Anda di halaman 1dari 30

SEORANG PEREMPUAN 58 TAHUN DENGAN LOW BACK PAIN ec.

FRAKTUR VERTEBRA THORAKAL XI (OSTEOPOROSIS)

Oleh :
Eko Dewi Ratna Utami
G99141022

Pembimbing:
Dr. Trilastiti W., Sp.KFR, M.Kes

KEPANITERAAN KLINIK KEDOKTERAN FISIK DAN REHABILITASI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2014

STATUS PASIEN
I. ANAMNESA
A.
Identitas Pasien
Nama
: Ny. S
Umur
: 58 tahun
Jenis Kelamin
: Perempuan
Agama
: Islam
Pekerjaan
: Pedagang Bubur
Alamat
: Wonosari, Klaten
Status
: Menikah
Tanggal Periksa
: 19 Agustus 2014
No RM
B.

: 01266465

Keluhan Utama
Nyeri pada punggung bagian bawah.

C.

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien mengeluhkan nyeri punggung bawah sejak 2 bulan yang
lalu. Nyeri memberat ketika hendak bangun dari tidur (posisi berbaring).
Nyeri yang dirasakan terjadi secara tiba-tiba, tanpa pernah terjatuh
sebelumnya. Nyeri terbatas pada punggung bagian bawah, tidak
menjalar ke tungkai ataupun kaki. Hanya saja pasien merasakan
kesemutan pada tungkai kanan dan kiri. Pasien masih dapat berjalan
sendiri tanpa bantuan.
14 hari SMRS pasien sudah memeriksakan diri ke RSOP Surakarta
dan melakukan foto rontgen. Oleh RSOP Surakarta pasien dirujuk ke
RSUD Dr. Moewardi. Pasien bekerja sebagai penjual bubur selama 30
tahun. Setiap pagi selalu mengangkat panci berisi bubur untuk berjualan
di depan rumahnya. Dikarenakan sakit yang diderita sekarang pasien
tidak bekerja.

D.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat Hipertensi
Riwayat DM
Riwayat Penyakit Jantung

: disangkal
: disangkal
: disangkal

E.

Riwayat Alergi obat/makanan


Riwayat Asma
Riwayat Mondok

: disangkal
: disangkal
: (+) tahun 2004

Riwayat Operasi

: (+) tahun 2004

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat Hipertensi
: disangkal
Riwayat DM
: disangkal
Riwayat Penyakit Jantung
: disangkal
Riwayat Alergi
: disangkal
Riwayat Asma

F.

: disangkal

Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien adalah seorang istri yang bekerja sebagai penjual bubur,
suami bekerja sebagai buruh proyek. Pasien memperoleh pelayanan
kesehatan dengan fasilitas BPJS.

G.

Riwayat Gizi dan Kebiasaan


Sehari-harinya pasien makan 3 kali sehari, dengan lauk-pauk, telur,
sayur, tempe, dan tahu. Nafsu makan baik.
Riwayat merokok
: (-)
Riwayat minum alkohol
: disangkal

II. PEMERIKSAAN FISIK


A. Status Generalis
1. Keadaan Umum
Keadaan umum baik, GCS E4V5M6, gizi kesan overweight
2. Tanda Vital
Tekanan darah : 110/90 mmHg
Nadi
: 88 x/ menit, isi cukup, irama teratur, simetris
Respirasi
: 20 x/menit, irama teratur, tipe thoracoabdominal
Suhu
: 36,50C per aksiler
3. Kulit
Warna sawo matang, pucat (-), ikterik (-), petechie (-),venectasi (-),
spider naevi (-), striae (-), hiperpigmentasi (-), hipopigmentasi (-),
ulkus decubitus (-)
4. Kepala
Bentuk mesocephal, kedudukan kepala simetris, luka (+), rambut
hitam, tidak mudah rontok, tidak mudah dicabut, atrofi otot (-).
5. Mata

Conjunctiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), refleks cahaya langsung


dan tak langsung (+/+), pupil isokor (3 mm/ 3mm), oedem palpebra
(-/-), sekret (-/-)
6. Hidung
Nafas cuping hidung (-), deformitas (-), darah (-/-), sekret (-/-)
7. Telinga
Deformitas (-/-), darah (-/-), sekret (-/-)
8. Mulut
R. maxilla goyang (-), diskontinuitas (-), bibir kering (-), sianosis
(-), lidah kotor (-),lidah simetris, lidah tremor (-), stomatitis (-),
mukosa pucat (-), gusi berdarah (-), papil lidah atrofi (-)
9. Leher
Simetris, trakea di tengah, step off (-), limfonodi tidak membesar,
nyeri tekan (-), benjolan (-)
10. Thoraks
a. Retraksi (-)
b. Jantung
Inspeksi
: Ictus Cordis tidak tampak
Palpasi
: Ictus Cordis tidak kuat angkat
Perkusi
: Batas jantung kesan tidak melebar
Auskultasi : Bunyi jantung I dan II intensitas normal, reguler,
bising (-).
c.
Paru
Inspeksi
: pengembangan dada kanan = kiri
Palpasi
: fremitus raba kanan = kiri
Perkusi
: sonor seluruh lapang paru
Auskultasi : suara dasar (vesikuler/ vesikuler )
11. Abdomen
Inspeksi
: dinding perut sejajar dinding dada, terdapat
sikatrik bekas operasi pada perut bagian kanan
Auskultasi
Perkusi
Palpasi

bawah
: peristaltik (+) normal
: timpani
: supel, nyeri tekan (-), hepar tidak teraba, nyeri
tekan (-), bruit (-) dan lien tidak teraba.

12. Ekstremitas
Oedem

Akral dingin

B. Status Lokalis
Region Vertebra Thorakal-Lumbal :
1. Oedem (-)
4

2. Keloid (-)
3. Nyeri (+)
4. Deformitas (-)
C. Status Neurologi
1. Kesadaran
: GCS E4V5M6
2. Fungsi Luhur
: dalam batas normal
3. Fungsi Vegetatif
: dalam batas normal
4. Fungsi Sensorik, Motorik dan Reflek :
Fungsi Sensorik
N

Fungsi Motorik dan Reflek :


Kekuatan :

Tonus :

Reflek fisiologis:

Reflek patologis:

5.

D.

Nervus Cranialis
N. II, N.III
N.III, N.IV, N.VI
N. VII
N. XII

+2

+2

+2

+2

: RC (+/+), PI (3 mm/ 3mm)


: dalam atas normal
: dalam batas normal
: dalam batas normal

Status Psikiatri
Deskripsi Umum
1. Penampilan
Perempuan, 58 tahun, tampak sesuai umur, perawatan diri cukup
2. Kesadaran
5

Kuantitatif: compos mentis, kualitatif: tidak berubah


3. Perilaku dan Aktivitas Motorik
Normoaktif
4. Pembicaraan
Volume sedang, intonasi baik, artikulasi jelas
5. Sikap terhadap Pemeriksa : kooperatif, kontak mata (+) adekuat
Afek dan Mood
Afek

: Appropiate

Mood

: Normal

Gangguan Persepsi
Halusinasi

: (-)

Ilusi

: (-)

Proses Pikir
Bentuk

: realistik

Isi

: waham (-)

Arus

: koheren

Sensorium dan Kognitif


Daya konsentrasi

: baik

Orientasi

: Orang

: baik

Waktu

: baik

Tempat

: baik

Daya Ingat

: Jangka panjang

: baik

Jangka pendek

: baik

Segera

: baik

Daya Nilai

: Daya nilai realitas dan sosial baik

Insight

: Baik

Taraf Dapat Dipercaya

: Dapat dipercaya

E. Range of Motion (ROM)


NECK

ROM Pasif
0 - 70
0 - 40
0 - 60
0 - 60
0 - 90
0 - 90

Fleksi
Ekstensi
Lateral bending kanan
Lateral bending kiri
Rotasi kanan
Rotasi kiri

ROM Pasif

Ektremitas Superior

Shoulder

Elbow

Wrist
Finger

Fleksi
Ektensi
Abduksi
Adduksi
Eksternal Rotasi
Internal Rotasi
Fleksi
Ekstensi
Pronasi
Supinasi
Fleksi
Ekstensi
Ulnar Deviasi
Radius deviasi
MCP I Fleksi
MCP II-IV fleksi
DIP II-V fleksi
PIP II-V fleksi
MCP I Ekstensi

ROM Aktif
0 - 70
0 - 40
0 - 60
0 - 60
0 - 90
0 - 90

ROM Aktif

Dekstra

Sinistra

Dekstra

Sinistra

0-180
0-30
0-150
0-75
0-90
0-90
0-150
0-150
0-90
0-90
0-90
0-70
0-30
0-20
0-50
0-90
0-90
0-90
0-90

0-180
0-30
0-150
0-75
0-90
0-90
0-150
0-150
0-90
0-90
0-90
0-70
0-30
0-20
0-50
0-90
0-90
0-90
0-90

