Anda di halaman 1dari 7

Dimana Posisi Pengobatan Tradisional

dalam Era JKN ?


Oleh : Budiono
Mahasiswa PascaSarjana Biomedik FK UNAND

Adalah Ibu Sumarni ( 65 tahun ) seorang penderita kanker payudara


yang telah menjalani operasi dan perawatan kemoterapi beberapa tahun
terakhir ini. Berdasarkan pengalaman dan apa yang dirasakannya, ia
memutuskan untuk melanjutkan terapi dan perawatan kanker payudaranya
dengan menjalani pengobatan tradisional yaitu dengan minum herbal dan
terapi lintah. Hal ini dilakukannya karena Ibu Sumarni merasakan hasil yang
cukup signifikan dalam kemajuan kesehatannya disamping biaya pengobatan
yang lebih terjangkau . Meski pengobatan tradisional menurut kalangan
medis belum melalui uji klinis yang terstandar, namun Ibu Sumarni
berkeyakinan bahwa kesehatannya jauh lebih baik setelah menjalani
pengobatan tradisional tersebut.
Ini adalah satu fenomena di masyarakat dari sekian banyak yang ada
dalam dunia kesehatan kita. Masyarakat yang menggunakan pengobatan
tradisional dan terapi komplemeter memiliki beberapa alasan. Salah satu
alasannya adalah filosofi holistik pada Pengobatan Tradisional dan terapi
komplementer, yaitu adanya harmoni dalam diri dan promosi kesehatan
dalam pengobatan tradisional dan terapi komplementer. Alasan lainnya
karena klien ingin terlibat untuk pengambilan keputusan dalam pengobatan
dan peningkatan kualitas hidup dibandingkan sebelumnya. Sejumlah 82%
klien melaporkan adanya reaksi efek samping dari pengobatan konvensional
yang diterima menyebabkan memilih terapi komplementer (Snyder &
Lindquis, 2002)
Dan respon pihak pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan RI
juga

telah

mendorong

pengembangan

obat

herbal.

Lewat

program

saintifikasi, pengobatan tradisional diyakini bisa disandingkan dengan


pengobatan medik. Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Teknologi Kesehatan
dan Globalisasi Agus Purwadianto mengatakan, program saintifikasi jamu
bukan ditujukan untuk menggeser peran obat konvensional yang digunakan
dunia

kedokteran.

Menurut

dia,

masyarakat

Indonesia

sudah

lama

mempercayai jamu untuk mengatasi masalah kesehatan. Karena itu, upaya


pemanfaatan jamu tidak bisa dilarang. Sebaliknya, jamu seharusnya bisa

dikaji secara ilmiah untuk disandingkan dengan pengobatan medik yang


menggunakan obat farmasi.
Pengobatan Tradisional Banyak Dimanfaatkan
Jika melihat perkembangan Pengobatan Tradisional hari ini, maka
Pengobatan tradisional telah berkembang secara luas di banyak negara dan
semakin populer.

Di berbagai negara, obat tradisional bahkan telah

dimanfaatkan dalam pelayanan kesehatan terutama pelayanan kesehatan


strata pertama. Negara-negara maju yang sistem pelayanan kesehatannya
didominasi

pengobatan

tradisional,

walaupun

komplementer/alternatif

konvensional
mereka

pun

kini

menyebutnya

(complementary

and

menerima

pengobatan

dengan

pengobatan

alternative

medicine),

misalnya Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Di Asia, negara yang


banyak menggunakan obat tradisional adalah Cina, Korea, India, dan
termasuk Indonesia.
World Health Organization ( WHO ) memperkirakan 80 % penduduk di
seluruh dunia menggunakan obat herbal sebagai pengobatan primer. Di
Amerika Serikat, penggunaan obat herbal meningkat seiring dengan
ketidakpuasan masyarakat Amerika terhadap biaya obat resep dan minat
yang kuat untuk kembali ke pengobatan alami dan organic. Dan obat herbal
pun diklasifikasikan sebagai supplement Diet oleh U.S Dietary Suplement
Health and Education Act ( DSHEA ) sejak 1994, sehingga tidak memerlukan
resep dokter lagi. Di Jerman, terdapat 600-700 obat-obatan yang berbasis
tumbuh-tumbuhan, dan diresepkan oleh lebih dari 70 % dokter di Jerman.
Sementara di Negara Eropa yang lain, obat herbal diklasifikasikan sebagai
obat dan diregulasi, Komisi E Jerman dengan berbagai pakar medis aktif
melakukan riset tentang efektifitas dan keamanan obat herbal.
Di

