Anda di halaman 1dari 24

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

LAPORAN KASUS
JANUARI 2015

PTERIGIUM DUPLEKS

OLEH :
Abdul Gafur Zulkarnain, S.Ked
10542 0059 09

PEMBIMBING :
dr. Purnamanita Syawal, Sp.M.,MARS

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2015

HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa :


Nama

: Abdul Gafur Zulkarnain, S.Ked

NIM

: 10542 0059 09

Judul Referat

: Pterigium Dupleks

Telah menyelesaikan tugas tersebut dalam rangka kepaniteraan klinik pada


bagian Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah
Makassar.

Makassar, Januari 2015


Pembimbing

(dr. Purnamanita Syawal, Sp.M.,MARS)

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN
Nama
Janis Kelamin
Umur
Agama
Suku/Bangsa
Pekerjaan
Alamat
No. Register
Tanggal Pemeriksaan
Rumah Sakit

I.

Pemeriksa
ANAMNESIS

: Ny. SHR TN
: Perempuan
: 54 tahun
: Islam
: Makassar/Indonesia
: Petani
: Pallantikang
: 386678
: 27 Desember 2014
: Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf
Kabupaten Gowa
: dr. YRG, SpM, M.Kes

Keluhan Utama : Selaput pada mata kiri dan kanan


Anamnesis Terpimpin : dirasakan 2 tahun terakhir. Dialami secara perlahanlahan. Awalnya tumbuh pada bagian pinggir mata, lama kelamaan melebar sampai
kebagian mata hitam. Pasien merasa seperti ada benda asing yang menutupi
matanya. Pasien juga merasa penglihatannya kabur. Rasa mengganjal (+), air
mata berlebih (-), kotoran mata berlebih (-), rasa gatal (+), rasa silau (-),
penglihatan kabur (+), riwayat pasien sering terpapar sinar matahari dan debu (+),
Riwayat penggunaan kacamata (-)
Riwayat Penyakit Terdahulu :
Riwayat penyakit dengan keluhan yang sama sebelumnya (-). Riwayat diabetes
melitus (-) riwayat hipertensi (-), riwayat alergi (-)
Riwayat Pengobatan :
Pasien belum pernah berobat sebelumnya.
Riwayat Penyakit Keluarga dan sosial
Tidak ada riwayat penyakit yang sama pada keluarga pasien.

OD
II.

OS

Pemeriksaan Oftalmologi
1. Pemeriksaan Inspeksi

Palpebra
Silia
Apparatus
lakrimalis
Konjungtiva

OD

OS

Edema (-)

Edema (-)

Normal, sekret (-)

Normal, sekret (-)

lakrimasi (-)

lakrimasi (-)

Hiperemis (-), Tampak selaput Hiperemis(-), Tampak selaput


berbentuk segitiga dibagian

berbentuk segitiga dibagian

nasal dengan apex melewati

nasal dengan apex melewati

limbus dan belum mencapai

limbus dan mencapai pupil.

pupil.
Bola mata

Normal

Normal

Jernih

Jernih

Normal

Normal

Coklat, Kripte (+)

Coklat, kripte (+)

Pupil

Bulat, Sentral

Bulat, Sentral

Lensa

Keruh

Keruh

Kornea
Bilik Mata
Depan
Iris

Mekanisme
muscular

Ke

Ke segala arah

segala
arah

2. Pemeriksaan Palpasi
4

Palpasi

OD

OS

Tensi Okuler

Tn

Tn

Nyeri tekan

(-)

(-)

Massa tumor

(-)

(-)

Tidak ada pembesaran

Tidak ada pembesaran

Glandula preaurikuler

3. Tonometri
Tidak dilakukan pemeriksaan
4. Visus
VOD - 2/60 tidak dapat dikoreksi
VOS - 2/60 tidak dapat dikoreksi
5. Campus Visual
Tidak dilakukan Pemeriksaan
6. Color sense
Tidak dilakukan pemeriksaan
7. Light Sense
Tidak dilakukan pemeriksaan
8. Diafanoskopi
Tidak dilakukan pemeriksaan
9. Penyinaran Oblik
No
.
1.
2.
3.
4.
5.

Pemeriksaan

OD

OS

Konjungtiva
Kornea
Bilik mata depan
Iris
Pupil

6.

