Anda di halaman 1dari 25

Studi Safety Analysis Pada Kolom

Distilasi Purifikasi CO2


Makalah ini ditujukan sebagai
Tugas Mata Kuliah Safety Instrumented System

Ratih Rizki Dahlia


13311006

PROGRAM STUDI TEKNIK FISIKA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2014

Daftar Isi
I.

Pendahuluan.................................................................................................... 3
1.1.

Latar Belakang.......................................................................................... 3

1.2.

Lingkup perancangan................................................................................ 5

II.

Permasalahan yang terjadi pada industri........................................................5


2.1.

Repcelak, Hongaria: Ledakan cairan CO2 di dalam storage tank..............5

2.2.

Texas City, Texas, Amerika Serikat: BLEVE**) di Refinery..........................6

III.

Teori............................................................................................................. 8

3.1.

Kolom Distilasi........................................................................................... 8

3.2.

HAZOP....................................................................................................... 9

3.2.1.

Konsep HAZOP.................................................................................. 10

3.2.2.

Jenis-jenis HAZOP..............................................................................11

3.2.3.

Tujuan Utama Hazop.........................................................................11

3.3.

Safety Integrity Level (SIL)......................................................................12

IV.

Analisis....................................................................................................... 13

V.

Kesimpulan.................................................................................................... 20

VI.

Daftar Pustaka............................................................................................ 20

2 | Page

I.

Pendahuluan

I.1. Latar Belakang


Kebutuhan

energi

dari

fossil

fuel

cenderung

mengalami

peningkatan setiap tahunnya. Berdasarkan data dari IEA World


Energy Statistics and Balances pada periode tahun 1960 2007
(sebagian kecil dapat dilihat pada tabel di bawah) dapat
disimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat di dunia masih
bergantung pada penggunaan energi yang berasal dari fossil
fuel.
2001
72.24
3.8
Billion/d
ay

Pada

2002
72.70
6.0
Billion/d
ay

skala

2003
74.12
5.9
Billion/d
ay

nasional

kecenderungan

Tahun
2004
76.59
0.2
Billion/d
ay

khususnya

peningkatan

2005
77.77
3.6
Billion/d
ay

di

energi

2006
78.68
3.8
Billion/d
ay

wilayah
dari

fossil

2007
79.57
4.5
Billion/d
ay

Jawa
fuel

Barat
juga

mengalami peningkatan setiap tahunnya.Peningkatan kebutuhan


energi ini berdampak juga kepada peningkatan gas CO2 yang
dikeluarkan dari hasil pembakaran fossil fuel. CO2 merupakan
salah satu greenhouse gas yang memberikan kontribusi hingga
lebih dari 80% dari total yang diemisikan ke atmosfer. Gas CO 2
hasil pembakaran ini terbuang begitu saja di udara, sehingga
menjadi penyebab utama dari pemanasan global.

Salah satu perusahaan migas yang melakukan pembakaran fossil


fuel adalah PT. Pertamina. PT. Pertamina merasa CO 2 yang
dikeluarkan

belum

dapat

dimanfaatkan

dikarenakan

masih

bercampur dengan gas-gas atau senyawa yang lain. Oleh karena


itu, diadakan sebuah proyek untuk merancang agar CO 2 dari
3 | Page

lapangan migas milik PT. Pertamina yang berada di Subang dapat


termanfaatkan dan terkomersialisasikan. Dengan termanfaatkan
dan

terkomersialisasikannya

gas

CO2

diharapkan

akan

mengurangi pemanasan global, memberikan keuntungan dari


segi ekonomi bagi pihak PT. Pertamina, dan memberikan
keuntungan bagi masyarakat.

4 | Page

Gambar 1. 1 Rich Picture Diagram

Melihat ketersediaan pasar, terdapat beberapa alternatif untuk


memanfaatkan CO2 yaitu dimanfaatkan pada industri otomotif,
food grade level dan injection. Dari ketiga alternatif, alternatif
yang digunakan adalah pemanfaatan pada food grade level. CO2
pada food grade level harus memiliki kemurnian 99.9%. Untuk
mencapai kemurnian 99.9% diperlukan proses lanjutan melalui
5 | Page

proses purifikasi. Pada proses ini melibatkan banyak sub sistem


seperti, hidrolisis COS, Adsorpsi H2S dengan iron sponge,
oksidasi hidrokarbon dengan catox, dryer, serta distilasi. Alat
utama yang perlu ditinjau lebih detail adalah kolom distilasi yang
memisahkan antara nitrogen dan karbon dioksida.

