Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN KASUS PUSKESMAS BANGETAYU

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA LEPTOSPISORIS


DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANGETAYU
PERIODE 9 Juni 28 Juni 2014

Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat


Untuk Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung Semarang

..

Disusun oleh:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Afri Prabowo
Bayu Aji A.N.
Dewi Arini
Dita Putri
Rahmandi Agung S
Vivi Novita R.

(01.210.6069)
(01.210.6103)
(01.210.6122)
(01.210.6132)
(01.210.6250)
(01.210.6294)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2014

HALAMAN PENGESAHAN
1

Laporan Kegiatan Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat


PUSKESMAS BANGETAYU Periode 9 Juni 28 Juni 2014
Telah Disahkan

Semarang,

Juli 2014

Mengetahui

Kepala Puskesmas Bangetayu

dr. Suryanto Setyo Priyadi

Kepala Departemen IKM

dr. Ophi Indria Desanti, MPH

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan YME, yang telah memberikan
rahmat karunia dan hidayah, sehingga kami dapat menyelesaikan laporan kasus
yang berjudul Faktor yang mempengaruhi terjadinya leptospirosis di wilayah
kerja Puskesmas Bangetayu di Puskesmas Bangetayu.
Laporan kasus ini disusun untuk memenuhi tugas Kepaniteraan Klinik
Ilmu Kesehatan Masyarakat. Laporan ini memuat data tentang kasus Leptospirosis
di Puskesmas Bangetayu.
Laporan ini dapat terselesaikan berkat kerjasama tim dan bantuan dari
berbagai pihak. Untuk ini kami mengucapkan terima kasih sebesar - besarnya
kepada yang terhormat :
1. dr. Ophi Indria Desanti, MPH, kepala departemen IKM FK Unissula
Semarang.
2. Siti Thomas Zulaikah, SKM, MKes, Koordinator Pendidikan IKM FK
Unissula Semarang.
3. dr. Suryanto Setyo Priyadi, Kepala Puskesmas Bangetayu.
4. dr. Yuni Susanti, selaku pebimbing di Puskesmas Bangetayu.
5. Seluruh Staf Puskesmas Bangetayu.
6. Semua pihak yang telah membantu kami dalam penyusunan laporan kasus
ini.
Kami menyadari bahwa hasil penulisan Laporan kasus ini masih jauh dari
kata sempurna karena keterbatasan waktu dan kemampuan. Oleh karena itu kritik
dan saran yang membangun guna kesempurnaan dan perbaikan laporan kasus ini
agar lebih baik.
Akhir kata kami berharap semoga laporan kasus Leptospirosis di
Puskesmas Bangetayu ini bermanfaat bagi semua pihak.
Semarang,

Juli 2014

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Latar belakang

Leptospirosis adalah suatu penyakit infeksi akut yang dapat menyerang


manusia maupun hewan (Zoonosis). Penyakit ini disebabkan oleh Leptospira
interrogans kuman aerob (termasuk golongan Spirochaeta) yang berbentuk spiral
dan bergerak aktif (Goldstein, 2010).
Leptospirosis merupakan zoonosis yang paling tersebar luas di dunia di
daerah beriklim tropik dan subtropik yang basah. Leptospira bisa terdapat pada
binatang peliharaan seperti anjing, sapi, babi, kerbau, maupun binatang liar seperti
tikus, musang, tupai dan sebagainya. Di dalam tubuh hewan-hewan ini leptospira
hidup di ginjal dan air kemih. Manusia terinfeksi bakteri leptospira karena kontak
dengan air atau tanah yang terkontaminasi oleh urin atau cairan tubuh lainnya dari
hewan yang terinfeksi bakteri leptospira. Leptospira masuk lewat kulit yang luka
atau membran mukosa (Ashford, 2000 dan Harison, 2002).
Selain itu leptospirosis juga sering terjadi pada saat musim penghujan dan
saat banjir. Manifestasi klinik Leptospirosis sangat bervariasi, mulai dari infeksi
subklinik, demam anikterik yang ringan seperti influenza sampai dengan yang
berat dan berpotensi fatal yaitu penyakit Weil ( Weils disease atau Weila
syndrome ). Karena variasi kliniknya yang luas, penyakit ini bisa mirip dengan
infeksi Dengue, Malaria

ringan atau berat, demam Typhoid, Hepatitis virus,

infeksi Hantavirus, sepsis atau penyakit demam lain ( Levett PN et al, 2001).
Di Indonesia leptospirosis tersebar antara lain di Propinsi Jawa Barat, Jawa
Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu,

