Anda di halaman 1dari 20

11

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Skabies
1.

Definisi Skabies
Penyakit skabies adalah salah satu penyakit kulit yang disebabkan
oleh Sarcoptes scabiei varietas hominis. Skabies umumnya ditemukan
pada anak-anak dan remaja. Tanda dari skabies salah satunya yaitu apabila
ditemukan lesi kulit berupa populo postul, erosi yang luas hampir
diseluruh tubuh disertai rasa gatal dan terdapat tanda garukan (Handoko,
2007).
Skabies merupakan jenis penyakit yang mudah menular apabila
perilaku kebersihan diri tidak dijaga. Oleh karena itu, skabies dapat
menyerang lebih dari satu orang dalam satu keluarga. Gejala klinis yang
ditimbulkan yaitu rasa gatal pada malam hari atau disebut pruritus
nocturnal, mengenai seluruh tubuh, terutama dilipatan kulit yang tipis
hangat dan lembab dengan lesi kulit polimorfi (Boediardja, 2011).
Penyebaran tungau skabies adalah dengan kontak langsung oleh
penderita skabies atau dengan kontak tak langsung seperti melalui
penggunaan handuk bersama, alas tempat tidur, dan segala hal yang
dimiliki penderita skabies. Oleh karena itu skabies sering menyebar dalam
anggota keluarga, kelompok anak sekolah, bahkan satu asrama. Penularan
penyakit skabies yang umumnya menyerang anak-anak maupun ramaja
erat kaitannya dengan keadaan sosial ekonomi yang rendah dan kepadatan
hunian yang tinggi. Skabies memang tidak berdampak pada angka
11

12

kematian, namun menunjukkan adanya level kesehatan primer yang belum


terpenuhi pada pelayanan kesehatan (Andrews, et al, 2009).

2.

Morfologi
Sarcoptes scabiei berwarna putih krem dan berbentuk oval yang
cembung pada bagian dorsal dan pipih pada bagian ventral . Tungau betina
dewasa berukuran 300 - 500 x 230 - 340 m sedangkan yang jantan
berukuran 213 - 285 x 160 - 210 pm. Permukaan tubuhnya bersisik dan
dilengkapi dengan kutikula serta banyak dijumpai garis-garis paralel yang
berjalan transversal. Stadium larva mempunyai tiga pasang kaki
sedangkan dewasa dan nimpa mempunyai empat pasang kaki (Chandler
dalam Wardhana, 2006).

Gambar 2. 1 Morfologi Sarcoptes scabiei (www.thepiedpiper.co.uk, 2013)

13

3.

4.

Klasifikasi
a.

Kingdom : Arthropoda

b.

Kelas

c.

Sub kelas : Acari (Acarina)

d.

Ordo

: Astigmata

e.

Famili

: Sarcoptidae

f.

Genus

: Sacroptes scabiei

g.

Spesies

: Sacroptes scabiei van harmonis (Handoko, 2007).

: Arachnida

Siklus Hidup
Siklus hidup Sarcoptes scabiei dari telur hingga menjadi tungau
dewasa memerlukan waktu 10 - 14 hari. Pada tungau betina mampu hidup
pada host atau induk semang

hingga 30 hari.

Tungau betina

mengeluarkan telur sebanyak 40 50 butir dalam bentuk kelompokkelompok, yaitu dua-dua atau empat-empat. Telur akan menetas dalam
waktu tiga sampai empat hari dan hidup sebagai larva di lorong-lorong
lapisan tanduk kulit . Larva akan meninggalkan lorong, bergerak ke
lapisan permukaan kulit, membuat saluran-saluran lateral dan bersembunyi
di dalam folikel rambut. Larva berganti kulit dalam waktu dua sampai tiga
hari menjadi protonimpa dan tritonimpa yang selanjutnya menjadi dewasa
dalam waktu tiga sampai enam hari (Handoko, 2007).

14

Gambar 2.2 Siklus Hidup Sacroptes Scabiei (CDC, 2010).