Untuk detail dari alat utama dilengkapi secara detail pada


instrument dan Safety Instrumented System pendukungnya.
Untuk menentukan SIS dari subsistem distilasi digunakan analisis
HAZOP atau yang biasa disebut Hazard and Operability Study
untuk menetukan rekomendasi SIL.

I.2. Lingkup perancangan


Ruang lingkup dalam perancangan ini adalah:

1. Lapangan migas yang menjadi objek adalah lapangan migas


milik PT. Pertamina yang ada di Subang.

2. Pemanfaatan dan komersialisasi CO2 yang dilakukan tidak


sampai

tahap

pengimplementasian,

hanya

sampai

tahap

perancangan.

II.

Permasalahan yang terjadi pada industri


Analisis safety pada proses distilasi perlu diperhitungkan agar
tidak terjadi kecelakaan seperti yang terjadi di Texas dan
Hongaria yang secara umum terjadi karena kegagalan dari level
indicator

atau

level

controller

dan

akhirnya

ledakan yang merugikan masyarakat sekitar.

6 | Page

menimbulkan

II.1. Repcelak, Hongaria: Ledakan cairan CO2 di dalam


storage tank.
Di Repcelak, Hongaria, karbon dioksida dihasilkan dari proses
pemurnian gas alam. Setelah CO2 tsb dimurnikan, dia dicairkan
dan didinginkan oleh proses refrijerasi amoniak. Dan kemudian
di simpan di dalam tangki bertekanan 220 psig pada temperatur
22 F. Tank farm terdiri dari 4 tangki berbentuk bola, tangki A, B,
C, dan D. Pada tanggal 2 Januari 1969 jam 13:30, tangki C
sedang diisi CO2. Tiba2 tangki tersebut meledak. Beberapa
menit kemudian, tangki D menyusul meledak. Ledakan ini
merobek fondasi dari salah satu kaki penyangga tangki A, dan
juga kaki penyangga yang lain bergeser dari kedudukan semula
sehingga terjadi lubang di tangki. Keluarnya CO2 dari lubang ini
menyebabkan tangki bola tersebut meluncur seperti roket
menuju labroratorium dan menyebabkan 5 orang pingsan. Tangki
B juga kena dampaknya, beberapa pipa yang berhubungan
dengan tangki tersebut lepas, tetapi tidak menimbulkan efek
yang

serius.

Terbangnya

material

tangki

yang

menyebar

kemana-mana menyebabkan 4 orang tewas di tempat. Di daerah


radius 150 m dari tangki, banyak sekali orang terluka. Beberapa
dari mereka terluka serius karena kedinginan CO2. Penyebab
ledakan diduga berasal dari kelebihan mengisi tangki karena
kegagalan kerja level indicator. Penghilangan air di proses hulu
sebelum tangki ini tidak menjamin 100% berhasil, sehingga
pembacaan tekanan dan aras (level) menjadi error karena
terbentuknya es dari air.

II.2. Texas City, Texas, Amerika Serikat: BLEVE**) di


Refinery
Pada tanggal 30 Mei 1978 jam 2 pagi dini hari, sebuah tangki
berbentuk bola di pabrik penyulingan minyak bumi di kota Texas,
Amerika Serikat berlebihan diisinya dengan isobutana. Level
indicator
7 | Page

tangki

yang

tidak

bekerja

dengan

baik

adalah

penyebabnya. Tangki retak di bagian las-an yang jelek, dan


lepaslah sebagian isobutana ke udara bebas. Gas terpantik api
dari sumber yang tidak diketahui. Dan api, karena sifatnya,
bergerak balik (flash back) ke arah tangki. Api membakar tangki
selama kurang lebih 1 menit sebelum membelahnya jadi 3
bagian. Salah satu dari 3 bagian itu melesat sampai sejauh 80
m. Bola api (fireball***) berisi kurang lebih 800 m3 isobutana
melesat ke udara, dan beberapa BLEVE ukuran kecil menyusul
sesudahnya. Tangki-tangki isobutana ukuran kecil berbentuk
vertical dan horizontal hancur, serpihannya tersebar ke segenap
penjuru pabrik, dengan jarak lempar terjauh hingga 135 m. Dua
puluh menit kemudian, tangki berbentuk bola yang lain, persis di
depan tangki yang terbelah tadi meledak karena BLEVE. Bola api
melesat

ke

sebelumnya.

