Anda di halaman 1dari 16

BAB II

FOTO UDARA

2.1. Judul
Untuk mengetahui kondisi suatu wilayah yang luas tanpa harus langsung turun
kelapangan, dapat dilakukan melalui analisa foto udara (Citra). Foto udara (Citra)
yang dihasilkan melalui pemotretan oleh satelit merupakan foto yang sulit untuk
dipahami tanpa analisa terlebih dahulu. Secara manual, analisa citra dapat
dilakukan menggunakan alat stereoskop, dengan bantuan stereoskop ini akan
terlihat dalam bentuk 3 dimensi dari citra yang diamati sehingga bentuk-bentuk
lahan dapat diketahui lebih jelas, berbeda hal bila menganalisa foto udara (Citra)
hanya dengan menggunakan mata telanjang yang mana hal ini sangat sulit
tentunya. Pada kesempatan ini sesuai dengan mata kuliah praktikum interpretasi
foto udara, yang memplajari tentang penginterpretasian foto udara dengan
menggunakan alat stereoskop yang telah dilaksanakan.

2.2. Tujuan Praktikum


Dari rumusan selama praktikum, maka didapatkan tujuan dari praktikum ini
adalah
Mengetahui pengertian bentuk lahan dan bentukan lahan asal proses
fluvial.
Menjelaskan cara melakukan interpretasi foto udara
Mengetahui hasil dari interpretasi dari praktikum yang selesai dilakukan

2.3. Alat dan Bahan


Dalam melakukan praktikum memerlukan alat dan bahan , dimana alat dan
bahan untuk melakukan interpretasi dalam melakukan praktikum

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014

2.3.1. Alat
Adapun alat-alat yang digunakan dalam menginterpretasikan citra foto
udara ini ialah sebagai berikut :

Spidol Snowman mata F empat warna


Penggaris
Selotip Bening
Gunting

2.3.2. Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam menginterpretasikan citra foto
udara ini ialah sebagai berikut :
Stereoskop Cermin
Foto Udara
Plastik Kaca

2.4. Dasar Teori


2.4.1. UnsurPengenalan Dalam Foto Udara
Unsur dasar pengenalan foto udara terdiri dari rona, tekstur, pola,
bentuk, ukuran, letak (site),asosiasi dan bayangan.

a.

Rona
Rona adalah ukuran jumlah relatif cahaya yang terpantul dari suatu obyek dan

terekam pada foto hitam-putih (Lattman dan Ray, 1965:163). Rona biasanya
dinyatakan dengan cerah abu-abu atau gelap.

II-2

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014
Batuan yang segar, apabila kandungan silika atau mineral kwarsanya makin
banyak ronanya makin cerah (contoh granit dan riolit berona cerah;diorit dan
andesit berona abu-abu, gabro dan basaltberona gelap; batupasir kwarsa berona
cerah; lempung dan serpih berona abu-abu hingga gelap batugamping, napal dan
tuf berona cerah).
Rona dapat dihasilkan oleh batuan induk segar, tanah hasil pelapukan
batuan, tubuh air, vegetasi, obyek budaya relief dan kekasaran permukaan. Oleh
karena itu untuk wilayah Indonesia yang beriklim tropik basah, rona sebagai unsur
dasar pengenalan citra, kurang bermanfaat singkapan batuan segar jarang
dijumpai karena tanah cukup tebal, vegetasi lebat dan bentuklahan budaya
banyak.
Way(lihatSoetoto, 1987 : 66) menyebutkan bahwa keseragaman rona
dapat dibagi menjadi :
1) Uniform-tone
2) Mottled-tone
3) Banded-tone
4) Scrabbled-tone
Uniform-tone
Rona seragam ini ditunjukkan oleh obyek yang mempunyai tingkat
kecerahan sama di setiap bagian.
Batuan yang mempunyai rona seragam antara lain endapan aluvial dan
batuan sedimen horisontal dan tebal yang mempunyai kandungan air dan
tekstur yang seragam.
Mottled-tone

