Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang

Asam sulfat adalah suatu bahan penting untuk berbagai proses produksi, antara lain industri
pupuk, bahan kimia maupun untuk analisa labotarorium. Asam sulfat merupakan asam
anorganik yang bisa diproduksi secara massal dan dalam kapasitas besar. Pada umumnya
setiap pabrik memiliki unit pabrik pengolahan asam sulfat agar mengurangi biaya pembelian
bahan baku.

B.

Tujuan
Mengetahui bahan baku, sumber asam sulfat
Mengetahui jenis-jenis pengolahan asam sulfat
Mengetahui cara pengolahan asam sulfat

C.

Rumusan Masalah
Permasalahan yang akan dibahas dalam tugas ini adalah mempelajari sumber bahan

baku, jenis pengolahan dan cara pengolahan asam sulfat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Asam sulfat murni yang tidak diencerkan tidak dapat ditemukan secara alami di bumi
oleh karena sifatnya yang higroskopis. Walaupun demikian, asam sulfat merupakan
komponen utama hujan asam, yang terjadi karena oksidasi sulfur dioksida di atmosfer dengan
keberadaan air (oksidasi asam sulfit). Sulfur dioksida adalah produk sampingan utama dari
pembakaran bahan bakar seperti batu bara dan minyak yang mengandung sulfur (belerang).
Asam sulfat terbentuk secara alami melalui oksidasi mineral sulfida, misalnya besi
sulfida. Air yang dihasilkan dari oksidasi ini sangat asam dan disebut sebagai air asam
tambang. Air asam ini mampu melarutkan logam-logam yang ada dalam bijih sulfida, yang
akan menghasilkan uap berwarna cerah yang beracun.
Reaksi hidrasi asam sulfat adalah reaksi eksoterm yang kuat. Jika air ditambah kepada
asam sulfat pekat, ia mampu mendidih. Senantiasa tambah asam kepada air dan bukan
sebaliknya. Sebagian dari masalah ini disebabkan perbedaan densitas kedua cairan. Air
kurang padu berbanding asam sulfat dan cenderung untuk terapung di atas asam. Reaksi
terhasil boleh dianggap sebagai membentuk ion hidronium, seperti:
H2SO4 + H2O H3O+ + HSO4-.
Disebabkan asam sulfat bersifat mengeringkan, asam sulfat merupakan agen
pengeringan yang baik, dan digunakan dalam pengolahan kebanyakan buah-buahan kering.
Apabila gas SO3 pekat ditambah kepada asam sulfat, ia membentuk H2S2O7. Ini dikenali
sebagai asam sulfat fuming atau oleum atau, jarang-jarang sekali, asam Nordhausen.
Di atmosfer, zat ini termasuk salah satu bahan kimia yang menyebabkan hujan asam.
Memang tidak mudah membayangkan bahwa bahan kimia yang sangat aktif, seperti asam
sulfat, juga merupakan bahan kimia yang paling banyak dipakai dan merupakan produk
teknik yang amat penting. Zat ini digunakan sebagai bahan untuk pembuatan garam garam
sulfat dan untuk sulfonasi, tetapi lebih sering dipakai terutama karena merupakan asam
anorganik yang agak kuat dan agak murah. Bahan ini dipakai dalam berbagai industri, tetapi
jarang muncul dalam produk akhir. Asam sulfat dipakai dalam pembuatan pupuk, plat timah,
pengolahan minyak, dan dalam pewarna tekstil.
Adapun sifat sifat kimia dan fisika dari asam sulfat sendiri adalah sebagai berikut :
Sifat kimia :
Dalam air, reaksi kesetimbangan berikut terjadi antara suatu asam (HA) dan air, yang
berperan sebagai basa,
HA + H2O A- + H3O+
Tetapan asam adalah tetapan kesetimbangan untuk reaksi HA dengan air:
Asam kuat mempunyai nilai Ka yang besar (yaitu, kesetimbangan reaksi berada jauh
di kanan, terdapat banyak H3O+; hampir seluruh asam terurai). Misalnya, nilai K a untuk asam
klorida (HCl) adalah 107.

Asam lemah mempunyai nilai Ka yang kecil (yaitu, sejumlah cukup banyak HA dan
A terdapat bersama-sama dalam larutan; sejumlah kecil H 3O+ ada dalam larutan; asam hanya
terurai sebagian). Misalnya, nilai Ka untuk asam asetat adalah 1,8 10-5.
-

Asam kuat mencakup asam halida - HCl, HBr, dan HI. (Tetapi, asam fluorida, HF,
relatif lemah.) Asam-asam okso, yang umumnya mengandung atom pusat ber-bilangan
oksidasi tinggi yang dikelilingi oksigen, juga cukup kuat; mencakup HNO 3, H2SO4, dan
HClO4. Kebanyakan asam organik merupakan asam lemah.Larutan asam lemah dan garam
dari basa konjugatnya membentuk larutan penyangga.
Sifat fisika :
Titik leleh (C)
Titik didih (C)
Tekanan uap (mmHg)
Berat jenis cairan
Berat jenis uap

