Anda di halaman 1dari 49

BAB I

DASAR DASAR TRIGONOMETRI


i.

SUDUT
Sudut disebut positif apabila sudut tersebut dibentuk searah putaran jarum jam, dan
disebut negative apabila sudut tersebut dibentuk berlawanan dengan putaran jarum
jam.
Bentuk sudut dikatakan lancip apabila sudut tersebut lebih kecil dari sudut sikusiku, dan dikatakan tumpul apabila sudut tersebut lebih besar dari sudut siku-siku.

Sudut positif

sudut negatif

Gambar .1 . Bentuk sudut berdasarkan putaran jarum jam

Sudut siku-siku
= 90o

sudut lancip
90o

Gambar. 2. Bentuk bentuk sudut

sudut tumpul
90o

2. SISTIM DERAJAT/SEKSADESIMAL/DEGREE
Dalam sistem derajat besar sudut dalam lingkaran tersebut satu derajat (1 o),
apabila panjang busurnya adalah satu per tiga ratus enam puluh (1/360) dari
keliling lingkaran.
Jadi satu lingkaran penuh mempunyai sudut 360 o dan keliling lingkarannya
adalah 2r ( r adalah radius / jari-jari )
Sistim derajat disebut juga sistem seksageosimal, dimana pembagian dari
satuan derajat kepada menit ( ) dan sekon ( ) adalah sebaga berikut :
1o = 60 menit ( 60 ) dan
1 menit ( 1 ) = 60 detik ( 60)
Jadi 1o = 3600 detik

d=

1
x2 R
360

r
2

= 3.14159

3. SISTEM GRID/SENTISIMAL (GRADE)


Dalam sistem grade, besar sudut dalam lingkaran disebut satu grid (1g)
apabila panjang busurnya adalah satu per empat ratus (1/400) dari keliling
lingkaran. Jadi satu lingkaran penuh mempunyai sudut 400 grid. Apabila
satu lingkaran dibagi menjadi empat dengan sudut siku-siku, maka besarnya
sudut siku tersebut adalah 100 grid ( 100g ).
Sistem grid ini terbagi atas sentigrid ( c ) dan senti-senti grid ( cc ) atau biasa
juga disebut desimili grid dengan pembagian sebagai berikut :
1g = 100c
1c = 100cc

d=

1
x2 R
400

r
= 3.14159

2r = keliling lingkaran, dan r jari jari lingkaran


2 rad = 400g
1 rad =

400 g
200 g
=
= 63.6620 atau 63g66c20cc
2

1 grid =

rad
200

= 0.015708 rad.

Hubungan antara sistim grid dengan derajat adalah sebagai berikut :


a.

400g = 360o
1g =

360 o
400 g

1c =

54 '
= 32.40
c
100

1cc =

b.

c.

= 0.9o = 54

32 ".40
100

1o =

10 g
9

1 =

10 g
x 1/60 = 0g.018518
9

1 =

10 g
x 1/3600 = 0g.000309
9

= 0.3240

= 1g.1111

Contoh, rubahlah dari derajat ke sistim grid


87o4117 = (

10
10 1
10
1
x87 )g + (
x
x 41 )g + (
x
x17 )g
9
9 60
9 3600

= 96.6667g + 0.75926g + 0.005247g


= 97g.43117

4.SISTEM RADIAN
Besar sudut dikatakan satu radian, bila panjang busurnya sama dengan
radian dibagi jari-jari lingkaran tersebut.

Jadi satu sudut putaran penuh

besar 2 rad. Dimana 2 rad = 360o , maka 1 rad =


Dan 1o =

360 o
= 57o,2958
2

2
rad = 0,017453 rad
360

Contoh :
a.

42o2405 = 42.40139 x

b.

4/5 rad =

2
rad = 0.7400 rad
360

4 360
x
= 45o5011.9
5 2

5.FUNGSI TRIGONOMETRI
Perhatikan gambar dibawah ini :
Sumbu Y

P(X:Y)
Y
r

Sumbu X
X

Kuadran IV

Kuadran I

Kuadran III

Kuadran II

Sumbu X = skala bilangan horizontal = Absis


Sumbu Y = skala bilangan vertikal

= Ordinat

Bidang seperti pada gambar tersebut diatas dibagi dalam 4 bagian, yaitu
Kuadran I, kuadran II, kuadran III dan kuadran IV berurutan mengikuti arah
putaran jarum jam
Ada 6 fungsi trigonometri yang dapat didefinisikan
ordinat ( Y ) data jarak OP (r)
X

1. sin = r

Absis
1

Jarak
Co sec

2. Cos = r
X

Ordinat
1

Jarak
Sec
Absis

3. Tg = Y Ordinat Cotg
r

Jarak

4. Cosec = X Absis Sin


r

Jarak

5. Sec = Y Ordinat Cos

dalam absis ( X ) dan

6. Cotg = X

Rr
X
Y

Kuadran I
+
+
+

Ordinat
1

Absis
Tg

Kuadran II
+
+
-

Kuadran III
+
-

Kuadran IV
+
+

Karena r selalu positip, maka tanda aljabar dari fungsi trigonometri tergantung
dari x dan y, sehingga :
1. Sin =

x
, nilai positif dikuadran I dan II
r

y
, nilai positip di kuadran I dan IV
r

2. Cos =
x

3. Tg = y , nilai positip di kuadran I dan III

6.