II-3

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014
Rona ini tampak berupa rona cerah dan gelap dengan bentuk yang relatif
bundar, berubah-ubah dalam jarak yang relatif dekat, yang terlalu kecil untuk
didelineasi sendiri-sendiri. Rona ini dapat disebabkan oleh perubahan
kandungan air atau tekstur tanah.
Rona gelap dapat disebabkan oleh daerah depresi basah atau bayangan,
sedangkan rona cerah disebabkan oleh timbulan yang kering dan terkena sinar
matahari. Rona mottled dapat jumpai pada :batugamping bertopografi Karst,
dataran till dataran pantai. gumuk-gumuk pasir, cekungan infiltrasi pada teras
dan dataran banjir.
Banded-tone
Rona ini tampak berupa rona cerah dan gelap berselang-seling seperti
berkas atau pita yang lurus atau meliuk-liuk.
Rona ini dapat dijumpai pada daerah basah dan kering yang berhubungan
dengan meander-scroll di dataran banjir, saluran-saluran purba, gelembur
gelombang, pematang pantai, bukit pasir linier, gawir pada batuan sedimen
berlapis, dan batuan metamorfik berfoliasi.
Scrabbled-tone
Rona ini tampak berupa rona gelap dan cerah dengan bentuk tidak
menentu dan ukuran bervariasi. Rona ini dapat dijumpai di daerah bertekstur
halus tetapi tidak teratur seperti :
Daerahkering yang mengandung deposit alkali di permukaan bumi, daerah
aliran lava dan lahar serta sawah-sawah basah dan kering.

II-4

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014

Gambar 2.1. : Fotocopy foto udara hitam putih, pankromatik, vertikal, tunggal, daerah
teluk Pacitan Jawa Timur. A = tubuh air berona cerah, B = Koloid, suspensi dan
endapan marin berona abu-abu hingga gelap, C = dataran pantai teluk Pacitan yang
berkembang ke arah Samudera.

b.

Tekstur

Tekstur adalah frekuensi perubahan rona pada citra yang dihasilkan oleh
sekelompok satuan yang terlalu kecil untuk dibedakan masing-masing secara jelas
pada foto (Colwell, lihat Ray, 1950:9).
Avery (1977:24)menyebutkan bahwa tekstur adalah derajat kekasaran, atau
kehalusan yang ditunjukkan oleh citra foto. Tekstur berkaitan dengan rona,
bentuk, ukuran dan pada. Tekstur biasa dinyatakan dengan halus, sedang dan
kasar. Tekstur dapat pula dinyatakan dengan berbintik-bintik. berbutir, linier,
blocky, matted dan wooll.

II-5

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014
Tekstur halus bisa dijumpai pada batuan yang homogen berbutir halus
seperti batulempung dan tuf halus, sedangkan tekstur kasar biasa dijumpai pada
batuan heterogen, berelief tinggi seperti breksi, konglomerat batuan beku dan
batugamping.
Di daerah yang bervegetasi atau tertutup oleh obyek lain, yang tampak
adalah tekstur vegetasi dan obyek lain tersebut, bukan tekstur batuannya.
Istilah tekstur sering pula digunakan untuk menyatakan tekstur penyaluran
(drainage-texture). Way( Soetoto, 1987: 68)menyebutkan bahwa tekstur
penyaluran dapat dibagi menjadi halus, sedang dan kasar.
Apabila tidak ada pengaruh kekar dan atau sesar, maka tekstur halus
manunjukkan bahwa batuannya tak dapat melewatkan zat cair (impermeable)
seperti batulempung, tuf halus dan napal. Di sini air permukaan sempat
berkembang. Tekstur kasar menunjukkan bahwa batuannya dapat melewatkan
zatcair (permeable) seperti pasir dan tuf kasar. Di sini air permukaan mudah
melakukan infiltrasi.
c.

Pola

Pola yaitu susunan meruang yang teratur mengenaikenampakan geologi, topografi


dan vegetasi (Ray, 1960: 9). Pola garis-garis lurus menunjukkan adanya
kekar(joints), sesar (faults), garislapisan (bedding-lines) dan ketidakselarasan
(unconformites).Pola garis-garis melengkung menunjukkan adanya kubah
(domes), antiklin menunjam, sinklin menunjam dan batas penyebaran, batuan
vulkanik kuarter.
Pola penyaluran pada umumnya berkaitandengan morfologi atau struktur geolog
daerah yang bersangkutan.

II-6

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014
d.

Bentuk

Bentuk adalah variabelkualitatif yang memberikan konfigurasi atau kerangka


suatu obyek (Lo, 1977, 1ihat Sutanto, 1986 : 135). Obyek yang dapat dikenali
dari bentuknya antara lain kerucut volkanik, bukit pasir endapan angin dan
endapan marin, teras sungai, meander, dolina, ponor dan bukit kerucut pada
daerah bertopografi Karst,batuan beku intrusif, lava, lahar, kekar, sesar dan lipatan
serta endapan kipas aluvial.
e.