: 10
: 290
: 1 (146 C)
: 1,84 (100 persen)
: 3,4 (udara = 1)

B. Sumber
Sumber dan bahan baku dari asam sulfat adalagh belerang. Belerang di alam terdapat di
kulit bumi meliputi kira-kira 0,1% dari massa kulit bumi. Belerang terdapat dalam keadaan
unsur bebas ataupun dalam senyawa sulfida. Belerang dalam keaadaan unsur bebas
terdapatdari dareah gunung berapi dan dalam tanah. Dalam bentuk senyawa, belerang
terdapat dalam garam sulfida seperti pirit, sengblende, atau garam-garam sulfat seperti gips,
barium sulfat maupun magnesium sulfat. Dalam bentuk senyawa organik, belerang terdapat
dalam minyak bumi, batu bara dan gas alam, yaitu gas hidrogen sulfida.
Belerang diambil dari dekat gunung berapi dan sumber air panas dan juga bawah
tanah. Belerang juga terdapat dalam bijih, seperti galena (PbS), hidrogen sulfida dalam gas
alam dan minyak bumi dan sebagai belerang di laut.

Penambangan belerang
Belerang diambil dari bawah tanah dengan proses Frasch. Tiga pipa konsentris yang
dibor ke dalam deposit belerang. Air superpanas (180 C, di bawah tekanan) dipompa ke
bawah melalui pipa terluar, hal ini mencairkn belerang (titik leleh 113 0C). Udara bertekanan
dipompa ke bawah melalui pipa di bagian dalam untuk mendorong belerang cair dan uap pipa
akan sampai ke permukaan melalui pipa bagian tengah.
Belerang juga diperoleh dari sulfida hidrogen dalam gas alam dan minyak
bumi. Pembakaran tidak sempurna dari H2S dalam tungku menghasilkan SO2 dan S.
3H2S (g) + O2 (g) 2H2S (g) + 3S (g) + SO2 (g)
Campuran ini didinginkan untuk menghasilkan belerang. Gas-gas kemudian dilewatkan
melalui katalis dan dipanaskan.
2H2S (g) + SO2 (g) 2H2O (g) + 3S (g)
Pendinginan mengembunkan belerang yang tersisa (titik didih 445 C).

belerang juga dihasilkan sebagai belerang dioksida ketika logam yang dilebur adalah suatu
bijih sulfida. Sebuah persamaan umum untuk reaksi ini, dengan menggunakan M untuk
menyatakan logam (seperti tembaga, seng atau besi), dapat ditulis sebagai:
MS + O 2 (g) M (s) + SO 2 (g)
M logam oksida logam sering membentuk MO.

C. Sejarah Perkembangan Industri Asam Sulfat


Asam sulfat dipercayai pertama kali ditemukan di Iran oleh Al-Razi pada abad ke-9.
Asal usul Pengenalan asam sulfat kurang jelas, tetapi zat ini sudah disebut sebut sejak abad
kesepuluh. Pembuatannya melalui pembakaran belerang dengan saltpeter, pertama kali
dijelaskan oleh Valentinus pada abad kelima belas. Pada tahun 1746, Roebuck dari
Birmingham ( Inggris ) memperkenalkan proses kamar timbal. Proses yang menarik ini,
namun sekarang sudah kuno, diuraikan secara rinci di dalam edisi ketiga buku ini dan dalam
buku buku lainnya.
Proses kontak pertama kali ditemukan pada tahun 1831 oleh Phillips, seorang inggris,
yang patennya mencakup aspek aspek penting dari proses kontak yang modern, yaitu
dengan melewatkan campuran sulfur dioksida dan udara melalui katalis, kemudian diikuti
oleh absorpsi sulfur trioksida di dalam asam sulfat 98,5 % sampai 99 %.

D. Manfaat atau Kegunaan Asam Sulfat


Asam sulfat merupakan komoditas kimia yang sangat penting, , produksi asam
sulfat suatu negara merupakan indikator yang baik terhadap kekuatan industri negara
tersebut. Kegunaan asam sulfat, yaitu:
Kegunaan utama (60% dari total produksi di seluruh dunia) asam sulfat adalah dalam
"metode basah" produksi asam fosfat, yang digunakan untuk membuat pupuk fosfat dan
juga trinatrium fosfat untuk deterjen.
Asam sulfat digunakan dalam jumlah yang besar oleh industri besi dan baja untuk
menghilangkan oksidasi, karat, dan kerak air sebelum dijual ke industri otomobil.
Kegunaan asam sulfat lainnya yang penting adalah untuk pembuatan aluminium sulfat.
Alumunium sulfat dapat bereaksi dengan sejumlah kecil sabun pada serat pulp kertas
untuk menghasilkan aluminium karboksilat yang membantu mengentalkan serat pulp
menjadi permukaan kertas yang keras. Aluminium sulfat juga digunakan untuk membuat
aluminium hidroksida. Aluminium sulfat dibuat dengan mereaksikan bauksit dengan
asam sulfat:
Al2O3 + 3 H2SO4 Al2(SO4)3 + 3 H2O
Asam sulfat juga memiliki berbagai kegunaan di industri kimia. Sebagai contoh, asam
sulfat merupakan katalis asam yang umumnya digunakan untuk mengubah
sikloheksanonoksim menjadi kaprolaktam, yang digunakan untuk membuat nilon.