Lensa

Hiperemis (-)
Jernih
Normal
Coklat, kripte (+)
Isokor, Bulat, sentral,
RC(+)
Keruh

Hiperemis (-)
Jernih
Normal
Coklat, kripte (+)
Isokor,Bulat, sentral,
RC(+)
Keruh

10. Pemeriksaan Slit Lamp


a. SLOD : konjungtiva hiperemis (-), tampak selaput berbentuk segitiga
dibagian nasal dengan apeks melewati limbus dan belum mencapai
pupil, kornea jernih, BMD kesan normal, iris coklat, kripte (+), pupil
bulat, sentral, RC (+), lensa keruh.

b. SLOS : konjungtiva hiperemis (-) Tampak selaput berbentuk segitiga


dibagian nasal dengan apex melewati limbus dan mencapai pupil.,
kornea jernih, BMD kesan normal, Iris coklat, kripte (+), pupil bulat
sentral RC (+), lensa keruh.
11. Pemeriksaan laboratorium
GDS : 111
Resume
Seorang perempuan berumur 54 tahun datang ke poliklinik mata rumah sakit
Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Kabupaten Gowa dengan keluhan
utama Selaput pada mata kiri dan kanan. dirasakan 2 tahun terakhir. Dialami
secara perlahan-lahan. Awalnya tumbuh pada bagian pinggir mata, lama kelamaan
melebar sampai kebagian mata hitam. Pasien merasa penglihatannya kabur.
Kedua mata pasien juga terasa gatal. Riwayat pasien sering terpapar sinar
matahari dan debu.
Pada pemeriksaan oftalmologi OD didapatkan visus menurun, tampak selaput
berbentuk segitiga dibagian nasal dengan apex melewati limbus dan belum
mencapai pupil. Lensa Keruh. Pada OS didapatkan visus menurun, Tampak
selaput berbentuk segitiga dibagian nasal dengan apex melewati limbus dan
mencapai pupil. Lensa Keruh. Pada pemeriksaan palpasi tidak ditemukan
kelainan. Pada Pemeriksaan visus VOD 2/60 dan VOS 2/60.
III. Diagnosis Kerja
OD Pterygium Stadium II dan Katarak
OS Pterygium Stadium III dan katarak
IV. Diagnosis Banding
Pseudopterygium
Pinguekula
V. Terapi
Non medikamentosa
Kurangi pajanan debu, sinar matahari dengan menggunakan kacamata.
Medikamentosa
Tidak diberikan
Bedah
Rencana ODS Eksisi pterygium tanngal 31-12-2014.
VI. Prognosis

Quo ad vitam bonam


VII. Diskusi
A. Diskusi
Dari anamnesis keluhan utama berupa selaput Selaput pada mata
kiri dan kanan dirasakan 2 tahun terakhir. Awalnya tumbuh pada bagian
pinggir mata, lama kelamaan melebar sampai kebagian mata hitam. Pasien
merasa seperti ada benda asing yang mengganjal yang menutupi matanya
sehingga penglihatan agak buram. Hal ini dapat dikarenakan karena
adanya poliferasi jaringan subkonjungtiva berupa granulasi fibrovaskular
dan konjungtiva bulbar yang berkembang menuju kornea sehingga
menutupi permukaannya. Berdasarkan faktor risiko, pasien ini memiliki
faktor risiko yang mendukung terjadinya pterygium yaitu sering terpapar
sinar matahari dan debu dikarenakan pekerjaan pasien juga adalah seorang
petani.
Pemeriksaan oftalmologi pada inspeksi OD didapatkan inspeksi
Tampak selaput berbentuk segitiga dibagian nasal dengan apex melewati
limbus dan belum mencapai pupil. Pada OS didapatkan Tampak selaput
berbentuk segitiga dibagian nasal dengan apex melewati limbus dan
mencapai pupil. Pada pemeriksaan palpasi tidak ditemukan kelainan. Pada
Pemeriksaan visus VOD 2/60 dan VOS 2/60. Berdasarkan hasil anamnesis
dan hasil pemeriksaan oftalmologi menunjukkan suatu pterygium pada
mata kanan dan kiri. Pertumbuhan pterygium yang sudah melewati limbus
namun belum mencapai pupil pada pasien ini diklasifikasin sebagai
pterygium stadium II yaitu pada mata kanan. Sedangkan pertumbuhan
pterygium yang sudah melewati limbus namun mencapai pupil pada pasien
ini diklasifikasin sebagai pterygium stadium III yaitu pada mata kiri.
Pterigium merupakan pertumbuhan fibrovaskuler konjungtiva
yang bersifat degeneratif dan invasif, berbentuk segitiga yang tumbuh
menjalar ke kornea dengan puncak segitiga di kornea. Timbunan atau
benjolan ini membuat penderitanya agak kurang nyaman karena
biasanya akan berkembang dan semakin membesar ke daerah kornea.

Pterigium akan memberikan keluhan berupa tampak merah, perih, rasa


mengganjal. Penyebab pterigium belum dapat dipahami secara jelas, diduga
merupakan suatu fenomena iritatif akibat sinar ultraviolet, pengeringan
dan lingkungan dengan angin yang banyak. Pterigium banyak dijumpai
di daerah yang banyak terkena sinar matahari, daerah yang berdebu,
berpasir atau anginnya besar, sehingga kemungkinan pencetusnya adalah
rangsangan dari udara panas, juga bagi orang yang kering berkendaraan
motor tanpa helm penutup atau kacamata pelindung, nelayan, dan
petani.
Pada pasien ini pterigium sudah mencapai stadium II pada OD dan

a.
b.
c.
d.

stadium III pada OS.


