Anda di halaman 1dari 2

ALTERNATIF PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI BATIK DENGAN CARA

ELEKTROLISIS MENGGUNAKAN ELEKTRODA


STAINLESS STEEL
Riyanto
Program Studi Ilmu Kimia, FMIPA, Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang KM 14,5; Sleman, Yogyakarta, 55584
website: chemistry.uii.ac.id; e-mail: riyanto@fmipa.uii.ac.id
ABSTRACT

Industri batik merupakan salah satu penghasil limbah cair yang berasal dari proses pewarnaan.
Selain kandungan zat warnanya tinggi, limbah industri batik juga mengandung bahan-bahan
sintetik yang sukar larut atau sukar diuraikan. Setelah proses pewarnaan selesai, akan
dihasilkan limbah cair yang berwarna keruh dan pekat. Biasanya warna air limbah tergantung
pada zat warna yang digunakan. Limbah air yang berwarna menyebabkan masalah terhadap
lingkungan. Metode elektrokimia merupakan metode yang sukses untuk mengolah beberapa
limbah cair industri, termasuk limbah zat warna dari industri batik. Elektroda atau anoda
memegang peranan yang sangat penting dalam proses elektrolisis limbah batik. Pemilihan
elektroda kerja yaitu stainless steel didasarkan kepada alloy yang terdiri dari tiga logam yaitu
Cr, Ni dan Mg. Penggunaan tiga logam lebih baik dibandingkan dengan satu logam. Hal ini
disebabkan karena akan terjadi synergitic effect diantara ketiga logam.
Penelitian dilakukan dengan penentuan kandungan logam Fe, Ni dan Cr pada stainless steel
dengan AAS. Sebanyak 0,16 gram stainless steel dimasukkan dalam 25 mL HCl dan 25 mL
HNO3 pekat dipanaskan pada lemari asam sampai warna coklat hilang, kemudian diencerkan
dengan aquades pada labu ukur 250 mL, kemudian larutan itu dianalisa Fe,Ni,Cr dengan
menggunakan AAS. Limbah batik diambil dari salah satu industri batik di Yogyakarta, diambil
dengan warna yang berbeda yaitu hijau, biru dan merah. Limbah diambil sebelum dicampur dan
dibuang ke tempat pengolahan limbah. Limbah kemudian diencerkan sebanyak 20 kali dan
diambil 50 mL untuk elektrolisis. Sel elektrolisis didesain dengan memperhatikan tempat
pengadukan, tempat elektroda kerja dan pembanding serta pemasukan gas nitogren. Sel
elektrolisis dibuat dari kaca dengan volume maksimum 100 mL. Limbah batik diambil sebanyak
50 mL dimasukkan dalam sel elektrolisis, seterusnya elektroda kerja stainless steel dan elektroda
pembanding (Pt berbentuk lempengan, luar 1 cm2 dan kemurnian 100% dari Aldrich)
dimasukkan dalam larutan. Elektrolisis dijalankan dengan menggunakan variasi tegangan,
waktu elektrolisis, serta konsentrasi NaCl yang ditambahkan. Larutan setelah dielektrolisis
diambil dan dianalisis dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis Hitachi U 2010. Optimasi
kondisi elektrolisis seperti potensial, waktu elektrolisis, dan konsentrasi NaCl yang
ditambahkan.
Hasil penelitian menunjukkan hasil analisis dengan AAS didapatkan konsentrasi logam Fe, Cr
dan Ni masing-masing adalah 54,25 x104 mg/Kg; 15,7984 x 104 mg/Kg dan 1,484 x 104 mg/Kg.
Hasil analisis ini menunjukkan bahwa komponen utama dalam stainless steel yang digunakan
sebagai anoda mengandung logam utama yaitu Fe, Cr dan Ni. Degradasi limbah batik dengan
menggunakan teknik elektrolisis sangat dipengaruhi oleh penambahan elektrolit seperti NaCl.
Penambahan NaCl akan meningkatkan daya hantar listrik sehingga dalam waktu yang singkat
limbah batik terdegradasi 100% atau larutan menjadi jernih. Namun, efek penambahan NaCl
akan mengakibatkan terbentuknya senyawa baru yang belum diketahui secara pasti, hal ini
ditunjukkan oleh terbentuknya puncak baru pada daerah Ultra Violet. Penggunaan elektroda

stainless steel sebagai anoda sangat menguntungkan karena senyawa bari di daerah UV tidak
terbentuk, tetapi terjadi korosi, karena logam teroksidasi dan bereaksi dengan Cl- membentuk
garam yang ditunjukkan oleh senyawa berwarna hijau dan hitam.
Kata kunci: degradasi, elektrolisis, zat warna, limbah batik, spektrofotometer UV-Vis