BAB II

BAHAN BAKU
Bahan baku yang digunakan dalam proses pembuatan asam sulfat adalah belerang,
oksigen, air dan katalis vanadium pentaoksida sebagai bahan pembantu. Dimana belerang dan
vanadium pentaoksida di impor langsung dari Singapura, sedangkan oksigen di dapat dari
udara bebas. Untuk air yang digunakan didapat dari sumur bor yang melalui tahap
pengolahan. Adapun sifat fisik dari bahan baku pembuatan asam sulfat yaitu:
No.

Komponen

Bentuk

Warna

Titik

Titik

Bau

didih

Leleh
(oC)
120

1.

Belerang

Padatan

Kuning

Menyengat

(oC)
444,6

2.

Oksigen

Gas

-183

-218,4

3.

Vanadium Pentaoksida

Padatan

Kuning

1750

800

4.

Air
Cairan
Sumber : Perrys Chemical Engineerings Hand Book, 1998

100

Sifat kimia dari bahan baku pembuatan asam sulfat yaitu:


No.

Komponen

BM

Spgr

Kelarutan

2,046

Hygroskopis

1.

Belerang

(gr/mol)
32,06

2.

Oksigen

32

1,14

3.

Vanadium Pentaoksida

181,9

3,357

Larut dalam asam dan alkali

4.

Air
18
1,004
Sumber : Perrys Chemical Engineerings Hand Book, 1998

Berfungsi sebagai pelarut

Asam sulfat terdiri dari sulfur atau belerang dan beberapa gabungan dari unsur
unsur lainnya. Sekeping sulfur melebur menjadi cairan merah darah. Apabila terbakar, ia
mengeluarkan nyala berwarna biru.Pada suhu bilik, sulfur adalah satu
bubuk lembut
berwarna kuning terang. Walaupun sulfur adalah terkenal dengan baunya yang tidak
menyenangkan - kerap disamakan dengan telur-telur busuk - bau tersebut adalah sebenarnya
ciri bagi hidrogen sulfida (H2S); sulfur dalam keadaan unsur adalah tidak berbau. Ia terbakar
dengan nyalaan biru dan mengeluarkan sulfur dioksida, yang dikenali kerana bau peliknya
yang menyesakkan. Sulfur adalah tak larut dalam air tetapi larut dalam karbon disulfida dan
pada kadar kelarutan yang kurang sedikit dalam pelarut organik lain seperti benzena.
Keadaan pengoksidaan sulfur yang biasa termasuk 2, +2, +4 dan +6. Sulfur membentuk
sebatian stabil bersama semua unsur kecuali gas nadir.
Sulfur dalam keadaan pepejal biasanya wujud sebagai siklik berbentuk mahkota yang
terdiri daripada molekul-molekul S8. Sulfur mempunyai banyak alotrop selain S8. Dengan
membuang satu atom daripada mahkota akan menghasilkan S 7, yang yang berperanan dalam
warna kuning sulfur yang unik. Terdapat banyak lagi bentuk cincin lain yang disediakan,

termasuk S12 dan S18. Secara bandingannya, jirannya oksigen yang lebih ringan hanya wujud
dalam dua keadaan yang mempunyai kepentingan kimia: O 2 dan O3. Selenium, analog sulfur
yang lebih berat boleh membentuk cincin tetapi lebih sering dijumpai sebagai satu rangkaian
polimer.
Kristalografi sulfur adalah kompleks. Bergantung kepada keadaan-keadaan yang
tertentu, alotrop sulfur membentuk beberapa struktur hablur berbeza, antara yang paling
terkenal adalah rombus dan monoklinik S8.
Suatu sifat unik ialah kelikatan sulfur yang lebur, iaitu berbeza dengan kebanyakan
cecair lain, ia meningkat dengan suhu oleh keranapembentukan rangkaian-rangkaian polimer.
Bagaimanapun, setelah menjangkau suhu yang tertentu, kelikatan mula menurun kerana
terdapatnya tenaga yang mencukupi untuk memecahkan rantaian-rantaian.Sulfur amorfus
atau "plastik" boleh dihasilkan melalui pendinginan segera sulfur yang lebur. Kajian-kajian
kristalografi sinar-x menunjukkan bahawa bentuk amorfus mungkin mempunyai satu struktur
berlingkar dengan lapan atom setiap pusingan. Bentuk ini adalah metastabil pada suhu bilik
dan ia akan beransur-ansur kembali semula kepada bentuk hablur. Proses ini berlaku dalam
tempo antara beberapa jam hingga beberapa hari.