Berdasarkan stadiumnya pterigium dibagi menjadi 4, yaitu :
Stadium I : belum mencapai limbus
Stadium II : sudah melewati limbus dan belum mencapai pupil
Stadium III : sudah menutupi pupil
Stadium IV : sudah melewati pupil
Sinar ultraviolet terutam sinar UVB beserta polutannya merupakan

pencetus terjadinya pterigium, selain itu kekeringan okular dan polusi


lingkungan dapat berperan serta dalam progresivitas pterigium dan
rekurensinya.
Lesi biasanya terdapat di sisi nasal konjungtiva bulbi. Bisa dijumpai di
sisi nasal dan temporal pada satu mata (pterigium duplex) atau pada kedua
mata (pterigium bilateral). Gejala subjektif dapat berupa rasa perih, terganjal,
sensasi benda asing, silau, mata berair, gangguan visus, sampai masalah
kosmetik.
Tidak ada pengobatan medikamentosa yang spesifik untuk pterigium.
Tujuan pengobatan medikamentosa adalah untuk mengurangi peradangan
dapat diberikan steroid topical. Tindakan pembedahan pada pterigium adalah
suatu tindakan definitif untuk mengangkat jaringan pterygium dengan
berbagai teknik operasi.
Untuk terapi pasien ini direncanakan untuk operasi eksisi pterigium
ODS. Diharapkan agar pasien sedapat mungkin mengindari faktor
pencetus timbulnya pterigium seperti sinar matahari, angin dan debu serta

rajin merawat dan menjaga kebersihan kedua mata. Oleh sebab itu,
dianjurkan untuk selalu memakai kacamata pelindung atau topi pelindung bila
keluar rumah.

PTERIGIUM
I.

Definisi
Pterygium adalah struktur mirip sayap, khususnya untuk lipatan membrane
berbentuk segitiga yang abnormal pada fissure interpalpebralis, yang
membentang dari konjungtiva ke kornea. Menurut American Academy Of
Opthalmology, Pterygium adalah poliferasi jaringan subconjunctiva berupa
granulasi fibrovaskuler dari (sebelah) nasal konjungtiva bulbar yang

berkembang menuju kornea hingga akhirnya menutupi permukaannya.1


II. Anatomi dan Fisiologi Konjungtiva
Konjungtiva adalah membran mukosa yang transparan dan tipis yang
membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis) dan
permukaan anterior sclera (konjungtiva bulbaris). Konjungtiva bersambung
dengan kulit pada tepi palpebral (suatu sambungan mukokutan) dan dengan
epitel kornea di limbus. Konjungtiva palpebralis melapisi permukaan posterior
kelopak mata dan melekat erat ke tarsus. Ditepi superior dan inferior tarsus,
konjungtiva melipat ke posterior

(pada forniks superior dan inferior) dan

membungkus jaringan episklera menjadi konjungtiva bulbaris. Konjungtiva


bulbaris melekat longgar ke septum orbitale di fornicesdan melipat berkali-kali.
Adanya lipatan-lipatan ini memungkinkan bola matabergerak dan memperbesar
permukaan konjungtiva sekretorik. (Duktus-duktus kelenjar lakrimal bermuara
ke forniks temporal superior). Konjungtiva bulbaris melekat longgar pada
kapsul tenon dan sclera di bawahnya, kecualidi limbus (tempat kapsul tenon dan
9

konjungtiva menyatu sepanjang 3 mm). Lapisan konjungtiva bulbaris yang


tebal, lunak, dan mudah bergerak (plica semilunaris) terletak di kantus internus
dan merupakan selaput pembentuk kelopak mata dalam pada beberapa hewan
kelas rendah.2
Arteri-arteri konjungtiva berasal dari arteri ciliaris anterior dan arteri
palpebralis. Kedua arteri ini beranastomose dengan bebas dan bersama banyak
vena konjungtiva yang umumnya menikuti pola arterinya membentuk jaringanjaringan vaskuler konjungtiva yang sangat banyak. Pembuluh limfe konjungtiva
tersusun di dialam lapisan superfisial dan profundus bergabung dengan
pembuluh limfe palpebra membentuk pleksus limfatikus yang kaya.
Konjungtiva menerima persarafan dari percabangan (oftalmik) pertama nervus
V. saraf ini memiliki serabut nyeri yang relatif sedikit.2
Fungsi dari konjungtiva adalah memproduksi air mata, menyediakan
kebutuhan oksigen ke kornea ketika mata sedang terbuka dan melindungi mata
dengan mekanisme pertahanan nonspesifik yang berupa barier epitel, aktivitas
lakrimasi, dan menyuplai darah. Selain itu, terdapat pertahanan spesifik berupa
mekanisme imunologis seperti sel mast, leukosit, adanya jaringan limfoid pada
mukosa tersebut dan antibodi dalam bentuk IgA. Pada konjungtiva terdapat
beberapa jenis kelenjar yang dibagi menjadi dua grup besar yaitu 1
1. Penghasil musin
a. Sel goblet; terletak dibawah epitel dan paling banyak ditemukan pada
daerah inferonasal.
b. Crypts of Henle; terletak sepanjang sepertiga atas dari konjungtiva tarsalis
superior dan sepanjang sepertiga bawah dari konjungtiva tarsalis inferior.
c. Kelenjar Manz; mengelilingi daerah limbus.
2. Kelenjar asesoris lakrimalis. Kelenjar asesoris ini termasuk kelenjar Krause
dan kelenjar Wolfring. Kedua kelenjar ini terletak dalam dibawah substansi
propria.3

