Anda di halaman 1dari 24

BAB III

CITRA LANDSAT

3.1. Judul
Daerah yang diamati pada Praktikum Citra Landsat di Labaroratorium
Penginderaan Jarak Jauh ini adalah Lembar Citra Landsat Path 58 Row 128 Band
432.
3.2. Tujuan Praktikum
1. Dapat menginterpretasi Citra Landsat suatu daerah.
2. Dapat menentukan morfologi, litologi, dan struktur geologi dari lembar

foto citra landsat.


3.3. Alat Dan Bahan
3.3.1. Alat
Alat yang digunakan untuk menginterpretasikan Citra Landsat ini
adalah :

Lup
Stereoskop
OHP marker
Penggaris
Pensil
Penghapus
Spidol Permanen

3.3.2. Bahan
Bahan yang digunakan untuk menginterpretasikan Citra Landsat ini
adalah :

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014

Lembar Citra Landsat


Kertas Kaca

3.4. Dasar Teori


Landsat adalah Satelit paling lama untuk mendapatkan citra Bumi dari luar
angkasa. Satelit Landsat pertama diluncurkan pada tahun 1972; yang paling akhir
Landsat 7, diluncurkan tanggal 15 April 1999. Landsat (Land Satellites)
merupakan satelit sumberdaya bumi yang paling sering digunakan. Pada mulanya
bernama ERTS-1 (Earth Resources Technology Satellite). Pertama kali
diluncurkan pada tanggal 23 Juli 1972 yang mengorbit hanya sampai dengan
tanggal 6 Januari 1978. Satelit Landsat mengorbit bumi selaras matahari
(sunsynchronous). Bersamaan dengan waktu peluncuran ERTS-B tanggal 22 Juli
1975, NASA (National Aeronautic and Space Administration) secara resmi
mengubah program ERTS menjadi program Landsat (untuk membedakan dengan
program satelit oseanografi Seasat yang telah direncanakan) sehingga ERTS-1
dan ERTS-B menjadi Landsat -1 dan Landsat-2. Peluncuran Landsat -3 dilakukan
pada tanggal 5 Maret 1978.
Konfigurasi dasar satelit Landsat 1, 2, dan 3 adalah berbentuk kupu-kupu
dengan tinggi kurang lebih 3 (tiga) meter, bergaris tengah 1,5 meter dengan panel
matahari yang melintang kurang lebih 4 meter. Berat satelit Landsat kurang lebih
815 kg dan diluncurkan dengan orbit lingkarnya pada ketinggian 920 km. Orbit
satelit melalui 90 Kutub Utara jarak 2.760 km sehingga menghasilkan 14 kali orbit
dalam sehari. Landsat 1, 2, dan 3 diluncurkan ke orbit, melintasi equator pada
jam 9.42 siang hari waktu setempat. Sensor Landsat meliput lebar rekaman 185
km. Landsat 1 dan 2 membawa 2 sensor, yaitu RBV (Return Beam Vidicon) dan

III-2

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014
MSS (Multispectral Scanner). Pada Landsat-3, memiliki rancang bangun yang
berbeda, yaitu ada tambahan saluran termal (10,4 12,6) mm pada sensor MSS
dan resolusi spasial sistem RBV ditingkatkan dengan menggunakan sistem 2
kamera lebar (bukan multispektral). Namun saluran termal pada Landsat-3 MSS
mengalami masalah dalam pengoperasiannya, menyebabkan kegagalan, sehingga
hanya empat saluran yang dapat meyajikan data dan resolusinya 79 m. Sensor
RBV pada Landsat-3 ini membuahkan citra berspektrum lebar dengan faktor
peningkatan medan sebesar 2,6 dibandingkan RBV multispektral pada Landsat-1
dan Landsat-2.
Selanjutnya

diorbitkan

Landsat-4

dan

Landsat-5,

yang

merupakan

pengembangan daripada Landsat-1, 2 dan 3. Ada beberapa kelebihan daripada


Landsat - 4 dan 5 dibandingkan dengan Landsat-1, 2 dan 3, antara lain :

Stabilitas yang semakin baik,

Peningkatan sensor spasial,

Kepekaan radiometrik,

Laju pengiriman datanya lebih cepat,

Fokus penginderaan informasi pada vegetasi dan

Pengembangan sistem sensor.

Sensor pada Landsat-4 dan 5 disamping memiliki 4 sensor MSS ditambah


juga dengan sensor TM (Thematic Mapper), dan ETM (Enhanced Thematic
Mapper). Landsat-4 diluncurkan pada Juli 1982, sedangkan Landsat-5 pada
Maret 1984.
Pada bulan Februari 1993, Landsat-6 diluncurkan namun mengalami
kegagalan, karena tidak mencapai orbit dan akhirnya jatuh ke laut. Landsat-6 ini

III-3

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014
telah mengalami peningkatan pada kemampuan sensornya.