Riau, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Bali, NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi
Utara,Kalimantan Timur dan Kalimantan Bara (Widarso, 2002). Angka kematian
leptospirosis di Indonesia termasuk tinggi, mencapai 2,5-16,45%. Pada usia lebih
dari 50 tahun kematian mencapai 56%. Penderita Leptospirosis yang disertai
selaput mata berwarna kuning (kerusakan jaringan hati), risiko kematian akan
lebih tinggi (Widarso, 2002). Di beberapa publikasi angka kematian di laporkan
antara 3% - 54% tergantung sistem organ yang terinfeksi (Esen, 2004).
Leptospirosis umumnya menyerang para petani, pekerja perkebunan, pekerja
tambang/selokan, pekerja rumah potong hewan dan militer. Ancaman ini berlaku
pula bagi mereka yang mempunyai hobi melakukan aktivitas di danau atau di
sungai seperti berenang (Sarkar, 2002). Insiden pasti Leptospirosis tidak diketahui
karena penyakit ini sering kali tidak terdiagnosis (under - diagnosed) atau tidak
dilaporkan (under - reported).
Berdasarkan data dari puskesmas Bangetayu, pada tahun 2012 ditemukan 7
kasus leptospirosis dan tahun 2013 ditemukan 6 kasus leptospirosis. Data pada
bulan Januari-Mei 2014 ditemukan kasus 3 kasus leptopirosis. Hal ini
menandakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya leptospirosis di
daerah Bangetayu. (Data Puskesmas Bangeayu, 2014). Leptospirosis merupakan
salah satu penyakit yang berpotensi sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
Faktor perilaku kesehatan lingkungan yang meliputi perilaku sehubungan
dengan air bersih dan penggunaaan air bersih untuk kepentingan kesehatan,
perilaku sehubungan dengan limbah baik padat maupun cair. Termasuk di
dalamnya sistem pembuangan sampah dan air limbah yang sehat, serta dampak
pembuangan limbah yang tidak baik (Notoatmodjo, 2007).

Faktor lingkungan terhadap kejadian leptospirosis adalah faktor lingkungan


fisik, biologis, dan sosial. Faktor lingkungan fisik meliputi keberadaan air kotor
yang dapat menjadi media penularan leptospirosis secara tidak langsung.
Kontaminasi air dari kencing atau secret tubuh dari hewan yang terinfeksi bakteri
leptospira dapat menjadi sumber penularan, keberadaan parit atau selokan
merupakan tempat yg sering dijadikan habitat tikus ataupun jalur tikus untuk
masuk ke rumah, adanya genangan air serta jarak tempat kerja dengan tempat
pengumpulan sampah.
Pada laporan ini akan dibahas tentang faktor yang mempengaruhi kejadian
leptospirosis di wilayah kerja Puskesmas Bangetayu.
1.2.

Rumusan Masalah

Apa saja faktor yang mempengaruhi kejadian leptospirosis di wilayah kerja


Puskesmas Bangetayu?
1.3.

Tujuan

1.3.1. Tujuan Umum


Memperoleh informasi tentang faktor yang mempengaruhi
kejadian leptospirosis berdasarkan pendekatan HL. Blum.
1.3.2. Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengetahui

faktor perilaku yang mempengaruhi terjadinya

leptospirosis.
1.3.2.2 Mengetahui faktor pelayanan kesehatan yang mempengaruhi
terjadinya leptospirosis.
1.3.2.3 Mengetahui faktor lingkungan yang mempengaruhi terjadinya
leptospirosis.

1.4

Manfaat
1.4.1

Manfaat bagi mahasiswa


a. Memberikan masukan dan informasi ilmiah untuk
memperkaya keilmuan.
b. Menjadi rujukan untuk penelitian yang lebih lanjut.

1.4.2

Manfaat bagi masyarakat


a. Memberi rekomendasi langsung kepada masyarakat
untuk memperhatikan perilaku dan lingkungan
tempat tinggalnya.
b. Memberi rekomendasi kepada tenaga kesehatan
untuk lebih memberdayakan masyarakat dalam
upaya kesehatan promotif dan preventif penyakit
leptospirosis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Leptospirosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri
Leptospira dengan manifestasi spektrum klinik yang sangat luas berupa gejala
klinik yang ringan sampai berat dan fatal, yang merupakan penyakit pada
binatang (tikus dan binatang piaraan), dimana hewan tersebut dapat
memindahkan bakteri tersebut kepada manusia yang rentan. Penyakit tersebut
tersebar di seluruh dunia, terutama di negara-negara tropis dengan kondisi
lingkungan yang kurang baik seperti di Srilangka, India, Malaysia dan Korea
serta Indonesia. Indonesia merupakan negara tropis dimana sebagian besar
penduduknya hidup dalam kondisi higiene sanitasi yang kurang baik, sehingga
mempunyai kecenderungan insiden Leptospirosis yang tinggi (Rejeki, 2005).
2.2 Epidemiologi
Dalam mempelajari pengendalian penyakit menular seperti Leptospirosis,
banyak faktor yang harus diperhatikan, seperti aspek epidemiologik yang
mempelajari faktor - faktor risiko yang berperan dalam kejadian penyakit, faktor
biokimiawi dan manifestasi klinik serta masalah lingkungan yang menyangkut
lingkungan fisik, kimiawi, biologik, sosial dan ekonomi serta kultural.

