Anda di halaman 1dari 7

1.

Pengertian
dan
jenis-jenis
koping.
Koping termasuk konsep sentral dalam memahami kesehatan mental. Koping berasal dari
kata coping yang bermakna harfiah pengatasan atau penanggulangan (to cope with =
mengatasi, menggulangi). Namun karena istilah coping merupakan istilah yang sudah jamak
dalam psikologi serta memiliki makna yang kaya, maka pengggunaan istilah tersebut
dipertahankan dan lansung diserap kedalam bahasa Indonesia untuk membantu memahami
bahwa
koping
tidak
sesederhaa
makna
harfiahnya
saja.
Koping sering disamakan dengan adjustment (penyesuaian diri). Koping juga sering
dimaknai sebagai cara untuk memecahkan masalah ( problem solving). Pengertian koping
memang dekat dengan kedua istilah diatas, namun sebenarnya agak berbeda pemahaman
adjustment biasanya merujuk pada penyesuaian diri dalam menghadapi kehidupan seharihari.
Pemecahan masalah lebih mengarah pada proses kognitif dan persoalan yang juga kognitif.
Koping itu sendiri dimaknai sebagai apa yang dilakukan oleh individu untuk menguasai
situasi yang dinilai sebagai suatu tantangan, luka, kehilangan, dan ancaman.
Jadi koping lebih mengarah pada yang orang lakukan untuk mengatasi tuntutan-tuntutan yang
penuh tekanan atau yang membangkitkan emosi. Dengan kata lain, koping adalah bagaimana
reaksi
orang
ketika
menghadapi
stres
atau
tekanan.
Secara ilmiah, baik disadari maupun tidak, individu sesungguhnya telah menggunakan
strategi koping dalam menghadapi stress. Strategi koping adalah cara yang dilakukan untuk
merubah lingkungan atau situasi atau meyelesaikan masalah yang sedang dirasakan atau
dihadapi. Koping diartikan sebagai usaha perubahan kognitif prilakukan secara konstan untuk
meyelesaikan
stress
yang
dihadapi.
Koping yang efektif menghasilkan adaptasi yang menetap yang merupakan kebiasan baru dan
perbaikan dari situasi yang lama, sedangkan koping yang tidak efektif berakhir dengan
maladafur yaitu, prilaku yang menyimpang dari keinginan normatif dan dapat merugikan diri
sendiri maupun orang lain atau lingkungan. Setiap individu dalam melakukan koping tidak
sendiri dan tidak hanya menggunakan satu strategi, tetapi dapat melakukannya bervariasi, hal
ini tergantung dari kemampuan dan kondisi individu. Dibawah ini akan dijelaskan 2 macam
koping
yaitu
koping
physiologi
dan
koping
psiko
social.
2.
Macam-macam
koping
a.
Koping
psikologis
Pada umumnya gejala yang ditimbulkan akibat stress psikologis tergantung pada dua factor
yaitu:
1. Bagaimana persepsi atau penerimaan individu terhadap stressor, artinya seberapa berat
ancaman yang dirasakan oleh individu tersebut terhadap stressor yang diterimanya.
2. Keefektifan strategi koping yang digunakan oleh individu; artinya dalam menghadapi
stressor, jika strategi yang digunakan efektif maka menghasilkan adaptasi yang baik dan
menjadi suatu pola baru dalam kehidupan, tetapi jika sebaliknya dapat mengakibatkan
gangguan
kesehatan
fisik
maupun
psikologis.
b.
Koping
psiko-sosial
Yang biasa dilakukan individu dalam koping psiko-sosial adalah, menyerang, menarik diri
dan
kompromi.
1.
Prilaku
menyerang
Individu menggunakan energinya untuk melakukan perlawanan dalam rangka mempertahan
integritas pribadinya. Prilaku yang ditampilkan dapat merupakan tindakan konstruktif
maupun destruktif. Destruktif yaitu tindakan agresif (menyerang) terhadap sasaran atau objek
dapat berupa benda, barang atau orang atau bahkan terhadap dirinya sendiri. Sedangkan sikap
bermusuhan yang ditampilkan adalah berupa rasa benci, dendam dan marah yang