Selain memiliki

sensor TM dan ETM, juga ditambahkan saluran termal (10,4-12,6 m).


Pada Landsat -4, 5 dan 6, terjadi perubahan-perubahan mendasar
dibandingkan dengan Landsat sebelumnya antara lain :

Perubahan waktu lintas equator dari jam 9.42 menjadi jam 11.00,

Ketinggian orbit dari 920 km menjadi 705 km,

Menggunakan

GPS

(Global

Positioning

System)

canggih

untuk

menghasilkan rekaman letak ketinggian satelit yang tepat,

Menggunakan sistem pengirim data lintas TDRSS (Tracking Data Relay


Satellite System). Sistem ini menggunakan 2 satelit komunikasi untuk
melakukan pengiriman data dari Landsat ke stasiun bumi di seluruh
dunia,

Interval waktu pemotretan daerah yang sama yaitu 16 hari.

Kegagalan Landsat-6, menyebabkan EOSAT (Earth Observation Satellite)


sebagai operator teknis mulai mengambil langkah-langkah teknis dengan jalan
mengembangkan

kemampuan

Landsat-5

(seoptimal

mungkin)

sebelum

meluncurkan Landsat-7. Langkah-langkah yang diambil antara meliputi :

Mempertahankan orbit satelit selaras matahari (sun syncronous).

Penempatan saat lintas satelit di khatulistiwa (equator) pada descending


node yang dimulai pada pukul 09.00 waktu setempat (awal
pengoperasiannya pada pukul 09.30) sampai bulan Mei 1996.

EOSAT mengharapkan Landsat-5 ini dapat dipertahankan sampai dengan


tahun 1997/1998. Sistem Landsat milik Amerika Serikat ini mempunyai 5 (lima)
instrumen pencitraan (imaging instrument) atau sensor, yaitu 1) Return Beam

III-4

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014
Vidicon (RBV);

2) Multispectral Scanner (MSS); 3) Thematic Mapper (TM),

dan 4) Enhanced Thematic Mapper (ETM).


1. Sensor Return Beam Vidicon (RBV)
Sistem Return Beam Vidicon (RBV) adalah instrumen semacam televisi
yang mengambil citra snapshot dari permukaan bumi di sepanjang track
lapangan satelit yang berukuran 185 km x 185 km pada setiap interval waktu
tertentu. Pada Landsat-1 dan 2, multispektral RBV mempunyai resolusi 80 m,
sementara pada Landsat-3, RBV menggunakan band Pankromatik dan resolusi 40
m.
Sistem RBV ini menggunakan tiga kamera televisi, dengan kepekaan
spektral masing-masing kamera sama dengan satu lapis film inframerah berwarna
dengan komposisi sebagai berikut :

Saluran 1 peka terhadap gelombang hijau (0,475 0,575 m)

Saluran 2 peka terhadap gelombang merah (0,580 0,680 m)

Saluran 3 peka terhadap gelombang inframerah (0,690 0,890 m)


Kamera pada RBV tidak memiliki film, dan sebagai gantinya dipasang alat

penutup (shutter) dan disimpan pada permukaan yang peka terhadap sinar didalam
setiap kamera. Permukaan tersebut kemudian disiami (scanning) dalam bentuk
data raster oleh suatu sinar elektron internal guna menghasilkan suatu sinyal video
(sama dengan televisi biasa). RBV pada Landsat-1 hanya menghasilkan 1.690
citra yang direkam antara 23 Juli 5 Agustus 1972 (Lillesand dan Kiefer, 1979).
Sistem ini kemudian tidak dapat digunakan setelah terjadi kerusakan pada tombol
pita perekamannya.

