Anda di halaman 1dari 24

KATA PENGANTAR

Salam sejahtera bagi kita semua.


Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha esa, atas segala nikmat
dan karunia yang telah diberikan sehingga pada akhirnya kami dapat menyelesaikan refrat ini
dengan sebaik-baiknya.
Laporan kasus ini disusun untuk melengkapi tugas di kepaniteraan klinik ilmu Bedah
di RS UKI
Dalam kesempatan ini, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada
dr.Wendy Hendrika Sp,OT selaku pembimbing refrat saya di kepaniteraan Ilmu Bedah di RS
UKI yang telah memberikan bimbingan dan kesempatan dalam penyusunan makalah ini.
Saya sadari betul bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu,
saya mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun untuk kesempurnaan makalah
yang saya buat ini.
Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga referat saya ini dapat bermanfaat bagi
masyarakat dan khususnya bagi mahasiswa kedokteran.
Terima kasih.

Jakarta, Desember 2012

Penyusun,

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR

................................................................................

.......

DAFTAR ISI

..............................................................................

.......

BAB I. PENDAHULUAN

..............................................................................

.......

BAB II. ISI

.............................................................................................................

II.1.

Definisi Fraktur terbuka

II.2.

Etiologi dan faktor predisposisi ................................................................... 7

II.3.

Klasifikasi

II.4.

Diagnosis Fraktur Terbuka

II.5.

Penatalaksanaan Fraktur Terbuka

II.6.

komplikasi fraktur ...............................................................................

KESIMPULAN

.................................................................

................................................................................
.....................................................

.......

.......

............................................... .......

10

18

................................................................................................... 24

DAFTAR PUSTAKA

...........................................................................................

25

Pendahuluan
2

Penyakit muskuloskeletal telah menjadi masalah yang banyak dijumpai di pusat-pusat


pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Penyebab fraktur terbanyak adalah karena kecelakaan
lalu lintas. Kecelakaan lalu lintas ini, selain menyebabkan fraktur, menurut WHO, juga
menyebabkan kematian 1,25 juta orang setiap tahunnya, dimana sebagian besar korbannya
adalah remaja atau dewasa muda.
Fraktur adalah terputusnya hubungan/kontinuitas struktur tulang atau tulang rawan
bisa komplet atau inkomplet atau diskontinuitas tulang yang disebabkan oleh gaya yang
melebihi elastisitas tulang. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, kebanyakan fraktur
akibat dari trauma, beberapa fraktur sekunder terhadap proses penyakit seperti osteoporosis,
yang menyebabkan fraktur yang patologis.1
Salah satu trauma muskuloskeletal yang menyebabkan morbiditas yang tinggi adalah
patah tulang terbuka. Patah tulang terbuka adalah terputusnya kontinuitas struktur jaringan
tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh trauma, baik trauma langsung
ataupun tidak lansung, yang berhubungan dengan dunia luar atau rongga tubuh yang tidak
steril, sehingga mudah terjadi kontaminasi bakteri dan dapat menyebabkan komplikasi infeksi
(Bedah UGM, 2009).
Patah tulang terbuka dapat menyebabkan kerusakan jaringan lunak yang luas, yang
meliputi kerusakan otot, vaskuler, dan syaraf. Kerusakan otot dapat mengakibatkan
komplikasi gas gangren yang bisa berakibat fatal bila tidak ditangani dengan baik. Kerusakan
vaskuler dapat menyebabkan terjadinya kehilangan darah yang banyak sehingga terjadi syok.
Delayed union dapat terjadi jika aliran darah yang diperlukan untuk terjadinya menyatuan
tulang tidak memadai (Apley dan Solomon, 2001).1.5
Patah tulang terbuka merupakan salah satu kegawatdaruratan di bidang orthopaedi
yang membutuhkan penanganan secara cepat dan tepat yang mana bersifat life saving dan life
threatening (Koval and Zuckerman, 2006).
Akibat trauma pada tulang bergantung pada jenis trauma, kekuatan dan arahnya.
Trauma tajam yang langsung atau trauma tumpul yang kuat dapat menyebabkan tulang patah
dengan luka terbuka sampai ke tulang yang disebut patah tulang terbuka. Patah tulang di
dekat sendi atau mengenai sendi dapat menyebabkan patah tulang disertai luksasi sendi yang
disebut fraktur dislokasi.
3

Menurut Penyebab terjadinya 2

Faktur Traumatik : direct atau indirect

Fraktur Fatik atau Stress

Trauma berulang, kronis, misal: fr. Fibula pd olahragawan

Fraktur patologis : biasanya terjadi secara spontan

Menurut hubungan dg jaringan ikat sekitarnya

Fraktur Simple

: fraktur tertutup

Fraktur Terbuka : bone expose

Fraktur Komplikasi : kerusakan pembuluh darah, saraf, organ visera

fraktur diklasifikasikan menjadi :