Ukuran

Ukuran adalah atribut obyek yang meliputi dimensi panjang, lebar, tinggi, luas,
volume dan sudut kemiringan. Ukuran harus dikaitkan dengan skala. Dike,
berukuran kecil memanjang, si11 memanjang sejajar jurus lapisan batuan,gawir
erosi pada batuan sedimen miring biasanya lebih curam daripada dipslope-nya .
f.

Letak

Letak obyek terhadap obyek lain di sekitarnya sering disebut dengan situs
(site), atau disebut situasi. Situs pemukiman memanjang pada umumnya pada
igir beting pantai, pada tanggul-alam (natural-levee) atau di sepanjang tepi
jalan. Lava muda akan terletak pada lereng puncak gunungapi.

g.

Asosiasi

Asosiasi dapat diartikan sebagai keterkaitan antara obyek yang satu dengan
obyek lain (Sutanto, 1986:142).

II-7

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014
Lava akan berasosiasi dengan lahar, breksi volkanik dan aglomerat. Deretan
endapan kipas aluvial berasosiasi dengan gawir sesar atau gawir terkontrol
sesar dan triangle-facets.
h.

Bayangan

Obyek atau gejala yang terletak di daerah bayangan pada umumnya tidak
tampak atau tampak samar-samar. Meskipun demikian, bayangan sering
merupakan kunci pengenalan bagi obyek pokoknya. Lereng terjal tampak
lebih jelas dengan adanya bayangan.

Gambar 2.2. Contoh Foto Udara

2.4.2. Unsur Dasar Interpretasi Geologi


Unsur dasar interpretasi geologi terdiri dari relief, pola penyaluran,
vegetasi dan budaya.

a.

Relief

Relief adalah beda tinggi antara puncak timbulan dan dasar lekukan (lembah)
serta curam landainya lereng-lereng yang ada di daerah tersebut. Relief

II-8

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014
mencerminkan daya tahan batuan terhadap tenaga eksogenik. Batuan yang
mempunyai ketahanan tinggi seperti batuan beku intrusif, breksi vulkanik,
aglomerat, konglomerat, breksi, batupasir, batugamping dan batuan metamorfik
akan memiliki relief tinggi, sedangkan batuan yang mempunyai ketahanan rendah
seperti batulempung, serpih, napal, batulanau, tuf halus, koluvium dan aluvium
mempunyai relief rendah.
Relief dipengaruhi oleh iklim. Batugamping di daerah tropik basah
memiliki relief topografi Karst, sedangkan di daerah subtropik, batugamping akan
mempunyai bentuklahan negatif seperti sinkhole dan doline.
Desaunettes (1977:6) membuat klasifikasi relief menjadi beberapa klas,
klasifikasi sub-kelas lereng, sedangkan Zuidam dan Zuidam Cancelado (1979 :
12) membuat klasifikasi relief.
b.

Pola Penyaluran

Pola penyaluran adalah susunan dalam pandangan datar. alami dalam suatu
daerah. Pola penyaluran berhubungan dengan sifat dan sejarah geologi lokal
daerah tersebut (Bates dan Jackson, 1987:196).
c.

Vegetasi

Vegetasi

dapat

memberikan

keterangan

keadaan

geologi

daerah

yang

bersangkutan, contoh yaitu:


a.

pohon jati tumbuh subur di gamping,

b.

pohon karet dapat tumbuh subur di batuan volkanik,

c.

padi

biasa

ditanam

di

dataran

fluvial,datarankaki

gunungapi dan dapat pula ditanam pada tanah residual (residual-soil) di


daerah perbukitan,

II-9

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014
d.

alang-alang biasa terdapat di batuan napal dan batupasir,

e.

hutan lebat berbatang rendah biasa tumbuh di betupasir,


sedangkan yang berbatang tinggi tumbuh di tanah hasil pelapukan granit
(contoh: Pegunungan Schwaner di Kalimantan).

f.

vegetasi berpola sistematik, membentuk garis-garis


lurus, dan saling berpotongan biasa dijunpai pada jalur-jalur kekar,
sedangkan pada sesar polanya tidak harus sistematik.

g.

vegetasi berpola sejajar dan melengkung biasa terdapat


pada batuan sedimen klastik berstruktur antiklin, sinklin atau kubah.

h.

vegetasi dapat pula tumbuh subur di zona kontak antara


batuan permeable dan impermeable.

d.

