Anda di halaman 1dari 78

TRANSFERSOM

ANDIKA GALIH PRIADI


IZMIATY NURJANAH
DIAR SITI HAZAR
NISRINA RAMADHYANTI
RIZKY FAJAR WIRAWAN
ERISA ADELLIA

PENDAHULUAN
TRANSFERSOM

Izmiaty Nurjanah

Rute
transdermal

suatu
alternatif
penghantaran obat yang dimaksudkan untuk
mengurangi masalah yang timbul akibat
pemberian obat secara oral.
Perkembangan dengan sistem vesikular
liposom,
niosom,
liposom
elastis
(transfersom, etosom)

Transfersome mulai diperkenalkan pada tahun


1991 oleh Gregor cevc
Transfersome tingkat adaptasi tinggi dan
stress-responsive
yang
menyebabkan
transfersome lebih mudah untuk menyebrang
lapisan lipid bilayer.
Dapat melewati pori yang ukurannya 10-20x
lebih kecil

CARA PEMBUATAN
TRANSFERSOME
Metode penyusunan transfersomes terdiri dari 2
langkah
1. Film tipis dihidrasi dan kemudian ukurannya dikecilkan
dengan sonikasi
2. Vesikel disonikasi dan dihomogenisasi dengan ekstrusi
melalui membran polikarbonat. Fosfolipid dan
surfaktan dilarutkan dalam pelarut organik yang
mudah menguap (kloroform-metanol) dan dibiarkan
pelarut tersebut menguap pada suhu kamar.

#1 DEVELOPMENT AND
CHARACTERIZATION OF
CURCUMIN LOADED
TRANSFERSOME FOR

Diar Siti Hazar


Nisrina Ramadhyanti
Rizky Fajar Wirawan

KURKUMIN
Kurkumin digunakan untuk pengobatan
antikanker, antioksidan, antiinflamasi,
hiperlipidemia, antibakteri, penyembuhan luka dan
hepatoprotektif.
Terlepas dari farmakologis, telah diselidiki
kurkumin sebagai agen photostabilizing untuk
melindungi obat dengan foto-tidak stabil dalam
larutan, persiapan topikal dan kapsul lunak gelatin.

Meskipun secara farmakologis memiliki banyak


manfaat, tetapi keberhasilan terapi kurkumin
terbatas karena bioavaibilitas oral yang buruk.
Bioavaibilitas oral yang buruk pada kurkumin
memiliki kaitan dengan kelarutan air dengan
koefisien partisi 3,2 dan panjang dari first pass
metabolisme.

Fokus utama dari penelitian ini untuk


mengembangkan sistem penghantaran
transdermal pada kurkumin dalam bentuk
transfersome untuk meningkatkan
bioavaibilitas

BAHAN
Sampel Kurkumin
Tween 80
Span 80
Lesitin
Triton x-100
6-carboxyfluorescein
dll

PREPARASI TRANSFERSOME
Preparasi pada transfersome dilakukan dengan
dua cara, yaitu:
Pengocokan
Teknik hidrasi lipid film

PENGERJAAN
Obat, lesitin (PC) dan aktivator tepi dilarutkan dalam
campuran etanol : kloroform (1:1).
Pelarut organik dibuang pada saat evaporasi ketika
pengocokan dengan temperatur 43oC (diatas
temperatur transisi lipid)
Film lipid tipis terbentuk di dalam dinding wdah
dengan rotasi
Film tipis yang terbentuk disimpan semalaman untuk
evaporasi sempurna pada pelarut

Film tersebut kemudian terhidrasi dengan


dapar fosfat (pH 7,4) dengan pengocokan
perlahan selama 15 menit pada suhu yang
sesuai
Suspensi transfersome lebih lanjut terhidrasi
selama 1 jam pada suhu 2-8oC

OPTIMISASI PADA
FORMULASI
Ada berbagai proses yang dapat di ubah yang
dapat mempengaruhi preparasi dan sifat dari
transfersome.
Penyusunan transfersome mengandung
kurkumin melibatkan berbagai proses yang
berbeda, seperti:
Pengaruh lesitin: rasio surfaktan (95:05,
85:15)

Optimasi dilakukan dengan memilih efisiensi


dari penjeratan obat nya itu sendiri. Selama
penyusunan sistem tertentu, variabel lainnya
tetap konstan.