Di

samping itu perlu memperhatikan ju oga apakah penyakit tersebut menjadi


masalah kesehatan masyarakat, dengan tolok ukur perhatian pada besarnya angka
morbiditas, mortalitas dan invaliditas yang terjadi di masyarakat. Dalam
kepustakaan lama selalu disebutkan bahwa Leptospirosis berat selalu
dihubungakan

dengan

serovar

icterohaemorrhagica. Tetapi berdasarkan

penelitian kami ternyata beberapa serovar Leptospira yang lain dapat juga
menyebabkan Leptospirosis berat ( Budiriyanto, 2002).
Di Indonesia leptospirosis tersebar antara lain di Propinsi Jawa Barat, Jawa
Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu,
Riau, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Bali, NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi
Utara, Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat. Angka kematian leptospirosis di
Indonesia termasuk tinggi, mencapai 2,5-16,45%. Pada usia lebih dari 50 tahun
kematian mencapai 56%. Penderita Leptospirosis yang disertai selaput mata
berwarna kuning (kerusakanjaringan hati), risiko kematian akan lebih tinggi. Di
beberapa publikasi angka kematian di laporkan antara 3 % - 54 % tergantung
system organ yang terinfeksi (Widarso dan Purba 2002).
Penularan penyakit ini pada manusia terjadi melalui kontak dengan air,
makanan, dan tanah yang terkontaminasi air kencing hewan yang terinfeksi.
Bakteri ini dapat hidup berbulan-bulan di tanah maupun air. Hewan yang menjadi
sumber penularan bakteri ini antara lain adalah hewan ternak, babi, kuda, anjing,
tikus, dan hewan liar. Banjir selain mengakibatkan ratusan orang terserang diare,
demam berdarah dengue, infeksi saluran pernapasan akut, dan gangguan kulit,
juga menyebabkan merebaknya suatu penyakit yang jarang terdengar pada harihari biasa: leptospirosis (Swastika, 2009).
2.3 Pembagian leptospirosis
Pendekatan secara diagnosis leptospirosis dibagi menjadi :
a.

Leptospirosis ringan (anikterik) yang terdiri dari 2 fase/stadium yaitu fase


leptospiremia/ fase septikemia dan fase imun, yang dipisahkan oleh

periode asimtomatik. Manifestasi klinis berupa demam ringan atau tinggi


yang bersifat remiten, mialgia terutama pada otot betis, conjungtival
suffusion (mata merah), nyeri kepala, menggigil, mual, muntah dan
anoreksia, meningitis aseptik non spesifik. Pada leptospirosis ikterik,
pasien terus menerus dalam keadaan demam disertai sklera ikterik, pada
keadaan berat terjadi gagal ginjal akut, ikterik dan manifestasi
b.

perdarahan yang merupakan gambaran klinik khas penyakit Weil.


Leptospirosis berat (ikterik), gejalanya: demam dapat persisten dan fase
imun menjadi tidak jelas atau nampak tumpang tindih dengan fase
septicemia.

2.4 Gambaran klinik


Gambaran klinik dari leptospirosis :

10

1. Fase Septisemik
Fase Septisemik dikenal sebagai fase awal atau fase leptospiremik
karena bakteri dapat diisolasi dari darah, cairan serebrospinal dan
sebagian besar jaringan tubuh. Pada stadium ini, penderita akan
mengalami gejala mirip flu selama 4-7 hari, ditandai dengan demam,
kedinginan, dan kelemahan otot Gejala lain adalah sakit tenggorokan,
batuk, nyeri dada, muntah darah, nyeri kepala, takut cahaya, gangguan
mental, radang selaput otak (meningitis), serta pembesaran limpa dan
hati. Selain itu ada juga gejala lain seperti Malaise , Rasa nyeri otot
betis

dan

punggung

Konjungtivitis

tanpa

disertai

eksudat

serous/porulen (kemerahan pada mata).


2. Fase Imun

11

Fase Imun sering disebut fase kedua atau leptospirurik karena


sirkulasi antibodi dapat dideteksi dengan isolasi kuman dari urin, dan
mungkin tidak dapat didapatkan lagi dari darah atau cairan
serebrospinalis Fase ini terjadi pada 0-30 hari akibat respon pertahanan
tubuh terhadap infeksi. Gejala tergantung organ tubuh yang terganggu
seperti selaput otak, hati, mata atau ginjal dan Terbentuk anti bodi di
dalam

tubuh

penderita

.Gejala

yang

timbul

lebih

bervariasi

dibandingkan dengan stadium pertama . Apabila demam dengan gejalagejala

lain

timbul

kemungkinan

akan

terjadi

meningitis.

