Anda di halaman 1dari 6

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SOSIAL EKONOMI

DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL


(DI PUSKESMAS KABUPATEN SIDOARJO)
Diadjeng Setya W**, Bambang Rahardjo*, Andyta Juniarti**

ABSTRAK
Anemia adalah keadaan hemoglobin dibawah 11 gr%, kondisi dimana sel darah merah menurun, sehingga
kapasitas daya angkut oksigen untuk kebutuhan organ-organ vital pada ibu dan janin menjadi berkurang. Pada tahun
2011 di wilayah Sidoarjo, tepatnya di Kabupaten Sidoarjo didapatkan 545 kejadian anemia di wilayah kerja
Puskesmas Sidoarjo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang
anemia, dan status sosial ekonomi dengan kejadian anemia di Puskesmas Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan
metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional study. Metode pemilihan sampel yang digunakan
adalah purposive sampling sejumlah 90 orang ibu hamil. Variabel independen yang diukur adalah tingkat
pengetahuan ibu, paritas, tingkat pendidikan, pendapatan keluarga. Variabel dependennya adalah kejadian anemia.
Analisis data yang digunakan adalah Rank Spearman untuk mengetahui hubungan antara variabel dependen dan
variabel independen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat
pengetahuan ibu tentang anemia (p=0,000), paritas (p=0,034), tingkat pendidikan (p=0,028), pendapatan keluarga
(p=0,000), dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara
tingkat pengetahuan, paritas, tingkat pendidikan, pendapatan keluarga terhadap kejadian anemia pada ibu hamil di
Puskesmas Sidoarjo.
Kata kunci : tingkat pengetahuan, sosial ekonomi, anemia ibu hamil
ABSTRACT
Anemia is a state of Hemoglobin below 11 gr% condition in which red blood cells decreases, so that the
oxygen carrying capacity for the needs of vital organs in the mother and fetus is reduced. In 2011 in Sidoarjo region,
precisely in Sidoarjo obtained anemia 545 health centers in the working area of Sidoarjo. This study aims to
determine the relationship between levels of maternal knowledge about anemia and socioeconomic status to the
incidence of anemia in sidoarjo health center. It was an observational study with cross sectional analytic study.
Sampling method was used purposive sampling a total of 90 people pregnant. The independent variable was
measured the level of knowledge of mothers, parity, education level, family income. The dependent variable is the
incidence of anemia. Analysis of the data is used Spearman Rank to determine the relationship between the
dependent variable and the independent variables. The results showed that there is significant relationship between
the level of maternal knowledge of anemia (p= 0.000), parity(p= 0.034), educational level (p= 0.028), family income
(p= 0.000), the incidence of anemia in pregnant women. The conclusion of this study are there relationship between
the level of knowledge, parity, education level, family income on the incidence of anemia in pregnant women in
health
centers
Sidoarjo.
Keywords : Knowledge level, socioeconomic, anemia in pregnant.

* Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya


** Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

PENDAHULUAN
Pembangunan kesehatan di Indonesia
dewasa ini masih diwarnai oleh rawannya
derajat kesehatan ibu dan anak, terutama
pada kelompok yang paling rentan yaitu ibu
hamil serta pada bayi perinatal yang ditandai
dengan masih tingginya Angka Kematian Ibu
(AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB)1.AKI
berdasarkan Survey Demografi Kesehatan
Indonesia (SDKI) tahun 2007 sebesar 228
per 100.000 kelahiran hidup sedangkan AKB
34 per 1.000 kelahiran hidup, meskipun
demikian angka tersebut masih tertinggi di
Asia.
Sementara
target
Millenium
Development Goals (MDGS) 2015 adalah
menurunkan AKI menjadi 102 per 100.000
kelahiran hidup dan AKB menjadi 23 per
1.000 kelahiran hidup.
Terdapat tiga faktor utama penyebab
kematian ibu yakni, perdarahan, hipertensi
saat hamil atau pre eklamsi dan infeksi.
Perdarahan menempati persentase tertinggi
penyebab kematian ibu 28%, penyebab
utama terjadinya perdarahan dan infeksi
adalah kekurangan energi kronis (KEK) pada
ibu hamil dan ini merupakan faktor kematian
utama ibu. Walaupun seorang perempuan
bertahan hidup
setelah mengalami
perdarahan pasca persalinan namun ia akan
menderita akibat kekurangan darah yang
berat (anemia berat) dan akan mengalami
masalah kesehatan yang berkepanjangan2.
Persentase tertinggi kedua penyebab
kematian ibu adalah eklamsia 24% kejang
bisa terjadi pada pasien dengan tekanan
darah tinggi (hipertensi) yang tidak terkontrol
saat persalinan. Hipertensi dapat terjadi
karena kehamilan, dan akan kembali normal
bila kehamilan sudah berakhir. Namun ada
juga yang tidak kembali normal setelah bayi
lahir. Kondisi ini akan menjadi lebih berat
bila hipertensi sudah diderita ibu sebelum
hamil, sedangkan persentase tertinggi ketiga
penyebab kematian ibu melahirkan adalah
infeksi 11 % 1.
Prevalensi anemia di dunia sangat tinggi,
terutama
di
negara-negara
sedang
berkembang termasuk Indonesia. Menurut
WHO3 prevalensi kejadian anemia di dunia
antara tahun 1993 sampai 2005 sebanyak

24.8% dari total penduduk dunia (hampir 2


milyar penduduk dunia). Prevalensi anemia di
Indonesia sebesar 40,1%4 di Jawa Timur
Anemia yang diderita oleh ibu hamil
sebanyak 49,9%1 sedangkan di Sidoarjo
Kejadian Anemia 39,9%. Anemia pada
kehamilan merupakan masalah nasional,
bahkan internasional5. Anemia kurang besi
merupakan
penyebab
penting
yang
melatarbelakangi kejadian morbiditas dan
mortalitas yaitu kematian ibu pada waktu
hamil dan pada waktu melahirkan atau nifas
sebagai akibat komplikasi kehamilan. Sekitar
20% kematian maternal di negara
berkembang disebabkan oleh anemia
deficiency besi. Disamping pengaruhnya
kepada kematian, anemia pada saat hamil
akan mempengaruhi pertumbuhan janin,
berat bayi lahir rendah dan peningkatan
kematian perinatal6.
Anemia pada ibu hamil mempunyai
pengaruh yang besar terhadap kualitas
sumber daya manusia. Penyebab utamanya
adalah
selama
kehamilan
terjadi
peningkatan kebutuhan zat besi hampir tiga
kali lipat untuk pertumbuhan janin dan
keperluan ibu hamil. Kekurangan zat besi
yang berasal dari makanan yang dimakan
setiap hari dan diperlukan untuk
pembentukan hemoglobin sehingga disebut
anemia kekurangan besi. Anemia zat besi
banyak diderita oleh wanita hamil, wanita
menyusui, dan wanita usia subur pada
umumnya karena fungsi kodrati yaitu haid,
hamil, melahirkan dan menyusui. Karena itu
kebutuhan zat besi pada waktu hamil relatif
lebih tinggi dibandingkan dengan kebutuhan
zat besi sebelum hamil6.
Suatu penelitian menunjukkan bahwa angka
kematian ibu sebanyak 265/100.000
penduduk berhubungan erat dengan anemia
yang dideritanya ketika hamil7. Bagi ibu,
keadaan anemia akan menurunkan daya
tahan tubuh ibu sehingga rentan terhadap
infeksi. Akibat yang terjadi pada persalinan
antara lain adalah lemahnya kontraksi rahim,
tenaga mengejan yang lemah, perdarahan
post partum. Pada janin yang dikandung
menyebabkan gangguan nutrisi dan
oksigenasi utero plasenta. Hal ini jelas