INTERFERENCE STUDY
Pembelajaran pada setiap masalah yang terjadi
pada formulasi biasanya dilakukan untuk setiap
gangguan pada:
Polimer & zat aktif
Diluent & zat aktif
Lubrikan & zat aktif
Studi ini dilakukan dengan menggunakan FTIR
(Fourier Transform Infrared Spectrometer)

KARAKTERISASI
TRANSFERSOME
Karakterisasai Morfologi
Bentuk dan bagain permukaan diproyeksikan
oleh photomicroscopy menggunakan kamera
digital labomed dengan resolusi 40x
Karakterisasi Kimia
Studi tentang kemurnian dan dan potensi
berbagai tranfersome

PENENTUAN PRESENTASE DARI


EFISIENSI PENJERAPAN
Penjerapan pada transfersome kurkumin
dapat dilakukan dengan metode sentrifugasi
Transfersome diletakan pada tabung
sentrifugasi dan di sentrifugasi pada 14.000
rpm selama 30 menit
Supernatan (1 ml) ditarik dan diencerkan
dengan dapar fosfat (pH 7,4)
Penjerapan kurkumin ditentukan dengan

Sampel dan supernatan diencerkan 100 x


terlebih dahulu sebelum dilakukan pengukuran
absorbansi
Kurkumin yang bebas di supernatan
memberikan total jumlah zat aktif yang tidak
terjerap
Efisiensi enkapsulasi menandakan presentase
zat aktif yang terjerap

Setelah itu, vesikel kering oleh Triton X-100


dan jumlah obat yang terjerap dapat
diperkirakan dengan spektrofotometer UV
(pengenceran sudah sesuai dengan dapar
fosfat pH 7,4)
Vesikel dicuci terlebih dahulu dengan dapar
fosfat dan air suling kira-kira 3-4 kali.

UKURAN VESIKEL, UKURAN DISTRIBUSI,


& ANALISIS ZETA POTENSIAL
Diameter rata-rata, ukuran distribusi, dan
analisis zeta potensial ditentukan oleh
Malvern Zetasizer DTS versi 5,03 (Malvern,
Inggris)
Potensial zeta dianalisis untuk mengukur
perembesan transfersome dengan
mempelajari properti koloid dan stabilitas
vesikel

HIDROGEL TOPIKAL

Nisrina Ramadhyanti
1106067141

PREPARASI HIDROGEL
TOPIKAL
Hidrogel digunakan sebagai pembawa
transfersom untuk penghantaran secara
topikal
Transfersom kurkumin dalam dispersi cair di
gunakan dalam formulasi hidrogel topikal
Transfersom dalam dispersi cair yang
digunakan adalah setara dengan 200mg obat
murni

TABEL FORMULASI
HIDROGEL TOPIKAL

PEMBUATAN HIDROGEL
TOPIKAL
Carbopol di dispersikan dalam air yang
terdestilasi menggunakan magnetic stirrer
dan biarkan terhidrasi selama 4-5 jam.
Dispersi dinetralkan dengan 10% (b/v) larutan
natrium hidroksida untuk mengadjust pH
mengjadi ph 8

EVALUASI HIDROGEL
TOPIKAL
Penentuan pH:
diukur dengan pH meter digital pada suhu kamar
Studi permeasi kulit in vitro:
Menggunakan modifikasi Franz Diffusion Cell dengan
volume kompartemen reseptor berisi buffer fosfat (pH
7.4) sebesar 50ml dan area difusi efektif sebesar
2,50cm2. Digunakan kulit perut kambing. Kulit dipasang
secara horizontal diatas kompartemen reseptor dengan
stratum corneum yang menghadap kompartemen donor
dari franz diffusion cell. Sampel kemudian dianalisis

Studi deposisi kulit dari formulasi yang teroptimasi


Pada akhir percobaan permeasi (setelah 24 jam), permukaan kulit
dicuci lima kali dengan etanol: buffer fosfat pH 7,4 (1: 1), kemudian
dengan air untuk menghilangkan obat dari permukaan.
Kulit kemudian dipotong menjadi potongan-potongan kecil, kemudian
dihomogenisasi dengan etanol: buffer fosfat pH 7,4 (1: 1) dan
dibiarkan selama 6 jam pada suhu kamar.
Setelah dikocok selama 5 menit dan disentrifugasi selama 5 menit
pada 5000rpm, kurkumin dianalisis dengan UV metode
spektrofotometri pada 427.2nm. Hasil dibandingkan dengan kontrol

