Anda di halaman 1dari 39

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Landasan Teori
II.1.1. Status Gizi Balita
Masa balita merupakan proses pertumbuhan yang pesat dimana
memerlukan perhatian dan kasih sayang dari orang tua dan lingkungannya.
Disamping itu balita membutuhkan zat gizi yang seimbang agar status gizinya
baik, serta proses pertumbuhan tidak terhambat, karena balita merupakan
kelompok umur yang paling sering menderita akibat kekurangan gizi
(Santoso, 2004).
a. Definisi Status Gizi

Status gizi merupakan salah satu faktor yang menentukan sumber


daya manusia dan kualitas hidup. Untuk itu, program perbaikan gizi
bertujuan untuk meningkatkan mutu gizi konsumsi pangan, agar terjadi
perbaikan status gizi masyarakat (Muchtadi, 2006).
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat dari pemakaian,
penyerapan, dan penggunaan makanan (Suhardjo, 2003).
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan
dan penggunaan zat-zat gizi. Dibedakan antara status gizi buruk, kurang,
baik dan lebih (Almatsier, 2004).
Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam
bentuk variabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk
variabel tertentu (Waryono, 2010).
Status gizi anak adalah keadaan kesehatan anak yang ditentukan
oleh derajat kebutuhan fisik energi dan zat-zat gizi lain yang diperoleh dari
pangan dan makanan yang dampak fisiknya diukur secara antropometri
(Suhardjo, 2003) dan dikategorikan berdasarkan standar baku WHONCHS dengan indeks BB/U, TB/U dan BB/TB.

7
b. Penilaian Status Gizi

Penilaian status gizi dibagi menjadi 2 yaitu penilaian status gizi


secara langsung dan penilaian status gizi secara tidak langsung
(Supariasa, 2001 & Waryono, 2010).
1. Penilaian Status Gizi Secara Langsung
Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi 4
penilaian yaitu antropometri, klinis, biokimia, dan biofisik
(Supariasa, 2001 & Waryono, 2010).
a. Antropometri
1. Pengertian
Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia.
Ditinjau dari sudut pandang gizi, maka antropometri gizi
berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh
dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi
(Supariasa, 2001 & Waryono, 2010).
2. Penggunaan
Antropometri secara umum digunakan untuk melihat
ketidakseimbangan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini
terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh
seperti lemak, otot, dan jumlah air dalam tubuh (Supariasa, 2001).
3. Keunggulan antropometri
Beberapa syarat yang mendasari penggunaan antropometri
adalah (Supariasa, 2001) :
a. Alatnya mudah di dapat dan digunakan, seperti dacin, pita
lingkar lengan atas, mikrotia.
b. Pengukuran dapat dilakukan berulang-ulang dengan mudah dan
objektif.
c. Pengukuran bukan hanya dilakukan dengan tenaga khusus
profesional, juga oleh tenaga lain setelah dilatih untuk itu.
d. Biaya relatif murah, karena alat mudah didapat dan tidak
memerlukan bahan-bahan lainnya.

8
e. Hasilnya mudah disimpulkan karena mempunyai ambang batas
(cut off points) dan baku rujukan yang pasti.
f. Secara ilmiah diakui kebenarannya. Hampir semua negara
menggunakan antropometri sebagai metode untuk mengukur
status gizi masyarakat, khususnya untuk penapisan (screening)
status

gizi.

Hal

ini

dikarenakan

antropometri

diakui

kebenarannya secara ilmiah.


Uraian mengenai keunggulan antropometri sebagai berikut
(Supariasa, 2001) :
a. Prosedurnya sederhana, aman dan dapat dilakukan dlam jumlah
sampel yang besar.
b. Relatif tidak membutuhkan tenaga ahli, tetapi cukup dilakukan
oleh tenaga yang sudah dilatih dalam waktu singkat dapat
melakukan pengukuran antropometri.
c. Alatnya murah, mudah dibawa, tahan lama, dapat dipesan dan
dibuat di daerah setempat.
d. Metode ini tepat dan akurat.
e. Dapat mendeteksi atau menggambarkan riwayat gizi masa
lampau.
f. Umumnya untuk mengidentifikasi status gizi sedang, kurang,
dan gizi buruk, karena sudh ada ambang batas yang jelas.
g. Metode antropometri gizi dapat digunakan untuk penapisan
kelompok yang rawan terhadap gizi.
4. Kelemahan Antropometri
Disamping keunggulan metode penentuan status gizi secara
antropometri, terdapat pula beberapa kelemahan (Supariasa, 2001) :
a. Tidak sensitif. Tidak dapat membedakan kekurangan zat gizi
tertentu.
b. Faktor di luar gizi (penyakit, genetik, dan penurunan
penggunaan sumber energi) dapat menurunkan spesifikasi dan
sensitivitas pengukuran antropometri

9
c. Kesalahan

yang

terjadi

pada

saat

pengukuran

dapat

mempengaruhi presisi, akurasi, dan validitas pengukuran


antropometri gizi.
5. Jenis Parameter
Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan
dengan mengukur beberapa parameter. Parameter adalah ukuran
tunggal dari tubuh manusia, antara lain: umur, berat badan dan
tinggi badan (Supariasa, 2001).
a. Umur
Faktor umur sangat penting dalam penentuan status gizi.
Kesalahan penentuan umur akan menyebabkan interpretasi
status gizi menjadi salah. Hasil pengukuran tinggi badan dan
berat badan yang akurat, menjadi tidak berarti bila tidak disertai
dengan pengukuran umur yang tepat (Supariasa, 2001).
Menurut Puslitbang Gizi Bogor, batasan umur digunakan
adalah tahun umur penuh (completed year) dan untuk anak umur
0-2 tahun digunakan bulan usia penuh (completed month)
(Supariasa, 2001).
b. Berat badan
Berat badan merupakan ukuran antropometri yang
terpenting dan paling sering digunakan pada bayi baru lahir.
Pada masa bayi-balita berat badan dapat digunakan untuk
melihat laju pertumbuhan fisik maupun status gizi, kecuali
terdapat kelainan klinis, seperti dehidrasi, asites, edema dan
adanya tumor (Supariasa, 2001).
6. Indeks Antropometri
a. Berat badan menurut umur (BB/U)
Berat badan adalah salah satu parameter yang
memberikan gambaran massa tubuh. Massa tubuh sangat
sensitif

terhadap

perubahan-perubahan

yang

mendadak,

misalnya karena terserang penyakit infeksi, menurunnya nafsu


makan atau menurunnya jumlah makanan-makanan yang

10
dikonsumsi. Berat badan adalah parameter antropometri yang
sangat labil (Supariasa, 2001).
Sebaliknya dalam keadaan abnormal, terdapat 2
kemungkinan

perkembangan

berat

badan

yaitu

dapat

berkembang cepat atau lebih lambat dari keadaan normal


(Supariasa, 2001).
Berdasarkan karakteristik berat badan ini, maka indeks
berat badan menurut umur digunakan sebagai salah satu cara
pengukuran status gizi. Mengingat karakteristik berat badan
yang labil, maka indeks BB/U lebih menggambarkan status
gizi seseorang saat ini (Supariasa, 2001).
Berikut ini adalah daftar keuntungan dan kelebihan dari
indeks BB/U (Wijono, 2009):
Keuntungan BB/U :
a. Indikator yang baik untuk Kekurangan Energi Protein (KEP).
b. Sensitif terhadap perubahan gizi yang kecil.
c. Pengukuran objektif dan bila diulang memberikan hasil yang

sama.
d. Peralatan dapat dibawa kemana-mana dan relatif murah.
e. Pengukuran mudah dilaksanakan dan teliti.
f. Pengukuran tidak memakan waktu yang lama.

Kekurangan BB/U :
a. Tidak sensitif terhadap anak yang stunted (pendek) atau anak
yang terlalu tinggi tetapi kekurangan gizi.
b. Data umur kadang-kadang kurang dapat dipercaya, umur anak
kurang dari dua tahun, biasanya teliti dan bila ada kesalahan
mudah dikoreksi, sebaliknya sulit memperkirakan umur lebih
dari dua tahun.
c. Ibu-ibu di daerah tertentu mungkin kurang bisa menerima
anaknya di timbang dengan dacin, karena menggantung.

11
b.