BAB III
PERALATAN PROSES PEMBUATAN

Peralatan yang digunakan dalam proses pembuatan asam sulfat, yaitu:


1. Sulfur Melter
Fungsinya sebagai tempat pencairan atau peleburan belerang dengan bantuan panas steam
pada coil.
2. Pompa Sulfur
Fungsinya sebagai pengalir sulfur cair ke furnace. Pompa ini mempunyai pipa-pipa
penyaluran luar bermantel uap, sehingga belerang tidak menjadi dingin dan membeku, karena
titik lebur belerang adalah 115oC.
3. Main Blower
Fungsinya sebagai penyuplai udara untuk proses pembakaran ke furnace. Main blower yang
digunakan adalah tipe turbo fun dengan kapasitas 117 m 3/menit dan tekanan operasi 1800
mmHg.
4. Drying Tower
Fungsinya sebagai unit proses tempat terjadinya pengeringan udara oleh sirkulasi asam sulfat
(minimal 93%) dari DT Pump Tank. Drying Tower yang dipakai adalah tipe packed column
dengan tinggi 8,254 m, diameter dalam 2,62 m dan diameter luar 2,86 m.
5. DT Pump Tank
Fungsinya sebagai tangki penampungan sirkulasi asam sulfat yang dari atau ke Absorbing
Tower. DT pump tank yang digunakan mempunyai tinggi 1,8 m, diameter dalam 2,76 m,
diameter luar 3 m dan kapasitas 8,8 m3/menit.
6. AT Pump Tank
Fungsinya sebagai tangki penampungan sirkulasi asam sulfat yang dari atau ke absorbing
tower dan juga sebagai tangki produksi, yaitu pengenceran (hidrasi) dengan air. AT Pump
Tank yang digunakan mempunyai tinggi 1,8 m, diameter dalam 2,76 m, diameter luar 3m,
dan kapasitas 8,8 m3/menit.
7. Furnace

Fungsinya sebagai tempat berlangsungnya proses pembakaran belerang cair dengan udara
menjadi gas SO2. Furnace yang dipakai berbentuk silinder mendatar dengan panjang 7,02 m,
diameter luar 2,04 m dan diameter ruang bakar 1,65 m.
8. Boiler
Fungsinya sebagai tempat memproduksi steam. Boiler yang digunakan berbentuk silinder
mendatar dengan dapur dan pipa-pipa api (fire tube). Boiler ini mempunyai panjang 4,6 m
dan tekanan operasi 4 kg/cm2.
9. Absorbing tower
Fungsinya sebagai unit proses terjadinya proses penyerapan gas SO 3 oleh sirkulasi asam
sulfat (98,3%-99%) Absorbing Tower yang digunakan adalah tipe packed column dengan
tinggi 8,875 m, diameter dalam 2,62 m dan diameter luar 2,86 m.
10. AT Pump
Fungsinya sebagai alat untuk memompakan sirkulasi asam sulfat dari AT Pump Tank ke
Absorbing Tower. AT Pump yang digunakan mempunyai kecepatan putar 1450 Rpm dan
kapasitas 1,2 m3/menit.
11. DT Pump
Fungsinya sebagai alat untuk memompakan sirkulasi asam sulfat dari DT Pump Tank ke
Drying Tower. DT Pump yang digunakan mempunyai kapasitas 1,2 m3/menit.
12. Plug Vlave
Fungsinya sebagai pengatur aliran gas dari furnace dan boiler.
13. Heat exchanger (on gas filter)
Fungsinya sebagai alat untuk mendinginkan aliran gas dari furnace dan boiler yang akan
masuk ke converter. Heat exchanger yang digunakan adalah tipe shell and tube dengan
jumlah tube 109 buah dan panjang tube 2,47 m. Heat exchanger mempunyai tinggi 3 m dan
diameter 1,40 m.
14. Gas filter

Fungsinya sebagai alat penyaring untuk aliran gas yang akan masuk ke converter. Gas filter
mempunyai tinggi 1,53 m dan diameter 3,448 m.
15. Converter
Fungsinya sebagai unit proses berlangsungnya proses perubahan gas SO 2 menjadi gas SO3
dengan bantuan katalis vanadium pentaoksida. Converter yang digunakan mempunyai jumlah
bed 4 buah, tinggi 8,5 m, diameter dalam 2,76 m dan diameter luar 3,002 m.
16. 1st and 2nd Heat exchanger
Fungsinya sebagai tempat mendinginkan aliran gas yang keluar dari converter khususnya dari
bed I dan bed II. Tipe yang digunakan adalah tipe shell and tube.
17. SO3 Cooler
Fungsinya sebagai tempat pendingin aliran gas SO 3 yang akan masuk ke Absorbing Tower.
Cooler yang dipakai adalah tipe shell and tube dengan tinggi 1,78 m.
18. Distributor
Fungsinya sebagai alat untuk menyebarkan aliran asam sulfat di dalam absorbing tower dan
drying tower.
19. Cooling tower
Fungsinya sebagai tempat pendingin air yang keluar dari acid cooler.
20. Cooling water pump
Fungsinya sebagai alat untuk memompakan sirkulasi pendingin dari cooling water pit ke acid
cooler.
21. Plate Heat exchanger (acid cooler)
Fungsinya sebagai unit mendinginkan sirkulasi asam sulfat dari AT/DT Pump Tank ke
AT/DT. Plate heat exchanger (acid cooler) yang digunakan adalah tipe plate dengan tekanan
operasi 5 kg/cm2