III-5

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014
RBV pada Landsat-2 dioperasikan tidak kontinyu, hanya untuk
kepentingan eveluasi teknik bagi daerah-daerah yang secara kartografis sulit
dijangkau. Terdapat sedikit perubahan RBV pada Landsat-3 untuk resolusi medan
nominal menjadi 30 m, yang diperoleh dengan jalan memperpanjang fokus lensa
kamera sebesar dua kali, dan memperkecil waktu bukaan lensa (aperture) guna
mengurangi gerakan citra pada saat perekaman, dan menghilangkan filter spektral
yang digunakan oleh RBV sebelumnya. Kepekaan spektral sistem berkisar antara
0,505 mm 0,750 mm (hijau sampai inframerah dekat). Dua kamera disejajarkan
untuk mengamati daerah yang berdekatan dan berbentuk bujur sangkar seluas 98
km x 98 km. Sepasang citra yang berdekatan tersebut secara nominal sama
dengan ukuran satu citra MSS (empat citra RBV mengisi setiap citra MSS).
2. Sensor Multispectral Scanner (MSS)
MSS merupakan sensor utama yang dipergunakan pada Landsat-1 ~ 5.
Pada Landsat-3 ada penambahan saluran termal (seluruhnya menjadi 5 saluran,
sebelumnya berjumlah 4 saluran). MSS merupakan suatu alat scanning mekanik
yang merekam data dengan cara menyiami (scanning) permukaan bumi dalam
jalur-jalur (baris). Sensor MSS ini menyiami 6 baris secara simultan (six-line
scan). Oleh karena lebar setiap baris adalah 79 m, maka 6 baris setara dengan 474
m.
Untuk satu scene ada sekitar 360 six-line scans yang meliputi areal seluas
185 km x 185 km. Dalam satu baris, terdapat overlap sekitar 23 meter (10%)
antar pixelnya, sehingga pixel yang berukuran 79 m x 79 m (pixel aktual)
disampel kembali dengan jarak titik pusat pixel 56 m.

III-6

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014
Saluran MSS memiliki tujuh saluran, namun yang digunakan hanya
saluran 4 (0,5 0,6 m) sampai dengan saluran 7 (0,8 1,1 m). Saluran 1 ~ 3
digunakan oleh sensor RBV. Panjang gelombang yang digunakan pada setiap
saluran Landsat MSS adalah :

Saluran 4 gelombang hijau (0, 5 0,6 m)

Saluran 5 gelombang merah (0,6 0,7 m)

Saluran 6 gelombang inframerah dekat (0,7 0,8 m)

Saluran 7 gelombang inframerah dekat (0,8 1,1 m)


Perekaman MSS dirancang untuk penginderaan energi dalam medan

pandang total 100o dan bidang pandang sesaat atau IFOV (Instantaneous Field of
View) 2,5 miliradian, sedangkan medan pandang total dari objek yang disiam
sekitar 11,560, sudut ini sangat kecil bila dibandingkan dengan wahana udara yang
besarnya 900-1200. Sistem scanning biasanya berbentuk bujur sangkar dan
menghasilkan resolusi spasial atau resolusi medan sekitar 79 meter. IFOV atau
bidang pandang yang semakin kecil bertujuan untuk mengotimalkan resolusi
spasialnya, sedangkan saluran panjang gelombang sempit untuk mengoptimalkan
resolusi spektralnya. Detektor yang digunakan sangat peka untuk mengeluarkan
sinyal yang jauh lebih kuat dari tingkat gangguan (noise) pada sistemnya. Proses
penyiaman menggunakan cermin ulang alik (bukan cermin berputar) berjumlah 6
detektor sehingga total untuk empat saluran menjadi 24 detektor. Cermin ulang
alik tersebut menyiami sekali dalam 33 milidetik, dan satu gerakan cermin dapat
menyiam enam garis yang berdekatan secara serentak karena pada setiap saluran
menggunakan 6 detektor.

III-7

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014
Sinyal yang bersifat analog (nilai pantulan) dari setiap detektor diubah
kedalam bentuk digital dengan bantuan sistem pengubah sinyal di satelit. Skala
digital yang digunakan pada pengubahan ini sebesar 6 bit (0-63). Data tersebut
pada pemrosesan di stasiun bumi diskalakan dengan nilai digital 0-127 untuk
saluran 4, 5 dan 6, sedangkan untuk saluran 7 dengan nilai digital 0-63. Sistem
pengubah sinyal berfungsi untuk mengambil sinyal keluaran dari detektor dengan
kecepatan 100.000 kali per detik. Kecepatan perubahan ini tidak sama dengan
kecepatan perekamannya, sehingga menghasilkan jarak nominal di lapangan 56
meter. Perbedaan waktu ini menyebabkan nilai pantulan citra tidak berbentuk
bujur sangkar tetapi berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 56 x 76
meter. Dengan demikian maka jumlah pixel sepanjang garis penyiaman MSS
berjumlah 3.240 pixels, sedangkan yang searah dengan orbit sebanyak 2.340
pixels. Jadi, kurang lebih sekitar 7.581.600 pixel pada setiap saluran. Dengan
demikian maka untuk empat saluran menghasilkan 30.326.400 nilai pantulan.
Selanjutnya nilai kecerahan dari setiap pixel yang diperoleh berasal dari sel
resolusi berukuran penuh 79 x 79 meter dan bukan dari ukuran resolusi 56 x 79
meter. Bentuk pixek berukuran 56 x 79 meter disebut sebagai pixel nominal
sedangkan 79 x 79 meter disebutkan sebagai pixel aktual.

III-8

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014

Gambar 3.1. Komponen-Komponen Utama dari Sensor Multispectral Scanner (MSS) pada
Landsat 1,2,3,4, dan 5 (Landsat-3 juga memiliki saluran inframerah termal). Sumber :
Jensen John R.