udara
Tetapi,

dengan
karena

ukuran

yang

lebih

kecil

relatif

kecil,

kerusakan

dari
yang

ditimbulkan relatif lebih parah karena bola api tsb bisa lebih
tinggi terbangnya. Dilaporkan, bagian atas dari bola api tersebut
bisa mencapai ketinggian 190 m. Ini menyebabkan kerusakan
tangki air pemadam kebakaran, serta menghancurkan satu unit
fire pump. PSV yang tadinya melekat di tangki ini terbang jauh
dan diketemukan 500 m dari tempat asalnya. Tujuh orang
dilaporkan tewas, dan 10 orang terluka.

8 | Page

Gambar 2. 1 blowdown stack emiting flames after explosion

Sumber: NASA Safety Center

Gambar 2. 2 sequence of events that resulted in explosion

Sumber : NASA Safety Center

9 | Page

III.

Teori

III.1. Kolom Distilasi


Kolom distilasi (distillation column) merupakan peralatan proses
yang banyak digunakan dalam industri proses termasuk kilang
minyak. Kolom distilasi digunakan untuk memisahkan suatu
bahan yang mengandung dua atau lebih komponen bahan
menjadi beberapa komponen berdasarkan perbedaan volatility
(kemudahan menguap) dari masing-masing komponen bahan
tersebut.
Kolom distilasi merupakan serangkaian peralatan proses yang
terdiri
dari preheater, column, condenser, accumulator, reboiler serta
peralatan

pendukungnya,

dengan

konfigurasi

seperti

pada

memiliki

dua

gambar berikut.

Kolom

(column)

atau

sering

disebut

tower

kegunaan; yang pertama untuk memisahkan feed (material yang


masuk) menjadi dua porsi, yaitu vapor yang naik ke bagian atas
(top/overhead) kolom dan porsi liquid yang turun ke bagian
bawah (bottom) kolom; yang kedua adalah untuk menjaga
campuran kedua fasa vapor dan liquid (yang mengalir secara
counter-current)

agar

seimbang,

sehingga

pemisahannya

menjadi lebih sempurna.


Overhead vapor akan meninggalkan bagian atas kolom dan
masuk

ke

condenser,

vapor

yang

menjadi

liquid

akan

dikumpulkan di accumulator. Sebagian liquid dari accumulator


dikembalikan

ke kolom sebagai reflux, sedangkan sebagian

lainnya sebagai overhead product atau distillate.

10 | P a g e

Bottom liquid keluar dari bagian bawah kolom dan dipanaskan


ke reboiler. Sebagian liquid menjadi vapor dan dikembalikan ke
kolom, dan sebagian lainnya akan dikeluarkan sebagai bottom
product atau residue.
Ini adalah konfigurasi kolom yang relative sederhana, pada
aplikasi yang lebih kompleks, sebagian vapor atau liquid ditarik
dari beberapa titik di bagian samping kolom (sidestream) sebagai
intermediate product dan/atau sebagai reflux.
Pada umumnya bahan yang akan dipisahkan (feed) dimasukkan
kedalam

kolom

melalui

bagian

samping

kolom

tersebut.

Komponen yang lebih ringan akan menguap menjadi vapor dan


naik ke bagian atas (overhead) kolom , sedangkan komponen
yang lebih berat berbentuk liquid akan jatuh ke bagian bawah
(bottom) kolom. Agar pemisahan dapat terjadi secara efektif,
maka kedua fasa vapor dan liquid harus ada sepanjang kolom.
Untuk menjaga tercapainya kondisi seperti ini, maka kondisi
operasi kolom harus dijaga dengan menggunakan sistem kontrol.
Secara garis besar sistem kontrol pada kolom distilasi terdiri dari:

Pressure control.

Reflux control.

Reboiler control.

Pump arround control.

Feed control.

III.2. HAZOP
Hazard

and

Operability

Studies

(HAZOP)

pertama

kali

dikembangkan oleh ICI, sebuah perusahaan kimia di Inggris.