Tinggi badan menurut umur (TB/U)


Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan
keadaan pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal, tinggi badan
tumbuh seiring dengan pertambahan umur. Pertumbuhan tinggi
badan tidak seperti berat badan, relatif kurang sensitif terhadap
masalah kekurangan gizi dalam waktu pendek. Pengaruh defisiensi
zat gizi terhadap tinggi badan akan nampak dalam waktu yang
relatif lama (Supariasa, 2001).
Berikut ini adalah daftar keuntungan dan kelebihan dari
indeks TB/U (Wijono, 2009) :
Keuntungan TB/U :
a. Merupakan indikator yang baik untuk mengetahui kekurangan
gizi pada waktu lampau.
b. Pengukuran objektif bila diulang memberikan hasil yang sama.
c. Peralatan dapat dibawa kemana-mana.
d. Ibu-ibu jarang merasa keberatan bila anaknya diukur.
e. Paling baik untuk anak berusia di atas dua tahun.
Kekurangan TB/U :
a. Dalam menilai hasil intervensi harus disertai indikator lain,
seperti BB/U, karena Panjang Badan (PB) tidak banyak terjadi
pada waktu yang singkat.
b. Membutuhkan beberapa teknik pengukuran seperti alat ukur
panjang badan untuk anak umur lebih dari dua tahun.
c. Lebih sulit dilakukan secara teliti oleh kader atau petugas yang
belum berpengalaman.
d. Memerlukan dua orang untuk mengukur anak.
e. Umur kadang-kadang sulit didapat secara pasti.

c.

Berat badan menurut tinggi badan (BB/TB)


Berat badan memiliki hubungan yang linier dengan tinggi
badan. Dalam keadaan normal, perkembangan berat badan akan
searah dengan pertumbuhan berat badan dengan kecepatan tertentu.

12
Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menilai status
gizi saat ini (Supariasa, 2001).
Kemampuan indeks BB/TB bila digunakan sendiri antara
lain (Wijono, 2009):
a. Banyaknya jumlah anak dengan nilai indeks BB/TB rendah atau
tidak seimbang atau kurus memberikan gambaran adanya masalah
gizi akut yang disebabkan oleh perubahan kondisi dalam waktu
singkat.
b. Indeks BB/TB dapat digunakan dalam pemilihan sasaran
(targeting) untuk tindakan segera, seperti pemeriksaan kesehatan,
pemberian makanan tambahan (PMT) pemulihan agar berat
badannya kembali seimbang dengan tinggi badannya atau juga
dalam bentuk tindakan untuk memperbaiki lingkungan yang
kurang sehat.
Berikut ini adalah daftar keuntungan dan kelebihan dari
indeks BB/TB (Wijono, 2009):
Keuntungan BB/TB :
a. Lebih baik untuk anak umur lebih dari dua tahun.
b. Merupakan indikator yang baik untuk mengetahui proporsi
tubuh yang normal, dan untuk membedakan anak kurus dan
gemuk.
c. Pengukuran objektif dan dapat memberi hasil yang sama bila
diulang pengukurannya.
Kekurangan BB/TB :
a. Memyebabkan estimasi yang rendah tentang Kekurangan
Energi Protein (KEP).
b. Memerlukan dua atau tiga alat pengukuran, lebih mahal dan
lebih sulit membawanya.
c. Memerlukan waktu lebih banyak dan petugas terlatih lebih
lama.
d. Memerlukan paling sedikit dua orang untuk mengukur anak.

13
Indeks BB/TB merupakan salah satu indeks yang paling
sensitif untuk menilai status gizi saat kini dan oleh sebab itu dipilih
menjadi indeks untuk memilih sasaran tindakan intervensi, seperti :
pemberian makanan tambahan pemulihan disertai pengobatan bila
diperlukan (Wijono, 2009).
Dari

berbagai

jenis

indeks

tersebut,

untuk

menginterpretasikan dibutuhkan ambang batas, penentuan ambang


batas diperlukan kesepakatan para ahli gizi. Ambang batas dapat
disajikan kedalam 3 cara yaitu persen terhadap median, persentil, dan
standar deviasi unit (Supariasa, 2001).
1. Persen Terhadap Median
Median adalah nilai tengah dari suatu populasi. Dalam
antropometri gizi median sama dengan persentil 50 (Supariasa,
2001).
Rumus persen terhadap median :
% Median =

nilai individu subjek

x 100 %

nilai median baku rujukan

Tabel 1. Status Gizi berdasarkan Indeks Antropometri


Status
Gizi

Indeks
BB/U

TB/U

BB/TB

Gizi Baik

>80 %

> 90 %

> 90 %

Gizi Sedang

71 % - 80 %

81 % - 90 %

81 % - 90 %

Gizi Kurang 61 % - 70 %

71 % - 80 %

71 % - 80 %

< 70 %

< 70 %

Gizi Buruk

< 60 %

2. Persentil
Para pakar merasa kurang puas dengan menggunakan persen
terhadap median, akhirnya memilih cara persentil. Persentil 50 sama
dengan median atau nilai tengah dari jumlah populasi berada
diatasnya dan setengahnya berada dibawahnya (Supariasa, 2001).
National

Center

for

Health

Statistics

(NCHS)

merekomendasikan persentil ke 5 sebagai batas gizi baik dan kurang,

14
serta persentil 95 sebagai batas gizi lebih dan gizi baik (Supariasa,
2001).
3. Standar deviasi Unit (SD)
Standar deviasi unit disebut juga Z-skor. WHO menyarankan
menggunakan cara ini untuk meneliti dan untuk memantau
pertumbuhan (Supariasa, 2001).
Rumus perhitungan Z skor adalah :
Z Skor =

nilai individu subjek nilai median baku rujukan


nilai simpang baku rujukan

Data baku WHO-NCHS indeks BB/U, TB/U dan BB/TB


disajikan dalan dua versi yakni persentil (persentile) dan skor
simpang baku (standard deviation score = z) (Supariasa, 2001).
Menurut Waterlow,et,al, gizi anak-anak dinegara-negara yang
populasinya relative baik (well-nourished), sebaiknya digunakan
persentil, sedangkan dinegara untuk anak-anak yang populasinya
relative kurang (under nourished) lebih baik menggunakan skor
simpang baku (SSB) sebagai persen terhadap median baku rujukan
(Supariasa, 2001).
Berikut ini adalah tabel Kategori Status Gizi Berdasarkan
Cara Perhitungan Z-Score (Wijono, 2009) :
Tabel 2. Klasifikasi Status Gizi dengan Indeks BB/U
Indeks BB/U
>2 SD
-2 SD s/d +2 SD
<-2 SD s/d -3 SD
<-3 SD

Klasifikasi
BB Lebih
BB Normal
BB Rendah
BB Sangat Rendah

Tabel 3. Klasifikasi Status Gizi dengan Indeks TB/U


Indeks TB/U
>2 SD
-2 SD s/d +2 SD
<-2 SD s/d -3 SD
<-3 SD

Klasifikasi
TB Jangkung
TB Normal
TB Pendek
TB Sangat Pendek

15
Tabel 4. Klasifikasi Status Gizi dengan Indeks BB/TB
Indeks BB/TB
>2 SD
-2 SD s/d +2 SD
<-2 SD s/d -3 SD
<-3 SD
b.

Klasifikasi
Gemuk
Normal
Kurus
Sangat kurus

Klinis
1.

Pengertian
Metode yang sangat penting untuk menilai status gizi
masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang
terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal ini dapat
dilihat pada jaringan epitel (superficial epithelial tissue) seperti kulit,
mata, rambut, dan mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat
dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid (Supariasa, 2001 &
Waryono, 2010).

2.

Penggunaan
Penggunaan metode ini umumnya untuk survei klinis secara
cepat (rapid clinical surveys) Survei ini dirancang untuk mendeteksi
secara tepat tanda-tanda klinis umum dari kekurangan salah satu atau
lebih zat gizi. Disamping digunakan untuk mengetahui tingkat status
gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan fisik yaitu tanda (sign)
dan gejala (symptom) atau riwayat penyakit (Supariasa, 2001 &
Waryono, 2010).

c.

Biokimia
1. Pengertian
Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan
spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai
macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain:
darah, urine, tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot
(Supariasa, 2001 & Waryono, 2010).
2. Penggunaan
Metode

ini

digunakan

untuk

suatu

peringatan

bahwa

kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi.

16
Banyak gejala klinis yang kurang spesifik, maka penentuan kimia faali
dapat lebih banyak menolong untuk menentukan kekurangan gizi yang
spesifik (Supariasa, 2001 & Waryono, 2010).
d.

Biofisik
1.

Pengertian
Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan
status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan
melihat perubahan dan struktur dari jaringan (Supariasa, 2001 &
Waryono, 2010).

2.

Penggunaan
Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti
kejadian buta senja epidemik (epidemic of night blindnes). Cara yang
digunakan adalah tes adaptasi gelap (Supariasa, 2001).