Stadium ini terjadi biasanya antara minggu kedua dan keempat . Jika
yang diserang adalah selaput otak, maka akan terjadi depresi,
kecemasan, dan sakit kepala. pemeriksaan fungsi hati didapatkan
jaundis, pembesaran hati (hepatomegali), dan tanda koagulopati.
Gangguan paru-paru berupa batuk, batuk darah, dan sulit bernapas.
Gangguan hematologi berupa peradarahan dan pembesaran limpa
(splenomegali).

Kelainan

jantung

ditandai

gagal

jantung

atau

perikarditis. Meningitis aseptik merupakan manifestasi klinis paling


penting pada fase imun. Leptospirosis dapat diisolasi dari darah selama
24-48 jam setelah timbul jaundis Pada 30 persen pasien terjadi diare
atau kesulitan buang air besar (konstipasi), muntah, lemah, dan kadangkadang penurunan nafsu makan Kadang-kadang terjadi perdarahan di
bawah kelopak mata dan gangguan ginjal pada 50 persen pasien, dan
gangguan paru-paru pada 20-70 persen pasien. Gejala juga ditentukan
oleh serovar yang menginfeksi. Sebanyak 83 %penderita infeksi L.

12

icterohaemorrhagiae mengalami ikterus, dan 30 % pada L. pomona


Infeksi L. grippotyphosa umumnya menyebabkan gangguan sistem
pencernaan.

Sedangkam

L.

pomona

atau

L.

canicola

sering

menyebabkan radang selaput otak (meningitis).


3. Sindrom Weil
Sindrom Weil adalah bentuk Leptospirosis berat ditandai jaundis,
disfungsi ginjal, nekrosis hati, disfungsi paru-paru, dan diathesis
perdarahan Kondisi ini terjadi pada akhir fase awal dan meningkat pada
fase kedua, tetapi bisa memburuk setiap waktu Kriteria penyakit Weil
tidak dapat didefinisikan dengan baik. Manifestasi paru meliputi batuk,
kesulitan bernapas, nyeri dada, batuk darah, dan gagal napas Disfungsi
ginjal dikaitkan dengan timbulnya jaundis 4-9 hari setelah gejala awal
Penderita dengan jaundis berat lebih mudah terkena gagal ginjal,
perdarahan dan kolap kardiovaskular. Kasus berat dengan gangguan
hati dan ginjal mengakibatkan kematian sebesar 20-40 persen yang
akan meningkat pada lanjut usia.

BAB III
ANALISA SITUASI

13

A. Data Umum
Secara Geografis Puskesmas Bangetayu berada pada ketinggian tanah dari
permukaan laut 1,5 2 meter yang makin kearah utara makin rendah sehingga
bila hujan lebat di beberapa daerah akan tergenang air.
Luas wilayah Puskesmas Bangetayu 11,67 km2 dengan junlah penduduk
526655 jiwa dan mempunyai beberapa Gedung pelayanan, diantaranya pelayanan
Gedung Rawat Jalan, Gedung Rawat inap, dan Ruang Pertemuan. Yang
mempunyai batas batas sebagai berikut :
Bagian utara

: Kelurahan Banjardowo.

Bagian Selatan : Kecamatan Pedurungan.


Bagian Barat

: Kecamatan Muktiharjo Lor.

Bagian Timur

: Kabupaten Demak.

Data umum Puskesmas tentang sumber daya meliputi : Data Wilayah dan
Fasilitas Pelayanan Kesehatan, Data Ketenagaan Dalam Wilayah Kerja,
Keadaan Sarana Dan Prasarana Kesehatan, Penduduk dan Sasaran Program di
Wilayah Kerja, Data Sekolah Dan Jumlah Kader Kesehatan Sekolah

B. Data penderita
3.1.1 Data Penderita
3.1.1. Identitas Pasien

14

Nama

: Ny.M

Jenis kelamin

: Perempuan

Umur

: 57 th

Agama

: Islam

Alamat

: Sembungharjo RT 02/ RW IV Kel.


Sembungharjo

Kec. Genuk

Pekerjaan

: Pedagang (Pasar Johar)

Diagnosa medik

: Leptospirosis

3.1.2. Keluhan Pasien


Keluhan utama: Demam
3.1.3. Anamnesis
A. Riwayat Penyakit Sekarang
Sebelum masuk Rumah Sakit pasien mengeluh badan lemas
cepat lelah setelah pulang bekerja. Gejala tersebut muncul
selama 5 hari berturut-turut, setelah itu pasien mengeluh
demam. Demam mulai dirasakan pada pagi hari, kemudian oleh
keluarga dibawa ke dokter (puskesmas), akan tetapi belum
sempat obat diminum malam harinya pasien mengeluh panas
semakin tinggi, kemudian dibawa ke klinik swasta karena
keesokan harinya panasnya semkin tinggi maka pasien dilarikan
di RSUD kodya Semarang. Pasien di rawat di RSUD Kodya
Semarang selama 20 hari.
B. Riwayat Penyakit Dahulu.
Pasien tidak pernah sakit seperti ini sebelumnya
Riwayat Darah Tinggi