1. Berdasarkan garis patah tulang
a. Greenstick, yaitu fraktur dimana satu sisi tulang retak dan sisi lainnya bengkok.
b. Transversal, yaitu fraktur yang memotong lurus pada tulang.
c. Spiral, yaitu fraktur yang mengelilingi tungkai/lengan tulang.
d. Obliq, yaitu fraktur yang garis patahnya miring membentuk sudut melintasi tulang

2. Berdasarkan bentuk patah tulang


a. Complet, yaitu garis fraktur menyilang atau memotong seluruh tulang dan fragmen tulang
biasanya tergeser.
b. Incomplet, meliputi hanya sebagian retakan pada sebelah sisi tulang.
c. Fraktur kompresi, yaitu fraktur dimana tulang terdorong ke arah permukaan tulang lain.
d. Avulsi, yaitu fragmen tulang tertarik oleh ligamen.
e. Communited (Segmental), fraktur dimana tulang terpecah menjadi beberapa bagian.
f. Simple, fraktur dimana tulang patah dan kulit utuh.
g. Fraktur dengan perubahan posisi, yaitu ujung tulang yang patah berjauhan dari tempat
yang patah.
h. Fraktur tanpa perubahan posisi, yaitu tulang patah, posisi pada tempatnya yang normal.
i. Fraktur Complikata, yaitu tulang yang patah menusuk kulit dan tulang terlihat

II.1 Definisi Fraktur Terbuka


5

Fraktur terbuka merupakan suatu fraktur dimana terjadi hubungan dengan lingkungan
luar melalui kulit sehingga terjadi kontaminasi bakteri sehingga timbul komplikasi berupa
infeksi. luka pada kulit dapat berupa tusukan tulang yang tajam keluar menembus kulit atau
dari luar oleh karena tertembus misalnya oleh peluru atau trauma langsung (chairuddin
rasjad,2008)4.
Fraktur terbuka merupakan suatu keadaan darurat yang memerlukan penanganan yang
terstandar untuk mengurangi resiko infeksi. selain mencegah infeksi juga diharapkan terjadi
penyembuhan fraktur dan restorasi fungsi anggota gerak. beberapa hal yang penting untuk
dilakukan dalam penanggulangan fraktur terbuka yaitu operasi yang dilakukan dengan
segera, secara hati-hati, debrideman yang berulang-ulang, stabilisasi fraktur, penutupan kulit
dan bone grafting yang dini serta pemberian antibiotik yang adekuat (chairuddin
rasjad,2008).2
Patah tulang terbuka adalah patah tulang dimana fragmen tulang yang bersangkutan
sedang atau pernah berhubungan dunia luar (PDT ortopedi,2008)
II.2 Etiologi dan Patofisiologi Fraktur Terbuka
Penyebab dari Fraktur terbuka adalah Trauma langsung: benturan pada tulang dan
mengakibatkan fraktur pada tempat itu Trauma tidak langsung: bilamana titik tumpul
benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan.
Sedangkan Hubungan dengan dunia luar dapat terjadi karena
1. Penyebab rudapaksa merusak kulit, jaringan lunak dan tulang.
2. Fragmen tulang merusak jaringan lunak dan menembus kulit.

II.3 Klasifikasi Fraktur Terbuka


Klasifikasi yang dianut adalah menurut Gustilo, Merkow dan Templeman (1990)
6

TIPE 1
Luka kecil kurang dr 1cm panjangnya, biasanya karena luka tusukan dari fragmen tulang
yang menembus kulit. terdapat sedikit kerusakan jaringan dan tidak terdapat tanda2 trauma
yang hebat pada jaringan lunak. fraktur yang terjadi biasanya bersifat simple, transversal,
oblik pendek atau sedikit komunitif.
TIPE 2
Laserasi kulit melebihi 1cm tetapi tidak ada kerusakan jaringan yang hebat atau avulsi kulit.
terdapat kerusakan yang sedang dari jaringan dengan sedikit kontaminasi fraktur.
TIPE 3
Terdapat kerusakan yang hebat dari jaringan lunak termasuk otot, kulit dan struktur
neurovaskuler dengan kontaminasi yang hebat. tipe ini biasanya di sebabkan oleh karena
trauma dengan kecepatan tinggi.

