Anda di halaman 1dari 8

Technopreneurship di Era Globalisasi

D.1 Definisi Technopreneurship


Menurut Antonius Tanan(2008,p97), istilah technopreneurship merupakan gabungan
dari dua kata yakni teknonolgi dan enterpreneur. Kata teknologi berasal dari bahasa
yunani yang berarti tindakan sitematis dari sebuah kecakapan, termasuk seni.
Sedangkan enterpreneur merupakan tindakan komersialisasi terhadap suatu
produk. Sehingga Tanan menyimpulkan bahwa technopreneurship merupakan suatu
proses komersialisasi produk-produk teknologi yang kurang berharga menjadi
berbagai produk yang bernilai tinggi sehingga menarik minat konsumen untuk
membeli atau memilikinya.
Menurut Tata sutarbi (2009) menyatakan bahwa technopreneurship merupakan
proses dan pembentukan usaha baru yang melibatkan teknologi sebagai basisnya,
dengan harapan bahwa penciptaan strategi dan inovasi yang tepat kelak bisa
menempatkan teknologi sebagai salah satu faktor untuk pengembangan ekonomi
nasional.

D.2 Definisi Technopreneur


Menurut Tanan technopreneur merupakan orang-orang yang dengan semangat
enterpreneur memasarkan produk-produk teknologi.
Adapun contoh dari para technopreneur yang realisasi dari hasil kerja kerasnya
dapat dirasakan oleh masyarakat dimasa sekarang yaitu:
Mark Zuckerberg, Eduardo Saverin, Dustin Moskovitz, dan Chris Hughes
merancang dan mengembangkan teknologi jaringan sosial yang berbasis web yang
mereka namakan FACEBOOK.
Steve Chen, Chad Hurley dan Jawed Karim merancang dan mengembangkan
YOUTUBE sebagai media berbagi video di antara masyarakat.
Bill Joy merancang dan mengembangkan Sun Microsystem
Bill Gates merancang dan mengembangkan MICROSOFT.
Jeff Bezos merancang dan mengembangkan sistem penjualan buku secara online
yang diberi nama AMAZONE.COM.
Dll

D.3 Produk-produk Technopreneurship

Sebagai sebuah usaha yang berlandaskan bisnis, technopreneurship memiliki


berbagai produk yang tentunya dapat digunakan oleh masyarakat luas. Adapun
bentuk-bentuk dari produk technopreneurship antara lain:
Software
Software atau piranti lunak merupakan sebuah produk yang diciptakan untuk
membantu menjalankan berbagai fungsi dan tugas manusia yang dijalankan dalam
sistem komputer. Menurut jenisnya software terdiri atas:

- Close Software
Tidak diperkenankan dengan alasan apapun untuk menggunakan software ini tanpa
ada izinnya(lisence).
- Share Software
Software yang dapat digunakan oleh siapapun yang diberikan secara Cuma-Cuma
oleh produsen software.
- Free Software
Software yang dapat diunduh secara gratis oleh siapa saja. Sebenarnya software
jenis ini tidak untuk dikomersialisasikan.
- Open Source
Merupakan sekumpulan software yang pendistribusiannya dilakukan secara CumaCuma, bebas dimodifikasi namun tetap terintegritas pada pencipta kode sumber.

Hardware
Hardware atau piranti keras merupakan komponen komputer yang bekerja secara
elektronik, yang bertugas melakukan berbagai operasi yang memastikan sistem
komputer berjalan dengan semestibya. Adapun bagian-bagian hardware tersebut.
- input divice (unit masukan)
misalnya: keyboard, mouse, joystic, dll.
- Process device (unit Pemrosesan)

Misal: motherboard
- Output device (unit keluaran)
Misal: printer
- Backing Storage ( unit penyimpanan)
Misal: harddisk, floppydisk dll.
- Periferal ( unit tambahan)
Misal: berbagai aksesoris.

