Anda di halaman 1dari 15

MDGs Point 4 MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN ANAK

BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Angka kematian ibu dan anak di Indonesia masih menjadi salah satu yang tertinggi di
Asia yaitu 31 per 100.000 kelahiran. Untuk itu pemerintah Indonesia bekerja sama dengan
negara-negara anggota PBB mengatasinya yaitu dengan membentuk MDGs. Dalam MGDs yang
telah disepakati para pimpinan dunia, ada 8 tujuan (GOALs) yang ingin dicapai diantara tahun
1999-2015.
Untuk mencapai 8 tujuan MDGs ini harus jelas definisi dan konsep indikator yang akan
digunakan,namun bagaimana penggunaan indiktornya (terutama definisi dan konsepnya) belum
dijelaskan pada postingan tersebut, berikut penulis memposting indikator pencapaian MDGs
untuk menurunkan angka kematian anak. Targetnya selama tahun 1990 2015 setidaknya dapat
menjadi pedoman untuk daerah lain dalam menurunkan angka kematian balita sebesar dua per
tiganya.
Untuk mencpai target ini ada dua indikator dibuat yaitu,indikator global atau nasional
untuk memonitoring pencapaian Target ke empat yaitu angka kematian balita, angka kematian
bayi dan proporsi campak pada bayi yang telah mencapai usia 1 tahun,dan indiktor lokal untuk
memonitoring pencapaian target keempat yaitu pemantauan terhadap pencapaian target MDGs
untuk tingkat lokal kabupaten/kota dan kecamatan yang dapat dilakukan dengan indikator proksi
tertentu.
Pada dasarnya, tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) adalah delapan pembangunan
internasional , bahwa semua dari 193 PBB negara-negara anggota dan setidaknya 23 organisasi
internasional telah sepakat untuk mencapai pada tahun 2015. Mereka termasuk memberantas
kemiskinan dan kelaparan, mencapai pendidikan universal,mendorong kesetaraan gender dan
memberdayakan perempuan, mengurangi

kematian anak,meningkatkan kesehatan ibu,

memerangi penyakit epidemi seperti AIDS, memastikan kelestarian lingkungan dan


mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan. Dan yang akan kami bahas dari ke
delapan point tersebut adalah mengenai point ke-4 yaitu menurunkan angka kematian anak.

Berbagai point penting MDGs tersebut adalah tugas berat bagi pemerintahan Indonesia,
MDGs yang ditargetkan pada tahun 2015 telah sampai dan direalisasikan oleh negara-negara
peserta MDGs, berbicara di tingkatan Indonesia, sekadar mengingatkan bahwa Indonesia,
menurut UN World Population Projection dan proyeksi Bapenna, tahun 2009, jumlah penduduk
Indonesia diperkirakan 234 juta jiwa dan pada tahun 2010 menjadi 238 juta jiwa dengan laju
penduduk kurun lima tahun terakhir mencapai 1, 26 persen, sebuah angka yang besar dalam
populasi dunia dan menjadi point utama yang harus dibenahi dalam MDGs.
Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih tergolong tinggi, jika dibandingkan
dengan negara lain di kawasan ASEAN. Berdasarkan Human Development Report 2010, AKB di
Indonesia mencapai 31 per 1.000 kelahiran.. Angka itu, 5,2 kali lebih tinggi dibandingkan
Malaysia. Juga, 1,2 kali lebih tinggi dibandingkan Filipina dan 2,4 kali lebih tinggi jika
dibandingkan dengan Thailand. Karena itu, masalah ini harus menjadi perhatian serius.
Data Departemen Kesehatan, terdapat penurunan dalam jumlah kasus balita yang
tergolong gizi kurang dan gizi buruk. Tahun 2004, jumlah balita gizi kurang dan gizi buruk
sebanyak 5,1 juta anak. 2006, jumlah balita gizi kurang dan buruk turun jadi 4,28 juta anak.
Tahun 2007, angka kasus balita gizi kurang dan buruk menurun menjadi 4,13 juta anak.
Kasus malnutrisi masih menjadi masalah penting di Indonesia. Meski angka prevalensi
malnutrisi anak menurun, namun masih tergolong tinggi. Prevalensinya mencapai 42%, di
Srilanka yang memiliki tingkat pendapatan kotor per kapita (GDP) yang lebih rendah daripada
Indonesia, tingkat prevalensi malnutrisi anaknya hanya 18%.