Tipe 3 di bagi dalam 3 subtipe:


TIPE 3 a

Jaringan lunak cukup menutup tulang yang patah walaupun terdapat laserasi yang hebat
ataupun adanya flap. fraktur bersifat segmental atau komunitif yang hebat
TIPE 3 b
Fraktur di sertai dengan trauma yang hebat dengan kerusakan dan kehilangan jaringan,
terdapat pendorongan periost, tulang terbuka, kontaminasi yang hebatserta fraktur komunitif
yang hebat.
TIPE 3 c
Fraktur terbuka yang disertai dengan kerusakan arteri yang memerlukan perbaikan tanpa
memperhatikan tingkat kerusakan jaringan lunak.
II.4 Diagnosis Fraktur Terbuka3,4,5
Anamnesis
Biasanya penderita datang dengan suatu trauma (traumatik, fraktur), baik yang hebat maupun
trauma ringan dan diikuti dengan ketidakmampuan untuk menggunakan anggota gerak.
Anamnesis harus dilakukan dengan cermat, karena fraktur tidak selamanya terjadi di daerah
trauma dan mungkin fraktur terjadi pada daerah lain.
Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan awal penderita, perlu diperhatikan adanya:
1. Syok, anemia atau perdarahan
2. Kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang belakang atau organorgan dalam rongga toraks, panggul dan abdomen
3. Fraktur predisposisi, misalnya pada fraktur patologis
a. Pemeriksaan lokal
1. Inspeksi (Look)

Bandingkan dengan bagian yang sehat

Perhatikan posisi anggota gerak

Keadaan umum penderita secara keseluruhan

Ekspresi wajah karena nyeri

Lidah kering atau basah

Adanya tanda-tanda anemia karena perdarahan

Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk membedakan fraktur
tertutup atau fraktur terbuka

Ekstravasasi darah subkutan dalam beberapa jam sampai beberapa hari

Perhatikan adanya deformitas berupa angulasi, rotasi dan kependekan

Lakukan survei pada seluruh tubuh apakah ada trauma pada organ-organlain

Perhatikan kondisi mental penderita

Keadaan vaskularisasi

2. Palpasi (Feel)
Palpasi dilakukan secara hati-hati oleh karena penderita biasanya mengeluh sangatnyeri.

Temperatur setempat yang meningkat

Nyeri tekan; nyeri tekan yang bersifat superfisial biasanya disebabkan oleh kerusakan
jaringan lunak yang dalam akibat fraktur pada tulang

Krepitasi; dapat diketahui dengan perabaan dan harus dilakukan secara hati-hati

Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi arteri radialis, arteri
dorsalis pedis, arteri tibialis posterior sesuai dengan anggota gerak yang terkena

Refilling (pengisian) arteri pada kuku, warna kulit pada bagian distal daerah trauma,
temperatur kulit

Pengukuran tungkai terutama pada tungkai bawah untuk mengetahui adanya


perbedaan panjang tungkai

3. Pergerakan (Move)
Pergerakan dengan mengajak penderita untuk menggerakkan secara aktif dan pasif sendi
proksimal dan distal dari daerah yang mengalami trauma. Pada pederita dengan fraktur, setiap
gerakan akan menyebabkan nyeri hebat sehingga uji pergerakan tidak boleh dilakukan secara
kasar, disamping itu juga dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak seperti
pembuluh darah dan saraf.
4. Pemeriksaan neurologis
Pemeriksaan neurologis berupa pemeriksaan saraf secara sensoris dan motoris serta gradasi
kelelahan neurologis, yaitu neuropraksia, aksonotmesis atau neurotmesis. Kelaianan saraf
yang didapatkan harus dicatat dengan baik karena dapat menimbulkan masalah asuransi dan
tuntutan (klaim) penderita serta merupakan patokan untuk pengobatan selanjutnya.
5. Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan keadaan, lokasi serta ekstensi fraktur.
Untuk menghindarkan nyeri serta kerusakan jaringan lunak selanjutnya, maka sebaliknya kita
mempergunakan bidai yang bersifat radiolusen untuk imobilisasi sementara sebelum
dilakukan pemeriksaan radiologis.

II.5 Penatalaksanaan Fraktur Terbuka


Penanggulangan fraktur terbuka
Beberapa prinsip dasar pengelolaan fraktur tebuka:
1. Obati fraktur terbuka sebagai satu kegawatan.
2. Adakan evaluasi awal dan diagnosis akan adanya kelainan yang dapat menyebabkan
kematian.
3. Berikan antibiotic dalam ruang gawat darurat, di kamar operasi dan setelah operasi.
10

4. Segera dilakukan debrideman dan irigasi yang baik


5. Ulangi debrideman 24-72 jam berikutnya
6. Stabilisasi fraktur.
7. Biarkan luka tebuka antara 5-7 hari
8. Lakukan bone graft autogenous secepatnya
9. Rehabilitasi anggota gerak yang terkena

Prinsip-prinsip pengobatan fraktur


1. Pertolongan pertama membersihkan jalan napas, menutup luka dengan verban
yang bersih dan imobilisasi fraktur pada anggota gerak yang terkena agar penderita
merasa nyaman dan mengurangi nyeri sebelum diangkut dengan ambulans
2. Penilaian klinis nilai luka, apakah luka tembus tulang atau tidak, adakah trauma
pembuluh darah atau saraf atau trauma alat-alat dalam yang lain.
3. Resusitasi kebanyakan penderita dengan fraktur multiple tiba di rumah sakit
dengan syok, sehingga diperlukan resusitasi sebelum diberikan terapi pada frakturnya
sendiri berupa transfusi darah dan cairan-cairan lainnya serta obat-obat anti nyeri.