menimbulkan gangguan pertumbuhan hasil


konsepsi sehingga sering terjadi abortus,
persalinan prematurus, cacat bawaan, IUFD
(Intra Uterin Fetus Death) atau BBLR (Bayi
Berat Lahir Rendah).
Tubuh tidak mentoleransi terjadinya
kehilangan darah seperti wanita yang sehat.
Kehilangan darah hingga satu liter selama
persalinan tidak akan membunuh seorang
wanita yang sehat, tetapi pada wanita yang
jelas anemia kehilangan sekitar 150 ml saja
dapat berakibat fatal6. Anemia hamil disebut
Potensial danger to mother and child
(potensial membahayakan ibu dan anak)5
Ibu hamil memerlukan rata-rata 2,5 4 mg
zat besi per hari. Kebutuhan ini akan
meningkat secara signifikan dalam trimester
akhir, yaitu dari rata-rata 2,5 mg/hari pada
awal kehamilan menjadi 6,6 mg/hari. Angka
anemia kehamilan (8%) pada trimester I,
(12%) pada trimester II, dan (29%) pada
trimester III. Tingginya prevalensi anemia
gizi besi antara lain disebabkan oleh
beberapa faktor yaitu kehilangan darah
secara kronis, asupan zat besi tidak cukup,
penyerapan yang tidak adekuat dan
peningkatan kebutuhan akan zat besi8.
Berdasarkan studi pendahuluan pada
tanggal 06-15 Januari 2012 dengan cara
observasi di Puskesmas Kabupaten Sidoarjo
didapatkan hasil bahwa kejadian anemia ibu
hamil sebanyak 90%. Kejadian tersebut
didukung dari hasil wawancara pada 20 ibu
hamil yang datang ke Puskesmas
didapatkan hasil bahwa 18 dari ibu hamil
tersebut mengalami anemia. Hal ini
kemungkinan di akibatkan karena kurangnya
pengetahuan ibu hamil tentang anemia
seperti penyebab, gejala, dan cara
penanganan dari anemia tersebut serta
faktor sosial ekonomi yang rendah.
Meskipun Bidan sudah melakukan usaha
untuk menurunkan angka kejadian anemia di
Puskesmas Sidoarjo dengan cara pemberian
Tablet Penambah Darah.
Mengingat begitu seriusnya akibat yang bisa
timbul oleh adanya anemia selama
kehamilan serta masih tingginya angka
prevalensi anemia pada ibu hamil di wilayah
Sidoarjo maka peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian dengan judul


Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sosial
Ekonomi dengan Angka Kejadian Anemia
pada Ibu Hamil di Puskesmas Sidoarjo.
METODE PENELITIAN
Desain
Penelitian.
Penelitian
ini
menggunakan metode observasional analitik
dengan pendekatan cross sectional study.
Sampel untuk kasus pada penelitian ini
adalah ibu hamil yang mengalami anemia di
puskesmas sidoarjo. Metode sampling yang
digunakan ialah Purposive Sampling. Alat
untuk pengumpulan data mengenai tingkat
pengetahuan dan sosial ekonomi ibu hamil
menggunakan
pedoman
wawancara,
sedangkan untuk mengetahui tingkatan
anemia yang dialami ibu hamil didapat dari
data sekunder
Pengumpulan Data. Langkah-langkah yang
dilakukan oleh peneliti untuk mengumpulkan
data pada penelitian ini, yaitu setelah
melakukan informed consent, pengumpulan
data primer dilakukan dengan wawancara
secara langsung kepada responden dengan
menggunakan pedoman wawancara yang
disesuaikan dengan tujuan penelitian.
Sedangkan pengumpulan data sekunder
diperoleh dari laporan rekapitulasi di bagian
rekam medik Poli Kandungan di Puskesmas
Sidoarjo.
Analisis Data. Hasil penelitian ini dianalisis
secara statistik menggunakan program
SPSS 16.00 for windows dengan dengan
tingkat kepercayaan 95%, =5%. Dengan
metode analisis data menggunakan
menggunakan Rank Spearmen.
HASIL PENELITIAN
Karakteristik Responden.
Untuk karakteristik pengetahuan didapatkan
bahwa responden terbanyak adalah ibu yang
memiliki tingkat pengetahuan kurang yaitu
sebanyak 56 orang (62.2%) dan paling
sedikit 13 orang (14.4%) responden memiliki
tingkat pengetahuan baik. Untuk Paritas
paling banyak adalah ibu dengan
multigravida (memiliki 2-4 anak) yaitu
sebanyak 53 orang (58.9%) dan paling
sedikit adalah ibu dengan grandemulti