Indonesia,

Riset

Kesehatan

Dasar

(Riskesdas)

tahun

2010,

menunjukkan bahwa 59,12 % penduduk Indonesia menggunakan jamu baik


untuk menjaga kesehatan maupun untuk pengobatan karena sakit. Dari
penduduk yang pernah mengkonsumsi jamu, sebanyak 95,6% menyatakan
merasakan manfaat minum jamu. Dari hasil Riskesdas tahun 2010 juga
menunjukkan bahwa 55,3% masyarakat mengkomsumsi jamu dalam bentuk
cairan (infusum/decoct), sementara sisanya dalam bentuk serbuk, rajangan,
dan hanya 11,6% dalam bentuk pil/kapsul/tablet. Sementara menilik hasil
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, sebanyak 30,4% rumah tangga di
Indonesia telah memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional. Sebanyak
77,8% rumah tangga di antaranya memanfaatkan jenis pelayanan kesehatan
tradisional keterampilan tanpa alat, dan 49,0% rumah tangga memanfaatkan

ramuan. Hasil Riskesdas ini menunjukkan bahwa jamu sebagai bagian dari
pengobatan tradisional, telah diterima oleh masyarakat Indonesia dan
sampai saat ini masih diakui keberadaannya.
Hasil inventarisasi dokter praktik herbal se Jawa Bali tahun 2010
menunjukkan bahwa

terdapat 159 orang dokter yang tercatat sebagai

anggota perhimpunan seminar pengobatan tradisional. Sebanyak 76,9 %


melakukan praktik jamu, dan sebagaian besar juga melakukan cara
pengobatan tradisional lainnya terutama akupunktur.2

Regulasi Mengenai Pengobatan Tradisional


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam Strategi Pengembangan
Pelayanan Kesehatan Tradisional 2002-2005 (WHO Traditional Medicine
Strategy 2002-2005), telah memberikan pedoman umum yang dapat dipakai
oleh

negara

tradisional

anggota

dalam

(traditional

mengembangkan

medicine)

dan

pelayanan

kesehatan

komplementer/alternatif.

WHO

merekomendasikan 4 (empat) strategi dalam mengembangkan pengobatan


tradisional, yakni (a) mengembangkan kerangka regulasi dan kebijakan
nasional tentang pengobatan tradisional, (b) mengembangkan pelayanan
kesehatan tradisional menjadi bermutu, aman, dan berkhasiat, (c) menjamin
akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan tradisional yang bermutu,
aman, dan berkhasiat, dan (d) menjamin penggunaan rasional terhadap
pengobatan tradisional.3
Hasil inventarisasi penelitian tanaman obat dan obat tradisional di
perguruan tinggi di seluruh Indonesia, sebagian besar merupakan hasil uji
pre-klinik. Sementara uji klinik memiliki porsi yang sangat kecil. Bukti ilmiah
mengenai mutu, keamanan dan kemanfaatan jamu masih sangat diperlukan,
karena hal ini merupakan salah satu persyaratan agar jamu dapat digunakan
dalam pelayanan kesehatan formal.
Undang-undang

No.

36

tahun

2009

tentang

menetapkan bahwa pengobatan tradisional adalah

Kesehatan

telah

salah satu bentuk

intervensi kesehatan dari 17 intervensi kesehatan yang telah ditetapkan


dalam undang-undang tersebut.4 Penggunaan obat tradisional tidak hanya
dilakukan

melalui

pengobatan

sendiri/pengobatan

rumah

tangga

dan

pengobat tradisional (Battra), tetapi juga melalui pengobatan medis oleh


tenaga kesehatan (dokter, perawat) di praktik pribadi, Puskesmas, atau
rumah sakit.

Penyelenggaraan pengobatan tradisional oleh Battra diatur dalam


Keputusan Menteri Kesehatan No. 1076/MENKES/SK/VII/2003 sedangkan
penyelenggaraan pengobatan komplementer-alternatif di fasilitas pelayanan
kesehatan

diatur

dalam

1109/MENKES/Per/IX/2007.