Pengertian KB

Upaya peningkatkan kepedulian masyarakat dalam mewujudkan keluarga kecil yang


bahagia sejahtera (Undang-undang No. 10/1992).

Keluarga Berencana (Family Planning, Planned Parenthood) : suatu usaha untuk


menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai
kontrasepsi.

WHO (Expert Committe, 1970), tindakan yg membantu individu/ pasutri untuk:


Mendapatkan objektif-obketif tertentu, menghindari kelahiran yang tidak diinginkan,
mendapatkan kelahiran yang diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan dan
menentukan jumlah anak dalam keluarga.

Tujuan Program KB

Tujuan umum adalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekutan sosial ekonomi
suatu keluarga dengan cara pengaturan kelahiran anak, agar diperoleh suatu keluarga
bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

Tujuan lain meliputi pengaturan kelahiran, pendewasaan usia perkawinan, peningkatan


ketahanan dan kesejahteraan keluarga.

Kesimpulan dari tujuan program KB adalah: Memperbaiki kesehatan dan kesejahteraan


ibu, anak, keluarga dan bangsa; Mengurangi angka kelahiran untuk menaikkan taraf
hidup rakyat dan bangsa; Memenuhi permintaan masyarakat akan pelayanan KB dan KR
yang berkualitas, termasuk upaya-upaya menurunkan angka kematian ibu, bayi, dan anak
serta penanggulangan masalah kesehatan reproduksi.

Tujuan KB berdasar RENSTRA 2005-2009 meliputi:


1. Keluarga dengan anak ideal
2. Keluarga sehat
3. Keluarga berpendidikan
4. Keluarga sejahtera
5. Keluarga berketahanan
6. Keluarga yang terpenuhi hak-hak reproduksinya
7. Penduduk tumbuh seimbang (PTS)

Sasaran Program KB
Sasaran program KB tertuang dalam RPJMN 2004-2009 yang meliputi:
1. Menurunnya rata-rata laju pertumbuhan penduduk menjadi sekitar 1,14 persen per tahun.

2. Menurunnya angka kelahiran total (TFR) menjadi sekitar 2,2 per perempuan.
3. Menurunnya PUS yang tidak ingin punya anak lagi dan ingin menjarangkan kelahiran

berikutnya, tetapi tidak memakai alat/cara kontrasepsi (unmet need) menjadi 6 persen.
4. Meningkatnya pesertaKB laki-laki menjadi 4,5persen.
5. Meningkatnya penggunaan metode kontrasepsi yang rasional, efektif, dan efisien.
6. Meningkatnya rata-rata usia perkawinan pertama perempuan menjadi 21 tahun.
7. Meningkatnya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh kembang anak.
8. Meningkatnya jumlah keluarga prasejahtera dan keluarga sejahtera-1 yang aktif dalam

usaha ekonomi produktif.


9. Meningkatnya jumlah institusi masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan Program

KB Nasional.
Ruang Lingkup KB
Ruang lingkup KB antara lain: Keluarga berencana; Kesehatan reproduksi remaja;
Ketahanan dan pemberdayaan keluarga; Penguatan pelembagaan keluarga kecil berkualitas;
Keserasian kebijakan kependudukan; Pengelolaan SDM aparatur; Penyelenggaran pimpinan
kenegaraan dan kepemerintahan; Peningkatan pengawasan dan akuntabilitas aparatur negara.
Strategi Program KB
Strategi program KB terbagi dalam dua hal yaitu:
1. Strategi dasar
2. Strategi operasional