HASIL DAN
PEMBAHASAN

Rizky Fajar Wirawan


1106051622

MORFOLOGI TRANSFERSOM

INTERFERENCE
STUDY

EFISIENSI
PENJERAPAN
Molar Ratio (PC:EA) Formulation Code

Entrapment
Efficiency (%)

Tween 80
95 : 05

T1

68.20.074

85 : 15

T2

71.60.021

95 : 05

T3

73.30.018

85: 15

T4

76.30.086

Span 80
95 : 05

T5

73.60.033

85 : 15

T6

78.90.045

95 : 05

T7

81.50.012

85: 15

T8

89.60.049

Persen penjerapan yang tinggi pada formulasi


T8 dikarenakan peningkatan rasio volume lipid
dalam vesikel dibandingkan dengan volume
aqueous.
kurkumin
merupakan
senyawa
lipofilik,
sehingga penjerapannya akan meningkat seiring
bertambahnya lesitin dan menurun seiring
meningkatnya surfaktan.

UKURAN VESIKEL, DISTRIBUSI


UKURAN DAN POTENSIAL ZETA
Parameter diukur menggunakan Malvern Zetasizer DTS
versi 5.03.
Ukuran diameter rata-rata : 339.3 nm
Transfersom dengan pelarut etanol memiliki ukuran
partikel yang lebih besar daripada pelarut IPA, hal ini
karena etanol memiliki kelarutan yang lebih tinggi pada
air.
Formulasi dengan Span 80 menghasilkan ukuran lebih
kecil tetapi tidak berbeda secara nyata.

PH HIDROGEL
Pengukuran dilakukan dengan digital pH
meter ELICO.LI 610 pH meter pada suhu
ruang.
Harga pH :
1.H1 = 6.60.12
2.H2 = 6.40.14
3.H3 = 6.60.02

PELEPASAN IN-VITRO
Pengujian menggunakan Franz diffusion cell
selama 24 jam dalam buffer fosfat (ph 7.4) pada
suhu 37 0.5.
Pada pengujian terlihat adanya initial burst
release. Hal ini dikarenakan adanya kurkumin
yang
terperangkap
pada
permukaan
transfersom. Setelah itu pelepasan menjadi
difusi lambat.

ANALISIS KINETIKA DARI


LAJU DISOLUSI

KESIMPULAN
Transfersom formulasi T8 (PC : Span 80 = 85
:15) memberikan permeabilitas yang lebih
baik
dibandingkan
dengan
transderal
konvensional.

#2 TRANSFERSOMES AS A
TRANSDERMAL DRUG
DELIVERY SYSTEM FOR
ENHANCEMENT THE
ANTIFUNGAL ACTIVITY OF

Erisa Adellia
Irghazi Respayondri
Andika Galih Priadi

NYSTATIN (NYS)

Antijamur golongan poliena dengan spektrum luas yang bekerj


Pada berbagai ragi patogen dan non-patogen dan jamur.
Telah digunakan selama bertahun-tahun untuk mengobati
Candida di kulit dan untuk mulut.

ANTIJAMUR
Mengikat sterol
pada (terutama
ergosterol)
membran sel
fungi

1. Membran tidak
dapat berfungsi
kembali sebagai
barrier
2. Kalium dan
komponen sel
lainnya akan hilang
3. Aktif terhadap

Berat
Molekul

Besar
926.1

SOLUSI

NYSTATI
N

Kelarutan

Lipofilik

TRANSFERSOME
Ultradeformable vesicle

TRANSDERMAL

MATERIAL

METHODS
- Preparasi Nystatin dalam Transfersome

Dengan metode rotary evaporation-sonication


Campuran lipid terdiri dari Phospholipone H100, surfaktan
dan zat aktif (10 mg/ml) dalam rasio berbeda dilarutkan
Nystatin
dalam campuran pelarut organik yang terdiri dari kloroform
danH100
metanol (2:1), tempatkan pada labu yang bersih dan
Phospholipone
kering. Pelarut organik diuapkan dengan hati-hati
Natrium Deoxycholate
menggunakan rotary evaporation dibawah tekanan
rendah di atas suhu transisi lipid untuk membentuk sebuah
Span 80
film lipid pada dinding labu. Sisa terakhir dari pelarut
dihilangkan dengan menempatkan labu pada vakum semalam
Tween 80
Film lipid kering tipis yang terdeposit pada dinding labu
dihidrasi dengan larutan dapar fosfat (pH 6,4) dengan rotasi
Natrium azida
selama 1 jam pada suhu kamar di 60 rpm. Hasil vesikel
Kloroform disonikasi selama 30 menit dalam bath sonicator
untuk mengurangi ukuran vesikel kemudian disimpan pada
Metanol
4 oC. Surfaktan yang berbeda dalam rasio molar yang
berbeda digunakan untuk formulasi transfersome,
Komposisi formulasi ini dapat dilihat pada Tabel 1.
Bahan

