Anda di halaman 1dari 52

Takut

Takut
Allah SWT berfirman, Yaduuns Rabbahum Khaufan wathaman yang artinya,
Mereka berdoa kepada TUhannya karena takut dan loba.

Abu Hurairah berkata, Bahwa RasuluLlah SAW bersabda, Tidak akan masuk neraka
orang yang menagis karena takut kepada Allah Taala, sebelum ada air susu yang masuk
pada teteknya. Dan tidaklah berkumpul debu-debu dalam perang membela agama di jalan
Allah dengan asap api neraka jahanam di tempat sampah seorang hamba.

Anas berkata bahwa RasduluLlah SAW bersabda, Seandainya engkau mengetahui


apa-apa yang aku ketahui niscaya sedikit tertawa engkau, dan banyak menangis.

Menurut pendapatku (Syaikh Abul Qasim Al-Qusyairy) takut mempunyai arti yang
berhubungan dengan masa yang akan datang. Karena orang akan takut menghalalkan
yang makruh dan meninggalkan hal yang sunat. Hal ini tidak begitu penting kecuali
membawa dampak positif di masa yang akan datang. Jika pada saat sekarang hal itu
muncul, maka pengertian takut tidak terkait. Sedangkan pengertian takut kepada Allah
Taala adalah tekut kepada siksaanNya baik di dunia maupun di akhirat. Allah Taala
mewajibkan kepada hambaNya agar takut kepadaNya, sebagai mana
firmanNya, wakhaafuuNy in kuntum muminunyang artinya, dan takutlah akmu
semua kepadaKu jika kamu orang-orang yang beriman.

Allah Taala juga berfirman, fa iyyaaYa farhabuun yang artinya, Maka kepadaKulah
seharusnya mereka merasa takut.
Disamping itu Allah Taala memuji orang mumin Karenna ketakutannya sebagai mana
dirmanNya,yakhaafuuna Rabbahum min fawqihim yang artinya, mereka itu (malaikat)
takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka.

Saya (Syaikh Al-Qusyairy RA) telah mendengar Ustadz Abu Aly Ad-Daqaq berkata,
Takut mempunyai beberapa tingkatan, yaitu khauf, khasyah, dan
haibah, khauf merupakan bagian dari syarat-syarat iman dan hokum-hukumnya
sebagaimana firmanNya, WakhaafuuNy in kunutm muminiin

Khasyah merupakan bagian dari syarat-syarat ilmu sebagaimana firmanNyaInnamaa


yakhsyaLlaaha min ibaadihiil ulamaayang artinya, sesungguhnya yang paling takut
kepada Allah Taala di antara hambanya adalah ulama.

Sedangkan haibah merupakan bagian dari syarat-syarat marifatsebagaimana firman


Allah Taala, WayuchadhirukumuLlaahu nafsahyang artinya, Allah SWT
memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya.

Saya (Imam Al-Qusyairy) mendengar Abu Hafsh berkata, Takut adalah cambuk Allah
SWT yang dipergunakan untuk meluruskan orang-orang yang lari dari pintuNya.

Abdul Qasim Al-Hakim berpendapat, khauf mempunyai dua bentuk


yaiturahbah dan khasyah. Yang dimaksud orang yang rahbah adalah orang yang
berlindung kepada Allah SWT. Ada yang berpendapat, kata rahiba dan haraba boleh
diungkapkan karena keduanya mempunyai arti satu seperti kata jadzubadan jaladza.
Sebagai contoh apabila dia lari , maka dia dapat di tarik dalam pengertian hawanafsunya.
Seperti pendeta yang mengikuti hawa nafsunya. Oleh karena itu apabila mereka ditarik
oleh kendali ilmu dan mereka melaksanakan / menggerakkan kebenaran syariat, maka
pengertian tersebut disebut khasyah.

Abu Hafs berkata, Takut itu seperti lampu hati yang dapat ,menunjukkan kebaikan dan
keburukan. Utstadz Abu Aly Ad-Daqaq berkata, Yang dimaksud takut adalah keadaan diri
yang tidak menginginkan sebuah harapan dan keterlambatan. Abu Umar Ad-Dimasyqy

berkata, yang dimaksud takut adalah orang yang lebih takut kepada dirinya sendiri dari
pada takut kepada setan.

Menurut Ibnu Al-jalla, Yang dimaksud orang yang takut adalah orang yang aman dari
berbagai hal yang menakutkan. Menurut satu pendapat, yang dimaksud orang yang takut
adalah bukan orang yang menaangis dan mengusap kedua matanya, tetapi yang
meninggalkan sesuatu karena takut disiksa. Ibnu Iyadh telah ditanya oleh seseorang,
Mengapa saya tidak pernah melihat oarng yang takut kepada Allah SWT ? Dia
menjawab,Jika engkau takut kepada Allah SWT maka engkau akan melihat orang yang
takut kepadaNya. Karena tidak ada orang yang dapat melihat orang yang takut kepada
Allah SWT kecuali orang yang takut kepadanya. Sama halnya perempuan yang kehilangan
anaknya akan melihat perempuan lain yang juga kehilangan anaknya.

Yahya bin Muadz berpendapat, keturunan Adam yang miskin seandainya takut kepada
api neraka sebagaimana ia takut kepada kefakiran, maka dia akan masuk surga. Menurut
Syah Al-Karmani, indikasi orang yang takut kepada Allah SWT adalah orang yang selalu
susah . sedangkan menurut Abdul Qasim AL-Hakim, orang yang takut akan sesuatu maka
ia akan lari darinya. Sedangkan orang yang takut kepada Allah SWT maka ia akan lari
kepadaNya.

Dzunun telah ditanya, Kapan bagi seorang hamba menemukan jalan takut
kepada Allah SWT ? Dia menjawab, Apabila ia menempatkan dirinya pada posisi
sakit maka ia akan menjauhkan diri dari segala hal karena sakitnya terus
bertambah. Menurut Muadz bin Jabbal, hati dan ketampanan wajah orang mumin
tidak akan tenteram dan tenang sebelum ia mampu meninggalkan titian neraka
jahanam di belakangnya. Sedangkan menurut Bisyr Al-Hafy, takut kepada Allah
SWT bagaikan harta milik yang tidak mempunyai tempat kecuali di hati orang
bertaqwa.

Abu Utsman Al-Hariri mengatakan, Cacatnya orang yang takut terletak pada
ketakutannya. Al-Washity juga mengatakan, Takut merupakan penghalang antara

Allah SWT dan hambaNya. Pernyataan ini mengandung kemusykilan, artinya


orang yang takut kepada Allah SWT akan mengetahui waktu yang ke dua. bentukbentuk waktu tidak akan diketahui untuk masa yang akan datang. Oleh karena itu
kebaikan orang-orang yang baik merupakan keburukan bagi orang-orang yang
dekat kepada Allah SWT.

Saya (Syaikh Al-Imam Al-Qusyairi) pernah mendengar Ahmad Ats-Tsauri


mengatakan, Yang dimaksud orang yang takut adalah orang yang lari dari Tuhan
menuju Tuhan. Sebagaimana ulama berpendapat, indikasi takut adalah bingung
dengan cara yang samar. Al-Junaid pernah ditanya tentang takut lalu beliau
emnjawab, Jatuhnya siksaan melalui sa,uran nafas.

Abu Sulaiman Ad-Daarani menyatakan, Takut tidak akan mampu menceraikan


hati kecuali keruntuhan. Abu Utsman juga berkata bahwa kebenaran takut adalah
meninggalkan perbuatan dosa baik lahir maupun bathin.

Menurut Dzunun Al-Mishri, Manusia akan tetap di tengah jalan selagi ia takut.
apabila ia tidak takut kepada Allah SWT maka ia akan sesat. Sedangkan menurut
Hatim Al-Asham, tiap sesuatu mempunyai hiasan. Hiasan ibadah adalah takut ,
sedangkan indikasi takut adalah memperkecil keinginan.

Suatu saat seorang laki-laki bertanya kepada Bisyr Al-Hafi , Saya pernah
memperlihatkan takut mati. Dan Bisyr menjawab, Datang kepada Allah SWT
sangat penting.

Syaikh Abul Qasil Al-Qusyairy berkata, Saya telah mendengar Syaikh Abu Ali
Ad-Daqaq berkata, Saya pernah mendatangi Imam ABu Bakar bin Faruk. Ketika
saya melihatnya, kedua matanya bercucuran air mata. Kukatakan kepadanya
bahwa Allah akan emnyelamatkan dan menyembuhkanmu. Ia menjawab, Engkau
tidak akan pernah melihatku takut mati, tetapi saya takut dibalik mati itu.

Diriwayatkan dari Aisyah RA mengatakan, Pernah kutanyakan kepada


RasuluLlah SAW tentang ayat yang berbunyi, Walladziina yutuuna maa uutuu
waquluubuhum wajilah yang artinya.Dan orang-orang yang memberikan
sesuatu yang telah diberikan, sedangkan hati mereka takut karena mereka akan
kembali kepada Tuhannya.
Apakah mereka orang-orang yang dimaksud dalam ayat di atas adalah orangorang yang minum khamr dan orang-orang yang mencuri ? Beliau menjawab,
Tidak, tetapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa , salat dan bersedekah.
Mereka takut amalnya tidak diterima oleh Allah SWT. Hal ini yang dimaksud dalam
ayat, ulaa-ikalladziina yusaariuuna fil khairaati wahum lahaa
saabiquun yang artinya, Mereka adalahorang-orang yang berlomba-lomba
dalam kebaikan dan mereka termasuk orang yang menang.

Menurut AbduLlah bin Mubarak, takut tidak akan pernah bangkit sehingga ia tertanam di
dalam hati dengan konsistensi pendekatan , baik secara samar maupun terang-terangan.
Sedangkan menurut Ibrahim bin Syaiban , apabila takut tertanam di dalam hati , maka
segala keinginan hawa nafsu dan cinta dunia akan terbakar dan tertolak. Menurut satu
pendapat, takut merupakan kekuatan ilmu sesuai dengan perjalanan hukum . Sedangkan
pendapat lain mengatakan, takut merupakan gerak hati karena keagungan Tuhan.

Abu Sulaiman Ad-Darani berkata,Hati jangan sampai terkalahkan kecuali dengan takut.
Apabila harapan dapat mengalahkan hati, maka ia akan rusak. Selanjutnya ia berkata,
Apabila sikap takut telah ditanamkan, maka (derajat) mereka akan terangkat, dan apabila
rasa takut di sia-siakan, maka (derajat) mereka akan jatuh. Al Wasithi mengatakan, bahwa
takut dan harapan adalah dua pengikat diri (jiwa) sehingga tidak terjebak dalam
kebodohan. Ia juga mengatakan, apabila kebenaran telah tertanam di dalam hati, maka
sikah berharap dan takut tidak akan muncul kembali. Sedangkan menurut Ustadz AsySyaikh Abu Ali Ad-Daqaq ..hal itu nampak terjadi kemusykilan. Apabila demensi kebenaran
telah berpengaruh, maka ia akan memperoleh ketinggian rahasia hati. Kebahagiaan tidak
aakn diperoleh hanya dengan mengikat dua peristiwa. Sikap takut dan harap merupakan
bagian dari ilmu pengetahuan yang berpengaruh melalui hukum kemanusiaan.

Husain bin Manshur mengatakan bahwa barang siapa yang tekut dan berharap kepada
selain Allah SWT, maka segala pintu akan ditutup. Allah SWT menguasai dan memberikan
rintangan dengan tuju puluh penghalang, minimal ia bersikap skeptis. Hal yang
menyebabkan takut adalah karena mereka berpikir tentang siksaan Allah SWTdan
keadaan dirinya khawatir berubah. Allah SWT berfirman, Wabadaa lahum minaLlaahi
maa lam yakuunuu yahtasibuun QS. An Nuur 47.yanh artinya, Dan jelaslah bagi mereka
azab dari Allah SWT yang belum pernah mereka pikirkan.

Allah SWT juga berfirman, Qul hal nunabbiukum bil akhsariina amaalaa.
Alladziina dhalla sayuhum fil hayaatiddunyaa. Wahum yahsabuuna annahum
yuhshinuuna suna yang artinya, Katakanlah, maukah Kami beritahukan kepadamu
tentang orang-orang yang perbuatannya merugi, yaitu orang-orang yang tersesat
perjalanannya di dunia sedangkan mereka menduga bahwa mereka mengerjakan
perbuatan yang baik.

Banyak sekali orang yang diberikan kenikmatan, keadaannya menjadi berbalik dan
perbuatan jahatnya menjadi ketetapan. Oleh karena itu sikap senang hati dan takut perlu
ditanamkan.

Syair dari Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq :

Engkau telah berperasangka baik terhadap hari-hari,


Jika keadaannya membeik

Dan engkau tidak takut


Terhadap apa yang ditakdirkannya

Waktu-waktu malam telah menyelamatkanmu


Tetapi engkau telah menipunya
Dan ketika keheningan malam tiba
Kekeruhan mulai terjadi

Saya / Imam Al Qusyairi mendengar Manshur bin Khalf Al-Maghribi berkata, Dua
orang laki-laki saling berteman dalam suatu kajian tentang masalah iradahdalam jangka
waktu yang relatif pendek (dua tahun). Salah satu dari mereka pergi dan meningalkan
temannya. Setrlah itu tak pernah terdengar kabarnya. Suatu saat teman yang lain
bertempur di medan perang dan membunuh tentara Rum (roma). Ketika seorang-laki-laki
keluar dengan kepala tertutup adn senjata di tangan menuntut agar semua keluar ke
medan perang, maka keluarlah salah seorang dari para pahlawansehingga dia terbunuh,
kemudian yang ke tiga keluar juga dan kemudian terbunuh. Dalam kondisi seperti itu,
seorang sufi keluar dan agak berjauhan. Orang Rum itu memandang wajahnya dan
ternyata orang yang dipandang adalah adalah temannya di waktu belajar tentang
masalah iradah danibadah selama dua tahun. Orang sufi itiu bertanya, Apa engkau sering
membaca Al-Quran ? Tentara Romawi itu menjawab, Saya tidak ingat satu hurufpun dari
Al-Quran. Orang sufi berkata, Hal itu jangan kau kerjakan dan kembalilah. Tentara
Romawi menjawab, hal itu tidak akan saya lakukan. Sekarang saya mempunyai
kedudukan dan kekayaan. Oleh karena itu hendaklah engkau pergi. Jika tidak engkau
akan saya bunuh seperti mereka. Orang sufi berkata, Ketahuilah engkau telah
membunuh tiga orang Islam. Engkau tidak akan menjadin hina karena pulang, oleh akrena
itu pulanglah engkau dan saya akan menangguhkan. Orang laki-laki itu kemudian pulang
di ikuti orang sufi tersebut. Dalam kondisi demikian orang sufi tersebut dapat menikam dan
membunuhnya. Setelah pertempuran, orang sufi tersebut terbunuh di hadapan orangorang nasrani.

