Anda di halaman 1dari 6

Hasil klinis selama 15 tahun gigi tiruan sebagian cekat resin-bonded yang

dipasang menggunakan bahan luting thione primer dan tri-n-butylboraneinitiated


Mitsuo Nakamura1,2) and Hideo Matsumura2,3)
1) Private Practice, Ichikawa, Japan
2) Department of Fixed Prosthodontics, Nihon University School of Dentistry, Tokyo,
Japan
3) Division of Advanced Dental Treatment, Dental Research Center,
Nihon University School of Dentistry, Tokyo, Japan
(Received May 15, 2013; Accepted June 20, 2013)
Abstrak: Laporan ini menunjukkan hasil klinis gigi tiruan sebagian cekat resin-bonded yang
terbuat dari alloy emas tipe IV. Retainer di-abrasi udara dengan partikel alumina dan
dipreparasi dengan single-liquid thione priming agent (Metaltite). Gigi tiruan kemudian
dipasang dengan resin adesif tri-n-butylborane initiated. Setelah 15 tahun, gigi tiruan tersebut
masih berfungsi dengan memuaskan. Bahan dan teknik yang dipakai ini dapat diterapkan
bagi perawatan prostodontik dengan invasi minimal.
Kata kunci: adesif; gigi tiruan sebagian cekat; alloy emas; thione; tri-n-butylborane
Pendahuluan
Penggantian gigi anterior dan posterior yang hilang merupakan masalah penting dalam
mengembalikan struktur anatomi gigi-geligi dan fungsi mulut. Alloy emas secara luas
digunakan dalam pembuatan gigi tiruan sebagian cekat karena kemampuan menyesuaikan
dengan gigi penyangga, stabilitas dalam lingkungan rongga mulut, karakteristik pengerasan
yang menguntungkan, dan sifat ideal penanganan dalam lab. Untungnya, beberapa bahan
single liquid primer yang mampu merekatkan logam mulia telah dikembangkan dalam dua
dekade sebelumnya, dan evaluasi lab telah menunjukkan efektivitas single-liquid primer
dengan bahan sulfur organik.
Walaupun banyak aplikasi prostodontik yang dilaporkan mengenai sistem adesif metal,
sedikit informasi yang tersedia tentang kombinasi aplikasi bahan primer khusus dan resin
adesif self-polymerizing. Laporan kasus ini menunjukkan hasil klinis jangka panjang gigi
tiruan sebagian cekat resin-bonded yang terbuat dari alloy emas.

Laporan Kasus
Pasien laki-laki berusia 52 tahun datang dengan gangguan pengunyahan akibat hilangnya gigi
premolar satu kanan atas, yang telah dicabut karena fraktur akar. Pemeriksaan menunjukkan
oklusi seimbang unilateral. Setelah diberikan beberapa pilihan perawatan, pasien memilih
pemasangan gigi tiruan cekat resin-bonded. Prosedur klinis dijelaskan secara detail, dan
diperoleh persetujuan dari pasien (Gambar 1).

Gambar 1. laki-laki berusia 52 tahun hilangnya gigi premolar satu atas


Direncanakan pembuatan gigi tiruan cekat tiga gigi. Pengurangan cusp premolar dianggap
tidak perlu. Pit dan fissur, permukaan proksimal, dan lingual enamel gigi penyangga
dikurangi menggunakan instrumen bur diamond highspeed dengan air pendingin. Tiga groove
retensi proksimal, dimana dentin sedikit terbuka, dipreparasi sebagai penyangga kaninus
(Gambar 2).

Gambar 2. Pengurangan terbatas pada enamel, kecuali tiga groove pada gigi
penyangga kaninus

Gigi tiruan cekat yang terdiri dari 2 retainer dan pontik dituang menggunakan alloy emas tipe
IV (Casting Gold Type IV, GC Corp, Tokyo, Japan). Permukaan bukal pontik di-veneer
dengan bahan komposit indirek (Estenia, Kuraray Co,Ltd, Osaka, Japan) (Gambar 3).