Budaya

Obyek budaya manusia dapat digunakan untuk interpretasi geologi, sebagai


contoh yaitu :
a.

sawah biasa diolah di dataran aluvial, dataran kaki


gunungapi dan residual-soil,

b.

waduk biasa dibangun di batuan kedap air (impermeable) dan di daerah indra yang mempunyai bentuklahan yang
memungkinkan untuk lokasi waduk, misalnya di daerah perbukitan
berbentuk tapal kuda.

c.

pemukiman

biasa

berkembang

di

daerah

yang

mengandung air cukup, misalnya di tepi-tepi sungai, di daerah yang


banyak terdapat mataair dan di daerah berairtanah dangkal,

II-10

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014
d.

hutan buatan manusia biasanya dijumpai di daerah yang


memiliki tanah tebal dengan lereng terjal, karena hutan tersebut
dimaksudkan untuk mencegah atau mengurangi proses erosi dan gerakan
massa.

2.4.3. Manfaat Foto Udara


Untuk mengetahui kondisi suatu wilayah yang luas tanpa harus langsung turun
kelapangan, dapat dilakukan melalui analisa foto udara (Citra). Foto udara (Citra)
yang dihasilkan melalui pemotretan oleh satelit merupakan foto yang sulit untuk
dipahami tanpa analisa terlebih dahulu. Secara manual, analisa citra dapat
dilakukan menggunakan alat stereoskop, dengan bantuan stereoskop ini akan
terlihat dalam bentuk 3 dimensi dari citra yang diamati sehingga bentuk-bentuk
lahan dapat diketahui lebih jelas, berbeda hal bila menganalisa foto udara (Citra)
hanya dengan menggunakan mata telanjang yang mana hal ini sangat sulit
tentunya.
Manfaat utama foto udara bila dibandingkan dengan pengamatan di
lapangan meliputi beberapa hal sebagai berikut :

Meningkatkan Titik Keuntungan


Fotografi udara memungkinkan untuk mengamati gambar yang besar yang
di dalamnya terdapat objek-objek yang diinginkan. Foto udara
memperlihatkan kenampakan menyeluruh di mana semua yang ada di
muka bumi yang dapat diamati dan direkam secara serentak. Namun
informasi yang diperoleh bagi tiap orang yang mengamatinya akan
berbeda tergantung dari keperluannya masing-masing. Hidrologis akan

II-11

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014
memusatkan perhatiannya pada tubuh air permukaan, geologis pada
struktur batuan dan geomorfologinya, pakar pertanian pada jenis tanah dan
tanamannya, dan sebagainya.

Kemampuan untuk Menghentikan Kegiatan


Tidak seperti mata manusia, foto dapat memberikan suatu gambaran
kegiatan yang terhenti atas kondisi yang bersifat dinamik. Foto udara
sangat berguna untuk mempelajari fenomena yang dinamik dari banjir,
populasi binatang liar yang bergerak, lalu lintas, tumpahan minyak, dan
kebakaran hutan.

Catatan Permanen
Foto udara pada dasarnya merupakan rekaman permanen atas kondisi yang
ada. Rekaman tersebut dapat dipelajari dengan lebih enak, lebih banyak di
kantor. Satu citra dapat dipelajari banyak pengguna. Foto udara juga dapat
sebagai pembanding suatu data sejenis yang diperoleh pada waktu
sebelumnya, sehingga perubahan sesuai dengan berlalunya waktu dapat
dipantau.

Kepekaan Spektral Diperlebar


Film dapat mengindra dan merekam pada rentang panjang gelombang
sebesar dua kali lebih lebar daripada kepekaan mata manusia (0,3 - 0,9
mm dibandingkan 0,4 - 0,7 mm). Dengan fotografi, panjang gelombang
ultraviolet dan inframerah pantulan yang tidak tampak dapat dideteksi,
kemudian direkam dalam bentuk citra yang tampak, sehingga kita bisa
melihat fenomena yang tidak tampak oleh mata.

II-12

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014

Meningkatkan Resolusi Spasial dan Ketelitian Geometrik.


Melalui pemilihan yang tepat atas kamera, film, dan parameter
penerbangan, kita dapat merekam data keruangan yang lebih rinci pada
foto dibandingkan yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Data tersebut
tersedia untuk kita dengan mengamati foto udara tersebut dibantu dengan
pembesaran. Dengan data rujukan lapangan yang tepat, kita juga dapat
memperoleh pengukuran teliti atas posisi, jarak, arah, luas, ketinggian,
volume, dan lereng berdasarkan foto udara. Sesungguhnya, kebanyakan
peta planimetrik dan peta topografi yang ada sekarang dihasilkan dengan
menggunakan pengukuran-pengukuran dari foto udara.