Menurut satu pendapat, apabila terjadin sesuatu yang nampak di hadapan iblis, maka
malaikat Jibril dan Mikail akan menangis dalam jangka waktu yang lebih lama. Allah SWT
menegur mmereka, Mengapa kalian berdua menangis ? Mereka menjawab, Yaa Tuhan
kami tidak mampu menjaga tipu daya Mu. Allah SWT memberikan perintah, Jadilah
kalian seperti ini, jangan kalian berusaha menjaga (mengamankan) tipu dayaKu.

Diriwayatkan dari Sariy As-Saqathi yang berkaata, Suatu saat pasti saya melihat
hidungku yang berada di dalam mulutku. Saya takut hidungku akan menjadi hitam ketika
saya melihat siksaan. Abu Hafs berkata, Selama empat puluh tahun aku berkeyakinan,
Allah SWT akan melihatku dengan penuh kebencian, sedangkan perbuatanku akan
menunjukkan hal itu.

Hatim Al-Asham berkata, Janganlah bersikap sombong karena memperoleh tempat


yang baik. Tidak ada tempat yang lebih baik melebihi surga. Oleh karena itu wajar bagi
Nabi Adam AS berjumpa dengan sesuatu yang pernah ia jumpai. Jangan sombong karena
banyaknya ibadah, sebab iblis setelah lama beribadah ternyata mendapati sesuatu yang ia
dapati. Jangan sombong karena banyaknya ilmu, sebab Balam yang selalu
mengagungkan nama Allah Yang Maha Agung ternyata ia mati kafir. Jangan sombong
akrena dapat melihat orang-orang yang baik, karena tak seorangpun lebih hebat dari Nabi
Muhammad SAW. Beliau tidak pernah mengambi keuntungan jika berjumpa dengan sanak
famili musuh-musuhnya.

Suatu hari Ibnu Mubarrak berjumpa dengan teman-temannya, ia berkata, Di tengah


malam saya memberanikan diri menghadap Allah SWT dengan memohon agar
dimasukkan ke dalam surga. Ada yang berpendapat, Nabi Isa AS keluar bersama
seorang Bani Israil yang saleh. Dalam perjalaan mereka diikuti oleh seorang yang selalu
berbuat dosa dan terkenal fasik. Dia duduk bersandar dengan posisi yang berjauhan dari
mereka dengan berdoa kepada Allah SWT, Yaa Allah ampunilah saya. Disamping itu
orang saleh tersebut juga berdoa, Yaa Allah kelak di hari kiyamat janganlah engkau
kumpulkan aku dengan orang yang fasik tersebut. Setelah itu Allah SWT mewahyukan
kepada Nabi Isa AS, Aku telah mendengarkan doa keduanya.

Dzun Nun AL Mishri berkata, telah aku tanyakan kepada Ulaim, Kenapa engkau
disebut orang gila ?Dia menjawab, apabila saya dipenjara begitu lama, maka saya
menjadi gila karena takut berpisah.
Dalam engertian yang seperti ini, ahli syair berkata

Seandainya di depanku ada batu besar


Pasti akan saya buka
Namun bagaimana orang lain
Akan mampu memikul tanah liat

Sebagian ulama berkata, Saya tidak pernah melihat seorang laki-laki yang sangat
mengharapkan umat dan takut terhadap dirinya sendiri kecuali Ibnu Sirrin. Menurut suatu
ungkapan, Sufyan Ats-Tsauri dalam keadaan sakit menyindir seorang dokter yang sedang
memeriksanya dengan ungkapan, Inilah seorang laki-laki yang tidak takut penyakit limpa
hatinya. Dokter itu mendekat dan meraba lehernya seraya berkata, Saya tidak tahu
bahwa diri Abu Hanifah sama dengan diri Sufyan Ats-Tsauri .

Imam Syibli pernah ditanya, Kenapa matahari menjadi kuning ketika terbenam?. Maka
dijawab , Karena ia meninggalkan tempatnya yang sempurna, sehingga ia menjadi kuning
karena takut pada tempatnya. Demikian pula orang mukmin apabila akan meninggal dunia,
warnya menjadi kuning karena takut pada tempatnya. Oleh akrena itu apabila matahari
akan terbit ia akan terbit dengar sinar terang benderang. Demikian pula orang mukmin
apabila dibangkitkan dari kubur, ia akan bangkit dengan wajah yang bersinar. Jawabnya.

Diriwayatkan dari Ahmad bin Hanbal, beliau berkata, Saya memohon kepada Tuhan
agar dibukakan pintu dengan siakp takut sehingga ia dapat terbuka. Demikian pula aku
takut dengan kekuatan akalku. Oleh karena itu saya juga memohon, Yaa Tuhan berilah
saya kemampuan berdasarkan apa yang telah saya kuasai sehingga diriku menjadi
tenang.
Juni 25, 2007 Posted by Ashari | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Diam

Diam
Dari Abu Hurairah RA diceritakan bahwa RasuluLlah SAW bersabda, Man kaana
yuminu biLlaahi wal yaumil aakhir falaa yudzii jaarahu, waman kaana yuminu
biLlaahi wal yaumil aakhir falyukrim dhaifahu, waman kaana yuminu biLlaahi wal
yaumi aakhir fal yaqul khairan au liyashmuht. HR. Abu Hurairah
Yang artinya, Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah
menyakiti tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir,
hendaknya ia memuliakan tamunya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan
hari akhir hendaknyan ia berkata baik atau diam.

Uqbah bin Amir menceritakan, saya bertanya kepada RasuluLlah SAW Apakah
keselamatan itu?, Beliau menjawab, Ikhfadh alaika lisaanaka, wal yasaka baitaka,
wabki alaa khathii-atika, yang artinya, Jagalah lisan engkau, perluaslah rumahmu , dan
menangislah akan dosa-dosamu.

Diam adalah pondasi keselamatan dan merupakan sikap penyesalan terhadap


berbagai celaan. Oleh karena itu kewajiban diam ditetapkan oleh syara, perintah dan

larangan. Sedangkan diam pada saat-saat tertentu adalah sifat pemimpin, sebagaimana
ungkapan bahwa berbicara pada tempatnya termasuk perilaku yang baik.
Saya (Imam Al-Qusyairi) telah mendengar ustadz Abu Ali Ad-Daqaaq berkata, Barang
siapa yang mendiamkan kebenaran, maka ia ibarat setan yang bisu. Sikap diam sambil
memperhatikan, merupakan bagian dari perilaku orang-orang yang baik. Allah SWT
berfirman, Wa idzaa qurial Quraanu fastamiuu lahuu wa anshituu laallakum
turhamuun QS.

Al-Araaf 204.

Yang artinya apabila dibacakan Al-Quran maka maka

hendaklah didengarkan dan diperhatikan agar kamu sekalian mendapat rahmat.

Allah SWT dalam ayat yang lain berfirman, yang mengabarkan kepada jin atas
kehadian RasuluLlah SAW, Falamma chadharuuhu fa anshituu QS.
artinya,

Tatkala

mereka

hadir,

mereka

berkata

kepada

Al Achqaaf 29.

sesamanya,

yang

diamlah

(perhatikanlah).

Dalam ayat lain, Allah SWT juga berfirman, Wakhasyaatil aswaathu liRrahmaani
walaa tasmau illa hamsaa

QS. Thaha 108 yang

artinya, Sunyi senyaplah suara karena

takut kepada Yang Maha Pengasih sehingga tiada engkau dengar kecuali suara halus.

Menyimpan mulut di depan orang yang diam merupakan sikap yang baik untuk
menghindari kebohongan, umpatan dan kekejaman raja. Dalam pengertian ini seorang
penyair menggambarkan,

Saya berpikir apa yang saya ucapkan


Jika telah berpisah
Saya tetapkan ungkapan sanggahan
Dengan sungguh-sungguh
Saya melupakan
Jika kita bertemu

Dan saya akan berkata


ketika mengadakan diplomasi

Dalam syair yang lain juga diungkapkan

Bagimu hendaknya menahan ucapan


Sehingga ketika engkau mampu menguatkan orang yang bertemu denganmu
Sehingga engkau dapat melupakannya

Demikian juga dalam syair yang lain

Saya telah mendengar ungkapan


Yang dapat menghiasi pemuda
Diam lebih baik
Bagi orang yang memperhatikan
Menyimpan ucapan
membawa implikasi kematian
dianggap melaksanakan cinta kasih
jika bersikap diam

diam terbagi menjadi dua, yaitu diam secara lahir dan diam secara bathin. Orang yang
bertawakal hatinya selalu diam dengan meninggalkan bernagai tuntutan ekonomi.
Sedangkan orang yang bermarifat hatinya akan selalu diam (tenang) dengan
mempertemukan ketetapan hukum melaui sikap yang baik. Oleh karena itu perbuatan

yang baik adalah yang dapat dipercaya, sedangkan ketetapan yang baik adalah hal yang
dapat diterima.

Terkadang yang menyebabkan diam adalah heran. Apabila pengetahuan tentang sifat
yang mengejutkan telah muncul, maka ungkapan yang mengandung pelajaran akan
menjadi tumpul, tak ada keterangan dan pemikiran. Oleh karena itu tempat-tempat
pertemuan

akan

menjadi

sirna

tidak

ada

ilmu

dan

perasaan.

Allah

SWT

berfirman, Yauma yajmauLlaahurrusula fayaquulu maadzaa ujibtum, qaaluu laa


ilma lanaaQS.

Al Maaidah 109

yang artinya, (Ingtalah) di hari waktu Allah mengumpulkan

para Rasul, kemudian Allah bertanya, Apa jawaban kaummu terhadap seruanmu? Para
Rasul menjawab, Tidak ada pengetahuan bagi maki tentang itu.

Jika mereka mengetahui apa yang terkandung di dalam pembicaraan merupakan halhal yang negative, dan merupakan bagian dari hawa nafsu, memperlihatkan sifat-sifat
terpuji, suka membedakan berbagai kesulitan dengan sikap yang baik, dan mengetahui
berbagai hal negative lainnya, maka mereka mempunyai sifat yang sama dengan orangorang yang terlatih. Sifat ini merupakan bagian dari kekuatan pondasi mereka untuk
menghindarkan diri dan menyantuni orang lain.

Dalam suatu cerita, Dawud At-ThaaI ketika hendak memasuki rumahnya, dia berbalik
(bermaksud) mengadiri tempat pengajian yang disampaikan oleh Abu Hanifah karena dia
seorang muridnya. Ketika dirinya telah kuat dan mampu melaksanakan perilaku tersebut
selama satu tahun, dia lebih senang duduk di rumahnya dan mengutamakan uzlah.

Saya (Syaikh Abul Qasim Al Qusyairy RA) mendengar Bisyir bin Harits menatakan,
Jika bicaramu membuatmu kagum maka diamlah. Jika diammu membuatmu kagum maka
bicaralah. Menurut Sahal bin Abdullah, tidak dibenarkan seseorang diam sehingga dia
berkhalwat. Dan tidak dibenarkan seseorang bertobat sehingga dia diam. Abu Bakar AlFarisi berkata, Barang siapa yang tidak membiasakan diri diam, maka segalaurusannya
akan sia-sia meskipun dia adalah orang yang diam. Diam tidak hanya terbatas pada mulut

tetapi juga pada hati dan seluruh anggota tubuh. Sebagian ulama berkata, Barang siapa
yang tidak mampu menahan diam maka bicaranya akan sia-sia.

Saya (Syaikh Abul Qasim Al Qusyairy RA) mendengar Mimsyad Ad-Dinawari berkata,
Ahli hikmah akan mewariskan ilmu hikmahnya dengan diam dan akal pikiran. Abu Bakar
AL-Farisi pernah ditanya tentang diamnya hati, dia menjawab, Meninggalkan kesibukan
masa yang telah lampau dan masa yang akan datang. Menurutnya, jika seseorang yang
pembicaraannya ditentukan dan dia harus berbicara, maka hendaknya dia membatasi
diam.

Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal RA dia berkata, Berbicaralah denga orang lain
seminimal mungkin dan berbicaralah dengan Tuhanmu sebanyak mungkin, agar hatimu
dapat melihat Tuhan.

Dzunun pernah ditanya oleh seseorang, Siapa orang yang paling mampu menjaga diri
?
Orang yang betul-betul menjaga mulutnya. Jawabnya

Menurut Ali bin Bakar, Allah SWT menjadikan segala sesuatu dua pintu dan
menjadikan mulut empat pintu. Dua bibir mempunyai dua daun pintu, dan beberapa gigi
juga mempunya dua daun pintu

Menurut suatu riwayat, Abu Bakar As-Shiddiq meletakkkan batu kecil di dalam mulut
beliau agar bicaranya dapat diminimalkan. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abu
Hamzah Al-Baghdadi adalah orang yang bicaranya baik. Suatu saathatif berkata
kepadanya, Engkau telah berbicara dengan baik tetapi diam tentu lebih baik. Setelah itu
dia tidak pernah berbicara sampai dia meninggal dunia.