11 | P a g e

Karena itu pula, HAZOP lebih sering diimplementasikan pada


industri kimia. Namun seiring dengan makin dibutuhkannya
teknik-teknik analisis hazard, beberapa industri lain, misalnya
industri

makanan,

farmasi,

dan

pertambangan

(termasuk

pengeboran minyak dan gas lepas pantai), juga mulai banyak


menerapkan HAZOP.
The Hazard and Operability Study atau lebih dikenal sebagai
HazOp adalah standar teknik analisis bahaya yang digunakan
dalam persiapan penetapan keamanan dalam sistem baru atau
modifikasi untuk suatu keberadaan potensi bahaya atau masalah
operabilitasnya. HazOp adalah pengujian yang teliti oleh group
spesialis , dalam bagian sebuah sistem apakah yang akan terjadi jika
komponen tersebut dioperasikan melebihi dari normal model desain
komponen yang telah ada. Sehingga HazOp didefinisikan sebagai
system dan bentuk penilaian dari sebuah perancangan atau proses
yang telah ada atau operasi dengan maksud untuk mengidentifikasi
dan mengevaluasi masalah-masalah yang mewakili resiko-resiko
perorangan atau peralatan atau mencegah operasi yang efisien.
HazOp merupakan teknik kualitatif yang berdasarkan pada GUIDEWORDS dan dilaksanakan oleh tim dari berbagai disiplin ilmu selama
proses HazOp berlangsung.

III.2.1.

Konsep HAZOP

Proses HazOp didasarkan pada prinsip bahwa pendekatan


kelompok dalam analisis bahaya akan mengidentifikasi masalamasalah yang lebih banyak dibandingkan ketika individu-individu
bekerja secara terpisah kemudian mengkombinasikan hasilnya.
Tim HazOp dibentuk dari individu-individu dengan latar belakang
dan keahlian yang bervariasi. Keahlian ini digunkan bersama
selama pelaksanaan HazOp dan melalui usaha pengumpulan
brainstorming yang menstimulasi kreatifitas dan ide-ide baru,
keseluruhan
pertimbangan.
12 | P a g e

ulasan

dari

suatu

proses

dibuat

menurut

Berikut istilah istilah terminologi (key words) yang dipakai


untuk mempermudah pelaksanaan HazOP antara lain sebagai
berikut:
1. Deviation (Penyimpangan). Adalah kata kunci kombinasi yang
sedang diterapkan. (merupakan gabungan dari guide words dan
parameters).
2. Cause (Penyebab). Adalah penyebab yang kemungkinan besar
akan mengakibatkan terjadinya penyimpangan.
3. Consequence (Akibat/konsekuensi). Adalah suatu akibat dari
suatu kejadian yang biasanya diekspresikan sebagai kerugian
dari

suatu

kejadian

atau

resiko.

Dalam

menentukan

consequence tidak boleh melakukan batasan kerena hal tersebut


bias merugikan pelaksanaan penelitian.
4. Safeguards (Usaha

Perlindungan). Adanya

perlengkapan

pencegahan yang mencegah penyebab atau usaha perlindungan


terhadap konsekuensi kerugian akan didokumentasikan pada
kolom ini. Safeguards juga memberikan informasi pada operator
tentang

pemyimpangan

yang

terjadi

dan

juga

untuk

memperkecil akibat.
5. Action (Tindakan yang Dilakukan). Apabila suatu penyebab
dipercaya

akan mengakibatkan konsekuensi negatif, harus

diputuskan

tindakantindakan

apa

yang

harus

dilakukan.

Tindakan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu tindakan yang


mengurangi atau menghilangkan penyebab dan tindakan yang
menghilangkan akibat (konsekuensi). Sedangkan apa yang
terlebih dahulu diputuskan, hal ini tidak selalu memungkinkan,
terutama

ketika

berhadapan

dengan

kerusakan

peralatan.

Namun, pertamatama selalu diusahakan untuk menyingkirkan


penyebabnya, dan hanya dibagian mana perlu mengurangi
konsekuensi.

13 | P a g e

6. Node (Titik Studi). Merupakan pemisahan suatu unit proses


menjadi beberapa bagian agar studi dapat dilakukan lebih
terorganisir.

Titik

studi bertujuan untuk

membantu

dalam

menguraikan dan mempelajari suatu bagian proses.


7. Severity. Merupakan

tingkat

keparahan

yang

diperkirakan

dapat terjadi.
8. Likelihood. Adalah

kemungkinan

terjadinya

konsekwensi

dengan sistem pengaman yang ada.


9. Risk atau

resiko merupakan

kombinasi

kemungkinan likelihood danseverity.


10.

