Anda di halaman 1dari 14

SATUAN ACARA PENYULUHAN

PASIEN CKD YANG DILAKUKAN HEMODIALISA


DENGAN KOMPLIKASI TUBERCULOSIS (TBC)
Untuk Memenuhi Tugas Profesi Ners Departemen Medikal
Ruang Hemodialisa RSUD dr. Saiful Anwar Malang

Oleh:
Dini Widya A.
NIM. 105070200111006
Fitri Ayuning U.
NIM. 105070200111039
Marifatul Kisabana
NIM. 105070201111004
Ana Istiqomah
NIM. 105070207111003
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014

SATUAN ACARA PENYULUHAN


Topik
Sasaran
Tempat Kegiatan
Hari/ Tanggal
Alokasi Waktu
Pertemuan ke
Penyuluh

: Pasien CKD yang Dilakukan Hemodialisa dengan


Komplikasi Tuberculosis (TBC)
: Pasien dan Keluarga Pasien
: Ruang Hemodialisa, RSUD dr. Saiful Anwar Malang
: 12 Juli 2014
: 30 menit
:1
: 1. Dini Widya A.
2. Fitri Ayuning U.
3. Marifatul Kisabana
4. Ana Istiqomah

A. LATAR BELAKANG
Penyakit tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi yang masih
menjadi masalah kesehatan masyarakat. Di Indonesia maupun diberbagai
belahan dunia. Penyakit tuberculosis merupakan penyakit menular yang
kejadiannya paling tinggi dijumpai di India sebanyak 1.5 juta orang, urutan
kedua dijumpai di Cina yang mencapai 2 juta orang dan Indonesia
menduduki urutan ketiga dengan penderita 583.000 orang.
Penyakit tuberculosis biasanya menyerang pada penderita tuberkulosis
dengan ekonomi lemah. Obat tuberkulosis harus diminum oleh penderita
secara rutin

selama enam bulan berturut-turut tanpa henti. Untuk

kedisiplinan pasien dalam menjalankan pengobatan juga perlu diawasi oleh


anggota keluarga terdekat yang tinggal serumah, yang setiap saat dapat
mengingatkan penderita untuk minum obat. Apabila pengobatan terputus
tidak sampai enam bulan, penderita sewaktu-waktu akan kambuh kembali
penyakitnya

dan

kuman

tuberkulosis

menjadi

resisten

sehingga

membutuhkan biaya besar untuk pengobatannya.


B. TUJUAN INSTRUKSIONAL
1.

Tujuan Instruksional Umum :


Setelah mengikuti penyuluhan pasien dapat menjelaskan kembali
tentang pasien CKD yang dilakukan hemodialisa dengan komplikasi

tuberculosis.
2. Tujuan Instruksional Khusus :
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan dari perawat, pasien mampu:
a. Memahami pengertian tuberculosis (TBC)
b. Memahami faktor risiko tuberculosis (TBC)
c. Memahami tanda dan gejala tuberculosis (TBC)
d. Memahami pencegahan tuberculosis (TBC)
e. Memahami cara penularan tuberculosis (TBC)

f. Memahami cara dan etika batuk efektif


g. Memahami langkah-langkah penggunaan masker N 95
C. SUB POKOK BAHASAN
Adapun sub pokok bahasan yang akan dibahas pada kegiatan
penyuluhan pendidikan kesehatan, antara lain :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Pengertian Tuberculosis (TBC)


Faktor Risiko Tuberculosis (TBC)
Tanda Dan Gejala Tuberculosis (TBC)
Pencegahan Tuberculosis (TBC)
Penularan Tuberculosis (TBC)
Cara dan etika batuk efektif
Langkah-langkah penggunaan masker N 95

D. RENCANA KEGIATAN
1. Ceramah, tanya jawab, dan diskusi
2. Media dan alat bantu
a. LCD
b. Power point
2. Waktu dan tempat
a. Waktu
: Sabtu, 12 Juli 2014
b. Pukul
: 10.00 10.30 WIB (1x30 menit)
c. Tempat
: Ruang Hemodialisa, RSSA Malang
3. Materi
: Pasien CKD yang Dilakukan Hemodialisa Hemodialisa
dengan Komplikasi Tuberculosis (TBC)
4. Peserta
: Pasien dan Keluarga Pasien
5. Kegiatan Belajar Mengajar : (lihat tabel 1)
6. Materi
(terlampir)
Tabel 1. Kegiatan Belajar Mengajar
Tahap
Pendahuluan
3 menit

Kegiatan Mengajar
1.