Imam Asy-Syibli apabila menyampaikan materi kajiannya, tak seorangpun yang hadir
akan bertanya. Beliau berkata dengan mengutip firman Allah SWTWawaqaal qaulu
alaihim bimaa dhalamuu, fahum laa yanthiquun

QS. An-Naml 85

yang artinya Perkataan

(janji Allah) kepada mereka telah tiba karena mereka aniaya. Sedangkan mereka tidak
dapat bercakap-cakap.

Diam terkadang juga terjadi bagi orang yang berbicara karena diantara kaum ada
orang yang lebih baik bicaranya.

Saya (Syaikh Abul Qasim Al Qusyairy RA) mendengar Ibnu Samak berkata, Antara
Syah AL-Karmani dan Yahya bin Muadz terdapat ikatan persahabatan. Syah tiadak pernah
menghadiri suatu majlis pengajian. Suatu saat ketika Syah ditanya tentang itu, Syah
menjawab, Yang benar seperti ini. Mereka kemudian selalu mendeakti Syah hingga suatu
saat dia mau menghadiri pengajian dan duduk di sebelah pinggir (tepi) yang tidak diketahui
oleh Yahya bin Muadz. Ketika Yahya hendak berbicara (menyampaikan materi pengajian),
dia diam sejenak, setalah itu Yahya bertanya, Siapa diantara kamu sekalian yang
bicaranya lebih baik dan lebih menggetarkan dari pada aku?. Syah menjawab, Saya
tegaskan kepada kamu sekalian yang benar adalah ketidak hadiranku di temapt pengajian
ini,

Daim kadang terjadi pada orang yang sedang berpidato karena terkandung suatu
pengertian bagi orang-orang yang hadir, yakni orang yang tidak suka mendengarkannya.
Oleh karena itu Allah SWT akan melindungi materi pidatonya sehingga akan memberikan
gairah dan kesenangan bagi orang yang tidak menyukai.

Saya (Syaikh Abul Qasim Al Qusyairy RA) telah mendengar Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq
berkata, Suatu saat saya tidak bisa menghadiri pengajian di Murwa karena ada halangan.
Untuk pulang ke Nisabur, saya merasa berat karena sudah menempuh separuh
perjalanan. Ketika tidur saya bermimpi bertemu dengan seseorang. Dia berkata kepadaku,
jangan bersikeras keluar dari kota ini karena sekelompok jin sangat ingin mendengarkan

pidatomu dan mereka telah hadir di temapt pengajianmu. Oleh karena itu alangkah
baiknya jika engkau menyampaikan materi pengajian.

Sebagian ahli hikmah telah berkata, Manusia diciptakan Allah SWT dengan
mempunyai satu mulut, dau mata dan dua telinga agar dia dapat mendengar dan melihat
lebih banyak dari apa yang dia katakana.

Ibrahim bin Adham pernah diundang. Ketika dia sedang duduk, orang-orang yang hadir
mengumpat. Dia berkata dengan bahasa ironi, Disamping kita terdapat orang yang
memakan daging sesudah makan roti. Sedangkan kamu sekalian memulai dengan makan
daging. Dia mengutip firman Allah Ayuhibbu ahadukum ayyakula lahma akhiihi
maitan fakarihtumuuhu QS.

Al-Hujarat 12yang

artinya, Apakah diantara kamu sekalian

suka makan daging saudaranya yang sudah mati ? maka tentu kamu akan benci
memakannya..

Menurut ahli hikmah, diam adalah mulut orang yang bijaksana. Menurut sebagian yang
lain, belajar diam sama halnya dengan belajar bicara. Belajar bicara akan memberikan
petunjuk, dan belajar diam akan menjaganya. Menurut suatu pendapat, keselamatan mulut
adalah diam. Sebagian lain juga berpendapat, perumpamaan mulut adalah seperti hewan
buas, apabila tidak diikat, ia akan menganiaya.

Abu Hafs pernah ditanya, Bagi seorang wali, keadaan apa yang lebih utama? Dia
menjawab, Seandainya orang yang berbicara mengetahui resiko pembicaraan, dia pasti
akan diam. Dan seandainya dia mengetahui resiko diam, dia pasti akan terus menerus
memohon kepada Allah SWT agar dipanjankan umurnya seperti Nabi Nuh AS sehingga dia
dapat berkata, agar dia mendapat petunjuk menuju kebaikan.

Menurut satu pendapat, puasa orang awam dengan mulut, puasa orang marifat
dengan hati. Dan puasa orang yang cinta kepada Allah dengan ketinggian rahasia akal
pikiran.

Sebagian ulama berkata, Saya mengekang mulutku selama 30 tahun sehingga tak
pernah mendengar sesuatu kecuali yang keluar dari hatiku. Setelah itu saya mengekang
hatiku selama 30 tahun sehingga aku tidak pernah mendengar sesuatu selain yang keluar
dari mulutku. Menurut ungkapan sebagian ulama yang lain, seandaninya mulutmu tidak
dapat berbicara, engkau tak akan lepas dari ucapan hati. Seandainya engkau menjadi
orang yang buruk, engkau tidak akan lepas dari ucapan diri sendiri. Dan seandainya
engkau berusaha secara optimal, jiwamu (ruh) mu tidak akan berbicara denganmu karena
ia menyimpan rahasia yang tersembunyi.

Menurut suatu pendapat, orang yang bodoh adalah kunci kematian. Menurut yang lain,
orang yang cinta kepada Allah SWT, jika tidak berbicara dia akan kuat. Fudhail bin Iyadh
berkata, Barang siapa yang bicaranya lebih banyak dari pada perbuatannya, maka inti
bicaranya adalah sedikit kecuali ucapan yang dibutuhkan.
Mei 19, 2007 Posted by Ashari | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Zuhud

Zuhud
Nabi Muhammad SAW bersabda, Idzaa ra-aitumurrajula qad uutiya zuhdan fiddunya
wamunthiqan faqtaribuu minhu fa-innahuu yulaqqanul hikmahang artinta, Jikamu
kamu sekalian melihat seseorang yang dianugerahi zuhud terhadap dunia, dan berbicara
benar, maka dekatilah dia, sesungguhnya dia adalah orang yang mengajarkan
kebijaksanaan.

Seorang Maha guru berkata, Ulama berbeda pendapat tentang zuhud, diantara
mereka ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud zuhud adalah meninggalkan (hal,
perbuatan, barang) yang haram karena yang halal diperbolehkan Allah SWT . apabila Allah

Taala memberikan suatu kenikatan kepada seorang hamba lantas ia bersyukur


kepadaNya maka Allah akan membalasnya dengan setimpal.

Diantara mereka ada juga yang berpendapat, meninggalkan yang haram adalah wajib
dan meninggalkann yang halal adalah keutamaan. Orang yang meminimalkan harta dan
selalu beribadah disebut orang yang sabar terhadap dirinya sendiri., rela terhadapn apa
yang ditetapkan Allah SWT, menerima apa yang diberikan Allah, dan lapang dada terhadap
apa yang telah ditentukan Allah SWT. Allah telah memberikan gambaran tentang zuhud
kepada manusia dengan firmanNya ,Qul mataauddunya qaliil wal aakhiratu
limanittaqaayang artinya, Katakan sesungguhnya kenikmatan dunia adalah sebentar,
dan akhirat lebih baik bagi orang ang bertaqwa.

Selain itu terdapat beberapa ayat lain yang mencela kehidupan dunia dan
menganjurkan hidup zuhud.

Sebaggian yang lain berpendapat, Apabila seseorang menafkahkan hartanya, selaliu


sabar danmeninggalkan apaa yang dilarang oleh syarak, alangkah lebih sempurnanya jika
ia zuhud terhadap hal yang halal.

Menurut ulama yang lain, selayaknya bagi hamba jangan memilih meninggalkan hal
yang halal karena terpaksa, jangan mencari hal yang tidak ada faedahnya dari sesuatu
yang tidak dibutuhkan, dan hendaklah menerima pembagian rizki yang telah ada. Apabila
Allah SWT memberikan rizki yang halal maka hendaklah bersyukur. apabila Allah memberi
harta yang hanya sekedar cukup, maka hendaknya janygan memaksa diri mencari harta
yang tidak berfaedah. Oleh karena itu sabar lebih baik bagi orang yang fakir, sedangkan
syukur lebig tepat bagi orang yang memiliki harta yang halal.

Menurut Sufyan Ats-Tsauri, yang dimaksud zuhud adalah memperkecil cita-cita bukan
memakan sesuatu yang keras dan bukan pula memakai pakaian mantel yang kusut.
Menurut As-Sirri, Allah Taala menghilangkan kenikmatan dunia, melarangnya dan

mengeluarkannya dari para kekasihnya. Allah Taala tidak rela jika mereka menikmati
dunia.

Menurut yang lain, kata-kata zuhud dikutip adri firman Allah Taala yang berbunya,
liakilaa ta-suu alaa maa faataakum walaa tafrachuu bimaa aataakum yang artinya,
(kami jelaskann yang demikian itu agar mereka tidak berdukaa terhadap apa yang luput
dari kamu, dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu.

Orang yang zuhud tidak akan bangga dengan kenikmatan dunia, dan tidak akan
mengeluh dengan kehilangan dunia. Sedangkan menurut pendapat Abu Utsman, yang
dimaksud zuhud adalah meninggalkan kenikmatan dunia dan tidak mempedulikan orang
yang dapat menikmatinya.

Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, Zuhud merupakan sikap anti kemewahan dunia,
tidak berkeinginan membangun pondok / ribath, dan masjid. Menurut Yahya bin Muazd,
zuhud membawa implikasi mendermakan harta benda, sedangkan cinta membawa
implikasi mendermakan diri sendiri. Menurut Ibnu Jala, yang dimaksud zuhud adalah
memandang dunia hanya pergeseran bentuk yang tidak mempunyai arti dalam
pandangan. Oleh karenanya ia akan mudah sirna. Ibnu Khafif berpendapat, tanda-tanda
zuhud adalah merasa senang meninggalkan harta benda, sedangkan yang dimaksud
zuhud adalah hati merasa terhibur meninggalkan berbagai bentuk kehidupan dan
menghindarkan diri dari harta benda. Sedangkan menurut pendapat yang lain yang
dimaksud zuhud adalah jiwa merasa tenang meninggalkan kehidupan dunia tanpa
keterpaksaan.

Nashr Abadzi berkata, Yang dimaksudn orang zuhud adalah orang yang terisolir
dalam kehidupan dunia. Sedangkan yang dimaksud orang marifat adalah orang yang
terisolir dalam kehidupan akhirat. Menurut satu pendapat barang siapa yang zuhudnya
benar, maka dia akan menjadi orang yang rendah hati di dunia ini. Oleh karean itu dapat
dikatakan, seandainya songkok yang jatuh dari langit, maka ia tidak akan jatuh kecuali di

atas orang yang menginginkannya. Menurut Al-Junaid, zuhud adalah hati yang terhindar
dari hal-hal yang negative.

Ulama salaf berbeda pendapat tentang arti zuhud. Menurut Sufyan Ats-Tsauri, Ahmad
bin Hambal, Isa bin Yunus, dan ulama yang lain, arti zuhud adalah memperkecil cita-cita.
Dalam pengertian ini terkandung beberpa indikasi zuhud, beberapa sebab yang muncul ,
dan beberapaarti yang telah ditetapkan.menurut Abdullah ibn Mubarak, zuhud adalah
percaya kepada Allah SWT disertai sikap cinta terehadap kefakiran. Syaqiq Al-Balkhi dan
Yusuf bin Asbath sependapat dengan pandangan tersebut yang juga mengandung
beberapa indikasi zuhud. Oleh karena itu seorang hamba tidak mampu mengerjakan
zuhud kecuali ia percaya kepada Allah SWT.

Menurut Abdul Wahid bin Zaid arti zuhud adalah meninggalkan dinar dan dirham.
Sedangkan menurut Abu Sulaiman Ad-Darani, arti zuhud adalah meninggalkan aktifitas
yang mengakibatkan jauh dari Allah SWT.

Al-Junaid ditanya tentang zuhud oleh Riwaim, beliau menjawab, Memperkecil


kehidupan dunia dan menghilangkan berbagai pengaruh yang ada di dalam hati . Menurut
as-Sary, kehidupan yang zuhud tidak akan menjadi baik jika yang bersangkutan masih
menyibukkan diri. Demikian juga orang yang marifat. Al-Junaid juga pernah ditanya
tentang zuhud maka beliau menjawab, Melepaskan tangan dari harta benda dan
melepaskan hati dari kesenangan hawa nafsu. Asy-Syibli pernah ditanya tentang zuhud,
beliau menjawab, Meninggalkan segala bentuk kehidupan dunia untuk beribadah kepada
Allah.

Menurut Yahya bin Muadz, orang tidak akan sampai kepada hakikat auhud kecuali
dengan tiga hal. Pertama, perbuatan tanpa ketergantungan. Kedua ucapan tanpa
keinginan hawa nafsu. Ketiga, kemuliaan tanpa kekuasaan. Menurut Abu Hafs, zuhud tidak
akan terealisir kecuali dalam hal yang halal. Demikian juga haln yang halal tidak akan
terealisir kecuali dengan zuhud.

Abu Utsman berpendapat, Allah SWT akan memeberikan sesuatu kepada orang zuhud
melebihi apa yang dikehendaki, memberikan kepada orang yang cinta Allah SWT selain
apa yang ia kehendaki, dan memberikan kepada orang yang konsisten beribadah sesuai
dengan apa yang ia kehendaki.

Menurut Yayha bin Muadz, oranag yang zuhud akanmembuat cuka dan biji saei
sebagai obat, sedangkan orang yang marifat akan membuat minyak misik dan ambar
sebagai parfum. Sedangkan menurut Hasan AL-Bashri, arti zuhud adalah benci terhadap
orang yangmenyukai harta kekayaan dan apa-apa yang dimilikinya.
Sebagian ulama ditanya, apakah zuhud itu?.
Meninggalkan sesuatu yang dimiliki orang lain.
Seorang lai=ki-laki pernah bertanya kepada Dszunun Al-Mishri kapan saya harus
Zuhud ?
Ketika engkau sudah mampu mengasingkan dirimu.