memanjang.
Sedangkan tindakan konstruktif adalah upaya individu dalam menyelesaikan masalah secara
asertif. Yaitu mengungkapkan dengan kata-kata terhadap rasa ketidak senangannya.
2.
Prilaku
menarik
diri
Menarik diri adalah prilaku yang menunjukkan pengasingan diri dari lingkungan dan orang
lain, jadi secara fisik dan psikologis individu secara sadar meninggalkan lingkungan yang
menjadi sumber stressor misalnya ; individu melarikan diri dari sumber stress, menjauhi
sumber beracun, polusi, dan sumber infeksi. Sedangkan reaksi psikologis individu
menampilkan diri seperti apatis, pendam dan munculnya perasaan tidak berminat yang
menetap
pada
individu.
3.
Kompromi
Kompromi adalah merupakan tindakan konstruktif yang dilakukan oleh individu untuk
menyelesaikan masalah, lazimnya kompromi dilakukan dengan cara bermusyawarah atau
negosiasi untuk menyelesaikan masalah yang sedang sihadapi, secara umum kompromi dapat
mengurangi
ketegangan
dan
masalah
dapat
diselesaikan.
Kaitan antara koping dengan mekanisme pertahanan diri (defense mechanism), ada ahli yang
melihat defense mechanism sebagai salah satu jenis koping (Lazarus, 1976). Ahli lain melihat
antara koping dan mekanisme pertahanan diri sebagai dua hal yang berbeda. (Harber dan
Runyon,
1984).
Lazarus
membagi
koping
menjadi
dua
jenis
yaitu:
1.
Tindakan
langsung
(direct
Action)
Koping jenis ini adalah setiap usaha tingkah laku yang dijalankan ole individu untuk
mengatasi kesakitan atau luka, ancaman atau tantangan dengan cara mengubah hubungan
hubunngan yang bermasalah dengan lingkungan. Individu menjalankan koping jenis direct
action atau tindakan langsung bila dia melakukan perubahan posisi terhadap masalah yang
dialami.
Ada
4
macam
koping
jenis
tindakan
langsung
:
a.
Mempersiapkan
diri
untuk
menghadapi
luka
Individu melakukan langkah aktif dan antisipatif (bereaksi) untuk menghilangkan atau
mengurangi bahaya dengan cara menempatkan diri secara langsung pada keadaan yang
mengancam dan melakukan aksi yang sesuai dengan bahaya tersebut. Misalnya, dalam
rangka menghadapi ujian, Tono lalu mempersiapkan diri dengan mulai belajar sedikit demi
sedikit tiap-tiap mata kuliah yang diambilnya, sebulan sebelum ujian dimulai. Ini dia lakukan
supaya prestasinya baik disbanding dengan semester sebelumnya, karena dia hanya
mempersiapkan diri menjelang ujian saja. Contoh dari koping jenis ini lainnya adalah
imunisasi. Imunisasi merupakan tindakan yang dilakukan oleh orang tua supaya anak mereka
menjadi lebih kebal terhadap kemungkinan mengalami penyakit tertentu.
b.
Agresi
Agresi adalah tindakan yang dilakukan oleh individu dengan menyerang agen yang dinilai
mengancam atau akan melukai. Agresi dilakukan bila individu merasa atau menilai dirinya
lebih kuat atau berkuasa terhadap agen yang mengancam tersebut. Misalnya, tindakan
penggusuran yang dilakuakan oleh pemerintah Jakarta terhadap penduduk yang berada
dipemukiman kumuh. Tindakan tersebut bias dilakukan karena pemerintah memilki
kekuasaan yang lebih besar disbanding dengan penduduk setempat yang digusur.
Agresi juga sering dikatakan sebagai kemarahan yang meluap-luap, dan orang yang
melalakukan serangan secara kasar, dengan jalan yang tidak wajar. Karena orang selalu gagal
dalam usahanya, reaksinya sangat primitive, berupa kemarahan dan luapan emosi kemarahan
dan luapan emosi kemarahan yang meledak-meledak. Kadang-kadang disertai prilaku
kegilaan,
tindak
sadis,
dan
usaha
membunuh
orang.