D.4 Konsep Technopreneurship


Di era persaingan global yang sangat ketat, inovasi usaha harus diiringi dengan
berbagai macam rekayasa teknologi agar dapat melipatgandakan performa dari
usaha tersebut. Pemanfaatan teknologi mutakhir tepat guna dalam pengembangan
usaha yang berdasarkan pada jiwa entrepreneur yang mapan akan dapat
mengoptimalkan proses sekaligus hasil dari unit usaha yang dikembangkan. Inilah
yang disebut technopreneurship: sebuah kolaborasi antara penerapan teknologi
sebagai instrumen serta jiwa usaha mandiri sebagai kebutuhan. Technopreneurship
adalah suatu karakter integral antara kompetensi penerapan teknologi serta spirit
membangun usaha. Dari sini, tumbuhlah unit usaha yang teknologis: unit usaha
yang memanfaatkan teknologi aplikatif dalam proses inovasi, produksi, marketisasi,
dan lain sebagainya.
Menanamkan jiwa entrepreneurship bukan perkara yang mudah, karena ini
berhubungan dengan dua hal kompleks yang perlu ditanamkan, yakni kesadaran
teknologi, dan semangat entrepreneurship. Dua hal ini memiliki karakteristik yang
spesifik dalam masing-masing pengembangannya. Oleh karena itu, untuk
membentuk ketiga hal tersebut, penulis membaginya menjadi tiga tahapan:
1. Teknologi
Seperti yang dijelaskan di awal, teknologi memiliki kebutuhan yang erat dalam
penguasaan keilmuan dan penerapannya. Proses ini diperlukan untuk mendapatkan
otoritas teknologi yang diakui eksistensinya. Penyaluran keilmuan serta teknis
rekayasa ini didapatkan melalui proses pendidikan di universitas. Proses pendidikan
hingga memiliki kompetensi yang mumpuni inilah yang disebut authorization.
Setelah memiliki kompetensi yang memadai, ilmu dan berbagai macam teori harus
bisa dimanfaatkan, baik secara luas maupun sempit. Pemanfaatan ini tidak harus
menghasilkan produk nyata, namun dapat berupa konsep dan ide pengembangan
dari teori tersebut. Proses ini disebut utilization.

Berdasarkan sifatnya yang aplikatif, untuk dapat menjadi teknologi, ilmu-ilmu yang
dipelajari harus dapat diimplementasikan. Implementasi ini berupa karya nyata
yang dapat dimanfaatkan secara langsung dalam usaha keseharian manusia. Proses
rekayasa teknologi menjadi produk yang bisa dimanfaatkan secara langsung
merupakan tujuan akhir dari pengaplikasian sains dan keilmuan. Tahap ini
disebutimplementation. Lalu, teknologi yang telah dihasilkan harus dapat
dikolaborasikan dengan kebutuhan yang ada, agar tepat guna dan bermanfaat
secara luas sekaligus spesifik. Proses ini disebut collaboration.

2. Entrepreneurship
Untuk mengembangkan jiwa entrepreneurship diperlukan beberapa tahapan, antara
lain internalization, paradigm alteration, spirit initiation, dan
competition.Internalization adalah tahapan penanaman jiwa entrepreneurship
melalui konstruksi pengetahuan tentang jiwa entrepreneurial serta medan dalam
usaha. Tahap ini berkutat pada teori tentang kewirausahaan dan pengenalan
tentang urgensinya. Setelah itu, paradigm alteration, yang berarti perubahan
paradigma umum. Pola pikir pragmatis dan instan harus diubah dengan
memberikan pemahaman bahwa unit usaha riil sangat diperlukan untuk
menstimulus perkembangan perekonomian negara, dan jiwa entrepreneurship
berperan penting dalam membangun usaha tersebut. Di tahap ini diberikan sebuah
pandangan tentang keuntungan usaha bagi individu maupun masyarakat.
Setelah pengetahuan telah terinternalisasi dan paradigma segar telah terbentuk,
diperlukan sebuah inisiasi semangat untuk mengkatalisasi gerakan pembangunan
unit usaha tersebut. Inisiasi ini dengan memberikan bantuan berupa modal awal
yang disertai monitoring selanjutnya. Lalu, perlu digelar sebuah medan kompetisi
untuk dapat mengembangkan usaha tersebut dengan baik.
3. Technopreneurship
Setelah memiliki kompetensi teknologi dan jiwa entrepreneurship, hal terakhir yang
perlu dilakukan adalah mengintegrasikannya. Teknologi yang telah dimiliki kita
kreasikan dan inovasikan untuk menyokong pengembangan unit usaha. Hal ini
dapat dilakukan secara nyata dalam proses produksi (contoh: Microsoft), marketing
(contoh: e-Bay), accounting, dan lain sebagainya. Kreativitas dan pemanfaatan
teknologi dengan tepat adalah hal utama dalam mengembangkan jiwa
technopreneurship.