Prinsip Pengobatan ada 4, yaitu :


1. Recognition (diagnosis dan penilaian fraktur)
Awal pengobatan perlu diperhatikan :
Lokalisasi fraktur
Bentuk fraktur
Menentukan teknik yang sesuai dengan pengobatan
Komplikasi yang mungkin selama dan sesudah pengobatan
2. Reduction
Mengurangi fraktur dengan cara reposisi fraktur. Harus dengan posisi yang baik yaitu:
Alignment yang sempurna
Aposisi yang sempurna
3. Retention
Imobilisasi fraktur
4. Rehabilitation
Mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin
11

tahap-tahap pengobatan fraktur terbuka


1. Pembersihan luka
Pembersihan luka dilakukan dengan cara irigasi dengan cairan NaCl fisiologis secara
mekanis untuk mengeluarkan benda asing yang melekat.
2. Eksisi jaringan yang mati dan tersangka mati (debridemen)
Semua jaringan yang kehilangan vaskularisasinya merupakan daerah tempat
pembenihan bakteri sehingga diperlukan eksisi secara operasi pada kulit, jaringan
subkutaneus, lemak, fascia, otot dan fragmen2 yang lepas
3. Pengobatan fraktur itu sendiri
Fraktur dengan luka yang hebat memerlukan suatu fraksi skeletal atau reduksi terbuka
dengan fiksasi eksterna tulang. fraktur grade II dan III sebaiknya difiksasi dengan
fiksasi eksterna.

4. Penutupan kulit
Apabila fraktur terbuka diobati dalam waktu periode emas (6-7 jam mulai dari
terjadinya kecelakaan), maka sebaiknya kulit ditutup. hal ini dilakukan apabila
penutupan membuat kulit sangat tegang. dapat dilakukan split thickness skin-graft
serta pemasangan drainase isap untuk mencegah akumulasi darah dan serum pada
luka yang dalam. luka dapat dibiarkan terbuka setelah beberapa hari tapi tidak lebih
dari 10 hari. kulit dapat ditutup kembali disebut delayed primary closure. yang perlu
mendapat perhatian adalah penutupan kulit tidak dipaksakan yang mengakibatkan
sehingga kulit menjadi tegang.
5. Pemberian antibiotic
Pemberian antibiotik bertujuan untuk mencegah infeksi. antibiotik diberikan dalam
dosis yang adekuat sebelum, pada saat dan sesuadah tindakan operasi

12

6. Pencegahan tetanus
Semua penderita dengan fraktur terbuka perlu diberikan pencegahan tetanus. pada
penderita yang telah mendapat imunisasi aktif cukup dengan pemberian toksoid tapi
bagi yang belum, dapat diberikan 250 unit tetanus imunoglobulin (manusia)
2.5 Perawatan Lanjut dan Rehabilitasi Fraktur
Ada lima tujuan pengobatan fraktur:
1. Menghilangkan nyeri
2. Mendapatkan dan mempertahankan posisi yang memadai dari fragmen fraktur
3. Mengharapkan dan mengusahakan union
4. Mengembalikan fungsi secara optimal dengan cara mempertahankan fungsi otot dan
sendi,mencegah atrofi otot,adhesi dan kekakuan sendi,mecegah terjadinya komplikasi seperti
dekubitus,trombosis vena,infeksi saluran kencing serta pembentukan batu ginjal.
5. Mengembalikan fungsi secara maksimal merupakan tujuan akhir pengobatan fraktur. Sejak
awal penderita harus dituntun secara psikologis untuk membantu penyembuhan dan
pemberian fisioterapi untuk memperkuat otot-otot serta gerakan sendi baik secara isometrik
(latihan aktif statik) pada setiap otot yang berada pada lingkup fraktur serta isotonik yaitu
latihan aktif dinamik pada otot-otot tungkai dan punggung. Diperlukan pula terapi okupasi.