Muhammad bin Fadhal berkata, Mengutamakan zuhud ketika dalam keadaan kaya
dan mengutamakan fitnah / cobaan ketika dalam keadaan fakir.

Allah SWT berfirman.Wayutsiruuna alaa anfusihim walau kaana bihim


khashaashah yang artinya, Mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri
mereka, meskipun mereka sangat butuh (apa yang mereka berikan).

Al-kattani berkata, Berbagai persoalan yang tidak pernah diperselisihkan oleh ulama
kufah, Madinah, Irak, dan Syam adalah zuhud, kemurahan jiwa / hati, dan memberikan
ansihat kepada orang lain, yakni tidak satupun dari ulama yang berpendapat bahwa
berbagai persoalan tersebut merupakan perilaku yang tidak terpuji.

Yahay bin Muadz ditanya oleh seseorang, Kapan saya dapat memasuki
pesanggrahan tawakal, memakai selendang zuhud, dan duduk bersama-sama orang yang
zuhud ?. Beliau enjawab, Apabila engkau telah mampu melatih jiwamu, secara samarasamar dalam batas-batas yang seandainya Allah SWT tidak memberikan rizki kepadamu
selama tiga hari jiwamu tidak akanmenjadi lemah. Apabila engkau tidak sampai pada
kedudukan ini, maka dudukmu di permadani orang-orang yang zuhud adalah sia-sia,
sehingga engkau mengalami kecacatan.

Bisyr Al-Hafi berpendapat, zuhud ibarat benda milik yang tidak memperoleh tempat
kecuali di hati yang suuci. Muhammad bin Asyats Al-Bikindi berkata, Barang siapa yang
membahas zuhud dan memberikan peringatan tetapi dia mencintai harta mereka, maka
cintanya terhadap akhirat akan dihilangkan oleh Allah SWT dari hatinya.

Menurut suatu pendapat, apabila seorang hamba Allah SWT meninggalkan kehidupan
duniawi, maka Allah SWT mengutus malaikat agar dia diberi hikmah di dalam hatinya.
Sebagian ulama pernah ditanya, untuk apa zuhud ?. Beliau emnjawab, untuk
kepentingan diriku.

Menurut Ahmad bin Hanbal, zuhud terbagi menjadi tiga, pertama meninggalkan hal
yang haram, ini zuhud orang yang awam. Kedua, meninggalkan hal yang halal, ini zuhud
orang yang istimewa. Ketiga, meninggalkan segala hal yang menyibukkan sehingga jauh
dari Allah SWT. Ini zuhud orang yang marifat.

Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, sebagaimana ulama pernah ditanya, kenapa
engkau zuhud ? Dia menjawab, kkarena apabila saya meninggalkan hal-hal yang
banyak , maka kecintaanku akan hal-hal yang sedikit akan menjadi hilang.
Yahya bin Muadz berkata, Dunia bagaikan pengantin perempuan. Barang siapa yang
menginginkannya, bersikap lemah lembutlah kepada tukang sisir rambutnya. Orang yang
zuhud akan menghitamkan muka pengantin, mencukur rambutnya, dan membakar
pakaiannya. Sedangkan orang yang marifat akan selalu sibuk mengingat Allah SWT tanpa
menoleh kepadanya.

As-Sariy berkata, Saya telah membiasakan diri terhadap-hal-hal yang berkaitan


dengan zuhud. Segala sesuatu yang kuinginkan telah ku peroleh kecuali emninggalkan
orang banyak. Oleh karena itu saya belum sampai dan belum memperolehnya.

Menurut satu pendapat, orang yang zuhud tidak akan keluar kecuali pada dirinya
sendiri, karena mereka tidak menginginkan kenikmatan yang fana, tetapi menginginkann
kenikmatan yang abadi / akhirat. Menurut Nashr Abadzi, yang dimaksud zuhud adalah
mempertahankan darah orang-orang yang zuhud dan menumpahkan darah 0rang-0rang
yang marifat.

sedAngkan menurut Hatim Al-Asham ayng dimaksud orang yang hendak zuhud adalah
orang yang mampu menyerbu / menyerang hawa nafsunya sendiri sebelum kecerdikan /
akal pikirannya timbul.

Fudhail bin Iyadh berkata, Allah SWT menjadikan segala kejelekan di dalam satu
rumah dan menjadikan cinta kepada kehidupan dunia sebagai kuncinya. Allah SWT
menjadikan segala kebaikan dalam satu rumah dan menjadikan zuhud sebagai kuncinya.

Mei 14, 2007 Posted by Ashari | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Wara

Wara

Abu Dzar Al-ghifari berkata, RasuluLlah SAW bersabda, Min husnil islaamil mari
tarkuhu maa laa yaniih yang artinya, Sebagian dari kesempurnaan iman seseorang
adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berarti.

Yang dimaksud wara adalah meninggalkan hal-hal yang subhat. menurut komentar
Ibrahim bin Adham yang dimaksud wara adalah meniggalkan hal-hal yang subhat
dan yang tidak pasti (tidak dikehendaki) yakni meniggalkan hal-hal yang tidak
berfaedah.

Abu Bakar Ash-Shidiq RA. berkata, Kita telah meninggalkan 70 persoalan yang
berkaitan dengan hal yang halal karena takut terkait dengan persoalan yang
haram. Nabi SAW pernah menasehati ABu Hurairah RA. Kun Waraam takun
abadanNaas yang artinya jadilah kamu orang yang waling wara niscaya kamu
menjadi orang yang paling ahli beribadah diantara manusia.

As-Sary berkata, ada empat ahli wara di masa mereka, yaitu Hudzaifah Al-Mashri,
Yusuf bin Asbath, Ibrahim bin Adham, dan Sulaiman Al-Khawwas. Mereka
mempunyai pandangan yang sama tentang wara . Ketika mereka mendapatkan
persoalan yang sulit, mereka mampu meminimalkan. Asy-Syibli berkata, wara
merupakan upaya untuk menghindarkan diri dari berbagai hal yang tidak berkaitan
dengan Allah SWT.

Diceritakan oleh Ishaq bin Khalaf, Perak dalam ilmu logika lebih hebat dari pada
emas dan perak, sedang zuhud dalam ilmu kepemimpinan lebih hebat daripada
keduanya. oleh karena itu en gkau dapat menhgalahkan keduanya dalam mencari
kepemimpinan.
Menurut Abu Sulaiman AD-Daarani, wara adalah permulaan dari zuhud,
sedangkan qanaah adalah akhir dari keridhaan. Sedangkan menurut Abu Utsman,
pahala wara adalah takut terhadap hisab. Menurut Yahya bin Muadz, wara akan
terhenti di atas ilmu tanpa ada perubahan.

Diriwayatkan pada suatu hari AbduLlah bin Marwa mengalami kebangkrutan. Dia
berada di dalam sumur yang sangat kotor. Setelah itu dia menyewanya sehingga
dia dapat keluar . AbduLlah bin Marwan ditanya tentang hal ini , maka dia
menjawab, Di atas sumur terdapat asma Allah Taala.

Yahya bin Muadz berkata, wara terbagi menjadi dua, pertama wara lahir. yaitu
semua gerak aktivitas yang hanya tertuju kepada Allah SWT. Kedua, warabathin,
yaitu hati yang tidak dimasuki sesuatu kecuali hanya mengingat Allah Taala.

Yahya bin Muadz berkata, barang siapa yang belum menikmati lezatnya wara ,
maka dia belum pernah menikmati pemberian Allah Taala. Ada suatu ungkapan,
Barang siapa yang pandangan keagamaannya baik dan bagus, maka derajadnya
akan ditinggikan oleh Allah Taala di ahri kiyamat. Yunus bin Ubaid berpendapat,
yang di maksud wara adalah menghindarkan diri dari segala bentuk syubhat dan
memelihara diri dari segala bentuk arah pandangan. Sufyan Ats-Tsauri berkata,
Saya tidak pernah melihat sesuatu yang lebih mudah daripada wara, kecuali
meninggalkan hal yang keruh di dalam hati. Syaikh Ma[ruf Al-Kharqi juga
berkomentar, jagalah mulutmu dari pujian sebagai mana engkau menjaga
mulutmu dari perilaku tercela. Bisyir bin Harits berkata, Perbuatan yang paling
utama ada tiga, Pertama dermawan dalam keadaan tidak mempunyai sesuatu
kecuali hanya sedikit. Kedua wara dalam keadaan khalwah, ke tiga berkata benar
di hadapan orang yang takut kepada Allah Taala dan meninggalkan harap
kerelaannya.

Dalam suatu cerita, saudara perempuan Bisyir Al Hafi datang kepada Ahmad bin
Hambal seraya bertanya, Suatu saat kami menarik tempat kami yang tinggi dan
datar, kemudian ada cahaya obor yang mengikuti kami dan cahaya itu jatuh di
hadapan kami, apakah boleh kami menarik cahaya obor itu ?.
Siapa engkau ?tanya Ahmad balik bertanya.
Saudara perempuan Bisyir Al-Hafi

Setelah itu ahmad bin Hambal menangis dan berkata barang siapa yang
memberikan perlindungan ( penginapan di waktu malam ) maka dia adalah orang
yang wara. Oleh karenanya, sinar obor itu jangan kau tarik.

Ali Al-Aththar menceritakan, Suatu hari saya melewati jalan kota bashrah. Tiba-tiba
di sana ada beberapa orang tua yang sedang duduk dan beberapa orang anak
yang sedang bermain. Saya bertanya, Apakah kamu semua tidak malu terhadap
beberapa orang tua itu ? Salah seorang dari mereka menjawab, Beberapa orang
tua itu tidak memiliki sifat wara . Setelah itu saya menceritakan kepada mereka,
tentang kehebatan anak-anak itu.

Ada satu ungkapan, Malik bin Dinar tinggal di Bashrah selama empat puluh tahun,
dia tidak pernah makan kurma, baik yang kering maupun yang basah sampai dia
wafat. Ketika musim panen telah selesai, dia berkata, Wahai penduduk Bashrah,
inilah perutku yang belum pernah merasakan kekurangan dan kelebihan.

Ibrahim bin Adham pernah ditanya, apakah engkau tidak pernah minum air zamzam ? Dia menjawab, Seandainya ada timba pastilah saya minum. Harits alMuhasibi pernah mengulurkan tangannya untuk mengambil sesuatu makanan yang
subat, tiba-tiba ujung jarinya berkeringat sehingga dia tahu bahwa makanan
tersebut tidak halal. Diceritakan bahwa Bisyir Al-Hafi pernah diundang dalam suatu
acara. Makanan telah diletakkan di hadapannya. Ketika dia mengulurkan
tangannya, ternyata tangan tersebut tidak mengulur. Sampai dia kerjakan tiga kali.
Peristiwa itu diketahui oleh seorang laki-laki . Sesungguhnya tangan Bisyir tidak
dapat diulurkan pada makanan yang syubhat. Oleh karenanya pengundang
tersebut tidak layak mengundang Syaikh ini, kata lelaki itu.

Sahal bin AbdulLah pernah ditanya tentang hal yang halal dan murni, beliau
menjawab, Barang yang dipergunakan bukan untuk bermaksiyat kepada Allah.
Beliau juga mengatakan, Yang dimaksud hal yang murni halal adalah barang yang
dipergunakan bukan untuk melupakan Allah Taala.

Hasan Al Bashri mengunjungi kota makkah beliau melihat salah seorang putera Ali
bin Abi Thalib RA menyandarkan punggungnya ke kabah sambil menganjurkan
kebaikan kepada orang banyak. Hasan Al Bashri berhenti dan bertanya,
Kebesaran agama itu apa ?.
wara'.
Penyakit agfama itu apa?
Tamak.
Hasan Al Bashri kagum kepadanya sampai dia berkata, Berat timbangan satu biji
wara yang murni lebih baik dari pada timbangan puasa seribu puasa dan shalat.

Abu Hurairah berkata, Orang-orang yang selalu beribadah kepadan Allah Taala
akan dikumpulkan dengan orang-orang yang wara dan zuhud kelak di hari
kiyamat. Sahal bin AbduLlah berkata, Orang yang tidak pernah bergaul dengan
orang yang wara ibarat orang yang makan kepala gajah, tetapi ia tidak pernah
kenyang.

Dalam suatu cerita, Umar bin Abdul Aziz menerima minyak misik dari rampasdan
perang, sementara beliau sedang memegang racun yang terkandung di dalamnya.
Setelah mengamati sejenak, beliau berujar, Dari minyak misik ini harumnya dapat
diambil manfaat. Tetapi saya tidak menyukai harumnya itu kecuali terhadap orang
islam.

Abu Utsman Al-Mariri pernah ditanya tentang wara, beliau bercerita, Abu Shahih
Hamdun, seorang penatu, berada di samping temannya yang sedang sekarat dan
akhirnya meninggal dunia. setelah itu Abu Shahih meniup lampu (mematikannya)
dan kemudian beliau ditanya tentang hal tersebut, maka beliau menjawab, Sampai
sekarang minyak yang dipergunakan untuk menyalakan lampu masih ada, dan
mulai sekarang minyak tersebut adalah milik ahli warisnya. Oleh karena itu carilah
minyak yang lain.

Seseorang berkata berkata dengan suara halus sambil menangis. Saya telah
berbuat dosa selama empat puluh tahun. Suatu hari saudaraku berkunjung
kepadaku, setelah itu aku membeli ikan panggang untuknya. Ketika dia selesai
makan, saya mengambilkan sedikit tanah liat dari dinding tetangga sehingga dia
dapat membersihkan tangannya, namun sdmpai saat ini saya belum meminta maaf
kapadanya.