Agresi ialah seseperti reaksi terhadap frustasi, berupa seranngan, tingkah laku bermusuhan
terhadap
orang
atau
benda.
Kemarahan-kemarahan semacam ini pasti menggangu frustasi intelegensi, sehingga harga diri
orang yang bersangkutan jadi merosot disebabkan oleh tingkah lakunya yang agresif
berlebih-lebihan tadi. Seperti tingkah laku yang suka mentolerir orang lain, berlaku
sewenang-wenang dan sadis terhadap pihak-pihak yang lemah, dan lain-lain.
c.
Penghindaran
(Avoidance)
Tindakan ini terjadi bila agen yang mengancam dinilai lebih berkuasa dan berbahaya
sehingga individu memilih cara menghindari atau melarikan diri dari situasi yang
mengancam. Misalnya, penduduk yang melarikan diri dari rumah-rumah mereka karena takut
akan
menjadi
korban
pada
daerah-daerah
konflik
seperti
aceh.
d.
Apati
Jenis koping ini merupakan pola orang yang putus asa. Apati dilakukan dengan cara individu
yang bersangkutan tidak bergerak dan menerima begitu saja agen yang melukai dan tidak ada
usaha apa-apa untuk melawan ataupun melarikan diri dari situasi yang mengancam tersebut.
Misalnya, pada kerusuhan Mei. Orang-orang Cina yang menjadi korban umumnya tutup
mulut, tidak melawan dan berlaku pasrah terhadap kejadian biadab yang menimpa mereka.
Pola apati terjadi bila tindakan baik tindakan mempersiapkan diri menghadapi luka, agresi
maupun advoidance sudah tidak memungkinkan lagi dan situasinya terjadi berulang-ulang.
Dalam kasus diatas, orang-orang cina sering kali dan berulangkali menjadi korban ketika
terjadi kerusuhan sehingga menimbilkan reaksi apati dikalangan mereka.
2.
Peredaan
atau
peringatan
(palliation)
Jenis koping ini mengacu pada mengurangi, menghilangkan dan menoleransi tekanantekanan ketubuhan atau fisik, motorik atau gambaran afeksi dan tekanan emosi yang
dibangkitkan oleh lingkungan yang bermasalah. Atau bisa diartikan bahwa bila individu
menggunakan koping jenis ini, posisinya dengan masalah relatif tidak berubah, yang berubah
adalah diri individu, yaitu dengan cara merubah persepsi atau reaksi emosinya.
Ada
2
jenis
koping
peredaan
atau
palliation:
a.
Diarahkan
pada
gejala
(Symptom
Directid
Modes)
Macam koping ini digunakan bila gangguan muncul dari diri individu, kemudian individu
melakukan tindakan dengan cara mengurangi gangguan yang berhubungan dengan emosiemosi yang disebabkan oleh tekanan atau ancaman tersebut. Penggunaan obat-obatan
terlarang, narkotika, merokok, alcohol merupakan bentuk koping dengan cara diarahkan pada
gejala. Namun tidak selamanya cara ini bersifat negative. Melakukan relaksasi, meditasi atau
berdoa untuk mengatasi ketegangan juga tergolong kedalam symptom directed modes tetapt
bersifat positif.
b. Cara intra psikis
Koping jenis peredaan dengan cara intrapsikis adalah cara-cara yang menggunakan
perlengkapan-perlengkapan psikologis kita, yang biasa dikenal dengan istilah Defense
Mechanism (mekanisme pertahanan diri).
Disebut sebagai defence mechanism atau mekanisme pembelaan diri, karena individu yang
bersangkutan selalu mencoba mengelak dan membela diri dari kelemahan atau kekerdilan
sendiri dan mencoba mempertahankan harga dirinya: yaitu dengan jalan mengemukakan
bermacam-macam dalih atau alasan.