2.

Penilaian Status Gizi Secara Tidak Langsung


Penilaian status gizi secara tidak langsung dapat dibagi tiga yaitu :
survei konsumsi makanan, statistik vital dan faktor ekologi (Supariasa, 2001
& Waryono, 2010).
a. Survei Konsumsi
1.

Pengertian
Survei Konsumsi pangan adalah metode penentuan status gizi
secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan zat gizi yang
dikonsumsi (Supariasa, 2001 & Waryono, 2010).

2.

Penggunaan
Pengumpulan data konsumsi makanan dapat memberikan
gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat,
keluarga, dan individu. Survei ini dapat mengidentifikasi kelebihan
dan kekurangan zat gizi (Supariasa, 2001 & Waryono, 2010).

b. Statistik vital
1.

Pengertian
Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan
menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka

17
kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian akibat
penyakit tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi
(Supariasa, 2001 & Waryono, 2010).
2.

Penggunaan
Penggunaannya

dipertimbangkan

sebagai

bagian

dari

indikator tidak langsung pengukuran status gizi masyarakat


(Supariasa, 2001 & Waryono, 2010).
c. Faktor Ekologi
1.

Pengertian
Bengoa mengungkapkan bahwa malnutrisi merupakan
masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik,
biologis dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia
sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim, tanah, irigasi
dan lain-lain (Supariasa, 2001).

2.

Penggunaan
Pengukuran faktor ekologi dipandang sangat penting untuk
mengetahui penyebab malnutrisi di suatu masyarakat sebagai dasar
untuk melakukan program intervensi gizi (Supariasa, 2001).

c. Jumlah Zat Gizi Yang Dibutuhkan Tubuh


Angka Kecukupan Gizi (AKG) adalah jumlah zat-zat gizi yang
hendaknya dikonsumsi tiap hari untuk jangka waktu tertentu sebagai
bagian dari diet normal rata-rata orang sehat. Oleh sebab itu, perlu
dipertimbangkan setiap faktor yang berpengaruh terhadap absorpsi zatzat gizi atau efisiensi penggunaannya dalam tubuh. Untuk sebagian zat
gizi, sebagian dari kebutuhan mungkin dapat dipenuhi dengan
mengkonsumsi suatu zat yang di dalam tubuh kemudian

di ubah

menjadi zat gizi esensial (Almatsier, 2004).


Kurangnya pengetahuan, maka nilai AKG belum dapat
ditetapkan untuk semua zat gizi yang sudah diketahui. Akan tetapi,
AKG untuk zat-zat gizi yang sudah ditetapkan dapat dijadikan
pedoman, sehingga menu bervariasi yang memenuhi AKG untuk zat-zat

18
gizi tersebut diharapkan cukup pula dalam zat-zat gizi lainnya. Oleh
sebab itu, dianjurkan agar menu sehari-hari terdiri atas bahan pangan
bervariasi yang diperoleh dari berbagai golongan bahan pangan (bukan
dari suplementasi atau fortifikasi), dan supaya diperhitungkan pula
kemungkinan kehilangan zat-zat gizi selama pengolahan makanan. Di
Indonesia pola menu seimbang tergambar dalam menu makan 4 sehat 5
sempurna dan Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) (Almatsier,
2004).
Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi rata-rata yang dianjurkan
Oleh Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi ke IV (LIPI, 1988) adalah
sebagai berikut:
Tabel 5.
Kebutuhan Zat Gizi Balita Berdasarkan
Angka Kecukupan Gizi (AKG) rata-rata perhari

Golongan

Berat

Tinggi Energi Protein Lemak Vitamin Vitamin

Badan Badan (Kkal)

Umur

(g)

(g)

A (mg)

C (mg)

Balita

(Kg)

(cm)

0-6 bln

5.5

60

560

12

13

350

30

7-12 bln

8.5

71

800

15

19

350

35

1-3 thn

12

90

1250

23

28

350

40

4-6 thn

18

110

1750

32

39

460

45

d. Kebutuhan Gizi Berkaitan Dengan Proses Tubuh


Makanan sehari-hari yang dipilih dengan baik akan memberikan
semua zat gizi yang dibutuhkan untuk fungsi normal tubuh. Sebaliknya
bila makanan tidak dipilih dengan baik, tubuh akan mengalami
kekurangan zat-zat gizi esensial tertentu. Zat gizi esensial adalah zat
gizi yang harus diperoleh dari makanan. Bila dikelompokkan, ada tiga
fungsi zat gizi dalam tubuh, yaitu : sebagai sumber energi, sebagai zat
pembangun dan zat pengatur tubuh. Hal ini seperti tertera dalam
Pedoman Umum Gizi Seimbang (Almatsier, 2004).

19

e. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Gizi


(Supariasa, 2001). Status gizi balita pada dasarnya ditentukan oleh
dua hal yaitu : makanan yang dimakan dan keadaan kesehatan. Kualitas
dan kuantitas makanan seorang balita tergantung pada kandungan zat
gizi makanan tersebut, ada tidaknya pemberian makanan tambahan di
keluarga, daya beli keluarga dan karakteristik ibu tentang makanan dan
kesehatan. Keadaan kesehatan anak juga berhubungan dengan
karakteristik ibu terhadap makanan dan kesehatan, daya beli keluarga,
ada tidaknya penyakit infeksi dan jangkauan terhadap pelayanan
kesehatan
1. Asupan Zat Gizi
Defisiensi zat gizi yang paling berat dan meluas terutama di
kalangan anak-anak ialah akibat kekurangan zat gizi sebagai akibat
kekurangan konsumsi makanan dan hambatan mengabsorbsi zat gizi.
Zat energi digunakan oleh tubuh sebagai sumber tenaga yang tersedia
pada makanan yang mengandung karbohidrat, protein yang digunakan
oleh tubuh sebagai pembangun yang berfungsi memperbaiki sel-sel
tubuh. Kekurangan zat gizi pada anak disebabkan karena anak
mendapat makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan
badan anak atau adanya ketidakseimbangan antara konsumsi zat gizi
dan kebutuhan gizi dari segi kuantitatif maupun kualitatif (Sjahmien,
2003).
Faktor-faktor yang mempengaruhi asupan zat gizi yaitu :
1) Pendapatan keluarga
Daya beli keluarga sangat ditentukan oleh tingkat pendapatan
keluarga. Orang miskin biasanya akan membelanjakan sebagian besar
pendapatannya untuk makanan. Rendahnya pendapatan merupakan
rintangan yang menyebabkan orang orang tidak mampu membeli
pangan dalam jumlah yang dibutuhkan. Ada pula keluarga yang
sebenarnya mempunyai penghasilan cukup namun sebagian anaknya
berstatus kurang gizi (Suhardjo, 2003).

20
Pada umumnya tingkat pendapatan naik jumlah dan jenis
makanan cenderung untuk membaik tetapi mutu makanan tidak selalu
membaik. Anak-anak yang tumbuh dalam suatu keluarga miskin
paling rentan terhadap kurang gizi diantara seluruh anggota keluarga
dan anak yang paling kecil biasanya paling terpengaruh oleh
kekurangan pangan. Jumlah keluarga juga mempengaruhi keadaan gizi
(Suhardjo, 2003).
2) Karakteristik ibu
Status gizi yang dipengaruhi oleh masukan zat gizi secara tidak
langsung dipengaruhi oleh beberapa faktor. Diantaranya adalah
karakteristik

keluarga.