5. Etiologi Skabies
Skabies yang disebabkan Sarcoptes scabiei dan ditularkan melalui
kontak dekat (seksual atau nonseksual) dan dapat menginfeksi setiap
bagian tubuh, terutama permukaan fleksural siku dan pergelangan tangan
serta genetalia eksterna. Betina dewasa sembunyi dan meletakkan telur
dibawah kulit, serta bergerak cepat melewati kulit. Keluhan berupa rasa
gatal yang hebat tetapi sebentar-bentar dan rasa gatalnya lebih hebat pada
malam hari. Kelainan kulit dapat berupa papula, vesikel, atau liang.
Daerah yang paling sering terkena seperti tangan, pergelangan tangan,
payudara, vulva, dan pantat (Prawirohardjo, 2011).

6. Patogenesis
Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies,
tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan. Gatal yang terjadi
disebabkan oleh sentisisasi terhadap sekreta dan eksreta tungau yang
memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. Pada saat itu
kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel,

15

urtika, dan lain-lain. Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi,


krusta, dan infeksi sekunder (Handoko, 2007).

7. Gejala Klinis
Menurut Handoko (2007) gejala klinis pada penderita skabies yaitu
ada 4 tanda utama :
a. Pruritus nokturna, artinya rasa gatal malam hari pada kulit yang
umumnya timbul pada sela jari tangan, pergelangan tangan bagian
volair, lipatan ketiak, selangkangan, siku, lipatan paha, pantat, dan
genitalia eksterna.
b. Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok.
c. Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat predileksi yang berwarna
putih keabu-abu bisa garis lurus atau berkelok rata-rata panjang 1 cm
dan pada ujung terowongan biasanya dijumpai papul atau vesikal.
d. Menemukan tugau, merupakan hal yang paling diagnostik yakni
menemukan satu atau lebih stadium hidup tungau ini. Diagnosis dapat
dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda kardinal tersebut.

8. Cara Penularan (Transmisi) Skabies


Menurut Handoko (2007) terdapat 2 cara penularan atau transmisi
dari tungau Sarcoptes scabiei, yaitu:
a. Adanya kontak langsung (kontak kulit dengan kulit), sebagai contoh
penderita berjabat tangan dengan orang lain dan tidur bersama
penderita.

16

b. Kontak tak langsung (melalui benda), misalnya pakaian, handuk, seprei,


bantal dan lain-lain yang dipakai secara bergantian maupun bersamasama. Penularan biasanya oleh Sarcoptes scabiei betina yang sudah
dibuahi atau terkadang oleh bentuk larva. Dikenal pula Sarcoptes
scabiei var animalis yang kadang-kadang dapat menular pada manusia,
terutama

pada

keluarga

yang

banyak

memelihara

binatang

pemeliharaan misalnya anjing.

9. Pencegahan Skabies
Upaya pencegahan skabies menurut Wardhana (2006) terdiri dari:
a. Menghindari kontak langsung dan kontak tidak langsung dengan
penderita
b. Tidak menggunakan barang-barang penderita secara bersama-sama
maupun bergantian dengan penderita seperti handuk, pakaian, selimut
dan lain-lain
c. Rendam pakaian, handuk, dan selimut dengan air panas kemudian
distrika sebelum digunakan
d. Seprai tempat tidur harus sering diganti dengan yang baru maksimal tiga
hari sekali
e. Tempatkan benda-benda yang tidak bisa dicuci seperti bantal kepala
dan bantal guling kedalam kantong plastik tertutup dan diamkan selama
tujuh hari, kemudian dijemur dibawah sinar matahari sambil dibolak
balik minimal dua puluh menit sekali

17

f. Menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan akan mempercepat


kesembuhan dan memutuskan siklus hidup tungau sarcoptes scabies
var hominis
g. Jika ada anggota keluarga yang menunjukkan gejala skabies segeralah
obati penderita agar tidak menular kepada anggota keluarga lainnya.
10. Pengobatan Skabies
Syarat obat yang ideal menurut Prawiroharjo (2011) ialah :
a. Harus efektif terhadap semua stadium tungau
b. Harus tidak menimbulkan iritasi dan tidak toksik
c. Tidak berbau dan kotor serta tidak merusak atau mewarnai pakaian
d. Mudah diperoleh dan harganya murah
Cara pengobatannya yaitu seluruh anggota keluarga harus diobati
(termasuk penderita yang hiposensitisasi). Berikut jenis obat yang dapat
digunakan dalam pengobatan skabies :
a. Krim permetrin 5% diaplikasikan keseluruh permukaan kulit dari leher
sampai ibu jari kaki, dipakai selama 10 menit 2x sehari selama 2 hari.
b. Krim lindan 1% dipakai didaerah yang terkena skabies, pemakaiannya
seminggu sekali. Jangan mandi paling sedikit 24 jam setelah
pengobatan. Tidak dianjurkan pada anak yang berumur dibawah 2 tahun
dan ibu hamil.
c. Bensil bensoat emulusi topikal 25% dipakai di seluruh tubuh dengan
interval 12 jam, kemudian dicuci 12 jam setelah aplikasi terakhir.
d. Asam salisilat 2% dan endapan belerang 4% dipakai didaerah yang
terkena skabies .