SUDUT DALAM POSISI STANDAR


Posisi suatu sudut dikatakan dalam posisi standar apabila titik asal sudutnya
dengan kaki awalnya sejajar dengan sumbu Y positip. Pengertiannya dalam
ilmu ukur tanah, posisi standar demikian disebut Sudut Jurusan, dimana
sudut terbentuk dari kaki awal diputar searah putaran jarum jam menuju kaki
akhir. Perhatikan gambar dibawah ini :

Keterangan :
Titik

= adalah titik dari sistim koordinat

Titik

= adalah titik asal sudut

Titik

= adalah titik pada kaki awal

Titik

= adalah titik pada kaki akhir

Maka awal sejajar sejajar dengan sumbu Y

7. SEGITIGA
Pengertian segitiga disini lebih dititik beratkan kepada pemahaman rumus
sinus dan cosinus tanpa penguraian pembuktian rumusnya :
C

Apabila dua sisi dan satu


sudut atau dua sudut
satu

sisi

diketahui,

unsure-unsur

lainnya

dan
maka
akan

didapat.
Rumus sinus :

a
b
c

sin
sin
sin

Rumus Cosinus :
1. a2 = b2 + c2 2bc cos
2. b2 = a2 + c2 2ac cos
3. c2 = a2 + b2 2ab cos

7. SISTIM KOORDINAT DAN KERANGKA HORIZONTAL


Dalam ilmu ukur tanah, untuk titik titik kerangka dasar mempunyai koordinat
dalam satu sistim koordinat tertentu.

Sistim koordinat tersebut

dapat

berupa :
1. Sistim Koordinat Kartesius, yaitu sistim koordinat dimana koordinat
setiap titiknya dinyatakan oleh besaran absis dan ordinat
2. Sistim Koordinat Geografis / Geodetik, dimana koordinat setiap titiknya
dinyatakan oleh besaran lintang dan busur
3. Sistem Koordinat Proyeksi, yang juga merupakan sistim koordinat sikusiku seperti koordinat UTM (universe transverse medicator)

4. Sistim Koordinat polar,

dimana posisinya dinyatakan dalam bentuk

besaran sudut dan jarak.


Yang akan kita bahas disini adalah sistim koordinat kartesius dan sistim
koordinat polar, dimana keterkaitan kedua sistim ini adalah sepadan dalam
rumus-rumus Ilmu Ukur Tanah. Hal ini disebabkan sistim koordinat kartesius
dan polar biasa menggunakan unsur-unsur titik dalam satu rangkaian yang
tersebar dalam suatu daerah yang tidak luas, dimana permukaan bumi dapat
dianggap datar.
7.1. Hubungan antara kartesius dan Polar
Perhatikan gambar dibawah ini :

X1, Y1 dan X2, Y2 masing-masing adalah koordinat kartesius dari titik 1


dan 2, sedangkan d12 dan adalah koordinat polar
Sin =

X 2 X1
d12

--------

(X2 X1) = d12 . sin

Sehingga X2 = X1 + d12 . sin


Cos =

Y2 Y1
d 12

---------- ( Y2 Y1) = d12 . cos

Sehingga Y2 = Y1 + d12 . cos


Tg =

X 2 X1
Y2 Y1

Untuk jarak d12 =

----------- = Arc Tg

X 2 X1

7.2. Posisi Horizontal suatu titik


Perhatikan gambar berikut ini :

X 2 X1
Y2 Y1

Y2 Y1

Keterangan gambar :
A, B dan C adalah titik-titik pada permukaan bumi
M adalah bidang horizontal yang merupakan sebagian bentuk dari
permukaan lengkungan bumi
Sumbu Y adalah garis yang sejajar garis meridiam
Sumbu X adalah garis tegak lurus Y
XA, YA adalah koordinat di titik A
XB, YB adalah koordinat di titik B
A,B adalah jarak miring = dAB
AB adalah jarak mendatar
7.3. Azimuth, sudut Jurusan dan sudut mendatar
Perhatikan gamba dibawah ini :

Keterangan gambar :
A,B,C adalah titik-titik pada permukaan bumi
M adalah bidang horizontal
AB = sudut jurusan dari titik A ke titik B
BC = Sudut jurusan dari titik B ke titik C

= Sudut mendatar

Selanjutnya perhatikan gambar berikut ini :

Keterangan gambar :
UG = Arah utara geogarfis

UM = Arah utara magnetis


Y = Arah sejajar sumbu Y positip
UM12 = Azimuth magnetis dari titik 1 ke titik 2
UG12 = Azimuth geografis dari titik 1 ke titik 2
12 = Sudut jurusan dari titik 1 ke titik 2
Catatan :
1. Azimuth Magnetis atau azimuth geografis tergantung dari arah utara
mana dimulainya
2. Azimuth Magnetis yaitu apabila arah utara yang digunakan dari
pengukuran dengan theodolite kompas, dimana kompas ini arah
utaranya tergantung kepada medan magnet bumi
3. Azimuth Geografis apabila arah utara yang digunakan hasil dari
pengamatan matahari atau dari pengukuran dengan Giro Theodolit.
Sedangkan arah utara yang dilukiskan sejajar dengan sumbu Y dan dikenal
dengan nama Utara Grid (Grid North) yang merupakan arah utara berlaku
umum didalam suatu wilayah negara.
Sudut Jurusan suatu arah adalah : sudut yang dihitung positip searah
putaran jarum jam dimulai dari sisi sejajat sumbu Y positip menuju sisi
bersangkutan.
Sudut Mendatar adalah sudut yang dibentuk oleh arah sisi awal sampai arah
sisi akhir secara mendatar. Perhatikan gambar berikut ini :

Seperti pada gambar diatas, maka dapat dijelaskan sebagai berikut :


X2 = X1 + d12 sin 12
Y2 = Y1 + d12 cos 12
X3 = X2 + d23 sin 23
Y3 = Y2 + d23 cos 23
Apabila sudut jurusan titik 1 ke titik 2 (12) diketahui maka untuk
mendapatkan sudut jurusan

dari titik 2 ke titik 3 (23)) yang akan

digunakan menghitung koordinat titik 3 adalah sebagai berikut :