2.4.4. Analisis Geomorfologi Dengan Foto Udara


Satuan

bentuk

lahan,

baik

secara

morfologi,

morfogenesis,

morfokronologi, maupun, morphoarrangementdapat diinterpretasi dari foto udara


(Zuidam, 1983). Hal-hal tersebut di atas meliputi :
1.

Morfologi (relief umum)


a. Morfografi : aspek deskriptif geomorfologi di suatu daerah seperti
dataran, perbukitan, pegunungan dan plato.
b. Morfometri : aspek kuantitatif suatu daerah seperti kecuraman
lereng beda tinggi dan luas satuan.

2.

Morfogenesis (asal dan perkembangan bentuk lahan


proses yang membentuknya dan yang bekerja padanya).

II-13

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014
a. Morfostruktur pasif : litologi, baik jenis maupun struktur batuan
yang berhubungan dengan denudasi seperti mesa, cuesta, hogback
dan kubah.
b. Morfostruktur aktif : dinamika endogen meliputi volkanisme,
tektonisme lipatan dan sesar seperti gunungapi, pematang antiklin
dan gawir sesar.
c. Morfodinamik dinamika eksogen yang berhubungan dengan angin,
air dan es serta gerakan massa, seperti bukit pasir endapan angin
dan bukit pasir pantai, terminal moraines dan badland.
3.

Morfokronologi

(penanggalan

absolut

dan

relatif

berbagai bentuk lahan yang berhubungan), sebagai contoh ; teras


sungai muda an teras sungai tua, pematang pantai muda dan pematang
tua.
Morpho-arrangement (susunan keruangan dan jaringan hubungan berbagai
bentuk lahan dan proses yang berhubungan).

2.5. Cara Kerja


Dua buah foto udara yang tipis , perbedaan sudut pengambilan
gambarnya, biasanya kode foto tersebut tidak jauh jaraknya satu sama
lain
Siapkan alat stereoskop dan letakan kedua foto dibawah lensa amat,
dengan yang lebih kecil berada di sebelah kiri
Buat kedua foto berhimpit dan gambar yang ada pada foto seakan
timbul dan nyata

II-14

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014
Selotip foto disebelah kanan dan beri garis pinggir pada foto, setelah
itu tentukan titik focus foto, dengan cara menggaris tengah foto
ditengah dan dibawah sehingga ditemukan tanda silang perpotongan.
Beri symbol angka pada setiap wilayah yang berbeda ronanya. Dengan
ketentuan warna sebagai berikut
Warna merah untuk menyatakan rona jalan yang bahanya terdiri

dari aspal yang memancarkan rona terang difoto


Warna hijau menyatakan satuan wilayah, apakah itu sawah,

pemukiman, maupun hutan


Warna biru menyatakan sungai dengan rona yang terlihat gelap
pada foto udara

2.6. Hasil dan Pembahasan


Setelah melakukan pemetaan, identifikasi setiap pembagian wilayah tersebut
berdasarkan rona pada foto udara, lalu buat tabel tentang karakteristik wilayah
tersebut berdasarkan rona pada foto udara, lalu buat tabel tentang karakteristik
wilayah tersebut berdasarkan bentuk lahan.

2.7. Kesimpulan
Dari praktikum interpretasi foto udara dan pembuatan peta tutupan lahan ini
dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

Orientasi foto udara sangatlah penting untuk dilakukan jika akan


melakukan interpretasi udara.

Keberhasilan dalam interpretasi foto udara akan bervariasi sesuai dengan


kemampuan dan asumsi penafsir, keadaan obyek yang diamati, dan
kualitas foto yang digunakan.

II-15

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014

Objek-objek pada foto dapat diinterpretsikan berdasarkan prinsip 7 kunci


interpretasi, yaitu bentuk, warna, tekstur, pola, bayangan, lokasi, dan tone.

Identifikasi obyek yang tidak benar akan mempengaruhi hasil interpretasi.

Hasil interpretasi foto udara nantinya dapat dibuat peta tutupan lahan.

Diperlukan ketelitian yang tinggi pada perhitungan planimeter agar diperoleh hasil
luasan yang sebanding dengan perhitungan planimeter.

II-16