Penatalaksanaan
TERAPI KONSERVATIF3,4
1. Proteksi saja
Misalnya mitella untuk fraktur collum chirurgicum humeri dengan kedudukan baik
2. Immobilisasi saja tanpa reposisi
Misalnya dengan pemasangan gips atau bidai pada fraktur inkomplit dan fraktur
dengan kedudukan baik
3. Reposisi tertutup dan fiksasi gips
Fragmen distal dikembalikan pada kedudukan semula terhadap fragmen proksimal
dan dipertahankan dalam kedudukan yang stabil dalam gips
4. Traksi

13

Dipakai untuk reposisi secara perlahan dan fiksasi hingga sembuh atau dipasang gips setelah
tidak sakit lagi

Terapi Operatif
Terapi operatif dengan reposisi secara tertutup dengan bimbingan radiologis
1. Reposisi tertutup-fiksasi eksterna
2. Reposisi tertutup-fiksasi interna
Terapi operatif dengan membuka frakturnya
1. Reposisi terbuka dan fiksasi interna
Keuntungan :
Reposisi anatomis
Mobilisasi dini tanpa fiksasi luar
Indikasi :
Fraktur yang tidak bisa sembuh atau bahaya avaskular nekrosisnya tinggi.

Misalnya fraktur talus dan fraktur collum femur


Fraktur yang tidak bisa direposisi tetutup, misalnya fraktur avulse dan fraktur

dislokasi
Fraktur yang dapat direposisi tetapi sullit dipertahankan
Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih baik dengan

operasi, misalnya fraktur femur


2. Excisional Arthroplasty
Membuang fragmen yang patah yang membentuk sendi
3. Excisi fragmen dan pemasangan endoprosthesis
Dilakukan excise caput femur dan pemasangan endoprosthesis

Tujuan Pengobatan fraktur :


1. REPOSISI dengan tujuan mengembalikan fragmen keposisi anatomi
Tertutup

: fiksasi eksterna, Traksi (kulit, sekeletal)

Terbuka

: Indikasi :

1. Reposisi tertutup gagal


2. Fragmen bergeser dari apa yang diharapkan
14

3. Mobilisasi dini
4. Fraktur multiple
5. Fraktur Patologis
2. IMOBILISASI / FIKSASI
Tujuan mempertahankan posisi fragmen post reposisi sampai Union.
Jenis Fiksasi :
Ekternal

/ OREF

- Gips ( plester cast)


- Traksi
Indikasi :
Pemendekan (shortening)
Fraktur unstabel : oblique, spiral
Kerusakan hebat pada kulit dan jaringan sekitar
1. Traksi Gravitasi : U- Slab pada fraktur hunerus
2. Skin traksi
Tujuan menarik otot dari jaringan sekitar fraktur sehingga fragmen akan
kembali ke posisi semula. Beban maksimal 4-5 kg karena bila kelebihan kulit
akan lepas.
3. Sekeletal traksi : K-wire, Steinmann pin atau Denham pin.
Dipasang pada distal tuberositas tibia (trauma sendi koksea, femur, lutut), pada tibia atau
kalkaneus ( fraktur kruris)
Komplikasi Traksi :
1. Gangguan sirkulasi darah beban > 12 kg
2. Trauma saraf peroneus (kruris) droop foot
3. Sindroma kompartemen
4. Infeksi tmpat masuknya pin
Indikasi OREF :
1. Fraktur terbuka derajat III
2. Fraktur dengan kerusakan jaringan lunak yang luas
3. fraktur dengan gangguan neurovaskuler
15

4. Fraktur Kominutif
5. Fraktur Pelvis
6. Fraktur infeksi yang kontraindikasi dengan ORIF
7. Non Union
8. Trauma multiple
Internal /

ORIF : K-wire, plating, screw, k-nail

3. UNION
4. REHABILITASI
Penyembuhan Fraktur
Penyembuhan tulang terbagi menjadi 5, yaitu :
1. Fase Hematoma
Pembuluh darah di sekitar tulang yang mengalami fraktur robek, akibatnya, tulang
disekitar fraktur akan kekurangan nutrisi dan akhirnya mati sekitar 1-2 mm.

2. Fase Proliferasi Sel

16

Pada 8 jam pertama fraktur merupakan masa reaksi inflamasi akut dengan proliferasi
sel di bawah periosteum dan masuk ke dalam kanalis medulla. Bekuan hematom
diserap secara perlahan dan kapiler baru mulai terbentuk.

3. Fase Pembentukan Kalus


Sel yang berproliferasi bersifat kondrogenik dan osteogenik. Sel-sel ini akan
membentuk tulang dan juga kartilago. Selain itu sel yang berproliferasi tersebut juga
membentuk osteoklas yang memakan tulang-tulang yang mati. Massa seluler yang
tebal tersebut dan garam-garam mineralnya terutam kalsium membentuk suatu tulang
imatur yang disebut woven bone. Woven bone ini merupakan tanda pada radiologik
bahwa telah terjadi proses penyembuhan fraktur3,4,5

4. Fase Konsolidasi
Woven bone akan membentuk kalus primer dan secara perlahan-lahan akan
membentuk jaringan tulang yang lebih kuat oleh aktivitas osteoblas.