18

e. Pakaian berbahan linen harus dicuci atau direndam dengan air panas dan
dikeringkan dengan cara dijemur atau dipanaskan (Prawiroharjo, 2011).

11. Faktor Risiko


Beberapa faktor risiko yang menyebabkan terjadinya skabies yaitu
kepadatan penduduk, diagnosis yang tertunda, sosio demografi, serta
rendahnya tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor yang
berkontribusi terhadap peningkatan prevalensi skabies. Semakin rendah
tingkat pendidikan seseorang maka tingkat pengetahuan tentang personal
higienis juga semakin rendah. Pengetahuan yang rendah mengenai skabies
menimbulkan anggapan bahwa skabies bukan merupakan penyakit yang
membahayakan jiwa (Heukelbach, et al, 2005). Faktor risiko lain yang
dapat menimbulkan skabies yaitu perilaku hidup sehat yang tidak
diperhatikan. Perilaku tersebut antara lain tidur di ruangan yang padat,
berbagi pakaian dan berbagi handuk (Gulati dalam Raza, et al, 2009).

B. Pendidikan Kesehatan
Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan
untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok, atau masyarakat
sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan.
Dari batasan ini tersirat unsur- unsur pendidikan yaitu:
1.

Input adalah sasaran pendidikan meliputi individu, kelompok,


masyarakat dan pendidik (pelaku pendidikan)

19

2.

proses merupakan upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi


orang lain

3.

Output adalah melakukan apa yang diharapkan atau perilaku


(Notoatmodjo, 2005).
Kesehatan merupakan hasil interaksi berbagai faktor, baik faktor

internal (dari dalam diri manusia) maupun faktor eksternal (di luar diri
manusia). Faktor internal ini terdiri dari faktor fisik dan psikis. Faktor
eksternal terdiri dari berbagai faktor antara lain sosial, budaya masyarakat,
lingkungan

fisik,

politik,

ekonomi,

pendidikan,

dan

sebagainya

(Notoatmodjo, 2005).
Pendidikan kesehatan adalah aplikasi atau penerapan pendidikan di
dalam bidang kesehatan. Secara operasional pendidikan kesehatan adalah
semua kegiatan untuk memberikan dan atau meningkatkan pengetahuan,
sikap, dan praktek baik individu, kelompok atau masyarakat dalam
memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri (Notoatmodjo,
2005).
Pendidikan kesehatan hakekatnya bentuk intervensi terutama
terhadap faktor perilaku. Melalui pendidikan kesehatan berarti ada upaya
atau kegiatan untuk menciptakan perilaku masyarakat yang kondusif untuk
kesehatan. Artinya, masyarakat menyadari atau mengetahui bagaimana
cara memelihara kesehatan mereka, bagaimana menghindari atau
mencegah hal-hal yang merugikan kesehatan mereka dan kesehatan orang
lain (Nototatmodjo, 2007). Maka, untuk mewujudkan hal tersebut,