23 = 12 + - 180 ----------- atau :
Azimuth akhir = Azimuth awal + sudut mendatar - 180
Apabila sudutnya banyak ( n buah ), maka dapat dibuat rumus sbb :
Azimuth akhir = azimuth awal + - n. 180

7.4. Penentuan Posisi Horizontal


Yang dimaksud dengan penentuan titik/posisi adalah untuk menentukan
koordinat baru dengan cara pengukuran sudut dan jarak sedemikian
rupa terhadap suatu titik yang telah diketahui posisinya.
penentuan titik/posisi dikenal beberapa metode, diantaranya :
1. Metode Polar
2. Metode Polygon
3. Metode perpotongan ke muka
4. Metode perpotongan ke belakang
5. Metode triangulasi
6. Metode trilaterasi, dan lain-lain

Dalam

7.4.1. Metode Polar

Apabila diketahui :
Koordinat titik

: X1 ; Y1

Jarak dari titik 1 ke titik 2 : d12


Sudut jurusan 1 ke 2 adalah : 12
Maka koordinat titik 2 dapat diketahui sebagai berikut :
X2 = X1 + X12 atau X12 = X1 + d12 . sin 12
Y2 = Y1 + Y12 atau Y12 = Y1 + d12 . cos 12
7.4.2. Metode Polygon
Metode poligon merupakan rangkaian dari metode polar yang
merupakan juga rangkaian dari banyak titik, dimana titik satu
dengan titik lainnya dihubungkan melalui pengukuran sudut dan
jarak. Pengertian poligon itu sendiri adalah : penentuan titiktitik di permukaan bumi dengan rangkaian garis lurus yang
menghubungkan titik-titik
Ada beberapa jenis poligon dibagi berdasarkan kepada cara
pengambungan titik-titiknya, yaitu :
Poligon Terbuka

Poligon terbuka

(lepas) ini dapat dibagi berdasarkan

pengikatan pada kedua titik ujungnya (titik awal dan titik


akhirnya) yaitu pengikatan berdasarkan koordinatnya.
Berdasarkan pengikatan ini, poligon terbuka dapat dibagi
menjadi :
4.2.1.1. Titik yang tanpa ikatan
Dimana titik awal dan titik akhirnya merupakan
titik yang berlainan, yang maksudnya adalah
bukan satu titik yang sama.
Perhatikan gambar dibawah ini :

Jenis poligon ini sama sekali tidak satu titikpun


diketahui

koordinat

maupun

azimuthnya.

Sedangkan perhitungan dengan orientasi lokal


yaitu dengan mengumpamakan azimuth awal (12)
yang berimpit dengan sisi 1 ke sisi 2 sebesar
0000

dan

koordinat

dengan

menggunakan

koordinat lokal.
Contoh soal :
Perhatikan gambar pada halaman berikut
Diketahui koordinat titik 1 adalah (X 1;Y1)
Diukur sudut jurusan dari titik 1 ke titik 2 (1-2)

Jarak

dari titik 1 ke titk 2, titik 2 ke titik 3 dan

seterusnya menjadi : d1-2,d2-3,d3-4,dan d4-5


Hitunglah koordinat titik 2, 3, 4 dan titik 5

Penyelesaian :
Untuk menyelesaikan soal diatas maka kita harus
melakukan langka-langka sebagai berikut :
1. Hitung semua sudut jurusan untuk setiap titik,
misalnya :
23 = 12 + 2 - 1800
34 = 23 + 3 - 1800
45 = 34 + 4 - 1800
2. Hitung koordinat titik-titik 2,3,4 dan 5 dengan cara
sebagai berikut :
X2 = X1 + d12 sin 12 dan Y2 = Y1 + d12 cos 12
X3 = X2 + d23 sin 23 dan Y3 = Y2 + d23 cos 23
X4 = X3 + d34 sin 34 dan Y4 = Y3 + d34 cos 34

X5 = X4 + d45 sin 45 dan Y5 = Y4 + d45 cos 45


3. untuk

membuktikan

kebenaran

hasil

hitungan

tersebut maka kita dapat mengecek koordinat


terakhir dengan menggunakan cara dibawar ini :
X5 = X1 + X12 + X23 + X34 + X45
Y5 = Y1 + Y12 + Y23 + Y34 + Y45
4.2.1.2. Salah satu titik ujungnya terikat koordinat
Titik satu mempunyai koordinat yang sebenarnya,
sedang azimuth awalnya diumpamakan sisi 1 ke
sisi 2

sebesar 0000.

mempunyai

koordinat

Walaupun titik satu


sebenarnya,

namun

koordinat titik-titik lainnya tidaklah terletak pada


posisi

yang

sebenarnya.

perhatikan

dibawah ini :

Kesimpulan dari gambar diatas adalah :


-

Tidak ada koreksi sudut

Tidak ada koreksi koordinat

Orientasi lokal

Koordinat lokal (kecuali titik 1)

gambar

4.2.1.3. Salah satu titik ujungnya terikat dengan


azimuth
Berdasarkan azimuth awal yang diketahui, maka
azimuth setiap sisi poligon dapat dihitung untuk
menghitung koordinat titik-titik selanjutnya. ( lihat
gambar berikut ini )

Koordinat yang digunakan adalah lokal, maka


dapat disimpulkan bahwa :
- Koreksi sudut tidak ada
- Koreksi koordinat tidak ada
- Orientasi berdasarkan utara magnet atau utara
geografis
- Koordinat lokal
4.2.1.4. Salah satu titik ujungnya terikat koordinat dan
azimuth
Pada poligon ini, azimuth awal dan koordinat
titik

mempunyai

Berdasarkan

azimuth

data

yang

yang

sebenarnya.