Seorang laki-laki pernah menulis di papan rumah sewaan. Diah hendak


menghapus tulisan itu dengan debu dinding rumah. Di dalam hatinya terlintas
bahwa rumah itu adalah rumah sewaan yang sebelumnya tidak pernah terlintas
(terbayangkan untuk hal ini), sehingga pada akhirnya tulisan itu dihapusnya.
Setelah itu ia mendengar suara hati Orang yang menganggap remem apa yang
menimpanya sehingga ia menghapus tulisan itu. Dia akan di hisab lama kelak di
hari kiyamat.

Ahmad bin Hambal mengadaikan bejana terbuat dari tembaga kepada tukang
sayur di mekkah. ketika hendak menebusnya, penjual sayur itu mengeluarkan dua
buah bejana seraya berkata, Salah satunya dapat kau ambil.
Saya merasa sulit untuk memilih bejanaku, oleh karena itu bejana dan dirham
sekarang menjadi milikmu. Kata Imam Ahmad bin Hambal.

Ini adalah bejanamu, saya ingin memberikan upah / imbalan kepadamu. kata
penjual sayur.
Saya tidak mau mengambilnyaJawab beliau seraya meninggalkan bejana itu
karena takut dosa.

diriwayatkan bahwa Ibnu Mubarak meninggalkan hewan tunggangannya yang


haganya mahal dan mengerjakan shalat dhuhur. hewan tunggangan itu kemudian
berkeliaran di daerah pertanian kerajaan, setelah itu beliau meninggalkan hewan

tunggangan tersebut dan dibiarkan begitu saja. Ada yang berpendapat, Ibnu
Mubarak pulang dari marwa, menuju syam untuk mengembalikan pena yang
dipinjam, tetapi ia tidak mengembalikan kepada pemiliknya.

Nakhai pernah menyewa hewan tunggangan kemudian cambuknya terjatuh dari


aaapegangan tangan. Setelah itu ia turun untuk mengambil cambuk tersebut.
Seseorang berkata kepadanya Seandainya hewan tunggangan itu kembali ke
tempat terjatuhnya cambuk , pati akan saya ambil. Nakhai menjawab, hewan
yang saya sewa memang harus saya perlakukan seperti ini, bukan seperti itu .

Abu Bakar AD-Daqaq berkatas, Saya telah mengunjungi daerah padang pasir bani
Israel selama 15 hari. Ketika melawati sebuah jalan, saya dihadang oleh tentara
untuk diberi minum sehingga hatiku kuat kembali selama tiga puluh tahun. Dalam
cerita lain Rabiaah Adawiyah menjahit pakaiannya yang telah robrk di bawah
pantulan lampu milik raja. hatinya sesaat terperangkap sehingga teringat sesuatu.
Secara reflek beliau merobek bajunya sehingga dia mampu menemukan jati
dirinya.

Sufyan Ats-Tsauri pernah bermimpi terbang bersama malaikat di surga. Dia ditanya
oleh malaikat, dengan apa akmu memperoleh ini ?.
Dengan sifat wara'

Hasan bin Sinan berhenti di depan teman-temannya seraya bertanya, Apa yang
paling hebat menurut kamu sekalian ?.
Wara.
Tidak satupun yang lebih ringan daripada wara'
Bagaimana mungkin ? Mereka malah balik bertanya.
Saya belum pernah minum air sungai kamu seklian dengan puas selama 40 tahun
.

Hasan bin Abi Sinan memang belum pernah tidur terlentang, bwlum pernah makan
samin, dan belum pernah minum air dingin. SZuatu saat dia bermimpi meninggal
dunia. Dalam kondisi demikian dia ditanya oleh seseorang Apa yang telah Allah
berikan kepadamu ? Beliau menjawab, Kebaikan . Hanya saja saya terhalang
masuk surga karena sebatang jarum yang pernah saya pinjam tetapi belum saya
kembalikan.

Abdul Wahid bin Zaid mempunyai seorang pelayan yang melayani selama dua
tahun dan mengabdi (beribadah)selama 40 tahun . Pada awalnya ia diperintah
mengabdi sebagai tukang takar, ketika ia meninggal dunia ABdul Wahid bermimpi
bertemu dengannya.
Apa yang telah Allah berkkan kepadamu ? Tanya Abdul Wahid
Kebaikan. Hanya saja saya terhalang masuk surga dan saya telah dikeluarkan dari
perangkap 40 karung debu.

Nabi Isa pernah melewati kuburan. Salah satu dari orang yang telah meninggal
memanggilnya. Setelah itu Allah menghidupkan orang itu , Nabi Isa bertanya,
Siapa engkau ?.
Saya adalah tukang pikul kayu yang selalu memberikan kemudahan untuk
kepentingan orang lain . Suatu hari saya memindahkan kayu milik orang dan yang
rusak saya pecahkan.. Setelah saya meninggal dunia saya dituntut untuk
mengembalikan. Kata si mayat dengan nada sedih.

Abu Said Al-Kharras membahas tentang wara Suatu saat dia bertemu dengan
Abbas Al-Muhtadi dan bertanya, Apakah engnkau tidak merasa malu duduk di
bawah atap Abu Dawaniq, minum dari kolam anggur, dan berdagang dengan uang
palsu, sedangkan engkau membahas tentang wara'.
Mei 5, 2007 Posted by Ashari | Uncategorized | 2 Komentar

Taqwa

Allah Taala berfirman , sesungguhnya yang paling mulia dari kamu sekalian di sisi Allah adalah
orang yang paling bertaqwa. QS. Al-Hujarat 13
Abu Said al-Khudri berkata, Seorang laki-laki datang kepada RasuluLlah SAW seraya meminta
nasihat, Wahai Nabi Allah, wasuyatilah diriku . Beliau menjawab, Wajib atasmu bertaqwa
kepada Allah karena sesungguhnya taqwa merupakan kumpulan semua kebaikan. Wajib atasmu
untuk berjuang karena berjuang adalah ibadah/rahbaniyah orang islam. Dan wajib atasmu untuk
selalu ingt kepada Allah karena mengingat Dia adalah cahaya bagimu.
Seseorang telah bertanya kepada RasuluLlah SAW, Wahai Nabi Allah, siapa keluarga Muhammad
?. Beliau menjawab, Orang yang bertaqwa kepada Allah Taala, takwa merupakan kumpulan
perbuatan baik, sedangkan esensinya selalu taat kepada Allah agar terhindar dari siksaanNya.
Ada suatu ungkapan, Si fulan bertaqwa dengan perisainya. Oleh karena itu pondasi taqwa haris
menghindari perbuatan syirik, maksiyat, dan perbuatan tercela. Selain itu juga menghindarkan
diri dari perbuatan syubhat, perbuatan yang tidak berfaidah.
Al Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, setiap klasifikasi pembagian terdapat satu bab dalam
pembahasan. Untuk menafsirkan firman Allah Taala, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenarbenar taqwa.(QS. Ali Imran. 102) hal itu untuk ditaati bukan untuk di ingkari, supaya untuk di
ingat bukan untuk dilupakan, dan supayandisyukuri bukan untuk dikufuri.
Sahal bin Abdullah berpendapat, tak ada seseorangpun yang dapat menolong kecuali Alla, tak
ada argumrntasi yang benar kecuali RasuluLlah, tak satupun dari modal persiapan kecuali taqwa
dan tak satupun amal kebaikan kecuali sabar.
Menurut Al-Kattani, dunia diciptakan agar manusia menerima cobaan dan akhirat diciptakan agar
manusia bertaqwa. Al Jariri berkata, Barang siapa yang membrikan keputusan antara manusia
dan Allah Taala tanpa dasar taqwa dan pendekatan diri kepada Allah, maka dia tidak akan
sampai kepadaNya.
Menurut Nashr Abadzi, yang dimaksud dengan taqwa adalah seoang hamba yang tidak takut
kepada apapun kecuali hanya kepada Allah . sahal berkata, Barang siapa yang menginginkan

agar taqwanya benar, maka ia harus meninggalkan semua perbuatan dosa. Nashr Abadzi
berkata, Barang siapa yang selalu bertaqwa, maka dia tidak merasa keberatan meninggalkan
dunia sebagaimana firman Allah Taala, dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik
agi orang yang bertaqwa apakah mereka tidak memikirkannya.QS. Al-Anam 32
Sebagian ulama berkata, Barang siapa yang mampu mewujudkan taqwa, maka hatinya akan
dikmudahkan oleh Allah untuk berpaling dari kemewahan dunia. Menurut Abu Bakar Muhammad
Ar-Rudzabari yang dimaksud taqwa adalah meninggalkan sesuatu yang dapat menjauhkan diri
dari Allah Taala. Menurut Dzunun Al-Mishri yang dimaksud orang yang taqwa adalah orang ang
tidak mengotori jiwa bathin dengan interaksi sosial. Dalam kondisi yang demikian maka orang
tersebut akan mengadakan kontak dengan Allah dan dapat berkomunikasi denagnNya. Ibnu
Atha berkata, taqwa terbagi menjadi dua yaitu taqwa lahir dan taqwa bathin. Taqwa lahir
adalah menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang, sedangkan taqwa bathin adalah niat dan
ikhlash. Syair dari Dzunun Al-Mishri:
Tak ada kehidupan yang sejati
Kecuali dengan kekuatan hati mereka
Yang selalu merindukan taqwa dan menyukai dzikir
Ketenangan telah merasuk ke dalam bathin yang yakin
Dan yang baik
Sebagaimana bayi yang masih menetek
Telah masuk ke dalam pangkuan
Seorang laki-laki yang bertaqwa dapat dijadikan standar apabila memenuhi tiga hal. Pertama
tawakal yang baik dalam hal yang tidak mungkin diperoleh. Kedua, ridha yang baik dalam hal
yang telah diperoleh. Ketiga, sabar yang baik dalam hal yang telah lewat. Sedang menurut Thalq
bin Habib, yang dimaksud taqwa adalah perilaku ta;at kepada Allah di atas cahayanya.
Diriwayatkan dari Hafs, ia berkata,Taqwa harus ditanamkan dalam perbuatan yang halal lagi
murni, bukan pada yang lain. Abul Husain Al-Zunjani berkata, barang siapa yang memiliki modal
taqwa, maka berbagai ungkapan sifat jelek akan tertolak.
Al Washiti mengatakan, Yang diamksud taqwa adalah orang yang selalu memelihara
ketaqwaannya. Orang yang taqwa dapat diperumpamakan seperti Ibnu Sirin. Ketika ia membeli
40 takar minyak samin, seseorang mengeluarkan tikus dari timbangan tersebut. Inbu Sirin
bertanya, dari timbangan mana engkau keluarkan tikus tersebut ? pemuda itu menjawab
akutidak tahu. Setelah itu Ibnu Sirin menuangkan semua minyak ke tanah. Dalam cerita lain
Abu Yazid pernah membeli minyak parfum di kota Hamdzan dan mendapatkan kelabihan. Ketika

ia pulang ke kota Bustam, dia melihat dua semut di dalam parfum tersebut. Setelah itu ia kembali
ke kota Hamdzan dan meletakkan dua semut itu ke tempat penjual.
Diceritakan bahwa Abu Hanifah tidak pernah duduk di bawah bayangan pohon orang yang
mempunyai hutang kepadanya, berdasarkan hadits RasuluLlah SAW, Kullu Qardhin jirra nafan
fahuwa riba yang artinya tiap-tiap hutang yang mendapatkan keuntungan adalah riba.
Diceritakan Abu Yazid telah mencuci pakaiannya di tanah lapang. Dia bersama temannya seraya
berkata kepada Abu Yazid, Pakaian ini kita jemur di atas dinding pohon anggur . Abu Yazid
menjawab, janganlah engkau meletakkan pasak di atas dinding orang lain. Temannya bertanya,
apakah ahrus kita jemur di atas pohon rerumputan ?. Dia menjawab, Tidak karena rerumputan
itu adalah makanan hewan, maka kita tidak boleh menutupinya, Setelah itu Abu Yazid
menghadapkan punggungnya ke arah matahari, sedangkan paakian yang sebelah kanan sudah
kering, maka ia membalikkannya hingga pakaian sebelah kiri juga kering.
to be continued

April 21, 2007 Posted by Ashari | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Khalwat/Uzlah/Menyepi
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA. Bahwa RasuluLlah SAWW bersabda, sesungguhnya sebaikbaik penghidupan manusia adalah orang yang mampu memegang kerasnya (kendali kuda) di
jalan Allah. Jika mendengar hal yang mengejutkan dan menakutkan, ia tetap berada si atas
punggungnya dengan pilihan mati atau terbunuh, atau orang yang mendapatkan harta rampasan
perang yang bertempat tinggal di atas gunung atau di dasar jurang yang senantiasa menerjakan
salat, memberikan zakat, dan beribadah kepada Tuhan sampai kematian menjemputnya, yang
tidak dimiliki orang lain kecuali tetap dalam kebaikan.
Khalwat adalah merupakan sifat orang sufi. Sedangkan uzlah adalah merupakan bagian dari
tanda bahwa seseorang telah bersambung dengan Allah Taala. Seharusnya bagi murid pemula
(yaitu orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah) agar uzlah (mengasingkan diri dari
bentuk-bentuk eksistensial kemudian di akhir perjalanannya melakukan khalwah (mneyepi)
sehingga ifat lemah lembut akan dapat tercapai. Hakikat khalwah adalah pemutusan hubungan
dengan makhluk menuju penyambungan hubungan dengan Al-Haq yaitu Allah Subhanahu
Wataala. Ahl demikian dikarenakan khalwah merupakan perjalanan ruhani dari nafsu menuju
hati, dan hati menuju ruh dan daru ruh menuju alam rahasia /sirr dan dari alam rahasia menuju
Dzat Maha pemberi segalanya.

