Anda di halaman 1dari 16

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA DENGAN

DEPRESI
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah keperawatan jiwa
dengan dosen koordinator Sawab, S.Kep, Ns, M.Kep

DISUSUN OLEH :
Kelompok 2
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Dessy Tamara
Desy Krissanti
Dewi Susilowati
Elly Dwi Rahmawati
Etika Dharavina
Gita Prastika
Ida Kanti Romdani
Imam Irvani

(P.17420113048)
(P.17420113049)
(P.17420113050)
(P.17420113051)
(P.17420113052)
(P.17420113053)
(P.17420113054)
(P.17420113055)

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN SEMARANG


JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
TAHUN AJARAN 2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah mata kuliah
Keperawatan Jiwa yang berjudul Asuhan Keperawatan Jiwa dengan Depresi.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah
membantu dalam penyusunan makalah ini,
1. Bapak Sawab S.Kep, Ns, M.Kep, selaku dosen Mata Kuliah Keperawatan
Jiwa, DIII Keperawatan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan
Semarang yang telah membimbing penulis dalam pembuatan makalah ini.
2. Dosen pembimbing mata kuliah Keperawatan Jiwa
3. Pihak perpustakaan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan
Semarang yang telah membantu mendapatkan bahan-bahan yang
diperlukan dalam pembuatan makalah ini.
4. Keluarga dan teman-teman yang telah memberikan semangat sehingga
penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini penulis telah berusaha semaksimal
mungkin sesuai dengan kemampuan penulis. Namun sebagai manusia biasa,
penulis tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan baik dari segi teknik penulisan
maupun tata bahasa. Tetapi walaupun demikian penulis berusaha sebisa mungkin
menyelesaikan makalah meskipun tersusun sangat sederhana.
Demikian semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan para
pembaca pada umumnya. Penulis mengharapkan saran dan kritik dari berbagai
pihak yang bersifat membangun.

Semarang,

Januari 2015

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia dalam hidupnya pasti akan menemukan berbagai
permasalahan. Masalah masalah ini dapat menjadi stressor yang
mempengaruhi kesehatan mereka. Apabila stressor ini tidak di atasi dan
diselesaikan dengan baik, kondisi stress akan berlanjut dan seseorang
dapat jatuh ke fase depresi. Depresi didefinisikan sebagai kondisi
emosional yang biasanya ditandai dengan kesedihan yang amat sangat,
perasaan tidak berarti dan bersalah , menarik diri dari orang lain, tidak
dapat tidur, kehilangan selera makan, hasrat seksual dan minat serta
kesenangan dalam aktivitas yang biasa dilakukan (Davidson dkk, 2006).
Depresi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup serius dan
sering terjadi di masyarakat. WHO menyatakan bahwa depresi berada
dalam urutan ke empat penyakit di dunia. Sekitar 20% wanita dan 12%
pria , pada suatu waktu dalam kehidupannya pernah mengalami depresi.
Depresi biasanya berasal dari stress yang tdak diatasi. Penyakit ini
biasa diabaikan karena dianggap bias hilang sendiri tanpa pengobatan.
Padahal, depresi dapat menimbulkan dampak yang serius bahkan dapat
berakhir dengan bunuh diri. Diperkirakan 60% dari seluruh kejadian
bunuh diri dikaitkan dengan depresi. Secara global , 50% dari penderita
depresi berfikiran untuk bunuh diri, tetapi yang akhirnya mengakhiri
hidupnya adalah 15%. Selain itu, depresi berat juga dapat menimbulkan
munculnya berbagai penyakit fisik, seperti gangguan pencernaan
(gastritis), asma , gangguan pada pembuluh darah (kardiovaskuler), serta
menurunkan produktivitas. Sejak depresi sering di diagnosis, WHO
memperkirakan depresi akan menjadi penyebab utama masalah penyakit
dunia pada tahun 2020 (Sianturi, 2006 dalam luky, 2011). Berdasarkan

uraian diatas, peran perawat sangat penting dan dibutuhkan dalam


memberikan asuhan keperawatan yang tepat pada klien depresi.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan depresi?
2. Bagaimana klasifikasi depresi?
3. Apa penyebab depresi?
4. Bagaimana tanda dan gejala depresi?
5. Bagaimana psikopatologi depresi?
6. Bagaimana penatalaksanaan depresi?
7. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan depresi?
C. Tujuan
1. Mampu mengetahui apa yang dimaksud dengan depresi.
2. Mampu mengetahui klasifikasi depresi.
3. Mampu mengetahui penyebab depresi.
4. Mampu mengetahui tanda dan gejala depresi.
5. Mampu mengetahui psikopatologi depresi.
6. Mampu mengetahui penatalaksanaan depresi.
7. Mampu mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan depresi