diketahui

dan

koordinat titik 1, maka koordinat titik-titik 2,3,4 dan


seterusnya dapat dihitung.
berikut ini :

Perhatikan gambar

Maka dapat disimpulkan :


-

Tidak ada koreksi sudut

Tidak ada koreksi koordinat

Tipe ini jauh lebih baik dibandingkan dengan


tipe-tipe diatas

4.2.1.5. Kedua titik ujungnya terikat azimuth


Karena azimuth awal (1-2) dan azimuth akhir
(7-6) diketahui, maka jenis poligon ini mempunyai
koreksi sudut datar, yaitu dengan persyaratan
(perhatikan gambar berikut)

akhir = awal + - (n . 180) atau


() (n . 180) = akhir - awal
Jenis koreksi ini dipergunakan apabila azimuth
akhirnya pada titik 6 ke titik 7 (6-7)
Sedangkan apabila azimuth akhirnya pada titik 7
ke titik 6 (7-6), menjadi :
akhir = awal + - (n. 180) + 180
Dengan cara ini, maka dapat disimpulkan :
- Ada koreksi sudut
- Tidak ada koreksi koordinat
- Orientasi betul dan
- Koordinat lokal
4.2.1.6. Satu titik ujungnya terikat azimuth dan titik ujung
yang lain terikat koordinat
Perhatikan gambar dibawah ini :

Azimuth awal (1-2) dan koordinat titik 7 diketahui.


Dari data-data ini apabila dihitung koordinat titiktitik yang lain, juga azimuth sisi-sisi yang lainnya.
Cara perhitungannya bisa saja dari titik 7 sampai
ke titik 1 ( hitungan mundur). Dengan demikian
dapat disimpulkan :
- tidak ada koreksi sudut
- tidak ada koreksi koordinat
- orientasi azimuth benar
- koordinat benar
4.2.1.7. Kedua titik-titik ujungnya terikat koordinat

Tipe poligon ini sama dengan tipe poligon lepas,


karena poligon ini orientasinya lokal, sehingga
letak titik-titiknya tidak yang sebenarnya.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa :
- tidak ada koreksi sudut
- ada koreksi koordinat
- orientasi lokal
- koordinat benar
4.2.1.8. Satu titik ujungnya terikat koordinat dan azimuth,
sedang titik ujung yang lain terikat azimuth

Tipe poligon ini mempunyai koreksi sudut datar


karena diketahuinya azimuth awal dan azimuth
akhir (perhatikan gambar diatas). Dan koordinat
titik 2 sampai dengan titik akhir adalah koordnat
yang sebenarnya, sebab diketahuinya koordinat
titik awal

(titik 1), dengan

demikian

dapat

disimpulkan :
- ada koreksi sudut datar
- tidak ada koreksi koordinat
- orientasinya benar
- koordinatnya benar
4.2.1.9. Salah satu titik ujungnya terikat azimuth dan
koordinat, sedang titik ujung yang lain terikat
koordinat
Pada tipe poligon ini titik awal dan titik akhir
mempunyai koordinat, maka tentu ada koreksinya,
sedangkan koreksi sudutnya tidak ada karena
hanya azimuth awal saja yang diketahui, lihat
gambar dibawah ini :

Tetapi walaupun tipe poligon ini tidak mempunyai


koreksi sudut, namun letak titik-titiknya relatif
mendekati benar. Dari perhitungan koordinatyang
dimulai dari titik 1, harus sama dengan koordinat
titik 7 yang sudah diketahui koordinatnya. Hal ini
dapat disimpulkan bahwa :
-

tidak ada koreksi sudut

ada koreksi koordinat

orientasi benar

koordinat benar

4.2.1.10. Kedua titik-titik ujungnya terikat azimuth dan


koordinat
Dari kesemua tipe poligon lepas, tipe poligon
inilah yang paling baik, karena kedua ujungnya
terikat penuh, baik itu koordinat maupun terikat
azimuth (lihat gambar dibawah ini)
Misalnya ketahui juga koordinat titik 5 seperti
pada contoh soal diatas, maka harus dipenuhi
persamaan sebagai berikut :

45 - 12 = 2 + 3 + 4 ( n. 180) atau
45 - 12 = - ( n. 180)
Dimana :
45 = adalah sudut jurusan akhir
12 = adalah sudut jurusan awal
= Jumlah sudut mendatar
Dan n = jumlah titik sudut mendatar.
X5 X1 = X12 + X23 + X34 + X45 = di sin i
Y5 - Y1 = Y12 + Y23 + Y34 + Y45 = di cos i
Dimana :
di sin i = Jumlah jarak mendatar sepanjang
sumbu X
di cos i = Jumlah jarak mendatar sepanjang
sumbu Y
Karena sudut dan jarak diukur dilapangan, maka
pada

dasarnya

dihinggapi

setiap

faktor-faktor

pengukuran

tersebut

kesalahan,

sehingga

persamaan diatas tidak dapat dipenuhi, maka


perbedaannya dapat ditulis sbb :
f = ( akhir - awal ) - + (n . 180 )
fx = ( Xakhir X awal ) - (dij sin ij)
fy = ( Yakhir Yawal) - (dij cos ij)
Sebelum kita menghitung koordinat titik-titik yang
kita cari, maka terlebih dahulu harus dilakukan
koreksi terhadap sudut mendatar (i) dan jarak
mendatar (di), besaran koreksi tersebut adalah
sebagai berikut :
-

Besaran koreksi tiap-tiap sudut adalah :