5. Fase Remodeling
Jika proses penyatuan tulang sudah lengkap, maka tulang yang baru akan membentuk
bagian yang menyerupai dengan bulbus yang meliputi tulang tanpa kanalis medularis.
Pada fase ini resorbsi secara osteoklastik tetap terjadi dan tetap terjadi osteoblastik
pada tulang.
17

II.6 komplikasi fraktur


1. Lesi Vaskuler
Trauma vaskular dapat melibatkan pembuluh darah arteri dan vena.
Perdarahan yang tidak terdeteksi atau tidak terkontrol dengan cepat akan
mengarah kepada kematian pasien, atau bila terjadi iskemia akan berakibat
kehilangan tungkai, stroke, nekrosis dan kegagalan organ multipel.
Keparahan trauma arteri bergantung kepada derajat invasifnya trauma,
mekanisme, tipe, dan lokasi trauma, serta durasi iskemia. Gambaran klinis dari
trauma arteri dapat berupa perdarahan luar, iskemia, hematoma pulsatil, atau
perdarahan dalam yang disertai tanda-tanda syok. Gejala klinis paling sering
pada trauma arteri ekstremitas adalah iskemia akut. Tanda-tanda iskemia adalah
nyeri terus-menerus, parestesia, paralisis, pucat, dan poikilotermia. Pemeriksaan
fisik yang lengkap, mencakup inspeksi, palpasi, dan auskultasi biasanya cukup
untuk mengidentifikasi adanya tanda-tanda akut iskemia.
Adanya tanda trauma vaskular pada fraktur terbuka merupakan suatu
indikasi harus dilakukan eksplorasi untuk menentukan adanya trauma vaskular.
Kesulitan untuk mendiagnosis adanya trauma vaskular sering terjadi pada
hematoma yang luas pada patah tulang tertutup. Tanda lain yang bisa menyertai
trauma vaskular adalah adanya defisit neurologis baik sensoris maupun motoris
seperti rasa baal dan penurunan kekuatan motoris pada ekstremitas. Aliran darah
yang tidak adekuat dapat menimbulkan hipoksia sehingga ekstremitas akan
tampak pucat dan dingin pada perabaan. Pengisian kapiler tidak menggambarkan
keadaan sirkulasi karena dapat berasal dari arteri kolateral, namun penting untuk
menentukan viabilitas jaringan (Rasjad, 2008).
Komplikasi yang dapat terjadi karena trauma vaskuler antara lain
thrombosis, infeksi, stenosis, fistula arteri-vena, dan aneurisma palsu. Trombosis,
infeksi, dan stenosis merupakan komplikasi yang dapat terjadi segera
pascaoperasi, sedangkan fistula arteri-vena dan aneurisma palsu merupakan
18

komplikasi lama. Rekomstruksi pembuluh darah harus ditangani secara sungguhsungguh dan teliti sekali karena bila terjadi kesalahan teknis operasi karena
ceroboh atau penatalaksanaan pasca bedah yang kurang terarah, akan berakibat
fatal bagi kelangsungan hidup ekstremitas berupa amputasi, atau terjadi emboli
paru (Apley et al., 2001).
2. Sindroma Kompartemen
Patah tulang pada lengan kaki dapat menimbulkan hebat sekalipun tidak
ada kerusakan pembuluh besar. Perdarahan, edema, radang, dan infeksi dapat
meningkatkan tekanan pada salah satu kompartemen osteofasia. Terjadi
penurunan aliran kapiler yang mengakibatkan iskemia otot, yang akan
menyebabkan edema lebih jauh, sehingga mengakibatkan tekanan yang lebih
besar lagi dan iskemia yang lebih hebat. Lingkaran setan ini terus berlanjut dan
berakhir dengan nekrosis saraf dan otot dalam kompartemen setelah kurang lebih
12 jam (Apley dan Solomon, 2001).
Meningkatnya tekanan jaringan menyebabkan obstruksi vena dalam ruang
yang tertutup. Peningkatan tekanan terus meningkat hingga tekanan arteriolar
intramuskuler bawah meninggi. Pada titik ini, tidak ada lagi darah yang akan
masuk ke kapiler, menyebabkan kebocoran ke dalam kompartemen, sehingga
tekanan dalam kompartemen semakin meningkat. Penekanan saraf perifer
disekitarnya akan menimbulkan nyeri hebat. Bila terjadi peningkatan intra
kompartemen, tekanan vena meningkat. Setelah itu, aliran darah melalui kapiler
akan berhenti. Dalam keadaan ini penghantaran oksigen juga akan terhenti,
Sehingga terjadi hipoksia jaringan (pale). Jika hal ini terus berlanjut, maka terjadi
iskemia otot dan nervus, yang akan menyebabkan kerusakan ireversibel
komponen tersebut. Secara klasik terdapat 5 P yang menggambarkan gejala klinis
sindroma kompartemen, yaitu:
a. Pain
b. Paresthesia
c. Pallor
d. Paralysis
e. Pulseness Osteomyelitis Akut
3. . Gas Gangren
Keadaan yang mengerikan ini ditimbulkan oleh infeksi klostridium,
terutama C. welchii. Organisme anaerob ini dapat hidup dan berkembang biak
hanya dalam jaringan dengan tekanan oksigen yang rendah; karena itu, tempat
utama infeksinya adalah luka yang kotor dengan otot mati yang telah ditutup
tanpa debridemen yang memadai. Toksin yang dihasilkan oleh organisme ini
19