20

diperlukan upaya peningkatan pengetahuan dan sikap terhadap pentingnya


memelihara kesehatan.
Peningkatan pengetahuan dan sikap erat kaitannya sebagai salah satu
faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku. Beberapa teori yang
bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor perubahan perilaku telah
banyak dicoba, salah satunya yaitu teori dissonance atau teori StimulusOrganisme-Respon (SOR) (Notoatmodjo, 2007).
Dissonance atau ketidakseimbangan terjadi karena dalam diri
individu terdapat dua elemen kognisi yang saling bertentangan. Elemen
kognisi tersebut meliputi pengetahuan, pendapat, atau keyakinan. Apabila
individu menghadapi stimulus atau objek dimana stimulus tersebut akan
menimbulkan suatu pendapat maupun keyakinan yang berbeda atau
bahkan bertentangan didalam individu itu sendiri, maka terjadilah suatu
ketidakseimbangan (Notoatmodjo, 2007).
Secara sederhana teori dissonance dikemas dalam bentuk teori SOR.
S yang berarti stimulus mengacu kepada suatu rangsangan yang diberikan
kepada individu, dapat berupa suatu metode atau media kesehatan.
Organisme meliputi perhatian, penerimaan, dan pengertian dari individu
terhadap stimulus yang diberikan. Reaksi merupakan hasil akhir yang
ingin dilihat, umumnya berupa suatu perubahan seperti perubahan perilaku
dan sikap (Notoadmodjo, 2007).

21

C. Pengetahuan
Pengetahuan

adalah

hasil

tahu

dimana

setelah

seseorang

melakukan penginderaan terhadap sesuatu objek tertentu. Penginderaan


terjadi melalui panca indera menusia meliputi indera penglihatan,
pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan
manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2011).
Menurut Notoatmodjo (2011) pengetahuan yang mencakup dalam
domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yakni :
1. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah
dipelajari sebelumnya, termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah
mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh badan
yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh karena itu,
tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.
2. Memahami (comprehensif)
Memahami

diartikan

sebagai

suatu

kemampuan

untuk

menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat


menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah
paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan,
menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya
terhadap objek yang dipelajari.

22

3. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan
materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi riil (sebenarnya).
4. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi
atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam
suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama
lain. Kemampuan analisis ini dapat dari penggunaan kata- kata kerja
dapat menggambarkan (membuat bagan) membedakan, memisahkan,
mengelompokkan dan sebagainya.
5. Sintesis (synthesis)
Sintesis

menunjukkan

pada

suatu

kemampuan

untuk

meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk


keseluruhan yang baru. Dengan kata lain itu suatu kemampuan untuk
menyusun formulasi baru dan formulasi-formulasi yang ada.
6. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk dapat
melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.
Penilaian itu kriteria berdasarkan suatu kriteria yang ditemukan
sendiri atau mengunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
Beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang
seperti pendidikan, pengalaman, usia serta informasi.

23

a. Pendidikan
Tingkat pendidikan menentukan mudah tidaknya seseorang
menyerap dan memahami suatu informasi yang mereka peroleh,
pada umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang makin
semakin baik pula pengetahuanya.
b. Pengalaman
Pengalaman merupakan sumber pengetahuan, atau
pengalaman

itu

suatu

cara

untuk memperoleh

kebenaran

pengetahuan. Oleh sebab itu pengalaman pribadi pun dapat


digunakan sebagai upaya untuk memperoleh pengetahuan. Hal ini
dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang
diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada
masa lalu.
c. Usia
Semakin

tua

usia

seseorang

maka

proses-proses

perkembangan mentalnya bertambah baik, akan tetapi pada usia


tertentu, bertambahnya proses perkembangan mental ini tidak
secepat seperti ketika berumur belasan tahun. Daya ingat seseorang
itu salah satunya dipengaruhi oleh usia. Bertambahnya usia
seseorang dapat berpengaruh pada pertambahan pengetahuan yang
diperolehnya.
d. Informasi
Informasi akan memberikan pengaruh pada pengetahuan
seseorang. Meskipun seseorang memiliki pendidikan yang rendah

24

tetapi jika ia mendapatkan informasi yang baik dari berbagai media


misalnya TV, radio atau surat kabar maka hal itu akan dapat
meningkatkan pengetahuan seseorang.
Tingkat

pengetahuan

juga

dapat

di

ukur.

Pengukuran

pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang


menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek
penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita
ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan materi yang
disampaikan (Notoatmodjo, 2007).

D. Sikap
Sikap adalah suatu kecenderungan untuk mengadakan tindakan
terhadap suatu objek dengan suatu cara yang menyatakan adanya tandatanda untuk menyenangi/tidak menyenangi objek tersebut. Sikap
hanyalah sebagian dari perilaku manusia (Notoatmodjo, 2003).
Sikap merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup dari
seseorang, terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap secara nyata
menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus
tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat
emosional terhadap stimulus sosial (Notoatmodjo, 2003).
Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi
merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap itu masih
merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah
laku yang terbuka.Sikap merupakan kesiapan untuk beraksi terhadap
objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek
(Notoatmodjo, 2003).