TABEL 1

METODE PENGUJIAN

Irghazi Respayondri
1106010881

ENTRAPMENT EFFICIENCY
(EE%)
1 ml sampel dispersi transfersom dibekukan 24 jam pada
suhu -20C di tabung eppendorff.
Sampel yang beku dipindahkan ke suhu kamarm lalu
sentrifugasi 14.000 rpm 50 menit 4C.
Pelet transfersom diresuspensi dalam PBS (pH 6,4),
sentrifugasi lagi (ulangi 2x).
Supernatan dipisahkan dari pelet lalu preparasi untuk
penetapan kadar obat bebas.

PERHITUNGAN DSC
Shimadzu DSC 50 differential scanning
calorimetry.
Untuk serbuk nistatin begitu juga transfersom
blanko dan transfersom berisi nistatin dengan
rasio 90:10.
Analisis dilakukan pada 40 l atau 1 mg
sampel tersegel pada tabung aluminium
standar.

PELEPASAN OBAT IN VITRO


Metode dialisis melalui membran artifisial
cellophane.
Medium reseptor 100 ml PBS (pH 6,4) suhu 37
0,2C dan diaduk konstan 100 rpm.
Sejumlah pelet transfersom setara 2,5 mg nistatin
diletakkan pada kompartemen donor.
Sampling 4 ml pada 0,5; 1; 2; 4; 6; 8; dan 24 jam
dan diganti dengan larutan medium reseptor.
Lakukan triplo.

TRANSMISSION ELECTRON
MICROSCOPY (TEM)
Transfersom didispersikan di air, 1 tetes larutan
encer tsb dipindahkan ke carbon coated grid.
Diamkan 2 menit, supaya larutan menyerap pada
lapisan karbon dan larutan yang berlebih dibuang
dengan kertas saring.
Tambahkan 1 tetes 2% ammonium molibdat,
kelebihannya dicuci dengan air dan sampel
dianalisis dengan TEM.

STUDI PERMEASI KULIT IN


VITRO
1. Pembuatan kulit kelinci
Rambut kulit abdomen dicukur, lemak
dibuang, dan dicucui. Simpan pada suhu 20C.
Kulit direndam dalam larutan buffer pH 6,4
mengandung 0,02% natrium azida pada suhu
4 1C selama 1 jam sebelum dilakukan uji.

STUDI PERMEASI KULIT IN


VITRO (2)
2. Studi permeasi in vitro
Transfersom dengan EE% tertinggi dibandingkan
dengan liposom, obat bebas, dan produk nistastin
krim komersil.
Menggunakan dissolution-dialisis apparatus.
Area permeasi 6,61 cm2, kompartemen reseptor diisi
100 ml PBS mengandung 0,02% natrium azida, suhu
37 0,5C.
Sampel setara 2,5 mg obat diuji, diaduk 100 rpm.
Sampling 4 ml dengan interval waktu berbeda

STUDI PERMEASI KULIT IN


VITRO (3)
Plot kumulatif obat yang melewati kulit per
luas unit (g/cm2) terhadap waktu (jam),
hitung slope fluks transdermal saat kondisi
tunak (Jss)

STUDI PERMEASI KULIT IN


VITRO (4)
3. Studi retensi kulit
Transfersom dibandingkan dengan liposom, obat
bebas, dan produk komersial.
Setelah dilakukan uji permeasi in vitro selama 24
jam.
Kulit dibasahi lalu dibersihkan dan dikeringkan.
Kulit yang sudah bersih dikocok dengan 100 ml PBS
dengan suhu 37 0,5C selama 1 jam.
Filtrat diambil dan kadar obat ditetapkan dengan