1
f
n

Besaran koreksi selisih absis adalah :

di
fx
di
-

Besaran koreksi selisih ordinat adalah :

di
fy
di
Maka besaran sudut absis dan ordinat setelah
dikoreksi adalah :
1

i = i + n f
Xi = Xi +

di
fx
di

Yi = Yi +

di
fy
di

Rumus koreksi diatas dikenal dengan nama


cara koreksi : BOWDITCH
Cara koreksi lain yang dikenal adalah cara
Transit, dimana :
1
f
n

Koreksi setiap sudut ;

Koreksi setiap absis :

Koreksi setiap ordinat :

X ij
X ij

fx

Yij
Yij

fy

Dengan demikian maka urutan pekerjaan untuk


mendapatkan koordinat terhadap poligon terbuka
terikat sempurna adalah sebagai berikut :
1. Jumlahkan semua sudut mendatar
1 + 2 + 3 + ...........+ n = i
2. Hitung koreksi sudut
f = (akhir - awal) - i + (n.180)
3. Masukkan nilai koreksi kepada sudut mendatar
( misalnya dengan cara bowditch)

1 = 1 +

1
f
n

2 = 2 +

1
f
n

3 = 3 +

1
f
n

......................
......................
i = i +

1
f
n

4. Hitung sudut jurusan dengan memakai unsur


sudut mendatar yang sudah dikoreksi
23 = 12 + 1 - 1800
34 = 23 + 2 - 1800
...............................
...............................
jk = ij + i - 1800
jk harus sama dengan akhir yang sudah
diketahui nilainya.
sama,

maka

koreksinya

Apabila ternyata tidak

hitungan

atau

ada

kembali

(ulang)

kekeliruan

dalam

menghitung sudut jurusan


5. Hitung selisih absis dan selisih ordinat
x12 = d12 . sin 12

y12 = d12 . cos 12

x23 = d23 . sin 23

y23 = d23 . cos 23

..............................................................
..............................................................
xij = dij . sin ij

yij = dij . cos ij

6. Hitung besaran koreksi absis dan ordinat


Absis fx = (xakhir xawal) - (dij. Sin ij)
Ordinat fy = (yakhir yawal) - (dij.cos ij)

7. Hitung besaran koreksi absis dan ordinat untuk


masing-masing sisi, misalnya kita pakai cara
bowditch, maka :
Fxij =

di
d
fx ......fx12 = 12 fx
di
d

dstnya

Fyij =

di
d
fy .......fy12 = 12 fy
di
d

dstnya

8. Hitung selisih absis dan ordinat definitif


x12 = x12 + fx12 ......y12 = y12 + fy12
x23 = x23 + fx23 ......y23 = y23 + fy23
..
..
xij = xij + fxij ..............yij = yij + fyij
9. Hitung koordinat
X2 = x1 + x12 .Y2 = y1 + y12
X3 = x2 + x23 .Y3 = y2 + y23

Xj = xi + xij .Yj = yi + yij


10. Hitungan koordinat akhir (x j ; yj) harus sama
dengan koordinat akhir yang telah diketahui.
Apabila ternyata tidak sama berarti ada factor
kesalahan atau kekeliruan dalam perhitungan,
oleh sebab itu harus diperiksa ulang hasil
hitungan satu persatu.
Dalam hal pemakaian rumus untuk menghitung
sudut jurusan agar diperhatikan sudut mendatar
mana yang dipakai. Untuk itu perhatikan gambar
dibawah ini :

Dalam gambar terlihat sudut jurusan 2 diperoleh


pembacaan ke titik 3 pembacaan ke 1 ( muka
belakang)

Sehingga dapat dijabarkan sebagai berikut :


23 = 12 + 2 - 1800
34 = 23 + 3 - 1800
Sebaliknya jika pembacaan 2 = pembacaan ke
titik 1 pembacaan ke 3 ) (belakang muka)
perhatikan gambar berikut ini :

Maka rumus yang digunakan adalah :


23 = 12 - 2 + 1800
34 = 23 - 3 + 1800
ij = ij - j + 1800

Didalam menghitung azimuth dan koordinat setiap


titik, dapat dilakukan (dimulai) dari titik 1 atau dari
titik 7.

Apabila perhitungan dimulai dari titik 1,

maka azimuth dan koordinat harus sama (sesuai)


nantinya dengan azimuth dan koordinat pada titik
7 yang telah diketahui.

Begitu juga sebaliknya

apabila dimulai dari titik 7 dan berakhir ke titik 1.


Jika persyaratan tersebut tidak dipenuhi, berarti
harus ada koreksi sudut datar maupun koreksi
koordinat.

Besar

koreksi

yang

diizinkan

tergantung pada rumus standar dari tingkat


ketelitian. Kesimpulannya :
- Koreksi sudut datar harus ada
- Koreksi koordinat ada
- Orientasi benar

- Koordinat benar
4.2.2. Polygon Tertutup
Pada poligon tertutup ini, dimana titik awal sama dengan titik
akhir, artinya pengukuran bermula dan berakhir pada satu titik
yang sama.