(memiliki > 5 anak) yaitu sebanyak 3 orang


(3.3%). Untuk Tingkat pendidikan responden
terbanyak adalah ibu dengan tingkat
pendidikan rendah (tidak sekolah - tamat
SD) yaitu sebanyak 40 orang (44.4%) dan
paling sedikit 11 orang (12.2%) adalah ibu
dengan kategori pendidikan tinggi (akademik
- perguruan tinggi). Untuk pendapatan
responden terbanyak adalah memiliki tingkat
pendapatan keluarga berkategori rendah (<
UMR) yaitu sebanyak 46 orang (51.1%),
dan sebanyak 44 orang (48.9%) responden
memiliki tingkat pendapatan keluarga
berkategori tinggi (>UMR). Untuk kejadian
Anemia responden terbanyak adalah ibu
dengan tingkat anemia sedang (Hb 7-8 gr%)
yaitu sebanyak 54 orang (60%), dan 1 orang
(1.1%) ibu mengalami kejadian anemia
berat.
Uji Rank Spearman. Hasil analisis melalui
Rank
Spearman
dengan
tingkat
kepercayaan 95%, =5%:
Variabel
Pengetahuan
Ibu vs
Kejadian
Anemia
Paritas vs
Kejadian
Anemia
Tingkat
Pendidikan
vs
Kejadian
Anemia
Pendapatan
per Bulan vs
Kejadian
Anemia

rs

Signifikansi

Keputusa
n

0,709

0,000

Terdapat
Korelasi

0,224

0,034

Terdapat
Korelasi

0,231

0,028

Terdapat
Korelasi

0,456

0,000

Terdapat
Korelasi

Analisis Statistik Hubungan Antara


Pengetahuan dengan Kejadian Anemia
Hasil korelasi Rank Spearman pada tabel
5menunjukkan bahwa terdapat hubungan
yang signifikan antara variabel independen
(Pengetahuan Ibu) dengan Kejadian
Anemia, hal ini berdasarkan nilai signifikansi
dari korelasi tersebut lebih kecil daripada

(0,05), sehingga dapat diambil kesimpulan


bahwa variabel independen (Pengetahuan
Ibu)
berhubungan/berkorelasi
dengan
kejadian anemia pada ibu hamil di
Puskesmas Sidoarjo. Korelasi antara
pengetahuan ibu dengan kejadian anemia
pada ibu hamil ini bernilai negatif, atau
dapat dikatakan bahwa semakin tinggi
pengetahuan ibu tentang kejadian anemia,
maka kejadian anemia yang dialami ibu akan
semakin ringan
Analisis Statistik Hubungan Antara Sosial
ekonomi dengan Kejadian Anemia. Hasil
pengujian korelasi antara sosial ekonomi
dengan kejadian anemia pada ibu hamil
pada tabel tersebut juga menunjukkan
bahwa antara paritas dengan kejadian
anemia saling berkorelasi, karena nilai
signifikansi (0.034) dari korelasi antara
keduanya lebih kecil daripada (0,05).
Begitu pula antara tingkat pendidikan dan
pendapatan keluarga dengan kejadian
anemia pada ibu hamil saling berkorelasi.
Hal ini berdasarkan nilai signifikansi dari
kedua korelasi dari tingkat pendidikan
(0.028) dan pendapatan keluarga (0.000)
lebih kecil daripada (0,05).
PEMBAHASAN
Hubungan Pengetahuan dengan kejadian
Anemia pada Ibu Hamil.
Salah satu faktor penyebab terjadinya
anemia pada ibu hamil adalah kurangnya
pengetahuan
tentang
pentingnya
mengkonsumsi makanan bergizi yang dapat
memenuhi kebutuhan ibu dan bayinya
selama kehamilan. Zat gizi yang sangat
penting bagi ibu hamil adalah zat besi jika
asupan ibu kurang maka akan menyebabkan
ibu hamil mengalami anemia yang berakibat
pada
gangguan
pertumbuhan
dan
perkembangan janin. Untuk itu pengetahuan
ibu hamil tentang zat besi sangat diperlukan
untuk mencegah ibu mengalami anemia.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
sebagian besar ibu hamil mempunyai
pengetahuan
yang
kurang
tentang
penyebab, gejala, dan dampak anemia.
Pengetahuan atau kognitif merupakan
domain yang sangat penting untuk