0-180
0-30
0-150
0-75
0-90
0-90
0-150
0-150
0-90
0-90
0-90
0-70
0-30
0-20
0-50
0-90
0-90
0-90
0-90

0-180
0-30
0-150
0-75
0-90
0-90
0-150
0-150
0-90
0-90
0-90
0-70
0-30
0-20
0-50
0-90
0-90
0-90
0-90

TRUNK
Fleksi

ROM Pasif
0-90

ROM Aktif
0-90

Ekstensi

0-30

0-30

Rotasi

0-35

0-35

Ektremitas Inferior

ROM Pasif

ROM Aktif

Hip

Knee
Ankle

Fleksi
Ektensi
Abduksi
Adduksi
Eksorotasi
Endorotasi
Fleksi
Ekstensi
Dorsofleksi
Plantarfleksi
Eversi
Inversi

Dekstra

Sinistra

Dekstra

Sinistra

0-120
0-30
0-45
0-45
0-30
0-30
0-120
0
0-30
0-30
0-50
0-40

0-120
0-30
0-45
0-45
0-30
0-30
0-120
0
0-30
0-30
0-50
0-40

0-120
0-30
0-45
0-45
0-30
0-30
0-120
0
0-30
0-30
0-50
0-40

0-120
0-30
0-45
0-45
0-30
0-30
0-120
0
0-30
0-30
0-50
0-40

F. Manual Muscle Test (MMT)


NECK

Fleksor M. Strenocleidomastoideus
Ekstensor

:
:

Ekstremitas Superior
Shoulder

Dextra

Sinistra

M Deltoideus anterior

M Biseps

M Deltoideus anterior

M Teres mayor

M Deltoideus

M Biceps

M Lattissimus dorsi

M Pectoralis mayor

Internal
Rotasi

M Lattissimus dorsi

M Pectoralis mayor

Eksternal
Rotasi

M Teres mayor

M Infra supinatus

Fleksor

M Biceps

M Brachialis

Ekstensor

M Triceps

Supinator

M Supinator

Pronator

M Pronator teres

Fleksor

M Fleksor carpi
radialis

Ekstensor

M Ekstensor
digitorum

Abduktor

M Ekstensor carpi
radialis

Fleksor

Ekstensor

Abduktor

Adduktor

Elbow

Wrist

Finger

Adduktor

M ekstensor carpi
ulnaris

Fleksor

M Fleksor digitorum

Ekstensor

M Ekstensor
digitorum

Ekstremitas inferior
Hip

Knee

Ankle

1.

Dextra

Sinistra

Fleksor

M Psoas mayor

Ekstensor

M Gluteus maksimus

Abduktor

M Gluteus medius

Adduktor

M Adduktor longus

Fleksor

Harmstring muscle

Ekstensor

Quadriceps femoris

Fleksor

M Tibialis

Ekstensor

M Soleus

EMERIKSAAN PENUNJANG
Foto Rontgen

10

2.

ASSESSMENT
Low back pain ec. Fraktur vertebra thorakal XI (osteoporosis)

3.

DAFTAR MASALAH
A. Problem Medis
:
Low back pain
B. Problem Rehabilitasi Medik
1.

Fisioterapi
Pasien sulit beraktivitas karena nyeri pada punggung bawah

2.

Okupasi Terapi
Gangguan dalam melakukan aktivitas

3.

Ortesa-protesa
Pro korset untuk mengurangi nyeri dan stabilisasi

4.

Psikologi
Beban pikiran karena pasien tidak bisa bekerja lagi

5.

Speech Terapi
Tidak ada

6.

Sosiomedik
Tidak ada

C. Rehabilitasi Medik:
1.

Fisioterapi
a. Evaluasi : nyeri pinggang
b. Program : TENS (lumbosacral sampai dengan thorax) dan
Back exercise

2.

Okupasi Terapi :
a. Evaluasi : gangguan aktivitas sehari-hari
b. Program :
- Memberikan penjelasan untuk menghindari kegiatan
membungkuk dan mengangkat beban berat.

11

- Latihan cara duduk, cara tidur, dan cara berdiri yang benar
(sesuai dengan properback mechanism).
3.

Ortesa-protesa :
Diberikan lumbosacral korset

4.

Psikologi :
Psikoterapi suportif
Mengurangi kecemasan penderita, meningkatkan kepercayaan diri
penderita, penguatan psikologis penderita, dan keluarga diharapkan
senantiasa memberikan dukungan dan perhatian.

5.

Speech Terapi : tidak ada

6.