BAB IV

URAIAN PROSES
Macam macam proses pembuatan Asam Sulfat
Pada waktu masalahnya hanya membuat H2SO4 pada konsentrasi sedang dari SO2 yang
dibangkitkan melalui pembakaran pirit dan pada waktu energi masih murah, pabrik H 2SO4
relatif sederhana. Tetapi setelah harga energi meningkat tinggi sekali, energi yang banyak
yang dihasilkan dari oksidasi belerang dan sulfur dioksida menjadi suatu komoditi yang amat
berharga. Pabrik pabrik melakukan berbagai modifikasi besar agar dapat memanfaatkan
energi ini untuk membangkitkan uap bertekanan tinggi guna pembangkitan tenaga listrik .
Dengan demikian, energi dapat dipulihkan sebanyak banyaknya, sedang energi yang
digunakan dalam proses dibuat seminimum mungkin. Gabungan antara pabrik kimia dan
system pembangkitan listrik (atau uap) disebut Kogenerasi. Oleh karena itu, pabrik asam
sulfat modern merupakan suatu system pembangkit tenaga listrik. Fungsi kedua ini tentu saja
membuat system operasi pabrik tersebut menjadi lebih rumit, tetapi biaya produksi asam
sulfat menjadi lebih murah atau rendah. Pabrik pabrik juga dibuat jauh lebih besar agar
dapat memanfaatkan ekonomi skala besar.

Pembuatan dengan proses kamar timbal


Pada proses ini campuran gas SO2 dan udara dialirkan kr dalam bilik yang dilapisi timbel
(Pb) dengan menggunakan katalis NO dan NO2. Pada campuran gas-gas ini dialirkan uap air,
reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.

2SO2(g) + O2(g) + NO(g) + NO2(g) + H2O

2HNOSO4(aq) + H2O

2HNOSO4(aq)

(asam nitrosil)

2H2SO4(aq) + NO(g) + NO2(g)

Pembuatan asam sulfat dengan proses kamar timbel adalah cara yang pertama dilakukan.
Dari proses itu, asam sulfat yang dihasilkan hanya mencapai kadar 80% berat, sedangkan saat
ini penggunaaan asam sulfat dalam industri adalah dengan kadar yang sangat tinggi yaitu
98% berat. Oleh karena itu, untuk mendapatkan asam sulfat dengan kadar 98% tidak
dimungkinkan dengan cara proses kamar timbel, tetapi diperoleh dengan proses kontak

Pembuatan Dengan Proses Kontak


Sampai tahun 1900, belum ada pabrik dengan proses kontak yang dibangun di Amerika
Serikat, walaupun proses ini sudah sangat berperan di Eropa, di mana terdapat kebutuhan
terhadap oleum dan asam konsentrasi tinggi untuk digunakan pada sulfonasi, terutama pada
industri zat warna . Dalam periode 1900 sampai 1925, banyak pabrik asam kontak yang
dibangun dengan menggunakan platina sebagai katalis . pada tahun 1930 , proses kontak ini
telah dapat bersaing dengan proses kamar pada segala konsentrasi asam yang di hasilkan.
Sejak pertengahan tahun 1920-an , kebanyakan fasilitas yang baru di bangun dengan
menggunakan proses kontak dengan katalis vanadium.
Proses kontak kemudian mengalami modifikasi secara berangsur angsur dan
menggunakan absorpsi ganda ( juga disebut katalis ganda ) , sehingga hasilnya lebih tinggi
dan emisi SO2 yang belum terkonversi dari cerobong asap berkurang . Baru baru ini ,
peraturan pemerintah Amerika Serikat telah menentukan batas emisi SO 2 maksimum yang
diperbolehkan dari pabrik asam dan mengharuskan semua pabrik menggunakan proses
absorbsi ganda , atau kalau tidak dilengkapi dengan system pembasuhan gas cerobong ,
sehingga tingkat emisinya setingkat dengan hasil cara pertama.
Kalor pembakaran belerang dimanfaatkan di dalam ketel uap kalor limbah atau ketel uap
dan ekonomiser guna membangkitkan uap yang dipakai untuk melebur belerang serta untuk
keperluan tenaga disekitar pabrik . Uap merupakan salah satu hasil pabrik itu. Pabrik pabrik
yang modern membangkitkan uap pada tekanan 6 MPa , lebih tinggi dari tekanan 2 MPa yang
diperoleh beberapa tahun yang lalu.
Reaksi yang terjadi :
S(s) + O2(g) SO2(g)
2 SO2(g) + O2(g) 2SO3(g) H = - 98,3 KJ
Sulfur trioksida diserap ke dalam 97-98% H2SO4 menjadi oleum (H2S2O7), juga
dikenal sebagai asam sulfat berasap. Oleum kemudian diencerkan ke dalam air menjadi asam
sulfat pekat.
H2SO4 (l) + SO3(g) H2S2O7 (l)
H2S2O7 (l) + H2O (l) 2 H2SO4 (l)
Asam Sulfat yang dihasilkan dari proses tersebut , mempunyai massa jenis 1,84 dan
bersifat higroskopis. Apabila H2SO4 pekat dicampur dengan air , akan bersifat eksoterm dan
bebbahaya. H2SO4 25 % banyak dijual di pasaran dengan nama accu zuur untuk mengisi aki.