terbentuknya tindakan seseorang9 Perilaku


yang didasari oleh pengetahuan akan lebih
langgeng daripada perilaku yang tidak
didasari oleh pengetahuan.
Hubungan Paritas dengan kejadian
Anemia pada Ibu Hamil. Semakin sering
seorang wanita melahirkan maka semakin
besar resiko kehilangan darah dan
berdampak pada penurunan kadar Hb.
Setiap kali wanita melahirkan, jumlah zat
besi yang hilang diperkirakan sebesar 250
mg10
Hubungan Pendidikan dengan kejadian
Anemia pada Ibu Hamil. Pendidikan
merupakan salah satu kebutuhan dasar
manusia yang sangat diperlukan untuk
mengembangkan diri, semakin rendah
tingkat pendidikan semakin sulit menerima
serta mengembangkan pengetahuan dan
teknologi yang dapat menyebabkan
kurangnya produktifitas dan kesejahteraan
keluarga.
Pendidikan
yang
dijalani
seseorang memiliki pengaruh pada
peningkatan kemampuan berpikir, dengan
kata lain seseorang yang berpendidikan
lebih tinggi akan dapat mengambil
keputusan yang lebih rasional, umumnya
terbuka untuk menerima perubahan atau hal
baru dibandingkan dengan individu yang
berpendidikan lebih rendah4. Pendidikan
bukan merupakan faktor yang dominan
terhadap kejadian anemia pada ibu hamil,
karena meskipun mempunyai pendidikan
yang tinggi akan tetapi bila perilaku yang
mendukung terhadap pencegahan anemia
masih rendah, misalnya tidak biasa
mengkonsumsi sayuran hijau, tidak minum
tablet tambah darah secara rutin selama
haid, maka akan tetap mengalami anemia,
sebaliknya bagi ibu hamil yang mempunyai
pendidikan rendah namun konsumsi
makanan sumber zat besinya tinggi, maka
akan terhindar dari anemia. Pendidikan juga
akan menentukan tingkat pengetahuan
seseorang, paling tidak kemampuan berpikir
seseorang dengan pendidikan tinggi akan
lebih luas..
Hubungan Pendapatan dengan kejadian
Anemia pada Ibu Hamil

Pada umumnya tingginya tingkat


pendapatan akan meningkatkan jumlah
dan jenis makanan akan tersedia.
Rendahnya pendapatan merupakan
rintangan lain yang menyebabkan
seseorang tidak mampu membeli bahan
pangan dalam jumlah yang dibutuhkan,
dalam
penelitian
ini
rendahnya
pendapatan disebabkan karena suami
sebagai tulang punggung keluarga tidak
memiliki pekerjaan yang tetap dan
sebagian adalah pengangguran karena
sulit memperoleh lapangan pekerjaan
yang sesuai kemampuan mereka.
Tingkat pendapatan menentukan pola
makan apa yang dibeli, semakin tinggi
pendapatan
semakin
tinggi
pula
presentasi pembelanjaanya. Dengan
demikian pendapatan merupakan faktor
yang paling menentukan kuantitas dan
kualitas hidangan makanan.
Keterbatasan Penelitian. Penelitian ini
menggunakan metode cross sectional
sehingga hubungan yang ditentukan dari
variabel independen dan variabel
dependen lemah untuk menentukan
hubungan sebab akibat kerena penelitian
ini dilakukan dalam waktu bersamaan dan
tanpa adanya follow up.
KESIMPULAN
1. Ada hubungan antara tingkat
pengetahuan dan sosial ekonomi
(paritas,
tingkat
pendidikan,
pendapatan
keluarga)
dengan
kejadian anemia pada ibu hamil.
2. Ada hubungan antara tingkat
pengetahuan
dengan
kejadian
anemia pada ibu hamil.
3. Ada hubungan antara sosial ekonomi
(paritas,
tingkat
pendidikan,
pendapatan keluarga)
dengan
kejadian anemia pada Ibu hamil.
SARAN
Setelah melakukan penelitian faktor
Yang Berhubungan dengan kejadian
anemia di Puskesmas Sidoarjo periode
April Juni 2012 dan diperoleh hasil dari

