akan mudah menularkan HIV diantara mereka bila salah satu diantaranya adalah seorang
pengidap HIV. Menurut informasi di tahun- tahun terakhir kasus pengidap HIV
meningkat khususnya akibat pengguna jarum suntik bersama oleh para pecandu obat.
4. Ibu pengidap HIV kepada bayinya, terutama pada saat ibu melahirkan jika si bayi
mengalami luka dan terkontak darah ibunya maka terjadilah penularan.
5. Ibu hamil kepada bayi yang dikandungnya.
Perlu juga diketahui bahwa HIV mudah mati diluar tubuh manusia. Oleh karena itu, HIV
tidak dapat ditularkan melalui kontak sosial sehari- hari seperti :
1.

Bersenggolan

2.

Berjabat tangan

3.

Penderita AIDS bersin atau batuk- batuk di depan kita

4.

Sama- sama berenang di kolam renang

5.

Menggunakan WC/ toilet yang sama dengan ODHA

6.

Menggunakan piring makan yang sama dengan pengidap

HIV juga tidak menular melalui gigitan nyamuk atau serangga lainnya.
D. MEREKA YANG MEMPUNYAI RESIKO TINGGI TERTULAR HIV
Orang- orang tertentu memiliki resiko tinggi dalam penularan HIV, artinya orang- orang
itu mempunyai kemungkinan besar terkena HIV atau menularkan HIV kepada orang lain bila
ia sendiri sudah mengidap HIV.
Mereka yang memiliki perilaku berisiko tinggi itu adalah :
1.

Wanita dan laki- laki yang bergonta- ganti pasangan dalam hubungan seksual.

2.

Wanita dan pria pekerja seks komersial (PSK), dan pelanggan mereka serta keluarga atau
pasangan dari pasien.

3.

Orang- orang yang melakukan hubungan seksual secara tidak wajar, seperti hubungan
seks melalui dubur (anal) dan mulut, misalnya pada homoseksual dan biseksual.
2

4.

Penyalahgunaan narkotika menggunakan jarum suntik secara bersama (bergantian).

E. KRONOLOGIS PERJALANAN HIV/AIDS


Secara singkat perjalanan HIV dan AIDS dapat dibagi dalam empat stadium :
1. Stadium Pertama : HIV
Infeksi mulai dari masuknya HIV yang diikuti terjadinya perubahan serologis ketika
antibodi terhadap virus tersebut dari negatif menjadi positif adalah 1-3 bulan, bahkan ada
yang dapat berlangsung sampai 6 bulan. Umumnya pada penyakit- penyakit yang
disebabkan oleh virus, bila hasil tes antibodi positif berarti didalam tubuh terdapat cukup
zat anti yang dapat melawan virus tersebut. Kesimpulan tersebut berbeda pada infeksi
HIV karena adanya zat anti didalam tubuh bukan berarti tubuh dapat melawan infeksi
HIV, tetapi sebaliknya menunjukkan bahwa didalam tubuh tersebut terdapat HIV.
2. Stadium Kedua : Asimptomatik
Asimptomatik berarti bahwa di dalam organ tubuh terdapat HIV tetapi tubuh tidak
menunjukkan gejala- gejala. Keadaan ini dapat berlangsung rata- rata selama 5-10 tahun.
Meskipun begitu, cairan tubuh ODHA yang tampak sehat ini secara potensial sudah dapat
menularkan HIV kepada orang lain.
3. Stadium Ketiga : Pembesaran kelenjar limfe
Fase ini ditandai dengan pembesaran kelenjar limfe secara menetap dan merata
(persistent generalized lymphadepathy) tidak hanya muncul pada satu tempat dan
berlangsung lebih dari 1 bulan.
4. Stadium Keempat : AIDS
Keadaan ini ditandai dengan adanya bermacam- macam penyakit, antara lain : penyakit
konstitusional, penyakit saraf, dan penyakit infeksi sekunder.
F. GEJALA PENGIDAP HIV DAN AIDS
Beberapa hari atau beberapa minggu sesudah terjadi infeksi HIV, seseorang mungkin
akan menjadi sakit dengan gejala- gejala yang mirip dengan gejala flu, yaitu demam, rasa
lemas, lesu, sendi- sendi terasa nyeri, batuk dan nyeri tenggorokan. Gejala- gejala ini hanya
terjadi beberapa hari atau beberapa minggu saja, kemudian hilang dengan sendirinya.
Selanjutnya terjadi tahap dimana sudah mulai terdapat gejala- gejala seperti :
3