Strategi dasar

Meneguhkan kembali program di daerah

Menjamin kesinambungan program

Strategi operasional

Peningkatan kapasitas sistem pelayanan Program KB Nasional

Peningkatan kualitas dan prioritas program

Penggalangan dan pemantapan komitmen

Dukungan regulasi dan kebijakan

Pemantauan, evaluasi, dan akuntabilitas pelayanan

Dampak Program KB
Program keluarga berencana memberikan dampak, yaitu penurunan angka kematian ibu
dan anak; Penanggulangan masalah kesehatan reproduksi; Peningkatan kesejahteraan keluarga;
Peningkatan derajat kesehatan; Peningkatan mutu dan layanan KB-KR; Peningkatan sistem
pengelolaan dan kapasitas SDM; Pelaksanaan tugas pimpinan dan fungsi manajemen dalam
penyelenggaraan kenegaraan dan pemerintahan berjalan lancar.
GIZI
Program penanggulangan balita gizi buruk atau gizi kurang harus dilakukan secara terpadu,
bersinergi, berkelanjutan, dan berkemitraan melalui program yang melibatkan lintas program dan
lintas sektor, serta berbasis prakarsa dan pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu selain pemberian
PMT, pemulihan balita gizi buruk dan gizi kurang harus didukung dengan strategi KIE yang efektif,
pemeriksaan kesehatan dan pengobatan, pemberian micronutrient, serta menumbuhkan potensi
masyarakat untuk berprakarsa melalui upaya pemberdayaan masyarakat untuk memberikan
kontribusi berupa bahan makanan, tenaga, atau uang.
Program Edukasi dan Rehabilitasi Gizi (PERGIZI) bertujuan untuk mengoptimalkan
keberhasilan program peningkatan status gizi balita yang selama ini telah dilakukan, melalui kegiatan
penyuluhan, pemberian makanan tambahan (PMT-Bersama), pemeriksaan kesehatan dan pengobatan,
pemberian micronutrient, yang dilaksanakan secara terpadu bersinergi, berkelanjutan, dan
berkemitraan melalui program yang melibatkan masyarakat, lintas program dan lintas sektor.
Program Edukasi clan Rehabilitasi Gizi (PERGIZI) merupakan model 'baru' yang berupaya
untuk membantu, memfasilitasi, dan memotivasi ibu balita gizi kurang dan gizi buruk untuk
meningkatkan status gizi anak dengan memanfaatkan potensi yang terdapat pada diri dan keluarganya
melalui perubahan perilaku dalam merawat dan memberi makan anak. Jumlah sasaran PERGIZI yang
aktif sampai minggu ke12 adalah 109, yang terdiri dari 36 anak balita yang awalnya menderita gizi

buruk dan 73 anak yang menderita gizi kurang, jumlah sampel yang mempunyai data lengkap hanya
97 anak balita yang terdiri dari 35 anak balita yang awalnya gizi buruk dan 62 anak balita yang
awalnya gizi kurang. Anak balita sasaran PERGIZI yang mengalami peningkatan status gizi dari gizi
buruk menjadi gizi kurang dan cenderung meningkat dan dapat dipertahankan mencapai 37,1%. Anak
balita sasaran PERGIZI yang mengalami peningkatan status gizi dari gizi kurang menjadi gizi baik
dan cenderung meningkat dan dapat dipertahankan mencapai 29,1%, terdapat 3,2% anak balita justru
turun dan gizi kurang menjadi gizi buruk. Secara keseluruhan pada anak dengan status gizi awal gizi
buruk dan gizi kurang setelah mengikuti kegiatan PERGIZI selama 12 minggu, sebanyak 31 anak
(32,0%) mengalami peningkatan status gizi. Anak balita sasaran PERGIZI yang mempunyai nafsu
makan baik meningkat dari 8,7% menjadi 78,4%. Morbiditas utama anak yaitu ISPA menurun dari
74,2% menjadi 43,3%. Peningkatan status gizi dan kesehatan anak yang tetap dapat dipertahankan
secara tersirat menunjukkan adanya peningkatan keterampilan dan kemampuan ibu balita dalam
merawat dan memberi makan anak.
Program Edukasi dlan Rehabilitasi Gizi (PERGIZI) yang meliputi kegiatan PMT bersama
yang didukung dengan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan, pemberian micronutrient, penyuluhan
cara merawat dan memberi makan anak dengan strategi yang tepat, serta menumbuhkan kontribusi
dan partisipasi masyarakat, dapat membantu meningkatkan status gizi dan kesehatan anak balita.
PERGIZI merupakan model 'baru' dalam penaggulangan anak balita gizi kurang dan gizi
buruk berbasis prakarsa dan pemberdayaan masyarakat. Model PERGIZI perlu dilanjutkan dan
diterapkan di daerah lain yang mempunyai prevalensi anak balita gizi kurang dan gizi buruk tinggi
(>20%) dengan sistem monitoring dan evaluasi yang terencana dan sistematis, yang idealnya
dilakukan selama 6 bulan.

