Anda di halaman 1dari 11

HERMENEUTIKA DAN PEMAHAMAN

(FRIEDRICH ERNST DANIEL SCHLEIERMACHER


DAN MUHAMMAD ARKOUN)1

A. PENDAHULUAN
Ada dua hal yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia;
dua hal itu menjadi garis pemisah yang membedakan manusia dari segala
entitas kehidupan lainnya di muka bumi ini. Dua hal yang dimaksud
adalah memahami dan menafsirkan. Berkaitan dengan aktivitas memahami
dan menafsirkan ini, dalam sejarah intelektual manusia banyak ditemui
tokoh di bidang keahliannya masing-masing yang berusaha merumuskan
apa dan bagaimana kondisi dan cara memahami yang akurat, tepat, layak
dan benar. Berbagai teori, konsep dan disiplin keilmuan pun muncul
khusus

untuk

mengurusi

bidang

ini;

satu

diantaranya

adalah

Hermeneutika.
Manusia selain sebagai makhluk yang berpikir h}ayawa> n
na> tiq, hewan yang berpikir, disebut juga sebagai animal symbolicum,
makhluk yang senantiasa bergulat dengan simbol. Hermeneutika memiliki
tanggungjawab utama dalam menyingkap dan menampilkan makna yang
ada di balik simbol-simbol yang menjadi objeknya.
Meskipun hermeneutika dalam sejarahnya bermula dari barat,
hermeneutika sebagai ilmu (science) atau seni (art) dalam memahami, di
dunia timur, mendapatkan respon yang beragam karena cara-cara yang
digunakan dalam hermeneutika dianggap membahayakan sakralitas kitab
suci agama (semisal al-Quran) sebagai wahyu Tuhan yang diagungkan.
Dalam pembahasan hermeneutika, beberapa tokoh yang terkemuka antara
lain adalah Friedrich Ernst Daniel Schleiermacher (1768-1834). Dalam
dunia Islam, orang yang juga banyak menggunakan metode hermeneutika
dalam tulisan-tulisannya adalah Muhammad Arkoun (1928-2010). Dalam
1

Dipresentasikan oleh Muhammad Akmaluddin (135112015) guna memenuhi tugas


Hermeneutika (Dosen Pengampu: Dr. Hasyim Muhammad, M. Ag dan Dr. Zainul Adzfar, M. Ag)
Program Magister Studi Islam IAIN Walisongo Semarang Tahun 1435 H / 2014 M.

makalah ini, akan dibahas uraian hermeneutika dan pemahaman dalam


pemikiran kedua tokoh tersebut.

B. PEMBAHASAN
Kata hermeneutika berasal dari kata kerja dalam bahasa Yunani
hermeneuin dan kata benda hermeneia. Kata ini kerap diterjemahkan
dengan mengungkapkan (to say), menjelaskan (to explain) dan
menerjemahkan (to translate). Dalam bahasa Inggris, terjemahan yang
mewakili adalah to interpret (menginterpretasikan, menafsirkan, dan
menerjemahkan).2 Hermeneutika diartikan sebagai proses mengubah
sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti.3 Hermeneutika yang
berkembang dari tahun 1654 sampai sekarang didefinisikan dalam enam
pengertian, yaitu (1) teori eksegesis Bibel, (2) metode filologi secara
umum, (3) ilmu pemahaman linguistik, (4) fondasi metodologis
geisteswissenschaften (ilmu-ilmu sosial), (5) fenomenologi eksistensi dan
pemahaman eksistensial dan (6) sistem interpretasi yang digunakan
manusia untuk meraih makna di balik mitos dan simbol.4

Hermeneutika dan Pemahaman Schleiermacher


Schleiermacher5

memahami

hermeneutik

sebagai

seni

memahami (the art of understanding). Penerapan hermeneutik sangat


luas, yaitu dalam bidang teologis, filosofis, linguistik maupun hukum.
Pada dasarnya hermeneutik adalah filosofis, sebab merupakan bagian dari

Palmer, Richard. E, 2005, Hermeneutics Interpretation Theory in Schleiermacher,


Dilthey, Heidegger, and Gadamer (diterjemahkan oleh Musnur Hery dan Damanhuri Muhammad
dengan judul Hermeneutika Teori Baru Mengenai Interpretasi), Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet.
II, hlm. 14-16
3
Untuk sejarah hermeneutika yang lebih lengkap dapat dilihat dalam E. Sumaryono,
2013, Hermeneutik, Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, Cet. XII, hlm. 23-26
4
Palmer, Hermeneutics, hlm. 38
5

