Anda di halaman 1dari 6

BAB IX

KETEBALAN DAN KEDALAMAN


9.1. Ketebalan
Penentuan ketebalan dalam Geologi Struktur pada dasarnya merupakan
aplikasi dari metode grafis dan goneometris. Ketebalan merupakan jarak tegak
lurus antara dua bidang yang sejajar, yang merupakan batas lapisan batuan.
Ketebalan : jarak vertikal dari ketinggian tertentu (permukaan air laut) kearah
bawah terhadap suatu titik, garis, atau bidang. Biasanya menjadi acuan untuk
melakukan suatu pengeboran.
9.2. Perhitungan Ketebalan
Tebal merupakan jarak tegak lurus antara dua bidang yang sejajar, yang
merupakan batas lapisan batuan. Secara garis besar, masalah-masalah penentuan
ketebalan dapat dibedakan atau dibagi berdasarkan cara perhitungannya menjadi :
a. Perhitungan berdasarkan pengukuran langsung.
b. Perhitungan berdasarkan pengukuran tidak langsung.
a) Perhitungan ketebalan secara langsung
Perhitungan secara langsung ini dapat dilakukan di lapangan dengan syarat
kemiringan lereng tegak lurus dengan kemiringan lapisan seperti :
Medan datar atau tak berelief dengan lapisan relatif tegak.
Medan vertikal dengan lapisan relatif horizontal.
b) Perhitungan ketebalan secara tidak langsung
Perhitungan secara tidak langsung ini dapat dilakukan sengan bermacammacam cara tegantung pada keadaan topografi dan kedudukan lapisan batuan.
Salah satu metode yang sering diterapkan di lapangan adalah MS (measuring
section). Unsur-unsur yang dijumpai di lapangan yang dipakai sebagai data
perhitungan geometri adalah :

Tebal semu (w)


Tebal sebenarnya (t)
Lebar singkapan (s)
Dip atau kemiringan lapisan batuan (o)

Rizky Wibowo S.Meliala


IX

Bab

Besar sudut lintasan terhadap arah jurus lapisan (o)


Besar sudut kemiringan lereng (slope) (o)
Arah kemiringan perlapisan (D)
Arah perlapisan (R)
Data-data yang diperoleh ini memasukkan ke dalam rumus-rumus geometri

yang sesuai dengan dengan kondisi medannya apakah datar atau miring dan arah
pengukuran lintasan apakah tegak lurus jurusan lapisan atau tidak. Adapun rumusrumus yang digunakan dalam perhitungan ketebalan adalah sebagai berikut :
Rumus untuk lintasan tegak lurus jurus
- Bila lereng horizontal, maka berlaku rumus :
t = w sin o.. (rumus 1)
- Dip lebih besar dari pada slope, maka digunakan rumus :
t = w sin (180 ) ........... (rumus 2)
- Dip lebih kecil dari slope, maka digunakan rumus :
t = w sin ( + ).. (rumus 3)
- Dip lebih besar dari slope, rumusnya:
t = w cos (90o ) ........... (rumus 4)
- Bila kemiringan lapisan 90o, rumusnya:
t = w cos ............................ (rumus 5)
- Untuk beta lebih besar dari alfa, rumusnya:
t = w sin ( ) ..................... (rumus 6)
- Untuk beta lebih kecil dari alfa, maka rumusnya:
t = w sin ( ) .................... (rumus 7)
Rumus untuk lintasan tidak tegak lurus jurus
- Bila lereng horizontal, maka rumusnya:
t = w sin . sin ..

(rumus 8)

- Kemiringan lereng berlawanan arah dengan kemiringan lapisan, digunakan


rumus :
t = w (sin . cos + cos . sin . sin ) ........... (rumus 9)
- Kemiringan lereng searah dengan kemiringan perlapisan dan beta lebih besar
dari alfa, maka digunakan rumus :
t = w (sin . cos - cos . sin . sin ) ........... (rumus 10)
Geologi Struktur
Medan

Institut Teknologi
2

Rizky Wibowo S.Meliala


IX

Bab

- Kemiringan lereng searah dengan kemiringan perlapisan dan beta lebih kecil
dari alfa, maka digunakan rumus:
t = w (cos . sin . sin - sin . cos ) ........... (rumus 11)
Untuk menentukan ketebalan suatu lapisan, maka perlu kita memperhatikan
lintasan yang dilalui pada saat pengukuran, adapun tujuan melakukan lintasan
ialah mengamati sebanyak mungkin keadaan geologi dan hal-hal yang
dibutuhkan. Serta untuk melakukan pengukuran struktur dan pengambilan contoh
batuan. Hasilnya dapat digunakan untuk membuat peta dan penampang geologi
serta kolom stratigrafi. Untuk menghasilkan ketepatan yang akurat lintasan yang
dilakukan harus terukur.
Untuk mengerjakan data pengukuran dengan beberapa alternatif rumus yang
telah dikemukakan di atas akan memungkinkan banyak kesalahan dalam
perhitungan. Hasil-hasil dari perhitungan dengan pemakaian rumus di atas apabila
tidak tepat dalam menginterpretasi keadaan di lapangan maka akan menyebabkan
penyimpangan yang besar dari ketebalan sebenarnya di lapangan.
Rumus dari perhitungan ketebalan secara umum, yaitu :
T = w (sin .cos + cos .sin )
Dengan catatan bila kemungkinan kemiringan lereng dan kemiringan lapisan
searah maka salah satu dari beta dan gama harus negatif (yang negatif adalah
angka yang lebih kecil). Kemudian apabila perhitungan ketebalan tersebut tanpa
memperhatikan kemiringan lereng, kemiringan lapisan searah atau berlawanan
arah dan apakah beta lebih besar dari gama atau sebaliknya, amak digunakan
rumus :
T = w (sin .cos - cos .sin .cos (D R)
9.2.1. Diagram Alligment
Diagram alligment memiliki dua bagian: satu perilaku pelanggan
menangkap dan yang lain mencerminkan proses. Tumpang tindih dari dua bagian
ini mengungkapkan interaksi di antara mereka. Dengan visual menyelaraskan
pengalaman pengguna dengan menawarkan, penyedia lebih mampu untuk
menyoroti dimana nilai dibuat. Diagram alligment memiliki dua bagian: satu
Geologi Struktur
Medan