IMUNISASI
Keterangan jadwal imunisasi rekomendasi IDAI, periode 2004:
Umur
Saat

Vaksin
Hepatiti

lahir

s B-1

Keterangan
HB-1 harus diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir, dilanjutkan pada
umur 1 dan 6 bulan. Apabila status HbsAg-B ibu positif, dalam waktu 12
jam setelah lahir diberikan HBlg 0,5 ml bersamaan dengan vaksin HB-1.
Apabila semula status HbsAg ibu tidak diketahui dan ternyata dalam
perjalanan selanjutnya diketahui bahwa ibu HbsAg positif maka masih

Polio-0

dapat diberikan HBlg 0,5 ml sebelum bayi berumur 7 hari.


Polio-0 diberikan saat kunjungan pertama. Untuk bayi yang lahir di

RB/RS polio oral diberikan saat bayi dipulangkan (untuk menghindari


1 bulan

Hepatiti

0-2

s B-2
BCG

transmisi virus vaksin kepada bayi lain)


Hb-2 diberikan pada umur 1 bulan, interval HB-1 dan HB-2 adalah 1

bulan.
BCG dapat diberikan sejak lahir. Apabila BCG akan diberikan pada umur

bulan

> 3 bulan sebaiknya dilakukan uji tuberkulin terlebih dahulu dan BCG

2 bulan

diberikan apabila uji tuberkulin negatif.


DTP-1 diberikan pada umur lebih dari 6 minggu, dapat dipergunakan

DTP-1

DTwp atau DTap. DTP-1 diberikan secara kombinasi dengan Hib-1


Hib-1

(PRP-T)
Hib-1 diberikan mulai umur 2 bulan dengan interval 2 bulan. Hib-1 dapat

4 bulan

Polio-1
DTP-2

diberikan secara terpisah atau dikombinasikan dengan DTP-1.


Polio-1 dapat diberikan bersamaan dengan DTP-1
DTP-2 (DTwp atau DTap) dapat diberikan secara terpisah atau

6 bulan

Hib-2
Polio-2
DTP-3

dikombinasikan dengan Hib-2 (PRP-T).


Hib-2 dapat diberikan terpisah atau dikombinasikan dengan DTP-2
Polio-2 diberikan bersamaan dengan DTP-2
DTP-3 dapat diberikan terpisah atau dikombinasikan dengan Hib-3 (PRP-

Hib-3

T).
Apabila mempergunakan Hib-OMP, Hib-3 pada umur 6 bulan tidak perlu

Polio-3
Hepatiti

diberikan.
Polio-3 diberikan bersamaan dengan DTP-3
HB-3 diberikan umur 6 bulan. Untuk mendapatkan respons imun optimal,

s B-3
Campak

interval HB-2 dan HB-3 minimal 2 bulan, terbaik 5 bulan.


Campak-1 diberikan pada umur 9 bulan, campak-2 merupakan program

9 bulan

-1
15-18

BIAS pada SD kelas 1, umur 6 tahun. Apabila telah mendapatkan MMR

pada umur 15 bulan, campak-2 tidak perlu diberikan.


Apabila sampai umur 12 bulan belum mendapatkan imunisasi campak,

Hib-4
DTP-4
Polio-4

MMR dapat diberikan pada umur 12 bulan.


Hib-4 diberikan pada 15 bulan (PRP-T atau PRP-OMP).
DTP-4 (DTwp atau DTap) diberikan 1 tahun setelah DTP-3.
Polio-4 diberikan bersamaan dengan DTP-4.