Poligon tertutup ini sering juga disebut poligon

kring atau kring poligon. Ditinjau dari pengikatannya, poligon


tertutup ini terdapat beberapa variasi,diantaranya:
4.2.2.1. Tanpa titik ikat
Azimuth lokal maksdunya disini adalah sudut yang
dibentuk oleh titik 1 dan 2 (1-2) = 0000, dan koordinat
titik 1 adalah (0.000; 0.000). Oleh karena azimuthnya
bukan yang sebenarnya, maka dengan sendirinya letak
titik-titiknyapun tidak pada posisi yang sebenarnya.
Perhatikan gambar berikut :

4.2.2.2. Satu terikat azimuth


Pelaksanaan

perhitungannya

sama

saja

dengan

poligon tertutup pada 4.2.2.1. diatas, tetapi kalau dilihat

posisi relatifnya, maka tipe inilah yang lebih baik kalau


dibandingkan

dengan

tipe

yang

lainnya

karena

azimuthnya diambil yang sebenarnya atau berdasarkan


utara magnet atau berdasarkan utara geografis,
perhatikan gambar berikut :

4.2.2.3. Satu titik terikat koordinat


Posisi atau letak titik-titik pada poligon ini tidak sesuai
dengan yang sebenarnya, karena azimuth awalnya
(1-2) dari sisi 1 ke 2 sebesar : 0000

4.2.2.4. Satu titik terikat azimuth dan koordinat


Dari semua jenis poligon tertutup atau poligon terbuka,
tipe poligon inilah yang terbaik dalam pelaksanaan
pengukuran dilapangan. Untuk poligon tertutup yang
terikat koordinatnya dan azimuth ini, terdapat beberapa
macam lagi bentuknya, diantaranya :
-

satu sisi yang koordinatnya diketahu yaitu titik


1 dan azimuth (1-2) diketahui, perhatikan
gambar beriktu ini:

Dua titik yang mempunyai koordinat yaitu titik


1 dan titik 2 (lihat gambar dihalaman beirkut).
Dari kedua titik yang diketahui koordinatnya,
dapat dihitung azimuth dari 1 ke 2 atau dari 2
ke 1(1-2) atau (2-1) dengan rumus :

1-2 = arc tangen

X 2 X1
Y2 Y1

2-1 = arc tangen

X1 X 2
Y1 Y2

Dua titik yang terpenting terikat koordinat


(gambar dibawah ini)

Yang dimaksud dengan tergantung disini adalah


bahwa satu titik yang diketahu koordinatnya
(misalnya titik 1) tidak ada pengikatan sudut datar
terhadap titik-titik lainnya.

Kesimpulannya

adalah :
- Ada koreksi sudut datar
- Ada koreksi koordinat
- Orientasi betul
- Koordinat betul
Pada titik 2 harus dua kali pengambilan sudut
datarnya yaitu 2 (sudut datar antara titik 1
dengan titik 3) dan 2 (sudut datar datar antara
titik 7 dengan 3).
Pada poligon tertutup ini, sudut pengambilannya
bisa sudut datar bagian dalam dan bisa sudut
datar bagian luar.

Untuk koreksi sudut datar,

digunakan rumus :
- f = (n + 2) . 180 ..............sudut datar luar
- f = (n 2) . 180 ..............sudut datar dalam
- n adalah jumlah titik yang diukur sudut datarnya.
Untuk perhitungan pada poligon ini pada dasarnya
hampir sama dengan poligon terbuka dan rumus
yang digunakan juga sama, hanya saja pada
poligon tertutup koordinat awal berimpit dengan
titik akhir, sehingga xakhir = xawal. Yakhir = yawal dan
akhir = awal,
maka perbedaannya adalah :
f = - i + (n 2) . 1800
fx = - (dij sin ij)
fy = - (dij cos ij)
atau :

Untuk sudut mendatar (i) yang dipakai adalah


sudut dalam, maka :
i + f = (n 2).180
(dij sin ij) + fx = 0
(dij cos ij) + fy = 0
Untuk sudut mendatar (i) adalah sudut luar,
maka :
i + f = (n + 2).180
(dij sin ij) + fx = 0
(dij cos ij) + fy = 0
4.2.3. Poligon bercabang
Poligon ini mempunyai satu atau lebih titik simpul, yaitu
dimana cabang itu terjadi. Cabang-cabang ini biasanya
terbuka, akan tetapi tentu saja cabang itu dapat saja
menutup kepada cabang yang lain. Apabila hal ini terjadi
maka poligon itu sebetulnya adalah kombinasi antara
poligon terbuka (lepas), tertutup dan bercabang.
Bila kita masukkan unsur pengikatan azimuthnya dan
pengikatan koordinat, tentu akan terjadi lagi variasivariasi berdasarkan pengikatan itu.
Titik H adalah titik bantu, yang makin jauh letaknya maka
semakin baik. Apabila titik H tidak ada, maka dipakai
saja salah satu sisi yang terpanjang pada S ( lihat
gambar pada halaman beriktu. Pada tiap cabang cukup
satu titik saja yang diketahui koordinatnya, asalkan
azimuth (sudut jurusan) diketahui juga.
Poligon cabang I, II dan III dihitung sudut jurusan dan
koordinat, berdasarkan titik P, Q,A,B,M dan N, masingmasing poligon berakhir pada sisi atau jurusan SH

7.4.3. Metode Perpotongan ke Muka


Perhatikan gambar dibawah ini :

Metode ini dipakai untuk menghitung koordinat suatu titik P yang


tidak dapat diukur secara poligon dan titik A dan B yang dikethaui
koordinatnya. Data yang diketahui adalah koordinat titik A dan
titik B, dan yang diukur dilapangan adalah sudut A dan B dan
yang dicari adalah koordinat P
Penyelesaian :
1. Hitung jarak AB (dAB) dengan menggunakan rumus
Rumus dAB =

( xB x A ) ( y B y A )

2. Hitung jarak AP dan BP dengan menggunakan rumus sinus

d AB
d AP
d BP

sin sin B sin A

Dan dAP =

dimana = 1800 ( A + B )

sin B
d AB ,
sin

dBP =

sin A
d AB
sin

3. Hitung sudut jurusan AB, AP, BP


xB x A

AB = arc tgn y y
B
A
AP = AB - A
BP = BA + B = AB + 1800 + B
4. Hitung koordinat titik P, yaitu :