menghancurkan dinding sel dan dengan cepat mengakibatkan nekrosis jaringan,


sehingga memudahkan penyebaran penyakit itu (Apley dan Solomon, 2001).
4. Septic Arthritis
Septic arthritis merupakan proses infeksi bakteri piogenik pada sendi yang
jika tidak segera ditangani dapat berlanjut menjadi kerusakan pada sendi. Artritis
septik karena infeksi bakterial merupakan penyakit yang serius yang cepat
merusak kartilago hyalin artikular dan kehilangan fungsi sendi yang irreversibel.
Penyebab artritis septik merupakan multifaktorial dan tergantung pada
interaksi patogen bakteri dan respon imun hospes. Proses yang terjadi pada sendi
alami dapat dibagi pada tiga tahap yaitu kolonisasi bakteri, terjadinya infeksi, dan
induksi respon inflamasi hospes. Kolonisasi bakteri Sifat tropism jaringan dari
bakteri merupakan hal yang sangat penting untuk terjadinya infeksi sendi.
S.aureus memiliki reseptor bervariasi (adhesin) yang memediasi perlengketan
efektif pada jaringan sendi yang bervariasi. Adhesin ini diatur secara ketat oleh
faktor genetik, termasuh regulator gen asesori (agr), regulator asesori
stafilokokus (sar), dan sortase
Gejala klasik artritis septik adalah demam yang mendadak, malaise, nyeri
lokal pada sendi yang terinfeksi, pembengkakan sendi, dan penurunan
kemampuan ruang lingkup gerak sendi. Sejumlah pasien hanya mengeluh demam
ringan saja. Demam dilaporkan 60-80% kasus, biasanya demam ringan, dan
demam tinggi terjadi pada 30-40% kasus sampai lebih dari 399 C. Nyeri pada
artritis septik khasnya adalah nyeri berat dan terjadi saat istirahat maupun dengan
gerakan aktif maupun pasif.
Evaluasi awal meliputi anamnesis yang detail mencakup faktor
predisposisi, mencari sumber bakterimia yang transien atau menetap (infeksi
kulit, pneumonia, infeksi saluran kemih, adanya tindakantindakan invasiv,
pemakai obat suntik, dll), mengidentifikasi adanya penyakit sistemik yang
mengenai sendi atau adanya trauma sendi.
5 Osteomielitis Akut
Osteomielitis akut adalah infeksi tulang yang terjadi secara akut.yang bisa
disebabkan oleh penyebaran hematogen (melalui darah) dari fokus infeksi di
tempat lain (misalnya Tonsil yang terinfeksi, lepuh, gigi terinfeksi, infeksi
saluran nafas atas). Osteomielitis akibat penyebaran hematogen biasanya terjadi
ditempat di mana terdapat trauma dimana terdapat resistensi rendah
kemungkinan akibat trauma subklinis (tak jelas).
20