Gambar 3. Gigi tiruan cekat yang sudah selesai dibuat, dengan retainer yang
menutupi dan permukaan bukal sewarna gigi yang di-veneer dengan bahan komposit
Estenia

Gigi tiruan cekat yang sudah selesai dicobakan pada kunjungan berikutnya.
Permukaan yang akan di-bonding di-abrasi dengan partikel alumina 50 m, menggunakan
airborne particle abrader. Single liquid primer (Metaltite, Tokuyama Dental Corp, Tokyo,
Japan), yang mengandung 6-methacryloyloxyhexyl 2-thiouracil-5-carboxylate (MTU-6)
dalam etanol, diaplikasikan pada permukaan yang di-abrasi. Permukaan enamel gigi
penyangga dietsa menggunakan 40% gel asam fosfat (K-Etchant, Kuraray Co, Ltd), dibilas
dengan air, dan dikeringkan dengan semprotan udara, setelah itu gigi tiruan dipasang
menggunakan resin adesif tri-n-butylborane-initiated (Super-Bond Opaque Ivory, Sun
Medical Co, Ltd, Moriyama, Japan) (Gambar 4-8).

Gambar 4. Setelah try-in dan penyesuaian oklusi gigi tiruan, permukaan gigi
penyangga yang akan dibonding di-etsa dengan gel asam fosfat 40% selama kira-kira 30
detik dan dibilas dengan air.

Gambar 5. Permukaan dalam retainer di-abrasi

Gambar 6. Gigi tiruan dipasang

udara menggunakan partikel alumina dan

dengan menggunakan bahan luting

diaplikasikan dengan Metaltite

Gambar 7. Tampak bukal gigi tiruan yang sudah


dipasang (Gambaran cermin)

Super-Bond Opaque Ivory

Gambar 8. Tampak lingual gigi tiruan


yang sudah dipasang

Selanjutnya pasien mengikuti program pemeliharaan yaitu check-up rutin dua kali setahun.
Setelah jangka waktu pengamatan selama 15 tahun, tampak perubahan bentuk anatomi akibat
atrisi pada permukaan oklusal, namun, gigi tiruan tetap berfungsi dengan memuaskan
(Gambar 9-10).

Gambar 9. Tampak bukal gigi tiruan 15 tahun


setelah bonding, menunjukkan kelainan berbentuk
wedge pada penyangga kaninus (gambaran cermin)

Gambar 10. Tampak lingual 15 tahun


setelah bonding, menunjukkan atrisi
pada cusp.

Diskusi
Beberapa penelitian laboratorium menunjukkan bahwa aplikasi thione primer meningkatkan
bonding antara alloy logam mulia dan resin Super-Bond (1-5). Untuk kasus ini, Metaltite
dipilih sebagai primer untuk retainer yang terbuat dari alloy emas tipe IV karena membentuk
ikatan yang sangat tahan lama dengan alloy ini dan karena pelarut etanol dalam Metaltite
dapat diterima bagi pasien dan dokter gigi. Gel asam fosfat 40% digunakan sebagai etsa
enamel karena hasil eksperimental yang belum dipublikasikan menunjukkan bahwa asam
fosfat 40% lebih baik daripada asam fosfat 65% sebagai bahan etsa untuk permukaan enamel
penyangga gigi tiruan cekat.
Pemilihan bahan luting juga penting bagi keberhasilan jangka panjang perawatan
prostodontik. Resin Super-Bond opak digunakan sebagai bahan luting pada pasien ini karena
berikatan dengan kuat dengan retainer yang terbuat dari silver-palladium-copper-gold alloy
serta karena bahan ini menyembunyikan warna metalik retainer tuang dengan ketebalan
kurang dari 50 m. Penulis percaya bahwa follow-up selama 15 tahun retainer alloy emas

yang dipasang dengan sistem Metaltite-Super-Bond merupakan waktu pengamatan paling


lama yang pernah dilaporkan. Evaluasi klinis dan laboratorium sistem bonding ini sementara
dilakukan.