2.

Mengucapkan

Kegiatan Peserta
1.

Didik
Menjawab salam,

salam, membaca

berdoa, dan

doa, dan

mendengarkan

memperkenalkan diri

penyaji saat

Menjelaskan
maksud dan tujuan
pemberian pendidikan
kesehatan
Membuat kontrak
waktu dengan peserta

Media

Ceramah

Ceramah

Ceramah

perkenalan
2. Memperhatikan
dengan seksama
terkait apa yang
disampaikan
penyaji
3. Mendengarkan,

3.

Metode

menyepakati
kontrak waktu

Penjelasan
Topik
15 menit

1.

Menjelask

1. Mendengarkan

Ceramah

penjelasan penyaji

an materi pendidikan

Power
point

kesehatan:
Materi 1 :
a. Pengertian
Tuberculosis (TBC)
b. Faktor Risiko
Tuberculosis (TBC)
c. Tanda Dan Gejala
Tuberculosis (TBC)
d. Pencegahan
Tuberculosis (TBC)
e. Penularan
Tuberculosis (TBC)
f. Cara dan etika batuk

2. Mengajukan
pertanyaan dan

efektif
g. Langkah Penggunaan
2.

melakukan diskusi

Diskusi
dan tanya
jawab

Power
point

Masker N 95
Memberik
an kesempatan
seluruh peserta untuk
bertanya di akhir

Penutup
7 menit

penjelasan
1. Meminta peserta

1.

Menjelaska Tanya

untuk me-review

n kembali materi

materi penyuluhan

yang telah

yang telah

disampaikan oleh

disampaikan oleh

penyaji

penyaji
2. Mengevaluasi tingkat

2.

Menjawab

Ceramah

memberikan
3.

Menyimak

kesimpulan penyaji
Ceramah

pendidikan kesehatan
disampaikan
4. Penutupan dengan

jawab

penyaji

disampaikan dengan

yang telah

Tanya

diberikan oleh

terhadap materi yang

pertanyaan
3. Meyimpulkan materi

jawab

pertanyaan yang

pemahaman peserta

4.

Mendengar
kan penutupan
yang disampaikan

salam dan doa

oleh penyaji, serta


menjawab salam

Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. Adanya koordinasi dan kesepakatan dengan pihak tenaga kesehatan
terkait perijinan tempat dan waktu pemberian pendidikan kesehatan
kepada peserta.
b. Adanya persiapan yang baik terkait materi, sarana, dan prasarana
yang akan digunakan.
c. Adanya publikasi dan informasi yang disampaikan kepada peserta
tentang materi pendidikan kesehatan yang akan diajarkan.
2. Evaluasi Proses
a. Semua peserta mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir.
b. Peserta antusias dan aktif mengikuti kegiatan pendidikan kesehatan.
c. Peserta memberikan respon atau umpan balik berupa pertanyaan.
3. Evaluasi Hasil:
a. 75% dari seluruh peserta dapat menjelaskan kembali materi dan atau
menjawab pertanyaan dengan baik.

Lampiran Materi Penyuluhan


PASIEN CKD YANG DILAKUKAN HEMODIALISA
DENGAN KOMPLIKASI TUBERCULOSIS
2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.1 Definisi Tuberculosis (TBC)
Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang
jaringan paru, yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis.
Penularan penyakit ini melalui perantaraan ludah atau dahak penderita yang
mengandung basil tuberkulosis paru. Pada waktu penderita batuk butir-butir
air ludah beterbangan diudara dan terhisap oleh orang yang sehat dan
masuk kedalam parunya yang kemudian menyebabkan penyakit tuberkulosis
paru (Smeltzer & Bare, 2002).
Apabila seseorang sudah terpapar dengan bakteri penyebab tuberkulosis
akan berakibat buruk seperti menurunkan daya kerja atau produktivitas kerja,
menularkan kepada orang lain terutama pada keluarga yang bertempat
tinggal serumah, dan dapat menyebabkan kematian (Smeltzer & Bare, 2002).
2.1.2 Faktor Risiko Tuberculosis (TBC)
Untuk terpapar penyakit TBC pada seseorang dipengaruhi oleh beberapa
faktor antara lain :
1. Faktor Sosial Ekonomi.
Disini sangat erat dengan keadaan rumah, kepadatan hunian,
lingkungan perumahan, lingkungan dan sanitasi tempat bekerja yang
buruk dapat memudahkan penularan TBC (Smith, 2004).
2. Status Gizi.
Keadaan malnutrisi atau kekurangan kalori, protein, vitamin, zat besi
dan lain-lain, akan mempengaruhi daya tahan tubuh seseorang sehingga
rentan terhadap penyakit termasuk TBC. Keadaan ini merupakan faktor
penting yang berpengaruh baik pada orang dewasa maupun anak-anak
(Smith, 2004).
3. Umur.
Risiko mendapatkan tuberkolusis paru tinggi pada awalnya, kemudian
menurun karena diatas usia 2 tahun hingga dewasa memiliki daya tahan
terhadap tuberkolusis dengan baik. Pada usia lanjut lebih dari 55 tahun
sistem imunologis seseorang menurun, sehingga sangat rentan terhadap
berbagai penyakit, termasuk penyakit TBC (Smith, 2004).
4. Jenis Kelamin.
Penyakit TBC cenderung lebih tinggi pada jenis kelamin laki-laki
dibandingkan