D.5 Karakteristik Enterpreneur


Sebagai sebuah kolaborasi dari sebuah konsep, technopreneurship tidak terlepas
dari karakter enterpreneurship. Adapun karakter-karakter yang dimiliki oleh seorang
enterpreneurship antara lain:
Melakukan hal-hal yang tidak mencari keuntungan semata
Merasa nyaman bekerja dengan atau menggunakan teknologi
Selalu mengeksploitasi ketidakpastian
Penemu bukan semata-mata meniru atau memungut dari alam
Tidak berhenti pada peluang, tetapi membangun institusi
Seorang yang berani menghadapi resiko
Berfikir simpel
Rela tubuh dari bawah
Tahu apa artinya cash on hand
Modal utamanya bukanlah selalu uang
D.6 Technopreneur di Asia
Jika kita menengok ke 2 -3 dekade yang lalu, maka sebut saja Taiwan, Korea Selatan
dan Singapura masih digolongkan sebagai Negara Berkembang. Namun sekarang
Negara-negara ini telah menjadi Negara maju dengan perekonomian yang
didasarkan pada Industri teknologi. Perkembangan Korea diawali dengan industri
tradisional kemudian diikuti oleh industri semikonduktor. Sedangkan Singapura
memiliki kontrak di bidang elektronik dengan perusahaan-perusahaan barat
kemudian diikuti juga oleh manufaktur semikonduktor. Taiwan terkenal dengan
industri asesoris Komputer Pribadi (PC). Rahasia lain yang membuat perkembangan
negara-negara ini melejit adalah adanya inovasi.
Inovasi di bidang Teknologi Informasi inilah yang juga membuat India berkembang
dan menjadi incaran industri dunia barat baik bagi outsourcing maupun penanaman
modal. Contoh teknologi yang dikembangkan oleh India adalah sebuah Handheld PC
yang disebut sebagai Simputer. Simputer dikembangkan untuk pengguna pemula
dan dari sisi finansial adalah pengguna kelas menengah bawah. Simputer dijalankan
oleh prosesor berbasis ARM yang murah dan menggunakan Sistem Operasi berbasis
opensource. Harga di pasaran adalah sekitar $200.

Inovasi India yang luar biasa datang dari perusahaan Shyam Telelink Ltd. Shyam
Telelink memperlengkapi becak dengan telefon CDMA yang berkekuatan 175
baterai. Becak inipun diperlengkapi juga dengan mesin pembayaran otomatis.
Penumpang becak bisa menelpon dan tariff yang dikenakan adalah sekitar 1.2
rupee per 20 menit. Lalu perusahaan ini mempekerjakan orang yang tidak memiliki
keahlian untuk mnegemudikan becak. Upah para pengemudi becak tidak
didasarkan pada gaji yang tetap namun merupakan komisi sebesar 20% dari tiap
tarif telfon yang diperoleh.
Di Filipina, perusahaan telefon SMART mengembangkan metode untuk melayani
transfer pengiriman uang dari para pekerja Filipina yang diluar negeri melalui
telefon seluler dengan SMS. Menurut laporan Asian Development Bank (ADB),
SMART dapat meraup sekitar US $14 21 trilyun per tahunnya dari biaya transfer
program ini.
China mengikuti jejak yang sama. Perusahaan-perusahaan China mulai
menunjukkan kiprahnya di dunia internasional. Akuisisi IBM oleh perusahaan China
Lenovo di tahun 2004 dan akuisisi perusahaan televisi Perancis Thomson oleh
Guangdong membuktikan bahwa technoprenuership di China semakin kukuh.
Studi Posadas menunjukkan bahwa technopreneurship di Asia berkembang
disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, faktor inovasi yang diinsiprasikan oleh
Silicon Valley. Jika revolusi industri Amerika di abad 20 yang lalu dipicu oleh inovasi
yang tiada henti dari Silicon valley, maka negara-negara Asia berlomba untuk
membangun Silicon Valley mereka sendiri dengan karakteristik dan lokalitas yang
mereka miliki.
Kedua, Inovasi yang dibuat tersebut diarahkan untuk melepaskan diri dari
ketergantungan dunia barat. Sebagian besar teknologi yang diciptakan oleh dunia
barat diperuntukkan bagi kalangan atas atau orang/instansi/perusahaan yang kaya
dan menciptakan ketergantungan pemakaiannya. Sementara itu sebagian besar
masyarakat (baca pasar) Asia belum mampu memenuhi kriteria pasar teknologi
barat tersebut. Masih banyak masyarakat asia yang memiliki penghasilan dibawah
$1 per hari, sehingga mereka tidak memiliki akses ke teknologi yang diciptakan oleh
dunia barat. Ini merupakan peluang yang besar bagi para teknopreneur untuk
berinovasi dalam menciptakan sebuah produk teknologi yang menjangkau
masyarakat marginal.
D.6 Technopreneurship di Indonesia
Sebagian besar wacana di negara kita mengarahkan Technopreneurship seperti
dalam definisi kedua di atas. Baik dalam seminar, lokakarya dan berita, maka bisa
dijumpai bahwa pemakaian teknologi Informasi dapat menunjang usaha bisnis.
Terlebih dimasa krisis global seperti sekarang ini, maka peluang berbisnis lewat
Internet semakin digembar-gemborkan. Ada kepercayaan bahwa Technopreneurship
menjadi solusi bisnis dimasa lesu seperti ini. Sebagai contoh, penggunaan