Sosiomedik

: tidak ada

4. IMPAIRMENT, DISABILITY, DAN HANDICAP


A. Impairment : Low back pain
B. Disabilitas : Keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari
terutama saat bangun dari posisi tidur dan mengangkat
beban berat
C. Handicap

: keterbatasan kegiatan sehari-hari dan dalam melakukan


aktivitas dan bekerja

5.
Planning Edukasi

PLANNING
:

Penjelasan penyakit dan komplikasi yang


bisa terjadi

Penjelasan tujuan pemeriksaan dan tindakan


yang dilakukan

Edukasi untuk home exercise dan ketaatan


untuk melakukan terapi

Planning Monitoring
-

Evaluasi hasil terapi

12

6.

TUJUAN
A.

Perbaikan

keadaan

umum

sehingga

mempersingkat

lama

perawatan
B.

Minimalisasi impairment, disabilitas, dan handicap pada pasien

C.

Mengembalikan penderita pada tingkat aktivitas normalnya

D.

Mencegah terjadinya komplikasi yang dapat memperburuk


keadaan penderita (seperti kelumpuhan dan gagal nafas)

7.

PROGNOSIS
Ad vitam

: dubia

Ad sanam

: dubia

Ad fungsionam : dubia

13

TINJAUAN PUSTAKA
1.

LOW BACK PAIN


A. Definisi
Nyeri pinggang bawah atau low back pain merupakan rasa nyeri, ngilu,
pegal yang terjadi di daerah pinggang bagian bawah. Nyeri pinggang
bawah bukanlah diagnosis tapi hanya gejala akibat dari penyebab yang
sangat beragam. Low Back Pain menurut perjalanan kliniknya dibedakan
menjadi dua, yaitu :
a.

Acute low back

pain
Rasa nyeri yang menyerang secara tiba-tiba, rentang waktunya hanya
sebentar, antara beberapa hari sampai beberapa minggu. Rasa nyeri ini
dapat hilang atau sembuh. Acute low back pain dapat disebabkan karena
luka traumatic seperti kecelakaan mobil atau terjatuh, rasa nyeri dapat
hilang sesaat kemudian. Kejadian tersebut selain dapat merusak
jaringan, juga dapat melukai otot, ligamen dan tendon. Pada kecelakaan
yang lebih serius, fraktur tulang pada daerah lumbal dan spinal dapat
masih sembuh sendiri. Sampai saat ini penatalaksanan awal nyeri
pinggang acute terfokus pada istirahat dan pemakaian analgesik.
b. Chronic low back pain
Rasa nyeri yang menyerang lebih dari 3 bulan atau rasa nyeri yang
berulang-ulang atau kambuh kembali. Fase ini biasanya memiliki onset
yang berbahaya dan sembuh pada waktu yang lama. Chronic low back
pain dapat terjadi karena osteoarthritis, rheumatoidarthritis, proses
degenerasi discus intervertebralis dan tumor. Di samping hal tersebut di
atas terdapat juga klasifikasi patologi yang klasik yang juga dapat
dikaitkan LBP. Klasifikasi tersebut adalah :
1. Trauma
2. Infeksi
3. Neoplasma
4. Degenerasi

14

5. Kongenital
B. Anatomi
Struktur utama dari tulang punggung adalah vertebrae, discus invertebralis,
ligamen antara spina, spinal cord, saraf, otot punggung, organ-organ dalam
disekitar pelvis, abdomen dan kulit yang menutupi daerah punggung.
Columna vertebralis (tulang punggung) terdiri atas :
1. Vertebrae cervicales

: 7 buah

2. Vertebrae thoracalis

: 12 buah

3. Vertebrae lumbales

: 5 buah

4. Vertebrae sacrales

: 5 buah

5. Vertebrae coccygeus

: 4-5 buah

Vertebra cervicales, thoracalis dan lumbalis termasuk golongan true


vertebrae.
Pada vertebrae juga terdapat otot-otot yang terdiri atas :
1. Musculus trapezius
2. Muskulus latissimus dorsi
3. Muskulus rhomboideus mayor
4. Muskulus rhomboideus minor
5. Muskulus levator scapulae
6. Muskulus serratus posterior superior
7. Muskulus serratus posterior inferior
8. Muskulus sacrospinalis
9. Muskulus erector spinae
10. Muskulus transversospinalis
11. Muskulus interspinalis
Otot-otot tersebut yang menghubungkan bagian punggung ke arah
ekstremitas maupun yang terdapat pada bagian punggung itu sendiri. Otot
pada punggung memiliki fungsi sebagai pelindung dari columna spinalis,
pelvis dan ekstremitas. Otot punggung yang mengalami luka mungkin
dapat menyebabkan terjadinya low back pain.