Hepatiti

Vaksin HepA direkomendasikan pada umur > 2 tahun, diberikan dua kali

sA
Tifoid

dengan interval 6-12 bulan.


Vaksin tifoid polisakarida injeksi direkomendasikan untuk umur > 2

DTP-5
Polio-5
MMR

tahun. Imunisasi tifoid polisakarida injeksi perlu diulang setiap 3 tahun.


DTP-5 diberikan pada umur 5 tahun (DTwp/DTap)
Polio-5 diberikan bersamaan dengan DTP-5.
Diberikan untuk catch-up immunization pada anak yang belum

MMR

bulan
18
bulan
2 tahun
2-3
tahun
5 tahun
6

tahun.
10

dT/TT

mendapatkan MMR-1.
Menjelang pubertas, vaksin tetanus ke-5 (dT atau TT) diberikan untuk

Varisela

mendapatkan imunitas selama 25 tahun.


Vaksin varisela diberikan pada umur 10 tahun.

tahun

TUJUAN
Untuk mengetahui Angka Kematian Anak umumnya di Indonesia dan khususnya di kabupaten
Lombok timur, NTB.
Untuk mengetahui penyebab dari tingginya angka kematian anak di kabupaten Lombok Timur
Untuk dapat memberikan solusi untuk menurunkan angka kematian anak di kabupaten Lombok
Timur
MANFAAT
Bagi Indonesia khususnya di NTB
Dapat mengurangi angka kematian anak khususnya di NTB dengan solusi sesuai penyebabnya.
Bagi institusi
Dapat meningkatkan sarana dan prasarana untuk menunjang keterampilan mahasiswa untuk
dapat berpartisipasi dalam menurunkan angka kematian anak
Bagi mahasiswa

Dapat meningkatakan pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan pelayanan yang


bermutu untuk mengurangi angka kematian anak

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian MDGs
MDGs (Millenium Development Goals) berasal dari Deklarasi Milenium) yang
dihasilkan oleh PBB. Deklarasi ini menegaskan bahwa setiap individu memiliki hak atas
martabat, kebebasan, kesetaraan, standar dasar hidup yang mencakup kebebasan dari kelaparan
dan

kekerasan,

dan

mendorong

toleransi

dan

solidaritas.MDGs

dilakukan

untuk

mengoperasionalkan gagasan ini dengan menetapkan target dan indikator pengentasan


kemiskinan dalam rangka mencapai hak-hak yang diatur dalam Deklarasi pada waktu lima belas
tahun yang ditetapkan.
Sasaran Pembangunan MDGs adalah delapan tujuan yang diupayakan untuk dicapai pada
tahun 2015 merupakan tantangan tantangan utama dalam pembangunan diseluruh dunia.
Tantangan-tantangan ini sendiri diambil dari seluruh tindakan dan target yang dijabarkan dalam
Deklarasi Milenium yang diadopsi oleh 189 negara dan ditandatangani oleh 147 kepala
pemerintahan dan kepala negara pada saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium di New
York pada bulan September 2000.
Pada September 2000, Pemerintah Indonesia, bersama-sama dengan 189 negara lain,
berkumpul untuk menghadiri Pertemuan Puncak Milenium di New York dan menandatangani
Deklarasi Milenium. Deklarasi berisi sebagai komitmen negara masing-masing dan komunitas
internasional untuk mencapai 8 buah MDGs, Sebagai satu paket tujuan terukur untuk
pembangunan dan pengentasan kemiskinan.
Penandatanganan deklarasi ini merupakan komitmen dari pemimpin-pemimpin dunia
untuk mengurangi lebih dari separuh orang-orang yang menderita akibat kelaparan, menjamin
semua anak untuk menyelesaikan pendidikan dasarnya, mengentaskan kesenjangan jender pada

