Anda di halaman 1dari 21

KESERUMPUNAN MELAYU BUGIS:

MODAL POLITIK REGIONALITAS ASEAN YANG TERLUPAKAN


A. Rasyid Asba1
Email: rasbawecu@yahoo.com
abstrak
Makalah ini akan menguraikan awal mula masuknya orang-orang Bugis dalam
dinasti kekuasaan di tanah Melayu dan juga masuknya orang-orang Melayu dalam
politik kekuasaan Bugis. Hal ini dianggap penting sebagai bagian dari cikal bakal
terbentuknya keserumpunan Melayu Bugis sebagai bagian dari perpektif kultural.
Tentu kalau pemahaman tersebut dimaknai dengan mengedepankan pendekatan
kultural maka hubungan antara Indonesia dan Malaysia ke masa depan akan lebih
baik dalam memperkuat regionalitas bangsa-bangsa di Asia Tenggara. Tentu kata
ganyang Malaysia, serbu, perang... dst. Tidak terulang lagi. Sebaliknya jika nilai
nilai kultural diabaikan dengan hanya mengedepankan pengembangan ekonomi
seperti pendekatan selama ini,
maka politik adu domba akan mudah masuk
sehingga regionalitas akan semakin rampuh. Makalah ini setidaknya akan melihat
pasang surut kekuassan orang Bugis dan Melayu, baik di tanah Bugis maupun di
tanah Melayu sebagai enter poitn.

A. Awal Terbentuknya Keserumpunan Melayu Bugis


Sumber sejarah Melayu yang dikarang oleh Leonard Andaya, menunjukkan
bahwa Melayu

diawali oleh munculnya kerajaan Sriwijaya kemudian berkembang

menjadi pusat kekuasaan Malaka dan Johor.2 Dalam tahun 1699 Johor mengalami krisis
yang sangat besar dimana

Sultan Mahmud

terbunuh oleh suatu komplotan yang

dipimpin oleh pasukan raja kecil . Dengan kematian Mahmud Habislah silsilah Raja
Maklum ( Malaka), Sejak itu dinasti raja-raja Malaka, keturunan langsung dari Raja
Zulkarnaen dan Sri Tri Buana berakhir. Sejak itu
meneruskan kemajuan ekonomi Johor, namun

dinasti Bendahara / rajak kecil

kerusuhan demi kerusuhan terjadi

Dr. A. Rasyid Asba,MA Ketua Konsentrasi Pascasarjana Ilmu Sejarah Unhas, juga sebagai Ketua Jurusan
Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin. Selain itu Juga Direktur Pusat Kajian
Multikulturan dan Pengembangan Regional Universitas Hasanuddin
2

Kernial Singh Sandhu, Malaka; The Transformation of a Malay Capital 1400-1980.yang dikutip dalam
Barbara Weston Andaya Malaka Under The Dutch 1641-1795 P.1

sehingga membuat kerajaan Melayu tak berdaya. Kelemahan dalam bidang keamanan di
semenagjung mengakibatkan dua kelompok pedagang di Semenangjung yaitu Bugis
dari Sulawesi Selatan, 3dan Minangkabau dari Sumatra. Selama abad XVIII membuat
orang Bugis dan Minang masuk dalam politik kekuasaan tanan Melayu.4
Dalam hikayat masuknya Bugis di tanah Johor hanya disebutkan dalam angka
tahun 1134 Hijriah atau 1721-22 pada tahun tersebut raja Sulaiman dianggap sebagai
penguasa oleh Kelana (Daeng Marewah) dan Daeng Menampuk serta orang-orang Bugis.
Ketika Sultan Sulaiman

Bader Alamsyah menjadi penguasa, Daeng

Menampuk

disamping raja tua dengan gelar Sultan Ibrahim dan Kelana Jaya Putra, yang menyandang
nama Daeng Marewah, diberi gelar Sultan Aldin Syah Raja Muda. Peringatan jelas
menunjukan bahwa ada dua pimpinan Bugis; Kelana Jaya putra (Daeng Marewah) dan
Daeng Menampuk, yang lebih sesuai dengan apa yang kita kenal dari sumber Belanda
daripada gambaran Tuhfat. Menurut peringatan, kedua pimpinan itu menerika gelar sultan
(bukan hanya Daeng Marewah seperti halnya Tuhfat dan juga hikayat negeri Johor pro
Bugis), Daeng Menampuk sebagai Raja Tua dan Daeng Marewah sebagai Raja Muda.
Kontrak asli antara orang Bugis dan orang Melayu seperti yang ditemukan dalam arsip
VOC menegaskan bahwa raja muda dan raja tua bersama-sama mengangkat Sulaiman
dan mereka kedua diangkat sebagai sultan, karena mereka memulihkan dia dalam
pemerintahan atas semua Saleter (orang Selat atau orang laut) dan wilayah Johor serta
Pahang (naskah Belanda mengatakan bahwa dirinya dan bukan mereka; saya menduga
Raja Muda dan Raja tua yang dimaksudkan bukan hanya raja tua seperti yang disebut
oleh kontrak baru pada tahun 1735 tentang Yang Dipertuan Muda dengan Raja Tua.
3

Dalam percaturan politik berbagai suku di Asia Tenggara khususnya abad ke-18 orang Bugis rantau
digambarkan sebagai the ruling class dalam mengatur perompakan di Selat Malaka dan Maluku
yang tujuannya meguasai perdagangan timah dan rempah-rempah. Bahkan tidak sekedar itu saja orang
Bugis rantau dapat mengontrol jalannya kesinambungan kekuasaan di Semenagjung Melayu, terutama di
Kesultanan Johor. Predikat tersebut membaut aikon orang Bugis dikenal sebagai pemimpin yang pintar,
berani, tagas dan jujur ( maccai nawarani magettengngi na malempu). Kalimat tersebut menjadi standar
penilaian secara kwalitatif kemelayuan dan kebugisan. Untuk lebih jelasnya lihat makalah A. Rasyid
Asba, Seminar Melayu Bugis
4
Dalam Traktat London tahun 1824 dijelaskan bahwa Inggeris menyerahkan Belanda untuk menguasai
Melayu dan semua pulau yang terletak di Pelayaran Hindia Timur sampai Cina, suatu langkah politik yang
memecah kerajaan Johor . Yang tersisa bagi kesultanan Johor hanyalah kepulauan Riau, sementara dua
pimpinan Melayu terbesar dari kerajaan besar itu terputus di Pahang dan Johor dari para penguasa mereka
yang berada di daerah Riau dan segera menjadikan mereka sultan-sultan merdeka. Ikatan antara penguasa
Bugis di Slangor dan diaspora Bugis di Riau juga telah dibatasi. Untul lebih jelasnya lihat Malaya and its
History Hutchinson University Library,tanpa tahun.