perempuan,

karena pada

laki-laku

sebagian

besar

mempunyai kebiasaan merokok dan minum alkohol sehingga dapat

menurunkan sistem pertahanan tubuh, sehingga lebih mudah terpapar


dengan penyakit TBC (Smith, 2004).
5. Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang

akan

mempengaruhi

terhadap

pengetahuan seseorang diantaranya mengenai rumah yang memenuhi


syarat kesehatan dan pengetahuan penyakit TBC, sehingga dengan
pengetahuan yang cukup maka seseorang akan mencoba untuk
mempunyai perilaku hidup bersin dan sehat (Smith, 2004).
6. Pekerjaan
Jenis pekerjaan menentukan faktor risiko apa yang harus dihadapi
setiap individu. Bila pekerja bekerja di lingkungan yang berdebu paparan
partikel debu di daerah terpapar akan mempengaruhi terjadinya
gangguan pada saluran pernafasan, sehingga dapat meningkatkan kasus
pada penyakit saluran pernafasan dan umumnya TBC (Smith, 2004).
7. Kebiasaan Merokok
Merokok merupakan penyebab utama penyakit paru-paru yang
bersifat kronis dan obstruktif, misalnya bronchitis dan empisema. Merokok
juga terkait dengan influenza dan radang paru-paru lainnya. Pada
penderita asma, merokok akan memperparah gejala asma sebab asap
rokok akan lebih menyempitkan saluran pernafasan. Efek merugikan
tersebut mencakup meningkatnya kerentanan terhadap batuk kronis,
produksi dahak dan serak (Smith, 2004).
2.1.3 Tanda dan Gejala Tuberculosis (TBC)
Tanda dan gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan
gejala khusus yang timbul sesuai dengan organ yang terlibat. Adapun tanda
dan gejala TBC menurut (Corwin, 2001) antara lain:
a. Gejala Umum
1) Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya
dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang
serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.
2) Penurunan nafsu makan dan berat badan.
3) Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan
darah).
4) Perasaan tidak enak (malaise), lemah.
b. Gejala khusus
1) Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi
sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru)
akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan
menimbulkan suara "mengi", suara nafas melemah yang disertai
sesak.

2) Kalau ada cairan dirongga pleura(pembungkus paru-paru), dapat


disertai dengan keluhan sakit dada.
3) Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang
yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada
kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.
4) Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan
disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah
demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.
2.1.4

Pencegahan Tuberculosis (TBC)


Adapun pencegahan penyakit TBC menurut (Himawan, 2005), antara lain:
a. Menghindari kontak dengan orang yang terinfeksi basil tuberkulosis
b. Mempertahankan status kesehatan dengan asupan nutrisi adekuat
c. Minum susu yang telah dilakukan pasteurisasi,
d. Isolasi jika pada analisa sputum terdapat bakteri hingga dilakukan
pengobatan
e. Pemberian imunisasi BCG untuk meningkatkan daya tahan tubuh
f.

terhadap infeksi oleh basil tuberkulosis virulen


Untuk penderita dapat dilakukan dengan menutup mulut sewaktu batuk

dan membuang dahak tidak disembarangan tempat


g. Untuk masyarakat dapat dilakukan dengan meningkatkan dengan
terhadap bayi harus diberikan vaksinasi BCG.
h. Untuk petugas kesehatan dilakukan dengan memberikan penyuluhan
tentang penyakit TBC yang antara lain meliputi gejala bahaya dan akibat
i.

yang ditimbulkannya.
Desinfeksi, cuci tangan dan tata rumah tangga kebersihan yang ketat,
perlu perhatian khusus terhadap muntahan dan ludah (piring, tempat

j.

tidur, pakaian), ventilasi rumah dan sinar matahari yang cukup.