10

Gambar 1. Anatomi Konjungtiva

III. Anatomi dan Fisiologi Kornea


Kornea adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus
cahaya,merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata bagian depan.
Kornea dewasa rata-rata mempunyai tebal 0,54 mm di tengah, sekitar 0,65 mm
di tepi, dan diameternya sekitar 11,5 mm. Dari anterior ke posterior, kornea
mempunyai lima lapisan yang berbeda-beda terdiri dari3
1. Epitel, suatu lapisan skuamosa anterior yang menebal diperifer pada limbus
di mana lapisan ini bersinambung dengan konjungtiva. Limbus mengandung
sel germinativum atau sel stem.
2. stroma dari serabut kolagen, substansi dasar, dan fibroblast yang menjadi
dasar kornea. Bentuk serabut kolagen yang regular dan diameternya yang
kecil menyeb abkan transparansi kornea.
3. Endotel suatu lapisan tunggal dari sel yang tidak mengalami regenerasi yang
secara aktif memompa ion dan air dari stroma untuk mengontrol hidrasi dan
transparansi kornea.
Perbedaan antara kapasitas regenerasi epitel dan endotel penting.
Kerusakan lapisan epitel , misalnya karena abrasi, dengan cepat diperbaiki.
Endotel yang rusak karena penyakit atau pembedahan misalnya, tidak dapat
berdegenerasi. Hilangnya fungsi sawar dan pompa menyebabkan hidrasi
berlebihan, distorsi bentuk regular serat kolagen, dan keruhnya kornea.3
Fungsi Kornea adalah merefraksikan cahaya dan bersama dengan lensa
memfokuskan cahaya ke retina dan melindungi struktur mata internal.3

11

Gambar 2 Anatomi Kornea

IV. Epidemiologi
Di Amerika Serikat angka kejadian pterigium sangat bervariasi tergantung
pada lokasi geografisnya. Di daratan Amerika serikat, prevalensinya berkisar
kurang dari 2% untuk daerah di atas 400 lintang utara sampai 5-15% untuk
daerah garis lintang 280-360. Hubungan ini terjadi untuk tempat-tempat yang
prevalensinya meningkat dan daerah-daerah elevasi yang terkena penyinaran
ultraviolet untuk daerah di bawah garis lintang utara ini. Secara Internasional
hubungan antara menurunnya insidensi pada daerah atas lintang utara dan
relative terjadi peningkatan untuk daerah di bawah garis balik lintang utara.4
V. Etiologi
Etiologinya tidak diketahui dengan jelas dan diduga disebabkan iritasi
kronis akibat debu, cahaya sinar matahari, dan udara yang panas. Pterygium
diduga merupakan fenomena iritatif akibat sinar UV, pengeringan dan
lingkungan angin yang banyak. Faktor lain yang menyebabkan pertumbuhan
pterygium antara lain uap kimia, asap, dan debu. Beberapa studi menunjukkan
adanya predisposisi genetik untuk kondisi ini.5
VI. Patofisiologi
Konjugtiva bulbi selalu berhubungan dengan dunia luar. Kontak dengan
ultraviolet,debu,kekeringan terjadinya penebalan dan pertumbuhan konjungtiva
bulbi yang menjalar ke kornea. Pterigium ini biasanya bilateral, karena kedua
mata mempunyai kemungkinan yang sama untuk kontak dengan sinar
ultraviolet, debu dan kekeringan,semua kotoran pada konjungtiva akan menuju
ke bagian nasal, kemudian melalui pungtum lakrimalis dialirkan ke meatus nasi
inferior. Daerah nasal konjungtiva juga relatif dapat sinar ultraviolet yang lebih
banyak dibandingkan dengan bagian konjungtiva yang lain. Patofisiologi
pterigium di tandai dengan degenerasi elastotik kolagen dan proliferasi
fibrovaskular, dengan permukaan yang menutupi epithelium, histopatologi