Karakteristik

keluarga

khususnya

ibu

berhubungan dengan tumbuh kembang anak. Ibu sebagai orang yang


terdekat dengan lingkungan asuhan anak ikut berperan dalam proses
tumbuh kembang anak melalui zat gizi makanan yang diberikan.
Karakteristik ibu ikut menentukan keadaan gizi anak (Suhardjo, 2003).
a. Faktor Karakteristik Ibu
1. Pengetahuan Gizi Ibu
Gizi kurang banyak menimpa anak balita sehingga golongan
anak ini disebut golongan rawan. Masa peralian antara saat disapih
dan mengikuti pola makan orang dewasa atau bukan anak,
merupakan masa rawan karena ibu atau pengasuh anak mengikuti
kebiasaan yang keliru. Penyuluhan gizi dengan bukti-bukti perbaikan
gizi pada anak dapat memperbaiki sikap ibu yang kurang
menguntungkan pertumbuhan anak (Suhardjo, 2003).
Pengetahuan gizi dapat diperoleh melalui pengalaman, media
masa, pengaruh kebudayaan, pendidikan baik formal atau informal
(Suhardjo, 2003).
Pengetahuan gizi dipengaruhi oleh beberapa faktor, disamping
pendidikan yang pernah dijalani, faktor lingkungan sosial dan
frekuensi

kontak

dengan

media

masa

juga

mempengaruhi

pengetahuan gizi. Salah satu penyebab terjadinya gangguan gizi


adalah kurangnya pengetahuan gizi atau kemampuan untuk

21
menerapkan informasi tentang gizi dalam kehidupan sehari-hari
(Suhardjo, 2003).
Tingkat pengetahuan gizi seseorang besar pengaruhnya bagi
perubahan sikap dan perilaku di dalam pemilihan bahan makanan,
yang selanjutnya akan berpengaruh pula pada keadaan gizi individu
yang bersangkutan. Keadaan gizi yang rendah disuatu daerah akan
menentukan tingginya angka kurang gizi secara nasional (Suhardjo,
2003).
Tingkat pengetahuan gizi ibu sebagai pengelola rumah tangga
akan berpengaruh pada macam bahan makanan yang dikonsumsinya.
Adapun tingkat pengetahuan ibu dalam pemberian makanan adalah
sebagai berikut :
a. Ketidaktahuan akan hubungan makanan dan kesehatan.
Dalam

kehidupan sehari-hari terlihat keluarga

yang

sungguhpun berpenghasilan cukup akan tetapi makanan yang


disajikan seadanya saja. Dengan demikian, kejadian gangguan gizi
tidak hanya ditemukan pada keluarga yang berpenghasilan kurang
akan tetapi juga pada keluarga yang berpenghasilan relatif baik
(cukup). Keadaan ini menunjukkan bahwa ketidaktahuan akan
faedah makanan bagi kesehatan tubuh merupakan sebab buruknya
mutu gizi makanan keluarga, khususnya makanan balita (Sjahmien,
2003).
b. Kebiasaan atau pantangan makanan yang merugikan
Kebudayaan akan mempengaruhi orang dalam memilih
makanan dan kebudayaan suatu daerah akan menimbulkan adanya
kebiasaan dalam memilih makanan. Sehubungan dengan pangan
yang biasanya dipandang pantas untuk dimakan, dijumpai banyak
pantangan, dan larangan pada beragam kebudayaan dan daerah
yang berlainan. Bila pola pantangan berlaku bagi seluruh penduduk
sepanjang hidupnya, kekurangan zat gizi cenderung tidak akan
berkembang seperti jika pantangan itu berlaku bagi sekelompok
masyarakat tertentu selama satu tahap dalam siklus hidupnya.

22
Kalau pantangan itu hanya dilakukan oleh sebagian penduduk
tertentu, kemungkinan lebih besar kekurangan gizi akan timbul
(Sjahmien, 2003).
c. Kesukaan terhadap jenis pangan tertentu.
Mengembangkan kebiasaan pangan, mempelajari cara
berhubungan dengan konsumsi pangan dan menerima atau
menolak bentuk atau jenis pangan tertentu, dimulai dari permulaan
hidupnya dan menjadi bagian dari perilaku yang berakar diantara
kelompok penduduk. Dimulai sejak dilahirkan sampai beberapa
tahun makanan anak-anak tergantung pada orang lain. Balita akan
menyukai makanan dari makanan yang dikonsumsi orang tuanya.
Dimana makanan yang disukai orang tuanya akan diberikan kepada
anak balitanya (Sjahmien, 2003).
Dari kebiasaan makan inilah akan menyebabkan kesukaan
terhadap makanan. Tetapi kesukaan yang berlebihan terhadap suatu
jenis makanan tertentu atau disebut sebagai faddisme makanan
akan mengakibatkan kurang bervariasinya makanan dan akan
mengakibatkan tubuh tidak memperoleh semua zat gizi yang
diperlukan (Sjahmien, 2003).
2. Keadaan kesehatan
Keadaan kesehatan berhubungan dengan tingkat kesehatan atau
ada tidaknya penyakit infeksi yang umumnya saluran infeksi pernafasan
dan saluran pencernaan (Supariasa, 2001).
Faktor-faktor yang mempengaruhi keadaan kesehatan yaitu :
1) Penyakit infeksi
Penyakit infeksi dapat bertindak sebagai pemula terjadinya gizi
kurang sebagai akibat menurunnya nafsu makan, adanya gangguan
penyerapan dalam saluran pencernaan atau peningkatan kebutuhan zat
gizi oleh adanya penyakit. Masa bayi dan balita sangat rentan terhadap
penyakit. Jaringan tubuh pada bayi dan balita belum sempurna dalam
upaya membentuk pertahanan tubuh seperti halnya orang dewasa.
Umumnya penyakit yang menyerang anak bersifat akut artinya

23
penyakit menyerang secara mendadak dan gejala timbul dengan cepat.
Infeksi bisa berhubungan dengan gangguan gizi melalui beberapa cara
yaitu mempengaruhi nafsu makan sehingga kebutuhan zat gizinya
tidak terpenuhi. Secara umum defisiensi gizi sering merupakan awal
dari gangguan defisiensi sistem kekebalan (Supariasa, 2001).
Kaitan penyakit infeksi dengan keadaan gizi kurang merupakan
hubungan timbal balik dan sebab akibat. Penyakit infeksi dapat
memperburuk keadaan gizi dan keadaan gizi yang kurang dapat
mempermudah seseorang terkena penyakit infeksi (Supariasa, 2001).
2) Pelayanan kesehatan
Pelayanan kesehatan merupakan akses atau keterjangkauan anak
dan keluarga terhadap upaya pencegahan penyakit dan pemeliharaan
kesehatan

seperti

imunisasi,

penimbangan

anak,

penyuluhan

kesehatan, dan gizi serta sarana kesehatan yang baik seperti posyandu,
puskesmas, dan rumah sakit (Irianton, 2003).
Upaya pelayanan kesehatan diarahkan kepada peningkatan
kesehatan dan status gizi anak sehingga terhindar dari kematian dini
dan mutu fisik yang rendah (Irianton, 2003).
Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2003
bahwa peran pelayanan kesehatan telah lama diadakan untuk
memperbaiki status gizi. Pelayanan kesehatan berpengaruh terhadap
kesehatan dengan adanya penanganan yang cepat terhadap masalah
kesehatan terutama masalah gizi. Pelayanan yang selalu siap dan
dekat dengan masyarakat akan sangat membantu dalam meningkatkan
derajat kesehatan.

24
Bagan 1
Faktor yang Mempengaruhi Status Gizi Balita
STATUS GIZI BALITA

Asupan Makanan

Ketahanan Pangan
Rumah Tangga

Penyakit Infeksi

Perawatan Ibu
Terhadap Balita

Pelayanan
Kesehatan

Kemiskinan
Pendidikan Kurang

II.1.2. Konsep Dasar Gizi Seimbang


Gizi berasal dari bahasa arab Al Gizzai yang artinya makanan
dan manfaatnya untuk kesehatan. Al Gizzai juga dapat diartikan sari
makanan yang bermanfaat untuk kesehatan. Ilmu Gizi adalah ilmu yang
mempelajari cara memberikan makanan yang sebaik-baiknya agar tubuh
selalu dalam kesehatan yang optimal (Depkes RI, 2002).
Untuk hidup dan meningkatkan kualitas hidup, setiap orang
memerlukan 5 kelompok zat gizi (karbohidrat , protein, lemak, vitamin
dan mineral) dalam jumlah cukup, tidak berlebihan dan tidak juga
kekurangan. Di samping itu, manusia memerlukan air dan serat untuk
memperlancar berbagai proses faali dalam tubuh. Apabila kelompok zat
gizi tersebut diuraikan lebih rinci, maka terdapat lebih dari 45 jenis zat gizi
(Depkes RI, 2002).
Apabila konsumsi makanan sehari-hari kurang beranekaragam,
maka akan timbul ketidakseimbangan antara masukan dan kebutuhan zat

25
gizi yang diperlukan untuk hidup sehat dan produktif. Dengan
mengonsumsi makanan sehari-hari yang beranekaragam, kekurangan zat
gizi pada jenis makanan yang satu akan dilengkapi oleh keunggulan
susunan zat gizi jenis makanan lain, sehingga diperoleh masukan zat gizi
yang seimbang (Depkes RI, 2002).
Untuk mencapai masukan zat gizi yang seimbang tidak mungkin
dipenuhi hanya oleh satu jenis bahan makanan, melainkan harus terdiri
dari aneka ragam bahan makanan. Peranan berbagai kelompok bahan
makanan secara jelas tergambar dalam logo gizi seimbang yang berbentuk
kerucut. Dalam logo tersebut bahan makanan dikelompokkan berdasarkan
fungsi utama zat gizi yang dalam ilmu gizi dipopulerkan dengan istilah
Tri Guna Makanan (Depkes RI, 2002).