: disangkal

15

Riwayat Kencing manis

: disangkal

Riwayat Penyakit Jantung : disangkal


Riwayat Penyakit Ginjal

: disangkal

C. Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak didapatkan keluarga yang mengalami keluhan yang sama.
D. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien tinggal dengan kedua anaknya, satu menantunya dan
kedua cucunya. Pasien bekerja sebagai penjual kelapa di daerah
pasar johar. Biaya pengobatan ditanggung BPJS.
3.1.4. Pemeriksaan fisik
Tanda Vital
Kesadaran
Suhu

: 37,6 C

Nadi

: 85 x per menit

Tekanan darah

: 125/80 mmHg

Pernapasan

: 22x permenit

Kepala
Leher

: Composmentis

: Normal
: Pembesaran KGB (-), Deviasi

Trakhea (-)
Mata
: dbn
Hidung
: Sekret (-), nafas cuping hidung (-)
Telinga
: gangguan pendengaran (-)
Mulut
: bibir kering (-), sianosis (-)
Thorak
Cor
Inspeksi
: Ictus cordis tampak
Palpasi
: Ictus cordis kuat angkat
Perkusi
: redup, batas dbn
Auskultasi
: regular

16

Pulmo
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

Abdomen
Ekstremitas atas
Ekstremitas bawah

: simetris
:dbn
:dbn
: dextra vesikuler, ronki (-)
Sinistra vesikuler, ronki (-)
: dbn
:dbn
: kulit terkelupas pada telapak kaki

3.1.5. Pemeriksaan tambahan


Px Penunjang : Hasil laboratorium tidak terdokumentasi oleh pasien
3.1.6. Diagnosa
Leptospirosis
3.1.7. Terapi
Terlampir.
3.1.8. Data Puskesmas
Identitas keluarga
Tabel 2.1. Data identitas anggota keluarga
N

Anggota

keluarga

Hubungan
dengan
pasien

Jenis

Umu

Pendidika

Pekerjaa

Kelamin

Ny. M

Pasien

Perempuan 57 th

SD

Pedagang

Tn.A

Anak

Laki-laki

SMP

Swasta

Perempuan 33th

SD

Swasta

SMP

pelajar

33 th

kandung
3

Ny.E

Anak
Kandung

An.DB

Cucu

Laki-laki

14 th

An. DS

Cucu

Perempuan 4,5 th

Tn. Z

Menantu

Laki-Laki

SMA

Swasta

45 th

17

3.1.9. Data Lingkungan


A. Data Individu
Pasien berusia 57 tahun, pedagang kelapa, tinggal serumah dengan
2 orang anak 1 menantu dan 2 cucu.
B. Data ekonomi
Pasien adalah pedagang kelapa di Pasar Johar dengan penghasilan
Rp. 20.000 30.000 perhari. Suami sudah meninggal. Pasien berobat
dengan BPJS.
C. Lingkungan Rumah
Rumah pasien luasnya 60 m2 yang dihuni oleh 7 orang, sehingga di
dapatkan 8 m2 /orang dan . Lantai rumah bagian depan dan belakang
semen. Lingkungan sekitar rumah kotor. Terdapat genangan air di
belakang rumah. Pembuangan sampah di belakang rumah. Pasien
memiliki WC atau jamban.
D. Masyarakat
Keluarga pasien mempunyai hubungan baik dengan tetangga
maupun orang lain. Tetangga pasien tidak ada yang menderita
leptospirosis.
E. Lingkungan Kerja
Pasien bekerja menjual kelapa di daerah Pasar Johar. Lapak dari pasien
berdekatan dengan sampah serta banyak wirok berkeliaran. Pada musim
hujan ataupun rob lapak tersebut selalu tergenang air.
3.1.10. Data Perilaku

18

Pasien sehari-hari bekerja sebagai penjual kelapa di daerah Pasar Johar.


Sebelum sakit pasien tidak menggunakan APD pada tempat kerjanya,
padahal tempat kerja tersebut tergenang air karena rob dan banjir serta
banyak werok berkeliaran. Dirumah pasien tidak menggunakan lampu
yang terang sehingga wirok banyak berkeliaran di rumahnya.
3.1.11. Data akses pelayanan yang terdekat
Akses pelayanan kesehatan yang terdekat adalah puskesmas
Bangetayu. Cara tempuh dengan kendaraan pribadi/ motor.
3.1.12. Data Genetika
Kasus leptopirosis tidak dipengaruhi oleh genetika seseorang. Hal
itu dikarenakan leptospirosis merupakan penyakit menular yang ditularkan
melalui port d entry serta dapat dipengaruhi oleh sanitasi yang buruk.

