Anda di halaman 1dari 3

Diagnosa Keperawatan dan Intervensi

Gangguan perfusi jaringan jantung berhubungan dengan , iskemik, kerusakan otot jantung,
penyempitan / penyumbatan pembuluh darah arteri koronaria ditandai dengan :

Daerah perifer dingin


EKG elevasi segmen ST & Q patologis pada lead tertentu
RR lebih dari 24 x/ menit
Kapiler refill Lebih dari 3 detik
Nyeri dada
Gambaran foto torak terdpat pembesaran jantung & kongestif paru ( tidak selalu )
HR lebih dari 100 x/menit, TD > 120/80AGD dengan : pa O 2 <>2 > 45 mmHg dan Saturasi

<>
Nadi lebih dari 100 x/ menit
Terjadi peningkatan enzim jantung yaitu CK, AST, LDL/HDL
Tujuan :
Gangguan perfusi jaringan jantung berkurang / tidak meluas selama dilakukan tindakan
perawatan di RS.
Kriteria Hasil:
-

Nyeri dada berkurang (skala nyeri 1-3)


Gambaran ST depresi berkurang atau tidak ada
TD= 120/80 mmHg
Nadi=60-100x/menit
EKG:Irama sinus reguler.
Intervensi

Rasional
1-9 data tentang perubahan kondisi fisik

1. Observasi tanda-tanda vital tiap


1-4jam, status hemodinamika
2. Monitor

tanda

dan

klien bermanfaat dalam diagnosa gagal


jantung kiri. Penuruna curah jantung

gejala mengakibatkab

penurunan

tekanan

penurunan perfusi (nyeri dada, tekanan darah dan perfusi jaringan,


disritmia, takikardia, takipnea, peningkatan denyut jantung sebagai
hipotensi dan penurunan curah mekanisme

mempertahankan curah jantung.

jantung)
3. Monitor

bunyi

dan

irama

jantung secara kontinue, catat


adanya

kompensasi

denyut

ventrikel kontraksi

prematur

untuk

4. Palpasi denyut nadi perifer


guna

mengkaji

adanya

denyutan prematur.
5. Observasi adanya tanda dan
gejala penurunan curah jantung
( pusing, pucat, diaforesis,
pingsan, akral dingin)
6. Monitor

tanda

gangguan

dan

perfusi

gejal
renal

(produksi urin < 30 ml/jam,


peningkatan

BUN

dan

kreatinin, edema perifer, tidak


adanya reaksi diuretik).
7. Monitor tanda dan gejala yang
menujukkan penurunan perfusi
jaringan (kulit dingin, pucat,
lembab, berkeringat, sianosis,
denyut

nadi

lemah,

edema

perifer).
8. Atur posisi baring setiap 2 jam,
menggerakkan kaki dan tangan
secara aktif dan pasif setiap 1
jam
9. Monitor tanda dan gejala yang
menunjukkan penurunan perfusi
otak (gelisah, bingung, apatis,
somnolen).
10.pemeriksaan
EKG
periodik
10. Rekam pola EKG secara periodik berguna untuk menentukan diagnosis
selama periode serangan dan catat perluasan area iskemik.
adanya disritmia atau perluasan
iskemia atau infark miokard
11.
11. Kolaborasi tim medis untuk terapi
a.
Disrimia menurunkan curah

jantung yang ekstrem dan perfusi


dan tindakan.
a.

jaringan.

Anti disritmia: Lidocain, aminodaron


(bila ada indikasi klinis)

b.

vaskular (vasodilatasi) vena dan arteri

Vasodilator: nitrogliserin (ISDN, ACE


Inhibitor).

c.

sehingga menurunkan preload.


c. Dengan dosis yang tepat dapat

Inotropic: Dopamin atau dobutamin


sesuai indikasi.

d.

b. Bitrat merelaksasikan otot polos

meningkatkan kontraktilitas miokard


dan meningkatkan perfusi jaringan.

Pemasangan pacemaker atau kateter


Swanganz (bila ada TAVB)

d. Terapi oksigen dapat meningkatkan


suplai oksigen miokard.

e.

CABG jika ada indikasi klinis

f.

PTCA atau Coronary artery stenting jika

e. Pacemaker membantu meperbaiki

ada indikasi klinis.

irama jantung sehingga meningkatkan


curah jantung dan perfusi jaringan.
f. Memperbaiki sirkulasi koroner,
meningkatkan suplai oksigen dan

perfusi miokard.
12.Efek samping obat yang dapat
12. Observasi reaksi atau efek terapi, membahayakan kondisi klien harus
dikaji dan dilaporkan.
efek samping, toksisitas
13.Respon valsava dapat menurunkan
13. Hindari respon valsava yang
kontraktilitas miokard.
merugikan. Atur diiet yang
diberikan.
14.Mempertahankan
14. Pertahankan

intake

cairan

maksimal 2000 ml/ 24 jam (bila


tidak ada edema).

keseimbangan

cairan dan mencegah overload cairan


ekstraseluler.