Gambar 1. Pedoman Umum Gizi Seimbang


http://medicastore.com/images/clip_image004_smnr.jpg

26
Pertama, sumber zat tenaga yaitu padi-padian dan umbi-umbian
serta tepung-tepungan yang digambarkan di dasar kerucut. Kedua, sumber
zat pengatur yaitu sayuran dan buah digambarkan pada bagian tengah
kerucut. Ketiga, sumber zat pembangun, yaitu kacang-kacangan, makanan
hewani dan hasil olahan, digambarkan pada bagian atas kerucut (Depkes
RI, 2002).
II.1.3. 12 Pesan Dasar Gizi Seimbang
Upaya menanggulangi masalah gizi ganda, yakni gizi kurang dari
gizi lebih, adalah membiasakan mengonsumsi hidangan sehari-hari dengan
susunan zat gizi yang seimbang. Untuk maksud tersebut, ada 12 Pesan
Dasar Gizi Seimbang yang perlu diikuti (Depkes RI, 2002).
a. Makan Aneka Ragam Makanan
Tiada ada satu pun jenis makanan yang mengandung semua zat
gizi, yang mampu membuat seseorang untuk hidup sehat, tumbuh
kembang dan produktif. Oleh karena itu, setiap orang perlu
mengkonsumsi anekaragam makanan; kecuali bayi umur 0-4 bulan
yang cukup mengkonsumsi Air Susu Ibu (ASI) saja (Depkes RI, 2002).
Makan makanan yang beranekaragam sangat bermanfaat bagi
kesehatan.

Makanan yang beraneka ragam yaitu makanan yang

mengandung unsur-unsur zat gizi yang diperlukan tubuh baik kualitas


maupun kuantintasnya, dalam pelajaran ilmu gizi biasa disebut triguna
makanan yaitu, makanan yang mengandung zat tenaga, pembangun dan
zat pengatur. Apabila terjadi kekurangan atas kelengkapan salah satu zat
gizi tertentu pada satu jenis makanan, akan dilengkapi oleh zat gizi
serupa dari makanan yang lain. Jadi makan makanan yang beraneka
ragam akan menjamin terpenuhinya kecukupan sumber zat tenaga, zat
pembangun dan zat pengatur (Depkes RI, 2002).
Makanan sumber zat tenaga antara lain: beras, jagung, gandum, ubi
kayu, ubi jalar, kentang, sagu, roti dan mi. Minyak, margarin dan santan
yang mengandung lemak juga dapat menghasilkan tenaga. Makanan

27
sumber zat tenaga menunjang aktivitas sehari-hari (Almatsier, 2004 &
Depkes RI, 2002).
Makanan sumber zat pembangun yang berasal dari bahan makanan
nabati adalah kacang-kacangan, tempe, tahu. Sedangkan yang berasal
dari hewan adalah telur, ikan, ayam, daging, susu serta hasil olahan,
seperti

keju.

Zat pembangun berperan sangat

penting untuk

pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan seseorang (Almatsier,


2004 & Depkes RI, 2002).
Makanan sumber zat pengatur adalah semua sayur-sayuran dan
buah-buahan. Makanan ini mengandung berbagai vitamin dan mineral,
yang berperan untuk melancarkan bekerjanya fungsi organ-organ tubuh
(Almatsier, 2004 & Depkes RI, 2002).
Sebagai kesimpulan, untuk mencapai masukan gizi yang lengkap
dan seimbang, seseorang perlu mengkonsumsi aneka ragam jenis bahan
makanan.

mengkonsumsi hanya satu jenis makanan dalam jangka

waktu relatif lama, dapat menderita berbagai penyakit kekurangan zat


gizi atau gangguan kesehatan (Depkes RI, 2007).
b. Makan Makanan Untuk Memenuhi Kecukupan Energi
Setiap orang dianjurkan makan makanan yang cukup mengandung
energi, agar dapat hidup dan melaksanakan kegiatan sehari-hari, seperti
bekerja, belajar, berolah raga, berekreasi, kegiatan sosial, dan kegiatan
yang lain. Kebutuhan energi dapat dipenuhi dengan mengkonsumsi
makanan sumber karbohidrat, protein dan lemak. Kecukupan masukan
energi bagi seseorang ditandai oleh berat badan yang normal (Depkes
RI, 2007).
Cara

mengetahui

berat

badan

normal,

seseorang

dapat

menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk anak balita, anak usia
sekolah, dan kelompok usia lanjut. Bagi orang dewasa di luar golongan
tersebut di atas, digunakan Indeks Massa Tubuh (IMT) (Depkes RI,
2007).

28
Kekurangan energi yang berlangsung lama pada seseorang akan
mengakibatkan penurunan berat badan dan kekurangan zat gizi lain.
Penurunan berat badan yang berlanjut akan menyebabkan keadaan gizi
kurang. Keadaan gizi kurang akan membawa akibat terhambatnya proses
tumbuh kembang pada anak. Dampaknya pada saat anak mencapai usia
dewasa, tinggi badannya tidak mencapai ukuran normal dan kurang
tangguh. Selain itu, anak mudah terkena penyakit infeksi (Depkes RI,
2007).
c. Pilih Makanan Berkadar Lemak Sedang Dan Rendah Lemak
Jenuh
Lemak dan minyak yang terdapat di dalam makanan berguna untuk
meningkatkan jumlah energi, membantu penyerapan vitamin-vitamin A,
D, E, dan K, serta menambah lezatnya hidangan (Depkes RI, 2007).
Makanan yang mengandung asam lemak tak jenuh ganda dan tak
jenuh tunggal umumnya berasal dari makanan nabati, kecuali minyak
kelapa. Makanan sumber asam lemak jenuh umumnya berasal dari
hewani (Almatsier, 2004 & Depkes RI, 2002).
Konsumsi lemak dan minyak dalam makanan sehari-hari sebaiknya
15 25 % dari kebutuhan energi. Jika seseorang mengkonsumsi lemak
dan minyak secara berlebihan akan mengurangi konsumsi makanan
lain. Akibatnya, kebutuhan zat gizi yang lain tidak terpenuhi (Depkes
RI, 2007).
d. Gunakan Garam Beryodium
Garam beryodium adalah garam yang telah diperkaya dengan
KIO3 (kalium iodat) sebanyak 30-80 ppm. Sesuai Keppres No. 69
tahun 1994, semua garam yang beredar di Indonesia harus mengandung
yodium. Kebijaksanaan ini berkaitan erat dengan masih tingginya
kejadian gangguan kesehatan akibat kekurangan yodium (GAKY) di
Indonesia.
GAKY (Gangguan Akibat Kekurangan Yodium) merupakan
masalah gizi yang serius, karena dapat menyebabkan penyakit gondok
dan kretin. Kekurangan unsur yodium dalam makanan sehari-hari,

29
dapat pula menurunkan tingkat kecerdasan seseorang. Indonesia saat ini
diperkirakan kehilangan 140 juta I.Q point akibat GAKY (Almatsier,
2004 & Depkes RI, 2002).
Anak sekolah yang menderita GAKY biasanya memerlukan waktu
yang relatif lebih lama untuk menyelesaikan tingkat pendidikan formal
tertentu. Bahkan mereka yang menderita GAKY tingkat berat (kretin,
kretinoid) tidak mampu menyerap pelajaran pendidikan dasar (Depkes
RI, 2002).
e. Makan Makanan Sumber Zat Besi
Zat besi adalah salah satu unsur penting dalam proses
pembentukan sel darah merah. Zat besi secara alamiah diperoleh dari
makanan. Kekurangan zat besi dalam makanan sehari-hari secara
berkelanjutan dapat menimbulkan penyakit anemia gizi atau yang
dikenal masyarakat sebagai penyakit kurang darah (Almatsier, 2004 &
Depkes RI, 2002).
Sumber utama Fe adalah bahan pangan hewani dan kacangkacangan serta sayuran berwarna hijau tua. Kesulitan utama untuk
memenuhi kebutuhan Fe adalah rendahnya tingkat penyerapan Fe di
dalam tubuh, terutama sumber Fe nabati yang hanya diserap 1-2%.
Sedangkan tingkat penyerapan Fe makanan asal hewani

dapat

mencapai 10-20%. Ini berarti bahwa Fe pangan asal hewani (heme)


lebih mudah diserap daripada Fe pangan asal nabati (non heme)
(Depkes RI, 2002).
Manfaat dari mengkonsumsi makanan sumber zat besi adalah
terpenuhinya kecukupan vitamin A, karena makanan sumber zat besi
biasanya juga merupakan sumber vitamin A. Anemia sedang dan ringan
dapat menimbulkan gejala lesu, lelah, pusing, pucat dan penglihatan
sering berkunang-kunang.13 Bila terjadi pada anak sekolah, anemia gizi
akan mengurangi kemampuan belajar. Sedangkan pada orang dewasa
akan menurunkan produktivitas kerja. Disamping itu, penderita anemia
lebih mudah terserang infeksi. Hal ini tentunya sangat menghambat
upaya pengembangan kualitas sumber daya manusia (Depkes RI, 2002).