3. Sensor Thematic Mapper (TM)


Sensor TM (Thematic Mapper) merupakan sensor yang dipasang pada
satelit Landsat-4 dan Landsat-5. Sistem sensor TM pertama dioperasikan pada
tanggal 16 Juli 1982 dan yang kedua pada tanggal 1 Maret 1984. Lebar sapuan
(scanning) dari sistem Landsat TM sebesar 185 km, yang direkam pada tujuh
saluran panjang gelombang dengan rincian; 3 saluran panjang gelombang
tampak, 3 saluran panjang gelombang inframerah dekat, dan 1 saluran panjang
gelombang

termal

(panas).

Sensor

TM

memiliki

kemampuan

untuk

menghasilkan citra multispektral dengan resolusi spasial, spektral dan radiometrik


yang lebih tinggi daripada sensor MSS.

III-9

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014
Tabel 3.1. Nama dan Panjang Gelombang pada Landsat TM
Saluran
1
2
3
4
5
6
7

Nama Gelombang
Biru
Hijau
Merah
Inframerah Dekat
Inframerah Tengah
Inframerah Termal
Inframerah Tengah

Panjang Gelombang (m)


0,45 0,52
0,52 0,60
0,63 0,69
0,76 0,90
1,55 1,75
10,40 12,50
2,08 2,35

Tabel 3.2. Karakteristik Saluran pada Landsat TM

Saluran

Panjang

Resolusi

Gelombang

Spasial

(m)

(m)

Aplikasi
Penetrasi tubuh air, analisis penggunaan lahan,

0,45 0,52

30 x 30

tanah, dan vegetasi. Pembedaan vegetasi dan


lahan.
Pengamatan puncak pantulan vegetasi pada
saluran hijau yang terletak di antara dua

0,52 0,60

30 x 30

saluran

penyerapan.

Pengamatan

ini

dimaksudkan untuk membedakan tanaman


sehat terhadap tanaman yang tidak sehat.
Saluran terpenting untuk membedakan jenis
vegetasi. Saluran ini terletak pada salah satu
3

0,63 0,69

30 x 30

daerah penyerapan klorofil dan memudahkan


pembedaan antara lahan terbuka terhadap
lahan bervegetasi.
Saluran yang peka terhadap biomasa vegetasi.
Juga

0,76 0,90

untuk

identifikasi

jenis

tanaman,

30 x 30
memudahkan pembedaan tanah dan tanaman
serta lahan dan air.
Saluran penting untuk

1,55 1,75

30 x 30

pembedaan

jenis

tanaman, kandungan air pada tanaman, kondisi


kelembaban tanah.
Untuk membedakan formasi batuan dan untuk

2,08 2,35

120 x 120
pemetaan hidrotermal.

III-10

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014
Klasifikasi

vegetasi,

analisis

gangguan

vegetasi, pembedaan kelembaban tanah, dan


7

10,40 12,50

30 x 30
keperluan lain yang berhubungan deengan
gejala termal.

Perekaman sensor TM dirancang untuk menyiam energi dengan medan


pandang total 100o dan bidang pandang total atau IFOV dari objek yang disiam
sekitar 15,4o (7,7o dari nadir). Sistem penyiangan berupa bujur sangkar dan
menghasilkan sel resolusi medan berukuran 30 meter.
Detektor yang digunakan pada TM sangat peka untuk menghasilkan sinyal
yang jauh lebih kuat dari tingkat gangguan (noise) pada sistemnya. Kalau pada
penyiaman pada MSS menggunakan enam detektor pada setiap salurannya
sehingga total empat saluran terdiri dari 24 detektor dan menggunakan cermin
ulang alik (bukan cermin berputar), maka sensor TM menggunakan cermin
berputar (oscillating mirror) setiap saluran non-termal menggunakan 16 detektor,
jadi empat saluran (saluran 1 hingga 4 total 100 detektor). Detektor saluran 5 dan
7 (gelombang inframerah tengah) menggunakan detektor indium antiminide
(InSb), sedangkan saluran 6 (gelombang inframerah termal) menggunakan
detektor mercury cadmium telluride (HgCdTe). Disamping itu Landsat TM dapat
diterima melalui satelit komunikasi TDRS (Tracking and Data Relay Satellites).
3.4.1. Unsur Pengenalan Dalam Citra Landsat
Unsur dasar pengenalan Citra Landsat terdiri dari rona, tekstur, pola,
bentuk, ukuran, letak (site), asosiasi dan bayangan.

Rona

III-11

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014
Rona mencerminkan warna atau tingkat kegelapan gambar pada citra. Ini
berkaitan dengan pantulan sinar oleh objek.