Penderita dengan TBC aktif perlu pengobatan yang tepat, obat-obat
kombinasi yang telah ditetapkan oleh dokter diminum dengan tekun dan
teratur, waktu yang lama (6 sampai 12 bulan)

2.1.5

Penularan Tuberculosis (TBC)


Sumber penularan menurut Smeltzer & Bare (2002) penderita TBC melalui :
a. Pernapasan / Udara
Percikan dahak yang keluar bila penderita batuk atau bersin tanpa
menutup mulut atau hidung dan terhirup oleh orang lain maka orang
tersebut dapat terinfeksi, tetapi tidak semua orang yang menghirup akan
tertular penyakit TBC, pada orang yang sehat, kuman tersebut biasanya
menjadi tidak aktif dan orang itu tetap sehat. TBC juga tidak ditularkan
melalui peralatan makan, tempat tidur, berjabat tangan, dll. Bila penderita
sudah minum obat 1-2 minggu kuman menjadi lemah sehingga

virulensinya (keganasannya) sudah menurun dan kemungkinan untuk


menular semakin sedikit.
b. Daya Tahan Tubuh
Kondisi fisik yang lemah seperti kekurangan gizi, terkena penyakit
tertentu, pecandu obat, pengguna horman steroid akan mudah tertular
kuman TBC.
c. Kontak
Makin erat kontak dalam waktu lama makan akan semakin besar resiko
tertular.
d. Kondisi Lingkungan
TBC adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman mycobacterium
tuberculosis yang penyebarannya dapat melalui udara sehingga kondisi
lingkungan yang buruk merupakan salah satu faktor yang dapat
mempercepat penularan TBC, selain itu disebabkan pula oleh kondisi
sosio ekonomi, kepadatan jumlah penduduk serta kondisi gizi yang buruk.
2.1.6

Cara Melakukan Batu Efektif


a. Pengertian Batuk Efektif
Batuk efektif adalah suatu metode batuk dengan benar, dimana klien
dapat menghemat energi sehingga tidak mudah lelah mengeluarkan dahak
secara maksimal. Batuk merupakan gerakan refleks yang bersifat reaktif
terhadap masuknya benda asing dalam saluran pernapasan. Gerakan ini
terjadi atau dilakukan tubuh sebagai mekanisme alamiah terutama untuk
melindungi paru paru (Rab, 2010).
b.

Latihan Batuk Efektif


Latihan batuk efektif sangat diperlukan bagi klien dengan penyakit

tuberculosis (TBC) untuk dapat mengantisipasi adanya penularan penyakit


melalui sputum klien secara droplet. Adapun cara melakukan batuk efektif
menurut (Rab, 2010) adalah sebagai berikut :
1) Pasien diinstruksikan untuk melakukan nafas dalam sebanyak 3-5 kali
2)

terlebih dahulu.
Kemudian instruksikan untuk segera melakukan batuk spontan, pastikan
rongga pernafasan terbuka dan tidak hanya batuk dengan mengadalkan

3)

c.

kekuatan tenggorokan saja karena bisa terjadi luka pada tenggorokan.


Ulangi lagi sesuai kebutuhan.

Penerapan Etika Batuk


Etika batuk pada pasien TBC bertujuan untuk mengurangi penularan.
Pasien yang batuk diinstruksikan untuk memalingkan kepala dan

menutup mulut atau hidung dengan tisu. Kalau tidak memiliki tisu
maka mulut dan hidung ditutup dengan tangan atau pangkal lengan.
Sesudah batuk, tangan dibersihkan dengan tisu, dan tisu dibuang
pada tempat sampah yang khusus disediakan untuk ini.

Gambar Masker N 95 untuk Penderita TBC


d.

Langkah-langkah Penggunaan
1. Langkah 1
Genggamlah respirator partikulat dengan satu tangan, posisikan sisi
depan bagian hidung pada ujung-ujung jari, biarkan tali pengikat
respirator pastikulat menjuntai bebas di bawah tangan anda.

