Anda di halaman 1dari 6

A .

KEDUA CALON PENGANTIN DUDUK BERSANDING PADA PROSES AQAD NIKAH


1. Deskripsi

Nikah yang benar dan sah menurut Syariat Islam adalah terpenuhinya syarat-syarat
dan rukun dalam nikah; yaitu adanya calon pengantin laki-laki, calon pengantin perempuan,
wali dari calon pengantin perempuan, dua saksi laki-laki, mahar/maskawin, shighat ijab dari
wali,dan qabul dari calon pengantin laki-laki.
Dalam penyelenggaraan pernikahan di masyarakat, tidak sesederhana sebagaimana
yang terdapat dalam rukun nikah. tapi diselenggarakan dengan meriah dan dikemas dalam
sebuah acara. Berkumpul dua keluarga besar calon pengantin laki-laki dan perempuan beserta
undangan yang lainnya di sebuah tempat yang ditentukan, bisa di rumah, bisa di Masjid, dan
bisa juga di Gedung pertemuan. Memasuki acara pokok telah hadir wali, 2 saksi, petugas
pemandu/pencatat pernikahan, dan tentu saja calon pengantin laki-laki dan calon pengantin
perempuan yang keduanya duduk berdampingan sambil dinaungi/ ditutupi dengan kerundung
panjang ditengah-tengah dua keluarga besar calon pengantin laki-laki dan perempuan.
Nampaknya hal ini telah menjadi adat budaya di masyarakat kita, bahkan seandainya calon
pengantin perempuan tidak dihadirkan, boleh jadi akan timbul dugaan-dugaan miring dari
keluarga calon pengantin laki-laki terhadap calon pengantin perempuan dan keluarganya.
Memasuki acara aqad nikah seorang pemandu nikah ( biasanya kepala KUA atau petugas dari
KUA ) memohon kepada kedua calon penganten untuk membaca dua kalimah syahadat, bisa
dilakukan bersama-sama dengan yang hadir, atau hanya kedua calon penganten. Hal ini lumrah
dilakukan di masyarakat.
2. Pertanyaan
a. Bagaimana hukumnya kedua calon pengantin tersebut dipersandingkan/duduk
berdampingan ditengah-tengah dua keluarg besar mereka, saat akan melaksanakan
aqad, padahal mereka masih ajnabi dan ajnabiyat (orang lain/bukan muhrim?
b. Jika calon penganten laki-laki duduk berdampingan dengan calon penganten
perempuan pada saat aqad nikah, ternodakah pernikahan mereka menurut syara ?
c. Apakah pengucapan dua kalimah syahadah dari kedua calon penganten yang diminta
oleh pemandu nikah sebelum aqad nikah, merupakan keharusan dan apa tujuannya ?

3. Jawaban sementara
a. Kedua calon pengantin duduk berdampingan/dipersandingkan ditengah-tengah
keleuarga besar mereka hukumnya boleh, karena tidak termasuk peristiwa
KHALWAT yang dilarang agama, dan aman dari fitnah agama. (duduk
berdampingan yang mebangkitkan dan mendorong lahirnya perbuatan-perbuatan yang
diharamkan).
b. Pernikahan mereka secara syari sah dan benar, karena telah terpenuhinya syarat dan
rukun dalam nikah.
c. Pengucapan dua kalimah syahadat sebelum aqad nikah bukan merupakan keharusan
yang harus dilakukan, tapi hanya boleh dan dipandang baik. Tujuannya 1. untuk
mengetahui calon suami sebagai seorang muslim bisa atau tidak iqrar syahadatain, 2.
Untuk membersihkan hati dari aqidah yang membawa kekufuran, 3. Melaksanakan
tradisi Rasulullah yang membaca syahadat ketika mengucapkan khutbah nikah.

Jawaban sementara hasil pembahasan :


1. Dari MUI Tangerang kota : kedua calon penganten harus dipisahkan dahulu, setelah aqad nikah baru
dipersandingkan.
2. Dari Ahmad Hasanudin : kedua calon penganten duduk bersanding adalah haram, alasannya karena
belum sah jadi suami isteri, dan kalau mereka itu menikah, maka pernikahannya tetap sah !
3.