Tekstur
Tekstur ialah frekuensi perubahan rona dalam citra landsat. Tekstur
dihasilkan oleh susunan satuan kenampakan yang mungkin terlalu kecil
untuk dikenali secara individual dengan jelas pada foto. Tekstur
merupakan hasil bentuk, ukuran, pola, bayangan dan rona individual.
Apabila skala foto diperkecil maka tekstur suatu objek menjadi semakin
halus dan bahkan tidak tampak.

Pola
Pola berkaitan susunan keruangan objek. Pengulangan bentuk umum
tertentu atau keterkaitan merupakan karakteristik banyak objek, baik
alamiah maupun buatan manusia, dan membentuk pola objek yang dapat
membantu penafsir foto dalam mengenalinya.

Bentuk
Bentuk berkaitan dengan bentuk umum, konfigurasi atau kerangka suatu
objek individual. Bentuk agaknya merupakan faktor tunggal yang paling
penting dalam pengenalan objek pada citra landsat.

Lokasi
Lokasi objek dalam hubungannya dengan kenampakan lain sangat
bermanfaat dalam identifikasi.

Letak

III-12

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014
Letak obyek terhadap obyek lain di sekitarnya sering disebut dengan
situs (site), atau disebut situasi. Situs pemukiman memanjang pada
umumnya pada pigir beting pantai, pada tanggul-alam (natural-levee)
atau di sepanjang tepi jalan. Lava muda akan terletak pada lereng
puncak gunungapi.
Asosiasi
Asosiasi dapat diartikan sebagai keterkaitan antara obyek yang satu
dengan obyek lain (Sutanto, 1986). Lava akan berasosiasi dengan
lahar, breksi volkanik dan aglomerat. Deretan endapan kipas aluvial
berasosiasi dengan gawir sesar atau gawir terkontrol sesar dan
triangle-facets.

Bayangan
Bayangan penting bagi penafsir foto karena bentuk atau kerangka
bayangan menghasilkan suatu profil pandangan objek yang dapat
membantu dalam interpretasi, tetapi objek dalam bayangan memantulkan
sinar sedikit dan sukar untuk dikenali pada foto, yang bersifat menyulitkan
dalam interpretasi.

3.4.2. Unsur Dasar Pengenalan Struktur Geologi


Adapun dasar dari interpretasi struktur geologi pada pengindraan
jarak jauh ini dapat dilihat sebagai berikut.

III-13

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014
3.4.2.1. Interpretasi Lipatan

L ipatan

Lipatan antiklin dan sinklin dapat dikenali berdasarkan rona


Banded, pola garis sejajar atau melengkung dan pola penyaluran trellis atau
sejajar dengan arah yang berlawanan, untuk menandakan antiklin dan singklin
dalam interpretasi kita juga bisa melihat dari warna rona yang terdapat pada peta
yang dipakai pada saat interpretasi, misal rona yang gelap lebih tinggi dari pada
rona yang lebih terang.

3.4.2.2. Interpretasi Sesar


Sesar dapat diidentifikasi berdasarkan atas kelurusan rona
kelurusan lembah atau sungai, kelurusan gawir, kelurusan deretan triangle-facet
pembelokan sungai yang teratur sehingga dapat mengindikasikan membentuk
garis lurus, off-set litologi atau topografi, ukuran kelurusan relatif panjang.

3.4.2.3. Interpretasi Kekar


Kekar merupakan bagian dari sturkur, didalam laboratorium
yang kita lakukan, kekar dapat diinterpretasi berdasarkan atas kelurusan rona dan
atau kelurusan lembah dengan pola istimewa saling berpotongan, ukuran
kelurusan relatif pendek.

3.5. Unsur Dasar Interpretasi Litologi


3.5.1. Interpretasi batuan beku

Batuan efusif/ekstrusif

III-14

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014
Lava memperlihatkan relief bergelombang, permukaan halus dan
struktur aliran. Lava muda mudah dibedakan dari daerah sekitarnya, bahkan
sangat mungkin diklasifikan berdasarkan atas orde erupsinya .
Gunungapi dapat dikenali dari bentuk lubang kawah atau
kalderanya yang khas, bentuk kerucut, dan pola penyaluran radial. Tuf dan
batulempung tuf dan atau mempunyai pola penyaluran dendritik. Lava dan
aglomerat lapuk dapat memiiki pola penyaluran ini. Lava basalt dan tuf dapat
memperlihatkan variasi rona.

Batuan beku intrusif


Dikes ataupun leher vulkanik memperlihatkan relief menonjol dan

rona berbeda dari rona batuan di sekitarnya.