Tujuan desain. Tujuan desain diharapkan menggambarkan

bagaimana

proses

dilakukan

pada node (titik

studi).

Digambarkan secara kualitatif sebagai aktivitas ( misalnya:


reaksi, sedimentasi dsb) dan atau dengan kuantitatif dalam
parameter proses seperti suhu, laju alir, tekanan, komposisi dan
lain sebagainya.

III.2.2.

Jenis-jenis HAZOP

1. Process HazOp, yang di kembangkan untuk menilai system


proses dan pabrik.
2. Human HazOp, lebih fokus pada kesalahan manusia dari pada
kegagalan teknik.
3. Procedure HazOp, meninjau kemabali urutan operasi dan cara
kerja yang biasanya dinyatakan sebagai opersai pembelajaran
SAFOP-SAFe.
4. Software HazOp, mengidentifikasi kemungkinan
kesalahan dalam pengembangan perangk lunak.
III.2.3.

kesalahan-

Tujuan Utama Hazop

1. Bahaya-bahaya

(hazards)

yang

potential

(terutama

membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan), dan;


14 | P a g e

yang

2. berbagai macam masalah kemampuan operasional (operability)


pada setiap proses akibat adanya penyimpangan-penyimpangan
terhadap tujuan perancangan (design intent) proses-proses
dalam pabrik yang sudah beraktifitas maupun pabrik yang baru/
akan dioperasikan.
Tujuan penggunaan HAZOP adalah untuk meninjau suatu proses
atau operasi pada suatu system secara sistematis, untuk
menentukan apakah proses penyimpangan dapat mendorong
kearah kejadian atau kecelakaan yang tidak diinginkan. HazOp
Study sebaiknya dilakukan sesegera mungkin dalam tahap
perancangan untuk melihat dampak dari perancangan itu, selain
itu

untuk

melakukan

suatu

HazOp

kita

membutuhkan

gambaran/perencanaan yang lebih lengkap. HazOp biasanya


dilakukan sebagai pemeriksaan akhir ketika perncanaan yang
mendetail telah terselesaikan. Juga dapat dilakukan pada
fasilitas yang ada untuk mengidentifikasi modifikasi yang harus
dilakukan untuk mengurangi masalah resiko dan pengoperasian.

III.3. Safety Integrity Level (SIL)


Safety

Integrity

Level

adalah

suatu

level

diskrit

untuk

menspesifikasikan safety integrity yang dibutuhkan dari SIF-SIF


untuk dialokasikan ke SIS. Safety Integrity adalah probabilitas
dari sebuah SIF dalam menunjukan ketepatan safety function
yang dibutuhkan pada semua kondisi-kondisi yang dikondisikan
dalam periode waktu yang ditentukan. Terdapat empat level dari
SIL, yaitu SIL 1, SIL 2, SIL 3, dan SIL 4. Semakin tinggi level SIL
suatu system maka probabilitas dari system tersebut untuk
mengalami kegagalan akan semakin semakin kecil, begitu juga
sebalikanya. Tingkatan level SIL dari sebuah system dapat
ditentukan

15 | P a g e

dengan

menggunakan

nilai

PFDavg,

nilai

Risk

Reduction Factor, dan nilai Safety Availibility dari system


tersebut.
SIL
SIL 1
SIL 2
SIL 3
SIL 4

IV.

PFDavg
0.1 0.01
0.01 0.001
0.001 0.0001
0.0001 0.00001

SA
0.9 0.99
0.99 0.999
0.999 0.9999
0.9999

RRF
10 100
100 1000
1000 10000
10000 -

0.99999

100000

Analisis
Sebelum menganalisis safety pada kolom distilasi diperlukan
rancangan PFD (Process Flow Diagram) secara keseluruhan.
Dalam membuat PFD dibutuhkan kerjasama dengan engineer
pada bidang proses.
Berikut ini adalah PFD dari proses purifikasi CO 2 secara
keseluruhan:

16 | P a g e

HAZOP atau Hazard and Operability Study dapat membantu


menganalisa

instrument

safety

apa

saja

yang

harus

ditambahkan pada proses pemurnian ini. Pada makalah ini hanya


akan dibahas secara detail pada bagian proses distilasi sebagai
alat utama pada proses.