15

16

C. Penyebab
Penyebab nyeri pinggang bawah bermacam-macam dan multifaktor. Di
antaranya dapat disebut:
1.

Kelainan Kongenital
Kelainan kongenital yang dapat menyebabkan nyeri pinggang bawah
adalah :
a. Spondilolisis dan spondilolistesis
Pada Spondilolisis tampak bahwa sewaktu pembentukan
korpus vertebrae itu (in utero) arkus vertebrae tidak bertemu
dengan korpus vertebraenya sendiri. Pada spondilolistesis korpus
vertebrae itu sendiri (biasanya L5) tergeser ke depan.
Walaupun kejadian ini terjadi sewaktu bayi itu masih berada
dalam kandungan, namun (oleh karena timbulnya kelainankelainan degeneratif) sesudah berumur 35 tahun, barulah timbul
keluhan nyeri pinggang. Nyeri pinggang ini berkurang/ hilang bila
penderita duduk atau tidur. Dan akan bertambah, bila penderita itu
berdiri atau berjalan. Spondilolitesis dapat mengakibatkan
tertekuknya radiks L5 sehingga timbul nyeri radikuler.
b. Spina Bifida
Bila di daerah lumbosakral terdapat suatu tumor kecil yang
ditutupi oleh kulit yang berbulu, maka hendaknya kita waspada
bahwa didaerah itu ada tersembunyi suatu spina bifida okulta.
Pada foto rontgen tampak bahwa terdapat suatu hiaat pada
arkus spinosus di daerah lumbal atau sakral. Karena adanya defek
tersebut maka pada tempat itu tidak terbentuk suatu ligamentum
interspinosum.
Keadaan ini akan menimbulkan suatu lumbo-sakral sarain
yang oleh si penderita dirasakan sebagai nyeri pinggang.
c. Stenosis kanalis vertebralis

17

Diagnosis penyakit ini ditegakkan secara radiologis.


Walaupun penyakit telah ada sejak lahir, namun gejala-gejalanya
baru tampak setelah penderita berumur 35 tahun.
Gejala yang tampak adalah timbulnya nyeri radikuler bila si
penderita jalan dengan sikap tegak. Nyeri hilang begitu penderita
berhenti jalan atau bila ia duduk. Untuk menghilangkan rasa
nyerinya maka penderita lantas jalan sambil membungkuk.
d. Spondylosis lumbal
Penyakit sendi degeneratif yang mengenai vertebra lumbal
dan discus intervertebralis, yang menyebabkan nyeri dan
kekakuan.
e. Spondylitis.
Suatu bentuk degeneratif sendi yang mengenai tulang
belakang . ini merupakan penyakit sistemik yang etiologinya tidak
diketahui, terutama mengenai orang muda dan menyebabkan rasa
nyeri dan kekakuan sebagai akibat peradangan sendi-sendi dengan
osifikasi dan ankilosing sendi tulang belakang.
2. Trauma dan Gangguan Mekanis
Trauma dan gngguan mekanis merupakan penyebab utama nyeri
pinggang bawah. Pada orang-orang yang tidak biasa melakukan
pekerjaan otot atau sudah lama tidak melakukan kegiatan ini dapat
menderita nyeri pinggang bawah yang akut. Cara bekerja di pabrik
atau di kantor dengan sikap yang salah lama-lama nenyebabkan nyeri
pinggang bawah yang kronis.
Patah tulang, pada orang yang umurnya sudah agak lanjut sering
oleh karena trauma kecil saja dapat menimbulkan fraktur kompresi
pada korpus vertebra. Hal ini banyak ditemukan pada kaum wanita
terutama yang sudah sering melahirkan. Dalam hal ini tidak jarang
osteoporosis menjadi sebab dasar daripada fraktur kompresi. Fraktur
pada salah satu prosesus transversus terutama ditemukan pada orang-