12

kolagen abnormal pada daerah degenerasi elastotik menunjukan basofilia bila


dicat dengan hematoksin dan eosin. Jaringan ini juga bisa dicat dengan cat
untuk jaringan elastik akan tetapi bukan jaringan elastic yang sebenarnya,oleh
karena jaringan ini tidak bisa di hancurkan oleh elastase.6
Efek merusak dari sinar UV menyebabkan penurunan sel induk limbal
pada kornea, yakni menyebabkan terjadinya insufisiensi limbal. Hal ini
mengaktifkan faktor pertumbuhan jaringan yang menginduksi angiogenesis dan
proliferasi sel. Radiasi cahaya UV tipe B menjadi faktor lingkungan yang
paling signifikan dalam patogenesis pterigium.6
Histologi. Pterigium merupakan akumulasi dari jaringan degenerasi
subepitel yang basofilik dengan karakteristik keabu-abuan di pewarnaan H&E.
Berbentuk ulat dan degenerasi elastotic dengan penampilan seperti cacing
bergelombang dari jarigan yang degenerasi. Pemusnahan lapisan bowman oleh
jaringan fibrovascular sangat khas. Epitel di atas biasanya normal, tetapi
acanthotic, hiperkertotik, atau bahkan displastik dan sering menunjukan area.7
VII. Gambaran Klinis
Pterigium dapat dibagi ke dalam beberapa klasifikasi berdasarkan tipe,
stadium, progresifitasnya dan berdasarkan terlihatnya pembuluh darah
episklera, yaitu:
1. Berdasarkan tipenya pterigium dibagi atas 3:8
a. Tipe I: Lesi meluas < 2 mm dari kornea. Stockers line atau deposit
besi dapat dijumpai pada epitel kornea dan kepala pterigium. Lesi
sering asimptomatis, meskipun sering mengalami inflamasi ringan.
Pasien yang memakai lensa kontak dapat mengalami keluhan lebih
cepat.
b. Tipe II: Lesi menutupi kornea sampai 4 mm, dapat primer atau rekuren
setelah operasi, berpengaruh dengan tear film dan menimbulkan
astigmat.
c. Tipe III: Lesi mengenai kornea > 4mm dan mengganggu aksis visual.
Lesi yang luas khususnya pada kasus rekuren dapat berhubungan
dengan fibrosis subkonjungtiva yang meluas ke forniks dan biasanya
2.

menyebabkan gangguan pergerakan bola mata serta kebutaan.


Berdasarkan stadium pterigium dibagai ke dalam 4 stadium yaitu:8

13

a. Stadium 1 : Invasi minimum, pertumbuhan lapisan yang transparan


dan tipis, pertumbuhan pembuluh darah yang tipis hanya terbatas pada
limbus kornea.
b. Stadium 2 : Lapisan tebal, pembuluh darah profunda tidak kelihatan
dan menginvasi kornea tapi belum mencapai pupil.
c. Stadium 3 : Lapisan tebal seperti daging yang menutupi pupil,
vaskularisasi yang jelas.
d. Stadium 4 : Pertumbuhan telah melewati pupil.
3. Berdasarkan perjalanan penyakitnya, pterigium dibagi menjadi 2 yaitu:8
a. Pterigium progresif: Tebal dan vaskular dengan beberapa infiltrat di
kornea di depan kepala pterigium (disebut cap dari pterigium).
b. Pterigium regresif : Tipis, atrofi, sedikit vaskular. Akhirnya menjadi
4.

bentuk membran, tetapi tidak pernah hilang.


Berdasarkan terlihatnya pembuluh darah episklera di pterigium dan harus
diperiksa dengan slitlamp pterigium dibagi 3 yaitu:8
a. T1 (atrofi) : Pembuluh darah episkleral jelas terlihat.
b. T2 (intermediet) : Pembuluh darah episkleral sebagian terlihat.
c. T3 (fleshy, opaque) : Pembuluh darah tidak jelas.
5. Vaskuler : Pterygium tebal, merah, progresif,ditemukan pada anak muda
(tumbuh cepat karena banyak pembuluh darah)
Membranaceus : Pterigium tipis seperti plastik, tidak terlalu merah, terdapat
pada orang tua.8

Gambar 3. Pterygium1

14

Stadiu

Stadiu

Stadiu

Stadiu

Gambar. 4 Stadium Pterygium8

Gejala Subyektif
Gejala klinis pterygium pada tahap awal biasanya ringan bahkan sering
tanpa keluhan sama sekali (asimptomatik). Beberapa keluhan sering dialami
pasien antara lain1,4
Mata sering berair dan tampak merah
Merasa seperti ada benda asing
Timbul astigmatisme akibat kornea tertarik oleh pertumbuhan pterigium
tersebut, biasanya astigmatisme with the rule ataupun astigmatisme irregular

sehingga mengganggu penglihatan.


Pada pterigium yang lanjut (derajat 3 dan 4) dapat menutupi pupil dan aksis
visual sehingga tajam penglihatan menurun.

