Anda di halaman 1dari 4

Perkembangan zaman menuntut pendidikan yang memberikan kompetensi yang sesuai

kebutuhan masyarakat. Berdasarkan penelitian dalam berbagai bidang ilmu seperti sains
diketahui bahwa peserta didik yang lulus dari berbagai sekolah di berbagai negara tidak
memiliki kemampuan untuk bersaing pada skala global karena tidak memiliki kemampuan
untuk berpikir secara kritis (Frijters et al,. 2008).
If knowledge is possessing facts, and thinking is the application of knowledge, critical
thinking, in the simplest of terms, becomes the application of knowledge in more complex
ways. This simple statement belies the complexity of critical thinking as there are other
aspects of critical thinking that go beyond the discerning of facts (Flores et al., 2012).
Facione (1996) menjelaskan bahwa berpikir kritis sebagai cognitive skill, di dalamnya
terdapat kegiatan interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, penjelasan, serta pengelolaan diri.
1. Interpretasi merupakan kemampuan untuk memahami dan menjelaskan pengertian
dari situasi, pengalaman, kejadian, data, keputusan, konvensi, kepercayaan, aturan,
prosedur, dan kriteria.
2. Analisis adalah mengidentifikasi beberapa pertanyaan-pertanyaan, konsep, deskripsi,
dan berbagai model yang dipergunakan untuk merefleksikan pemikiran, pandangan,
kepercayaan, keputusan, alasan, informasi dan opini.
3. Evaluasi adalah kemampuan untuk menguji kebenaran pernyataan yang digunakan
untuk menyampaikan pemikiran, persepsi, pandangan, keputusan, alasan, serta opini.
4. Inferensi adalah kemampuan untuk mengidentifikasi dan memilih elemen yang
dibutuhkan untuk menyusun simpulan yang memiliki alasan dan menegakkan
diagnosis untuk mempertimbangkan informasi apa saja yang dibutuhkan dan untuk
memutuskan konsekuensi yang harus diambil dari data, informasi, pernyataan,
kejadian, prinsip, opini, serta konsep.
5. Menjelasakan adalah kemampuan menyatakan hasil pemikiran, penjelasan alasan
berdasarkan pertimbangan bukti, konsep, metodelogi, kriteriologi, dan konteks.
6. Self regulation adalah kemampuan seseorang untuk mengatur sendiri dalam berpikir.
Berpikir kritis dimaksudkan sebagai berpikir yang benar dalam mencari pengetahuan yang
relevan dan reliabel dengan dunia realitas. Seorang yang berpikir secara kritis mampu
mengajukan pertanyaan yang baik, mengumpulkan informasi yang relevan, bertindak secara
efisien dan kreatif berdasarkan informasi, dapat mengembangkan argumen yang logis
berdasarkan informasi,
(Schafersman, 1991)