Perangkat Lunak tertentu akan mengurangi biaya produksi bagi perusahaan Meubel.
Jika sebelumnya, mereka harus membuat prototype dengan membuat kursi sebagai
sample dan mengirimkan sample tersebut, maka dengan pemakaian Perangkat
Lunak tertentu, maka perusahaan tersebut tidak perlu mengirimkan sample kursi ke
pelanggan, namun hanya menunjukkan desain kursi dalam bentuk soft-copy saja.
Asumsi ini tidak memperhitungkan harga lisensi software yang harus dibeli oleh
perusahaan meubel tersebut.
Jika technopreneurship dipahami seperti dalam contoh-contoh ini, maka kondisi ini
menyisakan beberapa pertanyaan: Apakah benar technopreneurship mampu
menjadi solusi bisnis di masa kini? Akan dibawa kemanakah arah technoprenership
di negara kita? Menurut hemat penulis, technopreneurship yang dipahamai dalam
makna yang sesempit ini justru akan menjadi bumerang bagi pelaku bisnis, karena
ini akan menciptakan ketergantungan terhadap teknologi buatan barat. Dan ini
tidak sejalan dengan semangat technopreneurship yang dikembangkan oleh
negara-negara Asia lainnya. Selain itu, inovasi yang berkembang belum mampu
melepas ketergantungan tersebut karena masih berskala individu, seperti inovasi
dan kreatifitas dalam pembangunan website, penggunaan teknologi web 2.0
sebagai media promosi. Inovasi yang diharapkan adalah inovasi dalam
pengembangan kapasitas lokal dengan basis teknologi dari dunia barat, sehingga
hasil inovasi tersebut mampu melepaskan kita dari kungkungan ketergantungan
penggunaan lisensi dan ketergantungan teknologi barat.
Untuk dapat menuju ke arah yang sama seperti neagara-negara tetangga kita
lainnya, maka hal pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan dekonstruksi
pemahaman Technopreneurship. Ini penting sekali karena kita semua tahu bahwa
persepsi menentukan aksi. Dengan pemahaman technopreneurship seperti dalam
definisi pertama maka akan memungkinkan bermunculannya para
technopreneurship sejati yang akan membawa negara kita berjalan bersama-sama
dengan India, Korea Selatan maupun taiwan.
D.7 Tecnopreneurship dalam Era Open Source
Technopreneurship sebagai sebuah usaha dalam mengembangkan inovasi dan
kreatifitas khususnya dalam teknologi informasi, telah menjadi sarana baru bagi
masyarakat untuk menumbuhkan sektor riil. Technopreneurship telah membuka
banyak lapangan kerja bagi masyarakat. Hal ini tentu mampu meningkatkan
perekonomian suatu negara. Dengan dukungan dari berbagai pihak, diharapkan
technopreneurship mampu terus berkembang demi kemajuan kesejahteraan
masyarakat.
Perkembangan teknologi informasi telah membawa dampak positif bagi kehidupan
masyarakat. Selain mampu membangun peradaban yang lebih cerdas, keberadaan
dan perkembangan teknologi informasi telah mengembangkan perekonomian dunia.
Oleh sebab itu diharapkan orang orang yang bekerja dalam bidang ini semakin

banyak dan semakin inovatif sehingga mampu mewujudkan dan menciptakan ideide baru yang berguna bagi masyarakat.
Sebagai bentuk dari inovasi yang terus berkembang, teknologi Open Source telah
lahir untuk memberikan wadah inovasi bagi seluruh masyarakat. Dengan lahirnya
teknologi ini masyarakat tidak lagi dibatasi dengan berbagai aturan yang
menghambat kreativitasnya. Selain tidak merugikan bagi siapapun teknologi ini
telah memberikan keuntungan bagi banyak pihak, diantaranya perkembangan
bisnis di sektor teknologi informasi.