Gejala Obyektif
Ptrygium mungkin terjadi unilateral atau bilateral. Penyakit ini muncul
sebagai lipatan segitiga konjungtiva yang mencapai kornea, biasanya di sisi nasal.
tetapi juga dapat terjadi di sisi temporal. Deposisi besi kadang-kadang terlihat
pada epitel kornea anterior disebut garis Stocker. Pterigium terdiri dari tiga bagian
Pterygium dibagi menjadi tiga bagian yaitu:1,9

Body, bagian segitiga yang meninggi pada pterygium dengan dasarnya


ke arah kantus

15

Apex (head), bagian atas pterygium

Cap, bagian belakang pterygium

A subepithelial cap atau halo timbul pada tengah apex dan membentuk batas pinggir
pterygium.1,9

Pterigium hanya akan bergejala


bagian tengah kornea. Kekuatan

ketika bagian kepalanya menginvasi

tarikan yang terjadi pada kornea dapat

menyebabkan astigmatisme kornea. Pterigium lanjut yang menyebabkan skar


pada jaringan konjungtiva juga dapat secara perlahan-lahan mengganggu motilitas
okular, pasien kemudian akan mengalami penglihatan ganda atau diplopia.9
VIII.

Diagnosis
Penderita dapat melaporkan adanya peningkatan rasa sakit pada salah satu

atau kedua mata, disertai rasa gatal, kemerahan dan atau bengkak. Kondisi ini
mungkin telah ada selama bertahun-tahun tanpa gejala dan menyebar perlahanlahan, pada akhirnya menyebabkan penglihatan terganggu, ketidaknyamanan dari
peradangan dan iritasi. Sensasi benda asing dapat dirasakan, dan mata mungkin
tampak lebih kering dari biasanya. Penderita juga dapat melaporkan sejarah
paparan berlebihan terhadap sinar matahari atau partikel debu.8
Test : Uji ketajaman visus dapat dilakukan untuk melihat apakah visus
terpengaruh. Dengan menggunakan slitlamp diperlukan untuk memvisualisasikan
pterygium tersebut. Dengan menggunakan sonde dibagian limbus, pada pterygium
tidak dapat dilalui oleh sonde seperti pada pseudopterygium.1,8
VIII. Diagnosis Banding
1. Pinguekula
Pinguekula merupakan benjolan pada konjungtiva bulbi yang
ditemukan pada orang tua, terutama yang matanya sering mendapat
rangsangan sinar matahari, debu, dan angina panas. Letak bercak ini pada
celah kelopak mata terutama di bagian nasal. Pinguekula merupakan
degenerasi hialin jaringan submukosa konjungtiva. Pembuluh darah tidak
masuk ke dalam pinguekula akan tetapi bila meradang atau terjadi iritasi,
maka sekitar bercak degenerasi ini akan terlihat pembuluh darah yang
melebar. Pada pinguekula tidak perlu diberikan pengobatan, akan tetapi
bila terlihat adanya tanda peradangan dapat diberikan obat-obat

16

antiradang.5

Gambar 5. Pingekuela5

2. Pseudopterigium
Pseudopterigium merupakan perlekatan konjungtiva dengan kornea
yang cacat. Pseudopterigium sering ditemukan pada proses penyembuhan
ulkus kornea, sehingga konjungtiva menutupi kornea. Psedopterigium
tidak harus pada celah kelopak atau fissura palpebra, ini dapat diselipkan
sonde dibawahnya. Pada anamnesis psudopterigium selamanya adanya
kelainan kornea sebelumnya seperti ulkus kornea.5

Gambar 6. Psudopterigium5

IX.

Penatalaksanaan
1. Non medikamentosa
Karena kejadian pterigium berkaitan dengan aktivitas lingkungan,
penanganan pterigium asimptomatik dapat diobati dengan kacamata
sinar UV-blockking. Anjurkan pasien untuk menghindari daerah
berasap atau berdebu sebisa mungkin.9
2. Medikamentosa
Untuk pterigium derajat 1-2 yang mengalami inflamasi, pasien dapat
diberikan obat tetes mata kombinasi antibiotik dan steroid 3 kali sehari
selama 5-7 hari. Diperhatikan juga bahwa penggunaan kortikosteroid
tidak dibenarkan pada penderita dengan tekanan intraocular yang
tinggi atau mengalami kelainan pada kornea.9
3. Bedah
Pada derajat 3-4 dilakukan tindakan bedah berupa avulsi pterigium.

