Anda di halaman 1dari 74

A.

PENDAHULUAN

TUJUAN
Tujuan Instruksional Umum :
Mahasiswa mampu menjelaskan perkembangan keluarga sesuai dengan tahap
perkembangannya dan menjelaskan peran perawat pada masing-masing tahap.
Tujuan Instruksional khusus :
Mahasiswa mampu :
1. Menyebutkan definisi masing-masing tahap perkembangan keluarga.
2. Menjelaskan tugas-tugas perkembangan keluarga sesuai dengan tahap
perkembangan keluarga.
3. Menjelaskan masalah-masalah kesehatan yang terjadi sesuai dengan tahap
perkembangan keluarga.
4. Mengidentifikasi diagnosa keperawatan keluarga yang mungkin muncul pada
setiap tahap perkembangan keluarga.
5. Menjelaskan peran perawat pada setiap tahap perkembangan keluarga.

Salah satu kerangka paling baru yang digunakan untuk mempelajari dan
bekerja dengan keluarga adalah perkembangan keluarga. Pendekatan teoritis ini
mencoba mengungkapkan perubahan dari sistem keluarga yang terjadi dari waktu ke
waktu termasuk perubahan-perubahan dalam interaksi dan hubungan diantara anggota
keluarga dari waktu ke waktu. Pendekatan perkembangan keluarga didasarkan pada
observasi bahwa keluarga adalah kelompok berusia panjang dengan suatu sejarah
alamiah,

atau siklus kehidupan, yang perlu dikaji juga dinamika kelompok

diinterpretasikan secara penuh dan akrual (Duvall, dan Miller, 1985). Meskipun setiap
keluarga mengalami setiap saat perkembangan dengan cara-caranya yang unik, semua
keluarga dianggal sebagai contoh dari seluruh pola normatif (Rodger, 1973) dan
mengikuti urutan-urutan perkembangan yang universal (Goode, 1959).

Teori perkembangan keluarga menguraikan perkembangan keluarga dari


waktu ke waktu dengan membaginya ke dalam satu seri tahap perkembangan
dianggap sebagai masa-masa stabilitas relatif yang secara kuantitatif dan kualitatif
berbeda dari tahap-tahap berdekatan (Mederer and Hill, 1983). Tentang konsep tahaptahap siklus kehidupan tergantung pada asumsi bahwa dalam keluarga terdapat saling
ketergantungan yang tinggi antara anggota keluarga : keluarga dipaksa untuk berubah
setiap kali ada penambahan atau pengurangan anggota keluarga, atau setiap kali anak
sulung mengalami perubahan tahap perkembangan. Misalnya, perubahan dalam
peran, penyesuaian terhadap perkawinan, mengasuh anak dan disiplin terbukti
perubahan dari satu tahap ke

tahap lain (Mederer dan Bill, 1983). Keluarga

mengambil satu jenis struktur ketika anak-anak masih berusia prasekolah ; struktur
lain ketika orang tua mulai mengikuti puncak hidup dan anak-anak memasuki masa
remaja ; dan akhirnya bentuk struktur yang lain adalah ketika anak-anak mulai
dewasa, menikah dan mulai mandiri.
Akar sejarah dari teori perkembangan keluarga dapat dibuktikan dengan lima
warisan teori. Kerangka perkembangan keluarga bersifat elektrik, karena kerangka ini
mengajukan konsep-konsep dari pendekatan yang berbeda terhadap studi keluarga.
Kontribusi pada teori perkembangan keluarga diambil dari interaksionisme simbolik,
fungsionalisme struktural, sosiologi kerja dan propesi, teori sistem dan perkembangan
ilmu ditambah lagi dengan teori stress dan krisis kehidupan keluarga (Dattessich dan
Dill, 1987)
Pusat asumsi dasar tentang teori perkembangan keluarga, seperti yang
diuraikan oleh Algous (1978) adalah :
1. Keluarga berkembang dan berubah dari waktu ke waktu dengan cara-cara
yang sama dan dapat diprediksi.
2. Karena manusia menjadi matang dan berinteraksi dengan orang lain, mereka
memulai tindakan-tindakan dan juga reaksi-reaksi terhadap tuntutan
lingkungan.
3. Keluarga dan anggotanya melakukan tugas-tugas tertentu yang ditetapkan oleh
mereka sendiri atau oleh konteks budaya dan masyarakat.
4. Terdapat kecenderungan pada keluarga untuk memulai dengan sebuah awal
dan akhir yang kelihatan jelas.

Meskipun teori perkembangan umum didasarkan pada ciri-ciri ini dan biasa
dari kehidupan keluarga, namun teori ini tidak memberikan stressor non normatif atau
situasional (kejadian-kejadian yang tidak biasa) dan dapat dikritik karena asumsi
tentang homogenitas (kurang memperhatikan keanekaragaman kinerja), bias kelas
menengahnya, asumsinya tentang stabilitas dalam setiap tahap, dan kurangnya
penjelasan

proses

yang

terjadi

diantara

tahap-tahap

perkembangan

yang

memungkinkan keluarga bertindak. Namun penggunaan kerangka ini untuk


pengkajian dan intervensi-intervensi sangat membantu karena kerangka ini
memberikan para profesional perawatan kesehatan keluarga cara-cara mengantisipasi
apa yang diharapkan dan apa jenis penyuluhan dan konseling yang ditentukan. Teori
perkembangan keluarga meningkatkan pemahaman kita tentang keluarga pada titik
yang berbeda dalam berbagai siklus kehidupan mereka dan menghasilkan deskripsi
yang khas tentang kehidupan keluarga dalam berbagai tahap perkembangannya
(Lupal dan Miller 1985). Malahan dengan mengkaji tahap perkembangan keluarga
dan pelaksanaan tugas-tugas yang sesuai dengan tahap tersebut, para profesional
perawatan kesehatan keluarga diberikan pedoman untuk menganalisis pertumbuhan
dan kebutuhan promosi kesehatan keluarga. Perawat keluarga lebih mampu
memberikan dukungan yang diperlukan untuk memajukan dari satu tahap ke tahap
lain dengan lancar.

B. SIKLUS KEHIDUPAN KELUARGA


Dalam siklus kehidupan keluarga terdapat tahap-tahap yang dapat diprediksi.
seperti individu-individu yang mengalami tahap pertumbuhan dan perkembangan
yang berturut-turut, keluarga sebagai sebuah unit juga mengalami tahap-tahap
perkembangan yang berturut-turut.
Tabel 1 : Delapan Tahap Siklus Kehidupan Keluarga
Tahap I

:Keluarga Pemula (juga menuju pasangan menikah atau tahap


pernikahan)

Tahap II

: Keluarga sedang mengasuh anak (anak tertua adalah bayi sampai umur
30 bulan)

Tahap III

: Keluarga dengan anak usia prasekolah (anak tertua berumur 2 hingga 6


tahun)

Tahap IV

: Keluarga dengan anak usia sekolah (anak tertua berumur 6 hingga 13


tahun).

Tahap V

: Keluarga dengan anak remaja (anak tertua berumur 13 hingga 25


tahun).

Tahap VI

: Keluarga yang melepas anak usia dewasa muda (mencakup anak


pertama sampai anak terakhir) yang meninggalkan rumah.

Tahap VII : Orangtua usia pertengahan (tanpa jabatan, pensiunan).


Tahap VIII : Keluarga dalam masa pensiun dan lansia (juga menunjuk kepada
anggota keluarga yang berusia lanjut atau pensiun) hingga pasangan
yang sudah mengenalinya.
Diadaptasi dari Dupal, 1977 dan Miller, 1985
Formulasi tahap-tahap perkembangan keluarga yang paling banyak digunakan
untuk keluarga inti dengan dua orang tua adalah 8 tahap siklus kehidupan keluarga
dari Dupal, 1977 (lihat tabel 1) Selain itu Charter dan McGoldrick, 1988 belakangan
membuat model enam tahap yang sama bagi para ahli terapi keluarga. Tabel 2
membandingkan tahap-tahap perkembangan siklus kehidupan keluarga dari Dupall
dan Charter dan Goldrick.

Dalam paradigma dari Dupall, ia menggunakan tingkat umur dan tingkat


sekolah dari anak yang paling tua sebagai tonggak untuk interval siklus kehidupan,
dengan pengecualian untuk dua tahap terakhir kehidupan keluarga ketika anak-anak
sudah tidak ada lgi di rumah. Apalagi terdapat beberapa anak dalam keluarga, terjadi
beberapa tumpang tindih tahap-tahap yang berbeda. Sebaliknya Charter dan
McGoldrick, 1988 merumuskan tahap siklus kehidupan keluarga yang berfokus pada
hal-hal penting dimana anggota keluarga masuk dan keluar dari keluarga, jadi
mengganggu keseimbangan keluarga. Penekanan disini diletakkan pada hubunganhubungan yang berubah, yang menjadi syarat sehingga keluarga bisa bergerak dari
satu tahap siklus kehidupan ke tahap berikutnya.
Tabel 2. Perbandingan Tahap-Tahap Siklus Kehidupan Keluarga menurut
Duvall, Miller, Charter dan McGoldrick
Charter dan McGoldrick

Duvall dan Miller

(Perspektif Terapi Keluarga)


(Perspektif Sosiologis)
1. Keluarga antara : dewasa muda Tidak ada yang diidentifikasi di sini,
yang belum kawin

meskipun Duvall menganggap dewasa


muda sedang proses dilepas. Karena
terdapat waktu yang cukup antara masa
remaja dan pernikahan.

2. Penyatuan

keluarga

melalui 1. Keluarga

perkawinan : pasangan yang baru

pemula

atau

tahap

pernikahan.

menikah
3. Keluarga dengan anak kecil (masa 2. Keluarga sedang mengasuh anak
bayi hingga usia sekolah)

(anak tertua adalah bayi sampai


umur 30 bulan)
3. Keluarga

dengan

anak

usia

prasekolah (anak tertua berumur 2


hingga 5 tahun).
4. Keluarga dengan anak usia sekolah
(anak tertua umur 6 hingga 12
tahun)
5. Keluarga dengan akan remaja (anak
4. Keluarga dengan anak remaja

tertua berumur 13 hingga 20)

6. Keluarga melepaskan anak dewasa


5. Keluarga melepaskan anak dan

muda (semua anak meninggalkan

pindah

rumah)
7. Orangtua usia pertengahan (tidak
ada jabatan lagi hingga pensiun)
8. Keluarga dalam masa pensiun dan

6. Keluarga dalam kehidupan terakhir

lansia (mulai dari pensiun hingga

pasangan yang meninggal.


Adapted from Carter dan McGoldrick, (1988), Duvall and Miller, (1985)
1. Variasi Siklus Kehidupan Keluarga
Keluarga-keluarga selalu bervariasi, karena menjalani tahap-tahap siklus
kehidupan keluarga. Tahap-tahap siklus kehidupan keluarga mengikuti suatu pola
yang tidak kaku (Duvall, 1977). Sudah barang tentu bahwa banyak keluarga saat ini
tidak cocok dengan tahap-tahap siklus kehidupan keluarga inti dengan orang tua dari
Duvall atau dari Charter dan McGoldrick. Variasi-variasi dalam siklus kehidupan
keluarga tradisional dapat dilihat pada keluarga-keluarga dimana pasangan suami istri
tidak menikah, dan terdapat perkawinan sesama homoseksual, orangtua tunggal dan
keluarga dengan orangtua tiri. Makin banyak orang memilih berbagai bentuk keluarga
dan karenanya konsep asal tentang siklus kehidupan keluarga, mencakup keluarga inti
dengan dua orangtua, secara menyolok terbatas dalam aplikabilitasnya. Untuk
keluarga-keluarga nontradisional atau keluarga-keluarga miskin atau minoritas,
terdapat variasi-variasi pada penentuan tempo dan pengurutan kejadian keluarga
(Teachman et al, 1987). Karena pada saat ini keluarga dengan orangtua tunggal dan
orangtua tiri berjumlah cukup besar .
Bahkan dalam keluarga inti tradisional dengan dua orangtua terdapat
perubahan dalam penentuan tempo dari tahap-tahap siklus kehidupan keluarga.
Jumlah dewasa muda yang tinggal dengan tua, sendirian, atau dengan dewasa muda
lainnya semakin bertambah (diantara tahap-tahap siklus kehidupan keluarga dari
Charter dan McGoldrick). Banyak pasangan menunda menikah dan memperpendek
masa pengasuhan anak (hasil dari KB dan kerja), dan mempunyai lebih sedikit anak.
Dengan perubahan-perubahan ini dan umur harapan hidup yang lebih lama, terdapat

tahun-tahun yang cocok dalam dua tahap terakhir siklus kehidupan keluarga tahap
usia pertengahan dan tahap pensiunan dan lansia.
2. Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga
Seperti individu-individu yang mempunyai tugas-tugas perkembangan yang
harus mereka capai agar mereka merasa puas selama suatu tahap perkembangan dan
agar mereka mampu beralih ke tahap berikutnya dengan berhasil, setiap tahap
perkembangan keluarga pun mempunyai tugas-tugas perkembangan yang spesifik.
Tugas-tugas perkembangan keluarga menyatakan tanggung jawab yang dicapai oleh
keluarga selama setiap tahap perkembangannya sehingga dapat memenuhi (1)
kebutuhan biologis keluarga, (2) imperatif budaya keluarga, dan (3) aspirasi dan nilainilai keluarga (Duvall, 1977).
Bagaimana tugas-tugas perkembangan dalam keluarga berbeda dengan tugastugas perkembangan individu anggota keluarga? Meskipun dalam kenyataan banyak
tugas-tugas

tersebut

adalah

gabungan,

tugas-tugas

perkembangan

keluarga

dibangkitkan bila keluarga sebagai sebuah unit berupaya memenuhi tuntutan-tuntutan


perkembangan mereka secara individual. Tugas-tugas perkembangan keluarga juga
diciptakan oleh tekanan-tekanan komunitas terhadap keluarga dan anggotanya untuk
menyesuaikan diri dengan harapan-harapan kelompok acuan keluarga dan masyarakat
yang lebih luas.
Selain itu, tugas-tugas perkembangan keluarga juga meliputi tugas-tugas spesifik pada
setiap tahap yang melekat dalam pelaksanaan lima fungsi dasar keluarga yang terdiri
dari (1) fungsi afektif (fungsi pemeliharaan kepribadian) ; (2) fungsi sosialisasi dan
penempatan sosial ; (3) fungsi perawatan kesehatan penyediaan dan pengelolaan
kebutuhan-kebutuhan fisik dan perawatan kesehatan ; (4) fungsi reproduksi ; dan (5)
fungsi ekonomi (lihat bab 5 untuk pembahasan yang lengkap tentang fungsi-fungsi
ini).
Tantangan nyata bagi keluarga adalah memenuhi setiap kebutuhan anggota
keluarga, dan juga untuk memenuhi fungsi-fungsi keluarga secara umum. Pertautan
kebutuhan-kebutuhan perkembangan individu dan keluarga tidak selalu mungkin
dilakukan. Misalnya, tugas anak usia bermain yang meliputi mengeksplorasi

lingkungan seringkali bertentangan dengan tugas seorang ibu memelihara rumah yang
teratur.
3. Tahap-Tahap Siklus Kehidupan Keluarga Inti dengan Dua Orangtua
Tahap-tahap siklus kehidupan keluarga berikut ini telah diuraikan oleh Duvall
dan Miller (1985) dan Charter dan McGoldrick (1988). Tahap-tahap tersebut terdiri
dari 9 tahap siklus kehidupan keluarga (Tabel 2). Tahap antara dari tipologi Charter
dan McGoldrick ditambahkan pada model siklus kehidupan

delapan tahap dari

Duvall dan Miller untuk memberikan gambaran yang komprehensif tentang


perubahan kehidupan keluarga. Tahap-tahap siklus kehidupan keluarga ini
menggambarkan keluarga inti Amerika yang utuh, tapi terbatas pada aplikabilitas
keluarga-keluarga dengan orangtua tunggal, cerai dan tiri. Masalah-masalah kesehatan
juga dibicarakan dalam setiap tahap siklus perkembangan keluarga.
Tahap Transisi : Keluarga antara (Dewasa Muda yang Belum Kawin)
Tahap ini menunjuk ke masa dimana individu berumur 20 tahunan yang telah
mandiri secara finansial, dan secara fisik telah meninggalkan keluarganya namun
belum berkeluarga. Tahap-tahap keluarga antara tidak dianggap tahap siklus
kehidupan keluarga oleh Duvall dan sosiolog lainnya. Namun, karena masa ini
umumnya dialami seseorang (remaja tidak keluar secara langsung dari keluarga
asalnya dan membentuk keluarga, seperti yang sering ditemukan pada masa lalu), dan
karena masa ini merupakan masa transisi yang sangat penting, tahap ini dimasukkan
dalam naskah ini. Tahap ini benar-benar diabaikan oleh para profesional perawatan
kesehatan keluarga dan para ahli terapi keluarga (Aylmerm 1988).
Data demografi mendukung pentingnya tahap ini. Kini, di Amerika Serikat
lebih banyak dewasa muda menunda perkawinan, mereka hidup membujang atau
kumpul kebo. Perkawinan pertama di Amerika Serikat umumnya berlangsung 3 tahun
lebih lambat dari generasi sebelumnya. Kini, dewasa muda yang hidup bersama diluar
pernikahan lima kali lebih banyak dari pada tahun 1960 (Glick, 1989).
Tahap keluarga dianggap oleh Aymer (1988) dan ahli-hali terapi lainnya
sebagai dasar bagi semua tahap berikutnya : bagaimana dewasa muda melewati tahap
ini sangat mempengaruhi siapa yang dinikahinya dan juga kapan dan bagaimana
8

pernikahan berlangsung. Untuk melewati tahap ini dengan sukses, dewasa muda harus
pisah dari keluarga asalnya tanpa memutuskan atau secara reaktif berhubungan
dengan pergantian yang emonsional.
Tugas-Tugas Perkembangan.
Tahap ini adalah tahap keluarga antara, tugas-tugas perkembangannya
bersifat individual, bukan berorientasi pada keluarga. Carter dan McGoldrick (1980)
menjelaskan bahwa tugas perkembangan utama dari dewasa muda yang belum kawin
adalah menerima keluarga asalnya (hal. 13). Tiga tugas perkembangan yang
dicantumkan oleh Carter dan McGoldrick (1988, hal. 15) :
1. Pembedaan diri dalam hubungannya dengan keluarga asalnya.
2. Menjalin hubungan dengan teman sebaya yang akrab.
3. Pembentukan diri yang berhubungan dengan kemandirian pekerjaan dan
finansial.
Tabel 3. Tahap Transisi : Keluarga Antara dan Tugas-Tugas Perkembangan
Keluarga yang Bersamaan.
Tahap Siklus

Tugas-Tugas

Kehidupan Keluarga
Tahap Transisi :

Perkembangan Keluarga
1. Pisah dengan keluarga asal.

Keluarga antara

2. Menjalin hubungan intim dengan


teman sebaya.
3. Membentuk kemandirian dalam hal

pekerjaan dan finansial.