Mereka adalah kedua orang yang memulihkan Paduka Sri Sultan Sulaiman di kerajaan
Johor dan Pahang. Masuknya pengaruh Bugis dalam struktur kekuasaan Johor diduga
menjudi penguat terbentuknya keserumpunan antara Melayu dan Bugis yang semakin
kuat
Menurut Andaya, keterlibatan orang-orang Bugis dan Minangkabau di Melayu
menghancurkan ikatan politik tradisional Johor. Orang Minangkabau dari Siak
menakhlukan Johor pada tahun 1718 yang dipimpin oleh seorang pangeran kharismatik
raja kecil dari

Suultan Mahmud . Setelah keberhasilan penyerangan itu, dia

menggantikan ayahnya dan menempatkan sang perampas tahta pada posisi sebelum tahun
1699 sebagai Bendahara; kemudian dia menyuruh Bendahara itu dibunuh. Putra
Bendahara yakni Raja Sulaiman karena itu meminta bantuan dari kelompok orang Bugis
yang tinggal di daerah Linggi dan Selangor. Pada tahun 1721 orang-orang Bugis berhasil
mengusir raja kecil dan sekutu Minangkabaunya, mengangkat Sulaiman sebagai Sultan
dan sebaliknya menganugerahi jasa-jasanya dengan posisi tinggi atas jasa-jasanya, yakni
Yang Dipertuan Termuda (raja yang berkuasa) sebagai yang paling penting.
Pada tahun

1722, perkembangan di Riau bisa dikatakan hampir dikuasai

pengaruh Bugis . Seorang perwira Belanda yang menulis pada pertengahan abad XVIII
menggambarkan Raja Sulaiman sebagai boneka yang menari-menari mengikuti perintah
Yang Tuan Muda yang digerakkan oleh para pengikut Bugisnya. Setelah tahun 1750,
meningkatnya ketegangan di Riau yang disebabkan oleh peningkatan secara pesat
kekuatan Bugis mengakibatkan perang saudara. Meskipun kelompok Melayu bertekad
mengambil langkah untuk membuat peserkutuan VOC, kebangkitan kekuatan Bugis tidak
bisa dihentikan. Bugis jelas memenangkan perang (melawan Belanda dan Melayu) dan
setelah tahun 1760 kekuasaan Bugis semakin sulit di bendung.
Konsep dasar Tuhfat adalah bahwa orang Bugis menyelamatkan Johor dari tangan
raja kecil dari tahun 1721 dan mereka dianugerahi atas jasa itu dengan kekuasaan
memerintah di Johor. Struktur kekuasaan baru secara resmi diterima dalam kontrak
tertulis antara orang Bugis dan Melayu. Mereka tetap berhasil mempertahankan Riau
dalam seluruh perang besar melawan raja kecil antara tahun 1722 dan 1737, dan
menjadikan Johor sebagai negara yang maju. Kehidupan di Johor menurut Tuhfat
merupakan surga perdamaian, jika bukan karena fitnah, sifat buruk orang-orang Melayu

yang membenci nasib mereka yang kehilangan kekuasaan. Orang-orang Melayu bukan
hanya memberontak melawan Bugis namun juga melawan sultan mereka sendiri (Tuhfat
mengambil alih perspektif ini dari sejarah raja-raja Riau). Tuhfat mengakui bahwa sultan
Sulaiman selalu tetap setia pada kontrak, bersyukur karena dia dilindungi oleh orang
Bugis dan juga karena orang Bugis selalu menyukai daging dan darahnya sendiri dan
menyukai anggota keluarganya.
Dalam naskah tradisional Melayu, khususnya karya Tuhfat Al Nafis, dapat
diperoleh informasi bahwa negeri Bugis adalah suatu wilayah politik yang diperintah
oleh kekuasaan yang tunggal. Kekuasaan tunggal itu membawahi berbagai wanua. Hal
itu ditemukan bila kita melacak informasi

silsilah tokoh sejarah

masyarakat Bugis

Makassar baik di Semenangjung maupun di di Sulawesi Selatan. Sebagai historian


penyelusuran silsilah para tokoh

pastilah sulit dilakukan. Mengapa

hal ini suli

dilakukan? Hal itu disebabkan oleh lontarak dan hikayat-hikayat tanah Melayu yang
menjadi sumber penulisan sejarah Bugis Melayu hanya menyebutkan seorang aktor
sejarah dengan menggunakan gelar yang simbolis
Aktor yang ditampilkan dalam lontarak misalnya ada kalanya muncul dengan
dua atau tiga gelar yang simbolis. Gelar itu muncul berkaitan erat dengan peristiwa
penting yang terjadi dalam hidupnya. Karena mendapatkan peristwa penting, maka ia
mendapat nama lima gelar bahkan sampai kuburannya pun juga diberikan nama gelar.
Selain itu juga mama tokoh dengan angka tahun tulisannya meloncot-loncat sehingga
keutuhan tokoh secara kronologis sulit diceritakan.
Sebagai contoh kita lihat silsilah yang dibuat oleh Raja Ali Haji bahwa orang
Bugis itu berasal dari Putri Balkis khususnya turun dari lima orang bersaudara yang
telah berjaya dalam sejarah

Melayu. Hal itu dapat simak cerita di bawah ini:

Keturunan Putri Balkis bernama Siti Malangkai, yaitu raja perempuan jadi raja di
tanah Bugis seyilang. Adapun Siti Malangkai bernama datu Palingei dan itu
beranakkan patoto, dan Ia itu beranakkan Batara Guru, dan Ia itu beranakakn batara Lato
dan ia beranakkan Sawerigading dan ia itu beranakkan Lagaligo, dan ia itu beranakkan
T ata dan Ia itu beranakkan Sawong ri Wara La Talakka. Dan ia itu beranakkan
Siyajangi korana, dan ia itu beranakkan Batara Ri Toja Mallajangngi Lopi Bali, dan ia
itu beranakkan To Tenri Ala Mallajangngi Olarana, dan ia itu beranakkan Lari Mappa
matinroe ri Wara dan ia itu beranakkan To Wangkaha, Matinroe Mallangkai dan ia itu
beranakkan La Panyewi Mallopi ri Allae, dan ia itu beranakkan La padolang
Mallajangge ri Wara Lalangnge dan itu beranakkan Sasong Rewo nanno ri kiritiwi dan

ia itu To Kasawo ri yoso dan itu beranakkan Towangkaha Matinro mallangkai dan
beranakka To Pamadan Matinro di La rompopng........... Lamaddusalat maka iatu mulamula masuk Islam yaitu cucunya datu ri Luwu dan cucunya juga datu di Soppeng
Cucunya juga Arung Bentengpola. Lamaddusalat itu beranakkan Opu tenri Borang
Daeng Rilaka. Ia beranak lima orang laki-laki seibu anak yang pertama bernama Daeng
Parani, Anak kedua bernama Daeng Manambung, dan Anaknya yang ketiga bernama
Marewa dan anaknya yang keempat bernama Daeng Cella dan anaknya yang kelima
bernama Daeng Kamase 5
Dari sumber yang terdapat dalam silsilah Melayu Bugis didapatkan informasi tentang
sebab musebab terjadinya perantauan lima Opu bersaudara ke Semenangjung Melayu
seperti yang diungkapkan dalam sumber sangat sulit ditebak periode kapan dan tokohnya
yang diceritrakan tidak berkesinambungan. Begitupula cerita yang ditemukan dari versi
Bugis

yang kita dapatkan dalam naskah-naskah lokal

di Sulawesi Selatan

yang

terjemahannya kurang lebih sebagai berikut:


Suatu hari Opu yang kelima bersaudara itu duduk di rumah Sauraja Arungpone di
Makassar, dilihatnya ada seorang laki-laki keluar dari dapur istana menbawa sepuntung
siri, maka ditanyalah anak laki-laki itu oleh Opu Daeng Parani. Hai laki-laki dari mana
engkau itu dan apa yang engkau bawa itu. Laki-laki itu tidak menyahut dan seraya berlari
dan dikejarlah pergi menuju anak raja Mangkasara yang menantinya di luar kota . Dan
anak raja Makassar itu pun bertanya apakah gerangan yang terjadi ini , maka Opu
berlima itupun dekat kepada raja Menkasara itu. Lalu ditikamnya anak raja itu oleh
Daeng Parani dengan kerisnya bernama Tanjug Lada. Maka iapun matilah anak raja
mengkasar itu...... Syahdan tiada beberapa lama Opu Daeng Rilakka duduk di negeri
Bone . Maka ia pun pergilah menghadap Arung Pone dan Arumpone berkata. Adapun
yang seperti adinda sekalian ini . Jika ada ampun karunia , maka adinda hendak
bermohon pergi mengembara mengadu tuan ke sebelah barat Mudah-mudahan dengan
pertolong rabbulaalamin supaya boleh menjadi mahsyur nama raja-raja Bugis ditempat
itu.
Dari mitgogi di atas kita dapat berkesimpulan bahwa keberangkatan lima Opu ke
Semenangjung Melayu tidak lepas dari hiruk pikuk sussana politik antara kerajaan
Gowa dan Bone yang memperebutkan hegemoni poltik di Sulawesi Selatan pada abad
ke-17 yang mengakibatkan munculnya emigran Bugis di Semenangjung Melayu.
Selama periode 1720-1735 posisi raja tua sama seperti posisi raja muda. Ketika pada
tahun 1725 sebuah perjanjian ditandatangani antara raja Johor dan Minangkabau, Johor
menerima tiga salinan; salinan pertama bagi sultan Sulaiman, salinan kedua bagi Sultan
Ibrahim (raja tua Daeng Menampuk) dan salinan ketiga bagi Sultan Ala din . Sampai
5

Di kutip dari Hamid Abdullah , Peranan Militer Bugis pada Abad ke-18 di Smenangjung dalam
Analisis Kebudayaan, Univ. Dipenogoro Semarang. Tanpa tahun.

tahun 1735 (ketika raja tua meninggal), peringatan menyebut tentang raja tua dan raja
muda sebagai pimpinan Johor. Sungguh menarik untuk dilihat

versi Bugis untuk

peringatan yakni Hikayat Negeri Johor tidak membuang kepemimpinan negeri ganda ini
namun lebih menyukai konsep raja muda dan raja tua sebagai penyebutan lain. Raja tua
juga bisa bekerja terlepas dari raja muda. Misalnya pada tahun 1726-1727 dia berangkat
ke Trengganu untuk melantik Tuan Zainal Abidin sebagai sultan . Dua tahun kemudian
dia memberikan ijin bagi perkawinan seorang bangsawan Bugis yang penting Daeng
Mateko. Pada tahun 1732 setelah Daeng Mateko berperang dengan Raja Muda di
Selangor, dia tiba di Riau untuk melamar istrinya. Dia menyampaikan kepada raja tua
yang menolaknya; Ini bisa ditafsirkan bahwa raja tua dan muda diberi peringatan. Pada
tahun 1734 Sultan Sulaiman meminta ijin kepada raja tua dan raja muda untuk berangkat
ke Klantan. Raja tua sendiri memberikan ijin itu. Seperti yang dikatakan, Tuhfat menolak
pandangan bahwa raja tua memiliki posisi yang sama seperti Yang Dipertuan Muda.
Tuhfat memberikan perhatian pada penggunaan gelar resmi Yang Dipertuan Muda,
sementara hikayat lain menggunakan Raja Muda. Raja muda mennjukan kepatuhan atau
setidaknya melengkapi raja tua; kontrak Bugis-Melayu resmi tahun 1722 menyebut raja
muda dan berkata bahwa raja Sulaiman dikukuhkan sebagai raja Johor oleh Raja tua dan
raja muda.
Namun dengan membaca cermat kita mengetahui bahwa Tuhfat meskipun hanya
secara tersirat di beberapa tempat menunjukan bahwa raja telah memiliki posisi khusus.
Penjelasan dengan tiga salinan dengan Minangkabau tahun 1726, raja tua disebut
Matowa, sebuah kata Bugis yang berarti tua namun juga berarti kepala atau pimpinan.
Pada salah satu halaman terakhir Tuhfat dimana penurunan Sultan Mahmud (1857)
dikisahkan, kita mengetahui bahwa Sultan Mahmud berunding dengan Raja Ahmad yang
merupakan keturunan raja tua Daeng Menampuk Matowa, dan dengan demikian
keturunan raja tua Bugis yang menjadi matowa dari lima orang raja Bugis bersaudara.
Kita masih belum bisa mengetahui secara pasti bab apa yang dimaksud posisi matowa,
namun petunjuk menyampaikan bahwa dia adalah atasan atau gurunya (12). Tidak perlu
diragukan lagi bahwa selama hidupnya raja tua Bugis pertama yakni Daeng Menampuk,
raja muda harus berbagi kepemimpinan di Johor. Kedua perdana menterinya adalah orang
Bugis namun berdasarkan ketegangan yang terjadi antara Daeng Marewah dan Daeng

Menampuk sebelum tahun 1722 dan dengan memperhatikan pengabaikan Tuhfat tentang
raja tua, hampir tidak mungkin bila kekuasaan Bugis sangat meresap seperti halnya
Tuhfat dan seperti yang ditunjukan oleh Tuhfat dan historiografi modern.
Raja tua Daeng Menampuk meninggal pada tahun 1735; penggantinya Encik
Abdullah hanya meninggal satu tahun setelah dia dilantik, namun buku peringatan
menunjukan bahwa ketika dia dijadikan raja tua, pemerintahan dialihkan dari raja muda
kepada raja tua. Ini tidak dipertegas oleh sumber Bugis namun dalam hikayat negeri
Johor kematiannya dilaporkan dalam suatu ungkapan yang sangat panjang (lebih panjang
daripada mengenai kematian Daeng Marewah dan Daeng Celah), yang bisa menjadi
petunjuk dari posisinya yang tinggi. Abdullah digantikan posisinya oleh Encik Musuk
(kemenakan Daeng Menampuk), dimana hikayat hanya mengisahkan bahwa dia wafat
pada tahun 1746. Gubernur Malaka melaporkan pada tahun 1741 bahwa dia sangat
bangga pada saat itu dan disebut sebagai raja Riau. Posisi raja tua dengan demikian
nampaknya tetap merupakan tokoh yang berpengaruh . Selama tahun 1750-an putra
Daeng Menampuk yakni Encik Andak menjadi raja tua. Meskipun karir politiknya yang
lama berada diluar jangkauan buku peringatan makalah ni, beberapa pernyataan
mengenai kehidupannya mungkin sangat menarik. Raja tua Encik Andak disebut-sebut
dalam tiga kisah yang berbeda pada Tuhfat. Dengan menyebutkan sebab-sebab perang
saudara Melayu-Bugis pada tahun 1745-60, Tuhfat memberitahukan bahwa ada tiga sudut
pandang; pandangan Bugis (yakni Sultan Sulaiman, pandangan Melayu dan pandatuan
raja tua Encik Andak);Raja tua, putra Daeng Mneampuk, memiliki ibu seorang bangsa
Melayu, jadi sikapnya mendua. Kadang-kadang dia memihak kepada kelompok Melayu
dan kadang-kadang dia mendukung Sultan Sulaiman. Ini semua dikatakan oleh Tuhfat
mengenai raja tua; kita hanya bisa menambahkan bahwa sumber Belanda mempertegas
kedua keturunan ini.
Tuhfat menyebut raja tua Encik Andak lagi pada tahun 1767 ketika Riau terancam
oleh serbuah Sultan Mansyur dari Trengganu bersama dengan Raja Ismail dari Siak.
Diketahui bahwa bukan hanya raja Melayu yang merencanakan untuk mencegah para
penyerang, namun bahwa juga raja tua telah menahan raja Bugis dan meledakan gudang
peluru yang dipertuan muda. Penyerbuan itu gagal, namun raja tua dibuang dari Riau
dengan kata-kata:

Bagaimana engkau ingin menghancurkan jiwaku? Aku merasa bahwa engkau dan aku
selalu bersengketa, dan sejauh ini kukatakan

bahwa meskipun kita berdua adalah

keturunan Bugis. Saat ini kepercayaan saya kepadamu telah luntur dan keyakinan saya
kepadamu telah lenyap. Saya tidak bisa memberikan kepercayaan kepadamu sedikitpun..
Peranan terakhir yang dimainkan oleh raja tua Encik Andak terjadi pada tahun 1784-85,
setelah Riau ditakhlukan oleh armada laut Belanda . Meskipun Belanda memulihkan
Sultan Mahmud sebagai penguasa Melayu yang sah di Johor, raja tua berusaha untuk
merebut kepemimpinan de fakto, meskipun ada keputusan Belanda bahwa tidak ada
menteri Bugis yang boleh berkuasa di Riau lagi. Jelas raja tua pura-pura mengaku sebagai
orang Melayu dan sebenarnya dia umumnya dianggap demikian. Sebagai kesimpulan
nampak bahwa selama abad ke-18, raja tua Bugis bersaing atau bahkan menentang posisi
berkuasa yang dipertuan muda dan dia sangat dekat dengan kelompok Melayu. Dalam
Tuhfat, raja tua diabaikan atau dianggap sebagai pengkhianat setelah tahun 1750.
Gambaran ini banyak mendukung ide umum mengenai keterikatan erat antara orang
Bugis Johor dibawah kepemimpinan Yang Dipertuan Muda.

B. Kedatangan Orang Melayu di Tanah Bugis Makassar

Bardasarkan sumber-sumber yang telah ditemukan, dapat dikatakan bahwa


gelombang emigran orang-orang Bugis Makassar ke Semenangjung Melayu melalui
tiga priode. , Pertama berlangsung pada masa sebelum kawasan Sulawesi Selatan
memasuki proses Islamisasi. Mereka itu sudah tersebar di berbagai tempat semenangjung
Sumatra, Malaka dan Kalimantan yang menghubungkan kawasan-kawasan itu dengan
rute

perdagangan dengan Pusat Melaka, Kelompok Bugis pada masa itu belum

membentuk dirinya dalam suatu kekuatan militer, mereka umumnya masih hidup dalam
kelompok-kelompok kecil sebagai pedagang antar pulau dan sebagai nelayan. Itulah
sebabnya mereka pada umumnya tinggal di kawasan pantai mereka dapat dikatakan
kelompok the sea men atau orang laut.
Gelombang kedua terjadi padamasa proses Islamisasi sedang berlangsung di Sulawesi
Selatan. Masa berlangsung Islamisasi itu berkaitan erat dengan gerakan politik yang si
lancarkan Kerajaan Gowa dan sekutu-sekutunya untuk menundukkan kwasan-kawasan

yang belum masuk Islam dan sampai Islam diterima masyarakat setempat konflik politik
juga masih berlangsung.
Gelombang ketiga berlangsung setelah kerajaan Gowa dan Wajo jatuh di tangan VOC .
Masa inilah merupakan periode yang paling banyak terjadi perpindahan orang-orang
Bugis Makassar kesemenagjung Melayu. Perpindahan yang terjadi dalam gelombang ini
berbentuk kelompok yang besar . Mereka tidak saja terdiri dari masyarakat lapisan
bawah tatapi apat dikatakan terdiri dari smua lapisan sosial.
Dari ketiga gelombang yang disebutkan di atas, gelombang terkhir inilah yang paling
menarik, masalahnya adalah karena faktor pemindahan berkaitan erat dengan akibat
langsung peperangan yang terjadi di kawasan Sulawesi Selatan. Orang-orang Bugis
Makassar yang termasuk ke dalam gelombang yang terakhir ini dipimpin langsung oleh
kelompok bangsawan. Dengan sisa-sisa kekuatan militer dan kekayaan yang mereka
miliki

kelompok bangsawan ini mengikuti pengikut pengikutnya

atau rakyat yang

meninggalkan kampung halamannya untuk merantau dengan tujuan utamanya untuk


melanjutkan

perjuangan melawan kekuasaan Belanda.Perjuangan dalam melawan

kekuasaan Belanda itu dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dengan melakukan
gangguan pada rute perdagangan atau pelayaran Belanda di Selat Makassar, pantai
Ambon dan di Selat Malaka pantau Kaliman tan yang starategis dan Kepulauan Riau.
Tindakan mereka dikaitkan dengan bajak laut
Sejak kedatangan orang-orang Melayu di kerajaan Makassar (Kerajaan Gowa)
peranannya tidak hanya dalam perdagangan dan penyebaran agama, tetapi juga dalam
kegiatan sosial budaya. Peranan orang-orang Melayu di Kerajaan

Gowa misalnya,

menyebabkan Raja Gowa ke XII, Mangarai Daeng Pamatte Karaeng Tunijallo


membangun sebuah Mesjid di Kampung Mangallekana untuk kepentingan para saudagar
Melayu agar mereka betah tinggal di Makassar, sekalipun ia sendiri belum beragama
Islam. Adanya perkampungan para saudagara Melayu itu membuat struktur kekuasaan
Kerajaan Gowa dibantu juga oleh orang-orang Melayu dan memegang peranan penting
di Istana Kerajaan Gowa. Hal itu dapat ditemukan dalam untaian kalimat
berikut:

sebagai

Kamilah orang-orang Melayu yang mengajar anak negeri duduk berhadap-hadapan


dalam pertemuan adat, mengajar menggunakan keris panjang yang disebut tatarapang,
tata cara berpakaian dan berbagai hiasan untuk para anak bangsawan6
Dalam periode tahun .1546-1565 pada masa raja Gowa ke 10, seorang keturunan Melayu
berdarah campuran Bajo yang amat terkemuka bernama I Mangambari Kare
Mangaweang, yang juga dikenal dengan nama I Daeng Ri Mangallekana diangkat
sebagai sahbandar ke II Kerajaan Gowa, sejak saat itu secara turun temurun jabatan
Sahbandar berturut-turut dipegang oleh orang Melayu sampai dengan Sahbandar Ince
Husein, Sahbandar terakhir th 1669 ketika kerajaan Gowa mengalami kekalahan perang
melawan VOC.
Jabatan penting lainnya ialah juru tulis istana dijabat pula oleh orang-orang
Melayu Incik Amin, juru tulis istana di zaman Sultan Hasanuddin Raja Gowa ke XVI
(1653-1669) adalah juru tulis istana yang terakhir dan amat terkenal di zaman kebesaran
Kerajaan Gowa. Sebuah karya tulisnya yang amat indah berjudul : Syair Perang
Makassar mengisahkan saat-saat terakhir kerajaan Gowa tahun 1669.
Salah satu sumbangan utama orang-orang Melayu di Indonesia Timur, khususnya di
Sulawesi ialah upayanya dalam menyebarkan Agama Islam dan penyebaran