penelitian tersebut, peneliti memberikan


saran kepada:
1. Lahan Penelitian
Faktor yang berhubungan dengan
kejadian anemia pada ibu hamil yang
memeriksakan kandungan di Puskesmas
Sidoarjo adalah rendahnya tingkat
pengetahuan khusunya dalam hal anemia
yang terkait dengan kehamilannya dan
status
ekonomi
yang
rendah.
Mengindikasikan
masih
kurangnya
informasi tentang anemia kepada
masyarakat khususnya ibu hamil. Oleh
karena itu, puskesmas dan unit pelayanan
kesehatan lainnya perlu melakukan
pemberian informasi melalui penyuluhan,
kelas ibu yang dapat menambah
pengetahuan dan merubah perilaku
masyarakat serta selalu mengkontrol
keadaan ibu hamil yang membutuhkan
perhatian lebih.
2. Peneliti Selanjutnya
Diharapkan pada penelitian selanjutnya
dibahas lebih mendalam mengenai jenis
anemia dengan menggunakan alat
pengukuran yang lebih tepat dan akurat
seperti menggunakan pengukuran MCV
(Volume eritrosit rata-rata), MCH
(Hemoglobin eritrosit rata-rata), MCHC
(Konsentrasi hemoglobin eritrosit ratarata). serta faktor-faktor lain yang
berhubungan dengan kejadian anemia
misalnya status gizi ibu, jarak kehamilan
dan menyajikannya dalam bentuk analisis
multivariat untuk lebih melihat keeratan
hubungan antar faktor indepanden dengan
dependen.
DAFTAR PUSTAKA
1. Depkes RI. 2009. Profil Kesehatan
Indonesia tahun 2008, Jakarta :
Depkes RI
2. World Health Organisation. 2007.
Angka Kematian Ibu hamil. Diakses
18-12-2011.
Diunduh
dari:
Http://www.depkes.go.id
3. World Health Organisation. 2008.
Prevalensi Anemia di Dunia.
Diakses 18-12-2011. Diunduh dari:

4.

5.
6.
7.
8.
9.
10.

Http://www.depkes.go.id
Amiruddin, Ridwan. 2009. Studi
Kontrol Faktor Biomedis terhadap
Kejadian Anemia Ibu Hamil di
Puskesmas Bantimurung Maros.
Available from :
http://ridwanamiruddin.wordpress.c
om/2009/05/24/studi-kasus-kontrolanemia-ibu-hamil-jurnal-medikaunhas.
Manuaba. 2007. Pengantar Kuliah
Obstetri. Jakarta : EGC
Wiknyosastro, Hanifa. 2007. Ilmu
Kandungan. Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawihardjo : Jakarta
Depkes RI. 2009. Profil Kesehatan
Indonesia tahun 2008, Jakarta :
Depkes RI
Arisman, 2009.Buku Ajar Ilmu Gizi
dalam Kehidupan. Jakarta : EGC
Notoatmodjo S. 2010. Ilmu Perilaku
Kesehatan. Jakarta : PT Rineka
Cipta.
Mochtar, 2008, Sinopsis Obstetri,
Jakarta : EGC