4. Dari serang kota : sah nikahnya, disandingkan boleh, tapi setelah aqad nikah, untuk penanda tanganan.
5. KH. Halil dari Cilegon : kedua calon penganten boleh dipersandingkan pada proses aqad nikah, tapi
dengan syarat yaitu harus hadirnya orang-orang yang menjadi mahram calon penganten perempuan.
6. Dari Endang MUI Banten, kedua calon penganten duduk bersanding tidak boleh, alasannya belum
menjadi suami isteri.
7. Dari Ma-mun Sanusi Lebak : kedua calon penganten duduk bersanding boleh, dengan alas an saksi
dalam nikah harus tahu calon penganten perempuan.
8. Dari KH. Wahid Sahari : kedua calon penganten duduk bersanding harus dilihat dari segi ada dan tidak
adanya hajat dalam aqad nikah, jika tidak ada hajat untuk dihadirkan, maka haram/tidak boleh. Tapi
jika ada hajat untuk dihadirkan, karena adanya dzanniyah yang tidak/kurang baik, maka boleh.
9. Dari Ewon Ruswana : menghadirkan calon pengantin perempuan boleh sebagai pemberitahuan kepada
keluarga besar calon penganten laki-laki.
10. Ahmad Qizwini : kedua calon penganten duduk bersanding/dipersandingkan dilihat dari segi mashlahat
dn mafsadatnya. Jika kehadiran calon penganten perempuan ada maslahatnya, maka hukumnya
boleh, tapi sebaliknya jika kehadiran calon penganten perempuan akan membawa mafsadat maka
hukumnya haram.

Pembahasan lebih lanjut :


KEDUA CALON PENGANTIN DUDUK BERSANDING PADA PROSES AQAD NIKAH
1. Bahwa kedua calon pengantin duduk bersanding pada proses aqad nikah yang dihadiri
oleh kedua keluarga besar calon pengantin laki-laki dan perempuan di Banten sudah
merupakan suatu peristiwa umum, baik penyelenggaraannya dalam sekala kecil atau
besar, dan nampaknya seperti sudah menjadi budaya,
2. Diantara tokoh agama (Islam) di masyarakat ada yang memandang bahwa kedua
calon pengantin duduk bersanding pada proses aqad nikah adalah haram, dengan alasan
masih belum sah suami isteri, nisbah laki-laki calon pengantin kepada perempuan yang
akan dinikahi adalah perempuan ajnabiyat, begitupun sebaliknya laki-laki yang akan
menikahinya adalah ajnaby. Oleh karenanya harus dipisahkan.
3. Sebaliknya banyak tokoh dimasyarakat memandang bahwa kedua calon penganten
duduk dipersandingkan dalam proses aqad nikah ditengah-tengah keluarga besar mereka
adalah boleh (dalam feqih : Jawaz) alasannya, 1. kedua orang calon penganten ini duduk
tidak hanya berduaan, tapi bersama-sama keluarganya dari kedua belah pihak, sehingga
aman dari fitnah agama (rangsangan syahwat yang menuju kepada zinah) sebagaimana
yang diisyarat dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim :

Dari Ibni Abbas ra, dari Nabi saw ia bersabda : seorang laki-laki janganlah berkhalwat
(berduaan ) dengan perempuan (dalam satu tempat) kecuali dengan mahramnya ( si
perempuan ditemani dengan keluarga dekatnya, ibu, bapa, paman, bibi dll) HR. Bukhari
Muslim.
2. Kehadiran calon penganten perempuan pada proses aqad nikah merupakan hal
yang menentramkan jiwa keluarga calon penganten laki-lakinya, dan juga untuk
menghilangkan sikap curiga ( tuhmah) terhadap calon penganten wanita. Dalam hal ini,
seorang Mufti Mesir Syeh Athiyah Shaqar yang tergabung dalam Lembaga Fatwa alAzhar Mesir, menyatakan :

Bahwa khalwat (duduk berduaan laki-laki dan perempuan) haram. Meskipun diantara
keduanya tidak ada kegiatan bepergian atau kata-kata yang menggerakkan syahwat.
Adapun berkumpulnya laki-laki dan perempuan itu empat orang atau lebih banyak, atau
seorang laki-laki bersama perempuan banyak, atau sepadan banyaknya antara laki-laki
dan perempuan, itu boleh, atau seorang perempuan berkumpul dengan banyak laki-alaki
itu juga boleh/tidak haram, jika aman dan tidak ada kesepakatan untuk berbuat fahisyah
(zina).
DR Wahbah al-Zukhaily dalam kitabnya : al-Fiqh al-Islami wa adillatuhu :
mengemukakan : bahwa

Sesungguhnya Rasul saw, dalam hadis terdahulu melarang berkhalwat dengan perempuan
ajnabiyat (yang halal di nikah) dan duduk bersamanya, kecuali dibarengi dengan
mahramnya seperti bapanya, saudaranya atau pamannya. Dan dalam kondisi seperti ini
keamanan terjamin dan jauh dari munculnya kekhawatiran-kekhawatiran yang membawa
kerusakan masa depan. Dan dengan adanya mahram yang menyertainya terhadap
kedua calon penganten yang duduk berdekatan dan berbicara, tidaklah menjadi haram.
Pandangan ini merupakan pandangan yang bijak dari hadis tesebut, tidak mengharamkan
khalwat (duduk berduaan laki-laki dan perempuan) jika bersama-sama keluarganya, tidak
pula menghalalkan khalwat, meskipun disertai mahram (keluarga) jika didalamnya tidak
aman dari fitnah agama (perbuatan yang menjurus fahisyah/zina).