Diadaptasi dari Carter dan McGoldrick (1988), Duvall dan Miller (1985)
Sudah waktunya dewasa muda membentuk tujuan hidup pribadi dan perasaan bangga
akan diri sendiri sebelum hidup bersama orang lain dalam sebuah ikatan perkawinan.
(Tabel 3) umumnya hal ini merupakan tahap transisi yang sulit, karena memisahkan
diri dari keluarga asal baik secara fisik, finansial maupun emosional umumnya lambat
di banyak keluarga saat ini.
Tahap ini secara khusus dialami secara berbeda-beda, tergantung pada jenis
kelamin seseorang. Carl Gillingan dalam karyanya In a Different Voice (1982),

menguraikan oerintasi pria dan wanita yang berbeda melalui sosialisasi mereka. Pria
umumnya diajarkan untuk mengejar identitas ekspresi diri, sedangkan wanita
pengorbanan diri. Karena pria dan wanita dewasa muda mengalami masa belum
kawin,

mereka

mempunyai

isu

identitas

yang

berbedakan

untuk

diselesaikan.Keseimbangan antara otonomi dan cinta dibutuhkan dalam membina


hubungan dan bekerja, tapi pria umumnya berjuang dengan isu-isu cinta dan
hubungan, sementara wanita berjuang dengan isu-isu otonomi.
Kebanyakan isu-isu tersebut diatas meliputi hubungan antara dewasa muda
dengan orangtuanya (Aylmer, 1988) dan menciptakan suatu keseimbangan baru antara
keadaan pisah dan keterkaitan. Bagaimana orangtua dari dewasa muda berinteraksi
dengan anak mereka selama masa ini adalah sangat penting. Dari perspektif sistem
keluarga, terdapat efek sirkular atau resiprokal yang terjadi antara orangtua dengan
dewasa muda (masing-masing mempengaruhi tindakan satu sama lainnya), yang
mempertinggi atau menghambat proses pisah dan individualisasi dewasa muda. Jika
orangtua memiliki perkawinan yang tidak memuaskan dan memerlukan anaknya tetap
tinggal untuk memenuhi kebutuhan mereka, maka hal ini menghalangi upaya-upaya
dewasa muda untuk pisah ; dan sebaliknya jika anak merasa takut dan tidak mampu
hidup mandiri, maka ia akan menunda pemisahan tersebut dan mencoba agar orangtua
tetapi terlibat.
Masalah-Masalah Kesehatan.
Selama masa transisi ini, masalah-masalah pribadi maupun masalah keluarga.
Penggunaan keluarga berencana dan pengendalian kelahiran merupakan masalah dan
kebutuhan utama. Penyakit-penyakit yang ditularkan secara seksual (STD) lebih
sering ditemukan dalam kelompok ini (penyakit kelamin, AIDS, dll). Kecelakaan dan
bunuh diri merupakan penyebab utama moralitas. Masalah-masalah kesehatan mental
juga umum terjadi, dan seperti dijelaskan diatas, terutama menghadapi isu pisah
dengan cara fungsional dari keluarga asal sehingga hubungan homoseksual yang intim
dan sehat dapat dijalin.
Kebutuhan kesehatan promosi sama dengan tahap-tahap berikutnya. Karena dewasa
muda sekarang ini mandiri, khususnya gaya hidup mereka tidak termasuk dalam
praktik perlindungan kesehatan yang direkomendasikan, seperti menghindari obat10

obatan, alkohol dan tembakau dan juga mendapatkan tidur, nutrisi, istirahatm latihan,
perawatan gigi dan uji kesehatan dan perawatan yang adekuat.

a. Tahap I : Keluarga Pemula


Perkawinan dari sepasang insan menandai bermulanya sebuah keluarga baru
keluarga yang menikah atau prokreasi dan perpindahan dari keluarga asal atau status
lajang ke hubungan baru yang intim. Tahap perkawinan atau pasangan menikah saat
ini berlangsung lebih lmbat. Misalnya, menurut data sensus Amerika Serikat tahun
1985, 75 persen pria dan 57 persen wanita Amerika Serikat masih belum menikah
pada usia 21 tahun, ini merupakan suatu pergeseran yang berarti dari 55 persen dan 36
persen masing-masing dalam tahun 1970.
Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga
Menciptakan sebuah perkawinan yang saling memuaskan, menghubungkan jaringan
persaudaraan secara harmonis, dan keluarga berencana merupakan tiga tugas
perkembangan yang penting dalam masa ini (Tabel 6-4).
1). Membangun Perkawinan yang Saling Memuaskan
Ketika dua orang diikat dalam ikatan perkawinan, perhatian awal mereka
adalah menyiapkan suatu kehidupan bersama yang baru. Sumber-sumber dari dua
orang digabungkan, peran-peran mereka berubah, dan fungsi-fungsi barupun diterima.
Belajar hidup bersama sambil memenuhi kebutuhan kepribadian yang mendasar
merupakan sebuah tugas perkembangan yang penting. Pasangan harus saling
menyesuaikan diri terhadap banyak hal kecil yang bersifat rutinitas. Misalnya mereka
harus mengembangkan rutinitas untuk makan, tidur, bangun pagi, membersihkan
rumah, menggunakan kamar mandi bergantian, mencari rekreasi dan pergi ke tempattempat yang menyenangkan bagi mereka berdua. Dalam proses saling menyesuaikan
diri ini, terbentuk satu kumpulan transaksi berpola dan lalu dipelihara oleh pasangan
tersebut, dengan setiap pasangan memicu dan memantau tingkah laku pasangannya.
Tabel 4. Tahap Pertama Siklus Kehidupan Keluarga Inti dengan Dua Orang
Tua, dan Tugas-Tugas Perkembangan yang bersamaan.

11

Tahap Siklus Kehidupan Keluarga


Keluarga Pemula

Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga


1. Membangun perkawinan yang
saling memuaskan.
2. Menghubungkan

jaringan

persaudaraan secara harmonis.


3. Keluarga
tentang

berencana

(keputusan

kedudukan

sebagai

orangtua)
Diadaptasi dari Carter dan McGoldrick (1988), Duvall dan Miller (1985)
Keberhasilan dalam mengembangkan hubungan tergantung pada saling
menyesuaikan

diri

yang

baru

saja

dibicarakan,

dan

tergantung

kepada

komplementaritas atau kecocokkan bersama dari kebutuhan dan minat pasangan.


Sama pentingnya bahwa perbedaan-perbedaan individu perlu diketahui. Dalam
hubungan yang sehat, perbedaan-perbedaan dipandang untuk memperkaya hubungan
perkawinan. Pencapaian hubungan perkawinan yang memuaskan tergantung pada
pengembangan cara-cara yang memuaskan untuk menangani perbedaan-perbedaan
tersebut (Satir, 1983) dan konflik-konflik. Cara yang sehat untuk memecahkan
masalah adalah berhubungan dengan kemampuan pasangan untuk bersikap empati ;
saling mendukung, dan mampu berkomunikasi secara terbuka dan sopan (Raush et al,
1969) dan melakukan pendekatan terhadap konflik atas rasa saling hormat
menghormati (Jackson dan Lederer, 1969).
Malahan, sejauhmana kesuksesan mengembangkan hubungan perkawinan
tergantung pada bagaimana masing-masing pasangan dibedakan atau dipisahkan dari
keluarga asal masing-masing (tugas perkembangan sebelumnya). Orang dewasa harus
pisah dengan orangtuanya dalam upaya untuk membentuk identitas dirinya sendiri
dan hubungan intim yang sehat. McGoldrick (1988) memberikan sebuah deskripsi
yang amat bagus tentang proses ini dan masalah-masalah psikososial selama masa ini.
Banyak pasangan mengalami masalah-masalah penyesuaian seksual, serikali
disebabkan oleh ketidaktahuan dan informasi yang salah yang mengakibatkan
kekecewaan dan harapan-harapan yang tidak realistis. Malahan, banyak pasangan
yang membawa kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan yang tidak terpenuhi

12

kedalam hubungan mereka, dan hal-hal ini dapat mempengaruhi hubungan seksual
secara merugikan. (Goldenberg dan Goldenberg, 1985).
2). Menghubungkan Jaringan Persaudaraan secara Harmonis.
Perubahan peran dasar terjadi dalam perkawinan pertama dari sebuah
pasangan, karena mereka pindah dari rumah orangtua mereka ke rumah mereka yang
baru. Bersamaan dengan itu, mereka menjadi anggota dari tiga keluarga, yaitu :
menjadi anggota keluarga dari keluarga mereka sendiri yang baru saja terbentuk.
Pasangan tersebut menghadapi tugas-tugas memisahkan diri dari keluarga asal mereka
dan mengupayakan berbagai hubungan dengan orangtua mereka, sanak saudara dan
dengan ipar-ipar mereka, karena loyalitas utama mereka harus diubah untuk
kepentingan hubungan perkawinan mereka. Bagi pasangat tersebut, hal ini menuntut
pembentukan hubungan baru dengan setiap orangtua masing-masing, yaitu hubungan
yang tidak hanya memungkinkan dukungan dan kenikmatan satu sama lain, tapi juga
otonomi yang melindungi pasangan baru tersebut dari campur tangan pihak luar yang
mungkin dapat merusak bahtera perkawinan yang bahagia.
3). Keluarga Berencana.
Apakah ini memiliki anak atau tidak dan penentuan waktu untuk hamil merupakan
suatu keputusan keluarga yang sangat penting. Littlefield (1977) menekankan
pentingnya pertimbangan semua rencana kehamilan keluarga ketika seseorang bekerja
di bidang perawatan maternitas. Tipe perawatan kesehatan yang didapat keluarga
sebagai sebuah unit selama masa prenatal sangat mempengaruhi kemampuan keluarga
mengatasi perubahan-perubahan yang luar biasa dengan efektif setelah kehamilan
bayi.
Masalah-Masalah Kesehatan.
Masalah-masalah utama adalah penyesuaian seksual dan peran perkawinan,
penyuluhan dan konseling keluarga berencana, penyuluhan dan konseling pranatal,
dan komunikasi. Konseling semakin perlu diberikan sebelum perkawinan. Kurangnya
informasi sering mengakibatkan masalah-masalah seksual dan emosional, ketakutan,
rasa bersalah, kehamilan yang tidak direncanakan, dan penyakit-penyakit kelamin
baik sebelum maupun

sesudah perkawinan. Kejadian-kejadian

13

yang

tidak

menyenangkan ini menghambat pasangan tersebut merencanakan kehidupan mereka


dan memulai hubungan dengan dasar yang mantap.
Konsep-konsep perkawinan tradisional sedang ditantang oleh hubungan cinta,
perkawinan berdasarkan hukum adat, dan perkawinan homoseks. Orang yang
memasuki perkawinan tanpa pernikahan memerlukan banyak konseling dari tugas
perawatan kesehatan untuk mendapatkan bantuan. Dalam hal ini, perawat keluarga
terperangkap diantara dua keluarga, keluarga orientasi dan keluarga perkawinan.
Dalam situasi semacam itu, para profesional kesehatan keluarga tidak perlu membuat
penilaian-penilaian yang bermanfaat tetapi mencoba membantu setiap kelompok dari
kedua kelompok tersebut agar mereka dapat memahami diri mereka sendiri dan saling
memahami satu sama lain (Williams dan Leaman, 1973).
Keluarga Berencana.
Karena Keluarga Berencana merupakan tanggungjawab utama dari perawat
yang bekerja dengan keluarga, maka bidang ini perlu dibahas lebih mendalam.
Keluarga berencana yang kurang diinformasikan dan kurang efektif mempengaruhi
kesehatan keluarga dalam banyak cara : mobiditas dan moralitas ibu-anak ;
menelatarkan anak ; sehat sakit orangtua ; masalah-masalah perkembangan anak,
termasuk inteligensia kemampuan belajar dan perselisihan dalam perkawinan.
Pembentukan keluarga dengan sengaja dan terinformasi meliputi membuat keputusan
sendiri tentang kapan dan/atau apakah ingin mempunyai anak, terlepas dari
pertimbangan kesehatan keluarga.
Jumlah kelahiran di Amerika Serikat sedang menanjak, dalam tahun 1975
mengalami penurunan dan terus mengalami kenaikan setelah itu hingga tahun 1990,
seperti yang diproyeksikan dalam tahun 1984 hingga 1990 (Family Service America,
1984). Meningkatnya kehamilan remaja yang sangat besar, khususnya diantara wanita
kulit hitam yang belum menikah dan terutama dipandang sebagai masalah karena
kerentanan dan kurangnya sumber-sumber pada kelompok remaja yang malang ini
(Chilman, 1988). Kehamilan penyebab utama remaja wanita keluar dari sekolah dan
juga penyebab sering terjadinya perkawinan prematur. Dalam perkawinan, kehamilan
awal (sebelum dua tahun) mengurangi penyesuaian perkawinan. Semua ini

14

merupakan faktor-faktor kesehatan mental yang penting bagi orangtua dan anak-anak
(Cohn dan Lierberman, 1974).
Kesehatan

fisik

ibu

dan

anak

merupakan

masalah

utama

yang

didokumentasikan dalam penelitian kebidanan dan perinatal. Jarak kelahiran antara 2


dan 4 tahun dan usia ibu 20 tahunan merupakan faktor-faktor yang menguntungkan
dalam mengurangi mortalitas dan mobiditas ibu dan bayi. Jumlah keluarga yang
optimal, jarak dan waktu kelahiran mengurangi mortalitas bayi (Cohn dan Lieberman,
1974).
Angka kehamilan berencana semakin meningkat, karena banyak wanita dan
pasangan menggunakan alat kontrasepsi. Empat puluh lima negara bagian, dan juga
Distrik Columbia telah membuat undang-undang yang membolehkan gadis-gadis
remaja berusia di bawah 18 tahun mendapatkan kontrasepsi tanpa ijin dari orangtua.
Namun sebagian besar remaja dan wanita dewasa muda yang aktif secara seksual
tidak mendapat pelayanan keluarga berencana (Chilman, 1988).
Perbedaan antara kelompok miskin dan kaya dalam menggunakan alat
kontrasepsi yang efektif berhubungan dengan aksesibilitas pelayanan (Manisoff,
1977) dan ketidaktahuan tentang kehamilan dan kontrasepsi dikalangan remaja
(Weatherley dan Cartoof, 1988). Faktor-faktor agama dan sosiopolitik menjadi
pengengah untuk mengurangi hak-hak reproduktif wanita dan pasangannya. Seperti
diawal tahun 1990-an, karena menentang hak untuk melakukan aborsi secara legal
maka perjuangan mempertahankan pelayanan saat ini agar tetap tersedia merupakan
masalah yang sedang berkembang. Pendanaan masyarakat dari pemerintah untuk
keluarga berencana, khususnya untuk aborsi telah dipotong, dan pelayanan terbatas
pada kaum miskin dan orang muda.
Selain kebutuhan untuk klinik medis yang banyak dan undang-undang yang
membolehkan remaja menerima perawatan, program pendidikan kesehatan keluarga
berencana dan seks yang efektif perlu direncanakan dilakukan di sekolah-sekolah,
gereja dan lembaga-lembaga kesehatan. Pelayanan-pelayanan seperti itu harus
difokuskan tidak hanya pada premis-premis umum bahwa keluarga berencana
merupakan satu tujuan dalam keluarga itu sendiri, tapi pada keuntungan-keuntungan
15

kesehatan dari keluarga berencana bagi individu dan bagi

pertumbuhan dan

perkembangan keluarga.
Akan tetapi, memaksakan keluarga berencana pada keluarga bukanlah sesuatu
yang etis, karena hal tersebut menghancurkan inisiatif, integritas, dan kompetensi.
Gadis-gadis remaja yang menginginkan bayi perlu mengkonsultasikan kesiapan fisik
dan emosi untuk menjadi orang tua dan perlindungan yang realistis terhadap
kehamilan bersama-sama dengan supervisi kesehatan yang baik. Tapi hanya sedikit
saja dilakukan untuk mengimbangi tekanan-tekanan masyarakat terhadap seks dan
perkawinan dengan pendidikan kontrasepsi yang realistis.
Diagnosa yang mungkin pada keluarga pemula:
1. Gangguan komunikasi verbal
2. Perubahan proses keluarga
3. Perubahan penampilan peran
4. Gangguan interaksi sosial
5. Disfungsi seksual
Diagnosa yang mungkin pada ibu hamil:
Trimester I
Gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
ketidaknyamanan
resiko kekurangan volume cairan
resiko cidera terhadap janin
resiko keletihan
resiko konstipasi
resiko infeksi : ISK
resiko gangguan citra tubuh
resiko perubhan penampilan peran
perubahan pola seksualitas

16

Trimester II
Ketidaknyamanan
Resiko cidera terhadap janin dan ibu
Perubahan pola seksualitas
Perubahan pola nafas
Resiko kelebihan vol cairan
Resiko koping individu tidak efektif
Trimester III
Gangguan pola tidur
Resiko cidera terhadap janin dan ibu
Resiko harga diri rendah situasional
Perubahan eliminasi
Peran perawat
Konselon pada penyesuaian seksual & peran marital
Gusru konselon dalam perencanaan keluarga
Koordinator untuk konseling menjadi orang tua
Fasilitator dalam hubungan kekerabatan interpersonal

b. Tahap II : Keluarga yang Sedang Mengasuh Anak


Tahap kedua dimulai dengan kelahiran anak pertama sehingga bayi berusia 30 bulan.
Biasanya orangtua tergetar hatinya dengan kelahiran pertama anak mereka, tapi agak
takut juga. Kekuatiran terhadap bayi biasanya berkurang setelah beberapa hari, karena
ibu dan bayi tersebut mulai saling mengenal. Akan tetapi kegembiraan yang tidak
dibuat-buat ini berakhir ketika seorang ibu baru tiba di rumah dengan bayinya setelah
tinggai di rumah sakit untuk beberapa waktu. Ibu dan ayah tiba-tiba berselisih dengan
semua peran-peran mengasyikkan yang telah dipercayakan kepada mereka. Peran
tersebut pada mulanya sulit karena perasaan ketidakadekuatan menjadi orangtua
baru ; kurangnya bantuan dari keluarga dan teman-teman, dan para profesional
perawatan kesehatan yang bersifat membantu dan sering terbangun tengah malam
17

oleh bayi yang berlangsung 3 hingga 4 minggu. Ibu juga letih secara psikologis dan
fisiologis. Ia sering merasakan beban tugas sebagai ibu rumah tangga dan barangkali
juga bekerja, selain merawat bayi. Khususnya terasa sulit jika ibu menderita sakit atau
mengalami persalinan dan pelahiran yang lama dan sulit atau seksio besar.
Kedatangan bayi dalam rumah tangga menciptakan perubahan-perubahan bagi
setiap anggota keluarga dan setiap kumpulan hubungan. Orang asing telah masuk ke
dalam kelompok ikatan keluarga yang erat, dan tiba-tiba keseimbangan keluarga
berubah setiap anggota keluarga memangku peran yang baru dan memulai hubungan
yang baru. Selain seorang bayi yang baru saja dilahirkan, seorang ibu, seorang ayah,
kakek nenekpun lahir. Istri sekarang harus berhubungan dengan suami sebagai
pasangan hidup dan juga sebagai ayah dan sebaliknya. Dan dalam keluarga yang
memiliki anak sebelumnya, pengaruh kehadiran seorang bayi sangat berarti bagi
saudaranya sama seperti pada pasangan yang menikah. Mengatakan pada seorang
anak untuk menyesuaikan diri dengan seorang adik laki-laki atau perempuan yang
baru mungkin sama dengan suami mengatakan pada istrinya bahwa ia membawa ke
rumah seorang nyonya yang ia cintai dan ia terima sama derajatnya (William dan
Leanman, 1973). Ini merupakan suatu perkembangan kritis bagi semua yang terlibat.
Oleh sebab itu, meskipun kedudukan sebagai orangtua menggambarkan tujuan
yang teramat penting bagi semua pasangan, kebanyakan pasangan menemukannya
sebagai perubahan hidup yang sangat sulit. Penyesuaian diri terhadap perkawinan
biasanya tidak sesulit penyesuaian terhadap menjadi orangtua. Meskipun bagi
kebanyakan orang tua merupakan pengalaman penuh arti dan menyenangkan,
kedatangan bayi membutuhkan perubahan peran yang mendadak. Dua faktor penting
yang menambah kesukaran dalam menerima peran orangtua adalah bahwa
kebanyakan orang sekarang tidak disiapkan untuk menjadi orang tua dan banyak
sekali mitos berbahaya yang tidak realistis meromantiskan pengasuhan anak didalam
masyarakat kami (Fulcomer, 1977). Menjadi orangtua merupakan satu-satunya peran
utama yang sedikit dipersiapkan dan kesulitan dalam transisi peran mempengaruhi
hubungan perkawinan dan hubungan orangtua dan bayi secara merugikan.
Perubahan-perubahan sosial yang dramatis dalam masyarakat Amerika juga
memiliki pengaruh yang kuat pada orangtua baru. Banyaknya wanita yang bekerja di
18

luar rumah dan memiliki karier, naiknya angka perceraian dan masalah perkawinan,
penggunaan alat kontrasepsi dan aborsi yang sudah lazim, dan semakin meningkatnya
biaya perawatan dan memiliki anak merupakan faktor-faktor yang menyulitkan tahap
siklus awal kehidupan pengasuh anak (Bradt, 1988 ; Miller dan Myers-Walls, 1983).
Masa Transisi menjadi Orangtua.
Kelahiran anak pertama merupakan pengalaman keluarga yang sangat penting dan
sering merupakan krisis keluarga, sebagaimana yang digambarkan secara konsisten
pada penelitian keluarga selama tahap siklus kehidupan keluarga ini (Clark, 1966 ;
Hobbs dan Cole, 1976 ; LeMaster, 1957).
Untuk mengetahui bagaimana anak yang baru lahir mempengaruhi keluarga,
LeMaster, 1957, dalam studi klasik tentang penyesuaian keluarga terhadap kelahiran
anak pertama, mewawancarai 46 orang tua dari kalangan kelas menengah di Kota
(berusia 25 25 tahun) dan memperkirakan sejauhmana mereka dalam keadaan krisis.
Ia menemukan bahwa 17 persen pasangan tidak mengalami masalah atau hanya
masalah-masalah sedang, tapi sisanya mengalami masalah berat atau luar biasa.
Masalah-masalah yang paling lazim dilaporkan adalah :
1. Suami merasa diabaikan (ini paling sering disebutkan oleh suami)
2. Terhadap peningkatan perselisihan dan argumen antara suami dan istri.
3. Interupsi dalam jadwal yang kontinu begitu lelah sepanjang waktu,
merupakan sebuah kometar khas).
4. Kehidupan seksual dan sosial terganggu dan menurun.
Akan tetapi, studi-studi belakangan ini, Hobbs dan Cole (1976), tidak
menemukan pasangan yang melaporkan krisis ekstensif sebanyak yang dilaporkan
oleh LeMaster. Studi-studi tentang keluarga dalam krisis menyatakan bahwa
keluarga-keluarga mempunyai pemikiran yang salah dan idealis tentang menjadi
orang tua sebelum kelahiran anak pertama dan kekuatan perkawinan menurun secara
tajam dengan lahirnya anak pertama (Miller dan Solye, 1980)
Clark, (1966) melakukan sebuah studi tentang keluarga secara kelahiran
seorang bayi baru menyatakan kesulitan dalam penyesuaian diri menyangkut orangtua

19

dan kebutuhan yang penting setelah kelahiran terhadap kesinambungan pelayanan


keperawatan di rumah dan di klinik.
Sebuah studi penting yang lain menyangkut transisi pasangan menjadi langka
dilakukan oleh La Rossa, (1981). Para peneliti ini mengkonseptualisasikan proses
transisi seperti yang dijelaskan dengan baik oleh model konflik, dimana terdapatnya
waktu luang, konflik kepentingan diantara orangtua, legitimasi terhadap penentuan
masalah-masalah perkawinan menyebabkan konflik antara kedua orangtua.
Miller dan Myers Walls (1983), berdasarkan atas tinjauan studi mereka
terhadap orangtua, meringksa stressor mengasuh anak yang spesifik yang
diidentifikasi dalam penelitian. Stressor yang paling sering disebutkan adalah
sedikitnya kebebasan pribadi karena tanggungjawab menyangkut anak, selain itu
diidentifikasi juga kurangnya waktu dan persahabatan dalam perkawinan. Bahkan
lebih banyak tekanan perkawinan dilaporkan pada pasangan yang sulit memiliki anak
atau pasangan memiliki anak dengan masalah kesehatan yang serius atau cacat.
Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga
Setelah lahir anak pertama, keluarga mempunyai beberapa tugas yang penting (tabel
5). Suami, istri, dan bayi semuanya belajar peran-peran yang baru sementara keluarga
inti memperluas fungsi dan tanggungjawab. Ini meliputi penggabungan tugas
perkembangan yang terus menerus dari setiap anggota kelurga dan keluarga secara
keseluruhan (Duvall, 1977).
Tabel 5. Tahap Kedua Siklus Kehidupan Keluarga Inti yang sedang mengasuh
anak dan Tugas-Tugas Perkembangan yang Bersamaan.
Tahap Siklus Kehidupan Keluarga
Keluarga sedang mengasuh anak

Tugas-Tugas Perkembangan
Keluarga
1. Membentuk keluarga muda sebagai
sebuah

unit

yang

mantap

(mengintegrasikan bayi baru ke


dalam keluarga).
2. Rekonsiliasi

tugas-tugas

perkembangan yang bertentangan

20

dan kebutuhan anggota keluarga.