UJI MIKROBIOLOGI NISTATIN


Transfersom dibandingkan dengan liposom
dan produk komersil.
40 ml agar dekstrosa sabouraud ditambah
suspense Candida albicans 100 l, kocok
hingga homogen.
Pada setiap cawan ditambahkan 100 l
masing-masing formulasi kemudian diinkubasi
pada suhu 25C selama 24 jam. Lakukan

HASIL PENGAMATAN

Andika Galih Priadi


1106020472

1. EFEK DARI RASIO FOSFOLIPID : EDGE


ACTIVATOR
Entrapment Efficiency :
Menunjukkan peningkatan signifikan saat
konsentrasi EA (SP80, SDC, TW80) dari 2,5%
hingga 10%
Menunjukkan penurunan yang signifikan saat
konsentrasi EA dilanjutkan dari 15 hingga 20%
Maksimum pada perbandingan konsentrasi
fosfolipid dan EA (90 : 10)

2. EFEK DARI TIPE EDGE


ACTIVATOR
Tabel menunjukkan persentase Entrapment
Efficiency tertinggi pada SP80-4, lalu TW80-4
dan yang terendah adalah SDC-4
Dipengaruhi oleh HLB
HLB SP80 : TW80 : SDC = 4,3 : 15 : 16

3. EFEK DARI KOMPOSISI


VESIKEL
Tabel menunjukkan, komposisi vesikel
transferosom mempunyai EE% lebih tinggi
daripada liposom
Surfaktan dan Nystatin membentuk kompleks
yang dimasukkan ke dalam transferosom

4. EFEK DARI KONSENTRASI


TOTAL
LIPID
Peningkatan
konsentrasi total
lipid dari 100 mg ke
500 mg
meningkatkan EE%
dari 56,98% ke
80,71%
EE% yang
diekspresikan
sebagai %ug/g
lemak mengalami

5. EFEK DARI KONSENTRASI


OBAT
Entrapment Efficiency (%)
Meningkat saat konsentrasi obat dari 2,5 mg/ml menjadi
10 mg/ml meningkat (dari 50,53 ke 80,71%)
Menurun saat konsentrasi obat 15 mg/ml (menjadi
57,19%)
Meningkat - Efek dari saturasi media dengan obat yang
mendorong enkapsulasi ke vesikel transferosom.
Menurun - Karena lipid bilayer telah tersaturasi oleh obat
sehingga penambahan konsentrasi akan menjadikan
presipitasi.

STUDI PELEPASAN OBAT


SECARA IN VITRO
Pelepasan 2 Jam
pertama adalah
pelepasan
cepat, kemudian
menjadi
sustained
release hingga
24 jam

Pelepasan
untuk yang EA
konsentrasi
lebih tinggi,
lebih rendah
karena
hilangnya
struktur
vesikular dan
bentuk

TRANSMISSION ELECTRON
MICROSCOPY

DIFFERENTIAL SCANNING
CALORIMETRY

STUDI IN VITRO PERMEASI


KULIT

AKTIVITAS ANTIFUNGI IN
VITRO

KESIMPULAN
Transferosom dapat meningkatkan transdermal
flux, memperpanjang pelepasan, dan
meningkatkan situs spesifik dari molekul bioaktif.
Transferosom dapat digunakan sebagai alternatif
pembawa untuk transdermal drug delivery system
Nistatin Transferosom dapat memperpanjang aksi
dibanding liposom dan produk komersil dan dapat
meningkatkan aktivitas antifungi

DAFTAR PUSTAKA
Abdallah, Marwa H. (2013). Transfersomes As A Transdermal Drug Delivery
System for
Enhancement The Antifungal Activity of Nystatin. Jurnal.
Department of Pharmaceutical and Industrial Pharmacy, Faculty of
Pharmacy, Universitas Zagazig, Zagazig, Mesir.
Leuva, S., Trust, P., and Mahila, P. (2009). Development and
Characterization of Curcumin
Loaded Transfersome for Transdermal
Delivery, 1(4), 71-80.
Sahil M. Gavali, Sharad S. Pacharane, Kisan R. Jadhav and Vilasrao J.
Kadam. 2011. CLINICAL P
TRANSFERSOME: A NEW TECHNIQUE FOR
TRANSDERMAL DRUG DELIVERY.
Department of Pharmaceutics, Bharati
Vidyapeeths College of Pharmacy, Sector 8, C.B.D : India.
Vinod K.R., et all. 2012. Critical issues related to transfer2013. somes
novel vesicular system. Acta Sci. Pol., Technol. Aliment. 1(11), 67-82.