semua tingkat pendidikan, mengurangi kematian anak balita hingga 2/3 , dan mengurangi hingga
separuh jumlah orang yang tidak memiliki akses air bersih pada tahun 2015.
MDGs memiliki sasaran jelas dalam konsepnya, sebuah negara harus mampu
melaksanakan beberapa point penting yakni pengentasan kemiskinan dan kelaparan yang setiap
hari semakin parah, pemerataan pendidikan dasar, mendukung persamaan gender dan
pemberdayaan perempuan, mengurangi tingkat kematian anak yang tinggi akibat kurang
tersedianya informasi dari pemerintah, meningkatkan kesehatan ibu, pencengahan terhadap
penyakit HIV/AIDS, Malaria, dan penyakit lainnya, menjamin kelangsungan lingkungan hidup
dalam artian bahwa setiap negara harus mampu mensinergikan konsep pembangunan dan
ketahan lingkungan hidup, serta menjaga kemitraan global dalam paradigm perdangangan
bebas.
Tujuan yang dipilih tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan individu kemampuan
manusia dan kemajuan berarti untuk kehidupan yang produktif. MDGs menekankan bahwa
kebijakan individu diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan ini harus disesuaikan dengan
kebutuhan negara masing-masing, karena itu saran kebijakan yang paling bersifat umum.
Berbagai point penting MDGs tersebut adalah tugas berat bagi pemerintahan Indonesia,
MDGs yang ditargetkan pada tahun 2015 telah sampai dan direalisasikan oleh negara-negara
peserta MDGs, berbicara di tingkatan Indonesia, sekadar mengingatkan bahwa Indonesia,
menurut UN World Population Projection dan proyeksi Bapenna, tahun 2009, jumlah penduduk
Indonesia diperkirakan 234 juta jiwa dan pada tahun 2010 menjadi 238 juta jiwa dengan laju
penduduk kurun lima tahun terakhir mencapai 1, 26 persen, sebuah angka yang besar dalam
populasi dunia dan menjadi point utama yang harus dibenahi dalam MDGs.
Masalah besar yang dihadapi negara Indonesia saat ini adalah angka kematian anak yang
tinggi.Sebagaimana MDGs sebagai deklarasi yang mengatur masalah kematian anak,sebaiknya
Indonesia sebagai anggota dapat memanfaatkan keanggotaannya sebagai sarana bertukar pikiran
dan dapat memecahkan masalah yang terjadi berkaitan dengan angka kematian anak yang terus
meningkat.

Pengertian Kematian anak

Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi
belum berusia tepat satu tahun. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi. Secara
garis besar, dari sisi penyebabnya, kematian bayi ada dua macam yaitu endogen dan eksogen.
Kematian bayi endogen atau yang umum disebut dengan kematian neonatal; adalah kematian bayi
yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan, dan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor
yang dibawa anak sejak lahir, yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat
selama kehamilan.
Kematian bayi eksogen atau kematian post neo-natal, adalah kematian bayi yang terjadi setelah usia
satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian
dengan pengaruh lingkungan luar.
Angka Kematian Bayi menggambarkan keadaan sosial ekonomi masyarakat dimana
angka kematian itu dihitung. Kegunaan Angka Kematian Bayi untuk pengembangan perencanaan
berbeda antara kematian neo-natal dan kematian bayi yang lain. Karena kematian neo-natal
disebabkan oleh faktor endogen yang berhubungan dengan kehamilan maka program-program
untuk mengurangi angka kematian neo-natal adalah yang bersangkutan dengan program
pelayanan kesehatan Ibu hamil, misalnya program pemberian pil besi dan suntikan anti tetanus.
Akaba (Angka Kematian Balita) adalah jumlah anak yang dilahirkan pada tahun tertentu
dan meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun, dinyatakan sebagai angka per 1000 kelahiran
hidup. Nilai normatif Akaba > 140 sangat tinggi, antara 71 140 sedang dan <20 rendah.
Sedangkan Angka Kematian Post-NeoNatal dan Angka Kematian Anak serta Kematian Balita
dapat berguna untuk mengembangkan program imunisasi, serta program-program pencegahan
penyakit menular terutama pada anak-anak, program penerangan tentang gizi dan pemberian
makanan sehat untuk anak dibawah usia 5 tahun.