18

orang lebih muda yang melakukan kegiatan olahraga yang terlalu


dipaksakan.
Pada penderita dengan obesitas mungkin perut yang besar dapat
menggangu keseimbangan statik dan kinetik dari tulang belakang
sehingga timbul nyeri pinggang.
Ketegangan mental terutama ketegangan dalam bidang seksual
atau frustasi seksual dapat ditransfer kepada daerah lumbal sehingga
timbul kontraksi otot-otot paraspinal secara terus menerus sehingga
timbul rasa nyeri pinggang. Analog dengan tension headache maka
nyeri pinggang semacam ini dapat dinamakan tension backache.
Tidak jarang seorang pemuda mengeluh tentang nyeri pinggang,
yang timbul karena adanya anggapan yang salah yaitu bahwa karena
seringnya melakukan onani di waktu yang lampau lantas kini sumsum
balakangnya telah menjadi kering dan nyeri.
3. Radang ( Inflamasi )
Artritis rematoid dapat melibatkan persendian sinovial pada
vertebra. Artritis rematoid merupakan suatu proses yang melibatkan
jaringan ikat mesenkimal.
4. Penyakit Marie-Strumpell
Penyakit Marie-Strumpell, yang juga dikenal dengan nama
spondilitis ankilosa atau bamboo spine terutama mengenai pria dan
teruta mengenai kolum vertebra dan persendian sarkoiliaka. Gejala
yang sering ditemukan ialah nyeri lokal dan menyebar di daerah
pnggang disertai kekakuan (stiffness) dan kelainan ini bersifat
progresif.
5. Tumor (Neoplasma)
Tumor vertebra dan medula spinalis dapat jinak atau ganas.
Tumor jinak dapat mengenai tulang atau jaringan lunak. Contoh gejala
yang sering dijumpai pada tumor vertebra ialah adanya nyeri yang
menetap. Sifat nyeri lebih hebat dari pada tumor ganas daripada tumor
jinak. Contoh tumor tulang jinak ialah osteoma osteoid, yang

19

menyebabkan nyeri pinggang terutama waktu malam hari. Tumor ini


biasanya sebesar biji kacang, dapat dijumpai di pedikel atau lamina
vertebra. Hemangioma adalah contoh tumor benigna di kanalis spinal
yang dapat menyebabkan nyeri pinggang bawah. Meningioma adalah
tumor intradural dan ekstramedular yang jinak, namun bila ia tumbuh
membesar dapat mengakibatkan gejala yang besar seperti kelumpuhan
6.

Gangguan Metabolik
Osteoporosis akibat gangguan metabolik yang merupakan
penyebab banyak keluhan nyeri pada pinggang dapat disebabkan oleh
kekurangan protein atau oleh gangguan hormonal (menopause,
penyakit cushing). Sering oleh karena trauma ringan timbul fraktur
kompresi

atau seluruh panjang kolum vertebra berkurang karena

kolaps korpus vertebra.penderita menjadi bongkok dan pendek denga


nyeri difus di daerah pinggang.
7.

Psikis
Banyak gangguan psikis yang dapat memberikan gejala nyeri
pinggang bawah.misalnya anksietas dapat menyebabkan tegang otot
yang mengakibatkan rasa nyeri, misalnya dikuduk atau di pinggang;
rasa nyeri ini dapat pula kemudian menambah meningkatnya keadaan
anksietas dan diikuti oleh meningkatnya tegang otot dan rasa
nyeri.kelainan histeria, kadang-kadang juga mempunyai gejala nyeri
pinggang bawah.

D. Faktor Resiko
Faktor resiko nyeri pinggang meliputi usia, jenis kelamin, berat badan,
etnis, merokok sigaret, pekerjaan, paparan getaran, angkat beban yang berat
yang berulang-ulang, membungkuk, duduk lama, geometri kanal lumbal
spinal dan faktor psikososial. Pada laki-laki resiko nyeri pinggang
meningkat sampai usia 50 tahun kemudian menurun, tetapi pada wanita
tetap terus meningkat. Peningkatan insiden pada wanita lebih 50 tahun
kemungkinan berkaitan dengan osteoporosis.

20

E. Lokasi
Lokasi untuk nyeri pinggang bawah adalah daerah lumbal bawah, biasanya
disertai penjalaran ke daerah-daerah lain, antara lain sakroiliaka, koksigeus,
bokong, kebawah lateral atau posterior paha, tungkai, dan kaki.
F. Diagnosa
1. Anamnesa
Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan dalam menganamnesa
pasien dengan kemungkinan diagnosa Low Back Pain.
a. Apakah terasa nyeri?
b. Dimana terasa nyeri?
c. Sudah berapa lama merasakan nyeri?
d. Bagaimana kuantitas nyerinya? (berat atau ringan)
e. Apa yang membuat nyeri terasa lebih berat atau terasa lebih
ringan?
f. Adakah keluhan lain?
g. Apakah dulu pernah menderita penyakit tertentu?
h. Bagaimana keadaan kehidupan pribadi?
i. Bagaimana keadaan kehidupan sosial?
2. Pemeriksaan
Pemeriksaan fisik secara komprehensif pada pasien dengan nyeri
pinggang meliputi evaluasi sistem neurologi dan muskuloskeltal.
Pemeriksaan neurologi meliputi evaluasi sensasi tubuh bawah,
kekuatan dan refleks-refleks
a. Motorik.
Pemeriksaan yang dilakukan meliputi:
- Berjalan dengan menggunakan tumit.
- Berjalan dengan menggunakan jari atau berjinjit.
- Jongkok dan gerakan bertahan (seperti mendorong tembok)
b. Sensorik.