Proses proses pembuatan Asam Sulfat dilakukan dengan cara :

a.

Pembakaran

b.

Oksidasi

c.

Menaikan Tekanan

d.

Absorber

e.

Penguapan

Contoh proses produksi asam sulfat di PT. Dunia Kimia Utama, menggunakan proses
kontak. Proses yang dilakukan melalui 3 tahapan, yaitu:

1. Pembakaran Belerang
Proses produksi asam sulfat di awali dengan peleburan sulfur (S) yang digunakan
sebagai bahan baku utama dengan menggunakan steam yang dialirkan pada coil-coil di
Sulfur Melter pada tekanan 4 Kg/cm2. Kemudian sulfur cair dipompakan dari Sulfur Melter
melalui pipa-pipa dan disemprotkan ke dalam Furnace. Di dalam Furnace terjadi
pembakaran belerang dengan udara.
Reaksi : S(g) + O2(g) SO2(g)
Udara yang digunakan disuplai oleh Main Blower yang sudah mengalami proses
pengeringan. Proses pengeringan udara dilakukan di Drying Tower dengan menggunakan
asam sulfat sirkulasi dengan konsentrasi 93%-98%. Proses pengeringan udara tersebut
dimaksudkan untuk mencegah korosi oleh gas pada pembakaran dan untuk menghilangkan
kandungan air dalam udara.
Proses pembakaran belerang cair menjadi SO2 dengan temperature pembakaran
kurang lebih 750-770oC. Gas hasil pembakaran di Furnace kemudian dialirkan ke Boiler
melalui tube-tube untuk diambil panasnya guna menghasilkan steam yang digunakan untuk
mencairkan belerang di Sulfur Melter, sebagian gas yang lain dialirkan ke Heat Exchanger
bersama dengan gas keluar dari Boiler yang telah diambil panasnya. Di dalam Heat
Exchanger gas didinginkan dengan menggunakan udara yang di suplai oleh Blower. Setelah
itu aliran gas mengalami proses penyaringan dan penstabilan suhu gas di Hot Gas Filter.

2. Oksidasi Katalitik SO2 Menjadi SO3 dengan Bantuan Katalis

Dari Hot Gas Filter aliran gas masuk ke Converter. Converter ini terdiri dari empat
bed katalis V2O5. Aliran gas masuk ke setiap bed diatur pada temperature 425-440 oC. Dengan
bantuan katalis ini aliran gas tersebut (SO2) diubah menjadi gas SO3. Reaksi ini merupakan
reaksi eksoterm sehingga gas tersebut harus didinginkan pada tahap-tahap katalis.
Aliran gas keluar bed I dan bed II didinginkan dalam 1st and 2nd Heat Exchanger.
Sedangkan aliran gas dari bed III langsung masuk ke bed IV karena perbedaan temperature
gas keluar dan bed III dan bed IV sudah kecil.
Reaksi : SO2(g) + 1/2O2(g) SO3(g)
Dari converter aliran gas SO3 masuk ke dalam SO3 Cooler A untuk didinginkan.
Kemudian didinginkan lebih lanjut ke SO3 Cooler B setelah itu aliran gas tersebut masuk ke
Absorbing Tower.
3. Absorbsi Gas SO3
Di Absorbing Tower terjadi proses penyerapan gas SO 3 dengan menggunakan
sirkulasi asam sulfat dengan konsentrasi 98-99% yang diatur di AT Pump Tank. Asam
resirkulasi tersebut kemudian diencerkan dengan menambahkan air dan setelah itu baru
dialirkan kembali ke dalam AT Pump Tank. Asam sulfat yang dihasilkan pada AT Pump Tank
setelah mencapai level maksimum yang ditentukan, kemudian ditransfer dan ditampung di
Sulphuric Acid Storage Tank.
Reaksi yang terjadi di absorbing tower yaitu:
SO3(g) + H2SO4(l) H2SO4.SO3(aq)
H2SO4.SO3(aq) + H2O(l) 2 H2SO4(aq)
PT. Dunia Kimia Utama memiliki dua buah Acid Storage Tank berkapasitas 1000 ton dan
satu buah Acid Storage Tank berkapasitas 200 ton.