17

Sedapat mungkin setelah avulsi pterigium maka bagian konjungtiva


bekas pterigium tersebut ditutupi dengan cangkok konjungtiva yang
diambil dari konjungtiva bagian superior untuk menurunkan angka
kekambuhan. Tujuan utama pengangkatan pterigium yaitu memberikan
hasil yang baik secara kosmetik, mengupayakan komplikasi seminimal
mungkin, angka kekambuhan yang rendah9
Indikasi operasi1,9
1. Pterigium yang menjalar ke kornea sampai lebih dari 3 mm dari
limbus.
2. Pterigium mencapai jarak lebih dari separuh antara limbus dan tepi
pupil.
3. Pterigium yang sering memberikan keluhan mata merah, berair,dan
silau karena astigmatismus.
4. Kosmetik, terutama untuk penderita wanita.
3. Teknik pembedahan
Penatalaksanaan pterigium dilakukan dengan teknik menggunakan
pembedahan. Permasalahan pada penatalaksanaan pterigium ini yaitu
terjadi tumbuh ulangnya jaringan fibrovaskular. Faktor-faktor yang
berperan terjadi tumbuh ulang antara lain jenis pterigium dengan
jaringan fibrovaskular yang tebal (fleshy) dan terjadi inflamasi yang
lebih lama pascabedah pterigium. Pemakaian dengan teknik tandur
konjungtiva bulbi otograf merupakan baku emas atau gold standard
penatalaksanaan pterigium dan memiliki angka tumbuh ulang yang
rendah.1
1. Teknik Bare Selera
Melibatkan eksisi kepala dan tubuh pterigium, sementara
memungkinkan selera untuk epitelisasi, tingkat kekambuhan tinggi,
antara 24% dan 89%, telah didokumentasikan dalam berbagai
laporan.1,10
2. Teknik Autograft Konjungtiva
Memiliki tingkat kekambuhan dilaporkan serendah 2% dan
setinggi 40% pada beberapa studi prospektif. Prosedur ini melibatkan
pengambilan

autograf,

biasanya

dari

konjungtiva

bulbar

18

superotemporal, dan dijahit diatas selera yang telah di eksisi petrigium


tersebut. Komplikasi jarang terjadi, dan untuk hasil yang optimal
ditekankan pentingnya pembedahan secara hati- hati jaringan tenons
dari graft tersebut. LawrenceW. Hirst, MBBS, dari Australia
merekomendasikan menggunakan sayatan besar untuk eksisi pterigium
dan telah dlaporkan angka kekambuhan sangat rendah dengan teknik
ini.1,10
3. Cangkok Membran Amnion
Mencangkok membran amnion juga telah digunakan untuk
mencegah kekambuhan pterigium. Meskipun keuntungan membrane
amnion ini belum teridentifikasi sebagian besar peneliti telah
menyatakan bahwa itu adalah membran amnion berisi factor penting
untuk menghambat peradangan dan fibrosis epithelisasi. Sayangnya
tingkat kekambuhan sangat beragam pada studi yang ada diantara
2,6% dan 10,7% untuk pterigium primer dan setinggi 37,5% untuk
kekambuhan petrigium. Sebuah keuntungan dari trknik ini selama
autograft konjungtifa adalah pelestarian bulbar konjungtiva. Membran
amnion biasanya ditempatkan diatas klera dengan membrane basal
menghadap keatas dan stroma menghadap kebawah. Beberapa studi
terbaru telah menganjurkan penggunaan lem vibrin untuk membantu
cangkok amnion menempel kejaringan episklera dibawahnya. Lem
vibrin juga telah digunakan dalam autograph konjungtiva.1
4. Terapi tambahan
Tingkat kekambuhan tinggi yang terkait dengan operasi terus menjadi
masalah, dan terapi medis demikian terapi tambahan telah dimasukkan ke
dalam pengelolaan pterygia. Studi telah menunjukkan bahwa tingkat
rekurensi telah jatuh cukup dengan penambahan terapi ini, namun ada
komplikasi dari terapi tersebut.1

MMC telah digunakan sebagai pengobatan tambahan karena


kemampuannya untuk menghambat fibroblas. Efeknya mirip dengan
iradiasi beta. Namun, dosis minimal yang aman dan efektif belum
ditentukan. Dua

bentuk

MMC

saat

ini

digunakan:

aplikasi

19

intraoperative MMC langsung ke sclera setelah eksisi pterygium, dan


penggunaan obat tetes mata MMC topikal setelah operasi. Beberapa
penelitian

sekarang

menganjurkan

penggunaan

MMC

hanya

intraoperatif untuk mengurangi toksisitas.1


Beta

iradiasi

juga

telah

digunakan

untuk

mencegah

kekambuhan, karena menghambat mitosis pada sel-sel dengan cepat


dari pterygium, meskipun tidak ada data yang jelas dari angka
kekambuhan yang tersedia. Namun, efek buruk dari radiasi termasuk
nekrosis scleral , endophthalmitis dan pembentukan katarak, dan ini
telah mendorong dokter untuk tidak merekomendasikan terhadap
penggunaannya.1
Untuk mencegah terjadi kekambuhan setelah operasi, dikombinasikan
dengan pemberian:7
1

Mitomycin C 0,02% tetes mata (sitostatika) 2x1 tetes/hari selama 5


hari, bersamaan dengan pemberian dexamethasone 0,1% : 4x1
tetes/hari kemudian tappering off sampai 6 minggu.

Mitomycin C 0,04% (0,4 mg/ml) : 4x1 tetes/hari selama 14 hari,


diberikan bersamaan dengan salep mata dexamethasone.