dan

penyebaran Kebudayaan Melayu di Sulawesi. Pada tahun 1632 Rombongan Migran


Melayu dari Patani tiba di Makassar. Rombongan besar ini dipimpin oleh seorang
bangsawan Melayu dari Patani bernama Datuk Maharajalela. 7 Turut serta dengannya
kemanakannya suami istri yang bergelar Datuk Paduka Raja bersama istrinya yang
bergelar Putri Senapati, Raja Gowa memberinya tempat di sebelah selatan Somba Opu,
Ibu Kota Kerajaan Gowa, karena disana telah berdiri Perkampungan Melayu asal Patani.
Sejak saat itu Salajo diganti menjadi kampung Patani, hingga sekarang.
Tidak dapat diketahui tahunnya secara pasti kapan orang-orang Melayu Patani dan
Minangkabau bermukim di Salajo, satu daerah pesisiran Negeri Makassar Dari beberapa
sumber lokal diketahui bahwa orang-orang Melayu mungkin sudah bermukim di Salajo
sekitar tahun 1512 tak lama setelah keruntuhan Malaka di tahun 1511.
6

Mukhlis Paeni, Makalah Seminar Masyarakat sejarawan Indonesi 1998.


Untuk Keterangan lebih lanjut lihat Sejarah Keturunan Indonesia Melayu (K.K.I.K.M) Makassar tanpa
tahun. Bandingkan dengan Abdurrasak Dg Patunru Sejarah Gowa 1976. hal.19-20
7

Datuk Leang Abdul kadir bersama istrinya, Tuan Fatimah dikenal sebagai cikal bakal
keluarga Melayu asal Patani di Salajo, sedang Datuk Makkota bersama istrinya Tuan Sitti
adalah cikal bakal keluarga Melayu Minangkabau dari Pagarruyung di Salajo. Merekalah
generasi pertama Migran Melayu di Salajo, sebuah perkampungan di kerajaan Sanrobone,
daerah bawahan Kerajaan Gowa.
Pada generasi ke II Masyarakat Melayu di Salanjo lahir dari perkawinan antara orangorang Melayu Minangkabau. Ikatan ini ditandai dengan perkawinan Tuan Aminah,
Putri Datuk Leang Abdul Kadir dengan Tuan Rajja Putra Datuk Makotta, Generasi ke
III masyarakat Melayu Salajo ditandai dengan penggunaan Titulatur Incek Ali,
IncekTalli,Incek Hasan dan sebagainya, dan sejak saat itulah Titulatur Incek
digunakan oleh orang-orang keturunan Melayu terpandang. Generasi ke IV terjadi
perkawinan campuran antara Dara Incek keturunan Melayu di Salajo dengan orang
Bajo (Turijenebhs Makassar) yang ditandai dengan perkawinan Incek Tija,
PutriIncekAli, cucu tuan Rajja/Tuan Aminah dengan seorang tokoh masyarakat
Bajo di Sanrobone yang dikenal dengan nama Lolo Bajo. Perkawinan melahirkan
generasi ke V masyarakat Melayu campuran Bajo di Salajo dan Sanrobone. Generasi
yang lahir dari campuran darah Melayu-Bajo dikenal dengan penggunaan Titulatur
Kare di depan nama diri seperti: Kare Bali, KareTongngi, Kare Ponto, Kare
Muntu dst dan sejak saat itu Titulatur Kare dikenal dalam sistem kemasyarakatan
Makassar8
Barulah kemudian pada generasi selanjutnya ketika terjadi perkawinan campuran antara
para keturunan Kare dengan para bangsawan lokal Bugis melahirkan generasi baru
Bugis Makassar keturunan Melayu atau generasi baru Melayu keturunan Bugis Nusantara
bagian Timur yang dikenal sebagai golongan Tumadeceng (Bugis) tomabaji
(Makassar) dengan menggunakan nama Padaengan, seperti I Minallang Daeng Kenna, I
Nali daeng Tonji, I Yoho Daeng Siang .
Di kampung Salajo didapati kuburan yang sampai saat ini ramai dikunjungi peziarah.
Menurutnya kuburan ini merupakan kuburan Tuan Rajja. Masyarakat sekitarnya
menyebutnya kuburan Jawa Patani. Tak begitu jauh dari Salajo di kampung
8

Mukhlis Paeni, Ibid

Balaparang terdapat kompleks pekuburan orang Melayu dimana Datuk Mahkota dan
datuk Leang Abdul Kadir dikuburkan. Datuk Rajja atau Tuan Rajjab dikenal sebagai
seorang faqir ulama tasawuf pengajar agama Islam yang amat terkenal di Sanrobone
karena kampung Salajo adalah sebuah daerah yang berada di bawah kekuasaan
Sanrobone. Dalam naskah silsilah asal keturunan pertama ulama besar Melayu di
Negeri Sanrobone milik Ince Abd. Razak Daeng hyago, disebutkan bahwa pada bulan
Rabiul Awal 1020 Hijriah Datuk Rajja ( Tuan Rajab) mengirim surat ke Patani
mengabarkan tentang dirinya yang sudah bermukim di negeri Salajo dan menjadi
Guru Mangkasara dan pada Melayu serta sekalian hamba Allah. Berdasarkan atas
sumber tersebut dapt dipastikan bahwa datuk Rajja witau Tuan Rajab adalah nama
diri dari Al Makassari As Sanrobone, seorang ulama tasauf keturunan Melayu yang
sudah menulis berbagai buku tasauf dan ilmu fikhi sejak tahun 1540. Salah satu
manuskrip tasauf hasil karyanya ditemukan di Bira, ditulis di atas kertas papyrus abad
ke 16, microfilm naskah asli tersebut berada di koleksi Proyek Naskah Unhas Rol 74
dan no.5
Ketika Datuk Maharajalela tiba di kerajaan Gowa (Makassar), ia tidak hanya disertai oleh
keluarga dan para pengikutnya tetapi bersamanya sebuah Regalia Patani berbentuk
Bendera Cindai yang bernama Buluh Perindu Datuk Maharajalela kemudian diangkat
oleh orang-orang Melayu atas persetujuan dan izin Raja Gowa menjadi ketua segenap
orang Melayu tidak hanya di Kerajaan Gowa tetapi di Indonesia Timur dengan sebuah
Datuk Ponggawa, sedang Bulu perindu Bendera Cindai yang sakral itu menjadi simbol
ikatan seluruh orang Melayu di Indonesia Timur. Sampai dengan abad ke XX Buluh
perindu masih tersimpan di kampung Melayu di Makassar dan konon sekarang disimpan
oleh salah seorang keluarga masyarakat Melayu di Makassar
Seperti telah disebut pada bab pendahuluan, bahwa pertumbuhan Pancana sebagai kota,
ibu negeri kerajaan Tanete , dimungkinkan oleh perkembangan dan pertumbuhan
kerajaan itu sendiri, secara keseluruhan dengan segala macam kebutuhannya dengan
dorongan-dorongannya, baik dalam lapangan politik, maupun dalam lapangan ekonomi,
sosial dan kultural.

