Anda di halaman 1dari 1

PATOFISIOLOGI

Normalnya plasenta akan terlepas secara spontan dari tempat implantasi beberapa menit setelah
kelahiran bayi. Adanya kesukaran plasenta untuk dilepaskan terjadi akibat adhesi yang kuat
antara plasenta dan uterus seperti adanya plasenta akreta, plasenta inkreta, atau plasenta perkreta.
Disebut plasenta akreta saat plasenta melekat pada myometrium. Plasenta ikreta terjadi ketika
plasenta menginvasi myometrium, dan plasenta perkreta terjadi saat plasenta menginvasi
myometrium dan serosa, kadang-kadang dapat menginvasi organ yang berdekatan seperti
kandung kemih. Faktor predisposisi terjadinya plasenta akreta adalah bekas seksio sesarea,
plasenta previa, pernah kuret berulang dan multiparitas. Setelah plasenta dilakukan pengangkatan
plasenta, kita harus berhati-hati untuk adanya kotiledon yang tertinggal dan menyebabkan
pendarahan yang disebut rest plasenta.
TREATMENT
Manual removal
Beberapa hal berkaitan dengan pengeluaran plasenta seperti tempat implantasi, seberapa dalam
implantasi plasenta, dan jumlah lobus yang terkait. Pendarahan adalah masalah utama yang akan
dihadapi. Keberhasilan penanganan terhadap pendarahan sangat diperlukan. Penanganan dapat
berupa ligase arteri iliaca, oklusi balon, bahkan kadang sampai harus dilakukan histerektomi.
Pada persalinan secara sesarea terdapat pilihan terapi pada wanita yang tidak mengalami
pendarahan yaitu dengan meningggalkan seluruh plasenta tanpa melakukan upaya untuk
mengeluarkannya.
1. Cunningham FG et al. Williams Obstetrics 22nd edition. 2005. New York: McGraw-Hill
Publishings.
2. Fortner KB et al. The Johns Hopkins Manual of Gynecology and Obstetrics 3rd edition.
2006. Lippincott Williams & Wilkins.
3. Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan ed 4, cet 3. 2010. Jakarta: PT Bina Pustaka.