30
f. Memberikan Asi Saja Pada Bayi Sampai Umur 4 Bulan dan
Menambahkan MP-ASI Sesudahnya
Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan terbaik untuk bayi. Tidak ada
satu pun makanan lain yang dapat menggantikan ASI, karena ASI
mempunyai kelebihan yang meliputi 3 aspek, yaitu: aspek gizi, aspek
kekebalan dan aspek kejiwaan, berupa jalinan kasih sayang yang
penting untuk perkembangan mental dan kecerdasan anak (Depkes RI,
2002).
ASI Eksklusif yaitu kondisi bayi hanya diberi air susu ibu saja
tanpa tambahan cairan lain atau makanan lain. MP-ASI adalah makanan
atau minuman yang mengandung gizi yang diberikan kepada bayi/anak
untuk memenuhi kebutuhan gizinya setelah umur 4 bulan. Pada umur 46 bulan (masa transisi), bayi terus minum ASI dan mulai diperkenalkan
dengan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) MP-ASI berbentuk lumat
atau setengah cair. Pemberian ASI harus didahulukan sebelum MP-ASI.
Porsi makanan anak 12 bulan kira-kira separuh dari porsi orang dewasa
(Depkes RI, 2002).
g. Membiasakan Makan Pagi
Makan pagi atau sarapan sangat bermanfaat bagi setiap orang. Bagi
anak sekolah, makan pagi dapat meningkatkan konsentrasi belajar dan
memudahkan menyerap pelajaran, sehingga prestasi belajar menjadi
lebih baik (Depkes RI, 2002).
Beberapa cara membiasakan anak dapat selalu makan pagi adalah
sebagai berikut (Depkes RI, 2002) :

Anak-anak perlu dibiasakan bangun lebih pagi, agar tersedia waktu


yang cukup untuk makan pagi.

Para orang tua hendaknya memberi contoh yang baik, yaitu


membiasakan makan pagi.

Pada saat makan pagi, sebaiknya anak ditemani oleh salah seorang
anggota keluarga.

31

Orang tua dan guru hendaknya tidak bosan mengingatkan anak


untuk selalu makan pagi, dan memberi penjelasan mengenai
manfaat makan pagi.
Kebiasaan makan pagi juga membantu seseorang untuk

memenuhi kecukupan gizinya sehari-hari. Jenis hidangan untuk makan


pagi dapat dipilih dan disusun sesuai dengan keadaan. Namun akan
lebih baik bila terdiri dari makanan sumber zat tenaga, sumber zat
pembangun dan sumber zat pengatur (Depkes RI, 2002).
Seseorang yang tidak makan pagi memiliki risiko menderita
gangguan kesehatan berupa menurunnya kadar gula darah dengan
tanda-tanda antara lain : lemah, keluar keringat dingin, kesadaran
menurun bahkan pingsan. Bagi anak sekolah, kondisi ini menyebabkan
merosotnya konsentrasi belajar yang mengakibatkan menurunnya
prestasi belajar (Depkes RI, 2002).
h. Minum Air Bersih, Aman yang Cukup Jumlahnya
Air minum harus bersih dan aman. Aman berarti bersih dan bebas
kuman. Untuk mendapat-kannya, air minum harus dididihkan terlebih
dahulu (Depkes RI, 2002).
Fungsi air dalam tubuh adalah (Almatsier, 2004 & Depkes RI, 2002) :
melancarkan transportasi zat gizi dalam tubuh
mengatur keseimbangan cairan dan garam mineral dalam tubuh
mengatur suhu tubuh
melancarkan dalam proses buang air besar dan kecil.
Untuk memenuhi fungsi tersebut di atas, cairan yang dikonsumsi
seseorang, terutama air minum, sekurang-kurangnya dua liter atau setara
dengan delapan gelas setiap hari (Depkes RI, 2002).
i.

Melakukan Aktivitas Fisik dan Secara Teratur


Aktivitas fisik bermanfaat bagi setiap orang. Karena dapat
meningkatkan kebugaran, mencegah kelebihan berat badan, meningkatkan
fungsi jantung, paru dan otot serta memperlambat proses penuaan (Depkes
RI, 2002).

32
Seseorang yang sehat dapat melakukan aktivitas fisik setiap hari
tanpa kelelahan yang berarti. Olah raga harus dilakukan secara teratur.
Macam dan takaran olah raga berbeda menurut usia, jenis kelamin, jenis
pekerjaan dan kondisi kesehatan (Depkes RI, 2002).
j. Menghindari Minum Minuman Beralkohol
Alkohol hanya mengandung energi, tetapi tidak mengandung zat
gizi lain. Kebiasaan minum minuman beralkohol dapat mengakibatkan
(Depkes RI, 2002) :
1.

terhambatnya proses penyerapan zat gizi,

2.

hilangnya zat-zat gizi yang penting, meskipun orang tersebut


mengkonsumsi makanan bergizi dalam jumlah yang cukup,

3.

kurang gizi,

4.

penyakit gangguan hati,

5.

kerusakan saraf otak dan jaringan

k. Makan Makanan yang Aman Bagi Kesehatan


Selain harus bergizi lengkap dan seimbang, makanan harus juga
layak konsumsi, sehingga aman bagi kesehatan. Makanan yang aman
adalah makanan yang bebas dari kuman dan bahan kimia berbahaya, serta
tidak bertentangan dengan keyakinan masyarakat. Makanan yang tidak
bertentangan dengan keyakinan atau norma agama dikenal dengan istilah
halal (Depkes RI, 2002).
Tanda-tanda umum bagi makanan yang tidak aman bagi kesehatan
antara lain: berlendir, berjamur, aroma dan rasa atau warna makanan
berubah. Khusus untuk makanan olahan pabrik, bila melewati tanggal
kadaluwarsa, atau terjadi karat/kerusakan pada kemasan, makanan kaleng
tersebut harus segera dimusnahkan. Tanda lain dari makanan yang tidak
memenuhi syarat aman, adalah bila dalam pengolahannya ditambahkan
bahan tambahan berbahaya, seperti asam borax/bleng, formalin, zat
pewarna rhodamin B dan methanil yellow, seperti banyak dijumpai pada
makanan jajanan pasar (Depkes RI, 2002).

33
l.

Membaca Label pada Makanan yang Dikemas


Label pada makanan yang dikemas adalah keterangan tentang isi,
jenis dan ukuran bahan-bahan yang digunakan, susunan zat gizi, tanggal
kedaluwarsa dan keterangan penting lain (Depkes RI, 2002).
Peraturan perundang-undangan menetapkan, bahwa setiap produk
makanan yang dikemas harus mencantumkan keterangan pada label.
Semua keterangan yang rinci pada label makanan yang dikemas sangat
membantu konsumen pada saat memilih dan menggunakan makanan
tersebut, sesuai kebutuhan gizi dan keadaan kesehatan konsumen (Depkes
RI, 2002).
Beberapa singkatan yang lazim digunakan dalam label antara lain
(Depkes RI, 2002) :

MD

makanan yang dibuat di dalam negeri

ML

makanan luar negeri (import)

Exp

tanggal kedaluwarsa, artinya batas waktu makanan


tersebut masih layak dikonsumsi. Sesudah tanggal
tersebut, makanan tidak layak dikonsumsi.

SNI

Standar Nasional Indonesia, yakni keterangan


bahwa mutu makanan telah sesuai dengan
persyaratan.

SP

Sertifikat Penyuluhan.

II.1.4. Makanan Balita Umur 3-4 tahun


Banyak orang tua yang menyadari bahwa balita seharusnya
mengkonsumsi makanan yang bergizi. Masalah yang di hadapi adalah
orangtua yang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing, sehingga
tidak tahu dimana dan bagaimana memulai untuk memonitor
kebutuhan gizi balita. Ketika kebiasaan mengkonsumsi makanan tak
sehat mulai tertanam, maka nanti akan sulit untuk diubah. Saat balita
gelisah, capek, atau bosan, mereka pasti akan mengambil makanan
kecil (camilan), dan biasanya banyak orang tua yang menyerah, karena
mereka lebih mementingkan agar balitanya makan dan akhirnya
pertimbangan nutrisi pun tidak dipikirkan (Waryono, 2010).