Hamba yang melakukan uzlah haruslah diniatkan karena Allah Taala dengan maksud dan niatan
menjaga keselamatan orang lain dari perangai buruknya. Dan janganlah bermaksud menjaga
keselamatan dirinya dari keburukan orang lain. Karena pernyataan yang pertama adalah wujud
dari sikap rendah ahti /tawadhu sedangkan pernyataan yang kedua adalah menunjukkan sifat
sombong yang ada pada dirinya.
Sebagian pendeta ditanya, Apakah engkau seorang pendeta ? maka dia menjawab, Tidak saya
hanyalah sebagai penjaga anjing. Jiwaku serupa dengan anjing yang dapat melukai orang lain,
karena itu saya harus keluar dari mereka supaya mereka selamat.
Pada suatu saat ada seorang bertemu dengan orang saleh yang sedang mengumpulkan
pakaiannya. Lelaki itu bertanya Mengapakah engkau kumpulkan pakaianmu. Apakah pakaianku
itu najis ? maka orang tua yang saleh etrsebut menjawab, tidak, tetapi pakaiankulah yang najis
dan aku kumpulkan agar tidak menajiskan pakaianmu.
Sebagian dari tatacara uzlah adalah untuk memperoleh ilmu yang dibenarkan oleh akidah tauhid.
Selain itu untuk memperoleh ilmu syariat atas dasar kewajiban sehingga bentuk perintahnya
menjadi pondasi yang kuat-untuk dilaksanakan. Esensi uzlah adalah menghindarkan diri ari
perbuatan tercela. Sedangkan hakikatnya adalah menggantikan sifat yang tercela untuk di isi
denagn sifat yang terpuji, bukan untuk menjauhkan diri dari tempat tinggalnya / tanah arinya.
Ditanyakan, Siapak orang yang marifat itu ? dijawab ,mereka adalah orang yang selalu
berada di tepi jauh, yakni dia selalu bersama orang lain sedangkan hatinya jauh dari mereka.
Asyaikh Al-Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, Berpakaianlah sebagaimana orang berpakaian,
makanlah sebagaimana orang makan, dan menyendirilah dengan bersembunyi. Beliau juga
mengatakan, Suatu hari seseorang datang kepadaku dan bertanya, Saya datang kepadamu dari
perjalanan yang sangat jauh ?. lalu aku jawab cerita ini dengan bukan dengan arti jaarak
perjalanan yang terputus dan perjalanan yang melelahkan. Renggagkan jiwamu dengan satu
langkah, maka tujuanmu akan tercapai.
Diriwayatkan dari Abu Yazid Al Busthami, RA, beliau berkata, Saya pernah bermimpi bertemu
Tuhan, kemudian saya bertanya, Bagaimana caranya agar aku isa bertemu denganNya ? Dan Ia
menjawab, Pisahkan jiwamu dan bersegeralah datang.
Abu Utsman Al-Maghribi mengatakan, Barang siapa ingin meninggalkan masyarakat, selayaknya
ia meninggalkan semua ingatan kecuali ingat kepada Tuhan, meninggalkan semua keinginan
kecuali mencari ridha Tuhan, dan meninggalkan semua tuntutan hawa nafsu. Jika tidak demikian

maka apa yang dikerjakan akan menimbulkan fitnah dan cobaan. Menurut suatu pendapat,
khalwat adalah pekerjaan yang paling dicintai untuk mendorong raa rindu.
Muhammad bin Hamid berkata, Seseorang bertamu kepada Abu Bakar Al;-Waraq, ketika akan
pulang ia meminta kepada Muhammad agar meberi wasiyat kepada dirinya. Abu Bakar Al-Waraq
menjawab, Engkau telah mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat karena engkau selalu
menyendiri dan meninggalkan pergaulan masyarakat. Kejelekan dari keduanya terletak pada
pencampur adukan dan pembauran.
Abu Muhammad Al-Jariri ditanya tentang uzlah, dia menjawab, Uslah adalah masuk ke tempat
yang sempit, menjaga rahasia agar tidak terjadi gesek menggesek dan meninggalan keinginan
hawa nafsu sehingga hatimu terkait dengan kebenaran. Ada yang berpendapat, urgensi uzlah
adalah menghasilkan kemuliaan.
Menurut Sahal, khalwat tidak dpat dibenarkan kecuali dengan meninggalkan yang haram. Dan
meninggalkan barang yang halal juga tidak dibenarkan kecuali dengan melaksanakan hak Allah
Taala. Dzunun AL-Mishri berkata, Saya tidak pernah melihat sesuatu yang dapat menimbulkan
sikap ikhlas kecuali kekasihmu adalah khalwat, makananmu adalah lapar, dan pembicaraanmu
adalah lapar. Apabila engkau meninggal dunia, engkau selalu bersambung kepada Allah. Dzunun
al-Mishri juga ppernah berkata,Orang tidak akan terhalang dari makhluk hanya karena khalwat
sebagaimana orang tidak orang tidak akan terhalang dari mereka karena mendekatkan diri
kepada mereka.
Menurut Al-Junaid, Susahnya uzlah lebih mudah dari pada siklus kehidupan bermasyarakat.
Menurut makhul As-Syami, Jika kehidupan bermasyarakat memperoleh kebaikan, maka uzlahpun
juga memberikan keselamatan. Sedangkan menurut Yahya bin Muadz, Menggabungkan
keduanya merupakan cara yang terbaik bagi orang yang mencari kebenaran.
Syaikh Abu Ali berkata dengan mengutip apa yang disampaikan Imam As-syibli, Manusia akan
bengkrut dan bangkrut . Seseorang bertanya kepadanya, Apa tanda-tanda orang yang bangkrut
wahai Abu Bakar ?. beliau menjawab, Tamda orang yang bangkrut adalah orang yang menyakiti
orang lain.
Yahya bin Abu Katsir berpendapat, Barang siapa yang bergaul dengan orang lain, maka ia akan
didekati. Barang siapa yang mendekati orang lain maka ia akan dilihat. Said bin Harits telah
berkata, Saya pernah mengunjungi Malik bin Masud di kufah. Dia menyendiri di rumahnya.
Setelah itu kutanyakan sesuatu kepadanya, Apakah engkau tidak kesepian menyendiri di temapt

ini ? Dia menjawab, Saya tidak pernah melihat seseorang kesepian jika dia bersama sama
Allah.
Al Junaid berkata, Barang siapa yang hendak menyerahkan agamanya dab menentramkan tubuh
dan hatinya, hendaknya ia menjauhkan diri dari orang lain. Masa sekarang adalah masa
kesepian. Oleh karena itu, orang yang memiliki akal sehat, tentu akan menyendiri. Al-Junaid
telah mendengar Abu Bakar Ar-Razi berkata, Abu Yaqub As-Susi berkata bahwa seseorang tidak
akan mampu menyendiri kecuali hanya orang-orang yang kuat. Oleh karena itu orang seperti kita
bermasyarakat tentu lebih baik dan lebiih bermanfaat. Abul Abbas Ad-Danaghani berkata,
Imam Syibli berwasiyat kepadaku, menyendirilah dan hapus namamu dan menghadaplah ke
dinding sampai engkau mati.
Ada seorang laki-laki datang kepada Syuaib bin Harb, beliau bertanya , Apa yang menyebabkan
engkau datang kepadaku ?. dia menjawab, Agar saya dapat selalu bersamamu. Kemudain
Syuaib berkata, Wahai saudara, ibadah tidak akan bermanfaat jika berbaur dengan syirik.
Barang siapa yang tidak mencintai Allah, maka ia tidak akan menjumpai sesuatu yang
dicintainya.
Sebagian ulama ditanya, Apakah yang membuatmu heran / ujub ?. Dia menjawab, Keindahan
yang dapat mendorong persahabatan. Oleh akrena itu aku selalu takut menyerahkan diriku
kepada Allah Taala akan menjadi rusak. Ulama yang lain juga pernah ditanya, Apakah di sana
ada orang yang mencintaimu ?. Dia menjawab, Ya, dia selalau merentangkan kekuasaannya di
dalam kiatbnya dan meletakkannya di atas batu. Dalam konteks seperti ini ada syair :
Kitab-kitabMu ada di sekelilingku
Oleh karena itu jangan kau pisahkan dari tempat tidurku
Di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan orang
Yang saya sendiri adalah yang menyembunyikannya
Seorang lelaki bertanya kepada Dzunun Al Mishri, Kapan saya boleh uzlah ?. Beliau menjawab,
Jka engkau telah mampu mengasingkan dirimu sendiri.
Ibnu Mubatrak telah ditanya, Apa obat hati ? Dia menjawab, Meminimalkan pergaulan dengan
masyarakat. Menurut suatu pendapat jika Allah hendak memindahkan seseorang dari
kemaksiyatan yang hina menuju kemuliaan taat, Allah Taala pasti mencintai dia dengan
menyendiri, mencukupi dia dengan menerima, dan memperlihatkan dia segala cacat yang
tertanam di dlm jiwanya. Apabila hal tersebut telah diberikan, maka kebaikan dunia danakhirat
pasti akan diberikan kepadanya.

April 21, 2007 Posted by Ashari | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Mujahadah.

Mujahadah.
Allah berfirman, Walladziina jaahaduu fiinaa lanahdiyannahum subulanaa wa
innaLlaaha lamaal Muhsiniin. Yang artinya, dan orang-orang yang berjuang di jalan
Kami niscaya akan Kami tunjukkan jalan Kami, dan sesungguhnya Allah beserta orangorang yang baik. (QS. Al-Ankabut 69)

Dari Abu Said Al-Khudri diceritakan bahwa ia berkata, RasuluLlah SAW pernah ditanya
tentang seutamanya jihad, maka dijawab, Kalimatu haqqin inda sulthaani jaair. Yang
artinya, kalimat yang adil yang disampaikan kepada penguasa yang lalim.
Tanpa terasa kedua mata Abu said mengeluarkan air mata.

Syaikh Abul Qasim Al-Qusyaairi berkata, Saya pernah e,mndengar UstadzAbu Ali
Addaqaaq berkata,Barang siapa menghiasi lahiriahnya dengan mujahadah, maka Allah
akan memperbaiki bathiniahnya dengan musyahadah. Ketahuilah bahwa seseoang yang
dalam awal perjalanannya tidak mengalami mujahadahmaka dia tiak akan mendapatkan
lilin yang meneangi jalannya.

Abu Utsman Al-Maghribi berkata, barang siapa mengira bahwa sesuatu hanya dapat
dibukakan atau disingkapkan untuknya hanya melalui jalan ini atau hanya dengan
keteguhan menjalani mujahadah, maka dia adalah orang yang salah.

Syaikh Abul Qasim Al-Qusyairi pernah mendengar Ustadz Abu Ali Addaqaaq semoga Allah
merahmatinya berkata,Barang siapa dalampermulaannya tidak pernah berdiri, maka pada

akhirnya dia tidak akan pernah duduk. Beliau juga pernah mengatakan bahwa gerak
membawa barokah atau gerak adalah barokah itu sendiri. Gerak lahir menurut beliau
mengharuskan timbulnya barokah rahasia.

Wahai para pemuda, pesan Assirri, bersungguh-sungguhlah kalian sebelum batas akhir
kemampuan yang membuat kalian lemah dan kurang sebagaimana kelemahan dan
kekurangan fisik kalian. Saat iti para pemuda tidak mampu mengawani Assirri dalam
menjalankan ibadah.

Menurut Hasan Al-Qazzaz menerangkan bahwa masalah ini mujahadah,,dibangaun atas


tiga hal, -hendaknya tidak makan kecuali benar-benar membutuhkan / lapar, -tidak tidur
kecuali bnar-benar mengantuk, -dan tidak berbicara kecuali benar-benar terdesak
(mengharuskan).

Syaikh Al-Qusyairi berkata, Saya pernah mendengar Ibrahim bin Adham berkata,
Seseorang idak akan mendapatkan derajat orang-orang salih hingga mampu mengatasi
enam rintangan, 1. menutup pintu nikmat dan membuka pintu kesulitan. 2. menutup pintu
kemuliaan dan membuka pintu kehinaan. 3. mentup pintu istirahat dan membuka pinti
perjuangan. 4. menutup pintu tidur dan membuka pintu terjaga. 5. mentup pintu kekayaan
dan membuka pintu kefakiran. 6. menutup pintu angan-angan dan membuka pintu
persiapan menjelang kematian.

Barang siapa yang nafsunya memuliakan dirinya, maka agama dan reputasinya akan
menghinakannya. Demikian kata Abu Amir bin Najid.

Syaikh Al-Qusyairi RA berkata, Sayapernah mendengar Abu Ali Ar-Rudzabaar


mengatakan,

Jika

seorang

sufi

setelah

lima

hari

tidak

mendapatkan

makanan berkata, saya lapar, maka giringlah dia ke pasar dan suruhlah ia
bekerja. Ketahuilah bahwa dasar daripada mujahadah adalah menyapih hawa nafsu dari
kebiasaannya, dan membawanya pada penentangan hawa nafsu di seluruh waktu.

Nafsu mempunyai dua sifat yang mampu mencegah kebenaran. 1. ketekunannya menuruti
syahwat. Danke 2. mencegah ketaatan. Jika nafsu ketika mengendarai keinginannya tidak
dapat dikendalikan, maka wajib dikekang dengan kekang taqwa. Jika ia dapat berhenti
dengan menepati perintah2 agama, maka dia wajib digiring pada penentangan hawa
nafsu. Ketika dalam kondisi marah dia berontak, maka wajib diteliti, dikendalikan,dan
diarahkan pada keadaannya yang tenang. Tak ada kondisi yang akibatnya lenih bagus
daripada kemaranhan, yang kekuasaannya dipecahkan dngan akhlak yang baik, dan
apinya dipadamkan dengan kelembutan perilaku. Jika nafsu menganggap halal suatu
ketololan sehingga segala sesuatu menjadi sempit kecuali dengan penampakan perangai

perangai

baik

dan

lebih

mempercantiknya

ketika

orang

lain

melihat

atau

menelitinya /riya maka keadaan yang demikian ini harus dipecahkan dan dilepaskan
dengan siksaan kehinaan. Yaitu dengan cara mengingatkan kerendahan derajad nafsu,
kehinaan aslinya dan kekotoran perbuatannya.Mujahadah orang awam terdapat pada
pemenuhan amalan wajib. Mujahadahorang khusus terdapat pada pembersihan ahwal /
keadaan . oleh karena itu menahan lapar dan terjaga adalah sesuatu yang mudah lagi
ringan. Sedangkan mengobati akhlak dan menjauhkannya dari kebusukannya adalah
sestau yang sangat sulit.