Letak kota Pancana pada jamannya, adalah demikian strateginya, dilihat dari sudut geopolitik. Ia diapit oleh dua buah sungai (Lipukasi dan pancana, di sebelah selatan dan
utara: disebelah timur oleh lembah pegunungan Soppeng dan Bone yang sangat luas dan
subur dan disebelah barat oleh lautan dengan banyak pulau-pulau kecil tersebar pulaupulau yang menghadang di depan Selat Makassar.
Orang-orang dari negeri-negeri pedalaman yang menjadi latar belakang kehidupan kota,
dari arah sebelah utara yang didiami oleh orang-orang Bugis dan arah sebelah selatan
oleh

orang-orang

Makassar, sama

mempunyai

kepentingan

bilamana

hendak

berhubungan dengan dunia luar yang menjadikan Makassar sebagai pangkalan niaga.
Mereka yang berlayar dari bagian barat Nusantara dari Malaka, Sumatera dan dari Jawa
untuk mencapai pulau rempah-rempah dibagian timur Nusantara, bertemu di pangkalan
atau bandar niaga Makassar dengan niagawan samudera dari bagian timur nusantara,
orang Makassar, Bugis, Ternate, Seram, Banda dan sebagainya, yang hendak menukarkan
barang dagangannya ke bagian lain dikepulauan Nusantara ini.
Perkembangan Makassar sebagai kota, bandar niaga dan pangkalan pertahanan kerajaan
Makassar, sesungguhnya dalam pertengahan abad ke XVI itu didukung oleh dua faktor
yang paling menentukan.
1. Faktor dari dalam, yaitu tumbuhnya dengan pesat kerajaan Tenete sebagai kerajaan
yang menghimpun dan melindungi negeri-negeri orang Bugis, di sepanjang pesisir
selatan jazirah selatan Sulawesi. Pertumbuhan itu didorong pula oleh adanya ancamanancaman dari arah daratan Sulawesi Selatan dengan berkembangnya kerajaan-kerajaan
bugis di pedalaman, seperti Soppeng, Wajo dan Bone yang mulai pula menanam
pengaruhnya di negeri-negeri daratan dan pantai/pesisir sebelah utara dan sepanjang teluk
Bone. Persaingan-persaingan untuk memperebutkan pengaruh antara kerajaan-kerajaan
Bugis dan Makassar itulah yang menyebabkan makin ditingkatkannya usaha oleh tiaptiap kerajaan untuk mengadakan tempat-tempat konsolidasi kekuatan dengan membangun
benteng-benteng pertahanan dan sebagai pangkalan-pangkalan basis untuk seranganserangan guna memperluas daerah pengaruh kerajaan mereka. Persaingan-persaingan
yang dapat menghambat pertumbuhan kerajaan-kerajaan itu dari luar sampai saat
sebelum jatuhnya Tanete ke tangan Gowa, dapat dikatakan tidak ada. Oleh karena itu

pulalah maka hingga akhir abad ke XIV kerajaan-kerajaan Makassar dan Bugis yang
sedang dalam pertumbuhannya itu belum banyak didengar oleh luar, dan pengaruhnya ke
luar pun dapat dikatakan belum mempunyai arti yang menentukan.
2. Faktor dari luar, yaitu kedatangan orang-orang bangsa Eropa ke Nusantara untuk
berniaga. Ditemukannya jalan menuju pulau rempah-rempah, dan timbulnya persainganpersaingan antara bangsa-bangsa yang melakukan perniagaan itu. Karena keinginan
mereka untuk memperoleh keuntungan yang sebanyak-banyaknya maka mereka pun
memerlukan pangkalan-pangkalan niaga yang dapat dijadikan pangkalan dan mata rantai
dalam perjalanan pulang dan pergi ke negeri asal mereka. Terjadilah penaklukanpenaklukan oleh orang-orang bangsa barat itu, mulai di pantai India, Malaka pulau Jawa,
Maluku dan sebagainya. Berhubungan karena ditaklukkannya Malaka oleh Portugis,
maka perjalanan niaga bangsa Postugis ke pulau rempah-rembah lebih lancar, tanpa
gangguan kerajaan-kerajaan Bumi-bumi Putera Nusantara seperti Aceh dibagian barat,
dan niagawan-niagawan Keling, India yang bermusuhan dengan Portugis, juga pedagangpedagang bangsa Eropa lainnya Inggeris, Belanda dan Spanyol tak dapat menghambat
atau menyaingi perjalanan niaga orang Posrtugis itu.
Jalan perniagaan ke Maluku dengan demikian untuk bertahun-tahun lamanya dikuasai
oleh orang Makassar dan Portugis. Adapun pedagan-pedagan dan armada-armada niaga
dari Acerh, Benteng, Demak dan Berunai atas sepakat mereka memboikot atau
menghindari pelabuhan-pelabuhan yang dikuasai oleh Portugis. Saudagar-Saudagar Arab
dan India yang berlayar ke timur, singgah di Aceh (menghindari Malaka), menyusur
pantai barat Sumatera, masuk ke selat Sunda di pelabuhan Banten. Itulah sebabnya maka
pelabuhan Banten pada permulaan abad ke XVI menjadi besar dan penting pula. Dari
Banten saudagar-saudagar Aceh, India, dan Arab meneruskan pelayarannya ke arah timur,
singgah di Demak, kemudian ke Berunai di Kalimantan Utara atau ke timur ke pulau
rempah-rempah di Maluku.9
Portugis dengan menjalin perniagaannya juga dapat melakukan penyebaran agama
Nasrani dengan aman, baik di pulau-pulau Maluku, maupun di negeri-negeri orang
Makassar. Orang-orang Makassar pun dengan kehadiran orang Portugis itu dapat
9

The Rise of Makassar Review of Indonesian and Malaysian Affairs (RIMA) vol.XVII, 1983

memperoleh manfaat karena dari merekalah orang-orang Makassar itu belajar dan
memperoleh pengalaman dalam membuat bangunan-bangunan istana yang indah, dan
mendirikan benteng-benteng pertahanan di pantai seperti yang terdapat di negeri-negeri
Eropa abad pertengahan.
Satu faktor terpenting lainnya yang memungkinkan perkembngan kot aMakassar dengan
jatuhnya Malaka ke tangan Portugis, ialah berpindahnya lambat laun pusat penyebaran
Islam ke bagian Timur Nusantara, dengan diterimanya Islam sebagai agama resmi
kerajaan Makassr pada pemrmulaan abad ke xvii. Bersama dengan itu ortoritas portugis
dimana-mana mulai merosot dan munculnya kekuatan baru dalam lalu lintas perniagaan
laut di bagian Nusantara ini, yaitu orang Belandan dengan VOC nya.
kekuasaan Portugis di Malaka mulai terancam pada akhir abad ke XVI, terutama setelah
kekuasaan Aceh di bawah Sultan Iskandar Muda (1607-1637) telah berkembang. Negeri
asal orang Portugis di Eropa (Portugal) tak mampu memberikan bantuan kekuatan untuk
menjaga negeri jajahan mereka yang jauh di seberang lautan da tersebar sangat luasnya.
Di Eropa Portugis terjepit oleh negara-negera yang lebih besar, Inggeris, Belanda. Orang
Posrtugis di timur ini, akhirnya tidak mempunyai cukup daya untuk mengimbagi
kekuatan Aceh, Banten dan Belanda. Dalam tahun 1580, Portugal ditaklukan oleh
Spanyol, dibawah kekuasaan raja Philiphis II. Dalam keadaan yang tak berdaya Malaka
jatuh ke tangan orang Belanda dari tangan orang Portugis, pada tahun 1641. Namun
sebelumnya itu, Belanda telah memanfaatkan pengaruh orang Portugis di pulau Malulku
dengan jatuhnya ke dalam kekuasaan Belanda (VOC), masing-masing :Ambon dalam
tahun 1605,Ternate dalam tahun 1607, Banda dalam tahun 1609,