Untuk sejarah dan latarbelakang pemikiran Schleiermacher dapat dilihat dalam


Sumaryono, Hermeneutik, hlm. 35-41

seni berpikir. Pertama-tama ide yang ada di pikiran kita pahami, baru
kemudian kita ucapkan. Inilah alasannya mengapa Schleiermacher
menyatakan bahwa bahasa kita berkembang seiring dengan buah pikiran
kita. Namun, bila pada saat berfikir kita merasa perlu untuk membuat
persiapan dalam mencetuskan buah pikiran kita, maka pada saat itulah
terdapat apa yang disebutnya the transformation of the original thought,
and then explication also becomes necessary.6
Menurut Schleiermacher, ada jurang pemisah antara berbicara atau
berfikir yang sifatnya internal dengan ucapan aktual. Seseorang harus
mampu mengadaptasi buah pikiran ke dalam kekhasan lagak ragam dan
tata bahasa. Dalam setiap kalimat yang diucapkan, terdapat dua momen
pemahaman, yaitu apa yang dikatakan dalam konteks bahasa dan apa yang
dipikirkan oleh pembicara. Setiap pembicara mempunyai waktu dan
tempat, dan bahasa dimodifikasi menurut kedua hal tersebut. Pemahaman
hanya terdapat di dalam kedua momen yang saling berpautan satu sama
lain itu. Baik bahasa maupun pembicaranya harus dipahami sebagaimana
seharusnya.7
Menurut Schleiermacher, ada dua tugas hermeneutik yang pada
hakikatnya identik satu sama lain, yaitu interpretasi gramatika dan
interpretasi psikologis. Bahasa gramatikal merupakan syarat berpikir
setiap orang. Sedangkan aspek psikologis interpretasi memungkinkan
seseorang menangkap setitik cahaya pribadi penulis. Oleh karenanya,
untuk memahami pernyataan-pernyataan pembicara orang harus mampu
memahami bahasanya sebaik memahami kejiwaannya. Semakin lengkap
pemahaman seorang atas sesuatu bahasa dan psikologi pengarang, akan
semakin lengkap pula interpretasinya. Kompetensi linguistik dan

Friedrich Schleiermacher, 1998, Hermeneutics and Criticism and Other Writings, (ed.
Andrew Bowie), Cambridge: Cambridge University Press, Cet. I, hlm. 5-7
7
Schleiermacher, Hermeneutics, hlm. 8

kemampuan mengetahui seseorang akan menentukan keberhasilannya


dalam bidang seni interpretasi.8
Tugas hermeneutik menurut Schleiermacher adalah memahami
teks sebaik atau lebih baik daripada pengarangnya sendiri dan memahami
pengarang teks lebih baik dari pada memahami diri sendiri.9 Penjelasan
terkait hermeneutik gramatikal dan psikologis adalah sebagai berikut:
1.

Hermeneutika gramatikal adalah penafsiran yang didasarkan pada


analisis bahasa. Karena itu, seorang penafsir teks harus menguasai
aspek-aspek bahasa. Semakin dia menguasai bahasa, semakin baik
penafsirannya. Bagi Schleiermacher, hermeneutika gramatikal ini
merupakan sisi obyektif penafsiran.10

2.

Hermeneutika Psikologis
Schleiermacher

berpendapat

bahwa

seseorang

tidak

bisa

memahami sebuah teks hanya dengan semata-mata memperhatikan


aspek bahasa saja, melainkan juga dengan memperhatikan aspek
kejiwaan pengarangnya. Seorang penafsir teks harus memahami
seluk-beluk pengarangnya.11
Secara

ringkas,

uraian

hermeneutika

dan

pemahaman

Schleiermacher dapat digambarkan dalam bagan berikut:

Interpretasi Gramatikal

Penafsir

Teks

Sumaryono, Hermeneutik, hlm. 41

Ibid.

10

Maksud Pengarang

Palmer, Hermeneutics, hlm. 100 dan Sumaryono, Hermeneutik, hlm. 41. Lihat juga
Schleiermacher, Pengantar Hermeneutika dalam Syafaatun Al-Mirzanah dan Syahiron
Syamsuddin (eds.), 2011, Pemikiran Hermeneutik dalam Tradisi Barat Reader, Yogyakarta:
Lembaga Penerbitan UIN Sunan Kalijaga, Cet. I, hlm. 12-14
11
Ibid.