Diantara penutup penutup penyakit nafsu adalah kecondongannya pada kemampuan


meraakan manisnya pujian. Jika seseorang menghirup seteguk pujian maak dia akan
memikul penduduk langit dan bumi pada bulu matanya. Adapun tanda-tandanya apabila
ia terputus dari minuman/pujian tersebut maka keadaannya akan kembali kepada
kemalasan dan kelemahan.

Seorang wanita yang sudah ditanya tentang keadaannya lalu dijawab, Ketika saya masih
muda, kutemukan pada diriku keaktifan dan giat beribadah. Dan sekarang tidak aku
temukan lagi. Ketiak usia berubah, yang demikian itu hilang dariku.

Syaikh Al Qusyary berkata, saya pernah mendengar Dzunun Al-Mishri berkata, Allah tidak
akan memuliakan seseorang dengan suatu kemuliaan, yang lebih mulia daripada

menunjukkannya pada kehinaan nafsunya. Dan tidak menghinakan seseorang yang lebih
hina daripada Ia (SWT)menutupi kehinaan nafsunya dari pandangannya.

Ibrahim Al-Khawas menuturkan bahwa ia tidak takut akan sesuatu kecuali takut pada
sikap yang menuruti hawa nafsu. Akan tetapi Muhammad bin Fudhail berpendapat bahwa
kesenangan atau kesenggangan adalah merupakan pembebasan dari syahwat dan
kesenangan nafsu.

Syaikh Abul qasim Al-Qusyairi pernah mendengar Syaikh Abu Ali Ar-Rudzabari
mengatakan, penyakit hati menyusup ke dalam akhlak melalui tiga jalan, 1. penyakit
watak, 2. kebiiasaan yang dilaksanakan terus menerus, 3. kerusakan pergaulan.
-Adapun penyakit watak adalah memakan barang yang haram
-Sedang yang dimaksud melakukan kebiasaan adalah memandang dan merasakan
nikmat dengan barang haram.
-dan kerusakan pergaulan adalah ketiak syahwat dalam nafsu bangkit , maka nafsu pasti
mengikutinya.

An-Nashr Abadzi berkata, nafsumu adalah penjaramu. Maka apabila kamu dapat keluar
dari padanya, maka kamu pasti akan tinggal di tempat yang enak dan kekal.
Nafsu semuanya adalah gelap kaa Abu Jafar. dan lampunya adalah rahasia /sirr nya.
Cahaya nafsu adalah taufiq. Barang siapa dalam rahasianya tidak di dampingi dengan
taufiq Tuhannya maka dia dalam kegelapan di segala sisinya.
-Yang dimaksud rahasianya adalah rahasia antara dirinya dengan Allah SWT.
-Rahasia adalah tempat keikhlasan seorang hamba
-dengan keikhlasan hamba akan mengetahui bahwa segala yang terjadi bukan karena
kekuatan dirinya melainkan pertolongan Allah semata.
-kemudian dengan taufiqNya mampu menjaga diri dari keburukan nafsunya. Seseorang
yang tidak mendapat taufiq maka ilmunya tidak akan bermanfaat pada dirinya dengan

Tuhannya, karena ilmunya tidak akan menghindarkannya dari perbuatan yang buruk dan
tidak pula menyebabkan keridhaan Tuhannya.

Abu Utsman berkata, seseorang tidak akan tahu aibnya sendiri selama ia menganggap
baik diri sendiri.
Abu Hafs menyatakan ,Tidak ada kerusakan yang lebih cepat daripada kerusakan orang
yang tidak mengetahui aib dirinya, padahal maksiyat adalah kurir kekufuran.

Abu Sulaiman berkata, Saya tidak pernah menganggap baik ibadah saya, saya cukup
hanya berbuat saja.

Dzunun Al-Mishri, kerusakan pada makhluk melalui enam perkara :


1. lemahnya niat beramal untuk akhirat
2. badan yang dijadikan jaminan untuk nafsunya
3. panjang angan-angan yang menguasai dirinya padahal ajal sangatlah dekat
4. lebih mengutamakan keridhaan makhluk daripada keridhaan Allah.
5. mengikuti hawa nafsu dan meninggalkan sunah Nabi SAW
6. menjadikan tergelincirnya lidah digunakan sebagai argumen untuk membela diridi sisi
lain mengubur sebagian besar perilakunya yang tidak baik.

Silahkan mengutip dengan mencantumkan


http://www.Manakib.wordpress.com
Manakib Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani RA.

April 11, 2007 Posted by Ashari | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Taubat

1. Taubat.
Allah SWT berfirman, Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang
yang beriman supaya kamu beruntung. (QS An Nur 31).

Sahabat Anas bin Malik berkata, saya pernah mendengar RasuluLlah SAW bersabda,
seseorang yang bertaubat dari dosanya seperti orang yang tidak punya dosa, dan jika
Allah mencintai seorang hamba, pasti dosa tidak akan membahayakannya.

Kemudian

beliau

membaca

ayat: InnaLlaaha

yuhibbuttawwabiina

wayuhibbul

mutathohhiriin yang artinya, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat


dan orang-orang yang suci. (QS. Al Baqarah 222)

Tiba tiba seorang sahabat bertanya, Yaa RasuluLlah, apa tanda taubat ? Oleh beliau
SAW dijawab, Menyesal.

Anas bin Malik juga pernah meriwayatkan, bahwa RasuluLlah SAW bersabda, Tidak ada
sesuatu yang lebih dicintai Allah melebihi seorang pemuda yang bertaubat.

Taubat adalah awal tempat pendakian orang-orang yang mendaki dan maqampertama
bagi sufi pemula. Hakikat taubat menurut arti bahasa adalah kembali. Kata taba berarti
kembali, maka taubat maknanya juga kembali. Artinya kembali dari sesuatu yang dicela
dalam syariat menuju kepada yang dipuji dalam syariat. Dalam suatu kesempatan Nabi
SAW
taubat.

menjelaskan,

An-nadmu

Taubat

yang

artinya,

penyesalan

adalah

Orang-orang yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip ahli sunnah mengatakan, agar
taubat diterima diharuskan memenuhi tiga syarat utama yaitu menyesali atas pelanggaranpelanggaran yang pernah dijalaninya, meninggalkan jalan licin / kesesatan pada saat
melakukan

taubat,

dan

berketetapan

hati

untuk tidak

mengulangi

pelanggaran

pelanggaran serupa.

Hadust yang menyebutkan penyesalan adalah taubat, merupaakn konsep globalnya,


demikian menurut para sufi. Sebagaimana sabda Beliau SAW tentang haji, bahwa : AlHajju arafah Haji adalah Arafah.

Proses pertama yang mengawali taubat adalah keterjagaan hati dari keterlelapan lupa dan
kemampuan salik (orang yang berusaha menuju Hadirat Allah) melihat sesuatu pada
dirinya yang pada hakekatnya yang merupakan bagian dari keadaannya yang buruk.
Proses awal yang mengantarkan pada tahapan ini tidak lepas dari peran taufik.
Dengan taufik Allah, salik dapat mendengarkan suara hati nuraninya tentang laranganlarangan Al-Haqq yang dilanggarnya. Hal ini sesuai dengan apa yang telah dipesankan
Allah dalam hadist RasuluLlah SAW, Inna fil jasadi lamudhghotan idza sholuhat
sholuha jamiiul jasadi, faidzaa fasadad fasada jamiiul badani. Alaa wahiyal
qalbu yang artinya sesungguhnya di dalam tubu terdapat segumpal daging jika ia baik,
maka akan baiklah seluruh jasad, dan apabila ia rusak, maka akan rusaklah seluruh jasad.
Ingatlah

dia

adalah

hati.

Jika dengan hatinya, seseorang melihat keburukan-keburukan perilakunya dan melihat


kenyataan kenyataan negatif di dalamnya, maka dalam sanubarinya timbul kehendak
untuk taubat, tekad untuk melepaskan diri dari semua perilaku buruk, dan Al-Haq (Allah)
akan menyongsongnya dengan siraman cahaya keteguhan, tarikan dalam rengkuhan
pengembalian, dan penyiapan pada sebab-sebab yang mengantarkannya para merealisasi
taubat. Dalam realisasi ini, yang pertama-tama adalah hijrah atau meninggalkan kawankawan yang buruk. Karena kalau tidak, mereka akan membawanya pada penolakan tujuan
taubat serta mengacaukan konsentrasi dan tekadnya. Upaya demikian ini tidak akan

sempurna

kecuali

menatapi

secara

terus

menerus musyahadah (kesaksian

dan

pengakuan) atas dosa-dosanya yang membuat kecintaannya untuk bertaubat terus


bertambah dan motivasi motivasinya mampu mendesak untuk lebih menyempurnakan
tekad

taubatnya

dalam

bentuk

penguatan

rasa

takut

dan

harap.

Ketika hali ini terjadi, keruwetan-keruwetan keburukan perilaku yang telah menggumpal di
dinding-dinding sanubarinya mulai mencair dan memuai, sikapnya secara tegas
menunjukkan pengambilan jarak dari larangan-larangan agama, dan kecenderungan
mengikuti hawa nafsu dengan keras dikekangnya. Akhirnya, semua jalan yang
mengantarkannya pad kesesatan ditinggalkan, tekad untuk tidak kembali pada dosa-dosa
serupa di masa yang akan datang lebih diteguhkan, kemudian waktupun berjalan
mengikuti dorongan perwujudan taubat itu. Sesungguhnya realisasi taubat yang sesuai
dengan tekadnya adalah penetapan diri pada jalan yang tepat, dan jika upaya taubat
sesekali mengalami kemunduran maka hal seperti inipun jumlahnya banyak. Karena itu
tidak perlu berputus asa, dan justru peningkatan kualitas taubat harus diperkuat.
Allah Taala berfirman, Likulli ajalin kitaab (QS.
setiap

ajal

Ar-Rad 38).

yang artinyasesungguhnya
mempunyai

ketetapan.

Abu Sulaiman Ad-Darani memngisahkan pengalaman spiritualnya, Saya berkali-kali


datang ke majlis Qashi (seorang ulama sufi). Apda kali pertama nasihat-nasihatnya
membekas di hati saya. Namun ketika saya beranjak pulang, tidak satupun nasihatnya
yang masih membekas. Esoknya saya datang lagi dan mendengarkan ceramahceramahnya. Aku cukup terpengaruh dengan wejangan-wejangannya hingga bertahan
sampai di tengah perjalanan pulang, setelah itu hilang. Pada kali ke tiga , fatwanya sngat
berpengaruh dan sangat menawan hati saya hingga saya sampai di rumah. Sesampainya
di rumah saya langsung menghancurkan alat-alat yang menyebabkan penyimpanganpenyimpangan perilaku, kemudian saya bersiteguh menetapi jalan lurus. Kisah ini akhirnya
saya sampaikan kepada Yahya bin Muadz dan olehnya dikatakan, seekor biring kecil

telah menangkap segerombolan burung karaki (bangau). Beliau memaksudkan burung


kecil pada Qashi, dan burung karaki pada Abu Sulaiman Ad-Daaraani. Dlam tema yang
hampir serupa, Abu Hafs Al-Haddad berserita, Suatu kali saya berhasil meninggalkan
perbuatan demikian, lalu mengulanginya lagi, kemudian meninggalkannya lagi, dan setelah
itu saya tidak mengulanginya lagi.

Diceritakan bahwa Abu Amr bin Najid dalam permulaan sufinya diawali dari kehadirannya
di majlis Abu Utsman. Nasihat-nasihat yang diterimanya sangat membekas di hatinya
sehingga ia bertobat. Akan tetapi sebelumnya ia pernah mendapatkan cobaan penyakit
demam. Penyakit ini sampai membuatnya menderita sehingga ia lari dari majelis Abu
Utsman. Setiap kali melihatnya, segera ia menyingkir dan memperlambat kehadirannya di
majlis. Suatu hari Abu Utsman bermaksud menyambut kedatangannya, namun Abu Amr
berusaha menghindari dan melewati jalan lain yang tidak biasa dilalui orang. Abu Utsman
rupanya tahu, kemudian ia mengikutinya dari belakang hingga bertemu.

Wahai anakku, katanya. kamu tidak dapat mengawani orang yang mencintaimu kecuali
terpelihara. Sesungguhnya yang memberimu manfaat dalam keadaanmu yang demikian
adalah Abu Utsman.

Kemudian Abu Amr bin Najid bertobat dan kembali pada kehendaknya semula serta
berjalan di dalamnya.

Syaikh Abul Qasim Al-Qusyairi berkata, Saya pernah mendengar Tuan Guru Abu Ali AdDaqaaq semoga Allah merahmatinya, bercerita Seseorang murid bertobat, kemudian ia
menderita penyakit demam. Suatu waktu ia mencoba berpikir untuk berhenti. Jika tetap
bertobat, maka apa hikmahnya ? begitu pikirnya. Tiba-tiba suara gaib menasehatinya, hai
fulan, jika kamu taat kepadaku maka aku pasti menghargaimu. Kemudian kamu
meninggalkanku yang membuatku tidak mengurusimu, dan jika kamu kembali lagi
kepadaku, pasti aku menerimamu lagi. Lalu pemuda itu kembali lagi pada kehendaknya
semula (untuk bertobat) dengan mantap dan berhasil melaluinya dengan baik.