Batavia dalam tahun

1619
Karena itu tantangan-tantangan yang makin lama makin terasa maka pedagang Makassar
pun makin

memperkokoh

diri dalam pertahanannya,

berusaha memperkokoh

konsolidasinya ke dalam dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan Bugis . Akan tetapi


sebelum segala sesuatu dapat dibereskan, maka Belanda pun datang dengan armadanya
melakukan serangan dengan dibantu oleh kekuatan-kekuatan yang belum terkonsolidasi
sepenuhnya, karena masih berkecamuknya permusuhan antara kerajaan Gowa dengan
kerajaan Bone, kota Makassar pun menjadi arena pertempuran tempat bergugurannya

prajurit-prajurit perkasa kerajaan Makassar yang mempertahankan kemerdekaan dan


kehormatannya.
C. Mengkrtisi Kesaksian Sumber-Sumber Melayu Bugis
Penilaian tentang konsep Tuhfat oleh para sejarawan dianggap ambivalem seperti
halnya sifat umum mereka terhadap orang Bugis . Sungguh menarik ditelaa bahwa sejak
abad ke-19 orang Bugis di Johor di satu sisi telah disingkirkan sebagai orang-orang luar
yang berbahaya yang telah menindas penduduk pribumi Melayu, disisi lain dipuji sebagai
para pendukung bahasa murni Melayu. Ambivalen ini ditunjukan dalam ilustrasi Tuhfat.
Meskipun Tuhfat ditulis oleh pujangga Bugis dari pembenaran atas kekuasaan Bugis di
Johor,. Di satu sisi pandangan Tuhfat jauh membenarkan tingkah laku Bugis , ditolak
hanya sebagai propaganda belaka, di sisi lain sejauh melukiskan kondisi bawahan orang
Melayu) digunakan untuk membuktikan betapa berkuasanya orang Bugis di
Semenagjung.
Berbagai

jenis naskah Melayu yang menarik, di antaranya

Bowen dengan

menggunakan model genealogi sejarah Melayu,. Menurutnya penyajian Tuhfat hampir


tidak dianalisa secara kritis. Ia menegaskan bahwa Tuhfat dalam membahas naskahnaskah sumbernya sering menggunakan informasi secara rumit.Akibatnya penyajiannya
mengenai struktur istana Johor kurang jelas disatu sisi terlalu menekankan peranan Yang
Dipertuan Muda Bugis dan di sisi lain merubah kembali Sultan Melayu Sulaiman untuk
menjadi raja boneka yang ceria. Sayang sekali kita tidak memiliki hikayat pro Melayu
sebagai perbandingan dengan Tuhfat, ringkasan sejarah Melayu yang ditulis di Lingga
oleh Tengku Muhammad Saleh pada tahun 1930 dan belakangan ditemukan oleh Virginia
Matheson nampaknya merupakan alternatif meskipun menarik sebagai strategi
keselamatan budaya dari garis keturunan Lingga
. Ada sebuah buku catatan kraton kecil berbahasa Jerman yang diedit oleh Kratz
tahun 1773 dengan judul Peringatan sejarah negeri Johor yang bermula tahun 1699
sampai 1750. Buku ini merupakan buku harian yang ditulis dengan cara yang sangat
rumit, dengan kronologi yang tepat dan didasarkan pada sumber arsip sebagai kutipan
yang benar dan lengkap dari dua dokumen (sebuah kontrak dengan Minangkabau tahun
1926 dan sebuah surat dari Gubernur di Malaka pada tahun 1745. Kratz telah menyebut

peringatan ini sebagai biografi politik Sultan Sulaiman , namun karya ini bisa disusun
oleh Bendahara Tun Hassan yang menyusun sebuah syair indah. Bagaimanapun
peringatan ini ditulis dalam sidang istana baru di Riau dan merupakan naskah yang unik.
Cukup menarik, persekutuan Bugis-Melayu hanya disentuh dalam beberapa bagian
seperti penahanan orang-orang Melayu oleh orang Bugis pada tahun 1722, Ketika
Sultan Sulaiman berselisih dengan orang Bugis pada tahun 1723, Orang Bugis membuat
kontrak rahasia. Ketika itu Daeng Kamboja dan Raja Sayid tidak mau tinggal bersama
dengan Sultan Sulaiman. Leonard Andaya mungkin benar menduga bahwa pada saat itu
hikayat ini ditulis tahun 1750) suatu pandangan anti Bugis yang terbuka telah meledak.
Naskah sumber lain dari Tuhfat

kadang-kadang dirujuk juga adalah hikayat

Tuhfat. Hal itu i merupakan versi sejarah Melayu yang diperluas, yang menacakup
sejarah Siak antara tahun 1699 dan awal abad ke-19. Begitu pula hikayat negeri Johor
versi sejarah yang diperluas (sejauh menyangkut pertengahan pertama abad ke-18)
merupakan versi Bugis dari buku catatan peringatan; silsilah Melayu dan Bugis (tidak ada
manuskrip yang terkenal; ada edisi Jawa komplit; silsilah Melayu yang komplit dan
silsilah raja-rajanya serta edisi Rumi tanpa syair seperti silsilah Melayu dan Bugis;
terjemahan singkat dibuat oleh Hans Overbeck; silsilah Melayu dan Bugis dan sekalian
silsilah raja-rajanya), sebuah naskah pasangan dari Tuhfat yang ditulis oleh pasangan raja
Alihaji pada tahun 1660-an namun berakhir jauh lebih awal pada tahun 1737; dan
karangan Ungku Bussu atau sejarah raja-raja Riau, hikayat pro Bugis dan anti Melayu
yang paling terkenal dan berakhir pada awal abad ke-19..
.
Tuhfat dalam pengantar bukunya mengulas bahwa kisah raja-raja Melayu serta Bugis,
hanya mengulas pola peristiwa-peristiwa yang menyangkut raja-raja Melayu dan Bugis
seperti peristiwa Melayu raja-raja Johor dan wilayah Bugis serta Pulau Perca (Sumatra)
Ini sebenarnya merupakan konsep penting Tuhfat; percampuran dua dinasti kerajaan
yakni Melayu dan Bugis menjadi suatu keluarga penguasa yang baru. Tuhfat mengulas
bahwa dinasti Bugis dijumpai dengan lima bersaudara yang terkenal yang datang
mengembara dari Sulawesi ke Barat (Daeng Parani, Marewah, Macelah, Menambun dan
Kamase). Kedua genealogi itu

dan narasinya dimulai dengan lima bersaudara ini.