25

Struktur sikap terdiri dari 3 komponen yang saling menunjang


yaitu komponen kognitif, komponen afektif, dan konatif.
1. Komponen kognitif
Komponen kognitif merupakan representasi apa yang dipercayai oleh
individu pemilik sikap mengenai apa yang berlaku atau yang benar
bagi obyek sikap.
2. Komponen afektif
Komponen afektif adalah merupakan perasaan yang menyangkut
aspek emosional subjektif seseorang terhadap suatu obyek sikap.
3. Komponen konatif
Komponen konatif merupakan aspek kecenderungan berperilaku
tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki oleh seseorang.
Interaksi antara ketiga komponen adalah selaras dan konsisten,
dikarenakan apabila dihadapkan dengan suatu obyek sikap yang sama
maka ketiga komponen itu harus mempolakan yang seragam. Apabila
salah satu saja diantara ketiga komponen sikap tidak konsisten dengan
yang lain maka akan terjadi ketidakselarasan yang menyebabkan
timbulnya mekanisme perubahan sikap sedemikian rupa sehingga
konsistensi itu kembali (Azwar, 2005).

E. Faktor yang Mempengaruhi Proses Belajar


Menurut Notoadmodjo (2007), kegiatan belajar terdapat tiga
persoalan pokok, yaitu masukan atau input, proses, dan keluaran output.
Input menyangkut subjek atau sasaran belajar itu sendiri dengan berbagai
latar belakangnya. Input atau sasaran belajar terkait pada umur, jenis
kelamin, dan

pendidikan kelompok sasaran. Notoatmodjo (2003)

menyebutkan bahwa, umur merupakan salah satu yang mempengaruhi


individu dalam memperoleh pengetahuan.

26

Input atau sasaran belajar juga terkait dengan jenis kelamin. Jenis
kelamin dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan jenis
kelamin ini akan mempengaruhi penerimaan proses belajar. Laki-laki
unggul dalam proses berpikir secara rasional, sedangkan pada perempuan
unggul dalam proses berpikir secara visual (Jensen dan Markowitz,
2002).
Hal lain yang berkaitan dengan sasaran belajar yaitu tingkat
pendidikan kelompok sasaran. Salah satu tujuan pendidikan adalah
mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan. Semakin tinggi tingkat
pengetahuan, maka semakin banyak informasi yang diperoleh sehingga
dapat mempengaruhi kesadaran dan keinginan untuk mencoba hal-hal
baru atau yang disebut sikap (Notoatmodjo, 2003).
Pada proses terkait dengan mekanisme terjadinya perubahan
kemampuan pada diri subjek belajar. Didalam proses ini terjadi pengaruh
timbal balik antara berbagai faktor antara lain subjek belajar, pengajar,
metode dan media yang digunakan. Pada output merupakan keluaran dari
hasil belajar itu sendiri, yang terdiri dari kemampuan baru atau perubahan
baru pada diri subjek belajar (Notoatmodjo, 2003).
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar terdiri dari empat
kelompok, salah satunya yaitu faktor instrumental. Faktor instrumental
terdiri dari metode atau media yang digunakan serta kurikulum dalam
pendidikan formal. Faktor instrumental dirancang sedemikian rupa agar
mencapai hasil yang efektif sesuai dengan materi dan subjek belajar
(Notoadmodjo, 2007).
Salah satu media sebagai faktor instrumental yaitu media film.
Menurut Sanaky (2009) media film dapat membantu proses belajar

27

karena sebagai fungsi atensi atau menarik maupun mengarahkan


perhatian. Fungsi atensi tersebut akan bedampak pada pencapaian tujuan
dalam

memahami

dan

mengingat

informasi

yang

disampaikan.

Hakekatnya, media film yang bersifat audiovisual akan membantu


kelompok sasaran yang mengalami kesulitan dalam menganalisis suatu
informasi secara tulisan.
F. Media Promosi Kesehatan
Media promosi kesehatan merupakan alat yang digunakan pendidik
dalam menyampaikan bahan pendidikan. Beberapa manfaat dari media
promosi kesehatan sebagai alat bantu, yaitu:
1. Menimbulkan minat sasaran pendidikan
2. Mencapai sasaran yang lebih banyak
3. Membantu dalam mengatasi banyak hambatan dalam pemahaman
4.