19

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1. Analisis Penyebab Masalah


Berdasarkan data diatas, dengan menggunakan pendekatan HL
BLUM untuk menyelesaikan permasalah Leptospirosis, didapatkan data bahwa
lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan genetika/kependudukan dapat
mempengaruhi terjadinya Leptospirosis.
Gambaran Proses dan Masalah yang Diamati
Pendekatan HL BLUM

Lingkungan :
Terdapat tikus di rumah dan tempat kerja
Tempat kerja dekat dengan tempat pembuangan
sampah
Tidak mencerminkan rumah sehat

Genetik :

Leptospirosis

Tidak ada masalah

Pelayanan Kesehatan :
Tidak ada masalah

Perilaku :
Tidak memakai APD saat bekerja
Tidak melakukan PHBS

Gambar 4.1 Pendekatan HL BLUM


11
16

4.2. Pembahasan Analisis Masalah


4.2.1. Perilaku
a) Tidak memakai APD
Pasien tidak memakai APD di lokasi pekerjaan.
Dengan

tidak

memakai

alat

pelindung

diri

akan

mengakibatkan kemungkinan masuknya bakteri leptospira


masuk tubuh melalui pori-pori tubuh terutama kulit kaki
dan tangan.
b) Tidak melakukan PHBS
4.2.2. Lingkungan
a) Lingkungan Fisik
Lokasi pekerjaan pasien terdapat banyak tikus,
merupakan tempat yang banyak genangan air pasca banjir.
Terdapat parit dan selokan di sekitar rumah pasien,
b) Jarak sampah
Jarak tempat pembuangan sampah dari lokasi
pekerjaan kurang dari 200 meter sehingga mengakibatkan
kemungkinan kontak dengan tikus semakin besar.
c) Lingkungan biologis
Populasi tikus sekitar lokasi pekerjaan dan rumah.
Keberadaan hewan sebagai hospes perantara. Terdapat
hospes perantara terjadinya leptospirois yaitu wirok.

d) Lingkungan ekonomi
17
17
12

Jenis pekerjaan merupakan faktor risiko penting


dalam kejadian penyakit leptospirosis, Pekerjaan pasien
sebagai pedagang buah kelapa dan letak lokasi kerja yang
berdekatan dengan tempat pembuangan sampah. Kondisi
tempat berkeja yang selalu berhubungan dengan air dan
tanah serta hewan dapat menjadi salah satu faktor risiko
terjadinya proses penularan penyakit leptospirosis. Air dan
tanah yang terkontaminasi urin tikus yang terinfeksi
leprospira

menjadi

mata

rantai

penularan

penyakit

leptospirosis.
e) Lingkungan sosial budaya
Pendidikan pasien yang rendah akan membawa
ketidaksadaran terhadap berbagai risiko paparan penyakit
yang ada disekitarnya.
4.3. Prioritas Masalah
Permasalahan yang teridentifikasi tersebut kemudian ditentukan prioritas
masalahnya dengan metode Hanlon Kualitatif dengan 3 kelompok criteria :
a) Kelompok kriteria Urgensi
Pertimbangan ini dari aspek waktu, masih dapat ditunda atau harus segera
ditanggulangi. Semakin pendek tenggang waktunya, semakin mendesak
untuk ditanggulangi
b) Kelompok kriteria Kegawatan
Besarnya akibat atau kerugian yang dinyatakan dalam besaran kuantitatif
berupa rupiah, orang, dll.
c) Kelompok kriteria Growth

18
13

Kecenderungan atau perkembangan akibat dari suatu permasalahan.


Semakin berkembang masalah, semakin diprioritaskan.

Metode Hanlon Kualitatif


Kriteria Urgensi
1
1

TH (+)

2
3
4
5

19

TH (-)

TH (+)

Total

Keterangan :
1. Tidak memakai APD saat bekerja
2. Tempat kerja dekat dengan tempat pembuangan sampah

14

3. Terdapat tikus di rumah dan tempat kerja


4. Tidak mencerminkan rumah sehat
5. Tidak melakukan PHBS

Metode Hanlon Kualitatif


Kriteria Seriously
1
1

20
2

TH (+)

2
3
4
5

1.
2.
3.
4.
5.

TH (-)

TH (+)

Total

Keterangan :
Tidak memakai APD saat bekerja
Tempat kerja dekat dengan tempat pembuangan sampah
Terdapat tikus di rumah dan tempat kerja
Tidak mencerminkan rumah sehat
Tidak melakukan PHBS

Metode Hanlon Kualitatif

21

Kriteria Growth

15

1
1

TH (+)

2
3
4
5

TH (-)

TH (+)

Total

Keterangan :
1.
2.
3.
4.
5.