3. Mempertahankan

hubungan

perkawinan yang memuaskan.


4. Memperluas persahabatan dengan
keluarga

besar

dengan

menambahkan peran-peran orangtua


dan kakek dan nenek.
Diadaptasi dari Carter dan McGoldrick (1988) ; Duvall dan Miller (1985)
Kelahiran seorang anak membuat perubahan-perubahan yang logika dalam
organisasi keluarga. Fungsi-fungsi pasangan suami istri harus dibedakan untuk
memenuhi tuntutan-tututan baru perawatan dan penyembuhan. Sementara pemenuhan
tanggungjawab ini bervariasi menurut posisi sosial budaya suami istri, sebuah pola
yang umum adalah untuk orang tua agar menerima peran-peran tradisonal atau
pembagian tanggungjawab (La Rossa dan La Rossa, 1981).
Hubungan dengan keluarga besar paternal dan maternal perlu disusun kembali
dalam tahap ini. Peran-peran baru perlu dibuat kembali berkenaan menjadi kakek
nenek dan hubungan antara orangtua dan kakek-nenek (Bradt, 1988).
Peran yang paling penting bagi perawat keluarga bila bekerja dengan keluarga
yang mengasuh anak adalah mengkaji peran sebagai orangtua bagaimana kedua
orangtua berinteraksi dengan bayi baru dan merawatnya, dan bagaimana respons bayi
tersebut. Klaus dan Kendall (1976), Kendall (1974), Rubbin (1967), dan yang lainnya
menguji dampak penting dari sentuhan dan kehangatan awal setelah melahirkan ;
hubungan positif antara orangtua anak pada hubungan orangtua dan anak di masa
datang. Sikap orangtua tentang mereka sendiri sebagai orangtua, sikap mereka
terhadap bayi mereka, karakteristik komunikasi orangtua dan stimulasi bayi (Davis,
1978) adalah bidang-bidang terkait yang perlu dikaji.
Perubahan-perubahan peran dan adaptasi terhadap tanggungjawab orangtua
yang baru biasanya lebih cepat dipelajari oleh ibu daripada ayah. Anak merupakan
realita pada calon ibu dari pada ayah, yang biasanya mulai merasa seperti ayah pada
saat kelahiran, tapi kadang-kadang jauh lebih lambat dari itu (Minuchin, 1974). Ayah

21

seringkali tetap netral pada awalnya sementara wanita secara cepat menyesuaikan diri
dengan struktur keluarga yang baru.
Kebiasaan dimana kebanyakan ayah secara tradisional tidak diikutsertakan
dalam proses perinatal secara pasti memperlambat pria melakukan perubahan peran
yang penting ini dan oleh karena itu menghalangi keterlibatan emosional mereka.
Sayangnya, kesadaran yang meningkat tentang peran penting yang dipangku ayah
dalam perawatan anak dan perkembangan anak telah menimbulkan keterlibatan ayah
yang lebih besar dalam perawatan bayi dikalangan kelas menengah (Hanson dan
Bozett, 1985).
Ibu dan ayah menumbuhkan dan mengembangkan peran orangtua mereka
dalam berespons terhadap tuntutan-tuntutan yang berubah terus menerus dan tugastugas perkembangan dari orang muda yang sedang tumbuh, keluarga secara
keseluruhan, dan mereka sendiri. Menurut Friedman (1957), orangtua melewati 5
tahap perkembangan secara berturut-turut. Dua tahap pertama meliputi fase kehidupan
keluarga ini. Pertama, selama bayi, orangtua mempelajari arti dari isyarat-isyarat yang
dikekspresikan oleh bayi untuk mengutarakan kebutuhan-kebutuhannya. Dengan
setiap anak lahir berturut-turut, orangtua akan mengalami tahap yang sama ini
sehingga mereka menyesuaikan setiap isyarat-isyarat unik bayi.
Tahap kedua ini perkembangan orangtua adalah belajar untuk menerima
pertumbuhan dan perkembangan anak yang terjadi dalam masa usia bermain
khususnya orangtua yang baru memiliki anak pertama membutuhkan bimbingan dan
dukungan. Orangtua perlu memahami tugas-tugas yang harus dikuasai oleh anak dan
kebutuhan anak akan keselamatan, keterbatasan dan latihan buang air (toilet training).
Mereka perlu memahami konsep kesiapan perkembangan, konsep tentang saat yang
tepat untuk mengajar mereka. Pada saat yang sama pula orangtua perlu bimbingan
dalam memahami tugas-tugas yang harus mereka kuasai selama tahap ini.
Pola-pola komunikasi perkawinan yang baru berkembang dengan lahirnya
anak, dimana pasangan berhubungan satu sama lain baik sebagai suami istri maupun
sebagai orangtua. Pola transaksi suami istri terbukti telah berubah secara drastis.
Feldman (1961) mengamati bahwa orang tua bayi berbicara dan berkelakar lebih
22

sedikit, pembicaraan yang merangsang lebih sedikit dan kualitas interaksi perkawinan
yang menurun. Beberapa orangtua merasa kewalahan dengan bertambahnya
tanggungjawab, khususnya mereka yang suami maupun istri sama-sama bekerja
secara penuh.
Pembentukan kembali pola-pola komunikasi yang memuaskan termasuk
masalah dan perasaan pribadi, perkawinan dan orangtua adalah sangat penting.
Pasangan harus terus memenuhi setiap kebutuhan-kebutuhan psikologis dan seksual
dan juga berbagi dan berinteraksi satu sama lain dalam hal tanggungjawab sebagai
orangtua.
Hubungan seksual suami istri umumnya menurun selama kehamilan dan
selama 6 minggu masa postpartum. Kesulitan-kesulitan seksual selama masa
berikutnya umum terjadi, yang timbul dari faktor-faktor seperti ibu tenggalam dalam
peran barunya, keletihan dan perasaan menurunnya daya tarik seksual dan juga
perasaan suami bahwa ia tersingkir oleh bayinya.
Sekarang komunikasi keluarga termasuk anggota ketiga, membentuk tiga
serangkai. Orangtua harus belajar untuk merasakan dan melihat tangisan komunikasi
dari bayinya. Misalnya, tangisan bayi perlu dibedakan kedalam ekspresi
ketidaknyamanan, rasa lapar, rangsangan yang berlebihan, sakit, atau letih. Dan bayi
mulai memberikan respon terhadap rangkulan, timangan dan berbicara yang
kemudian diterima dan dikuatkan oleh orangtua.
Konseling keluarga berencana biasanya berlangsung saat pemeriksaan setelah
postpartum 6 minggu. Orangtua kemudian harus didorong secara terbuka untuk
mendiskusikan jarak kelahiran dan perencanaan. Melihat meningkatkan tuntutantuntutan keluarga dan pribadi yang dibawakan oleh bayi, orangtua perlu menyadari
bahwa kehamilan dengan jarak rapat dan sering dapat berbahaya bagi ibu, dan juga
ayah, saudara bayi, dan unit keluarga.
Tahap siklus kehidupan ini memerlukan penyesuaian hubungan dalam
keluarga besar dan dengan teman-teman. Ketika anggota keluarga lain mencoba
mendukung dan membantu orangtua baru ini, ketegangan bisa muncul. Misalnya,
23

meskipun kakek nenek dapat menjadi sumber pertolongan yang besar bagi orangtua
baru, namun kemungkinan konflik tetap ada karena perbedaan nilai-nilai dan harapanharapan yang ada antar generasi tersebut.
Meskipun pentingnya memiliki jaringan sosial atau sistem pendukung sosial
untuk mencapai kepuasan dan perasaan positif tentang kehidupan keluarga, keluarga
muda perlu mengetahui kapan mereka butuh bantuan dan dari siapa mereka harus
menerima bantuan tersebut dan juga kapan mereka harus menggantungkan diri pada
sumber-sumber dan kekuatan merek sendiri (Duvall, 1977).
Hubungan perkawinan yang kokoh dan bergairah sangat penting bagi stabilitas
dan moral keluarga. Hubungan suami istri yang memuaskan akan memberikan
pasangan dengan kekuatan dan tenaga bagi bayi dan satu sama lain. Tuntutantuntutan dan tekanan-tekanan yang bertentangan, seperti antara loyalitas ibu terhadap
bayi dan terhadap suami, merupakan persoalan dan dapat menyiksa. Tipe konflik
semacam ini dapat menjadi sumber sentral ketidakbahagiaan selama tahap siklus
kehidupan ini.
Masalah-Masalah Kesehatan.
Masalah-masalah utama keluarga dalam tahap ini adalah pendidikan maternitas yang
terpusat pada keluarga, perawatan bayi yang baik, pengenalan dan penanganan
masalah-masalah kesehatan fisik secara dini, imunisasi, konseling perkembangan
anak, keluarga berencana, interaksi keluarga dan bidang-bidang peningkatan
kesehatan umum (gaya hidup).
Masalah-masalah kesehatan lain selama periode dari kehidupan keluarga ini
adalah inaksesibilitas dan ketidakadekuatan fasilitas-fasilitas perawatan anak untuk
ibu yang bekerja, hubungan akan-orangtua, masalah-masalah mengasuh anak
termasuk penyalahgunaan dan kelalaian terhadap anak dan masalah-masalah transisi
peran orang tua.
Kemungkinan diagnosa
Gangguan Nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh

24

Disfungsi seksual
Gangguan tumbuh kembang
Menyusui tidak efektif
Resiko cidera
Perubahan penampilan peran
Gangguan komunikasi verbal
Peran perawat
Monitor perawatanprenatal dan perujukan untuk masalah-masalah kehamilan
Konselor pada nutrisi prenatal
Konselor pada kebiasaan maternal prenatal
Pendukung amnionsintesis
Konselor pada menyusui
Koordinator dengan layanan pediatrik
Penyelia imunisasi
Perujukan ke layanan-layanan tenaga sosial

c. Tahap III : Keluarga dengan Anak Usia Prasekolah


Tahap ketiga siklus kehidupan keluarga dimulai ketika anak pertama berusia 2
tahun dan berakhir ketika anak berusia 5 tahun. Sekarang, keluarga mungkin terdiri
dari tiga hingga lima orang, dengan posisi suami-ayah, istri-ibu, anak laki-lakisaudara, anak perempuan-saudari. Keluarga lebih menjadi majemuk dan berbeda
(Duvall dan Miller, 1985).
Kehidupan keluarga selama tahap ini penting dan menuntut bagi orangtua.
Kedua orangtua banyak menggunakan waktu mereka, karena kemungkinan besar ibu
bekerja, baik bekerja paruh waktu atau bekerja penuh. Namun, menyadari bahwa
orangtua adalah arsitek keluarga, merancang dan mengarahkan perkembangan
keluarga (Satir, 1983), adalah penting bagi mereka untuk memperkokoh kemitraan
mereka secara singkat, agar perkawinan mereka tetap hidup dan lestari.

25

Anak-anak usia prasekolah harus banyak belajar pada tahap ini, khususnya
dalam hal kemadirian. Mereka harus mencapai otonomi yang cukup dan mampu
memenuhi kebutuhan sendiri agar dapat menangani diri mereka sendiri tanpa campur
tangan orangtua mereka dimana saja. Pengalaman di kelompok bermain, taman
kanak-kanak, Project Head Start, pusat perawatan sehari, atau program-program sama
lainnya merupakan cara yang baik untuk membantu perkembangan semacam ini.
Program-program prasekolah yang terstruktur sangat bermanfaat dalam membantu
orangtua dengan anak usia prasekolah yang berasal dari dalam kota dan
berpendapatan rendah. Peningkatan yang tajam dalam IQ dan keterampilan sosial
telah dilaporkan terjadi setelah anak menyelesaikan sekolah taman kanak-kanak
selama 2 tahun (Kraft et al, 1968).
Banyak sekali keluarga dengan orangtua tunggal berada dalam tahap siklus
kehidupan ini. Dalam tahun 1984, 50 persen keluarga kulit hitam dan 15 persen
keluarga kulit putih di Amerika Serikat dipimpin oleh satu orangtua, dan 88 persen
dari keluarga ini dikepalai oleh ibu (Nortan and Glick, 1986). Di kalangan keluarga
dengan orangtua tunggal, ketegangan yang timbul dari peran mengasuh anak untuk
anak usia prasekolah, ditambah lagi dengan peran-peran lain adalah besar. Pusat-pusat
perawatan sehari bagi bayi dan anak usia prasekolah dengan kualitas yang layak dan
baik sulit ditemukan jika ditempatkan dikebanyakan kominitas. Ibu-ibu yang bekerja
dan ibu-ibu yang masih remaja secara khusus memerlukan fasilitas-fasilitas dan
program-program perawatan anak yang lebih baik (Adams dan Adams, 1990).

26

Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga.


Kini, keluarga tumbuh baik dalam jumlah maupun kompleksitas. Perlunya anak-anak
usia prasekolah dan anak kecil lainnya untuk mengeksplorasi dunia sekitarnya, dan
kebutuhan orangtua untuk memiliki privasi mereka sendiri menjadikan perumahan
dan ruang yang adekuat sebagai masalah utama. Peralatan dan fasilitas-fasilitas juga
perlu bersifat melindungi anak-anak, karena pada tahap ini kecelakaan menjadi
penyebab utama kematian dan cacat. Mengkaji keamanan rumah merupakan hal yang
penting bagi perawat kesehatan komunitas dan penyuluhan kesehatan perlu
dimasukkan sehingga orangtua dapat mengetahui resiko yang ada dan cara-cara
menegah kecelakaan (Tabel 6).

Tabel 6. Tahap III Siklus Kehidupan Keluarga Inti dengan anak usia pra sekolah
dan Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga yang Bersamaan.
Tahap Siklus Kehidupan Keluarga
Keluarga dengan anak usia Prasekolah.

Tugas-Tugas Perkembangan
Keluarga
1. Memenuhi kebutuhan
keluarga

seperti

anggota

rumah,

ruang

bermain, privasi, keamanan.


2. Mensosialisasikan anak.
3. Mengintegrasi
sementara

anak
tetap

yang

baru

memenuhi

kebutuhan anak-anak yang lain.


4. Mempertahankan hubungan yang
sehat dalam keluarga (hubungan
perkawinan dan hubungan orangtua
dan anak) dan di luar keluarga
(keluarga besar dan komunitas).
Diadaptasi dari Carter dam McGoldrick (1988) ; Duvall dan Miller (1985)
Karena daya tahan spesifik terhadap banyak bakteri dan penyakit virus dan
paparan yang meningkat, anak-anak usia prasekolah sering menderita sakit dengan
satu penyakit infeksi minor secara bergantian. Penyakit infeksi sering terjadi bolakbalik dalam keluarga. Sering ke dokter, merawat anak-anak yang sakit, kembali ke
27

rumah untuk menjemput anak sakit dari taman kanak-kanak merupakan krisis
mingguan. Jadi kontak anak dengan penyakit infeksi dan menular dan kerentanan
umum mereka terhadap penyakit merupakan masalah-masalah kesehatan utama.
Kecelakaan, jatuh, luka bakar dan laserasi juga cukup sering terjadi. Kejadiankejadian ini lebih sering ditemukan dalam keluarga besar, keluarga di mana pengasuh
dewasa tidak ada (orangtua sering tidak di rumah), dan keluarga dengan pendapatan
rendah. Keamanan lingkungan dan pengawasan anak yang adekuat merupakan kunci
untuk mengurangi kecelakaan.
Suami-ayah menerima lebih banyak keterlibatan dalam tanggungjawab rumah
tangga selama tahap perkembangan keluarga ini daripada tahap lain, persentase
terbesar dalam tahap ini digunakan untuk aktifitas perawatan anak. Keterlibatan ayah
dalam perawatan anak saat ini benar-benar penting, karena hubungan ini dengan anak
usia prasekolah dapat membantu anak mengindentifikasi jenis kelaminnya. Khusus
bagi anak laki-laki dalam usia 5 tahun, penting sekali bagi mereka untuk bergaul
secara rapat dengan lingkungan terbatas yang kuat, ayah yang hanya atau pengganti
ayah sehingga identitas peran laki-laki dapat terbentuk (Walters, 1976).
Peran yang lebih matang juga diterima oleh anak-anak usia prasekolah, yang
secara perlahan-lahan menerima lebih banyak tanggungjawab perawatan dirinya
sendiri, plus membantu ibu atau ayah dalam melakukan pekerjaan rumah tangga. Di
sini bukan produktifitas anak yang penting, melainkan proses belajar

yang

berlangsung.
Berlawanan dengan harapan, penelitian membuktikan bahwa kelahiran anak
kedua dalam keluarga memiliki efek yang bahkan lebih merusak hubungan
perkawinan dari pada kelahiran anak pertama. Feldman (1961) melaporkan bahwa
peran orangtua membuat peran-peran perkawinan lebih sulit, seperti terungkap dalam
observasi berikut ini : pasangan suami istri masing-masing merasakan perubahan
kepribadian yang negatif ; mereka kurang puas dengan keadaan di rumah, terdapat
banyak interaksi yang berorientasi pada tugas, pembicaraan pribadi lebih sedikit dan
pembicaraan yang berpusat pada anak lebih banyak, kehangatan yang diberikan
kepada anak lebih banyak dari pada yang diberikan satu sama lain, dan tingkat
kepuasan hubungan seksual lebih rendah (Feldman, 1969).
28