Interpretasi Psikologis

Hermeneutika dan Pemahaman Arkoun


Studi Muhammad Arkoun12 atas teks al-Quran adalah untuk
mencari makna lain yang tersembunyi di sana. Maka, untuk menuju
rekonstruksi (konteks), harus ada dekonstruksi (teks). Arkoun dengan
pemikirannya

berusaha

memperkenalkan

pendekatan

pemikiran

hermeneutika sebagai metodologi kritis yang akan memunculkan


informasi, makna dan pemahaman baru ketika suatu teks dan aturan di
dekati dengan cara pandang baru, terutama dengan menggunakan metode
hermeneutika histories-kontekstual. Karena sikap dari setiap pengarang,
teks dan pembaca tidaklah lepas dari konteks sosial, politis, psikologis,
teologis dan konteks lainnya dalam ruang dan waktu tertentu. Maka dalam
memahami sejarah yang di perlukan bukan hanya transfer makna,
melainkan juga transformasi makna.
Pemahaman tradisi Islam selalu terbuka dan tidak pernah selesai,
dalam istilah lain bahwa pintu ijtihad belumlah tertutup karena pemaknaan
dan pemahamannya selalu berkembang seiring dengan perkembangan
ummat Islam yang selalu terlibat dalam penafsiran ulang dari zaman ke
zaman. Dengan begitu, tidak semua doktrin dan pemahaman agama
berlaku sepanjang zaman. Gagasan universal Islam tidak semua
tertampung oleh bahasa Arab yang bersifat lokal kultural, serta terungkap
melalui tradisi kenabian saat itu. Itulah sebabnya dari zaman ke zaman
selalu muncul ulama tafsir yang berusaha mengaktualisasikan pesan Al
Quran-Al Hadits dan tataran tradisi keislaman yang tidak mengenal batas
akhir waktu.

12

Untuk sejarah dan latarbelakang pemikiran Arkoun dapat dilihat dalam pengantar Johan
Hendrik Meuleman dalam Muhammad Arkoun, 1994, Nalar Islam dan Nalar Modern Berbagai
Tantangan dan Jalan Baru, (penerjemah Rahayu S. Hidayat), Jakarta: INIS, hlm. 1-37

Ketika mendekati (membaca dan memahami) Al Quran dan tradisi


keislaman muncullah tiga kesimpulan:13
1.

Sebagian kebenaran pernyataan Al Quran baru akan kelihatan di


masa depan

2.

Kebenaran yang ada pada Al-Quran berlapis-lapis atau berdimensi


majemuk, sehingga potensi pluralitas pemahaman terhadap kandungan
Al-Quran adalah hal yang sangat wajar dan lumrah atau bahkan di
kehendaki oleh Quran sendiri.

3.

Terdapat doktrin dan tradisi keislaman histories-aksidental sehingga


tidak ada salahnya jika doktrin dan tradisi keislaman itu di pahami
ulang dan di ciptakan tradisi baru.
Kesimpulan yang terakhir ini bisa menyangkut ayat-ayat soal

pembagian harta waris, posisi wanita dalam masyarakat, dan hubungan


ummat Islam dengan agama lain.
Aturan-aturan metode Arkoun yang hendak diterapkannya kepada
Al-Quran (termasuk kitab suci yang lainnya) terdiri dari dua kerangka
raksasa:14
1.

Mengangkat makna dari apa yang dapat disebut dengan sacra


doctrina dalam Islam dengan menundukkan teks al-Quran dan semua
teks yang sepanjang sejarah pemikiran Islam telah berusaha
menjelaskannya (tafsir dan semua literatur yang ada kaitannya dengan
Al-Quran baik langsung maupun tidak), kepada suatu ujian kritis
yang tepat untuk menghilangkan kerancuan-kerancuan, untuk
memperlihatkan dengan jelas kesalahan-kesalahan, penyimpanganpenyimpangan dan ketakcukupan-ketakcukupan, dan untuk mengarah
kepada pelajaran-pelajaran yang selalu berlaku;

13

Komaruddin Hidayat, Arkoun dan Tradisi Hermeneutika dalam Johan Hendrik


Meuleman (ed.), 1996, Tradisi, Kemodernan dan Metamodernisme, Yogyakarta: LKiS, Cet. II,
hlm. 26-27
14
Muhammad Arkoun, 1997, Berbagai Pembacaan Quran, (penerjemah: Machasin),
Jakarta: INIS, hlm. 50

2.