2. Langkah 2
Posisikan respirator partikulat di bawah dagu anda dan sisi untuk
hidung berada di atas.

3. Langkah 3
Tariklah tali pengikat respirator partikulat yang atas dan posisikan tali
agak tinggi di belakang kepala anda di atas telinga. Tariklah tali
pengikat respirator partikutat yang bawah dan posisikan tali di bawah.

4. Langkah 4
Letakkan jari-jari kedua tangan anda di atas bagian hidung yang
terbuat dari lubang. Tekan sisi tersebut (gunakan dua jari masingmasing tangan) mengikuti bentuk hidung anda. Jangan menekan
respirator partikulat dengan satu tangan karena dapat mengakibatkan
respirator partikulat bekerja kurang efektif.

5. Langkah 5
Tutup bagian depan respirator partikulat dengan kedua tangan,
dan hati-hati agar posisi respirator partikulat tidak berubah.
Hembuskan nafas kuat-kuat. Tekanan positif di dalam respirator
berarti tidak ada kebocoran. Bila terjadi kebocoran atur posisi dan
atau ketegangan tali. Uji kembali kerapatan respirator partikulat.
Ulangi langkah tersebut sampai respirator partikulat benar0benar
tertutup rapat.
Tarik nafas dalam-dalam. Bila ada kebocoran, tekanan negative
akan

membuat

respirator

partikulat

menempel

ke

wajah.

Kebocoran akan menyebabkan hilangnya tekanan negative di

dalam respirator partikulat akibat udara masuk melalui celah-celah


pada segelnya.

EVALUASI TINGKAT PENGETAHUAN TBC


1. Berikut ini pernyataan yang benar

b. Dibiarkan saja karena batuk

mengenai TBC adalah?


a. TBC

merupakan

merupakan

penyakit

keturunan

c.

pemeriksaan

dan

pengobatan

TBC merupakan penyakit yang


disebabkan oleh bakteri

d. Dibiarkan saja
5. Bagaimana cara penularan TBC?

d. TBC merupakan penyakit yang


tidak menular

a. Melalui percikan dahak


b. Melalui makanan yang dimasak

2. Bagaimana tanda gejala TBC?

secara bersama-sama

a. Batuk kurang dari 3 minggu

c.

b. Batuk lebih dari 3 minggu

Melalui

baju

yang

dipakai

secara bergantian

Peningkatan berat badan/ nafsu


makan

d. Melalui berjabat tangan


6. Bagaimana

d. Diare

cara

pencegahan

penularan TBC?

3. Apa penyebab TBC?

a. Makan makanan yang sehat

a. Virus

b. Menutup menggunakan tissue

b. Bakteri tuberculosis
c.

Dibawa ke puskesmas untuk


dilakukan

tidak dapat disembuhkan

c.

yang

umum terjadi

b. TBC merupakan penyakit yang


c.

penyakit

saat batuk/bersin

Penyakit keturunan

c.

d. Infeksi jamur

Membuang ludah sembarangan

d. Tidak

menggunakan

masker

4. Tindakan

apa

yang

seharusnya

saat berinteraksi dengan orang

dilakukan

jika

ada

salah

lain karena sudah tidak batuk-

satu

anggota keluarga mengalami batuk


lebih dari 3 minggu?
a. Dibelikan obat batuk di warung/
apotek terdekat

batuk
7. Berapa lama pengobatan TBC?
a. 2 bulan tanpa berhenti
b. 3 bulan
c.

6 bulan, namun dihentikan jika


batuk-batuk sudah sembuh

d. 6 bulan tidak boleh putus

Keterangan:
75%

: Baik

(1-7 soal)

50-<75%

: Cukup (4-6 soal)

<50%

: Kurang (0-3 soal)

DAFTAR PUSTAKA
Smeltzer & Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah: Brunner &
Suddarth. Edisi 8 Vol.2. Jakarta: EGC.
Smith P.G dan Moss A.R. 2004. Epidemiology of Tuberculosis Patoghenesis,
Protection and Control. Washington DC: ASM Press.
Corwin, Elizabeth. 2005. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Hiswani. 2005. Tuberkulosis Merupakan Penyakit Infeksi yang Masih Menjadi
Masalah Kesehatan Masyarakat. Medan: FK USU.
Rab, Trabani. 2010. Ilmu Penyakit Paru.Jakarta: TIM.
Kementrian Hukum dan Ham Republik Indonesia. 2012. Petunjuk Teknis
Pencegahan dan Pengendalian Infeksi TB di Lapas dan Rutan. Jakarta:
Direktorat Jendral Hukum dan Ham