Penelitian yang cukup terkenal ini paralel dengan laporan dan observasi para
konselor keluarga bahwa hubungan perkawinan sering mengalami keguncangan
dalam tahap siklus ini. Sebenarnya, banyak sekali perceraian yang terjadi dalam
tahun-tahun seperti ini karena ikatan perkawinan yang lemah atau tidak memuaskan.
Privasi dan waktu bersama merupakan kebutuhan yang utama. Konseling perkawinan
dan kelompok-kelompok pertemuan perkawinan merupakan sumber-sumber yang
penting dikalangan kelas menengah. Akan tetapi keluarga tanpa sumber-sumber
ekonomi, hanya memiliki bantuan yang terbatas untuk memperkokoh upaya
penyelamatan perkawinan. Terdapat trend bagi para pastur dan pendeta untuk menjadi
terlatih sebagai konselor perkawinan dan konselor keluarga yang tidak bisa
mengupayakan terapi pribadi.
Tugas utama dari keluarga adalah mensosialisasikan anak. Anak-anak usia
prasekolah mengembangkan sikap diri sendiri (konsep diri) dan dapat secara cepat
belajar mengekspresikan diri mereka, seperti tampak dalam kemampuan menangkap
bahasa dengan cepat.
Tugas lain selama masa ini menyangkut bagaimana mengintegrasikan anggota
keluarga yang baru (anak kedua dan ketiga) semasa masih memenuhi kebutuhan anak
yang lebih tua. Penggeseran seorang anak oleh bayi baru lahir secara psikologis
merupakan suatu kejadian traumatik. Persiapan anak-anak menjelang kelahiran
seorang bayi membantu memperbaiki situasi, khususnya jika orangtua sensitif
terhadap perasaan dan tingkah laku anak yang lebih tua. Persaingan dikalangan kakak
beradik (sibling rivalry) biasanya diungkapkan dengan memukul atau berhubungan
secara negatif dengan bayi, tingkah laku regresif, melakukan kegiatan-kegiatan yang
menarik perhatian. Cara terbaik menangani persaingan dikalangan kakak adik adalah
dengan meluangkan waktu setiap hari untuk berhubungan lebih erat dengan anak
yang lebih tua untuk meyakinkannya bahwa ia masih dicintai dan dikehendaki.
Kira-kira saat anak mencapai usia prasekolah, orangtua memasuki

tahap

pengasuhan anak yang ketiga, salah satunya belajar berpisah dari anak-anak ketika
mereka mulai masuk ke kelompok bermain, tempat penitipan anak, atau taman kanakkanak. Tahap ini berlangsung terus selama usia prasekolah hingga memasuki awal
29

usia sekolah. Pisah seringkali terasa sulit bagi orangtua dan mereka perlu mendapat
dukungan dan penjelasan tentang bagaimana penguasaan tugas-tugas perkembangan
anak usia prasekolah memberikan kontribusi untuk semakin meningkatnya otonomi
mereka.
Pisah dari orangtua juga sulit bagi anak-anak usia prasekolah. Pisah dapat
terjadi karena orangtua pergi bekerja, ke rumah sakit, melakukan perjalanan atau
berlibur. Persiapan keluarga untuk pisah dengan anak sangat penting dalam membantu
anak menyesuaikan diri terhadap perubahan.
Membantu keluarga untuk mendapatkan pelayanan keluarga berencana setelah
kelahiran seorang bayi, atau melanjutkan kontrasepsi jika tidak terdapat kehamilan,
juga diindikasikan. Misalnya, adalah tidak biasa bagi seorang wanita untuk berhenti
menggunakan alt kontrasepsi karena terlambat haid dengan keyakinan bahwa ia
hamil, hanya untuk mencari tahu apakah kehamilannya terjadi karena hubungan seks
tanpa perlindungan kontrasepsi.
Kedua orangtua perlu memiliki kesenangan dan kontak di luar rumah untuk
mengawetmudakan mereka sehingga mereka dapat melaksanakan berbagai tugastugas dan tanggungjawab di rumah. Orangtua dari golongan kelas rendah dan orang
tunggal sering tidak punya kesempatan untuk melakukan hal ini, dan keluargakeluarga ini mendapat kepuasan paling sedikit terhadap pergaulan mereka dan
komunitas yang lebih luas karena posisi mereka yang terasing dan kekurangan
sumber-sumber yang tersedia bagi mereka.
Masalah-Masalah Kesehatan.
Banyak sekali masalah kesehatan yang telah diidentifikasi sepanjang pembahasan kita
tentang keluarga dengan anak usia prasekolah. Seperti telah dinyatakan sebelumnya,
masalah kesehatan fisik yang utama adalah penyakit-penyakit menular yang lazim
pada anak dan jatuh, luka bakar, keracunan dan kecelakaan-kecelakaan yang lain yang
terjadi selama usia prasekolah.
Masalah-masalah kesehatan psikososial keluarga yang utama adalah hubungan
perkawinan. Beberapa studi mencoba meneliti menurunnya kepuasan yang dialami
30

oleh banyak pasanga selama tahun-tahun ini dan perlunya penanganan terhadap
masalah ini untuk memperkokoh dan memberikan semangat pada unit lain yang vital
ini. Masalah-masalah kesehatan lain yang penting adalah persaingan diantara kakakadik, keluarga berencana, kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan, masalahmasalah pengasuhan anak seperti membatasi lingkungan (disiplin), penganiayaan dan
menelantarkan anak, keamanan di rumah dan masalah-masalah komunikasi keluarga.
Strategi-strategi promosi kesehatan umum berhubungan erat selama tahap ini,
karena tingkah laku gaya hidup yang dipelajari selama masa kanak-kanak dapat
menyebabkan konsekuensi-konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang.
Pendidikan kesehatan keluarga diarahkan pada pencegahan masalah-masalah
kesehatan utama seperti merokok, penyahagunaan obat-obatan dan alkohol,
seksualitas manusia, keselamatan, diet dan nutrisi, olahraga dan penanganan
stress/dukungan sosial. Tujuan utama bagi para perawat yang bekerja dengan
keluarga dan anak usia prasekolah adalah membantu mereka membentuk gaya hidup
yang sehat dan memfasilitasi pertumbuhan fisik, intelektual, emosional dan sosial
secara optimal. (Wilson, 1088, hal. 177).
Kemungkinan diagnosa
Resiko cidera
Resiko trauma
Resiko keracunan
Resiko infeksi
Gangguan penanganan pemeliharaan rumah
Perubahan menjadi orang tua
Perubahan pertumbuhan dan perkembangan
Gangguan komunikasi verbal
Peran perawat
Monitor perkembangan awal masa kanak-kanak, perujukan bila ada indikasi
Pendidik dalam tindakan pertolongan pertama dan kedaruratan
Koordinator dg layanan pediatri
Penyelia imunisasi
31

Konselor pada nutrisi dan latihan


Pendidik dlm isu pemecahan masalah mengenai kebiasaan kesehatan
Pendidik tentang higiene perawatan gigi
Konselor pada keamanan lingkungan di rumah
Fasilitator dalam hubungan interpersonal

d. Tahap IV : Keluarga dengan Anak Usia Sekolah


Tahap ini dimulai ketika anak pertama telah berusia 6 tahun dan mulai masuk
sekolah dasar dan berakhir pada usia 13 tahun, awal dari masa remaja. Keluarga
biasanya mencapai jumlah anggota maksimum, dan hubungan keluarga di akhir tahap
ini (Duvall, 1977). Lagi-lagi tahun-tahun pada masa ini merupakan tahun-tahun yang
sibuk. Kini, anak-anak mempunyai keinginan dan kegiatan-kegiatan masing-masing,
disamping kegiatan-kegiatan wajib dari sekolah dan dalam hidup, serta kegiatankegiatan orangtua sendiri. Setiap orang menjalani tugas-tugas perkembangannya
sendiri-sendiri,

sama

seperti

keluarga

berupaya

memenuhi

tugas-tugas

perkembangannya sendiri (Tabel 7). Menurut Erikson (1950), orangtua berjuang


dengan tuntutan ganda yaitu berupaya mencari kepuasan dalam mengasuh generasi
berikutnya (tugas perkembangan generasivitas) dan memperhatikan perkembangan
mereka sendiri ; sementara anak-anak usia sekolah bekerja untuk mengembangkan
sense of industry kapasitas untuk menikmati pekerjaan dan mencoba mengurangi
atau menangkis perasaan rendah diri.
Tabel 7. Tahap IV Siklus Kehidupan Keluarga Inti dengan anak usia sekolah,
dan Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga yang Bersamaan.
Tahap Siklus Kehidupan Keluarga
Keluarga dengan anak usia sekolah

Tugas-Tugas Perkembangan
Keluarga
1. Mensosialisasikan

anak-anak,

termasuk

meningkatkan

sekolah

dan

prestasi

mengembangkan

hubungan dengan teman sebaya


yang sehat.
2. Mempertahankan

32

hubungan

perkawinan yang memuaskan.


3. Memenuhi

kebutuhan

kesehatan

fisik anggota keluarga


Diadaptasi dari Carter dan McGoldrick (1988), Duvall dan Miller (1985)
Tugas orangtua pada tahap ini adalah untuk belajar menghadapi pisah dengan
atau lebih sederhana, membiarkan anak pergi. Lama kelamaan hubungan dengan
teman sebaya dan kegiatan-kegiatan diluar rumah akan memainkan peranan yang
lebih besar dalam kehidupan anak usia sekolah tersebut. Tahun-tahun ini dipenuhi
oleh kegiatan-kegiatan keluarga, tapi ada juga kekuatan-kekuatan yang secara
perlahan-lahan mendorong anak tersebut pisah dari keluarga

sebagai persiapan

menuju masa remaja. Orangtua yang mempunyai perhatian diluar anak mereka akan
merasa lebih mudah membuat perpisahan yang perlahan-lahan. Akan tetapi, dalam
contoh-contoh dimana peran ibu merupakan sentral dan satu-satunya peran yang
signifikan dalam kehidupan wanita, maka proses pisah ini merupakan sesuatu yang
menyakitkan dan dipertahankan mati-matian.
Selama tahap ini orangtua merasakan tekanan yang luar biasa dari komunitas
di luar rumah melalui sistem sekolah dan berbagai asosiasi di luar keluarga yang
mengharuskan anak-anak mereka menyesuaikan diri dengan standa-standar komunitas
bagi anak. Hal ini cenderung mempengaruhi keluarga-keluarga kelas menengah untuk
lebih

menekankan

nlai-nilai

tradisional

pencapaian

dan produktifitas,

dan

menyebabkan sejumlah keluarga dari kelas pekerja dan banyak keluarga miskin
merasa tersingkir dari dan konflik dengan sekolah dan / atau nilai-nilai komunitas.
Kecacatan pada anak-anak akan ketahuan selama periode kehidupan anak ini.
Para perawat sekolah dan guru

akan mendeteksi banyak defek penglihatan,

pendengaran, wicara, selain kesulitan belajar, gangguan tingkah laku, dan perawatan
gigi yang tidak adekuat, penganiayaan anak, penyalahgunaan zat dan penyakitpenyakit menular (Edelman dan Mandle, 1986). Bekerja dengan keluarga dengan
peran sebagai konselor dan pendidik dalam bidang kesehatan, selain untuk memulai
rujukan yang layak untuk skrining lanjutan, membutuhkan energi yang sangat banyak
dari seorang perawat sekolah. Ia juga bertindak sebagai narasumber bagi guru

33

sekolah, memungkinkan guru mampu menangani kebutuhan-kebutuhan kesehatan


individu atau yang telah lazim dari siswa-siswa secara lebih efektif.
Ada banyak keadaan cacat yang terdeteksi selama tahun-tahun sekolah,
termasuk epilepsi serebral palsi, retardasi mental, kanker, kondisi ortopedik. Fungsi
pertama perawat kesehatan disini disamping fungsi rujukan, mengajar dan
memberikan konseling kepada orangtua mengenai kondisi tersebut akan membantu
keluarga melakukan koping sehingga pengaruh yang merugikan dari cacat tersebut
pada keluarga dapat diminimalkan.
Bagi anak-anak dengan masalah tingkah laku, perawat keluarga di sekolah,
klinik, kantor, dokter dan lembaga-lembaga komunitas harus mengupayakan
keterlibatan orangtua secara aktif. Memulai rujukan untuk konseling/terapi keluarga
sering amat bermanfaat dalam membantu keluarga agar sadar akan masalah-masalah
keluarga yang mungkin akan mempengaruhi anak usia sekolah secara merugikan. Jika
orangtua dapat menata kembali masalah tingkah laku anak sebagai sebuah masalah
keluarga yang berupaya mencari resolusi dengan fokus yang baru tersebut, akan
tercapai lebih banyak fungsi-fungsi keluarga dan tingkah laku anak yang sehat (Bradt,
1988)
Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga
Salah satu tugas orangtua yang sangat penting dalam mensosialisasikan anak pada
saat ini meliputi meningkatkan prestasi anak pada saat ini meliputi meningkatkan
prestasi anak di sekolah. Tugas keluarga yang signifikan lainnya adalah
mempertahankan hubungan perkawinan yang bahagia. Sekali lagi dilaporkan bahwa
kebahagiaan perkawinan selama tahap ini menurun. Dua buah penelitian yang besar
menguatkan observasi ini (Burr, 1970 ; Rollins dan Feldman, 1970). Meningkatkan
komunikasi yang terbuka dan mendukung hubungan suami istri merupakan hal yang
vital dalam bekerja dengan keluarga dan anak usia sekolah.
Kemungkinan diagnosa dan peran perawat sama dengan keluarga dengan anak
usia pra sekolah

34

e. Tahap V : Keluarga dengan Anak Remaja


Ketika anak pertama melewati umur 13 tahun, tahap kelima dari siklus
kehidupan keluarga dimulai. Tahap ini berlangsung selama 6 hingga 7 tahun,
meskipun tahap ini dapat lebih singkat jika anak meninggalkan keluarga lebih awal
atau lebih lama jika anak masih tinggal di rumah hingga 19 atau 20 tahun. Anak-anak
lain dalam rumah biasanya masih dalam usia sekolah. Tujuan keluarga yang terlalu
enteng pada tahap ini yang melonggarkan ikatan keluarga memungkinkan
tanggungjawab dan kebebasan yang lebih besar bagi remaja dalam persiapan menjadi
dewasa muda (Duvall, 1977).
Preto (1988) dalam membahas tentang transformasi sistem keluarga dalam
masa remaja, menguraikan metamorfosis keluarga yang terjadi. Metamorfosis ini
meliputi pergeseran yang luar biasa pada pola-pola hubungan antar generasi, dan
sementara pergeseran ini pada awalnya ditandai dengan kematangan fisik remaja,
pergeseran ini seringkali sejalan dan bertepatan dengan perubahan pada orangtua
karena mereka memasuki pertengahan hidup dan dengan transformasi utama yang
dihadapi oleh kakek nenek dalam usian tua
Tahap kehidupan keluarga ini mungkin yang paling sulit, atau sudah tentu
yang paling banyak diperbincangkan dan ditulis (Kidwell et al, 1983). Keluarga
Amerika dipengaruhi oleh tugas-tugas perkembangan remaja dan orangtua dan
menciptakan konflik dan kekacauan yang luar biasa yang tidak bisa dihindarkan.
Tugas perkembangan remaja menghendaki

pergerakan dari ketergantungan dan

kendali orangtua dan orang dewasa lainnya, melalui periode aktifitas dan pengaruh
kelompok teman sebaya yang kokoh hingga saat menerima peran-peran orang dewasa
(Adams, 1971).
Tantangan utama dalam bekerja dengan keluarga dengan anak remaja bergerak
sekitar perubahan perkembangan yang dialami oleh remaja dalam batasan perubahan
kognitif, pembentukan identitas, dan pertumbuhan biologis (Kidwell et al, 1983), serta
konflik-konflik dan krisis yang berdasarkan perkembangan. Adams (1971)
menguraikan tiga aspek proses perkembangan remaja yang menyita banyak perhatian,
yakni emansipasi (otonomi yang meningkat), budaya orang muda (perkembangan

35

hubungan teman sebaya), kesenjangan antar generasi (perbedaan nilai-nilai dan


norma-norma antara orangtua dan remaja).
Peran, Tanggungjawab dan Masalah Orangtua.
Tidak perlu dikatana bahwa orangtua mengasuh remaja merupakan tugas
paling sulit saat ini. Namun demikian, orangtua perlu tetap tegar menghadapi ujian
batas-batas yang tidak masuk akan tersebut, yang telah terbentuk dalam keluarga
ketika keluarga mengalami proses melepaskan. Duvall (1977) juga mengidentifikasi
tugas-tugas perkembangan yang penting pada masa ini yang menyelaraskan
kebebasan dengan tanggungjawab ketika remaja menjadi matang dan mengatur diri
mereka sendiri. Friedman (1957) juga mendefinisikan serupa bahwa tugas orangtua
selama tahap ini adalah belajar menerima penolakan tanpa meninggalkan anak.
Ketika orangtua menerima remaja apa adanya, dengan segala kelemahan dan
kelebihan mereka, dan ketika mereka menerima sejumlah peran mereka pada tahap
perkembangan ini tanpa konflik atau sensitivitas yang tidak pantas, mereka membentu
pola untuk semacam penerimaan diri yang sama. Hubungan antara orangtua dan
remaja seharusnya lebih mulus bila orangtua merasa produktif, puas dan dapat
mengendalikan kehidupan mereka sendiri (Kidwell et al, 1983) dan orangtua/keluarga
berfungsi secara fleksibel (Preto, 1988).
Schultz (1972) dan lain-lain telah mengungkapkan pandangan mereka bahwa
kompleksitas kehidupan Amerika yang telah meningkat telah membuat peran
orangtua tidak jelas. Orangtua merasa berkompetisi dengan berbagai kegiatan sosial
dan institusi mulai dari otoritas sekolah dan konselor hingga keluarga berencana dan
seks pranikah dan pilihan kumpul kebo. Faktor-faktor lain menambah pengaruh
mereka yang semakin berkurang tersebut. Karena adanya spesialisasi jabatan dan
profesi, orangtua tidak lagi bisa membantu anak-anak mereka dengan rencana-rencana
untuk bekerja. Mobilitas penduduk dan kurangnya hubungan orang dewasa yang
kontinu bagi remaja dan orangtua, selain ketidakmampuan banyak orangtua untuk
mendiskusikan masalah-masalah pribadi, seks, dan masalah-masalah yang berkaitan
dengan obat-obatan secara terbuka dan tidak menghakimi bersama anak-naka mereka
juga memberikan kontribusi pada masalah-masalah orangtua-remaja.

36

Tabel 8. Tahap Siklus V Kehidupan Keluarga Inti dengan anak remaja


danTugas-Tugas Perkembangan Keluarga yang Bersamaan
Tahap Siklus Kehidupan Keluarga
Keluarga dengan anak remaja

Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga


1. Menyeimbangkan kebebasan dan
tanggungjawab
menjadi

dewasa

ketika

remaja

dan

semakin

mandiri.
2. Memfokuskan kembali hubungan
perkawinan.
3. Berkomunikasi

secara

terbuka

antara orangtua dan anak-anak.


Diadaptasi dari Carter dan McGoldrick (1988), Duvall dan Miller (1985)
Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga.
Tugas perkembangan yang utama dan pertama adalah menyeimbangkan
kebebasan dengan tanggungjawab ketika remaja matur dan semakin mandiri (Tabel
8). Orangtua harus mengubah hubungan mereka dengan remaja putri atau putranya
secara progresif dari hubungan dependen yang dibentuk sebelumnya ke arah suatu
hubungan yang semakin mandiri. Pergeseran yang terjadi pada hubungan anakorangtua ini salah satu hubungan khas yang penuh dengan konflik-konflik sepanjang
jalan.
Agar keluarga dapat beradaptasi dengan sukses selama tahap ini, semua
anggota keluarga, khususnya orangtua, harus membuat perubahan sistem utama
yaitu, membentuk peran-peran dan norma-norma baru dan membiarkan remaja.
Kidwell dan kawan-kawan (1983) meringkas perubahan yang diperlukan ini. Secara
paradoks, sistem (keluarga) yang dapat membiarkan anggotanya adalah sistem yang
akan bertahan dan menghasilkan sistem itu sendiri secara efektif pada generasigenerasi berikutnya.
Orangtua yang dalam upaya memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka sendiri,
tidak membiarkan anak-anaknya, seringkali menemukan revolusi oleh remaja bila

37

perpisahan berlangsung kemudian. Orangtua dapat juga mempercayai anak agar


mandiri

secara

prematur,

dengan

mengabaikan

kebutuhan-kebutuhan

ketergantungannya. Dalam hal ini remaja dapat gagal mencapai kemandirian (Wright
dan Leahey, 1984).
Menyangkut tiga tahap terakhir, hubungan perkawinan juga merupakan pusat
perhatian. Tugas perkembangan keluarga yang kedua bagi pasangan suami istri adalah
memfokuskan kembali hubungan perkawinan (Wilson, 1988). Banyak sekali
pasangan suami istri yang telah begitu terikat dengan tanggungjawab sebagai orangtua
sehingga perkawinan tidak lagi memainkan suatu peran utama dalam kehidupan
mereka. Suami biasanya menghabiskan banyak waktu diluar rumah karena bekerja
dan melanjutkan kariernya, sementara itu, istrinya juga bekerja sementara itu, istrinya
juga bekerja sementara mencoba meneruskan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga dan
tanggungjawab sebagai orangtua. Dalam situasi seperti ini, hanya tersisa sedikit waktu
dan energi untuk hubungan perkawinan.
Akan tetapi disisi lain, karena anak-anak lebih bertanggungjawab terhadap
diri mereka sendiri, pasangan suami-istri meninggalkan rumah untuk meniti karier
mereka atau dapat menciptakan kesenangan-kesenangan perkawinan setelah anakanaknya telah meninggalkan rumah (postparental). Mereka dapat mulai membangun
fondasi untuk tahap siklus kehidupan keluarga berikutnya.
Tugas perkembangan keluarga yang ketiga yang mendesak adalah untuk para
anggota keluarga,

khususnya orangtua dan remaja, untuk berkomunikasi secara

terbuka. Karena adanya kesenjangan antar generasi, komunikasi terbuka seringkali


hanya merupakan suatu cita-cita, bukan suatu realita. Seringkali terdapat saling tolak
menolak antara orang tua dengan remaja menyangkut nilai dan gaya hidup. Orangtua
yang berasal dari keluarga dengan berbagai macam masalah terbukti

seringkali

menolak dan memisahkan diri dari anak mereka yang tertua, sehingga mengurangi
sauran-saluran komunikasi terbuka yang mungkin telah ada sebelumnya.
Mempertahankan etika dan standar moral keluarga merupakan tugas
perkembangan keluarga lainnya (Duvall dan Miller, 1985). Meskipun aturan-aturan
dalam keluarga perlu diubah, etika dan standar moral keluarga
38

perlu tetap

dipertahankan oleh orangtua. Sementara remaja mencari nilai-nilai dan keyakinankeyakinan mereka sendiri,

adalah sangat penting bagi orangtua untuk

mempertahankan dan mengetatkan

prinsip-prinsip dan standar-standar mereka.