BAB II
TINJAUN PUSTAKA
A. Pengertian
Depresi adalah gangguan alam perasaan (mood) yang ditandai dengan
kemurungan dan kesedihan yang mendalam dan berkelanjutan sehingga hilangnya
kegairahan hidup. (Hawari, 2001, hal.19). Depresi adalah suatu mood sedih
(disforia) yang berlangsung lebih dari empat minggu, yang disertai prilaku seperti
perubahan tidur, gangguan konsentrasi, iritabilitas, sangat cemas, kurang
bersemangat, sering menangis, waspada berlebihan, pesimis, merasa tidak
berharga, dan mengantisipasi kegagalan. (DSM-IV-TR,2000 dalam Videbeck,
2008, hal.388)
Depresi adalah suatu gangguan alam perasaan yang ditandai dengan
perasaan sedih dan berduka yang berlebihan dan berkepanjangan. (Purwaningsih,
2009, hal. 130). Depresi adalah keadaan emosional yang ditunjukkan dengan

kesedihan, berkecil hati, perasaan bersalah,penurunan harga diri,


ketidakberdayaan dan keputusasaan. (Isaacs, 2004, hal. 121)
Dari keempat pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa depresi adalah
gangguan alam perasaan yang disertai oleh komponen psikologik dan komponen
somatic yang terjadi akibat kesedihan yang panjang.
B. Klasifikasi
1.

Menurut gejalanya
a) Depresi neurotik
Depresi neurotik biasanya terjadi setelah mengalami peristiwa
yang menyedihkan tetapi yang jauh lebih berat daripada biasanya.
Penderitanya seringkali dipenuhi trauma emosional yang mendahului
penyakit misalnya kehilangan orang yang dicintai, pekerjaan, milik
berharga, atau seorang kekasih. Orang yang menderita depresi neurotik
bisa merasa gelisah, cemas dan sekaligus merasa depresi. Mereka
menderita hipokondria atau ketakutan yang abnormal seperti agrofobia
tetapi mereka tidak menderita delusi atau halusinasi.
b) Depresi psikotik
Secara tegas istilah 'psikotik' harus dipakai untuk penyakit depresi
yang berkaitan dengan delusi dan halusinasi atau keduanya.
c) Psikosis depresi manik
Depresi manik biasanya merupakan penyakit yang kambuh
kembali disertai gangguan suasana hati yang berat. Orang yang
mengalami gangguan ini menunjukkan gabungan depresi dan rasa cemas
tetapi kadang-kadang hal ini dapat diganti dengan perasaan gembira,
gairah, dan aktivitas secara berlebihan gambaran ini disebut 'mania'.

2.

Menurut Penyebabnya
a) Depresi reaktif
Pada depresi reaktif, gejalanya diperkirakan akibat stres luar
seperti kehilangan seseorang atau kehilangan pekerjaan.
b) Depresi endogenus
Pada depresi endogenous, gejalanya terjadi tanpa dipengaruhi oleh
faktor lain.

3.

Berdasarkan waktu terjadinya


a) Depresi postpartum, biasanya terjadi pada wanita hamil, kehamilan dapat
membawa banyak perubahan hormonal. Pergeseran dramatis kadang
mempengaruhi suasana hati. Hal ini umumnya dikenal sebagai blue
baby syndrome. Depresi postpartum lebih dari perasaan sedih setelah
melahirkan. Hal ini dapat sembuh dengan sendirinya akan tetapi apabila
sampai ke gejala psikosis postpartum, yang jika tidak diobati mungkin
bisa menyebabkan pembunuhan tragis anak-anak.

b) Premenstrual Dysphoric Disorder, depresi juga dapat terjadi pada


menjelang menstruasi yang disebut Premenstrual Dysphoric Disorder.
Gejala yang sering dilaporkan dari premenstrual syndrome (PMS)
anatara lain lekas marah, kelelahan, kegelisahan, ketegangan syaraf,

perubahan suasan hati, depresi, hilang kendali, selain gejala fisik seperti
pembengkakan atau kembung pada perut atau kaki, perubahan nafsu
makan dan payudara terasa sakit.
c) Depresi musiman, umumnya terjadi pada Negara-negara 4 musim,
dimana depresi kambuh pada musim dingin dan akan membaik kembali
pada musim semi atau panas.