34
Balita usia 3-4 tahun mulai fase negatifistik yaitu mulai makan
karena menunjukkan keakuan-nya. Makanan selalu ditolak, maka ibu
harus menyajikan makanan semenarik mungkin. Terkadang, anak tidak
lapar karena banyak makan makanan selingan. Anak usia 3-4 tahun
atau sekitar 4 tahun, sering mengalami penurunan nafsu makan, karena
mereka lebih menikmati untuk bermain (Waryono, 2010).
II.1.5. Hubungan Antara Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Ibu dengan
Status Gizi Balita
Pengetahuan gizi dan kesehatan merupakan salah satu faktor
penting dan harus dimiliki oleh ibu sebagai orang yang mempunyai
peranan besar dalam menentukan konsumsi makanan anak balita.
Pengetahuan gizi ibu dan kesehatan memang merupakan salah satu
faktor penentu konsumsi makanan, disamping pendapatan, keterkaitan
bahan pangan, adat istiadat dan sebagainya. Pengetahuan gizi yang
baik akan menyebabkan seseorang mampu menyusun menu yang baik
untuk dikonsumsi. Semakin banyak pengetahuan gizi seseorang ia
akan semakin memperhitungkan jenis dan jumlah makanan untuk
dikonsumsi (Muctadi, 2006).
Kurangnya pengetahuan dan salah konsepsi tentang kebutuhan
pangan dan nilai pangan adalah umum dijumpai setiap negara di dunia.
Kemiskinan dan kekurangan persediaan pangan yang bergizi
merupakan faktor penting dalam masalah gizi. Penyebab lain yang
penting dari gangguan gizi adalah pengetahuan tentang gizi dan
mengetahui kemampuan untuk menerapkan informasi tersebut dalam
kehidupan sehari-hari (Muctadi, 2006).
Pengetahuan gizi ibu merupakan salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi konsumsi pangan. Ibu yang cukup pengetahuan gizinya
akan dapat memperhitungkan kebutuhan gizi anak balitanya agar dapat
tumbuh dan berkembang secara optimal. Selain itu pengetahuan yang
dimiliki ibu akan berpengaruh terhadap jenis dan jumlah makanan
yang dikonsumsi anaknya.

35
Rendahnya pengetahuan dan pendidikan dasar ibu merupakan
faktor penyebab mendasar terpenting karena sangat mempengaruhi
tingkat kemampuan individu, keluarga dan masyarakat dalam
mengelola sumber daya yang ada untuk mendapatkan kecukupan serta
sejauhmana

sarana

pelayanan

kesehatan

yang

tersedia

dapat

dimanfaatkan sebaiknya (Waryono, 2010).


II.1.6. Pengetahuan, Sikap dan Perilaku
Masalah

kesehatan

masyarakat,

terutama

di negara-negara

berkembang pada dasarnya menyangkut dua aspek utama, yaitu fisik,


seperti misalnya tersedianya sarana kesehatan dan pengobatan penyakit,
dan non-fisik yang menyangkut perilaku kesehatan. Faktor perilaku ini
mempunyai pengaruh yang besar terhadap status kesehatan individu
maupun masyarakat (Notoatmodjo, 2007).
a.

Pengetahuan

1.

Definisi
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah
orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu.
Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indra
penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba (Notoatmodjo,
2007).

2.

Proses Adopsi Perilaku


Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang
mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), dalam diri orang
tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni (Notoatmodjo, 2007) :
a. Awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam
arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek)
b. Interest ( merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut. Di
sini sikap subjek sudah mulai terbentuk
c. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya
stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden
sudah lebih baik lagi

36
d. Trial, dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai
dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus
e. Adoption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan
pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus
3.

Tingkat pengetahuan
Pengetahuan yang dicakup mempunyai 6 tingkat, yakni :
a. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah
dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini
adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik
dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang sudah
diterima. Oleh sebab itu, tahu ini merupakan tingkat
pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur
bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain
menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan
sebagainya (Notoatmodjo, 2007).
b. Memahami (comprehension)
Memahami

diartikan

sebagai

suatu

kemampuan

menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat


menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Seseorang yang
telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan,
menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya
terhadap objek yang dipelajari (Notoatmodjo, 2007).
c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunaka
materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya.
Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukumhukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau
situasi yang lain (Notoatmodjo, 2007).
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan
materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi

37
masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada
kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisa ini dapat dilihat dari
penggunaan kata-kata kerja : dapat menggambarkan (membuat
bagan),

membedakan,

memisahkan,

mengelompokan

dan

sebagainya (Notoatmodjo, 2007).


e. Sintesis (synthesis)
Sintesis

menunjuk

pada

suatu

kemampuan

untuk

meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu


bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu
kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasiformulasi yang sudah ada. Kemampuan ini misalnya : dapat
menyusun,

dapat

merencanakan,

dapat

meringkaskan,

dapatmenyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau


rumusan-rumusan yang telah ada (Notoatmodjo, 2007).
f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi

ini

berkaitan

dengan

kemampuan

untuk

melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau


objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang
ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah
ada (Notoatmodjo, 2007).
Pengukuran

pengetahuan

dapat

dilakukan

dengan

wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang


ingin diukur dari subjek penelitian atau responden (Notoatmodjo,
2007).
b. Sikap (Attitude)
1. Definisi
Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih
tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Dari berbagai batasan
tentang sikap dapat disimpulkan bahwa manifestasi sikap itu tidak
dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu
dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi

38
adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu (Notoatmodjo,
2007).
Newcomb salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan
bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak,
dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu. Sikap belum
merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi merupakan
predisposisi tindakan atau perilaku.
Menurut

Notoatmodjo,

menjelaskan

bahwa

sikap

itu

mempunyai 3 komponen pokok, yakni:


a. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek
b. Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek
c. Kecendrungan untuk bertindak
Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap
yang utuh (total attitude). Dalam penentuan sikap ini, pengetahuan,
berfikir, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting. Suatu
contoh misalnya, seorang ibu telah mendengar penyakit polio
(penyebabnya,

akibatnya,

pencegahannya,

dan

sebagainya).

Pengetahuan ini akan membawa ibu untuk berfikir dan berusaha supaya
anaknya tidak terkena polio. Dalam berfikir ini komponen emosi dan
keyakinan

ikut

bekerja

sehingga

ibu

tersebut

berniat

akan

mengimunisasikan anaknya untuk mencegah anaknya terkena polio


(Notoatmodjo, 2007).
2. Tingkat Sikap
Seperti halnya pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai
tingkatan, yakni (Notoatmodjo, 2007) :
a. Menerima (Receiving)
Subjek mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan objek
b. Merespon (Responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya serta mengerjakan dan
menyelesaikan tugas yang diberikan. Lepas jawaban dan pekerjaan
itu benar atau salah adalah berarti orang menerima ide tersebut.
c. Menghargai (Valuing)

39
d. Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan
terhadap suatu masalah
e. Bertanggung jawab (Responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya
merupakan tingkat sikap yang paling tinggi.
3. Pengukuran Sikap
Pengukuran sikap dilakukan secara langsung dan tidak
langsung. Secara langsung dapat ditanyakan bagaiamana pendapat atau
pernyataan responden terhadap suatu objek. Secara tidak langsung
dapat dilakukan dengan pernyataan-pernyataan hipotesis, kemudian
ditanyakan pendapat responden (sangat setuju, setuju, tidak setuju,
sangat tidak setuju) (Notoatmodjo, 2007).
c.

Perilaku

1. Definisi
Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan.
Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbedaan nyata diperlukan
faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain
fasilitas dan dukungan (Notoatmodjo, 2007).
2. Tingkat perilaku
Perilaku memiliki tingkatan, antara lain (Notoatmodjo, 2007) :
a. Persepsi (perception)
Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan
tindakan yang akan diambil merupakan praktik tingkat pertama.
b. Respon terpimpin (guided respon)
Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar sesuai
dengan contoh adalah indikator praktik tingkat dua.
c. Mekanisme (mechanism)
Apabila seseorang telah melakukan sesuatu dengan benar secara
otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan maka ia
sudah mencapai praktik tingkat tiga.