Remaja sangat sensitif dengan ketidakcocokkan antara apa dikatakan dengan apa yang
dipraktikkan. Namun demikian, orangtua dan anak-anak dapat belajar dari satu dan
sama lain dalam masyarakat yang majemuk dan berubah dengan cepat ini saat ini.
Transformasi nilai dari kaum muda juga mentransformasikan keluarga. Adopsi gaya
hidup yang lebih bebas dan sederhana mengembangkan transformasi nilai yang
mempengaruhi setiap saat kehidupan keluarga (Yankelowich, 1975).
Masalah-Masalah Kesehatan.
Pada tahap ini kesehatan fisik anggota keluarga biasanya baik, tapi promosi kesehatan
tetap menjadi hal yang penting. Faktor-faktor resiko harus diidentifikasikan dan
dibicarakan dengan keluarga, seperti pentingnya gaya hidup keluarga yang sehat.
Mulai dari usia 35 tahun, resiko penyakit jantung koroner meningkat dikalangan pria
dan pada usia ini anggota keluarga yang dewasa merasa lebih rentan terhadap
penyakit sebagai bagian dari perubahan-perubahan perkembangan dan biasanya
mereka ini menerima strategi-strategi promosi kesehatan. Sedangkan pada remaja,
kecelakaan-terutama kecelakaan mobil-merupakan bahaya yang amat besar, dan patah
tulang dan cidera karena atletik juga umum terjadi.
Penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol, keluarga berencana, kehamilan yang
tidak dikehendaki, dan pendidikan dan konseling seks merupakan bidang-bidang
perhatian yang relevan. Dalam mendiskusikan topik ini dengan keluarga, perawat
dapat terjebak dalam perselisihan atau masalah antara orangtua dan kaum muda.
Remaja biasanya mencari pelayanan kesehatan menyangkut uji kehamilan,
penggunaan obat-obatan, uji AIDS, keluarga berencana dan aborsi, diagnosis dan
perawatan penyakit kelamin. Agaknya telah menjadi trend yang sah bagi remaja untuk
menerima perawatan kesehatan tanpa izin orangtua. Bila orangtua diikutsertakan
maka dilakukan wawancara terpisah sebelum mereka dikumpulkan.
Kebutuhan kesehatan yang lain adalah dalam bidang dukungan dan bantuan
untuk memperkokoh hubungan perkawinan dan hubungan remaja dengan orangtua.
Konseling langsung yang bersifat menunjang dan memulai rujukan ke sumber-sumber
dalam komunitas untuk konseling, dan juga pendidikan yang bersifat rekreasional,

39

dan pelayanan lainnya mungkin diperlukan. Pendidikan promosi kesehatan umum


juga diindikasikan.
Kemungkinan diagnosa
Resiko trauma
Gangguan komunikasi verbal
Koping individu tidak efektif
Perubahan menjadi orang tua
Perubahan proteksi
Perubahan proses keluarga : Alkoholisme
Peran perawat
Pendidik tentang faktor-faktor resiko terhadap kesehatan
Pendidik dalam issu pemecahan masalah mengenai alkohol, merokok, diit dan
latihan
Fasilitator tentang keterampilan-keterampilan interpersonal dengan remaja dan
orang tua
Pendukung, konselor, perujukan langsung pada sumber-sumber kesehatan
mental
Konselor pada keluarga berencana
Perujukan untuk penyakit hubungan seksual
Peserta dalam organisasi komunitas pada pengendalian penyakit

f. Tahap VI : Keluarga yang Melepaskan Anak Usia Dewasa Muda


Permulaan dari fase kehidupan keluarga ini ditandai oleh anak pertama
meninggalkan rumah orangtua dengan rumah kosong, ketika anak-anak terakhir
meninggalkan rumah. Tahap ini dapat singkat atau agak panjang, tergantung pada
berapa banyak anak yang ada dalam rumah atau berapa banyak anak yang melum
menikah yang masih tinggal di rumah setelah tamat dari SMA dan perguruan tinggi.
Meskipun tahap ini biasanya 6 atau 7 tahun, dalam tahun-tahun belakangan ini, tahap
ini berlangsung lebih lama dalam keluarga dengan dua orangtua, mengingat anakanak yang lebih tua baru meninggalkan orangtua setelah selesai sekolah dan mulai

40

bekerja. Motifnya adalah seringkali ekonomi-tingginya biaya hidup bila hidup sendiri.
Akan tetapi, trend yang meluas dikalangan dewasa muda, yang umumnya menunda
perkawinan, hidup terpisah dan mandiri dalam tatanan hidup mereka sendiri. Dari
sebuah survey besar yang dilakukan terhadap orang Kanada ditemukan bahwa anakanak yang berkembangan dalam keluarga dengan orangtua tiri dan keluarga dengan
orangtua tunggal meninggalkan rumah lebih dini dari pada mereka yang dibesarkan
dalam keluarga dengan dua orangtua. Perbedaan ini tidak dipandang karena
dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi, melainkan karena perbedaan orangtua dan
lingkungan keluarga (Mitchel et al, 1989).
Fase ini ditandai oleh tahun-tahun puncak persiapan dari dan oleh anak-anak
untuk kehidupan dewasa yang mandiri. Orangtua, karena mereka membiarkan anak
mereka pergi, melepaskan 20 tahun peran sebagai orangtua dan kembali pada
pasangan perkawinan mereka yang asli. Tugas-tugas perkembangan menjadi penting
karena keluarga tersebut berubah dari sebuah rumah tangga dengan anak-anak ke
sebuah rumah tangga yang hanya terdiri dari sepasang suami dan isteri. Tujuan utama
keluarga adalah reorganisasi keluarga menjadi sebuah unit yang tetap berjalan
sementara melepaskan anak-anak yang dewasa kedalam kehidupan mereka sendiri
(Duvall, 1977). Selama tahap ini pasangan tersebut mengambil peran sebagai kakek
nenek-perubahan lainnya dalam peran maupun dalam citra diri mereka.
Usia pertengahan awal, yang merupakan usia rata-rata di mana para orangtua
melepaskan anak mereka yang tertua ditandai sebagai masa kehidupan yang
terperangkap ; terperangkap antara tuntutan-tuntutan kaum muda dan harapanharapan dari mereka yang lebih tua dan terperangkap antara dunia kerja dan tuntutan
yang bersaing dan keterlibatan keluarga, dimana seringkali tampaknya tidak mungkin
memenuhi tuntutan-tuntutan dari kedua bidang tersebut. Akan tetapi studi-studi
membuktikan bahwa mereka yang berusia pertengahan mungkin merasa tertekan atau
terjepit diantara kutub orangtua dan muda, paling tidak bagi individu-individu
golongan kelas menengah dan kelas atas, mereka senantiasa dapat mengapresiasikan
bagaimana mereka dan prestasi mereka : Mereka senantiasa mengetahui bahwa
mereka adalah para pembuatan keputusan negara ; mereka yang menggambarkan
kualitas umum kehidupan dalam masyarakat ini. Masyarakat tergantung kepada

41

kepemimpinan dan produktifitas dari orang yang berasal dari golongan usia
pertengahan (Kerchoff, 1976).
Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga.
Sebagaimana keluarga membantu anak tertua dalam melepaskan diri, orangtua juga
membantu anak mereka yang lebih kecil agar mandiri. Dan ketiga anak laki-laki atau
perempuan yang dilepas menikah, tugas keluarga adalah memperluas siklus
keluarga dengan memasukkan anggota keluarga yang baru lewat perkawinan dan
menerima nilai-nilai dan gaya hidup dari pasangan itu sendiri (Tabel 9)
Tabel 9. Tahap VI Siklus Kehidupan Keluarga Inti yang melepaskan anak usia
dewasa muda dan Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga yang Bersamaan
Tahap Siklus Kehidupan Keluarga
Keluarga melepas anak dewasa muda

Tugas-Tugas Perkembangan
Keluarga
1. Memperluas siklus keluarga dengan
memasukkan anggota keluarga baru
yang

didapatkan

melalui

perkawinan anak-anak.
2. Melanjutkan untuk memperbaharui
dan

menyesuaikan

kembali

hubungan perkawinan.
3. Membantu orangtua lanjut usia dan
sakit-sakitan dari suami maupun
istri.
Diadaptasi dari Carter dan McGoldrick (1988), Duvall dan Miller (1985)
Dengan rumah yang telah kosong, orangtua memiliki waktu lebih banyak
untuk mencurahkan perhatian pada kegiatan-kegiatan dan hubungan-hubungan lain.
Mereka tidak tumbuh saling berjauhan dari satu sama lain dimana mereka tidak dapat
melembagakan atau membentuk kembali peran suami dan isteri yang pernah mereka
lakukan. LeShan (1973) memandang tahap ini sebagai tantangan bagi hubungan
perkawinan. Ketika anak-anak meninggalkan rumah, perkawinan menghadapi momen
kebenaran ; apakah ada cukup kekuatan untuk mempertahankannya tanpa alasan
kedudukan sebagai orangtua?.

42

Masa ini biasanya jauh lebih sulit bagi wanita daripada pria. Pada kebanyakan
keluarga, peran sentral dan abadi abadi dalam arti bahwa peran tersebut telah
berlangsung selama 20 tahun-bagi wanita adalah peran sebagai seorang ibu. Meskipun
saat ini kurang lazim karena banyak wanita sekolah atau meniti karier, identitas dan
perasaan kompetensi wanita didasarkan pada menjadi sebagai seorang ibu yang baik.
Meskipun tahun-tahun perpisahan dengan anak yang berlangsung perlahan-lahan
mendahului tahap ini, pelepasan anak secara psikologis seringkali terjadi secara
mendadak. Dengan perginya anak, ibu yang tidak lagi bekerja menemukan dirinya
sendiri dalam sebuah rumah yang bersih (tidak ada banyak pekerjaan lagi) dan tidak
lagi tempat yang dituju atau tujuan terhadap eksistensinya. Suami-suami dari
golongan menengah keatas pada puncak kariernya menghabiskan banyak waktu di
luar rumah, masa-masa untuk meraih sukses dalam jabatan, finansial, dan profesi dan
mencoba memenuhi aspirasi mereka sebelum terlambat. Banyak wanita yang begitu
asyik dengan anak-anaknya sehingga tidak mempersiapkan diri untuk tahap
kehidupan mereka ini dan tidak mempunyai komitmen-komitmen yang sama-sama
akan dipenuhi yang mana dalam komitmen-komitmen tersebut dalam rangka untuk
menginvestasikan tenaga dan talenta mereka. Krisis pada usia pertengahan lebih hebat
bagi wanita bukan hanya karena anak-anak meninggalkan rumah dan ketidakhadiran
suami mereka, melainkan juga karena perasaan kehilangan feminitas pada awal
manupouse (biasanya antara 45 hingga 55 tahun) dan kehilangan kecantikan ketika
tanda-tanda ketuaan mulai tampak. Jika seorang wanita mempunyai komitmen di luar
rumah (mis, bekerja dan kegemaran), biasanya ia memiliki masalah yang jauh lebih
sedikit daripada ia tetap berada di rumah menjalankan fungsi peran tradisional sebagai
ibu rumah tangga dan seorang ibu secara penuh.
Pria dalam masa usia pertengahan juga menghadapi krisis perkembangan.
Salah satu kemungkinan krisis tersebut adalah dorongan untuk maju dalam karier dan
realisasi bahwa mereka belum berhasil dan belum mencapai aspirasi mereka. Juga
tanda-tanda menurunnya maskulinitas, seperti tenaga menurun, potensi dan gairah
seks berkurangnya, dan juga figur, rambut, tanda-tanda kulit menua dan cemas dalam
hal keuangan ; semuanya merupakan stressor bagi pria dalam tahap siklus kehidupan
keluarga ini, dan menekankan krisis perkembangan usia pertengahan yang terjadi.

43

Friedman (1957) mengulangi pernyataan pentingnya hubungan perkawinan


dengan menggolongkan tahap perkembangan orangtua pada titik ini dalam siklus
kehidupan keluarga sebagai pembentuk suatu kehidupan baru bersama-sama. Tugas
perkembangan penting lainnya dari keluarga dengan usia pertengahan adalah
membantu mertua dari suami dan istri yang lanjut usia dan sakit-sakitan. Meskipun
perawatan orangtua yang lanjut usia dan/atau tidak mandiri bukanlah fungsi yang
diharapkan dari keluarga Amerika dengan pengecualian pada beberapa kelompok
etnis, suami dan istri diharapkan dapat membantu dan menyokong anggota keluarga
yang lebih tua semaksimal mungkin. Aktifitas tersebut dapat dilakukan dalam
berbagai bentuk mulai dari menelepon secara rutin hingga bantuan finansial,
transportasi dan mengunjungi serta merawat orangtua mereka di rumah. Di Amerika,
keluarga hanya bertanggungjawab atas generasi berikutnya, keturunan, dan hanya
untuk satu generasi sebelumnya yaitu orangtua (Kalish, 1975).
Keluarga dengan tiga generasi, meskipun bukan pada pola biasa, namun hal ini
bukan tidak lazim, khusus pada keluarga-keluarga etnis Asia, Spanyo-Portugis,
Yunani, Italia, dan Keluarga Yahudi. Paling sering di Amerika Serikat, keluarga
dengan multi generasi tampaknya akan berkembang terutama bil keluarga inti dipecah
oleh kematian dan pereceraian, tapi kelayakan keuangan atau kebutuhan perawatan
anak juga mendorong tatanan kehidupan semacam itu. Sebenarnya orangtua yang
telah lanjut usia menghendaki hidup secara mandiri sehingga tidak mempengaruhi
kehidupan anak-anak mereka, yang lebih penting adalah untuk mempertahankan
perasaan kompoten, mandiri dan privasi (Bengston et al, 1987 ; Troll, 1971). Orangtua
juga harus menyingkirkan keputusan mereka untuk menempatkan orangtua mereka di
panti perawatan atau fasilitas pensiunan atau board-and-care selama tahun-tahun ini.
Secara singkat dapat dilihat bahwa anak-anak akan memisahkan diri, orangtua
perlu belajar lagi untuk mandiri. Dalam menyesuaikan diri kembali, perkawinan harus
terus berjalan jika kebutuhan-kebutuhan orangtua harus dipenuhi. Orangtua harus
mengatur kembali hubungan mereka untuk berhubungan satu sama lain sebagai
pasangan menikah dari pada hanya sebagai orangtua. Agar tahap ini menjadi lengkap,
anak-anak harus mandiri sementara tetap menjaga ikatan dengan orangtua.
Masalah-Masalah Kesehatan.
44

Masalah utama kesehatan meliputi masalah komunikasi kaum dewasa muda


dengan orangtua mereka ; masalah-masalah transisi peran bagi suami istri, masalah
orang yang memberikan perawatan (bagi orangtua lanjut usia) dan munculnya kondisi
kesehatan tingkat kolesterol tinggi, obesitas dan tekanan darah tinggi. Keluarga
berencana bagi remaja dan dewasa muda tetap penting. Masalah-masalah manupouse
dikalangan wanita umum terjadi. Efek-efek yang dikaitkan dengan kebiasaan minum,
merokok yang lama dan praktek diet semakin lebih jelas. Terakhir, perlunya strategi
promosi kesehatan dan gaya hidup sehat menjadi lebih penting bagi anggota
keluarga yang dewasa.

g. Tahap VII : Orangtua Usia Pertengahan


Tahap ketujuh dari siklus kehidupan keluarga, tahap usia pertengahan bagi
orangtua, dimulai ketika anak terakhir meninggalkan rumah dan berakhir pada saat
pensiun atau kematian salah satu pasangan. Tahap ini biasanya dimulai ketika
orangtua memasuki usia 45-55 tahun dan berakhir pada saat seorang pasangan
pensiun, biasanya 16-18 tahun kemudian. Biasanya pasangan suami istri dalam usia
pertengahannya merupakan sebuah keluarga inti meskipun masih berinteraksi dengan
orangtua mereka yang lanjut usia dan anggota keluarga lain dari keluarga asal mereka
dan juga anggota keluarga dari hasil perkawinan keturunannya. Pasangan
postparental (pasangan yang anak-anaknya telah meninggalkan rumah) biasanya tidak
terisolasi lagi saat ini ; semakin banyak pasangan usia pertengahan hidup hingga
menghabiskan sebagian masa hidupnya dalam fase postparental, dengan hubungan
ikatan keluarga hingga empat generasi, yang merupakan hal yang biasa (Troll, 1971).
Tahun

pertengahan

meliputi

perubahan-perubahan

pada

penyesuaian

perkawinan (seringkali lebih baik), pada distribusi kekuasaan antara suami dan isteri
(lebih merata), dan pada peran (diferensiasi peran perkawinan meningkat) (Leslie dan
Korman, 1989). Bagi banyak keluarga yang kepuasan maupun status ekonominya
meningkat (Rollins dan Feldman, 1970), tahun-tahun ini dipandang sebagai usia
kehidupan yang paling baik. Misalnya, Olson, McCubbin, dkk (1983) dalam sebuah
survey besar, bersifat nasional dan representatif terhadap keluarga utuh kelas
menengah yang didominasi oleh kulit putih ditemukan bahwa kepuasan perkawinan
dan keluarga, serta kualitas hidup bertambah dan memuncak selama fase postparental.
45

Keluarga-keluarga usia pertengahan umumnya secara ekonomi lebih baik daripada


tahap-tahap siklus kehidupan lain (McCollough dan Rutenbergm 1988). Partisipasi
kekuatan buruh yang meningkat oleh wanita dan berpendapatan yang lebih tinggi dari
pada periode sebelumnya oleh pria bertanggungjawab untuk keamanan ekonomi yang
dialami oleh kebanyakan keluarga usia pertengahan. Kegiatan-kegiatan waktu luang
dan persahabatan yang dinikmati satu sama lain disebut faktor utama yang
menimbulkan kebahagiaan. Kepuasan seksual juga memiliki korelasi yang positif
dengan komunikasi yang lebih baik dan kepuasan perkawinan (Levin dan Levin,
1975), meskipun para suami dengan usia pertengahan mungkin mengalami penurunan
kemampuan seksual. Komunikasi suami istri yang intim sangat penting untuk
mempertahankan pengertian dan keinginan satu sama lain dalam tahun-tahun ini.
Akan tetapi bagi sejumlah pasangan, tahun-tahun ini umumnya sulit dan berat,
karena masalah-masalah penuaan, hilangnya anak, dan adanya suatu perasaan dalam
diri mereka bahwa mereka gagal menjadi membesarkan anak dan usaha kerja.
Selanjutnya, tidak jelas apa yang terjadi dengan kepuasan perkawinan dan keluarga
melewati siklus kehidupan berkeluarga. Beberapa studi tentang kepuasan perkawinan
memperlihatkan bahwa kepuasan perkawinan menurun tajam setelah perkawinan
berlangsung dan terus menurun hingga tahun pertengahan (Leslie dan Korman).
Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga.
Pada saat anak bungsu meninggalkan rumah, banyak wanita yang
menyalurkan kembali tenaga dan hidup mereka dalam persiapan untuk mengisi rumah
yang telah ditinggalkan anak-anak. Bagi sejumlah wanita, krisis usia pertengahan
(telah dibicarakan dalam tahap sebelumnya) dialami selama masa awal siklus
kehidupan ini. Wanita berupaya mendorong anak mereka yang sedang sedang tumbuh
agar mandiri dengan menegaskan kembali

hubungan mereka dengan anak-anak

tersebut (tidak mengusik kehidupan pribadi dan kehidupan keluarga mereka). Dalam
upaya untuk mempertahankan perasaan yang sehat dan sejahtera, lebih banyak wanita
memulai gaya hidup yang lebih sehat yaitu pengontrolan peran badan, diet seimbang,
program olahraga yang teratur, dan istirahat yang cukup, dan juga memperoleh dan
menikmati karier, pekerjaan, kecakapan yang kreatif.