Tidak memakai APD saat bekerja


Tempat kerja dekat dengan tempat pembuangan sampah
Terdapat tikus di rumah dan tempat kerja
Tidak mencerminkan rumah sehat
Tidak melakukan PHBS
Urutan Prioritas Masalah
Masalah

Total

Prioritas
22
I

11

IV

II

III

Berdasarkan hasil diskusi dengan menggunakan metode Hanloon


Kualitatif didapatkan prioritas penyebab masalah sebagai berikut :
1. Tidak memakai APD saat bekerja.

16

2. Terdapat tikus di rumah dan di tempat kerja.


3. Tidak mencerminkan rumah sehat.
4. Tempat kerja dekat dengan pembuangan sampah.
5. Tidak melakukan PBHS.
4.4. Pengendalian Leptospirosis
Langkah pencegahan primer adalah mengendalikan agar tidak terjadi
kontak leptospira pada manusia yang meliputi :
a) Pencegahan hubungan dengan air/ tanah yang terkontaminasi
Para pekerja yang mempunyai risiko tinggi terinfeksi
dianjurkan memakai pakaian khusus yang dapat melindungi
kontak dengan bahan yang telah terkontaminasi, misal : sepatu
bot dan sarung tangan.
b) Melindungi sanitasi air minum penduduk
Pengelolaan air minum yang baik untuk mencegah invasi
23
leptospira. pH air sawah diturunkan menjadi asam dengan
pemakaian pupuk/bahan kimia, sehingga jumlah dan virulensi
leptospira berkurang.
c) Pengendalian hospes perantara leptospira
Rodent yang diduga paling poten sebagai karier leptospira
adalah tikus. Untuk itu dapat dilakukan beberapa cara seperti
penggunaan trapping, penggunaan racun tikus dan penggunaan
predator rodent.
d) Usaha promotif dengan edukasi.
Penyuluhan oleh petugas kesehatan kepada masyarakat
tentang

pengenalan

gejala

leptospirosis

dan

pencegahan

leptospirosis.

17

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

24

5.1. Kesimpulan
Dari hasil kunjungan dan analisa masalah, dapat disimpulkan bahwa
faktor yang mempengaruhi terjadinya kejadian leptospirosis pada kasus ini
adalah :
1.
2.
3.
4.
5.

Tidak memakai APD saat bekerja


Terdapat tikus di rumah dan lingkungan kerja
Tempat kerja dekat dengan tempat pembuangan sampah
Tidak mencerminkan rumah sehat
Tidak melakukan PHBS

5.2. Saran
Saran untuk penderita dan lingkungan masyarakat adalah
1. Memakai alat pelindung diri saat bekerja terutama ketika musim
penghujan
2. Menjaga kebersihan lingkungan rumah dan tempat kerja
3. Melakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di rumah

25
18

POA (PLAN OF ACTION)


Masalah

Kegiatan

Tujuan

Sasaran

Tidak
memakai
APD saat
bekerja

- Memberikan
sepatu boot.

Mencegah
penularan
virus
leptospiro
sis
melalui
kaki

Pasien

Adanya
tikus di
rumah
karena
rumah
gelap

Memberikan
lampu
/penerangan .

Mencegah
tikus
masuk
rumah

Keluarga
Pasien

- Memberikan
penyuluhan antar
pedagang di
pasar johar.

Pedagang
yang
berada di
sekitar
tempat
kerja
pasien

Meto
de

Tempa
t

Waktu

Biaya

Pelaksanaa
n

Indikator

Di
tempat
kerja
pasien

Senin,
24
Juni
2014

Kas
Kelompo
k

Dokter
muda fk
Unissula

Kesadaran untuk
memakai APD.

Di
rumah
pasien

Senin,
24
Juni
2014

Kas
kelompok

Dokter
muda fk
Unissula

Menggunakan
lampu/penerangan
pada ruangan
rumah yang gelap.
Adanya tikus
yang masuk
dalam prangkap
(trapping) tikus.

Memberikan
trapping tikus.

Menghindari
tercemarnya air
terkontaminasi
tikus.

Memberikan
kesepakatan
untuk menutup
tempat
penampungan
air.
Tidak
melakukan
PHBS

Penyuluhan
PHBS pada
rumah tangga
dan lingkungan
luar saat
pertemuan PKK

Lingkungan
sekitar juga
paham tentang
maksud
penggunaan APD.

Mengetah
ui PHBS
di rumah
tangga

Pasien dan
lingkunga
n sekitar

Di
rumah
warga
pertem
uan
PKK

6 Juli
2014

Kas
Kelompo
k

Dokter
muda fk
Unissula

Menerapkan
PHBS di rumah
tangga dan
lingkungan
sekitar.