Institut Teknologi
3

Rizky Wibowo S.Meliala


IX

Bab

perilaku pelanggan menangkap dan yang lain mencerminkan proses. Tumpang


tindih dari dua bagian ini mengungkapkan interaksi di antara mereka. Dengan
visual menyelaraskan pengalaman pengguna, penyedia lebih mampu untuk
menyoroti poin dimana nilai dibuat.

Gambar 9.1. Diagram Alligment

9.3. Kedalaman
Kedalaman adalah jarak vertikal dari ketinggian tertentu (permukaan air laut)
ke arah bawah terhadap suatu titik, garis, atau bidang. Biasanya menjadi acuan
untuk melakukan suatu pengeboran.
Secara garis besar, masalah-masalah penentuan kedalaman dapat dibedakan
atau dibagi berdasarkan cara perhitungannya menjadi:
a. Perhitungan berdasarkan pengukuran tegak lurus jurus perlapisan
b. Perhitungan berdasarkan pengukuran tidak tegak lurus jurus perlapisan
9.4. Pengukuran Kedalaman
a) Pengukuran kedalaman pada arah lintasan tegak lurus jurus lapisan
1. Medan datar atau topografi tidak berelief
d = l tg
Keterangan:
Geologi Struktur
Medan

Institut Teknologi
4

Rizky Wibowo S.Meliala


IX

Bab

d = kedalaman
l

= panjang lintasan

= dip atau kemiringan batuan


= slope atau kemiringan lereng
2. Medan atau topografi dengan slope
Dip searah dengan slope
d = l (cos .tg - sin )
Dip berlawanan arah dengan slope
d = l (cos .tg + sin )
b) Pengukuran kedalaman pada arah tidak tegak lurus jurus lapisan
1. Dip searah dengan slope
d = l (tg .cos .sin - sin )
2. Dip berlawanan arah dengan slope
d = l (tg .cos .sin + sin )
9.5. Alat dan Bahan
9.5.1. Alat
1.
2.
3.
4.

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini, yaitu :


Kompas Geologi
Clipboard
Alat tulis lengkap
Spidol Permanen
9.5.2 Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini, yaitu :

1. Kertas HVS
2. Form deskrifsi geologi setruktur
9.6. Prosedur Kerja
Pengukuran Jurus
Bagian sisi kompas (sisi "E") ditempelkan pada bidang yang diukur.
Kedudukan kompas dihorizontalkan, ditunjukkan oleh posisi level dari nivo "Mata
Sapi" (Bull's Eye Level), maka harga yang ditunjuk oleh jarum utara kompas
Geologi Struktur
Medan

Institut Teknologi
5

Rizky Wibowo S.Meliala


IX

Bab

adalah harga jurus bidang yang diukur. Berilah tanda garis pada bidang tersebut
sesuai dengan arah jurusnya.
Pengukuran Kemiringan
Kompas pada posisi tegak tempelkan sisi 'W' kompas pada bidang yang
diukur dengan posisi yang tegak lurus jurus pada garis jurus yang telah dibuat
pada butir kemudian dinometer di tekan sehingga gelembung udaranya tepat
berada ditengah (posisi level). Harga yang ditunjukkan oleh penunjuk pada skala
klinometer adalah besarnya sudut kemiringan dari bidang yang diukur. Dan pada
pengukuran arah kemiringan, tempelkan sisi "S" kompas pada bidang yang
diukur. Posisikan kompas, sehingga. horizontal (nivo "mata lembu" level), baca
angka yang ditunjuk oleh jarum utara kompas. Harga ini merupakan arah
kemiringan (dip direction) dari bidang yang diukur.
9.7. Kesimpulan
Penentuan tebal dan kedalaman dalam Geologi Struktur pada dasarnya
merupakan aplikasi dari metode grafis dan goneometris. Tebal merupakan jarak
tegak lurus antara dua bidang yang sejajar, yang merupakan batas lapisan batuan.
Ketebalan : jarak vertikal dari ketinggian tertentu (permukaan air laut) kearah
bawah terhadap suatu titik, garis, atau bidang. Biasanya menjadi acuan untuk
melakukan suatu pengeboran.
Adapun kesimpulan yang didapat, yaitu :
Kita dapat menentukan arah strike dan dip dari kedudukan suatu objek
Kedudukan pada struktur bidang dilambangkan dengan strike dan dip.
Jurus (strike) adalah arah dari garis horizontal yang merupakan perpotongan
antara bidang yang bersangkutan dengan bidang horizontal yang diukur dari
arah utara.
Kemiringan (dip) adalah sudut terbesar yang dibentuk oleh bidang miring
dengan bidang horizontal yang diukur tegak lurus jurus.

Geologi Struktur
Medan

Institut Teknologi
6