21

- Nyeri dalam otot.


- Rasa gerak.
c. Refleks.
Refleks yang harus di periksa adalah refleks di daerah Achilles dan
Patella, respon dari pemeriksaan ini dapat digunakan untuk
mengetahui lokasi terjadinya lesi pada saraf spinal.
Tes provokasi nyeri:
a.

Test Lassegue
Pada tes ini, pertama telapak kaki pasien (dalam posisi 0)
didorong ke arah

muka kemudian setelah itu tungkai pasien

diangkat sejauh 40 dan sejauh 90.

b.

Test Patrick

Tes ini dilakukan untuk mendeteksi kelainan di pinggang dan pada


sendi sakro iliaka. Tindakan yang dilakukan adalah fleksi, abduksi,
eksorotasi dan ekstensi.

c.

Test Kebalikan Patrick


22

Dilakukan

gerakan

gabungan

dinamakan

fleksi,

abduksi,

endorotasi, dan ekstensi meregangkan sendi sakroiliaka. Test


Kebalikan Patrick positif menunjukkan kepada sumber nyeri di
sakroiliaka.
Pemeriksaan penunjang:
a. Foto
-

Plain
X-ray adalah gambaran radiologi yang mengevaluasi tulang,
sendi, dan luka degeneratif pada spinal.Gambaran X-ray
sekarang sudah jarang dilakukan, sebab sudah banyak peralatan
lain yang dapat meminimalisir waktu penyinaran sehingga efek
radiasi dapat dikurangi. X-ray merupakan tes yang sederhana,
dan sangat membantu untuk menunjukan keabnormalan pada
tulang. Seringkali X-ray merupakan penunjang diagnosis
pertama untuk mengevaluasi nyeri punggung, dan biasanya
dilakukan sebelum melakukan tes penunjang lain seperti MRI
atau CT scan. Foto X-ray dilakukan pada posisi anteroposterior
(AP), lateral, dan bila perlu oblique kanan dan kiri.

Myelografi
Myelografi adalah pemeriksan X-ray pada spinal cord dan
canalis spinal. Myelografi merupakan tindakan infasif, yaitu

23

cairan yang berwarna medium disuntikan ke kanalis spinalis,


sehingga struktur bagian dalamnya dapat terlihat pada layar
fluoroskopi dan gambar X-ray. Myelogram digunakan untuk
diagnosa pada penyakit yang berhubungan dengan diskus
intervertebralis, tumor spinalis, atau untuk abses spinal.

b. Computed Tornografi Scan ( CT- scan ) dan Magnetic Resonance


Imaging (MRI)
CT-scan merupakan tes yang tidak berbahaya dan dapat
digunakan untuk pemeriksaan pada otak, bahu, abdomen, pelvis,
spinal, dan ekstemitas. Gambar CT-scan seperti gambaran X-ray 3
dimensi.
MRI dapat menunjukkan gambaran tulang belakang yang
lebih jelas daripada CT-scan. Selain itu MRI menjadi pilihan
karena tidak mempunyai efek radiasi. MRI dapat menunjukkan
gambaran tulang secara sebagian sesuai dengan yang dikehendaki.
MRI dapat memperlihatkan diskus intervertebralis, nerves, dan
jaringan lainnya pada punggung.

24

c. Electro Miography ( EMG )/ Nerve Conduction Study (NCS)


EMG/ NCS merupakan tes yang aman dan non invasif yang
digunakan untuk pemeriksaansaraf pada lengan dan kaki.
EMG/ NCS dapat memberikan informasi tentang :
-

Adanya kerusakan pada saraf

Lama terjadinya kerusakan saraf (akut atau kronik)

Lokasi terjadinya kerusakan saraf (bagian proksimalis atau


distal)

Tingkat keparahan dari kerusakan saraf

Memantau proses penyembuhan dari kerusakan saraf

Hasil dari EMG dan MRI dapat digunakan untuk mengevaluasi


kondisi fisik pasien dimana mungkin perlu dilakukan tindakan
selanjutnya yaitu pambedahan.
G. Pengobatan
Farmakologi
1.

Obat-obat analgesik

2.