C. Etiologi
a. Faktor Predisposisi
Terdapat 2 teori untuk menjelaskan faktor pendukung terjadinya depresii
1. Teori Biologis
a) Genetik. Dari sejumlah penyelidikan yang telah dilakukan ditemukan
bahwa terdapat dukungan keterlibatan herediter dalam penyakit depresi.
Luasnya akibat pada pokoknya tampak menjadi lebih tinggi diantara
individu-individu yang memiliki hubungan keluarga dengan kelainan
tersebut daripada diantara populasi umum
b) Biokimia. Ketidakseimbangan elektrolit tampak memainkan peranan
dalam penyakit depresif. Suatu kesalahan hasil metabolisme dalam
perubahan natrium dan kalium di dalam neuron. Teori biokimia yang
lainnya menyangkut biogenik amin norepinefrin, dopamin, dan
serotinin. Tingkatan zat-zat kimia ini mengalami defisiensi dalam
individu dengan penyakit depresif.

2. Teori Psikososial
a) Psikoanalisa. Teori ini melibatkan suatu ketidakpuasan dalam
hubungan awal ibu-bayi sebagai suatu predisposisi untuk penyakit
depresif. Kebutuhan bayi tidak terpenuhi, suatu kondisi yang
digambarkan sebagai suatu kehilangan. Respons berduka belum
terpecahkan, dan kemarahan dan permusuhan ditunjukkan kepada diri

sendiri. Ego tetap lemah, sementara superego meluas dan menjadi


menghukum.
b) Kognitif. Ahli teori-teori ini yakin bahwa penyakit depresif terjadi
sebagai suatu hasil dari kelainan kognitif. Kelainan proses pikir
membantu perkembangan evaluasi diri individu. Persepsi merupakan
ketidakadekuatan dan ketidakberhargaan. Pandangan untuk masa depan
merupakan suatu kepesimisan keputusasaan.
c) Teori Pembelajaran. Teori ini mengemukakan bahwa penyakit depresif
dipengaruhi oleh keyakinan individu bahwa ada kurang kontrol atau
situasi-situasi kehidupannya. Ini dianggap bahwa keyakinan ini muncul
dari pengalaman-pengalaman yang mengakibatkan kegagalan (baik
yang dirasakan atau yang nyata). Setelah sejumlah kegagalan, individu
merasa tidak berdaya untuk berhasil dalam usaha-usaha yang keras, dan
oleh karena itu berhenti mencoba. Pembelajaran ketidakberdayaan ini
digambarkan sebagai suatu predisposisi untuk penyakit depresif.
d) Teori Kehilangan Objek. Teori ini menyatakan bahwa penyakit depresif
terjadi jika pribadi tersebut terpisah dari atau ditolak orang terdekat
selama 6 bulan pertama kehidupan. Proses ikatan diputuskan, dan anak
menarik diri dari orang lain dan lingkungan.

b. Faktor Pencetus
Ada empat sumber utama stresor yang dapat mencetuskan gangguan alam
perasaan
1. Kehilangan keterikatan, yang nyata atau yang dibayangkan, termasuk
kehilangan cinta, seseorang, fungsi fisik, kedudukan, atau harga diri.
Karena elemen aktual dan simbolik melibatkan konsep kehilangan, maka
persepsi pasien merupakan hal yang sangat penting.
2. Peristiwa besar dalam kehidupan sering dilaporkan sebagai pendahulu
episode depresi dan mempunyai dampak terhadap masalah-masalah yang
dihadapi sekarang dan kemampuan menyelesaikan masalah.