Sinar Beta

4 Topikal Thiotepa (triethylene thiophosphasmide) tetes mata : 1


tetes/ 3 jam selama 6 minggu, diberikan bersamaan dengan salep
antibiotik Chloramphenicol, dan steroid selama 1 minggu.7,9
X. Komplikasi
1. Komplikasi dari pterigium meliputi sebagai berikut.6

Gangguan penglihatan/mata kemerahan


Iritasi
Gangguan pergerakan bola mata
Timbul jaringan parut kronik dari konjungtiva dan kornea
Dry Eye Syndrome
2. Komplikasi post operatif bias sebagai berikut6

Infeksi
Ulkus korne

20

Graft Conjungtiva yang terbuka


Diplopia
Adanya jaringan parut dikorena
Yang paling sering dari komplikasi bedah pterigium adalah kekambuhan.

Eksisi bedah memiliki angka kekambuhan yang tinggi, sekita 50-80 persen.
Angka ini bisa dikurangi 5-15 persen dengan penggunaan autograft dari
konjungtiva atau transplant membrane amnion pada saat eksisi.6
XI.

Pencegahan
Pada penduduk didaerah tropik yang bekerja diluar rumah seperti nelayan,
petani yang banyak kontak dengan debu dan sinar UV dianjurkan memakai
kacamata pelindung sinar matahari.7

XII.

Prognosis
Pterigium adalah suatu neoplasma yang benigna. Umumnya prognosis

baik. Kekambuhan dapat dicegah dengan kombinasi operasi dan sitotastik


tetes mata aatu bedah radiasi. Eksisi pada pterigium pada penglihatan dan
kosmetik adalah baik. Prosedur yang baik dapat ditolerir pasien dan disamping
itu pada beberapa hari post operatif pasien

akan merasa tidak nyaman.

Kebanyakan setelah 48 jam pasca operasi pasien bisa memulai aktivitas.


Pasien dengan pterigium yang kambuh lagi dapat mengulangi pembedahan
eksisi dan grafting dengan konjungtiva/limbal autograft atau transplantasi
membran amnion pada pasien tertentu.8

21

BAB III
KESIMPULAN

Pterigium merupakan salah satu dari sekian banyak kelainan pada mata
dan merupakan yang tersering nomor dua di Indonesia setelah katarak., Hal ini
dikarenakan oleh letak geografis Indonesia di sekitar garis khatulistiwa sehingga
banyak terpapar oleh sinar ultraviolet yang merupakan salah satu factor penyebab
dari pterigium.
Pterigium lebih banyak diderita laki-laki karena umumnya aktivitas lakilaki lebih banyak diluar ruangan, serta dialami oleh pasien di atas 40 tahun karena
factor degeneratif. Penderita dengan pterigium dapat tidak menunjukkan gejala
apapun (asimtomatik), bias juga menunjukkan keluhan mata seperti iritasi, gatal,
mata merah, sensasi benda asing, hingga perubahan tajam penglihatan yang
menurun tergantung dari stadiumnya.
22

Pterigium tumbuh dengan lambat dari arah limbus, tempat pemunculan,


pertamanya. Pertumbuhannya berjalan tidak konstan. Terdapat periode klinis yang
tenang, dan periode pertumbuhan yang cepat. Secara umum progresifitas lambat.
Pterigium yang progresif tumbuh dan menjalar sampai ke tengah kornea sehingga
dibutuhkan tindakan pembedahan. Pada tipe yang progresif pasien akan mengeluh
tentang iritasi atau penglihatan terganggu akibat pertumbuhan pterigium. Bila
pterigium sampai pada pupil, tindakan pembedahan harus dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ardalan Aminlari, MD, Ravi Singh, MD, and David Liang, MD. Management
of

Pterygium.

Diundah

pada

tanggal

20

januari

2015

pada

http://www.aao.org/publications/eyenet/201011/pearls.cfm
2. Voughan & abury. Oftalmologi umum, paul riordan eva, Jhon P. Whitcher
edisi 17 Jakarta : EGC, 2009 hal 26
3. James B, Chew C, Brown A. 2012. Lecture Note On Ophtalmology edisi 9.
Jakarta : Erlangga.
4. Jerome P Fisher, Pterygium (online). 2009 (cited 2014 desember 25) available
from : http://emedicine.medscape.com/article/1192527-overview.
5. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 2012.
hal:2-6, 116 117.
6. Caldwell, M. Pterygium. (online). 2011 (cited 2014 Desember 25). Available
from : www.eyewiki.aao.org-pterygium.
7. Efstahios T. Pthogenic Mechanism and treatment options for Opthtalmic
pterygium : Trends

and perspectives (review). International journal of

Moleculer Medicine.2009.Greece. P.439-447


8. Laszuarni.Prevalensi Pterigium di Kabupaten Langkat. Updated : 2009.
Available from: URL: repository.usu.ac.id.Accessed 25 Desember, 2014.
9. Khurana KA. Diseases of the Conjunctiva. In:, Khurana KA, editors.
Comprehensive Ophthalmology 4th ed. New Delhi: New Age International.
2007. p. 51 - 82.
23

10. Guillermo Rocha MD. 2014. Surgical Management of pterygium.


(cited

25

December

2014)

Available

from

http://www.iovs.org/content/32/10/local/back-matter.pdf

24