Fisioterapi
a.

Terapi Panas
Terapi menggunakan kantong dinginkantong panas. Dengan
menaruh sebuah kantong dingin di tempat daerah punggung yang

25

terasa nyeri atau sakit selama 5-10 menit. Jika selama 2 hari atau
48 jam rasa nyeri masih terasa gunakan heating pad (kantong
hangat).
b.

Elektro Stimulus
-

Akupuntur
Menggunakan jarum untuk memproduksi rangsangan yang
ringan tetapi cara ini tidak terlalu efisien karena ditakutkan
resiko komplikasi akibat ketidaksterilan jarum yang digunakan
sehingga menyebabkan infeksi.

Ultra Sound
Untuk menghangatkan

Radiofrequency Lesioning
Dengan menggunakan impuls listrik untuk merangsang saraf

Spinal Endoscopy
Dengan memasukkan endoskopi pada kanalis spinalis untuk
memindahkan atau menghilangkan jaringan scar.

Percutaneous Electrical Nerve Stimulation (PENS)


Elektro Thermal Disc Decompression

Trans Cutaneous Electrical Nerve Stimulation ( TENS )


Menggunakan alat dengan tegangan kecil.

3. Traksi
Helaan atau tarikan pada badan (punggung) untuk kontraksi otot.
4. Pemijatan atau massage
Dengan

terapi ini

bisa

menghangatkan, merileksi

belakang dan melancarkan perdarahan.

26

otot

5. Latihan Low Back Pain dapat dilakukan sebagai berikut :


a. Lying supine hamstring stretch

b. Knee to chest stretch

c. Pelvic Tilt

d. Sitting leg stretch

e. Hip and quadriceps stretch

27

6. Alat Bantu
a. Back corsets
Penggunaan penahan pada punggung sangat membantu untuk
mengatasi Low Back Pain yang dapat membungkus punggung
dan perut.

b. Tongkat Jalan
3. Operasi
Tipe operasi yang dilakukan oleh dokter bedah tergantung pada
tulang belakang/ punggung pasien. Biasanya prosedurnya menyangkut
pada LAMINECTOMY yang mana menghendaki bagian yang
dinagkat dari vertebral arch untuk memperoleh kepastian apa
penyebab dari LBP pasien. Jika disk menonjol atau bermasalah, para
ahli bedah akan melakukan bagian laminectomy untuk mencari tahu
vertebral kanal, mengidentisir ruptered disc (disc yang buruk), dan
mengambil atau memindahkan bagian yang baik dari disc yang
bergenerasi, khususnya kepingan atau potongan yang menindih saraf.

28

Ahli bedah mungkin mempertimbangkan prosedur kedua yaitu


SPINAL FUSION, jika pasien merasa membutuhkan keseimbangan di
bagian

spinenya.

Spinal

fusion

merupakan

operasi

dengan

menggabungkan vertebral dengan bone grafts. Kadang graft tersebut


dikombinasikan dengan metal plate atau dengan alat yang lain.
Ada juga sebagian herniated disc (disc yang menonjol) yang
dapat diobati dengan teknik PERCUTANEOUS DISCECTOMY, yang
mana discnya diperbaiki menembus atau melewati kulit tanpa
membedah dengan menggunakan X-ray sebagai pemandu. Ada juga
cara lain yaitu CHEMONEUCLOLYSIS, cara ini menggunakan
penyuntikan enzim-enzim ke dalam disc. Cara ini sudah jarang
digunakan.

29

DAFTAR PUSTAKA

Apley, A. Graham (1996). Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley Edisi ke
VII. Jakarta: Penerbit Widya Medika.
Basmajian, V. John, (1979). Therapeutic Exercise Third Edition. Sidney: The
William and Wilkins Co.
Block, Bernard (1978). Fraktur dan Dislokasi. Yogyakarta: Yayasan Essentika
Medica.
Chusid, J.G; (1993). Neurologi Korelatif dan Neurologi Fungsional Edisi ke I.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Harrelson J.M (1994). Ortopedi Umum dalam: Buku Ajar Ilmu Bedah Sabiston.
Jakarta: EGC.
Garisson, J. Susan (2001). Dasar-Dasar Terapi dan Rehabilitasi Fisik. Jakarta:
Hipokrates.
J.N. Aston (1996). Kapita Selekta Traumatologik dan Orthopedik Edisi ke III,
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Kisner, et al. (1996). Therapeutic Exercise Foundations and Technique Third
Edition. Philadelphia: F.A. Davis Company.
Mansjoer, Arif, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Medika Acisculapus 2.

30