Peraturan
Tenaga

Menteri

pengobatan

Kesehatan

RI

komplementer

Nomor
alternatif

terdiri dari dokter, dokter gigi, dan tenaga kesehatan lainnya yang memiliki
pendidikan terstruktur dalam bidang pengobatan komplementer-alternatif,
termasuk pengobatan dengan jamu.
Meskipun pengobatan tradisional, termasuk jamu, sudah banyak
digunakan oleh tenaga kesehatan profesional maupun Battra, namun banyak
tenaga profesional kesehatan yang menyangsikan terhadap keamanan dan
kemanfaatan pengobatan jamu dalam pelayanan kesehatan formal. Hal ini
bisa dimengerti, karena sesuai dengan Undang-Undang No. 29 tahun 2004
tentang Praktik Kedokteran, dokter/dokter gigi dalam memberikan pelayanan
kesehatan harus memenuhi standar pelayanan medis 5, yang pada prinsipnya
harus memenuhi kaidah praktik kedokteran berbasis bukti (evidence based
medicine). Di pihak lain, bukti-bukti ilmiah tentang mutu, keamanan dan
kemanfaatan (jamu) dinilai belum adekuat untuk dapat dipraktikkan pada
pelayanan kesehatan formal. Dengan kata lain, pengobatan jamu masih
memerlukan bukti ilmiah yang cukup untuk dapat digunakan oleh tenaga
kesehatan profesional.
Dalam rangka menyediakan bukti ilmiah terkait

keamanan dan

kemanfaatan jamu, maka Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan


RI,

telah

mengeluarkan

Peraturan

Menteri

Kesehatan

No.

003/MENKES/PER/I/2010 tentang Saintifikasi Jamu dalam Penelitian Berbasis


Pelayanan Kesehatan.6 Salah satu tujuannya adalah memberikan landasan
ilmiah

(evidenced

penelitian

berbasis

based)

penggunaan

pelayanan

yang

jamu

secara

dilakukan

di

empirik

sarana

melalui

pelayanan

kesehatan, dalam hal ini klinik pelayanan jamu/dokter praktik jamu. Untuk
menjalankan Saintifikasi Jamu sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan
No. 003/MENKES/PER/I/2010, maka telah ditetapkan Keputusan Menteri
Kesehatan

Nomor

1334/Menkes/SK/IX/2010

tentang

Komisi

Nasional

Saintifikasi Jamu, yang salah satu tugasnya adalah menyusun pedoman


penelitian jamu.
Saintifikasi Jamu adalah upaya terobosan dalam rangka integrasi jamu
kedalam pelayanan kesehatan formal, yakni dengan mengumpulkan bukti
ilmiah keamanan dan kemanfaatan jamu melalui penelitian berbasis
pelayanan. Dengan adanya bukti ilmiah maka jamu dapat digunakan oleh
masyarakat secara aman dan bermanfaat. Selanjutnya industri dapat

mengembangkan

jamu

tersebut

sebagai

sediaan

berorientasi

produk

(product oriented) dengan mengikuti kaidah yang telah ditentukan.


Karena pentingnya bukti ilmiah terkait keamanan dan kemanfaaan
jamu dalam rangka integrasi jamu ke dalam pelayanan kesehatan formal,
maka penelitian dan pengembangan (jamu) adalah sangat penting. Harus
disadari bahwa jamu selalu terkait dengan budaya dan kepercayaan
masyarakat. Pengobatan jamu bersifat holistik (lebih kepada healing dari
pada curing), terapi biasanya bersifat simultan (body, mind, and spirit),
hubungan pengobat dan pasien sangat inten dan bersifat individual. 7

Tantangan Pengobatan Tradisional dan Terapi Komplementer di Era


JKN
Ada beberapa faktor yang menjadikan Pengobatan Tradisional dan
Terapi Komplementer belum mendapatkan kedudukan yang sama dengan
Pengobatan Konvensional ( Alopati ) di Indonesia, baik dari eksternal maupun
internal. Dari faktor eksternal meliputi , kurangnya pengakuan secara resmi
dari pihak regulator kesehatan terhadap Pemberi Pelayanan Pengobatan
tradisional dan Terapis Komplementer, belum terintegrasinya ke dalam
Sistem Pelayanan Kesehatan nasional, kurangnya mekanisme regulasi dan
legalitas, dan kurangnya alokasi sumber daya untuk pengembangan dan
peningkatan