Mengenal Mekanisme Pertahanan Diri


Sebagian dari cara individu mereduksi perasaan tertekan, kecemasan, stress atau pun konflik
adalah dengan melakukan mekanisme pertahanan diri baik yang ia lakukan secara sadar atau pun
tidak. Hal ini sesuai dengan pendapat dikemukakan oleh Freud sebagai berikut : Such defense
mechanisms are put into operation whenever anxiety signals a danger that the original unacceptable
impulses may reemerge (Microsoft Encarta Encyclopedia 2002) Freud menggunakan istilah
mekanisme pertahanan diri (defence mechanism) untuk menunjukkan proses tak sadar yang
melindungi si individu dari kecemasan melalui pemutarbalikan kenyataan. Pada dasarnya strategistrategi ini tidak mengubah kondisi objektif bahaya dan hanya mengubah cara individu mempersepsi
atau memikirkan masalah itu. Jadi, mekanisme pertahanan diri melibatkan unsur penipuan diri. Istilah
mekanisme bukan merupakan istilah yang paling tepat karena menyangkut semacam peralatan
mekanik. Istilah tersebut mungkin karena Freud banyak dipengaruhi oleh kecenderungan abad ke-19
yang memandang manusia sebagai mesin yang rumit. Sebenarnya, kita akan membicarakan strategi
yang dipelajari individu untuk meminimalkan kecemasan dalam situasi yang tidak dapat mereka
tanggulangi secara efektif. Tetapi karena mekanisme pertahanan diri masih merupakan istilah
terapan yang paling umum maka istilah ini masih akan tetap digunakan. Berikut ini beberapa
mekanisme pertahanan diri yang biasa terjadi dan dilakukan oleh sebagian besar individu, terutama
para remaja yang sedang mengalami pergulatan yang dasyat dalam perkembangannya ke arah
kedewasaan. Dari mekanisme pertahanan diri berikut, diantaranya dikemukakan oleh Freud, tetapi
beberapa yang lain merupakan hasil pengembangan ahli psikoanalisis lainnya.
Reaction Formation (Pembentukan Reaksi)
Individu dikatakan mengadakan pembentukan reaksi adalah ketika dia berusaha
menyembunyikan motif dan perasaan yang sesungguhnya (mungkin dengan cara represi atau supresi),
dan menampilkan ekspresi wajah yang berlawanan dengan yang sebetulnya. Dengan cara ini individu
tersebut dapat menghindarkan diri dari kecemasan yang disebabkan oleh keharusan untuk menghadapi
ciri-ciri pribadi yang tidak menyenangkan. Kebencian, misalnya tak jarang dibuat samar dengan
menampilkan sikap dan tindakan yang penuh kasih sayang, atau dorongan seksual yang besar dibuat
samar dengan sikap sok suci, dan permusuhan ditutupi dengan tindak kebaikan.
Mekanisme pertahanan ego/diri pada manusia merupakan sebuah senjata tersembunyi yang
dimiliki, dan siap digunakan jika ego/diri terasa terancam. Menurut teori psikoanalisa mekanisme
pertahanan diri membantu individu mengatasi kecemasan dan mencegah terlukanya ego. Mekanisme
pertahanan diri ini tidak selalu negatif dan patologis tetapi bisa sebagai cara satu cara penyesuaian diri
untuk menghadapi suatu kenyataan.
Mekanisme-mekanisme pertahanan ini digunakan oleh individu tergantung pada taraf
perkembangan dan derajat kecemasan yang dialaminya. Mekanisme-mekanisme pertahanan memiliki
dua ciri yaitu menyangkal atau mendistorsi dan beroperasi pada taraf ketidaksadaran manusia.
Dibawah ini contoh-contoh mekanisme pertahanan diri (defend mechanism) yang biasa
dilakukan individu:
Penyangkalan
Penyangkalan adalah pertahanan melawan kecemasan menutup mata (pura-pura tidak
melihat) terhadap sebuah kenyataan yang mengancam. Individu menolak sejumlah aspek kenyataa
yang membangkitkan kecemasan.
Kecemasan atas kematian orang yang dicintai misalnya, dimanifestasikan oleh penyangkalan
terhadap fakta kematian. Dalam peristiwa-peristiwa trags seperti perang atau bencana-bencana
lainnya, orang-orang sering melakukan penyangkalan terhadap kenyataan-kenyataan yang