Staphylococcus aureus merupakan penyebab 70% sampai 80% infeksi


tulang. Organisme patogenik lainnya sering dujumpai pada osteomielitis meliputi
Proteus, Pseudomonas dan Ecerichia coli. Terdapat peningkatan insiden infeksi
resisten penisilin, nosokomial, gram negatif dan anaerobik. Awitan osteomielitis
setelah pembedahan ortopedi dapat terjadi dalam 3 bulan pertama (akut fulminan
stadium I) dan sering berhubungan dengan penumpukan hematoma atau infeksi
superfisial. Infeksi awitan lambat (stadium 2) terjadi antara 4 sampai 24 bulan
setelah pembedahan. Osteomielitis awitan lama (stadium 3) biasanya akibat
penyebaran hematogen dan terjadi 2 tahun atau lebih setelah pembedahan.
Respons inisial terhadap infeksi adalah peningkatan vaskularisasi dan
edema. Setelah 2 atau 3 hari, trombosis pada pembuluh darah terjadi pada
tempat tersebut, mengakibatkan iskemia dengan nekrosis tulang sehubungan
dengan peningkatan dan dapat menyebar ke jaringan lunak atau sendi di
sekitarnya, kecuali bila proses infeksi dapat dikontrol awal, kemudian akan
terbentuk abses tulang (Apley et al., 2001).
Komplikasi Lambat :
1. Penyembuhan Terlambat
Pada patah tulang panjang yang sangat tergeser dapat terjadi robekan pada
periosteum dan terjadi gangguan pada suplai darah intramedular. Kekurangan suplai
darah ini dapat menyebabkan pinggir dari patah tulang menjadi nekrosis. Nekrosis
yang luas akan menghambat penyembuhan tulang. Kerusakan jaringan lunak dan
pelepasan periosteum juga dapat mengganggu penyembuhan tulang (Apley dan
Solomon, 2001).
2. Non-Union
Bila keterlambatan penyembuhan tidak diketahui, meskipun patah tulang telah
diterapi dengan memadai, cenderung terjadi non-union. Penyebab lain ialah adanya
celah yang terlalu lebar dan interposisi jaringan (Apley dan Solomon, 2001). 5
3. Malunion
Bila fragmen menyambung pada posisi yang tidak memuaskan, seperti contoh
angulasi, rotasi, atau pemendekan yang tidak dapat diterima. Penyebabnya adalah
tidak tereduksinya patah tulang secara cukup, kegagalan mempertahankan reduksi
ketika terjadi penyembuhan, atau kolaps yang berangsur-angsur pada tulang yang
osteoporotik atau kominutif (Apley dan Solomon, 2001).5
4. Gangguan pertumbuhan
Pada anak-anak, kerusakan pada fisis dapat mengakibatkan pertumbuhan yang
abnormal atau terhambat. Patah tulang melintang pada lempeng pertumbuhan tidak
membawa bencana; patahan menjalar di sepanjang lapisan hipertrofik dan lapisan
21

berkapur dan tidak pada daerah germinal maka, asalkan patah tulang ini direduksi
dengan tepat, jarang terdapat gangguan pertumbuhan. Tetapi patah tulang yang
memisahkan bagian epifisi pasti akan melintasi bagian fisis yang sedang tumbuh,
sehingga pertumbuhan selanjutnya dapat asimetris dan ujung tulang berangulasi
secara khas; jika seluruh fisis rusak, mungkin terjadi perlambatan atau penghentian
pertumbuhan sama sekali (Apley dan Solomon, 2001).
Golden periode penanganan fraktur terbuka adalah kurang dari 6-8 jam
dikarenakan proses dan pola pertumbuhan bakteri yang terjadi pada luka fraktur
terbukanya. Umumnya jenis bakteri yang sering ditemui pada luka adalah golongan
bakteri Staphylococcus. Staphylococcus aureus yang patogenik dan yang bersifat
invasif menghasilkan koagulase dan cenderung untuk menghasilkan pigmen kuning
dan menjadi hemolitik.
Setelah berjalan 6 jam pasca kejadian fraktur terbuka, bakteri Stapylococcus
aureus dapat mengadakan ikatan secara kimiawi ke dinding sel-sel yang seharusnya
mengalami penyembuhan berupa hematom, inflamasi dan rekonstruksi. Setelah
mengalami ikatan, bakteri ini akan mengeluarkan enterotoksin dan eksotoksin yang
akhirnya dapat menyebabkan osteomyelitis (Luchette, 2008).

KESIMPULAN

22

Fraktur terbuka merupakan suatu fraktur dimana terjadi hubungan dengan lingkungan
luar melalui kulit sehingga terjadi kontaminasi bakteri sehingga timbul komplikasi berupa
infeksi. luka pada kulit dapat berupa tusukan tulang yang tajam keluar menembus kulit atau
dari luar oleh karena tertembus misalnya oleh peluru atau trauma langsung.
Fraktur terbuka merupakan suatu keadaan darurat yang memerlukan penanganan yang
terstandar untuk mengurangi resiko dan komplikasi dari fraktur terbuka.. Hubungan dengan
dunia luar dapat terjadi karena penyebab rudapaksa merusak kulit, jaringan lunak dan tulang
atau fragmen tulang merusak jaringan lunak dan menembus kulit.
Semua patah tulang terbuka adalah kasus gawat darurat. Karena itu penanganan patah
tulang terbuka harus dilakukan sebelum golden periode terlampaui agar sasaran akhir
penanganan patah tulang terbuka tercapai.

Daftar Pustaka

1. Mansjoer A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta: Media


Aesculapius, pp: 346-370
2. Rasjad C. 2008. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta: Yarsif Watampone,
pp: 332-334.
3. Sjamsuhidajat R. and Jong W. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta:
EGC, pp: 840-841
23

4. Cross & Swiontkowski. (2008). Treatment Principles in the Management of


Open Fractures. Indian Journal of Orthopaedics. 42(4). 377-386
5. Apley A.G., Nagayam S., Solomon L., Warwick D. 2001. Apleys System of
Orthopaedics and Fractures: Arnold

24