40
d. Adaptasi (adaptation)
Adaptasi adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah
berkembang dengan baik.
3. Pengukuran perilaku
Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara tidak langsung
yakni dengan wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah
dilakukan beberapa jam, hari, atau bulan yang lalu (recall). Pengukuran
juga dapat dilakukan secara langsung, yakni dengan mengobservasi
tindakan atau kegiatan responden (Notoatmodjo, 2007).
4. Perubahan-perubahan perilaku
Hal yang terpenting dalam perilaku kesehatan adalah masalah
pembentukan dan perubahan perilaku. Karena perubahan perilaku
merupakan tujuan dari pendidikan atau penyuluhan kesehatan sebagai
penunjang program-program kesehatan yang lainnya. Banyak teori
tentang perubahan perilaku ini, antara lain (Notoatmodjo, 2007) :
a. Teori Stimulus Organisme Respon (S-O-R)
Teori ini mendasarkan asumsi bahwa penyebab terjadinya
perubahan perilaku tergantung pada kualitas rangsangan (stimulus)
yang berkomunikasi dengan organisme.Teori ini mengartikan
bahwa perilaku dapat berubah hanya apabila stimulus

(rangsang)

yang diberikan benar-benar melebihi dari stimulus semula sehingga


dapat menyakinkan organisme.
b. Teori Festinger (Dissonance Theory)
Teori ini sebenarnya hampir sama

dengan konsep

Imbalance (tidak seimbang). Hal ini berarti bahwa keadaan


cognitive

dissonance

merupakan

hal

ketidakseimbangan

psikologis yang diliputi oleh ketegangan diri yang berusaha untuk


mencapai keseimbangan kembali.
c. Teori Fungsi
Teori ini berdasarkan anggapan bahwa perubahan perilaku
individu itu tergantung kepada keutuhan. Hal ini berarti bahwa
stimulus yang dapat mengakibatkan perubahan perilaku seseorang

41
apabila stimulus tersebut dapat dimengerti dalam konteks keutuhan
orang tersebut.
d. Teori Kurt Lewin
Teori ini berpendapat bahwa perilaku manusia itu adalah
suatu keadaan yang seimbang antara kekuatan-kekuatan pendorong
(driving forces) dan kekuatan-kekuatan penahan (restrining forces).
Perilaku itu berubah apabila terjadi ketidakseimbangan antara
kedua kekuatan-kekuatan tersebut didalam diri seseorang.
5.

Bentuk-bentuk perubahan perilaku


Bentuk perubahan perilaku sangat bervariasi, sesuai dengan
konsep yang digunakan oleh para ahli dalam pemahamannya terhadap
perilaku. Menurut WHO, bentuk-bentuk perubahan perilaku itu
dikelompokkan menjadi 3 yaitu (Notoatmodjo, 2007) :
a. Perubahan alamiah (natural change)
Perilaku

manusia

selalu

berubah,

dimana

sebagian

perubahan itu disebabkan karena kejadian alamiah. Apabila dalam


masyarakat sekitar terjadi suatu perubahan lingkungan fisik atau
sosial budaya dan ekonomi, maka anggota-anggota masyarakat
didalamnya juga akan mengalami perubahan.
b. Perubahan rencana (planned change)
Perubahan perilaku ini terjadi karena memang direncanakan
sendiri oleh subjek.
c. Kesediaan untuk berubah (readiness to change)
Apabila terjadi suatu inovasi atau program-program
pembangunan di dalam masyarakat, maka yang sering terjadi
adalah sebagian orang sangat cepat untuk menerima inovasi atau
perubahan tersebut (berubah perilakunya). Tetapi sebagian orang
lagi sangat lambat untuk menerima inovasi tersebut. Hal ini
disebabkan karena di setiap orang mempunyai kesediaan untuk
berubah yang berbeda-beda.

42
6. Strategi dalam perubahan perilaku
Dalam mencapai terwujudnya perubahan-perubahan perilaku
yang sesuai dengan norma-norma, maka diperlukan usaha-usaha
konkret dan positif. Beberapa strategi untuk memperoleh perubahan
perilaku tersebut oleh WHO dikelompokkan menjadi 3 yaitu
(Notoatmodjo, 2007) :
a. Menggunakan kekuatan/kekuasaan atau dorongan
Dalam hal ini perubahan perilaku dipaksakan pada sasaran
atau masyarakat sehingga ia mau melakukan seperti yang
diharapkan. Cara yang ditempuh, misalnya dengan adanya
peraturan-peraturan/perundang-undangan yang harus dipatuhi oleh
masyarakat. Cara ini akan menghasilkan perubahan perilaku yang
cepat, akan tetapi perubahan tersebut belum tentu berlangsung
lama, karena perubahan perilaku yang terjadi tidak atau belum
berdasarkan kesadaran sendiri.
b. Pemberian informasi
Dengan memberikan informasi-informasi tentang cara-cara
mencapai

hidup sehat, cara

menghindari

penyakit,

dan

pemeliharaan kesehatan, cara


sebagainya

akan

meningkatkan

pengetahuan masyarakat tentang hal tersebut. Selanjutnya dengan


pengetahuan-pengetahuan itu akan menimbulkan kesadaran mereka
dan akhirnya menyebabkan terjadinya perubahan perilaku. Hasil
atau perubahan perilaku dengan cara ini akan memakan waktu yang
lama, tetapi perubahan yang dicapai akan bersifat langgeng karena
didasari pada kesadaran mereka.
c. Diskusi dan partisipasi
Cara ini adalah sebagai peningkatan cara yang kedua.
Dimana dalam memberikan informasi-informasi tentang kesehatan
tidak bersifat searah saja, tetapi dua arah. Hal ini berarti bahwa
masyarakat tidak hanya pasif menerima informasi, tetapi juga harus
aktif berpartisipasi melalui diskusi-diskusi tentang informasi yang
diterimanya. Cara ini merupakan salah satu cara yang baik.

43
Menurut Notoatmodjo, semua ahli kesehatan masyarakat dalam
membicarakan status kesehatan mengacu kepada Bloom. Dari hasil
penelitiannya di Amerika Serikat sebagai salah satu negara yang sudah
maju, Bloom menyimpulkan bahwa lingkungan mempunyai andil yang
paling besar terhadap status kesehatan, kemudian berturut-turut disusul
oleh perilaku mempunyai andil nomor dua, pelayanan kesehatan dan
keturunan mempunyai andil yang paling kecil terhadap status kesehatan.
Lewrence Green menjelaskan bahwa perilaku itu dilatarbelakangi
atau dipengaruhi oleh tiga faktor pokok yakni: faktor-faktor predisposisi
(predisposing factors), faktorfaktor yang mendukung (enabling factors)
dan faktor-faktor yang memperkuat atau mendorong (reinforcing factors).
Oleh sebab itu pendidikan kesehatan sebagai faktor usaha intervensi
perilaku harus diarahkan kepada ketiga faktor pokok tersebut.
II. 2. Kerangka Teori
Bagan 2. Kerangka Teori
Status Gizi

Kepedulian
Terhadap
Anak :

Asupan
Zat Gizi

Penyakit
Infeksi

Pengetahuan, Sikap
dan Perilaku Ibu
Kesediaan
Pangan
Keluarga

Pelayanan
Kesehatan dan
Sarana Kesehatan
Lingkungan

Daya Beli
Keluarga

Status
Ekonomi

44
II. 3. Kerangka Konsep
Bagan 3. Kerangka Konsep

Pengetahuan
Sikap
Perilaku

Ibu
Tentang gizi
seimbang

Variabel Independen

Status Gizi
Balita

Variabel Dependen

II. 4. Hipotesis Penelitian :


Berdasarkan landasan teori di atas, maka dalam penelitian ini dapat
dirumuskan hipotesis yang berkaitan dengan hubungan pengetahuan,
sikap, dan perilaku ibu tentang gizi seimbang terhadap status gizi balita
usia 3-4 tahun di Posyandu RW 21, Kelurahan Mekarjaya, Kecamatan
Sukmajaya, Kota Depok.
Ha:
1. Ada hubungan pengetahuan ibu tentang gizi seimbang terhadap status
gizi balita usia 3-4 tahun di Posyandu RW 21, Kelurahan Mekarjaya,
Kecamatan Sukmajaya, Depok.
2. Ada hubungan sikap ibu tentang gizi seimbang terhadap status gizi
balita usia 3-4 tahun di Posyandu RW 21, Kelurahan Mekarjaya,
Kecamatan Sukmajaya, Depok.
3. Ada hubungan perilaku ibu tentang gizi seimbang terhadap status gizi
balita usia 3-4 tahun di Posyandu RW 21, Kelurahan Mekarjaya,
Kecamatan Sukmajaya, Depok.