3. Kehadiran calon penganten perempuan pada saat aqad adalah dipandang sebagai
ta-yin pernyataan langsung bukan dengan kata-kata, yang sesuai dengan ucapan
antara aqidain (wali dan calon penganten laki-laki) sebagaimana pendapat Imam alSyafii dan Ahmad

4. Ajaran Islam membolehken untuk melihat dan menghadirkan calon penganten


perempuan pada acara khithbah (meminang untuk menikah ) seorang laki-laki boleh
melihat perempuan calonnya. Seperti dalam hadis sbb.

Dari Abi Hurairah ra, ia berkata : aku sedang bersama Nabi saw, kemudian datang
seorang laki-laki menceritakan keinginannya untuk menikah dengan seorang perempuan
anshor, lalu bersabdalah Rasul saw, kepadanya : sudahkah engkau melihat dia ? laki-laki
itu menjawab, : belum, Nabi saw, bersabda : pergilah dan lihatlah dia, karena di mata
seorang perempuan anshor ada sesuatu yang bagus! (HR. Muslim ).
Dalam hadis ini menggambarkan kehadiran calon penganten perempuan berkait
erat dengan perintah dan kebolehan melihatnya, dan tentu harus dibarengi dengan
mahramnya. Jika dalam khitbah saja boleh melihat perempuan calon yang akan
dinikahi,bahkan diperintah,maka duduk bersanding dalam proses aqad nikah ditengahtengah keluarga mereka nampaknya tidak menjadi halangan yang menyebabkan yang
menyebabkan hukum haram. (tentu boleh). Menurut pendapat Imam Abu Hanifah,
bahwa aqad nikah termasuk dalam aqad muamalah, perlu keterlibatan pihak-pihak
yang berkaitan, salah satu diantara pihak-pihak yang berkaitan adalah calon penganten
perempuan, agar dapat mengetahui proses aqad nikah, mahar, taliq thalaq yang
menyangkut dirinya.
Imam al-Nawawi dalam syarah Muslim menjelaskan : hadis ini menunjukkan jawaznya
(bolehnya) menerangkan keadaan si wanita yang dipinang, sebagai nasihat (perinagatan)
yang mashlahat bagi kehidupan rumah tangga. Dan dalam hadis ini pula disunnahkan
(istihbab) melihat wajah perempuan yang akan dinikahi, ini pendapat dalam madzhab
kami (al-Syafii), Imam Malik, Imam Abi Hanifah dan seluruh Ulama Kuffah, Imam
Ahamd bin Hambal dan Jumhur al-Ulama, Imam al-Qadli menceritakan ada yang
menghukumi makruh, ini pendapat yang salah menyalahi ketegasan hadis ini dan
menyalahi Ijma ul ummat. (Syarah Muslim li al-Nawawi)

Dari beberapa pandangan Ulama diatas dapatlah dikemukakan bahwa kebolehan kedua
calon penganten duduk bersanding pada proses aqad nikah itu berasal dari kebolehan
seorang laki-laki melihat calon wanita yang akan dinikahi (khithbah), dan kebolehan
ini juga berasal dari hadis larangan berkhalwat, kecuali bareng bersama keluarganya,
dan pada saat ini kedua calon penganten duduk bersanding dalam proses akad nikah di
hadiri bersama keluarganya dari kedua belah pihak, dan orang banyak yang ikut serta
menghadhadirinya, maka tentunya mawanii (halangan-halangan) yang menyebabkan
haram itu sudah tidak ada. Dengan demikian kedua calon penganten duduk bersanding
pada proses aqad nikah itu adalah boleh.
d. Pernikahan mereka secara syari sah dan benar, karena telah terpenuhinya syarat syarat
yang diperlukan pada rukun nikah dan terpenuhinya semua rukun dalam nikah.
a. Pengucapan dua kalimah syahadat sebelum aqad nikah bukan merupakan keharusan
yang harus dilakukan, tapi hanya boleh dan dipandang baik. Tujuannya 1. untuk
mengetahui calon suami sebagai seorang muslim bisa atau tidak iqrar syahadatain, 2.
Untuk membersihkan hati dari aqidah yang membawa kekufuran, 3. Melaksanakan tradisi
Rasulullah yang membaca syahadat ketika mengucapkan khutbah nikah.