DESKRIPSI PROSES PEMBUATAN ASAM SULFAT

Pembakaran

Bahan baku biasanya adalah belerang dan berbagai bijih sulfid. Oleh karena belerang cair
biasanya lebih murni dan biaya transpornya lebih murah , belerang biasanya didatangkan dan
disimpan dalam keadaan cair . zat cair itu dipompakan dalam tangki penimbunan malalui
pipa pipa berpemanas dan disemprotkan ke dalam tanur dengan menggunakan pembakar
yang hampir serupa dengan yang biasanya dipakai untuk menyuling minyak bakar.
Pengolahan Gas Bakar
Gas sulfur dioksida hasil pembakaran mungkin mengandung karbon dioksida, nitrogen dan
berbagai ketakmurnian seperti klor , arsen , fluor , sedikit debu. Arsen dan fluor hanya ada
apabila bahan yang dibakar bukan belerang unsur. Guna mencegah terjadinya korosi oleh gas
dari pembakaran , biasanya udara untuk pembakaran belerang dan oksidasi SO 2 itu
dikeringkan dulu sampai kandungan airnya kurang 3 mg/m3.
Penukaran Kalor dan Pendingin
Sebelum gas itu ditumpahkan kedalam konventer tahap pertama , biasanya suhunya diatur
agar mencapai suhu minimum yang diperlukan supaya katalis dapat meningkatkan kecepatan
reaksi dengan cepat , biasanya pada suhu 425C sampai 440C. Gas itu harus didinginkan
lagi diantara tahap tahap katalis agar menghasilkan konversi yang tinggi.
Konventer
Konversi Kimia sulfur dioksida menjadi sulfur trioksida dirancang untuk menghasilkan
konversi maksimum dengan memperhatikan bahwa :
Keseimbangannya merupakan fungsi kebalikan suhu dan fungsi langsung rasio oksigen
terhadap sulfur dioksida. Laju reaksi merupakan fungsi langsung suhu. Komposisi gas dan
banyaknya katalis mempengaruhi laju konversi dan kinetika reaksi. Penyingkiran sulfur
trioksida yang terbentuk sehingga lebih banyak sulfur dioksida dapat dikonversi.
Absorber Sulfur Trioksida
Sudah sejak lama diketahui bahwa asam sulfat dengan konsentrasi 98,5 persen 99 persen
merupakan bahan yang paling efisien untuk digunakan sebagai penyerap sulfur trioksida,
mungkin karena asam dengan konsentrasi tersebut mempunyai tekanan uap yang jauh lebih
rendah dari kosentrasi konsentrasi lainnya. Asam dengan konsentrasi tersebut digunakan
pada absorber antara dan absorber akhir. Untuk menyerap SO3 secara hampir sempurna,
sebelum gas yang telah terkonversi sebagian itu masuk kembali ke dalam konvertor dan gas
limbah dibuang ke udara. Dalam hal ini, air tidak dapat digunakan karena kontak langsung
antara sulfur trioksida dan air akan menghasilkan kabut asam yang hampir tidak mungkin
diabsorbsi. Oleh karena asam penyerap itu terus menjadi lebih pekat, maka harus disediakan
fasilitas untuk menyerap bagian asam yang keluar dari absorber yang akan diresirkulasikan.
Asam resirkulasi ini diencerkan dengan menambahkan asam sulfat encer atau air dalam
jumlah yang diperlukan, sehingga mendinginkan asam penyerap, dan kelebihan asam yang
ada dikeluarkan dari system untuk kemudian dijual.
Blower
Blower digunakan untuk menghembuskan udara atau gas yang mengandung belerang melalui
peralatan pengolahan. Blower ini ditempatkan di dalam aliran sehingga dapat menangani
udara atau gas yang mengandung sulfur dioksida.
Pompa Asam
Pompa biasanya dibenamkan di dalam tangki pompa yang terbuat dari baja berlapis bata yang
terdapat di dalam daerah proses. Pompa ini dapat digerakkan dengan motor listrik atau turbin
uap.