1. Demam berkepanjangan
2. Penurunan berat badan (lebih dari 10 % dalam waktu 3 bulan)
3. Kelemahan tubuh yang mengganggu atau menurunkan aktivitas fisik sehari- hari
4. Pembengkakan kelenjar di leher, lipat paha, dan ketiak
5. Diare atau mencret secara terus menerus tanpa sebab yang jelas
6. Batuk atau sesak nafas lebih dari 1 bulan secara terus menerus, dan
7. Kulit gatal dan bercak- bercak merah kebiruan.
Gejala- gajala ini memang tidak khas karena gejala ini dapat terjadi juga pada penyakitpenyakit lain. Namun, gejala- gejala ini sudah menunjukkan adanya kerusakan pada system
kekebalan tubuh. Pada saat kekebalan tubuh pengidap HIV menurun, maka seseorang mudah
diserang penyakit lain. Keadaan ini disebut infeksi oportunistik, maksudnya penyakit yang
disebabkan virus, bakteri, maupun jamur atau parasit (yang bisa juga hidup dalam tubuh
kita), yang bila system kekebalan tubuh baik, kuman ini dapat dikendalikan oleh tubuh. Pada
tahap ini pengidap HIV telah menjadi penderita AIDS dengan gejala :
1. Radang paru
2. Radang saluran pencernaan
3. Radang karena jamur di mulut dan dikerongkongan
4. Kanker kulit
5. TB, dan
6. Gangguan susunan saraf.
Pada umumnya penderita AIDS akan meninggal dunia sekitar 2 tahun setelah gejala AIDS
muncul.
G. DAPATKAH AIDS DISEMBUHKAN ?
Pada dasarnya AIDS tidak dapat disembuhkan, tetapi telah ditemukan obat yang dapat
menghambat perkembangbiakan virus (HIV) sehingga jumlahnya didalam tubuh tidak
bertambah.
Pengobatan yang dibutuhkan seorang ODHA diperlukan tidak hanya untuk
menghambat perkembangan HIV, tetapi juga untuk melawan infeksi sampingan yang
muncul dan untuk memperbaiki fungsi tubuh penderita akibat system kekebalannya yang
sudah rusak.
4

Untuk itu ada beberapa jenis obat yang telah ditemukan yang berfungsi untuk
menghambat perkembangan HIV. Obat- obatan tersebut disebut obat- obatan anti retrovinal,
contohnya :
1. Retrovir (AZT)

6. Epivir (3TC)

2. Asirvid

7. Zerit (D4T)

3. Adovi

8. Invirase Saquinavir)

4. Videx (DD)

9. Norvir (Ritonavir)

5. Hivid (DDC)

10. Crixinvan (Indinavir)

11.

Obat-obatan

tersebut

belum

menjamin

penyembuhan,

tetapi

hanya

memperpanjang hidup penderita untuk beberapa tahun saja. Sampai sekarang belum ada
obat yang dapat membunuh HIV secara total, dan juga belum ditemukan perawatan yang
optimal untuk menyempurnakan kembali sistem kekebalan tubuh.
12.
13. H. PENCEGAHAN PENULARAN HIV
14.

Ada tiga cara pencegahan penularan HIV yaitu :


1. Pencegahan penularan melalui hubungan seksual.
15.

Konsep pencegahan penularan HIV melalui hubungan seksual dikenal

dengan istilah A, B, C dan D.


16.

A = Abstinense = puasa, yaitu tidak melakukan hubungan seksual


sebelum menikah.

17.

= Be faithful = setia kepada pasangan, yaitu jikapun telah

menikah, hanya mengadakan hubungan seksual dengan pasangannya


saja : suami atau istri sendiri.
18.

= using Condom = menggunakan kondom, yaitu bagi orang

tertentu yang mempunyai kebiasaan berganti- ganti pasangan, maka


dianjurkan menggunakan kondom agar tidak tertular atau menulari
orang lain.
19.

= no using Drugs = tidak menggunakan obat- obatan yang

akhirnya dapat membawa ke arah seks bebas dan tidak memakai obat
melalui jarum suntik secara bersama.
20.

= education = memberikan pendidikan kesehatan.

21.
22. 2. Pencegahan penularan melalui darah.
23.

Penularan HIV melalui darah yaitu :


a. Transfusi darah
24. Dalam transfusi darah harus dipastikan bahwa darah yang digunakan
untuk transfusi tidak tercemar HIV. Perlu juga dianjurkan pada seseorang
yang mengidap HIV positif untuk tidak menjadi donor. Begitu pula pada
orang yang mempunyai perilaku berisiko tinggi, misalnya sering
melakukan hubungan seks dengan beranti- ganti pasangan.
b. Penggunaan produk darah dan plasma

25. Sama halnya dengan darah yang digunakan untuk transfusi, terhadap
produk darah dan plasma (cairan darah) harus dipastikan tidak tercemar.
c. Penggunaan alat suntik dan alat lain yang dapat melukai kulit.
26. Penggunaan alat- alat seperti jarum suntik, alat cukur, dan alat tusuk
tindik perlu memperhatikan kesterilannya. Tindakan desinfeksi dengan
pemanasan atau larutan desinfektan merupakan tindakan yang sangat
penting untuk pencegahan HIV.
28.

27.
3. Pencegahan penularan dari ibu ke anak.
29.

Kemungkinan atau resiko terinfeksinya bayi atau janin yang dikandung

oleh seorang ibu yang mengidap HIV cukup besar, resiko tersebut semakin besar
bila seorang ibu telah terkena atau menunjukkan gejala AIDS. Oleh karena itu bila
seorang ibu telah terinfeksi HIV dianjurkan untuk mempertimbangkan kembali
kehamilannya.
30.

Melihat kondisi seperti yang telah disebutkan di atas, yang bisa kita

lakukan untuk pencegahan penyebaran HIV adalah berprilaku yang bertanggung


jawab baik bagi diri kita sendiri maupun pada orang lain, sesuai dengan tuntutan
norma agama, adat istiadat dan budaya kita.
31.