19

BAB VI
PENUTUP
Demikianlah laporan dan pembahasan mengenai analisa faktor yang
mempengaruhi kejadi leptospirosis di Puskesmas Bangetayu Semarang.
Kami menyadari bahwa kegiatan ini sangat penting dan bermanfaat bagi
26
para calon dokter, khususnya yang kelak akan terjun di puskesmas sebagai Health
Provider, Manager, Decision Maker, dan Communicator sebagai wujud peran serta
dalam pembangunan kesehatan.
Akhir kata kami berharap laporan ini dapat bermanfaat sebagai bahan
masukan dalam usaha pencegahan mengenai faktor yang mempengaruhi kejadian
leptospirosis di wilayah kerja Puskesmas Bangetayu Semarang .

26

20
27

DAFTAR PUSTAKA
1. Goldstein, E.R., 2010, Canine Leptospirosis, Department of Clinical
Sciences, Cornell University, USA.
2. Rejeki, S.S.D., 2005, Faktor Risiko Lingkungan Yang Berpengaruh
Terhadap Kejadian Leptospirosis Berat, Universitas Diponegoro ,
Semarang.
3. Priyambodo, Swastiko. 2006. Hama Pemukiman Indonesia (Pengenalan,
Biologi, Pengendalian). IPB unit kajian pengendalian hama pemukiman
fakultas kedokteran hewan. Bogor.
4. Widarso, S.H., dan Purba, W. 2002. Kebijakan Departemen
Kesehatan dalam Penanggulangan Leptospirosis di Indonesia. Kumpulan
Makalah Simposium Leptospirosis. Badan Penerbit Universitas
Diponegoro, Semarang.

KRITERIA RUMAH SEHAT

21

Puskesmas

: Bangetayu

Kecamatan

: Genuk

Kelurahan

: SembungHarjo

RT/RW

: 02/IV

IdentitasKeluarga:
1.
2.
3.
4.

Nama
Umur
Jeniskelamin
Pekerjaan

: Ny.Musni
: 57 tahun
: Perempuan
: Pedagang

No
1

Variabel
Lokasi

Kepadatanhunian

Lantai

Pencahayaan

Ventilasi

Air bersih

Skor

a. Tidakrawanbanjir
b. Rawanbanjir

a. Tidakpadat (>8m2/orang)
b. Padat (<8m2/orang))

a. Semen ubin, keramik,kayu


b. Tanah

a. Cukup
b. Tidakcukup

a. Ada ventilasi
b. Tidakada

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Air dalamkemasan
Ledeng/PAM
Mata air terlindung
Sumurpompatangan
Sumurterlindung
Sumurtidakterlindung
Mata air tidakterlindung
Lain-lain

3
2
2
2

22

1
1
1
7

Pemb.Kotoran

a.
b.
c.
d.
e.

Leherangsa
Plengsengan
Cemplung
Kolamikan/sungai
Tidakada

3
2
2
1
1

Septic tank

a. Septic tank denganjarak> 10 meter


darisumber air minum
b. Lainnya

1
9

Kepemilikan WC

a. Sendiri
b. Bersama
c. Tidakada

3
2
1

10

SPAL

a. Salurantertutup
b. Saluranterbuka
c. Tanpasaluran

3
2
1

11

Saluran got

a.
b.
c.
d.

Mengalirlancar
Mengalirlambat
Tergenang
Tidakada got

3
2
1
1

12

Pengelolaansampah

a.
b.
c.
d.
e.
f.

Diangkutpetugas
Ditimbun
Dibuatkompos
Dibakar
Dibuangke kali
Di buangsembarangan

3
2
3

23

g. Lainnta

2
1
1
1

13

Polusiudara

a. Tidakadagangguanpolusi
b. Ada gangguan

1
14

Bahanbakarmasak

a.
b.
c.
d.

Listrik,gas
Minyaktanah
Kayubakar
Arang/batubara

3
2
1
1

SkorKategoriRumahSehat :
Baik

: skor 35 42 (>83%)

Sedang

: skor 29 34 (69 83%)

Kurang

: skor< 29% (<69%)

SKOR : 23

KUESIONER PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT


PADA TATANAN RUMAH TANGGA
24

Puskesmas

: Bangetayu

Kecamatan

: Genuk

Kelurahan

: SembungHarjo

RT/RW

: 02/IV

IdentitasKeluarga:
1.
2.
3.
4.

Nama
Umur
Jeniskelamin
Pekerjaan
N
o

:Ny.Musni
: 57 tahun
:Perempuan
:Pedagang
Variabel

Nilai

PersalinanNakes

ASI Ekslusif

PenimbanganBalita

Gizi

Air Bersih

Jamban

Sampah

Kepadatanhunian

LantaiRumah

10

AktifitasFisik

11

TidakMerokok

12

CuciTangan

13

Kesehatan Gigi danMulut

14

Miras/Narkoba

15

JPK

16

PSN

25

Strata di RumahTangga
STRATA

NILAI

PRATAMA

1-5

MADYA

6-10

UTAMA

11-15

PARIPURNA

16

26