Batholit dan stocks biasanya tersusun oleh granit dan sering
memperlihatkan struktur kekar sistematik. Jika batuannya segar dan tidak tertutup
vegetasi, maka batuan asam berona cerah batuan menengah (intermediet) berona
abu-abu dan batuan basa berona gelap.
Sill dapat diinterpretasikan dari pola penyebarannya yang sejajar
dengan arah jurus lapisan batuan yang disisipinya.

3.5.2. Interpretasi Batuan Sedimen


Struktur berlapis merupakan ciri khas batuan sedimen. Perlapisan yang
jelas kerap kali disebabkan oleh adanya perselingan antara batuan kompak keras
dan batuan lunak. Walaupun tertutup oleh vegetasi, tanah dari overburden batuan
sedimen berlapis horizontal ataupun miring, masih dapat diinterpretasikan
berdasarkan atas pola vegetasi dan anak sungai pada dip-slopenya. Anak-anak

III-15

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014
sungai pada dip-slope yang kurang dari 60 lebih panjang daripada anak-anak
sungai pada scrap-slope. Untuk dip-slope yang lebih dari 60, keadaan menjadi
sebaliknya.
Batuan

sedimen berlapis biasanya dikontrol oleh rona dan pola

penyaluran trellis. Batuan sedimen karbonat atau evaporit biasanya dicirikan oleh
vegetasi yang jarang, rona bervariasi,

cerah, abu-abu hingga gelap, kadang-

kadang mottled dan pola penyaluran multibasinal dengan relief topografi Karst.
Kadang-kadang batuan sedimen evaporit mempunyai rona cerah dengan rona
banded.
Kriteria utama

untuk mengenali dan menginterpretasi batuan

sedimen lepas seperti pasir endapan angin, endapan teras sungai, endapan pasir
pantai dan endapan kipas aluvial adalah bentuk lahannya.

3.5.3. Interpretasi Batuan Metamorfik


Kecuali batuan yang mempunyai schistosity tinggi, batuan metamorfik
tidak mempunyai ciri-ciri khas. Batuan metamorfik dapat memperlihatkan
beberapa sifat batuan asalnya. Batuan berfoliasi menunjukkan kelurusan sejajar
atau meliuk-liuk yang jelas, topographic-grain jauh lebih kecil dibandingkan
dengan batuan sedimen.

3.6. Unsur Dasar Interpretasi Geomorfologi

III-16

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014
Satuan bentuk lahan, baik secara morfologi, morfogenesis, morfokronologi,
maupun,

morphoarrangement dapat diinterpretasi dari foto udara (Zuidam,

1983). Hal-hal tersebut di atas meliputi :


1.

Morfologi (relief umum)


a. Morfografi : aspek deskriptif geomorfologi di suatu daerah seperti
dataran, perbukitan, pegunungan dan plato.
b. Morfometri : aspek kuantitatif suatu daerah seperti kecuraman
lereng beda tinggi dan luas satuan.

2.

Morfogenesis (asal dan perkembangan bentuk lahan


proses yang membentuknya dan yang bekerja padanya).
a. Morfostruktur pasif : litologi, baik jenis maupun struktur batuan
yang berhubungan dengan denudasi seperti mesa, cuesta, hogback
dan kubah.
b. Morfostruktur aktif : dinamika endogen meliputi volkanisme,
tektonisme lipatan dan sesar seperti gunungapi, pematang antiklin
dan gawir sesar.
c. Morfodinamik dinamika eksogen yang berhubungan dengan angin,
air dan es serta gerakan massa, seperti bukit pasir endapan angin
dan bukit pasir pantai, terminal moraines dan badland.

3.

Morfokronologi

(penanggalan

absolut

dan relatif

berbagai bentuk lahan yang berhubungan), sebagai contoh ; teras


sungai muda an teras sungai tua, pematang pantai muda dan pematang
tua.

III-17

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014
Morpho-arrangement (susunan keruangan dan jaringan hubungan berbagai
bentuk lahan dan proses yang berhubungan).