BAB III
PEMBAHASAN
Berbagai point penting MDGs tersebut adalah tugas berat bagi pemerintahan Indonesia,
MDGs yang ditargetkan pada tahun 2015 telah sampai dan direalisasikan oleh negara-negara
peserta MDGs, berbicara di tingkatan Indonesia, sekadar mengingatkan bahwa Indonesia,
menurut UN World Population Projection dan proyeksi Bapenna, tahun 2009, jumlah penduduk

Indonesia diperkirakan 234 juta jiwa dan pada tahun 2010 menjadi 238 juta jiwa dengan laju
penduduk kurun lima tahun terakhir mencapai 1, 26 persen, sebuah angka yang besar dalam
populasi dunia dan menjadi point utama yang harus dibenahi dalam MDGs.
Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih tergolong tinggi, jika dibandingkan
dengan negara lain di kawasan ASEAN. Berdasarkan Human Development Report 2010, AKB di
Indonesia mencapai 31 per 1.000 kelahiran."Angka itu, 5,2 kali lebih tinggi dibandingkan
Malaysia. Juga, 1,2 kali lebih tinggi dibandingkan Filipina dan 2,4 kali lebih tinggi jika
dibandingkan dengan Thailand.
Jika dispesifikkan lagi, AKB di NTB masih sekitar 61,2 per 1.000 kelahiran hidup jauh di
atas nasional 35 per 1.000 kelahiran hidup dan angka itu terus ditekan dengan meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat dan program pemeriksaan ibu hamil secara teratur.
Angka Kematian Bayi tahun 2010 Dirinci Menurut Kabupaten/Kota
No KABUPATEN/KOTA

ANGKA KEMATIAN BAYI (AKB)

1.
2.
3.
4.
5.

Lombok Barat
Lombok Tengah
Lombok Timur
Sumbawa
Dompu

(%)
1996
88,24
90,62
102,05
71,57
80,14

KABUPATEN/KOTA

1999
80,50
85,00
93,50
66,00
75,00

2001
75,10
78,60
82,30
63,80
71,40

2002
80,1
81,9
81,3
79,2
72,7

2004
79,1
77,3
80,5
75,0
72,7

2005
77,8
76,4
75,9
72,8
70,5

ANGKA KEMATIAN BAYI (AKB)

(%)
1996
6.
Bima
54,43
7.
Sumbawa Barat
8.
Kota Mataram
75,38
9.
Kota Bima
Total
75,38
Sumber: Dinas Kesehatan NTB

1999
51,90
68,30
68,30

2001
48,40
61,18
61,18

2002
76,7
56,7
73,5

2004
73,2
76,8
55,5
62,1
73,2

2005
66,5
74,5
50,2
57,1
61,2

Berdasarkan hasil penelitian di Kabupaten Lombok Timur yaitu di desa Korleko di dusun
Gubuk Barat, jumlah KK sebanyak 403. Jumlah persalinan di polindes, puskesmas dan BPS
sebanyak 30 orang,dan terdapat jumlah kematian bayi sebanyak 3 orang.Setelah dilakuakn