46

Dalam hal kerja, pria mungkin mengalami frustasi dan kekecewaan yang sama
yang terdapat dapat tahap sebelumnya. Di satu pihak, pria mungkin berada pada
puncak kariernya dan tidak perlu bekerja sekeras sebelumnya, atau dilain pihak
mereka mungkin merasa pekerjaan mereka bersifat monoton setelah 20 30 tahun
menekuni pekerjaan yang sama. Banyak sekali pekerja kelas menengah menderita
karena fenomena lateau dimana tidak ada lagi kenaikan gaji dan promosi
menyebabkan mereka merasa bosan. Dalam kondisi ini, ketidakpuasan terhadap karier
catatan mencapai proporsi lampu kuning, membuat banyak orang pada kerja
pertengahan ini tidak kerja karena ketidakpuasan, bosan, dan stagnasi. Karena secara
tradisional bekerja merupakan peran sentral bagi pria dalam hidup, pengalaman
ketidakpuasan terhadap pekerjaan ini amat mempengaruhi tingkat stress dan status
kesehatan umum.
Pengupayaan aktifitas dan hobbi di waktu luang sangat berarti selama
berlangsungnya tahap ini, karena lebih banyak waktu yang tersedia dan persiapan
kecil harus berlangsung secara lebih terencana.
Tugas perkembangan yang penting pada tahap ini adalah penentuan
lingkungan yang sehat (Tabel 10). Dalam masa inilah upaya untuk melaksanakan gaya
hidup sehat menjadi lebih menonjol bagi pasangan, meskipun kenyataannya bahwa
mungkin mereka telah melakukan kebiasaan-kebiasaan yang sifatnya merusak diri
selama 45 65 tahun. Meskipun dapat dianjurkan sekarang, mereka lebih baik
sekarang dari pada tidak pernah adalah selalu benar, agaknya terlalu terlambat untuk
mengembalikan perubahan-perubahan fisiologis yang telah terjadi serti aertritis akibat
in aktivitas, tekanan darah tinggi karena kurangnya olahraga, stress yang
berkepanjangan, menurunnya kapasitas vital akibat merokok.
Tabel 10. Tahap VII Siklus Kehidupan Keluarga Inti dengan orang tua usia
pertengahan dan Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga yang Bersamaan
Tahap Siklus Kehidupan Keluarga
Orangtua usia pertengahan

Tugas-Tugas Perkembangan
Keluarga
1. Menyediakan lingkungan

yang

meningkatkan kesehatan.
2. Mempertahankan

47

hubungan-

hubungan yang memuaskan dan


penuh arti dengan para orangtua
lansia dan anak-anak.
3. Memperkokoh

hubungan

perkawinan.
Diadaptasi dari Carter dan McGoldrick (1988), Duvall dan Miller (1985)
Motivasi utama orang usia pertengahan untuk memperbaiki gaya hidup
mereka adalah karena adanya perasaan rentan terhadap penyakit yang dibangkitkan
bila seorang teman atau anggota keluarga mengalami serangan jantung, stroke atau
kanker. Selain takut, keyakinan bahwa pemeriksaan yang teratur dan kebiasaan hidup
yang sehat merupakan cara-cara yang efektif untuk mengurangi ketentuan terhadap
berbagai penyakit juga merupakan kekuatan pendorong yang ampuh. Penyakit hati,
kanker dan stroke merupakan 2/3 dari semua penyebab kematian antara usia 46 64
tahun, dan berbagai kematian urutan keempat (Pusat Statistik Kesehatan Nasional,
1989).
Tugas perkembangan yang kedua berkaitan dengan upaya melestarikan
hubungan yang penuh arti dan memuaskan antara orang tua yang lanjut usia dengan
anak-anak. Dengan menerima dan menyambut cucu mereka ke dalam keluarga dan
meningkatkan hubungan antar generasi, tugas perkembangan ini dapat mendatangkan
penghargaa yang tinggi Duvall (1977). Tugas perkembangan ini memungkinkan
pasangan usia perpidahan terus merasa seperti sebuah keluarga dan mendatangkan
kebahagian yang berasal dari posisi sebagai kakek nenek tanpa tanggungjawab
sebagai orangtua selama 24 jam. Karena umum harapan hidup meningkat, menjadi
seorang kakek nenek secara khusus terjadi pada tahap siklus kehidupan ini (Spray dan
Mattews, 1982). Kakek nenek memberikan dukungan besar kepada anak dan cucu
mereka pada saat-saat kritis dan membantu anak-anak mereka melalui pemberian
dorongan dan dukungan Bengstone dan Robertson, 1985)
Peran yang lebih problematik adalah yang berhubungan dengan dan
membantu orang tua lansia dan kadang-kadang anggota keluarga besar yang lebih
yang tua. 86 persen pasangan usia pertengahan minimal memiliki satu orangtua yang
masih hidup (Ages stade, 1988). Jadi, tanggungjawab memberikan perawatan bagi
orangtua lansia yang lemah dan sakit-sakitan merupakan pengalaman yang tidak

48

asyik. Banyak wanita yang merasa berada dalam himpitan generasi dalam upaya
mereka mengimbangi kebutuhan-kebutuhan orangtua mereka yang berusia lanjut,
anak-anak, dan cucu-cucu mereka. Berbagai peran antar generasi kelihatannya lebih
bersifat ekslusif dikalangan minoritas seperti keluarga-keluarga Asia dan Amerika
Latin.
Tugas perkembangan ketiga yang hendak dibahas disini adalah tugas
perkembangan untuk memperkokoh hubungan perkawinan. Sekarang pasangan
tersebut benar-benar sendirian setelah bertahun-tahun dikelilingi oleh anggota
keluarga dan hubungan-hubungan. Meskipun muncul sebagai sambutan kelegahan,
bagi kebanyakan pasangan merupakan pengalaman yang menyulitkan untuk
berhubungan satu sama lain sebagai pasangan menikah dari pada sebagai orangtua.
Wright dan Leahey, (1984) melukiskan tugas perkembangan ini sebagai reinvestasi
identitas pasangan dengan perkembangan keinginan independen yang terjadi secara
bersamaan (hal. 49). Keseimbangan tendensi-independency antara pasangan perlu di
uji kembali, seperti keinginan independent yang lebih besar dan juga perhatian satu
sama lain yang penuh arti.
Bagi pasangan yang mengalami masalah, tekanan hidup yang menurun dalam
tahun-tahun Postparental tidak mendatangkan kebahagiaan perkawinan, melainkan
menimbulkan kebohongan. Menurut Kerrckhoff, (1976) para konseler perkawinan
telah lama mengamati bahwa ketika timbul perselisihan dalam perkawinan selama
tahun-tahun pertengahan, serikali berkaitan dengan jemunya ikatan, bukan karena
kualitas traumatiknya. Karakteristik umum dari masa ini, berkaitan dengan kepuasan
diri sendiri dan berada dalam kebahagiaan yang membosankan.
Masalah-Masalah Kesehatan.
Masalah kesehatan yang disebut dalam seluruh deskripsi tahap siklus kehidupan ini
meliputi :
1. Kebutuhan promosi kesehatan, istirahat yang cukup, kegiatan waktu luang dan
tidur, nutrisi yang baik, program olahraga yang teratur, pengurangan berat
badan hingga berat badan yang optimum, berhenti merokok, berhenti atau
mengurangi penggunaan alkohol, pemeriksaan skrining kesehatan preventif.
2. Masalah-masalah hubungan perkawinan.
49

3. Komunikasi dan hubungan dengan anak-anak, ipar, dan cucu, dan orangtua
yang berusia lanjut.
4. Masalah yang berhubungan dengan perawatan ; membantu perawatan
orangtua yang berusia atau tidak mampu merawat diri.

h. Tahap VIII : Keluarga dalam Masa Pensiun dan Lansia


Tahap terakhir siklus kehidupan keluarga dimulai dengan salah satu atau
kedua pasangan memasuki masa pensiun, terus berlangsung hingga salah satu
pasangan meninggal, dan berakhir dengan pasangan lain meninggal (Duvall dan
Miller, 1985). Jumlah lansia-berusia 65 tahun atau lebih di negara kami meningkat
dengan pesat dalam dua dekade terakhir ini, dua kali lipat dari sisa populasi. Pada
tahun 1970, terdapat 19,9 juta orang berusia 65 tahun, jumlah ini merupakan 9,8
persen dari seluruh populasi. Menjelang tahun 1990, menurut angka-angka sensus,
populasi lansia berkembangan hingga angka 31,7 juta (12,7 persen dari total
populasi). Menjelang tahun 2020, 17,2 persen penduduk negara ini berusia 65 tahun
atau lebih (gambar 1). Informasi tentang usia populasi menyatakan penduduk yang
lebih tua populasi 85 tahun ke atas secara khusus tumbuh dengan cepat. Populasi
berumur di atas 85 tahun tumbuh hingga 2,2 juta jiwa pada tahun 1980.
Diproyeksikan pada tahun 2020 populasi ini akan berjumlah hingga 7,1 juta jiwa (2,7
persen dari seluruh populasi). Akibat dari semakin majunya pencegahan penyakit dan
perawatan kesehatan, lebih banyak orang yang diharapkan dapat bertahan hidup
hingga 10 dekade. Karena bertambahnya populasi lansia, maka semakin mungkin
orang-orang yang lebih tua akan memiliki minimal 1 orangtua yang masih hidup (Biro
Sensus Amerika, 1984)

15

10

50

P
5
1940

1950

1960

1970

1980

1990

Tahun
Gambar 1. Pertumbuhan Populasi lansia di Amerika Serikat, persentase populasi
diatas 65 tahun (Biro Sensus Amerika Serikat, 1991)
Persepsi tahap siklus kehidupan ini sangat berbeda dikalangan keluarga lanjut
usia. Beberapa orang merasa menyedihkan, sementara yang lain merasa hal ini
merupakan tahun-tahun terbaik dalam hidup mereka. Banyak dari mereka tergantung
pada sumber-sumber finansial yang adekuat, kemampuan memelihara rumah yang
memuaskan, dan status kesehatan individu. Mereka yang tidak lagi mandiri karena
sakit, umumnya memiliki moral yang rendah dan keadaan fisik yang buruk sering
merupakan anteseden penyakit mental dikalangan lansia (Lowenthal, 1972).
Sebaliknya lansia yang menjaga kesehatan mereka, tetap aktif dan memiliki sumbersumber ekonomi yang memadai menggambarkan proporsi orang-orang yang lebih tua
dan substansial dan senantiasa berpikir positif terhadap kehidupan ini.
Sikap Masyarakat terhadap Lansia.
Masyarakat kami menekankan prestasi-prestasi mereka di masa muda mereka, yaitu
masa jaya kaum muda. Oleh karena itu, kaum dewasa, dengan berdandan, berpakaian,
dan bergaya, mencoba mempertahankan penampilan muda mereka selama mungkin.
Penuaan sering diartikan sebagai hilangnya rambut, teman-teman, aspirasi dan
kekuatan. Bagi komunitas dengan keluarga individu dan keluarga besar, menangani
lansia mempunyai konotasi negatif, seseorang dibebani dengan perasaan yang
menyusahkan dengan masalah-masalah yang menekan. Disamping itu, masyarakat
juga tidak membiarkan kebanyakan lansia tetap produktif. Oleh karena itu, penilaian
masyarakat yang negatif terhadap lansia mempengaruhi citra diri mereka.

51

Namun sekarang banyak asosiasi dan banyak literatur menyokong dan


melukiskan kekuatan, sumber-sumber dan aspek-aspek positif dari penuaan. Hal ini
sering mengurangi pemikiran negativisme dan stereotipe tentang lansia dan
membantu kita mengenali asset lansia dan keanekaragama gaya hidup yang menyolok
dikalangan kelompok lansia ini.
Sikap kita terhadap penuaan dan lansia, meskipun masih negatif, tampaknya
muluai berubah. Studi-studi belakangan ini yang dilakukan untuk meneliti sikap
masyarakat terhadap lansia telah mengakui bahwa lansia dipandang secara positif
(Austin, 1985 ; Schonfield, 1982). McCubbin dan Dahl (1985) melaporkan bahwa
banyak pengamat percaya bahwa lansia telah memperoleh kembali kehormatan di
Amerika Serikat. Generasi baru lansia berpendidikan lebih baik, lebih makmur, lebih
sehat, dan lebih aktif daripada generasi lansia sebelumnya mendefinisikan kembali
pemikiran tentang menjadi tua . Perubahan dalam sikap ini sebaliknya akan
memperkokoh citra kaum lansia terhadap diri mereka sendiri.
Kehilangan-Kehilangan yang Lazim bagi Lansia dan Keluarga.
Karena proses menua berlangsung dan masa pensiun menjadi suatu kenyataan, maka
ada berbagai macam stressor atau kehilangan-kehilangan yang dialami oleh mayoritas
lansia dan pasangan-pasangan yang mengacaukan transisi peran mereka. Hal ini
meliputi :

Ekonomi ; menyesuaikan terhadap pendapatan yang turun secara


substansial, mungkin kemudian menyesuaikan terhadap ketergantungan
ekonomi (ketergantungan pada keluarga atau subsidi pemerintah).

Perumahan ; sering pindah ke tempat tinggal yang lebih kecil dan


kemudian dipaksa pindah ke tatanan institusi.

Sosial ; kehilangan (kematian) saudara, teman-teman dan pasangan.

Pekerjaan ; keharusan pensiun dan hilangnya peran dalam pekerjaan dan


perasaan produktifitas.

Kesehatan ; menurunnya fungsi fisik, mental dan kognitif ; memberikan


perawatan bagi pasangan yang kurang sehat.

52

Pensiun.
Dengan hilangnya peran sebagai orangtua dan kerja, maka perlu ada suatu reorientasi
dikalangan individu dan pasangan lansia. Pensiun membutuhkan resosialisasi
terhadap peran-peran baru dan gaya hidup baru. Akan tetapi, perubahan macam apa
yang dikehendaki, benar-benar tidak jelas, karena peran dan norma-norma bagi lansia
adalah ambigu. Wanita yang benar-benar terpikat dengan peran sebagai ibu dan suami
dan atau istri yang terlibat penuh dalam pekerjaan mereka diprediksi memiliki derajat
kesulitan penyesuaian yang paling tinggi. Untuk mengisi pekerjaan yang kosong, kini
semakin banyak pria yang mengambil bagian dalam pekerjaan-pekerjaan rumah
tangga, menerima peran-peran yang lebih ekspresif, suatu perubahan yang menuntut
pertukaran peranan pada sisi wanita. Penyesuaian suami yang pensiun terhadap tugastugas ibu rumah tangga yang dikerjakan sama-sama tergantung pada sistem nilai
suami. Jika suami memandang jenis pekerjaan tersebut sebagai pekerjaan wanita
dan menganggap pekerjaan-pekerjaan tersebut kurang memiliki arti baginya, maka ia
merasa harkatnya turun dalam pekerjaan semacam itu. Troll (1971) menemukan sikap
ini benar-benar terjadi pada pria dari golongan pekerja, yang lebih menghargai peran
tradisional sebagai pencari nafkah dari pada pria dari golongan pekerja, yang lebih
menghargai peran tradisional sebagai pencari nafkah dari pada pria kelas menengah.
Pensiun bagi kaum wanita cenderung tidak terlalu sulit untuk beradaptasi karena
mereka masih punya peran-peran domestik. Selanjutnya, wanita kemungkinan besar
pensiun atas permintaan.
Dalam kasus apa saja, pensiun menuntut modifikasi peran dan merupakan saat
terjadinya penurunan harga diri, pendapatan, status dan kesehatan, paling tidak untuk
sementara. Tapi meskipun timbul tuntutan-tuntuta dan kehilangan-kehilangan yang
baru ini, kebanyakan lansia melaporkan sikap positif terhadap pensiun (Kell dan
Patton, 1978).
Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga.
Memelihara pengaturan kehidupan yang memuaskan merupakan tugas paling penting
dari keluarga-keluarga lansia (tabel 11). Perumahan setelah pensiun seringkali
menjadi masalah. Dalam tahun-tahun segera setelah pensiun, pasangan tetap tinggal di
rumah hingga pajak harta benda, kondisi tetangga, ukuran dan kondisi rumah atau
kesehatan memaksa mereka mencari akomodasi yang lebih sederhana. Meskipun
53

mayoritas lansia memiliki rumah sendiri, namun sebagian besar dari rumah-rumah
tersebut telah tua dan rusak dan banyak

yang terletak di daerah-daerah tingkat

kejahatan yang tinggi dimana lansia kemungkinan besar menjadi korban kejahatan.
Seringkali, lansia tinggal di rumah ini karena tidak ada pilihan yang cocok (Kalish,
1975). Namun demikian, lansia yang tinggal di rumah mereka sendiri, umumnya
menyesuaikan diri lebih baik dari pada yang tinggal di rumah anak-anak mereka.
Orangtua biasanya pindah ke salah satu anak mereka karena penurunan kesehatan dan
status ekonomi, mereka tidak punya pilihan lain, dan ini terbukti merupakan suatu
pengaturan yang tidak memuaskan bagi lansia (Lopata, 1973).
Tabel 11. Tahap VIII Siklus Kehidupan Keluarga Inti dengan keluarga dalam
masa pensiun dan lansia, dan Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga yang
Bersamaan
Tahap Siklus Kehidupan Keluarga
Keluarga Lansia

Tugas-Tugas Perkembangan
Keluarga
1. Mempertahankan pengaturan hidup
yang memuaskan.
2. Menyesuaikan terhadap pendapatan
yang menurun.
3. Mempertahankan

hubungan

perkawinan.
4. Menyesuaikan

diri

terhadap

kehilangan pasangan.
5. Mempertahankan ikatan keluarga
antar generasi.
6. Meneruskan

untuk

memahami

eksistensi mereka (penelaahan dan


integrasi hidup).
Diadaptasi dari Carter dan McGoldrick (1988), Duvall dan Miller (1985)
Pengaturan hidup seseorang merupakan suatu prediktor kesejahteraan yang
ampuh dikalangan lansia (Berresi et al, 1984). Relokasi merupakan pengalaman
traumatik bagi lansia, apakah itu perpindahan sukarela atau tidak. Itu berarti
meninggalkan pertalian tetangga dan persahabatan yang telah memberikan lansia rasa
aman dan stabilitas. Relokasi berarti berpisah dari warisan seseorang dan isyarat yang

54

mendukung kenangan lama (Lawton, 1980). Relokasi tidak mempengaruhi semua


lansia dengan cara yang sama. Dengan persiapan yang memadai dan perencanaan
perubahan yang hati-hati, lingkungan baru dapat berpengaruh positif terhadap lansia.
Namun demikian, sejumlah temuan menyatakan bahwa ketika orang-orang lansia
pindah, sering mengakibatkan kemerosotan kesehatan (Lawton, 1985).
Hanya sekitar 5 persen lansia yang tinggal dalam institusi. Kelemahan
memaksa lansia masuk panti perawatan dan rumah pensiun karena kurangnya bantuan
di rumah. Penyediaan bantuan secara penuh di rumah atau, yang lebih mungkin,
pelayanan kesehatan paruh waktu dan pelayanan rumah tangga lewat lembaga
kesehatan rumah dan lembaga pelayanan rumah tangga, dirasa lebih manusiawi dan
bersifat protektif terhadap kebutuhan-kebutuhan lansia untuk tetap berada di rumah
sendiri dan tetap mempertahankan kemadiriannya selama mungkin, dan juga jauh
lebih murah dari pada dimasukkan ke dalam institusi. Meskipun sulit, seringkali salah
satu pasangan dan/atau anak-anak yang sudah dewasa dari pasangan tersebut (atau
orangtua yang masih hidup) harus memutuskan cara terbaik yang ditempuh
pelayanan kesehatan di rumah, panti pensiunan, panti perawatan, atau tinggal dengan
anak-anak yang telah dewasa.
Tugas perkembangan yang kedua bagi keluarga lansia adalah penyesuaian
terhadap pendapatan yang menurun. Ketika pensiun, terjadi penurunan pendapatan
secara tajam dan seiring dengan berlalunya tahun, pendapatanpun semakin menurun
dan semakin tidak memadai karena terus naiknya biaya hidup dan terkurasnya
tabungan. Pada tahun 1989, seperlima dari populasi Amerika Serikat tergolong miskin
atau hampir miskin (AARP, 1990).
Secara substansial, lansia kurang memiliki pendapatan dalam bentuk uang
kontan dibandingkan dengan mereka yang berumur 65 tahun. Kaum lansia amat
sangat tergantung pada keuntungan dan asset pendapatan Jaminan Sosial (Social
security). Lebih banyak lansia wanita yang cenderung miskin ; hampir 71,8 persen
dari seluruh populasi lansia adalah wanita. Kaum lansia dari kalangan kulit hitam dan
hispanik cenderung memiliki pendapatan dan pendapatan rata-rata jauh lebih sedikit
dari rekan mereka dari golongan kulit putih (U.S Senate Special Committee on Aging,
1987-1988).
55