Jika salik / (orang yang belajar menuju ke hadirat Allah) meninggalkan sehgala
kemaksiyatan, maka gumpalan-gumpalan nafsu yang mendorong untuk selalu bermaksiyat
akan terlepas dari hatinya. Dan kemudian hatinya berketatan untuk tidak kembali kepada
kemaksiyatan-kemaksiyatan sejenisnya, maka penyesalan yang sesungguhnya mulai
menjernihkan hatinya. Dia menjadi manusia yang senantiasa menyesali atas apa yang
pernah diperbuatnya. Sepak terjangnya, perilakunya, dan keadaan-keadaan dirinya
mencerminkan rasa sesal, galau dan sedih. Maka dengan demikian, dia telah benar-benar
menjalani taubat yang sempurna. Mujahadahnya benar. Kesungguhannya untuk menjadi
orang baik benar-benar dapat dipercaya. Jika sudah mencapai tingkat demikian, maka
sikap pergaulannya dengan manusia akan digantikannya dengan sikap uzlah. Dia akan
menjadi orang yang senang menyendiri, menjauhi pergaulan yang tidak membawa
kebaikan, memisahkan diri dari pergaulan-pergaulan bersama orang-orang yang
berperilaku buruk. Waktu siang dan malamnya dipakai untuk bersedih, meratapi
kesalahan-kesalahannya, dan menjadikan hatinya bersungguh-sungguh untuk bertobat
kepada Allah. Air mata penyesalannya akan terus mengalir menggenangi dan membasahi
luka hatinya, menghapus jejak-jejak dosa yang ditinggalkannya, dan mengobati jiwa nya
yang duka.

Hal ini diketahui dengan kekusutan hatinya adn ditandai dengan kelemahan fisiknya.
Mukanya sayu. Tubuhnya lemah tanpa gairah. Keadaannya asngat kurus. Seleranya akan
kenikmatan dunia menurun. Ahtinya tidak tertarik kepada apapun selain kepada Allah. Dan
yang demikian itu terus berlangsung menyelimuti hatinya sampai mendapatkan keridhaan
Allah dan orang-orang yang dimusuhinya. Dia akan memasrahkan dirinya kepada orang
yang dianiaya untuk memperoleh keridhaannya. Dia tidak akan keluar dari tekadnya
sebelum benar-benar mendapatkan maafnya. Sesungguhnya tobat yang berkaitan dengan
pelanggaran dosa atas hak manusia mengharuskan salik orang yang belajar
mendekatkan diri kepada Allah melalui soerang Syaikh- untuk meminta keridhaan orang
yang pernah dianiayannya sebelum meminta keridhaan Allah. Jika tangannya mampu
mengembalikan hak-haknya , maka salik wajib mengembalikannya, atau meminat
kemurahan haitnya supaya menghalalkan dan membebaskan dirinya dari tuntutan
kewajiban membayar tagihan hak. Jika kedua-duanya tidak dapat diperoleh, maka hatinya
harus tetap berkeyakinan, bersikukuh dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk
keluar dari belenggu tuntutan tagihan hak-hak orang yang pernah dianiayanya, dengan

disertai harapan dan penghadiran diri untuk kembali kepada Allah dengan curahan doa
yang sungguh-sungguh untuk dirinya dan untuk orang yang pernah dianiayanya.

Syaikh Abul qasim al Qusyairi berkata, Saya pernah mendengar Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq
ra. Berkata, Tobat ada tiga bagian, pertama tobat (kembali), keduainabah (berulang-ulang
kembali), ketiga aubah (pulang). Tobat bersifat permulaan, sedangkan aubah adalah akhir
perjalanan. Dan inabah tengah-tengahnya.

Setiap orang yang tobat karena takut siksaan, maka dia adalah pelaku tobat. Orang tobat
karena mengharapkan pahala adalah pelaku tobat yang mencapai tingkatan inabah.
Sedangkan orang tobat yang termotivasi oleh sikap hati-hati dan ketelitian hatinya bukan
karena mengharapkan pahala atau takut pada siksa Allah, maka ia adalah pemilik aubah.

Dikatakan pula bahwa tobat adalah sifat orang-orang mukmin. Allah berfirman :
Watuubuu ilaLlaahi jamiia ayyuhal Mukminuuna laallakum tuflihuunyang artinya,
Dan bertaubatlah kamu sekallian kepada Allah wahai orang-orangyang beriman agar
engkau semua menjadi orang-orang yang beruntung.(QS. An Nuur 31)

Sedangkan inabah merupakan sifat para Wali Allah atau orang-orang yang dekat dengan
Allah sebagaimana yang difirmankanNya :
Man khosyiyaRrohmaana bil ghoibi wa jaa-a biqolbim muniib yang artinya (Yaitu)
orang-orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemuranh sedang Dia tidak kelihatan,
dan dia datang dengan hati yang taubat. (QS. Qaf 33)

Adapun Aubah adalah sifat para Nabi dan Rasul .


Nimal Abdu Innahul Awwaab yang artinya, Dialah (Nabi Ayyub as.) adalah sebaikbaik hamba. Sesungguhnya Ia amat taat kepaad Tuhannya. (QS. Shad 44)

Saya Imam Al Qusyairi ra- pernah mendengar Imam Al-Junaid berkata, Tobat ada tiga
makna, penyesalan kedua, tekad untuk meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah
Taala, ketiga berusaha memenuhi hak-hak orang yang pernah dianiaya.

Sahal bin Abdullah mengatakan, Tobat adalah meninggalkan penundaan (tidak mengulur
waktu dalam bertobat).

Imam Al-Junaid pernah ditanya seseorang tentang tobat lalu dijawab, Hendaknya kamu
melupakan dosamu.

Oleh Abu Nashr As-Siraj , dua pernyataan di atas dikomentari. Menurutnya bahwa Sahal
dengan pernyataannya menunjukkan beberapa keadaan orang-orang yang hendak
bertobat yang sesekali terhalangi proses tobatnya. Sedangkan Al-Junaid memaksudkan
pada tobat orang-orang yang sungguh-sungguh, yaitu ahli hakikat. Mereka ini ketika
bertobat tidak lagi mengingat dosa-dosanya karena kehadiran keagungan Tuhan dan
keberlangsungan dzikirnya kepadaNya yang senantiasa mendominasi hatinya.

Dzunun Al Mishri pernah ditanya tentang tobat kemudian di jawab, Tobat orang awam
dikarenakan dosa, sedang tobat orang khusus disebabkan karena lupa. Ucapan yang
demikian dopertegas oleh An-Nuuri dengan pernyataannya bahwa tobat adalah proses
pelaksanaan tobat dari segala sesuatu selain Allah.

Abdullah At-Tamimi mengatakan, Ada yang membedakan antara orang yang tobat dari
kesalahan, bertobat darin kelupaan, dan bertobat dari memandang kebaikan yang
diperbuatnya.

tobat nasuha kata Al-wasithi adalah, Tidak akan meninggalkan bekas kemaksiyatan pada
pemiliknya, baik yang ersifat samar maupun yang jelas.

Tuhanku, kata Yahya bin Muadz, saya tidak mengatakan bahwa saya tobat. Tidak juga
mengulang sesuatu yang saya ketahui dari akhlakku dan tidak menyimpan upaya
meninggalkan dosa terhadap sesuatu yang saya ketahui dari kelemahanku. Sedangkan
permohonan ampun tanpa melepaskan dosa, menurut Dzun Nun Al-Mishri adalah tobatnya
para pendusta.

Al-Busyanji pernah ditanya tentang tobat, lalu dijawab, Jika kamu mengingat dosa
kemudian tidak merasakan manisnya ketika mengingatnya, maka demikian itu adalah
taubat.

Kemudian makna ini lebih diperjelas oleh Dzun Nun Al-Mishri, Hakikat taubat menjadikan
kamu keluasan bumi ini terasa sempit, sehingga tidak ada tempart menetap bagimu.
Kemudian jiwamu merasa sempit. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah dalam
kitabNya yang Mulia :
Hatta idzz dhooqot alaihimul ardhu bimaa rohubat wadhooqot alaihim anfusuhum
wadhonnuu allaaa maljaa-a minaLlaahi illaa ilaih tsumma taaba alaihim liyatuubuu
innalLaaha Huwattawwaaburrohiim
Yang artinya, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu
luas dan jiwa merekapun telah sempit (terasa) oleh mereka, dan mereka menyangka
(mengetahui) sesungguhnya tidak ada tempat lari dari siksa Allah melainkan kepadaNya
saja. Kemudian AllaH menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya.
Sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha menerima taubat. (QS. At Taubah 118)

Ibnu

Atha

mengatakan,

Taubat

ada

dua,

taubat inabah dan

taubat istajabah .

Tobat inabah adalah taubat seorang hamba yang takut akan siksaanNya. Sedangkan
taubat istajabah adalah merupakan bentuk taubat seorang hamba yang malu terhadap
kemuliaanNya.

Mengapa seseorang yang menjalankan taubat membenci dunia ? tanya seorang murid
kepada Abu Hafs.

Karena dunia tempat berlangsungnya perbuatan dosa. Jawabnya.


Bukankah udnia merupakan tempat yang dimuliakan Allah yang di dalamnya taubat bisa
dilaksanakan ? tanya seseorang menyela.
Kenyataan dosa di atasnya adalahsesuatu yang pasti. Sementara penerimaan taubat di
dalamnya masih bersifat mungkin tegas Hafsh.

Karena itu tidak semua taubat memiliki tingkat yang sama. Masing-masing memiliki
kwalitas dan derajat sendiri-sendiri. Taubat orang awam dan taubat orang khusus berbeda,
dan taubat orang awam dan taubat pendusta juga berbeda. Entang maslah yang terakhir
ini, sekelompok ulama sufi pernah menjelaskan bahwa taubat para pendusta hanya terjadi
di

permukaan

mulut

saja.

Artinya

mereka

melakukan

taubat

hanya

sebatas

mengucapkan Istighfar, yaitu permohonan ampun kepada Allah.

Tidak ada sesuatupun yang dimiliki seorang hamba dalam taubatnya jelas Abu Hafs
kepada penanya, karena taubat hanya untukNya, bukan dariNya.

Allah pernah memberikan wahyu kepada Nabi Adam AS tentang taubat, Hai Adam kata
Allah egkau telah mewriskan anak cucumu kepayahan adn cobaan. Sedangkan Saya
mewariskan taubat untuk mereka. Barang siapa yang berdoa kepadaKu, pasti Saya
menyambutnya, sebagaimana menyambutmu. Hai anak Adam, Saya mengumpulkan
orang-orang yang bertaubat dari kubur mereka dalam keadaan gembira dan tertawa
kepadaKu. Doa mereka terkabulkan.

Pernah seorang laki-laki datang ke rumah Rabiah Al Adawiyah RA, dia mengadukan
perbuatan-perbuatan buruknya, sesungguhnya saya banyak berbuat dosa dan maksiyat.
Kalau saya taubat apakah Allah akan menerima saya ?

Tidak ! bahkan seandainya Dia menerimamu, pasti saya bertaubat.

Ketahuilah sesungguhnya Allah berfirman, InnaLlaaha yuhibbuttawwabiina wayuhibbul


mutathahhiriin yang artinya,

Sesungguhnya Allah mencinati orang-orang

yang

bertaubat dan orang-orang yang mensucikan dirinya. (QS. Al-Baqarah 222)

Barang siapa yang mendekati tempart yang menggelincirkan maka jelas itu kesalahannya
sendiri. Jika taubat, maka diterimanya masih meragukan. Apalagi jika syarat dan haknya
merupakan hak bagi kecintaan Al-Haq. Seseorang yang melakukan maksiyat sehingga di
dalam sifat-sifatnya ditemukan tanda-tanda kecintaannya kepada Allah semakin menjauh,
maka dia wajib taubat dan terus menerus menghancukan kemaksiyatan dengan
disertai istighfar dan

pembebasan

diri

dari

dosa.

Sesungguhnya ketakutan itu

mengingatkan kepada kematian, kata ahli sufi. Karfena itu benar sekali jika Allah
berfirman, Qul Inkuntum tuhibbunaLlaaha fattabiuuNy yuhbibkumuLlaah. Yang
artinya, Katakanlah jika kamu sekalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (Nabi), dengan
demikian maka Allah akan mencintaimu. (QS. Ali Imran 31)

Diantara proses ritual perjalanan taubat Nabi SAW adalah melanggengkanIstighfar.


RasuluLlah SAW bersabda, Innahuu layughaanu alaa qalByy, fa AstaghfiruLlaaha fil
yaumi sabiina marrah Yang artinya, sesungguhnya Dia mmenutupi hatiku, maka Saya
memohon ampun kepada Allah 70 kali dalam sehari.

Yahya

bin

Muadz

mengatakan,

Tergelincir

sekali

setelah

taubat

lebih

buruk

daripada istighfar 70 kali sebelumnya.

Menurut keterangan Abu Utsman tentang fiman Allah, Inna ilaiNaa iyaabahumyang
artinya, sesungguhnya kepada Kamilah mereka kembali. (QS. Al-Ghaatsiyah 25)
Ayat ini menunjukkan arti pengembalian mereka meski mereka telah berkali-kali keliling
dalam penentangan.

Syaikh Abul Qasim Al Qusyairi berkata, saya juga pernah mendengar Abu Amr Al-Anmathi
bercerita, seorang menteri yang bernama Ali bin Isa sedang menunggang kuda

kebesarannya dalam arak-arakan yang sangat megah. Pawai ini sempat membuat
masyarakat terkagum-kagum. Mereka bertanya-tanya siapakah gerangan mereka itu ?
Tiba-tiba seorang wanita yang sedang berdiri di pinggir jalanan pawai menyeletuk, sampai
kapan kalian mengatakan engan bertanya-tanya siapakah dia, siapakah dia ? Dia adalah
hamba yang terjatuh dari pandangan Allah dan Allah mengujinya dengan sesuatu yang
kalian saksikan itu. Rupanya Ali mendengar sindiran itu. Dia langsung kembali pulang,
kemudian mengundurkan diri dari jabatan menteri dan pergi ke Makah untuk tinggal di
sana.
Silakan mengutip dengan mencantumkan http://www.manakib.wordpress.com