penelitian lebih lanjut ditemukan faktor-faktor penyebab kematian anak diantaranya ikterus (bayi
kuning),diare dan asma.
Dari permasalahan yang terjadi dibutuhkan pemecahan masalah yang sesuai sehingga
dapat menekan angka kematian anak di Indonesia pada umumnya dan di NTB pada khususnya
serta di wilayah sekitar tempat tinggal yaitu di desa Korleko kecamatan Labuhan Haji. Untuk
mengatasi masalah angka kematian anak di Indonesia hendaknya pemerintah melalui program
KB dapat menekan angka kelahiran yang banyak sehingga pemerintah dapat mengontrol
kesehatan anak di negaranya dengan mengeluarkan dana untuk kesehatan terutama kesehatan
anak yang cukup dan tidak dicampuri dengan korupsi oleh pihak-pihak yang dilibatkan sehingga
keguanaan uang yang dicairkan pemerintah dapat digunakan sebagaimana mestinya yaitu
meningkatkan derajat kesehatan di Indonesia terutama kesehatan anak. Disini peran menteri
kesehatan sangat dibutuhkan baik itu dalam mengadakan seminar-seminar, iklan, promosi kepada
tenaga kesehatan dan lebih cermat dalam memilih tenaga kesehatan yang kompeten sehingga
mampu menampung keluhan masyarakat dan selanjutnya dapat memberikan solusi yang tepat.
Untuk mengatasi masalah angka kamatian anak di NTB hendaknya pemerintah daerah
lebih memperhatikan pembangunan sarana dan prasarana kesehatan terutama di daerah-daerah
terpencil yang sulit menjangkau kota untuk ke Rumah Sakit dan dengan dilengkapi sarana dan
prasarana yang cukup. Lingkungan tempat tinggal masyarakat sebagai tempat interaksi anak juga
senantiasa diperhatikan. Pelatihan-pelatihan tenaga kesehatan terutama bidan juga lebih
diperbanyak dengan mendatangkan ahli dalam bidangkesehatan anak.
Sedangkan untuk masalah angka kematian di Korleko, dusun Gubuk Barat, hendaknya
lurah bekerja sama dengan tenaga kesehatan untuk rajin mengadakan posyandu anak untuk
meninjau angka kesehatan anak dan mendapatkan imunisasi, bila perlu apabila ada orang tua
yang tidak datang posyandu, tenaga kesehatan senantiasa mendatangi ibu tersebut untuk
memeriksa kesehatan anaknya. Lingkungan tempat bermain anak juga perlu diperhatikan, tenaga
kesehatan terutama bidan juga senantiasa memberikan pengajaran dan konsling kepada ibu
tentang tata cara pearawatan kesehatan anak, hal-hal yang dapat membahayakan kesehatan anak,
apa saja yang perlu dikonsumsi anak, apa saja yang orang tua lakukan untuk tetap menjaga
kesehatan anaknya dengan menggunakan bahasa yang dapat dimengerti dan menarik minat orang
tua yang diberikan pengajaran. Baik itu disertai dengan gambar yang menarik sehingga orang tua
anak akan mengerti dan tidak menutup kemungkinan akan melaksanakannya.

BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Pada dasarnya MDGs adalah kerja sama yang saling menguntungkan bagi negara-negara
pesertanya karena dapat menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapai oleh suatu Negara
secara bersama-sama. Seperti yang kami bahas disini adalah mengenai meningkatnya Angka
Kematian Anak.
Pada dasarnya Angka Kematian Anak dapat dikurangi dengan cara mengurangi atau
meniadakan factor-faktor penyebab dari kematian anak tersebut. Seperti telah dijelaskan di atas
jumlah kematian anak di Indonesia masih sangat tinggi,begitu juga di NTB. Adapun solusi yang
dapat kami berikan yaitu dengan membenahi pihak-pihak yang berada dalam pemerintahan yang
diberikan wewenang dan tanggung jawab oleh presiden,peran menteri kesehatan juga sangat
penting disini. Peran tenaga kesehatan juga perlu dipertanyakan apakah sudah melaksanakan
kewajibannya atau tidak. Dan juga apakah kompetensi yang dimiliki sudah beik atau perlu
bimbingan dan belajar untuk meningkatkan pengetahuannya.
Saran
Bagi Indonesia khususnya di NTB
Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat mengurangi angka kematian anak khususnya di
NTB dengan solusi sesuai penyebabnya.
Bagi institusi
Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat meningkatkan sarana dan prasarana untuk
menunjang keterampilan mahasiswa untuk dapat berpartisipasi dalam menurunkan angka
kematian anak
Bagi mahasiswa

Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat meningkatakan pengetahuan dan keterampilan
dalam memberikan pelayanan yang bermutu untuk mengurangi angka kematian anak
DAFTAR PUSTAKA
Saifuddin, Prof. dr. Abdul Bari, SpOG(K), MPH, dkk. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan
Kontrasepsi. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; Jakarta.
Saifuddin, Prof. dr. Abdul Bari, SpOG(K), MPH, dkk. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan
Kesehatan Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; Jakarta.
Arjoso, S. Rencana Strategis BKKBN. Maret, 2005. BKKBN, 1999. Kependudukan KB dan KIA.
Bandung, Balai Litbang.
NRC-POGI, 1996. Buku Acuan Nasional Pelayanan Keluarga Berencana. Makalah
Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia. www. bkkbn.go.id