Pompa Belerang

Digunakan untuk memompakan belerang dari sumur penimbunan ke dalam atomizer dan
pembakar belerang. Pompa ini mempunyai pipa pipa penyaluran luar bermantel uap,
sehingga belerang tidak menjadi dingin dan membeku, karena titik lebur belerang adalah 115
C.
Pendingin Asam
Asam yang disirkyulasikan pada menara absorbsi harus didinginkan untuk mengeluarkan
kalor absorbsi dan kalor sensible gas masuk. Asam yang disirkulasikan pada menara
pengering harus pula didinginkan untuk mengeluarkan kalor pengenceran dan kalor
kondensasi kelembapan yang terdapat di dalam gas atau udara masuk.
Pemurnian Gas
Pabrik yang harus menangani gas sulfur dioksida yang tidak murni, misalnya gas yang keluar
dari pabrik peleburan, pemanggangan bijih besi dan proses proses lain, biasanya
mempunyai ketel kalor limbah. Presipitator elektrostatik untuk pengumpulan debu, menara
pembasuh dan pencuci, dan akhirnya presipitator elektrostatik untuk pemisahan kabut asam
seerta sisa debu dan uap. Sesudah itu, gas siap untuk masuk ke dalam menara pengering.
Bahan Konstruksi
Dalam system pemurnian gas, baja digunakan untuk menangani gas sulfur dioksida yang
mempunyai suhu di atas titik embun asam. Untuk suhu di bawah titik embun dan untuk zat
cair, digunakan timbale, baja berlapis timbale, dengan lapisan bata atau tidak, baja paduan
dan bahan plastic untuk kondisi operasi tertentu. Pendinginan asam lemah dalam system
pemurnian gas tidak boleh dibuat dari besi cor atau baja karena bahan ini akan terkorosi
dengan cepat.
Pemulihan Asam Sulfat Bekas Pakai
Sebagian besar asam sulfat yang dipakai dipulihkan untuk didaur ulangkan, asam bekas pakai
biasanya disebut dengan asam limbah. Tetapi istilah ini salah kaprah. Kebanyakan pemakai
tidak mengkonsumsi asam itu, tetapi mengencerkan atau mengkontaminasinya. Sebagian
asam ini dapat dipulihkan dan digunakan kembali dengan biaya lebih murah dari asam
perawan. Sebagian asam ini terpaksa dipulihkan karena ketentuan lingkungan atau untuk
menghidari pengeluaran biaya untuk netralisasi.
Pencemaran Oleh Belerang
Masalah pengurangan pencemaran oleh belerang dan senyawanya sudah banyak diteliti
dengan harapan bahwa pada suatu waktu nanti semua belerang itu dapat dipulihkan dan
digunakan kembali. Desulfurisasi bahan bakar biasanya menghasilkan belerang dalam bentuk
dalam hydrogen sulfide. Sulfur dioksida dari peleburan non loganm non fero atau
pembakaran bahan bakar paling ekonomis bila dipulihkan sebagai asam sulfat dan kadang
kadang juga sebagai sulfur dioksida cair, belerang, atau garam garam sulfat. Asam sulfat
sudah lama dibuat dari gas berkadar tinggi dari pabrik peleburan mempunyai penyaluran ke
pasaran.

BAB V
SIFAT PRODUK ASAM SULFAT
Produk asam sulfat yang dihasilkan oleh PT. Dunia Kimia Utama memiliki
konsentrasi 98,5%. Sifat fisik asam sulfat yang dihasilkan yaitu:
No.
1.

Parameter
Bentuk

Sifat Fisik Produk


Cairan

2.

Warna

Jernih

3.

Bau

Menyengat

4.

Titik Didih

340oC

5.

Titik Leleh

10,49oC

Sedangkan sifat kimia asam sulfat yang dihasilkan yaitu:


No.
1.

Parameter
Rumus Molekul

Sifat Kimia Produk


H2SO4

2.

BM

98,08 gr/mol

3.

Densitas

1,84 g/cm3

4.

Spgr

1,834

5.

Kelarutan

Larut dalam air dengan semua perbandingan

6.

Viskositas

26,7 cP (20 C)

BAB VI

PENGELOLAAN LINGKUNGAN

a. Pengolahan limbah gas


Dilakukan dengan pemasangan alat filter yang berfungsi untuk menyaring partikel gas asam
yang mungkin terbawa gas buangan akibat proses absorbsi kurang sempurna.
b. Pengolahan limbah cair
Menggunakan system netralisasi dan sedimentasi dengan bahan pembuatan batu kapur, soda
ash atau soda kaustik (NaOH).
c.

Pengolahan limbah padat


Limbah padat diolah dengan cara mengumpulkannya pada suatu tempat penampungan dan
secara periodic limbah padat tersebut diangkat oleh dinas kebersihan.

d. Pengolahan limbah yang berupa debu dan kebisingan


Mengadakan penghijauan di sekeliling pabrik, mengisolir sumber bising dengan tembok,
memasang alat penghisap debu, dan mewajibkan karyawan memakai masker dan ear
protector.

BAB VII

PENUTUP
Kesimpulan
Asam Sulfat (H2SO4) adalah asam mineral (anorganik) yang kuat, yang larut dalam air
pada semua perbandingan. Asam sulfat mempunyai banyak kegunaan dan merupakan salah
satu produk utama industri kimia. Pembuatan Asam Sulfat dikenal sebagai proses kontak.
Dimulai dari pembakaran Belerang (S) dengan udara hingga menghasilkan Belerang
Dioksida, lalu mengoksidasi Belerang Dioksida menjadi Belerang Trioksida, kemudian
melarutkannya dalam Asam Sulfat pekat sehingga membentuk Asam Pirosulfat yang
selanjutnya direaksikan dengan air membentuk Asam Pekat. Pada proses kontak digunakan
suhu sekitar 500oC dengan katalisator V2O5. Sebenarnya dibutuhkan penambahan tekanan
dalam proses ini. Tetapi penggunaan tekanan yang besar ternyata tidak diimbangi
penambahan hasil yang memadai. Oleh karena itu, pada proses kontak tidak digunakan
tekanan besar melainkan tekanan normal, yaitu 1 atm.

DAFTAR PUSAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_sulfat
www.wikipedia.com
www.google.com
www.patentstorm.us
www. Wikipedia.com
http://reidzkoplak.blogspot.com/2012/05/makalah-industri-asam-sulfat.html
http://herusantoso17.blogspot.com/2012/11/industri-asam-sulfat.html