3. Peran dan ketegangan peran telah dilaporkan mempengaruhi


perkembangan depresi, terutama pada wanita.
4. Perubahan fisiologik diakibatkan oleh obat-obatan atau berbagai penyakit
fisik, seperti infeksi, neoplasma, dan gangguan keseimbangan metabolik,
dapat mencetuskan gangguan alam perasaan.
D. Manifestasi Klinis
Gejala utama dari depresi adalah kehilangan minat atau kesenangan.
Pasien mengatakan bahwa mereka merasa murung, putus asa dalam kesedihan,
atau tidak berguna. Adapun tanda dan gejala depresi adalah;
1) Dimensi Fisik
a. gangguan primer pada struktur dan fungsi otak dan sistem saraf
b. perubahan kimiawi yaitu penurunan noreprineprin, serotonin dan
c.
d.
e.
f.
g.

peningkatan steroid
penurunan metabolisme
penurunan perawatan diri dan kebersihan diri
kehilangan energi dengan lelah dan lemah
penurunan aktivitas motorik
depresi mungkin berhubungan dengan adanya gangguan sistem
imun

2) Dimensi Intelektual
a. pemikiran negatif terhadap diri sendiri, dunia/lingkungan dan masa
depan
b. tidak mampu berfikir rasional
c. merasa tidak mampu mengontrol dirinya sendiri maupun
lingkungan
3) Dimensi Emosional
a. merasa takut dan cemas
b. merasa tidak berdaya dan putus asa
c. perasaan marah ditekan
4) Dimensi Sosial
a. hubungan antara orang depresi dengan orang lain kadangkala
terlihat seperti ketergantungan yang berlebihan
b. tingkah laku depresi mungkin sebagai usaha untuk memanipulasi
orang lain untuk memenuhi kebutuhannya
c. orang depresi merasa tidak mempunyai pendukung
d. menarik diri dari lingkungan dan hilang ketertarikan
E. Psikopatologi
Ada beberapa hipotesis tentang psikopatologi depresi, yaitu:

a) Hipotesis amin biogenic ( biogenic amine hypothesis) Hipotesis ini


menyatakan bahwa depresi disebabkan oleh kekurangan dalam senyawa
ketokelamin, yaitu: norepinefrin (NE), dan serotonin (5-HT)
b) Hipotesis permisif (permissive hypothesis), teori ini menyatakan bahwa
berkurangnya 5-HT menyebabkan depresi karena mengijinkan turunnya
kadar NE
c) Hipotesis sensitivitas reseptor, teori ini mengatakan bahwa reseptor yang
berada di di syaraf pasca sinaptik dapat mengalami supersensitivitas
d) Atrofi hippocampus, beberapa studi menunjukan bahwa pada pasien
dengan depresi unipolar mengalami volume hippocampus (bagian dari
otak dimana terdapat progenitor sel syaraf yang terus membelah dan
membentuk sel syaraf baru)
F. Penatalaksanaan
a. Terapi non farmakologi
1. Psikoterapi : untuk depresi ringan. Dibedakan menjadi 2, yaitu:
interpersonal dan cognitive-behavioral therapy. Sebuah studi
(Antonuccio, 1995): intervensi psikoterapi sama efektifnya dengan obat
antidepresan, tidak ada efek samping, murah merupakan first line
therapy pada depresi ringan
2. Electroconvulsive Therapy (ECT), Terapi dengan menggunakan
kejutan listrik, terapi yang aman dan efektif, tetapi dapat
menimbulkan adverse effect seperti disfungsi kognitif. Bukan
merupakan pilihan utama terapi non farmakologi. ECT dilakukan bila :
diperlukan respons yang cepat, terapi dengan obat tidak/kurang
menimbulkan respon
b. Terapi farmakolgi berdasarkan mekanisme aksi utamanya:
1. Antidepresan trisiklik ( TCA) mekanisme aksinya menghambat reuptake
5-HT dan norepinefrin contohnya amitriptilin, imipramine, klomipramin,
desipramin
2. Serotonin norepinephrine reuptake inhibitor (SNRI) mekanisme aksinya
menghambat reuptake 5-HT dan norepinefrin contohnya venalafaksin
3. Monoamin oksidase inhibitor (MAOI) mekanisme aksinya penghambatan
enzim monoamine oksidase contohnya fenelzine, tranilsipromin