Karena sering munculnya masalah-masalah kesehatan jangka panjang,


pengeluaran kesehatan merupakan masalah finansial yang utama. Kaum lansia lebih
banyak menghabiskan uang untuk perawatan kesehatan baik dalam nilai riil dollar
maupun dalam bentuk persentase total pengeluaran bila dibandingkan dengan yang
bukan lansia. Medicare tentu saja mengurangi sebagian dari masalah ini, tapi masih
belum bisa diprediksi dan masih banyak pengeluaran dengan uang sendiri yang harus
dibayar. Misalnya bagian B dari Medicare meliputi hanya 80 persen dari biaya yang
layak untuk pelayanan medis. Karena tipe dari sistem pembayaran biaya atas
pelayanan (fee for service), banyak dokter akan menyuruh pasiennya untuk kembali
beberapa kali dari pada yang dibutuhkan untuk memberikan perawatan medis yang
efektif dan aman. Medicaid juga disediakan untuk mereka yang tergolong fakir miskin
dan memenuhi kualifikasi Supplementary Security Income (SSI). Program asuransi
kesehatan ini melengkapi cakupan Medicare.
Karena umur harapan hidup meningkat, lebih banyak lagi lansia yang hidup
bertahun-tahun dengan masalah kesehatan. Meskipun wanita hidup lebih lama dari
pada pria, dan kesenjangan umur harapan hidup antara pria dan wanita meningkat,
banyak pula pasangan menikah yang dapat bertahan hidup lebih lama. Masalahmasalah perawatan bagi pasangan lansia lebih sulit dari pada pensiunan janda. Sedikit
pertimbangan diberikan bagi unit keluarga dalam tahap siklus kehidupan ini, selama
orang tersebut memiliki kemungkinan dalam kemiskinan sebagai akibat dari biaya
kesehatan yang meninggi dan masalah-masalah sosial.
Mempertahankan hubungan perkawinan yang merupakan tugas perkembangan
yang ketiga, menjadi penting dalam kebahagiaan keluarga. Perkawinan yang
dirasakan memuaskan dalam tahun-tahun berikutnya biasanya mempunyai sejarah
positif yang panjang, dan sebaliknya. Riset membuktikan bahwa perkawinan
mempunyai kontribusi yang besar bagi moral dan aktifitas yang berlangsung dari
kedua pasangan lansia (Lee, 1978).
Salah satu mitos tentang lansia adalah bahwa dorongan seks dan aktivitas
seksual mungkin tidak ada lagi (atau tidak boleh ada). Akan tetapi, sebuah riset
memperlihatkan kebalikannya. Studi-studi semacam ini menemukan bahwa meskipun
56

terjadi penurunan kapasitas seksual secara perlahan-lahan, namun keinginan dalam


kegiatan seksual terus ada bahkan meningkat (Lobsenz, 1975). Sehat sakit kadangkadang menurunkan dorongan seksual, tapi biasanya, menurunnya aktifitas seksual
disebabkan oleh masalah-masalah sosio emosional.
Penyesuaian diri terhadap kehilangan pasangan, yang merupakan tugas
perkembangan yang keempat, secara umum merupakan perkembangan yang paling
traumatis. Sebagaimana ditunjukkan pada data statistik di bawah ini, wanita lansia
lebih menderita karena kematian pasangannya dari pada pria. Menurut angka statistik
tahun 1986, tiga perempat dari seluruh lansia hidup bersama pasangan mereka,
sementara hanya 38 persen wanita lansia yang hidup dengan pasangan mereka, 51
persen adalah janda (U.S Senate Special Committee on Aging, 1987-1988).
Dibandingkan dengan kelompok muda, lansia menyadari kematian sebagai
bagian dari proses kehidupan yang normal. Sebuah studi menyatakan bahwa hanya 3
dari 80 persen lansia yang merasa sulit untuk membicarakan kematian (Duval, 1977).
Akan tetapi, kesadaran akan kematian tersebut tidak berarti bahwa pasangan yang
ditinggalkan akan menemukan penyesuaian terhadap kematian dengan mudah.
Kehilangan pasangan pasti membawa pengaruh, janda-janda yang ditinggal mati
suami lebih awal, dan yang masih hidup kemungkinan besar akan mengalami masalah
kesehatan yang serius (isolasi sosial, mau bunuh diri atau sakit jiwa). Selain itu,
hilangnya seorang pasangan menuntut reorganiasi fungsi keluarga secara total. Ini
khususnya sulit dicapai secara memuaskan, karena kehilangan mengurangi sumbersumber emosional dan ekonomi yang diperlukan untuk menghadapi perubahan
tersebut. Bagi wanita, ini berarti perubahan dari saing ketergantungan dan membagi
kegiatan-kegiatan kehidupan bersama-sama menjadi sendiri atau bergabung dengan
kelompok wanita lansia yang tidak punya ikatan. Bagi pria, kehilangan pasangan
hidup berarti kehilangan teman-teman serta hubungan sanak famili, keluarga, dan
dunia sosial secara umum. Duda lansia tidak punya minat yang sama atau tidak punya
kemampuan

melaksanakan

membutuhkan bantuan

peran-peran

ibu

rumah

tangga,

dan

dalam menyiapkan makanan, menjalankan

tangga dan perawatan umum.

57

seringkali

tugas rumah

Besarnya penyesuaian diri yang sulit dapat dilihat dari meningkatnya kasus
bunuh diri dalam kelompok individu diatas 65 tahun. Meskipun terjadi peningkatan
kasus bunuh diri dikalangan wanita diatas 65 tahun, namun jumlah terbesar kasus
bunuh diri ditemukan dikalangan populasi pria lansia. Sebuah tinjauan beberapa studi
kasus tentang bunuh diri dikalangan kelompok ini menunjukkan bahwa usaha untuk
bunuh diri dan bunuh diri yang telah terjadi sering terjadi setelah kematian pasangan
hidup (Rushing, 1968).
Studi-studi tentang janda secara konsisten mempelajari kondisi-kondisi hidup
janda yang sulit dan kehidupan janda. Janda memiliki moral yang lebih rendah dan
memiliki peran-peran sosial yang lebih sedikit dari pada wanita bersuami dalam
kelompok umur yang sama. Para janda memiliki uang sedikit untuk hidup mereka dan
terbukti perawatan diri mereka sangat memprihatinkan dalam kaitannya dengan diet,
latihan, alkohol, konsumsi tembakau (Hutchison, 1975). Bild dan Havighurst (1976),
dalam sebuah studi besar tentang lansia di Chicago Amerika Serikat, melaporkan
bahwa kematian pasangan melunturkan dukungan paling kuat dari lansia, meskipun
anak-anak (jika ada) mengisi kekosongan tersebut. Banyak dari mereka yang
terisolasi adalah mereka yang tidak pernah menikah dan janda tanpa anak.
Tugas perkembangan yang kelima menyangkut pemeliharaan ikatan keluarga
antargenerasi. Meskipun ada suatu kecenderungan bagi lansia untuk menjauhkan diri
dari hubungan sosial, keluarga tetap menjadi fokus interaksi-interaksi sosial lansia
dan sumber utama dukungan sosial. Karena lansia menarik diri dari aktifitas-aktifitas
dunia sekitarnya, hubungan-hubungan dengan pasangan, anak-anak dan cucu-cucu
dan saudara-saudaranya menjadi lebih penting. Mayoritas lansia di Amerika hidup
dekat dengan anggota keluarga besar dan sering melakukan kontak dengan mereka
(Harris et al, 1975 ; Shanas, 1968, 1980). Oleh karena itu, anggota keluarga
merupakan sumber utama bantuan dan interaksi sosial. Keluarga lansia biasanya
saling memberikan bantuan satu sama lain sejauh mereka mampu.
Karena menjadi orangtua, mereka harus memahami keberadaan mereka.
Berbicara tentang kehidupan masa lalu seseorang yang disebut penelaahan hidup (life
review)

merupakan

aktifitas

yang

vital

dan

umum,

karena

aktifitas

ini

menggambarkan suatu penelaahan terhadap arti sentral dari kehidupan. Aktivitas ini
58

dipandang sebagai tugas perkembangan tipe kognitif yang keenam. Hal penting dari
aktifitas ini terletak pada fakta bahwa

penelaahan kehidupan memudahkan

penyesuaian terhadap situasi-situasi yang sulit dan memberikan pandangan terhadap


kejadian-kejadian masa lalu. Lansia sangat peduli dengan kualitas hidup mereka dan
berharap agar dapat hidup terhormat dengan kemegahan dan penuh arti (Duvall,
1977).

Masalah-Masalah Kesehatan.
Berdasarkan laporan tahun 1987-1988 yang dikeluarkan oleh US. Senate
Special Committee on Aging, lansia merupakan pemakai pelayanan kesehatan paling
menonjol. Lebih dari 4 dari 5 lansia memiliki minimal satu kondisi kronis dan kondisi
multipel yang lazim diderita oleh lansia. Lansia merupakan 12 persen dari total
populasi, tapi mereka menggunakan 33 persen dari pembelajaan perawatan kesehatan
di Amerika Serikat.
Faktor-faktor seperti menurunnya fungsi dan kekuatan fisik, sumber-sumber
finansial yang tidak memadai, isolasi sosial, kesepian dan banyak kehilangan lainnya
yang dialami oleh lansia menunjukkan adanya kerentanan psikofisiologi dari lansia
(Kelley et al, 1977). Oleh karena itu, terdapat masalah-masalah kesehatan yang
multipel. Pasangan atau individu lansia dalam semua fase sakit kronis mulai dari fase
akut hingga fase rehabilitasi sangat membutuhkan bantuan. Baik fungsi-fungsi yang
terkait secara medis (pengkajian fisik, reaksi-reaksi yang buruk) dan fungsi-fungsi
keperawatan (mengkaji respons klien terhadap sakit dan pengobatan serta kemampuan
koping) adalah relevan disini. Promosi kesehatan tetap menjadi hal yang sangat
penting, khususnya dalam bidang nutrisi, latihan, pecegahan cidera, penggunaan obat
yang aman, pemakaian pelayanan preventif dan berhenti merokok.
Isolasi sosial, depresi, gangguan kognitif (yang mungkin berkaitan dengan
sejumlah masalah termasuk penyakit (Alzheimer), dan masalah-masalah psikologis
adalah masalah kesehatan yang serius, khususnya bila bersama-sama dengan sakit
fisik. Pengkajian dan penggunaan sistem dukungan sosial keluarga atau individu
harus menjadi bagian integral dari perawatan kesehatan keluarga.

59

Proses menua dan menurunnya kesehatan menyebabkan betapa pentingnya


pasangan menikah saling menolong satu sama lain. Karena wanita hidup lebih lama
dari pada pria, dan biasanya mereka orang yang membantu suami yang sakit atau
yang tidak berdaya. Dalam kebanyakan kasus, penyakit bersifat kronis dan
berkembang menjadi tak berdaya, sehingga perlu waktu untuk menyesuaikan terhadap
situasi terakhir. Suami menemukan tugas merawat istri sebagai suatu tugas yang lebih
sulit, karena peran merawat, memelihara dan menjadi ibu rumah tangga semata-mata
masih sebagai peran wanita.
Definisi nutrisi dikalangan lansia terjadi secara luas dan menimbulkan banyak
masalah yang berkaitan dengan penuaan (lemah, bingung, depresi, konstipasi, dan ada
beberapa lagi).
Masalah yang berkaitan dengan perumahan, penghasilan yang cocok, rekreasi
dan fasilitas perawatan kesehatan yang adekuat secara merugikan mempengaruhi
status kesehatan lansia. Kejadian seperti jatuh dan kecelakaan lain di rumah sangat
banyak, sehingga alat-alat dalam lingkungan yang aman merupakan kebutuhan yang
penting. Program-program pemerintah tidak secara adekuat menyediakan pensiun
yang aman, seperti terlihat pada masalah-masalah yang menyangkut penggunaan
panti perawatan, fasilitas-fasilitas board-on-care jangka panjang dan rumah sakit jiwa
laksana gudang di bawah tanah.
Para profesional di bidang kesehatan keluarga dapat memberikan begitu
banyak bantuan tidak langsung dengan merujuk individu atau pasangan lansia atau
individual ke sumber-sumber komunitas yang sesuai dengan memperbaiki masalahmasalah mereka. Beberapa sumber-sumber komunitas ini adalah :
(1) Senior centre yang menawarkan rekreasi, program-program pendidikan lanjutan,
beberapa pelayanan kesehatan dan (kadang-kadang) dan pelayanan hukum ; (2)
Pelayanan informasi dan rujukan yang memberikan informasi yang relevan sebagai
respons terhadap panggilan telepon atau kunjungan ; (3) pelayanan perawatan rumah
tangga, meliputi memasak dan membersihkan serta menciptakan hubungan sosial,
pelayanan-pelayanan yang mungkin beberapa lansia tetap tinggal di rumah mereka
sendiri dari pada harus ditempatkan di institusi ; (4) Fasilitas-fasilitas perawatan
sehari untuk geriatrik, dimana lansia mendapat supervisi dan berbagai pelayanan
seharian penuh, biasanya hanya untuk lansia yang tidak mampu menggunakan senior
60

centre ; (5) program-program nutrisi, beberapa program dilakukan dengan


mengangkut ke suatu tempat tempat untuk makan dan beberapa program yang lain
seperti Meals on Wheels, mengirim makanan kepada lansia yang tidak bisa berjalan ;
(6) program kakek nenek angkat, sebuah program yang disubsidi pemerintah federal
yang membayar perawatan, tutor, atau bermain dengan anak-anak yang dimasukkan
dalam institusi untuk lansia dengan pendapatan rendah ; (7) Retired Senior Volunteer
Program, jika disubsidi pemerintah federal yang membantu menyediakan pelayanan
komunitas untuk lansia (Kalish, 1975, hal. 117). (8) pelayanan penanganan kasus.
4. Tahap-Tahap Siklus Kehidupan Keluarga pada Keluarga Cerai
Salah satu variasi utama dalam siklus kehidupan keluarga akan kelihatan
ketika orangtua bercerai. Meskipun mayoritas keluarga masih tetap terdiri dari
pasangan-pasangan menikah, salah satu perubahan paling menonjol yang terjadi lebih
dari dua dekade adalah naiknya perceraian dan meningkatnya posisi wanita sebagai
kepala rumah tangga (88 persen keluarga orangtua tunggal adalah keluarga yang
terdiri dari ibu dan anak). Dari tahun 1970 hingga 1984 jumlah keluarga dengan satu
orangtua berlipat ganda (dari 3,2 juta pada tahun 1970 menjadi 6,7 juta pada tahun
1984) sementara itu jumlah pasangan yang cerai meningkat hampir 300 persen (Biro
Sensus Amerika Serikat, 1986). Kini, perceraian merupakan hal yang lazim (hampir
50 persen perkawinan diakhiri dengan perceraian) bahwa kejadian tersebut dipandang
sebagai suatu transisi normatif.
Keluarga bercerai dengan orangtua tunggal melewati tahap-tahap siklus
kehidupan yang sama, dengan tanggungjawab yang hampir sama seperti keluarga inti
dengan dua orangtua. Perbedaan dasarnya adalah tidak adanya orangtua kedua untuk
melakukan tugas-tugas keluarga bersama-sama berkenaan dengan dukungan,
pengasuhan anak, persahabatan dan menjadi model peran jenis kelamin bagi anakanak. Hill (1986) menerangkan bahwa perbedaan pada jalur-jalur perkembangan
keluarga dengan orangtua tunggal dan keluarga dengan dua orang terutama akan
kelihatan bukan pada tahap-tahap yang dihadapi, melainkan dalam jumlah, waktu, dan
lamanya transisi-transisi kritis yang dialami .
Carter dan McGoldrick (1988) mengkonseptualisasikan perceraian sebagai
suatu gangguan dan dislokasi siklus kehidupan keluarga. Perceraian, dengan

61

kehilangan-kehilangannya

dan

perubahan-perubahan

keanggotaan

keluarga,

menciptakan destabilisasi dan ketidakseimbangan pokok keluarga. Peck dan


Manocharian (1988) menekankan dampak perceraian secara emosional dan fisik
terhadap keluarga. Perceraian mempengaruhi anggota keluarga disetiap tingkat
generasi seluruh keluarga inti dan keluarga besar, dengan demikian menghasilkan
krisis bagi keluarga secara keseluruhan dan juga setiap individu dalam keluarga
tersebut .
Mengenai keluarga inti dengan dua orangtua, terdapat perubahan yang krusial
pada peran dan hubungan dan tugas-tugas perkembangan keluarga yang penting untuk
dicapai agar keluarga cerai dapat bergerak maju (Carter dan McGoldrick, 1988).
Sebagai suatu kekuatan destruktif, perceraian menambah kompleksitas tugas-tugas
perkembangan yang dialami oleh keluarga. Setiap tahap siklus kehidupan berikutnya
dipengaruhi pula, sehingga tahap pasca perceraian perlu dipandang dalam konteks
dari tahap itu sendiri dan konsekuensi cerai.
Setelah terjadi perceraian, riset terhadap sistem keluarga menemukan bahwa
diperlukan waktu antara 1 hingga 3 tahun bagi keluarga cerai untuk memantapkan
keluarga tersebut. Jika sebuah keluarga dapat mengatasi krisis dan transisi penyerta
yang harus dialami dalam rangka untuk memantapkan kembali, keluarga tersebut akan
membentuk sistem yang lentur yang akan memungkinkan suatu kesinambungan
proses perkembangan keluarga yang normal (Peck dan Manocharian, 1988, hal.
335). Carter McGoldrik membuat ringkasan tulisan-tulisan dari Ahrons (1980) tentang
proses penyesuaian yang dialami oleh keluarga-keluarga cerai, termasuk proses
emosional yang terjadi secara bersama-sama dan masalah-masalah perkembangan
keluarga.
Untuk menguraikan dampak perceraian pada tahap-tahap siklus kehidupan
keluarga, pertama-tama perlu dikatakan bahwa dampak tersebut bermacam-macam,
tergantung pada tahap apa keluarga tersebut berada ketika terjadi perceraian. Faktorfaktor lain juga membuat perbedaan pada dampak tersebut, seperti faktor suku, sosial
dan ekonomi. Selama tahap pertama perkawinan, perceraian mempunya sifat
menghancurkan yang paling sedikit karena hanya sedikit orang yang terlibat, sedikit
transisi yang terbentuk dan hanya sedikit ikatan sosial berdasarkan pasangan suami
62

istri yang terbentuk (Peck dan Manocharian, 1988). Dampak ini jauh lebih besar pada
tahap ketiga dan keempat dalam keluarga dengan anak usia prasekolah dan usia
sekolah. Malahan, keluarga selama masa ini memiliki resiko cerai paling tinggi.
Anak-anak kecil adalah yang mula-mula paling dipengaruhi oleh perceraian
orangtua. Anak-anak dapat mengalami kemunduran dalam perkembangannya,
membuat pengasuhan anak dan pisah orangtua dan anak menjadi sulit. Bagi ibu,
menjadi orangtua tunggal seringkali sangatlah sulit, karena dialah yang berjuang
secara emosional maupun secara ekonomi. (Status ekonomi setelah keluarga-keluarga
dengan kepala keluarga wanita amat menurun setelah cerai). Masalah utama yang
sering dilihat adalah bahwa ayah kehilangan rasa keterikatan dengan anak-anaknya
dan/atau kasih sayang ibu kepada anak-anak dan marahnya kepada ayah
menyebabkan tidak tempat bagi ayah. Namun demikian, menjaga hubungan antara
ibu-anak dan ayah-anak merupakan hal yang penting bagi kedua orangtua dan anakanak. Namun malangnya, bagi ayah dan anak, sebagian besar anak-anak sebenarnya
kehilangan kontak dengan ayah mereka setelah cerai. (Hagestad, 1988)
Ketika perceraian menimpa keluarga dengan anak usia sekolah, dampak
jangka panjang perceraian jauh lebih hebat pada anak usia sekolah. Dalam sebuah
penelitian terungkap bahwa usia enam hingga delapan tahun merupakan kelompok
usia yang mempunyai waktu yang sulit dalam menyesuaikan terhadap perceraian
(Wallerstein dan Kelly, 1980). Anak-anak sudah cukup dewasa ketika mereka
menyadari apa yang sedang terjadi, namun mereka tidak bisa mengatasi perceraian
tersebut secara efektif.
Keluarga dengan anak remaja biasa sudah dalam keadaan kacau balau, dan
perceraian memperburuk masalah tersebut. Untuk orangtua tunggal, mengasuh remaja
merupakan hal yang sulit. Pengasuhan anak secara bersama-sama juga merupakan
masalah bila remaja mempunyai masalah menyangkut tingkah laku. Pada mulanya,
upaya memperbaiki masalah tersebut lewat tugas perkembangan dan siklus kehidupan
keluarga, tertunda.
Dalam tahap-tahap siklus kehidupan keluarga berikutnya anak-anak mungkin
kurang terpengaruh bila dibandingkan dengan tahap siklus kehidupan berikutnya
63

karena mereka sudah lebih dewasa dan lebih mampu untuk mengatasi dan berfungsi
lebih otonom. Akan tetapi dalam hal perceraian yang terjadi di usia pertengahan,
mungkin anak-anak telah memasuki usia dewasa sehingga menerima ketergantungan
orangtua, khususnya ibu, bila orangtua berbalik kepada seorang anak untuk meminta
dukungan selama krisis perceraian.
Selama tahap-tahap siklus kehidupan terakhir ini, perceraian secara khusus
benar-benar traumatis bagi pasangan yang bercerai. Tahun-tahun yang dimiliki
bersama-sama, kenangan-kenangan dan kebiasaan telah membentuk identitas
pasangan. Perceraian pada tahun-tahun berikutnya disamakan seperti kematian
seorang pasangan, kemudian menurut beberapa literatur tentang perceraian.
5. Tahap-Tahap Siklus Kehidupan pada Keluarga dengan Orangtua Tiri.
Perceraian biasanya merupakan keadaan transisi, yang kemudian diikuti oleh
perkawinan kembali. Perkawinan kembali begitu menonjol dipertengahan tahun 1980an, dimana hampir setengah dari seluruh perkawinan merupakan perkawinan kembali
(Biro Servis Amerika Serikat, 1986). Sebelum usia 40 tahun, baik suami maupun istri
sama-sama melakukan perkawinan kembali, tapi setelah usia 40 tahun perkawinan
kembali secara tidak seimbang merupakan suatu tradisi bagi pria (Agestad, 1988).
Pada tabel 13 Carter dan McGoldrick, 1988 mengemukakan garis besar
perkembangan formasi keluarga yang kawin kembali langkah-langkah dalam proses
perkawinan

ulang,

sikap

yang

menjadi

prasyarat,

dan

masalah-masalah

perkembangan. Proses promosi keluarga pada masa transisi hingga perkawinan


kembali merupakan suatu proses yang mengikuti perjuangan dengan rasa cemas akan
investasi dalam suatu perkawinan baru dan sebuah keluarga baru, menghadapi
perselisihan atau reaksi-rekasi yang mengganggu dari anak-anak, keluarga besar, dari
mantan pasangan ; cemas dengan situasi keluarga baru yang mendua, perasaan
bersalah dan prihatin terhadap kesejahteraan anak-anak, dan memperbaharui kasih
sayang (negatif maupun positif) terhadap matan suami atau istri. Perkawinan kembali,
sekali lagi karena merupakan proses tradisional yang distruktif, menghalangi gerakan
keluarga melewati dan menyelesaikan tugas perkembangan keluarga. Penyesuaian dan
integrasi orangtua ini, seperti halnya penyesuaian terhadap perceraian, tampaknya