XP = xA + dAP . sin AP = xB + dBP . sin BP


YP = ya + dAP . cos AP = yB + dBP . cos BP
7.4.4. Metode Perpotongan ke Belakang
Prinsip dan metode perpotongan ke belakang adalah pengukuran
sudut mendatar dilakukan dari titik yang dicari koordinatnya ke
titik yang telah diketahui koordinatnya (minimal diketahui 3 titik
yang diketahui koordinatnya)

Ada beberapa masalah untuk memecahkan masalah ini,


diantaranya yang cukup dikenal adalah cara Collins dan cara
Cassini
1. Cara Collins
Untuk mengetahui pemecahan masalah dengan cara collins,
maka sebaiknya perhatikan gambar dibawah ini :

Diketahui : koordinat A (xA:yA); B (xB:yB); C (xC;yC)


Diukur sudut mendatar dan
Dicari : koordinat titik P
Penyelesaian :
Untuk menyelesaikan masalah ini collins memakai bantuan
lingkaran yang melalui titik A,B dan titk P. Perpototngan garis
CP terhadap lingkaran

adalah titik S, dimana titik S

dinamakan titik Bantu Collins


APB = ASB =
BPS = BAS =
BAP = BSC =

ABS = 1800 ( + )
Dengan data-data diatas, kita hitung koordinat titik Bantu
Collins (S). Dalam ABS
Hitung dAS =

sin 180 0
sin

AB

AS = AB - dan untuk AB = arc tgn

xB x A
yB y A

Jadi koordinat S adalah :

Xs = xA + dAS . sin AS
YS = yA + dAS . cos AS
AP = AB - dan = SB - SC
xB xS

SB = arc tgn y y
B
S
Dalam ABP, maka jarak dAP

xC x S

SC = arc tgn y y
C
S

sin 180 0
. d AP
=
sin

Koordinat titik P dapat dihitung menjadi :

XP = xA + dAP . sin AP
YP = yA + dAP . cos AP
2. Cara Cassini
Perhatikan gambar berikut ini :

Titik Q dan R adalah titik bantu cassini.


Pemecahan cara cassini mempergunakan dua buah lingkaran
yang melalui ABP dan BCP dengan pusat lingkaran
masing-masing adalah M dan N. Garis lurus BM memotong
lingkaran di titik Q. Garis lurus BN memotong lingkaran di titik
R, karena garis BQ dan BR melalui titik tengah lingkaran,
maka sudut BAQ = sudut BPQ = sudut BCR= sudut BPR =
900. Akibat dari itu garis QP dan PR merupakan garis lurus
1 = 900 - , 2 = 900 - , cari koordinat titik Q dan R
AQ = AB 900 dan

d AQ

CR = CB + 900

d AB
sin 180 0 90 0 1

d CR
d BC

0
sin 2 sin 180 2 90 0

sin 1

DaQ didapat dan juga dCR , yaitu :

XQ = xA + dAQ . sin AQ

XR = xC + dCR . sin CR

YQ = yA + dAQ / cos

yR = yC + dCR . cos CR

Untuk menghitung koordinat titik P dipakai cara seperti pada


gambar dibawah ini

YQ yB = (yQ yP) (yB yP)


= (xQ xP) . cotg QR (xB xP) . cotg (AR + 900)
= (xQ xP) . cotg QR + (xB xP) . tgn QR
Apabila kita andaikan tgn QR =
yQ yB = (yQ yP) .
=
7.4.5. Metode Triangulasi
7.4.6. Metode Trilaterasi

x R xQ
y R yQ

1
+ (yB yP) . n
n

n , maka

Soal : 1
CONTOH POLIGON TERBUKA TERIKAT
Perhatikan gambar hasil pengukuran dibawah ini :

D
1

Diketahui :
1.Koordinat titik A ( 100 ; 200 )
B ( 150 ; 100 )
C ( 366 ; 384 )
D ( 251,5 ; 417 )
2. Jarak

dB-1 = 127,56

Jarak

d1-2 = 88.09

Jarak

d2-3 = 174.45

Jarak

d3-C = 100.39
D = 490.49

3. Sudut mendatar (), diantaranya :


A-1 = 62o5944
B-2 = 259o4107
1-3 = 55o0533
2-C = 250o1429
3-P = 44o3714
Ditanyakan :

Hitunglah koordinat titik 1, 2 dan titik 3


Penyelesaian :
1. Menghitung Azimuth awal da Azimuth akhir
Hitung Azimuth awal (AB) dan Azimuth akhir (CD) yaitu dengan menggunakan
rumus yaitu :
AB = arc tang

XB XA
YB Y A

sehingga didapat AB = arc tang

50
100

sehingga didapat CD = arc tang

114 .5
33

AB = 153o2606
CD = arc tang

XD XC
YD YC

CD = 286o0438
Jadi azimuth yang digunakan adalah :
CD - AB = 286o0438 - 153o2606 = 132o3832
2. Menghitung jumlah sudut lurus, yaitu ;
A-1 = 62o5944
B-2 = 259o4107
1-3 = 55o0533
3-C = 250o1429
C-D = 44o3714
= 672o3807
3. Menghitung Koreksi sudut ( f )
(Azimuth akhir Azimuth awal) = ( - ( n . 180 ) + f
CD - AB = 672o3807 ( 5 x 180 ) + f
132o3832 = (672o3807 900) + f
f = 227o2153 + 132o3832