dan dapat mengambil

kesimpulan

yang

dapat dipercaya

Flores, et al (2012) menyatakan terdapat enam inti kemampuan berpikir kritis. The six core
critical thinking skills are analysis, inference, interpretation, explanation, self-regulation, and
evaluation.
Menurut Udi (2011), terdapat tujuh aspek kemampuan berpikir kritis. Seven aspects of
critical thinking were considered as objective assessment criteria for evaluating the
incorporation of critical thinking in students education and they are induction, deduction,
value judjing, observation, credibility, assumptions, and meaning.
Pengembangan kemampuan berpikir kritis dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti (1)
pengelolaan kelas, (2) kondisi fisik, (3) motivasi siswa, (4) kecemasan, (5) perkembangan
intelektual, dan (6) field independent.
(1) Pengelolaan kelas.
Pengelolaan kelas adalah cara guru menjalankan pembelajaran di kelas. Pengelolaan
kelas meliputi perencanaan pelaksanaan pembelajaran, strategi pengajaran, sumber
belajar, penilaian siswa, dan penilaian siswa.
(2) Kondisi fisik
Kondisi fisik adalah kebutuhan fisiologi yang paling dasar bagi manusia untuk menjalani
kehidupan. Ketika kondisi fisik siswa terganggu, sementara ia dihadapkan pada situasi
yag menuntut pemikiran yang matang untuk memecahkan suatu masalah maka kondisi
seperti ini sangat mempengaruhi pikirannya. Ia tidak dapat berkonsentrasi dan berpikir
cepat karena tubuhnya tidak memungkinkan untuk bereaksi terhadap respon yanga ada.
(3) Motivasi
Motivasi merupakan hasil faktor internal dan eksternal. Motivasi adalah upaya untuk
menimbulkan rangsangan, dorongan ataupun pembangkit tenaga seseorang agar mau
berbuat sesuatu atau memperlihatkan perilaku tertentu yang telah direncanakan untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Menciptakan minat adalah cara yang sangat baik
untuk memberi motivasi pada diri demi mencapai tujuan. Motivasi yang tinggi terlihat
dari kemampuan atau kapasitas atau daya serap dalam belajar, mengambil resiko,
menjawab pertanyaan, menentang kondisi yang tidak mau berubah kearah yang lebih
baik, mempergunakan kesalahan sebagai kesimpulan belajar, semakin cepat memperoleh
tujuan dan kepuasan, mempeerlihatkan tekad diri, sikap kontruktif, memperlihatkan
hasrat dan keingintahuan, serta kesediaan untuk menyetujui hasil perilaku.
(4) Kecemasan
Keadaan emosional yang ditandai dengan kegelisahan dan ketakutan terhadap
kemungkinan bahaya. Kecemasan timbul secara otomatis jika individu menerima
stimulus berlebih yang melampaui untuk menanganinya (internal, eksternal). Reaksi

terhadap kecemasan dapat bersifat; a) konstruktif, memotivasi individu untuk belajar dan
mengadakan perubahan terutama perubahan perasaan tidak nyaman, serta terfokus pada
kelangsungan hidup; b) destruktif, menimbulkan tingkah laku maladaptif dan disfungsi
yang menyangkut kecemasan berat atau panik serta dapat membatasi seseorang dalam
berpikir.
(5) Perkembangan intelektual
intelektual atau kecerdasan merupakan kemampuan mental seseorang untuk merespon
dan menyelesaikan suatu persoalan, menghubungkan satu hal dengan yang lain dan dapat
merespon dengan baik setiap stimulus. Perkembangan intelektual tiap orang berbedabeda disesuaikan dengan usia dan tingkah perkembanganya.
(6) Field independent
Field independent adalah gaya kognitif seseorang dengan tingkat kemandirian yang
tinggi dalam mencermati suatu rangsangan tanpa ketergantungan dari faktor-faktor luar
dan kurang dapat bekerja sama.
mempunyai

kecenderungan

Individu yang bergaya kognitif field independent

untuk

mencapai

prestasi

lebih

tinggi

dari

pada

kecenderungannya mengindari kegagalan. Mereka selalu optimis akan berhasil dan


cenderung akan mencapai prestasi yang maksimal (Sutiari, 2011).

Frijters, S., Geert, T. D., & Gert, R. 2008. Effects of dialogic learning on value-loaded critical
thinking. Elsevier Learning and Instruction. 18. 66-82. Terdapat pada
http://dare.uva.nl/document/2/62236. Diakses pada tanggal 10 Januari 2015.
Flores, K. L., Matkin, G. S., Burbach, M. E., Quinn, C. E., & Harding, H. 2012. Deficient
critical thinking skills among college graduates: implicatons for leardership. Educational
philosophy and theory. 44 (2). 212-230.
Facione, P. A. 1996. Externalizing the critichal thinking in clinical judgment. Nursing
outlook. 44. 129-139.
Schafersman, S. D. 1991. An introduction to critical thinking.
Udi, E. A, & Amit, M. 2011. Developing the skills of critical and creative thinking by
probability teaching. ELSEVIER Procedia social and behavioral sciences. 15. 1087-1091.
Ennis, R. H. 1985. Goal critical thinking curriculum.