Merangsang sasaran pendidikan untuk meneruskan pesan yang


diterima kepada orang lain

5. Mempermudah penyampaian bahan pendidikan olah pelaku pendidikan


6. Mempermudah penerimaan informasi oleh sasaran pendidikan.
Berdasarkan fungsinya sebagai penyaluran pesan-pesan kesehatan
(media), media ini dibagi menjadi 3 : media elektronik, cetak, media papan
(bill board).
1. Media elektronik
Beberapa media elektronik terdiri dari:
a. Televisi

28

b. Radio, bisa dalam bentuk obrolan/tanya jawab, sandiwara radio,


ceramah, radio spot, dll.
c. Video Compact Disc (VCD)
d. Slide
e. Film

G. Media Film
Film atau disebut juga gambar hidup merupakan gambar-gambar
dalam frame dimana frame demi frame diproyeksikan melalui lensa
proyektor secara mekanis sehingga pada layar terlihat gambar itu hidup.
Film bergerak dengan cepat dan bergantian sehingga memberikan visual
yang kontinu atau berkelanjutan (Arsyad, 2003).
Film sebagai salah satu media audio visual yang digunakan untuk
pelajaran maupun penyuluhan. Banyak yang dapat dijelaskan melalui film,
antara lain tentang proses yang terjadi dalam tubuh (Usman, 2002).
Hakekatnya film harus dipilih agar sesuai dengan materi yang akan
diberikan. Setelah pemutaran film, sebaiknya diadakan sebuah diskusi dan
perlu sebuah test agar diketahui berapa banyak yang dapat ditangkap dari
film tersebut (Nasution, 2011).
Penggunaan media film diperlukan dua persyaratan yaitu:
1. Tersedianya proyektor dan teknologi tinggi
2. Tersedianya ruangan untuk tempat pemutaran film
Beberapa kelebihan dari media film yaitu:
1. Lebih menarik perhatian

29

2. Karena bersifat audio visual maka dapat membantu proses pengamatan,

pengenalan dan ingatan.


3. Dapat dipercepat dan diperlambat untuk menganalisis materi yang
4.
5.

ditayangkan
Dapat diperbesar agar dapat dilihat dengan mudah dan jelas
Dapat digunakan untuk menggambarkan tindakan secara jelas dan
cermat
Kelebihan media film dalam penelitian ini yaitu dimana media film

sebagai salah satu media audio visual yang tepat dalam memberikan
informasi kepada kelompok usia remaja, karena pada remaja terjadi
kematangan secara kognitif seperti terjadi perubahan belajar untuk
mencerna suatu informasi atau pengetahuan (Bensley, dkk, 2008).
Kekurangan dari media film, yaitu :
1.
2.
3.
4.

Memerlukan peralatan dan teknologi tinggi


Memerlukan ruangan yang khusus
Memerlukan biaya yang mahal
Bermanfaat optimal jika digunakan dengan metode yang lain
(Suprijanto, 2009).
Media film sebagai media audio visual merupakan salah satu media

menarik yang menyajikan informasi atau pesan secara audio dan visual.
Media yang menarik ini akan memberikan keyakinan sehingga akan
berpengaruh pada keberhasilan pendidikan kesehatan, dimana proses
perubahan kognitif, afektif dan psikomotor dapat dipercepat (Dermawan
dan Setiawati, 2008).
Hal tersebut dibuktikan dengan penelitian dari Hermaningsih dan
Nargis (2010) bahwa media audio visual atau film dapat meningkatkan
perilaku perawatan diri pada usia pra remaja. Selain itu multimedia seperti

30

film merupakan pengajaran dan pembelajaran ke arah yang lebih dinamik


(Saroso, 2008). Media film merupakan salah satu media audiovisual yang
lebih menonjolkan fungsi komunikasi (Notoatmodjo, 2007).

H. KERANGKA TEORI
Stimulus

Organisme
Respon
perhatian,
Peningkatan
Media film
pengertian,
pengetahuan dan
tentang skabies
penerimaan santri
sikap santri
terhadap media
tentang skabies
Gambar 2.3 Kerangka Teori menurut
film teori S-O-R (Notoatmodjo, 2007)
Media film