3.7. Penggunaan Citra Landsat


Penggunaan data informasi penginderaan jauh terutama foto udara dianggap
paling baik sampai saat ini karena mempunyai tingkat resolusi yang tinggi serta
sifat stereoskopisnya sangat baik. Namun, sejak diluncurkannya satelit sumber
daya alam oleh Amerika Serikat pada bulan Juli 1972 dan Maret 1978, selain
dengan foto udara, permukaan bumi dapat direkam dan dilihat secara lebih luas
dari suatu ketinggian tertentu di ruang angkasa. Satelit tersebut merupakan satelit
bumi generasi I, yaitu landsat-l, landsat-2, dan landsat-3 dan merupakan satelit
eksperimen. Satelit dilengkapi dengan sensor yang dapat memberikan informasi
mengenai permukaan bumi.
Pada bulan Juli 1982 dan Maret 1984 diluncurkan satelit bumi generasi II,
yaitu landsat-4 dan landsat-5, yang merupakan satelit semioperasional atau satelit
untuk penelitian dan pengembangan. Landsat-4 dan landsat-5 telah mengalami
perbaikan dalam resolusi spasial, spektral, dan radiometrik(Lindgren, 1985 dalam
Sutanto 1994). Dengan mengurangi ketinggian orbit dari 920 km menjadi 705
km, resolusi spasia1 meningkat dari 80 m menjadi 30 m. Reso1usi spektral yang
lebih baik dan ketelitian radiometrik yang lebih tinggi diperoleh dengan
mengganti sensor return beam vidicom (RBV) dengan thematic mapper (TM)
sehingga yang tadinya beroperasi dengan tiga saluran (band) berubah menjadi
tujuh saluran. Enam saluran diantaranya dirancang untuk memantau vegetasi, dan
satu saluran untuk jenis batuan (Sutanto, 1994). Pemanfaatan citra landsat telah

III-18

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014
banyak digunakan untuk beberapa kegiatan survei maupun penelitian, antara lain
geologi, pertambangan, geomorfologi, hidrologi, dan kehutanan. Dalam setiap
perekaman, citra landsat mempunyai cakupan area 185 km x 185 km, sehingga
aspek dari objek tertentu yang cukup luas dapat diidentifikasi tanpa menjelajah
seluruh daerah yang disurvei atau yang diteliti. Dengan demikian, metode ini
dapat menghemat waktu maupun biaya dalam pelaksanaannya dibanding cara
konvensional atau survei secara teristris di lapangan (Wahyunto et al., 1995).
Penelitian ini bertujuan menganalisis data citra landsat thematic mapper (TM)
tercetak (paper print) skala 1:100.000, untuk mengetahui manfaat citra tersebut
dalam mengidentifikasi penggunaan lahan secara maksimal.

3.8. Cara Kerja


1.

Meletakan lembar Citra Landsat di atas meja

2.

Mengamati di bawah Lup atau dengan kasat mata lembar citra landsat
tersebut dan mulai menginterpretasikannya.

3.

Menentukan Rona, Bentuk, Tekstur, Bayangan, Ukuran, Pola, Situs dan


Asosiasi pada daerah pengamatan.

4.

Menetukan arah Utara dari Lembar Citra Landsat tersebut.

5.

Kemudian Menuliskannya di Kertas Kaca dan Hasil interpretasinya.

3.9. Hasil Dan Pembahasan


Adapun hasil dan pembahasan dari hasil kegiatan praktikum pengindraan
jarak jauh pada lembar foto Lembar Citra Landsat Path 58 Row 128 Band 432 :

III-19

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014
Pada lembar foto citra landsat ini menunjukkan terdapat beberapa rona
yaitu, banded tone, scrabled tone.
1.

Pola scrabled tone dengan tampak berupa rona gelap dan cerah
dengan bentuk tidak menentu yang relatif membundar dan berubahubah dalam jarak yang dekat.

2.

Pola banded tone tampak berupa rona cerah dan gelap berselang
seling seperti berkas atau pita yang lurus atau meliuk liuk, rona ini
dapat dijumpai pada daerah basah dan kering yang berehubungan
dengan meander scroll di dataran banjir.

Terdapat satu jenis batuan yaitu batuan sedimen.


Batuan sedimen, biasanya di kontrol oleh adanya pola aliran sungai dan
biasanya memiliki tekstur yang halus.
Terdapat adanya sesar mendatar dengan indikasi adanya ketinggian yang
sama pada daerah itu tersebut dan sesar normal.
Pada lembar foto citra landsat terdapat adanya pola pengaliran sungai dan
morfologi. Diantaranya adalah :
1.

Pola Aliran Sungai


Pada citra landsat ini terdapat pola aliran yang tidak diketahui atau
tidak ada penamaannya. Sungai ini di golongkan sungai stadia dewasa
yang di cirikan keterdapatan aliran sungai yang memiliki arus yang
cukup deras dan keterdapatan batu-batuan. Pada sungai stadia dewasa
ini terdapat pengendapan batuan sedimen.

III-20

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014
2.

Morfologi.
Pada citra ini terdapat morfologi pegunungan yang di tandai dengan
adanya pegunungan-pegunungan yang terdapat hutan-hutan yang lebat
dan batuan yang di cirikan bertekstur kasar.
Selain itu terdapat juga dataran alluvial dimana keberadaan sawah dan
pemukiman di tandai dengan adanya endapan-endapan sedimen dan
tekstur yang halus. Dalam dataran alluvial ini juga terdapat sungai
yang memperjelas adanya pengendapan batuan sedimen.