pengetahuan

di

Pengobatan

Tradisional

dan

Terapi

Komplementer.
Sedangkan dari Internal Pengobatan Tradisional di Indonesia sendiri
adalah, masih lemahnya metodologi riset di bidang pengobatan tradisional
dan terapi komplementer itu sendiri, kurangnya basis bukti untuk terapi dan
produk, kurangnya standar internasional dan nasional untuk memastikan
keamanan, efikasi, dan kualitas terapi dan produk, kurangnya regulasi dan
registrasi dari obat herbal, kurangnya registrasi pemberi pelayanan, dan
kurangnya dukungan untuk riset dan pengembangannya. Dan hal-hal inilah
yang diduga menjadikan belum terakomodirnya pengobatan tradisional dan
terapi komplementer dalam Layanan BPJS di Program Jaminan Kesehatan
Nasional.
Hierarki Bukti dalam Pelayanan Kesehatan
Bahwa dalam setiap intervensi medis baik moderen ( konvensional/
allopati

maupun

pengobatan

tradisional

atau

komplementer

perlu

menunjukkan bukti ilmiah riset bahwa intervensi tersebut aman dan efektif
untuk diberikan kepada pasien.

Ada 3 syarat yang harus dipenuhi untuk

intervensi medis kepada pasien; pertama, efektivitas intervensi didukung


bukti riset yang dilakukan dengan metodologi yang benar ( validity ), kedua,
intervensi memberikan efek yang cukup besar, yaitu signifikan secara klinis
dan signifikan secara statistic ( importance ). Ketiga, intervensi yang
ditunjukkan oleh riset harus dapat diterapkan kepada pasien di tempat
praktik ( applicability ).
Dan perlu diketahui, tidak semua penelitian memberikan bukti yang
kuat tentang efektifitas intervensi. Dan yang sedikit dari obat herbal
terstandar dan kuat intervensinya , pada 2014 ini telah ditetapkan tiga jenis
jamu berstatus saintifik oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
(Balitbangkes) Kementerian Kesehatan, yaitu jamu untuk osteoartritis,
haemorroid, dan dispepsia. Sebelumnya status jamu saintifik ditetapkan
pada jamu untuk hipertensi ringan dan asam urat. Sebelum penetapan itu,
Balitbangkes menguji 24 formula untuk menjadi kandidat, sebanyak 19
formula jamu itu diuji klinik pre-post dan lima formula jamu untuk diuji klinik
multicenter.
.

Sebuah Harapan Akan Layanan Kesehatan


Dan untuk pengobatan tradisional, Kementerian Kesehatan telah
menargetkan hingga 50 persen Puskesmas dan 70 rumah sakit menyediakan
pengobatan menggunakan ramuan tradisional seperti jamu pada 2014.
Berdasarkan penjelasan Direktur Bina Pelayanan Kesehatan Tradisional,
Alternatif dan Komplementer Kementerian Kesehatan Abidinsyah Siregar di
Jakarta kepada Harian Republika bahwa dari Renstra (Rencana Strategis)
Kementerian Kesehatan 2009-2014 ditargetkan cakupan kabupaten kota
yang menyelenggarakan pengobatan alternatif/komplementer ini mencapai
50 persen. Untuk 2011, sebanyak 36 Rumah Sakit telah menyediakan
layanan pengobatan alternatif dan komplementer tersebut, selain itu ada 30
Puskesmas yang telah menyediakan layanan akupressur serta ada 42
Puskesmas

menyediakan

obat

ramuan.

Jumlah

Rumah

Sakit

yang

melengkapi dengan pengobatan tradisional diharapkan bertambah hingga 46


Rumah Sakit pada 2012 dan 56 Rumah Sakit pada 2013 serta 70 Rumah
Sakit pada 2014.
Jika melihat hal ini, mungkin tak
dapat

menikmati

Terapi

lama lagi bagi Ibu Sumarni untuk

Komplementer

dan

minum

Herbal

dengan

ditanggung pembiayaannya oleh BPJS yang diikutinya. Meski untuk hal itu ,
ia tidak merasa keberatan bagi isi kantongnya. Semoga apapun intervensi
medis yang dilakukan, Ibu Sumarni maupun masyarakat yang lain berharap

tetap sehat dengan mendapat layanan kesehatan yang tepat, cepat, mudah,
dan terjangkau. Dan derajat kesehatan manusia Indonesia semakin lebih
baik.