Analisis HAZOP pada proses distilasi adalah sebagai berikut:


GUIDE WORD
High level

CAUSE

CONSEQUENCE

RECOMMENDE

Level

Flooding pada

D ACTION
Install Level

controller

keluaran

Alarm High

fault

reboiler

secara
independent,
dan controller

17 | P a g e

Low level

Level

Tidak masalah

controller

LIC
Install low level
alarm

tidak
berfungsi
High pressure

High

atau low flow


Water failure

Kolom akan

Install Pressure

pada

mengalami

indicator pada

kondenser

tekanan kuat

kolom, High

dan meledak

pressure alarm,

No adverse

PSV
Install

effect

temperature

Loss of feed

temperature

alarm
(high&low) on
TIC,
ditambahkan
dengan high
teperature
alarm
dihubungkan
dengan valve
pada inlet
High Level

Low Level

Pompa P-1

High pressure

kolom
Install LAH

gagal

pada cooling

pada T-1

LIC gagal

tower, T1

Valve gagal
LIC gagal

overfills
Pompa rusak

Install LAL

Valve gagal

selain dengan penambahan instrument dari analisis HAZOP,


safety dapat dicapai dengan penggunaan kontrol automasi.
Seperti pada masukan kolom distilasi diberikan control valve

18 | P a g e

untuk

menyesuaikan

seberapa

besar

CO2

yang

harus

dimasukkan ke dalam kolom distilasi sesuai dengan keadaan


dalam kolom distilasi. Control valve ini akan membuka sebesar
10%,20%,30% dst bergantung pada beberapa variabel yaitu
tekanan dan temperatur. Kontrol lainnya diterapkan pada T-1
untuk menghindari overfills maka dipasang controller dengan
masukan level sebagai penggerak valvenya.
Pada

umumnya,

cara

kerja

dari

kolom

distilasi

adalah

memisahkan dua zat berdasarkan titik didihnya, karena Nitrogen


memiliki titik didih yang lebih rendah dari CO 2 maka CO2 dalam
liquid

akan

mengendap

di

bawah

kolom

distilasi,

untuk

menghindari CO2 kembali menguap, maka dipasang level


controller pada bagian bottom yang kemudian dihubungkan
pada valve keluaran.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan diatas, maka detail
instrumen pada kolom distilasi adalah sebagai berikut:

19 | P a g e

Setelah menginstall berbagai instrument yang digunakan untuk


safety, maka dapat dihitung kemungkinan Safety Integrity Level dari
proses tersebut.
Kondisi failure yang mungkin terjadi dari proses ini dilihat dari
prosesnya terdiri dari konfigurasi 1oo1 dimana kondisi failure yang
mungkin terjadi adalah setiap instrument pada setiap SIF fail
menjalankan fungsi safety-nya dan konfigurasi 1oo2.
Berdasarkan identifikasi instrument dan melihat kondisi failure yang
mungkin terjadi, maka fault tree analysis untuk setiap SIF dengan
konfigurasi 1oo1 adalah sebagai berikut:

Logic solver
sensorFinal element

Pada konfigurasi 1oo1 diterapkan pada bagian bottom dari kolom


distilasi. Pada konfigurasi ini, fault akan terjadi apabila sensor atau
logic solver atau final element gagal bereaksi sesuai rancangan. Jika
sensor mengalami kegagalan membaca, maka aliran CO2 pada
bagian bawah dapat mengalir terus menerus atau bahkan tidak
mengalir. Jika CO2 mengalir terus menerus menuju storage maka
kualitas dari CO2 yang terambil tidak terlalu bagus, dalam artian
masih terdapat Nitrogen yang tinggi. Jika CO2 tidak mengalir karena
sensor tidak mendeteksi maka akan terjadi high level pada kolom
distilasi. Kejadian serupa juga akan terjadi apabila logic solver atau
final element berupa Level Control Valve mengalami kegagalan.

20 | P a g e

Sedangkan fault tree analysis dari SIF dengan konfigurasi 1oo2


adalah sebagai berikut:

senso

PSHH

Logic
solver

Final
element

TSHH

Konfigurasi 1oo2 diterapkan pada masukan dari kolom distilasi. Pada


konfigurasi ini digunakan dua sensor untuk mendeteksi besaran
yang berbeda untuk satu aktuator. Hal ini dilakukan untuk menjaga
tekanan dan temperatur pada kolom distilasi sesuai dengan kondisi
operasi. Jika salah satu dari elemen-elemen tersebut gagal maka
akan menyebabkan ledakan pada kolom distilasi. Meskipun CO 2 cair
dan nitrogen tidak termasuk flammable fluid, namun ledakan
tersebut

dapat

mengakibatkan

kerugian

pada

plant

dan

meningkatkan kadar CO2 pada lingkungan tersebut jika menguap.