f = 360o025 - 360o = 0o025

4. Menghitung kembali sudut jurusan dengan menambahkan hasil koreksi


A-1 = 62o5944 + 0o025

= 62o5949

1-2 = 259o4107 + 0o025

= 259o4112

1-3 = 55o0533 + 0o025

= 55o0538

3-C = 250o1429 + 0o025 = 250o1434


C-D = 44o3714 + 0o025 = 44o3719
672o3832
Pembuktian :
(Azimuth akhir Azimuth awal) = (hasil koreksi - ( n . 180 ) + f
CD - AB = 672o3832 ( 5 x 180 ) + f
132o3832 = (672o3832 900) + f
132o3832 = (- 227o2128 + 360o) + f
132o3832 = 132o3832 + f
Jadi f = 0 ( Terbukti )
5. Menghitung nilai azimuth tiap-tiap patok
B-1 = AB + A-1 - 180o
153o2606 + 62o5949 180o = 36o2555
1-2 = B-1 + 1-2 - 180o
36o2555 + 259o4112 180o = 116o0707
2-3 = 1-2 + 2-3 - 180o
116o0707 + 55o0538 180o = 351o1245
3-C = 2-3 + 3-C - 180o
351o1245 + 250o1434 180o = 421o2719
421o2719 360o

= 61o2719

C-D = 3-C + C-D - 180o


61o2719 + 44o3719 180o = -73o5522
-73o5522 + 360o = 286o0438 (terbukti)

6. Menghitung Absis (X) dan Ordinat (Y)

Menghitung Absis
XB-1 = dB-1 sin B-1
= 127,56 sin ( 36o2555 )

= 75.754

X1-2 = d1-2 sin 1-2


= 88.09 sin (116o0707)

= 79.095

X2-3 = d2-3 sin 2-3


= 174.45 sin ( 351o1245 )

= -26.651

X3-C = d3-C sin 3-C


= 100.39 sin ( 61o2719 )
d sin

= 88.187
= 216.385

Menghitung Ordinat
YB-1 = dB-1 cos B-1
= 127,56 cos ( 36o2555 )

= 102.630

Y1-2 = d1-2 cos 1-2


= 88.09 cos (116o0707)

= -38.780

Y2-3 = d2-3 cos 2-3


= 174.45 cos ( 351o1245 )

= 172.402

Y3-C = d3-C cos 3-C


= 100.39 cos ( 61o2719 )

= 47.971

d cos = 284.223

7. Menghitung Koreksi Absis (fX) dan Koreksi Ordinat (fY)


Koreksi Absis ( fX)
Rumus = Xakhir Xawal = d sin + fX

Yang diambil adalah koordinat titik C, sehingga :


XC XB = d sin + fX
366 150 = 216.385 + fX
216 = 216.385 + fX --------------- fX = 216 216.385 -----------fX = - 0.385
Hasil koreksi ini didistribusikan ke masing-masing titik dengan menggunakan cara
BOWDITCH yaitu : fX =

d
x fX
D

Sehingga diperoleh koreksi untuk tiap titik adalah :


fXB-1 =

127.56
x( 0.385)
490.49

= - 0.100

fXB-1 =

88.09
x( 0.385)
490.49

= - 0.069

fXB-1 =

174.45
x( 0.385)
490.49

= - 0.137

fXB-1 =

100.39
x( 0.385)
490.49

= - 0.079

fX

= -0.385

Maka nilai Absis setelah koreksi adalah :


XB-1 = 75.754 - 0.100

= 75.654

X1-2 = 79.095 0.069

= 79.026

X2-3 = - 26.651 - 0.137

= -26.788

X3-C = 88.187 - 0.079

= 88.108

Koreksi Ordinat ( fY)


Rumus = Yakhir Yawal = d cos + fY
Yang diambil adalah koordinat titik C, sehingga :
YC YB = d cos + fY
384 100 = 284.223 + fY

284 = 284.223 + fX --------------- fY = 284 284.223 -----------fY = - 0.223


Hasil koreksi ini didistribusikan ke masing-masing titik dengan menggunakan cara
BOWDITCH yaitu : fY =

d
x fY
D

Sehingga diperoleh koreksi untuk tiap titik adalah :


fYB-1 =

127.56
x( 0.223)
490.49

= - 0.058

fYB-1 =

88.09
x( 0.223)
490.49

= - 0.040

fYB-1 =

174.45
x( 0.223)
490.49

= - 0.079

fYB-1 =

100.39
x( 0.223)
490.49

= - 0.046

fY

= -0.223

Maka nilai Ordinat setelah koreksi adalah :


YB-1 = 102.630 0.058

= 102.572

Y1-2 = -38.780 0.040

= -38.820

Y2-3 = 172.402 0.079

= 172.323

Y3-C = 47.971 0.046

= 47.925

8. Menghitung Koordinat masing-masing titik 1,2 dan 3


Koordinat X
Rumus :

Xn+1 = Xn + Xn-1
X1 = XB + XB-1 ---------------- X1 = 150 + 75.654 = 225.654
X2 = X1 + X1-2 ----------------- X2 = 225.654 + 79.026 = 304.680
X3 = X2 + X2-3 ----------------- X3 =304.680 + (-26.788) = 277.892
XC = X3 + X3-C ---------------- XC = 277.892 + 88.108 = 366.00

Koordinat Y
Rumus : :

Yn+1 = Yn + Yn-1
Y1 = YB + YB-1 ---------------- Y1 = 100 + 102.572 = 202.572

Y2 = Y1 + Y1-2 ----------------- Y2 = 202.572 +(-38.820) = 163.752


Y3 = Y3 + Y2-3 ----------------- Y3 =163.752 + 172.323 = 336.075
YC = Y3 + Y3-C ---------------- YC = 336.075 + 47.925 = 384.00
Jadi Koordinat masing-masing titik adalah
Tititk 1 (225.654 ; 202.572)
Titik 2 (304.680 ; 163.752 )
Titik 3 (277.892 ; 336.075 )
9. Perhatikan gambarnya dibawah ini :