menyakitkan untuk diterima. Bila individu menyangkal kenyataan, maka dia menganggap tidak ada
atau menolak adanya pengalaman yang tidak menyenangkan (sebenarnya mereka sadari sepenuhnya)
dengan maksud untuk melindungi dirinya sendiri. Penyangkalan kenyataan juga mengandung unsur
penipuan diri.
Mengelak
Bila individu merasa diliputi oleh stres yang lama, kuat dan terus menerus, individu
cenderung untuk mencoba mengelak. Bisa saja secara fisik mereka mengelak atau mereka akan
menggunakan metode yang tidak langsung.
Proyeksi
Proyeksi adalah mengalamatkan peristiwa-peristiwa tertentu yang tidak bisa diterima oleh ego kepada
orang lain. Seseorang melihat pada diri orang lain hal-hal yang tidak disukai dan ia tidak bisa
menerima adanya hal-hal itu pada diri sendiri. Jadi, dengan proyeksi, seseorang akan mengutuk orang
lain karena kejahatannya dan menyangkal memiliki dorongan jahat seperti itu. Untuk menghindari
kesakitan karena mengakui bahwa di dalam dirinya terdapat dorongan yang dianggapnya jahat, ia
memisahkan diri dari kenyataan ini.
Individu yang menggunakan teknik proyeksi ini, biasanya sangat cepat dalam
memperlihatkan ciri pribadi individu lain yang tidak dia sukai dan apa yang dia perhatikan itu akan
cenderung dibesar-besarkan. Teknik ini mungkin dapat digunakan untuk mengurangi kecemasan
karena dia harus menerima kenyataan akan keburukan dirinya sendiri. Dalam hal ini, represi atau
supresi sering kali dipergunakan pula.
Fiksasi
Fiksasi maksudnya adalah terpaku pada tahap-tahap perkembangan yang lebih awal karena
mengambil langkah ketahap selanjutnya bisa menimbulkan kecemasan. Anak yang terlalu bergantung
menunjukkan pertahanan berupa fiksasi, untuk menghadapi kecemasan anak, hal ini dapat
menghambat anak dalam belajar mandiri. Dalam menghadapi kehidupannya individu dihadapkan
pada suatu situasi menekan yang membuatnya frustrasi dan mengalami kecemasan, sehingga
membuat individu tersebut merasa tidak sanggup lagi untuk menghadapinya dan membuat
perkembangan normalnya terhenti untuk sementara atau selamanya. Dengan kata lain, individu
menjadi terfiksasi pada satu tahap perkembangan karena tahap berikutnya penuh dengan kecemasan.
Individu yang sangat tergantung dengan individu lain merupakan salah satu contoh pertahan diri
dengan fiksasi, kecemasan menghalanginya untuk menjadi mandiri. Pada remaja dimana terjadi
perubahan yang drastis seringkali dihadapkan untuk melakukan mekanisme ini.
Regresi
Regresi adalah melangkah mundur ke fase perkembangan lebih awal yang tuntutantuntutannya tidak terlalu besar. Menarik DiriReaksi ini merupakan respon yang umum dalam
mengambil sikap. Bila individu menarik diri, dia memilih untuk tidak mengambil tindakan apapun.
Biasanya respons ini disertai dengan depresi dan sikap apatis. Contohnya, seorang anak yang takut
sekolah memperlihatkan tingkah laku infantile seperti menangis, mengisap ibu jari, bersembunyi dan
menggantungkan diri pada guru.

Rasionalisasi
Rasionalisasi adalah menciptakan alasan-alasan yang baik/benar guna menghindari ego
yang terluka; memalsukan diri sehingga kenyataan yang mengecewakan menjadi tidak begitu
menyakitkan. Orang yang tidak memperoleh kedudukan mengemukakan alasan, mengapa dia begitu
senang tidak memperoleh kedudukan sesungguhnya yang diinginkannya. Atau seorang pemuda yang
ditinggalkan kekasihnya, guna menyembuhkan egonya yang terluka ia menghibur diri bahwa sigadis
tidak berharga dan bahwa dirinya memang akan menendangnya.
Rasionalisasi sering dimaksudkan sebagai usaha individu untuk mencari-cari alasan yang
dapat diterima secara sosial untuk membenarkan atau menyembunyikan perilakunya yang buruk.
Rasionalisasi juga muncul ketika individu menipu dirinya sendiri dengan berpura-pura menganggap
yang buruk adalah baik, atau yang baik adalah yang buruk.
Sublimasi
Sublimasi adalah menggunakan jalan keluar yang lebih tinggi atau yang secara sosial lebih
dapat diterima bagi dorongan-dorongannya. Contohnya, dorongan agresif yang ada pada seseorang
disalurkan kedalam aktivitas bersaing di bidang olahraga sehingga dia menemukan jalan bagi
pengungkapan jalan agresifnya, dan sebagai tambahan dia bisa memperoleh imbalan apabila
berprestasi dibidang olahraga itu.
Displacement
Displacement adalah mengarahkan energy kepada objek atau orang lain apabila objek asal
atau orang yang sesungguhnya, tidak bisa dijangkau. Seorang anak yang ingin menendang
orangtuanya dialihkan kepada adiknya dengan menendangnya atau membanting pintu.
Represi
Represi adalah melupakan isi kesadaran yang traumatis atau yang bisa membangkitkan kecemasan;
mendorong kenyataan yang tidak diterima kepada ketidaksadaran, atau menjadi tidak menyadari halhal yang menyakitkan. Represi merupakan salah satu konsep Freud yang paling penting, yang
menjadi basis bagi banyak pertahanan ego lainnya dan bagi gangguan-gangguan neurotic. Represi
didefinisikan sebagai upaya individu untuk menyingkirkan frustrasi, konflik batin, mimpi buruk,
krisis keuangan dan sejenisnya yang menimbulkan kecemasan. Bila represi terjadi, hal-hal yang
mencemaskan itu tidak akan memasuki kesadaran walaupun masih tetap ada pengaruhnya terhadap
perilaku. Jenis-jenis amnesia tertentu dapat dipandang sebagai bukti akan adanya represi. Tetapi
represi juga dapat terjadi dalam situasi yang tidak terlalu menekan. Bahwa individu merepresikan
mimpinya, karena mereka membuat keinginan tidak sadar yang menimbulkan kecemasan dalam
dirinya. Sudah menjadi umum banyak individu pada dasarnya menekankan aspek positif dari
kehidupannya. Beberapa bukti, misalnya:

individu cenderung untuk tidak berlama-lama untuk mengenali sesuatu yang tidak
menyenangkan, dibandingkan dengan hal-hal yang menyenangkan,

berusaha sedapat mungkin untuk tidak melihat gambar kejadian yang menyesakkan dada,

lebih sering mengkomunikasikan berita baik daripada berita buruk, ebih mudah mengingat
hal-hal positif daripada yang negatif,

Supresi

Supresi merupakan suatu proses pengendalian diri yang terang-terangan ditujukan menjaga
agar impuls-impuls dan dorongan-dorongan yang ada tetap terjaga (mungkin dengan cara menahan
perasaan itu secara pribadi tetapi mengingkarinya secara umum). Individu sewaktu-waktu
mengesampingkan ingatan-ingatan yang menyakitkan agar dapat menitik beratkan kepada tugas, ia
sadar akan pikiran-pikiran yang ditindas (supresi) tetapi umumnya tidak menyadari akan dorongandorongan atau ingatan yang ditekan (represi)

Formasi reaksi
Formasi reaksi adalah melakukan tindakan yang berlawanan dengan hasrat-hasrat tak sadar;
jika perasaan-perasaan yang lebih dalam menimbulkan ancaman, maka seseorang menampilkan
tingkah laku yang berlawanan guna menyangkal perasaan-perasaan yang bisa menimbulkan ancaman
itu. Contohnya seorang ibu yang memiliki perasaan menolak terhadap anaknya, karena adanya
perasaan berdosa, ia menampilkan perasaan yang berlawanan yakni terlalu melindunginya atau
terlalu mencintainya. Orang yang menunjukkan sikap yang menyenangkan yang berlebihan atau
terlalu baik boleh jadi berusaha menutupi kebencian dan perasaan-perasaan negatifnya. Individu
dikatakan mengadakan pembentukan reaksi adalah ketika dia berusaha menyembunyikan motif dan
perasaan yang sesungguhnya (mungkin dengan cara represi atau supresi), dan menampilkan ekspresi
wajah yang berlawanan dengan yang sebetulnya. Dengan cara ini individu tersebut dapat
menghindarkan diri dari kecemasan yang disebabkan oleh keharusan untuk menghadapi ciri-ciri
pribadi yang tidak menyenangkan. Kebencian, misalnya tak jarang dibuat samar dengan menampilkan
sikap dan tindakan yang penuh kasih sayang, atau dorongan seksual yang besar dibuat samar dengan
sikap sok suci, dan permusuhan ditutupi dengan tindak kebaikan.
Fantasi
Dengan berfantasi pada apa yang mungkin menimpa dirinya, individu sering merasa
mencapai tujuan dan dapat menghindari dirinya dari peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan,
yang dapat menimbulkan kecemasan dan yang mengakibatkan frustrasi. Individu yang seringkali
melamun terlalu banyak kadang-kadang menemukan bahwa kreasi lamunannya itu lebih menarik dari
pada kenyataan yang sesungguhnya. Tetapi bila fantasi ini dilakukan secara proporsional dan dalam
pengendalian kesadaraan yang baik, maka fantasi terlihat menjadi cara sehat untuk mengatasi stres,
dengan begitu dengan berfantasi tampaknya menjadi strategi yang cukup membantu
Intelektualisasi
Apabila individu menggunakan teknik intelektualisasi, maka dia menghadapi situasi yang
seharusnya menimbulkan perasaan yang amat menekan dengan cara analitik, intelektual dan sedikit
menjauh dari persoalan. Dengan kata lain, bila individu menghadapi situasi yang menjadi masalah,
maka situasi itu akan dipelajarinya atau merasa ingin tahu apa tujuan sebenarnya supaya tidak terlalu
terlibat dengan persoalan tersebut secara emosional. Dengan intelektualisasi, manusia dapat sedikit
mengurangi hal-hal yang pengaruhnya tidak menyenangkan bagi dirinya, dan memberikan
kesempatan pada dirinya untuk meninjau permasalah secara ob yektif.