4. Selective 5-HT reuptake inhibitor (SSRI) mekanisme aksinya


penghambatan reuptake 5-HT secara selektif contohnya fluoksetin,
sertalin, paroksetin, fluvoksamin
5. Aminoketon mekanisme aksinya penghambatan reuptake norepinefrin dan
dopamine contohnya bupropion
6. Triazolopyridin mekanismnya antagonis reseptor 5-HT 5-HT2A/
penghambatan reuptake 5-HT contohnya trazodon dan nefazodon
7. Tetrasiklik mekanismenya antagonis reseptor alfa2 adrenergik/5-HT
presinaptik contohnya Mirazapin
G. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Jiwa Depresi
1. Pengkajian
a. Faktor Predisposisi
a) Faktor Genetik
Mengemukakan transmisi gangguan alam perasaan
diteruskan melalui garis keturunan. Frekwensi gangguan alam
perasaan meningkat pada kembar monozigote dari dizigote.
b) Teori Agresi Berbalik pada Diri Sendiri
Mengemukakan bahwa depresi diakibatkan oleh perasaan
marah yang dialihkan pada diri sendiri. Diawali dengan proses
kehilangan terjadi ambivalensi terhadap objek yang hilang
tidak mampu mengekspresikan kemarahan marah pada diri
sendiri.
c) Teori Kehilangan
Berhubungan dengan factor perkembangan : misalnya
kehilangan orang tua pada masa anak, perpisahan yang bersifat
traumatis dengan orang yang sangat dicintai. Individu tidak
berdaya mengatasi kehilangan.
d) Teori kepribadian
Mengemukakan bahwa tipe kepribadian tertentu
menyebabkan seseorang mengalami depresi atau mania.
e) Teori Kognitif

Mengemukakan bahwa depresi merupakan masalah kognitif


yang dipengaruhi oleh penilaian negative terhadap diri sendiri,
lingkungan dan masa depan.
f) Teori Belajar Ketidakberdayaan
Mengemukakan bahwa depresi dimulai dari kehilangan
kendali diri, lalu menjadi pasif dan tidak mampu menghadapi
masalah. Kemudian individu timbul keyakinan akan
ketidakmampuan mengendalikan kehidupan sehingga ia tidak
berupaya mengembangkan respon yang adaptif.
g) Model perilaku
Mengemukakan bahwa depresi terjadi karena kurangnya
pujian (reinforcement) positif selama berinteraksi dengan
lingkungan.
h) Model Biologis
Mengemukakan bahwa pada keadaan depresi terjadi
perubahan kimiawi, yaitu defisiensi katekolamin, tidak berfungsi
endokrin dan hipersekresi kortisol.
b. Faktor Presipitasi
Stressor yang dapat menyebabkan gangguan alam perasaan
meliputi factor biologis, psikologis dan social budaya. Factor
biologis meliputi perubahan fisiologis yang disebabkan oleh obat
obatan atau berbagai penyakit fisik seperti infeksi, neoplasma dan
ketidakseimbangan metabolism. Factor psikologis meliputi
kehilangan kasih saying, termasuk kehilangan cinta, seseorang, dan
kehilangan harga diri. Factor social budaya meliputi kehilangan
peran, perceraian, kehilangan pekerjaan.
c. Perilaku dan Mekanisme koping
Perilaku yang berhubungan dengan depresi bervariasi. Pada
keadaan depresi kesedihan dan kelambanan dapat menonjol atau
dapat terjadi agitasi. Mekanisme koping yang digunakan pada
reaksi kehilangan yang memanjang adalah denial dan supresi, hal

ini untuk menghindari tekanan yang hebat. Depresi, yaitu perasaan


berduka yang belum digunakan adalah represi, supresi, denial dan
disosiasi.
2. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko mencederai diri berhubungan dengan depresi.
2. Gangguan alam perasaan: depresi berhubungan dengan koping
maladaptif.
3. Intervensi Keperawatan
a. Tujuan umum
: Klien tidak mencederai diri.
b. Tujuan khusus
:
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan

a) Perkenalkan diri dengan klien


b) Lakukan interaksi dengan pasien sesering mungkin dengan
sikap empati
c) Dengarkan pemyataan pasien dengan sikap sabar empati
dan lebih banyak memakai bahasa non verbal. Misalnya:
memberikan sentuhan, anggukan.
d) Perhatikan pembicaraan pasien serta beri respons sesuai
dengan keinginannya
e) Bicara dengan nada suara yang rendah, jelas, singkat,
sederhana dan mudah dimengerti
f) Terima pasien apa adanya tanpa membandingkan dengan
orang lain.
2. Klien dapat menggunakan koping adaptif
Tindakan :
a) Beri dorongan untuk mengungkapkan perasaannya dan
mengatakan bahwa perawat memahami apa yang dirasakan
pasien.
b) Tanyakan kepada pasien cara yang biasa dilakukan
mengatasi perasaan sedih/menyakitkan
c) Diskusikan dengan pasien manfaat dari koping yang biasa
Digunakan
d) Bersama pasien mencari berbagai alternatif koping.
e) Beri dorongan kepada pasien untuk memilih koping yang
paling tepat dan dapat diterima
f) Beri dorongan kepada pasien untuk mencoba koping yang
telah dipilih

g) Anjurkan pasien untuk mencoba alternatif lain dalam


menyelesaikan masalah.
3. Klien terlindung dari perilaku mencederai diri
Tindakan :
a) Pantau dengan seksama resiko bunuh diri/melukai diri
sendiri.
b) Jauhkan dan simpan alat alat yang dapat digunakan oleh
pasien untuk mencederai dirinya/orang lain, ditempat yang
aman dan terkunci.
c) Jauhkan bahan alat yang membahayakan pasien.
d) Awasi dan tempatkan pasien di ruang yang mudah dipantau
oleh perawat/petugas.
4. Klien dapat meningkatkan harga diri
Tindakan :
a) Bantu untuk memahami bahwa klien dapat mengatasi
keputusannya.
b) Kaji dan kerahkan sumber sumber internal individu.
c) Bantu mengidentifikasi sumber sumber harapan (misal:
hubungan antar sesama, keyakinan, hal hal untuk diselesaikan).
5. Klien dapat menggunakan dukungan sosial
Tindakan :
a) Kaji dan manfaatkan sumber sumber eksternal individu
(orang orang terdekat, tim pelayanan kesehatan, kelompok

6.

pendukung, agama yang dianut).


b) Kaji sistem pendukung keyakinan (nilai, pengalaman masa
lalu, aktivitas keagamaan, kepercayaan agama).
c) Lakukan rujukan sesuai indikasi (misal : konseling pemuka
agama).
Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat
Tindakan :
a) Diskusikan tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan
efek samping minum obat).
b) Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar
pasien, obat, dosis, cara, waktu).
c) Anjurkan membicarakan efek dan efek samping yang
dirasakan.
d) Beri reinforcement positif bila menggunakan obat dengan
benar

BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Depresi adalah suatu jenis alam perasaan atau emosi yang disertai
komponen psikologik : rasa susah, murung, sedih, putus asa dan tidak
bahagia, serta komponen somatik: anoreksia, konstipasi, kulit lembab (rasa
dingin), tekanan darah dan denyut nadi sedikit menurun.
Depresi disebabkan oleh banyak faktor antara lain : faktor heriditer
dan genetik, faktor konstitusi, faktor kepribadian pramorbid, faktor fisik,
faktor psikobiologi, faktor neurologik, faktor biokimia dalam tubuh, faktor
keseimbangan elektrolit dan sebagainya.

B. Saran
Sebagai tenaga profesional tindakan perawat dalam penangan
masalah keperawatan khusunya klien dengan Gangguan Alam Perasaan
harus memiliki pengetahuan yang luas dan tindakan yang dilakukan harus
rasional sesuai gejala penyakit dan asuhan keperawatan hendaknya
diberikan secara komprehensif, biopsikososial cultural dan spiritual.

DAFTAR PUSTAKA
Keliat B.A. 1999. Kumpulan Proses Keperawatan Masalah Keperawatan
Jiwa.
Jakarta : FIK-UI
Keliat B.A. 2005. Proses Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC
Marilynn E Doenges. 2006. Rencana Asuhan Keperawatan Psikiatri. Jakarta :

Penerbit Buku Kedokteran: EGC


Gibbson Towsend , M C, 1995. Kumpulan Keperawatan Jiwa. Jakarta : Buku
Kedokteran
Aziz R, dkk. 2003. Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang. RSJP
Dr.Amina : Gondo Utama
Carpenito, Lynda Juall. 2006. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC
http://www.scribd.com/LP-perilaku-kekerasan diakses pada Senin 26 Januari
2015