21 | P a g e

Analisis SIL yang dibutuhkan menurut FTA yang sudah dibentuk


adalah :
Data Failure rate sensor
D/year
0.031536
0.031536
0.031536

instrument
LSHH
PSHH
TSHH

Data Failure Rate Logic Solver


Logic Solver
RTU-200

Part
Processor
Power Supply
Analog Input

D/year
0.005414
0.00219
0.00878

Module
Analog Output

0.00878

Module
Digital Input

0.000718

Module
Digital Output

0.005258

Module

Data Failure Rate Final Element


Part
D/year
Valve
0.010074
Aktuator
0.005889
Solenoid
0.005125
CV
Valve
0.010074
Aktuator
0.005889
Solenoid
0.005125
Karena seluruh elemen terhubung dengan gerbang logika OR, maka
Final Elements
LCV

pengolahan Perhitungan PFDavg per-instrument menurut referensi


yang didapat adalah:

22 | P a g e

instrument
PFDavg =
Sensor

(e TI 1)
1+
D TI

PFD avg_sensor
0.045846847
0.045846847
0.045846847
PFD avg_logicsolver
0.013275055
PFD avg_final element
0.010506924
0.010506924

LSHH
PSHH
TSHH
Logic Solver
RTU-200
Final Element
LCV
CV

Pada referensi ini diasumsikan TIsensor = 3 tahun,

TIlogic_solver

= 1 tahun,

TIfinal_elements = 1 tahun.
Perhitungan PFDavg total mengikuti rumus:
N

PFDavg =1 (1P N ( s ))
total

PFDavg_sensor

PFDavg_logic_solver

PFDavg_final_eleme

LSHH

RTU-200

LCV

PFDavg_total

Level SIL

nt

0.0458468 0.013275055

0.010506924 0,0696288

47
PSHH/TSH

RTU-200

0.013275055

0.0458468

CV
0.010506924 0,0696288
26

47

RRF = 1/PFD = 14,36187


Dari perhitungan PFD rata-rata total dari sistem ditentukan
rekomendasi SIL yang disarankan adalah SIL 1.

23 | P a g e

SIL 1

26

SIL 1

V.

Kesimpulan
Setiap proses kimia, membutuhkan sistem safety, sekalipun zat
yang diolah tidak terlalu berbahaya seperti CO2. Safety sangat
diperlukan bukan hanya untuk menghindari kebakaran atau ledakan,
tetapi juga untuk menjaga agar proses tetap berjalan normal dan
menjaga equipment proses tetap memiliki lifetime yang sesuai.
Untuk menentukan safety yang dibutuhkan dari proses terdapat
berbagai metode yang dapat dilakukan, salah satunya adalah
metode

HAZOP

atau

Hazard

and

Operability

Study,

dengan

menganalisis dari HAZOP kita dapat memetakan jenis solver yang


digunakan, sehingga dapat menghasilkan Fault Tree Analysis (FAT).
Setelah

menentukan

solver

yang

sesuai

dapat

menghitung

Probabilty Failure on Demand (PFD) untuk menentukan Safety


Integrated Level (SIL) yang sesuai dengan proses tersebut. Pada
proses distilasi ini, direkomendasikan SIL 1 untuk safety system dari
proses tersebut.

VI.

Daftar Pustaka
B.G., L. (1995). Instrument Engineers' Handbook: Process Control, 3
ed. USA: CRC PRess.
Carson, P., & Mumford, C. (2002). Hazardous Chemicals Handbook
Second Edition. Oxford: Butterworth-Heinemann.
Wander, S. (2008). Refinery Ablaze-15 Dead. USA: NASA Safety Center.
HAzardous Industry Planning Advisory Paper No 8, HAZOP Guidelines,
July 2008
ISA-TR84.00.03-2002 : Guidance for Testing of Process Sector Safety
Instrumented Functions (SIF) Implemented as or Within Safety
Instrumented Systems (SIS)
ISA-TR84.00.02-2002: Safety Instrumented Functions (SIF)- Safety
Integrity Level (SIL) Evaluation Techniques Part 4: Determining the SIL
of a SIF via Markov Analysis

24 | P a g e

25 | P a g e