Menetapkan suatu kriteriologi yang didalamnya akan dianalisis motifmotif yang dapat dikemukakan oleh kecerdasan masa kini, baik untuk
menolak maupun untuk mempertahankan konsepsi-konsepsi yang
dipelajari.
Dalam mengangkat makna dari Al-Quran, hal yang paling

pertama dijauhi oleh Arkoun adalah pretensi untuk menetapkan makna


sebenarnya dari Al-Quran. Sebab, Arkoun tidak ingin membakukan
makna Al-Quran dengan cara tertentu, kecuali menghadirkan-sebisa
mungkin-aneka ragam maknanya. Untuk itu, pembacaan mencakup tiga
saat (moment):15
1.

Suatu saat linguistik yang memungkinkan kita untuk menemukan


keteraturan dasar di bawah keteraturan yang tampak.

2.

Suatu saat antropologi, mengenali dalam Al-Quran bahasanya yang


bersusunan mitis.

3.

Suatu saat historis yang di dalamnya akan ditetapkan jangkauan dan


batas-batas tafsir logiko-leksikografis dan tafsir-tafsir imajinatif yang
sampai hari ini dicoba oleh kaum muslim.
Arkoun dapat melakukan kajian terhadap otentisitas al Quran

menggunakan dua konsep yaitu, dekonstruksi dan historisitas. Berikut


akan dijelaskan dua konsep tersebut:
1.

Konsep Dekonstruksi
Arkoun mengklaim bahwa strategi dekonstruksi yang ia tawarkan
sebagai sebuah strategi terbaik karena strategi ini akan membongkar
dan

menggerogoti

sumber-sumber

muslim

tradisional

yang

mensucikan kitab suci. Strategi ini berawal dari pendapatnya bahwa


sejarah al-Quran sehingga bisa menjadi kitab suci dan otentik perlu
dilacak kembali. Dan ia mengklaim bahwa strateginya itu merupakan
sebuah ijtihad.
Dengan ijtihadnya, ini Arkoun menyadari bahwa pendekatannya
ini akan membaca kembali segala bentuk penafsiran ulama terdahulu,
15

Ibid., hlm. 51

namun ia justru percaya bahwa pendekatan tersebut akan memberikan


akibat yang baik terhadap al-Quran. Dan menurutnya juga, pendekatan
ini akan memperkaya sejarah pemikiran dan memberikan sebuah
pemahaman yang lebih baik tentang al-Quran, dengan alasan karena
metode ini akan membongkar konsep al-Quran yang selama ini telah
ada
Berdasarkan pendekatan tersebut Arkoun membagi sejarah alQuran menjadi dua peringkat:16 peringkat pertama disebut sebagai
Ummul Kitab, dan peringkat kedua adalah berbagai kitab termasuk
Bible dan al-Quran. Pada peringkat pertama wahyu bersifat abadi,
namun kebenarannya di luar jangkauan manusia, karena wahyu ini
tersimpan dalam Lauh al-Mahfudz. Wahyu dan berada di sisi Tuhan,
dan yang bisa diketahui manusia hanya pada peringkat kedua yang
diistilahkan oleh Arkoun sebagai al-Quran edisi dunia namun
menurutnya al-Quran pada peringkat ini telah mengalami modifikasi
dan revisi dan substitusi.
2.

Konsep Historisitas
Dan tentang konsep historisitas, Arkoun mengatakan bahwa
pendekatan historisitas, sekalipun berasal dari Barat, namun tidak
hanya sesuai untuk warisan budaya Barat saja. Pendekatan tersebut
dapat diterapkan pada semua sejarah umat manusia dan bahkan tidak
ada jalan lain dalam menafsirkan wahyu kecuali menghubungkannya
dengan konteks historis.
Arkoun juga menyatakan bahwa strategi terbaik untuk memahami
historisitas keberadaan umat manusia ialah dengan melepaskan
pengaruh ideologis. Sehingga menurutnya, metodologi multidisipliner
dari ilmu sejarah, sosiologi, antropologis, psikologis, bahasa, semiotik
harus digunakan untuk mempelajari sejarah dan budaya Islam. Jika
strategi ini digunakan, maka umat Islam bukan saja akan memahami

16

Abdul Kadir Hussain Salihu, Hermeneutika Al-Qur'an menurut Muhammad Arkoun:


Sebuah Kritik, dalam ISLAMIA: Majalah Pemikiran Dan Peradaban Islam, Thn I No 2, JuniAgustus 2004, hal: 21

secara lebih jelas masa lalu dan keadaan mereka saat ini untuk
kesuksesan mereka di masa yang akan datang, namun juga akan
menyumbang kepada ilmu pengetahuan modern.
Mohammed Arkoun adalah orang yang secara tuntas mencoba
menggunakan hermeneutika dalam penafsiran Al-Quran. Untuk
kepentingan analisisnya, Arkoun meminjam teori hermeneutika dari
Paul Ricoeur, dengan memperkenalkan tiga level tingkatan wahyu:17
Pertama Wahyu sebagai firman Allah yang tak terbatas dan tidak
diketahui oleh manusia, yaitu wahyu al-Lauh Mahfudz dan Umm alKitab.
Kedua, Wahyu yang nampak dalam proses sejarah. Berkenaan
dengan Al-Quran, hal ini menunjuk pada realitas Firman Allah
sebagaimana diturunkan dalam bahasa Arab kepada Nabi Muhammad
selama kurang lebih dua puluh tahun.
Ketiga, Wahyu sebagaimana tertulis dalam mushaf dengan huruf
dan berbagai macam tanda yang ada di dalamnya. Ini menunjuk pada
al-Mushaf al-Usmani yang dipakai orang-orang Islam hingga hari ini.
Mohammed Arkoun membedakan antara periode pertama dan
periode kedua. Menurut Arkoun, dalam periode diskursus kenabian,
al-Quran lebih suci, lebih autentik, dan lebih dapat dipercaya
dibanding ketika dalam bentuk tertulis. Sebabnya, al-Quran terbuka
untuk semua arti ketika dalam bentuk lisan, tidak seperti dalam bentuk
tulisan. Arkoun berpendapat status al-Quran dalam bentuk tulisan
telah berkurang dari kitab yang diwahyukan menjadi sebuah buku
biasa. Arkoun berpendapat bahwa mushaf itu tidak layak untuk
mendapatkan status kesucian. Tetapi Muslim ortodoks meninggikan
korpus ini ke dalam sebuah status sebagai firman Tuhan.

C. DAFTAR PUSTAKA

17

Sumaryono, Heremeneutik, hlm111

Arkoun, Muhammad, 2001, al-Qura>n min Tafsi>r al-Maurus\


ila> Tah}li> l al-Khit}a> b al-Di> ni> , (ed. Ha>syim S{a>lih}), Lebanon:
Da>r al-T{ali>ah li al-T{iba>ah wa al-Nasyr, Cet. I
Arkoun, Muhammad, 1994, Nalar Islam dan Nalar Modern
Berbagai Tantangan dan Jalan Baru, (penerjemah Rahayu S. Hidayat),
Jakarta: INIS
Arkoun,

Muhammad,

1997,

Berbagai

Pembacaan

Quran,

(penerjemah: Machasin), Jakarta: INIS


Arkoun, Muhammad, 1998, Qad}a> ya> fi> Naqd al-Aql alDi> ni> Kayfa Nafham al-Isla> m al-Yaum, (ed. Ha>syim S{a>lih}),
Lebanon: Da>r al-T{ali>ah li al-T{iba>ah wa al-Nasyr, Cet. I
Arkoun, Muhammad, 1994, Rethinking Islam Common Questions,
Uncommon Answers, (ed. Robert D. Lee), Oxford: Westview Press
Arkoun, Muhammad, 1996, Arab Thought, (diterjemahkan oleh
Yudian W. Asmin dengan judul Pemikiran Arab), Yogyakarta: Pustaka
Pelajar
Arkoun, Muhammad, 2002, The Unthought in Contemporary
Islamic Thought, London: Saqi Books
Johan Hendrik Meuleman (ed.), 1996, Tradisi, Kemodernan dan
Metamodernisme, Yogyakarta: LKiS, Cet. II
Al-Mirzanah, Syafaatun dan Syahiron Syamsuddin (eds.), 2011,
Pemikiran Hermeneutik dalam Tradisi Barat Reader, Yogyakarta:
Lembaga Penerbitan UIN Sunan Kalijaga, Cet. I
Sumaryono. E., 2013, Hermeneutik, Sebuah Metode Filsafat,
Yogyakarta: Penerbit Kanisius, Cet. XII
Palmer, Richard. E, 2005, Hermeneutics Interpretation Theory in
Schleirmacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer (diterjemahkan oleh
Musnur Hery dan Damanhuri Muhammad dengan judul Hermeneutika
Teori Baru Mengenai Interpretasi), Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet. II
Al-Mirzanah, Syafaatun dan Syahiron Syamsuddin (eds.), 2011,
Upaya Integrasi Hermeneutika dalam Kajian Quran dan Hadis Teori dan

Aplikasi Buku 2 Tradisi Barat, Yogyakarta: Lembaga Penerbitan UIN


Sunan Kalijaga, Cet. II
Schleiermacher, Friedrich, 1998, Hermeneutics and Criticism and
Other Writings, (ed. Andrew Bowie), Cambridge: Cambridge University
Press, Cet. I