Beberapa faktor penting, terutama untuk aplikasi Citra Landsat ini adalah :
1. Tutupan awan. Terutama untuk sensor pasif, awan bisa menutupi bentukbentuk yang berada di bawah atau di dekatnya, sehingga interpretasi tidak
dimungkinkan, Masalah ini sangat sering dijumpai di daerah tropis, dan
mungkin diatasi dengan mengkombinasikan citra dari sensor pasif
(misalnya Landsat) dengan citra dari sensor aktif (misalnya Radarsat)
untuk keduanya saling melengkapi.
2. Bayangan

topografis.

Metode

pengkoreksian

yang

ada

untuk

menghilangkan pengaruh topografi pada radiometri belum terlalu maju


perkembangannya.
3. Pengaruh atmosferik. Pengaruh atmosferik, terutama ozon, uap air dan
aerosol sangat mengganggu pada band nampak dan infrared. Penelitian
akademis untuk mengatasi hal ini masih aktif dilakukan.
4. Derajat kedetailan dari peta tutupan lahan yang ingin dihasilkan. Semakin
detail peta yang ingin dihasilkan, semakin rendah akurasi dari klasifikasi.

III-21

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014
Hal ini salah satunya bisa diperbaiki dengan adanya resolusi spectral dan
spasial dari citra komersial yang tersedia.
Setelah citra dipilih dan diperoleh, langkah - langkah pemrosesan tidak terlalu
tergantung sistem sensor dan juga software pengolahan citra yang dipakai. Berikut
ini beberapa langkah yang umum dilakukan, akan tetapi detail dari teknik dan
ketrampilan menggunakan hanya bisa diperoleh dengan praktek langsung dengan
menggunakan sebuah citra dan software pengolahan citra tertentu. Langkahlangkah dalam pengolahan citra:
1. Mengukur kualitas data dengan descriptive statistics atau dengan tampilan
citra.
2. Mengkoreksi kesalahan, baik radiometric (atmospheric atau sensor)
maupun geometric.
3. Menajamkan citra baik untuk analisa digital maupun visual.
4. Melakukan survei lapangan.
5. Mengambil sifat tertentu dari citra dengan proses klasifikasi dan
pengukuran akurasi dari hasil klasifikasi.
6. Memasukkan hasil olahan ke dalam SIG sebagai input data.
7. Menginterpretasikan hasil.
Mengamati citra pada layar adalah proses yang paling efektif dalam
mengidentifikasi masalah yang ada pada citra, misalnya tutupan awan, kabut, dan
kesalahan sensor. Citra bisa ditampilkan oleh sebuah komputer, baik per satu band
dalam hitam dan putih maupun dalam kombinasi tiga band, yang disebut
komposit warna. Mata manusia hanya bisa membedakan 16 derajat keabuan
dalam sebuah citra, tetapi bisa membedakan berjuta juta warna yang berbeda.

III-22

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014
Oleh karena itu, teknik perbaikan atau enhancement citra yang paling sering
digunakan adalah memberi warna tertentu kepada nilai DN tertentu (atau kisaran
dari DN tertentu) sehingga meningkatkan kontras antara nilai DN tertentu dengan
pixel di sekelilingnya pada suatu citra.
3.10. Kesimpulan
Program Landsat adalah program paling lama untuk mendapatkan citra Bumi
dari luar angkasa. Satelit Landsat pertama diluncurkan pada tahun 1972, yang
paling akhir Landsat 7, diluncurkan tanggal 15 April 1999. Instrumen satelitsatelit Landsat telah menghasilkan jutaan citra. Citra - citra tersebut diarsipkan di
Amerika Serikat dan stasiun-stasiun penerima Landsat di seluruh dunia, dimana
merupakan sumber daya yang unik untuk riset perubahan global dan aplikasinya
pada pertanian, geologi, kehutanan, perencanaan daerah, pendidikan, dan
keamanan nasional. Landsat 7 memiliki resolusi 15-30 meter. Pada tahun 1999,
Landsat mengambil langkah besar dengan mengorbitkan Landsat 7 Enhanced
Thematic Mapper Plus (ETM+).

III-23

Laboratorium Penginderaan Jarak Jauh


2013/2014
3.8. Daftar Pustaka

Dulbahri, 1985. Interpretasi Citra Untuk survey Vegetasi. Puspics


Bakorsurtanal UGM, Yogyakarta.

Lillesand and Kiefer, 1993. Remote Sensing And Image Interpretation,


Jhon Villey and Sons, New York.

Lo, C.P, 1986. Penginderan Jauh Terapan, UI- Press, Jakarta.

Sutanto, 1986. Penginderaan Jauh Jilid I, Gadjah Mada University


Press, Yogyakarta.

Sutanto, 1986. Penginderaan Jauh Jilid II, Gadjah Mada University


Press. Yogyakarta.

III-24