64

kebutuhan dua hingga tiga tahun sebelum struktur yang baru memungkinkan keluarga
bergerak berdasarkan perkembangan (Carter dan McGoldrick, 1988).

Tabel 12 Gangguan-Gangguan Siklus Kehidupan Keluarga oleh Perceraian,


Membutuhkan Langkah-Langkah Tambahan untuk menstabilkan kembali dan
melewati tahap perkembangan.
Fase

Proses Transisi Emosi Sikap

Isu-Isu Perkembangan

Yang Menjadi Prasayarat


1.

Keputusan

Penerimaan

ketidakmampuan

untuk bercerai

menyelesaikan

ketegangan-

ketegangan dalam perkawinan

Penerimaan

bagian

milik

seseorang dalam kegagalan


perkawinan

untuk meneruskan hubungan.


2.

Merencanakan

Mendukung

rencana-rencana

untuk

yang viabel untuk semua bagian

pada

mengakhiri

sistem.

tanggungjawab,

sistem

a. Bekerja secara kooperatif


masalah-masalah

kunjungan dan keuangan.


b. Menghadapi
besar

keluarga

dalam

hal

perceraian.
a. Bersedih karena merasa
3.

Pisah

a. Keinginan

untuk

melanjutkan

hubungan

sebagai

orangtua

yang

bersifat

kooperatif

dan

memberikan

dukungan

kehilangan
keluarga.

b. Restrukturisasi hubungan
perkawinan
dan

secara bersama-sama.

keuangan

kasih

resolusi

sayang

dan

hubungan orang tua anak

keuangan kepada anak-anak


b. Mempengaruhi

seluruh

restrukturisasi
;

terhadap hidup pisah.

terhadap c. Pembentukan

pasangan.

hubungan

65

adaptasi
kembali
dengan

keluarga besar ; tetap


berhubungan

dengan

keluarga dari pasangan.


a. Bersedih
4.

Perceraian

karena

Lebih mempengaruhi terhadap

kehilangan keluarga yang

perceraian

utuh

mengatasi

emosional
perasaan

terluka,

amarah, dan perasaan bersalah,


dll

menghentikan

fantasi untuk berhubung


kembali.
b. Menarik

kembali

harapan, impian-impian
dari perkawinan.
c. Tetap

berhubungan

dengan keluarga besar.


1.

Orangtua

Kerelaan

tunggal (rumah memelihara


tangga kustodial finansial,
atau
2.

untuk

tetap a. Membuat

tanggungjawab
terus

melakukan

residen kontak sebagai orangtua dengan


pasangan

jadwal

kunjungan yang fleksibel


dengan mantan pasangan
dan keluarganya.

primer)

mantan

dan b. Membangun

kembali

Orangtua

mendukung kontak anak-anak

sumber-sumber finansial

tunggal

dengan mantan pasangan dan

sendiri.

(nonkustodial)

dengan keluarganya.

c. Membangun

kembali

jaringan sosial sendiri.


Kerelaan untuk tetap menjaga

a. Mencari cara-cara untu

kontak sebagai orangtua dengan

melanjutkan

mantan

sebagai orangtua yang

pasangan

dan

mendukung hubungan orangtua

efektif

dengan anak-anak yang bersifat

anak.

melindungi.

hubungan

dengan

anak-

b. Mempertahankan
tanggungjawab finansial
terhadap anak-anak dan
mantan pasangan
c. Membangun

jaringan

sosial sendiri

(Dari : Carter B dan McGoldrick H, eds The Changing Family Life Cycle, 2nd ed, New
York, Gardner Press, 1988, p.22)

66

Tabel 13. Pembentukan Keluarga Perkawinan Kembali : Garis Besar


Perkembangan
Langkah-Langkah

Sikap yang menjadi

prasayarat
dari
kehilangan Komitmen

1. Memasuki hubungan Pulih


baru

Isu-Isu Perkembangan

perkawinan

pertama

perkawinan

terhadap
dan

upaya

(perceraian emosional yang

pembentukan

adekuat)

keluarga dengan kesiapan


untuk

sebuah
menghadapi

kompleksitas

dan

ambiguitas.
2. Mengkonseptualisasi
dan

Menerima

perasaan

takut

merencanakan sendiri dan rasa takut dari

perkawinan
keluarga baru.

dan pasangan dan anak-anak yang

a. Mengupayakan
keterbukaan

dalam

hubungan-hubungan

baru akan perkawinan kembali

baru untuk menghindari

dan

hubungan timbal balik

membentuk

sebuah

keluarga tiri.

yang palsu.

Menerima bahwa perlu waktu


dan

kesabaran

untuk

penyesuaian

terhadap

b. Rencana pemeliharaan
kerja sama finansial dan
hubungan

sebagai

kompleksitas dan ambiguitas

orangtua

dengan

dari :

mantan pasangan.

1. Peran baru yang multipel


2. Batas-batas : ruang, waktu,
keanggotaan

dan

wewenang.
bersalah,

konflik-

konflik loyalitas keinginan


untuk melakukan hal yang
bersifat

untuk

membantu
untuk

anak-anak
menghadapi

cemas, konflik-konflik

3. Masalah-masalah afektif :
rasa

c. Rencana

mutualitas,

loyalitas

dan

keanggotaan dalam dua


sistem.
d. Pembentukan

kembali

hubungan

dengan

perasaan terluka di masa

keluarga besar untuk

lalu yang belum hilang.

memasukkan pasangan

67

dan

anak-anak

yang

baru.
3. Kawin kembali dan Penyelesaian akhir ikatan kasih

a. Restrukturisasi

membangun

dengan mantan pasangan dan

batas

keluarga kembali

keutuhan

memungkinkan

penerimaan

keluarga
model

keluarga

keluarga

untuk

memasukkan pasangan/

yang berbeda dengan batasbatas yang permeabel.

batas-

orang tua tiri baru.


b. Pembentukan hubungan
baru

dan

pengaturan

keuangan

di

seluruh

subsistem

agar

menciptakan

bisa
jalinan

beberapa sistem.
c. Menciptakan ruang bagi
hubungan semua anakanak dengan orangtua
kandung, kakek-nenek,
dan

keluarga

besar

lainya.
d. Berbagi

kenang-

kenangan dan sejarah


untuk

memperkokoh

penyatuan keluarga tiri.

6. Pengaruh Sakit dan Cacat terhadap Tahap-Tahap Perkembangan Keluarga


Sakit yang serius atau cacat jangka panjang dari seorang anggota keluarga
sangat mempengaruhi keluarga dan fungsi keluarga, karena prilaku keluarga sangat
mempengaruhi perjalanan dan karakteristik sakit atau cacat (Bahnson, 1987). Sakit
yang serius atau cacat amat mempengaruhi perkembangan keluarga, dan
perkembangan anggota keluarga secara individual, khususnya anggota yang sakit atau
cacat.

Seringkali

bila

keluarga

lambat

dalam

memenuhi

tugas-tugas

perkembangannya, interaksi dari tuntutan lain stressor perkembangan dan


tuntutan/stressor situasi memperburuk dan membebani keluarga. Stres tambahan

68

yang ditimbulkan oleh kedua jenis stressor tersebut sering menurunkan fungsi
keluarga, akibatnya penguasaan tugas-tugas perkembangan terhalang atau terhambat.
Sajauh mana tugas-tugas perkembangan dipengaruhi tergantung pada beberapa
faktor. Sudah tentu yang pertama adalah tahap siklus kehidupan keluarga ; kedua
adalah anggota keluarga menjadi sakit serius atau cacat sehingga menciptakan suatu
perbedaan. Beberapa tahap siklus kehidupan tertentu mempunyai bahaya dalam hal
perkembangan dan individu-individu tertentu dalam keluarga lebih terpusat dalam
hubungannya dengan tugas-tugas perkembangan keluarga dari tahap perkembangan
tertentu. Misalnya, dalam sebuah keluarga dengan remaja, jika remaja itu menderita
cedera serius dan dalam keadaan tidak mandiri, ini sangat menghambat penguasaan
tugas-tugas perkembangan oleh remaja tersebut karena lebih tergantung pada
keluarga. Demikian juga dengan tugas perkembangan uang menangani kebebasan
berimbang dengan rasa tanggung jawab sehingga membantu remaja ini agar lebih
otonom akan terhambat juga. Tantangan bagi keluarga adalah berupaya untuk
memulai lagi memperhatikan tugas-tugas perkembangan normal secepat mungkin.
Faktor penting lain yang menciptakan perbedaan mengenai dampak sakit atau
cacat terhadap perkembangan keluarga adalah sumber-sumber formal dan informal
yang digunakan oleh keluarga. Sebuah sistem pendukung sosial yang baik dari
keluarga besar dan teman-teman, dan juga dukungan psikososial dan kesehatan yang
kompeten akan memperbesar pengertian keluarga untuk kembali pada jalur
perkembangan agar lebih cepat.
Bila bekerja dengan sebuah keluarga dengan sakit yang serius atau cacat,
adalah sangat bermanfaat untuk membandingkan tugas-tugas perkembangan keluarga
yang ideal dalam suatu tahap siklus kehidupan yang sesuai dengan tingkah laku
keluarga yang aktual (Friedman, 1987). Tipe perbandingan ini bermanfaat untuk
mengevaluasi dampak yang mungkin dari sakit atau cacat pada keluarga.

69

C. AREA PENGKAJIAN
Dalam keseluruhan proses pengkajian, berfokus pada siklus kehidupan keluarga
akan mempertinggi pemahaman seorang profesional kesehatan keluarga tentang stress
yang menimpa keluarga dan masalah-masalah keluarga yang aktual atau potensial.
Dalam menyelesaikan bagian perkembangan dari pengkajian keluarga, area-area yang
dianjurkan adalah sebagai berikut :
1. Tahap perkembangan keluarga saat ini.
2. Sejauhmana keluarga memenuhi tugas-tugas perkembangan keluarga untuk
tahap perkembangan saat ini. Adalah penting untuk memperhatikan deviasideviasi dari norma, karena deviasi ini dapat menjadi petunjuk adanya
hambatan atau masalah.
3. Riwayat keluarga sejak lahir hingga saat ini termasuk tugas perkembangan
keluarga dan kesehatan serta kejadian dan pengalaman yang berhubungan
dengan kesehatan (mis, perceraian, kematian, kehilangan) yang terjadi dalam
kehidupan keluarga. Beberapa dari informasi ini (perceraian, perkawinan,
kematian) dapat dimasukkan ke dalam genogram keluarga .
4. Keluarga asal kedua orangtua (seperti apa kehidupan keluarga asal, hubungan
masa lalu dan kini dengan kakek-nenek.)
Seperti telah disebutkan sebelumnya pengalaman dan persepsi keluarga yang
umum dan unik, karena mereka berkembang melewati siklus kehidupan keluarga,
harus dikaji untuk membuat riwayat

perkembangan keluarga yang

lebih

komprehensif. Riwayat keluarga harus juga meliputi deskripsi tentang keluarga asal
orangtua karena jelas sekali bahwa pengaruh-pengaruh asal generasi terhadap
kehidupan keluarga adalah sangat penting.
Mungkin akan lebih signifikan untuk menggali riwayat perkembangan
keluarga. Adalah penting untuk memastikan apakah keluarga yang sedang anda
tangani terbuka terhadap ekplorasi masa lalu dan apakah pengumpulan data historis
anda dalam bidang tertentu relevan untuk memahami dan bekerja dengan keluarga.
Perlu diulangi kembali bahwa data perkembangan data riwayat keluarga dapat
dikumpulkan sedikit demi sedikit dengan (1) menanyakan pengalaman-pengalaman
70

dan tugas-tugas yang umum dan bagaimana hal-hal ini dicapai dan dirasakan dan (2)
menanyakan masalah-masalah atau pengalaman keluarga yang khusus atau unit. Yang
kedua meliputi perceraian, kematian dalam keluarga itu atau keluarga besar, pisah
karena sakit atau dinas militer, pengangguran dan lain-lain. Menanyakan orangtua
tentang hubungan mereka di masa lalu dan sekarang dengan orientasi keluarga mereka
dan bagaimana bentuk kehidupan keluarga besar memberikan perawat keluarga
apresiasi dan pemahaman yang baik tentang orangtua mereka selama tahun-tahun
pertumbuhan mereka.
Untuk menggali riwayat keluarga, Satir (1983) mengawalinya dengan
memberi kesempatan pertama pada orangtua untuk berbicara tentang hubungan
perkawinan mereka, memfokuskan pada hubungan ini karena orangtua merupakan
arsitek keluarga. Satir dan orangtua dengan anak-anak hadir (jika ada, membahas
bidang-bidang berikut ini :

Pertemuan pertama pasangan, hubungan mereka sebelum menikah, dan


bagaimana mereka memutuskan untuk menikah.

Halangan-halangan apa saja terhadap perkawinan mereka. Respons mereka


terhadap pergaulan.

Perkawinan tanpa anak, bagaimana mereka membuat tugas dan peran.

Seperti apa kehidupan dilingkungan di keluarga, termasuk orientasi


keluarga dari kedua orangtua.

Siapa orang lain yang hidup bersama keluarga.

Hubungan dengan para ipar.

Deskripsi tentang orangtua dari masing-masing pasangan dan hubungan


mereka dengan orangtua tersebut.

Rencana

untuk

mempunyai

anak.

Apakah

kelahiran

anak-anak

direncanakan? Apa dampak dari lahirnya setiap anak?

Berapa lama anak-anak berkumpul bersama-sama?

Rutinitas keluarga sehari-hari.

Smoyak, (1975), dalam praktik keperawatannya sebagai ahli terapi keluarga,


menekankan pentingnya mengkaji orientasi respektif keluarga orangtua. Smoyak juga

71

mencari tahu posisi original masing-masing orangtua dikalangan sanak saudaranya,


dengan mengutip konstelasi keluarga oleh Toman, (1961) yang memperlihatkan
bahwa posisi ini sangat mempengaruhi tipe interaksi dan hubungan yang tidak
dimiliki seseorang, dan juga perkembangan kepribadian seseorang. Misalnya, Toman
menemukan bahwa anak-anak yang dilahirkan pertama lebih cocok untuk jadi
pemimpin bagi adik-adiknya, sedangkan sebaliknya anak-anak bungsu biasanya tidak
menjadi pemimpin yang lain. Satu hal penting dari informasi yang berhubungan
dengan keluarga asal kedua pasangan meliputi keadaan kesehatan perkawinan
pasangan orangtua itu sendiri. Apakah mereka masih hidup, dalam keadaan baik, telah
menikah, hidup bersama, tinggal berdekatan, atau secara geografis berjauhan?
(Smoyak, 1975).
Satu satu cara para perawat keluarga memperoleh gagasan yang lebih baik
tentang proses sistim keluarga dari waktu ke waktu, dan juga mengkaji sistem
keluarga antar generasi adalah dengan menyusun sebuah genogram. Genogram adalah
sejenis skema genelogis yang menelusuri sejarah keturunan keluarga. Genogram ini
menggunakan secara luas oleh ahli terapi keluarga, keuntungannya adalah seseorang
dapat mengorganisir sejumlah data yang besar dan banyak dalam suatu cara yang
lebih komprehensif dan membantu mengungkapkan pola-pola dan tema penting
(Harchman dan Laird, 1983) ; McGordrick dan Gerson (1985). Bab VIII berisi
tentang genogram dan petunjuk-petunjuk untuk membuat pohon keluarga ini.

72

D. INTERVENSI KEPERAWATAN KELUARGA


Salah satu tujuan penting dari keperawatan keluarga adalah membantu
keluarga dan anggotanya bergerak ke arah penyelesaian tugas-tugas perkembangan
individu dan keluarga (Friedman, 1987). Penguasaan satu kumpulan tugas-tugas
perkembangan keluarga memungkinkan keluarga bergerak maju kearah tahap
perkembangan berikutnya. Jika tugas-tugas perkembangan keluarga tidak dipenuhi
maka akan menghasilkan keluarga yang disfungsional (Mattessich dan Hill 1987).
Untuk mencapai tujuan ini, perawat keluarga membantu keluarga mencapai
dan mempertahankan keseimbangan antara keutuhan pertumbuhan pribadi dari
anggota keluarga secara individual dan fungsi keluarga yang optimum (kebutuhan
perkembangan keluarga) (Divisi Praktik Keperawatan Kesehatan Ibu dan Anak
American Nurses Association, (1983) keseimbangan antara individu dan kelompok
tidak dengan mudah dicapai, khususnya selama tahap-tahap tertentu, yang
menciptakan perbedaan bila terjadi ketidakseimbangan.
Bila bekerja dengan keluarga atau individu yang bermasalah, teori
perkembangan keluarga membantu para profesional kesehatan keluarga berpikir
tentang kejadian siklus kehidupan keluarga yang telah membentuk konteks dimana
masalah-masalah keluarga dan individu terjadi. Oleh karena itu, memasukkan
perspektif perkembangan ke dalam praktik keperawatan keluarga sangat penting
selama fase diagnostik dan perencanaan.
Juga penting sekali memasukkan perspektif perkembangan keluarga kedalam
praktik keperawatan keluarga seseorang bila bekerja dengan keluarga yang sehat.
Dengan keluarga yang sehat, bimbingan antisipasi dan penyuluhan seringkali
ditujukan untuk mencapai tujuan prevensi primer (Bobak et al, 1989). Diagnosa,
perencanaan, dan intervensi keperawatan keluarga harus mencakup masalah-masalah
keluarga yang mungkin dihadapi keluarga karena perlunya transforamsi struktur
keluarga hingga tugas-tugas perkembangan dapat dicapai. Membantu keluarga
mengantisipasi dan melewati transisi normatif yang berbeda dalam kehidupan
keluarga merupakan tujuan keperawatan keluarga yang paling erat.

73

Perawat keluarga dan klinisi keluarga lainnya membantu keluarga dengan


morbalitas penyuluhan dan konseling. Rujukan ke kelompok pendukung sosial,
seperti kelompok untuk orangtua bayi atau lansia yang sakit juga sangat membantu.

74