Pengembaraan mereka dari Sulawesi ke Semenangjung Melayu diuraikan secara


terperinci para keturunan bangsawan Bugis .
Sumber-sumber VOC menegaskan peranan penting yang dimainkan oleh lima
bersaudara itu , setidaknya Daeng Marewah yang menjadi kepala pemukiman Bugis di
Linggi dan Selangor beberapa saat antara 1705 dan 1715. Namun mereka juga
menunjukan bahwa ada dinasti yang berkonflik dipimpin oleh Daeng Menampuk tidak
bisa dikacaukan dengan Daeng Manambun, pendatang Bugis lainnya yang memiliki
pengikut sendiri Ketika orang Linggi diserang oleh Johor pada tahun 1715, dikatakan
bahwa Daeng Marewah dan pengikutnya bermukim di tepi selatan sungai Penagi, dan
daerah Menampuk serta pasukannya berada di sisi utara. Setahun kemudian Malaka
menerima utusan dari Linggi yang mewakili Daeng Menampuk dan Daeng Marewah.
Namun dua orang pimpinan ini tidak selalu bekerjasama. Pada tahun 1719 Daeng
Marewah bersekutu dengan bendahara Johor yang mengungsi, yang melarikan diri dari
serangan raja kecil. Belanda mengetahui bahwa Daeng Menampuk sangat berkenan
apabila dia tetap berada di luar kesepakatan itu dan karenanya mulai merampok liar
wilayah bendahara. Tiga tahun kemudian ketika Raja Kecil diusir dari Riau, Marewah
dan Menampuk kembali bekerjasama sebagai panglima armada mereka namun kembali
konflik diantara kedua pimpinan itu pada tahun 1722 memaksa Daeng Marewah kembali
ke Linggi.
Dalam Tuhfat Daeng Menampuk hanya disebut beberapa kali sebagai mantri hulu
balang (silsilah Melayu dan Bugis);Adalah orang yang bersama Baginda Opu Daeng
berlima beradik itu daripada menteri hulu balangnya anak daeng-daeng yaitu ada tiga
orang. Pertama Daeng Manompo, kedua Daeng Masuro dan ketiga Daeng Muntu,
melayani ketiga orang bersaudara namun tidak pernah sebagai pimpinan Bugis kedua
setelah Daeng Marewah. Pembaca dengan mudah akan menduga bahwa dia merupakan
salah satu dari 40 anggota kelompok daeng yang membentuk generasi berikut yang
membentuk pengikut dari lima bersaudara itu. Pada tahun 1722 Daeng Menampuk diberi
posisi yang lebih penting dalam Tuhfat. Pada tahun itu raja kecil dari Siak dikalahkan
oleh orang Bugis. Tuhfat menyampaikan bahwa raja Sulaiman dilantik sebagai Sultan
Yang Dipertuan Besar oleh Daeng Marewah dan saudaranya ). Setelah itu Daeng
Marewah menerima tawaran Sulaiman untuk memangku jabatan Yang Dipertuan Muda

dan dia juga dilantik. Satu-satunya Pangeran Bugis lainnya yang dianugerahi dengan
posisi resmi di negara Johor adalah Daeng Menampuk. Menurut Tuhfat;Yang dipertuan
Muda dan Paduka Raja Sulaiman menganugerahkan gelar raja kepada Daeng Menampuk,
yakni anggota senior (tua-tua) yang mengatur urusan dibawah Yang Dipertuan Muda,
jangan dikacaukan dengan sultan tua atau yang dipertuan muda, karena sultan menunjuk
pada Yng Dipertuan Besar atau Yang Dipertuan Muda. Penjelasan tambahan pasti
mengarah pada peringatan sejarah negeri Johor.
Simpulan
Kajian-kajian tentang keserumpunan antara Melayu dan Bugis perlu ditingkatkan, bukan
saja pada hubungan
dieksplorasi

geneologis semata antara kedua bangsa tetapi perlu lebih

makna serumpung. Artinya Serumpung

bisa dilihat

persamaan ekonomi, politik, model pengembangan demokrasi

lebih luas pada

yang dibungkus oleh

nilai-nilai budaya Bugis Melayu. Tentu kalau itu bisa terwujud Asian ke depan bukan
hanya dibesarkan oleh

dimensi ekonomi dan kaitanya dengan Singapura sebagai kaki

tangan kapitalisme global., tetapi munculnya emporium Melayu Bugis di Asia Tenggara
mestinya menjadi roh enter point dalam memasuki kapitalisme global.

Bibliografi
Afgaande Engelsche Brieven Kolek si ANRI Bundel Makassar no. 265/1
Afgaande Engelsche Brieven Kolek si ANRI Bundel Makassar no. 265/2
Afgaande Engelsche Brieven Kolek si ANRI Bundel Makassar no. 266/1
Afgaande Engelsche Brieven Kolek si ANRI Bundel Makassar no. 267/1
Collik Pujie.1883. Geschiedenis van Tanete. G.K. Niemen, s. Gravenhage,
Ikhtisar keadaan Politik Hindia Belanda tahun 1839-1848. Jakarta 1973
Martinus Nijhoff, Leiden

Abidin bin Abdul Wahid, Datuk Zainal, Power and Authority in the Melaka Sultanate;
the Traditional View, dalam Kernial Singh Sandhu and Paul Wheatly (ed.) Melaka; The
transformation of A Malay Capital . 1400-1980, volume one, Kuala Lumpur, 1983,
Oxford University Press
Abdurrahim dan Wolhoff,G.J. tanpa tahun Sejarah Gowa Bingkisan Yayasan
Kebudayaan Sulawesi Selatan
Andaya , Leonard Y. 1975. The Kindom of Johor 1641-1728. london:OUP
Reid, Anthony
1983
The Rise of Makassar Review of Indonesian and Malaysian Affairs (RIMA)
vol.XVII, 1983
1983
Slaveri, Bondage and Dependency in Southeast Asia S.Lucia. Australia:
University of Queensland Press
1984
The Pre-Colonial Economy of Indonesia, Bulletin of Indonesian Economic,
Studies Vol.XX No. 2 Agustus
1988
Southeast Asian the Age of Commerce, Vol.I: the Land Below the Winds
New Haven & London: Yale University Press
1992
Asia Tenggara dalam Kurung Niaga 1450-1680, Jilid I Jakarta: Yayasan Obor .
1993
Southeast Asia in the Age of Commerce, Vol.II. Expansion and Crisis. New
haven & London: Yale University Press
Report By The Port Survey Team of The United Nations Economic Commission for Asia
and the far East The Ports of Makassar, Banjarmasin and Palembang
Republik of Indonesia, 1968
Berg, C.C., C. Wessels, H. Terpsra, Geschiedenis van Nederlandsch Indie, deel ii,
Amsterdam, 1938, Uitgeversmaatsch.
Cortesao, Armando, The Sumna Oriental of Tome Pires and The Book of Francisco
Rodrigues, London, 1944, Hakluyt Society.
Berg, C.C., C. Wessels, H. Terpsra, Geschiedenis van Nederlandsch Indie, deel ii,
Amsterdam, 1938, Uitgeversmaatsch.
Greg Acciaioli, Networks and Nets; Prinsiples and Processes in Bugis Migiation
Strategies to Lake Lindu, Central Sulawesi (KITLV, Leiden 2-6 Nopember 1987).